Ankoku Kishi Monogatari Volume 1 Bab 17

Ankoku Kishi Monogatari ~Yuusha wo Taosu Tameni Maou ni Shoukansaremashita~

Volume 1

Bab 17

[Melawan Teman Masa Kecil]

Penerjemah : DarkSoul

Sudut Pandang Ksatria Kegelapan, Kuroki.

“Kok gampang ya”

Sampai sekarang tak seorang pun mampu menahan sihir tidurku. Aku membuat semua orang yang aku temui sejauh ini jatuh tertidur.

Kalau aku tahu semuanya akan semudah ini, aku tidak harus mengenakan baju zirah hitamku. Aku sudah menghitung-hitung kemungkinan penyerangan ini akan menjadi pertempuran sengit, tapi…

Aku menggelengkan kepalaku, karena kecerobohan akan menjatuhkanmu. Kita main aman saja.

Saat aku membuka pintu menuju ruang altar ini, aku akan bertemu Rena di sana.

Setelah kubuka pintu dan masuk ke ruangan, ternyata bagian dalamnya sangat besar. Ruang altar dimandikan cahaya dari beberapa alat sihir.

Formasi besar sihir tergambar di tengah-tengah ruangan.

Dan ada sebuah lentera batu yang sedikit lebih tinggi dariku, berdiri di 4 sudut formasi sihir.

Lentera batu itu entah bagaimana mirip dengan yang dimiliki Modes, tidak salah lagi, lentera itu adalah alat bantu pemanggil yang dibuat oleh Dewa Penempa, Heibos.

Lalu, seorang wanita berdiri di tengah formasi sihir, membelakangiku.

“Apa kau sudah menangkap si penyusup, kepala pendeta?”

Tanya Rena masih membelakangiku.

“Maaf, tapi aku bukan kepala pendeta”

Rena berbalik setelah mendengar ucapanku.

“Ksatria Kegelapan…..Tidak mungkin, DIEHART!”

Rena tergagap dengan wajah panik.

“Pemindahan, (TELEPORTASI)!”

Namun sihir tersebut tidak terapal.

“Sekali lagi maaf, aku menyegel sihir pemindahan saat aku memulai serbuan kuil ini. Tidak seorang pun di arena ini bisa merapalkan sihir pemindahan”

Rena menampakkan ekspresi terkejut.

Aku pernah dengar bahawasanya sihir penyegel tidak bisa digunakan jika kekuatan sihir musuhmu lebih besar. Jadi, kurasa jumlah kekuatan sihir Rena dan punyaku tidak jauh berbeda.

Jika metode ini tidak berhasil, yah tidak ada jalan lain lagi. Aku lega semuanya berjalan dengan lancar.

Ketika aku menghampiri Rena, dia melangkah mundur sembari melihat-lihat sekitarnya.

Mungkin, dia tengah mencari senjata.

Tapi, sepertinya tidak ada sesuatu di ruangan ini yang bisa dijadikan senjata.

“Targetmu…adalah aku”

Aku menggelengkan kepalaku kemudian melepaskan helm.

Aku bisa mendengar tarikan napas Rena.

“Senang bertemu denganmu, Dewi Rena. Maaf terlampau maaf karena telah menyusup ke kuilmu”

Dengan begitu, aku menunjukkan tata kramaku sambil memegang helm.

Aku risau apakah tata kramaku tepat.

Aku belajar dari Modes mengenai tata krama menghadap dewa-dewi di dunia ini. Kupikir perlu mempelajarinya setelah tahu bahwa aku akan menjambangi keseluruhan dunia ini.

Tata krama alam ini tidak jauh berbeda dari duniaku. Karena tampaknya tidak perlu saling bersentuhan atau budaya di negara lain duniaku, mungkin hanya kebetulan mirip.

Alasan aku menunjukkan tata kramaku bukan karena Rena adalah orang jahat.

Walau dia mungkin saja orang jahat, tingkah lakuku harus sopan di depannya.

Ketika aku mendongakkan kepalaku dan menatapnya, aku melihat sebuah sosok yang jauh lebih cantik dari parasnya.

Rena terus memelototiku.

Aku menunggu tanggapan Rena.

Tapi, dia terus melihat wajahku tanpa mengatakan apa pun.

“Dewi…Rena?”

Dengan santun kupanggil namanya.

“Ya…EH…”

Sepertinya dia kembali sadar. Rena malah linglung.

“S-sepertinya targetmu bukanlah aku. Kalau begitu untuk apa kau datang ke sini, ksatria kegelapan?”

Rena tersenyum lembut. Tanpa sadar, aku terpesona dengan senyumnya.

Mungkin dia bersyukur karena aku tidak mengincar nyawanya.

“Dewi Rena, boleh aku memastikan sesuatu darimu?”

“Sebuah…kepastian?”

“Ya. Apa kau…akan memanggil orang dari dunia roh lagi layaknya diriku?”

Nah, aku berbohong. Aku ingin menarik informasi sebanyak-banyaknya dari Rena, karena aku sudah datang sampai sejauh ini.

“Ah, soal itu ya…kau salah, ksatria kegelapan Diehart”

Rupanya Rena berpikir aku datang kesini untuk menghentikan pemanggilan.

“Lalu…apa?”

“Ini untuk mengirim rekan-rekan sang pahlawan kembali. Bukankah akan menguntungkanmu?”

Rena berpikir ada konflik diantara pahlawan dan diriku. Mungkin dia menyangka akan lebih menguntungkan jika rekan pahlawan tidak ada.

“Justru ini malah mengurangi kekuatan tempurku semenjak orang-orang dari dunia roh telah dilarang keberadaannya oleh para dewa di dunia ini. Jadi, tidak perlu memanggil lagi”

“Apa itu benar? Aneh, yang aku tahu, mengembalikan orang-orang yang terpanggil ke dunia asalnya dengan teknik ini … mustahil seharusnya, kan?”

“Ah, tampaknya kau sudah mengetahui hal itu dari Modes…Tapi, kau tidak boleh mempercayainya. Pemanggilan dari awal memang tidak benar, tahu”

“Aku mengerti, asumsi saja ceritamu benar. Akan tetapi, perbuatanmu akan sangat membahayakan rekan pahlawan, benar?”

“Tentu saja itu benar. Tapi, semua itu tidak ada hubungannya denganmu kan?”

Ketika aku mendengar Rena menuturkannya jelas-jelas, aku memakai helmku lagi.

Semuanya sudah kupastikan.

“Ksatria…kegelapan?”

Karena aku tiba-tiba memakai helmku lagi, Rena memanggilku dengan suara cemas.

Tidak perlu lagi bertanya.

Aku menarik pedangku dan melompat ke atas lalu memotong satu Alat Bantu Pemanggil.

“A-APA…”

Suara itu adalah teriakan terkejut Rena.

Bagian atas alat bantunya hancur dan jatuh ke lantai dengan ledakan.

Terus, aku memotong alat kedua dan ketiga.

Setelah memotong yang keempat, aku menghunuskan pedangku pada Rena.

“Bagimu para pahlawan itu apa?”

Kataku sambil menahan amarah.

Rena kebingungan mendengar pertanyaanku. Sedikit ketakutan tercampur di wajahnya.

“…Benar juga…kau orang yang terpanggil”

Rena bergumam sambil membayangkannya.

“Kenapa sampai segitunya kau menipu para pahlawan…”

Kataku sambil mengunuskan pedang pada Rena.

“Benar-benar masalah yang kelewat besar tahu…aku membuat teknik pemanggilan itu…”

Imbuh Rena dengan wajah pahit.

Entah bagaimana dia kehilangan ketenangannya hingga membuat teknik pemanggilan.

“Mungkin itu benar…”

“Mau bagaimana lagi, benar-benar menjijikkan. Modes si buruk rupa itu sangat keterlaluan sampai berani menciptakan tiruanku…”

Kata Rena sambil mengalihkan pandangannya.

“Dengan susah payah akhirnya dia diusir dari Elios, meski demikian…KENAPA DIA MELAKUKAN HAL SEMACAM ITU!!!”

Aku tidak bisa lagi menanggapinya.

Benih konfliknya dengan Modes adalah karena wajah buruknya. Karena itulah, kami dipanggil untuk menyelesaikan konflik ini.

Jujur saja, aku melemas setelah mendengar itu.

Tapi, kalau dipikir lagi, sebagian besar penyebab konflik ini adalah karena masalah emosional, seperti kejadian ini.

Jika tidak begitu, aku akan pusing memikirkan bahwa tidak ada sesuatu yang akan terjadi bila Modes adalah tipe pria yang disukai banyak wanita.

Raja Iblis dicerita-cerita telah menculik sang putri. Mungkin cerita itu digunakan untuk membuat para pahlawan berkenala dan mengalahkan sang Raja Iblis sehingga tidak jadi dilema setelah mendengar kebenarannya?

Dari awal juga, jika sang Raja Iblis sudah tampan, dia tidak perlu menculik wanita, semua wanita pasti sudah menyukainya, dan pasti tidak akan ada konflik apa pun. Membingungkannya, mengapa mereka perlu bertarung?

Putri bisu yang tidak punya kesempatan mengatakan sesuatu sepanjang cerita berlangsung, jika diberikan kesempatan dia pasti akan menyumpah-nyumpah “MATILAH, DASAR BABI JELEK HARAM!” kepada Raja iblis. Aku tidak pernah mendengar cerita putri baik hati mengampuni nyawa Raja Iblis yang dikalahkan.

Tapi, itu bukanlah alasan dirinya menipu Shirone.

Paling tidak Rena memberitahu mereka kebenarannya. Itulah keputusan yang terbaik untuk Rena dan mahluk lainnya.

“Dewi Rena, tolong beritahu kebenarannya pada para pahlawan”

Pedangku terhunus langsung ke Rena.

“…Hey, apa kau mau menjadi ksatriaku?”

Tapi, Rena mengatakan sesuatu yang tidak dapat ditebak.

“HAHH!?”

Aku sangat terkejut.

“Janggal rasanya jika orang sepertimu melayani Modes. Karenanya, kau harus menjadi ksatriaku”

Apaan sih yang dibicarakan Dewi ini?

Terus, pahlawan akan menjadi apa? Permintaan itu cukup aneh.

Terlintas bayangan di pintu yang terbuka.

“HYAAHHHHH!!!”

Bayangan itu mendekat dan berniat menebasku.

Aku menghindari tebasan itu.

“Syukurlah kau tidak apa-apa, Rena!”

Bayangan itu adalah Shirone.

“Maaf terlambat. Banyak spartoi yang menjaga jalan ke sini…”

Shirone menghunuskan pedangnya sambil menutupi Rena di belakangnya.

“Dasar pengecut. BERANI-BERANINYA KAU MENGHUNUSKAN PEDANGMU KEPADA SEORANG WANITA BERTANGAN KOSONG INI!”

Shirone menatapku dengan wajah marah.

Aku tidak ingin dia memelototiku dengan mata seperti itu.

“Rena, larilah! Serahkan sisanya padaku!”

“Ah, ya…aku mengerti, Shirone…kuserahkan sisanya padamu”

Rena, yang didesak oleh amarah Shirone, pergi menuju pintu.

“TUNGGU…!”

Saat aku mengejarnya, Shirone menghadang jalanku.

“Kau tidak boleh pergi lebih jauh lagi! Musuhmu adalah aku!”

Sudut pandang teman masa kecil Kuroki, Pendekar Pedang Wanita, Shirone.

Aku tidak memperkenankan Reiji melawannya.

Aku meratapi Sahoko yang susah-payah menghentikan Reiji.

Dia tidak bisa membiarkan Reiji-kun pergi lebih jauh lagi karena ini akan melukainya.

Sekarang giliranku.

Reiji-kun adalah pahlawan kami.

Aku mengenal Reiji-kun sejak SMP. Saat itu, aku mengira dia adalah seorang playboy.

Hingga terjadi suatu kejadian.

Saat itu, aku ingin menyelamatkan keterlibatan adik kelas perempuanku dari para penjahat.

Aku cukup percaya diri dengan skill yang kulatih di rumah. Aku sungguh-sungguh ingin menyelamatkan adik kelasku.

Itulah sebabnya, pada hari itu, aku pergi menyelamatkan adik kelasku sembari membawa-bawa pedang kayu.

Aku bertemu lima orang pria yang sedang mengepung tiga orang gadis. Mungkin pria-pria itu murid SMA, mereka memancarkan aura ganas dari tubuhnya.

Sampai saat ini aku tidak pernah kalah dari cowok nakal sebayaku. Aku yakin bisa mengalahkan mereka selama aku mempunyai pedang kayu ini.

Hari itu, aku salah kaprah.

Salah satu pria geram karena ditunjuk oleh pedang kayu dan menyerangku dengan pipa besi.

Aku menangkis serangannya dengan pedang kayu. Serangan itu menyeramkan. Saat itu, tanganku mati rasa, dan menjatuhkan pedang kayuku.

Mereka mendengus saat aku ketakutan karena kehilangan senjata.

Reiji-kun mendadak muncul. Bukan hanya aku, adik-adik kelasku juga meminta Reiji-kun menyelamatkan mereka.

Aku ingat betul gerakan Reiji-kun saat itu. Hanya menggunakan tangan kosong dan dengan mudahnya mengalahkan mereka berlima.

Walaupun tidak punya senjata ketika melawan musuh yang lebih tinggi, dia dengan mudah mengalahkan mereka. Sosoknya seperti pahlawan legendaris.

Reiji-kun tersenyum hangat padaku yang gemetar ketakutan. Aku menangis ketika melihat senyum itu.

Tangan kanan Reiji-kun terluka dari perkelahian barusan. Jadi, aku dan adik kelasku merawat Reiji sampai lukanya sembuh. Sejak saat itu aku ingin melindungi Reiji-kun jika sesuatu terjadi padanya.

Aku bertemu Sahoko-san dan Chiyuki-san juga.

Mereka semua suka saling menggoda ketika menjadi haremnya Reiji-kun.

Aku sebal. Kendati aku tidak ambil pusing jika mereka mencemoohku, aku pastinya tak akan memaafkan orang lain yang mencemooh Reiji-kun.

Meskipun Reiji-kun tidak mengapa-ngapain mereka.

Aku bahkan bertengkar dengan teman masa kecilku, Kuroki, karena masalah itu. Walau Kuroki tidak terang-terangan mengatakannya, dia jelas-jelas tidak suka Reiji. Dan itu yang membuatku sangat jengkel.

Tidak, mungkin karena alasan itulah yang membuat Kuroki marah-marah.

Kali ini, aku mengatakan banyak hal buruk pada Kuroki. Kurasa Kuroki sakit hati setelah aku menyemburkan kata-kata jahat padanya.

Waktu itu mungkin aku keterlaluan. Meski demikian, Reiji-kun adalah seorang pahlawan, dan aku ingin Kuroki menyadarinya.

Bahwa Reiji-kun adalah pahlawan dunia ini.

Sekarang, aku mengingat-ingat anime yang aku tonton dulu. Itu adalah cerita tentang seorang pahlawan yang datang ke dunia lain untuk mengalahkan Raja Iblis. Situasi kami persis sama seperti cerita itu.

Dahulu kala, Kuroki dan aku berperan sebagai pahlawan anime itu. Pahlawannya aku, sedangkan Kuroki sebagai tokoh antagonisnya. Ngomong-ngomong, aku lupa nama tokoh antagonisnya.

Aku tahu Kuroki selalu ingin memerankan pahlawan. Tapi, aku tidak mau mengalah, aku selalu ingin menjadi pahlawan.

Mungkin pahlawan yang sebenarnya adalah Reiji-kun. Bukan aku.

Ketika Reiji-kun hampir tewas di pertarungan sebelumnya, aku terkejut.

Sebelumnya, aku menganggap Reiji-kun sebagai pahlawan legendaris yang tak terkalahkan.

Tapi, aku salah ketika melihat luka Reiji-kun, dia diambang kematian.

Aku tahu betul dia kalah dari Diehart.

Saat itu Sahoko-san stress. Dia mati-matian menyembuhkan Reiji-kun.

Bagi Sahoko-san, Reiji-kun adalah orang yang spesial.

Seperti Kuroki.

Kuroki pasti mengkhawatirkanku.

Itulah kenapa aku harus kembali.

Aku akan kembali pulang dengan Chiyuki-san agar Kuroki tenang.

Kau pasti ketakutan jika seseorang yang spesial bagimu terluka.

Gelisahku tidak hilang-hilang ketika melihat Sahoko-san.

Lalu, aku bergegas pergi.

Sudah menjadi tugasku untuk bertarung ketika Reiji-kun terluka.

Aku pergi ke ruang altar dan mengalahkan dua spartoi.

Saat memasuki ruangan, Diehart sudah menghunuskan pedangnya ke arah Rena.

Melihatnya, aku kehilangan ketenanganku.

Reiji-kun tak akan pernah mengarahkan pedangnya pada wanita bertangan kosong.

Dan orang ini melakukan itu.

“HRYAHHHHHHH!!”

Aku mengayunkan pedangku, melawan Diehart.

Sudut Pandang Ksatria Kegelapan, Kuroki.

“Bersiaplah, Diehart!”

Aku menangkis serangan Shirone.

Kenapa semuanya jadi seperti ini.

Ngomong-ngomong, soal Diehart, bukankah ini mirip drama yang kami perankan dulu?

Aku harus memberitahu kebenarannya pada Shirone. Tapi aku tidak bisa mengungkapkan identitasku. Dan karena keenggananku semuanya menjadi seperti ini.

Aku memikirkannya ketika pedangku saling bersilangan dengan Shirone.

Shirone mengayunkan pedangnya dengan aura membunuh.

Aku lega serangan Shirone mudah dibaca. Jadi mudah pula bertahan melawannya.

Aku menyadari gerakan ini saat bertarung dengan Shirone.

Alasan aku bisa mengetahuinya karena pernah dikalahkan oleh Rieji. Jadi, kutanya diriku sendiri mengapa Reiji menang melawanku.

Kali pertama aku bertarung dengannya. Aku sama sekali tidak bisa membaca gerakannya.

Aku kalah, benar-benar kekalahan yang menyebalkan. Aku tidak akan kalah jika melepas perlengkapan pelindung berat itu.

Kemudian, aku tidak mengetahui kenapa bisa kalah. Pokoknya, aku tidak bisa melihat pedang lawanku. Aku bingung dan tidak bisa menyingkirkan ketakutanku.

Kali kedua bertarung dengannya, aku entah bagaimana bisa membaca gerakannya. Aku menang.

Lalu, aku mengetahuinya lagi ketika bertarung melawan Shirone.

Gerakan Shirone berasal dari ilmu pedang dasar. Maka dari itu, tidak bisa kumengerti logika dibaliknya.

Berlawanan dengan Shirone, gerakan Reiji bukanlah gerakan seseorang yang lama mempelajari ilmu pedang—benar-benar kacau. Karena itulah aku takut padanya, sebab tidak memahami logika dibalik gerakannya dahulu.

Sebetulnya, gerakan Reiji tidak buruk jika digunakan untuk bertaurng, tapi bukan gerakan seseorang yang mempelajari ilmu bela diri.

Akan tetapi, Reiji mempunyai kemampuan fisik yang terlampau kuat. Caranya bertarung bagaikan hewan buas yang mengandalkan kekuatan kasarnya.

Mungkin itu alasan orang-orang yang mempelajari seni bela diri tidak bisa menang melawannya.

Karena seni bela diri dibuat khusus untuk bertarung dengan manusia. Lantas orang-orang itu tertegun dengan gerakan hewan buas Reiji.

Dalam pertarungan pertama aku pun sama. Karena seseorang tidak boleh bergerak serampangan dalam kendo.

Ketika kami bertarung untuk kedua kalinya, gerakan Reiji sama sekali tidak berubah. Itulah sebabnya gerakan Reiji bisa kubaca, dan memenangkan pertarungan itu.

Kendati, ketika bertaurng melawan Shirone, aku sadar bahwa gerakan Reiji mirip dengan gerakan hewan buas.

Aku tidak bisa menang melawan Rieji selama yang ada dalam kepalaku bukanlah manusia, melainkan hewan buas.

Aku tidak akan mengetahui itu jika menolak permohonan Modes.

Bahkan sekarang pun, Reiji adalah manusia hewan buas.

Hewan buas yang selalu menuruti hasratnya. Biasanya, kau tidak bisa hidup sebebas dirinya. Para wanita mendambakannya, dan para pria cemburu padanya.

Aku tidak bisa hidup bebas seperti dirinya. Mungkinkah Shirone juga tertarik oleh cara hidup Reiji?

Mungkin aku tidak bisa menang melawan Reiji dalam aspek tersebut, bahkan aku tidak bisa mengalahkannya dalam pedang, pikirku begitu.

Shirone mengayunkan pedangnya.

Sudah lama aku tidak bertarung melawan Shirone. Bisa jadi Shirone sudah lemah dikarenakan hal itu?

Sosoknya yang dulu lebih kuat. Atau aku saja yang menjadi lebih kuat?

Harus cepat menyelesaikan pertarungan sia-sia ini.

Harus memberitahu Shirone kebenarannya. Karena alasan itu, aku harus membuatnya mendengar ceritaku.

Mungkin dia tidak akan mendengar Diehart.

Tapi sebelum melakukannya, Shirone harus kubungkam dulu.

Malahan, aku tidak bisa menang melawan Shirone. Bukan berarti aku santai-santai saja padanya, hanya saja entah kenapa, aku tidak bisa menyerangnya. Karena itulah di akhir pertarungan aku masih kalah.

Ada pedang asli di tanganku, bukan pedang kayu. Semakin membuatku tidak ingin menyerangnya. Karena aku tahu akan melukai Shirone jika menyerangnya.

Dan aku tidak bisa mengakhiri pertarungan ini tanpa melukainya.

Nah, apa yang harus kulakukan?

Sudut Pandang teman masa kecil Kuroki, Shirone.

Kuat. Pedangku tidak bisa mencapainya.

Pikirku sembari melihat musuh di depanku, Diehart.

Dia dengan gampangnya menangkis semua seranganku.

Gerakanku sudah terbaca sepenuhnya.

Diehart terus menghindari seranganku.

Sejauh yang aku tahu, hanya satu orang yang mampu bergerak segemulai itu.

Dan orang itu adalah om-om yang datang latihan di dojo rumah.

Om-om yang baru-baru ini jadi pelatih adalah kenalan ayahku.

Ayahku pernah bilang om-om itu adalah ahli pedang yang jenius.

Kadang kala, aku menonton pertarungan ayah dan om-om itu. Ayahku yang kuat itu kalah tanpa mampu menyentuh lawannya.

Gerakan Diehart mirip dengan om-om itu. Aku yakin Diehart mungkin sekuat om itu.

Meski demikian, om itu tidak bagus menilai orang lain.

Maksudku dia bilang Kuroki punya bakat. Walaupun dia tidak pernah menang sekali pun melawanku.

Om itu mengajari banyak hal pada Kuroki.

Jika kau bertanya kenapa aku tidak bisa belajar darinya, itu karena ajarannya sangat keras dan langsung membuatku menyerah.

Sekarang, aku mulai menyesal.

Jika aku bertahan lebih lama lagi, aku mungkin mampu melawan Diehart.

Aku mau nangis. Sejujurnya, partarungan ini sudah berlalu lama.

Alasan pertarunganku bisa alot begini adalah sebab lawanku tidak menyerang.

Dia hanya bermain-main saja, pikirku begitu.

Aku dongkol. Lawanku sungguh cupu karena berani melawan seorang wanita tanpa senjata. Aku kesal karena tidak bisa menang melawan orang serendah dirinya.

Tapi, aku tidak bisa melakukan apa-apa selain mengayunkan pedangku.

Lalu, setelah berkali-kali kuayunkan pedangku.

Tanganku terasa lebih ringan dan terdengar suara tang.

Aku melihat tanganku yang tidak lagi memegang pedang.

Senjataku jatuh ke samping.

Aku tercengang.

Aku diserang saat sedang bengong.

Normalnya, aku melemaskan pegangan pedangku dan hanya memegangnya kuat-kuat saat mengayunkannya.

Momen-momen tenangnya ketika aku melemaskan pegangan pedangku.

Momen pentingnya adalah ketika aku menguatkan genggaman gagang pedangku.

Diehart menyerang tepat sebelum aku menguatkan genggaman pedangku.

Pedangku dibentur oleh Diehart ketika genggamanku masih lemas dan dihempaskan dari tanganku.

Tidak bisa kupercaya. Tak kusangka ada seseorang yang memiliki kekuatan setara dengan dewa.

Dia seperti monster, itulah kesanku ketika menatap Diehart.

Tertegun. Namun DIehart tidak melakukan apa pun.

Mungkin aku hanya angin baginya.

“Aku tidak bisa menjadi pahlawan…”

Tanpa sadar, air mata mengalir jatuh.

“JANGAN PIKIR KAU MENANG KALAU HANYA MENGALAHKANKU!”

Aku meneriaki Diehart sambil menangis.

Sudut Pandang Ksatria Kegelapan, Kuroki.

Semuanya berjalan dengan lancar, pikirku begitu.

Aku berhasil melancarkan serangan ketika dia sedang lengah.

Skill ini tidak bisa digunakan oleh seorang pemula yang selalu mengandalkan pedang mereka.

Aku bisa menggunakan skill ini karena ilmu pedang Shirone dan pengalaman bertarungku dari pertarungan yang dulu-dulu.

Aku mendekati Shirone.

“Aku tidak bisa menjadi seorang pahlawan…”

Gumam Shirone dengan kepalanya yang tertunduk ke bawah.

Kakiku terhenti ketika mendengar perkataannya.

“JANGAN PIKIR KAU MENANG KALAU HANYA MENGALAHKANKU!”

Jerit Shirone sambil memelototiku.

Dia menangis.

Aku tidak bisa berkata apa-apa ketika melihat air mata mengalir turun dari wajahnya.

“CEPAT ATAU LAMBAT, REIJI-KUN AKAN MENGALAHKANMU!!!”

Lalu, dia menarik napas dan berteriak keras-keras.

“KARENA REIJI-KUN JAUH LEBIH TAMPAN DARI RATUSAN DIRIMU!”

Cercaannya menusuk hatiku hingga lubungnya.

Jujur saja, itu terlalu menyakitkan.

Lalu aku ingat dia pernah mengatakan hal yang sama di masa lalu.

Persis sama ketika aku bertengkar dengan Shirone soal Reiji.

Saat itu sangat-sangat menyakitkan.

Sakitnya duri yang menghujam hatiku sampai sekarang masih dirasakan.

Yeah, aku tidak bisa menang. Meski menang soal ilmu pedang, aku tidak bisa menang melawan Reiji.

Setelah berteriak keras, Shirone roboh di tanah dan mulai menyeka tangisnya.

Aku terbungkam, tidak tahu apa yang hendak dilakukan saat melihat Shirone menangis.

Lebih tepatnya, aku yang membuatnya menangis. Bukankah aku si antagonis utama dalam cerita ini?

Perasaanku semakin terhanyut ke dalam kehampaan.

Aku harus memberitahu kebenarannya. Aku galau bagaimana cara memberitahunya.

Alat Bantu Pemanggil telah hancur, setidaknya Shirone tidak dalam bahaya.

Meskipun Rena bilang dia tidak akan melakukan apa-apa…tapi tetap saja.

“Apa kau tidak apa-apa, SHIRONE!”

“SHIRONE_SAN!!!”

Terdengar suara Reiji ketika aku masih merenungkan hal itu.

“R-REIJI-KUN…?”

Shirone sedikit terisak dan tersenyum ketika melihat Reiji.

Melihatnya begitu, sekarang aku malah ingin menangis.

“KAU-!!! JAUH-JAUH DARI SHIRONE!!!”

Reiji menarik pedangnya.

Sosoknya mirip seperti seorang pahlawan yang hendak menyelamatkan putrinya.

Jika memang begitu, aku yang jahat ini tidak punya pilihan lain selain pergi.

Aku menyarungkan pedangku dan berjalan ke arah yang berlawanan dari Reiji dan Shirone.

Aku tidak peduli pada suara cemas Reiji di belakangku.

Selagi berjalan, api hitam pekat muncul di tanganku.

Seakan-akan api hitam ini menyembul keluar dari lubuk hatiku.

Aku menembakkan api hitam tersebut ke langit-langit kuil. Membakarnya dan membuat sebuah lubang tanpa menyisakan satu debu pun.

Hanya seperti itu, aku melompat ke atas atap kuil dengan sihir terbang dan kembali ke Nargol.

Negeri hitam itu mungkin lebih cocok untuk diriku.

Aku tidak peduli jika para dewa Elios mendapatiku menggunakan sihir terbang.

Sosok kesepianku terbang di bawah cahaya rembulan.

One Reply to “Ankoku Kishi Monogatari Volume 1 Bab 17”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *