Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 101

Posted on

Theta, Bagian 1

CH 101.jpg

Penerjemah : DarkSouls

Salah satu perwakilan kepribadian, yang Subaru sebut Theta――

――Ia telah memasuki Makam dan menyentuh masa lalu nenek moyangnya, Lewes Meyer, namun ingatan itu sungguh terfragmentasi, dan kronologi sejarahnya tidak tentu.

Theta menduga ini pasti karena keberadaannya tercipta dari berbagai fragmen yang dipisahkan dari jiwa orisinil Lewes Meyer.

Dalam hal ini, para Lewes lainnya : Alpha, Beta, Sigma, dan bahkan replika-replika tanpa perasaan, semuanya sekilas melihat masa lalu yang berbeda-beda.

Bahkan jika hipotesis itu benar, Theta tidak ingin mereka masuk Makam.

――Karena bagi Theta, memikirkan Lewes lain menyaksikan masa lalu yang dia lihat, akan disertai penderitaan tak tertahankan dan rasa pahit yang amat berat.

“――Kau ingin apa, sih? Menatapku terus tidak akan memberikanmu apa-apa.”

Memori itu berawal dari seorang gadis berambut halus yang sedang memelototinya.

Seorang gadis yang wajahnya cantik.

Rambutnya begitu indah sampai-sampai tampak menyatu dengan cahaya, kulitnya amat putih hampir transparan. Mata biru muda besar dan bundar, gambaran sosoknya adalah Imut.

Rambutnya bergaya kuncir kembar panjang yang berputar-putar, memperlihatkan tekstur halus nan elok juga mulus.

Dia mengenakan gaun rapi yang membuat seorang gadis muda terlihat seperti orang dewasa, tetapi cocok dengan kemewahan si gadis sendiri, warna gaun itu sangat cocok untuk menyelaraskan penampilannya.

“――――”

Dipelototi oleh tatapan bocah manis ini, Lewes agak tersentak kaget.

Dibandingkan gadis ini, pakaian serta penampilannya sungguh menyedihkan. Fakta mereka berdua seusia membuat kesengsaraannya semakin besar dan dia merasa malu berada di sana.

“Payah ih.” kata gadis itu.

Di hadapan Lewes yang terdiam, gadis itu mendengus tidak senang.

Walaupun penampilannya yang menggemaskan membuat tindak-tanduknya nampak lucu, bagi Lewes, perasaan itu yang menggantung di hatinya lebih menyakitkan ketimbang diomeli.

Tapi sebelum dia sempat menyadari bahwa perasaannya mirip rasa takut untuk membuat gadis ini kesal―

“Beatrice. Kenapa sikapmu begitu? Aku tidak ingat kau pernah bersikap seperti itu.”

Terdengar suara lembut yang membuat ekspresi gadis itu menegang.

Suara itu asalnya dari belakang si gadis, dan di depan pandangan Lewes.

Keluar dari gubuk kecil di bagian belakang desa adalah seorang wanita Putih Sejati.

Rambutnya teurai panjang dan licin, cahaya pun tak mampu menembus kulitnya. Hanya alis dan bibirnya saja yang tidak putih, wanita itu mengenakan gaun berlengan panjang, menyertainya dengan warna berlawanan seolah menyampaikan kepada orang-orang di sekelilingnya bahwa dia memang eksis.

Orang yang berjalan ke arah Lewes dan si gadis itu adalah tokoh desa ini――Penyihir Echidna yang terkenal.

Suara Echidna-lah yang membuat gadis bernama Beatrice itu lebay menanggapinya. Si gadis berbalik dengan wajah tegang, lalu ….

“Aah, ehm … bukan begitu, Bu! Bukan Betty yang … hanya saja, gadis ini ….”

“Kapan aku mengajarimu berdalih begitu. Jujur saja dan katakan kebenarannya. Kalau kau yakin bukan salahmu, kalau begitu kau semestinya tidak buat-buat alibi, benar?”

“Ibu enggak … salah, kayaknya ….”

Suara Echidna tidak berisi emosi tajam, namun diam-diam menusuk, kesadisannya menekan.

Beatrice melemaskan bahu lalu kemudian berpose Amustikarana, kelihatan malu-malu.

“Betty anteng menunggu di luar seperti perintah ibu, dan gadis ini tahu-tahu datang, kayaknya. Melihatku dari sana … itu sangat tidak sopan. Jadi aku memanggilnya dan bertanya dia ingin apa, kayaknya.”

“Hmm. Begitu. Hei yang di sana, apa pernyataannya benar?”

“Ah … anu. Y-ya, benar. Maafkan saya. Saya s-sangat tidak sopan, dan ….”

Penjelasan Beatrice akurat. Lewes sedang berdiri di pinggiran desa, menatap kosong gadis kecil yang tengah bersandar di pagar. Beatrice barangkali lagi menunggu Echidna menyelesaikan apa pun pekerjaannya. Postur tubuh serta matanya kelihatan hampir kesepian, dan Lewes merasa dadanya sesak selagi melihatnya.

Namun seandainya dia mengatakannya keras-keras, mereka mungkin akan mendengus dan menertawakannya. Jadi Lewes menciutkan tubuhnya yang memang sudah kecil, berharap melewati omelan ini dengan menundukkan kepalanya.

“Kau tidak menyangkalnya? Kalau begitu Beatrice benar, dan kau agak tidak sopan, Lewes.”
“Itu benar, bu. Lantas Betty tidak salah sama sekali ….”

“Biar begitu, salahmu karena tingkah angkuhmu sangat menakutinya, Beatrice. Aku yakin sudah sering memberitahumu hal ini. Kau memang spesial, tapi bukan berarti kau bebas meremehkan orang lain.”

“Uu, mhuu ….”

Beatrice yang gembira mendengar afirmasi Echidna langsung dihajar omelannya.

Selagi mendengarkan perbincangan mereka, Lewes tiba-tiba sadar Echdiona mengingat namanya, kebenaran itu sangat menyentuhnya sampai seluruh tubuhnya berguncang.

Mereka tinggal di desa kecil, namun Lewes hanya bocah tidak penting.

Walau Penyihir yang dihormati itu, tokoh besar mereka, mengingat namanya. Hal itu adalah kehormatan tak terbayangkan bagi seorang penduduk Sanctuary yang mengidolakan Penyihir Keserakahan dengan rasa hormat sebesar-besarnya.

“Akan kusuruh Geuse mendakwahimu saat kita sampai di Mansion. Kurasa dia akan sangat antusias melakukannya.”

“… Aku tidak terlalu menyukai Geuse, kayaknya.”

“Dia sendiri bilang tugasnya adalah tidak disukai, persis sekali dengan hal yang ‘kan dia lakukan.”

Tersenyum ringan terhadap Beatrice yang meringis, Echidna menoleh ke arah Lewes.

Hati Lewes langsung syok. Mengira dia sudah tidak lagi diperlukan dalam percakapan, Lewes baru saja hendak pergi namun perhatian Echidna sungguh-sungguh mengejutkannya.

Dan seperti ini, Echidna mendekati Lewes yang pundaknya tetap terangkat dan kaku.

“Maaf sudah mengangetkanmu, Lewes. Nama bocah ini Beatrice … dia ini seperti anak perempuanku sendiri. Kau tahu deh, disiplinnya masih tidak cukup, agak memalukan sih untukku.”

“Aku bukan seperti anak perempuanmu, aku memang anak perempuanmu.”

“Yah, kurasa begitu. Mulai sekarang dia akan lebih sering menemaniku berkunjung ke Sanctuary. Kalian akan punya banyak kesempatan untuk berinteraksi, jadi kuharap kalian bisa akrab.”

“M-mengerti. Anda bisa menyerahkannya pada saya, Echidna-sama.”

Dengan tangan Echidna di bahunya, jantung Lewes berdebar-debar penuh sukacita sambil mengangguk-angguk.

Menerima janji Lewes, Echidna mengangguk puas, sedangkan di belakangnya, Beatrice menggumamkan, “… Hmph, Betty oke-oke saja sendirian,” dengan suara lirih.

“Kau yang di sana, maaf. Aku yakin Echidna-sama seharusya berada di sekitar sini, apa kau melihatnya?”

Terhenti oleh panggilan itu, Lewes berbalik sembari memegang keranjang cucian di tangannya.

Kemudian, menyadari siapa yang memangginya, dia hampir saja berteriak. Saat itu Lewes sedang meraba-raba keranjang cucian di tangannya, tetapi ada satu uluran tangan yang kembali membuatnya tersadar.

“Ah, hap―”

“Uuu, uwahhh, maafkan saya!”

Melihat pemuda yang langsung mendekat untuk menangkap keranjangnya yang terjatuh, Lewes buru-buru menundukkan kepala. Melihat ini, pemuda berambut biru panjang itu berkata, “Tidak, jangan khawatirkan itu.”

“Semestinya aku yang meminta maaf, karena tidak tahu kau sedang membawa sesuatu. Sungguh tidak pengertian diriku ini.”

“T-tidak, tidak sama sekali … saya tidak layak menerima permintaan maaf Anda, Mathers-sama.”

“Siapa pun itu, semua orang sudah sepatutnya pengertian terhadap seorang wanita. Satu kesalahanmu, aku tidak terlalu suka dipanggil nama keluargaku. Kau boleh panggil aku Roswaal.”

Mengucapkan ini pada Lewes yang kebingungan―Roswaal mengedipkan mata.

Dia kira-kira empat sampai lima tahun lebih tua dari Lewes, dan satu kepala lebih tinggi. Anggota tubuhnya masih dalam masa pertumbuhan, dan suaranya yang nyaring belum serak seperti orang dewasa.

Daya tarik sensualnya hanya dapat dicapai dalam selingan singkat antara bocah laki-laki dan seorang pria tulen―dan tingkahnya yang penuh martabat membuat Lewes muda itu merasakan pesonanya.

Dan siapa yang menyalahkan Lewes karena merasa begitu? Roswaal, walau masih muda, dia sudah jadi Kepala Keluarga Mathers, penguasa berbagai wilayah, rekan Penyihir Echidna, dan gubernur Sanctuary, semuanya digabung menjadi satu orang pria luar biasa.

Dia berkontribusi pada pengembangan Sanctuary dengan cara yang berbeda dari Echidna, semua orang selalu memberitahu Lewes untuk tidak tidak sopan kepadanya.

Merasa pipinya merah setelah dikedip Roswaal, Lewes bingung hendak membahas topik apa karena topik barusan Roswaal hentikan.

“Yah, anu, jadi, Echidna-sama … saya tidak melihat beliau hari ini. Beatrice-sama juga tidak di tempat yang biasa.”

“Begitu. Mungkin beliau terlambat. Kesampingkan Echidna-sama, tak terbayangkan Beatrice tidak menemuimu.”

 “Emmm, um … saya rasa … hanya kebetulan saja Beatrice-sama dan saya sering berpapasan ….”

“Kau bilang kebetulan karena itu Beatrice sendiri yang menemuimu, ya?”

Terhadap pertanyaan Roswaal, Lewes hanya mengangguk tanpa kata.

Dia telah berinteraksi bersama putri Echidna berkali-kali sejak mereka diperkenalkan. Gadis itu akan menyertai Echidna saat menjambangi Sanctuary meski jadwalnya sungguh sibuk, dan Beatrice kerap kali berkeliaran di tempat itu selagi Echidna mengurus urusannya. Dalam waktu-waktu itu, dia dan Lewes mengejutkannya sering ketemu.

Lagi dan lagi, mereka akan saling bertemu ketika Lewes lagi mengumpulkan cucian atau memetik sayuran liar.

Melihat reaksinya, Roswaal tertawa, tidak mampu menahannya.

“Beatrice tidak pandai jujur dengan perasaannya. Kuharap dia tidak merepotkanmu.”

“Tapi beliau terlalu baik untuk saya. Beliau bersikap sangat baik kepada orang seperti saya. Dan saya saja yang selalu membuat Beatrice-sama berang … saya bahkan cemas beliau akan membenci saya nantinya.”

“Santai saja. Keluhan Beatrice tidak jelas. Bila dia betul-betul membencimu, dia tidak akan terus-terusan mencari alasan saat bertemu denganmu.”

Iyakah? Lewes memiringkan kepala kala mendengarnya.

Kapan pun Beatrice bersama Lewes, gadis imut itu selalu saja geram, dan senantiasa mengomentari perilaku Lewes. Itulah anggapan Lewes, kendati orang lain memberitahunya bahwa Beatrice tidak benar-benar membencinya, Lewes agak sulit mempercayainya.

Lewes dan sebagain besar penghuni Sanctuary kerap kali dijadikan sasaran kegusaran dan kedengkian dunia luar. Tingkah laku Beatrice terlampau lembut dibandingkan apa yang diketahui Lewes, dan bahkan tabiatnya tersisip semacam kehangatan, tapi kejam tetaplah kejam.

“… Kuharap suatu hari nanti, kalian berdua akan memahaminya.”

Melihat Lewes terbungkam, Roswaal menggumam sedih.

Melihat Roswaal tersenyum sedih, Lewes bergidik, bertanya-tanya apakah dia membuat pria itu kesal.

Tetapi sebelum dia sempat berkata apa-apa untuk mendinginkan situasi, Roswaal mengedipkan mata kuningnya seolah-olah telah melihat sesuatu.

“Ah! Sensei! Panjang umur, Sensei datang saat saya lagi membicarakan Anda!”

 Mengangkat tangan dan sepenuhnya membuang tingkah dewasanya yang barusan, Roswaal mulai berlari sambil memasang ekspresi senang kekanak-kanakan. Lewes semata-mata melihatnya berlari melewatinya, menuju seorang wanita yang sedang berdiri di kejauhan―Echidna.

Melihat laki-laki itu berlari ke arahnya sembari menampakkan wajah berseri-seri heboh, Echidna sedikit mengangkat alis.

“Roswaal, ya? Aku tidak ingat pernah menyuruhmu memanggilku Sensei.”

“Hari ini saya akan merubah pemikiran Anda mengenai hal itu. Saya kini dapat dengan percaya diri mengerjakan tugas yang Anda limpahkan terakhir kali, menyeimbangkan empat jenis mana dalam satu konsentrasi juga menghasilkan mana berwarna pelangi―dan lewat usaha saya sendiri, saya sudah mampu menambahkan dua jenis mana yang tersisa. Bagaimana?”

“Otodidakmu sudah sampai mampu menggabungkan keenam mana? Ya ampun …. Kurasa bisa kau anggap itu sebagi gerak batin laju perkembangan, bukan obsesi belaka. Aku terheran-heran.”

Jarang-jarang melihat Echidna terkejut.

Paling tidak, itu kali pertama Lewes melihatnya. Roswaal membusungkan dadanya dengan bangga selagi menunggu balasan Ehcidona. Bahkan Lewes pun, yang lebih muda darinya, mengira perilaku Roswaal menggemaskan. Perangai serta pandangannya, mau bagaimanapun, dipenuhi rasa kekaguman tanpa pamrih kepada Echidna―bahkan perasaan itu melampaui kekaguman.

“Kenapa kau berdiri saja di sana, kayaknya?”

“Aah … Beatrice-sama.”

Selagi mengawasi keduanya dari jauh, Lewes mendadak mendapati Beatrice berada di sampingnya, menatap tajam wajahnya. Tanpa sadar mundur selangkah, dia melihat Beatrice sedang melipat tangan seperti biasa, gadis itu mendengus.

“Kau melongo lagi. Enggak sopan seperti sebelumnya, ya.”

“M-mohon maaf. Maafkan penghinaan saya.

Dicaci seperti ini, Lewes makin gentar, malu terhadap telatah tak tahu malu Lewes. Tetapi melihatnya minta maaf terus, alis Beatrice kian mengkerut.

Semisal dia tersenyum saja, atau mengendurkan bibirnya, raut wajah Beatrice akan memancarkan aura lembut. Naas perilakunya yang tanpa perasaan membuat wajah Beatrice terlihat demikian adalah fakta.

“Sampai kapan kau merajuk kayak gitu? Sedih tahu. Apabila kau punya waktu untuk mengurus keranjang cucian itu. Semestinya kau buru-buru menyelesaikannya kemudian kerjakan tugas lain.”

“Y-ya. Itu niat saya. Saya undur diri.”

Membungkuk-bungkuk pada Beatrice, Lewes cepat-cepat pergi. Tapi tatkala dia mulai berjalan cepat, dia sadar Beatrice memegang bajunya, ternyata sedang mengekor di belakang.

“Beatrice-sama ….?”

“Bukan apa-apa. Aku hanya tidak ada kerjaan.”

Melihat Lewes berbalik, Beatrice membalas acuh tak acuh. Tapi ketika Lewes hendak berpaling, dia ingat percakapannya bersama Roswaal.

Pemudi itu bersikeras bahwa Beatrice sungguh-sungguh tidak suka berbicara dengannya, tapi―

“Beatrice-sama …. Berkenankan Anda membantu saya melipat cucian?”

“… Hha?”

Dihadapkan dengan permintaan Lewes untuk membantu tugas-tugasnya, gadis manis itu mengerang tidak senang.

Melihat mata Beatrice membelalak dan ekspresinya berubah menjadi kaget dan bahkan marah, gadis yang meminta itu menyesal karena mempercayai Roswaal.

“―Yah, sekiranya kau benar-benar tidak bisa mengerjakannya sendiri … kalau begitu Betty akan membantu, kayaknya.”

“Hah?”

“Aku takkan mengulanginya lagi. Ayolah, kita pergi.”

Mengatakannya, Beatrice seketika melewati Lewes, yang tanpa sadar berhenti di jalurnya. Saat Beatrice melewatinya, Lewes melihat bibir gadis kecil itu setengah melunak karena kaget, setengahnya lagi bercampur emosi lain.

Tiba-tiba merasakan kehangatan dalam hatinya, Lewes mengejar Beatrice yang sengaja memperlambat langkahnya. Lalu, mengintip wajah Beatrice.

“Bersediakah anda … memegang sedikit cucian saya?”

“Jangan berlebihan deh―Tapi karena aku tidak ada pilihan lain … sedikit saja boleh, kayaknya.”

Menukasnya sambil memperlihatkan ekspresi enggan, Beatrice membantu Lewes.