Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 118

Posted on

Hari Alpha Orionis Tersenyum

CH 118.jpg

Penerjemah: Betelgeuse Romanee-Conti

Emilia berjalan santai, seolah-olah sudah terlatih sebelumnya, menelusuri sepanjang jalan setapak yang dikelilingi pepohonan tinggi.

Menginjak rumput, tanah, berhati-hati agar tidak menubruk bunga yang bersembunyi di bawah akar-akar lebat. Merasakan tanah keras di bawah kakinya, tetapi Emilia merasa aneh—bagaimana pun, dia sedang bermimpi.

Tak pernah terpikirkan bagaimana hal ini bisa sebegitu nyata padahal lagi mimpi biasa, di tempat ini dia merasakan tekstur kulit pohon, mencium aroma manis bunga-bunga, diterpa silir-silir angin hangat.

“Ini dunia mimpi, tapi rasanya seperti di dunia nyata. Kok bisa?”

“Dunia mimpi, adalah penjelasan kiasannya. Tempat ini dibangun dari ingatan penantang Ujian, semata-mata merenggut kesadaran, sebuah ruang yang cocok dijadikan dunia pengganti. Semua hal-hal di sini ditarik dari ingatanmu, sang penantang, tentu saja indra perasamu dapat berinteraksi dengan dunia ini. Sebaliknya, jika aku mencoba menyentuh tanah atau pepohonan, takkan ada sensasi sentuhan yang kurasakan.”

“Jadi begitu …. Boleh mengamuk, dan mengubah hutan ini jadi gado-gado?”

“Dasar ide penyihir nan biadab. Kau memang punya sensasi taktil, namun tetap tidak mampu mempengaruhi dunia ini. Ditambah lagi, kau dan para mahluk hidup yang diciptakan ulang ke dunia ini tidak bisa menyentuh satu sama lain. Bisa bila Ujian ada dalam bentuk lain.

“Bentuk lain?”

“Banyak tanya. Bagaimana kalau manfaatkan kepalamu sesekali? Carilah maka kau akan menemukannya. Walau bagimu yang seringkali dimanjakan serta dijilat laki-laki, sepertinya di luar kemampuanmu.”

“Hmph ….”

Emilia maju lebih dahulu, sang Penyihir Keserakahan mengekor di belakang sambil menjaga sejumlah jarak. Echidna menyemburkan ceramah pedas, mengejek ketidaktahuan Emilia serta memasang tampang tak terkesan. Akan tetapi, terlepas dari kebenciannya, pernyataan barusan adalah fakta.

Emilia menutup mulut dan berpikir.

Ada perbedaan antara ingatan tak sentuh dan ingatan sentuh. Emilia mencari-cari suatu metode, hanya pikiran belaka yang berada di dunia ini, dia ingin menyentuh orang yang melangkahi ingatan-ingatan tersebut.

“Sudah aku pikirkan tapi tetap saja tidak paham. Beritahu aku jawabannya.”

“….”

“Ada apa? Kau sakit perut?”

“Sikapmu membuatku mengidap pyrosis. Rasanya tidak enak, andai kau kecualikan dia dan teman-temanku, satu-satunya orang yang membangkitkan rasa itu kepadaku hanyalah kau.”

“Echidna, kau punya teman.”

Enak banget, makna gumaman Emilia. Echidna mendesah.

Tampaknya dia tidak begitu memahami perkataan Emilia. Gadis itu ragu-ragu untuk menjelaskan kembali agar bisa benar-benar dikomunikasikan, namun ….

“Penyesalan masa lalu yang kau lihat sekilas dalam Ujian tidak hanya terdiri dari satu kejadian untuk semua orang.”

“Ermm?”

“Ada penyesalan masa lalu yang terpaku pada satu momen waktu. Juga ada yang berbeda, yang sedang berlangsung pun ada … contoh, masa lalu di mana kau menyesal telah berhubungan dengan seseorang. Yang kedua, masa lalu yang tercipta ulang bukan satu kejadian terkurung, melainkan menciptakan kembali karakter-karakter tersebut karena mereka berada di dalam kepala sang penantang. Kau bisa berbicara dengan mereka, menyentuh mereka, bahkan bersenang-senang dengna mereka.”

“… Oke. Jadi begitu.”

Emilia mengangguk penuh pengertian.

Memang, Penyesalan bisa berbeda-beda. Beberapa orang menyesal telah bertengkar bersama orang lain, ada juga yang menyesali semua hal di masa depan nanti. Cara menaklukkannya bermacam-macam bagi tiap pribadi.

“Kau tidak sepertiku, tapi tetap berkenan menjawab pertanyaanku.”

“Karena aku orang yang sangatttt baik, aku teramat membenci kesalahpahamanmu. Kau yang menganggapku baik rasanya tiada yang lebih memalukan dari itu. Diriku yang akhirnya menjawab pertanyaan-pertanyaan ini sudah jadi fitrahku.” kata Echidna.

“Iya deh, iya.”

Tidak membuat suasana hati Emilia riang, tapi paling tidak sudah menemukan cara untuk berinteraksi dengan temperamen dingin Echidna.

Penyihir itu sangat-sangat pasti membenci Emilia seolah yang dibenci adalah seekor ular, tapi Emilia tidak membenci Echidna.

Gadis itu tidak mengenal baik dia sampai tega membencinya.

Kalau dipikir dengan akal sehat, berarti Echidna kenal baik Emilia sampai membencinya separah itu—sayangnya Emilia tidak sempat menanyakannya.

“—Huhu! Ahahaha! Hei! Di sini!”

“Eehh!”

Mendadak terdengar suara anak kecil dari belakang, mengejutkan Emilia.

Dia membeku, kala anak kecil itu mengelilinginya saat menghampiri dari belakang dan kemudian berlari melewatinya. Membuat Emilia terperangah bahwa si gadis bisa sedekat itu tanpa disadari Emilia, blasteran elf merasa hal demikian bukan karena kelengahan ataupun kelalaiannya sendiri.

Anak kecil yang menyalip Emilia sedang berlari kesana-kemari, rambut perak panjangnya berkibar berantakan.

Mata ungu, jubah usang anak-anak. Dia berlarian di sekitar hutan, wajahnya ketika tertawa-tawa dirasa sangat akrab bagi Emilia.

Anak kecil itu merupakan versi muda Emilia—waktu-waktu dia tidak mengenal Penyesalan, Emilia masa lampau.

“Benar-benar bego, tapi lebih mengejutkan perawakan bodohnya.”

“Jangan umpat diriku yang kecil juga. Dan … kita lihat nanti apakah aku akan melakukan hal buruk atau tidak.”

Demikianlah penilaian prasangka Echidna terhadap Emilia kecil yang suka bermain-main.

Urat-urat di pelipisnya berdenyut-denyut sebab keberatan dengan penilaian Echidna, Emilia meringis.

Kontraknya dengan Puck telah terputus, dan ingatannya yang tersegel bangkit satu demi satu. Hari-hari bersama Ibu Fortuna. Kelompok Geuse yang membawakan persediaan ke desa. Segel, dan para Peri yang membantunya kabur dari Ruang Putri. Pada hari Emilia kecil bertemu Geuse yang tidak sengaja dia temui, mereka malah jadi teman.

“Bagaimana bisa aku hidup tanpa ingatan-ingatan ini, seakan semuanya normal ….?”

Memori Emilia dipenuhi lubang, tapi hingga kini dia tidak menemukan keanehan apa-apa soal itu.

Apa yang terjadi jika Emilia mengetahui ingatan sebenarnya tanpa sangkut-paut Ujian? Tentu tidak mungkin. Barangkali Puck yang mengetahui keadaan abnormal Emilia lebih baik daripada siapa pun, tidak memberitahu Emilia karena Puck tahu sebab-akibatnya.

Potongan-potongan ingatannya yang masih eksis sedang menunggu terselip keluar dari pintu yang sedikit renggang.

Dia tidak sempat mendapatkan kembali ignatannya yang hilang sebelum tiba waktu Ujian, tapi tidak apa-apa.

Di sini, dalam Ujian ini, seluruh ingatan Emilia yang tersegel kemungkinan besar akan terungkap.

Dia tahu sesuatu dalam dirinya akan berubah setelah melihat memori-memori yang hilang tersebut.

“Tapi aku tidak takut lagi.”

“Menangis dan terisak-isaklah sembari bergantung pada pasangan atau ayahmu. Apakah kau akan berhenti menentukan keputusan khas wanita kotor macam dirimu?”

“Aku tahu mereka mungkin memaafkanku … tapi kau tidak mau itu, bagiku atau Subaru yang merasa kecewa karenanya. Aku tidak ingin melemah dan berpikir oke-oke saja untuk lemah terus.”

“… Terserah kaulah. Yang aku lakukan semata-mata menimbun hasil lain dalam memoriku.”

Entah seberapa besar kemuakan Echidna, tak satu pun dari hal demikian mampu menggoyahkan pendirian Emilia.

Mungkin menyadari keteguhan Emilia lewat pembicaraan mereka, Echidna terpaksa menutup mulut.

Komentar sang Penyihir telah menjadi kemurkaan. Emilia mendesah dan mencurahkan perhatiannya kepada masa lalu.

Di depannya adalah Emilia, berlarian tanpa tujuan. Dan ….

“Emilia-sama, tunggu dulu. Berbahaya bermain-main di daerah sini.”

“Aku lagi tidak bahaya, baik-baik saja kok. Justru lututmu tergores tuh, Geuse.”

“Tidak perlu mengkhawatirkan luka saya. Tapi luka apa pun pada diri Anda itu berbahaya. Bahkan kematian saya tidak mampu membalas luka-luka pada kulit mulus Anda.”

Mengejar Emilia yang suka ngeluyur adalah kebiasaan si pria hitam bertubuh tinggi—Geuse. Wajah tegasnya menampakkan kelembutan serta kasih sayang akbar ketika memperingatkan Emilia kecil, karena anak itu terus mengembara tanpa memedulikan peringatannya.

“Geuse, caramu mengatakannya benar-benar jadi terdengar sangatttt jijik.”

“Niat saya sungguh sebaliknya … tak pernah menganggap Emilia seperti demikian.”

Geuse dipanggil oleh wanita yang mengikutinya dari belakang selagi mengekor Emilia—seorang wanita berambut perak pendek, mata tajam dan wajahnya indah.

Melihat wanita itu, tenggorokan Emilia keram.

“Ibu Fortuna ….”

Meski sadar sosok sehat ibunya masih berada dalam ingatan, Emilia tidak bisa menahan tangis.

Emilia menyayanginya. Menghormatinya lebih dari orang lain. Bahkan setelah sekian lama, Emilia menganggap Ibu Fortuna sebagai keluarga yang sama berharganya dengan Puck.

Fortuna berdiri di samping Geuse yang kelihatan cemas, meliriknya sekilas.

“Bukan hanya untuk Emilia, artinya tetap sama entah ditujukan untuk siapa. Semestinya kau sudah dewasa, Geuse.”

“Usia adalah sesuatu yang menghadirkan arti kecil bagi saya. Membicarakan kehidupan jangka panjang, menurut saya bahkan Anda dan Emilia-sama nampak seperti bayi.”

“Menurutnya aku ini bayi … hmm.”

Fortuna menurunkan pandangannya seraya bergumam sebal.

Alis Geuse berkerut resah, tetapi Fortuna tidak menanggapi. Malahan Emilia menghampiri mereka, pipinya mengembung.

“Uhghh! Ibu Fortuna, Geuse, kok tidak ngejar aku! Kita ‘kan lagi kejar-kejaran! Kalian harus mengejar!”

“Ah! Mohon maaf, Emilia-sama. Kegagalan Romanée-Conti ini akan teringat seumur hidup dan selama-lamanya ….”

“Jangan memanjakannya seperti itu, Geuse—Emilia, kau ingat betul mengapa ibu dan Geuse mengejarmu, benar? Gadis kecil yang tidak memikirkan tindakan mereka sangattttt membuat ibunya kesal.”

“Ehhh!”

Sedikit amarah terselip dalam senyum Fortuna, membuat bahu Emilia tersentak.

Gadis kecil itu lagi-lagi berpikir kenapa mereka berdua mengejarnya, kemudian menyadari bahwa dia telah membuat kesalahan besar. Wajahnya pucat pasi dan merinding biar teralih dari masalah, lalu balik badan dan kaburrrr—

“Sayang sekali. Ibu Fortuna menangkapmu.”

“Auhh! Maaf Ibu Fortuna! Tidak seperti yang Ibu pikirkan! Para peri ingin bermain dan menyuruhku pergi keluar, jadi ….”

“Gadis yang menyalahkan orang lain, lebih tepatnya peri, juga membuat ibumu gusar. Mengerti tidak, Emilia?”

Dipeluk dari belakang, Emilia panik sedangkan Fortuna berbicara lirih Emilia kecil berhenti meronta-ronta dan menggantung kepalaya.

“Maaf, Ibu Fortuna. Sendirian dalam Ruangan tuh membosankan, Geuse temanku, jadi aku ingin bertemu dengannya, aku hanya ingin keluar.”

“Lalu melarikan diri karena kau ketahuan. Kau tahu sedang melalukan perbuatan buruk. Sepatutnya kau sangatttt tidak melakukan itu.”

“Aku tahu ….”

“Kau tidak boleh melanggar janji. Janji itu penting. Janji adalah representasi kepercayaan, dan melanggar janji berarti mengkhianati kepercayaan itu. Tidak boleh, ya.”

Hampir menangis, Emilia melihat ke bawah—wajahnya tersangkut di antara dua tangan, dia dipaksa menatap sepasang mata ungu Ibunya.

“Emilia, berjanjilah. Kau akan menepati janji mulai dari sekarang.”

“Hmmm … iya, aku janji. Maaf, Ibu.”

“Baiklah. Semuanya baik-baik saja.”

Setelah mendengar Emilia berjanji sambil berlinangan air mata, Fortuna memeluk putri kesayangannya dari depan.

Dengan lembut membelai rambut perak Emilia, gadis itu terisak-isak namun sang ibu menerima kedewasaan anaknya lewat desahan lembut. Saat itulah ….

“Geuse? Kau sedang apa di sana?”

“S-saya … t-telah menyaksikan, terlalu banyak pemandangan indah … air mata … sudah di luar kendali saya ….”

Geuse berjongkok di bawah naungan pohon sembari menekan sapu tangan ke wajahnya, menangis juga. Tampaknya mendengar percakapan ibu-anak membuatnya emosional juga.

Melihat Geuse menangis dalam ingatannya di Ujian membuat Emilia bahwa orang itu suka menangis. Suatu kehangatan menjalar di dadanya.

“Ngomong-ngomong, Emilia. Para peri yang kau sebutkan itu ….?”

Mengesampingkan Geuse yang mengeluarkan isi hidungnya dengan sapu tangan, Fortuna membahas dalih Emilia yang menarik minatnya. Topik peri, Emilia menatap Fortuna dalam pelukannya, mati si anak kecil masih merah.

“Oh, mereka itu ….”

“Peri-peri, sini.”

Emilia kecil mengulurkan tangan saat berbicara kepada lingkungan sekitarnya.

Seakan ujung jari pucatnya adalah tempat betengger, beberapa bintik-bintik bercahaya muncul, melayang dan berkumpul di sekitar tangannya.

Baik Fortuna maupun Geuse terkejut terhadap demikian.

“Tidak mungkin, roh kecil? Mereka banyak amat. Bagaimana bisa?”

“… Aku ngomong sama mereka, mereka ada banyak. Muncul saat aku bermain di Ruang Putri.”

“Bisa memanggil banyak roh kecil padahal usia masih sedini ini … Emilia-sama, nampaknya Anda berbakat menjadi seorang spiritualis.”

“Bakat, spiritualis?”

“Mereka yang Anda sebut peri adalah mahluk yang dikenal sebagai roh kecil. Jumlahnya tersebar banyak di seluruh dunia, bukalah hati kepada mereka agar dapat berkomunikasi dan membentuk kontrak. Mereka yang disukai roh, dan meminjam kekuatan mereka akan mampu menjangkau sesuatu yang maha hebat, mereka dipanggil spiritualis.”

“Aku bisa menjadi spiritualis?”

“Tentu saja. Dewasalah dengan sehat, disukai oleh roh sebagaimana begitu … tak diragukan lagi, banyak roh-roh kuat akan menghampiri Anda.”

Wajah Emilia berseri-seri tatkala mendengar penjelasan Geuse.

Tapi Fortuna berdiri, menyikut sisi tubuh Geuse.

“Tunggu dulu, Geuse. Tidak bercanda, ya. Tidak bisa ujuk-ujuk bilang mengendalikan beberapa roh kecil membuatmu menjadi seorang spiritualis … dan, Emilia tidak harus jadi begitu.”

“Mungkin demikian opini Anda, namun Emilia-sama takkan terus hidup sebagai seorang gadis. Pasti nanti akan ada waktu-waktu beliau tidak bersama Anda. Saya yakin perlu menambah kemampuan dalam rangka mencari jati diri sewaktu momen-momen tersebut datang.”

Fortuna dan Geuse mendebat mana pendidikan Emilia yang mesti difokuskan.

Melihat perbincangan mereka dari samping, Emilia besar pasti sedang memikirkannya.

“Ibu Fortuna dan Geuse mirip ayah dan ibu.”

“Apa!?”

Tanpa niat buruk dalam ekspresinya, Emilia kecil mengutarakan hal yang persis sama di pikirkan Emilia besar.

Gadis itu melihat wajah Fortuna merah padam dan setuju pada fakta itu, yap, dirinya yang lebih muda memikirkan hal serupa.

“Oke, Emilia, jangan katakan hal-hal aneh. Ibumu dan Geuse cuma sudah lama saling kenal saja, hubungan kami tidak seperti itu.”

“Tepat sekali, Emilia-sama. Fortuna-sama dan saya sudah lama saling kenal … bahkan, saat masih bekerja sama dengan ibu dan ayahmu ….”

“—Geuse.”

Fortuna menjelaskan dengan panik, tapi Geuse yang keceplosan menurunkan nada bicaranya. Sepertinya keliru dan buru-buru menaruh tangan ke mulut.

“Maaf.”

“Ibu, dan ayah?”

“Maaf, Emilia. Akan kita bicarakan itu di lain waktu. Kembalilah ke kamar. Ibu masih belum memaafkan dirimu yang menyelinap kabur.”

“Hmph …. Jahat banget, Ibu Fortuna ….”

Merasa Fortuna tengah mengalihkan topik pembicaraan, Emilia menebalkan pipi sebagai tampang tidak senang. Tapi Fortuna terlihat keras kepala dan menggerakkan tangannya ke pipi Emilia yang mengembung, menekannya dan keluarlah udara dari mulut.

Sesudahnya, Fortuna berlutut agar tatapan mata mereka selaras.

“Berperilakulah seperti gadis baik. Ini bukan terakhir kalinya kau bertemu Geuse. Aku akan, emm … buat kesempatan lain untuk bertemu dengannya.”

“Benarkah!? Janji, ya? Akan balik lagi?”

“OH, tidak, gadis ini. Kok bisa secerewet ini?”

Fortuna tersenyum masam kepada Emilia ketika mengangkat topik tentang janji, lalu memeluknya.

“Ya, aku janji. Ini janji antara kau dan aku, dan itu sangattttt penting.”

“… Oke deh. Aku balik.”

Emilia kecil mengangguk percaya kepada Fortuna.

Terlepas dari pelukan, Emilia berlari mendekati Geuse sebelum kembali ke Ruang Putri. Mengulurkan tangannya ke Geuse, tersenyum.

“Sampai nanti, Geuse. Berjanjilah kita akan bertemu lagi.”

“—Ya, tentu saja. Kita ‘kan bertatap muka di masa depan. Saya akan menunggu hari itu.” Geuse meraih tangan kecil yang terulur dan menjabat tangannya.

Senyum bertemu senyum, Emilia mengangguk-angguk sebelum melepaskan tangannya dan menyampaikan salam selamat tinggal.

Emilia kecil siap kembali ke Ruang Putri—

“Di sinilah mereka.”

Echidna bergumam, diam-diam mengawasi semuanya hingga sekarang.

Emilia jelas-jelas mendengarkan suara Echidna dan mengangkat kepala, melihat sekeliling dan menentukan maksud Echidna—lantas mendapatinya.

“—”

Seorang pemuda berkulit putih.

Kulit putih, rambutnya juga putih. Mengenakan kemeja dan celana sederhana, tiada hiasan pada dirinya.

Parasnya memang menarik, tapi selain itu dia kekurangan semuanya, penampilannya sungguh-sungguh tanpa gaya.

Pemuda itu bercampur ke dalam kerumunan dan lenyap seketika sebagaimana menampakkan kekurangan gaya dan kepribadiannya, namun eksistensinya di sini, saat ini, membuatnya terasa seperti orang luar tidak normal.

“… Siapa kau!?”

Fortuna dalam ingatan juga memperhatikan si pria, segera memegang erat-erat Emilia seraya menyuarakan jelas kewaspadaannya.

Pria itu bersandar pada batang pohon dan mengelus rambut putih.

“Tidakkah menurutmu masuk akal ketika hendak menanyakan nama seseorang, kau mesti memperkenalkan dirimu terlebih dahulu?”

Balasan itu membuat alis Fortuna berkedut.

Melihatnya, mulut si pria membuka, aura yang dipancarkannya suram.

“Siapa, adalah satu dari pertanyaan-pertanyaan yang bila dijawab alam terasa hambar dan basi, kini aku sungguh-sungguh terjatuh ke dalam konteks yang cocok untuk hal semacam itu, mengapa juga … hah … aku memang paham kenapa orang-orang beraninya bertanya demikian. Inilah beberapa orang yang pertama kali bersedia berkumpul. Posisi kita selayaknya secara definitif setara karena sedang membangun hubungan, namun kini ada orang yang merendahkan serta memeras nama secara sepihak. Kau tanpa sadar tidak simpatik, dan egoisnya memperlakukanku lebih buruk, pernahkah itu terjadi padamu?”

“… Bagi seorang pria, kau tentu banyak bicara.”

“Bagi seorang pria, di sinilah terlihatnya prasangkamu, menampakkan betapa bodohnya kau dibanding beberapa orang pria. Pertama-tama menurutmu hak macam apa yang kudu kau renggut dari mahluk bernama pria, kelas yang mencakup lebih banyak individu di seluruh dunia melebihi daripada yang bisa kau hitung, membandingkanku dengan mereka? Tindak-tandukmu itu … membuatku sulit mengabaikannya. Semata-mata kurang sopan santun. Merampas kepribadianku, merampas hak-hak diriku, dan menendangnya jauh-jauh.”

Tampaknya setiap kata dari Fortuna membuat pidato pria itu makin gila:

Pria tersebut yang kian berbahaya, Fortuna waspada dan siap bertempur. Tetapi yang menghentikannya adalah Geuse, si pria tinggi berdiri di sampingnya.

Menatap pria berkulit putih, ekspresinya meneguh dan berbicara:

“Regulus Corneas! Atas alasan apa kau ke sini! Kita punya janji bahwa hanya aku yang terlibat dalam urusan ini!”

“Menyebutnya janji tak terubah atau apa punlah, hanya kau saja yang mengucap hal-hal demikian dan menganggap imbuhmu normal. Kau memaksa orang-orang agar tunduk kepada ungkapanmu yang mendominasi, omong kosong besar nan sombong yang telah kau semburkan. Mencoba mengunci kepentingan sehari-hariku, meskipun diriku tidak melakukan perbuatan-perbuatan salah … begitukah? Pernahkah kau menghentikan pelanggaran yang kau kenakan pada orang dan hakku?”

“Ujarmu tidak menyajikan jawaban! Bila mana kau tidak senang dengan perjanjian itu, maka kita bisa mendiskusikannya di gereja! Untuk apa kau muncul di sini! Dan siapa yang membocorkan tempat ini ….”

“—Itu adalah perintahku.”

Suara Geuse berguncang murka selagi berteriak pada si pemuda kesal, Regulus.

Namun memotong argumen mereka, tidak pernah sekalipun terdengar pertengkaran ini, kedengaran suara seorang wanita.

Semua orang yang hadir di sana punya reaksi sendiri-sendiri terhadap suara itu.

Mata Geuse merinding, mata Fortuna berkobar marah, Emilia kecil menggeleng kepala dan menangis di lengan sang Ibu, Regulus tersenyum jahat.

Emilia menahan nafas saat melihat ingatannya, sedangkan Echidna hanya menutup mata.

Dia melangkah maju, gadis lajang ini.

Orang yang berdiri di samping Regulus selagi menatap Emilia, Geuse, dan Fortuna, gadis itu kelewat cantik sampai-sampai semua orang yang melihatnya gemetaran.

Rambut panjang platinum berdesir pelan seakan-akan perwujudan dari matahari, mengalir ke leher ramping hingga punggungnya.

Bulu mata panjang membatasi mata, warnanya begitu biru sampai-sampai tampak menjebak dunia, perawakannya terlampau menarik sampai seorang dewa pun ragu-ragu menyentuh jarinya, kecantikannya sempurna.

Tubuh kurusnya cukup menawan setakat desir angin pun mengancamnya. Dia mengenakan kain putih tunggal belaka, seluruh auranya menunjukkan bahwa dunia takkan membiarkan apa pun menyentuh kulitnya.

Bukan kehadiran orang biasa, penampilannya juga bukan orang biasa.

Suaranya memiliki daya pikat yang ajaibnya hampir memikat, mengikat pikiran serta tubuh orang-orang yang mendengarnya, seluruh mahluk yang hadir di sini terdiam seribu bahasa.

“Apa ada yang salah? Uskup Agung Betelgeux Romanée-Conti?”

Memiringkan kepala, gadis itu mengajukan pertanyaan.

Ditatap dan diajak bicara olehnya. Salah satu tingkah ditujukan kepadanya sudah membuat suatu euforia luar biasa, kematian pun tidak jadi masalah, sensasinya tak dapat dihindari.

Biarpun Emilia tahu bahwa ini adalah masa lalu, dia merasa mulutnya mengering saat melihat gadis itu.

—Dia berbahaya.

“Kenapa kau … tidak, Regulus Corneas! Kenapa kau membawanya ke sini!”

Geuse menggertakkan gigi, menolak emosi yang berputar-putar dalam dirinya.

“Dia, berbahaya.

“Kau kira aku yang membawa orang lain akan mengganggu kehendak pihak lain? Kami bersama karena kemauannya sendiri. Berusaha menyalahkanku adalah dugaan berlebihan. Lebih baik kau tidak asal menghakimi manusia seperti aku ini.”

“Uskup Agung Regulus. Dia sedang terkejut. Jangan terlalu menyalahkannya.”

Sudut-sudut mulut Regulus gemetar panik agar wajahnya tidak kegirangan saat ia membungkuk hormat.

Aneh.

Regulus asingnya sangat kuat. Kepatuhan padanya berarti si gadis sangat absurd.

Geuse menatap gadis itu, matanya gemetar kaget serta buncah ketika menggelengkan kepala.

“Itu … sungguh, kejam … Pandora-sama ….”

Suara nafas Gesue membuat gadis itu tersenyum samar.

Senyum gadis ini, diberkati oleh dunia dan sebagai pertanda kemurnian yang bahkan lebih kuasa. Si gadis, Pandora, membalas semua tatapan yang tertuju padanya secara terbuka.

Merentangkan tangan lebar-lebar, seolah-olah jangkauan kecilnya akan membuai segala hal. “Haruskah kita mulai? Atas pemenuhan keinginan utama kita para Kultus Penyihir.”

“PANDORAAAAAAAAAA!” teriak Fortuna. Emilia kecil yang disembunyikan di belakangnya, Fortuna memanjangkan lengan dan membuat lingkaran sihir biru di hadapannya. Terbentuk es besar, diarahkan langsung kepada Pandora.

“Baik sekali.”

“Tertikamlah dan minta maaf pada kakakku serta yang lainnya!”

Pandora menutup mulut. Fortuna menyerang.

Setiap es sebesar lengan orang dewasa, dan jumlahnya hampir dua puluh. Terbentuk cepat dan ditembakkan secara beruntun—mengarah ke si gadis yang terheran-heran sebelum meledak menjadi uap putih.

Terdengar suara retakan es-es tanpa henti, asap putih menyelimuti keadaan sekeliling sebagai tanda bahwa Fortuna tidak menghiraukan apa pun kala menyerang. Mulut Emilia kecil terbuka lebar sementara Ibunya berada di depan, wajah cantiknya murka saat mengangkat lengan.

“Dannn sekarang—!”

Mengikuti gerakan lengannya yang terayun ke bawah, bola es besar memusnahkan pepohonan hutan yang terjatuh dari atas. Membidik tempat Pandora berdiri, kematian putih membenamkan eksistensinya ke tanah hutan, menandai kuburannya.

Bahkan Emilia besar pun tidak bisa berkata apa-apa terhadap kehebatan sihir Fortuna.

Seandainya Emilia masih punya bantuan Puck, tidak mungkin dia mahir mengendalikan sihir sekuat itu. Memang Emilia besar tak pernah meremehkan Ibunya, tapi tatkala tahu kemampuannya lebih cakap dari ingatannya membuat dia merinding.

Akan tetapi ….

“Hei … kau sama sekali tidak memperhatikanku, bukan? Kau tidak mempedulikanku sedikit pun sampai-sampai tidak membiarkan seranganmu mengenaiku, bukannya mencurigakan? Tahukah kau maksudnya? Maksudnya kau mengabaikan kehadiranku, hidupku, hakku.”

“—”

Geuse melirik Emilia, wajahnya entah bagaimana melega ketika dia mengangkat tangan.

Sesudahnya, Fortuna serta Emilia berlari semakin dalam ke hutan, Geuse menghilang dari pandangan pasangan itu.

“… Aneh. Diriku, aku dibawa pergi, semestinya tidak melihat kejadian di sini.” ujar Emilia.

“Jangan meremehkan arsitektur dunia ingatan ini. Memorimu barangkali fondasi, namun pembangunannya berasal dari algoritma dan referensi Kitab Kebijaksanaan. Sampai skala tertentu, sudah cukup untuk mengisi peristiwa yang belum kau lihat. Kendati ….”

Berdiri di samping Emilia yang kebingungan, tatapan Echidna melacak pelarian Fortuna.

“Ngomongin pelampauan Ujianmu, kita tengah mengikuti mereka. Menurutmu bagaimana? Ganti saja?”

Echidna secara tidak langsung mengumumkan bahwa Emilia harus mengikuti Fortuna. Kalau dipikir-pikir memang benar. Ujian berkaitan dengan masa lalu Emilia, jadi dia wajib memprioritaskan apa pun yang dilihat dan dilakukan Emilia kecil. Namun ….

“Echidna … kedengarannya kau hendak membuatku mengikuti mereka.”

“…” Echidna terdiam.

“Apa cuma prasangka saja … ya. Ungkapan dan perangaimu barusan aneh.”

“… Terserah ingin berpikir apa. Dan juga, kejadian ini mulai beraksi lagi.”

Echidna menjawab pertanyaan Emilia, tampangnya kosong saat melangkah mundur. Kemundurannya mungkin agar tidak terkena dampak keci dari pertarungan yang segera dimulai.

Seberapa parah kerusakannya, takkan mempengaruhi Emilia atau Echidna. Tetapi mana kala sesuatu mengubah lingkungan, mereka tidak dapat menghindari dampak pada bumi yang mereka singgahi.

“Kau keren juga, Betelgeuse. Tapi atas izin apa dirimu melakukan hal demikian? Tahukah kau kenapa aku di sini? Pikirkan lagi segigih mungkin, aku ke sini karena ada urusan. Kau yang menghalangi berarti tidak setuju pada kelakuanku. Itu melanggar, hakku.”

“Terserah ingin bilang apa, Regulus Corneas. Tapi saat ini, tidak boleh kubiarkan kau lewat lebih jauh!”

“Baiklah. Bukannya aku tidak peduli pada pendiri Kultus Penyihir, tapi hebatnya, adalah beberapa kontribusi masa lalu yang membuatmu menduduki kursi sekarang. Memangnya kau bisa mengalahkanku, memilih melawan posisi ini?”

“Itu … pasti ada peluang kemenangan.”

Kemarahan Regulus membesar selama merangkai logika egoistiknya. Geuse merespon santai. Tangannya merogoh jubah, tekad di wajahnya membesi. Bagi Emilia, bagai raut muka pria yang teguh menghadapi Maut.

“Tidak … Geuse, apa yang kau lakukan!?”

Menyaksikan berbagai kejadian masa lalu membuat Emilia mengingat nama panggilannya kepada Geuse.

Situasi yang sedemikian rupa sampai dia berani mati, Emilia mengulurkan tangan untuk menghentikannya. Tetapi Emilia saat ini tidak mampu mempengaruhi masa lalu.

Tangannya yang memanjang melewati pria itu, tidak menyentuh telapak tangan yang dia genggam dulu saat masih kecil.

“Itu ….”

Dari sakunya, Geuse mengeluarkan kotak hitam kecil.

Awalnya alis Regulus mengerut, roman-romannya telah menebak identitas barang itu selagi matanya terbuka lebar. Regulus untuk pertama kalinya terkaget-kaget, mata tajam Geuse menembusnya.

“Seharusnya kau tahu. Tanganmu juga pernah memegangnya sekali.”

“Tentu tahu. Terlampau tahu, karena rahangku ini sibuk menganga melihat kebodohan hinamu. Mungkin kau menyembunyikan barang tersebut, berpikir akan menjadi kartu as atau apa pun yang kau pikirkan, tidakkah kau tahu apa yang terjadi begitu diletakkan dekat-dekat? Kau! Tidak pantas memilikinya! Bukan pihak lain yang memutuskan, melainkan barang itu sendiri!”

“… Benar, aku sama sekali tidak berkemampuan. Maka dari itu, aku memegang belaka apa yang dipercayakan kepadaku. Biar demikian, fungsinya juga demi kejadian seperti ini.”

“Uskup Agung Betelgeuse Romanée-Conti.”

Geuse diam-diam merespon Regulus yang murka.

Pandora, tidak bergerak seinchi pun dari tempat asalnya, memotong percakapan mereka.

Geuse mengangkat wajah. Muka Pandora woles.

“Selamat berpergian.”

“—”

Tiada niat buruk maupun niat baik atau niat kosong, hanya ucapan berkat.

Emilia tidak begitu paham kengeriannya, begitu pula Geuse.

Berkat itu hampir terasa seperti membantai Geuse sepenuhnya, membuatnya mengerang, menahan rasa sakit. Dia memutar kotak di tangannya, membuka tutupnya. Bagian dalam kotak di atas telapak tangannya adalah sesuatu hitam yang menggeliat-geliat.

“Mohon maafkan aku, Flugel-sama.”

Setelahnya, Geuse menekan sesuatu yang hitam dan kotak di dadanya.

Seketika, sesuatu masuk ke dalam tubuh Geuse bak tetesan air, mengelubunginya bulat-bulat.

Seakan Geuse diserap oleh beberapa mahluk kental. Emilia menjerit sedih tanpa suara ketika sesuatu itu menyelimuti tubuh Geuse, membuatnya menegang.

“Dasar sinting.”

Ludah Regulus, untuk kali pertama menyampaikan penilaian singkatnya.

Tatapan cemooh kepada Geuse yang terbungkus sesuatu ketika mengangkat tangannya ke langit, mulutnya membuka dan memekik-mekik. Bukan kesakitan, bukan juga kegembiraan, melainkan suatu emosi yang membuat irinya kacau-balau.

“—”

Suara aneh dikombinasikan suara pekikan tersebut.

Suara seseorang bertepuk tangan.

“Menakjubkan.”

Bisik Pandora berambut emas putih sembari bertepuk tangan.

Selagi menonton Geuse, menarik nafas dan terengah-engah di tengah derasnya emosi, pipinya memerah sebab kesenengan.

Nafasnya agak compang-camping, tidak salah lagi, pemandangan itu yang menggembirakannya.

“Pandora-sama?”

Emilia bukan satu-satunya orang yang mempertanyakan tingkah laku Pandora, Regulus juga.

Mengerutkan alis di hadapan Pandora yang bertepuk tangan. Gadis itu kembali melihat Regulus dengan pipinya yang masih merah padam, tidak lagi bertepuk tangan dan menunjuk-nunjuk Geuse.

“Uskup Agung Regulus Corneas.”

“Ya?”

“Dia datang.”

Mendadak, Regulus ngejomplang, terhempas tinggi-tinggi ke langit.

“Apa—?”

Layaknya seorang bocah memegang kaki boneka secara kasar dan dilempar. Regulus tidak tahu apa yang sedang terjadi, membisu sewaktu dia hinggap di puncak lemparan—dan dibanting kembali ke tanah. Kejatuhannya melampaui kecepatan jatuh rata-rata, sepertinya dia dilempar-lempar karena kakinya masih digenggam.

Tanpa daya, kepala Regulus terlebih dahulu menabrak tanah.

Gemuruh ledakan menggema kala bumi hancur-lebur, pohon-pohon yang terjebak dalam kejatuhannya telah roboh secara berurutan di sekitar titik dampak. Serangan kedua menjepit Regulus di bawah kayu, hutan tiba-tiba hening.

Emilia terdiam, kepalanya yang kosong buru-buru mencari tahu kronologi kejadian.

Gadis itu tidak melihat satu hal pun. Namun sekiranya terdapat sesuatu yang bisa dia lakukan—

“Aku yakin pernah … memberitahumu.”

Jatuh berlutut dan mengenakan jubah hitam, darah mengalir dari mata si pria tatkala melihat ke depan.

Menatap celah-celah pepohonan serta gumpalan debu yang naik, nafasnya acak-acakan dan mengubah tekadnya menjadi kemenangan taruhan, adalah pria ini.

Terbebas dari penderitaan terselubungi sesuatu yang hitam, dia bangkit berdiri.

Dia—bukanlah Geuse. Orang ini adalah Betelgeuse Romanée-Conti.

“Takkan kubiarkan kalian mengejar mereka … kalian tidak boleh lewat—LEBIH JAUH LAGI!”

6 Replies to “Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 118”

  1. Butuh gambaran Geuse disini itu kayak gimana deh, kalo ga mah di otak cumen ada bayangan si Betelgeuse, dan ngebayangin Emilia deket sama dia itu… (๏_๏)

    1. geus itu sama dengan betelgeus yang di bunuh subaru, dia itu ayah nya emilia

      miris , bapak e emilia malah yg ngebunuh si subadrun

      1. Ehh cok apa maksudnya, Betelgeuse ayah Emilia? Trus kok Subaru bisa bunuh bapak Emilia?.

        Min, comment ini kan di post dengan persetujuan mimin, apa maksudnya min kaga paham ane :”(

        1. Setiap komentar, kalau mau tampil di web harus lewat persetujuan gua. Betelgeuse cuma orang yang dianggep ayah ama emilia, bukan ayah asli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *