86 JILID 2 BAB 3

Posted on

Biru Liar nan Jauh

Penerjemah: DarkSouls

Dua ratus kilometer dari distrik pertama front timur adalah ibu kota Federasi, Sankt Jeder, tercat putih salju musim dingin yang berjatuhan. Shin berhenti di tepi jalan utama menuju Alun-Alun Balai Kota dan menatap menara jam yang terlihat kabur oleh bubuk salju. Salju menutupi batu bata kota di pagi hari, pohon cemara besar yang diletakkan di tengah-tengah alun-alun pasar adalah sebagai hiasan Ulang Tahun Suci.

Shin belum pernah mengalami salju seperti ini sebelumnya. Apakah salju sama yang jatuh ke mayat-mayat rekan berguguran mereka di sudut medan perang acak lalu akhirnya mencair ketika datangnya musim semi? Rasanya aneh, melihatnya tanpa suara perang di telinga dan di sudut jalan nan damai, dikelilingi orang-orang datang dan pergi.

Napasnya mengepulkan uap putih, sebagaimana kala hari dingin di reruntuhan alun-alun gereja. Mantel yang dia terima sebagai hadiah hangat. Tidak seperti yang dia kenakan hari itu.

Menggeleng kepala sekali, Shin terus melangkah melalui jalan bersalju.

Saat memasuki Perpustakaan Ibu kota kekaisaran tua di Alun-Alun Balai Kota, Shin menyapu salju di bahu dan melepas mantel. Tempat itu selalu dihangatkan. Sudah satu bulan dia mulai mengunjungi tempat itu, selagi berjalan masuk, dia bertukar salam dengan pustakawan yang Shin kenal, kemudian menelusuri rak buku.

Perpustakaan Ibu kota Kekaisaran dibangun berbentuk atrium lima lantai yang dikelilingi ruangan tambahan, serta kubah indah penutup perpustakaan punya tambahan interior mutiara1, jelas dibuat dengan susah payah, interiornya berbentuk rasi bintang musim panas.

Shin yang kini menjalani hidup tanpa tahu tanggal, tidak sadar kala itu adalah siang hari kerja, karenanya perpustakaan cukup kosong, suasananya serasa tenang dan tak biasa.

“… ah.”

Shin tiba-tiba berhenti di depan rak buku yang jarang diperikasnya. Rak buku anak-anak. Shin berhenti sebab salah satu buku di rak bawah mempunyai ilustrasi yang dia kenal. Dia mengambil buku bergambar lama, yang tak bisa dia ingat sepenuhnya. Matanya tertarik pada sampulnya.

Seorang kesatria tanpa kepala, menghunuskan bilah panjang.

Ini lambang—

Membolak-balik bukunya, dia juga tersadar tidak mengingat cerita itu. Rasanya seakan-akan entah bagaimana tahu, tetapi sinopsisnya sangatlah umum sampai-sampai bisa dia bayangkan. Seorang pahlawan keadilan akan mengalahkan orang jahat dan membela yang tak bersalah. Tetapi selagi membaca buku komposisi sederhana tersebut, dia mampu mendengar perkataan kakaknya.

Shin hampir bisa melihat dua tangan besar mengganti halaman. Suaranya pelan-pelan makin lirih dan parau. Setiap malam, Shin akan merepotkannya, menyuruhnya membacakannya lagi untuknya.

Kakaknya yang sekarang telah tiada selamanya.

—maafkan aku.

Kata-kata terakhir Rei yang sebenarnya hidup kembali, Shin dapat sekali lagi melihat punggungnya yang menjauh, sosoknya sama seperti ketika dia masih hidup.

Mendengar suara langkah kaki lirih di dekatnya, Shin tersentak, melihat seseorang berdiri di sebelahnya. Anak gadis umur lima atau enam tahun. Dia mengenakan topi wol dan penutup telinga, mata keperakannya terbuka lebar. Menyadari matanya terkunci di buku bergambar, Shin menutupnya kemudian diberikan ke si gadis. Barangkali karena malu, gadis itu mengambilnya setelah ragu-ragu sebentar, lalu berbalik dan lari ke suatu tempat.

Tetapi di saat berikutnya, dia kembali ditemani seorang anak lelaki seumuran Shin. Rambutnya keperakan dan sepasang mata berwarna sama tersembunyi di balik kacamatanya. Melihat itu, ekspresi Shin mengeras sejenak.

Seorang Alba. Seorang Celena.

Dia tahu ini bukan Sektor 85, dan orang di depannya bukanlah warga negara Republik. Dia tahu ini, namun.

“Izinkan aku meminta maaf. Tingkah adikku tidak sopan.”

“… oh. Tak apa—aku tidak membacanya.”

Paras anak itu memparah saat mendengar kata-kata Shin.

“Tidak tidak apa-apa. Sewaktu seseorang melakukan atau memberikan sesuatu untukmu, kau seharusnya mengucapkan terima kasih. Itu sesuatu yang anak-anak harus pelajari dari usia muda.”

Pemuda itu mendesak punggung adiknya. Dia menggumam sesuatu yang tak kedengaran lalu lari lagi.

“Hei, tunggu …! Aduh.”

Pemuda itu selanjutnya terdiam setelah dipelototi dari salah seorang pustakawan. Melihat seorang wanita rambut hitam dan mata hijau menegur seorang bocah Alba dianggap aneh Shin. Bagaimanapun, dia benar-benar di dunia yang sepenuhnya berbeda.

“Makasih. Maaf. Kau tidak seharusnya mendisiplinkan dia.”

Pemuda itu berbicara seintegritas cara bicaranya ke si adik. Shin entah kenapa merasa agak terhibur melihatnya. Kejujuran sederhana, ditambah rambut dan mata perak mengingatkannya pada Handler terakhirnya, walaupun dia belum pernah melihat wajahnya.

“Tak apa. Jadi kakak sepertinya sulit.”

“Entah dia diwarisi siapa, tapi dia sangat pemalu sama orang asing.”

Pemuda itu lanjut memiringkan kepala dan melemaskan pundak.

“Hmm, mungkin pertanyaan ini tak sopan, tapi aku selalu melihatmu di jam-jam ini. Kau tidak sekolah?”

Di atas kertas, pendidikan sampai kelas enam di Federasi hukumnya wajib. Pendidikan berikutnya opsional dan tidak gratis lagi. Akan tetapi, ini hanya di atas kertas, dikarenakan sistem ini dibangun sembilan tahun lalu, dengan pendirian Federasi. Sistemnya ditegakkan di ibu kota dan kota-kota terdekat, namun wilayah lain masih belum memiliki cukup banyak guru atau fasilitas sekolah.

Tentu saja, Shin yang tidak dilahirkan di Federasi melainkan seorang 86 yang dibesarkan dalam kamp-kamp konsentrasi dan baru dalam perlindungan Federasi dua bulan lampau, juga tak bersekolah. Biarpun Ernst menyuruh mereka mempertimbangkannya ketika musim semi tiba dan mereka punya waktu tuk menyesuaikan diri.

“Kau bagaimana?”

“Eh?”

“Kalau kau sering melihatku di jam-jam sekolah, artinya kau sering ke perpustakaan seperti aku.”

Anak muda itu tersenyum malu-pahit.

Setelah revolusi, status para mantan bangsawan secara efektif dibagi menjadi dua. Para bangsawan lebih tinggi yang terlibat dalam perusahaan negara paling vital, seperti pertanian skala besar dan industri berat, mempertahankan posisi mereka sebagai manajer bahkan setelah melepaskan status sosial dan hak istimewa pajak. Sebab Federasi tidak boleh melumpuhkan industri-industri yang secara langsung terkoneksi dengan potensi perang negara. Federasi masih berperang melawan Legion dan tidak bisa kehilangan bahkan satu ons pun kekuatan perang.

Dengan demikian, banyak anak-anak bangsawan yang tidak bisa mewarisi gelar kepala keluarga mereka dan menjadi perwira pasukan Kekaisaran, mempertahankan posisi di militer Federasi. Namun di sisi lain, bangsawan lain diturunkan menjadi warga sipil biasa. Mereka tak pernah mengenal tenaga kerja manual dan bahkan dari awal kesulitan mencari pekerjaan, sebab dibenci kelas menengah. Bangsawan kelas rendah yang bahkan tidak mempunyai cukup aset untuk menafkahi mereka sendiri, menjadi lebih miskin dari pekerja biasa sekarang.

“Kukira kita dalam situasi sama …. Maaf, tidak sopannya aku berasumsi begitu.”

Shin menggeleng kepala, sedangkan pemuda itu mengerutkan alis.

“Tidak masalah. Aku bukan penduduk asli.”

Tentu saja Shin bukan penduduk asli Federasi, tapi dia belajar dari sejumlah percakapan bahwa bagi penduduk Sankt Jeder, ada sedikit perbedaan pada makna kata asli atau bukan asli wilayah Ibu kota Kekaisaran tua. Menjelaskan dirinya seorang 86 itu menyusahkan, seandainya dia bilang bukan penduduk asli, orang-orang akan menganggap dia bukan dari wilayah ini tetapi dari wilayah-wilayah lain—alhasil orang-orang takkan menanyakan lebih jauh.

Masing-masing wilayah yang sebelumnya dikuasai kekaisaran mempunyai adat istiadat, kebiasaan, dan sistem normanya sendiri. Terkadang, bahkan bahasa mereka berbeda dari wilayah Ibu kota Kekaisaran lama. Tatkala Shin secara tersirat menyatakan tak usah terlalu dipikirkan, mata pemuda itu berbinar-binar penasaran.

“Waw, kau berdarah blasteran Onyx dan Pyrope, kau juga bukan dari Ibu kota? Itu tak umum …. Oh, lagi-lagi aku begitu. Itu tidak sopan. Maaf.”

Anak muda itu tersenyum canggung sambil menggaruk kepala belakangnya. Mata perak di balik kacamatanya tertawa.

“Aku Eugene Rantz. Senang berkenalan denganmu.”

“—kesimpulannya demikian. Satu bulan semenjak kita menerima mereka, mereka tampaknya cukup baik terbiasa dengan kehidupan ini.”

Ernst mengatakan kepada anak-anak yang dia lindungi. Luangkan waktu kalian untuk melihat apa yang ditawarkan negeri ini dan pertimbangkan masa depan kalian setelahnya, lantas memperkenankan mereka berkiling kota bebas, tetapi tidak boleh ke jalan-jalan tanpa pengawasan Federasi.

Pertama-tama, Ernst memberikan pemandu. Ketika mereka sedikit terbiasa dengan kotanya, Ernst menyuruh para petugas seumuran mereka untuk mengawasi dari jauh, dari ringkasan laporan sekretarisnya. Mendengar laporannya, Ernst berbicara dari tumpukan dokumen elektronik, tidak mengangkat mata dari terminal di atas mejanya.

“Begitu. Kemarin dia menghabiskan hari dengan membaca setiap buku di rak sejarah militer. Lusa tempo hari, dia meneliti buku-buku filsafat. Tiga hari lalunya, dia mendatangi pemakaman militer, hari ini dia membaca buku bergambar anak-anak. Entahlah kriteria apa yang dia pilih, tapi Shin yang membuat teman adalah kejadian baik. Kita mesti panggang nasi merah malam ini!”

“Menyajikan nasi merah untuk mereka yang tidak tahu maksudnya itu ide buruk, apalagi memanggangnya. Demi Tuhan, mohon jangan.”

“Memangnya Anda akan pulang hari ini? Raiden muda tadi datang membawa pakaian ganti untuk Anda, disertai keluhan panas Teresa. Rencana Anda apa untuk anak-anak ini?”

Sekretasis blasteran Orienta dan Eisen menyindir dengan suara tak tertarik, tetapi Ernst tidak menghiraukan dan lanjut bicara.

“Pakaian ganti tidak berguna. Ada mesin cuci di sini, jadi aku memakai pakaian sama setiap harinya. Teresa barangkali cuma ingin mengirim keluhannya. Hari ini aku pasti akan kembali, jadi kau bisa pulang juga. Lagipula ini Ulang Tahun Suci!”

“Wah, terima kasih.”

“Aku harus membeli beberapa hadiah di jalan pulang pula. Pikirmu Republik juga biasa memberikan hadiah di malam Ulang Tahun Suci?”

“Saya rasa iya …. Tapi siapa tahu kalau anak-anak itu betulan mengingatnya atau tidak?”

“Mereka mesti mempelajarinya lagi …. Nah. Harus aku berikan apa …?”

Senyum Ernst tulus gembira, matanya masih belum meninggalkan terminal. Situasinya sangat sibuk, jadi dia mungkin tidak bisa mempersiapkan hal spesial-spesial amat untuk mereka, namun tetap saja.

Sudah satu bulan sejak mereka datang ke Sankt Jeder, masing-masingnya mulai menemukan hidup damai. Raiden mulai pekerjaan paruh waktu sebagai tukang pos dengan sepeda motor, Anju mulai mengambil kelas memasak, Theo berkeliling kota membuat sketsa, Kurena suka melihat-lihat barang dagangan, Shin secara acak pergi ke perpustakaan dan museum. Mereka semua pun mulai mencari teman.

Ernst sejujurnya lega. Tentunya mereka semua sekarang bakal meninggalkan pemikiran masuk militer. Akhirnya mereka bisa melupakan persekusi tanah air …. Mereka mampu mengistrirahatkan mental prajurit. Tidak lagi menjadi 86.

“… aku harus membuat persiapan untuk masa depan yang akan mereka pilih di musim semi mendatang.”

Dari luar jendela, terlihat pemandangan musim dingin ibu kota utara selagi menunggu cahaya musim semi bersinar di atasnya.

Salju yang mulai turun malam sebelumnya berhenti di siang hari, tak kelihatan awan. Langit biru luas tergantung di atas batu bata putih-abu-abu alun-alun. Menghentikan langkah santai nan tenangnya, Theo melihat hamparan biru tua di atasnya. Pohon sakura di tengah alun-alun berdiri terekspos dan bercabang, tanpa satu pun kelopak, langit musim dingin jernih dapat terlihat dari sela-sela dahan hitamnya. Pemandangan abadi teralih menjadi bayangan retak-retak, lalu pecah di ambang kehancuran.

Theo menurunkan pandangan, matanya tertuju ke layar holo jalan yang memproyeksikan pertemuan parlemen. Di atas panggung berdiri Ernsst, mengenakan setelan bisnis dan kacamata umum yang diproduksi secara massal. Melihatnya berpidato selalu memberi Theo perasaan aneh dan tak harmonis. Dialah pemimpin revolusi, dan seorang pahlawan, sepuluh tahun sudah melayani Federasi sebagai presiden sementara. Tetapi bagi Theo, dia itu pria aneh yang jarang pulang dan semaunya mengganggu teman-temannya tentang saluran apa yang harus ditonton di televisi pada jam-jam malam, meributkan perselisihan konyol.

Biarkan saja gadis itu menonton kartun tiga puluh menitnya, itulah yang selalu dikatakan Shin dan Raiden pas Ernst mengganti saluran pertunjukan gadis penyihir Frederica atau semacam episode seri skuad pahlawan super ke program berita atau siaran sepak bola.

Theo cuma mendengarkan separuh pidatonya, namun mereka mendiskusikan sesuatu mengenai situasi perang Federasi. Analisis setiap front dan kebijakan ke depannya. Ernst boleh jadi tidak menganalisisnya sendiri, namun mereka mengumpulkan informasi analisisnya dari setiap front. Jauh sekali dari negara Republik, di mana Shin bisa mengirim laporan lima tahun tanpa seorang pun menyadari …. Kecuali Handler terakhir.

Bahkan berita yang ditonton Shin—atau setidaknya setengah yang dia dengar selagi fokusnya tetap tertuju pada buku seperti biasa—boleh jadi menyiarkan laporan yang kurang lebih akurat dan jujur perihal kejadian di medan perang. Jumlah korban setiap harinya disiarkan pemerintah setiap malam, bahkan jumlah korban terendah pun disebutkan. Kemudian warga akan meratapi hilangnya tentara yang tak pernah mereka kenal. Nampaknya itu jelas dilakukan di Federasi. Mereka membicarakan negeri-negeri tetangga sepuluh tahun lalu, negeri yang Theo belum pernah dengar.

Namun bahkan selagi mengira para babi putih Republik benar-benar gila, ada bagian dalam dirinya yang tidak bisa duduk diam. Sesuatu mengatakan dirinya tak boleh diam seperti ini, bahwasanya dia tidak boleh berlama-lama di sini. Ketidaksabaran membara menggerogoti hatinya.

Theo tak dapat berhenti memikirkannya.

Mau bagaimanapun, kami ini …

Membawa buku sketsa di ampitan ketiaknya, Theo tidak kaget melihat tak banyak seniman-seniman lain ketika cuaca sedang sedingin ini. Dia berjalan di sekitar alun-alun bersih tanpa satu sampah pun, apalagi puing-puing dan bongkahan yang terbiasa dia lihat.

Sankt Jeder pun menyisakan sisa-sisa pertempurannya selama revolusi sepuluh tahun lalu. Beberapa batu bata lebih baru dari batu bata lain; beberapa galang jembatan di atas sungai yang mengalir di perkotaan dibiarkan hangus hitam; katedral historis luar biasa penting kehilangan lonceng menaranya—kemungkinan meledak karena dibom—dan dibiarkan begitu saja.

Tanaman merambat menjalar di dinding batu katedral, mengingatkan Theo akan reruntuhan yang pernah dia temukan di medan perang, meski berada di kota berpenduduk padat. Theo memutuskan membuat sketsa tempat itu, kemudian pastor di dekatnya tahu-tahu memberikan permen. Lalu dia mendengar sepasang langkah kaki tenang menghampiri, berbalik dan melihat Anju.

“Ketemu. Kau bilang mau berkeliling Alun-Alun Republik hari ini, jadi aku tahu …”

“Ya, tidak kusangka ada sesuatu semacam ini di depan kedutaan besar Republik, sih …. Ada apa?”

Anju mengenakan blus elegan, mantel berwarna terang, rok berjumbai, dan sepatu bot tinggi. Theo tak terbiasa melihat Anju memakai pakaian apa pun selain seragam lapangan. Semua orang juga demikian, bahkan dirinya. Theo selalu merasa janggal pakaian ini tidak cocok pada mereka, seakan dibuat tidak untuk mereka.

“Aku ingin kau sedikit membantuku. Maksudnya bantu aku bawa tas belanjaan; tanganku tidak cukup membawanya.”

“Ah, diterima …. Apa kita berdua sudah cukup? Mau telepon orang lain?”

Kurena yang tak terlalu punya kekuatan fisik, Frederica yang masih anak-anak, bukan kandidat utama untuk membawa barang-barnag.

“Raiden … sedang dalam pekerjaan paruh waktunya. Shin mestinya nganggur, sih.”

Dengan demikian, mereka punya banyak waktu luang. Bahkan sampai kebosanan. Seraya bicara, Theo meraih sisi kepalanya, hendak mengaktifkan manset telinga Para-RAID-nya.

“Aktif.”

Namun jarinya hanya melayang di udara, alih-alih menekan tekstur manset keras di telinga.

“…”

Oh, benar juga, pikir Theo, terdiam. Anju tersenyum sambil mengeluarkan ponsel dan membuat Theo mengeluarkan ponselnya sendiri.

“Wah, barang ini berguna banget. Pastikan selalu kau bawa—tidak bisa terhubung dengan orang lain kalau punya orangnya dimatikan—kau pun harus manual memasukkan nomor ponsel untuk mendaftarkannya.”

Ekspresi serta contohnya tidak cocok kalimat pertamanya sedikit pun, Anju jadi terkekeh.

“Yah, Perangkat RAID masih harus diatur ulang setiap kali kita ganti Handler.”

“Ya, bagi para babi putih …. Itu pun menyebalkan. Mereka melakukan hal semaunya dan komplain hal-hal bodoh kapan pun mereka muncul.”

Republik menaruh Perangkat RAID pada mereka untuk tujuan mereka sendiri dan juga telah melampirkan variabel data pendaftaran di manset telinga dengan cara yang tidak bisa dilepas sendiri. Karena dipasang secara kasar dan tanpa disinfektan, saat Federasi melepasnya, menyisakan bekas luka di tubuh mereka. Theo tak terlalu mempermasalahkannya, namun melihat mereka merusak kecantikan Anju dan Kurena membuatnya emosi.

Benar memang, Handler yang memimpin mereka … tepatnya, memimpin Shin, pada akhirnya akan sering berganti, tapi bukan kesalahan mereka. Handler terakhir mereka adalah seorang putri kecil berhati lemah yang kira-kira usianya sebaya, tetapi sifatnya ngotot menjalankan tugasnya walau menderita dan sebisanya tidak berhenti.

“Federasi betulan aneh menginginkan hal-hal itu, sih. Kita telah lama menggunakannya tapi tidak tahu cara kerjanya.”

“Aku paham. Itu berguna di medan perang. Eintagsfliege pun di sini jadi masalah. Tapi memedulikan Juggernaut saat ini, itu bagus pula. Mereka dapat apa dengan menganalisis peti mati berjalan itu?”

Ketika mereka mendatangi daerah pertahanan Federasi, semua barang yang mereka miliki diambil. Entah alasan aneh apa pun, Federasi memutuskan meneliti Para-RAID dan Juggernaut, lantas mereka dikirim ke beberapa laboratorium. Barang-barang lain tidak punya banyak nilai sentimental, jadi mereka biarkan Federasi membuangnya.

“… kalau dipikir-pikir, Shin meminta balik pistolnya, tetapi Federasi menolak permintaannya meskipun warga sipil boleh membawa senjata.”

Tapi Ernst simpan.

“Tidak murni karena nilai sentimental. Itu pistol yang biasa Shin gunakan untuk mengistrirahatkan orang sekarat. Shin tak mengizinkan orang lain melakukannya.”

Dia bahkan tidak membiarkan Raiden, wakil kaptennya, yang bertarung paling lama bersamanya, melakukannya. Theo mendesah.

“Kurasa takkan dia perkenankan, dan tidak ada jawaban lain …. Tapi ayolah, apa hidup sesuai keinginannya sendiri akan membunuhnya?”

Theo pikir temannya yang bisa mendengar suara-suara hantu mengembara, teramat terobsesi dengan orang-orang mati. Atau barangkali dengan kematiannya sendiri. Contohnya, fiksasi pada tugas untuk melepas kesengsaraan orang yang terluka. Atau dengan rekan-rekan tak terhitung jumlahnya, yang dia sumpah akan dia bawa hingga akhir. Semua orang yang bertarung dan mati di sekitarnya dari unit pertama sampai skuadron Spearhead. Juga semua orang yang berasimilasi dengan Legion dan penyesalan terakhir mereka digaungkan Domba Hitam. Paling pentingnya, kakaknya yang kini telah dibalaskan … tetapi telah lama mati dengan kepala buntung.

Mata biru Anju mnatap tanah, seakan-akan tengah berpikir keras.

“Mungkin ada beberapa hal yang hanya dia seorang bisa lakukan karena obsesi itu.”

“Maksudnya apaan?”

“Memfokuskan dirimu pada suatu tujuan artinya bisa juga mempertahankan kewarasanmu. Boleh jadi bertujuan mengalahkan kakaknyalah yang membuat Shin tetap bersama kita.”

Bagaimana kalau dia waras karena bisikan tak terhitung jumlahnya orang-orang mati yang menghantui bekas luka di lehernya … atau ironisnya, oleh suara seorang kakak yang memberikan bekas luka itu padanya?

“Kita, 86, ditakdirkan mati di medan perang, jadinya merasa seperti ini. Apalagi Shin yang sebagian dirinya hanya memikirkan kakaknya. Sekarang dia tak punya bagian diri itu lagi … aku sedikit khawatir.”

“…”

Teori tersebut tak terlalu dirasa pas bagi Theo, Anju selalu hati-hati mengamati orang-orang di sekitarnya. Teorinya mungkin benar.

“Kau bagaimana?”

“Hah?”

“Kita harusnya mati di medan perang sana, tapi kita masih hidup. Apa kau … memutuskan masa depanmu, seperti kata dia?”

Bibir Anju, berwarna bunga musim semi, tersenyum. Terbesit pikiran melantur yang berkeliaran di benak Theo. Ah, dia mulai pakai riasan.

“Kau seriusan bertanya begitu? Semestinya sekarang sudah jelas.”

Bibir Theo sedikit terbuka.

Semestinya sekarang sudah jelas …

“Oh iya.”

“Aku memikirkan apa jadinya jika Daiya masih bersama kita, atau seandainya sedikit lebih banyak waktu untuk mempertimbangkan pilihan kita. Pertanyaan kita harus melakukan apa atau ingin melakukan apa, pikirku kita—”

“Ya.”

Theo mengangguk, seolah-olah sudah tahu apa yang akan dikatakannya.

“Aku merasa sama. Malahan, kurasa kita semua sama juga. Lagian kita cuma tahu itu.”

Itu yang kami tahu …

Sesaat sadar satu pikiran, hening nyaman dan menyenangkan hadir lama. Akhirnya, Anju bertepuk tangan sekali.

“Tapi kesampingkan.”

“Oh, yak. Tasnya.”

Theo lupa. Dia mengetik nomor Shin di ponselnya dan memilih PANGGILAN SUARA. Nada dering kuno berulang-ulang di telinganya …. Dan setelah nada datarnya mengoceh sangat-sangat lama. Kening Theo mengerut kesal.

“—dia tidak menjawab!”

Ω

 

Untuk waktu yang lama, mimpi Shin tak lebih dari kejamnya reproduksi malam sang kakak membunuhnya. Dia tidak bisa ingat banyak mimpi yang tak berputar-putar menayangkannya. Tetapi, dia tahu ini mimpi.

“Aku tahu betapa egoisnya permintaan ini.”

Kaie tersenyum, berdiri di tempat yang diselimuti kabut putih. Seorang rekan wanita dari skuadron Spearhead yang mati di medan perang distrik pertama front timur Republik. Rambutnya hitam dan mata khas Orienta. Dia berpakaiam seragam lapangan kamuflase gurun, dan rambutnya diikat ekor kuda.

Akan tetapi kepala kecilnya tidak di tempat yang seharusnya. Kepalanya terlpeas, seakan-akan meledak di waktu-waktu terakhirnya; Kaie memeluk kepalanya, wajahnya tersenyum.

“Kau mencapai tujuan akhirmu. Dan kau sudah membawa kami semua bersamamu. Jadi mestinya kau berhak meninggalkan kami. Tapi …”

Ada banyak sekali rekan yang tidak dapat diselamatkannya, lantas Kaie ini mungkin bukan Kaie asli, melainkan perwakilan semua orang. Orang-orang yang mayatnya dicuri Legion atau diseret selagi masih hidup kemudian disambungkan ke saraf jaringan. Shin bergidik memikirkan banyak temannya yang direndahkan menjadi Domba Hitam tersesat, bersembunyi di antara domba putih Legion.

“Aku paham itu, tapi rasanya sakit. Gentayangan seperti ini menyakitkan. Aku mati, jadi aku ingin pergi, Shin—Pencabut Nyawa kami.”

Kaie tersenyum sewaktu memanggil alias Shin. Shin mulai menyukainya. Di bawah sepatu bot militer terdapat padang rumput tebal yang terlalu dalam untuk dilangkahi serta satu set rel dibagi delapan. Di balik kain kasa sutra kabut putih, Shin bisa melihat siluet abu-abu pecah.

Para Juggernaut sekaligus satu Scavenger.

Mereka berdiri di medan perang yang dikuasai Legion dua bulan lalu.

“Tolong selamatkan kami.”

Domba Hitam yang hanya membawa salinan kinerja rendah otak manusia, tidak punya kepribadian sendiri. Bahkan para Gembala tak punya kemampuan kognitif manusia hidup, mutahil saling paham dengan mereka.

Jadi gadis di hadapannya tak nyata, bukan pula gabungan teman-temannya …. Mungkin dialah simbol penyesalan. Hal-hal yang Shin tinggalkan. Karena tatkala itu, dia cuma mampu menguburkan kakaknya.

Kaie 🙁

“… akan aku selamatkan.”

“Shin.”

Membuka mata setelah mendengar namanya dipanggil, Shin bangkit berdiri dari meja delapan orang tempatnya tidur di ruang baca Perpustakaan Ibu Kota Kekaisaran. Eugene sedang bersandar di sikunya—biar tidak duduk—di sandaran kursi seberangnya, mata peraknya menyeringai dari balik kacamata. Adik perempuannya barangkali baca buku bergambar di suatu tempat, tapi saat ini dia tengah tidak dekat.

“Aku tahu cuaca hangat karena matahari muncul, tapi misal tertidur, pustakawannya mungkin akan marah padamu. Di sini cerah sekali, sih. Cuaca sempurna.”

Ruang baca pavilion ini mendapatkan penerangan alami dari jendela atap.

Sinar matahari yang melemah menghangatkan kaca buram tua tebal, alhasil cahaya lembutnya merekah ke seluruh ruangan dengan pola kerawang. Saat musim panas, pohon elm2 yang ditanam di luar akan menghalangi sinar matahari. Di siang hari, sinar mentari akan menghangatkan ruangan, lalu laki-laki dan perempuan seusia mereka yang duduk di meja lain juga lagi tidur, sedang membaca atau belajar.

“Ada apa, kau semalam bergadang?”

“Tidak, bukan itu.”

Itu tak terjadi selama bertahun-tahhun. Hanya ketika kelelahan hebat menguasainya—barangkali akibat penggunaan kemampuannya secara berlebihan—barulah dia jatuh tertidur nyenyak sampai-sampai berhadapan dengan seseorang yang belum pernah ditemui takkan membangunkannya. Pikir Shin, terlambat, ibaratnya dia sudah benar-benar lengah.

Dia sudah terbiasa dengan kehidupan tanpa suara hanggar dan suara pengeboman sebagai latarnya. Kehidupan tanpa perlu terus-menerus mengawasi pergerakan Legion terdekat.

Tapi dia masih sanggup mendengar ratapan mereka bergema dari medan perang nan jauh dari sini. Suara pasukan hantu mekanik yang berkembang biak alih-alih berkurang, mengganggu bumi dengan ratapan hantu mereka.

Tubuh Eugene condong maju, mata peraknya menyembunyikan senyum nakal.

“Hampir waktunya. Mau pergi lihat mereka? Rahasia ini sedikit yang tahu, tapi aula di sini punya beranda observasi di lantai teratas. Tidak banyak orang tahu kau bisa pergi ke sana, jadi agak jauh dari sini, tapi pemandangannya bagus.”

“… melihat apa?”

“Tentu saja paradenya. Demi Ulang Tahun Suci. Front barat Divisi Lapis Baja ke-24 harusnya kembali, jadi kita bisa melihat Vánagandrs generasi ketiga.”

“…”

Kepala Eugene memiring karena Shin mendadak terdiam.

“Oh. Kau tak tertarik dengan Feldreß?”

“Bukan itu …”

Persoalannya, dia kaget pada orang yang dia ajak bicara tertarik dengan topik tersebut. Mengesampingkan ketidakcocokan Shin soal asal-usul Alba-nya, fisik kurus dan ekspresi ramah Eugene kelihatan tak cocok dengan kerasnya medan perang. Jari-jarinya agak kasar sebab kapalan yang bisa jadi dia dapatkan dari pekerjaan rumah tangga, namun bukan karena pekerjaan fisik keras atau penanganan senjata.

“Aku cuma terkejut kau tertarik soal itu.”

Eugene tertawa malu mendengar kata-katanya.

“Ya, aku, uh, sebenarnya akan segera masuk tentara. Semoga ke divisi lapis baja, jadinya bermaksud mencari-cari informasi mengenainya … kukira kita juga merasa sama.”

Kemarin, Shin berada di rak sejarah militer, sebelumnya bolak-balik membaca buku tentara tersohor dan para pahlawan perang. Dia melihat-lihat buku yang Eugene lihat, jadi mungkin dia belajar di sini daripada sekolah …. Barangkali karena berencana menghadiri akademi perwira khusus yang sama.

Eugene membangun kesamaan dengan Shin karena dia pikir mereka serupa, begitulah ucap pemuda Alba sambil tersenyum. Nampaknya, dia sedang mencari kesempatan untuk mengatakan sesuatu kepada Shin sementara waktunya.

“Ibu Kota mungkin damai, tetapi negara kita sedang berperang. Siapa tahu pertempurannya akan sampai ke jalan-jalan ini. Alhasil harus aku pastikan itu takkan pernah terjadi …. Selain itu, aku mau menunjukkan adikku lautan suatu hari nanti. Jadi kita harus mengakhiri perang ini.”

Suara Kaie dalam mimpi bergema di benaknya lagi.

Tolong selamatkan kami.

Medan perang yang ditinggalkannya.

Medan perang yang pernah dia lawan dan putuskan melaluinya sesuai keinginan sendiri sampai saat-saat terakhir. Meski berharap demikian, Shin tidak lagi berada di medan perang itu.

Dia hampir lupa apa yang ada di luar dinding Gran Mule. Republik busuk yang mengalihkan pandangannya jauh dari kenyataan dan melalui stagnasi, membusuk dan kehilangan cara mempertahankan dirinya sendiri.

Kemudian situasiku saat ini, berdiri di sini menolak maju, sama saja bersembunyi dalam dinding-dinding itu.

“… benar juga.”

Ratapan Legion takkan berhenti. Mereka masih mengerang selagi mencari mangsa di medan perang jauh. Shin memalingkan perhatian ke suara mayat-mayat Republik. Mungkin sebab dia masih hidup di sana. Masih bertarung. Mencoba mengikuti jejak-jejak mereka.

“… boleh jadi aku terlalu lama beristrirahat.”

Kata-kata yang digumamkan kepada dirinya sendiri sangatlah lirih hingga tak terdengar Eugene.

“Oh, aku dapat pesan. Dari Shin.”

“Apaaaa?! Kenapa dia mengirim pesan kepadamu?! Aku berusaha menelponnya berjuta-juta kali!”

“Ya … kurasa karena kau kebanyakan menelponnya.”

Kurena yang sedang melihat-lihat toko, berhenti sejenak melihat pawai ramai di ujung jalan. Begitu dia mengalihkan perhatiannya, dia mulai kaku seketika melihat bayangan biru keperakan besar diarak melalui jalanan, menjelajahi bangunan. Moncong 120 mm gagah mencuat, beserta laras panjang dan rangka besar kikuk. Setiap langkah ke delapan kaki dari berat massif tank-nya mengguncang ubin batu, serta suara paket energi yang menggerakkan sistem propulsi, menggeram.

Delapan kaki dan sistem propulsi …. Sadar itu bukan Legion, Kurena menghembuskan napas yang tanpa sadar dia tahan-tahan. Tangannya refleks melompat ke ujung bahunya, tempat tali senapan serbu berada andai dia masih di medan perang hancur Sektor 86.

“… itu hampir membuatku kena serangan jantung.”

Menenangkan diri, dia sadar pernah melihat Feldreß semacam ini sebelumnya di saluran berita yang ditonton Shin dan Raiden. Namanya Vánagandr. Senjata utama Federasi dan punya meriam sekaliber Löwe, juga lapis bajanya sesuai. Beda jauh dari Juggernaut Republik yang dalam keadaan normal bahkan tak sanggup menyaingi Grauwolf, apalagi Löwe.

Boleh jadi merupakan parade kemenangan. Kala lagu mars bersemangat dimainkan, Vánagandr-nya maju, matahari menyinari lapisan barunya yang mengkilap., serta tentara Federasi yang berbaris di sebelahnya mengenakan seragam upacara.

Tatapan seorang perwira mengendarai turet Vánagandr, menghadap Kurena lalu melambai kepadanya. Saat dia pulih dari momen terkejutnya, Kurena balas melambai. Perwira muda yang barangkali beberapa tahun lebih tua darinya, tersenyum penuh kebanggaan dan memberi hormat sebelum menghilang bersama sisa-sisa parade.

Negeri ini pun juga sedang berperang melawan Legion, dan Vánagandr itu seharusnya menjadi senjata untuk melawan mereka, namun entah bagaimana, pemandangannya damai nan menakjubkan. Paradenya terlihat cerah dan menyenangkan, tetapi Kurena tidak terlalu terbiasa dengan tempat yang dipenuhi orang. Berbalik, dia melanjutkan perjalanannya.

Gaya hidup damai yang mereka dapatkan ini menyenangkan setelah terbiasa. Mereka bebas dari tugas rutin yang harus dilakukan setiap harinya di medan perang, lantas awalnya mereka tidur melewati hari-harinya. Tetapi setiap teman-temannya menemukan cara tersendiri menikmati hidup baru mereka, masing-masingnya dapat kenalan dan teman baru.

Bahkan Kurena punya beberapa teman baru yang namanya telah dia tambahkan ke memori ponselnya.

Mereka semua memutuskan akan menghabiskan waktu seperti ini. Masing-masing akan menjelajahi negara ini dan memutuskan masa depan sendiri. Apa pun keputusan yang diambil, yang lainnya akan menghormati.

Kurena mendatangi toko yang menarik perhatiannya, kemudian dia periksa bayangannya di jendela toko. Dia memakai pakaian yang dia temukan di majalah, terdapat jubah dengan potongan bulu palsu. Dia pun mengenakan sepasang sepatu bot hak tinggi yang masih tak terbiasa mengenakannya, tetapi dia berusaha membiasakannya. Awalnya, dia cuma memakai pakaian yang dipakai Teresa dan sekretasi Ernst, sekaligus pakaian yang dia lihat gadis-gadis lain seusianya pakai. Tetapi belakangan ini, dia mulai memilih-milih pakaian untuk dirinya sendiri.

Dia memperagakan sejumlah pose yang menurutnya lucu di depan cermin jendela, lalu wanita penjaga toko mengacungkan jempol terus tersenyum dari dalam toko. Itu membuat Kurena senang meski sedikit malu. Kepala Kurena menunduk minta maaf dan berjalan pergi.

Dapat memilih pakaianmu sendiri. Berpakaian sesukamu. Membeli apa pun seinginmu dan berjalan bebas. Hidup tanpa memikirkan kematian di esok hari atau diganggu pertempuran yang menunggu di akhir hari. Bagaikan mimpi.

… ya.

Ini mimpi.

Sorak-sorai parade di belakangnya mereda. Meenyisakan keheningan dari hidupnya band militer nyaring yang menusuk langit biru, laksana mengingatkannya langit biru tak berujung tersebut terdapat kegelapan yang tidak memperkenankan eksistensi manusia.

Dia pernah mendengar ini sebelumnya. Ya, dulu di Sektor 86.

Mungkin kata-kata Kujo. Terbalik dengan penampilan kasar luarnya, dia adalah ahli astrologi. Atau mungkin kapten wanita regu pertamanya. Atau mungkin Shin, tak lama setelah bertemu dengannya. Siapa pun itu, Kurena sekarang ingat.

Langit biru hanyalah tirai yang menutupi kegelapan tiada batas.

Langit, lautan biru indah—kesemuanya adalah lapisan terluar dunia yang artinya kematian bagi manusia.

… bisa jadi karena itulah surga berada di luar langit.

Kurena berhenti melangkah dan balik badan. Musik pawai bergema ke langit. Seolah memberi tahu orang-orang di luar langit bahwa mereka akan segera bergabung. Kerumunan orang berdoa diam-diam, mantan anggota abdi memberi hormat, barisan Vánagandr terbungkus hitamnya duka. Nomor yang terpampang di turetnya adalah nomor orang-orang yang mati atau menghilang di medan perang semenjak parade tahun kemarin. Setiap dan seluruhnya punya nama serta hidup sendiri.

Namun bahkan lebih banyak lagi tentara yang masih bertarung di front luar sana.

Hidup ini menyenangkan, tetapi semata-mata mimpi sementara Kurena dan yang lain.

Tidak peduli seindah apa mimpinya, kita semua akhirnya akan bangun.

Ω

“Aku kembali … hah.”

Raiden berkedip, kaget melihat lampu aula depan dimatikan sesaat kemblai dari pekerjaan paruh waktunya. Kapanpun dia pulang, Teresa akan menyalakan lampu pintu depan dan aula masuk; dia bilang lampunya mesti selalu menyala untuk menyambut kepulangan mereka.

Cahaya tumpah ruah dari ruang tamu yang terhubung langsung ke aula masuk, dia mendapati Frederica di sana, duduk nyaman di sebuah sofa besar, memeluk boneka beruang. Shin membelikannya beberapa waktu lalu di toko departemen, pas Frederica ngambek ke Shin ingin berbelanja. Frederica tidak diizinkan pergi ke luar sendirian. Dia pun tidak sekolah.

“Selamat datang.”

“Ah, makasih …. Yang lainnya belum pulang? Teresa mana?”

“Dia pergi berbelanja dari tadi tapi belum kembali. Terjadi sesuatukah?”

Frederica mendesau lirih sedih. Seketika itu, Raiden mendengar suara deguk keras menggema di ruangan. Dia menatap Frederica yang kemungkinan besar membuat suara itu, mendapati dirinya merona dan memeluk lebih erat beruangnya … kemudian suara lirihnya berkata:

“Raiden … aku lapar.”

“… hah …? Oh …”

Memeriksa jam dinding, Raiden mencatat biasanya jam-jam itu adalah waktu mereka makan malam. Raiden dan yang lain boleh jadi terbiasa makan di waktu sporadis gara-gara kehidupan pertempuran dan penyerbuan malam hari, tapi sulit bagi seorang anak seperti Frederica.

“Bentar.”

Raiden meletakkan tasnya dan pergi ke dapur.

Tak seperti Republik yang cuma punya makanan sintetis baik di dalam maupun luar dinding, Federasi punya ladang dan pertanian yang memungkinkan sirkulasi makanan nyata. Raiden mengobrak-abrik kulkas, memilih bahan untuk membuat hal sederhana, selanjutnya dicuci, dipotong, dan dimasukkan ke wajan. Dia kira akan membuat sesuatu sederhana untuk mencegah lasa lapar Frederica hingga Teresa kembali dan menyiapkan makan malam. Di sisi lain, mata berkilauan Frederica menatap Raiden layaknya menatap seorang penyihir.

“Kau mahir soal seni kuliner?!”

“Eh, paslah untuk buat makanan.”

Hidup cukup lama di medan perang tempat kau harus melakukan segalanya sendirian telah memaksamu mengambil suatu keterampilan entah kau suka atau tidak …. Yah, begitulah bagi kebanyakan orang. Bukannya menyebut pengecualian terhadap aturan tersebut …

“Lain kali hal ini terjadi, semisal cuma ada Shin, terus kau lapar, suruh dia membelikanmu sesuatu. Kalau kau menghargai hidupmu, jangan pernah biarkan dia memasak.”

Ekspresi Frederica jadi senang.

“Kenapa, apa Shin tidak bisa masak?”

Raiden mendadak ingat ketika dia biasanya senang melihat orang dewasa buruk melakukan sesuatu. Raiden mengangkat bahu, mengingat masa kanak-kanak jauhnya.

“Bukannya dia tak bisa. Dia hanya terlalu kasar.”

Dia akan membumbui bahan-bahannya secara tak merata, tak mengambil kulit telur yang jatuh, sup kematangan, dan sebagainya. Ciptaannya tak dapat dimakan … intinya menjijikkan. Bagian terburuknya adalah Shin tak berniat memperbaiki masakannya. Membuat Shin dilarang dari tugas dapur di setiap skuadron tempatnya mengabdi.

Akan tetapi, entah kenapa, dia teramat pandai menggunakan pisau dapur dan entah bagaimana mendapatkan teknik rahasia yang membuatnya tak menangis ketika memotong bawang. Bakat khusus itu sedikit tidak berguna di Federasi, sebab pengolah makanan mengurus tugas tertentu.

Sampai sekarang, Raiden dan kawan-kawan tak mempersoalkannya karena seluruh konsentrasinya dituangkan ke pertempuran dan komando, artinya tidak punya waktu untuk keterampilan lain. Tetapi fakta tak adanya hal lain yang berubah bahkan dalam kehidupan mereka saat ini sebagai warga sipil, berarti dia sekadar orang kasar dan ceroboh.

“Begitu, begitu. Kayaknya itu masuk akal, mengingat dia mengabdikan segenap dirinya untuk melenyapkan kakaknya …. Kebetulan, kau buat apa, Raiden?”

“… kau belum pernah melihat telur sebelumnya?”

Raiden baru pengen memecah telur dengan satu tangan ke dalam mangkuk. Handler terakhir mereka adalah putri dalam sangkar kebenarannya sendiri, tapi bahkan mungkin dia pun tahu telur itu apa. Walaupun ragu putri itu tahu cara membukanya atau tidak.

“Betul. Teresa bersikeras bahwa dapur adalah wilayah kedaulatan pelayan dan melarang interupsiku di setiap kesempatannya. Jadi telur dijual dalam bentuk aneh, mengerti …. Apa mereka memanaskannya hingga kerasnya sesolid itu?”

“Bukan begitu, nak—ini cangkang … kau dibesarkan dalam kotak?”

“Yah …”

Frederica mulai bicara tapi memutus kalimatnya, terdiam.

Raiden memalingkan pandangannya.

Nah, kalau dia tidak bisa jawab, yaudah.

Raiden sudah mencurigai latar belakangnya. Boleh jadi mereka semua demikian. Namun satu-satunya jawaban mereka adalah, Terus apa? dan mereka memilih tidak mengorek lebih jauh.

“Omng-omong, apa yang kau—?”

Pintu ruang tamu berderit sedikit, lalu Shin masuk ruangan tanpa mengintip.

“… barangkali Frederica mesti mulai bantu memasak.”

Frederica kaku kaget, tetapi Raiden balas menatap tenang Shin.

Tinggal bersamanya selama empat tahun membuatnya terbiasa dengan gaya berjalan tanpa suara Shin.

“Kalau kau yang bilang, artinya dia sudah tak ada harapan lagi. Selamat datang … kau bawa banyak barang bawaan.”

Sewaktu Shin keluar, berpakaian cuma untuk berjalan-jalan, namun kini dia membawa tas belanjaan berat dalam pelukannya. Anju, Theo, dan Teresa masuk berturut-turut, bawa kantong kertas serta paket dingin, membuat Raiden mengangkat alis.

“… apaan semua ini?”

“Teresa pergi belanja, sayang mobilnya mogok di toko. Setelah dibetulkan, dia kesusahan membawa semua tasnya, kebetulan aku di sana.”

“Anju sendiri tidak cukup membantu, jadi dia mencariku dan aku mengkontak Shin.”

Theo menurunkan ransel dingin yang dibawanya kemudian memutar bahu, seakan mengeluh lirih.

“Lain kali kau berbelanja sebanyak ini, beri tahu saja aku atau Shin lebih dahulu. Kami nganggur. Setidaknya bisa bawa beberapa tas.”

“Aku pembantu gagal namanya jika harus memaksa anak-anak yang tinggal di rumah yang aku layani membawa tas.”

“Kau tak melayani kami. Kau melayani orang tua aneh itu.”

“Sama saja.”

“Tidak, tak sama. Dia bukan ayah kami.”

Sekiranya Ernst ada, dia boleh jadi akan menangis dan merengek-rengek. Terakhir, Kurena memasuki ruang tamu.

“Ah.”

Dia berdiri diam di pintu ruang tamu. Barangkali gara-gara tatapan semua orang tertuju padanya, atau kemungkinan ada sesuatu yang ingin dikatakannya begitu lima orang lengkap berkumpul, dan dia tak menduga keempat orang lain hadir.

“Selamat datang, Kurena.”

“Ah, ya. Aku kembali …. Anu.”

Dia menatap Anju, mata keemasan bak kucingnya gemetar cemas.

Terdapat percikan keteguhan hati tersembunyi di dalam matanya.

Raiden mendesah kecil.

Ah, dia juga membulatkan tekadnya.

Sepasang mata merah darah menatap Kurena yang berdiri diam, tenangnya dingin kedua mata Raiden makin melemah.

“Kau siap?”

Kurena mengangguk, suara dan kata-kata Raiden menjadi dorongan terakhir yang dibutuhkannya.

“Yea. Kurasa sudah melihat semua yang perlu aku lihat.”

Shin pun dari awal sudah memutuskan dan semata-mata menunggu teman-teman lain menyimpulkan sendiri. Tetapi mereka semua kemungkinan akan mengikuti keputusan yang dibuat Shin. Lantas Kurena utarakan. Tersenyum seiring bangga memenuhi hatinya.

“Ayo kembali ke tempat asal kita.”

Ω

 

Setelah akhirnya menyelesaikan pekerjaan, Ernst pulang ke kediamannya. Mendengar suara anak-anak, dia lega melihat mereka terbiasa dengan kehidupan Federasi. Sekiranya ada hal positif yang bisa diambil dari mereka yang dikirim ke kamp konsentrasi pada usia yang sepatutnya masuk SD, adalah waktu usia ketika keluarga normal mengajari anak-anak hal semacam ekonomi dasar dan akal sehat. Mereka tak kerepotan berbelanja di toko dan menjaga perilaku di tempat umum.

Shin dan Raiden diberkati wali di usia muda mereka, dan mempertimbangkan lingkungan tempat tinggalnya, mereka kurang lebih berpendidikan. Theo, Anju, serta Kurena tak seberuntung itu, tetapi fakta mereka mampu membaca manual sistem senjata keliru dan mengkalkulasi lintasan balistik, di satu sisi artinya setingkat di atas warga sipil biasa Federasi.

Di saat Kekaisaran dalam zaman kediktatoran militeristik, para bangsawan telah memonopoli pendidikan tinggi, masih banyak anak yang belum pernah masuk sekolah atau tak sanggup menuliskan nama mereka sendiri di Federasi, terutama di daerah. Inilah sebagian alasan mengapa jabatan presiden sementara Ernst sudah bertahan selama sepuluh tahun sampai Federasi bisa mengadakan pemilihan resmi.

Ernst suka memeriksa kemungkinan terbukanya lembaga tinggi pendidikan dan sekolah teknik bagi non-bangsawan di sela-sela pekerjaan kantornya. Shin suka belajar, lantas dia pertimbangkan mengirimnya ke akademi kelas atas. Raiden jago perihal pekerjaan mekanik, jadi sekolah teknik bagus buatnya.

Dan Theo … dan Anju … dan Kurena …. Dia memikirkan sungguh-sungguh kepribadian individunya demi mendatangkan jalan hidup yang baik untuk mereka tempuh, dan Ernst suka melakukannya. Dia ingin melakukannya—tapi tak bisa—melakukannya pada anaknya. Mereka patut kembali menjadi anak-anak normal. Pergi bersekolah. Tertawa bersama teman-teman. Biar menyibukkan diri pada hal-hal tak berbahaya seperti aspirasi, cinta, atau tempat nongkrong mana minggu ini.

Mereka dapat mengulang masa kecil yang sebelumnya tak diperkenankan, di sini dan sekarang ini. Ernst pun punya kekuatan untuk mewujudkannya. Nepotismekah? Ya, itu tentu. Tetapi posisinya mesti memberinya keuntungan semacam ini, kan? Melimpahkan masa depan bahagia kepada anak-anak dalam asuhannya jelas dimaafkan.

Namun ada satu hal yang mengganggunya. Dia menyediakan semua anak-anak kamar tersendiri dan jumlah uang saku yang keluarga kaya biasanya berikan kepada anak-anak seusia mereka. Tetapi kamar anak-anak itu tidak pernah dipenuhi barang-barang pribadi. Mereka hanya akan membeli yang paling dibutuhkan dan tak lebih dari itu. Anak-anak ini dibesarkan dengan keinginan kesejahteraan diri sendiri dan keamanan rekan-rekan mereka.

Dan Ernst pikir sekarang adalah waktu yang tepat agar mereka memelajari nikmatnya menginginkan, mendapatkan, dan menghargai sesuatu …

Dan karena dia berpikir demikian … tatkala akhirnya Ernst kembali ke kediamannya setelah lama pergi, dia bertemu kelima anak itu lagi dan mendengar rencana masa depan mereka. Kelimanya ingin mendaftar militer. Kala dia dengar mereka ingin kembali ke medan perang, Ernst menjatuhkan semua dokumen yang dia persiapkan ke lantai.

“K-kenapa?!”

Anak-anak tersebut kembali menatap Ernst yang berteriak sekalipun ekspresinya tak percaya. Pikirannya tak merasa senang melihat anak-anak merasa cukup nyaman hingga memasang ekspresi semacam itu di sekitar Ernst.

“Maksud kenapamu apa?”

“Bukankah sudah kami perjelas dari awal? Kiranya membebaskan pilihan kami, kami akan mendaftar.”

“Tapi …”

Ernst tahu itu. Dia dapat laporan dari petugas pemantauan mereka, dan anak-anak itu mengatakannya sesaat mereka sampai di kediaman ini. Namun dia kira mereka menjawab demikian dikarenakan tak tahu hal lain. Mereka tidak tahu namanya kedamaian. Mereka tak mengenal harmoni.

Sekalipun mereka kini tahu kehidupan tanpa dicap 86. Kendatipun mereka saat ini akhirnya sanggup memikirkan masa depan … mereka masih … secara sadar … memilih ini?

Raiden tersenyum pahit ke Ernst, meski kenyataannya dia belajar tersenyum lebih lembut—lebih jujur—semenjak datang ke sini …

“Maaf awalnya mencurigamu … kau punya tempat bagus. Jadi kami akhirnya tinggal lebih lama dari yang diperkirakan.”

“Sudah cukup istrirahat kami. Kami perlu berjalan maju lagi.”

“Jadinya kami kembali ke tempat asal kami.”

Ke medan perang.

Ernst menggeleng pelan. Dia tidak bisa, dalam hidupnya, mendengar kata yang sebegituinginnya berjalan maju bertindak kembali ke medan perang.

“Tapi kenapa …? Kenapa kalian rela kembali ke neraka itu …?”

Mereka berjuang mati-matian untuk bertahan hidup, pada akhirnya melarikan diri dari sana—

Pandangan Shin tiba-tiba mengarah ke Ernst yang sama bingungnya dan prihatin ibarat masa depan dia yang mereka putuskan. Bahkan seusai mengecap suaka, niat mereka tidak berubah. Bahkan bukan pilihan yang wajib mereka perjuangkan. Keputusan ini muncul begitu saja di diri mereka, seolah-olah takkan pernah ada pilihan lain. Tetapi karena Ernst telah berbaik hati menyuguhkan waktu dan kesempatan untuk menjelajahi jalan lain, mereka putuskan mencoba kembali sesuatu—

Banternya, mereka akan tahu bisa merubah beberapa hal untuk meningkatkan kualitas hidup mereka, namun tidak pernah bermaksud terbiasa dengan tempat ini. Atau berniat tinggal di sini. Masa tenggang satu bulan ini yang sudah usai hanyalah jeda singkat dari perjuangan tanpa akhir mereka melawan Legion. Sebulan untuk memastikan hal yang telah mereka ketahui; tempat damai ini tidak dimaksudkan untuk mereka. Sesudah terlampau lama terisolasi dari kedamaian, rasanya tidak serasa nostalgik bagi mereka. Cuma terasa jauh.

Tetapi walau dia betul-betul berpikir kehidupan damai ini bukan hal buruk, hati Shin tetap tak tergerak. Kata-kata itu adalah kebaikan terkecil yang dapat ditawarkannya kepada pria yang memberikan kesempatan sekali seumur hidup, menyesali pilihan mereka kendatipun tak ada kaitan dengan dirinya.

“Kami beruntung saja.”

Dia punya kemampuan mendengar suara Legion dan tahu posisi mereka. Handler terakhir mereka membantu menyeberangi barisan patrol Legion, dengan cara yang berbeda dari Republik. Seketika dia akhirnya hilang kekuatan di sudut medan perang, kakaknya meminjamkan bantuan.

Keberuntunganlah yang mengantarkan mereka ke Federasi, rekan-rekan mati mereka belum cukup beruntung untuk menikmati nasib baik serupa.

Hal itu tak lain adalah satu-satunya hal yang memisahkan Shin juga teman-temannya dari mereka.

“Kami kebetulan diselamatkan. Kami pun takkan sanggup menghadapi mereka yang mati andaikata hidup nyaman di sini dan berhenti bergerak maju. Kami masih hidup … lantas pertempuran kami belum tuntas.”

Mereka meninggalkan pelat yang membawa nama-nama rekan-rekan mati mereka bersama Fido. Pelat-pelat tersebut berfungsi sebagai persembahan terakhir untuk Shin sekaligus keinginan tuk meninggalkan bukti bahwa mereka telah sampai di tujuan akhir. Tetapi mereka tak berkehendak meninggalkan orang-orang yang mereka sumpah akan bawa hingga akhir.

Mereka masih mengingat semuanya. Mereka masih bersamanya. Shin dan teman-teman berjanji membawa mereka ke suatu tempat di luar akhir pertempuran.

“Legion masih aktif, jika kita tak bertarung, negeri ini takkan bertahan. Kami tidak bisa berpaling dari hal itu dan pura-pura bahagia.

“Hidup macam apa yang akan kami jalani bila duduk manis sampai Legion menghabisi kami? Kami takkan pernah sanggup hidup seperti itu.”

Andaikata sanggup, berarti mereka telah menjadi hal yang paling dibenci: Republik San Magnolia, para babi putih tercela. Orang bodoh yang lari dari medan perang dan menyegel diri sendiri dalam cangkang perdamaian palsu, memaksakan perang melawan Legion kepada 86, sampai akhirnya tetap tak tahu cara mempertahankan diri mereka. Republik mempraktikkan hal kelewat hina kepada kehidupan yang warganya tidak hanya tak layak dianggap manusia, mereka pun sama sekali tak layak dianggap makhluk hidup.

Dan saat mereka melalui wilayah Legion, sepenuhnya siap mati dalam misi Pengintaian Khusus, mereka melihat taktik Legion secara langsung berkali-kali. Shin bahkan dapat mendengar suara Legion sekarang. Tepat sekarang ini, dia dihantui ratapan hantu mekanik yang berkembang biak tiada henti.

Republik takkan bisa menang. Legion mungkin saja akan memakan semua umat manusia. Karena mereka sangat menyadari ancaman tersebut, Shin dan yang lainnya tidak mampu mengalihkan pandangan lebih lama lagi.

Sebab merekalah 86. Kendati mereka berada di medan perang, dikelilingi musuh tak terhitung jumlahnya, mereka akan bertarung sampai nyawa habis. Mereka bangga bertempur.

Menemukan tujuan dalam pertempuran. Melawan seluruh peluang, mereka bertarung sekuat tenaga, walaupun satu-satunya senjata yang tersisa adalah darah dan daging sendiri. Tekad inilah yang tersisa dari mereka seusai ditinggalkan tanah air dan keluarga direnggut.

“Meskipun kematian kami tak terhindari, kami berhak memilih kami mati bagaimana. Bertarung sampai tetes darah penghabisan adalah jalan hidup yang kami pilih sendiri. Jadi tolong … jangan rebut itu dari kami.”

Raiden yang sampai saat ini hanya mendengarkan, seketika menyeringai, mengingat tutur terakhir Shin tinggalkan kepada Handler mereka.

“Lagi pula … kalau dia mengejar kita setelah kau bilang, Kami pergi, padanya, akan memalukan banget sampai-sampai tak bisa dilupakan.”

Shin tak merahmati jawaban pada ucapan bercanda itu.

Tetapi Ernst hanya menggeleng kepala terhadap kata-kata tersebut.

“Itu salah. Itu, itu sangat salah …!”

Ernst tahu betul perang. Dia pernah menjadi komandan tentara kekaisaran dan kemudian menjadi bagian revolusi sebagai salah satu tokoh kunci terkemuka. Dia mengambil banyak nyawa dan meninggalkan banyak orang mati, dia pun tahu banyaknya orang yang memiliki bekas luka sebagaimana luka anak-anak ini.

Mereka yang menyesal karena tanpa tahu malu bertahan hidup sedangkan saudara seperjuangan mati. Dia kelewat banyak melihat mantan tentara tersiksa kesedihan dan rasa bersalah yang menghalangi perasaan bahagia saat tentara lain mati.

Tetapi itu tak benar.

“Kalian hanya di sini karena berjuang terlalu keras untuk sampai ke sini, lantas dapat membanggakan pencapaian kalian dan menerima ini sebagai hadiahnya! Rekan-rekan tiada kalian juga menginginkan ini, seandainya mereka sungguh teman kalian …. Kalian tidak usah merasa berkewajiban.

Berkewajiban bertahan hidup.

Berkewajiban mendapat kedamaian—mendapatkan kebahagiaan.

Terkecuali mereka membedakannya, orang-orang takkan pernah melarikan diri dari masa lalu mereka, lalu mereka akan melanjutkan hidup, takkan mampu merasa bahagia tanpa penyesalan abadi bahwa kebahagiaan mereka dibangun atas penderitaan orang lain …!

Tetapi ekspresi kelima orang itu tak berubah sama sekali. Bila mereka paham betul maksud Ernst, mereka sama sekali tak tergerak. Didorong kegelisahan tak terjelaskan, Ernst membuka mulut untuk melanjutkan tetapi dihentikan Frederica yang hingga kini menutup mulutnya.

“Hentikan, Ernst.”

Terkejut di waktu-waktu paling lengahnya, Ernst menurunkan pandangan menuju Frederica yang mata merah dinginnya balas menatap.

“Baik memang menyiapkan tempat bertengger nyaman untuk burung terluka …. Tetapi mencegahnya terbang begitu lukanya sembuh, karena takut dunia berbahaya nian, artinya membatasinya dalam sangkar. Burung-burung ini akhirnya lolos dari sangkar persekusi. Kau selanjutnya berniat mengunci mereka dalam sangkar rasa kasihan?”

BIbir mengerucut sejenak, Frederica bicara lagi—nyaris melontarkan kata-kata itu—dengan tatapan tersinggung. Tatapan hewan dikandangkan yang mungkin ditujukan langsung kepada manusia yang melihatnya dari luar kandang.

“Tentu kau sadar ini tak berbeda dari kelakuan Republik.”

Ernst kehilangan kata-kata.

“Sebagai catatan, anak-anak ini juga bukannya tak berdaya atau tidak mampu memahami posisi mereka. Anak-anak ujung-ujungnya akan pergi meninggalkan orang tua mereka. Jika kau betul-betul mengaku sebagai sosok ayah mereka … hormati keinginan mereka dan biarkan pergi.”

Ernst berdiri diam, terdiam oleh perkataan si gadis muda. Dan kata-kata tanggapannya tak setimpal usia si gadis, Shin melihat Frederica.

“Kurasa kami harus berterima kasih kepadamu, Baginda?”

Mendengus terhadap ucapan Shin, Frederica sekilas menatapnya.

“… kau tahu.”

“Samar-samar.”

Tingkah laku dan tutur kata tidak selaras usianya. Seorang gadis diasuh presiden, walaupun sementara, tidak menghadiri sekolah dan dilarang keluar sendirian. Caranya diperlakukan seakan-akan merahasiakan eksistensinya.

Paling pentingnya:

“Ada juga sesuatu soal cara bicaramu. Kukira itu kedengaran akrab dan baru mengingatnya tadi …. Cara bicaramu sama seperti cara bicara ibuku.”

Sesedikit itulah yang dapat diingat Shin tentangnya. Ingatan wajah orang tua dan suara mereka telah disapu nyala api perang dan ratapan hantu tiada henti.

“Kalau dipikir, orang tuamu keturunan Keluarga Kekaisaran, kan …? Semisal kami mengusut kembali asalmu, kami barangkali bisa menemukan kerabatmu. Namun jika kau tidak ingin, persoalan itu bisa dituntaskan di sini.”

Sambil menatap bingung Frederica, mata merah tua yang sangat mirip miliknya balas menatap serius sampai-sampai seriusnya mengejutkan.

“Kau diabaikan tanah air dan darah kerabatmu direnggut. Aku pun tahu tak punya negeri yang mengusut asal-usulmu, atau mencari budaya dari rasmu, harga diri adalah satu-satunya cara menjaga identitasmu …. Tetapi cara hidup tersebut cacatnya bukan main. Ada tiga hal yang membentuk seorang pria: tanah air tempatnya dilahirkan, darah yang mengalir di nadinya, dan ikatan yang dibuatnya. Kalau kau tak punya ketiganya dan mencoba menjaga sukmamu hanya dengan harga diri belaka, nantinya kau akan kehilangan kesadaran diri dan hancur memudar …. Dengarlah kata-kataku dan masukkan ke dalam hati.”

Kata-kata itu anehnya terasa nyata bagi Shin dan bahkan tak disangka mendengarnya dari seorang gadis yang bahkan belum sepuluh tahun. Ibaratnya Frederica mengingat kembali peristiwa menyaksikan seseorang hancur. Seolah-olah inilah jawaban yang Frederica dapatkan setelah perjuangan bertanya-tanya panjang nan melelahkan. Perasaan déjà vu menyentuh hatinya. Mata merah darah itu, bagaikan matanya sendiri, menatap Shin. Sepasang matanya gemetar sepintas kemudian Frederica tutup kuat-kuat lalu menatap Shin lagi dengan tekad mengejutkan.

“Ketahuilah namaku, karena aku Augusta Frederica Adel-Adler. Maharani terakhir Kekaisaran Giad, orang yang memerintahkan Legion tuk menaklukkan benua …. Aku yang mestinya disalahkan atas hilangnya tanah air dan keluarga kalian. Kutuk aku karenannya, jika harus. Akan aku sambut.”

Raiden membuka bibirnya buat bicara.

“Dulu umurmu berapa?”

Invasi Legion dimulai sepuluh tahun lalu. Artinya Frederica yang berusia sepuluh tahun ini, dulu masih bayi. Mereka memang tahu bahwa selama dua ratus tahun terakhir, Keluarga Kekaisaran dilemahkan menjadi boneka di bawah kendali bangsawan tinggi yang menjalankan kediktatoran.

“Babi-babi Republik adalah yang mencuri segalanya dari kami. Kami takkan salah mengira mereka sebagai orang lain …. Jangan remehkan kami.”

“Maafkan aku.”

Si gadis menunduk malu. Tapi setelah merinding sekali, dia kembali mengangkat kepala.

“Sebagai pengakuan harga diri kalian, aku punya permintaan untuk kalian, 86 … jikalau kalian kembali ke medan perang, bawa aku bersama kalian dan bantu kalahkan hantu kesatriaku yang masih berkeliaran di medan pernag.”

Frederica tidak perlu menjelaskan lebih detail. Tak kepada mereka, 86, yang tidak mampu menguburkan rekan-rekan tiada mereka, dan kadang-kadang bahkan melihat mayat mereka diseret.

“Legion membawanya.”

Frederica mengangguk sedikti.

“Dia Legion yang menyerang kalian sebelum sampai di Federasi. Dia membombardir kalian di tengah pertempuran …. Kalian menyebutnya Gembala, kuyakin?”

“Kok tahu itu dia?”

Shin bisa membedakan satu Legion dengan Legion lainnya dari kemampuannya. Tetapi tak mungkin Federasi yang tak punya teknologi Resonansi Sensorik, memilah unit Legion tertentu. Tidak pula seorang gadis yang hidup di ibu kota bisa tahu suatu unit yang belum pernah dilihatnya, bersembunyi dalam medan perang, adalah kesatrianya.

Namun Frederica menjawab pertanyaannya dengan ekspresi sedih.

“Kemampuan yang diwariskan secara turun-temurun memungkinkanku mengintip masa lalu dan masa kini orang-orang yang kuketahui …. Maaf. Luka yang kakakmu berikan … pastinya menyakitkan.”

… lehermu …. Apa yang terjadi …?

Frederica barangkali telah melihat semuanya kala itu. Masa lalu Shin, ketika kakakknya hampir membunuhnya. Dan saat dia menembak jatuh Dinosauria yang dirasuki hantu kakaknya. Sewaktu dia bersumpah akan membunuhnya apa pun yang terjadi, ketika Shin masih sesusia Frederica …

“Aku hanya bisa melihat. Aku kurang kekuatan untuk menyelamatkan kesatriaku yang memanggil-manggilku dari medan perang. Jadi kumohon, aku meminta bantuanmu. Sebagiamana kau menyelamatkan kakakmu …. Mohon selamatkan kesatriaku.”

Shin akhirnya memahami déjà vu yang dia rasakan karena Frederica. Gadis itu mengingatkan Shin pada dirinya saat memutuskan menyelamatkan kakaknya yang mati di suatu sudut medan perang, seketika seumuran Frederica.

“—akan aku selamatkan.”

Ernst mendesah berat.

“… baiklah. Akan aku atur agar Frederica terdaftar di skuadronmu sebagai Maskot …. Namun aku punya satu syarat yang harus ditekankan.”

Enam tatapan apatis tertuju pada Ernst, tak puas pada Ernst kelihatannya mempersulit segala halnya untuk mereka.

“Kalian akan mendaftar sebagai perwira. Lebih spesifiknya, Federasi punya akademi perwira khusus, jadi kalian akan mendaftar lewat sana. Selain itu, takkan aku izinkan.”

Menyelesaikan pendidikan menengah untuk bergabung ke akademi itu penting, beberapa orang dalam kelompok Shin yang belum lulus, tapi tidak jadi masalah. Situasi perang Federasi tak cukup baik untuk memerhatikan rincian-rincian semacam itu.

Akan tetapi, Kurena, matanya menyipit ragu.

“Hah? Gunanya apa? Tidak masalah kami mendaftar bagaimana atau pangkat kami apa.”

“Terlepas dari itu. Aku wali kalian, kalian dalam tanggung jawabku. Orang tua kalian pasti menginginkan ini, dan aku tidak bisa menentangnya.”

“Kau tak tahu itu—”

“Aku tahu … dulu aku seorang ayah juga.”

Dia juga pernah jadi seseorang yang mendambakan kegembiraan anak-anaknya tulus dari hati.

“Mantan perwira punya lebih banyak pilihan ketimbang mantan tentara. Aku ingin kalian punya jalan terbuka sebanyak mungkin begitu perang ini berakhir.”

Begitu perang ini berakhir.

Kata-kata itu mengejutkan anak-anak. Perang melawan Legion telah berkecamuk lama seingat mereka, dan hidup mereka didominasi kegilaannya. Ekspresi mereka memberi tahu Shin bahwa itu merupakan prospek yang tak pernah mereka pertimbangkan.

Ernst pikir kata-kata itu boleh jadi kejam bagi mereka. Selama lima tahun … lima tahun lamanya mereka bertarung. Dan boleh jadi bahkan sebelum itu, waktu mereka tahu keluarga-keluarga mereka pergi bertarung dan takkan pernah kembali. Sejak saat itu mereka menunggu orang tua mereka yang takkan kembali, kemudian melihat orang lain mati dalam perang, tak tahu esok mereka bernasib sama atau ttidak. Kendatipun tidak datang keesokan harinya, tidak ada yang bisa lolos dari takdir—

Mereka pasti akan mati.

Misal tidak ada yang mati, mereka memilih hidup dan mati sebagai manusia. Dan Ernst berharap agar anak-anak ini berjuang melawan takdir, hanya dipersenjatai tekad untuk bertahan hidup. Dia berharap mereka akan hidup lama, memenuhi hidup tanpa takut akan kematian yang ditakdirkan. Ernst berdoa kepada anak-anak ini—yang hanya bisa hidup sesaat—akan menapaki hidup yang berlawanan.

Mereka pun barangkali tak sadar betapa kejamnya harapan tersebut.

“Suatu hari kelak perang ini ‘kan berakhir, seumpama kalian berniat menempuhnya hingga akhir … kalian akan pertimbangkan baik-baik ingin melakukan apa ketika perang berakhir.”

Catatan Kaki:

  1. Mutiara di sini adalah Mutiara berkualitas berwarna-warni yang menyerupai mother-of-pearl (Necre).
  2. Elm adalah tumbuhan berkayu keras dan berdaun lebar dari genus Ulmus famili Ulmaceae. Pohon gugur tinggi yang biasanya memiliki daun bergerigi kasar dan disebarkan dari pengisap akar. Genus ini merupakan tumbuhan asli Asia Tengah sejak zaman Miocene.[1] Tumbuhan ini lalu menyebar di belahan bumi utara, terutama kawasan beriklim sedang dan pegunungan subtropis dan tropis yang tinggi di Eurasia dan Amerika Utara hingga ke Indonesia. Elm dapat tumbuh tinggi dan sering dijadikan tanaman hias. Namun elm rentan terhadap serangan hama, terutama dari fungi Ophiostoma yang disebarkan oleh kumbang. Genus ini merupakan tumbuhan hermafrodit dengan bunga sempurna yang dapat diserbuki oleh angin.[2] Tumbuhan ini dapat bertahan pada jangkauan tingkat keasaman tanah yang lebar namun membutuhkan drainase yang baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *