Share this post on:

Bab 3

Kabut Tebal Biru

Penerjemah: DaffaKaine

“—oh. Di sini ada gadis-gadis juga.”

Pemeriksaan terakhir senjata baru Juggernaut, Armée Furieuse, tengah berlangsung. Selagi Kurena istrirahat setelah menuntaskan salah satu kegiatan hari itu, dia melihat asal suara yang datangnya dari balik kontainer.

Ratu Bengis, Zelene Birkenbaum, akhirnya merespon Shin, artinya dia menghabiskan lebih banyak waktu menanyainya. Zelene sendiri memperjelas dirinya sama sekali takkan bicara kecuali Shin hadir di sana. Jadi, Shin tidak diizinkan ikut andil dalam pengujian Armée Furieuse, lantas Raiden, Theo, Anju, dan Kurena menggantikannya.

Kurena berbalik menghadap mereka, tetapi asal suaranya—adalah sekelompok tentara Aliansi, rupanya—tidak menyadari Kurena dan terus mengobrol biasa. Separuhnya orang Caerulea, berambut pirang dan mata biru.

Persis Daiya. Pikiran itu terlintas di benak Kurena.

“Mereka manis. Tapi, waw, mereka membiarkan para gadis semuda ini bertarung?”

“Aku selalu membayangkan tentara anak-anak yang dipaksa beratrung akan lebih …. Kau tahulah … kek anjing liar—bocah nakal yang mengutuk semua orang dan segalanya.”

“Yah, jika rumornya benar, mereka monster yang bertarung seperti mesin perang tanpa darah itu.”

“Tapi mereka manis-manis, tahu? Hampir normal.”

“… cih. Satu orang melihat kita …. Dia barangkali mendengar.”

Beberapanya mengangkat tangan minta maaf canggung, sementara lainnya menggaruk-garuk kepala tak nyaman. Kemudian mereka menatap Kurena sambil tersenyum jujur.

“Semoga beruntung!” “Makasih!” Kurena balas mengangguk.

Ya, Shin sibuk sama pekerjaan lain. Karenanya dia dan teman-teman mesti bekerja keras menggantikannya. Meski demikian …

Tatapan Kurena tertuju ke seragam biru Prusia yang sedang duduk di antara kontainer.

Kau sedang apa, Lena …?

“Lena belakangan ini tingkahnya aneh.”

Menghabiskan masa kecil mereka di barak Sektor 86 dan kamp konsentrasi, tempat tidak adanya perbedaan jenis kelamin, 86 hanya sedikit paham alasan anak laki-laki dan perempuan puber tidak diperbolehkan berada di satu ruang tertentu.

Michihi bicara, mengeluarkan kosmetik yang dibelinya dari kota tepi danau. Shana yang pergi bersamanya dengan Yuuto dan Rito yang membawa tas mereka, mengangguk terhadap pernyataannya.

Michihi membuka beberapa lipstik yang dibelinya, membandingkan warna, sedangkan Shana langsung membuka botol cat kuku lalu mengecat kukunya. Acara besar akan segera datang, jadi mereka perlu latihan.

“… Shana, kau betulan tidak perlu mengecat kukuku juga,” kata Rito. “Yaelah, kau itu imut, Rito … aku bisa langsung memakanmu.”

“Kau menakutiku, Shana …”

“Pikirku kita atur saja keduanya biar tidak bisa kabur ke mana-mana, tapi takkan berhasil kalau Lena-nya secemas itu. Dan kelihatannya Shin juga berpikir menunggu kesempatan bagus …”

  Yuuto berhenti sejenak untuk merenung.

“Kurasa karena Lena sama seperti kita,” ucapnya akhirnya.

“Maksudmu apa?” tanya Michihi.

“Lena kehilangan segalanya di serangan skala besar. Keluarganya, rumahnya, semua orang yang dia kenal di Republik kecuali Annette. Republik adalah tanah airnya.”

Dia tidak lagi punya negeri yang dipanggil kampung halaman. Tidak ada keluarga untuk dilindungi, tidak punya tempat kembali. Tidak ada tujuan hidup … terkecuali satu hal.

“… ah,” bisik Rito. “Dia sama seperti kita. Dia cuma punya harga diri, jadi tanpa itu, dia sendiri tidak tahu mesti berbuat apa. Tapi ada satu perbedaan …. Lena baru-baru ini kehilangan semuanya.”

Lukanya masih segar. Masih baru, dan sentuhan sekecil apa pun mampu menghancurkan Lena.

“Hei, Shin …. Kau sadarkah Lena akhir-akhir ini bertingkah aneh?”

“Iya.”

Manset adalah aksesoris yang berfungsi sebagai pengencang kerah meja tanpa kancing. Tetapi tidak digunakan pada seragam sehari-hari, apalagi jaket panzer yang biasa dipakai untuk setelan penerbangan. Shin meragukan kemampuan mengencangkannya, jadi dia mencoba melatihnya hari ini. Dia tidak ahli melakukannya, Shin mengangguk pada pertanyaan Theo.

“Ah, jadi kau tahu …. Ah, bangsat. Tidak bisa kulepas.”

“Mungkin karena kancing manset Federasi make pengencang …?” Shin bertanya-tanya keras. “Omong-omong, bahkan sebelum itu dia sudah bertingkah aneh, tapi semenjak kita dapat respon Zelene, seketika itu dia menghindariku.”

Shin tahu dia meninggalkan ruang interogasi, dan Shin ngotot mengejarnya. Shin menemuinya berdiri di koridor, tapi dia cuma menggeleng kepala dan bilang tidak ada masalah …. Jadi Shin sekadar bilang dia selalu siap mendengarkan jika dia mau mengatakan sesuatu, terus dia pergi.

Kalau dia belum siap bicara, tetapi memaksanya mengutarakan isi pikirannya maka tidak ada gunanya. Shin tahu ini dari pengalaman. Satu bulan lalu, mereka sebenarnya berada di situasi yang sama, tetapi perannya dibalik.

“Aku bilang akan mendengarkan bila dia siap bicara,” tukas Shin seraya berpikir demikian.

“Hah?” Theo menatapnya, terperangah. “… yakin kau beneran Shin bukan Legion yang memakai kostum Shin?”

“Apa maksudnya itu?”

“Yah …. Kau tidak pernah seperhatian itu,” jawab Theo, masih tercengang. “… ada beberapa hal yang ingin kutanyakan, Theo.”

Contohnya kesan dirinya sebetulnya bagaimana, tapi Shin berhasil menghentikan dirinya mengangkat pertanyaan itu. Lagian, dia sudah berkali-kali memikirkan serta menggalaukannya, dan di setiap waktu, Theo bersama yang lain selalu membiarkan.

Shin sudah lama memanfaatkan sikap mereka. Namun kini, Shin cuma bisa berdiam diri, tidak tahu harus berkata apa. Sekarang dia tahu perasaan mereka …. Jadi dia tidak berhak bicara.

“… ditinggal sendirian sampai aku menyelesaikan masalah sendiri lebih gampang. Tapi makin mempersulit semua orang lain yang harus menunggu sampai masalahnya selesai. Bukan?”

“Baginda! Baginda! Bagaimana kalau mengenakan ini untuk acara di malam besarnya? Seksi, kan?”

Walau mengetuk, Shiden tetap membuka pintu tanpa izin dan menerobos masuk ke kamar Lena. Yang digelar di tempat tidur di antara mereka adalah pakaian-pakaian dalam yang Shiden beli di kota tepi danau. Barang-barang ini, orang-orang menyebutnya celana dalam hoki. Korset berkutang erotis yang manis, juga kamisol dan celana dalam, semuanya bertujuan mengatur suasana.

Shiden memperkirakan berbagai macam reaksi. I-ini … tidak tahu malu! Aku tidak bisa memakai ini! Atau mungkin, Bukannya ini ukuranmu! Atau, Kok kau tahu ukuranku?! Pokoknya, dia kira Lena akan merona dan mulai terbata-bata.

Kebetulan, Shiden bisa memperkirakan tiga ukuran Lena hanya dengan melihatnya.

Tetapi Lena betul-betul tidak sadar, menatap sekilas ke sabuk suspender1 kulit hitam yang dipegang Shiden pun tidak, atau rantai perak yang menjuntai dari sana.

“Baginda …? Ada apa?”

“Huh?”

“Maksudku …. Pakaianmu untuk hari terakhir.”

“Iya …”

“Kau akan ditemani Pencabut Nyawa Kecilmu, kan? Jadi kau sebaiknya berpakaian bagus dari atas sampai bawah, tahu? Maksudku …”

Shiden nyengir mesum.

“… siapa tahu? Mungkin kau ketemu cara agar dia bisa melihatnya, kan? Jangan cemas; akan kuajak Annette bermalam di bar biar kalian bisa berdua-duaan di kamar. Santai saja, terus—”

Shiden berharap Lena bakalan merona dan memarahinya karena candaan cabul, tapi …

“Tidak …. Kurasa Shin mungkin akan menemani orang lain …” Lena menundukkan kepalanya bak anak resah.

“… hah?” Shiden tidak mengerti maksud Lena.

“Shin tidak butuh aku …. Lagi pula, aku ini …”

Seorang babi putih.

Lena menggigit bibirnya, tidak ingin mengucapkan kata-kata itu. Tidak harus dia orang yang berada di sisi Shin. Ujung-ujungnya, dia hanya salah satu babi putih yang melukainya. Jadi suatu hari, mereka mungkin berpisah.

Tempat di sisi Shin tidak mesti dirinya. Menyadari implikasinya, Shiden mendesah.

“… Baginda …”

Lalu dia meraih bahu kurus Lena dan didorong paksa ke tempat tidur.

“…?!”

Saat tempat tidur berderit di bawahnya, Lena menjerit campuran kaget dan ketakutan. TP loncat terkejut dan mendesis mengancam kemudian berlindung di bawah meja.

Ekspresi Shiden betul-betul mengerikan.

“Shiden …?” tanya Lena khawatir.

“… hentikan.”

Mata Shiden melotot tajam nan dingin. Seakan-akan tatapannya terbakar amarah begitu besar sampai-sampai memenuhi matanya dan terlihat dingin seakan suhunya di bawah nol derajat. Amarahnya sangatlah kuat.

“Mau sampai kapan kau menjaga jarak dan mundur kapan pun segala halnya salah sedikit? Terus kau panggil dirimu ratu kami? Sesekali, kau harus mundur. Aku takkan mendebatnya. Tapi kau tahu apa?”

Lena adalah seorang komandan. Kadang-kadang, dia harus memerintahkan tentaranya untuk mati. Itulah garis yang bersikeras takkan dia lintasi. Garis yang tidak ingin dilewatinya. Tetapi …

“Garis yang kau buat antara dirimu dan kami tidak perlu ada. Tidak satu pun dari kami akan memanggilmu babi putih lagi, jadi jangan panggil dirimu babi putih dan menutup diri di balik dinding lagi. Mau sampai kapan kau hidup di Sektor 86 sialan itu?!”

“Tapi aku dari Republik …. Pihak yang melukai kalian. Aku tanpa maksud melukai kalian …. Bahkan tanpa sadar …. Dan itu sesuatu yang takkan pernah berubah …. Aku cuma punya itu!”

Teriakan Lena menggema di seluruh ruangan. Ibunya mati, diasimilasi Legion selama serangan skala besar. Ayahnya tewas ketika berusaha menunjukkan Lena kenyataan kejam Sektor 86. Karlstahl, ibunya Annette, semua orang—kesemuanya mati.

Dia tidak lagi punya keluarga untuk dilindungi. Tak ada rumah tempatnya berpulang. Bahkan kehilangan harga diri yang didapatkannya dengan bertarung bersama Shin. Dia tergila-gila akan pikiran Shin mengandalkannya, kini dia tidak dapat berperan sebagai orang suci palsu.

Jadi sesaat semua itu hilang, dia tidak punya apa-apa untuk dijadikan identitas, kecuali asal-usulnya sebagai warga negara Republik. Dari dalam hati dia mungkin benci asalnya, tapi cuma itu yang dimilikinya.

“Apa-apaan?” Shiden tidak segan-segan mencemooh teriakan Lena. “Siapa yang bilang hanya itu yang kau punya? Pikirmu semudah itu kehilangan segalanya …? Tatap mataku.”

Shiden menatap tajam Lena, salah satu matanya berwarna nila tua dan satunya seputih salju. Itulah asal Nama Pribadinya, Cyclops. Seorang heterokromia yang membuatnya kelihatan buta satu mata dari jauh.

“Kedua mata ayahku perak. Bukannya aku terikat pada darah Alba-ku. Heterokromianya kudapat dari ibuku. Aku dan adikku punya ciri-ciri itu. Pengen tahu apa yang terjadi?”

Mata perak, sama sebagaimana penindas mereka. Bahkan selama masa damai, ditambatkan sebagai orang luar yang tidak termasuk ke kedua sisi dan nyaris diusir keluar sebab warna tak serasi. Dan Shiden dikirim ke Sektor 86 dengan mata tersebut, tempat orang-orang membangun kemarahan serta stress yang senantiasa di ambang ledakan.

“86 sama yang Republik panggil hewan memanggil kami monster berkulit manusia. Mereka memanggil kami penyihir. Adikku tidak hidup cukup lama untuk menjadi Prosesor …. Kalau saja aku bisa kehilangan ingatan itu, percayalah, akan kuhilangkan.”

Ingatan itu …. Masa lalu itu.

“Tapi tidak bisa. Sudah jadi masa lalu. Semuanya. Semua kesalahanku, waktu-waktu diriku tidak berdaya, momen-momen diriku menyesal—dan pilihan yang kupilih. Jadi kau juga tidak boleh kehilangan hal itu. Kau tidak bisa mengubah fakta bahwa kau adalah prajurit Republik yang bertarung bersama kami. Tidak dapat mengabaikan fakta kalau kau adalah babi putih. Tidak bisa menyangkal kalau kau adalah Reina Berdarah, Ratu Bersimbah Darah kami!”

Meski esoknya Lena kehilangan kekuatan. Walau dia berpisah dengan semua orang. Pertarungan yang dilawannya hingga berada di tempat dirinya berada hari ini adalah milik masa lalu yang takkan pernah bisa dia gantikan, biarpun dia menginginkannya.

“Dengar, Lena. Kau boleh jadi dari Republik, tapi kau bukan babi putih …. Kaulah ratu kami.”

Kata-kata itu membuat Lena tersentak. Rasanya seseorang memberitahunya hal sama sebelumnya. Kata-kata sedikit sedih yang tulus itu …. Seakan-akan ditujukan kepadanya, tersiksa dan terikat oleh rasa bersalah karena tak pernah mencoba melintasi dinding pemisah mereka. Kapan dia pernah mendengar sentimen ini?

Tolong berhenti menampakkan wajah tragis itu.

“Mungkin awalnya, hubungan kita selayaknya babi putih dan kawanan ternak. Tapi kita sudah melaluinya, dan kami ingin kau pun melaluinya. Aku yakin Shin merasa sama …. Jadi kuburlah pola pikir itu.”

Ж

“Zelene, aku bertanya sekali lagi. Kenapa kau memanggilku?”

<<Permintaan investigasi diarahkan pada elemen musuh yang mengeliminasi tipe Mobilitas Tinggi. Pemicu aktivasi Protokol Khusus Omega adalah kehancuran tipe Mobilitas Tinggi. Karenanya, penerima Protokol Khusus Omega adalah siapa pun yang mengeliminasi tipe Mobilitas Tinggi.>>

Setelah tidak lagi memutuskan takkan menanggapi sesudah bereaksi satu kali, Zelene mulai konsisten menjawab pertanyaan Shin. Tetapi dia cuma menjawab Shin—dan sangat jarang, Vika. Karena itulah masih susah mencari tahu tujuannya dan entah bersedia memberikan informasi pada mereka atau tidak.

Lena tidak hadir hari ini. Absennya merisaukan Shin, tapi dia putuskan menelan keresahan itu.

“… lalu kenapa kau memanggil siapa pun yang mengalahkan Phönix?”

<<Karena siapa pun yang mengalahkan tipe Mobilitas Tinggi pastinya tidak berkemanusiaan.>>

Ada sedikit ejekan di nada suaranya. Laksana bilang Shin bukanlah manusia.

<<Karena siapa pun yang sanggup menandingi Legion, mesin yang diciptakan untuk membantai, tidaklah mungkin manusia. Dan semakin berlaku kepada siapa pun yang mampu mendesak unit diperkuat seperti tipe Mobilitas Tinggi ke kehancuran. Mulai saat ini, mereka punya nilai tinggi sebagai subjek penelitian. Target untuk direbut. Mereka punya nilai besar terhadap pemenuhan Legion—pemenuhan—tujuan kami.>>

Dan suaranya serba keserakahan penuh dosa dan dambaan—hasrat seekor monster yang telah menjauh dari jalan umat manusia. Mesin pembunuh sejati.

Gila,” bisik seseorang yang suaranya benar-benar menghina. Mendengar kata itu, Shin tenangnya meneruskan pertanyaan. “Tujuan apa?”

Sensor optik Zelene membelok ke arahnya. Seolah-olah ditarik nada suaranya.

“Mengapa kau semakin mencoba memperkuat Legion? Apakah untuk menghancurkan umat manusia …? Jika itu alasanmu, kenapa saat itu kau tidak membunuhku? Kenapa sekarang bicara denganku?”

Tiada permusuhan pada suara Shin. Tak ada kebencian. Dia semata-mata menanyakannya, tanpa emosi lain di baliknya.

“Untuk apa kau menciptakan Legion?”

Ada kontradiksi mencolok antara kata-kata dan tindakan Zelene, dan asumsi Shin adalah karena Zelene berusaha menyembunyikan kebenarannya. Mereka hampir secara paksa berhasil menyuruhnya membuka paksa bibirnya untuk bicara, dan mereka tak akan bisa lagi melakukan ini di masa depan kelak.

Kendati mereka dapat berulang kali memaksanya bicara, mereka takkan percaya padanya. Melihat Zelene menolak memberi jawaban langsung, Shin tanggapi dengan tidak percaya penuh kepadanya. Lantas Shin hanya menanyakan pertanyaan lebih mendesak. Pertanyaan yang paling ingin dia ketahui jawabannya.

Zelene terdiam sejenak. Ibaratnya dia bingung, tapi di satu waktu, Zelene mengkhianati sedikit ketakutan dan kegelisahannya.

<<… apa kau …>>

Dia adalah Legion. Sekalipun Ameise adalah unit Legion paling lemah, mereka masihlah mesin pembunuh yang dapat tanpa ampun menggilas manusia. Biar demikian, dia masih tampak takut.

“Tidakkah kau membenciku, 86? Legion yang membantai rekan-rekanmu. Memain-mainkan rekan-rekanmu. Menghinakan rekan-rekanmu. Membunuh rekan-rekanmu. Tidakkah itu membangkitkan kebencian dalam dirimu?>>

Shin terdiam seribu bahasa. Zelene membicarakan sesama 86 dari Sektor 86. Iya, baginya, mereka mungkin korban yang rapuh. Mereka mati satu per satu, ibarat takdir tak terhindari nan mengerikan mereka. Dibuang negeri, ditinggalkan tanpa komando atau dukungan layak, dan dipaksa bertarung dalam Feldreß cacat.

Terlalu banyak dari mereka, lebih dari yang bisa dihitung Shin …. Mereka mati kelewat cepat, terlampau mudah. Dan masing-masingnya adalah rekan-rekan berharga Shin. Tapi …

“… tidak.”

Bukannya dia membenci Zelene—atau Legion. Dia tidak benci.

Zelene perlahan menurunkan sensor optik mirip bulannya, bak menundukkan kepala. Seolah menunjukkan penolakannya. Ketakutannya …. Penyesalannya.

<<… menghentikan tanggapan. Seluruh pertanyaan lebih lanjut akan ditolak.>>

Dan sejak saat itu, Ratu Bengis berhenti merespon perkataan Shin.

Ж

“Hei, Lena. Shin hari ini datang.”

Mendengarnya, Lena mendongak dari dokumennya. Hari masih pagi, dan dia berada di pangkalan sedang menyiapkan tahap akhir pengujian peralatan baru. Kurena berdiri gagah di depannya, mengenakan jaket panzernya, kedua tinjunya tolak pinggang.

“Rupanya, dia bertengkar sama Zelene, jadi dia bilang akan meninggalkannya sementara waktu dan membantu kita soal pengujian Furieuse …. Kau tidak mau menemuinya? Lena, kau cuma bersembunyi dari Shin di hotel. Jujur, aku sih tidak mempermasalahkan. Beri aku lebih banyak waktu untuk bersamanya.”

“… tapi—”

Lena menatapnya, lalu Kurena tanggapi dengan sorot mata menantang.

“Hei. Sadarlah …. Duh, dengar. Aku tidak suka kau merenggutnya dariku.”

Kurena mendekat. Lena tentu lebih tinggi, dan fakta ini ditambah sepatu hak tingginya. Namun Kurena sama sekali tidak mengindahkannya.

Ya ampun, gadis ini menyebalkan. Dia cantiknya bukan main dan sepenuhnya terasa tidak cocok berada di medan perang. Dia memaksa masuk ke hidup kami dan mengambil Shin dariku sekejap mata. Aku tidak tahan padanya.

“Tapi aku tidak suka seseorang selain dirimu mencurinya dariku. Kalau kau, Lena, aku … aku bisa terima. Jadi …”

Dia tidak pernah sekali pun melihatku seperti melihatmu. Dia cuma menganggapku rekan, adik perempuan. Aku tidak bisa menyelamatkannya, jadi harus kau yang menggantikanku.

“… tenangkan dirimu.”

Lena terus melarikan diri darinya karena takut ditolak, tapi pas tahu dia di dekatnya, Lena tak bisa menahan desakan untuk mencarinya. Lena ingin mendatanginya, menempel padanya. Menyadari ini membuat Lena menggigit bibir pucatnya.

Tapi aku ini dari Republik … aku tidak berhak di sisinya.

Melihat rambut hitam dan mata merah darah yang takkan pernah dia salah kira, dia nyaris memanggil Shin tetapi menghentikan dirinya. Untunglah, ada jarak cukup jauh antara mereka, dan Shin takkan menyadarinya kecuali Lena meneriakkan namanya.

Tetapi Lena membeku di tempat.

Berdiri di hadapan rangka baja besar Armée Furieuse adalah Shin dan seorang perwira berambut hitam panjang, mengenakan seragam Aliansi. Keduanya mengobrol dan tertawa. Mereka dekat sekali, hampir saling bersentuhan—jarak yang dianggap tak pantas bagi seorang pria dan wanita yang bukan sepasang kekasih.

Perwira itu terkekeh, menepuk bahu Shin bercanda. Salah satunya sepertinya melucu. Punggung Shin separuh menghadap Lena, tapi gadis Republik itu bisa tahu gebetannya tersenyum. Senyum kekanakan yang riang.

… Shin … tidak pernah terlihat senyum itu ketika bersamaku dibanding dirinya …. Kami tidak pernah berdiri sedekat itu …. Dia tak pernah tersenyum seperti itu padaku …. Jadi kenapa dia tersenyum padanya … pada orang asing itu …? Aku … aku tidak suka …

Entah kapan, Lena didekati Guren dan Touka dari kru pemeliharaan. Menyaksikan pemandangan sama seperti Lena, Guren angkat bicara.

“Kek dia bicara sama Alice lagi …. Dia seorang Jet berdarah campuran juga, jadi kelihatan mirip.”

Itu nama yang tak dikenalnya.

“Alice?” Lena bertanya, berkedip bingung.

“Waduh, Kolonel.” Guren mundur selangkah, tampaknya sadar lena di sana. “Anda sedang apa di sini?”

“Alice siapa?”

“Oh …. Uh. Kapten regu dari pangkalan tempat saya mengabdi, dulu di Sektor 86. Yah, itu sudah bertahun-tahun lalu, dulu ketika Kapten Nouzen masih pemula yang baru masuk militer. Di saat tingginya masih segini.”

Guren mengangkat telapak tangannya secara horizontal ke pinggangnya, seolah-olah menggambarkan tinggi badannya, bahkan memberi tahu umur Shin kala itu.

“Jadi ya, Kapten Aegis terlihat mirip Kapten Alice. Mungkin saja karena mereka sama-sama berdarah Jet, tapi rasanya mereka pun agak mirip—dan cara bicaranya sama pula. Rambutnya hitam panjang, persis seperti punya Kapten Aegis, dan dia cantik. Kalau dipikir-pikir, Kapten Nouzen sangat dekat dengannya …”

“Bagus banget, jenius,” ujar Touka, menyiku tulang rusuk Guren.

Touka barangkali sadar warna wajah Lena mulai memucat seiring kata Guren. Nampaknya, Touka mengerahkan banyak tenaga ke sikunya, karena Guren mengerang sedikit sebelum terdiam.

Namun bagi Lena, Guren dan Touka bahkan tidak dianggap lagi.

Tidak …

Emosi hitam mengaduk-aduk perut Lena, tapi benaknya kontras, malah mengabur. Kapten Shin di kali pertama dia direkrut bisa jadi orang yang sangat dapat diandalkan. Shin dempet padanya, jadi dia pastinya orang yang sangat ramah dan baik. Dan wanita ini mirip padanya, lantas bisa jadi Shin melihat beberapa bagian kapten lamanya pada dirinya. Mereka cukup dekat sampai berbincang, bercanda, bersikap natural dan santai satu sama lain.

Tapi meskipun begitu, Lena tidak menginginkan ini. Bukan ini. Walaupun kapten yang diandalkannya, atau seseorang yang menyerupai kapten itu, Lena tidak mau Shin melihat wanita lain dengan ekspresi yang dia sembunyikan dari Lena.

Gadis itu tidak mau seseorang merebutnya. Dan sesaat Lena menyadari itu, dia terkesiap.

Aku tidak mau seseorang merebutnya …?

Dia telah meyakinkan diri kalau tidak harus dia yang berada di sisinya. Bahwa kelak, dia akan kehilangan posisinya. Dan dia merasa tak berhak bergantung padanya dan memohon untuk jangan meninggalkannya.

Jadi ya, momen yang dia takuti akhirnya terjadi. Waktunya menerima kenyataan dengan hormat dan ikhlas. Lantas, mengapa? Mengapa emosi egois ini—hasrat tak ingin melepaskan dirinya—sekarang mengakar?

Melihat Lena berjalan menjauh dengan tindak-tanduk anak rusa baru lahir, Touka menatap tajam Guren yang berdiri satu kepala lebih tinggi darinya.

“Kuakui, aku terkesan, Guren. Tidak kusangka satu kata yang kau ucapkan padanya adalah kata yang perlu dia dengar.”

“Yah, maaf …”

“Kolonel tidak bego, tapi bahkan orang paling pintar saja bisa tersesat perihal masalah hati. Jadi hentikan lelucon jahatnya.”

“Kubilang maaf … aku lagi tidak bercanda, tahu.”

Guren menghindari kontak mata Touka. Dia betul-betul sadar telah mengacau. Keduanya tetap menatap Shin dan kapten Aliansi yang sedang bicara di depan Armée Furieuse. Tidak lama setelahnya, Theo dan Raiden bergabung, lalu Shin terus tertawa seperti tadi. Ekspresinya seketika bicara dengan Kapten Aegis dan Raiden teramat-amat kontras dari ekspresi Lena ketika dia menjauh.

“… bocah kecil itu sudah cukup umur soal ini, ya?” tutur Guren.

“Tidak kubayangkan anak canggungan dari tujuh tahun lalu itu bakalan menjadi seperti ini,” Touka setuju.

Dia sangat imut dan polos tatkala itu sampai-sampai melihatnya saja membuatmu merasa lapang.

“… kuharap Alice di sini melihatnya,” gumam Guren.

“Yah, barusan kau bilang ke Kolonel Milizé kalau Kapten Aegis mirip wanita yang dulu dekat dengan Shin. Aku mengerti kenapa dia jadi tertekan.”

“Yah, benar sih, Nouzen nempel ke Alice ibarat dia kakak perempuan atau semacamnyalah …. Tapi hanya karena mereka mirip …”

“… iya.”

Lena sudah pergi, mereka berdua menghadap arah dirinya terhuyung-huyung menjauh. Jujur, semestinya Lena tidak merasa takut oleh hal ini. Tapi, yah …. Cinta bisa merampas penilaian logis seseorang.

Lena bersikukuh memeriksa persenjataan baru walaupun hari itu tidak punya pekerjaan wajib, jadi sewaktu dia melihatnya masuk ruang tunggu hotel dengan langkah tak stabil, Annette terheran-heran lalu meletakkan antologi puisi yang dibacanya.

“Lena, ada apa? Kau sepucat seprai.” “Annette …” kata Lena, menghampirinya bagai hantu.

Seorang pelayan di dekatnya menyeret kursi, kemudian Lena mendudukinya.

“Shin lagi bicara sama seseorang dari Aliansi …. Orang bernama Olivia …. Dia kelihatannya … bersenang-senang …”

“Oh …. Maksudmu Kapten Aegis, instruktur Armeö Furieuse Divisi Penyerang—belum lagi jagoannya Aliansi, spesialis pertempuran jarak dekat, dan seorang Cenayang yang mampu melihat masa depan … aku tahu semuanya.”

Kapten Aegis dijadwalkan bertugas ke Divisi Lapis Baja, tapi menjadi instruktur persenjataan baru artinya keterlibatan dekat dengan tim peneliti, oleh sebabnya Annette tahu. Kapten itu juga sesekali menjambangi hotel untuk membagi-bagikan bungkusan permen.

“Menurutku mereka membicarakan banyak hal. Shin itu seorang kartu truf, master taktik, spesialis pertempuran jarak dekat pula …. Dan mungkin kau belum sadar, tapi Shin bukan satu-satunya orang yang pernah diajak bicara Kapten Aegis. Raiden, Theo, dan bahkan sang pangeran juga diajak, dan mereka semua nampaknya sangat akrab.”

“Ternyata, Olivia kelihatan mirip kapten unit pertama Shin sewaktu dia ditugaskan di Sektor 86 dulu. Kapten wanita Shin.”

“Hooh …”

Itu berita baru buat Annette, tapi dia merasa agak aneh jenis kelamin kapten lamanya Shin diungkit.

“Terus?” Annette bertanya, tidak yakin Lena bermaksud apa.

“Aku harus apa …?!”

“Tentang apa?”

“Shin bicara sama kapten itu. Dia bersenang-senang.”

“Iya, sudah kau katakan.”

“Aku harus melakukan apa?!”

“Tentang apa?”

Lena melemas, kelihatan seolah dunia akan berakhir. “Olivia akan merebutnya dariku …!”

“… oh.”

Annette entah bagaimana berhasil menahan desau. Dia tidak yakin Lena mau bilang apa, tapi tidak disangka-sangka akan mengatakan itu, dari segala kemungkinan …

Oh, Lena …. Kau bahkan tidak sadar betapa besar kesalahpahaman ini …

Tapi yang dikatakan Lena selanjutnya membuat Annette mengangkat alis takut.

“Annette, aku harus apa? Aku tidak ingin dia merenggutnya. Aku tidak tahan melihat mereka bersama …. Tapi tidak sepantasnya aku merasa begini. Tapi aku tidak mau dia mencuri Shin!”

“Maksudmu tidak sepantasnya merasa begini itu apa?”

“Aku … akulah alasan Republik masih tidak mengakui kemanusiaan 86 … akulah alasan mereka masih percaya 86 dimiliki Republik …. Aku yang jadi bagian Divisi Penyerang hanya akan membebani Shin, jadi aku tidak berhak merasa begitu!”

“Orang-orang fanatik itu boleh bicara semau mereka. Bahkan tanpamu, mereka bakalan menemukan alasan konyol lain. 86 sama sekali tidak peduli. Kau terlalu memikirkan ini. Beban? Hak? Apa-apaan, Lena?”

“Shin akan baik-baik saja bahkan tanpaku …”

“Tapi dia akan lebih baik bersamamu. Lagian, ingat apa yang Shin katakan kepadamu di Kerajaan Bersatu?”

Annette tahu tentang itu sebab perekam misi menyimpan audio. Lena akhirnya mau menangis.

“… tapi aku … aku dari Republik …”

Seseorang sudah memarahinya karena mengatakan ini, dan itu malah memperburuk perasaan Lena. Annette tahu betul rasa bersalah Lena tetapi dia kesampingkan.

“Itu benar. Kau dari Republik. Terus? Apa salahnya? Apa Shin bilang dia tidak menyukaimu karena itu?”

“… aku atasannya.”

“Terus?”

Apabila unit mereka bahkan lebih jauh lagi komunikasinya layaknya militer umum, hubungan romantis antara perwira dan bawahannya mungkin menjadi situasi sulit. Tapi mereka ini skuadron bersenjata yang anggotanya tentara anak-anak yang bahkan tak mengenyam pelatihan resmi, dan perwira komandan mereka gadis remaja. Divisi Penyerang 86 sama sekali tidak normal.

Sejak awal 86 tidak pernah merasakan rantai komando yang membeda-bedakan kapten, wakil kapten, serta anggota biasa. Mereka punya hubungan romantis tanpa memedulikan hal di atas, jadi tidak ada yang menghiraukannya.

“Jadi …”

Lena ragu-raug menuntaskan kalimatnya, kedua tangannya yang bertumpu di pangkuannya mengepal. Merasakan sentimen berikutnya, Annette akhirnya kehilangan kesabaran lalu bangkit berdiri.

“Terus kenapa?! Apa kau sekarang mulai mencari-cari dalih untuk meninggalkannya? Dia bilang jangan tinggalkan aku, dan kau bilang takkan tinggalkan. Kini kau memutuskan menyerah saja?!”

Lena tercengang. Jelas dari ekspresi pucat bahwa hatinya tidak pernah menyerang sekali pun.

“Maksudku bukan itu …!”

“Mungkin tidak bermaksud, tapi sama-sama saja. Berhenti mencari-cari alasan. Semisal kau betulan menyerah padanya karena ini, maka kau beneran akan meninggalkannya!”

Dia memilihmu, jadi berhenti bersikap menyedihkan.

Pemikiran itu berkobar dalam benak Annette, namun dia menahan lidahnya. Mengatakannya lantang-lantang sama saja menyedihkan. Meski begitu, melihat Lena merenggut Shin membuat Annette merasa dirinyalah yang dicampakkan. Salah langkahnya sendiri dahulu telah memutus ikatannya dengan Shin sekali, dan peperangan makin-makin menjauhkan mereka …

Tetapi Shin yang besar di sisinya dengan Shin yang dia kenal sekarang adalah dua orang berbeda. Tubuh dan kepalanya mungkin sama, namun dia sudah teramat banyak berubah. Dulu, Annette merasakan sesuatu semirip cinta pertama terhadap teman masa kecilnya, namun dia tidak merasakan emosi sama terhadap Shin hari ini. Biar begitu, Annette tidak bisa sepenuhnya buta pada fakta orang baru tengah memenuhi tempat yang dulunya dimilikinya seorang.

Jejak bara berkedip dalam lubuk hatinya. Dia tatap punggung Lena—rambut perak panjangnya—dan mau tidak mau merasa dialah yang seharusnya berada di sisi Shin.

“Dengar. Misal kau tidak mau orang lain merampasnya …. Sekiranya kau masih merasa begitu, meskipun berpikir kau tidak layak bersamanya …. Kau harus mengatasi perasaanmu.”

“Aku …” Lena membuka bibirnya hendak bicara, kemudian ditutup rapat-rapat lagi.

Sebagian dirinya merasa tidak boleh mengatakan kata-kata itu, tapi Annette tahu. Kebenaran Lena tertulis di seluruh wajahnya. Tetapi mengungkapnya ke kata-kata berarti mengakuinya, jadi Lena tidak bisa mengatakannya. Belum.

Annette iba. Takut akan memiliki perasaan itu. Kemungkinan ditolak itu menyeramkan. Memperlihatkan jiwamu, kemudian ditolak langsung setelahnya …. Lena sungguh berhak takut. Dia sudah lama sekali mengejar Shin, akhirnya dekat dengannya. Ditolak sekarang rasanya sakit. Bertambahnya kemungkinan itu sudah cukup melumpuhkannya.

Tapi …

“Biarkan aku mengingatkanmu akan sesuatu yang pernah kau katakan kepadaku. Kalau kelamaan, nanti kesempatannya terlewatkan. Dan begitu lewat, air mata apa pun yang kau tumpahkan akan terlambat.”

“Dia kecewa dengan jawabanku lalu mendiamkanku. Kesannya begitu.”

 “Aku setuju sama penilaian itu. Tentu berbeda dengan provokasinya sebelumnya. Hanya bisa berasumsi kalau itu perasaan sejatinya.”

Puf. Puf.

Suara sesuatu melesat di udara kemudian menabrak dinding memenuhi ruangan, tetapi suaranya terlalu lembut dan tidak logis semisal dianggap tembakan. Akan tetapi, Shin dan Vika, mengabaikan objek yang terbang melintasi ruangan lalu melanjutkan percakapan mereka.

 Semua sofa di halaman depan pemandian sudah terlebih dulu didempetkan ke dinding oleh karyawan, menyisakan area terbuka luas di tengah aula, yang kini penuh teriakan agresif nan bersemangat, “Ayo, ayo!” dan “Kena kau!”

“Antara pesan dan sikapnya, rasanya dia menguji kita. Syaratnya adalah menghancurkan Phönix, dan … membenci Legion, kurasa? Aku tidak paham keinginannya apa.”

“Menurutku, kau yang tidak benci Legion itu tidak jadi soal …. Oh.”

Sepasang bantal yang beterbangan di udara menghancurkan suasana percakapan mereka. Andaikata keduanya tidak membungkuk, bantalnya akan menghantam wajah mereka.

“… cih, meleset.”

“Serangan kejutan kita gagal, ya …? Kukira komandan operasi dan pangeran lagi lengah.”

Dua anggota Divisi Penyerang yang relatif muda masih berdiri dengan posisi melempar seraya mencemooh kecewa. Lalu menatap komandan operasi serta pangeran Kerajaan Bersatu yang terdiam kemudian tersenyum cerah kepada mereka.

“Ayolah, kalian berdua, sini ikut main! …. Kecuali kalian penakut!”

“Penakut!”

“…”

Shin dan Vika balas menatap bocah-bocah nekat polos itu. Shin terkenal sebagai Pencabu Nyawa Tanpa Kepala dari front timur, sedangkan Vika adalah Ular Pembelenggu dan Pembusuk tersohor. Keduanya adalah Prosesor berpengalaman.

Mendiamkan ejekan semacam ini tidak sesuai martabat mereka. “Baiklah, kalian yang minta.”

“Tunjukkan aku kemampuan terbaik kalian, rakyat jelata.” demikian situasinya mendadak kacau balau.

“—apa …?”

Perasaan Lena pada Shin bagaimana? Pertanyaan Annette adalah pertanyaan yang tidak mau dipikirkan Lena, tapi tetap dia siksa dengan memikirkannya. Harus dia pikirkan, supaya jangan lepas darinya.

Lena berjanji kepadanya bahwa dia takkan meninggalkannya. Itulah janji yang takkan mampu dia tinggalkan. Shin membungkam keraguannya dan bergantung pada dirinya, jadi Lena tak boleh mengkhianati itu.

Dia kira waktu itu tidak ada orang di pemandian, berarti ada kesempatan bagus untuk interopeksi diri. Dia pergi ke pemandian, memberanikan diri …

… setelah itu mendapati dirinya berdiri tertegun di pintu masuk halaman. Alasannya? Dia melihat Shin, Raiden, Theo, sama cowok-cowok 86 lain ambruk di lantai marmer, ditenggelamkan pegunungan kecil bantal.

Gambaran itu pun tidak dilebih-lebihkan. Ada banyak bantal yang ditumpuk satu per satu dan yang berserakan di lantai. Selain 86, Vika, Dustin, sama Marcel juga terbaring tak bergerak di lantai.

Rupanya, mereka semua baru keluar dari pemandian, sebab berpakaian tipis dan membawa handuk. Mata Lena jelalatan ke anak laki-laki yang terbaring di genangan darah putih—Err, bukan, bantalnya sama sekali tak terlihat mirip darah.

Berasal dari keluarga bangsawan serba aturan, waktu bermain sulit didapat bagi Lena muda, dan dia belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya. Meski begitu, permainan ini tercatat sebagai akibat suatu fenomena dari Timur Jauh yang pernah dirinya dengar: tradisi perang bantal yang dihormati.

Lerche yang mencoba membangunkan para anak cowok dari sudut ruangan, menyadari kehadiran Lena kemudian bangkit menemuinya. Di sampingnya ada orang lain, yang mata biru safirnya menatap Lena.

“Aduh, ternyata Nona Reina Berdarah …! Tuan Pencabut Nyawa sudah pasti tertangkap basah di kondisi paling rentan.”

“Reina Berdarah …. Oh, jadi Anda komandan Divisi Penyerang yang terkemuka …. Mohon maaf. Saya—” si orang lain mencoba memperkenalkan diri.

“—Kapten Olivia …!”

Dihadapkan orang yang paling tidak mau dia temui, Lena nyaris tak mampu menahan desakan untuk mundur selangkah. Bukan cuma tidak sopan tapi juga sangat menyedihkan. Kapten Aegis berkedip bingung sekali, tapi segera tenang kembali layaknya orang dewasa dan lanjut bicara.

“Ya, Kapten Olivia Aegis dari Militer Aliansi. Senang berkenalan dengan Anda, Kolonel.”

“Kolonel Vladilena Milizé, komandan taktis Divisi Penyerang …. Anu, tidak perlu formal-formal, Kapten. Anda belum ditugaskan ke unit kami, ditambah lagi Anda lebih tua dari saya. Selain itu, kami sedang di tengah jadwal cuti, jadi …”

Dari semua 86, hanya Shin yang tampaknya bersikukuh bicara formal dengan Lena, membuatnya makin tidak suka. Namun, kendatipun Lena nyaris mungkin sepuluh tahun lebih muda dari Kapten Aegis, dia masihlah seorang kolonel. Kapten itu berkedip, tersentak, lalu mengangguk bersungguh-sungguh.

“Baiklah …. Kalau begitu kita bisa lepas formalitasnya. Tidak usah memanggilku Kapten.”

“Iya …. Yah, anu. Apa yang terjadi di sini, tepatnya …?”

Kapten Aegis juga nampak baru keluar dari pemandian, disertai rambut hitam cantik yang diikat di belakang. Melihatnya menyapu leher bercorak Operator Feldreß membuatnya aktraktif jelas bagi Lena.

Barusan, terlintas pikiran mengejutkan dalam benak Lena.

Olivia tidak masuk pemandian sama anak laki-laki, kan …?

Lena tak sanggup menyuarakan pertanyaan tersebut.

“Yah …. Kau tahu, hari ini waktunya mencuci.”

… apa?

Semuanya berawal ketika bantal di kamar tamu dikumpulkan untuk dicuci. Sesudah menghabiskan banyak waktu di hotel tepi danau yang mewah ini dan pemandian air panasnya, anak-anak cowok bersantai tapi mulai terlihat tanda-tanda kebosanan. Karyawan hotel menyadarinya, tentu saja.

Lantas mereka membolehkan anak-anak melakukan sesuatu yang normalnya tidak diizinkan siapa pun pada cuciannya. Para penguasa hotel menyetujuinya, jadi mereka membiarkan anak-anak itu menggunakan halaman depan pemandian—yang langit-langitnya tinggi dan tidak berjendela—sebagai arena pertarungan persabatan ini.

Maka perang bantal anak laki-laki dimulai, semuanya kelewat mendadak.

“… dan begitulah ringkasannya. Staf hotel setuju, lalu mereka paham batasannya hanya melempar bantal. Kuharap kau tidak terlalu keras kepada mereka, Kolonel.”

Bantalnya ringan dan punya pertahanan udara tinggi, jadi misalkan asal dilempar selain dicengkeram dan diayun-ayunkan, kecil kemungkinan kainnya robek atau isi bantalnya tumpah. Dan tentu saja, serangan langsung ke muka takkan membuat pingsan siapa-siapa.

Mereka berbaring begitu karena tertidur saja. Letih perang bantal ditambah pening yang menyertai mereka begitu keluar pemandian, apalagi titik panas tubuh yang baru mereda setelah tak terpapar uap air. Yang mengantuk meninggalkan peperangan, tak lama seusainya, semua peserta perang bantal terbaring kalah.

Ternyata, ada dua kubu yang bertarung dalam kontes ini. Menjadi komandan mereka selama dua tahun, sekali pandang Lena langsung tahu. Tentu saja, perbedaannya tidak memperjelas situasinya.

Menyadari anak-anak yang roboh itu menghalangi jalan Lena, Kapten Aegis kembali membangunkan mereka. Setiap anak-anak dicengkeram bahu atau lengannya lalu diguncang dengan gerakan biasa yang takkan pernah bisa ditiru Lena. Seketika tangan Olivia terulur ke arah Shin yang lagi berbaring di tengah aula, Lena berteriak dengan sikap tidak normal.

“A-aku akan tangani sisanya!”

Teriakannya cukup keras sampai-sampai membangunkan sejumlah anak laki-laki yang tidur di sebelahnya. Kapten Aegis berhenti, terlihat kaget, kemudian tersenyum santai. Anak yang lain tidak masalah, tapi Lena tidak boleh membiarkan Kapten Aegis bertindak ramah dan leluasa ke Shin.

Jangan sentuh dia.

“Aku akan bangunkan yang lainnya, jadi kau boleh pergi jika mau, Kapten. Terima kasih.”

Lena membuat gerakan mengusir, dan untungnya si kapten menuruti sarannya. Selepas itu Lena melihat halaman yang kisruh. Hati-hati melangkah di antara mayat, dia pelan-pelan mendekati Shin tertidur.

Tidur bagi Shin masuknya tidur sebentar bagi orang biasa, yang berarti normalnya dia bakalan bangun jika seseorang berjalan di dekatnya. Sewaktu para anak laki sadarkan diri, yang tidur di sebelah mereka juga sadar, membuat reaksi berantai.

Akan tetapi, Shin sedang tidur nyenyak tak biasa dan tidak membuka matanya. Lena duduk di sebelahnya kemudian mengguncang-guncangnya sekuat tenaga.

 “S-Shin. Bangun. Nanti masuk angin misal tidur di sini.”

Sebagian diri Lena diam-diam berharap dirinya akan tetap tidur. Dengan begitu, Shin akan tetap menjadi miliknya. Dia takkan pergi ke mana-mana. Akan setia bersamanya.

Jangan bangun. Dengan begitu, kita bisa tetap bersama.

Lena mengerutkan bibir. Akhirnya dia akui sendiri. Dia ingin bersamanya. Selamanya, kalau bisa.

Namun kini Shin sedang melangkah menuju masa depan, dan Lena takut dia barangkali akan meninggalkannya. Banyak sekali orang yang menyayanginya, dan suatu hari, Shin bisa jadi tidak membutuhkannya lagi. Penghinaan yang diperbuat Republik memberatkannya, dan Lena tidak mampu menyangkal kecemasan yang dirasakannya.

Seandainya hari ini adalah hari itu bagaimana? Rasa takut akan penolakan menghantuinya, dan dia nyaris tidak mau nembak. Jika Shin menolak, Lena akan kehilangan tekad bertarungnya. Kepribadian Lena akan terungkap.

Tapi biar begitu, dia tidak mau menyerah. Tak ingin pura-pura tidak tahu arti perasaannya, kemudian orang lain merampas Shin selagi dirinya berpuas diri. Lena sadar dia paling tidak menginginkan itu. Dan saat berpikir begitu … dia tidak mampu lagi membohongi dirinya sendiri.

Aku tidak mau orang lain mengambilnya dariku. Aku mau memilikinya. Jadi …

Lena menutup bibirnya rapat-rapat.

Ж

Tidak bisa tidur nyenyak malam itu, Lena bangun lebih awal. Dia tidak membangunkan Annette dan perlahan-lahan keluar dari kamarnya. Bahkan dini hari, ada seseorang di meja depan hotel, kemudian Lena keluar lobi dan memasuki taman mawar, di mana sebuah hamparan bunga beludru menyambutnya.

Dari sana, dia pergi ke halaman, lanjut menuruni tangga dilengkapi pagar berwarna kuningan. Di dasar tangga ada danau luas bekas salju cair. Suhu terasa dingin meski musim panas, ketika tidak ada angin, danaunya memantulkan sinar bulan dengan cemerlang.

Kapal feri yang menggantikan trem tidak beroperasi sepagi ini. Hening lirih, seolah-olah semuanya sirna, berdiam diri di antara permukaan air dan langit berbintang yang dipantulkannya.

Selagi Lena berdiri di tepi, dia membayangkan bahwa lautan mungkin kelihatan seperti ini. Tetapi tidak ada silir sebab anginnya tidak bertiup. Yang bergerak hanyalah cahaya bintang—lautan primordial benda langit atau boleh jadi ujung-ujungnya lautan.

Tetapi seketika pemikiran itu terlintas dalam benaknya, seseorang berdiri di ujung pandangannya.

“… Lena?”

Suara itu.

Lena berbalik, kaget.

“Shin …? Kau sedang apa sekarang?” “Kemarin aku tidur di waktu yang tidak wajar, jadi aku baru bangun.”

Lena duduk di samping Shin di bangku kayu kemudian sengaja bergeser mendempetinya. Dia entah bagaimana menahan kehendak gelisahnya untuk menjaga jarak. Dia mencari-cari sesuatu tuk dikatakan dan akhirnya menanyakan pertanyaan yang terbesit dalam kepalanya. Dia duga pertanyaan ini takkan dianggap canggung.

“Ada perkembangan soal situasi Zelene?”

“Dia belum mengatakan sesuatu yang substansial …. Jujur, kayaknya jalan buntu. Dia tidak ingin menjawab pertanyaanku lagi.”

Setelahnya Shin berhenti, seakan-akan terjadi sesuatu kepadanya.

“… sebetulnya, perang bantal kemarin bisa jadi memberiku ide bagaimana caranya melanjutkan hidup dari situ.”

“Pati bohong,” Lena menusuknya, cekikikan.

Pertama kali setelah sekian lama, dia bisa bicara natural dengannya. Shin mungkin mengutarakan candaan tidak biasa ini untuk memecah kebekuan di antara mereka. Lena putuskan melucu sendiri.

“Kenapa tidak ajak Fido bertemu dengannya? Mungkin entah apa bisa lebih baik berkomunikasi dengannya. Seperti, pakai gerakan.”

“Mungkin, tapi sebelum itu, dia harus belajar tidak sedikit-sedikit nempel,” ucap Shin lelah.

Fido (yang Lena anggap) ngambek sewaktu Shin menolak membawanya ke trip ini. Setelahnya Shin melihat punggung bukit, tempat sinar matahari subuh mulai mengintip dari balik kabut tipis.

“… perkara Fido yang ayahku teliti …”

Kecerdasan Buatan, Purwarupa 008. Sebuah Kecerdasan Buatan yang bukan Legion ataupun Sirin.

“Mungkin karena namanya sama, tapi aku kepikiran Fido itu adalah Kecerdasan Buatan yang sama. Barangkali alasan dia mengikuti dan mematuhiku tujuh tahun terakhir ini karena selama ini dialah Fido yang itu.”

Menurut Vika dan Annette, Shin-lah yang menamai Purwarupa 008 sebagai Fido. Seumpama demikian, nama sama mereka sama sekali bukan kebetulan. Tapi kata-kata Shin bukan ibarat seseorang menyatakan teori, tapi lebih mirip seorang anak yang menjelaskan cita-cita mereka ketika besar kelak. Harapan remeh yang diutarakan ke kata-kata walaupun mustahil.

Terlepas dari seluruh dosa Republik, pabrik produksi Scavenger masih merupakan fasilitas militer. Tidak mungkin Kecerdasan Buatan cobaan bisa sampai sana. Lantas Shin hanya dapat memegang teguh harapan itu, menjelaskannya seolah-olah candaan.

“Andai kita periksa inti Fido, kita barangkali beneran menemukan Fido kecil itu,” ucapnya, tersenyum samar. “Siapa tahu? Boleh jadi dia mengenalku, terus berbincang betapa lamanya kami tidak bertemu. Dan jika itu terwujud …”

Shin terdiam, seakan-akan ragu menyelesaikan kalimat tersebut. Bibirnya tidak lagi tersenyum, dan mata merah merenungnya menyipit sejenak.

“Apa?” Lena bertanya.

“… bukan apa-apa. Cuma berpikir misalkan itu terjadi, akan sangat menyedihkan.”

Lena berkedip tidak percaya. Rasanya arah kalimat yang hendak dia utarakan berubah seluruhnya. Sekiranya Shin masih merasakan semacam keterikatan pada KB itu, sekalipun tidak terlalu mengingatnya, maka angan Fido yang dikenalnya mungkin beneran teman lama semasa kecilnya harusnya jadi angan yang bagus.

“Misalkan Fido masih di sana, di akan diselesaikan dan dikerahkan untuk bertempur menggantikan manusia. Dan itu tak cocok buatku. Biarpun Fido yang kita miliki sekarang bisa dikembangkan dan ditambahkan komponen tempur, aku tidak ingin dia berperang. Bila sesuatu yang tidak dibuat untuk bertempur, aku tak ingin mengubahnya menjadi alat perang.”

Barangkali dia tidak hidup. Mungkin dia bukan manusia. Tapi bukan berarti Shin ingin mengirimnya ke pertempuran menggantikannya. Menurut Lena, Fido adalah kunci potensial untuk medan perang tanpa korban jiwa sejati. Namun bagi Shin, seperti mengirim rekan lain—dan kemungkinan teman masa kecilnya—ke kematian mereka di medan perang.

“Ingat bagaimana kami meninggalkan rongsokan Fido di monumen peringatan Juggernaut? Itu karena di ujung misi Pengintaian Khusus, dia dihancurkan selagi mencoba melindungiku dalam pertempuran. Aku tidak ingin melihatnya terjadi lagi. Aku tidak … ingin melihatnya mati lagi.”

Walaupun dia drone kikuk yang canggungan tanpa sedikit pun nyawa manusia.

Tetapi seketika itulah keresahan sekali lagi meluap dalam hati Lena, mengangkat kepala buruknya.

Apa itu berlaku padaku juga? Apa kau takut melihatku mati? Atau mungkin tidak mati, melainkan menghilang? Kau masih merasa begitu?

“Apa tidak hanya berlaku ke Fido …? Bukan cuma 86 …?”

Mata merah tua Shin melihat Lena.

“Itukah yang mengganggumu?” tanya dirinya.

Lena tiba-tiba menegang. Dia membeku di tempat, mata ngerinya balas menatap Shin. Bibir Shin tersenyum mengejek jelas.

“Sudah kubilang. Kalau mau curhat, aku akan selalu ada mendengarkan, jujur. Ratu satu-satunya kami lagi ketakutan.”

Saat Lena mengangkat kepala kagetnya, sinar mentari pertama bersinar. Cahaya fajar menyinari kegelapan malam dan bintang-bintang berkedip dari langit biru fajar.

Dan dengan langit tersebut menjadi latarnya …

“Adapun pertanyaanmu …. Tidak, aku tidak mau sekutuku yang manapun mati. Salah satunya menghilang saja tidak ada baiknya. Karenanya aku bawa mereka bersamaku. Selalu. Dan jika bisa, aku pengen semua orang bersamaku sampai akhir. Jadi misalkan kau tidak ada, aku …. Anu. Aku takkan suka.”

Kata-kata itu meresap ke hati Lena bagai hujan lembut yang jatuh di gurun gersang. Iya, Shin sudah katakan sedari awal. Lena dari Republik, namun dia juga ratunya 86. Dia bersama mereka.

Mungkin bukan tempat yang dikhususkan untuknya, tapi masihlah tempat kembalinya. Shin bilang dia diizinkan berada di sana. Dengan suara menghibur nan menenangkan sama yang telah berkali-kali menyelamatkannya.

Aaah.

Sudah kuduga. Aku benar-benar …

Shin di sisi lain, merasakan semburat kesedihan menguasainya selagi menatap cakrawala. Sekarang, tak salah lagi, waktunya dia nyatakan. Tapi dia masih goyah, diliputi rasa malu, dan cuma berhasil mengucapkan sejumlah kata tidak jelas.

Membayangkan Raiden atau Theo mendengar ini terus merundungnya itu sedikit menjengkelkan. Dan bagian dirinya tidak ingin seorang pun mati? Mesti dia bawa hal itu sampai kuburannya.

Dia tersandung kata-katanya sendiri. Shin bilang padanya dia tidak ingin satu pun mati. Jadi dia

Ketika Annette bangun, dia mendapati Lena tidak ada di kamar. Annette sebal, karena melihat Lena ikut sarapan di mejanya. Artinya, dia tidak memilih makan di meja Shin. Dia masih bimbang.

Atau begitulah yang dipikirkan Annette, sampai Lena angkat bicara. “Annette, kurasa akhirnya sudah kuputuskan.”

Melihat ekspresi penasaran baru Annette, Lena sedikit gelisah kemudian berbisik lirih.

“Aku akan … um … kasih tahu Shin kalau aku … menyukainya.”

Mata Annette membelalak. Lalu dia bangkit berdiri dan tangannya meraih bahu temannya.

“Baguslah! Akhirnya kau berani! Mantap!”

Lena panik sebab dukungan semangat keras Annette, tetapi Shin sudah lama menuntaskan sarapannya dan pergi entah ke mana, sedangkan orang-orang yang lain sudah tahu.

 

Ж

Terlepas dari Lena yang sudah membulatkan tekadnya, Kapten Aegis sekali lagi mengunjungi hotel.

“Baiklah, anak-anak, apa kalian masih bosan karena kemarin kurang?”

Senantiasa biasa, suara kapten sejelas lonceng—suara seseorang yang terbiasa memberi perintah, suara yang sanggup memikat orang.

Kuharap dia tidak datang, pikir Lena, tidak berani mengatakannya keras-keras. “Kalau iya, sedikit eksplorasi bawah tanah bagaimana?”

“Situs suci kami, Gunung Wyrmnest. Dan benteng alami Kerajaan Bersatu, Gunung Dragon Fang. Kedua nama itu sebenarnya berasal dari sumber yang sama.”

Demikian komentar Kapten Aegis selagi mereka berjalan melalui terowongan, suara sepatu bot militer mereka bergema di permukaan dinding gua yang licin. Jelas berbeda dari gua alami, tapi juga jelas tidak digali mesin. Layaknya berjalan dalam perut makhluk besar.

Setengah jalan naik Gunung Wyrmnest sampai ke pintu masuk terowongan batu ini. Karena mereka sekelompok remaja yang energinya melebihi tempat yang mereka jelajahi, barisan segera dipecah menjadi beberapa kelompok. Untungnya, guanya cukup luas untuk menampung semuanya.

Ditambah lagi pangeran mungkin mengetahuinya, Kapten Aegis melanjutkan penjelasan bak nyanyiannya.

“Katanya behemoth2 terakhir melarikan diri ke tempat yang nantinya menjadi pegunungan Dragon Corpse, di sanalah keluarga kerajaan unicorn memburu mereka. Karena itulah tempatnya dinamai bangkai naga. Gunung Wyrmnest pun sama. Kabarnya wyrm terakhir bersemayam di gunung ini—jadilah, Wyrmnest. Sarang wyrm. Legenda berkata sisa-sisa wyrm masih bersarang di suatu tempat dalam kedalaman ini.”

Kapten Aegis berbalik, tumitnya mengklik, terus menatap kubah batu tinggi dan sebuah ruangan luas yang kebesaran untuk mengakomodasi seseorang. Aliansi menyebut ruangan ini Aula. Tak satu pun manusia tahu tujuan tempat ini digali.

“Barangkali labirin bawah tanah luas ini ditinggalkan para wyrm itu. Silahkan menjelajah, anak-anak. Siapa tahu? Kalian bisa jadi menemukan hal baru.”

“Tidak bermaksud jadi perusak kesenangan, tapi mana mungkin kami menemukan hal baru di sini. Usia ceritanya sudah seribu tahun.”

“Yah, buat mengatur suasana eksplorasi. Pikirku ada kesenangannya tersendiri.”

Seusai mengatakannya, Anju dengan semangat menarik lengan Dustin sambil pergi duluan. Dustin sedikit bingung oleh ini, karena pertama kalinya Anju bertingkah seblak-blakan itu. Dikarenakan mereka kembali dari Kerajaan Bersatu ke Federasi, Dustin mengajaknya berkeliling kota Federasi. Anju tak akrab sama jalan-jalannya, alhasil Dustin menemaninya sebagai anggota unit yang sama.

Itu bukan, yah, bukan kencan.

Dan Shin punya kesan walaupun Anju tidak membencinya, dia pun juga tidak menyukainya. Jadi alasan Anju menariknya menjauh dari barisan laki-laki dan perempuan, menyeretnya seolah jaga jarak dari kelompok, tak mungkin karena Anju ingin berduaan dengannya.

Shin berbalik, menyaksikan barisannya berangsur-angsur berpisah. Pasangan berjalan pergi, membisikkan alasan tindakan mereka. Raiden yang mendampingi Frederica, menembak sinyal mata biasa ke Anju. Seketika itulah Dustin akhirnya tersadar.

Raiden, Theo, Shiden, Anju, dan yang lain sudah merencanakan ini terlebih dulu, semuanya mempertimbangkan Pencabut Nyawa dan Ratu mereka yang mandek. Ikut-ikutan, Dustin melihat sekeliling dan dengan santainya bilang:

“Yuuto, kalau kau ke sana, nanti ketemu air terjun.”

“Aku periksa …. Ayo, Michihi.”

“Oklah!”

Ketika Dustin dan Anju hendak pergi ke salah satu cabang jalan berduaan, Michihi mengacungkan jembol, kemudian Yuuto mengangguk saat mereka pergi. Anju balik badan lalu mengepalkan tinju penuh kemenangan, membuat Dustin mendesah lega. Rencananya berjalan lancar.

Keduanya berpisah dari barisan dilanjutkan masuk ke cabang terowongan, dan akhirnya, mereka berdua berhenti di tempat.

“Alasan yang bagus, Dustin.”

“Senang mendengarnya …. Tapi kau tahu, mereka berdua …. Sampai saat ini mereka canggung satu sama lain. Menurutmu mereka akan baik-baik saja?”

“Yah, kali ini, Lena-lah yang perilakunya aneh …. Tapi kupikir meributkan setiap hal kecil yang mereka lakukan itu kurang ajar.”

Dustin kira dia bisa merasakan sedikit rasa pahit dalam suaranya. Seakan-akan bilang: Kita juga tidak sebaik itu.

“Maksudku, Shin tidak sekilas pun melirik Kurena malang sekian lama ini, jadi rasanya dia layak merasakan ini. Tapi di waktu-waktu sekarang, dia bisa jaih kelewat berhati-hati …. Atau yah, terlalu malu. Terus Lena jadi ragu-ragu …” Anju mengerutkan kening, ibarat cemas atau frustasi.

“Kau beneran sayang mereka, ya? Pencabut Nyawa dan Ratumu.”

“Iya. Terutama Shin. Kami sedikit terlalu protektif padanya setiap waktu, kurasa.”

Meski gua itu objek wisata, dan keamanan pengunjung terjamin, guanya masih layak memegang nama labirin. Sama sekali tidak ada yang menerangi, membuat tempatnya cukup samar, dan jalannya berkelok-kelok serta penuh percabangan. Permukaan berbatu yang anehnya halus bagian dalamnya dicampur kalsedon, memberikan sifat terang aneh.

Walau Lena memeriksa peta yang dikasih di setiap belokan, tak lama dia merasa perlahan-lahan tersesat. Selagi mereka menyusuri terowongan, 86 di sekitar mereka menghilang. Kadang-kadang, satu orang 86; di lain waktu, pasangan 86 …. Dan tanpa sadar, hanya tersisa Shin dan dirinya.

“…?  Ke mana perginya semua orang?” Lena memiringkan kepala penuh tanda tanya.

“Mereka terus berpisah, katanya melihat sesuatu yang menarik atau balapan siapa yang bisa keluar duluan …” Shin menggeleng kepala, ibaratnya bilang itu tidak penting. “Jujur, rasanya lumayan dipaksakan.”

“Rupanya, ruang takhta dan kubah ada di depan sana. Kau bisa melihat fosil kerangka behemoth di sana. Kita bisa kembali begitu sampai sejauh itu.”

“Benar …. Kita tidak boleh berlama-lama di sini. Rasanya kita takkan bisa keluar saat malam tiba.”

Tidak ada lampu, dan anehnya terowongan ini serasa sesak dan menyeramkan sebab dinding batu jelasnya. Mendapati Lena berusaha merahasiakan kecemasannya, Shin meliriknya dan mengulurkan tangan.

“Gelap, jadi perhatikan langkahmu.”

“Ah …. Terima kasih.”

Sadar Shin memahami ketakutannya, Lena dengan syukur menerima uluran tangannya. Shin berjalan di depan, dan Lena mengikuti setengah langkah di belakangnya. Menyadarkan Lena kalau mereka berdua bau sabunnya sama, dibuat dari minyak yang diproduksi secara unik, lalu ditaruh di pemandian untuk digunakan semua tamu.

Bau sabun yang mereka gunakan ketika mandi atau mencuci di pagi hari janggalnya segar, dan hari itu Lena tidak memakai parfum berbau bunga violet yang biasa. Jadi bau keduanya sama.

Mereka punya bau bersebaran yang sama.

Kemudian arus pikiran terus berganti-ganti. Maksudnya bau bersebaran … pagi hari esoknya.

Lena merasa wajahnya memanas. Istilah yang sekadar dia dengar saja, tetapi bayangan batinnya terlalu mengganggunya. Shin, di sisi lain, tampaknya tidak tahu bau mereka sama, atau barangkali dia pikir tidak penting saja, sebab sewaktu Lena menatap mukanya, Shin tetap tenang biasa.

Lena mengerutkan kening. Betul, imajinasinya liar sendiri dan membayangkan segala macam gambaran, namun fakta dirinya seorang yang menggirangkan hal ini membuatnya merasa konyol.

Tapi dia girang sekali sampai-sampai tidak menyadari ketegangan Shin sendiri sebab ditutup suara jantungnya yang berdegup bak drum ataupun dinginnya telapak tangan Shin. Lena ingin dia merasa sama sepertinya, dan tidak mampu menahan perasaan itu, kata-kata keluar dari bibirnya.

“Er … maaf tentang … tingkah lakuku belakangan ini. Aku mengkhawatirkanmu.”

Mereka memasuki kubah ruang takhta yang dibahas Shin sebelumnya. Tanpa sadar mereka sudah sampai tujuan. Permukaan batu yang diperhalus didekorasi sesuatu mirip-mirip pelisir, yang memanjang ke kanopi kubah lalu saling terhubung layaknya jaring laba-laba. Pemandangan luar biasa, melihatnya saja Lena merasa seakan jiwanya akan ditarik keluar.

Selanjutnya yang terpasang dalam di dinding belakang adalah rongga mata kerangka besar yang teramat-amat tajam, besar sekali hingga sulit percaya rongga mata itu dimiliki makhluk hidup. Ia menatap ruang takhta dengan kesungguhan mencekat, seolah menguasai mereka, bagaikan dewa jahat di kuil kuno.

Lena menundukkan kepalanya ibarat menolak menatap mata merah darah yang menyorotnya langsung dari atas. Tapi tanpa sepengetahuannya dia meremas erat tangan yang menggenggamnya.

“Tapi … membuatku senang … tahu kau mengkhawatirkanku. Karena …”

Karena …

Mata merah Shin menatapnya. Kemudian Lena tersadar betapa bahagia melihat dirinya tercermin dari kedalaman merah tua itu.

“Aku …”

Selagi mereka berdua bicara …

“Waduh, jangan-jangan …?”

“Ini lebih mantap dari dugaanku.”

“Suasananya indah …”

Anju, Theo, dan Frederica melihat dari koridor lain, saling berbisik. Mereka sembunyi di belakang bebatuan pintu keluar yang melengkung, kepala mereka mengintip. Raiden, Kurena, Shiden, Marcel, Vika, dan Annette berada di tempat sama, terbagi jadi kelompok laki-laki di kiri dan kelompok perempuan di kanan tengah melihat kejadian terkini di bawah kubah.

“Sudah kita berikan waktu selama itu, terus Lena jadi yang pertama kali menyatakannya? Si tolol itu.”

“Yaelah, tidak apa-apa, Raiden. Kau tahu kata orang: Semua yang baik akan berakhir dengan baik.”

“Tahu tidak? Aku tidak suka ini,” sembur pahit Kurena.

“Kebetulan, Kurena. Pikiran sama terbesit di benakku belum lama ini.” Frederica mengangguk serius.

“Kukira kau ngotot menyangkal jatuh hatimu pada Nouzen, Kukumila. Bukannya sekarang waktunya kau mengatakan kebenarannya?” tanya Vika.

“Jatuh ha—?! Apa?! Tidak, aku—aku tidak merasa begitu!”

“Iya, itu maksud Shin, Kukumila.”

“… Paduka, saya, anu, berpikir perangai Anda sekarang tidaklah pantas bagi seorang pangeran dari Kerajaan Bersatu yang mulia.”

“Kurena, Marcel, Lerche, diamlah. Jika tidak, mereka mungkin mendengar kita.”

“Apa?! Saya hanya menegur Anda, Paduka! Saya tidak mengintip sebagaimana yang lain!” kata Lerche dalam pembelaan diri.

“Bacot!” “Diam, dasar anak tujuh tahun.”

“… ketidaksadaran saya sangatlah parah …”

Ternyata, percakapan mereka tempo hari membuat Lena mengakhiri keresahannya. Shin memanfaatkan kegelapan sebagai dalih untuk memegang tangannya, memutuskan tuk mengungkap perasaan yang disimpannya hingga Lena mengatasi kerisauannya. Shin bermaksud menyatakannya begitu meraih tangannya, tetapi rasa tegang tak biasa menutup mulutnya.

Bagaimanapun, mereka berdua punya bau sabun yang sama.

Barangkali karena kegelapan menghalangi penglihatannya, indra lain Shin menajam. Membuatnya teramat sadar dia berbau sabun sama seperti yang Lena pakai. Karena langkah kakinya tidak bersuara, dia dapat mendengar suara rambut perak sutra Lena yang menyapunya. Telapak tangan kurus yang ditaruh di atas tangannya terasa jauh lebih hangat ketimbang miliknya hari ini. Shin putuskan akan menyatakannya begitu sampai tujuan: ruang takhta berkubah. Shin tahu dirinya sedang mengulur waktu, tapi entah bagaimana membungkam ketakutan dalam pikirannya dan menguatkan tekad. Tapi tak sempat Shin lakukan, pasangannya memanggilnya, dia berpaling menghadapnya kemudian pikirannya tertahan saat mata gadis itu tertuju padanya. “Karena aku …”

Shin berdiri diam selagi menunggu kata-kata selanjutnya. Mata perak Lena menatapnya, lalu tersadar melihat bayangannya di mata Lena membuatnya bahagia.

Mendadak menyadari sesuatu, Annette bicara.

“Omong-omong, Anju, Dustin mana? Kukira dia bersamamu.”

Pertanyaan Annette membuat Anju mengigit bibirnya. Dustin bersamanya, sekurang-kurangnya sampai setengah jalan di terowongan, tapi …

“Dustin, yah, err … aku benar-benar pengen menjelajahi gua, dan dia mungkin, err, tersesat …”

Anju betulan menikmati penjelajahan guanya. Asli. Jadi itu … terjadi begitu saja …

Begitu perkataannya terurai dari bibir Lena, takkan ada yang menghentikan, dan dia rangkai tanpa rasa takut atau ditutup-tutupi. Satu-satunya orang di dalam kepalanya adalah seseorang di depan matanya sekarang.

“Shin, aku …”

Aku …

Namun kala itu, suara batu besar diinjak mengacak-acak suasana.

“Aaaah?!” Lena tersentak.

Bahkan Shin terganggu. Keduanya refleks terperanjat dan menegang, mata mereka beralih ke salah satu terowongan yang mengarah ke ruang takhta.

“… ada orang di sana …?” tanya Lena gemetaran.

Tentu saja, mau seburuk apa pun suasananya, tak mungkin mereka asumsikan yang datang adalah monster legendaris yang katanya tinggal di sini. Seseorang dalam bayang-bayang mencoba berkicau layaknya jangkrik atau mengeong bak kucing, hingga akhirnya muncul dari bayang-bayang. Sosok berambut perak yang tinggi dengan entah kenapa tangannya diangkat ke atas.

“Maaf. Ini aku.”

 Dustin.

“…”

 Lena bersama Shin memandang lama dirinya sambil terdiam. Awalnya Shin jarang menampakkan emosi, tetapi mata melotot dan membelalak tanpa emosi Lena membuat Dustin terkesiap.

Sederhananya, Lena dan Shin secara insting membeku, bagaikan sepasang rusa di lampu depan mobil, ditambah ekspresi bisu mereka menyeramkan.

“… j-jangan pedulikan aku …. Tolong lanjutkan …”

Saat Dustin terhuyung mudnur, beberapa pasang tangan terulur dari belakangnya, mencengkeram tengkuk dan pakaiannya, lalu menyeretnya ke koridor. Tidak terdengar jeritan, sosok tinggi Dustin ditelan kegelapan.

“…”

Tentu saja Lena tidak seberani itu sampai bertindak seolah tak terjadi apa-apa, dan Shin tidak bodoh-bodoh amat hingga meminta Lena melanjutkannya.

“Um …”

Hening parah menyelimuti mereka berdua, berat sekali sampai-sampai Lena hanya dapat mendengar debar jantung menggemuruh di telinganya.

Tangan banyak yang menangkap Dustin menariknya ke terowongan sempit yang gelap, di situ Raiden hampir mencekiknya.

“Dustin, dasar goblok!”

“Suasananya sudah sempurna, terus kau hancurkan!”

“Woi tolol, kesambet apaan?! Kenapa harus datang pas itu?!”

“Bisa-bisanya kau bilang begitu ke mereka, Jaeger?! Jangan pedulikan aku …. Tolong lanjutkan …?! Kau ini bebal, ya?!”

Semua orang marah sekali pada Dustin karena merengsek masuk ke tempat kejadian sebelum klimaks akbarnya. Bahkan Vika, yang seringnya lebih pandai bicara dari kebanyakan orang, kehilangan kesabarannya.

Dustin melihat sekeliling, mencari-cari sekutu, tetapi sewaktu dia melihat Anju memandangnya dengan senyum mematikan …

… yah … keknya aku akan mati.

… itulah kesimpulan satu-satunya yang dapat dia pikirkan. Anju sungguh-sungguh marah.

“… maaf.”

Meskipun disela dengan kurang ajar, jantung Lena masih berdebar kencang, jadi sebagian dirinya berpikir untuk menyatakannya saja. Menekan rasa malu yang pasti akan menyusulnya jika ceroboh sedikit saja, dia meneguhkan hatinya.

“Hmm!”

Suaranya lebih keras dari niatnya. Keras sekali sampai-sampai mengagetkannya, dan kaget itu membuat tekad barunya runtuh. Ucapan yang hendak dia tuturkan naik ke tenggorokannya tetapi tidak lanjut lagi. Lena cuma membuka-tutup mulutnya takut-takut beberapa saat hingga akhirnya mengtakan hal lain.

“Itu, um, Kapten Aliansi, Olivia. Aku melihat kalian berdua bicara, yah, sering …”

Sejumlah bagian tenang dalam benaknya berbisik mengingkari. Membuat dirinya kedengaran cemburu. Tidak tahu malu, memalukan …

Tidak.

Bukan karena tidak tahu malu atau seolah cemburu. Karena dia sungguhan cemburu.

Dia cemburu pada Olivia—dan tidak cuma padanya. Dia cemburu pada banyak sekali orang. Dia cemburu pada Anju, Kurena, dan gadis-gadis lain yang, tidak sepertinya, adalah rekan-rekan yang bisa dia andalkan di saat mereka berada di lini depan. Lena cemburu kepada Frederica yang Shin perlakukan seperti adik perempuan. Pada Annette, yang adalah teman masa kecilnya. Pada Grethe, yang menjadi perwira atasan terpercayanya.

Pada Raiden dan Theo yang merupakan teman dekatnya. Ganjilnya, dia bahkan cemburu sama Vika dan Marcel, yang bisa bicara bebas dengan Shin, dan Fido, yang bahkan bukan manusia.

Dia ingin Shin mengandalkannya. Menjadi orang pertama yang dia datangi seketika butuh orang tuk diajak bicara. Dia tak ingin dirinya melihat orang lain …. Wanita lain.

“Apa, anu …. Apa Olivia tipemu?”

Dan apa jadinya jika Shin bilang iya? Membayangkannya saja hatinya sudah terkoyak. Dia takut akan jawabannya. Lantas Lena dengan takut menatapnya. Tetapi responnya …

“Apa?”

… Shin balas menatapnya terheran-heran. Seolah Lena menanyakan, Mana manisan berikut yang paling kau sukai? Lalu membuka kotak peralatan alih-alih permen. Dari tingkat paling dasar Shin tidak paham maksud di balik pertanyaannya.

Lena mengharapkan jawaban ya atau tidak dan berharap mendengar jawaban kedua. Tetapi yang paling tak Lena harapkan adalah kebingungan penuh-total Shin.

“A-apa maksud—? Err …” Shin menggumam, jelas terlihat letih. “Maksudku, aku tahu banyak orang punya tipe itu. Aku kenal beberapa orang di Sektor 86 yang—Tapi aku tidak …. Um …. Kenapa kau berpikir begitu?”

“Hah …?”

Mendadak serasa keduanya seolah punya percakapan yang seratus persen berbeda—ibaratnya ada persimpangan jalan di titik kritis, kemudian mereka menempuh jalan berlainan. Meskipun mereka berdua sangat mengerti, mereka tak begitu sadar siapa yang keluar jalur—dan mana jalurnya.

Shin-lah yang pertama kali menyimpulkan.

“Lena, kurasa kau mungkin dapat kesan yang salah entah dari mana.”

“S-soal apa?”

“Kapten Olivier itu sudah bertunangan. Dan, um, dia itu seorang pria.”

“Kukira ada yang salah dari caramu memandangku, tapi tidak ksuangka kau salah paham akan hal itu, dari semua hal.”

Seketika mendengar kejadiannya, Olivier tidak marah, tapi malah tertawa. Lena masih tidak kuasa menatapnya langsung, sih.

86 lainnya yang kembali ke pintu masuk gua, di sana mereka mendapati Olivier membaca buku untuk menghabiskan waktu. Pembicaraan ini terjadi setelahnya. Dan kini kalau betul-betul dia pikirkan, dia sadar Olivier memang kelihatan agak maskulin … selama orang tidak langsung mengira dirinya seorang wanita.

Benar, wajahnya cukup androgini, tapi suaranya terlalu berat buat dianggap feminis. Struktur tulang dan ototnya pun kelihatan maskulin. Kini usai prasangkanya dihancurkan, Lena sadar dia tidak punya payudara juga.

“Maaf …. Hanya saja, rambutmu panjang dan mulus sekali, parfummu baunya harum, jadi aku asumsikan …”

“Iya.” Olivier nyengir selagi jari-jarinya menyusuri ikat rambut indahnya.

Selagi dia susuri, bau mawar—simbol bulan Juni—menggelitik lubang hidung Lena.

“Parfum ini kesukaan tunanganku, jadi kugunakan saja mengikutinya. Operator tidak diperkenankan memakai cincin, jadi aku pakai parfumnya saja. Dan rambut ini adalah sumpahku kepadanya …. Silahkan tertawakan keras kepalaku.”

Semua Operator Feldreß di seluruh negara dilarang mengenakan cincin jenis apa pun—pernikahan dan pertunangan termasuk—sebab bisa menghalangi pemilotan dan berujung membuat luka.

Terlepas dari itu, ide menyerasikan parfum tidak pernah Lena pikirkan. Tetapi baginya sangat menarik, dan sejenak, dipikirnya Olivier pasti sungguh mencintai tunangannya … lalu dia sadar.

Parfum tunangannya. Tensis lampau. Olivier menolak memotong rambutnya sebagai sumpah kepadanya. Senyumnya ketika memanggil dirinya sendiri keras kepala.”

“Kapten Olivier, umm …. Tunanganmu …”

“Tiga tahun lalu … Legion merenggutnya.”

Lena memalingkan pandangan. Malu menyesakkannya. Dia kelewat cemburu melihat Olivier berbicara dengan Shin, tapi …

“Apa kau kerap bicara dengan Shin karena …?”

Olivier tersenyum sedikit. Ibarat luka lama barusan dibuka. Senyum mengerikan yang obsesif.

“Apa dia masih di luar sana? Kalau iya, sebelah mana? Aku ingin tahu apakah Shin bisa menemukannya untukku. Tapi aku yakin menanyakannya selama pertemuan pertama kami jadinya tidak sopan, lantas aku suka bicara dengannya dan mencoba menjalin hubungan.”

Lena menyadari sesuatu. Bukan kekuatan Cenayangnya yang membuatnya kuat, melainkan obsesinya. Rambut yang dia tolak potong. Parfum kesayangannya. Nama Pribadi feminis: Anna Maria, yang nampaknya sebenarnya tidak terinspirasi dari kisah putri pejuang.

Shin buang muka. Alasan dia mudah sekali membuka hatinya kepada Olivier adalah karena dia dulunya pernah seobsesi itu tentang kakaknya.

“Jika dia digabungkan dengan Legion, maka akulah yang harus mengistrirahatkannya.”

Ж

<<Shinei Nouzen. Sudah dinyatakan bahwasanya pertanyaan lebih lanjut akan ditolak.>>

“Aku dengar katamu …. Tapi bukan berarti aku puas dengan itu.” Shin berdiri di hadapan pertanyaan terakhir yang belum terjawab. Sensor optik emas Zelene menatapnya melalui kaca jendela ruang tahanan. Dan di situlah, Shin pikir, keinginan terakhirnya berhenti. Sensor optik itu buatan dan semestinya tidak memendam emosi apa-apa … tapi terlihat sedikit di sana.

Akhirnya Shin sadar bahwa sejak awal, Zelene menunggu sesuatu—menunggu seseorang. Semenjak dia meninggalkan pesan, Carilah aku, tanpa tahu kapan kata-katanya barangkali mencapai seseorang atau siapa yang mungkin ditemukannya.

“Sebelumnya, sudah kutanyakan alasanmu menciptakan Legion. Dan aku masih ingin mendengar jawabannya.”

Namun meski dia tanyakan, Shin yakin dirinya sendiri sudah tahu jawabannya. Dan bila benar, diamnya Zelene, tindakannya yang seakan menyelidiki dan mengujinya, kewaspadaan anehnya … akan masuk akal.

Andaikata Fido—Kecerdasan Buatan yang ayahnya kembangkan—diselesaikan, Republik barangkali betulan meraih medan perang tanpa korban jiwa. Namun Shin tidak menyukai gagasan itu. Walaupun mereka sekarang menemukan Fido dan menggunakannya melawan Legion menggantikan tentara Federasi, Republik, dan Kerajaan Bersatu, Shin tidak senang.

Tetapi seseorang yang tak mengenal Fido, yang tidak punya keterikatan, barangkali punya pilihan berbeda. Jikalau ayahnya yang mengembangkan KB demi berteman dengan manusia, dipaksa antara memproduksi masal Fido lalu mengirimkannya ke medan perang atau mengerahkan orang-orang untuk berjuang, mungkin dia pun akan memilih yang kedua.

Zelene pun sama. Atau paling tidak, berlaku ketika dia masih hidup dan mengembangkan Legion.

Aku … ingin kau kembali kepadaku.

Bahkan kini, Shin dapat mendengar kata-kata terakhirnya. Orang yang dia panggil di saat-saat terakhirnya. Kakaknya yang gugur sebab tertembak peluru nyasar kawan. Saudara yang ingin dia temui kembali padanya, bahkan saat menghembuskan napas terakhirnya.

“Kau menciptakan Legion untuk berperang menggantikan kita … agar perang takkan lagi memakan nyawa manusia.”

Sensor optik bulan emas fokus sepenuhnya ke Shin. Legion tidak takut kehancuran. Tidak takut mati. Mereka tak tergoyahkan, mesin patuh, dibesarkan untuk perang—diciptakan untuk bertarung mewakili tentara yang mati ribuan.

Zelene tidak menciptakan mereka untuk membunuh orang. Tak pernah diniatkan menjadi pembawa kematian.

“Dan kau tidak ingin siapa pun mati, bahkan sekarang. Itulah alasanmu tidak sembarangan mengeluarkan informasi yang kau miliki. Kau tidak ingin negara lain mencoba mengembangkan teknologi yang sebanding Legion dan menggunakannya untuk menyerang negara lain.”

Tatkala Vika masih muda, keinginannya adalah menghidupkan kembali ibunya. Ayah Shin, walau nyaris tidak ingat tampangnya, mencoba mengembangkan KB yang bisa hidup bersama umat manusia. Dan Zelene, yang berteman bersama keduanya, kemungkinan besarnya merasa sama. Keinginan satu-satunya adalah …

“Dari awal sekali, kau mencoba melindungi orang, bukan?”

Zelene tidak mau melihat siapa pun mati …. Sebagaimana Shin. Zelene terdiam lama. Selanjutnya …

<<Pertanyaan.>>

Suaranya serak. Ibaratnya berusaha mengisinya dengan hiaan tapi gagal total.

<<Anggap saja kau benar. Terus apa? Memaafkan kami? Akankah kau memaafkan Legion, 86? Sesudah kami membunuh terlampau banyak rekan-rekan rapuhmu? Kami, yang merenggut tanah airmu, keluargamu, dan teman-temanmu? Kamilah yang membuat orang-orang tersayang kalian berbalik melawan kalian.>>

Sepintas, Shin terdiam seribu bahasa. Emosi meluap dalam dirinya. Tujuh tahun sejak dirinya tahu kakaknya sudah dibuat menjadi hantu mekanis—dan dua tahun semenjak Shin mengalahkannya. Namun sekarang, dia tidak tahu mesti menyebut apa emosi ini.

“… ya. Itu … mungkin benar.”

Shin kurang mengatakannya dengan benar. Perkataannya sekadar meninggalkan bibirnya saja. Shin tak ingin melawan kakaknya. Tapi kakaknya Legion. Dia diubah menjadi unit Legion, dan apabila tidak dia hancurkan monster mekanis yang menjadi penjaranya, jiwa sang kakak mungkin akan menangis dan melolong sampai akhir zaman.

Karenanya Shin tidak mampu meninggalkannya. Dia harus melawannya.

Dan penyebab utamanya adalah, tidak salah lagi, Ameise tertawan di depannya. Bukan pertanyaan kemungkinan. Wanita inilah yang membuat kakaknya melawannya.

<<Mengirim ulang pertanyaan. Kenapa tidak menyimpan permusuhan kepada kami? Mengapa tidak memendam kebencian? Mengapa tidak membenci kami? Mengapa kau … bersikeras memaafkanku?>>

Shin menyipitkan mata. Memaafkannya?

“Aku tidak memaafkanmu … dari awal aku tidak pernah membencimu, dan tidak ingin. Membenci tidak ada gunanya.”

Bila orang bertanya apakah dia pria gila yang sudah hancur, mungkin akan dia iyakan. Shin kehilangan keluarga dan menolak tanah air, tetapi dia tidak benci mereka yang merenggutnya. Tiada orang normal bisa merasakan ini.

Tapi terlepas dari itu, Shin tidak membencinya …. Shin tidak pengen membencinya dan tidak sanggup. Karena dia tahu. Membenci Alba, membenci dunia, membenci Legion …. Tak satu pun dapat mengembalikan yang telah hilang darinya. Membenci seseorang takkan membuat Alba, dunia, ataupun Legion mendadak peduli terhadap rasa sakit dan penderitaan yang dia derita.

Lantas Shin tak merasa benci atau dendam. Karena dia tahu. Dia tahu perasaan itu tidak ada faedahnya. Bergelimang pada perasaan itu takkan menghasilkan hal nyata.

Lagi pula …

“Kebencian …. Dendam …. Misal aku memilih memegang perasaan itu, aku tak lebih baik dari mereka yang menjadikanku seperti ini.”

Itulah—harga diri—86. Satu-satunya hal yang terpasang di nama mereka karena menerima emosi negatif saja bahkan tidak bisa. Di ujung penglihatannya, Shin mendapati Lena melihatnya, kedua tangannya terkatup memanjatkan doa di depan dadanya.

Dan tatkala itulah Shin sadar, nian sedikit, makna di balik keinginannya. Dunia dan orang-orangnya belum tentu baik. Dunia bisa jadi dingin dan kejam. Tapi kala itu, Shin pikir mimpi buruk yang dialaminya barangkali bukan cerminan akurat sifat sejati manusia.

Dia tak ingin percaya itu benar.

Dia tahu betul betapa bisa kasarnya manusia, lebih dari yang dia harap ingin ketahui. Dan contoh kemuliaan manusia yang sungguh terpuji sangatlah sedikit dan langka. Namun sekiranya dia harus memilih kasar atau mulia sebagai sifat sejati umat manusia, dia lebih suka memilih mulia.

Dan karena keinginan itulah Lena mengemukakan bahwa dunia haruslah menjadi tempat indah. Dia tahu sejelek apa dunia ini tetapi menolak mengakui kejelekan itu sebagai tatanan alami. Dia tidak ingin menyerah pada dunia—bukan semata-mata ide sederhana yang dikejarnya melainkan pernyataan harga dirinya.

Dunia yang mereka kenal barangkali berbeda penuh. Mungkin kepercayaan mereka terhadap orang atau dunia belum sama. Tetapi hasrat untuk tak menyerah—tidak pernah berpaus diri—mungkin sama dan serupa.

Lantas inilah hal lain yang takkan mereka lepaskan.

“Dan kau pun tidak ingin dimaafkan …. Kau hanya tidak bisa menerima dunia yang seperti ini sekarang. Tidak kuasa menerimanya, dan ingin kau ubah.”

Zelene tidak menerima dunia di mana orang-orang harus mengorbankan nyawa mereka di medan perang. Ataupun menerima dunia di mana Legion yang diciptakannya merupakan kontributor utama pertumpahan darah tiada banding.

<<Kau tidak mau orang mati. Tidak menginginkan itu semasa hidupmu, sekarang juga tidak. Karena itu keinginan paling tulusmu, kau ingin menghentikan peperangan—menghentikan Legion. Benarkah aku?”

Hening panjang nan berat menyelimuti ruangan. Tapi akhirnya, Zelene, Ratu Bengis, menjawab.

<<Ya.>>

Suaranya terasa sebagaimana desah ratapan panjang. Pertama kalinya, bagi Shin suaranya benar-benar manusiawi.

<<Ya, kau benar. Sekarang, semua ini terasa tidak ada bedanya dengan kekeliruan buruk, tapi …. Aku hanya ingin menyelamatkan orang.>>

Kata-kata penyesalannya bergema kuat dalam ruang tertutup yang dipartisi. Ruang tahanan dan ruang pengawasan dibatasi garis batas pelat akrilik yang diperkuat. Keduanya berdiri di kedua sisi pengakuan ini, bagaikan pendosa dan pendeta, ibarat memohon pengampunan.

Selanjutnya dia utarakan kepada mereka. Kata-kata yang telah ditunggu-tunggu tentara Federasi, Kerajaan Bersatu, dan Aliansi.

<<Baiklah … akan kujawab pertanyaanmu. Akan kuberitahu yang kuketahui, sekaligus informasi yang ingin kusampaikan …. Namun satu syarat. Shinei Nouzen. Dan Viktor Idinarohk. Aku hanya berbicara kepada kalian berdua. Yang lainnya harus pergi. Semua rekaman—semua metode pengawasan dan komunikasi harus dilenyapkan. Matikan semuanya.>>

Ж

Mengingat pentingnya informasi yang diberikan Zelene, permintaannya terlampau sederhana. Tetapi begitu mendengar yang dikatakannya, Vika cuma bisa mendesau. Desau panjang tidak cocok dengan ular berdarah dingin yang jarang menunjukkan emosi, itu pun kalau punya. Seolah-olah yang dirasakannya terlalu berat tuk ditanggung.

“Tidak bisa kupercaya …”

Vika sementara memutus mikrofon ke ruang tahanan dan menggeleng kepalanya. Mematuhi tuntutannya, semua orang kecuali Shin dan Vika meninggalkan ruang pengawasan.

“Benar-benar ada cara mematikan semua Legion. Tapi …”

Ya. Ratu Bengis, Zelene, mengungkapkan mereka kode penghentian semua unit Legion yang dikerahkan di seluruh benua—beserta prosedur pemicuan kode ini. Namun … Vika menggeleng kepala frustasi.

“Memicunya takkan menghasilkan apa-apa …. Buruknya, andaikan kita ungkap ini ke publik, masyarakat bisa berantakan dari dalam.”

Hanya ada satu posisi kode penghentian bisa dikirim …. Benteng Kekaisaran yang letaknya jauh di dalam wilayah Legion.

Masalah ini tidak kritis. Biarpun dikuasai Legion, mereka masih mampu merebutnya kembali. Divisi Penyerang secara eksplisit didirikan demi tujuan ini, dan pasti akan mengakhiri Perang Legion. Mereka dapat menarik pasukan dari front lain untuk serangan terkonsentrasi.

Masalahnya terletak pada orang yang akan mengirimkan kode penghentian. Satu-satunya orang yang punya hak komando atas seluruh Legion. Dan untuk mendaftarkan seseorang yang punya hak tersebut, mereka wajib dikenal sebagai keturunan Kekaisaran Giadian.

Spesifiknya, perlu kecocokan genetik. Hanya berdarah bangsawan yang diakui punya wewenang komando Legion … dan enam tahun lalu, militer Federasi menyapu bersih garis keturunan itu, tidak menyisakan satu pun anggota keluarga. Darah keluarga penguasa Kekaisaran yang mati sepuluh tahun lalu. Darah biru kaisar tidak lagi mengalir di pembuluh darah manusia hidup.

“Bila mana seseorang didaftarkan punya wewenang mengendalikan Legion, mereka mungkin saja mampu mengontrol Legion tuk mematuhi mereka …. Metode penghentian ini lucu. Federasi membunuh Kekaisaran artinya kehilangan cara untuk menghentikan Legion, selamanya.”

Bahkan Vika merasa pergantian peristiewa ini mengerikannya bukan kepalang. Ekspresinya jelas pahit, lalu dia mendesah selagi menghadap Shin termenung.

“Kita nyatakan informasi yang Zelene berikan ke ketiga biro intelijen negara, tapi kita kecualikan yang ini. Skema operasi baru dan fasilitas produksi seharusnya cukup untuk mengatasi mereka …. Setuju, Nouzen?”

“Setuju.” Shin mengangguk singkat, mengukuhkan ekspresi dan nadanya.

Shin tahu emosinya jarang terlihat di wajahnya. Perasaannya agak mati semenjak hari itu sepuluh tahun lalu, seketika kakaknya hampir membunuhnya. Namun saat ini, Shin bersyukur atasnya. Sebab dia bahkan tidak sanggup membiarkan Vika tahu kebenarannya.

Legion bisa dihentikan.

Bahkan bisa dilakukan sekarang jikalau mereka menguasai titik transmisi.

Shin harap dia bisa membersihkan semua orang di sekitar mereka, sebab tidak tahu apa yang mereka perbuat nantinya. Karena Vika tidak tahu. Lena pun tidak, Annette, ataupun 86 lain selain Raiden, Theo, Anju, dan Kurena.

Tetapi sedikitnya beberapa perwira front barat tahu. Mereka yang menangkapnya dan mengampuni nyawanya bersama Ernst. Mereka tahu dia selamat. Bagaimana reaksi mereka sewaktu informasi ini keluar? Shin tidak mampu memprediksinya …. Seperti halnya nasib dirinya begitu semuanya terjadi.

Frederica.

Maharani terakhir Kekaisaran Giadian, Augusta Frederica Adel-Adler.

Catatan Kaki:

  1. SEBUAH garter belt atau dikenal juga sebagai sabuk suspender adalah pakaian wanita yang terdiri dari sepotong kain elastis yang dipakai di sekitar pinggang, dimana titik garter dan talinya berfungsi untuk menahan stoking.
  2. Behemot (bahasa Inggris: Behemoth; bahasa Ibrani: בהמות, behemoth (modern: behemot)) adalah sejenis hewan liar yang disebut namanya dan digambarkan dalam Kitab Ayub pasal 40:10-19. Berbagai identitas telah diusulkan mulai dari hewan mitologi sampai gajah, kuda nil, badak atau kerbau. Sejumlah tokoh kreationis percaya gambaran hewan itu menyerupai sejenis dinosaurus, karena pemberian ekor yang seperti pohon aras. Secara metafora nama ini menjadi istilah kiasan bagi sesuatu yang sangat besar dan kuat.
Share this post on:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments