86 VOLUME 1 BAB 5

Posted on

JAYALAH SKUADRON SPEARHEAD

Penerjemah: Daffa Spearhead

Ada banyak Domba Hitam pada pertempuran hari itu juga, dan sewaktu pertempuran berakhir, Lena menarik napas panjang, mati-matian menahan muntah. Dengan berakhirnya pertempuran, para Prosesor satu per satu mematikan Para-RAID di perjalanan pulang, tetapi Lena terkejut mendapati seseorang masih terhubung.

“Kalau sulit untukmu, berhenti saja.”

Suara Kurena terdengar kasar, jelas menandakan perkataannya bukan karena khawatir.

“Kami sama sekali tidak peduli kau di sini atau tidak, komandomu tidak banyak berefek dalam pertempuran jangka panjang. Yang ada kelewat panik padahal tidak di sini itu mengganggu konsentrasi.”

Dia persis membuat Lena kesal, tapi dia senang Kurena berbicara padanya, sekalipun kata-kata kasar itu adalah umpatan minimnya. Tersadar, Lena bertanya:

“Bukannya kau kesulitan, juga …?”

Kurena dan yang lainnya tidak pernah memotong sambungan, biarpun suara-suara itu menyakiti mereka. Kemampuan sempurna Shin yang selalu tahu posisi Legion dan lokasi menyerang mereka sangatlah berharga di medan perang, tetapi bukan berarti anggota skuadron lain sama. Lena merasa Kurena mengangkat bahu.

“Gak juga. Kami sudah terbiasa, bahkan tanpa Shin yang menunjuk posisi mereka, para Prosesor seperti kami dapat mendengar banyak jerit kesakitan.”

Berbeda dari tingkah tak pedulinya, ada getaran emosi pasti pada nada Kurena. Bukan takut, melainkan kemarahan, penyesalan, pahit …. Emosi-emosi gelap.

“Meledak bersama alatmu dan mati seketika adalah cara meninggal paling bagus yang bisa kami harapkan. Sudah terlalu banyak melihat teman-teman kami tubuhnya dirobek, atau seluruh wajahnya dikerok, atau setiap inci tubuh mereka dibakar hangus, atau perut mereka dikoyak terbuka sampai isinya tumpah ruah. Dibanding itu, suara-suaranya tidak istimewa amat.”

Tetapi Lena tahu, berbanding terbalik dengan yang Kurena coba gambarkan, Kurena sendiri menderita. Ibarat menahan rasa sakit. Seakan menahan tangisan. Lena tahu gadis ini berdiri di medan perang nan jauh, menggigit bibir frustasi. Kurena bisa merasakan gigi Lena bergemeletuk.

“Sama benarnya di distrik pertama …. Entah siapa yang mati, kami semua tidak menganggapnya tak biasa.”

“… betul.”

Kendatipun skuadron Spearhead awalnya punya 24 orang anggota, tempo hari mereka kehilangan orang, peringkat mereka menurun sampai tiga belas.

Raiden melempar radio rusak ke tungku daur ulang pabrik yang mungkin takkan pernah diperbaiki.

Selagi mereka semua berkeliaran di sekitar ruangan, Lena menghubungi lewat Para-RAID seperti biasa, di jam yang sama, dengan lembutnya menghantar ucapan selamat sore santun.

“Kami mendengarmu dengan jelas, Mayor …. Maaf sebelumnya kami sedang pesta sosis.”

Lena kelihatannya agak terkejut, dan itu bisa dimengerti sebab Raiden yang mengatakannya—bukan Shin si orang yang dibicarakan—yang menjawabnya pertama kali.

“… hmm, apa terjadi sesuatu pada Kapten Nouzen?”

Theo mencibir pertanyaan Lena sambil memegang buku sketsa.

“Apa ada yang pernah memberitahumu kalau kau ini formal banget, Mayor Milizé? Kau tahu peringkat kami cuma pamer doang.”

Pemimpin skuadron adalah seorang kapten, di bawahnya adalah wakil kapten yang pangkatnya letnan dua, kemudian anggota peleton yang adalah letnan muda. Mereka diberi peringkat demi memperjelas rantai komando skuadron, tetapi tak seorang pun menerima wewenang, perlakuan, atau gaji yang semestinya didapatkan pangkat mereka. Seluruh Prosesor dalam skuadron adalah Penyandang Nama yang dulunya merupakan kapten dan wakil kapten di skuadron lama mereka, jadi tergantung penugasan mereka, banyak Prosesor diturunkan dari kapten ke letnan satu dan letnan dua, hingga letnan muda.

Namun jawaban Lena sederhana, Raiden tercengang oleh keberaniannya belakangan ini.

“Kau dan Letnan Shuga masih memanggilku Mayor, bukan, Letnan Dua Rikka? Aku tidak paham mana salahnya memanggilmu dengan cara yang sama.”

“… betul,” kata Theo sambil menyeringai.

Dia bilang mereka boleh memanggilnya Lena, tapi tidak seorang pun melakukanya. Menyadari niat terselubung di baliknya, Lena bersikeras berperilaku formal dengan menyapa mereka sebagai bawahan. Biarpun mereka berbincang-bincang, hubungan mereka tidak memperkenankan panggilan nama. Batasan gaib yang mereka sepakati, karena segala upaya beramah tamah itu konyol, sebab apa pun yang terjadi, hubungan mereka adalah antara penindas dan yang ditindas.

“… jadi apa terjadi sesuatu pada kapten? Jangan-jangan sesuatu terjadi saat pertempuran hari ini …”

“Oh, tidak, tidak seperti itu.”

Raiden mendapati matanya berpindah ke dinding yang memisah kamar Shin di sebelahnya. Semua orang selain Anju dan Kurena datang berkumpul. Akan tetapi, tempat berkumpulnya bukan di kamar Shin, tapi Raiden. Tidak setitik suara pun terdengar dari kamar Shin yang hanya dipisahkan satu dinding tipis.

“Dia baru saja tertidur. Dia kelelahan.”

Dia ketiduran ketika mereka makan malam, dan kala Raiden menyelesaikan tugas bersih-bersih lalu memeriksa kamar Shin, orangnya sudah terbaring di tempat tidur. Raiden hanya mengambil si anak kucing yang mengeong protes; menyelimuti Shin dengan selimut tipis; kemudian meninggalkan ruangan sebisanya tanpa suara. Shin bilang dia sudah terbiasa dengan itu, tapi mendengar Legion setiap kali sadar—dan saat tidak sadar—memang membebaninya.

Karena tingkat sinkronisasi mereka minimal ketika Beresonansi dengan Shin, yang dapat didengar orang-orang tak sesuai yang didengar Shin, lantas Raiden dan teman-teman lain tidak tahu neraka macam apa yang Shin jalani. Mereka hanya tahu bahwa suatu waktu pernah ada Handler yang tingkat sinkronisasi Resonansi dengan Shin mencapai maksimum telah bunuh diri segera setelahnya.

Handler itu adalah bajingan yang suka menyiksa Prosesornya dengan memberi perintah tidak masuk akal yang nantinya akan membunuh atau menipu tentara baru tak berpengalaman, mengirim mereka ke kematiannya. Shin bilang dia menjengkelkan dan merepotkan kemudian memberi tahu semua orang untuk tidak Beresonansi dengannya selama pertempuran selanjutnya, jadi satu-satunya orang yang berkoneksi cuma Handler seorang. Handler tersebut tidak pernah berkoneksi lagi sesudahnya, keesokan harinya anggota parlemen datang dan berkata Handler itu bunuh diri, itulah dunia yang Shin hidupi. Terlebih lagi, peristiwa baru-baru ini dalam skuadron Spearhead menyulitkannya pula.

“… aku yakin kapten pun sama, tetapi beban pada kalian semua akhir-akhir ini memberat …. Apalagi satu demi satu misi berdatangan, kian banyak dari kalian yang gugur dalam tugas …”

Raiden hanya dapat mengiyakan keluh-kesah Lena. Seluruh skuadron kelelahan karena pertempuran menjadi semakin sering sukar. Skuadron Spearhead beranggotakan 24 orang tatkala pertama kali didirikan dan sampai saat ini kehilangan sebelas anggotanya. Hampir berkurang setengahnya, dan skuadron lain telah dimusnahkan lalu para anggotanya dipindahkan ke unit lain sekarang.

Frekuensi serangan Legion belum berkurang, tetapi jumlah unit berkurang, artinya ketegangan masing-masing dan setiap individu secara bertahap meningkat. Berangsur-angsur mencapai situasi kekurangan pasukan untuk menangani jumlah pasukan musuh, dan kelelahan menyebabkan mereka keliru dan salah penilaian. Garis spiral menurun hingga kekurangan personel menyebabkan bertambahnya kematian.

Terlepas dari itu, mereka bahkan belum menerima pengganti tuk memenuhi grup Kujo, tiga orang pertama yang mati di bulan Februari. Lena menggigit bibir dan dengan semangat berkata:

“Aku akan meminta mereka mempercepat bala bantuan. Aku akan berusaha sebisa mungkin agar mereka memprioritaskan tempat ini jika soal pengiriman Prosesor baru.”

Haruto melirik Raiden. Raiden menghela napas berat.

“Ya. Lakukan itu.”

“Skuadron ini menjaga posisi defensif paling krusial. Kita berhak diprioritaskan soal pengisian ulang persediaan dan personel. Aku akan mengajukan petisi agar unit terdekat lain memberi bantuan …. Jadi, tolong tunggu sebentar lagi.”

“… yea.”

Samar terasa dia mengangguk ragu-ragu. Di ujung pandangannya, dia bisa melihat Theo dan Haruto mengangkat bahu sedih.

“Hei, Anju …. Kau tahu …”

Hanya Kurena dan Anju yang berada di kamar mandi. Kurena berbisik selagi menuangkan air panas k etas Anju yang dengan rajin mencuci rambut peraknya.

“Hmm?”

“Aku rasa kita mesti berhenti bicara dengannya.”

Entah kenapa Anju dengan gembira meliriknya.

“Apa sampai segitunya kau mengkhawatirkan mayor?”

“Cih.”
Kurena menggeleng kepala bingung. Dia bilang apa sih?!

“Bukan gitu! Kenapa juga aku mengkhawatirkan wanita itu?! … aku cuma mengira kita berhutang banyak padanya karena tidak takut pada Shin.”

Dia sambil marah-marah dengan lirih menggumam kalimat terakhirnya. Kalimat tiada arti terakhir membuat Kurena marah. Tapi yang terpenting, Kurena paling tidak menghargai Lena yang tak memperlakukan teman-temannya bagaikan monster.

“Shin dan Raiden, tidak satu pun pengen memberitahunya. Tidak satu orang pun. Misalkan ada, dia tidak akan repot-repot Beresonansi dengan kita lagi. Sebaiknya demikian.”

“Benar juga …. Kaie bilang begitu, ingat?”

Kau bukan orang jahat … jadi kau sepatutnya tidak boleh terlibat.

“Mungkin karena itulah Shin dan Raiden tidak memberitahunya. Barangkali menyangka itu malah menyakitinya.”

“…”

Kaie sekarang sudah tiada. Dia selalu malu sama fisiknya yang tidak seksi di kamar mandi, dan gadis-gadis lain bakal menggodanya. Gadis selentur kucing itu. Gadis-gadis lain yang selalu menjerit ketika membahas topik yang tidak dibahas dengan laki-laki. Sudah tidak dibahas lagi. Kini hanya ada dua orang gadis. Awalnya, ada enam gadis di skuadron, tapi semua orang kecuali Kurena dan Anju gugur dalam pertempuran. Seketika menyadari sesuatu, Kurena mengangkat pandangan.

“Hei, Anju …”

“Hmm?”

“Apa tidak masalah …?”

Tangan Anju yang sibuk merawat rambutnya, berhenti. Dia mengangkat bahu. Ini pertama kalinya Kurena mandi bareng Anju di tahun mereka saling berkenalan. Anju tak pernah membiarkan seorang pun di skuadron melihatnya telanjang, bahkan gadis-gadis lain pun tidak.

“Ya. Setelah sekian lama, seharusnya oke-oke saja …. Aku rasa tidak ada gunanya menyembunyikannya, karena hanya kita berdua yang tersisa.”

Kulit putih terbukanya terekspos lewat kain basah dan transparan. Walau daging Anju dan Kurena sama-sama tidak punya bekas luka lama atau baru, terdapat sejumlah bekas luka mencolok di punggung Anju yang kelihatannya bukan dari pertempuran. Kurena memalingkan mata dari luka yang tampak mirip ukiran huruf-huruf di punggung, tetapi masih mengintip dari rambutnya yang disibak, dia sempat membaca tulisan putri pelacur.

Mengalir darah Alba tulen di nadi Anju. Di sisi lain, darah Caerulea-nya dari leluhur jauh.

“Kau tahu, Daiya, dia …. Sewaktu pertama kali bertemu, dia bilang rambutku indah. Dia tahu aku memanjangkannya sebab ingin menyembunyikan sesuatu, tapi dia bilang itu indah dan aku mesti memanjangkannya.”

Awalnya suaranya tenang, tetapi di tengah jalan, suaranya pecah, meskipun berusaha sebaik mungkin mempertahankan ketenangannya. Bibir pucatnya gemetar bagaikan makhluk tak berdaya selagi wajahnya mencoba tersenyum.

“Kini Daiya tidak ada. Jadi aku pikir mencemaskannya lagi tidak ada gunanya ….”

Kurena mengira dia akan menangis, tapi Anju berhasil bertahan. Dia menyisir rambut basahnya, dan tatkala dia berpaling ke Kurena, senyum lembut normal menghiasi wajah baiknya lagi.

“Kau bagaimana, Kurena? Kau tidak ingin memberitahunya?”

Dia tidak bilang maksudnya apa atau siapa. Tidak perlu. Kurena menunduk.

“… ya. Aku pikir tidak berhak mengatakannya.”

Sewaktu dia pertama kali ditugaskan di bawah pimpinan Shin, jujur Kurena ketakutan. Dia senantiasa mendengar rumor-rumor tentang sang Reaper bermata merah tanpa kepala yang mendominasi garis depan timur. Penyandang Nama adalah mereka yang hidup sedangkan rekan-rekan mereka mati di sekelilingnya, seakan-akan meminum darah rekan-rekan tentara untuk bertahan hidup. Itulah sebabnya saat seseorang menerima nama kedua yang ditakuti itu, biasanya si penerima mempunyai sifat berbahaya nan menakutkan.

Namun bahkan di antara para Penyandang Nama lain, Shin menonjol. Nama yang cocok dengan orang yang selalu berdiri paling dekat dengan kematian namun tak pernah mati, selalu mengubur seseorang. Reaper yang mengenal medan perang lebih baik dari orang lain.

Rumor mengatakan siapa pun yang bertarung dengannya dalam satu skuadron—selain seseorang bernama werewolf—pasti akan mati. Mungkin dia memanggil kematian, sebagaimana implikasi namanya. Atau boleh jadi memanfaatkan rekan-rekannya sebagai perisai.

Fakta dirinya yang selalu bertarung di zona sengketa, tempat pertempuran tersengit, sejak penugasan pasukan pertamanya, adalah sesuatu yang baru diketahui Kurena setelah banyak sekali operasi dijalaninya. Tubuh bagian bawah salah satu rekannya diledakkan ranjau otomatis. Mereka menderita tapi tidak mati, tak seorang pun tahu harus melakukan apa. Hanya Shin yang berlutut di samping mereka. Kurena mencoba melakukannya juga, tapi Raiden menghentikannya.

Kurena melongo seketika Shin mengeluarkan pistol. Mereka membawa senjata sebagai pertahanan diri dan bila mana perlu untuk bunuh diri. Ketika itulah, meski Kurena tahu ada alasan lainnya.

Aku tahu ini sulit, tapi kau harus melakukannya. Coba ingat momen-momen kebahagiaanmu.

Senyum muncul di wajah rekan mereka yang sekarat. Bibir mereka menggigil seraya menggumam, Hei. Berjnajilah …. Kau akan membawaku bersamamu, kan …?

Ya.

Shin mengelus wajah malangnya dengan tangan yang basah darah, jeroan, dan puing-puing, ekspresinya tabah dan tenang seperti biasa. Itu pemandangan paling indah tapi serius yang pernah dilihat Kurena. Dia akhirnya tersadar mengapa Raiden dan beberapa rekan-rekan regu mereka sesekali memanggilnya Reaper kami.

Dia akan membawa mereka. Nama-nama rekan-rekan yang telah mati, hati dan jiwa mereka. Tak mengabaikan atau meninggalkan seorang pun, dia akan membawanya sampai tujuan terakhirnya. Itulah suaka termulia dan tak tergantikan yang paling bisa diharapkan para Prosesor. Mereka yang hidup dalam medan perang tidak dijamin umur besoknya, tahu makam takkan pernah disiapkan untuk mereka. Kurena mendambakan Shin. Dari relung hatinya. Kendati dia mati, tahu Shin akan turut membawa Kurena membuat gadis itu senang dan menghilangkan ketakutannya.

Tatkala itulah dia mulai memoles keterampilan pistolnya yang memang sudah jauh di atas rata-rata. Sehingga kali berikutnya sekiranya sesuatu semacam itu terjadi, Kurena akan cukup kuat untuk melakukannya sendirian. Dan juga, sekalipun dia ditakdirkan mati suatu hari kelak, dia ingin bertarung meski hanya sedikit lebih lama.

Tapi …

Memutar keran untuk mematikan pancuran air, Kurena mendongak. Dia tahu, paling tidak bahwa itu bukanlah dia. Selama mereka masih di medan perang ini, dia takkan mampu melakukannya. Dia takkan bisa menjadi Reaper mereka yang akan membawa mereka dan seluruh rekan-rekan gugurnya, jiwa mereka, sampai tujuan terakhir Shin.

Namun seumpama Shin akan mengambil jiwa mereka, maka siapa yang mengambil jiwanya …?

Ω

 

“Hei, 86. Sebelah sini juga.”

Sebulan sekali, barang-barang yang tidak bisa dibuat di pabrik otomatis atau pabrik produksi dikirim lewat jalur udara dari dalam dinding. Personel transportasi membesarkan suaranya yang terkesan angkuh dan arogan sembari menyertai Shin yang menandatangani kwitansi dan membandingkan daftar inventaris dengan isi kontainer.

Perwira kurus itu tampak kumal meskipun berseragam, dia ditemani dua tentara yang dipersenjatai senapan serbu yang kemungkinan mereka bawa cuma sekadar untuk mengintimidasi dan mengancam Shin. Tidak masalah, tapi seorang prajurit di belakang masih belum membuka kunci senapannya yang barangkali memang tidak ada isinya. Mereka berdiri kelewat dekat dengan Shin yang bisa saja mampu melucuti mereka semua bahkan sebelum sempat menarik pelatuk senjatanya. Bukan berarti Shin akan melakukannya. Tidak ada gunanya juga melakukan itu.

“Ini dari Handler-mu. Dia bilang ini hulu ledak spesial yang kau minta. Merepotkan, membuat kami serepot ini cuma buat sekelompok babi …”

Di belakang perwira itu berdiri sebuah kontainer amunisi kokoh, disegel ketat dan ditempel peringatan bahwa isinya adalah amunisi peledak. Alis Shin terangkat, bingung. Dia tidak ingat pernah meminta barang itu.

Melihat Shin terdiam, bibir perwira nyengir-nyengir vulgar. Ada banyak 86 kotor dan pemberontak kurang ajar, tapi yang satu ini ternyata jinak. Dia tidak menggigit, tidak peduli kau mengatakan apa kepadanya.

“Tuanmu cewek, kan? Bagaimana caramu merayunya? Mungkin tidak sampai beberapa kata dan putri kecil mungil itu sudah basah.”

Tatapan Shin mendadak tertuju kepada si perwira.

“Haruskah aku tunjukkan ke istrimu? Aku sangat yakin dia kebosanan pas malam.”

“Dasar janco—”

Perwira itu marah tetapi langsung terdiam begitu mata Shin balas menatapnya. Mata merah itu benar-benar tenang, tak terlihat sedikit pun ancaman, tetapi seekor babi yang menghabiskan hidupnya dalam kandang tanpa bahaya tidak berkutik melawan binatang buas yang kemampuannya terasah di medan perang. Melewati perwira yang menegang, Shin mendekati kontainer amunisi. Benar saja, nomornya muncul di daftar inventaris serta tanda tangan Lena yang sudah Shin kenal selama beberapa minggu terakhir, tanda tangannya dicoret di atas cap pengiriman. Di bawahnya, dua kata ditulis pena terlihat.

“Istana Luñè …?”

Setelah merenung sebentar, mata Shin membelalak kaget.

Ω

 

Pesta adalah pertemuan sosial, dengan kata lain, merupakan tempat berkumpulnya informasi dan membuat kontak. Walaupun tahu tidak semua interaksi di sana dibagi menjadi subjek beradab dan sepele seperti musik, seni, serta filosofi, fakta tempat ini membosankan tidak dapat disangkal … yah, membosankan.

Melarikan diri dari kasak-kusuk serakah yang memenuhi ruang perjamuan mewah Istana Perle, Lena mendesau ketika bersantai di beranda yang diterangi bintang. Lena tidak terbiasa dengan pesta semacam ini, apalagi mala mini tempat tersebut sepertinya sengaja diisi pembicaraan yang sesuai usianya juga pemuda-pemuda yang menyimpan motif tersembunyi.

Keluarga Milizé sejatinya adalah keluarga bangsawan kaya, karenanya tidak sedikit yang mengincar keturunan serta kekayaannya.

Akan tetapi, nampaknya tak seorang pun berani menghampiri Lena hari ini. Biarpun gaun sutra hitamnya tak bertentangan dengan kode pakaian pesta, kombinasi gaun hitam serta bunga hias putih lebih cocok dikenakan di pemakaman ketimbang pertemuan sosial. Ditambah lagi, dia menolak minum atau memulai percakapan dan umumnya diabaikan wanita-wanita lain di aula kecuali sesekali ditatap mata kesal. Satu-satunya orang yang bicara dengannya selain Annette yang menghampiri Lena sambil memasang wajah jengkel serta tunangannya, Karlstahl, yang entah kenapa matanya kelihatan cemas, juga beberapa wanita-wanita lebih tua dengan bunga-bunga bermekaran di kepala mereka (secara harfiah) yang memuji kalung leher indah—Perangkat RAID Lena.

Memang, Lena menyadari betapa tak sopan dirinya, tapi bukan berarti dia berniat nimbrung dalam pesta. Mereka semua menutup mata pada kenyataan dalam dunia kecil yang mereka bangun secara pribadi, mengalihkan perhatian tuk mengejar ketenaran, kenafsuan, dan kekayaan. Sangat sia-sia dan terlalu bodoh. Terutama setelah banyak Prosesor tak terhitung jumlahnya mati satu demi satu untuk mewujudkan pesta ini …. Mendadak, Perangkat RAID-nya aktif.

“… Mayor?”

“Kapten Nouzen …. Ada apa?”

Lena menjawab dengan bisikan, segera menyemat lubang suara Perangkat RAID-nya ke telinga. Mereka tak kedapatan serangan mendadak pada saat-saat ini, namun apakah mungkin datang pasukan terlampau besar sampai-sampai skuadron kedua tak mampu mengatasinya …?

Tetapi tidak terdengar tanda-tanda tertekan dalam suara Shin.

“Aku Beresonansi karena kau tidak berkoneksi di waktu biasanya. Apa mengganggu? Jika sekarang bukan waktu yang tepat, aku bisa telepon besok—”

“Sekarang oke-oke saja. Ada apa?”

Kalau dipikir-pikir, waktu ini persis ketika dia biasanya berbicara dengan skuadron Spearhead. Lena berpaling dari pesta seraya bicara.

“Aku menerima hulu ledak khusus yang kau kirimkan ke kami, lantas aku ingin menghubungimu mengenainya.”

Bunga-bunga api dan percikan mengembang cemerlang, membantu bintang-bintang menerangi langit malam nan gelap. Nuansa indah kembang api kimia berkilauan dan menampilkan cahaya fana lalu turun menghujan bagaikan salju dari langit. Kemudian kembang api berikutnya naik menuju cakrawala, mendesing ke arah berlawanan dengan suara bergemuruh.

Setiap kali kembang api mengudara, orang-orang bersorak-sorai gembira seperti anak-anak. Wajar saja, sebab Sebagian besar tamu belum pernah melihat hal seperti ini sejak mereka masih anak-anak. Sosok mereka sejenak terpana oleh cahaya kembang api, namun tak lama setelahnya, bayangan-bayangan mereka mulai menari-nari di sisa-sisa cahaya.

Tentu saja dilarang merayakannya di pangkalan, jadi semua orang pindah ke stadion sepak bola di salah satu reruntuhan. Pasukan dan kru pemeliharaan disebar di stadion yang dipenuhi gulma, bersama Juggernaut mereka yang menorehkan bayangan di sekitarnya. Fido membawa kru pemeliharaan dan dengan cekatan memasang tabung peluncur, sibuk mondar-mandir sambil menggunakan pembakar untuk memotong logam lalu menggunakan korek api untuk membakar sumbunya.

Mengamati dari pinggiran dalam Undertaker yang berdiri siaga, Shin mendongak lagi seketika kembang api lagi-lagi mengudara.

“—termia kasih untuk kembang apinya.”

Laju sinkronisasi sedikit lebih tinggi dari biasanya, memungkinkan Lena nyaris menyadari sorakan para anggota regu lain. Tersadar Shin meningkatkan rasionya agar Shin sanggup mendengar Lena riang gembira.

“Bagaimanapun ini Festival Revolusi. Kau menontonnya bersama kakak dan orang tuamu, bukan? Aku yakin semua orang punya memori mereka sendiri-sendiri …”

Sudah lama sejak Lena mengirimkan mereka kembang api yang dai beli di kota. Ketika festival mendekat, toko-toko akan menjual kembang api roket ini sepaket besar. Lena mesti mengirim botol anggur mahal ke penjabat dewan komisaris dan memalsukan label pada kontainer yang dia masukkan. Bagaimanapun barang-barang itu dari bahan mudah terbakar yang akan dibawa dengan pesawat, lantas Lena mendaftarkannya sebagai kontainer amunisi. Dia tak pernah menyukai penyuapan, namun mengingat semuanya sesuai rencana, Lena sendiri terkesan dengan keefektifannya.

“Ini tradisi Festival Revolusi, kan …? Kau bisa lihat kembang api di kantor kepresidenan dari sana?”

“Biar kulihat …”

Lena berjalan melintasi beranda, menghadap ke arah kantor kepresidenan. Kelihatannya mereka pun baru saja mulai. Lagu Republik dimulai dari pengeras suara, bunga-bunga lima warna indah menghiasi langit. Menatap kembang api yang dibuat tangan ahli, Lena tersenyum pahit.

“Aku bisa melihatnya, ya, tapi langitnya terlampau cerah.”

Lampu-lampu pesta di kota dan perayaannya keterlaluan ketara. Udara kota sangat tercemar dikarenakan konsumsi listrik tanpa limit. Kembang api indah ini yang mewakilkan martabat dan kehormatan Republik terlihat sangat samar.

Mungkin tidak seorang pun di pesta ini yang mau susah-susah melihat pertunjukkannya. Sekalipun kembang apinya lebih indah ketimbang yang dijual di pasar dan tak diragukan lagi dibuat oleh pengrajin terampil, tak satu pun orang di kota ini menghargai betapa langkanya pemandangan ini.

“Aku yakin kembang api di sana indah. Malamnya gelap, dan udaranya pasti jernih.”

Benar, malamnya gelap, udaranya jernih, dan begitu banyak orang asyik melihatnya. Kembang api di sudut kecil medan perang pasti sangat indah. Lena harus menghentikan dirinya berharap besar bisa bersama mereka. Perasaan itu tak boleh dia ungkapkan.

Sebenarnya, seandainya Lena ingin, dia boleh saja pergi ke sana semaunya. Tetapi di sisi lain, sedari awal mereka tak pernah ingin berada di medan perang itu. Dan dia tidak dapat membawa Shin dan yang lain bersamanya. Setiap waktu yang dihabiskan bersama akan menjadi ilusi singkat, lantas itu bukanlah keinginan yang ingin diwujudkannya. Malah dia berkata:

“Mari kita semua menonton kembang api di Sektor Pertama suatu saat nanti. Aku yakin kau bakal tertawa melihat betapa buruknya itu.”

Lena merasa Shin menyeringai.

“Aku tak ingat sampai seburuk itu.”

“Kalau begitu sini lihat sendiri dan cari tahu kau masih ingat atau tidak. Setelah perang berakhir dan kalian semua diberhentikan, kita bisa melihatnya bersama-sama.”

Kemudian dia teringat, lalu suaranya gentar. Daiya. Dan enam orang lain yang lama kelamaan binasa.

“Aku harap bisa menunjukkan ini kepada Letnan Dua Irma dan yang lainnya pula …. Oh, aku minta maaf. Aku dan pemilihan waktuku yang buruk …”

“Jangan begitu. Kurasa Daiya dan lainnya akan senang jika tahu mereka adalah orang pertama yang mendapat tembakan salvo2. Mereka semua tidak suka orang-orang menjadi murung dan melankolis.”

Kino dan teman-teman lain kelihatannya betul-betul menikmati diri sendiri, dan Lena bisa mendengar gelak tawa mereka. Shin sendiri pun pasti merasakan sesuatu juga, karena Lena merasakan gelombang emosinya sedikit lebih jelas.

“Dan tadi Anju akhirnya menangis sedikit juga. Dia cenderung menyimpan semuanya sendirian …. Itu jadi hal lain yang patut disyukuri.”

“…”

Daiya dan Anju nyatanya sangat akrab dan rupanya sudah lama berteman.

“Aku yakin Letnan Muda Emma takkan melupakannya …”

“Itu berlaku untuk kita semua. Seperti dirimu yang tidak pernah melupakan … kakakku.”

Shin terhenti sejenak, terlihat ragu-ragu untuk menyeleaikan kalimatnya, tetapi pada akhirnya, dia lanjutkan.

“Membuatku senang tahu itu … aku sendiri tidak pernah bisa mengingatnya.”

Mendengar gentar halus pada suaranya, Lena hampir tak dapat menahan keraguannya. Dia belum pernah mendengar Shin membuka perasaannya sebelumnya.

“Kapten Nouzen …”

“Mayor. Bisakah kau … tidak akan pernah melupakan kami?”

Shin mungkin bermaksud bercanda. Namun suara dan nadanya ternyata sedikit tidak serius. Tetapi lewat Resonansi Sensorik yang diatur lebih tinggi dari biasanya, Lena bisa merasakan keinginan kuat dibalik kata-kata itu.

Kalau kami mati. Bahkan sesaat saja, bisakah …?

Lena menutup mata. Entah betapa kuatnya merekaa. Sekalipun telah melewati banyak medan perang sampai tak terhitung lagi. Terlepas dari itu, maut selalu menghantui mereka.

“Tentu saja tak akan aku lupakan …. Tapi …”

Dia menarik napas tajam, mengungkapkannya dengan jelas. Itu tugas Lena—tugas Handler skuadron Spearhead, Vladilena Milizé.

“… sebelum itu, aku takkan membiarkan kalian mati lagi. Tidak satu pun, tidak lagi.”

Akan tetapi, bagaimanapun Lena meminta pengganti Prosesor yang gugur, betapapun dia mengajukan petisi untuk itu, tidak ada bala bantuan dikirim untuk skuadron Spearhead.

Ω

Kala mereka berperang hari itu, empat orang lainnya meninggal.

Serangan standar pasukan garis depan Legion. Barisan depan musuh menahan pijakannya, tetapi mereka adalah umpan. Posisinya kelihatan lengah tetapi sebenarnya dikelilingi pasukan yang bersiap-siap menyergap. Mengetahui posisi dan jumlah musuh di titik dampak terlebih dahulu seperti biasa, Shin berencana bergerak memutar ke front penyergap dan menyerang mereka dari sisi samping.

Entah kenapa, Eintagsfliege-nya tidak maju, dan Lena tak mendeteksi yang ditakutkan di layar radar, tetapi persis sebelum mereka mengontak musuh, Shin dan kawan-kawan merasakan sesuatu. Raiden membisikkan sesuatu soal firasat buruknya, yang mana mereka semua pasti rasakan dan barangkali itu yang telah lama menjaga hidup mereka. Indra penciuman petarung, kemampuan yang setara dengan kekuatan pendengaran hantu Shin.

Sesuatu jatuh secara diagonal dari langit, dan tatkala itu terjadi, radar meledakkan sirene peringatan.

Mereka yang tetap berwaspada—dan tanpa sdar sudah dalam posisi bersiap menghadapi situasi manapun—selamat. Griffin, yang gagal menghindar tepat waktu, terkena serangan langsung dan diledakkan, Fafnir yang terlampau dekat dengan titik dampak, dihujani pecahan peluru meriam dan segera dihancurkan. Unit-unit lain terpukul mundur oleh gelombang kejut kuat dan hilang keseimbangan mereka, dan seketika itulah pecahan peluru kedua dan ketiga membombardir intens.

Komputer pendukung membalik perhitungan posisi penembakan dari sejauh 120 kilometer timur-timur laut. Serangan artileri Legion dari jarak sejauh itu belum pernah tercatat. Terlebih lagi, selongsongnya bergerak secepat kilat. Kecepatan awalnya diperkirakan empat ribu meter per detik, sedikit melebihi kisaran maksimum artileri.

Penyergapannya sendiri adalah pion pengorbanan untuk memikat skuadron Spearhead ke dalam jangkauan tembakan artileri. Mereka bahkan menduga serangan akan datang dari samping. Strategi cerdik nan kejam tak biasa yang sebelumnya tidak mampu dilakukan Legion.

Kalau saja Shin tidak segera mengidentifikasi dan menghancurkan Unit Pengamat Jarak Jauh yang menyaksikan dampaknya, maka pemboman takkan berhenti setelah sepuluh selongsong ditembakkan disebabkan ada kecatatan pada tiper baru ini, bahkan para elit seperti mereka mungkin tidak bisa mundur, mengakibatkan kehancuran total skuadron.

Kini, setelah mereka membabat habis unit-unit pengejar, tim kehilangan empat anggotanya. Chise, Kino, Kuroto, dan Touma—gugur dalam tugas. Hanya sembilan Juggernaut tersisa. Mereka telah dikurangi hingga kurang dari setengah jumlah orisinil dan sekarang sampai satu digit.

“Aku …”

Terperangkap teror, Lena mencoba bicara. Mulutnya kering. Bayangan jahat, pertanda mengerikan menyentaknya. Kata-kata itu keluar dari mulutnya seakan dia batuk.

“Aku akan meminta mereka mengirim bala bantuan. Aku akan buat mereka melakukannya sekarang—hari ini. Ini tidak …. Ini kacau …!”

Skuadron Spearhead telah beroperasi selama satu minggu sekarang. Mereka tidak cukup pasukan atau waktu untuk istrirahat, mereka baru bisa menahan serangan dengan meminta unit-unit lain untuk mengirim bala bantuannya dan menggantikan misi penyerangan mendadak mereka. Markas Besar tahu betul hal ini namun tidak melakukan apa-apa. Entah kenapa, mereka bisa saja meminta bantuan skuadron lain, tetapi semua permintaan untuk mengisi barisan-barisan yang kosong telah diabaikan. Dia bahkan merasa malu karena telah memberi tahu hubungannya dengan Karlstahl dan memintanya menyerahkan permintaan untuk Lena, tapi bahkan permintaan dari seorang komodor sepertinya tidak memberikan satu pun bantuan kepada skuadron Spearhead.

Shin membuka mulut dan bicara singkat:

“Mayor.”

“Aku akan memohon pada Komodor lagi agar beliau memintanya untuk kita. Misalkan tidak berhasil, aku akan melakukan apa saja untuk—”

“Mayor Milizé.”

Saat itu, panggilannya sedikit lebih kuat, Lena terdiam.

“Semuanya. Tidak ada yang mempermasalahkannya, kan?”

“… ya.”

Raiden setuju mewakili orang-orang yang selamat. Hening berat melingkupi semua orang.

“… apa maksudnya …?”

“Mulai sekarang hentikanlah, Mayor. Apa pun yang kau lakukan, sudah sia-sia.”

“Kau bilang apa, Kapten …?”

“Bala bantuan takkan datang lagi. Tidak satu pun. Apa pun yang terjadi.”

“… huh …?”

Kemudian Shin mengatakannya dalam hati, menyatakan kebenaran yang mereka semua ketahui tetapi tak pernah diberi tahu Lena.

“Kami semua akan terbunuh di sini. Skuadron ini adalah tanah eksekusi kami.”

Catatan Kaki:

  1. Hulu ledak adalah alat peledak yang umumnya dikirim ke target dengan menggunakan misil, roket atau torpedo. Hulu ledak terdiri dari bahan peledak dan detonator.
  2. Tembakan serentak sejumlah senapan atau meriam sebagai tanda penghormatan militer (pada upacara kenegaraan, pemakaman, dan sebagainya.

3 Replies to “86 VOLUME 1 BAB 5”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *