86 VOLUME 1 BAB 4

Posted on

Kamilah Legion

Sebab Kami Banyak

Penerjemah: Dark Legiun

Tersentak bangun karena terminal1 portabel yang mengirimkan e-mail baru, Lena duduk dan meregangkan badan. Membiarkan terminal informasi menyala, layar holo menampilkan jeda deretan gambar hasil foto kamera, dan di terminalnya sendiri tergeletak lautan kertas, catatan perang yang telah dia cetak.

Sinar mentari mengalir masuk lewat tirai kamarnya yang menghadap timur cerah. Mengenakan gaun tipis transparan yang digantung di rak baju dan jemarinya menyisir rambut, Lena bangkit berdiri dari tempat tidur. Membuka e-mail kliennya, dia mendapati pesan itu dari Annette.

‘Festival Revolusi akan dihelat bulan depan, kan? Ayo pergi cari gaun pesta sama-sama di hari libur nanti’.

Setelah berhenti untuk berpikir sebentar, dia mengetik jawaban singkat dan menekan KIRIM.

Maaf! Aku akhir-akhir ini agak sibuk. Undang aku lagi lain kali, oke?

Balasannya langsung dikirim—Kau belakangan ini sering mengabaikanku, Lena.

—diikuti e-mail lagi.

Mengabdikan dirimu kepada 86 seperti ini tidak ada manfaatnya bagi seorang pun, tahu.

Lena berbalik sesaat. Di belakangnya terdapat catatan tempur skuadron yang kemarin sudah dia analisis lebih jauh. Dia dengan cermat mengumpulkan laporan misi yang buruk tulisannya serta rekaman berkas data misi Juggernaut. Laporan patrolinya, entah kenapa, kosong seperti biasa, tetapi di sampingnya, terdapat gunung emas sesungguhnya, harta karun informasi sejati mengenai taktik anti Legion.

Ini akan membantu hidup semua orang. Dia yakin soal itu. ‘Maaf’.

Ω

 

“—kenapa tidak pergi?”

Jawab Shin tidak peduli, menjawab basa-basi Resonansi Sensorik sambil merawat senapan serbu yang biasanya dia simpan dalam kokpit Undertaker. Mereka mulai ngobrol selama laporan, teknisnya saat mereka semestinya keluar berpatroli.

Kala itu sore hari, dan Shin berada di kamarnya dalam barak. Anak kucing susah payah menggaruk pintu yang shin kunci agar dia tak memain-mainkan bagian senapan.

“Tapi bagaimana kalau terjadi penyerbuan di tengah-tengah pesta?”

Lena nampak sangat tidak puas. Sepertinya dia terlalu serius, atau tidak fleksibel.

“Tidak ada hal khusus yang akan terjadi.”

“Aku bahkan kaget mereka sempat-sempatnya mengadakan pesta di tengah perang.”

“Aku yakin terjadi pertempuran di beberapa wilayah luar sana. Apa pun yang terjadi dalam dinding takkan memengaruhi luar sini.”

Shin mencabut pin dan melepaskan baut dari bagian pelatuk, menaruh bagian-bagiannya di kain yang dia rentangkan. Senapan serbu tidak efektif melawan kebanyakan Legion, tapi senjata-senjata itu punya kegunaannya. Bisa jadi datang waktu barang ini adalah satu-satunya senjata yang dia miliki, lantas membiarkannya tanpa terawat bukanlah pilihan.

“Pikirku kau harusnya pergi. Analisismu berharga, tapi tidak ada alasan kami perlu memonopoli waktu pribadimu, Mayor.”

Lena terdiam oleh perkataan itu.

“Apakah mungkin, yang aku lakukan tidak berguna ….?”

“Sama sekali tidak demikian. Bantuanmu sangatlah dihargai.”

Itu adalah perasaan jujurnya. Shin takkan sampai memarahi ego perwira komandan.

“Pada akhirnya, kami hanya tahu garis depan. Punya perspektif dari perwira berpendidikan dan analisis data dari pandangan luar mengenai keseluruhan situasi itu teramat-amat berharga.”

“… senang mendengarnya.”

“Terlepas dari itu, kau tidak harus menghabiskan waktu untuk kami.”

Shin merasa Lena cemberut dari sisi lain. Melepas pin ekstraktor, Shin terus bicara dengan nada monoton.

“Kalau kau terlalu memikirkan medan perang, kelak kau akan sepertiku.”

Lena mendesau, tidak tahu apakah ucapannya serius atau semacam candaan. Pokoknya, dia ditinggalkan tanpa motivasi.

“Kadang-kadang kau bisa bercanda juga, Kapten Nouzen …. Baiklah, aku mengerti. Aku akan mencoba bersenang-senang sementara berada di sana. Aku yakin akan berbahagia di tengah-tengah pesta bego dan sepatu hak tinggi juga gaun.”

Menjawab lelucon Shin dengan sarkasme Lena sendiri rupanya membuat Shin tertawa.

“Festival Revolusi, ya? Oh ya, dulu ada hal semacam itu, kan?”

“Kau ingat sesuatu tentang itu?”

Shin terdiam sesaat.

“Sepertinya ada kembang api? Di taman dengan air mancur, depan istana.”

Lena mengangkat kepalanya terkejut.

“Benar banget! Itu Istana Presiden Luñè, dalam Sektor Pertama … apa kau dulu tinggal di Kawan Pertama, Kapten?”

Blok perumahan Sektor Pertama adalah daerah makmur sejak zaman monarki, dan para penghuninya adalah semua keluarga yang telah lama tinggal di sana sejak berabad-abad lalu …. Tetapi keluarga Celena yang adalah keluarga-keluarga bangsawan terhormat, tampaknya merupakan penghuni utama. Penduduk Colorata jarang ditemui di sana, bahkan sebelum semuanya berubah sembilan tahun lalu.

Boleh jadi tanpa sadar dia pernah berpapasan dengan Shin di masa lalu. Pemikiran itu membuat hati Lena kesepian.

“Aku tidak begitu ingat, tapi barangkali bersama semua anggota keluargaku … aku ingat kakakku berjalan bersama di suatu tempat, memegang tanganku.” Lena mesti menahan napas. Dia melakukannya lagi.

“Maaf ….”

“… buat apa?”

“Aku tidak sensitif. Terakhir kalinya, juga … maksudku, keluarga dan kakakmu ….”

“Oh ….”

Berbanding terbalik dengan nada putus asa Lena, Shin terdengar agak ketus.

“Tidak apa. Aku pun hampir tak ingat.”

Shin semestinya masih cukup muda ketika terpisah dari keluarganya. Atau mungkin lima tahun perjuangan dalam kecamuk perang telah memakan ingatan berharga tersebut.

Sekilas, gambaran seorang anak yang masih berdiri, tersesat dalam perjalanan menujuh rumahnya dalam medan perang, terlintas dalam benak Lena.

“—dia bilang harus hidup dan akan kembali. Kembali kepadamu.”

Lena mencoba mengingat dan menyampaikan kata-kata yang ditinggalkan Rei lalu mengukir ke dalam ingatannya seakurat mungkin. Lena bicara sembari membayangkan dalam kepala Rei menutur kata-kata itu. Resonansi Sensorik menyampaikan suara mereka satu sama lain, dan tatkala Beresonansi, mereka tahu perasaan kedua belah pihak seolah-olah mereka sedang saling berhadapan.

Dia berharap ingatannya tentang Rei muncul, meskipun Shin lupa. Wajah dan suaranya masih menetap di hati Lena.

“Dia bilang, dengan banyak cinta di matanya, bahwa kau mungkin akan tumbuh lebih besar. Aku tahu seberapa berarti dirimu baginya. Kakakmu benar-benar, jujur saja … ingin kembali kepadamu.”

“… andai saja kau benar.”

Jawabannya datang setelah jeda dan perkataannya gentar, merinding, seakan-akan berharap dia benar tetapi tanpa ragu-ragu tahu segala sesuatunya tidak benar.

“Kapten …?”

Shin tak merespon, dan Lena terdiam, menyadari Shin tidak ingin lebih jauh membahas topik ini. Satu-satunya hal yang mengganggu keheningan ini adalah samar-samar suara derak logam. Suaranya perlahan-lahan mengeras, bunyi klak khas familier. Lena memiringkan kepala terheran.

“Kapten, apa kau barangkali membongkar senapan?”

Shin terlihat ragu sesaat.

“… ya, benar.”

“Aku pikir kau sedang patroli sekarang.”

Terdiam.

Menyadari mengapa laporan patrol selalu terlampau kurang, Lena mendesah berat. Namun entah bagaimana, reaksi skuadron Spearhead kelewat cepat. Lena tidak pernah bertanya cara mereka senantiasa tahu posisi Legion, bahkan lebih cepat dari yang ditunjukkan radar.

“Seumpama kau mengira patroli tidaklah penting, maka aku rasa memang betul … begitu pula senapan.”

86 tidak diizinkan mempunyai senjata api apa pun.

“Aku yakin kau menggunakannya karena memang harus, lantas aku tak berniat menghakimimu atas hal ini … tapi tetap pertahankan dalam kondisi yang baik.”

“… terima kasih.”

Tak menyangka mendengar tukas itu dari Shin, Lena berkedip kaget.

“Apa aku … mengatakan hal tak biasa?”

“Tidak … aku cuma menduga kau bakal semakin marah perkara ini, Mayor.”

Mendengar Shin mengungkap keterkejutannya, tatapan Lena keluyuran. Benar, saat dia baru saja ditugaskan, dia mengomeli Shin agar menyerahkan laporannya dan boleh jadi membuat Lena terbiasa mengeluhkan rekan-rekannya di markas pusat yang mengejek peraturan.

“Itu tidak benar … aku tak bermaksud menjadi orang taat pada peraturan dan larangan yang tak terlalu berarti. Seperti yang kukatakan, kaulah yang memilih apa-apa yang penting atau tidak penting untuk bertahan hidup dalam medan perang, dan aku berniat menghormati keputusanmu.”

Seseorang sepertiku, yang tidak pernah mengenal medan perang, tak berhak berdebat denganmu. Pemikiran pahit itu sekejap terbesit dalam benaknya, Lena menggeleng kepala kemudian kembali ke pemikirannya.

“Bagaimanapun juga, kurasa bahkan senjata cadangan yang kau temukan tergeletak di tempat perlu perawatan. Senapan serbu Republik beratnya buukan main. Orang-orang di Sektor 85 benci membawa-bawanya, apalagi berlatih memakainya.”

Model standar yang dipakai militer Republik menggunakan peluru kaliber ukuran penuh, dan terbuat dari campuran logam kokoh. Dibuat seperti itu dengan asumsi mereka mesti melawan musuh lapis baja, tetapi hasilnya, senapan itu berat nian.

Shin, anehnya, agak terkejut.

“Berat? Benarkah?”

Lena tercengang pada betapa terkejutnya Shin, dan selanjutnya terlintas kepadanya: ‘Ya, tentu saja. Lagian dia ini laki-laki’. hal itu membuatnya sangat canggung dan sadar diri.

Karena, yah, itu …. Dia sudah begitu lama belum pernah berbicara dengan laki-laki.

“… Mayor?”

Resonansi Sensorik mentransmisikan perasaan seseorang yang mungkin bisa dibaca pada ekspresi wajahnya, dan menurut Shin, seolah Lena tahu-tahu mendadak memerah.

“B-bukan apa-apa. Ah, hmmm ….”

Tiba-tiba, suasana Resonansi dari sisi Shin menjadi sangat tegang. Lena merasa Shin bangkit berdiri tanpa kata, ppadangannya tertuju ke suatu tempat jauh. Statis yang selalu bergemuruh terus-menerus di kejauhan serasa bagaikan menjadi sedikit lebih kuat.

“Kapten Nouzen?”

“Tolong bersiap-siap menghadapi pertempuran.”

Lena memalingkan pandangannya menuju terminal informasi untuk mencari-cari peringatan, tapi dia tetap diam seperti biasa. Akan tetapi kata-kata Shin sejelas kristal.

“Legion akan datang.”

Telah Beresonansi dengan Shin sebelumnya, Lena telah berpartisipasi dalam pertemuan strategi. Shin dengan singkat mulai merinci segalanya dari jumlah musuh sampai cara musuh membagi dan mengerahkan pasukan, hingga perkiraan rute yang akan mereka lalui. Melihat banyaknya detail yang Shin berikan membuat Lena terheran-heran. Apakah strategi pencegatnya selalu mencakup informasi yang begitu akurat dan teliti?

Pertemuan berlanjut, dan dengan demikian, Lena mengajukan sejumlah opsi berbeda. Sarannya akhirnya diterima, dan operasi dimulai sesudah tinjauan singkat strategi yang hendak mereka terapkan.

“Kekuatan utama pasukan adalah peleton campuran tipe Grauwolf.”

Setiap unit ditempatkan ke titik berbeda-beda pada zona bunuh mereka untuk menyergap Legiun. Lena melaporkan komposisi unit musuh—satu-satunya detail yang tidak cukup jelas, cukup aneh—menyimpulkannya dengan mereferensikan radar serta catatan perang sebelumnya.

“Menilai tingkat produksi dan efisiensi perawatannya, tipe Tank semestinya langka karena kami begitu banyak menghancurkannya di pertempuran terakhir.  Maka dari itu, sulit meyakini mereka menggunakan strategi yang menaruh tipe Artileri Anti Tank di lini depan.”

Stier mungkin kurang mobilitas, dan peluru anti tank otomatis kurang lapis baja, membuat mereka layak dalam penyergapan saja. Karena dirancang miripp tank, Stier mempunyai kelemahan serupa—kelemahan sama yang coba dihilangkan manusia semenjak penemuan tank bertapak rantai2.

“Peluru anti lapis baja ringan mungkin tidak efektif pada tipe Tank, tapi tipe Dragoon umumnya berlapis baja ringan dan tidak bisa mengandalkan tembakan pelindung tipe Penembak Jarak Jauh. Bila kita cepat menghabisi tipe pengintai, kita seharusnya dapat membuat mereka tidak berdaya.”

“Wehrwolf kepada semua unit. Aku barusan mengonfirmasinya dengan mata kepala. Prediksi mayor sangat tepat.”

Raiden, yang baru saja kembali dari pengintaian, membenarkan kata-kata Lena. Suaranya melampaui kagum dan heran.

“Maksudku, kau terus-terusan mengoceh perihal tingkat produksi dan efisiensi pemeliharaan …. Kau tidur di malam hari tidak, wanita?”

Shin tiba-tiba memotong pembicaraan mereka.

“Mayor. Bisakah kau memutus Para-RAID untuk misi ini?”

“Hah?”

“Kami akan melawan unit tipe Grauwolf di daerah perkotaan, dan hasilnya akan menjadi bentrokan jarak dekat. Kami akan melakukan kontak jarak dekat dengan musuh. Terus Beresonansi denganku dan musuh yang banyak … apalagi dekat itu berbahaya.”

Setiap kata yang diutarakan Shin berbahasa Republik sempurna, tetapi dia tidak paham pernyataannya. ‘Shin baru saja bilang apa? Dengan Domba Hitam sebanyak ini?’

“Seandainya kau ingin menjelasan, akan aku berikan nanti. Putus Para-RAID-mu.”

Dia sungguh-sungguh tersadar tidak ada waktu untuk penjelasan sewaktu mereka berada di ambang pertempuran, tetapi diminta mengabaikan tugasnya tanpa alasan baik membuat Lena secara refleks menentang.

“Anggota regu lain masih terhubung denganmu, dan dengan gangguan Eintagsfliege ini, transmisi nirkabel takkan berfungsi jikalau terjadi sesuatu. Aku takkan memutus koneksiku.”

Lena menolak permintaannya sambil marah. Shin kelihatannya ingin mengatakan sesuatu, tetapi setelah tahu bahwa Legion sudah terlalu dekat, Shin menelan kata-katanya.

“… aku sudah memperingatkanmu, akan risikonya.”

Meninggalkan Lena dengan ucapan perpisahan pahit itu, Undertaker bangkit berdiri.

Pertempurannya ribut seperti yang dikatakan Shin, sekutu dan musuh yang dalam sekejap mata pindah posisi. Lena memelototi radar yang berjuang menampilkan titik-titik dalam tekanan gangguan elektronik, selagi satu tangan menekan telinganya. Apa ini? Suaranya mengerikan. Bukan dari kamarnya, pasti yang didengar Shin dalam medan perang. Tapi apa yang membuat suara ini?

Titik merah yang mewakili unit musuh mendekati titik biru yang mewakili unit sekutu. Undertaker. Unit Shin. Di medan perang nan jauh, titik merah itu menghampiri Shin, sesuatu mirip uluran tangan menekannya selagi dua titik bercahaya melintasi layar radar—

Suara asing terdengar dengan jernihnya mengerikan pada telinga Lena.

“—ibu.”

Permohonan kosong tanpa makna, sebagaimana tarikan napas terakhir orang sekarat. Seketika Lena berdiri membeku di tempat, bisikannya berlanjut, mengulang-ngulang kata tunggal yang menguras seluruh nostalgia serta emosinya di hadapan totalitas kematian tiada batas.

“Ibu. Ibu. IbU. IBU. iBu. ibU. IbU. Ibu. IbU. IBU. iBu. ibU. IbU. Ibu. IbU. IBU. iBu. ibU. IbU. Ibu. IbU. IbU. iBu. iBU—”

“Eeeeh—?!”

Seluruh rambut di tubuh Lena berdiri tegak.

Tangannya mencoba menyumbat telinga, tetapi suara dari Resonansi Sensorik itu mengabaikan upaya sia-sianya. Ratapan sekarat itu akan berulang kali menyerangnya, memanggil-manggil sang ibu. Kata itu hilang serba-serbi bahasa, memudar hingga serangkaian imbuh belaka, sampai suara semata. Napas sekarat tanpa ampun itu berulang di telinganya, kegigihannya setara kegilaannya.

Jeritan dari perutnya menghempas suara tangisan ibunya, tetapi tergantikan erangan lain senada, menyapu jalan mereka masuk ke kesadarannya secepat kilat.

“Tolong aku tolong aku tolong aku tolongaku tolongaku tolongAKU TOLONG aku ToLongAKu TOLongAKu Tol—”

“Panas panas panas panas panas PANaSS panas PaNAS paNAS paNaS.”

“Tidak … tidak … TidakTidakTidakTidakTIDAKTIDAKtidaktidaktidaktidaktidaktidaktidaktidaktidakTiDakTIDaK.”

“Mama, mama, mama, mama, mama MaMAMamaMaMamAmA.”

“Aku tidak mau mati. Aku tidak mau mati. Aku tidak mau mati Akutidakmaumati Akutidakmaumati Akutidakmaumati AkUTiDakMauMATi.”

“T-tidak … TIDAAAAK—!”

Teriakan penderitaan menghancurkan pikiran dan akal sehatnya. Di suatu tempat dalam siklus erangan tanpa akhir, dia dapat mendengar suara Shin.

“Mayor, putus sambungannya! Mayor Milizé!”

Sifat tenang biasa laki-laki itu tak normalnya menegang, tetapi usahanya gagal menembus dinding panik pikiran Lena. Dia menutup telinganya sebisa mungkin, meringkuk ketakutan dan berteriak untuk menenggelamkan suara-suara itu, tetapi sia-sia saja. Tepat saat mengira kewarasannya hendak terjatuh ke dalam kekuatan paduan suara sekarat—

“Cih.”

—mengklik frustasi lidahnya, Shin memutus Resonansi. Erangan dunia lain langsung berhenti.

“………………. ah ….”

Lena mengangkat kepala ketakutan dan ragu-ragu melepaskan tangan di telinganya …. Keheningan total. Dia betul-betul terputus dari Prosesor.

Lena menatap kosong ruang kontrol remang cahaya, mata membelalak dan napasnya berat. Rupanya, karena panik dia terjatuh dari kursi, sebab dia duduk di lantai.

Tadi … itu apa ….?

Bukan suara Prosesor. Bukan dari mereka, terlalu banyak sahutan di sana. Di antara irama penderitaan itu, dia mendengar suara orang familier. Dia ….

—aku tidak mau mati ….

“… Kirschblüte … Kaie …?”

Tepat ketika Shin memotong Resonansi dengan Lena, kawanan Domba Hitam mulai berkerumun ke sekitar Shin yang menyipit kesakitan terhadap badai ratapan dan jeritan tiada henti. Mayoritas kekuatan musuh adalah tipe Grauwolf, mesti menembus mereka dengan tebasan pisau frekuensi tinggi, mengiris lapis baja tipis sebagaimana metega, perlu waktu terlalu lama untuk memutus koneksi dengan Handler-nya. Rintihan, isakan, dan erangan tak terhitung menyatu menjadi hiruk-pikuk kesedihan jelas yang mengguncang Shin sampai jiwa terdalamnya dan mengancam hendak memecah gendang telinganya. Tetapi yang menggantikan suara itu, pada jarak ini, adalah terdengarnya suara jelas seseorang, Theo-lah orang pertama yang menyadarinya lewat Resonansi dengan Shin.

“Sial, tidak …. Tadi itu Kaie …!”

Shin merasa beberapa orang terkesiap ngeri, sekejap, lini pasukan meledak gempar.

“Kaie …?! Brengsek-brengsek itu mengambilnya …?!”

“Sialan …. Bukannya Anju sudah mengkremasinya …?”

Selagi rekan-rekannya meratapi nasib teman mereka, Shin fokus pada tangisan tiada habis, mencoba melacak kembali posisi Kaie. Performa ini mustahil bagi orang lain yang Beresonansi dengan Para-RAID, tetapi Shin adalah Shin, dia bisa melakukannya. Pencariannya tak memakan waktu lama, dalam waktu dekat, dia sudah tahu jarak dan arahnya. Aksinya barusan bahkan lebih tepat dari menemukan jarum di tumpukan jeramin, suatu prestasi yang melampaui panca indra.

Kurena mendekati target.

“Gunslinger. Arah 060, jarak 800. Kawanan berjumlah lima belas. Dia berada di baris depan, Grauwolf kedua dari kanan.”

“… diterima.”

Suara Kaie yang terus-terusan menangis karena Kaie tidak ingin mati, terputus seketika tembakannya tepat sasaran. Sepasukan orang mati, hantu hidup yang takkan menerima kematiannya sampai mereka dihancurkan.

Masih dalam spiral ratapan tiada akhir yang mengecam hendak menghancurkan jiwa Shin, dia menghela napas kasih.

“Jadi sekarang ini pertarungan balas dendam, ya ….?”

Pasukan hantu yang takkan menerima kematian sampai mereka dihancurkan. Ibarat berharap pergi ke tempat semestinya.

Shin seketika tersadar gadis Handler itu barangkali takkan Beresonansi dengannya lagi … merasa kesal dengan dirinya sendiri sebab menganggap itu mengecewakan.

Ω

Perlu matahari terbenam dulu baru Lena dapat bertekad mengaktifkan kembali Para-RAID.

Sejak saat itu, setiap kali dia mencoba terhubung, gelombang ketakutan dan sensasi mual menyerangnya, saat ini dia akhirnya berhasil memanggil, malam tiba—lampu-lampu di pangkalan hampir padam.

Dia berpikir sambil takut-takut kalau memanggil selarut ini mungkin akan merepotkan, tetapi dia menyisihkan pemikiran itu. Dia paham apabila sekarang menundanya, dia barangkali takkan pernah Beresonansi dengan mereka lagi. Dia akan terus mendesaknya sampai esok hari, berkali-kali menggunakan dalih serupa.

Sadar akan napas cepatnya, Lena menarik napas dalam-dalam kemudian mengaktifkan Para-RAID. Syukurnya, orang yang dia hubungi belum istrirahat ke tempat tidur. Panggilannya segera tersambung. Dia Beresonansi dengan satu orang—dan hanya orang itu. Dialah orang yang menyuruhnya memutus hubungan, dia pula yang memperingatkannya kalau tetap Beresonansi akan berbahaya. Lena pikir dialah orang yang tepat untuk ditanyakan.

“… Kapten Nouzen.”

Lena samar-samar merasa Shin membuka mata.

“Ini Milizé. Anu, apa kau nganggur sekarang?”

Ada selang waktu aneh sebelum dia bicara. Entah kenapa, Lena sayup-sayup mendengar suara air mengalir saat dia terhubung.

“… aku sekarang lagi mandi.”

“H-hah?!”

Lena tidak pernah mendengarnya memekik sehisteris ini. Merah merona sampai telinganya, Lena kesulitan memikirkan sesuatu untuk dikatakan, pikirannya bolak-balik dalam lingkaran bingung. Kepanikannya berbeda dibanding siang ini, tetapi entah bagaimana dia berhasil menenangkan diri dan mengatakan sesuatu.

“M-maaf. Ya, tentu saja, lagian sudah semalam ini … a-aku akan mengakhiri panggilannya sekarang.”

Sudah bisa ditebak kalau suara Shin selanjutnya nyaris terdengar mengejek.

“Aku tidak keberatan, tapi setelah ini aku pengen tidur. Semisal ada yang ingin ditanyakan, boleh kau tanyakan sekarang. Tentu saja, jika kau tidak keberatan, Mayor.”

“B-baiklah, kalau begitu … dalam hal ini ….”

Semua hal dipertimbangkan, ayah Lena meninggal sewaktu dia masih muda, dia tidak punya saudara laki-laki, apalagi pasangan. Situasi ini adalah sentuhan yang terlalu merangsang bagi hati sucinya, tak berdaya menyadari pipinya membara seraya membuka mulut untuk berbicara.

“Ah …. Bagaimana pertempurannya? Apa ada yang terluka … atau gugur …?”

“Kami semua baik-baik saja. Apa itu tujuanmu menghubungiku …?”

“Tidak, tapi ….”

Bahkan bagi para elit seperti mereka, tidak ada jaminan selamat tatkala bertarung melawan Legion. Terutama tidak di tengah-tengah teriakan mengerikan itu …. Dia tidak mampu menahan pikiran mengerikan bahwa mereka semua akan mati kala diliputi suara itu sekaligus takkan ada orang yang Diresonansikan.

“Kapten …. Suara-suara yang kudengar di sana itu apa …?”

Sebegitu pertanyaan tersebut terurai dari bibirnya, perut Lena merasa merinding. Suara statis yang selalu didegarnya di latar belakang Resonansi tanpa henti berdetak, layaknya gemerisik dedaunan hutan, bagai suara lalu lintas nan jauh. Dia kini menuyadari gema jauh jeritan serta rintihan itu. Akhirnya menyadari mengapa Shin dipanggil Reaper dan kenapa semua Handler yang bekerja bersamanya amat ketakutan. Inilah alasannya.

“Apa itu …?”

“….”

Sekilas, Lena cuma mendengar derak air.

“Suatu waktu aku gagal mati.”

Rasa sakit kelam nan jauh merayap di leher Lena. Sensasi sempit redup dan berat. Seolah sesuatu mencekikknya. Tetapi asalnya bukan dari leher Lena sendiri, melainkan dari Resonansi Sensorik …. Dengan kata lain, dari Shin.

“Tidak, aku bisa jadi mati hari itu. Dan aku bisa mendengar suara-suara itu karena diriku sama seperti mereka …. Suara-suara hantu, orang mati yang hidup, tidak menghilang.”

“Hantu …”

Dia ingat pernah berbicara dengan Annette mengenai kecelakaan ayahnya. Perkara bagaimana bila seseorang meningkatkan stimulasi saraf Perangkat RAID sampai maksimum secara teoritis dan Diresonansikan kesadaran dunianya sendiri, dengan sesuatu di jurang terdalam, takkan ada jalan kembali.

Misal demikian, bagaimana kalau semua orang mati kembali ke dunia itu? Ke jurang? Barangkali mereka yang hampir mati, mereka yang hampir jatuh ke jurang … dapat menghubungi apa pun di sana, sebagaimana Para-RAID yang terhubung dengan manusia. Dapatkah mereka, misalnya, menghubungi orang-orang yang telah mati dan terjatuh ke jurang maut? Mereka yang berhasrat kembali ke raga-raga tinggalnya dulu …? Mampukah mereka menghubungi hantu?

Tapi ada sesuatu yang tidak mengikut.

Karena itu adalah ….

“… para Legion … kan?”

Lena mendengar suara-suara tersebut tatkala Grauwolf mendekat, dan Shin sempat mengatakan sesuatu sebelum pertempuran dimulai.

“Legion pun termasuk hantu. Mereka kehilangan alasan hidup sebagai senjata begitu Kekaisaran runtuh, lantas mereka getayangan, terbebani oleh kehendak sang pencipta …. Pasukan hantu-hantu negara mati.”

“… jadi alasan kau selalu bisa tahu waktu Legion datang …”

“Ya. Gara-gara aku bisa mendengar mereka. Aku tahu apakah mereka mendekat. Aku senantiasa tahu, bahkan dalam tidurku.”

“Sebentar …!”

Lena berteriak. Shin membuatnya terdengar sepele, tapi tak mungkin sesederhana itu. Dia tahu kapan mereka mendekat—? Bahkan markas musuh terdekat sejatinya berada sangat jauh. Siapa tahu berapa banyak Legion dalam jangkauannya?!

Suara-suara hantu—suara lalu lintas nan jauh, bergemerisik. Para-RAID diatur ke rasio sinkronisasi rendah, sehingga hanya bisa mengambil suara speaker dan gerakan tubuh mereka. Satu-satunya hal lain yang sanggup dideteksi cukup keras pastilah mesti cukup keras sampai-sampai bergema dalam tubuh. Andaikan Lena dapat mendengar gemerisik-gemerisik samar … suara Shin anggap apa siara mengaduk yang selalu didengarnya sewaktu Lena Beresonansi dengannya?”

“Kau bisa mendengar apa sekarang, Kapten? Sejauh mana, dan kedengarannya bagaimana …?”

“Aku tidak tahu jarak persisnya, tapi aku bisa mendengar semua Legion di area perbatasan lama Republik …. Kendati, ketika mereka lebih jauh lagi atau bergerak dalam kelompok, tidak dapat membedakan mereka secara individual.”

Dunia yang menentang segala deskripsi. Biarpun, secara individu, mereka mampir sebagai bisikan, tetapi Legion-nya adalah keseluruhan di setiap front. Dan Shin merasakannya, setiap saat setiap hari. Biarpun kau sedang tertidur.

“Bukannya … sulit bagimu?”

“Aku terbiasa. Sudah sangat lama.”

“Berapa lama …?”

Dia tidak menjawab. Lena memutuskan beralih ke pertanyaan berikutnya.

“Letnan Dua Kaie Taniya. Aku mendengar suaranya di sana. Apakah karena dia … anu, menjadi hantu?”

Bahkan Lena masih sulit memproses itu, apalagi mengartikulasikannya. Suara air terhenti. Sensasi rambut basah dihanduk.

“Dengar-dengar Republik memperhitungkan perang akan berakhir paling lama dalam waktu dua tahun. Betulkah?”

“Y-ya …. Kau tahu dari mana?”

Lena mengangguk, terkejut oleh pergantian topik. Dia pikir Prosesor tak mendapatkan informasi agar tak menjadi inspirasi harapan kepada mereka.

“Theo mendengarnya dari kapten yang diceritakannya, dan aku mendengarnya dari Theo …. Prosesor sentral Legion memiliki rentang nyawa yang melekat kepada mereka, dan mereka sepatutnya dimatikan dalam kurun waktu dua tahun, benar?”

“… ya.”

Prosesor sentral Legion mempunyai struktur diagram berdasar sistem saraf pusat mamalia untuk membuat mesin nano cair. Mereka memang punya kekuatan proses yang menyaingi kemampuan kognitif mamalia bersar, tetapi terdapat integrasi batas waktu tetap dan program yang akan menghapus struktur diagram tersebut.

“Seketika aku mendengarnya dari Theo, semuanya mulai masuk akal. Awalnya, walaupun aku dapat mendengar suara Legion, suaranya hanya campur aduk saja. Tetapi setelah jangka waktu tertentu, aku mulai mendengar suara-suara campuran orang. Aku tahu kenapa sampai terjadi, tapi hingga saat itu, aku tidak tahu mengapa mereka melakukannya.”

Lena merasa seakan rambutnya dijenggut kasar oleh seorang wanita yang takkan pernah dia lakukan serta gemerisik kain tidak jelas. Dan menjengkelkannya, dia bahkan tahu seberapa kaku dan ketat kainnya.

“Seumpama struktur prosesor sentral mereka berangsur-angsur mati, mereka hanya mesti menggantikannya dengan struktur diagram lain … dan lagipula ada banyak pengganti yang tersedia.”

“… tidak, tidak mungkin.”

“Ya. Sistem sarat sentral paling berkembang dari semua mamalia. Otak manusia.”

Gambaran dalam benaknya membuat Lena mual. Bukan lagi muak—penghinaan martabat manusia—tetapi suara Shin tetap tenang seperti biasa.

“Tepatnya, aku pikir bukan salinan otak sepenuhnya. Andaikata mereka menggunakan otak sebenarnya, mereka akan cepat busuk, dan dalam banyak kasus tubuh korban tak terkecuali. Mayat-mayat yang otaknya mengalami kerusakan minimal itu langka, kurasa. Lalu dalam praktiknya, kami pernah menemui beberapa Legion yang sering berbagi suara serupa. Kaie mungkin masih di luar sana, di suatu tempat.”

Hantu mesin jam, berulang-ulang memutar momen-momen terakhir gadis malang tersebut bagaikan kotak musik tanpa henti.

“Jadi kami menyebut mereka hantu, tapi aku pikir mereka berbeda dari yang orang-orang anggap sebagai jiwa. Mungkin menyebut mereka sisa-sisa keberadaan orang lebih akurat. Sekalipun mempunyai kesadaran seseorang, mustahil berkomunikasi dengan mereka. Terlebih lagi dikarenakan mereka mereplikasi otak pada kondisi mati, mereka hanya memutar-mutar isi kepala orang di ambang kematian.”

“Domba Hitam …”

“Benar. Domba Hitam, bersemayam hantu-hantu orang mati yang bersembunyi di antara Legion lain … Domba Putih.”

Biarpun dia membusuk setelah kematian, otak manusia masih merupakan yang paling berkembang di antara semua mamalia lain. Kemampuan kognitif tinggi mungkin lebih besar dari yang sanggup dilakukan prosesor irisinil Legion. Memilih otak manusia atau struktur diagramnya mati, Domba Hitam yang dirasuki ratapan orang mati, jumlahnya terus meningkat.

Terasa sedikit belas kasih dalam suara Shin. Hantu-hantu mekanik ini telah kehilangan negeri mereka, alasan eksis dan bertarung, kemudian direndahkan menjadi pelahap mayat demi bertarung dan mati atas nama kehendak terakhir itu.

“… sepertinya aku paham mengapa mereka menyerang Republik.”

“Huh?”

“Mereka adalah hantu. Mereka getayangan biarpun niatnya tidak mau, mereka takkan pergi sampai seseorang menghancurkan mereka. Aku kira mereka ingin pergi dan menyerang orang lain, sesama hantu sehingga dapat pergi bersama.”

 “Sesama … hantu …?”

Siapa hantunya? Shin merujuk kepada orang yang masih hidup tetapi tidak manusiawi. Apakah maksudnya 86 yang sudah mati sesuai pengetahuan masyarakat?

“Maksudku Republik. Bukannya telah mati sembilan tahun lalu …? Apakah masih terdapat nilai pada bendera lima warna yang tetap dipertahankan Republik?”

Betapa bisunya mereka—tidak, gara-gara membisunya mereka—perkataan itu makin-makin pahit. Kebebasan dan kesetaraan. Pesaudaraan serta keadilan juga kemuliaan. Apakah negara yang mengasingkan dan mendiskriminasi manusia tanpa alasan benar, yang membunuh jutaan orang bahkan tanpa sedikit pun rasa malu … berhak mematuhi kepercayaan nasional tersebut?

Republik sudah mati bertahun-tahun lalu, oleh perbuatannya sendiri. Ia mati sesaat warganya memutuskan menuntut saudara-saudara mereka. Bisa jadi Shin mendengar suara ini juga … suara hantu-hantu raksasa Republik yang tidak menyadari negaranya sudah mati.

Setelah kehabisan kata, Lena terdiam. Sesudah membiarkan Lena terdiam sebentar, Shin bicara. Dengan nada sama biasa, dia menyatakan fakta yang dia tahu adalah fakta.

Kau akan kalah dalam perang ini, Mayor.”

Kau, katanya. Bukan kita.

“… apa maksudmu?”

“Sebagaimana perkataanku, Legion takkan dimatikan karena prosesor sentral mereka. Setahuku, jumlah Legion mungkin tidak bertambah, namun mereka tidak mengurang pula …. Tapi bagaimana dengan 86? Berapa banyak orang-orang kami yang tersisa?”

Lena tidak bisa menjawab. Dia tidak tahu. Republik tak menghitung statistiknya.

“Aku kira dua sampai tiga tahun lagi, kami semua akan mati. Orang-orang di kamp-kamp konsentrasi tidak diizinkan bereproduksi, dan sebagian besar bayi ketika kamp konsentrasi dibuat sudah mati sekarang.”

Semua orang dewasa mati dalam kurun waktu tiga tahun pertama perang. Mereka yang setuju masuk tentara telah mati di medan perang, dan yang tidak telah dikirim ke Gran Mule, tempat mereka bekerja sangat keras dan dipaksa sampai-sampai seakan dibuat bekerja sampai maeti. Mereka semua binasa, menyisakan orang tua dan orang-orang sakit yang meninggal selama sembilan tahun ini.

“… kenapa … bayi-bayinya mati …?”

“Tahukah kau setinggi apa tingkat mortalitas bayi-bayi di lingkungan tanpa perawatan medis …? Saat aku berada di kamp-kamp konsentrasi, hampir tidak satu pun bayi selamat di musim dingin pertama. Aku cukup yakin di tempat mana pun hasilnya sama. Yang selamat pun paling dijual.”

“Dijual?”

“Ya, beberapa tentara dan 86 menjual mereka demi keuntungan. Aku tidak yakin itu untuk uang langsung atau barang, sih.”

Langsung menyadari maksud tersiratnya, Lena merasa wajahnya pucat pasi. Dengan kata lain, ada warga Republik yang biarpun membenci 86 sebagai babi, memanfaatkan bayi-bayi para babi itu sebagai budak atau mentransplantasi organ-organ para bayi ke tubuh mereka sendiri.

Hanya menyisakan anak-anak semata. Mereka dikirim ke medan perang tak lama kemudian, lantas takkan ada lagi yang bertahan.

“Angka Legion tidak berkurang. Tapi 86 pun akan segera punah. Saat kami punah, berkenankah kalian para Alba bertarung? Padahal tidak tahu cara bertarung, dan tidak satu pun tahu medan perang, setelah mendesak wajib militer dan biaya perang kepada 86 … sanggupkah kalian bertarung sesudah kami tiada?”

Kalian takkan bertarung—Lena tahu bibir Shin tersenyum tipis. Beda dari cemooh korban yang menertawakan hukuman pantas. Senyuman itu menghina makhluk tak enak dipandang yang semata-mata memusatkan perhatiannya untuk kepentingan sendiri dan menutup diri dari kenyataan, bertahan dalam kedamaian sementara hingga akhirnya hilang kehendak bertahan.

“Jikalau tak seorang pun rela bertarung, kau harus menggunakan wajib militer. Tetapi negara demokratis cuma melakukannya di kala musuh tepat berada di hadapan mereka, dan ketika itu terjadi, maka terlambat sudah …. Fakta demokrasi tidak mampu memutuskan keputusan sampai situasi mengkritis adalah kekurangan terbesar demokrasi modern.”

Bencana sesungguhnya dengan gampang terlintas di kepala. Dihadapkan bayangan buruk tersebut, Lena menggeleng kepala protes. Penolakannya tidak berdasar; dia semata-mata tidak menerima kebenaran di depannya, maut menunggu mereka beberapa tahun ke depan.

“T-tapi jumlah Legion yang kami amati tentunya berkurang! Mereka berkurang setengah dari beberapa tahun lalu—”

“Sejauh apa pengamatan kalian hingga dibilang benar? Kalian tidak punya cara memastikan apa pun soal Legion yang mengintai di kedalaman zona sengketa, di mana gangguan Eintagsfliege masih konstan …. Memang, Legion di garis depan berkurang, namun itu hanya karena mereka tidak perlu mengerahkan lebih dari yang seharusnya. Mereka hanya harus melancarkan serangan yang perlahan-lahan melemahkan kita, dan sisanya bisa bertahan di belakang. Bahkan saat ini jumlah mereka hanya bertambah.”

Pola perilaku itu mengartikan satu hal. Mereka menyimpan dan memperkuat pasukan mereka. Pada nantinya, mereka menghentikan perang erosi ini dan melangsungkan serangan umum tuk menghancurkan garis pertahanan Republik sekali gerak.

“Tapi Legion mustahil secerdas itu sampai punya strategi yang—”

“Mereka mestinya tidak punya. Dan itulah alasan lain kalian kalah.”

Berbeda dari perilaku Lena yang semakin panik, Shin selalu tenang sampai terlihat songong.

“Walaupun mayat yang kepalanya utuh itu langka, medan perang ini membiarkan mayat tak tersentuh. Medan perang jutaan orang mati. Pasti tidak sedikit Legion yang mendapatkan kekuatan … dan otak manusia bisa saja muncul ide memperkuat pasukannya sebelum bertindak ofensif. Lantas apa yang terjadi sekiranya Legion menjadi sama pintarnya?”

“…!”

Domba Hitam. Legion yang mengadopsi struktur otak manusia yang meskipun sudah membusuk, masih jauh lebih efisien ketimbang prosesor sentral mereka. Maka apa yang terjadi apabila mereka memperoleh otak yang baru saja mati tapi belum membusuk?

“Kami memanggil Legion itu Gembala. Legion awalnya hanya tentara yang bertindak atas perintah program, namun para Gembala bisa memimpin mereka. Merekalah komandan para domba. Kami sudah menemui beberapa, dan pasukan yang dipimpin mereka jauh lebih sulit ketimbang mengalahkan pasukan tanpa Gembala. Tidak ada perbandingannya.”

“Tunggu. Jadi ini bukan teoritis—mereka nyata ada? Artinya kau bisa—?”

“Ya, aku bisa membedakannya dari suara mereka. Suara para komandan sangatlah jelas, jadi bisa aku bedakan bahkan di antara pasukan. Ada beberapa lusin di garis depan, dan di distrik pertama sini—ada satu.”

Sesaat, suara Shin menggelap. Ya, tepat tatkala Shin memberi tahu Lena sebagaimana dinginnya pisau terhunus yang mencari-cari kakak matinya. Eksistensi gila berat yang membuat bulu kuduk naik.

Lena ketakutan. Republik akan runtuh, terlucuti dan tak berdaya sebab kebodohannya sendiri. Republik telah menggunakan jutaan nyawa yang dikirim ke medan perang kemudian diseret hantu-hantu 86 yang tidak diperbolehkan dimakamkan.

“T-tapi …”

Kata-kata itu menyelinap keluar dari bibirnya tanpa sadar.

“Itu kalau kau mati beberapa tahun ke depan … kan?”

Lena merasa Shin berkedip beberapa kali.

“Itu … benar.”

“Kalau begitu kita harus mengalahkan Legion sebelum itu terjadi. Andaikan kita punya kalian semua …. Bukankah masih ada harapan bersama skuadron Spearhead, siapa tahu Legion akan menyerang di mana?”

Misal kita punya elit yang selamat dari banyak peperangan melawan Legion paling berbahaya dan kembali tanpa korban jiwa ….

“Kalau saja kami mendapat personel penting, perlengkapan, dan waktu, seharusnya bisa. Itu benar dalam semua perang.”

“Kalau begitu ayo menangkan perang ini! Aku akan … berusaha sebisanya.”

Lena ingin bilang bahwa dia berniat bertarung bersamanya, tetapi dia tersadar itu sudah lebih dari yang semestinya dia terima.

“Aku akan berusaha sekeras mungkin untuk mengamankan kemenanganmu. Entah menganalisis gerakan musuh atau membuat strategi, akan kulakukan sebisanya … akan kucoba mewujudkan hal serupa di seluruh front-front lain.”

Kalau saja mereka dapat melacak gerakan musuh, seharusnya tidak mustahil menciptakan strategi yang bisa menjaga hidup mereka. Sepatutnya itu termasuk kepentingan Republik. Sepantasnya tidak susah menjelaskannya kepada Komandan dan diaplikasikan ke skuadron-skuadron lain.

“Kau mengakhiri pengabdianmu tahun ini, kan, Kapten Nouzen? Bila demikian, kau harus terus menang sampai saat itu …. Ayo bertahan hidup dari perang ini. Kita berdua.”

Shin nyengir-nyengir. Disertai perasaan lembut minim.

“… ya. Ayo.”

Memutus Resonansi dengan Lena, Shin kembali berjalan melewati kegelapan barak yang tertidur menuju kamarnya. Memasuki ruang remang-remang, dia melihat sosok bulan yang terpantul di kaca jendelanya. Dia mengenakan syal biru itu dalam pertempuran, tetapi dia tak bisa tidur dngan syalnya, tentu saja. Dia ingin mengesampingkannya setelah mandi, jadi kain biru tipis yang selalu melingkupi lehernya di atas seragam tak berada di sana.

Sekali lirik fisiknya nampak kurus, tetapi pada kenyataannya, ditempa oleh tahun-tahun kehidupan kerasnya di medan perang, dan tenggorokannya menampakkan bekas luka yang melingkari lehernya dengan garis merah. Garisnya tidak lurus, tapi bergerigi dan semerah darah—sisa-sisa jahitan pembuluh darah, kepalanya bak dicabut lalu dijahit kembali sampai menempel.

Shin dengan tenang mengulurkan tangan dan menyentuh lembut bekas luka pada bayangan lehernya.

Catatan Kaki:

  1. Terminal di sini adalah alat untuk berkomunikasi dengan komputer, terdiri atas panel yang dilengkapi layar video atau suatu mekanisme pencetak, seperti mesin ketik.
  2. Sebuah tank tempur utama dirancang untuk memiliki mobilitas tinggi dan dapat melewati segala macam medan. Tank menggunakan dua atau empat tapak rantai untuk bergerak. Rantai ini digerakkan oleh sebuah roda besar di tiap tapaknya yang menyalurkan tenaga dari mesin. Roda rantainya yang lebar menyebarkan tekanan yang dihasilkan oleh beratnya tank, membuat tekanan yang dihasilkan dapat setara dengan kaki manusia.

3 Replies to “86 VOLUME 1 BAB 4”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *