RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 41

Posted on

Angan-Angan Heroik

Penerjemah: Lost Sinner

“Kau yakin kembali lebih awal?”

Saat mereka kembali ke Balai Kota, Anastasia menyambut dengan senyum yang agak tenang. Setelah meninggalkan gedung penuh keberanian dan kembali seperti ini, jujur saja Anastasia adalah wajah terakhir yang ingin dilihat Subaru. Tapi sekarang bukan waktunya merisaukan perasaan itu.

“Ya, aku kembali. Tetapi aku akan keluar lagi segera setelah urusan di sini kelar. Ada sesuatu yang mesti aku coba di Balai Kota terlebih dahulu.”

“Kau kepikiran sesuatu lagi? Firasatku buruk tentang ini.”

“Yah … selter pertama mengerikan pemandangannya, sudah aku bahas di Cermin Konversasi. Dan aku rasa pengaruh Kemarahan pasti menjangkit selter-selter lain juga.”

“Lalu mereka menyerah pada resonansi emosional … bukannya aku sendiri tidak merasakannya. Andai aku membiarkan suasana hati ini buruk, malah akan memburuk selamanya …. Tapi kurasa berbeda bagi setiap orang.”

Subaru mengangguk soal analisis Anastasia.

Bahkan Subaru juga menyadari ini di tengah jalan. Keefektifan Wewenang Kekuasaan Sirius dapat bervariasi secara drastis bagi setiap orang.

Barangkali menyadari keberadaan Wewenang Kekuasaan sudah bisa membantu meringankan dampaknya. Fakta Subaru mampu menenangkan Garfiel serta AI lewat cara ini membuktikannya.

“Aku tidak tahu bagaimana selternya bisa sampai seperti itu, tetapi aku resah saja jika hal serupa terjadi pada orang-orang utama kita di sini. Aku betul-betul tidak ingin kembali ke sini semata-mata bertemu pengorbanan berdarah atau semacamnya.”

“Yah, kau tidak usah mengkhawatirkannya. Beruntungnya, cuma ada orang cerdas dan rasional di sini. Meskipun aku tidak bisa bilang begitu pada orang-orang yang selalu mengacaukan suasana.”

AI kembali bersama Subaru mengatakannya sembari melihat sekeliling lantai pertama Balai Kota. Mendengar itu, Anastasia mendengus dan menghentikan tingkah laku sok pinter AI dengan ejekan.

Melihat AI membalasnya dengan mengangkat bahu tanpa kata, Anastasia berbalik menghadap Subaru.

“Jadi apa rencanamu? Kau kembali karena punya ide, kan?”

“Aaah, benar juga …. Ngomong-ngomong, mana Julius? Dia tidak bersamamu?”

“Aku tidak suka dibombardir banyak pertanyaan, tahu …. Julius bertingkah aneh. Aku pikir sebagiannya karena kami belum menemukan Joshua, tapi aku duga keanehannya bukan hanya itu.”

“Bertingkah aneh …. Betul juga, dia sedikit aneh, kan?”

Bangun setelah kegagalan serangan Balai Kota, Subaru menyadari Julius kurang artikulatif dari biasanya. Dia nampaknya membuat penilaian dan saran yang takkan dibuat dalam keadaan normal, juga kelihatan kurang percaya diri.

Dia adalah seorang pria yang rasa tanggung jawabnya kuat. Subaru mengira karena menyesal membiarkan Kerakusan kabur, namun mungkin lebih dari itu.

“Kapten. Ga baik mehartiin setiap masalah di luar sana. Gua tau lu khawatirin Julius, tapi itu bukan hal yang bisa kita urusin sekarang.”

“Ah, ya, kau benar. Yah, aku yakin orang itu akan baik-baik saja sendirian tanpa orang lain yang mencemaskannya. Daripada itu, kita punya masalah sendiri untuk ditangani. Anastasia-san. Penyiar di lantai teratas masih dalam kondisi baik, kan? Seperti tidak rusak, atau kehilangan manual dan semacamnya ….”

Tersadarkan pengingat Garfiel, Subaru mengajukan pertanyaan ini. Di bagian paling akhir, Anastasia mengedipkan mata bulatnya beberapa kali sebelum menjawab ….

“Tidak rusak, dan aku pernah mengerjakan alat yang mirip-mirip jadi tidak apa … tapi kau ingin mengapakan barang itu?”

Melihat mata kaget Anastasia, Subaru menggaruk leher. Walaupun dia mengira wanita itu takkan setuju, hanya itu satu-satunya rencana yang mampu dia pikirkan. Dalam hal meminimalkan korban, langkah itu pun paling efektif.

“Sesuai perkataanku di Cermin Konversasi, saat ini area sedang di bawah pengaruh Wewenang Kekuasaan Kemarahan. Selter yang kita kunjungi … menjadi lautan darah sebab sejumlah rasa jengkel kecil dibiarkan membusuk. Emosi negatif sekecil apa pun bisa menjadi bencana paling ekstrem. Itu menakutkan.”

“Ya. Persis seperti perkiraanku. Semakin banyak orang, semakin sulit mengendalikannya dan kian cepat paniknya menyebar. Terlepas dari itu, dengan selter … atau bahkan tanpa selter, orang-orang akan cenderung berkumpul bersama, kan?”

Subaru diam-diam mengangguk terhadap pertanyaan Anastasia.

Yang menakutkan dari Wewenang Kekuasaan Sirius adalah makin banyak orang bersama, makin kuat pengaruhnya. Dan ketika orang-orang mendengar ancaman Kultus Penyihir pada siarannya, panik tak terhindari itu dimulai: Cara mengeksploitasi ketidakberdayaan yang sungguh-sungguh memuakkan.

Tidak jelas apakah Kultus Penyihir menginginkan kerja sama mereka atua tidak, tetapi faktanya adalah tercipta lingkaran setan yang mengancam orang-orang saat ini.

“Maksudmu … kau memikirkan cara melawannya?”

“Cuma sekadar, ‘Barangkali bisa berhasil’, semacam itulah. Aku pikir ini layak dicoba. Hanya saja ….”

Kata-kata Subaru mendadak menghilang di hadapan tatapan penuh harap Anastasia. Melihatnya, Anastasia menyipitkan mata seakan mengintip benak terdalam Subaru, sedangkan Subaru menghembuskan napas panjang ….

“Kala kita memulainya, semuanya akan didengar Kultus Penyihir, setiap kata. Jadi ada kemungkinan kita bisa jadi menghadapi bahaya lain jikalau memprovokasi mereka.”

“Gantinya, ada peluang bagus kita dapat mengurangi ancaman yang ada.”

“Ya, itu benar. Kini sesudah merebut kembali Balai Kota, dengan Wewenang Kekuasaan Sirius yang menjadi satu-satunya kekuatan menginfeksi selter … sekalipun sulit menyeimbangkan risikonya, aku masih menduga ….”

Mustahil membayangkan bagaimana reaksi Kultus Penyihir seandainya mereka melakukan hal besar di sini. Bahayanya setara membawa korek api mudah terbakar ke dalam gudang mesiu, sebagaimana yang senantiasa terjadi ketika berhadapan Kultus Penyihir. Yang membuatnya sulit diperkirakan adalah bubuk mesiu pun boleh jadi meledak sendiri kapan saja entah disulut atau tidak.

“—aku rasa kurang lebih paham rencanamu sekarang, Natsuki-kun.”

“Masa?”

Sesudah tenggelam dalam pikiran, Anastasia menghela napas panjang dan berkata demikian. Mendengar ini, Subaru mengangkat alis dan terkejut oleh reaksinya ….

“Mengikuti arus percakapan, dan karena kau bertanya alat penyiaran di awal-awal, aku akan lebih cemas bila masih tidak tahu setelah itu.”

“Y-yah, oke, kurasa. Jadi menurutmu bagaimana? Kau menentangnya, bukan?”

Dia mungkin menentangnya, seperti yang Subaru pikirkan sebelumnya.

Lantas Subaru tidak punya pilihan lain selain membersihkan rintangan raksasa dan meyakinkan Anastasia—

“Haa, aku akan melakukan apa bersamamu ….”

“… waduh, kau setuju?”

“Secara logis, tindakan itu terbaik. Terlepas dari sebesar apa aku menyukai kemenangan, misalkan menyisakan segunung mayat seketika memusnahkan Kultus Penyihir, hasil akhirnya bakal terlampau buruk.”

Menerima jawaban tak terduga itu, sesaat Subaru tercengang.

Di sisi lain, Anastasia menggigit bibir seakan-akan mencoba menghadapi sejumlah emosi tak tercerna dalam dirinya, tapi Garfiel-lah yang memecah kesunyian.

“Yo, Kapten dan Kakak Besar-chan. Kalian ngomongin apa?”

“Dasar anak tidak peka …. Bahkan Ricardo-ku pasti tahu.”

Anastasia melempar komentar tiada habis kepada Garfiel yang tidak diajak bicara. Garfiel menggertakkan taringnya sewaktu mendengar ini, tapi AI menepuk pundaknya dari belakang, menertawakan Garfiel saat dia berbalik ….

“Intinya, saudara berpikir begini. Alih-alih menghentikan Wewenang Kekuasaan Kemarahan menyebar ke seluruh kota, lebih cepat dan gampang buat mengubahnya menjadi keuntungan kita.”

“Ngubah, kek mana ….”

“Kemampuan Sirius adalah berbagi perasaan. Seketika orang-orang merasa gelisah dan takut, emosi itu akan membanyak saat orang berkumpul bersama, pada akhirnya akan disulut oleh sesuatu yang kecil dan meledak. Jadi ….”

“Sekiranya kau sanggup menggantikan ketakutan dan kecemasan dengan emosi lain … melukisnya dengan sesuatu semacam harapan, maka itulah yang akan menyebar.”

Pertanyaan Garfiel dijawab oleh AI dan Subaru, lalu terakhir oleh Anastasia.

Sambil mendengarkan, mata Garfiel melebar dan mendeham paham ….

“Aaah jadi gitu! Terus mereka kaga bakal saling bunuh. Dan misalkan semuanya lancea, bahkan orang-orang yang semangatnya hancur bakal kembali berantem.”

“Sewaktu mereka diliputi suasana sekitarnya, bahkan petarung berpengalaman pun takkan sanggup berdiri. Andaikan kita bisa melepaskan mereka dari keresahan itu, aku pikir kita takkan punya masalah untuk memperkuat pasukan lagi.”

“Bukannya itu keren!? Ayo, Kapten! Kita punya alat mantepnya. Jadi makin cepet dimulai ….”

“Tunggu, tunggu! Tidak sesederhana itu. Bukan berarti aku sendiri belum pikirkan ….”

Anastasia menepuk tangan untuk menghentikan Garfiel yang terlalu bersemangat.

Melihatnya, Garfiel memamerkan taring.

“Hah? Lu nunggu apaan lagi? Barusan bilang setuju, kan? Jangan bilang lu balik lagi di menit-menit terakhir.”

“Tidak pernah aku bilang akan balik lagi. Sudah kubilang, aku punya opini. Ada masalah lain tentang ini selain menimbang pro dan kontranya.”

“Pro dan kontra … yang kita diskusikan sebelumnya?”

“Pro adalah tujuan strategi ini sendiri: menghilangkan keresahan dan keputusasaan dari warga sehingga kita tidak punya ancaman konstan di belakang. Kontranya adalah apa pun yang kita siarkan ke kota alamiahnya juga bakal masuk ke telinga Kultus Penyihir. Kita sama sekali tidak tahu bagaimana reaksi mereka.”

Anastasia mengangkat tangan ke Garfiel dan Subaru, lalu lanjut bilang, ‘Akan tetapi’.

 “Soal kerugian, aku yakin hampir tidak bisa diabaikan. Kultus Penyihir tak pernah melarang perlawanan semenjak mengajukan tuntutan mereka. Seolah-olah mereka bahkan tidak keberatan apabila digagalkan atau ditentang.”

“… betul juga, meskipun kita menyerang Balai Kota, mereka tak memanfaatkannya sebagai dalih balas dendam. Seperti yang mereka lakukan kepada orang-orang di Balai Kota hanya untuk hiburan mereka sendiri.

“Hiburan? Aku suka kata itu. Cara yang cukup akurat untuk menggambarkan hobi gila orang-orang tersebut.”

Anastasia mendesau, sementara Subaru ingin muntah cuma membayangkan wajah para Uskup Agung itu.

Namun mereka setuju tidak ada risiko ekstra ketika melakukan penyiaran. Lantas, kerisauan Anastasia adalah—

“Kendatipun aku tidak keberatan dengan siaran itu sendiri, masalahnya adalah … isinya, dan siapa yang menyiarkannya.”

“Apa dan siapa …?”

Tidak mengerti perkataan Anastasia, Subaru mengerutkan alis.

Jika dia bertanya siapa yang melakukan siaran ke kota untuk membangkitkan harapan orang-orang dan mengusir kecemasan mereka, maka—

“Ya, di situlah Anastasia-san tampil. Orang-orang akan mengenalmu sebagai kandidat Pemilihan Raja. Seumpama sesuatu menginspirasi datang dari mulut Anastasia-san ….”

“Mungkin terdengar aneh dariku, tapi aku pikir sulit mendambakan efek semacam itu dari kata-kataku. Sekalipun benci kuakui, aku tidak sanggup atas tugas itu.”

“….”

“….”

Anastasia menggelengkan kepala atas saran intuitif Subaru.

Subaru tidak paham artinya. Karena, tentu saja, seluruh Pristella akan tahu posisi Anastasia sebagai Kandidat Pemilihan Raja.

Kemasyhurannya jelas jauh melebihi siapa pun yang ada di sini.

“Tidak sanggup … kenapa? Maksudku, Anastasia-san, kau ‘kan ….”

“Andaikan yang paling penting itu ketersohoran, maka aku tentu yang paling cocok. Semisal hanya itu yang diperlukan untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik, maka aku akan senang melakukannya. Tapi persoalannya bukan itu. Diriku yang terkenal dan telah mengalahkan Kultus Penyihir sepenuhnya tidak berhubungan. Hanya tahu, ‘Orang terkenal sendang melawan Kultus Penyihir’—barangkali berefek, atau mungkin tidak.”

“Tapi ….”

“Kalau begitu, tidak ada gunanya. Yang dibutuhkan adalah harapan. Semoga itu mampu menggantikan seluruh kecemasan dalam hati orang dengan satu gertakan.”

Subaru kehabisan kata-kata untuk membalas penyataan Anastasia. Sejujurnya dia ingin menegurkanya karena kepolosannya dan membantah perkataannya. Namun itu bukan orang lain, tetapi Anastasia sendiri yang kelihatannya menyesali pernyataan menyedihkan tersebut.

Anastasia mustahil mengutarakan itu tanpa berpikir dahulu. Justru sebaliknya.

Justru karena di telah memikirkannya baik-baik dia menilai dirinya tak pantas atas perannya.

“Aku barangkali mampu menipu dan memperdaya orang-orang dengan kata-kata magnifisen. Dan aku yakin dari sepuluh, lima akan tertipu. Namun itu hanyalah upaya rapuh dan putus asa yang akan sirna dihembus angin sekecil apa pun, dan yang tercipta adalah perubahan perasaan sejenak.”

“K-kalau begitu … bagaimana kalau Crusch-san? Dia punya pengalaman militer dan dari keluarga bangsawan Lugnica.”

“Benar, kata-kata itu pastinya berbobot sekiranya dari Crusch-san, tapi kalau itu mantan Crusch-san. Crusch-san yang sekarang tidak punya pengaruh semacam itu kepada orang-orang. Belum lagi Crusch-san saat ini berjuang untuk hidupnya. Itu masalah yang harus diselesaikan sebelum meminta dia menginspirasi orang lain.”

“Berjuang untuk hidupnya? Seburuk itukah!?”

Diberitahu Crusch ada dalam kondisi lebih buruk, Subaru mendekati Anastasia.

Dengan perbedaan tinggi antara mereka, Anastasia menatap Subaru dan menutup bibirnya rapat-rapat. Subaru buru-buru menoleh ke Garfiel dan dia menggelengkan kepalanya ….

“Kakak telinga kucing itu kaga bakal ngebiarin dia mati, gua yakin itu. Dia nyuntik banyak banget kekuatan hidup … tapi gua ga setuju ngebiarin dia ceramah di depan alatnya. Apalagi ngomong aja kaga bisa ….”

“Sial, seburuk itukah?! Kalau begitu bagaimana dengan Julius? Jika Julius, dia ….”

“Memang benar Julius adalah Kesatria Pengawal Keluarga Kerajaan, salah satu Kesatria terhebat Kerajaan, dan harga diriku. Namun sebesar apa arti nama Julius di kota ini? Paling-paling, peluangnya hampir sama sepertiku. Dan aku lebih fasih.”

Crusch tidak bisa, Julius pun ditolak.

Dari wajah-wajah di Balai Kota yang mungkin bisa menginspirasi harapan pada orang lain, hanyalah Wilhelm dan Ricardo yang tersisa. Tetapi Ricardo tak punya pengaruh maupun popularitas.

Dan bagiamana mungkin orang memintanya kepada Wilhelm sekarang? Meskipun dia setuju, keuntungan apa yang diberikan gelar Wilhelm sebagai mantan Kepala Pengawal Keluarga Kerajaan?

“Terus, kita harus apa? Siapa lagi di sini ….?”

“Yah ….”

Tepat ketika Subaru mengira dia telah menemukan cara efektif melawan Kemarahan, dia terjebak pada pertanyaan siapa yang menjalankannya.

Selagi Subaru tenggelam dalam pikiran ini, AI mengangkat tangan santai.

“Bila ada yang akan melakukan siaran, bukankah itu kau, suadara?”

“… hah?”

Mendengarnya mengatakan ini seakan-akan itu masalah biasa, Subaru butuh waktu untuk bereaksi.

Membiarkan mulutnya terbuka lebar, hampir tidak perlu berpikir dua kali mengenai apa yang barusan diucapkan AI.

Bercanda tidak lucu di saat-saat seperti ini, apa yang dia pikirkan?

“Hei, AI. Kita sedang di tengah-tengah perbincangan serius di sini. Saat di mana setiap detik itu penting. Aku tidak bisa mengurus leluconmu sekarang.”

“Wo, woi, bentar. Aku tahu diriku memang lelaki yang dipekerjakan Putri-san karena lebih dari setengah ucapanku tak relevan, tapi aku tidak bercanda sekarang.”

“Kalau kau tidak bercanda maka apa yang membuatmu berpikir bisa melakukannya? Antara kau mau lucu-lucuan atau marah, dan aku tak tahu mana yang lebih buruk di sini.”

“Apa gilanya dengan itu? Mengapa tidak kau lihat sekelilingmu?”

Biarpun AI adalah seseorang yang punya tulisan, ‘Tidak serius’, di seluruh tubuhnya, dia mendadak melirihkan suara dan menyentak dagunya. Mengikuti gerakannya, Subaru mengalihkan pandangan ke dua orang lain di sampingnya—Anastasia dan Garfiel. Walaupun Subaru membayangkan mereka pasti sama linglungnya dengan yang mereka dengar ….

“… buset, kalian juga?”

“….”

Sorot mata mereka serius, tentu tidak kaget atau sebal sama sekali.

Mereka menatap Subaru dengan penegasan tulus di mata mereka. Hampir seakan-akan bilang mereka menyetujui AI.

“Kau bercanda, kan? Kenapa kalian semua terlihat setuju di sini? Kiranya Anastasia dan Julius tidak mampu melakukannya, kau pikir kenapa aku bisa!?”

“Yah, seperti yang kukatakan di jalan, kita semua sampai sejauh ini karenamu, saudara. Garfiel setuju. Dari caranya memanggil, ‘Kapten, Kapten’, dan semacamnya.”

“Apa hubungan dua hal itu!?”

“Hal sama! Kau pasti melakukan sesuatu sampai Garfiel memanggilmu seperti itu. Itu menunjukkan sebesar apa dia mempercayaimu, kan? Entah kenapa kau sepertinya berpikir perbuatanmu tidak jadi masalah besar. Tapi selain kau, siapa lagi di kota ini yang bisa bilang mereka mengalahkan, ‘Kemalasan’, dari Kultus Penyihir?”

“….”

AI langsung menghadapkan wajahnya ke Subaru.

Helm dinginnya menempel dahi Subaru, dan kehangatan kecil terasa pada logam keras es dari baliknya. Sesaat, merasa dirinya tertembus mata tak terlihat, Subaru menahan napas.

“Di kota yang ditempati Kultus Penyihir, siapa lagi yang lebih piawai menginspirasi harapan orang daripada seorang pria yang membunuh Uskup Agung Dosa Besar Kemalasan? Satu-satunya yang memenuhi kriteria adalah kau dan Reinhard. Dan cuma ada kau seorang di sini.”

“… agh.”

Dahinya ditabrak lagi, Subaru terhuyung ke belakang.

Melihat Subaru mundur sambil memegangi kepalanya, AI mengangkat bahu.

“Pendapatku sama, misalkan ada orang yang mesti melakukannya, itu pasti dirimu, Natsuki-kun.”

“Anastasia ….”

Mengatakan ini, Anastasia menunduk.

Ekspresi yang nampaknya meratapi ketidakberdayaannya sendiri, sembari mempercayakan harapan itu kepada orang lain.

Pada titik ini, melihat ekspresi itu, Subaru akhirnya menyadari harapan besar yang dipikulnya.

“Garfiel … kau pikir begitu.”

“Gua ga tau rincian lu ngebunuh Uskup Agung Dosa Besar Kemalasan. Tapi, yea, gua sependapat.”

Menjawab pertanyaan tenang Subaru, Garfiel menggaruk rambut pendeknya ….

“Andaikan ada suara di kota ini yang bisa jadi harapan orang-orang … gua bilang suara itu elu, Kapten. Misalkan bener-bener berusaha sekuat tenaga, gua merasa lu bisa. Itu yang gua pikirin.”

“….”

Itu adalah kepercayaan yang tak berdasar dan kelewat berat.

Terkejut dan menahan napas, Subaru jelas memahami besarnya kepercayaan yang diserahkan kepadanya.

Menoleh ke belakang, dia mendapati Anastasia mengangguk.

Selanjutnya melihat AI yang mengangkat bahu.

Seperti sebelumnya, Garfiel masih mengamati Subaru. Sewaktu Subaru berbalik menghadapnya, Garfiel mengangguk juga.

“….”

Menerima setiap reaksi mereka, Subaru mengangkat kepala.

Menyipitkan matanya ke cahaya lampu kristal redup, dia menghla napas panjang nan dalam.

—mereka terlalu menganggap tinggi dirinya.

Dia merasakannya dari Wilhelm, Julius, dan Reinhard pula.

Mereka salah tentang Subaru. Semua salah.

Mereka sendiri jauh lebih baik, lebih berusaha keras, dan jauh lebih mulia daripadanya.

Namun seakan itu masalah biasa, mereka memuji Subaru, menawarkan bantuan mereka, dan menyambut hangat dirinya. Fakta itu selalu menyiksa Subaru.

Tatkala orang yang kau hormati, yang tidak ingin kalah dairnya, dan yang takkan pernah kau tandingi memberikan penegasan mereka, itu bukan hal kegembiraan biasa saja.

Itu membuatnya risau. Suatu hari kelak, tatkala diri sejatinya terungkap, dia pasti akan mengecewakan mereka.

Saat mereka tahu Subaru yang sejatinya menyedihkan, lemah, tanpa harapan, tentu, mereka akan sedih, dan menyesali kehangatan yang ditunjukkan kepadanya.

Itulah yang selalu dia pikirkan. Dan lagi ….

Bahkan AI, Garfiel, dan Anastasia menyimpan harapan sebesar itu kepada Subaru.

Hampir-hampir dihancurkan beratnya, Subaru telah mendorong dirinya hingga mencapai batas, namun batasnya nyaris tak cukup sesaat mencoba memenuhi harapan tersebut berulang-ulang.

Inilah jalan yang dipilih Natsuki Subaru.

—jalan yang pernah dia janjikan kepada seorang gadis. Jalan pahlawannya.

Tetapi, entah bagaimana, dia bukan lagi pahlawannya seorang. Yang Subaru emban sekarang, adalah—

“Seandainya kau melakukan ini, saudara, mulai dari sekarang akan menjadi lamunan heroik yang kau tanggung di punggungmu.”

AI tiba-tiba memberi peringatan ini kepada Subaru yang terdiam.

Melihat mata Subaru jatuh, AI melanjutkan dengan suara lirih ….

“Kau tidak boleh kalah. Kau hanya boleh menang. Kau akan meraih harapan mereka, membawa ekspektasi mereka, dan bertarung tuk menunjukkan masa depan. Apabila kau membuat keputusan di sini, itulah yang mesti kau lakukan.”

“… aku tidak boleh kalah, ya. Kedengarannya seperti bagaimana seharusnya, bukan?”

“Bobotnya berbeda. Umpamanya saudara kalah di sini, kalah bukan hanya jadi akhirnya, saudara.”

Subaru tak memahami perkataan AI.

Pertarungan Subaru selalu saja seperti ini. Tatkala Subaru kalah, Subaru bukan satu-satunya orang yang kalah. Segala yang Subaru ingin lindungi akan hilang bersama kekalahan Subaru.

Selalu seperti ini. Tak pernah sebaliknya.

Andai kata kekalahan tak merugikannya, dia tidak punya alasan untuk bertarung.

Subaru bertarung adalah karena ada sesuatu yang tidak bisa dilindungi kecuali dia bertarung.

Dan setelah hari ini, jumlah pertarungannya akan membengkak hingga proporsinya luar biasa.

“Cih, bukannya malah seperti biasa?”

“….”

Menghela napas, dia mengambil keputusasn.

Detak jantungnya sampai sekarang menenang dan penglihatannya jernih. Biar tidak dapat melihat wajah AI, dia merasa AI menahan napas, terheran-heran melihatnya.

“Anastasia-san, akan kulakukan. Misal suaraku berbeda, maka serahkan kepadaku.”

“… kau yakin? Setelah kau mengambil harapan orang-orang ….”

“Takkan berbeda dari yang selalu kulakukan. ‘Pahlawan’ juga tidak kedengaran buruk-buruk amat, ya. Biarpun jujur saja, agak memalukan memanggil diriku pahlawan ….”

Melihat raut wajah cemas Anastasia, Subaru menggosok lembut hidungnya ….

“Seandainya masalahnya adalah menjadi pahlawan, aku sudah membuat keputusan itu setahun lalu. Kalau tidak, aku akan memalukan gadis yang melihatku, dan gadis yang punggungnya aku lihat.”

“—begitukah. Yah, oke, deh. Anak laki-laki memang suka pamer.”

Ibarat bilang, ‘Mau bagaimana lagi’, Anastasia tersenyum dan menotol ringan dadanya.

Subaru agak terkejut oleh reaksi itu.

Karena itu barangkali pertama kali melihat Anastasia lengah dan mengungkap emosi sebenarnya.

Perasaan itu yang cepat meleleh ke dada yang ditotol, Subaru mengangkat wajahnya.

“Makasih, Garfiel, AI. Telah membantuku membulatkan tekad.”

Menuturnya pada dua orang di belakang, Subaru mengikuti Anastasia.

Dia harus bilang apa di depan alat penyiaran, dia bertanya-tanya.

Masih tidak yakin harus berkata apa dan tidak berkata apa.

Tetapi anehnya, tiada bingung atau risau menyertainya.

Lagian, sama seperti biasanya, kan?

—sebab dia tahu bahwa, seperti biasa, tidak ada pilihan lain selain pamer lagi.

13 Replies to “RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 41”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *