RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 17

Posted on

Zirah yang Selalu Dikenakan

 

Penerjemah: Undead King Jar-Eel

—Memulihkan suasana awal sesi makan-makan sudah mustahil.

Setelah mendengar kata-kata tajam Felt, Priscilla yang merasa puas telah meninggalkan hotel bersama AI mengikutinya. Boleh jadi dia senang seluruh tujuannya telah tercapai.

Memperhitungkan kerusakan yang dia perbuat, Priscilla sungguh-sungguh apatis.

Semua orang fokus kembali dengan makanan masing-masing, tidak bisa mengobrol sebahagia sebelumnya.

Dampak yang dia tinggalkan sangat menyakitkan bagi semua orang yang hadir. Khususnya perasaan Reinhard serta Wilhelm amat tak terbayangkan oleh orang luar.

Meski begitu, ketabahan keduanya cukup tangguh hingga tidak memasang wajah gelisah.

Tentu saja upaya perdamaian kakek dan cucu hanya dapat ditunda. Fakta satu itu sudah berat sekali sampai berakar di hati Subaru.

“Kita beruntung sekali Garfiel tidak ada.”

Demikianlah kata-kata yang ditinggalkan Otto ketika dirinya berangkat ke Kamar Dagang Muse setelah makan.

Sesuai ucapannya, akan terjadi masalah serius jika Garfiel atau orang pemarah lain tengah makan. Tidak sulit membayangkan Garfiel menerbangkan Heinkel sambal marah-marah dan menyulut tragedi pelik.

Semua orang yang sedang sarapan punya sifat tenang dan rasional. Barangkali Priscilla puas karena itu.

“… bagaimana bisa? Itu beneran kebetulan dalam kebetulan.”

Keberuntungan yang dengan arogannya dibanggakan Priscilla sudah hamper mustahil.

Kelak akan menghantarkan hasil terburuk. Walaupun tak terbantahkan, masih menyakitkan untuk mengakuinya. Keresahan Emilia dan Beatrice pasti lebih menyakitkan daripada rasa marah Subaru.

Bahkan Felt bertindak wajar, cuma Subaru satu-satunya orang yang merasa emosi. Bagi musuh dan kawan, Subaru ingin meminta maaf sebab kurang pertimbangan.

Emilia dan Beatrice telah kembali ke kamar mereka untuk istrirahat sejenak sebelum menemani Subaru jalan-jalan.

Subaru berusaha menampik frustasinya, langkah kaki lebih berat dari biasa. Bagian dalam kaus kaki yang menekan telapaknya merupakan refleksi frustasinya.

Tenggelam dalam rentetan pemikiran tersebut, Subaru mulai memasukkan lebih banyak tekanan dalam langkahnya, berusaha menenangkan perasaan, sampai ….

“Jangan injak lantainya kerras-keras, Subaru. Nanti jadi masalah buat pegawai penginapan.”

Subaru yang sedari tadi menatap kaki, menoleh ke arah suara.

Nampaknya tanpa sadar berjalan ke koridor yang menghadap halaman. Julius berdiri di halaman bersimbah angin.

Tangannya menyapu rambut ungu ke belakang dengan gerakan terlatih, tindakan menahan angin tergambar dramastis.

Wajah tampan Julius, seperti biasa, memunculkan rasa iri pada Subaru, dia mendecakkan lidah pada pemuda lain sebelum duduk di sebelahnya di koridor.

“Emilia-sama dan Beatrice-sama tidak bersamamu, betul?”

“Begitulah. Mereka berdua bukan anakku. Umurnya pun sudah menyentuh ibarat ingin punya waktu sendiri, dan aku menghargainya. Aku sudah menyiapkan waktu dan tempat untuk kencan nanti.”

“Walaupun aku tidak familiar dengan beberapa frasa yang kau gunakan, tampaknya kau sudah mulai memahami lebih baik pemikiran orang lain.”

“Duh, dasar kau ….!”

Di tengah-tengah perdamaian, Julius yang pertama kali menutur kata-kata pemicu perpecahan. Akan tetapi, setelah melihat raut wajah Julius, rasa sebal Subaru hilang. Julius menggeleng kepala pelan ….

“Maaf. Seandainya kau benar-benar tidak bisa memahami orang lain, kau dengan suara kerasmu takkan berani menantang wakil komandan di depan banyak orang … aku harus berterima kasih.”

“Kedengarannya seperti ucapan terima kasih, tolong jangan mengucapkannya. Orang itu cuma membuatku berang. Dibanding semuanya yang masih sanggup tenang, aku pasti terlihat mengerikan.”

“Tidak demikian. Justru karena tindakan serampanganmulah beliau-beliau tetap tenang, bahkan aku pun begitu. Reaksi impulsifmu sangat membantu, sepertinya.”

“Kau, kau dari awal memang tidak niat memujiku, kan?”

Subaru memberengut oleh maksud sejati Julius.

Saat berbicara dengan Subaru Julius selalu menyindir halus, walaupun keduanya sama-sama saling menyindir, jadinya Julius tidak sepenuhnya bersalah. Bagaimanapun, hampir mustahil kalau keduanya berbicara jujur satu sama lain.

“Aku tahu. Aku harusnya lebih santai dan berpikir jernih layaknya kesatria. Bahkan menjadi seorang kesatria, aku masih tidak bisa kalem, kendatipun semuanya sudah teruraikan dalam buku sopan santun anak sekolahan.”

“Itu benar. Memang, menurut sudut pandang kekesatriaan, perilakumu sama sekali tidak terpuji. Akan tetapi ….”

Menghadapi Subaru yang tidak bisa tenang, Julius terdiam. Perbuatan selanjutnya membuat mata Subaru membelalak kaget.

“Kau ngapain?”

“Seperti yang kau lihat.”

“Aku cuma melihat kau membungkuk.”

Julis membungkuk rendah dan menggoyangkan kepalanya di depan Subaru.

Bukanlah perangai kesopanan kesatria. Tidak sedang ritual seremonial pula. Tiada inspirasi formal dari gerakannya sama sekali. Sangat bukan Julius.

“Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih sudah marah seperti yang tidak bisa kutampakkan.”

“… aku sungguh-sungguh tidak tahu kau membicarakan apa.”

“Menilai kehormatan kesatria artinya tidak peduli kapan pun, kau berkewajiban bertindak atas nama kewajiban. Walaupun temanmu direndahkan, kendati temanmu sendiri dihujam kata-kata tak manusiawi, kau tidak boleh menanggapinya sesuai hasratmu sendiri. Tapi kau tidak seperti itu.”

Mempertahankan postur tubuhnya, Julius berulang kali mengucapkan terima kasih kepada Subaru. Subaru bingung oleh reaksi tak terduga tersebut.

“Terjebak antara kekesatriaanku dan emosi pribadi, aku segera menahan sang murka. Namun setelah melihat bantahan penuhmu, aku merasa malu. Jadi aku ingin berterima kasih.”

“Alih-alih melampiaskan kemarahan, ya ….”

“….”

Subaru menggumam penuh pengertian, dan Julius akhirnya melihat ke atas.

Hanya satu kalimat belaka, Julius akhirnya mengungkap perasaan tulus yang tercermin dalam pandangannya. Melihatnya, Subaru menggeram.

“Kata-kata bego. Beneran, deh, jangan bercanda.”

“… jangan bercanda, ya.”

“Tentu saja. Kenapa juga aku harus marah menggantikanmu? Aku marah murni karena diriku telah tersulut, bukan sebab ada orang yang mau membentak pria berjanggut itu. Aku tak secakap itu hingga bisa mengekspresikan kemarahan orang lain.”

Seolah-olah salah paham soal masalahnya, Subaru mengutarakan pemikiran sejati ini kepada Julius.

Subaru tak mengibaratkan kemarahannya sebagai sesuatu yang mulia. Lagipula, hanya Reinhard dan Wilhelm seorang yang bisa memahami perasaan sendiri.

Subaru adalah orang luar yang gusar sebab suasananya dikacaukan. Naik pitamnya seratus persen karena dirinya sendiri.

“Jika kau marah, kenapa tidak bilang sesuatu? Aku tidak mampu mengurus pak tua itu sendirian, tapi andai kau mendukungku, maka kita bisa jadi menyudutkannya.”

“Apa pun yang terjadi, beliau masilah seorang wakil komandan kesatria. Akan merepotkan apabila mencari masalah pada seorang komandan.”

“Tidak ada hubungannya sama peringkatmu. Belum lagi tanpa pikir panjang ngomong, ‘Tidak peduli apa pun yang terjadi,’ jangan berpikiran sempit begitu. Kau terus-terusan berlaku sepantasnya kesatria, atau bertindak-tanduk kesatria, terserah, deh. Apakah hatimu dilapisi baju zirah kesatria?”

“….”

Menghadapi Julius yang terbungkam, Subaru menyandarkan sikunya di atas lutut dan pipi di telapak tangan, menghembuskan nafas besar.

Dasar pertengkaran goblok! Subaru bukan hanya menolak rasa terima kasih Julius, tapi juga membuatnya dongkol.

Memikirkan penyebab insiden itu, termasuk Heinkel, makin membuatnya geram.

“Bahkan hatiku diselimuti baju zirah kesatria … ah, itu sangat kasar.”

“Biarpun sepertinya kata-kataku cukup artistik, abaikan sajalah. Aku hanya bercanda.”

“Tidak, akan kuingat baik-baik. Aku lega bisa mendapatkan pelajaran darimu. Ini adalah sesuatu yang tak terpikirkan setahun lalu.”

“Hal mengganggu itu mungkin sudah berakhir, tapi aku masih bermimpi buruk tentangnya.”

Subaru terkadang bermimpi berada di lapangan latihan kesatria, tentang konfrontasinya dengan Julius dan dihajar habis-habisan.

Sekalipun penderitaan fisik yang dia rasakan waktu itu masih sakit untuk diingat-ingat. Memori ketidakmampuannya sendiri jelas-jelas tertanam dalam benaknya, dari waktu ke waktu diputar bagaikan film.

Walaupun, tentu, mimpi buruknya tidak hanya diisi duelnya dengan Julius, melainkan sesuatu yang bisa menyaingi banyaknya kematian.

“Seandainya kau sudah mengatasinya, aku lebih suka ini tidak berlanjut. Membayangkan pertemuan denganmu setiap malam itu tidak menyenangkan.”

“Wah sungguhan, dikatakan langsung oleh si pelaku. Kau tidak berpikir aku pun lebih suka berbagi mimpiku dengan Emilia-tan?”

“Jadi caramu menggebet beliau semata-mata sebatas mimpi, alih-alih kemampuanmu sendiri. Sesuai gayamu.”

“Bangsat, jangan anggap aku sampah setelah memujiku. Coba kau bercermin!”

“Anastasia-sama adalah wanita cantik. Tidak ada kehormatan lebih besar daripada melayani beliau dari jauh. Alamiahnya, aku pikir mestinya sangat senang dengan posisiku sekarang.”

Dihadapkan tanggapan tenang Julius, Subaru menggeram bagai kucing.

Suasana tak menenangkan hilang sudah bersama bungkuknya selagi Julius menampilkan citra biasanya. Subaru memberengut lega, batuk, dan mengubah alur pembicaraan.

“Mengenai pria tua berjanggut itu … dia itu wakil komandan atau semacamnya, benarkah?”

“Wajar kau meragukannya, tapi itu memang benar. Beliau ialah Wakil Komandan Kesatria Kerajaan Lugnica, Heinkel Astrea sendiri.”

“Mereka buta? Atau tuli? Atau ada yang salah sama kepalanya?”

“Kau betul-betul mempertanyakan semuanya. Tentu saja tidak ada kesatria atau pengawal senior yang sanggup mempertanyakan kualifikasi wakil komandan. Bahkan jabatan wakil komandan sudah seperti dekorasi belaka, tidak seorang pun pernah melihat beliau melaksanakan tugas.”

Jawaban Julius adalah gelengan kepala, imajinasi Subaru penuh bayangan pejabat senior.

Diberikan imbalan luar biaa sembari mengabaikan tanggung jawab penting—Itulah tepatnya yang Subaru renungkan dari sebagian besar pejahat senior pemerintah, benar begitu situasi Heinkel.

Terlebih lagi orang-orang di sekitarnya bahkan memahami ketidakmampuannya dan mengetahui sikapnya.

“Mungkinkah memanfaatkan statusnya sebagai ayah dari Pedang Suci?”

“… bukan itu … intinya. Berperan sebagai wakil komandan bukanlah sesuatu yang luput dari perhatian sang putra, Reinhard. Meskipun pengertian Reinhard sudah diketahui secara luas, bagaimana bisa kita menghakimi kalau itu menyangkut keluarganya? Tidak semua orang percaya pada beliau.”

“Tidak kusangka Reinhard bersedia mengesampingkan kode etik moral demi ayahnya.”

“Sekalipun demikian, beliau masihlah ayah Reinhard. Entah apa pun yang dipikirkan orang lain, bagi Reinhard, beliau adalah anggota keluarga sedarah. Tidak ada yang tahu apa isi pikirannya.”

Julius berbicara tenang tuk meredam panasnya Subaru. Menggertakkan gigi, Subaru mengerang.

Sebagaimana perkataan Julius. Tidak peduli semedioker apa dirinya, selama Heinkel masih jadi ayah Reinhard, maka hanya hati Reinhard sendiri yang tahu dia harus meninggalkan hubungan mereka atau tidak.

Sebagai seorang kesatria yang menghargai keadilan dan kesantunan, dia tak boleh ditipu ayahnya. Tetapi tak mudah bagi Reinhard untuk memutus hubungan itu tanpa pertimbangan.

Jelas orang luar tahu betul hal yang semestinya dan tidak semestinya dilakukan Reinhard, tapi melakukannya akan sangat-sangat arogan.

“Bukannya dari keseluruhan perkara, katamu, ada alasan lain? Apa itu ….”

“Beliau juga Kepala Keluarga Astrea, serta putra Wilhelm-sama. Terang saja, beliau terkait kesatria terbaik kerajaan dan Pedang Suci sebelumnya. Kemungkinan tak memberinya posisi berpangkat tinggi bisa-bisa dianggap pengkhianatan.”

Inilah jawaban singkat tanpa emosi Julius.

Mendengarnya, Subaru perlu beberapa detik untuk memahami implikasi di baliknya.

“Negeri ini! Baik Reinhard! Atau Wilhelm! Aku tak percaya itu! Seandainya Heinkel membenci negara ini maka Keluarga Pedang Suci pasti sudah memberontak …! Memperlakukan mereka dengan sangat hati-hati ibarat bom waktu, begitu rupanya …!”

Jikalau demikian, bukankah itu penghinaan kepada Reinhard dan Wilhelm?

Kehormatan mereka sudah terlampau jelas, namun negeri masih yakin mereka ingin memberontak.

Kemarahan yang dirasakan Subaru kini setara intensitasnya ketika menghadapi Heinkel. Julius menggeleng kepala dan tangannya menekan bahu Subaru.

“Kemurkaanmu dapat dimengerti. Akan tetapi, kerajaan harus menangani segala kemungkinannya.”

“Hal mustahil tidak masuk kemungkinan! Hal semacam itu jelas-jelas takkan pernah terjadi!”

“… Wilhelm-sama dulunya komandan kesatria Lugnica.”

“Hah!?”

Subaru yang berusaha melarikan diri dari cengkeraman Julius, tanpa sadar berhenti bergerak oleh ucapannya.

“Empat belas tahun yang lalu, seorang anggota keluarga kerajaan diculik di ibu kota. Kala itu, Wilhelm-sama mengepalai para penjaga dan ditugaskan untuk melakukan pencarian.”

“Apa hubungannya? Bahkan aku pun tahu kejadian-kejadian terkenal semacam ini.”

Felt adalah anggota keluarga kerajaan yang diculik saat semasih kecil—kisahnya telah menyebar luas. Subaru yang menolak ceritanya tak memahami arti kata-kata Julius.

“Aku tahu anak keluarga kerajaan itu tidak ditemukan. Terus apa? Wilhelm-san bertanggung jawab, kemudian mengundurkan diri sebagai kesatria, lantas punya alasan untuk membenci kerajaan? Tapi kalau begitu ….”

“Semasa itu, mantan Pedang Suci dikirim dalam ekspedisi penaklukkan Paus Putih—sewaktu, hari-hari tatkala Wilhelm-sama mencari si penculik.”

“….”

Memikirkan tutur Julius, Subaru jatuh dalam pikiran hampa. Sesuatu yang pernah dikatakan Wilhelm rupanya mengisi kekosongan tersebut.

Wilhelm bilang dirinya tak berada di sisi istrinya ketika dia meninggal.

“… dia bilang tak berada di sisi istrinya ketika dia meninggal, karena investigasi yang mencegahnya, oleh sebab itu Wilhelm-san membenci kerajaan, semacamnya ….”

“Aku tidak tahu niat sejati Wilhelm-sama. Namun memang benar sesudah pencarian penculikan putri berakhir dan penaklukan besar gagal, Wilhelm-sama menarik diri dari para penjaga. Sesudahnya, cabang kesatria itu akan runtuh sekiranya Marcus-sama tidak mengatur ulang kembali.”

“Aku tidak mempedulikannya! Aku membicarakan Wilhelm-san! Kau … betulkah itu isi pikiranmu? Bahwa Wilhelm-san membenci semua orang karena kematian istrinya? Itu … itu ….!”

Mengibarkan panji-panji pemberontakan terhadap kerajaan lantaran kebenciannya sendiri.

Demikiankah kemunculan Wilhelm van Astrea? Kenapa, setelah melihat seseorang yang teramat jatuh cinta, berkenan memberikan segalanya untuk cinta, bisakah seseorang memikirkannya? Tidak pernahkah mereka memahaminya, atau perasaannya?

Tak pernahkah melihat pedang jujur blak-blakan sang Pedang Iblis?

“Orang itu tidak mungkin melakukannya, kenapa tidak ada yang mengerti!”

“….”

Kali ini, Subaru betul-betul menampik tangan di bahunya, dan mendorong dada Julius. Dia berdiri dan mundur, kehilangan ketenangan.

Mata kuning yang menatap kemarahan Subaru hampir-hampir mirip kekaguman. Dia mengerti. Dia tahu tingkat amarah ini tidak pantas.

Yang dikatakan Julius bukankah pendapatnya. Sikap Julius sendiri jelas mengisyaratkannya.

Lagian, setahun lalu, Julius menghibur Wilhelm setelah dia membunuh Paus putih. Menghibur Wilhelm yang selama empat belas tahun berusaha membelaskan dendam istrinya.

Tidak salah lagi Julius tak mencurigai Wilhelm hendak membuat pemberontakan.

“… maaf. Barusan tingkahku idiot.”

“Tidak, jangan minta maaf. Kaulah yang benar. Akulah yang salah—jika seseorang harus meminta maaf, maka orang itu adalah aku.”

Menurunkan pandangan, mereka berdua memejamkan mata. Sama-sama merasakan beban tak tertahankan.

Ketidakberdayaan mereka untuk merubah prasangka negara kepada Wilhelm. Subaru dan Julius, keduanya, meski saling melampiaskan perasaan, pada akhirnya tidak berdaya.

“Jadi, apa Reinhard juga seperti itu?”

“… semisal selogika, Reinhard pasti membenci kerajaan karena mengirim nenek ke kematiannya sekaligus membunuh pendahulunya, namun masalahnya bukan itu.”

“Lantas ….”

“Akan tetapi, kerajaan tidak meragukan Reinhard yang tak ingin membuat pemberontakan. Melainkan, kecurigaannya tertuju pada Heinkel-sama.”

Disebutnya nama ayah Reinhard, mata Subaru melebar.

Biarpun nama itu tidak ingin didengarnya, Subaru tak bisa menyumbat telinganya sesaat topik dibahas. Perbincangan apa pun yang melibatkan nama itu pastinya tidak bagus.

“Bagaimana hubungan Reinhard sama ayahnya? Selain hubungan sedarah.”

“Ada suatu waktu saat Reinhard sangat-sangat patuh sepenuhnya pada Heinkel-sama. Barangkali terlihat alami karena mereka ayah dan anak, tapi … seketika itu kepatuhannya melebihi batas.”

Julius mengalihkan matanya pada Subaru, seolah-olah membicarakan penyesalan.

Hubungan yang dia sebut melebihi batas, dari hubungan orang tua-anak biasa. Ucapannya terdengar samar sampai-sampai sulit mengetahui maksudnya. Sayangnya Julius tak terlihat niat untuk menjelaskannya, mengembalikan tatapan ke Subaru.

“Tatkala Reinhard tumbuh lebih mandiri, pendiriannya seharusnya hilang. Tetapi, tanpa tahu pasti apakah Reinhard masih mendengar kata-kata Heinkel-sama atau tidak, keragu-raguannya tidak bisa hilang.”

“… pokoknya, agar Heinkel tak memberi Reinhard perintah untuk berbalik melawan kerajaan, Heinkel kelewat dihargai, kan?”

“Bisa jadi lebih buruk. Kendati rumor ini masih desas-desus, aku beritahu, sebab kau juga teman Reinhard, dan kau marah deminya.”

Mendengar kata-kata pembuka meresahkan, Julius bolak-balik melihat sekeliling. Memastikan tidak ada penguping, dia mendekati sisi Subaru.

Kemudian ….

“Wakil komandan adalah tersangka penyelidikan penculikan sang putri empat belas tahun lalu.”

“….!?”

“Belum ada bukti konklusif. Tapinya, dia berulang kali dipertanyakan mengenai dakwa keterlibatannya.”

“Misalkan benar, maka, penculikannya ….”

“Kebenarannya tidak lagi relevan. Karakter mencurigakan yang memegang salah satu posisi kekuasaan tertinggi kerajaan, itulah inti masalahnya sekarang.”

Berkat mulia dari gelar Pedang Suci.

Biarpun sedikit demi sedikit situasinya terungkap, Subaru berpikir gelar itu lebih seperti kutukan alih-alih berkat.

“Kiranya dia memang terkait dengan penculikan, maka Heinkel adalah alasan mengapa ayah dan ibunya tidak bisa bertatap muka untuk terakhir kalinya.”

“… bukan itu saja. Aku pun mendengar bahwa Heinkel-sama yang merekomendasikan Theresia-sama yang sudah pensiun, menggantikannya melawan Paus Putih.”

“Dia betulan mengirim ibunya ke peperangan melawan Paus Putih!?”

“Ada catatan akuratnya. Wakil komandan menolak bertempur menghadapi Paus Putih dan sebaliknya merekomendasikan ibunya tuk menggantikannya.”

Teramat-amat terbungkam—Subaru tak dapat merespon.

Tidak sesuai rumor tanpa bukti sebelumnya, tutur Julius didukung bukti nyata. Catatan serta saksi merupakan fakta.

Heinkel mengirim ibunya sendiri sebagai penggantinya untuk berperang melawan Paus Putih.

Begitulah, ibunya lanjut gugur dalam pertarungan, dan ayahnya mengambil pedang untuk membalaskan dendam karena tak bersama ibunya di saat-saat terakhir. Alih-alih mendapat hukuman, dia menggunakan bakat putranya sebagai perisai pelindung kehidupan nyamannya yang stabil.

Bagaimana bisa? Ada seorang manusia yang melakukan ini?

“Pasti ada satu titik yang salah, kan ….?”

Subaru tak ingin mempercayainya.

Bukan perkara ingin mempercayai kemanusiaan Heinkel. Subaru sudah menganggapnya orang terburuk, siapa pun yang membicarakannya pasti tahu.

Tapi sesungguhnya Subaru enggan mengakui bahwasanya kejahatan semacam itu melampaui kejahatan, amoralitas, kebejatan itu beneran ada.

Subaru berharap dirinya mempercayai etika, kehormatan, dan sifat manusia, mengira kejahatan manusia masih ada batasnya.

Nyatanya, dosa yang melebihi imajinasi apa pun sungguhan ada.

“… maaf. Semestinya bukan sesuatu yang kukatakan kepada orang yang belum mempersiapkan diri seratus persen.”

Julius menggumam pada Subaru yang diam seribu bahasa, suaranya suram.

Subaru bisa merasakan empati dalam kata Julius, sesuatu yang berbeda penuh dengan Julius yang senantiasa tenang.

“Itu … itu buakn salahmu, akulah yang pengen mendengarnya. Biarpun akan lebih mudah jika bisa menyalahkanmu.”

“Posisiku tak membuatku menerima tanggapanmu. Jelas yang aku sampaikan semata-mata rumor urusan keluarga lain, tapi aku masih mengutarakannya seakan-akan aku saksikan sendiri. Entah bagaimana yang kau pikirkan, aku berbicara tanpa memikirkan kaulitas kabar burungnya. Sebagai seorang kesatria, aku sepantasnya malu.”

“Namun kau menyaksikannya, bukan? Lantaran kau teman Reinhard.”

Subaru menjawab penghinaan diri Julius.

Julius kembali mengangkat kepalanya ke Subaru yang mengangguk-ngangguk.

“Bahkan jika aku tidak tahu secara spesifik persahabatanmu dengan Reinhard, aku tahu kau mengkhawatirkannya. Jadi aku takkan menghardik amarahmu atau menyebutnya terlalu agresif. Kurasa tidak benar kalau merasa apatis darinya semata-mata karena bukan urusanmu belaka.”

“… kalau begitu kau mau apa?”

“Memangnya salah ikut campur seandainya mendengar orang dekatmu menangis? Apabila aku melihat temanku putus asa, aku pasti menghiburnya. Jika kau mempedulikan Reinhard, melakukannya wajar-wajar saja. Apalagi perasaanmu tidak seperti diriku.”

Andaikan Julius ikut campur hanya karena rasa penasarannya, Subaru bakal merasa jijik.

Namun perasaan Julius, sebagaimana dibuktikan oleh sikap serta imbuhnya dalam pembicaraan mereka, sama sekali tak memalukan.

“Bukannya barusan kubilang? Jangan terlalu menganut ahlak kekesatriaan atau apalah itu. Meskipun iya, sesekali lepaskanlah baju besimu dan menjadi Juli, tidak buruk-buruk amat. Siapa bilang bertingkah santai tak mengarah pada situasi lebih baik?”

Juli adalah nama samaran Julius selama pertempuran melawan Kultus Penyihir.

Lantaran posisinya, Julius tidak bisa bergabung bersama kelompok tantara bayaran manapun, lantas secara elegan menyembunyikan identitasnya dengan sedikit kepalsuan. Nama yang ujung-ujungnya tidak digunakan, bahkan oleh Julius sendiri. Tetapi, Julius adalah orang yang paling tak seperti kesatria.

“Juli, ya … nama itu tidak salah lagi mendadak dibuatnya!”

“Sebetulnya dari dulu-dulu sekali, dan hanya digunakan satu kali. Aku cukup terkesan pada diriku yang mengingatnya.”

Jangan terlalu menganut ahlak kekesatriaan atau apalah itu. Kau sungguhan mengatakan hal sulit. Aku yakin kau tahu mereka semua menyebutku apa.”

“Itu karena mereka memanggilmu yang terhebat sehingga fisik dan mentalmu jadi kaku. Harusnya kau lepas baju besi itu seketika kau mandi, dan pemanasan sebentar sebelum mengenakannya kembali.”

Postur membungkuk, telapak tangan menempel ke tanah seakan memamerkan fleksibilitas barunya. Walaupun tubuhnya cukup kaku sebelum mulai belajar parkour, dia bergerak lebih lembut dan lentur.

Selanjutnya, kepada Subaru yang memperlihatkan fleksibilitasnya ….

“Kalau niatmu mau pamer, aku cuma bisa menghembus nafas.”

“OH!?”

Seraya bicara, Julius melebarkan kakinya dan menyentuh tanah. Subaru tidak bisa menahan kekaguman kendali kaki rampingnya juga lenturnya pinggul sewaktu tubuhnya merendah ke tanah.

Benarkah roman-romannya Julius dengan mudahnya bisa melampaui Subaru dalam hal apa pun?

“Agh … tapi, tapi! Soal main kecapi, atau menjahit, aku pasti menang ….!”

“Biarpun aku tak tahu faedahnya hobi menang, aku pun bermain alat musik. Meskipun menjahit itu cukup sulit.”

“Aaagghh! Kau yang bilang! Hobi! Hobi seseorang sepertimu pasti gak guna. Aku takkan mau membuat band denganmu. Peran penyanyi utamaku akan diambil!”

 Julius melepas sepatunya dan berdiri dengan penuh gaya.

Tiba-tiba menjentikkan poninya ke Subaru, kemudian tersenyum ke langit seakan menyombongkan kemenangan.

“Aku mengerti. Sebagai Juli, menatap langit selagi bermandikan angin rasanya seperti ini.”

“Eh?”

“Kalau dipikir-pikir, langit yang kulihat kala itu juga agak berbeda dari biasanya. Jadi inilah alasannya.”

“Kau malah semakin tidak masuk akal. Dasar bajingan palsu.”

Subaru mengangkat bahu sebal dan melompat ke lantai koridor. Julius menyipitkan matanya seakan-akan masih terpesona oleh matahari.

Akhirnya, suasana tak nyaman dalam perbincangan mereka telah tercerai-berai.

Tentu saja bahan diskusinya masih tersimpan dalam ingatan, dada mereka tertambat sesuatu. Biarpun demikian, setidaknya rasa frustasi tersebut bisa diatasi bersama.

—memperhatikannya saja, mereka berdua nampak layaknya sepasang teman biasa.

3 Replies to “RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 17”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *