Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 67

Posted on

Penyihir

CH 67.png

Penerjemah : DarkSoul

Tidak dapat dimengerti. Adalah satu-satunya ungkapan yang dapat dipikirkan Subaru ketika dia menyaksikan adegan itu terjadi di depan matanya.

Ram terkulai bersimbah darah, dan di atasnya, adalah tubuh Garfiel yang kepalanya sudah terpenggal. Berdiri di samping mayat-mayat itu, adalah orang yang membunuh mereka berdua dengan tangan kosongnya yaitu Roswaal, menyeka darah dengan keliman pakaiannya.

Setelah menyaksikan kejadian barusan, selama beberapa saat, Subaru tidak percaya bahwa Roswaallah yang melakukannya.

Roswaal L. Mathers adalah Wakil Penyihir Istana Kerajaan Lugnica, seseorang yang dapat mengendalikan sihir tingkat ekstrim sesuka hatinya, dan memiliki kekuatan tempur yang setara dengan satu kepungan pasukan, begitulah yang Subaru ketahui.

Dengar-dengar sih begitu. Dan hanya dari hal ini, Subaru tidak pernah membayangkan bahwa Roswaal bisa melancarkan kekuatan yang sangat kuat tanpa menggunakan sihirnya.

Penyihir itu lemah dalam pertempuran jarak dekat, gagasan yang buruk. Orang yang bertarung dengan tinjunya melawanku semuanya kedapatan hasil yang sama…….Jika kau ingin tahu apa yang terjadi pada orang berkepala bodoh itu, kau bisa melihatnya di sa~na”

Subaru tanpa sadar menarik nafasnya ketika Roswaal membaca pikirannya dengan sempurna. Selagi Roswaal mengelap noda-noda kecil darah di wajahnya dengan jarinya, dia menebalkan dandanan alis biru sambil tersenyum. —–Iblis, itulah gambaran dirinya.

“Apa, yang kau……”

“Mm~mm?” lantun Roswaal”

“Kenapa kau membunuh mereka………Membunuh Ram? Garfiel………Membunuh Garfiel memang………Perlu…tapi…” tanya Subaru.

“Jika kita bicara empat mata, Garfiel akan menggang~gu pembicaraan kita. Soal Ram, aku akui yang barusan kulakukan itu tidak bisa dimaafkan. Tapi aku tidak kuat-kuat amat sampai bisa melawan Garfiel secara lang~sung. Aku hanya bisa membunuhnya dengan membuatnya lengah”

Meskipun Membuatnya lengah berarti menusuk Ram bersamaan dengan Garfiel. Entah bagaimana, ketika Subaru mendengarkan penjelasan santai Roswaal tentang mengapa dia membunuh mereka, perasaan Subaru diselimuti amarah, tapi benaknya tetap tenang.

Jawaban yang konyol untuk situasi yang konyol. Dan jika Subaru dipermainkan oleh dirinya, menyerah pada tujuannya hanya akan memberikan Roswaal apa yang diinginkannya.

“………….”

“Hm~mm, itu tidak terdu~ga. Dan kupikir kau akan marah dengan apa yang kukatakan?”

“Yah, kemarahanku sudah padam dan aku kembali tenang……….Bukan berarti aku tidak marah. Kembali ke aku yang biasa. Yang biasa”

“Begitu~kah. Tingkah lakumu mengagumkan, Natsuki Subaru yang aku kenal akan marah besar sekarang, itu dirimu yang biasa. Benar begitu~, Natsuki Subaru-kun?”

Mata kuning Roswaal menatap Subaru.

Orang sering melihat Roswaal menutup salah satu matanya dan membelalakkan mata kuningnya yang berkilauan ke lawan bicaranya, seperti sekarang.

Dan semakin Subaru mendapati dirinya terbayang dalam mata berkilauan kuning itu, semakin merasa tidak enak dirinya.

“Aku sadar betapa bodohnya diriku, tapi bukannya aku tidak tumbuh dewasa. Ini bukanlah situasi yang bisa diselesaikan dengan salah-salahan, paling tidak hanya itulah yang aku tahu……” kata Subaru.

“Bukan~bukan, bukan itu yang aku mak~sud, Subaru-kun. Subaru-kun, Natsuki Subaru ku~n”

Roswaal mengusap tangan kirinya yang tidak berlumuran darah dengan rambut biru lautnya saat dia memicu Subaru dengan memanggil-manggil namanya.

Namanya dipanggil dengan intonasi yang menjijikkan, membuat perasaan yang tidak dapat dijelaskan di dadanya, Subaru tidak mundur. Malah, dia melangkah maju, memelototi wajah si badut itu.

“Kau mau ngomong apa?”

“Yang coba aku katakan adalah…jika itu yang kau tanyakan, maka inilah jawabanku, —Selamat, dan selamat datang. Aku sudah menunggumu. Menunggumu berdiri di hadapanku” jawab Roswaal.

Subaru merinding seolah-olah ada yang merayap di tulang punggungnya.

Di hadapannya, sesuai dengan ucapannya, Roswaal memperhatikan Subaru dengan ekspresi gembira. Tingkah itu, kegembiraan itu, semua itu membuat Subaru merasa muak.

Roswaal sama sekali tidak menyiratkan maksud sarkasme, tapi sangat-sangat gembira pada Subaru. Satu-satunya masalah adalah kegembiraan yang tak bisa dijelaskan lalu kata-kata membingungkannya.

“Kau sudah menungguku…untuk berdiri di sini?” Subaru bingung.

“Tidak di tempat dan ruangan khusus ini. Penafsi~rannya malah jadi sama per~sis. Aku yakin kau mengerti itu apa bukan yang aku maksud. Lagi pula, kaulah satu-satunya orang yang memahami~nya”

“Akulah satu-satunya orang…yang memahaminya?”

Sedikit demi sedikit, seakan-akan bagian teka-teki mulai tersusun. Perlahan tapi pasti, meskipun Subaru ragu-ragu menyusun bagiannya, bagian terakhir mulai mewujud.

Saat Subaru mengerti maksudnya, Tidak mungkin, pemikiran itu terbesit di kepalanya.

“Apa kau menger~ti, Subaru-kun? Alasannya, ketika kau menyaksikan kematian kedua orang itu di depan matamu, kau sangat tenang dan mengendalikan dirimu agar tidak marah besar kan?…….Faktanya, aku yakin kau ta~hu alasannya”

“————” Subaru terdiam.

“Kematian mereka tidak terlalu memukulmu. Kau terkejut melihat mereka mati. Malah mungkin ada semacam kemara~han. Tapi, kau tidak sedih sedikit pun. Dan itulah sebabnya kau tidak bisa marah padaku, atau menghantam~ku dengan tinjumu”

Mendengarkan Roswaal yang membaca pikiran Subaru layaknya sebuah buku, dia membuka mulutnya kemudian menutupnya lagi, tidak mengatakan sepatah kata pun.

“Kau tahu apa!?, kau pikir aku tidak peduli dengan kematian mereka!?, bagaimana bisa kau membunuh Ram dan Garfiel, dasar Monster!”

Di hati kecilnya, Subaru mengumpat..

Jujur, dorongan untuk membiarkan emosinya meledak telah tumbuh beberapa kali lipat dalam dirinya, perasaan itu memaksa Subaru untuk meneriakkannya, tapi semuanya menghilang dan memudar menjadi ketiadaan.

Subaru sangat berapi-api. Dia tersentak. Dia sedih, begitulah kondisinya sekarang.

Namun, Subaru tidak mampu menyanggah pernyataan Roswaal, karena—-

“—-Karena itu semua bisa dikembalikan. Bukankah itu yang ada di pikiran~mu?”

“Apa…yang kau”

Tenggorokannya tanpa sadar membeku, ada yang mencengkeram jantungnya.

Tanpa menggunakan kata kiasan apa pun, Subaru merasa ada ilusi yang melekat di jantungnya, goncangannya sangat hebat.

Mengangkat kepalanya, naluri Subaru melecutnya untuk melihat daerah sekitar, takut tangan hitam itu muncul berniat menghukum pelanggarannya. Inilah hukuman pertama Subaru sejak menolak Penyihir Kecemburuan. Kengerian apa yang akan dibawa Bayangan itu? Pemikiran itu mencekik jantungnya dengan rasa sakit yang rasanya sampai ingin menghancurkan dirinya.

Tapi…

“….Ia, tidak datang”

“Aku tidak tahu apa yang kau waspadai, tapi………Ah~ah, kuyakin ada hubungannya dengan kontrak~mu? Aku menger~ti. Itu menjelaskan perkataan dan tindak-tanduk khasmu. Aku mengerti kok”

“Mengerti……..Tidak, sebelum itu…!”

Melihat Roswaal memegang dagunya sambil mengangguk-angguk, wajah Subaru memucat dan bibirnya bergetar. Penjelasan Roswaal barusan sudah menghujam Subaru dalam-dalam. Semua perkataan itu menandakan bahwa dia telah——

“Kau…mengetahui diriku…!?”

“Selama tidak menyimpang dari apa yang sudah dituliskan, ya. —–Kau memiliki kekuatan untuk memulai kembali semuanya. Benar~begitu?”

Tanpa ragu, Rooswal mengaku dia mengetahui Return by Death.

Subaru Manahan nafasnya dan menyadari bahaya situasinya.

Kondisi sekarang persis sama saat di Benteng Mimpi Echidona.

Jika Subaru membiarkan Rooswaal membicarakan Return by Death seperti ini, malapetaka dimana Sanctuary dilalap oleh bayangan akan terulang kembali.

Bahkan, dia tidak akan terkejut jika sang Penyihir menyambarnya saat ini.

Menarik nafas ke perutnya lalu melepaskannya dengan desahan panjang, Subaru telah memastikan bahwa waktu belum berhenti.

Artinya, sang Penyihir tidak mencengkeram hatinya sebagai hukuman. Mengesampingkan kemungkinan yang tak ingin terjadi, mungkin juga yang paling aman.

Sementara kemungkinan lainnya—-

“—-Diam berarti mengakui bahwa itu benar, aku penasaran siapa yang mengata~kan itu”

Jalan pikirannya menghindari resiko tersebut, Subaru memaksa benaknya untuk berputar pada kecepatan yang luar biasa, tapi Roswaal yang tampak lelah menunggu, menginterupsi dengan kata-kata barusan.

Pengakuan ini pastinya berdampak besar bagi Roswaal. Melihat Subaru mengabaikannya tanpa mengucapkan satu patah kata pun, Roswaal mengerutkan alisnya, merasa tidak senang.

“Ya~h, jika kau tidak membantah~nya asumsi aneh ini mengartikan bahwa kau betul-betul ju~jur”

“——” Subaru sekali lagi terdiam.

“Oo~ho, baiklah kalau begitu. Ada satu hal yang ingin kukatakan, tapi mungkin akan berakibat buruk jika tidak kau pastikan sendiri. Karena itulah kau tidak bisa mengatakannya keras-keras, bu~kan?”

Menutup mulut Subaru dengan suku kata pertama, Roswaal terus berbicara sampai suaranya tiba-tiba menghilang.

Melihat Subaru menggigit bibirnya, Roswaal menatapnya dengan senyum memuakkan.

“Mungkin, jika kau memberitahu mereka, kau akan takut dengan anggapan setelahnya?”

“————-Gh”

“Itu wa~jar. Lagi pu~la, kekuatan untuk memutar kembali dunia adalah sesuatu yang luar biasa tapi juga mengeri~kan. Mengendalikan waktu adalah pucak dari puncaknya Sihir Kegelapan. Bahkan Beatrice pun, meski menghabiskan seluruh kekuatannya, hanya bisa menghentikan waktu. Tapi untuk memutarbalikkannya, itu adalah mimpi dari mim~pi”

Tidak bisa menyanggah satu hal pun saat mendengarkan Rooswal menakutinya, wajah Subaru menegang ketika dia tiba-tiba mendengar nama Beatrice.

Pisau Elsa yang menusuk punggungnya, ekspresi terakhir di wajahnya saat keberadaannya memudar, masih terngiang-ngiang di kepala Subaru.

“—Melihat reaksimu, seperti~nya Beatrice sudah memenuhi peran~nya…”

“Perannya…apa maksudmu…tapi, ya”

Ketika percakapannya berpindah dari Return by Death menjadi Beatrice, Subaru mengambil kesempatan itu untuk mengendalikan pikirannya yang tidak tenang dan memfokuskan perhatiannya, berniat menghancurkan ekspresi kalem Roswaal.

Apa pria ini mengetahui tangisan kesepian Beatrice?

“Kau tahu penderitaannya…kan? Terikat dengan Mansion, terbelenggu akan Perjanjian yang dibuat dengan kontrak kuno…membiarkan dirinya robek-robek, meringkuk di sudut, kau mengetahui semua itu bukan!?”

“Tentu sa~ja aku tahu. Beatrice dan aku sudah saling mengenal sejak waktu yang sangat-sangat lama. Malah sejak aku lahir sudah mengenalnya. Hatinya kesepian, aku mengeta~hui semua itu”

“Kalau begitu…”

“Kenapa aku tidak menemaninya?! Le~bih baik kau tidak mengatakan itu. Tidak ada orang yang bisa membebaskannya dari kesedihan selain dia sendiri, aku tahu kau memahami~nya”

Subaru ingin berteriak, dia dihajar oleh pernyataan tak terbantahkan Roswaal.

Subaru bisa saja menuduh Rooswaal agar dirinya merasakan kepingan-kepingan penderitaan Beatrice. Meskipun Subaru tahu itu semua tidak ada gunanya.

Beatrice sudah mati, dan tidak ada orang yang mampu menyembuhkan kesedihan hatinya.

Hanya Subaru, yang memiliki kemampuan mengulang dunia ini, bisa kembali ke sana, ke saat-saat terakhir Beatrice semau Subaru. Tapi bagaimana cara menyembuhkan duka empat ratus tahun di hatinya?

Empat ratus tahun—-Subaru tidak bisa kembali sejauh itu.

Melihat Subaru terdiam, Rooswal dengan pelan menggelengkan kepalanya, lalu berkata…

“Iri~nya”

“Iri-nya?”

Ulang Subaru, menekan nadanya. Tapi tidak peduli dengan hal itu.

“Ya…” Rooswal mengangguk.

“Aku iri padanya. Beatrice memenuhi harapan berharganya yang sudah lama hilang. Fakta kau berada di sini, berarti harapannya sudah teprenuhi, benar?”

“Berharga…harapan? Dia…mati…begitu…saja…dan kau bilang itu adalah harapannya!? Apa kau serius mengatakan itu!?” Subaru kesal.

“Itu yang diinginkan Beatri~ce kan? Memangnya kita siapa asal mengkritik sesuatu yang disayangi seseorang? Kau tidak bisa, aku pun ti~dak punya hak untuk menodai kematian Beatrice” ucap Roswaal.

Ucapannya masuk akal, dan logikanya dapat diterima. Memang benar aku tidak punya hak untuk mengkomentarinya.

Mungkin status antara Subaru dan Beatrice adalah orang asing. Dia tidak pernah mengingat harapannya, dan sekalipun tidak pernah memenuhinya. Meski demikian, apa itu yang benar-benar Beatrice inginkan?

—Kalau itu yang Beatrice inginkan, terus kenapa dia melindungi Subaru sampai meregang nyawanya?

“Harapan berharga Beatrice sudah terpenuhi. Karena itulah, aku benar-benar iri padanya. —-Karena sepertinya aku tidak bi~sa memenuhi harapanku”

“——”

Ada yang janggal pada perkataannya.

Subaru tidak tahu yang mana, dan kenapa, tapi ada yang janggal.

“Dan apa itu……Harapanmu…?”

“Entah. Kontrak melarangku untuk mengutarakannya, dan hanya itulah yang bisa ku~katakan. Yang aku beritahu adalah, kau sudah mendorongku sampai ke batas dari apa yang bisa kukatakan sesuai kontraknya. Ta~pi, akan kuberitahu kau satu hal”

“———” Subaru mendengarkan.

“Untuk mengetahui apakah harapanku dipenuhi atau tidak, aku selalu, selalu, selalu, selalu, selalu mengabdikan diriku sepenuhnya. Semua langkah yang kuambil pasti ada tujuannya, dan tidak sa~tu pun langkah itu kusesali”

Roswaal mengatakannya tanpa nada penyesalan.

Tertegun oleh keberaniannya, amarah hitam mulai menggelora di dada Subaru.

Itu adalah amarah yang menyesakkan, itu merupakan kumpulan dari semua serpihan-serpihan emosi yang tertanam di diri Subaru. Tapi, walaupun emosi itu ada di sana, Subaru tidak termakan oleh amarah itu.

“Penting…? Membunuh Ram dan Garfiel, megubur Sanctuary dalam salju, semuanya…kau bilang bahwa semua itu penting…?”

“Hmm, kalau dulu sih…tidak, tidak akan nyambung dengan percaka~pan ini. Tapi kalau belakangan ini, ya, itulah jawaban~ku”

“Untuk apa!!!?”

Menggertakkan giginya, Subaru mengayunkan tangannya sambil berteriak.

“Kenapa kau melakukan ini!? Menurunkan salju ke Sanctuary, seolah-olah para penduduk yang tersiksa kau jadikan candaan……….Apa yang coba kau capai!? Apa gunanya melakukan semua itu!? Katakanlah, Roswaal!!”

“Itu juga, penting. —-Untuk mengasingkan Emilia-sama” jawab Roswaal.

“Hah…?”

“Akan kukatakan sekali lagi. Saju turun dan para penduduk menderita. Emilia-sama terisolasi, dan membuat pikirannya tidak stabil. Begitukan yang terjadi?”

Ucap Rooswal seakan-akan dia sudah mengetahuinya. Memang benar, kondisi Emilia di dalam Makam persis seperti yang dikatakan Roswaal. Tapi Subaru tidak ingin memberitahu hal ini padanya.

Lebih pentingnya lagi, jawaban Rooswal barusan adalah hal paling masuk akal yang Subaru dengar baru-baru ini.

“Sanctuary adalah sebuah negeri yang terikat dengan sang Penyihir, dan Emilia-sama mengikuti Ujian untuk membebaskannya. Pa~da saat itu, jika ada bencana yang menimpa Sanctuary…apa yang orang-orang pikirkan tentang Emilia-sama?”

“Apa…”

“Dan disinilah peran Garfiel yang pemarah. Dia, adalah orang pertama yang akan meragukan Emilia-sama, dan akan dengan keras-keras meproklamirkannya. Dengan pengaruhnya di Sanctuary, semua orang akan berpaham sama dengan dirinya. —-Bahwa Emilia-sama adalah penyebab dari bencana ini”

Analisis Roswaal sangat tepat, dan Garfiel sedang dipermainkan oleh Rooswal. Saat Subaru kembali ke Sanctuary, sudah jelas bahwa Garfiel teryakini bahwa Emilialah yang menyebabkan badai salju tersebut.

Walaupun ada orang lain yang bisa melakukannya di negeri ini, dan dunia ini, Garfiel mengarahkan kebenciannya pada Emilia.

Semuanya berkat iblis yang disebut prasangka, dari awal ia sudah menyengsarakan Emilia.

“Dan apa yang terjadi saat Emilia-sama terasingkan? Selain penampilannya Emilia-sama adalah orang yang sangat lemah. Tidak aneh jika dia mempercayakan semuanya pada seseorang yang bersedia membantunya. Dan jika orang itu mendukungnya sepenuh hati, puaslah aku”

“Tunggu…tunggu…tunggu tunggu tunggu tunggu tunggu tung……gu”

Subaru mengulurkan tangannya, menyuruh Roswaal berhenti.

Firasat Subaru mengatakan dia baru saja mendengar sesuatu yang tidak patut dikatakan.

Rasanya dia baru saja diberitahu sesuatu yang aneh, fakta yang mustahil terjadi. Seperti sesuatu yang seharusnya tidak dia dengar—

“Kau tidak bisa menolaknya jika Emilia-sama mengandalkanmu. Tentu saja tidak, karena kau mencintainya. Jika Emilia-sama tercintamu mempercayakan segalanya padamu, tidak mungkin kau menolaknya”

“Itu—”

Tidak akan pernah terjadi. Tidak akan. Tapi fakta mengatakan, dalam perulangan ini, Subaru berhasil menahan nafsunya, tidak termakan oleh pelukan erat Emilia. Dia menahannya, dan dia bisa sampai datang kesini.

Bukannya dia menolak godaan Emilia yang penuh cinta.

Tapi karena Subaru tahu bahwa Emilia tidak benar-benar menggodanya, dia hanya sedang tidak sadar saja—

Kali ini, masalahnya bukan itu, tapi bagaimana kau menjawabnya. Aku hanya bisa mengucapkan, sayang sekali. Kurasa ada terlalu banyak aliran informasi yang tidak berguna di kepalamu”

Rooswal menghampiri Subaru yang kebingungan.

Mendengar suara percikan dari langkah kakinya yang menginjak genangan darah, tubuh Subaru membeku. Tenggorokannya mengerang…

“Apa, kau ingin membunuhku—-?”

“Membunuhmu, nah ide yang he~bat. Aku akan kerepotan jika kau mati. Karena, mau bagaimana pun, kau harus mengulang kembal duni~a”

“Hh——?”

Untuk sesaat, kata-kata Roswaal membuat Subaru terdiam. Tapi Subaru segera menyadari maksud dari perkataannya.

Roswaal tahu bahwa dia bisa mengulang waktu, tapi Roswaal tidak tahu kalau Subaru harus mati dulu, sebagai pemicu Return by Death.

Ditambah lagi, niat Roswaal adalah mendesaknya menggunakan Return by Death. Yah kalau begini Subaru akan menderita sebelum mati.

Jika Roswaal tidak berniat membunuh Subaru, maka masih ada kesempatan.

“——-Semuanya! Ke dalam!!”

Mengangkat tangannya, Subaru meneriakkan Wewenang Kekuasaan Lewes. Roswaal mengerutkan alisnya, pintu-pintu kamar dan jendela-jendelanya, sekaligus ruang tamu, hancur secara bersamaan. Dan yang terbang menderukan angin-angin dingin adalah bayangan kecil dan kurus, jumlahnya ada dua puluh—masing-masing bayangan itu adalah seorang gadis kecil berambut pink.

Gadis-gadis satu rupa itu berkumpul, membentuk sebuah barisan, Roswaal mengalihkan pandangannya ke arah Subaru.

“Aku kira Wewenang Kekuasaannya dipindahkan ke Garfiel”

“Hehe, kita kan sedang mencari siapa penjahat sesungguhnya. —Jelas kita harus menyiapkan rencana cadangan” kata Subaru.

—Pertukarannya terjadi setelah Subaru berargumen dengan Garfiel, di luar Makam.

Setelah membujuk Garfiel untuk menyerahkan Wewenang Kekuasaannya, Subaru pergi ke ruang kristal dan memindahkan Wewenang Kekuasaan ke dirinya sendiri.

Lalu, memerintahkan replika Lewes tuk mengepung bangunan tempat Roswaal dirawat dan bersiap-siap masuk ke dalam jika keadaan darurat terjadi.

Rem, yang sementara waktu menjadi sandera Garfiel, dipercayakan pada Lewes utama, ia membawa Rem ke Katedral, tempat pengungsian penduduk desa Arlam.

Subaru mengambil semua langkah ini dengan asumsi bahwa Roswaal adalah pelakunya. —Meskipun, tentu Subaru tidak pernah menyangka bahwa Roswaal akan membunuh Garfiel dan Ram.

“Jadi, apa yang ingin kau lakukan sekarang, kau sudah mengepung~ku?”

“Kau kuat dengan tangan kosongmu itu memang mengejutkanku, tapi kau kalah jumlah sekarang. Kalau satu hewan buas saja bisa merepotkanmu, kau mungkin akan kesulitan jika dikerumuni Lewes-lewes ini…”

Alasan Roswaal menipu Ram bersama Garfiel adalah dia tidak yakin bisa menghadapi Garfiel dalam pertempuran satu lawan satu. Walau sudah pasti Roswaal jauh lebih kuat dari Subaru—

“Dua puluh cukup untuk mengalahkanmu. Kami akan menghajarmu, menyudutkanmu, dan akan kupastikan kau mengungkapkan sesuatu yang masih kau sembunyikan”

“Kau seharusnya tahu betapa pentingnya memaklumi syarat-syarat kontrak seseorang, apa lagi terikat dengan diri~mu sendiri”

“Sayang sekali, kontrakku tuh satu arah, dipaksakan kepadaku tanpa boleh berkomentar apa pun, menghukumku saat aku melanggarnya. Kali ini tidak berat-berat amat, jadi situasiku masih aman-aman saja!”

Dua puluh lebih orang berdesakan masuk ke sebuah rumah kecil. Mematuhi interuksi Subaru, para replika Lewes tanpa emosi melesat ke arah Roswaal, bagaikan terjangan lautan wajah.

Roswaal hanya punya satu tangan kosong untuk menghadapi mereka. Manipulasi cuaca di luar melemahkannya. Tidak bisa menggunakan sihir, Roswaal hanya akan diserbu oleh lautan Lews.

Subaru berpikir kemenangannya sudah terjamin. Tapi…

“Aku mungkin kalah jumlah”

“———-”

“Tapi ketika musuhmu seorang penyihir, mencoba mengalahkannya dengan jumlah adalah keputusan yang to~lol” ujar Roswaal.

Lewat lafalan lirihnya, api neraka menyelimuti seluruh ruangan, dan setiap Lewes Meyer yang termakan api tersebut langsung hangus.

Dalam sekejap, tubuh mungil mereka terbakar, dari atas sampai bawah oleh kobaran api, dibakar menjadi abu dan berubah ke bentuk mana.

Semua ini, di mata Subaru, tidak lebih dari gelombang panas dan cahaya sesaat yang melintasi ruangan.

“Bagaimana kau…bisa menggunakan sihir…?”

“Aku tidak bisa menggunakannya kalau masih mengendalikan cuaca. Sayang~nya, tidak ada alasan lagi aku mempertahankan hujan salju ini. Jadi, aku sudah menghentikannya. Maaf, seharusnya aku memberitahumu lebih a~wal”

“Apa——-gh, kha”

Saat Subaru kebingungan, Roswaal melangkah maju dan mencekik tenggorokannya. Subaru tidak tahu bagaimana pergelangan tangan yang ramping bisa jadi sekuat itu, tapi kakinya sudah tidak ada di tanah lagi karena Roswaal mengangkatnya ke udara.

“Kgh—–!”

Dihempaskan ke belakang, menabrak jendela kaca setengah hancur, Subaru mendarat di salju, berguling-guling sampai berhenti dihentikan dinding.

Meludahkan campuran lumpur dan salju di mulutnya, dia mengangkat wajah.

Lewes yang masih tersisa diam-diam mengikuti Roswaal keluar Gedung. Mereka masih belum diberikan perintah, bingung tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Subaru juga tidak tahu ingin menyuruh mereka melakukan apa.

“Bahkan setelah semua ini, kau masih tidak mau memutar……Ata~u, mungkin sudah kau putar? Kalau dipikir-pikir, yang terjadi padaku saat dunia diputar masih misteri bagiku. Nah, ini cu~kup sulit”

Berjalan ke sisi sebelah Subaru, Roswaal memiringkan kepalanya.

Melihat wajah badut selagi merasa sakit, sebuah pertanyaan mendadak dituturkan bibir Subaru.

“Ros…waal…kau terus memintaku untuk memutar dunia ini, tapi…”

“Mm? Ada hal penting yang ingin kau kata~kan? Ayo dengar, ayo dengar”

“Kaulah masalahku sekarang. Melakukan semua ini dengan asumsi bahwa orang lain mempunyai kemampuan memutar dunia ini…kau pasti sudah gila…kecuali, kau sendiri mempunyainya…”

Cara untuk membawa ingatanmu?

Mungkinkah Roswaal juga memiliki kemampuan untuk membaca ingatan di dunianya yang sebelumnya, sama seperti Echidona di Benteng Mimpi? Kalau tidak maka keinginan butanya untuk mengatur ulang dunia akan semakin tidak dapat dimengerti.

“Kalau tidak…ya tidak apa-apa. Tapi, kalau kau bisa…mungkin kau dan aku…bisa…”

Bekerja sama, mungkin.

Tujuan Roswaal masih misterius, dan dia sudah melakukan banyak hal yang tidak termaafkan.

Subaru tak akan pernah memaafkannya atas pembunuhan Ram dan Garfiel atau caranya memojokkan Emilia. Tapi Subaru tidak mampu melebihi kekuatan Roswaal hanya dengan emosinya. Justru Subaru membutuhkannya.

Bila kau ingin menelan racun—-begitulah kata pepatah, anggap saja ada racun di sana, Subaru juga sudah siap menjilat piringnya.

“—Sepertinya, tidak begi~tu”

Tapi harapan tipis Subaru dihapuskan oleh gelengan kepala Roswaal.

Roswaal berpaling dari sorot mata Subaru, dan menunjuk arah tatapannya.

“Goa”

Sebuah nyala api kecil muncul, menunjuk ke arah hutan dimana tatapan Roswaal tertuju ke sana.

Subaru berkedip pada kehancuran yang terjadi tiba-tiba itu, ketika dia mendengar suara kayu yang berderak-derak, masih ada suara lain.

—Itu adalah suara hewan kecil yang sekarat.

“—–Tidak mungkin”

“Begitu rupa~nya…….Jadi begini akhirnya”

Subaru berdiri, wajahnya memucat saat dia mengamati sekelilingnya. Bersamaan dengan itu, Roswaal merubah postur tubuhnya, dan membunyikan sendi-sendi di jarinya, aroma daging yang terbakar dan melengking, jeritan yang menulikan telinga terdengar jelas di seluruh Sanctuary.

Setelahnya, ada mayat hangus mendarat di depannya, dengan bunyi gedebuk, Subaru jelas mengerti.

“Kelinci…Raksasa…!!”

Mayat itu salah satu dari Kelinci Raksasa.

Saat mereka perlahan-lahan mulai berhamburan keluar dari hutan, Roswaal membakar mereka satu per satu dengan sihirnya. Kendati datang berbondong-bondong, mereka tetap menjadi mangsa Roswaal.

Mau berapa banyak jumlah mereka, tetap tidak berkutik di hadapan Roswaal. Menyaksikan pembantaian ini, hati Subaru merasa ngeri, dan perasaan itu tidak melepaskannya.

Setiap kali dia menutup matanya, ingatan akan dimakan oleh gigi setajam silet itu akan teringat kembali.

Rasa kehilangan, pengalaman jari-jarinya, tubuhnya, dan organnya yang dicabik-cabik, tidak dapat dijelaskan.

Subaru mendengar jeritan jiwanya saat Mabeast itu mendekat.

“Tapi ini baru hari kelima………seharusnya masih ada setengah hari lagi!”

“Gara-gara salju”

“Salju—!?”

“Jika ada sihir yang cukup kuat untuk memanipulasi cuaca, biasanya, atmosfir tempat tersebut akan dikelubungi oleh mana. Apa lagi semua orang di Sanctuary berkumpul di dalam Katedral karena salju-salju ini. Jika ada Mabeast di sekitar sini, mereka akan menganggapnya sebagai gudang makanan

“Kalau begitu……” Subaru bergidik melihat pengamatan Roswaal yang tenang. Mengikuti logikanya, tempat paling berbahaya di Sanctuary saat Kelinci Raksasa menyerang adalah—-

“K-Kadetral! Kita harus pergi ke Katedral……!”

“Sudah terlambat. Saat mereka mendatangi kita yang berjumlah sedikit, berarti rombongan mereka yang jumlahnya lebih sedikit sudah bergerak. —–Tidak ada seorang pun yang ter~sisa”

“Tapi! Di tempat itu……..!”

Ada Rem.

Mempercayakannya kepada Lewes, Rem di bawa kesana. Bersama dengan para penduduk Sanctuary sekaligus pengungsi desa Arlam, ada seratus orang di Katedral.

Semua orang yang berkumpul disana, Subaru bahkan tidak ingin memikirkannya.

“Roswaal! Gencatan senjata! Ayo pergi ke Katedral! Kita kumpulkan korban selamat, bawa mereka ke tempat aman….”

Subaru menghampiri Roswaal, meraih kerahnya dan berteriak…

Namun Roswaal dengan pelan menghempiskan lengan Subaru.

“Kabur? Kabur kemana? Penghalangnya masih ada. Orang-orang Sanctuary tidak bisa kabur” kata Roswaal”

“I-itu…”

“Waktunya tidak cukup, Subaru-kun. Para penduduk Sanctuary tidak bisa meninggalkan tempat ini kecuali Ujiannya diselesaikan. Begitu intinya, harapanmu tak akan terwujud”

Lemas, Subaru jatuh ke belakang, pantatnya menyentuh salju. Berjalan dengan terseok-seok, para Lewes mengerumuni Subaru yang roboh, menunggu perintah berikutnya. Dan saat itulah, Subaru sadar bahwa Roswaal telah berhenti membakar Mabeast yang terus-menerus bermunculan.

“R-Roswaal! Kenapa berhenti…apa…manamu habis….?” tanya Subaru.

“Tidak~tidak, tidak, aku tidak begitu. Karena manaku itu tidak terbatas. Tidak akan habis semudah itu……..Yang habis adalah alasan untuk hidup”

Sedikit demi sedikit hewan-hewan putih lucu keluar dari hutan. Meningalkan jejak kecil di salju murni yang seputih bulu mereka, Kelinci Raksasa itu semakin dekat.

“M-meskipun aku bisa memutar ulang dunia…hal semacam itu…seharusnya kita bicarakan dulu! Kau mungkin berpikir oke-oke saja menyerahkannya ke percobaan berikutnya, tapi…”

“Sepertinya kau salah pa~ham akan sesuatu, Subaru-kun”

“Huh”

“Kau mungkin bisa memutar ulang, tapi aku tidak bisa. Diriku yang kau temui setelah perulanganmu bukanlah aku. Inilah akhir dari diriku. —–Tapi itu ti~dak apa-apa”

Subaru di skak oleh perkataan Roswaal. Perulanganmu tidak berlaku untukku, Roswaal mengakuinya. Begitulah maksudnya, Roswaal tahu bahwa Subaru adalah orang yang bisa kembali dari kematian, dan kematiannya adalah akhir dari Roswaal.

Dia menerimanya, dan hanya menyuruh Subaru untuk memutar kembali dunia, walaupun Roswaal tidak lagi ada ketika Subaru kembali. Cara berpikirnya, itu…

“Tidak…bagaimana manusia bisa berpikir seperti itu…”

Tidak seperti Subaru, yang kesadarannya akan tetap berlanjut,

Roswaal tidak akan, dan kematian adalah akhirnya.

Manusia macam apa yang akan menerimanya mentah-mentah, mengetahui bahwa itulah akhir dari hidup mereka?

“Hari dimana kau akan lebih kuat dariku benar-benar akan datang, Subaru-kun”

“Ros…”

“Dengar baik-baik, Subaru-kun. —–Ini penting. Satu hal yang betul, betul, betul penting untukmu. Kesampingkan semua hal itu kecuali hal ini. Lepaskan semuanya kecuali hal ini, dan pikirkan cara melindungi sesuatu yang paling kau sayangi, sampai akhir hidupmu”

“———”

“Jika kau melakukannya—-”

Roswaal mengangkat jari seolah ingin ceramah. Seekor kelinci di dekatnya melompat dan mengunyah pergelangan tangannya. Darah bercucuran dan tangan kanan Roswaal digigit-gigit, sedangkan rahang Kelinci Raksasa lainnya tetancap ke sikunya, bahunya dan seluruh tubuhnya, terdengar suara tengkorak hancur dan robekan daging.

“ROSWAAAAAAAL!!”

“——-Kau juga, bisa menjadi seperti diriku”

Tubuh seekor Kelinci dengan mulutnya yang terbuka lebar memakan senyum si badut itu.

 Gerombolan Kelinci putih mengerubungi seluruh tubuh Roswaal. Dia jatuh terkulai tanpa perlawanan. Seluruh tubuhnya dimakan. Dimakan. Dimakan.

Darah berhamburan keluar, daging-daging terlempar, dan salju putih bercampur dengan merah darah. Bahkan salju merah itu dengan rakus dihisap oleh Kelinci tersebut, tidak meninggalkan setetes air pun.

Subaru menyaksikannya dalam diam, ketika Roswaal berhenti menjadi Roswaal.

Menontonnya, menonton Roswaal dimakan hidup-hidup dan dihapuskan dari dunia ini.

—Subaru masih menontonnya.