86 jilid 2 BAB 2

Posted on

Panzer Lied

Penerjemah: Dark Souls

Misi Pengintaian Khusus mengejutkannya berjalan damai, dan mereka terus maju melampaui durasi yang diperkirakan. Barangkali menghancurkan peleton di hari pertama misi telah membuahkan hasil. Jika mereka berhasil keluar dari zona perang, mereka akan memasuki wilayah yang diakui Legion kepemilikannya. Patroli mereka akan menjadi lebih longgar. Kemampuan Shin yang mengetahui lokasi Legion dan arah pergerakannya mungkin membuatnya dapat memilih rute-rute yang dia dan kelompoknya takkan menjumpai patroli Legion, atau mereka akan tetap tersembunyi sampai mereka lewat. Shin dan teman-teman menuju timur, menghindari pertempuran sebisa mungkin. Mereka berkemah saat musim berubah gugur, makan makanan sintetis hambar, dan terus menerjang masuk ke wilayah musuh, entah kapan kematian akan merenggut mereka.

Perjalanan itu adalah cita rasa kebebasan pertama mereka.

Wilayah Legion pernah dihuni orang-orang dan diisi desa-desa serta kota-kota—akan tetapi ditinggalkan. Kalau sempat, mereka akan memeriksa reruntuhan-reruntuhan ini dan berburu ternak liar. Kalau keadaan memungkinkan, mereka bakal menyalakan kayu bakar yang bisa dihimpun selama kemah-kemah malamnya, menghargai perubahan bertahap pemandangan alam sekitar mereka yang tak bisa lagi dilihat manusia lain.

Terjadi tatkala kehadiran musim gugur semakin intens, dan reruntuhan kehilangan seluruh tanda-tanda kepemilikan Republiknya, kian terkait dengan Kekaisaran.

Mereka telah sampai di tujuan akhir.

“Fido.”

“Kaulah buktinya. Bukti kita mencapai tempat ini. Semoga kau tetap menjalankan tugas hingga hancur menjadi debu.”

Shin yang dari tadi berlutut, kini bangkit berdiri, memandangi sisi Fido yang telah dihantam pengeboman, selamanya menjadi bisu.

Apakah perintah terakhir itu menggapai Scavenger rusak? Bisakah kecerdasan minimnya didesain melakukan hal lain selain mengumpulkan sampah dan kepingan besi, memahami kata-kata Shin?

Shin berbalik dan kembali ke sisi Raiden.

“Kau tak apa dengan ini, kawan?”

Berhenti sejenak, Shin menyadari maksud Raiden; kuburan alumunium yang Shin ukir nama-nama rekannya yang telah mati. Dia barusan meninggalkan semua 576 nama—nama Rei termasuk—di rongsokan Juggernaut, bersama Fido.

“Ya. Karena semuanya sudah seperti ini, kita takkan bertahan lebih lama.”

Semua orang, terkecuali Fido, telah bertahan dari pertempuran paling akhir mereka, namun mereka telah kehilangan semua Juggernaut-nya kecuali milik Undertaker, kini satu-satunya senjata yang mereka punyai adalah senjata api kecil yang dibawa untuk pertahanan diri, mereka tidak punya alat apa pun untuk melawan Legion besar. Sewaktu tiba saatnya mereka bertarung di pertempuran selanjutnya, semuanya akan berakhir bagi mereka.

Namun tahu ini, Shin tersenyum samar dan mengetuk wadah hangus Fido dengan punggung tangannya.

“Tapi aku ingin membalas segala yang dia lakukan …. Sebab kita tidak bisa membawanya lebih jauh.”

Scavenger loyal yang membawa serpihan lapis baja tuk mengukir nama orang-orang mati yang sekarang telah tiada. Raiden pun tersenyum samar. Tidak disangka-sangka setelah sekian lama, akhirnya menghadap langsung kematian mereka.

“Keknya perjalanan kecil menyenangkan kita akan segera berakhir, ya?”

Menarik napas dalam-dalam, Raiden menyeka senyumnya dan melihat ke barat—arah kedatangan mereka. Mereka bisa melihat sepetak langit berwarna abu-abu merekah di atas medan perang. Kelopak-kelopak kuning berkibar di udara menunggangi angin. Di depan mereka terdapat satu set rel yang dibagi menjadi delapan: sisa-sisa transit yang digunakan orang-orang yang dulunya pernah meninggali tempat ini.

“Tapi seriusan deh, mereka banyak banget …”

“… ya.”

Mereka entah bagaimana menyelinap masuk ke kedalaman wilayah Legion, sesuai tebakan Shin dulu dari rintihan mekanis yang dapat didengarnya, Legion tak terhitung jumlahnya mendiami tempat itu. Ke mana pun mereka melihat, Legion mengisi dataran bagaikan mosaik perak, tak meninggalkan celah. Sekawanan Löwe dan Dinosauria berdiri siaga.

Sekawanan tipe Transportasi Pemulih, para Tausendfüßler, bolak-balik berpasangan dari garis belakang medan perang layaknya sungai bergelombang.

Eintagsfliege bertengger di pohon-pohon hutan layu, menutupinya bagaikan salju. Bila seseorang berkeliaran ke dalamnya, mereka akan mendapati sumber daya mineral tempat itu telah ditambang, meratakan gunung menjadi kawah dan meninggalkan tanah yang digalinya berkarat merah, penampakan neraka mengerikan di bumi. Barangkali itu kerjaan tipe Reproduksi Otomatis, Weisel, dan tipe Pembangkit Listrik, sang Admiral. Rangka mereka sangatlah raksasa sampai-sampai tidak bisa betul-betul dimengerti, namun Shin dan teman-teman lain tidak bisa melihatnya merangkak menembus kabut.

Mereka melihat sepasukan besar Legion bergerak melalui wilayah-wilayah, karena kadang-kadang mereka menghabiskan hari bersembunyi di bawah hujan dingin. Mereka sendiri pun tahu tidak ada yang mampu melawan pasukan hantu mekanik sebesar itu.

Republik akan kalah dalam perang ini.

Barangkali semua umat manusia akan kalah.

—akankah tiba hari dia (Lena) akan sampai ke tempat ini juga?

Anju kembali, sesudah selesai menghubungkan kontainer ke Undertaker dengan kerekan dan kawat. Mereka menyimpan persediaan di kontainer terakhir dan menyuruh Undertaker menariknya.

“Pekerjaan selesai, kalian berdua, ayo pergi. Kalau terus berlama-lama, Legion lain mungkin bakal datang memeriksa kegaduhan pertempuran terakhir dan melacak kita di sini.”

Mengalihkan pandangan, Shin menatap Kurena dan Theo melompat turun dari kontainer dan Undertaker satu per satu. Mereka membantu Anju. Mulai saat ini, mereka akan maju sambil bergiliran mempilot Undertaker. Mereka sepakat sebelumnya bahwa bila mereka diserang, siapa pun yang mengemudikan Undertaker kala itu akan melawan Legion sedangkan yang lainnya akan lari berlindung agar tak menghalangi pilot.

Setelah meregangkan badan sekali, Theo meletakkan tangannya ke belakang kepala lalu mengerutkan kening.

“Tapi yak, tak disangka Juggernaut yang selamat adalah Shin …. Kinerja Juggernaut-nya diatur sesuai parameter Shin, jadi kontrolnya sangat sensitif. Mempilotnya membuatku takut. Sebagian besar pembatasnya rusak pula.”

Itulah alasan Undertaker sanggup melakukan manuver yang normalnya tak mungkin dilakukan Juggernaut. Tentu saja kemampuan pilot Shin yang membahana bahkan di antara para Pengemban Nama merupakan faktor utama untuk melakukan aksi-aksi itu.

“Kalau begitu aku pergi duluan.” Kurena dengan tingkah aneh mengangkat tangannya. “Tadi aku ketiduran, jadi aku tidak lelah.”

Entah kenapa para Legion tak menyerang Shin dan teman-teman. Barangkali ada satu tipe pengintai yang ditugaskan melacak mereka, namun dia tak memanggil Legion lain. Legion sendirian, mengikuti mereka dari belakang, ibarat sedang berusaha menyergap mereka.

Ketika mereka berhenti, dia juga berhenti, dan bila mereka berputar, dia juga berputar.

Persenjataan Juggernaut jarak pendek, dan hanya bisa menyerang benda-benda dalam jangkauan. Senjatanya tak sanggup menyerang Legion yang bersembunyi di atas cakrawala, dan kelihatannya tidak menantang mereka, jadi Shin menyembunyikannya dari Raiden dan kawan-kawan. Menilai suaranya, dia Gembala, tetapi anehnya teredam, dan Shin tidak paham maksud perkataannya. Namun entah bagaimana familiar.

Dari mana dia tahu suara itu—?

Tidak bisa mati padahal kematian datang mengklaimmu adalah nasib aneh.

Jadi Rei berpikir, menyeret tubuhnya yang nyaris tak berfungsi seakan-akan senar sarafnya gagal, terbuat dari mesin mikro cair.

Untuk menyimpan data, misi perekam Legion adalah mentransfer data pertempuran dari berkas-berkas unit mati ke unit pendamping terdekat. Perkara Gembala, dia akan mentransfer segalanya—termasuk data prosesor sentral—ke unit cadangan yang disiapkan dan ditunjuk sebelumnya.

Domba Hitam yang juga menggunakan manusia sebagai komponen ada banyak, tetapi dari setiap Gembala hanya ada satu. Sebab Gembala punya kepribadian masing-masing dan tidak tahan individu lain mempunyai eksistensi yang sama. Akan tetapi, Legion tidak membiarkan performa tinggi Prosesor Gembala hilang dan alhasil menyiapkan sistem transfer yang memindahkan kesadaran mereka ke unit cadangan.

Demikian, Rei mendapati mekanismenya terlampau tak berguna.

Mentransfer berkas data dengan aman seketika unit hendak dihancurkan membuat kesadarannya rusak. Transfer sempurna hampir mustahil. Mayoritas data tidak selamat setelah transfer, walaupun selamat juga, unit cadangan hampir tak berfungsi. Terkoyak-koyak oleh logam eksplosif hitam legam, berkas data Rei dalam keadaan rusak sobek-sobek pada waktu transfer selesai.

Dia takkan bertahan lama.

Barangkali karena dia tahu ini, dia melacak laju Shin di wilayah. Menjaga jarak aman sehingga tak ditemukan …. Dia berkehendak melihat tujuan akhir saudaranya. Dia menyeret badan pesawat cadangan rusak dan berderit dari Dinosauria yang ditinggalinya.

Pemikiran itu mendadak terlintas dalam benaknya bahwa dia mungkin jiwa Shourei Nouzen. Berkas datanya terkikis setiap detiknya, namun entah kenapa, ingatan pertempuran terakhir tetap utuh dan jelas.

Dia ingat bagaimana instingnya sebagai mesin perang memadukan hasrat tuk melindungi dengan hasrat tuk membunuh. Dia ingat sosok perak ilusi gadis yang menghalangi jalannya, seolah-olah melindungi targetnya dari kematian. Dia ingat suara yang masih memanggilnya Kakak, terlepas dari banyaknya nyawa yang dia ambil. Dia ingat semuanya.

Shin dan teman-temannya maju, menghindari pertempuran dan menyelinap melewati celah-celah patroli Legion.

Bagus, pikir Rei. Jangan memikirkan pertempuran. Fokus saja bertahan hidup lebih lama. Federasi ada di depan—harapan terbesar umat manusia yang melawan Legion dengan gagah berani sekalipun terkepung dan terisolasi.

Seandainya dia bisa mencapai Federasi, Shin pasti akan diberikan perlindungan. Tak seperti Republik, pasukan Federasi semuanya luhur dan baik. Tentara yang berbeda warna bertarung bahu-membahu dan takkan meninggalkan rekan mereka di medan perang, meskipun mereka menjadi mayat. Mereka takkan memperlakukan lima anak yang lolos dari maut dengan kejam.

Dan tatkala dia sampai, perasaan dirinya akan hilang. Itulah yang terbaik. Biarpun dia masih sadar sekarang, kelak dia akan menggila lagi. Keinginan membunuhnya akan melukis kembali seluruh keinginan serta harapan … nanti dia sekali lagi akan memanggil Shin.

Dan jika Rei memanggil, Shin pasti akan datang mencarinya lagi. Dia takkan mencampakkan kakak tolol yang egoisnya membunuh dan mati. Adik baik Rei yang berkelana di medan perang neraka selama lima tahun akan datang mengeluarkannya dari kesengsaraan.

Maaf. Kali ini, aku akan benar-benar pergi ke sisi lain. Jadi tolong, biarkan aku melihatnya sampai akhir.

Dinosauria terus berjalan, setiap langkahnya didorong doa.

“—Anju. Ganti denganku.”

Anju yang sedang mempilot Undertaker, berkedip mendengar kata-kata Shin yang dikirim lewat Para-RAID.

Sudah dua hari sejak mereka mengucapkan selamat tinggal terakhir pada Fido dan rekan-rekan Shin yang gugur. Mereka berada di tengah-tengah hutan, matahari musim gugur menerangi dedaunan dan biji-biji maple1.

“Bukannya ini kecepetan? Bukankah giliran siang mestinya sampai kita berhenti buat makan malam?”

“Aku bosan.”

Jawaban terang-terangan jelas membuat bibir Anju tersenyum. Benar memang, Shin tak suka mengobrol, tidak ada kerjaan lain selain melihat pemandangan, dia boleh jadi kebosanan.

“Kita punya terlalu banyak waktu luang. Kau paling tidak harusnya membaca beberapa buku.”

Menyeringai, Anju meraih tuas pembuka kokpit.

Pikiran Rei yang sedikit demi sedikit memudar penuh lega selaagi melihat Shin dan teman-temannya menghampiri Federasi. Sekiranya mereka terus berjalan, mereka tak lama lagi akan masuk dalam garis patroli militer Federasi. Legion memfokuskan seluruh pasukannya untuk memerangi Federasi di dekat garis patroli. Satu senjata bergerak kecil seharusnya bisa menghindari deteksi selama memanfaatkan medan untuk menyembunyikan dirinya.

Rei tak yakin dia akan mati duluan atau tidak sebelum melihat mereka tiba di negeri beradab tapi …. Yah, mereka mestinya baik-baik saja. Dia dapat meninggal dengan damai—nnn!

Serangkaian informasi dari unit kawan terdekat telah datang lewat tautan data yang hampir tidak berfungsi. Sewaktu memahai isi pesannya, kecemasan meluas pada jaringan saraf Rei.

Oh tidak …!

Selagi mereka mendekati jejak binatang yang mengarah ke lereng cukup curarm sampai disebut tebing, Undertaker mendadak berhenti. Raiden yang tengah berbaring di atas selimut yang dia bawa dari unitnya, duduk.

“Ada apa, Shin?”

Shin merespon dingin. Suara sunyi biasa, tapi ada tekad bulat bisu di dalamnya:

“—siapa pun yang mempilot ketika dalam pertarungan. Itu yang kita putuskan.”

Tak lama kemudian Raiden mengerti.

“… dasar goblok! Kau tahu mereka akan datang!”

Dia melihat sekelompok Legion di depan mereka yang tak bisa dihindari entah rute mana yang ditempuh …. Bisa jadi ketika dia meminta Anju untuk berganti tempat dengannya! Anju melompat dari kontainernya, rambutnya berdiri murka.

“Itu tidak adil, Shin! Kau tidak boleh begini!”

Anju mencoba mendekatinya, tetapi Shin melepaskan kawat traktor yang menghubungkan kontainer dengan Undertaker. Anju terpeleset saat kawatnya berderak keras, dan Undertaker memanfaatkan kesempatan di perbedaan ketinggian itu untuk mendaki lerengnya. Cukup curam jika disebut tebing dan bukan jarak yang dapat didaki manusia dengan mudah. Tak terlihat jalan memutar, karenanya Shin memilih rute ini.

Sensor optik retak Juggernaut membelok. Ia kehilangan kedua tangan penggenggamnya, lapis bajanya hangus dan terbakar. Sistem penggeraknya goyah, secara umum mesinnya kelihatan tertutupi luka.

“Kalian terus pergi. Mereka seharusnya tak menemukan kalian kalau pergi ke hutan …. Ada sepasukan Legion mati sedikit lebih jauh dari sini. Apabila ada orang di sana, minta mereka untuk melindungimu.”

Mereka sudah mendengarnya mengatakan hal ini sebelumnya, di medan perang Sektor 86. Wajar seumpama mereka tak menemukan mereka. Selama mereka mendeteksi unit musuh—artinya, Undertaker—di dalam wilayah mereka, Legion akan memindahkan fokusnya. Boleh jadi Shin bahkan sudah merencanakannya.

“Persetanlah! Artinya kau akan jadi umpan untuk kami!”

“Bukannya kita semestinya pergi bersama?! Kau tidak bisa sewenang-wenang memutuskannya di menit-menit terakhir. Itu—”

Mematikan Resonansi Sensoriknya untuk memotong teriakan Theo dan suara penuh air mata Kurena, Undertaker menghilang ke dalam pepohonan.

Raiden meninju kontainernya sekuat tenaga.

Sialan …!”

Siapa pun yang mempilot ketika mereka bertemu musuh adalah yang akan bertarung melawannya. Mereka putuskan kalau inilah cara adil untuk menentukan siapa yang bakal bertarung di pertempuran terakhir, cara yang akan memuaskan orang lain entah siapa yang menanggung tanggung jawabnya. Tetapi mereka kelewat naif. Semisal Shin yang mampu merasakan Legion dari jauh mendapati musuh yang tidak bisa dihindari, sama saja secara implisit mentakdirkan siapa pun yang mempilot pasti akan mati. Untuk menghindarinya, dia cuma perlu memastikan dirinyalah yang duduk di kendalinya.

“Idiot itu …!”

Raiden berdiri, mengambil senapan serbu di sebelahnya.

Ketika mereka sedang memenuhi jadwal patroli standar, kompi patroli Legion mengalami serangan dari unit afiliasi tak dikenal. Setelah memperbarui ID Kawan / Musuh, kompi patroli berhasrat jahat mengirimkan status tempurnya lewat tautan data.

Senjata lapis baja ini bertarung sambil mengabaikan semua strategi konvensional. Menundukkan Löwe dengan mengebomnya dengan serangan kejutan, menukik ke jantung formasi. Tidak ada kecocokan pada unit musuh di data asli mereka, tetapi basis data jaringan area luas cocok dengan model tersebut.

Sistem senjata utama Republik San Magnolia: Juggernaut. Tingkat ancamannya rendah, baik lapis baja dan daya tembaknya lemah menurut standar senjata lapis baja, tetapi sebanding infanteri lapis baja. Tatkala bertarung di dataran sedikit penghalang, senjata darat lemah ini takkan sanggup menembus lapis baja solid Löwe.

Kurang lebih, seharusnya tidak bisa, namun Juggernaut ini menunjukkan kecakapan tempur yang melebihi semua asumsi. Membawa pertempuran ke jarak dekat, menggunakan lapis baja Löwe untuk melindungi dirinya dari tembakan Legion lain dan memanfaatkan daya tembak lemahnya tuk mengecilkan jarak hingga sampai jarak dekat.

Juggernaut dimaksudkan untuk pertarungan jarak dekat. Spesifikasinya berbeda dari spesimen-spesimen lain, lantas hanya ada satu perbedaan yang amat sanggup memengaruhi kemampuan tempurnya: performa prosesor sentralnya.

Empat Löwe bertahan telah dihancurkan. Empat puluh lima persen pasukan kompi dihancurkan. Namun, setan mekanis tidak sedikit pun tak sabar.

Mendesain ulang tingkat ancaman target. Target yang ditentukan setara seperti sistem senjata utama Federasi. Tipe: Feldreß. Identifier: Vánagandr. Peluang menekan target dengan kekuataan saat ini dianggap sangat kurang. Meminta bala bantuan dan dukungan dari pasukan utama serta unit terdekat.

Tambahan khusus: Disarankan menangkap target.

Mengirimkan laporan dan meminta perintah ke jaringan area luas dalam waktu semili detik, Legion sekali lagi berangkat.

… gerakan musuh berubah.

Shin menyadari setelah dia mengalahkan Löwe keempat, Legion mengubah pola pengerahan mereka. Baik mata dan kesadaraannya melaju gugup. Ketika mengepung musuh, sudah lazim mengerahkan unit dengan cara demikian agar tidak terjebak baku tembak satu sama lain. Legion pun sama, sekalipun mereka tak ragu menembak mati pasukan Republik bersama unit-unit pendampingnya …. Tapi Legion-Legion ini memblokir jalannya, walau artinya sekutu mereka terjebak di rentetan tembakannya. Mereka menghentikannya. Seolah membenarkan, kemampuan Shin memberi tahu bahwa Legion terdekat mulai bergerak ke arahnya. Jarak menuju pasukan terdekat—mungkin pasukan utama kompi patroli ini—empat ribu meter dari tempatnya. Mempertimbangkan kecepatan jelajah Löwe, sekurang-kurangnya tidak sampai satu menit.

Andai kata mereka bergabung dengan kekuatan utama, bahkan Shin akan kesulitan. Menghindari tebasan Grauwolf, Shin membuka tembakan dan memanfaatkan celah sesaat pada formasi mereka untuk menerobos pengepungan. Lapis bajanya menjerit kala senapan mesin berat menyerempet, indikator pada sistem status mesinnya menyala. Kaki kiri belakangnya telah melewati batas kerusakan yang diperbolehkan.

Jadi itu yang diincar Legion …

Mata Shin menyipit ketika dia menyadarinya. Mereka mengejar kepalanya. Mereka akan menjadikannya Domba Hitam atau Gembala. Legion akan mengasimilasi jaringan saraf prajurit yang mati kemudian—

Shin merasakan sesuatu. Bahkan Shin orang yang paling senior di antara para Prosesor, tak menduga akan menemukannya; dia pernah menemuinya sekali, dan mustahil membedakannya dari orang lain dalam kerumunan. Shin pernah sekali mengatakan pada dirinya. Unit ini adalah untuk penekan area luas, dan takkan menembak satu target.

Namun sekarang Shin merasa tatapannya tertuju padanya.

Jauh dari sini, lebih jauh dari tembakan Skorpion, dia merasakan kebencian mendalam, seakan-akan mata hitam dinginnya membeku marah.

“Aku akan membunuh mereka.”

Bisa jadi karena kata-kata mereka sangat mirip, tapi sejenak, Shin bertanya-tanya dia gagal membunuh kakaknya atau tidak. Nada suaranya sama. Dia teringat kembali malam dirinya nyaris dibunuh.

Teror buta membekukan tangan yang mencengkeram tuas kendali.

Aku akan membunuh mereka.

Gambar-gambar terpotong-potong mengalir ke alam bawah sadar Shin. Memori yang bukan milikknya. Seperti Resonansi Sensorik atau boleh jadi kemampuan yang dimilikinya untuk mengintip pikiran orang lain ketika terhubung.

Langit mendung. Reruntuhan. Batu-batu bendera hancur. Jelas ditangguhkan jauh, berlatar abu-abu, mantel berlumuran darah yang cukup kecil untuk seorang anak, menjuntai bagai orang berdosa yang hendak digantung.

Aku akan membunuh mereka.

Baik mereka pria atau wanita atau anak-anak atau orang tua, bangsawan dan rakyat jelata semuanya sama.

Semua orang, setiapnya. Tak terkecuali. Aku akan membunuh mereka semua …!

Dia kenal suara ini. Dia kenal dari Republik, dari Sektor 86, tatkala dia bertarung di distrik pertama sebagai bagian skuadron Spearhead. Empat rekan-rekannya mati di medan perang itu. Suara itu yang meledakkan mereka sehancur-hancurnya, dari jarak yang jauh di luar jangkauan radar—

“…!”

Apakah itu insting prajurit atau fakta bahwa dia pernah mengalami serangan ini sebelumnya membuat Undertaker melompat ke samping? Dampaknya datang kala radar membunyikan peringatannya. Melintas sangat secepat kilat dengan kecepatan awal empat ribu meter per detik, rentetan selongsong seberat beberapa ton masing-masing menghujani medan perang, dibungkus sejumlah besar energi kinetik. Pancuran baja jatuh tanpa ampun ke kompi patroli Legion.

Ledakannya terlampau keras sampai-sampai Shin yakin dia tuli. Cahaya putih menyeberang di atas medan perang, menghalangi garis pandangnya. Kekuatan gelombang kejut kuat meluncurkan pecahan selongsongnya ke semua arah, memakan lapis baja Legion, merobek dan menghempasnya. Bombardirnya menyebarkan potongan besar tanah dan batuan sedimen di sekitarnya, kemudian barang-barang tersebut jatuh kembali ke medan perang layaknya hujan meteor.

Ladang musim gugur berubah menjadi tanah hangus dalam sekejap mata.

 Terhempas oleh ledakan yang memekakkan telinga dan pusaran kekuatan, Undertaker baru menghindari radius efektif selongsongnya. Tapi dia jauh dari tak terluka. Mesin utamanya rusak parah oleh serpihan liar yang terbang ke kokpit. Sistem indikator giroskop2 dan pendingin telah hilang dari pengukur, semua jendela holo windows-nya telah mati.

Dia beruntung masih memiliki sistem tenaga penggerak dan senjata. Masih ada musuh di sekitar. Hampir tak sadar melakukan kontrol kerusakan dengan satu tangan, dia mengabaikan layar utama rusak dan mencoba melacak posisi musuh—

Pada saat itu, sendi kaki belakangnya terbang, tidak lagi mampu menanggung beban Juggernaut sekarat.

“—!”

Dia baru berhasil menjaga keseimbangan dengan sisa kakinya. Tapi hanya itu yang dapat dilakukannya. Baterai utama Juggernaut yang terletak di bagian belakang badan pesawat, teramat-amat berat, membuang pusat gravitasinya sehingga condong ke belakang. Misal sampai kehilangan salah satu kaki belakangnya, Juggernaut sepenuhnya takkan mampu berjalan.

Cemooh lama tak asing pekerja tua pemeliharaan bergema di telinga Shin.

Sudah kubilang unit suspensinya lemah, terus kenapa kau terus mendesaknya seperti itu?! …. Gaya bertarung sinting itu akan membunuhmu suatu hari nanti!

Dan ini dia.

Menembus tirai asap dan batuan sedimen, satu Löwe menyerbu meski setengah kakinya diledakkan. Melihat kaki depan mesin yang diayunkan ke atas dan hendak turun menghujamnya, shin tersenyum. Undertaker terlempar ke belakang oleh pukulan itu, potongan-potongan badan pesawatnya beramburan ke udara.

Akhirnya menemukan bagian wajah batu dengan pijakan bagus, Raiden dan teman-teman lain memanjat tebing dan mengikuti suara tembakan di luar hutan, kemudian disambut pemandangan itu. Pertama kalinya Raiden melihat Pencabut Nyawa mereka kalah.

Nalurinya berteriak untuk mempertahankan diri—bisa jadi tidak mungkin manusia dapat mengalahkan Löwe sendirian. Akal sehat mencoba menahannya—misalkan mereka keluar sekarang, Shin akan mati sia-sia.

Bomatlah.

Berdiri diam sebentar, Raiden berlari, ibarat didorong maju. Tergerak oleh suara langkah rekan-rekan di sampingnya, dia menyerbu melalui hutan.

Diaduk tembakan senapan serbu keras, Shin barusan mengangkat kelopak matanya yang berat. Seluruh layar dan pengukur optiknya betul-betul mati, bagian dalam Juggernaut yang digulingkan terlihat gelap. Napasnya sakit. Sensasi terbakar memenuhi paru-parunya, napasnya bau darah. Nampaknya tidak ada luka pendarahan di mana pun, tapi dia merasa sangat kedinginan.

Shin terlambat menyadarinya, seakan-akan itu masalah orang lain, bahwa dia mengalami luka dalam. Sekiranya dia memang masih hidup, dia mungkin harus melakukan sesuatu—paling tidak mengeluarkan pistol dan mengakhiri hidupnya—tapi dia tak bisa mengangkat jari.

Dia dapat mendengar suara tembakan dan teriakan rekan-rekan yang dia tinggalkan di luar lapis baja tipis nan rapuh. Sebagian dirinya mengira mereka idiot karena melakukan ini, tapi dia pun berpikir tidak bisa mengejek mereka. Kini, melakukan hal serupa seperti mereka, bagaimanapun dia sampai di situasi ini.

Bodoh dan tak berarti—sebagaimana perang ini—namun, kematiannya bagus, kematian yang dia harapkan. Bibirnya menyeringai lagi. Dia berhasil membunuh kakaknya dan pergi lebih jauh dari perkiraannya. Tidak ada yang tak tersampaikan.

… namun, mungkin karena momen-momen ini, dia tersadar tak ingin mati.

Apakah dia akan dijadikan satu Legion?

Jikalau dia menjadi Legion, nama siapa yang akan dia panggil?

Tak satu pun wajah terlintas di benaknya. Itulah satu-satunya penyesalannya.

Teriakan dan tembakan mendadak berhenti. Kemampuan Shin memberi tahu satu Legion datang berniat merobek kanopinya.

Peluru tungsten3 menembus lapis baja tebal dan pekikan logam.

Itulah hal terakhir yang Shin dengar sebelum jatuh pingsan.

Lima target musuh dinetralkan.

Satu-satunya Löwe yang tersisa mengirimkan laporan ini ke jaringan Sektor. Dia juga mengirim rekomendasi untuk membuat purwarupa—yang menawarkan tembakan penduung—dikalibrasi ulang. Terlepas dari rekomendasi menangkap target, Shin menembak untuk menghancurkan dan memusnahkan kompi kawan yang tujuannya adalah mengakhiri satu musuh Feldreß. Kapasitas pemroses penilaian pada unit itu tampaknya kurang.

Setelah mengirim pesannya, Löwe memalingkan sensor optiknya ke Juggernaut yang hancur. Dia, seperti keempat Prosesor lain, belum hancur parah sampai tanda-tanda vitalnya terhenti. Prosesor musuh rapuh, meskipun ekstraksi dan pemindaian bisa merusak jaringan otak, setelah Prosesornya mati, otaknya mulai mendegradasi. Maka dari itu memperolehnya hidup-hidup adalah pilihan optimal. Unsur musuh yang menaiki Juggernaut ini adalah unit Prosesor luar biasa, mampu mengubah gelombang pertempuran walau tingkat performa mesinnya rendah. Semisal Prosesor unit musuh itu diberikan ke unit kawan, lantas akan sangat berkontribusi pada perang.

Legion yang berorientasi pertempuran seperti Löwe tidak mampu mengangkut material, jadi dia mengirim transmisi lewat jaringan area luas nirkabel, meminta Tausendfüßler terdekat untuk membawa spesimen ke Weisel terdekat pula.

Lalu itu terjadi—Löwe mendeteksi unit kawan mendekat dan beralih ke mode MKM (Mengidentifikasi Kawan/Musuh). Tipe Tank Berat yang saat ini tidak ditugaskan di pasukan manapun. Löwe mendeteksi Dinosaurira itu menembak, dan—ledakan besar menyelimuti medan perang.

Lapis baja komposit tebal Löwe yang mampu menahan selongsong persenjataan utama sesama Tank telah tanpa ampun ditembus peluru penembus perisai 155 mm.

Dinosauria baru saja menembak Löwe. Mesin otonom tidak mengenal rasa takut atau kejutan, namun waktu berjalan sejenak untuk menilai situasinya. Yang barusan terjadi mestinya mustahil bagi Legion. Apakah Dinosauria itu salah menganggapnya sebagai musuh? Tidak mungkin. Mereka saling membalas tanda MKM.

Dinosauria menyerang Löwe dan tahu betul mereka berdua dari pasukan yang sama. Dengan kata lain, Dinosauria itu musuh.

Dia menggunakan peluru tungsten tipe lama. Bila pelurunya adalah hulu ledak antitank ledakan tinggi atau selongsong uranium, ledakan internalnya akan menundukkan Löwe itu sekali tembakan. Löwe tersebut memperbarui informasi MKM-nya, menunjuk Dinosauria sebagai unit musuh. Dia mengirim laporan pertempuran ini ke tautan data dan bersiap menghadapi—Serangan lain.

Selongsong bereder kaliber tinggi berefek merobek-robek prosesor sentral Dinosauria yang nyaris tidak berfungsi. Dia tembakkan agar tak menghasilkan ledakan sekunder—alhasi tidak membahayakan Juggernaut tedekat. Löwe yang goyah tidak paham mengapa Dinosauria menembakkan peluru penembus perisai alih-alih hulu ledak antitank.

Hal terakhir yang dirasakan sensor optik Löwe yang retak-retak adalah pemandangan aneh sang Dinosauria mengulurkan tangan mesin mikro cair—

Shin bermimpi.

Dalam mimpi itu, Shin masih anak kecil, dan kala dia terrsadar seseorang menggendongnya. Hanya mereka berdua, tanpa jiwa lain di sekitar, berjalan melalui kegelapan tanpa bentuk. Kegelapan sama yang senantiasa dia dengar selain rataapan hantu mekanis, kekosongan tanpa batas di kedalaman semua persepsi dan jiwa.

Shin mendongak, mendapati kakaknya. Dia kelihatan sedikit lebih tua dari ingatannya, sekitar dua puluh tahunan …. Mungkin ini tampangnya di hari kematiannya.

“Kakak …?”

“Rei tersenyum. Senyum lembutnya nostalgik.

“Kau sadar.”

Rei berhenti dan berlutut, menaruh Shin di tanah. Kepala tubuh mudanya kebesaran, jadinya sulit berdiri tegak. Dia mampu berdiri tegak setelah mencoba beberapa kali, kemudian dia menatap lagi kakaknya.

“Aku cuma bisa pergi sejauh ini. Tapi sesudah kita berpisah, jangan terus lari seendiri. Lagipula rekan-rekanmu hebat.”

Masih berlutut dan menatap mata muda Shin, Rei melanjutkan.

“Tidak kusangka kau tumbuh sebesar ini.”

Terkejut selagi melihat ke bawah, Shin mendapati dirinya sekali lagi dalam tubuh enam belas tahunnya. Dia mencoba memanggil nama kakaknya, tapi suaranya tak mau keluar. Tidak ada pembicaraan, tidak ada komunikasi dengan hantu. Balas menatap Shin, muka Rei menampakkan ekspresi sedih mendalam. Tangannya menyusuri luka di leher Shin. Persis seperti malam dan medan perang itu, tangan besar kakaknya menelusuri lehernya.

“Maaf … pasti sangat menyakitkan. Aku yang tidak mati-mati dan dari tadi memanggilmu telah membawamu ke sini.”

Shin ingin bilang kakaknya salah, paling tidak menggelengkan kepala menyangkal. Tapi dia tak bisa menggerakkan tubuh sama sekali. Mengaku tak sakit sama saja bohong. Sakit rasanya ketika tahu kakaknya benci murni kepadanya. Sakitnya sampai-sampai suara kakaknya memanggilnya setiap malam, mengingatkan Shin salah atas semua hal yang berjalan salah di hidup mereka—karena dosanya. Menyakitkan rasanya menghidupkan kembali kematiannya sendiri berkali-kali di mimpinya. Sakit diganggu teriakan tak terhindari yang selalu, selalu mengingatkan kalau dirinya takkan dimaafkan.

Tapi tetap saja, sebab sakit itulah dia sukses sampai sejauh ini. Dia mampu menjalani hari-hari yang dihabiskannya melawan Legion dalam perjuangan tanpa hasil, tanpa akhir di medan perang dirinya dijatuhi hukuman mati serta malam-malam sepi pahit tatkala rekan-rekannya binasa satu demi satu hanya gara-gara Shin bertujuan membunuh kakaknya yang dengan melakukan itu memotivasinya untuk melanjutkan hidup.

Andaikata Shin tak punya tujuan itu, dia pasti sudah dari dulu mati di medan perang. Gara-gara kakaknya selalu di sana menunggunya di sisi setelah kematian, Shin masih hidup. Dia ingin mengatakan banyak sekali sesuatu—

Tetapi kata-kata itu takkan keluar.

“Kau tidak perlu lagi terobsesi denganku. Kau boleh saja melupakanku.”

Tidak …

“Ah …. Oke, aku bohong. Aku ingin kau memikirkanku setiap waktunya. Selama kau hidup sendiri dengan bebas dan menemukan kebahagiaan. Kemudian, selagi kau menempuh kehidupan panjang nan membahagiakan, barangkali suatu saat …”

Kakak.

Rei tertawa.

“Kali ini aku takkan menunggumu lagi … aku tidak sesabar itu, tahu. Hidupmu ke depannya masih panjang …. Jaga diri saja. Tolong berbahagialah.”

Tangan Rei melepaskannya. Dia berbalik, berjalan ke ujung kegelapan, tepi jurang ibu, ayah, dan kawan-kawan tak terhitung jumlahnya telah jatuh ke dalam. Kala dia sampai di sana, mereka takkan bertemu lagi.

Mantra yang mengikat tubuh Shin mendadak memudar.

“Kakak.”

Tapi tangan terentangnya tidak pernah mencapai Rei. Barangkali bahkan dia tidak pernah mendengar suaranya. Sesuatu gaib yang memisahkan orang-orang hidup dan orang-orang mati menghalangi jalan Shin, menghentikannya mengejar sang kakak.

“Kakak!”

Rei beralih sembari tersenyum ketika kegelapan melingkupinya. Sama seperti ketika dia tidak dapat meraih tangan kakaknya di akhir pertempuran itu. Dia tahu takkan berhasil, tetapi masih saja mengulurkan tangan.

“Kakak.”

Suara samarnya sendiri membangunkan Shin dari tidurnya.

Mendapati dirinya menatap samar langit-langit buatan. Shin mengerjapkan mata merah kaburnya. Langit-langit putih tak dikenal. Empat dinding putih yang mengelilinginya, serta beberapa perangkat dengan monitor di sampingnya, mengeluarkan bunyi bip-bip elektronik keras secara berkala. Bau disinfektan kuat melayang-layang di udara.

Dia sedang berbaring di tempat tidur bersih dalam ruangan kecil, kabel monitor dan infus terhubung di badannya. Shin yang berada di kamp konsentrasi dari kecil dan hampir tak pernah menerima perawatan medis dalam hidupnya, tidak bisa menghubungkan situasi ini dengan ruangan dalam rumah sakit.

Sensasi membakar terasa di belakang hidungnya, mendesaknya menyembunyikan mata dengan tangan kiri, karena takut seseorang melihat ekspresinya. Emosi yang menghanyutkan dirinya adalah campuran kelegaan mendalam dan perasaan kehilangan yang sama besarnya. Fragmen-fragmen kenangan itu berkobar, mengisi bidang penglihatannya.

Akhirnya. Dia teringat. Bahwa sejatinya, dia tidak pernah ingin kehilangan kakaknya.

 Di pembuluh darahnya, ada semacam sensor yang melekat di tangan kiri, memicu alarm. Namun alarm-nya tak punya efek apa-apa, hanya mengartikan bahwa pasien yang diawasi sudah bangun.

Dinding di seberang tempat tidur kehilangan warna putihnya, menjadi transparan, kemudian dari sisi lain, seorang pria paruh baya mengenakan setelan jas mengintip ke dalam ruangan. Dia memakai kacamata berbingkai perak dan rambutnya hitam beruban. Pria berpakaian hitam legam ini punya aura orang terpelajar.

Seorang perawat muncul di belakangnya, mengawasi dari dinding transparan yang rupanya adalah pintu penghubung ruangannya dengan koridor yang kelihatan sama organik.

Dia bisa melihat pintu yang sama di seberangnya dan di kedua sisi koridor, lantas Shin berasumsi ada deretan ruangan di sini.

“… aku lihat kau sudah sadar.”

Pria yang berbicara lembut itu mengingatkan Shin akan seseorang yang telah dilupakannya. Shin ingin menanyai sesuatu, apa pun yang membuatnya paham situasi terkini, tetapi suaranya tidak keluar. Diserang rasa sakit seketika, Shin mengerang dan perawat itu mengerutkan alis.

“Baginda. Dia baru saja sadar dan masih mengalami demam sebab efek samping operasi. Mohon jangan—”

“Aku sadar betul. Aku semata-mata ingin bercakap-cakap dengannya.”

Menenangkan si perawat dengan senyum tenang, pria itu menyentuh pintu. Tangan tentara, samar-samar pikir Shin. Telapak tangan keras dan tebal seorang pria yang terbiasa memegang senjata. Cincin perak di jari keempat anehnya meninggalkan kesan di ingatan Shin.

“Selamat siang, nak …. Sebagai permulaan, maukah kau memberi tahu namamu?”

Normalnya, menjawab pertanyaan itu hanya perlu dipikir sedikit, namun Shin butuh waktu lama untuk mengeluarkannya dari ingatannya. Benaknya campur aduk. Dia tidak paham benar situasinya karena efek anestesi.

Bagian-bagian ingatannya berkelebat dalam pikiran—pernah sekali sebelumnya, orang lain menanyakannya pertanyaan itu. Dia menuturkan jawabannya kala itu, ilusi rambut panjang berwarna perak seseorang yang belum pernah dia lihat sebelumnya menyapu bagian belakang kelopak matanya.

“Shinei … Nouzen.”

Pria itu mengangguk sekali.

“Aku Ernst Zimmerman, presiden sementara Republik Federal Giad.”

Hari itu, program berita yang disetujui pemerintahan Federasi menginformasikan publik bahwa di tengah patroli, militer Federasi front barat telah menemukan dan menyelamatkan lima tentara muda yang diduga dari negara lain.

Pasukan garis depan Federasi telah menghancurkan satu Dinosauria yang diduga dikerahkan dalam perburuan kepala, kemudian mendapati Dinosauria membawa mereka berlima.

Berdasarkan seragam lapangan yang mereka kenakan serta sistem operasi Feldreß tak dikenal, diduga mereka adalah prajurit dari Republik San Magnolia, tetangga barat mereka.

Warga negara Federasi penuh kegembiraan. Pada akhirnya, mereka memiliki bukti kuat bahwasanya mereka bukanlah satu-satunya negeri yang masih bertahan. Mereka tak sendirian. Di saat yang sama pula, mereka merisaukan keselamatan negara tetangga. Mereka tidak salah lagi pastinya sangat putus asa sampai harus mengirim anak-anak ke medan perang.

Namun sewaktu anak-anak itu ditanyai dan isi wawancara mereka dirilis ke publik, mengungkap alasan mereka dari awal hadir di medan perang, risau itu berubah marah. Akan tetapi, meresahkan kesejahteraan anak-anak tetaplah titik pusat mata publik.

Anak-anak itu yang dipersekusi tanah air mereka, namun masih berjuang, melarikan diri, dan sampai di sini. Satu-satunya hal layak adalah mereka diperkenankan hidup damai dan bahagia di Federasi.

“—itu menyimpulkan bagaimana kau dalam lindungan pasukan kami, tapi apakah kau ingat kejadian yang mengarah sampai kami menemukanmu?”

Setelah diajukan pertanyaan itu dan mesti memberikan jawabannya, alhasil pikiran mengabur Shin perlahan-lahan menjernih. Mengingat kejadian sebelum dirinya tak sadarkan diri, Shin mendadak melihat sekeliling, tatapannya mondar-mandir ke kiri-kanan.

Menyadari Shin mulai intens, Ernst tertawa.

“Ah, maaf, maaf. Kau tetidur, jadi tidak mungkin mengkomunikasikan ini padamu, tapi …. Ya, itu benar. Kau bakal cemas, kan …? Sebentar.”

Dia berbalik dan mengatakan sesuatu ke si perawat. Dinding di sebelah kiri dan kanan kehilangan warnanya, menjadi transparan dan menampakkan ruangan-ruangan buatan persis sama yang saling berdekatan. Di empat ruangan samping terdapat teman-temannya. Raiden duduk di ruangan sebelah, mata leganya menatap sebelum meringis.

“Kau tidur tiga hari penuh, tolol.”

Suaranya kedengaran dari pengeras suara di langit-langit. Shin bertanya-tanya tentang Para-RAID dan kemudian dia tersadar. Para-RAID tidak aktif. Bagian belakang lehernya, tempat kristal kuasi saraf tertanam, terasa menyengat sakit samar. Manset telinga yang tidak dapat dilepas Prosesor dengan sendirinya juga hilang.

“… kenapa?”

Pertanyaan tanpa subjek atau predikat, namun semua orang kelihatannya mengerti maksudnya. Raiden mengangkat bahu.

“Entah. Kami juga terkurung di ruangan-ruangan ini pas sadar. Mereka bilang Dinosauria menangkap kita, tapi … aku tidak ingat pernah melihat ada Dinosauria.”

Shin mengingat mimpinya. Kakaknya yang merasuki Dinosauria itu, tapi … Shin tidak bisa merasakan kehadirannya lagi. Entah kenapa pula dia tahu Rei sungguh-sungguh hilang. Tapi dia tidak ingin mengatakannya, lantas dia cuma menggeleng kepala, membangkitkan sensasi vertigo kuat. Theo mengerutkan kening khawatir, menyadari bagaimana Shin memejamkan matanya, melawan rasa sakit.

“Jangan paksakan dirimu kalau masih merasa tidak enak badan. Kau sedang di ruang perawatan intensif sampai kemarin. Mereka bilang kau perlu kedamaian total dan ketenangan untuk sementara waktu …. Kasihan Kurena nangis dari kemarin.”

“Tidak kok!”

Semua orang mengabaikan tangisan keras Kurena, sekalipun gampang melihat matanya yang masih merah. Anju yang duduk di ruangan paling jauh tersenyum lembut padanya bagai bunga pucat mekar penuh. Shin mengalihkan pandangan darinya, tersadar begitulah rupa wajahnya ketika sedang sangat marah.

“Shin? Aku tahu ini kecepetan, tapi saat kau merasa lebih baik, nantikan tamparan keras, oke?”

“Ya, kami semua mesti berbaris dan memukulmu. Kek, wah, jika kau sampai melakukan itu lagi, sumpah, aku bakal menghajarmu.”

Mendengar Theo mengatakannya tanpa ragu-ragu, Shin memberengut.

“… aku tak bermaksud mati.”

“Jangan buat aku marah. Biarpun kau tidak berniat mati, kau tahu peluang dirimu terbunuh sangat tinggi kalau sampai pergi. Dan kau tetap saja pergi.”

Menjadi umpan untuk Legion dalam keadaan seperti itu harusnya sama saja bunuh diri, apalagi mempertimbangkan kerusakan besar Juggernaut serta kurangnya amunisi.

“Kami semua pernah suatu saat dan setelahnya memperhitungkan untuk melakukannya. Persis sebab itulah kami tidak bisa memaafkan perbuatanmu. Kami mengerti. Kau tahu mereka di mana dan bereaksi mengikutinya, tapi bukan berarti kau dapat membuat keputusan sendiri. Tidak adil …. Jangan, pernah melakukannya lagi.”

“Kami sangat mencemaskanmu.” kata Kurena dengan mata berair lagi. Kepalanya dipercayakan ke bantal, Shin menutup mata.

“—maaf.”

Ernst yang menutup mulut sembari menyaksikan percakapan mereka, berbicara sambil tersenyum.

“Barangkali rasanya kami menahanmu, tapi kami mesti mengambil langkah-langkah ini untuk mencegah kemungkinan bahaya hayati4. Santai, kami takkan memperlakukan kalian dengan buruk. Lagipula, kalianlah tamu-tamu pertama kami dari luar negeri sejak negara didirikan.

“—selamat datang di Republik Federal Giad!”

Ernst merentangkan tangan dengan tingkah bercanda, kemudian disambut tatapan dingin yang tak menerimanya. Dia mengangkat bahu, seakan tak terlalu menghiraukan.

“Ya, intinya begitu. Sepertinya di sini tidak ada yang tahu tepatnya apa yang terjadi di luar sana, namun apabila kalian ingat sesuatu, beri tahu kami.”

Mengangkat alis, Theo mengangkat tangan, dia tampak siap mengatakan sesuatu, tetapi Ernst hanya balas tersenyum.

“Manfaatkan waktu kalian untuk mengingatnya sementara waktu ini. Aku yakin terlalu lama bicara sulit bagi kalian sekarang …. Dan wanita menakutkan ini kelihatannya siap menggigit kepalaku.”

Si perawat yang berdiri di belakang dan memancarkan aura intimidasi bisu, memelototi Ernst.

Sebagaimana perkataan presiden, terjaga lama-lama terlalu memberatkan tubuh terluka Shin, kemudian dia segera tertidur setelah Ernst pergi. Melihat Shin tidur tanpa banyak ngomong membuat Kurena menangis lagi, lalu Anju mulai menghiburnya. Theo pun menggodanya juga—cara hiburnya. Ketika dia terbangun tiga hari kemudian dan mendapati Shin tak bersama mereka, dia menangis sedih dan terus menangis sejak saat itu. Wajarlah, pikir Raiden selagi dia duduk di tempat tidur dalam sel penjara berbentuk ruangan.

Jika seseorang mengabaikan fakta mereka tengah dipenjara, mereka tak diperlakukan buruk. Mereka makan tiga hari sekali—makanan layak pula—ruangan dan tempat tidurnya higenis berlebihan. Pertanyaan mereka pun sangat masuk akal. Mereka merawat luka-lukanya, bahkan kondisi Shin yang terlampau parah sampai-sampai perlu operasi darurat. Jikalau ini Republik, Shin akan dibiarkan mati.

Namun bukan berarti orang-orang di sini bisa dipercaya.

Tanah air memperlakukan mereka bak babi berwujud manusia, lantas mereka lebih tahu dari sekadar mempercayai sesamanya. Mereka tak sepolos itu sampai-sampai yakin tempat ini akan menawarkan bantuan tanpa syarat dan perlindungan hanya karena mereka sukses ke sini. Mereka akan tetap di sini, selayaknya ikan sarden yang dijejalkan ke kaleng, begitu mereka menyerahkan semua informasi berguna … akankah mereka dibuang?

Pokoknya, di masa depan mendatang mereka takkan ke mana-mana. Shin masih memerlukan bantuan medis yang mereka tawarkan. Apalagi, tempat ini buruk untuk akhir kisah mereka. Pikir Raiden, mendesau berat selagi melihat langit-langit ruangannya yang tanpa jendela. Dia merindukan langit.

Konsensus publik Federasi adalah rasa kasihan terhadap anak-anak, tetapi mereka yang memimpin kesejahteraan negara tidak boleh memutuskan sesuatu berdasarkan simpati dan kasih sayang.

Memasuki Ruangan Rumah Sakit sesudah keluar dari Ruang Penampungan berdekatan, Ernst berjalan ke ruang pemeriksaan yang berfungsi sebagai ruang konferensi mendadak.

“Bagaimana hasil analisisnya?”

Ruang Penampungan yang terisolasi untuk langkah-langkah pencegahan bahaya hayati, dibangun dengan fungsi ganda sebagai penjara dan memiliki kamera pengintai serta monitor di setiap ruangannya. Layar holo menampilkan data terpadu dan hasil analisisnya, salah satu departemen intelijen menjawab pertanyaan Ernst.

“Perihal mereka mata-mata Republik San Magnolia atau negara lain, saya rasa aman mengatakan mereka bersih.”

Anak-anak itu bersiaga, tetapi siaganya bukan siaga dari pelatihan. Contohnya, analisisnya mampu menduga kekuatan hubungan dalam kelompok dengan memerhatikan frekuensi basa-basi mereka dan seberapa sering menyebut nama satu sama lain atau sebanyak apa perhatian yang diberikan. Nampaknya anak-anak tak menyadari dengan cara itu mereka dianalisis.

        Andaikan mereka dilatih untuk menipu tindakan elektronik, tak ada gunanya mengirim mata-mata semahir itu ke wilayah Legion. Republik dan Federasi bahkan dari awal tak tahu keselamatan satu sama lain, karena gangguan elektronik Eintagsfliege.

“Mereka agak terlalu waspada, tapi setahu saya, itu wajar mengingat perlakuan yang mereka alami. Salah satu anak, Raiden—nampaknya dia wakil pemimpin mereka—dia sangat gelisah, tapi itu bisa dimengerti melihat kondisi pemimpin mereka. Bagaimanapun kita benar-benar menahan mereka.”

Khususnya bukan niat mereka melakukan itu, karena anak-anak menerima pertanyaan mereka, tidak perlu pula melakukannya. Tetapi kerja sama mereka bukan dari kepercayaan, tetapi lebih seperti mereka tak ingin lebih gencar diinterogasi sampai menolaknya. Lagipula, Republik sepertinya bukan tempat yang ingin mereka lindungi sampai bersedia menyerahkan nyawanya.

“Satu hal lagi. Apa ada kemungkinan mereka itu Legion tipe baru atau diinfeksi sejenis senjata biologis?”

“Kita akan dapat jawaban pasti setelah mendapatkan semua hasil tesnya, tapi dari yang kita miliki sejauh ini, hubungannya dengan ujian medis awal ketika kita membawa mereka, masih belum mendeteksi adanya kelainan. Tetapi anggota Legion tidak menggunakan senjata biologis atau perangkat yang meniru manusia, kan?”

Legion tak memproduksi atau menggunakan senjata biologis apa pun—yaitu, senjata yang mengandung virus atau bakteri—atau senjata yang meniru kehidupan organik. Sepertinya mereka dilarang kearas melakukannya. Masuk akal bila jenis Legion yang dibuat Kekaisaran adalah untuk menjadi senjata dominasi alih-alih pemusnahan.

Karena alasan ini, melarang mereka menggunakan senjata biologis yang membahayakan teman juga musuh, atau senjata humanoid yang sulit dibedakan dari warga sipil biasa, hukumnya haram. Inilah alasan mengapa ranjau swagerak itu—terlepas humanoid—sosoknya sungguh disamarkan.

Catatan tambahan, definisi Legion mengenai senjata biologis terlalu jauh, bahkan orang tak terdaftar yang sedang memegang pisau sudah termasuk. Anekdot alasan pasukan lama Kekaisaran tak pernah mengirim manusia ke medan perang yang sama dengan Legion.

 Selain itu, sistem kontrol Legion adalah algoritma taktis/strategi mereka, teramat-amat dienkripsi dan saat dikalahkan dalam pertempuran, mereka diatur untuk membakar mekanisme internalnya, membuat mereka tak bisa diuraikan. Semenjak mereka mulai mengasimilasi jaringan saraf prajurit mati untuk mengatasi pemrograman rentang hidup mereka, Federasi telah sungguh-sungguh berhati-hati.

“Satu-satunya barang yang muncul di pemindaian adalah perangkat organik yang menurut mereka, adalah semacam alat telekomunikasi. Ada beberapa keluarga Pyrope yang mempunyai kemampuan telepati langka di kerabat sedarah mereka. Perangkat artifisial ini mensimulasikan fenomena tersebut.”

“Itu terobosan teknologi.”

“Ya. Dalam hal ini, testimoni mereka dan data wilayah Legion dari rekaman misi mereka, menurut saya kita sudah cukup mendapatkan informasi dari mereka, walau ternyata mereka mata-mata.”

Gangguan Eintagsfliege konstan di semua garis depan Federasi, menjadikan komunikasi nirkabel mustahil.

“Mengenai mesin yang kita temukan—Saya yakin namanya Juggernaut—selain spesifikasinya, catatan perangnya sangatlah berharga. Saya yakin bocah yang memimpin mereka adalah pilotnya? Ketika dia pulih, saya ingin berbincang dengannya.”

“Aduh-aduh. Lembaga riset-teknis sudah menaruh investasi besar kepada pendatang baru kita. Rencanaku menjadikan mereka semua sebagai Operator penguji, maaf kami tidak berniat menyerahkannya kepadamu. Pengalaman manuver tingkat tinggi para prajurit itu di pertempuran-pertempuran kecil ini, juga data pertempuran mereka harus mengarah ke purwaripa baruku. Bakat mereka akan terbuang sia-sia di rongsokan logam yang kau sebut Vánagandrs.”

“Kau bilang apa, wanita laba-laba?”

“Mohon maaf, drone kumbang?”

“Jika kau ingin berbicara dengan mereka, boleh bicara nanti, tentu saja atas persetujuan mereka. Namun persoalan mereka dijadikan Operator tentunya takkan mungkin. Kita akan menjadi lebih baik dari Republik.”

Peringatan jelas akan musuh bersama, para perwira yang bertengkar itu terdiam.

“Usaha patut dihargai, mereka pantas mendapatkan kedamaian atas pertarungan terpaksa. Sekiranya tanah air mereka takkan memberikan kedamaian, maka Federasi akan memberikan kedamaian itu, Federasi akan adil, karena inilah idealisme umat manusia yang harus diwujudkan.”

Salah seorang perwira militer di sisi barat ruangan membuka mulut bicara.

“… menyingkirkan mereka akan lebih aman untuk Federasi.”

“Letnan Jenderal, aku yakin pembahasan itu sudah kita tinggalkan. Seingatku, kau pun setuju untuk melindungi mereka.”

“Memang. Tetapi sebagaimana Anda yang menganggap mutlak keadilan, prioritas pertama militer adalah kesejahteraan bangsa, Baginda. Saya sepenuhnya bermaksud melaksanakan tugas saya dan mengawasi masa-masa isolasi serta pemeriksaan prajurit-prajurit muda ini.”

“Bagus sekali. Tapi para prajurit yang kau selamatkan sudah diisolasi juga, kan?”

Selalu ada kemungkinan mereka adalah pembawa asimptomatik5. Selain itu …

Ernst tersenyum lelah.

“Dari awal … kita sudah sibuk penuh dengan Legion sampai-sampai bahkan belum memutuskan prosedur imigrasi mereka.”

Saat ini, orang-orang yang berkepentingan tengah bekerja menulis Undang-Undang yang berkenaan dan menyusun dokumen penting.

“Maka dari itu, kalian berlima mulai hari ini adalah warga negara Federasi.”

“… pertama kali datang setelah satu bulan berlalu, hal pertama yang kau katakan adalah, Maka dari itu?”

Terisolasi dalam ruangan piring-piring akrilik, Raiden berbicara sinis. Bukan karena kehati-hatian, kelompok ini awalnya terlihat tidak suka ke Federasi.

 Siapa pula yang bisa menyalahkan mereka? Pikir Ernst, senyumnya tak berubah sedikit pun. Anak-anak ini punya banyak sekali energi dan tidak berkesempatan menggunakannya. Mereka dikurung di ruangan-ruangan ini selama satu bulan, mereka perlahan-lahan mulai muak dengan ujian dan pertanyaan berulang-ulang. Mereka alamiahnya bosan dan frustasi. Sebaliknya, sekilas melihat pribadi muda yang sesuai usia mereka sungguh menggembirakan.

“Sementara waktu ini, aku akan menjadi wali sahmu. Laungkan waktu untuk beristrirahat dan lihat apa yang ditawarkan negeri ini, lalu setelahnya pertimbangkan masa depanmu.”

Masa depan mereka.

Mereka diberi tahu tentang pembebasan sebelumnya dan ditanya apakah punya keinginan khusus untuk masa depan mereka. Ernst sudah membaca laporan tanggapan mereka; mereka semua meminta mendaftar di militer.

Mungkin orang yang menanyakannya belum menjelaskan dengan benar. Barangkali mereka salah paham …. Ataukah perang hanyalah satu-satunya hal yang mereka ketahui, dan mereka tidak mempertimbangkan hal lain. Para perawat, dokter, dan penasihat mengirimkan laporan serupa.

Kelima anak itu setuju bahwa terkurung di ruangan membuat mereka merasa terjebak dan cemas. Kaku bosan. Tetapi lebih parahnya, situasi perang dan pergerakan Legion kelihatannya menarik bagi mereka. Ibaratnya merasa tak sabaran karena mereka tidak berada di tempat sepatutnya.

Mereka akhirnya lolos dari cengkeraman Republik, akhirnya lolos dari medan perang …. Tetapi Ernst tersadar, sedihnya, pertempuran priibadi mereka jauh dari kata selesai.

Theo nyengir.

“Yakin mau ngasih kami kebebasan sebanyak itu? Bukannya lebih baik kalau menyingkirkan kami saja? Kami cuma sejumlah anak dari negara musuh yang kau pungut di wilayah musuh.”

“Kau ingin kami membunuh kalian?”

Pertanyaan Ernst yang dituturkan dengan senyum sama menyenangkannya telah membungkam Theo. Dia tahu mereka tak mau mati. Tetapi dunia dalam perang adalah satu-satunya dunia yang mereka kenal, dan pengalaman mereka di dunia tua itu adalah referensi untuk dunia baru ini.

Mereka tidak bisa disalahkan. Shin dengan tenang membuka bibir. Ernst lega semua luka-lukanya sembuh dalam waktu satu bulan.

“Kau dapat apa dari menyelamatkan kami?”

“Apabila kami adalah jenis masyarakat yang perlu memikirkan untung-rugi saat dihadapkan pilihan menyelamatkan anak-anak atau meninggalkan mereka, kami akan kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga. Saling membantu adalah pola pikir mendasar untuk mempertahankan sebuah komunitas …. Di samping itu …”

Ernst tersenyum edikit. Senyum dingin, kejam, cukup mengerikan hingga membuat anak-anak yang sudah melihat neraka bumi ini, terdiam.

“… misalkan kami mesti membunuh anak-anak karena tidak mengenal mereka …. Sebab satu dari sejuta kemungkinan mereka adalah ancaman …. Seumpama umat manusia harus melakukan itu untuk bertahan hidup, maka kita layak disapu bersih.”

Pintu ruangan karantina bergeser terbuka, dan anak-anak diminta untuk mengganti pakaian rumah sakit kemudian keluar. Alamiahnya, mereka tidak punya pakaian sendiri, jadi diberikan seragam militer Federasi.

Bahkan sekarang, anak-anak tetap waspada terhadap Federasi dan kata-kata manisnya. Apa mereka akan dibawa ke tempat lain, seperti laboratorium atau penjara? Bila memang demikian, mereka lebih baik kabur dan ditembak di belakang daripada menyerahkan diri ke alat pancung.

Ernst tahu ini dan berusaha menyembunyikan fakta mereka sedang mencari kesempatan melarikan diri. Tetapi di saat yang sama, dia memerintahkan para penjaga untuk tetap was-was. Mereka tak berniat menembak anak-anak kalau mereka kabur, tapi terluka saat ditahan bakal jadi masalah.

Mereka kelihatannya tidak mencurigai apa-apa sampai masuk ke pesawat transportasi, dan pesawatnya mendekati daerah perkotaan. Pesawatnya mendarat di sebuah pangkalan militer ibu kota, dari sana mereka naik kendaraan sipil yang membawa ke kota. Sewaktu itulah keraguan berubah menjadi bingung.

Kendaraannya meninggalkan gerbang pangkalan selanjutnya melaju di sepanjang jalan utama ibu kota Federasi, Sankt Jeder.

“… ah.”

Mata Kurena tertuju ke jendela dan napas kecil menyesap keluar dari bibirnya. Anju dan Theo pun takjub. Shin dan Raiden tidak menunjukkan kesan mereka, tetapi mereka kesulitan melihat ke mana-mana kecuali jendela selagi duduk diam, menahan napas.

Mereka melihat banyak orang. Banyak, banyak sekali orang datang dan pergi. Orang-orang yang sewarna dengan mereka dan kadang-kadang berbeda juga. Gadis muda berjalan di jalanan, memegang tangan orang tuanya. Pasangan tua duduk di teras kafe. Sekelompok pelajar tertawa dalam perjalanan pulang dari sekolah. Pasangan muda bertanya ke pegawai toko bunga.

Mata mereka melebar nostalgik, sakit, dan terasing. Pertama kalinya dalam sembilan tahun sepi ini, mereka melihat wajah damai dunia dengan mengejutkan.

“Kau berhasil sampai sejauh ini, wahai orang buangan menyedihkan.”

Mobil mereka berhenti di depan rumah kecil di sudut area perumahan tenang. Rumah ini adalah kediaman pribadi Ernst, sekalipun biasanya dia tinggal di kediaman resmi presiden.

Selain itu, begitu mereka masuk ke aula, mereka mendapatkan sambutan mendadak. Ernst mendekap kepalanya merasa jengkel sedangkan anak-anak membeku kebingungan. Kata-kata sangat percaya diri yang hampir terdengar mengejek itu dicuapkan seorang gadis muda bersuara tinggi dan melengking.

Gadis mata hitam dan rambut merah berumur sekitar sepuluh tahunan berdiri di atas platform kecil yang dia buat dari barang-barang entah berantah. Dia memasang pose memerintah, menyilangkan tangan dengan tingkah sombong, dagunya terangkat tinggi.

“Giad agung menyambut orang-orang tak berdaya dengan belas kasih dan kemurahan hati. Kami tidak berharap orang-orang berkedudukan rendah tuk membalas kebaikan ini, maka kalian diperkenankan menerima simpati dan berbahagialah.”

Selanjutnya dia langsung menujuk Shin. Apakah penglihatannya setajam itu sampai-sampai melihat keseimbangan kelompok secepat ini? Atau barnagkali—

“Kau bedebah mata merah! Mengapa kau membelakangiku?!”

“… aku cuma bertanya-tanya ada orang lain yang mengikuti kami atau tidak.”

Suara Shin sangat singkat. Sebagaimana kejelasannya.

“Kau barusan menutup pintu! Kau anggap aku bodoh?!”

Shin tidak menjawab, artinya mungkin penegasan.

“… kurasa tidak bisa mengharapkan lebih dari rakyat jelata Republik …. Biarpun darah bangsawan mengalir di nadimu, kau masih—”

Omelannya tiba-tiba berhenti. Mata merah si gadis sepertinya melihat ke bagian lain.

“… lehermu …. Apa yang terjadi …?”

“…”

Napas Shin tercekat. Mata merah darah yang memandangi gadis itu seketika lebih dingin, situasi merinding dan canggung ini menyebabkan si gadis tersentak. Ernst mendesah dan berbicara. Sekarang ini, luka Shin tersembunyi di balik kerah seragamnya. Meski Ernst melihat bekas luka itu waktu Shin pertama kali tiba, dia tidak pernah menanyakan asal-usulnya.

“Hentikan itu, Frederica. Sudah aku beri tahu keadaan mereka …. Kau sendiri punya luka yang tidak ingin diintip orang lain, bukan?”

“… maafkan aku.”

Mengejutkannya si gadis menudukkan kepala menurut. Raiden yang terheran menoleh ke Ernst.

“Ini putrimu? … bukannya songong, tapi kau mungkin bisa lebih keras mendisiplinkan si kecil ini.”

“Ah, yah, dia bukan putriku.”

“Beraninya kau menanggapku anak orang yang pekerjaannya membosankan ini!”

Rupanya tersinggung, si gadis membusungkan dada. Dia kelihatannya gembira setelah situasi berbalik berpihak kepadanya lagi.

“Aku—”

“Frederica Rosenfort. Karena keadaan tertentu, dia di bawah asuhanku.”

Ernst mengabaikan tatapan Frederica.

“Sebagai catatan, aku mengatur dirinya berpura-pura menjadi putriku. Akan menghemat masalah penjelasan tak berguna di luar topik, tahu. Oh, dan kalian berdia teknisnya adalah anak-anak adopsiku juga. Bebas panggil aku Ayah kalau mau.”

Jeda penjang terjadi.

“… cuma bercanda. Tidak usah terlihat jijik begitu …”

Tuturnya bahkan membuat Shin melotot kasar.

“Yah, kembali ke pembahasan, sementara waktu ini kalian akan tinggal bersama dengannya. Frederica ini tidak tahu dunia luar, tapi aku akan senang jika kalian menganggapnya seorang adik atau mencoba bergaul dengannya.”

Bibir Frederica meringkuk menjadi senyum angkuh.

“Aku hewan peliharaan yang diberikan kepada kalian orang-orang menyedihkan untuk membersihkan rasa sakit akibat perang serta persekusi dari hatimu.”

Shin memicingkan mata, dan Frederica tersenyum, seakan melihat isi hatinya. Terlepas dari apakah dia menyimpan niat jahat atau tidak, senyumnya kelihatan menghina. Anehnya, di lapisan-lapisan ekspresi menipu itu Shin merasakan perasaan solidaritas.

“Bukan hanya aku, tapi semua hal yang dihadiakan pria ini itu sama. Perkebunan aman dan nyaman, pelayan keibuan, wali sebagai ayahmu, dan seorang adik perempuan manis—Keputusan Federasi adalah dengan penuh kasih memberikan pengganti keluarga, rumah, dan kebahagiaan yang dicuri darimu …. Sayangi aku, kakak-kakakku yang terkasih. Mari berteman satu sama lain, sebagai sesama korba—Uwaa?!”

 Frederica menjerit ketika Raiden mengulurkan tangan dan mengacak-acak liar rambutnya, Raiden anggap itu jabat tangan ramah. Menggapai-gapai untuk menampik tangannya, dia berlari ke belakang dan menempel ke pelayan ramping mata biru dan berambut emas yang berdiri di belakangnya.

“Teresaaaaaaaa! Mereka membulikuuuu!”

“Nah, nah, nona. Saya yakin ini sepenuhnya salah Anda.”

Tanpa ampun menebas rengekan Frederica, Teresa tersenyum layaknya seorang ratu es ke Shin dan kelompoknya.

“Aku yakin kalian semua lelah. Bagaimana kalau aku tuangkan kopi?”

Sesudah makan sedikit lebih awal, anak-anak pergi ke kamar masing-masing, lalu sesuai perkiraan, tertidur. Siapa pula yang bisa menyalahkan mereka? Pikir Ernst sambil menikmati secangkir kopi, sendirian di meja makan. Kota nyaman nan damai, serta rumah tempat mereka bersantai adalah konsep yang telah terlalu lama dikesampingkan, Bagi mereka, perubahan lingkungan seperti ini serasa seolah-olah mereka telah datang di dunia yang sepenuhnya baru. Tentu saja mereka keletihan.

Frederica berjalan ke ruangan, cemberut dan kelakuannya tak puas.

“Mereka semua tertidur. Niatnya mau mendengar cerita mereka tentang Republik. Sungguh hambar malam ini …”

Tetapi setumpuk kartu di tangannya menandakan dirinya hanya ingin bermain didalihkan mendengar cerita.

“Haruskan aku menuangkan susu untukmu, mantan Baginda?”

“Bego. Aku tak ingat pernah melepas gelarku. Apa pula susu ini? Jangan anggap aku anak kecil.”

“Anak-anak semestinya tidak boleh minum kopi sebelum tidur.”

Terlepas dari itu, Teresa—yang selesai membuat persiapan tuk esok pagi—berjalan masuk membawa cangkir kopi. Satu buat Frederica dan satu buat dirinya sendiri.

“Terima kasih untuk makan malamnya, Teresa.”

“Tak usah dipikirkan, Tuan. Akan tetapi, anak-anak seumuran mereka tentunya punya selera makan sehat. Bagus rasanya ada orang yang menikmati makanan saya … sebagai perubahan.”

Tatapan Teresa ke Ernst menyiratkan nista yang dia rasa sebab konsisten tak hadir di rumah karena pekerjaan. Komplainnya tentang betapa malang nona muda Frederica dipaksa makan malam sendirian, masih segar di benaknya.

“Aku minta maaf …. Dan aku mungkin akan merepotkanmu di masa depan nanti.”

Anak-anak tak tahu apa-apa selain penganiayaan dan perang, kejahatan dan kematian. Terbiasa dengan kedamaian dan niat baik jauh lebih sulit ketimbang membiasakan sebaliknya.

“Hilangkah pemikiran itu, Pak. Bagaimanapun, melayani Anda merupakan tugas saya.”

“… karena ini kau anggap aku memuakkan?”

Dia menatap raut wajah Teresa yang balas menatapnya. Gambaran seorang wanita yang Ernst cintai lebih dari apa pun, namun hatinya sendiri tidak bergerak sedikit pun saat memandangnya.

“Barangkali kau terka ini tindakan kompensasi bodoh atas namaku … bahwa aku menggunakan mereka sebagai pengganti?”

“—tidak, Tuan.”

Bertentangan dengan penolakannya, suara Teresa dingin. Wajahnya persis pas seperti ratu es, betul-betul membeku. Teresa bilang itulah satu-satunya sikap yang bisa dia tampilkan di hadapan Ernst, Ernst pun tidak bisa mengubahnya. Dia tidak dapat mengelilingi dirinya dengan ilusi selamanya.

“Seseorang takkan pernah bisa digantikan. Setiapnya punya eksistensi unik.”

Frederica dengan jelas berkata:

“Biar begitu, ada orang yang mau menerima ilusi. Tidak peduli rupa yang mereka dapatkan.”

Ernst membawa cangkir kopinya ke mulut.

“Dan untuk siapa kata-kata itu diujar, Maharani?

“Itu …”

Memutus kalimatnya, Frederica terdiam. Menatap cangkir kopinya, memperhatikan riak cair gelap seolah-olah mencerminkan hatinya sendiri, dia mengerutkan bibir.

Dia kaget tatkala melihat fotonya dan bahkan lebih kaget sewaktu bertemu dengannya secara langsung. Umurnya berbeda. Sebagian darah yang mengalir di nadinya berbeda. Warna matanya—sebagian besar rona serta intensitas ekspresinya—berbeda. Lantas kenapa …?

… kenapa mereka begitu sama?

Mereka orang berbeda …. Tetapi caranya menolak dipenjara dalam sangkar perdamaian, sifat mereka hampir bersilangan.

“… Kiri …”

Catatan Kaki:

  1. Acer /ˈeɪsər/ adalah sebuah genus dari pohon atau semak yang umumnya dikenal sebagai maple. Terdapat sekitar 128 spesies, kebanyakan berasal dari Asia, dengan beberapa juga ada di Eropa, Afrika utara, dan Amerika Utara. Hanya satu spesies, Acer laurinum, yang ada di Hemisfer Selatan. Spesies khas dari genus tersebut adalah maple sikamor, Acer pseudoplatanus, spesies maple paling umum di Eropa. Di Indonesia, tumbuhan ini hanya ditemukan di sebagian kecil Sumatra dan Jawa. Biasanya ditemukan tumbuh liar di lahan kosong, hutan, atau gunung. Getah xilem daun maple diambil sebagai bahan baku pembuatan sirup maple yang digunakan untuk bahan pelengkap roti dan kue.
  2. Giroskop adalah perangkat untuk mengukur atau mempertahankan orientasi, yang berlandaskan pada prinsip-prinsip momentum sudut.[1] Secara mekanis, giroskop berbentuk seperti sebuah roda berputar atau cakram di mana poros bebas untuk mengambil setiap orientasi. Meskipun orientasi ini tidak tetap, perubahannya dalam menanggapi torsi eksternal jauh lebih sedikit dan berlangsung dalam arah yang berbeda jika dibandingkan dengan tanpa momentum sudut, yang berkaitan dengan tingginya tingkat putaran dan inersia momen. Orientasi perangkat tetap sama, terlepas dari gerak platform pemasangan, karena pemasangan perangkat pada sebuah gimbal akan meminimalkan torsi eksternal.
  3. Logam berat berwarna kelabu kehitam-hitamanan, keras, dan getas; wolfram; unsur dengan nomor atom 74, berlambang W, dan bobot atom 183,85.
  4. Bahaya hayati atau bahaya biologis (bahasa Inggris: biohazard) dapat merujuk pada organisme maupun bahan-bahan yang berasal dari organisme yang dapat membahayakan (utamanya) kesehatan manusia. Ia dapat berupa limbah medis ataupun sampel mikroorganisme, virus, dan racun (yang berasal dari sumber biologis) yang dapat memengaruhi kesehatan manusia. Ia juga dapat meliputi bahan-bahan yang berbahaya terhadap hewan. Istilah bahaya hayati dan simbol bahaya hayati umumnya digunakan sebagai tanda peringatan.
  5. Pada ilmu kedokteran, penyakit asimtomatik adalah suatu penyakit yang sudah positif diderita oleh seseorang, tetapi tidak memberikan gejala klinis apapun terhadap orang tersebut. Penyakit asimtomatik mungkin tidak akan ditemukan sampai seseorang melakukan tes medikal (sinar X, pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan lainnya). Beberapa penyakit tetap tidak diketahui gejalanya untuk waktu yang panjang, termasuk beberapa bentuk kanker.