RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 45

Posted on

Kutukan Tak Terhindari

Penerjemah: Old Dead One Soul

Subaru bergidik ketika mendengar Wilhelm menuturkan nama Penyihir yang pernah dia dengar sebelumnya.

Satu-satunya Penyihir yang dia tahu kecuali Satella adalah keenam Penyihir Dosa Besar yang dia temui di Makam Echidna.

Bahwa seorang Penyihir selain mereka entah bagiamana eksis adalah berita yang mengena.

“Kalau begitu, Wilhelm-san, bila penyihir Sphinx itu terlibat dalam penyerbuan ini di pihak Kultus Penyihir …. Apa maksudmu, selain Uskup Agung ada Penyihir lain juga?”

Kalau demikian, musuh utama berjumlah empat Uskup Agung dan dua pendekar mayat hidup. Menambah Penyihir lain ke jajarannya hanya membuat peluang yang sudah sulit lebih putus asa.

Melihat renungan Subaru, Wilhelm mengangkat tangan ….

“Maafkan aku, kalimatku tidak jelas. Eksistensi sang Penyihir yang dikenal sebagai Sphinx telah tewas dalam perang Demihuman. Orang itu takkan mungkin ada sangkut pautnya dalam serangan ini.”

“Penyihir tersebut mati? Kau yakin? Pura-pura mati, atau punya banyak kebebasan bahkan sesudah mati adalah sedikit kesan yang kumiliki soal para Penyihir.”

Satellah seperti itu. Setiap kali Subaru melanggar tabu, ia akan keluar. Dan dalam Benteng Mimpi tengah menikmati akhiratnya, Echidna pun sama.

Perkara Penyihir, bahkan mendengar mereka sudah mati sama sekali tidak menjamin.

“Bagaimana kesan Subaru-dono mengenai para Penyihir, aku tidak tahu. Namun Sphinx yang menyandang nama Penyihir, semata-mata keberadaaan yang disebut demikian, tetapi pihak yang bersangkutan takkan pernah menyebut dirinya sama.”

“Menyebut mereka pihak yang bersangkutan …. Apa Wilhelm-san pernah bertemu langsung dengan mereka?”

“Sering selama perang saudara. Di akhir-akhir Perang Demihuman, momen penentunya barangkali kala pemenggalan Sphinx. Roswaal, Bordeaux, dan istrinya adalah terkemuka saat itu.”

“Roswaal!?”

Nama tak terduga dibicarakan menyebabkan mata Subaru membelalak. Mendengar reaksi tersebut dari Subaru, kepala Wilhelm sedikit menunduk sebentar dan merenung dalam-dalam.

“Aku kenal Roswaal-dono dari dua generasi yang lalu. Walaupun semasa itu aku tidak termaat ramah … dia membantuku.”

“Dua generasi yang lalu … ah, begitukah? Maka Roswaal adalah nama yang diwarisi dari generasi ke generasi.”

“Sayangnya, beliau meninggal segera setelahnya, dan sesudah itu aku mulai jauh dari mereka. Lord Mathers saat ini hanyalah kenalan biasa … tapi semua percakapan ini tak berguna.”

Dia kini mendengarkan cerita tentang hubungan mengejutkan itu, tetapi topik aslinya jelas bukan soal itu.

Subaru mengangguk, dan kemudian Wilhelm dengan, “Jadi ….” dia melanjutkan ceritanya.

“Bukan Sphinx, tapi entah bagaimana makhluk yang menggunakan mantra serupa, itu menurutku. Metode mengendalikan orang mati pada waktu itu disebut Prajurit Mayat.”

“Prajurit Mayat …. Itu …. Apa punya kelemahan?”

“Setahuku, Prajurit Mayat hanya bisa menggerakkan tubuh semata. Bukan sesuatu yang mampu mengembalikan kemampuan semasa hidup. Cuma mempermalukan orang mati selagi menjaga wujudnya, dan Prajurit Mayat sekarang sebenarnya malah berlawanan dengan kemampuan Sphinx.”

“Tapi, Tangan Delapan dan …. Itu.”

Subaru Kehilangan kata-kata.

Orang yang berubah menjadi Prajurit Mayat yang kematiannya mencemarkan istri Wilhelm. Namun demikian, melihat Wilhelm menerimanya Subaru bicaranya malah seolah ragu-ragu.

Raut wajah Wilhelm pahit sebab keengganan Subaru.

“Aku berterima kasih atas perhatianmu. Tapi, itu memang penting—Hmm, keahlian istriku dan Kurgan mirip saat mereka masih hidup. Melebihi kekuatan Prajurit Mayat.”

“Terus, mungkinkah makhluk ini bukan Prajurit Mayat? Sekiranya demikian, lantas istrimu bahkan mungkin belum mati ….”

“Istriku mati. Karena kekuatanku kurang.”

Sisi yang bergantung kepada harapan rapuh ini adalah Subaru.

Perasaan Subaru dipotong satu kali suara jernih Wilhelm.

Serta ucapan yang dapat Subaru imbuh pada sosok pendekar pedang tua tidak ada sama sekali.

“Bahkan kala ini, tidak boleh dengan gamblangnya menyamakan Prajurit Mayat itu sebagai eksistensi yang sangat langka. Entah karena kecakapan rapalan mantranya, atau ada faktor lain yang tidak kuketahui, namun …. Kita mesti mempertimbangkan kekuatan mereka berdua.”

“Kau punya cara untuk membunuh mereka?”

“Hancurkan tubuh mereka seluruhnya, atau potong tanda kutukan di suatu titik pada tubuhnya. Lalu sang Prajurit Mayat akan kembali ke mayat semata. Harus dilakukan dengan cara itu.”

Suara dari renungan mendalam Wilhelm tidak mudah didengar.

Mencari-cari perbuatan apa yang mesti dilakukannya, menyimpulkan dari upaya pencariannya—suara getirnya, kepalan tangannya, mata mengerutnya, dia tidak menyembunyikan apa pun.

“Aku minta maaf kerena menahanmu selama ini. Crusch-sama tidak boleh menunggu lebih lagi. Sekarang, lewat sini.”

Wilhelm membungkuk dan menunjuk pintu ruangan yang mereka tuju. Di bagian terdalam lantai 4 dengan piringan rusak yang menandai sebagai sebuah ruangan. Di dalam, Crusch yang memanggil Subaru tengah menunggu.

Melewati Wilhelm, Subaru bersama suara langkah kakinya menuju pintu.

Jelas, jarak ke pintu serasa jauh sekali. Sol-sol sepatunya menempel lantai dan menahan langkah Subaru, itulah kesan yang didapatnya. Bahwasanya demikianlah kelemahan dirinya yang kalah, Subaru sadar akan hal itu.

“—ini aku. Natsuki Subaru. Apa … Crusch-san di sini?”

Dia mengentuk pintu, suaranya lirih, bertanya-tanya apakah sampai ke orangnya. Seperti itu, setelah hening sementara, dari sisi lain pintu perlahan membuka.

Wajah yang muncul ialah Felix. Namun, penampilannya telah berubah total.

“Subaru-kyun ….”

Mata merahnya bengkak karena menangis dan rambut cokelatnya acak-acakan. Tubuhnya terselimuti darah, bukan darahnya, tetapi darah bernoda hitam orang lain, kulit putihnya yang bercak-bercak, dia pasti tidak sempat membersihkan diri. Pipi serta lehernya juga berlumuran darah segar.

Melihat penampilan menyedihkan itu, napasnya tak sengaja tersangkut di tenggorokannya.

“Crusch-san memanggilku, aku mendengarnya. Jadi ….”

“Ya. Di dalam, dia ada di tempat tidur …. Tolong jangan lakukan hal yang tidak-tidak.”

Suara tegas, disertai sejumlah kebencian di akhirnya.

Akan tetapi, kebencian itu tidak ditujukan ke Subaru. Bisa dibilang diarahkan ke segalanya. Membenci semua orang di dunia ini, amarah tak jelas kini mengendalikan Felix.

Bernapas dalam-dalam, Subaru mengikuti Felix ke dalam.

Meski disebut ruangan, tempatnya sendiri tidak terlalu luas. Meja dan kursi panjang diatur dua baris, dan lebih jauh ke belakang, ruangan kecil tersebut dipisah ambang. Tempat tidurnya ada di balik sana.

Selanjutnya, di ranjang kumuh itu ia terbaring.

“Natsuki-sama?”

Crusch yang sadar tahu Subaru telah masuk dan memanggil namanya.

Menanggapi suara si gadis, leher Subaru mengkaku.

Mempersiapkan diri, leher Subaru ikut kaku. Mempersiapkan diri, pura-pura tenang, menuturkan kata-kata meyakinkan—Tidak disangka dia tak sanggup melakukan sesuatu sesederhana itu ….

“Rupaku tidak layak …. Maafkan aku ….”

“… tidak, bukan itu, itu. Bukan seperti itu.”

Melihat sosok membeku Subaru, suara lesu Crusch meminta maaf. Melihat sikap sedih si gadis, Subaru yang terguncang berbicara tidak jelas.

—setelah basah kuyup oleh darah Capella dan terbasuh kutukannya, Crusch sedang dalam keadaan kacau.

Lehernya, bagian belakang tangan dan kakinya, seluruh kulit terlihat urat hitam pekat. Tidak sulit membayangkan jika handuk, selimut, dan pakaian akan terkena hal serupa. Pembuluh-pembuluh darah hitam yang berdenyut alih-alih mengalirkan darah, laksana ular menggeliat yang tampaknya mencekik tubuh kurus Crusch.

Kulit yang sebelumnya putih tanpa sentuhan kini sedang ternoda ngeri.

Tentu saja, kerusakannya tidak hanya dari leher ke bawah.

Wajah pintar nan gagah Crusch, mengingatkannya akan pedang terhunus panjang—bagian kirinya cacat. Ketimbang itu, bagian kanan wajahnya mempertahankan kecantikannya. Sedikit menekan bagian kontras keduanya, dan membuat cacatnya seorang bangsawan makin nyata.

Seolah-olah menutupi mata kiri, penutup mata terpasang di sana, dan bagian di baliknya sulit dibayangkan.

“Ini …. Kutukan darah naga yang sama denganku?”

Bila sama, maka itu sama sekali tak kejam.

Mengenal Crusch Karsten, kekhawatiran Subaru bukan cuma itu saja.

Dia melihat kaki kanannya sendiri. Mirip kulit Crusch, kulitnya pun bintik-bintik dan terbungkus pembuluh darah menghitam. Namun kaki Subaru yang biarpun pemandangannya mengerikan, dia tak terpengaruh. Baik pedih maupun rasa sakitnya tak terasa. Tetapi Crusch jelas berbeda. Napasnya megap-megap, kapan pun nadi gelapnya berdenyut, dia mendesah seakan menahan sakit.

“Felix ….”

Kok bisa tidak sembuh, dia berbalik dan menatap penyembuh terbaik kerajaan. Akan tetapi, pemikiran singkatnya malah menyakiti Felix, dia kian menggertak giginya, lebih intens lagi.

Felix menggigit bibir, kukunya sendiri menusuk lengan sembari menundukkan kepala. Felix paham dia kurang kuat dan kecewa pada hal itu lebih dari semua orang.

Tahu hubungan antara keduanya, Subaru tak ragu bahwa semua metode tersedia yang melampaui perkiraannya telah gagal.

“Crusch-san …. Dan aku …. Apa ini?”

Mengapa, dalam situasi sebegitu menyakitkan ini dia memanggilnya?

Dia tak dapat melakukan apa-apa, dia tak berpikir demikian. Mungkin ada sesuatu yang ingin dikatakannya. Membalas dendam kepada Kenafsuan yang membuatnya seperti ini. Bisa jadi bahkan sejumlah kata-kata benci akan menghujam Subaru.

Sekalipun dihina, kendati umpatan dicurahkan, dia akan menerima semuanya.

Oleh pertanyaan Subaru, Crusch membuka mulut, seolah bahkan melakukannya menyakitkan.

Seluruh tubuhnya dikerahkan untuk membuka bibir, tak ketinggalan desauan lemahnya, dia fokus dan mendengarkan.

Lalu ….

“… tak … tak terluka … aku lega.”

“….”

“Sama …. Seperti aku …. Terkutuk juga … aku dengar begitu ….”

Subaru merasa beban Crusch terangkat ketika bernapas lembut lega.

Pada saat yang sama, dia paham perasaan sejati dalam hatinya, dia jadi sangat marah pada kebodohoannya sendiri sampai-sampai ingin mati.

Dia pikir dirinya akan lebih mudah lagi dihina.

Meragukan integritas Crusch, pandangannya tak menatap hati mulianya. Dia sungguh-sungguh gelisah, bahwa Subaru menderita rasa sakit yang sama sebagaimana dirinya.

“Maaf … aku minta maaf …. Crusch-san ….”

Setelah menduga perasaan Crusch, konklusi segala sesuatu adalah penderitaannya, tidak bisa menderita menggantikannya, suara Subaru bercampur seluruh perasaan yang diremasnya.

Tidak sadar perbuatannya, dia mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Crusch yang dengan lemas diletakkan ke perutnya. Pembuluh darah hitam tak punya tekstur khusus kendati disentuh juga. Sensasi kulit dari perawakan hancurnya yang tidak berubah malah kian menyedihkan. Tapi ….

“Fu, u ….?”

“Gu!?”

Suara desahan mendadak Crusch, dan pada saat yang sama suara sedih tenggorokan Subaru tumpang tindih.

Penderitaan seakan-akan dia telah meraih besi panas yang menusuk telapak tangannya. Dalam sekejap, Subaru melepaskan tangan Crusch dan menatap telapak tangannya karena sensasi itu.

Erosi hitam menyebar di atasnya.

“Apa ….!?”

“Tunjukkan aku, Subaru-kyun!”

Subaru yang mengerang dan tangan terlukanya digenggam, Felix memeriksa erosinya. Cahaya penyembuh meliputi titik itu, tetapi tiada tanda-tanda rasa sakit atau penderitaannya hilang. Malahan—

“Felix … tangan Crusch-san!”

“Eh ….?”

Sorot mata melebar Subaru menarik Felix ke arah yang dilihat Subaru. Lalu mata kuning tersebut, melihat hal sama seperti Subaru sekarang.

Subaru menggenggam tangan kiri Crusch—pada tangan itu, walau sedikit, erosi hitamnya telah menipis.

Perubahan itu, melihat tangan kanannya, yang melewati pikiran Subaru adalah.

“Tidak mungkin, itu pindah dari tubuh Crusch ke tubuhku …. Benar ‘kan?”

Itulah satu-satunya hasil. Tangan yang tersentuh dan perubahannya sendiri bisa jadi plus dan minus. Bahwasanya kutukan yang diringankan berpindah ke tubuh Subaru dari Crusch, tidak salah lagi.

“Tapi, tapi, aku tidak berubah sama sekali? Aku memeriksa tubuh Crusch-sama, aku sering menyentuhnya karena …. Bagiku, bagiku ….”

Berdasarkan hipotesis Subaru, Felix menggeleng kepala.

Tidak gembira padahal kemungkinan sembuhnya telah ditemukan, malahan lebih seperti kesan curiga bahwa hipotesisnya salah. Tidak, perasaannya sendiri pasti berbeda.

“Aku tidak bisa membuat Crusch-sama merasa lebih baik ….”

“Kalau begitu mari coba sekali lagi.”

Mengesampingkan Felix yang kaget, Subaru sekali lagi berdiri di depan Crusch. Wajah Crusch yang tak sadar kejadiannya namun mata berkilaunya menuju Subaru yang mendekat. Tidak menunjukkan raut wajah beku terhadap tatapan mata tunggal Crusch, Subaru menarik napas dalam-dalam.

Memeriksanya lagi, kali ini, dia dengan lembut mengusap pipi Crusch.

“—uh, agh!”

Segera setelahnya, otak Subaru tertusuk. Dengan rasa sakit seakan-akan magma tumpah menuju nadinya. Melalui ujung jemarinya, kutukan penoda dalam tubuh Crusch masuk dan membakar nadinya.

“Ga, aaaghhhh!”

Rasa sakit menusuk yang sulit ditahan, Subaru berteriak keras dan menarik tubuhnya menjauh. Seperti itu, jatuh karena momentum, tangan yang menyentuh Crusch menjauh.

“Ah, ha, haahh ….”

Paru-parunya menggigil, bola matanya menyipit.

Bagaikan ikan darat, Subaru membuka bibir dan susah payah mencari oksigen.

“Su, Subaru-kyun …. Kau tidak apa-apa?”

Melihat napasnya mulai tenang, Felix berbicara kepada Subaru. Nyaris tak mampu menyadari lantai keras tempatnya mendarat, dia mati-matian mengangkat tubuhnya.

Kemudian menatap wajah Crusch yang berbaring di tempat tidur.

“Bagaimana, Felix. Apa itu sedikit efektif?”

“Ah ….”

Dengan bunyi puk, Felix yang memastikan kondisi Crusch, kembali duduk.

Mata kepalanya sendiri pun melihat. Pipi yang terkikis kutukannya, dari kutukan itu, sedikit mengurang. Jika perawatan semacam itu memungkinkan, maka menyelamatkan Crusch juga—

“Tidak boleh, Natsuki-sama ….”

Sekali lagi mencoba bangkit. Akan tetapi, Crusch sendiri yang menghentikannya.

Tidak mengerti arti kata-katanya, Subaru bertanya.

“Apa kau … tidak menyadarinya? Tanganmu ….”

“—tangan?”

Dia melihat tangan kanannya. Ketika itulah menyadari perubahan yang telah terjadi.

Persis layaknya kaki kanan berpembuluh darah hitam yang menjalar ke seluruh kulitnya. Sebanyak itu tak masalah, tekad Subaru mengambil kutukan Crusch takkan goyah.

Tapi, pasti ada yang aneh di sini.

Dibanding erosi yang diambil dari Crusch, luasnya lebih besar.

Erosi tubuhnya, bagian-bagian gelap tangan kiri serta pipinya lebih terang karena sentuhan Subaru.

Namun, Subaru yang mengambil kutukannya, lengan kanan sampai siku hingga kulit belakang telah sepenuhnya tertutup erosi menghitam. Tingkatannya jelas sama sekali tak sebanding.

Rasio transfer kutukannya bukan satu per satu. Lebih ke sepuluh per satu.

“Tidak, itu pun ….”

Keraguannya adalah persoalan lain.

Saat transfer ada rasa sakit. Tetapi, begitu tubuhnya menerima, tidak ada tanda-tanda kutukannya akan menyakiti Subaru.

Ketimbang penderitaan bagai neraka Crusch, yang Subaru terima hanya selintas saja. Antara pria atau wanita, pihak mana yang mesti memikul kutukannya, bahkan tak perlu mempertimbangkannya.

Meskipun kaki kanan atau tangan kanannya menghitam, bila itu demi menyelamatkan Crusch, tidak masalah.

“Natsuki-sama, tidak mungkin … aku tidak bisa menerima perasaan itu.”

“Jangan konyol. Cuma menyengat sedikit jadi tak apa. Dibanding membuat tato lalu memamerkannya kemudian menyesal kelak, mari anggap saja ibarat mengotori tubuh seperti itu. Ini aneh, tapi tidak masalah bagiku. Jadi.”

“Bisa kau jamin itu benar di masa depan kelak? Bisa jadi Natsuki-sama dan aku tidak dapat bertarung. Dalam situasi ini, bakalan jadi pukulan fatal ….”

Lebih mencemaskan kota dan orang-orang ketimbang tubuhnya sendiri, adalah keputusan Crusch. Terdengar logis, tapi tidak semuanya harus dilanjutkan dengan cara itu.

“Felix, mohon hentikan Natsuki-sama ….”

“S-siap ….”

“Tolong. Karena Natsuki-sama sekarang adalah orang yang dibutuhkan orang lain daripada diriku seorang ….”

“Jika Subaru-kyun bertekad membantu … penderitaan C-Crusch-sama ….”

Keputusan ragu-ragu Felix membuat Crusch memutuskan lebih dulu. Tidak ada yang bisa menyalahkannya. Bagaimanapun, semua orang di sini tidak salah.

‘Yang tidak salah maka benar’, gagasan itu sendiri sudah salah.

“Kau tidak boleh kewalahan oleh emosi sesaat. Natsuki-sama, aku memintamu ….”

“Crusch-san, walaupun begitu.”

“Jangan … bukannya sudah kau bilang sebelumnya—Sisanya, serahkan padaku.”

“—uh!”

Mata memohon Crusch menahan Subaru dan tak dilepaskan.

Benarkah kata-kata dapat diandalkan itu dari mulutnya? Mendengar itu, Crusch yang mengucapkan semuanya, apa dia memaksudkan itu kepadanya ….?

“Tolong katakan itu … kepadaku juga ….”

“—”

Sisanya, serahkan padaku.” kata Crusch.

Senyuman sedih menunggu tutur Subaru.

Menelan napas dan lidah menggeser ke mulut kering, Subaru diam-diam menutup mata.

Tanpa memikirkan masa depan, terbenam dalam sesuatu di hadapannya, Subaru membuatnya mengutarakan hal-hal tak penting, setidaknya—

“Crusch-san, silahkan istrirahat dengan tenang di sini.”

“… Natsuki … sama.”

“Karena sisanya, serahkan padaku.”

“—ya.”

Sekiranya itu semata-mata mengisi peran penting dan menyampaikan kata-kata yang diperlukan, maka itu mesti dilakukan.

Mendengar jawaban Subaru, Crusch menarik napas dalam-dalam dan terlihat santai.

Kelopak matanya berkedip lemah sesaat setelah membuktikan bahwa sampai sekarang, Crusch memperhatikannya dengan cara apa pun. Momen itu menarik napas tenang, Crusch sekali lagi mulai melawan efek kutukan.

“Maaf, Felix. Tapi aku harus pergi sekarnag.”

“Aku …. Aku harus ngapain … tidak apa-apakah?”

Menggantung handuk seperti selimut ke atas Crusch dan berdiri, Subaru mendengar suara lirih seperginya. Itu pertama kalinya Subaru melihat Felix mengekspos kelemahannya.

Dalam pikiran terdalamnya, yang Felix inginkan sekarang adalah tetap menemani sisi Crusch.

Namun dalam situasi ini, kemampuan Felix takkan memungkinkannya melakukan hal itu.

“Aku butuh kekuatanmu. Aku tidak bilang akan meninggalkan Balai Kota. Tapi misalkan sesuatu terjadi, aku akan menyuruh mereka untuk mengevakuasi yang terluka di sini. Jadi, aku serahkan itu padamu.”

“… yang paling ingin aku selamatkan … dan aku tidak bisa menolongnya.”

“Felix ….”

“Maaf. Aku menukas hal bodoh …. Beri aku sebentar, tolong.”

Sambil memalingkan muka, Felix duduk di kursi sebelah tempat tidur. Subaru akhirnya menepuk pundaknya ringan-ringan dan melangkah keluar dari ruangan.

Tidak berubah dari waktu dia masuk, Wilhelm tetap menunggu di koridor.

“Terima kasih banyak telah mempertimbangkan perasaan Crusch-sama.”

Menjelang sekembalinya Subaru, Wilhelm berkata demikian. Apakah yang terjadi akan bocor keluar, atau barangkali ekspresi Subaru mudah dibaca?

“Bukan kisah mulia seperti aku memikirkan perasaannya. Sebab ini lebih ke kisah bagaimana aku disemangati …. Tubuhku, lagian apa masalahnya?”

Mengambil kutukan Crusch, dan dari awal efek padanya melemah. Kilas balik lebih lama, yang disebut-sebut gen penyihir dan Return by Death, seluruhnya betul-betul samar.

Suatu hari, akankah dia melihat alasan dan akhirnya?

“Crusch-san akan menyerahkannya kepada Felix. Tatkala semuanya terpecahkan, aku hendak melakukan tindakan sebelumnya sekali lagi.”

“Apa lengan kanan itu baik-baik saja?”

“Sekilas agak rapuh. Seandainya aku mengenakan baju berlengan panjang dan memakai sarung tangan, oke-oke saja …. Demi menyelamatkan seorang gadis cantik, satu bekas luka permanen sama sekali tak masalah.”

Biarpun agak enggan soal itu, demikianlah perasaan sejati Subaru.

Apabila tiada sousi lain, maka mengambil kutukan Crusch sepenuhnya juga tidak apa. Meskipun tubuhnya penuh hitam pekat gara-gara itu. Emilia, Rem, dan Beatrice, dia harus minta maaf kepada mereka semua.

“Tetapi, seluruh pembicaraan itu kita lanjutkan setelah selamat melewati rintangan ini. Wilhelm-san, ayo turun. Mereka mungkin memperbincangkan rencana merebut kembali Menara Pengendali sekarang.”

Mungkin, semua kekuatan kelas atas yang dapat dikerahkan pihak ini sudah terkumpul di sana.

Yang terjadi setelahnya tergantung kerja sama serta kemampuan musuh Uskup Agung Dosa Besar, sekaligus waktu dan pelaksanaan rencana serangan. Dari batas waktu yang ditentukan Kultus Penyihir, tersisa enam jam lagi.

“Subaru-dono, perkara hal itu, aku punya permintaan.”

“Permintaan?”

Imbuh Wilhelm menghentikan Subaru seketika dia menuju tangga—pendekar pedang tua itu mengangguk ketika melewati pintu lobi, bagian dalam matanya menunjukkan perhatian.

“Andai bisa, tolong rekomendasikan aku untuk menumpas Kenafsuan. Sebab aku paham betul kekuatan mutasi dan renegerasi supernya, aku meminta ini darimu.”

“Apakah itu balas dendam atas Crusch-san?”

“Benar, namun lebih dari itu, penting menangkap Kenafsuan hidup-hidup dan mendengar perbuatannya kepada Crusch. Karena itulah aku akan menjadi iblis. Sebelum menebas kepalanya, aku pasti akan mengorek kebenarannya.”

Niat membunuh dari sang Pedang Iblis rasanya bak gelombang panas bagi Subaru.

Marah, gelap, sebab tidak mampu melakukan apa-apa, semangat Wilhelm tuk membalas dendam tuannya sekarang bangkit bagai api.

“Semangatnya bagus …. Tapi apa Prajurit Mayat akan diam saja?’

“….”

“Istrimu, bukannya kau tahu yang terbaik buatnya? Apa pun yang terjadi, Wilhelm-san perlu membuat penilaian.”

“Subaru-dono, sudahkah Reinhard tiba di bawah?’

Wilhelm mendadak menyela seraya mengutarakan kerisauannya.

Dengan canggung, Subaru mengangguk. Kekuatan Reinhard tidak boleh dikecualikan dari serangan. Akan tetapi, para pejuang di sana pasti akan menghambatnya.

“Ciri-ciri sejati para Prajurit Mayat, bisakah kau tidak memberi tahu Reinhard?”

“… hah?”

Subaru bingung tidak mampu memahami alasan permintaan tiba-tibanya.

“Maksudnya …. Jangan beri tahu pria itu tentang istri Wilhelm … begitukah maksudmu?”

“Ya, begitu. Bagi Reinhard …. Bagi putraku, aku ingin dia tidak bertemu istriku dalam bentuk Prajurit Mayat. Dia pasti akan menyalahkanku. Karena aku yang salah.”

“Salah Wilhelm-san, apa maksudnya ….”

Itu tak benar, Subaru ingin bilang itu, tapi Subaru tidak bisa mengatakannya sembarangan.

Karena gambaran sosok Heinkel yang merusak suasana pagi hari sebelumnya terbesit dalam kepalanya.

Tiada kredibilitas. Tapi itu tak terpungkiri.

Wilhelm menganggap Reinhard penyebab kematian istrinya. Serta masa lalu sulit dan tak terpercaya yang tidak bisa disangkalnya.

“Apakah Subaru-dono berpikir Divine Protection of Sword Saint adalah sesuatu yang spesial?”

“… sejujurnya, tahu sedikit perihal itu. Barangkali orang-orang yang dipanggil Pedang Suci punya semua Divine Protection itu dan andai kata memilikinya, kau akan menjadi terlampau kuat, kesanku demikian ….”

“Tahu itu bukan hal salah. Tetapi bila ada perbedaan antara Divine Protection of Sword Saint dan Divine Protection lain …. Adalah, milik van Astrea bisa diwarisi.”

Selagi Subaru bernapas, Wilhelm mengangguk.

Pendekar pedang tua memejamkan mata ibaratnya tengah mengingat kembali ingatan menyedihkan.

Divine Protection of Sword Saint telah diwariskan turun-temurun tanpa gagal semenjak zaman Reid Astrea. Divine Protection-nya menjadi warisan keluarga Astrea, dan selalu anggota klan terpilih menjadi Pedang Suci berikutnya. Punya istriku jelas diturunkan ke Reinhard.”

“Lantas Divine Protection yang diwariskan dari klan ke klan … ya … seperti itu. Dan saat istrimu meninggal, miliknya ditransfer ke Reinhard.”

Sementara memahaminya, sesuatu tersangkut di kepala Subaru ketika dia semakin yakin.

Setelah sang Pedang Suci dibunuh Paus Putih, garis pewarisnya mengarah ke Reinhard. Itu adalah masa lalu menyedihkan, tetapi masa lalu yang bisa juga digambarkan sebagai pewarisan tepat. Alirannya tidak cocok sepenuhnya dengan argumen Anastasia pagi ini.

Wilhelm patah hati, cemooh Heinkel, kebisuan Reinhard, mengganggu gagasan pewarisan tepat.

Jawabannya adalah—

“itu, kala itu saat penaklukan Paus Putih.”

“Wilhelm … san ….”

“Reinhard mendapatkan Divine Protection selagi istriku berada di tengah ekspedisi melawan Paus Putih. Selama konflik itu, istriku yang ditinggalkan pedangnya, hanya bisa menghadapi pertarungan sebagai wanita biasa.”

—itulah kebenaran divisi Keluarga Astrea.

Di tengah pertempuran menaklukkan Paus Putih, Divine Protection-nya tiba-tiba diwariskan dalam pertempuran. Dalam medan perang itu, hasilnya adalah seorang mantan Pedang Suci.

Sekarang meninggalkan seorang pendahulu dan orang biasa, tuk membela banyak prajurit yang bertarung bersamanya—kemudian mereka kehilangan kontaknya.

“Orang yang merenggut pedang serta istriku adalah diriku sendiri. Memiliki istriku yang dicintai pedang, memaksanya mengabaikannya, dan mengubahnya menjadi wanita biasa, tak lain adalah diriku sendiri. Itulah yang menyebabkan kematian istriku.”

“….”

“Pedang yang dikhianati istriku tak memaafkannya, lantas sang Divine Protecton ditarik di medan perang. Dia semata-mata bergantung pada satu bilah, aku memikirkan bagaimana perasaannya ketika itu … memang benar aku tak menerimanya, lalu memfitnah Reinhard yang dipilih oleh Divine Protection. Selagi menangisi kematian ibunya dan menanggung beban berat baru, aku langsung bernafsu tak memaafkannya …. Aku menyesalinya sekarang.”

Semalam, penyesalan yang diungkap Wilhelm kepada Subaru—itu, adalah kesalahan tersebut.

Bahkan mengetahui Reinhard tak melakukan kesalahan, Wilhelm telah berduka atas kematian istrinya dan tidak sanggup menerimanya. Alhasil, Astrea terpecah.

“Aku takkan ingin mengulanginya lagi. Reinhard tidak salah atas kematian istriku. Aku sama sekali tidak punya alasan untuk menyalahkan cucuku.”

Jadi, alih-alih menyatakannya kepada Reinhard, dia bilang akan mengakhiri ini sendiri.

Perasaan itu, dia saat ini mengerti dengan sangat menyakitkannya perbincangan ini. Andaikan Subaru bisa melakukannya, dia pun ingin memahaminya. Tetapi, beban yang dipegang Wilhelm kebesaran.

“Perihal Crusch-san dan istrimu … akan dimakamkan di sana, Wilhelm-san. Walau aku tak membicarakan Prajurit Mayat, pertanyaan kapan kedatangannya ….”

“itu adalah kecemasan yang benar-benar tidak penting, Subaru-dono.”

“Hah ….?”

Wilhelm menggeleng kepala pada Subaur seketika hendak menunjukkan bahwa itu tidaklah pasti.

Selanjutnya sang Pedang Iblis berbicara dan ekspresinya berubah hingga meringis menakutkan.

“—sebab, tidaklah mungkin istriku tak datang menemuiku.”

8 Replies to “RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 45”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *