Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 83

Posted on

Saling Mengaku

CH 83.png

Penerjemah: DarkSouls

Merasakan tekanan yang menusuk-nusuk di kulitnya, Subaru mengerti bahwa pernyataannya baru saja menyentuh inti dari maksud Roswaal.

Senyum Roswaal terlihat sama seperti yang dia tampakkan persis sebelum dimakan oleh Kelinci Besar di salju ketika mengungkapkan sebagian rencananya.

Ekspresi itu tidak terlihat seperti kepasrahan maupun kebahagiaan, yang hanya akan memperburuk alarm di hati Subaru.

“Aneh~~apa yang memberimu pertanyaan itu?”

Terlambat, kebingungan Roswaal menandakan bahwa dia tidak berniat melanjutkan pembicaraan. Mendengar ini, Subaru mendecakkan lidahnya berkata Walau kau bertanya demikian…”

“Ada yang salah dengan caramu menolak saranku barusan. Ketika kau memasukkan syarat seperti Sanctuary harus dibebaskan tepat di bagian paling utama, tentu saja aku mencurigai sesuatu”

“Tapi aku sudah memaparkanmu penje~lasan yang sangat logis, bukan? Selain itu, demi kerja sama kita di masa depan, beberapa bukti diperlukan. Bahwa kau bisa menjadi pendukung Emilia-sama yang pantang menyerah――bahwa kau senantiasa memberikan solusi optimal di sisinya: Hal itulah yang aku ingin kau buktikan. Persyaratannya adalah membebaskan Sanctuary”

“Tapi bukan berarti pembebasan melulu. Metode melarikan diri oke-oke saja, kan? Jika kau ingin aku membuktikan diri, kau dapat mengaturnya nanti……”

“Izinkan aku bertanya sesuatu” ucap Roswaal.

Sebagai balasan atas desakan Subaru, Roswaal mengangkat satu jari. Memotong pernyataan bocah itu di tengah-tengah, Subaru terdiam saat Roswaal mengangguk tenang, dan tegar…

“Kau~lah yang tampaknya sangat khus~yuk tentang Ujian? Seolah-olah ada alasan mengapa kau tidak ingin Sanctuary di bebaskan?”

“Tentu saja aku ingin Sanctuary dibebaskan! Aku ingin agar Penghalang ini dibuka sesegera mungkin dan memindahkan masalah yang tidak dapat kita selesaikan ke tempat lain …… Tapi”

“Tapi?”

Mengoceh-oceh sendiri, Subaru baru sadar dia mengikuti arus Roswaal. Bila dia mulai berteriak dan melontarkan kata-kata tanpa berpikir dahulu, permainan tipuan ini akan berpihak pada Roswaal.

Setenang mungkin, Subaru merangkai kata…

“Aku tidak ingin melihat hati Emilia terluka karena menantang Ujian”

“Tapi bukankah itu Wewenang-mu? Seandainya Emilia-sama tersandung dalam Ujian ini, kau selalu dapat menggantikannya. Apa masalahnya? Yang penting adalah bahwa Sanctuary itu terbebaskan, kau sendiri yang bilang”

“Nh, gh ……”

Terperangah oleh ucapannya sendiri, Subaru menggigit bibir, mencari sesuatu untuk dikatakan. Tetapi mengucapkan omong kosong untuk menggantikan omong kosong bukanlah respon yang masuk akal.

“Tentu saja aku tahu tidak masalah apakah aku atau Emilia yang menyelesaikan Ujian. Menggali luka masa lalu terlalu menyakitkan bagi Emilia. Aku tahu harus menggantikannya …… hanya saja …”

“Tolong jangan bilang kau berdalih karena Ujian terlalu berat bagimu juga?”

Tatapan Roswaal semakin bengis, saat tuturnya tersembur tajam.

Terhadap Subaru yang linglung, Tidak, tidak, pikirnya…

“Untuk menyelamatkan dirimu, untuk meringkuk dari rasa sakit …… sekiranya itu alasanmu mencari jalan lain, segitukah ukuran pera~saanmu kepada Emilia-sama?”

“Bukan itu ……!”

“Bukan? Masa? Bisa-bisanya kau bilang begitu? Siapa yang percaya? Kalau kau peduli pada Emilia-sama, bukankah kau harus menelan semua rasa sakit, penderitaan, dan kesengsaraan? Apabila kau mencintai Emilia-sama, tentunya kau mesti memahami hal ini? Jika kau menganggap Emilia-sama lebih berharga dari orang lain, jika kau memprioritaskan Emilia-sama di atas hal lain, jika kau menganggap segala sesuatu selain Emilia-sama sebagai sesuatu yang sangat kecil dan menempatkan Emilia-sama lebih tinggi dari yang lain …… tentunya tidak aka nada masalah”

Pidato Roswaal yang fasih dan tak terbantahkan hampir menelan Subaru.

Meskipun kata-kata Roswaal adalah definisi dari keterlaluan, siapa pun yang memahami Return by Death Subaru kemungkinan akan mencapai kesimpulan yang sama.

Andaikan kejadian ini terjadi sebelum Satella mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya di pesta teh, Subaru mungkin akan mendapati dirinya setuju dengan logika ini.

――Ya, pasti begitu.

Subaru ingin berkata kepada Roswaal bahwa dirinya takkan pernah menjadi seperti dia dan mengorbankan segalanya demi satu hal.

Tetapi, bilamana Subaru meraih uluran tangan Echidna di pesta teh, saat ini Subaru mungkin akan hidup persis seperti yang diinginkan Roswaal.

Meninggalkan idealisme, menghilangkan pilihan, hanya mencari hasil, benar-benar membuang hal lain.

Mau seberapa parah lukanya, selama Emilia dan semua orang tersenyum di masa depan yang bahagia, maka oke-oke saja. Begitulah pemikiran Subaru.

Namun Natsuki Subaru, setelah memilih untuk menahan penderitaan itu, dapatkah tersenyum bersama mereka di akhir?

――Atau apakah dia hanya mengincar sesuatu yang dipaksakan dan tanpa kepastian, karena ingin melihat senyuman itu?

“…… Dalam artian tertentu, yang kau katakan itu benar, Roswaal”

“Dalam artian tertentu?”

Dengan menyipitkan mata tunggalnya, Roswaal memiringkan kepalanya ke jawaban Subaru yang penuh makna.

Menahan sorot mata kuning itu, Subaru mengimbuh…

“Seperti yang kau katakan, andaikan aku membuang semuanya dan cuma melindungi Emilia …… maka 100 persen selamatlah dirinya. Tapi itu tidak cukup”

“Tidak cukup ……”

“Aku akan menyelamatkan Emilia. Tapi aku tidak akan puas hanya dengan Emilia. Rem, Beatrice, semua orang di Sanctuary, semua orang di Mansion, dan semua orang yang membantuku di Ibukota ……. aku ingin menyelamatkan mereka semua, bersama-sama”

“――――”

“Gaya hidupmu yang semata-mata puas dengan satu orang tidak cocok untukku. Jujur, aku tidak yakin siapa yang serakah di sini”

Secara konsisten mendambakan satu orang dan meninggalkan segalanya untuk satu orang itu, dengan kata lain, sebuah keindahan.

Seseorang bahkan dapat mengemuka bahwa tidak ada tujuan yang lebih mulia ketimbang hidup dengan cinta seperti itu.

Mungkin cara Roswaal hanyalah idealis seseorang yang dianggap terlampau berlebihan.

Tetapi untuk benar-benar melakukannya membutuhkan tekad yang tak tertandingi. Menjelajahi jiwanya dan membuang segalanya kecuali yang paling berharga bukanlah gaya hidup yang bisa diterapkan Subaru.

Seperti biasa, Subaru terlalu picik seperti anak kecil yang egois.

“…… Seper~tinya masih belum cukup untuk mempertajam kebu~latanmu”

“…………”

“Untuk sesaat …… ya, untuk sesaat, aku punya harapan. Bahwa barang~kali diriku dapat mewujudkan masa depan yang kukehendaki. Tapi …… tampaknya ti~dak begitu”

Roswaal menggelengkan kepalanya, menyuarakan ratapan ini.

Perbincangan mereka telah memberitahu Roswaal bahwa Subaru masih kekurangan tekad yang diinginkan si badut.

Dibanding Subaru, Roswaal yang tidak berperasaan dan semena-mena, Subaru sekarang ini hanyalah sebuah kegagalan yang tidak diinginkan. Pada saat yang sama pula, bagi Roswaal, berarti mencapai titik terakhir dalam hidupnya

“Mau berapa kali …… Kau mengece~wakanku?”

———————————————————————–

“Kalau itu perasaanmu, lantas kau bisa sedikit bekerja sama bersamaku. Coba saja kau lebih membantuku, sebagian besar masalah kita sudah terselesaikan”

Subaru membalas cercaan ini kepada Roswaal yang kecewa.

Yang benar adalah, karena sangat kurang dalam departemen pertarungan, Subaru sangat membutuhkan kekuatan Roswaal. Sihirnya yang hebat bukan main membakar Monster Iblis dan teknik-tekniknya yang tepat sasaran membantai habis Kelinci-Kelinci Besar――melawan ancaman Kelinci Besar tidak akan mungkin suskes tanpa bantuan Roswaal.

Sebaliknya, andaikata Subaru bisa mendapatkan bantuan Roswaal, hal itu saja dapat menyelesaikan sebagian besar masalah Sanctuary.

Naasnya, Roswaal menggelengkan kepala terhadap permintaan Subaru yang kecil namun sangat bernafsu…

“Maaf, tapi aku tidak bisa. Bekerja denganmu seperti ini akan ter~lalu tidak menguntungkan untukku. Secara hipotesis …… ya, anggaplah secara hipotetis bahwa aku membantumu, dan kau mengatasi situasi ini. Tekadmu akan tidak jelas, lalu kau serta Emilia-sama pasti akan menghadapi hambatan lain di masa depan …… akankah kala itu kau juga mengandalkanku? Kau akan menunda ketetapan tekad yang semestinya ditetapkan di sini, membuatmu kembali berputus asa ketika jatuh ke situasi yang sama”

“…………”

“Kau tahu, Subaru-kun, Aku …… tidak bisa memberikan bantuan kecuali kepada seseorang yang dapat kupercayakan tujuanku. Sebuah hubungan ketergantungan tidak berguna untuk tujuanku. Jadi aku ingin kau berusaha sekuat mungkin untuk meyakinkanku bahwa dirimu memiliki tekad untuk maju”

“… Tujuanmu ……”

“Sayangnya, kali ini roman-romannya tidak akan terpenuhi. Aku mesti meletakkan harapanku di waktu berikutnya. Ketika kau dapat benar-benar dan tidak diragukan lagi menerima kekuatanmu”

Mengakhiri tuturnya, tubuh Roswaal berbaring miring seakan kehilangan kekuatannya.

Bagi Roswaal, dirinya yang sekarang sudah kehilangan alasan untuk hidup. Yang tersisa adalah menyaksikan kegagalan dan perulangan Subaru, membawa akhir dunia ini.

Jika perbincangan berakhir di sini, Subaru tidak akan mencapai satu hal pun yang ia inginkan.

Selagi melihat Roswaal menarik diri, melambaikan tangannya menyuruh Subaru untuk meninggalkan ruangan, lelaki itu mati-matian memaksa kepalanya untuk berpikir…

“…… Jadi apa yang harus aku tunjukkan untuk meyakinkanmu tekadku?”

“Hhm …… jujur saja, kuharap dari interaksi kita kau sudah mengeta~huinya. Mati berkali-kali hanya untuk menanyai hal itu membuang-buang usaha”

Tertarik oleh kata-kata Subaru, Roswaal duduk sekali lagi dan memegangi dagunya,

“Singkatnya, membebaskan Sanctuary akan meyakiniku. Aksimu sangat diperlukan demi pembebasan Sanctuary, dan kau harus punya tekad yang tak tergoyahkan untuk mengulang kehidupanmu sebanyak mungkin. Pembebasan Sanctuary sendiri merupakan bukti dari sang tekad”

“Tapi kenapa harus membebaskan Sanctuary? Memang, adalah jawaban yang terdekat, tapi …… kalau hanya mengatasi Ujian, apa hubungannya dengan tekadku sampai-sampai mengesampingkan yang lain? Maksudku, ada juga kemungkinan Emilia bisa melewati Ujian ini sendirian dan ……”

“Tidak ada”

Mendapati pernyataan Roswaal agak terlalu kelewatan, Subaru segera menyuarakan keraguannya. Tapi, tanggapan Roswaal sungguh dingin dan membungkam.

Ketajaman kata-kata Roswaal menakuti Subaru, sedangkan si badut mengibaskan jarinya,

“Harapanmu yang singkat tidak akan membuahkan hasil. Emilia-sama tidak a~kan mengatasi Ujian. Hal itu terlalu melemahkan hatinya”

“…… Hal … itu?” tanya Subaru.

“Tepatnya. Aku yakin sebagian dari hal itu berkaitan dengan pola asuhan dan kebiasaan yang sudah melekat erat, tetapi sifat itu tidak berguna. Emilia bahkan tidak bisa berdiri sendiri, layaknya anak kecil yang lemah dan rapuh. Melihat caranya melepaskan diri dari rasa bersalah dan penyesalan, terlihat sangat mengagumkan sampai aku merasa kasihan”

Mendengar Roswaal membicarakan Emilia dengan cara yang belum pernah Subaru dengar sebelumnya, manusia bumi itu kehilangan kata-kata.

Emilia yang pemberani, ulet, baik hati, bersemangat, antusias, untuk sementara waktu terperangkap oleh nasib buruk dan tidak mampu menyelesaikan Ujiannya, pasti akan melampauinya dan membebaskan Sanctuary dengan kekuatannya sendiri kalau saja ada waktu lebih. Subaru tidak pernah meragukan hal ini.

Satu-satunya alasan Subaru ingin mengambil Ujian menggantikan Emilia adalah karena tak ada waktu lagi, dan Subaru tidak tahan melihat Emilia terluka.

Bukan karena Subaru telah menyerah padanya atau mengira dia tidak mampu mengatasi Ujian.

“Bisa-bisanya kau bilang … bahwa Emilia tidak bisa melewatinya …… lalu mengapa, lalu mengapa kau membawanya ke sini!?”

“Karena kau. Karena kau ada di sini, bahkan setengah-elf yang lemah dan tidak berdaya berani bercita-cita untuk naik takhta. Tidak, dia akan naik takhta. Itu pasti. Karena kau akan menghapus semua jalur lain dan memastikan bahwa keinginannya terwujud. Itulah kekuatan yang ada padamu. Jika Emilia-sama mempunyai nilai, maka nilainya adalah kartu terkuat――dan kartu terkuat itu adalah dirimu”

“Aku …… kartu, yang terkuat ……?”

Mendengarkan pernyataan Roswaal yang membuat kepala pening, memanggilnya terkuat, klaim aneh itu membuat kepala Subaru kacau.

Terkuat adalah kata sifat yang benar-benar terdengar aneh oleh Subaru karena dia sangat lemah. Selain itu, menghina Emilia seperti yang dilakukan Roswaal tidak termaafkan.

“Kau bercanda, ya!? Kau tahu apa …… kau tahu apa tentang kegigihan Emilia, pemikiran seperti apa yang terlintas di kepalanya, dan seberapa besar penderitaannya karena Ujian!? Dipaksa menyaksikan masa lalu yang tidak ingin dilihatnya, tetap saja, dia …… Tahukah betapa gigihnya dia mencoba!? Tapi, kau malah…!”

“Seumpama semuanya sia-sia, maka sia-sia jua usahamu. Aku yakin kau mengetahuinya lebih ba~ik daripada diriku bahwa semuanya akan mubazir. Jika upaya Emilia-sama membuahkan hasil, lantas kau tidak perlu da~tang kemari”

“――――hk!”

Sanggahan bernada teriakan Subaru tidak membuat sedikitpun kesabaran Roswaal terpengaruh. Sebaliknya, seolah disiram oleh air dingin selagi tengah nafsu-nafsunya, Subaru diam seribu bahasa.

Faktanya, penjelasan Roswaal benar setengahnya.

Dari yang Subaru ketahui, Emilia tidak pernah melampaui Ujian pertama. Walaupun telah menghadapinya sebisa mungkin, setiap kali dia dirintangi oleh barikade masa lalunya, hatinya sedikit menipis.

Tidak dapat mengandalkan Puck dan perasaannya dikikis sampai ke inti, alhasil Emilia mengandalkan cintanya kepada Subaru, kemudian menjadi gila.

Karena Subaru tahu masa depan itu, Subaru tidak bisa menyangkal Roswaal dengan emosi belaka. Tapi, tidak mungkin dia diam saja melihat Roswaal menghina Emilia.

Roswaal, meremehkan Emilia sambil terlalu mengharapkan Return by Death Subaru, adakah cara untuk menghapus tampang sombong itu dari wajahnya? ――Saat dia memikirkannya, Subaru berteriak…

“Ya, aku mengerti maksudmu! Tapi tahukah!? Rencanamu takkan ada yang sukses!”

“Oh? Dan mengapa begitu……”

“Kau sepertinya berharap aku menggantikan Emilia dan menembus Ujian …… sayangnya Echidna sudah mencabut kualifikasiku! Rencana yang kau harapkan takkan bisa terwujud olehku! Sayang sekali, bukan-!”

Mengepit dadanya, Subaru berteriak pada wajah Roswaal yang kalem.

Bagi Subaru sendiri hal itu menyusahkan, tetapi bagi rencana Roswaal tentunya gagal total. Tahu kalau Roswaal mustahil bisa tetap tenang begitu dia mengetahui hal ini, Subaru baru hendak mengerutkan wajahnya membentuk senyum sinting, mendadak…

“――Kualifikasimu……Dicabut?”

Mendengar gumaman lirih nan sayu tersebut, beberapa saat kemudian Subaru menyadari bahwa gumam tersebut berasal dari Roswaal.

—————————————————————————-

Di depan matanya, tubuh Roswaal merosot ke tempat tidur, membeku kaku. Kedua matanya yang tidak serasi sekarang terbuka lebar, menatap Subaru, sedangkan bibirnya sedikit bergetar.

Sikapnya yang percaya diri seperti biasanya, yang objektif, memancarkan aura maha tahu, serta sifat anehnya yang tidak dapat dimengerti――semuanya telah terkelupas.

“Maksudnya… apa……”

“Ya, apa? …… Artinya ya begitu”

Dipanggil oleh suara goyah itu, Subaru tanpa sadar menjawabnya dengan suara gemetarannya sendiri.

Ditekan oleh suara Roswaal yang tidak seperti dia kenal, Subaru menelan air liurnya demi sedikit melembabkan tenggorokannya yang kering,

“Echidna … dia mendiskualifikasiku. Lupakan Wewenang Kekuasaan atas para kloningan, bahkan melangkah ke Makam membuat kepalaku hancur lebur. …… Kondisi kita sekarang sama, tidak bisa masuk bahkan sekalipun sudah mencoba yang terbaik”

“Kenapa, begitu …… tidak … bagaimana ini bisa terjadi… kau, semestinya mengikuti Ujian Makam …… kalau tidak, pembebasan Sanctuary… dan keinginannya ……”

Sambil menyentuh bibir, Roswaal mengeluarkan gumaman kosong ini dengan ekspresi tak percaya.

Dildo For 2019

Melihat reaksi intens yang tak terduga ini, Subaru tertegun saat dia menyadari bahwa niatnya lebih dari sekadar membalas dendam. Bukan cuma dalam rangkaian Perulangan ini, tetapi sejak hari mereka bertemu, ini pertama kalinya Subaru melihat wajah panik Roswaal. Bagian mana kata-kata Subaru yang dapat mengejutkan si badut sampai seperti ini?

Akan tetapi, Subaru hanya menelan nafas, dan.

“Dalam Kitabmu … memang tertulis bahwa aku akan menyelesaikan Ujian?”

“――――”

“Aku tahu seandainya hal-hal tidak mengikuti tulisan Kitab, kau akan menyerah pada segalanya. Tapi bila kau telah memutuskan bahwa menembus Ujian adalah pekerjaanku …… ​​maka itu tidak lagi bisa menjadi kenyataan”

Sebagaimana kesuksesannya atas Ujian Pertama, dan bagaimana para penyihir tampaknya berbagi ingatannya dalam Return by Death, Benteng Penyihir Keserakahan tidak tersentuh dunia luar.

Walaupun Subaru Kembali Dari Kematian, kenangan percakapan mereka di Benteng tidak akan pudar. Itulah sebabnya Subaru merasa diselamatkan dalam tempat itu, dan kenapa dia lebih sekedar menghormati Echidna. ――Karenanya, dia tahu Roswaal akan bertindak seperti itu.

Bahkan jika dia mati dan kembali ke Makam, kualifikasinya tidak akan kembali.

Dia membutuhkan izin Echidna untuk mendapatkan kembali kualifikasinya, tetapi untuk menerima izin, Subaru perlu memasuki Makam, sebelum memasuki Makam, dia perlu kualifikasi.

――Singkatnya, Subaru benar-benar kehilangan cara untuk menantang Ujian.

“Apakah ada … cara agar kau bisa mendapatkan kembali kualifikasinya ……”

“Seumpama tidak ada, kau tahu lebih baik dari diriku. Jika kau bilang tidak tahu, apalagi aku”

Seraya menjawab bisikan samar Roswaal, dari dalam hati, Subaru menemukan sebuah kemungkinan.

Kemungkinannya, Echidna akan menyaksikan perjuangan Subaru saat ini juga dari dalam Makam. Seolah merajuk setelah Subaru menolak bantuannya, dia menunggu dan memperhatikan apa yang dapat Subaru lakukan seteleh menerima bantuan Satella.

Sekiranya jalan itu berakhir dengan kegagalan, dan pada akhirnya dia menyerah lalu kembali memanggil-manggil sang Penyihir yang telah dia tolak, barangkali Echidna akan menawarkan bantuannya sekali lagi.

――Tapi, jikalau dia menerima bantuan Echidna maka membuang setiap kata yang Subaru tuturkan kepada Satella, dan juga setiap perasaan hatinya terpendam pada saat ini.

Dia akan mengantarkan Emilia ke masa depan yang bahagia.

Kendati itu saja cita-citanya, tetap lebih baik ketimbang hancur menjadi ribuan bagian di tengah jalan.

“Jika kau memutar kembali dunia, bisakah kamu kembali ke waktu sebelum kualifikasimu dicabut ……?” tanya Roswaal.

“Nampaknya kau salah paham akan sesuatu, kekuatanku tidak mahakuasa. Bukan berarti aku bisa kembali kapan saja tanpa adanya harga yang mesti dibayar …… selain itu, titik tempatku kembali akan berubah. Bila aku kembali, sampailah aku di masa kualifikasi dicabut. Aku masih tidak bisa masuk ke Makam” jawab Subaru.

“Aku, mengerti ……”

Suara Roswaal saat dia menjawab melirih, dan wajahnya seketika terlihat menua.

Aura Roswaal selalu terasa muda sampai-sampai hampir tidak mungkin untuk membedakan usianya. Tetapi sekarang, dengan pundaknya yang terkulai, aura itu pun hilang.

Ekspresi kesedihan dari seorang pria yang telah berpegang teguh pada khayalannya untuk waktu yang sangat lama, hanya untuk dibungkam oleh sesuatu di luar jangkauannya.

Di balik tata rias badut itu, untuk pertama kalinya, Subaru merasa bahwa Roswaal adalah seorang manusia sama dengannya.

Tetapi kebenaran ini tidak menyelesaikan apa pun, tidak peduli seberapa besar harapan Roswaal.

“Aku sama tersesatnya denganmu, Roswaal. Tetapi jika kita bekerja bersama dan membicarakan hal ini, aku yakin kita dapat menemukan solusinya”

“――――”

“Mungkin sangat sulit untuk mewujudkan hal yang sebagaimana dituliskan dalam Kitabmu, tetapi tulisan itu tidak harus menjadi akhir dari segalanya. Selama sebagian besar tujuannya tercapai …….. mungkin kau tidak setuju, tetapi kalau saja kita menemukan cara lain ……”

“……Tidak cukup”

“――Huh?”

Subaru berusaha berkompromi dan membuat Roswaal menyerah. Tetapi, dengan mata kosong yang tidak mungkin mendengar sepatah kata pun ucapan Subaru, Roswaal menggumamkan sesuatu. Secara tidak sengaja membuka mulutnya ketika dia mendengar hal ini, Subaru berjalan ke depan.

Apa yang ditukas Roswaal barusan? Salah dengar ‘kah Subaru?

Dan, semakin mendekat, bisikan Roswaal meluncur ke telinganya.

“――Semua cara aku coba untuk memojokkanmu, masih belum cukup, yah?

“Apa?”

“Aku tidak tahu situasinya, tetapi bilamana Echidna kembali pada keputusannya, kau dan dia pasti mendapatkan pertukaran yang sesuai. Semestinya aku menguatkan tekadmu dahulu guna menantang Ujian sebelum masalah tersebut terjadi dan memisahkan kalian …… Aku tidak berhasil”

“――――”

“Andai aku menyudutkanmu lebih jauh …… membuatmu sadar bahwasanya jika kau mencoba meraih segalanya, kau akan kehilangan hal terpenting …… namun ini tidak ……”

“Tunggu, Roswaal. Tunggu”

Apa yang dia tuturkan? Meski firasat Subaru berkata itu adalah sesuatu yang penting dan dia benar-benar perlu mendengarnya, entah kenapa dia ragu-ragu.

Karena, jika dia terus mendengarkan, dia tidak akan lagi tahan berada di sini.

Dia yakin akan hal itu.

Atau lebih tepatnya, dia sudah mencurigai sesuatu seperti itu sejak lama.

Namun kecurigaan yang membingungkan itu tidak pernah termanifestasi karena Subaru terjebak pada gagasan bahwa Roswaal tidak akan memiliki alasan untuk melakukan hal ini, dan juga keyakinan lemah yang ada pada dirinya.

Tetapi kata-kata yang hendak diucapkan Roswaal mengakhiri semuanya untuk selama-lamanya.

Sebelum ini terjadi, Subaru harus mengatakan sesuatu. Naas tidak peduli seberapa keras Subaru menggali diri Roswaal, bocah itu tidak dapat meramu kata, selagi waktu terus berlalu…

“Memanggilmu dan Emilia ke Sanctuary, mengetahui watak Garfiel …”

“――――”

“Memaksa Emilia-sama untuk menantang Ujian, mengetahui kengeriannya, sehingga luka-lukanya akan membuatmu terpelatuk untuk mengambil langkah……”

“Tunggu, harap tunggu. Tu――”

Dan–

“Menunjukkan bahwa kau pasti akan kehilangan orang-orang berharga yang jauh dari jangkauanmu, dan dengan melakukan itu, kesempurnaanmu …… semua itu, semua itu masih belum cukup”

ilus CH 83.png

Dengan ini, Roswaal baru saja mengaku bahwa dirinyalah yang menarik pelatuk tragedi dalam Mansion.

8 Replies to “Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 83”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *