86 VOLUME 1 bab 1

Posted on

Medan Perang

Tanpa Korban Jiwa

Penerjemah: Daffa Cahyo Alghifari

Tidak ada korban pada medan perang itu.

“—Kini, kami akan mengumumkan informasi terbaru mengenai perang.”

“Sekelompok senjata Kekaisaran tanpa awak yang disebut Legion menginvasi distrik ketujuh belas hari ini. Kekuatan tersebut dicegat, dilumpuhkan, dan dipukul mundur oleh kekuatan drone tanpa awak kita, Junggernaut, kebanggaan dan kegembiraan Republik San Magnolia. Kerusakan ringan pada peralatan, dan tidak ada korban jiwa pada pihak kita hari ini sekali lagi.”

Jalan utama Ibu kota Republik San Magnolia, Liberté et Égalité1, sangatlah damai nan indah sampai terpaksa meyakini negeri tersebut sedang dalam perang selama sembilan tahun terakhir.

Ukiran marmer putih menghiasai bagian depan gedung-gedung tinggi kota. Hijaunya pepohonan pinggir jalan serta campuran hitamnya besi tiang lampu membentuk keindahan kontras dari sinar mentari musim semi dan cerahnya cakrawala biru. Café-café di sudut jalan dipenuhi siswa-siswi dan para pasangan, rambut perak alami mereka berkilauan seraya tertawa terbahak-bahak.

Atap biru balai kota diperindah bendera berwajahkan santo revolusi Saint Magnolia, serta bendera nasional lima warna Republik. Kelima warnanya melambangkan kebebasan, kesetaraan, persaudaraan, keadilan, dan kemuliaan. Jalan utama ditaburi batu-batu besar terukir, hasil perencanaan kota yang cermat.

Seorang anak laki-laki melewati Lena, rambut peraknya bersinar bagaikan bulan seraya tertawa, memegang tangan orang tuanya. Berpakaian teramat rapi, mereka barangkali pergi ke suatu tempat. Sekali lagi melirik punggung keluarga bahagia, kemudian mata peraknya berpaling ke layar holo televisi pinggir jalan, senyum memudar dari bibirnya.

Dia berpakaian seragam militer perwira wanita berwarna biru-gelap Republik. Gadis berusia enam belas tahu tersebut punya kecantikan seputih salju dan lembut bagaikan kaca yang cocok seusianya—juga sikap elegan yang mencerminkan didikan dan keturunan keluarganya. Rambut mulus berkibar-kibar dan bulu mata panjang perak mencolok, mata bundarnya yang sama-sama perak membuktikan dirinya bukan hanya seorang Alba, keturunan ras asli negeri ini semenjak berabad-abad lampau, namun juga seorang Celena murni yang dianggap sebagai keturunan bangsawan.

“Dipimpin komando para Handler terampil kita, drone-drone amat efisien ini memungkinkan kita mempertahankan negara sambil mencegah nyawa berharga dikirim ke garis depan. Tiada yang meragukan kegunaan sistem tempur manusiawi dan canggih Republik. Hari tatkala cara lurus Republik mengalahkan relik-relik jahat Kekaisaran pasti akan datang bahkan sebelum seluruh Legion dimatikan dalam kurun waktu dua tahun. Hormat Republik Magnolia. Jayalah bendera lima warna.”

Raut wajah Lena menggelap saat melihat senyum cemerlang pembawa berita orang Alba yang bermata perak dan berambut salju. Laporan berita optimistis, atau malah tak realistis ini telah berkali-kali tiada habisnya diulang-ulang sejak perang dimulai, dan kebanyakan warga sipil tak meragukan keabsahannya. Mereka meyakininya meskipun terusir lebih dari setengah wilayah Republik dalam waktu kurang dari satu bulan sesaat perang dimulai, Republik gagal merebut semuanya selama sembilan tahun peperangan ini.

Hanya melihat sekilas jalan utama indah ini agar mengetahui faktanya. Terbukti di kantor berita, para pasangan dan siswa-siswi kafe, orang-orang yang berpapasan, dan tentu saja bahkan Lena sendiri. Republik membanggakan dirinya sebagai negara demokrasi modern pertama di dunia dan secara proaktif menyambut imigran negara lain. Republik adalah penduduk asli negeri Alba sejak berabad-abad lalu, sedangkan negara-negara lain adalah tanah air bagi orang-orang berbagai warna, Colorata disambut setara, Aquila yang segelap malam; Aurata emas yang bersinar layaknya matahari; Rubela yang rambutnya merah tua; atau Caerulea bermata biru.

Namun saat ini, jika seseorang menjelajahi jalan utama Ibu kota—tidak, bahkan keseluruhan kota—semua orang akan mendapati 85% Sektor administratif Republik adalah Alba berambut perak dan mata emas.

Ya, formalnya tidak ada tentara manusia di antara orang-orang yang gugur pada medan perang. Namun ….

“… bukan berarti tidak ada yang mati.”

Salah satu sudut Istana Blancneige, yang dahulu pernah menjadi rumah istana kerajaan, kini menjadi markas militer mewah. Istananya, dinding benteng yang mengelilingi Sektor administratif, Gran Mule, adalah tujuan Lena sekaligus pusat komando seluruh militer Republik.

Tidak ada tentara di luar Gran Mule, di garis depan sejauh seratus kilo meter dari dinding benteng. Hanya drone-drone—Juggernaut—yang bertarung di medan perang, dan mereka dikomandoi dari ruang kendali dalam markas besar militer. Garis pertahanan mereka yang berjumlah lebih dari seratus ribu Juggernaut, dengan anti-personil dan ladang ranjau anti-tank di punggungnya serta meriam artileri pencegat dari atas sampai bawah, garis pertahanan itu belum pernah diterobos. Tentu saja pasukan yang ditempatkan di Gran Mule tak pernah melihat pertempuran langsung. Profesi lain di militer yakni komunikasi, transportasi, analisis, perencanaan taktis, juga berbagai macam birokrasi. Dengan kata lain, tidak satu pun tentara di militer Republik tahu pertempuran sesungguhnya.

Lena mengerutkan kening, mengendus bau alkohol tajam dari sekelompok perwira yang melewatinya. Mereka mungkin menggunakan layar besar ruang kendali untuk menonton olahraga atau semacamnya. Ketika Lena menatap cela mereka, tatapannya malah dibalas mata mengejek.

“Tuan-tuan, sepertinya putri kecil pecinta boneka kita mau mengatakan sesuatu.”

“Woah, serem, serem. Sebaiknya dia menutup diri di ruangannya dan bermain-main sama drone berharganya.”

Dia balik badan dan melihat mereka, tak sanggup menahan jengkelnya.

“Dengar, kalian—”

“Pagi, Lena.”

Suara memanggilnya dari samping, kemudian dia berbalik dan mendapati Annette menyambutnya, Annette bergabung ke militer di tahun yang sama dengan Lena. Dia adalah seorang letnan teknisi yang bergabung dengan divisi lab sekaligus teman Lena dari masa sekolah menengah. Karena mereka berdua berakselerasi, dia seakrang ini satu-satunya teman Lena yang seusianya.

“… selamat pagi, Annette. Kau tumben lebih awal sampai. Bukannya biasanya ketiduran?”

“Aku di jalan pulang sehabis bekerja. Semalaman lembur …. Tolong jangan samakan aku sama idiot-idiot itu, oke? Kau tahu aku ini gila kerja. Muncul masalah yang cuma dapat diselesaikan Letnan Teknisi Henrietta jenius.”

Annette menguap panjang bak kucing. Rambut pendeknya berwarna perak Alba, mata bundarnya sama warnanya. Annette mengangkat bahu, melirik sekelompok pemabuk yang menjauh dari percakapan kedua orang itu, seolah-olah mendisiplinkan orang-orang idiot macam mereka sama saja buang-buang waktu. Wajah Lena merona, menyadari pandangan mata anggun temannya kalau dia berusaha menghentikan Lena melakukan itu.

“Oh, benar. Sinyal pada terminal informasimu nyala. Kau mungkin harus mengurusnya.”

“Aduh …. Maaf. Makasih, Annette.”

“Gapapa. Cobalah jangan terlalu terjebak dengan drone-drone itu, oke?”

Lena berbalik, wajahnya mengekrut, setelah kepalanya menggeleng sekali, dia berjalan menuju ruang komando yang ditujunya.

Ruangan komando itu kecil, setengahnya diisi konsol mekanis komando buatan, ruangan gelap, dingin, dan sepi. Dinding dan lantai keperakan samar-samar diterangi oleh konsol hologram dalam mode siap siaga.

Duduk di kursi, Lena mengesampingkan kunci peraknya dan meletakkan cincin logam mencolok—Perangkat RAID—melingkari lehernya sembari menatap dingin dan bermartabat. Kini medan perangnya jauh dari dinding Gran Mule, ruangan sempit ini adalah satu-satunya medan perang yang bisa seseorang temui di Sektor Republik 85.

“Mulai otentikasi. Mayor Vladilena Milizé, mengkomandoi perwira komando pada front timur distrik sembilan, skuadron2 pertahanan ketiga.”

Setelah menyelesaikan otentikasi retina dan suara, sistem control dihidupkan. Layar holografik satu demi satu berkedip, menampilkan sejumlah informasi memusingkan dari peralatan observasi tak terhitung jumlahnya yang dipasang di sepanjang medan perang jauh. Layar utama merupakan peta digital yang menampilkan titik-titik cahaya berkedip-kedip sebagai senjata bergerak Republik dan musuh. Unit kawan—dengan kata lain, Juggernaut—ditampilkan sebagai titik biru, berjumlah tujuh puluh. Skuadron tiga yang dikomandoi Lena punya 24 unit, sementara skuadron dua dan empat masing-masing punya 23. Titik-titik merah yang melambangkan unit musuh, Legion, terlampau banyak untuk dihitung.

“Mengaktifkan Para-RAID. Menentukan Resonansi target, unit pemroses informasi, Pleiades.”

Bagian kristal biru Perangkat RAID yang terpasang di tengkuk Lena, mendadak memanas. Bukan panas nyata secara fisik, melainkan panas ilusi yang dirasakan sel-sel darahnya ketika dirangsang Resonansi Sensorik. Kristal saraf semu berfungsi sebagai unit pemroses informasi dan merangsang bagian tertentu pada otak. Kemungkinan bagian itu berpotensi dibuka oleh evolusi manusia, atau bisa jadi bagian itu tidak digunakan, tertinggal dan terlupakan oleh manusia saat evolusinya berabad-abad lalu. Apa pun itu, menggunakannya bisa membuka hampir sedikit fungsi otak dalam yang dikenal sebagai Kepala Malam.

Lena melewati jalan, menyelam melalui tempat yang jauh lebih dalam dari kesadarannya dan bahkan alam bawah sadarnya. Ketidaksadaran kolektif umat manusia, dimiliki setiap anggota ras manusia. Lena menghubungkan kesadarannya dengan kapten skuadron ketiga, Prosesor3 yang mengoperasikan unit Nama Perorangan Pleiades lewat lautan alam bawah sadar. Informasi sensorik Pleiades dan Lena dihubungkan dan dibagikan.

“Handler One kepada Pleiades—Resonansi selesai. Aku menantikan kerjasamamu hari ini,” kata Lena dengan lembut, dijawab suara seorang pemuda yang mungkin satu sampai dua tahun lebih tua darinya.

“Pleiades kepada Handler One. Resonansi terdengar keras dan jelas.”

Suaranya terdengar penuh ironi. Lena sendirian dalam ruang komando, jadi orang lain sedang tidak bersamanya. Namun suara Prosesor Pleiades yang dikirim kepada Lena lewat indra pendengar yang saling terhubung.

Suara.

Buru-buru dibangun semasa perang, Juggernaut tidak didesain bisa berkomunikasi secara lisan, dan mereka tak diprogram hingga punya kemampuan kognitif canggih yang membuat mereka berpikir atau merasakan. Sensor Resonansi—Para-RAID—menghubungkan kesadaran melalui ketidaksadaran kolektif manusia. ladang ranjau garis pertahanan, walaupun musuh menggunakan unit lapis baja, daerahnya dipasang ranjau anti-personil.

Rahasia di balik garis depan tempat drone bertarung satu sama lain, medan perang tanpa korban jiwa.

“Salam sopanmu kepada kami manusia rendah 86 sangat dihargai, Alba.”

Kala benua disapu bersih oleh Legion, surga terakhir yang tersisa untuk warga negara Republik adalah Distrik 85. Distrik 86 didesain sebagai tanah tak berpenghuni, populasinya adalah manusia bersosok babi. Kendati terlahir sebagai warga sipil Republik, mereka dititahkan menjadi manusia rendah4, bentuk kehidupan lebih rendah oleh Republik. Nama penghinaan bagi para Colorata di luar Gran Mule yang hidup di kamp-kamp konsentrasi5 garda depan.

 

Ω

 

Sembilan tahun sebelumnya, tahun 358 dari kalender Republik, tahun 2136 dari kalender global.

Tetangga timur Republik sekaligus negara adikuasa benua utara, Kekaisaran Giad, menyatakan perang kepada semua negara tetangganya dan mulai menyerang dengan sepasukan drone tempur tanpa awak yang sepenuhnya otomatis, Legion.

Dihadapkan kekuatan militer luar biasa Kekaisaran, Angkatan Bersenjata Republik dihancurkan dalam waktu setengah bulan. Sisa-sisa pasukan berkumpul untuk memperlambat invasi dengan taktik penunda tanpa harapan, pemerintah Republik membuat dua keputusan.

Pertama adalah evakuasi semua warga negara Republik ke Distrik administratif 85. Yang kedua adalah Peraturan Presiden6 Nomor 6609. Undang-Undang Khusus Pertahanan Perdamaian Masa Perang. Undang-Undang ini mengakui semua orang keturunan Colorata dipindahkan ke dalam perbatasan Republik sebagai musuh dan pendukung tidak langsung Kekaisaran dan diizinkan pencabutan hak-hak sipil mereka. Mereka ditunjuk sebagai target pemantauan dan diisolasi ke dalam kamp-kamp konsentrasi di luar Distrik 85.

Undang-Undang ini tentunya melanggar konstitusi Republik dan semangat bendera lima warna. Hukum pun juga tidak mengikutsertakan Alba yang pernah tinggal di Kekaisaran. Begitu pun Colorata yang bukan berasal dari Kekaisaran. Kebijakan rasisme dan diskriminasi terang-terangan.

Jelas Colorata menentang hukum namun oposisi mereka dibungkam kekerasan tangan pemerintah. Sejumlah Alba, biarpun jumlahnya sedikit, juga berdemo melawan hukum, tetapi mayoritas menerimanya. Distrik 85 kelewat kecil untuk menampung banyaknya jumlah penduduk sipil, terlebih lagi makanan, tanah, atau tenaga untuk semua orang tak cukup. Rumor-rumor keliru menyebar bahwa kekalahan Republik dalam perang disebabkan mata-mata Colorata. Rumor-rumor itu jauh lebih gampang diterima alih-alih memahami inferioritas teknologi negara mereka.

Tetapi paling parahnya, dalam situasi di mana mereka dikepung dan diisolasi musuh, mereka memerlukan sesuatu, seseorang, tuk menghilangkan frustasi mereka. Pembenaran lewat jalan egenetika6 ini menyebar ke tengah-tengah populasi. Alba sebagai pendiri negeri yang berdiri sebagai advokat terkemuka demokrasi—pemerintah teragung dan paling manusiawi—adalah ras lebih unggul. Berbanding terbalik dengan Colorata, dengan imperialisme kuno, kejam, dan tak berperikemanusiaan, adalah spesies lebih rendah—manusia rendah barbar dan bodoh, babi bersosok manusia dan hasil kesalahan evolusi.

Maka dari itu, semua Colorata di Republik dibuang ke kamp-kamp konsentrasi di mana mereka dipaksa bekerja dan wajib militer demi membangun Gran Mule. Properti dan barang-barang mereka diminta oleh pemerintah untuk mendanai pembangunan dinding dan modal perang, warga sipil Alba yang dibebaskan dari wajib militer, tenaga kerja, serta pajak masa perang, seluruhnya memuji metodologi kemanusiaan pemerintah.

Alba mengejek Colorata sebagai spesies lebih rendah, memanggil mereka 86. Sekalipun mengerahkan semua upaya mereka untuk membuat drone tanpa awak Republik, tiada satu usaha pun yang dapat membuat ciptaannya bertahan pada medan perang langsung. Tetapi tak mungkin Alba yang lebih unggul mengaku gagal menciptakan mesin semacam itu padahal Kekaisaran mampu.

Karena 86 tak dianggap manusia, dikendalikan satu pilot mesin takkan mengkategorikannya sebagai drone berawak tetapi drone tanpa awak.

Drone Otomatis Militer Republik yang disebut Juggernaut, diproduksi oleh Industri Militer Republik (IMR), dipuji oleh warga sipil sebagai sistem senjata inovatif, canggih, serta manusiawi yang meminimalkan korban jiwa sampai nol. 86 yang menjadi pilotnya dijadikan unit pemroses informasi—Prosesor—membuat Juggernaut sebuah Drone Beroperasi.

Pada tahun 367 menurut kalender Republik. Namun satu hari baru bagi tentara yang diperlakukan tidak lebih dari bagian mekanik, berangkat tuk mengalami kematian yang takkan terhitung sebagai kematian, menuju medan perang tanpa korban jiwa.

Mengonfirmasi titik-titik merah Legion yang mundur ke timur—ke dalam wilayah mereka—tubuh Lena akhirnya merasa dilepaskan ketegangan. Bayaran dari kemunduran mereka, skuadron ketiga kehilangan tujuh unit. Dia merasa menyesal. Tujuh Juggernaut meledak, bersama Prosesor yang mengemudikannya. Tidak ada yang selamat.

Juggernaut—nama yang diberikan pengembang intelektual kepada mesin ini, menggunakan nama dewa dari mitos tanah asing. Banyak sekali orang bersedia berkumpul di depan tangki ini dan mencari suaka lalu akan ditabrak roda-rodanya kemudian hancur sampai mati.

“… Handler One kepada Pleiades. Kami mengonfirmasi kemunduran musuh.”

Dia mengomunikasikannya kepada Prosesor Pleiades—pilot 86 yang setuju mengabdi di medan perang selama lima tahun dengan imbalan pemulihan hak-hak sipil keluarganya—lewat Para-RAID.

Resonansi Sensorik memungkinkan mereka mendengar satu sama lain dan suara di sekitarnya. Benar-benar terobosan baru sarana komunikasi, menerjemahkan transmisi radio (yang rentan terhadap gangguan jarak, kondisi cuaca, juga medan—belum lagi gangguan elektromagnetik awan Eintagsfliege) yang betul-betul usang.

Secara teoritis, kelima indra bisa dihubungkan lewat Para-RAID, tetapi biasanya, pengguna hanya memilih tuk menghubungkan indra pendengaran mereka. Jumlah data yang didapatkan dari menghubungkan penglihatan Para-RAID sering kali terlalu membebani dan bisa-bisa mengakibatkan sensor berlebihan, berisiko kerusakan serius bagi pengguna. Di sisi lain, Pendengaran memberi informasi penting mengenai sisi lain dengan data minimal. Dari pengalaman aktual, tidak jauh-jauh berbeda dari komunikasi via radio atau telepon, tetapi gangguannya relatif lebih sedikit.

Lena yakin itu bukan satu-satunya alasan. Menolak menghubungkan penglihatan membuat Handler mesti melihat banyak hal: pemandangan menakjubkan terjangan musuh kepadamu, pemandangan rekanmu diledakkan tanpa sisa dari setiap sudut, warna jeroan dan darah tumpah ruah dari isi perut.

“Skuadron keempat akan mengambil alih tugas pengintaian. Skuadron ketiga, silahkan kembali ke markas.”

“Diterima, Pleiades …. Semoga kau senang melihat kami para babi bertarung dari teleskop kecilmu, Handler One.”

Ironi pedas yang tak pernah meninggalkan suaranya dari awal sampai akhir membuat Lena menatap lantai. Dia tahu mereka membencinya. Dia seorang Alba—salah satu penindas mereka. Sesuai perkatannya, mengawasi mereka adalah perannya sebagai Handler.

“Kerja bagus hari ini, Pleiades. Dan kepada semua unit juga, dan tujuh unit yang gugur …. Aku sangat, sangat minta maaf.”

“….”

Sensasi dingin tertentu bagai pedang yang dihunus dari sarungnya, bercampur kesunyian sisi lain Resonansi. Para-RAID semata-mata menghubungkan pendengaran mereka, tapi karena Resonansi dilakukan melalui kesadaran, perasaan yang normalnya hanya muncul dalam percakapan tatap muka pun ditransmisikan.

“… terima kasih atas semua kata-kata baikmu kepada kami, Handler One.”

Hinaan tanpa perasaan memercik kata-kata itu. Tetapi ada sesuatu lain pada tanggapan dingin selain kebencian jelas dan amarah yang pasti orang rasakan pada penindas mereka. Sesuatu yang membuat Lena bingung dan kacau.

 

Ω

 

Berita pagi berikutnya sekali lagi membicarakan betapa besarnya kerugian musuh, dan betapa ringannya kerugian pihak Republik, dan bagaimana—seperti biasanya—tanpa korban jiwa. Si penyiar sekali lagi memuji taktik canggih dan manusiawi Republik, bagaimana kekalahan musuh sudah dekat, dan sebagainya. Lena kadang kala bertanya-tanya apakah kabar barunya mungkin rekaman yang berulang kali disiarkan. Siaran ini disponsori pemerintah, lambang pedang dan rantai hancur di baliknya. Lambangnya berdiri setelah menggulingkan pemerintahan berdaulat dan kejatuhan penindasan adalah simbol Saint Magnolia, santo pelindung revolusi.

“… dalam persiapan untuk menghentikan serangan musuh selama dua tahun ini, pemerintah memutuskan berangsur-angsur mengurangi anggaran militer. Langkah awalnya adalah, distrik ketujuh belas di front selatan akan ditiadakan, dan semua pasukan yang ditempatkan di sana akan dibubarkan dan diberhentikan—”

Lena mendesau. Mereka mungkin menyerahkan distrik ketujuh belas. Jelas ini bukan jenis berita yang dapat mereka sembunyikan. Bukan cuma kehilangan wilayah, mereka menyerang untuk berusaha merebut kembali wilayah itu dan malah menyerah. Pemerintah dari dulu telah menggunakan semua properti 86, dan sekarang suara warga-warga sipil menuntut pengurangan anggaran perang besar dan penyerahan demi kesejahteraan serta pekerjaan umum perlahan-lahan mulai sulit diabaikan.

Duduk di seberangnya, mengenakan gaun kuno, Ibu Lena membuka bibir berhias lipstiknya dan berbicara.

“… ada apa, Lena? Singkirkan masalahmu dan makanlah.”

Meja ruang tamu ditempatkan sarapan, tetapi sebagian besarnya adalah makanan sintetis buatan pabrik. Sesudah kehilangan setengah tanahnya, Republik kehabisan ruang sebab populasinya meningkat 80 persen—kecuali 86. Dan Sektor 85 tak punya lahan pertanian penting untuk mendukung populasi. Mereka pun terputus dari negara asing lain karena gangguan Eintagsfliege Legion, berarti perdagangan, hubungan diplomatik, atau bahkan mengonfirmasi apakah negara lain masih ada itu mustahil.

Lena menyesap teh yang samar-samar seingatnya berbeda dari teh dulu lalu memotong sepotong daging sintetis, terbuat dari protein gandum dan dibuat tuk meniru bentuk serta rasa daging alami. Satu-satunya yang alami pada makanannya adalah kolak yang dia tambahkan ke teh, terbuat dari rasberi yang tumbuh di kebun. Namun bahkan komoditas ini rata-rata tidak ada di rumah tangga Republik yang lebih-lebih lagi tak punya ruang untuk pot bunga, apalagi kebun, membuat rasberi cukup berharga.

Ibunya tersenyum.

“Lena, bukankah sudah waktunya kau keluar dari militer dan cari pengantin pria dari keluarga baik-baik?”

Lena mendesau dari dalam. Percakapan ini diulang berkali-kali setiap hari, sama seperti siaran berita. Silsilah. Status. Kedudukan. Garis keturunan. Garis keturunan lebih unggul. Gaun sutra ini yang mulai kuno dan usang saat kau melangkah keluar. Mansion ini dibangun tatkala keluarga Milizé dianggap bangsawan. Peninggalan yang diawetkan dari era yang diberkati telah lama usai, berdiri dibekukan waktu, menyelubungi dirinya ke dalam mimpi-mimpi indah dan tak ingin melihat keluar.

“Legion dan 86 bukanlah hal penting yang patut ditangani keluarga besar Milizé. Aku tahu almarhum ayahmu adalah seorang tentara, namun perang sudah berlalu sekarang.”

Bisa-bisanya perang sudah berlalu padahal mereka bahkan tengah melawan Legion sekarang? Medan perangnya saja yang jauh dan tak terlihat, dan mereka yang pergi berperang tak pernah kembali membicarakannya. Setahu warga sipil, perang tersebut tidak lebih dari kumpulan peristiwa fiksi sebuah film, tanpa realitas atau keterlibatan pada bagian mereka.

“Melindungi ibu pertiwi adalah tugas dan kebanggaan warga negara Republik, Bu. Mohon jangan panggil mereka 86. Mereka adalah warga negara Republik yang terhormat, sama seperti Ibu dan aku.”

Hidung halus dan kurus Ibunya berkedut.

“Bagaimana bisa kau menganggap mereka anggota Republik padahal diwarnai warna-warna kotor itu? Sejujurnya, bahkan kau harus memberikan makan ternak agar mereka menuruti kemauanmu, apa yang dipikirkan pemerintah, membiarkan hewan-hewan itu melangkahkan kakinya ke tanah Republik?”

86 yang setuju berperang diberikan pemulihan hak-hak sipil untuk diri mereka sendiri dan keluarga masing-masing. Untuk melindungi mereka dari persekusi berat dan diskriminasi Sektor 85, keberadaan mereka dirahasiakan, tetapi sudah sembilan tahun semenjak perang dimulai. Tentu beberapa dari mereka sudah kembali dan tinggal di rumah lama mereka saat ini.

Hadiah satu-satunya yang mereka dapatkan atas dedikasi kepada negara. Sedihnya, para penguasa tak menganggap adil hadiah semacam itu dan hanya menggeleng kepala terhadap keadaan menyedihkan negara.

“Ah, mengerikan sekali. Baru sepuluh tahun lalu mereka berkeliaran menyeru Liberté et Égalité seakan-akan memiliki tempat ini. Tak kusangka mereka sungguh-sungguh kembali …. Sampai sejauh mana kebebasan dan kesetaraan Republik mesti dinodai hingga mereka puas ….?”

“… semisal ada yang menertawakan ide-ide kebebasan dan kesetaraan Ibu, itu ialah kata-kata yang barusan Ibu ucapkan.”

“Maaf?”

Melihat wajah heran Ibunya, Lena kali ini sungguh-sungguh mendesah. Dia hanya tidak paham. Dia jujur, sungguhan, tidak paham. Bukan cuma Ibunya. Warga sipil di seluruh Republik yang membanggakan bendera lima warna dan menghormati nilai-nilai kebebasan, kesetaraan, persaudaraan, keadilan dan kemuliaan. Mereka yakin telah belajar dari sejarah dan menghasad tirani, membenci eksploitasi, mencela diskriminasi, dan menghindari pembunuhan serta kekejaman, menganggapnya perbuatan iblis.

Tapi mereka sepenuhnya tidak mengerti jikalau Republik sedang melakukan kekejaman yang sama saat ini. Ketika kau mencoba mengungkapnya, mereka cuma akan menatap kasihan dirimu dan bertanya, ‘Tidak bisakah kau membedakan babi dan manusia?’ Lena menggigit bibirnya. Kata-kata sangat berperan andil. Mereka sanggup dengan mudahnya memutarbalikkan kebenaran. Hanya perlu menulis ulang label nama sederhana, dan derajatmu turun dari manusia ke babi.

Ekspresi kesusahan Ibunya menatap Lena, namun pada akhirnya dia tersenyum seolah-olah tersadar sesuatu.

“Ayahmu mengasihani ternak-ternak itu, kini kau mewarisinya. Begitukah?”

“T-tidak, itu tidak ….”

Lena memang teramat amat menghormati Ayahnya yang sangat keberatan dengan kamp interniran 86 sampai akhir hayatnya. Tetapi dia tidak benar-benar ingin mengikuti jejaknya. Sebab dia masih ingat siluet laba-laba berkaki empat itu, lambang kerangka seorang kesatria tanpa kepala terukir di baju zirahnya, tangan terulur yang menyelamatkannya dari bencana, warna merah terang dan hitam pekat yang ditanggungnya sejak lahir.

‘Kita adalah warga negara Republik. Kita terlahir di negara ini dan dibesarkan di negara ini. Karena itulah ….’

Suara pongah Ibunya menarik Lena dari kilas baliknya.

“Tapi kau harus tahu, Lena. Kau harus tahu cara memperlakukan ternak sebagaimana ternak. Kau tak dapat membuat orang-orang 86 barbar itu memahami idealism manusia dan kemuliaannya. Masuk akal jika kita kurung dan atur hidup mereka.”

Lena tanpa bicara menyelesaikan sarapannya, menyeka mulutnya dengan serbet, kemudian berdiri.

“Aku pergi, Bu.”

“Anda mengubah skuadron tempat bertugas saya ….?”

Tanda pangkat emas bergaris-garis merah-gelap, membuat suasana kantor perwira komandan serasa serius dan krusial. Mata perak Lena berkedip, pandangannya tertuju pada pemberitahuan perubahan personil yang dia terima dari komandan divisi, dia duduk di belakang meja kolot, Commodore Karlstahl.

Reorganisasi skuadron dan perluasan, perubahan skuadron para Handler bertugas sebenarnya sering terjadi. Karena mereka ikut dalam banyak pertempuran, skuadron pelan-pelan mengalami banyak kekalahan sampai-sampai tidak bisa bertarung lagi. Oleh karena itu, skuadron-skuadron secara rutin digabungkan satu sama lain, ditata ulang, dihapuskan, dan dibentuk lagi. Bahkan memindahkan kepemilikan hingga menghapus keseluruhan skuadron sudah biasa, walaupun Lena belum mengalaminya secara pribadi dan tak dia inginkan.

Legion memang sekuat itu.

Dikembangkan seganas mungkin dan memiliki teknologi lebih unggul, militan Kekaisaran Giadian tidak mengeluarkan biaya ketika melengkapi Legion dengan senjata paling canggih dan mobilitas semaksimal mungkin, serta kapasitan pemikiran otomatis yang terlampau maju sampai-sampai sulit percaya bahwa produk itu merupakan teknologi zaman ini. Selain itu, sebab mereka adalah drone yang betul-betul tanpa awak, Legion tidak pernah lelah, tak pernah melanggar perintah, tidak kenal rasa takut. Tidak peduli berapa banyak dihancurkan, pabrik-pabrik produksi dan seratus persen perbaikan otomatis tersebar di kedalaman wilayah mereka, meluncurkan unit-unit baru bagai asap hitam yang keluar dari cerobong asap mereka.

Berlawanan dari yang dipercayai warga sipil, Juggernaut jauh lebih rendah daripada Legiun perihal kinerja, bertarung melawan Legion dengan kerugian kecil itu mustahil. Biarpun Republik menimbulkan kerusakan besar kepada Legion, mereka selalu kembali dalam jumlah yang sama, Republik paling-paling hanya mampu mempertahankan garis pertahanan.

Tetapi, skuadron tempat Lena bertugas belum pernah sampai sekalah ini.

Pipi serba luka Karlstahl tersenyum. Janggutnya memancarkan suasana ramah bermartabat, sosoknya tinggi dan bahunya lebar.

“Skuadronmu tidak direorganisasi atau diintegrasikan. Sebetulnya Handler squadron lain baru-baru ini mengundurkan diri, dan kami harus memilih Handler pengganti dari skuadron lain secepat mungkin.”

“Apakah itu unit defensif di beberapa lokasi penting?”

Yang artinya unit itu tidak dapat siap siaga sampai Handler pengganti ditemukan.

“Benar. Skuadron pertahanan pertama front distrik timur pertama, yang dikenal sebagai skuadron Spearhead. Unit yang terdiri dari para veteran front timur …. Bisa kau sebut unit elit.”

Informasi demikian membuat paras cantik Lena mengkerut. Distrik pertama tentu saja lokasi penting; posisi defensif imperatif dan letak penyerangan Legion paling sengit. Dan skuadron pertahanan pertama adalah unit penting yang sendirian bertanggung jawab menjadi pertahanan distrik pertama. Tugas-tugas di sana, seperti patroli malam dan dukungan, sepenuhnya berbeda dibanding skuadron dua, tiga, dan empat, yang berfungsi sebagai cadangan bila mana skuadron pertama tak dapat menanganinya.

“Saya pikir tanggung jawab ini terlalu besar untuk ditanggung seorang pemula seperti saya, Pak ….”

Karlstahl tersenyum kecut.

“Itukah yang dikatakan seorang perwira berbakat termuda dan yang pertama dipromosikan menjadi mayor dari 91 alumni? Kelewat rendah hati bisa memancing kemarahan orang lain, Lena.”

“S-saya minta maaf, Paman Jérôme.”

Karlstahl memanggil Lena dengan nama depannya, dan Lena merespon dengan menundukkan kepala, ahlaknya tak seperti bawahan. Karlstahl berteman baik dengan almarhum Ayah Lena yang bertarung bersamanya sembilan tahun lalu sebagai bagian Angkatan Bersenjata Republik yang kini dihancurkan. Kedua orang itu adalah satu-satunya yang selamat. Dia sering berkunjung ketika Lena masih kecil dan bermain bersamanya, setelah Ayahnya meninggal, Jérôme membantu pemakamannya, serta mendukung Lena dan keluarganya dengan berbagai cara.

“Terus terang …. Kita tidak punya kandidat lain untuk Handler skuadron Spearhead.”

“Bukannya Anda bilang mereka adalah unit elit? Saya pikir memimpin unit tersebut merupakan kehormatan besar bagi prajurit Republik manapun.”

Akan tetapi, tidak semua Handler mengurus pekerjaan mereka dengan serius. Ada yang menonton televisi atau bermain gim di ruang komando atau malah meninggalkan pekerjannya tanpa pengawasan sama sekali. Handler lain memberi Prosesor perintah buruk atau tak memberikan informasi satu pun dan menonton mereka mati, seakan-akan film semata. Handler-Handler lain bertaruh dengan rekan-rekan mereka tentang skuadron mana yang akan musnah lebih dulu. Lena tentu tahu itu. Apabila memang ada yang serius menanggapi pekerjaan mereka, itu cuma minoritas, namun intinya bukan itu.

“Ah, yah, unitnya elit, tapi ….” Karlstahl nampak ragu-ragu sejenak.

“Kapten unit skuadron Spearhead, Nama Personel: Undertaker. Dia punya semacam, bisa dibilang, sejarah.”

Undertaker. Sungguh nama aneh.”

“Para Handler yang mengenalnya sepertinya memanggilnya Repaer dan semuanya takut padanya … tampaknya dia cenderung …. Menghancurkan Handler-nya.”

“Eh?”

Lena terkejut menjawabnya. Misalkan situasinya terbalik, itu tidak aneh, tetapi Prosesor menghancurkan Handler?

Bagaimana?

“Anda yakin ini bukan semacam cerita hantu, Pak?”

“Aku akui belum sempat memanggil para bawahanku untuk membahas gossip ini, sayangku …. Faktanya sejumlah besar Handler yang memimpin skuadron Undertaker telah mengajukan permintaan untuk mengubah tugas mereka atau mengundurkan diri dari militer. Beberapa minta pindah langsung setelah tugas pertama, selagi kami tidak tahu itu terkait atau tidak, malah beberapa ada yang bunuh diri setelah mengundurkan diri.”

“Bunuh diri, Pak ….?”

“Sulit mempercayainya, tapi … mereka mengklaim dapat mendengar suara-suara hantu dan dihantui suara-suara tersebut bahkan setelah pensiun dari militer.”

“….”

Bagaimanapun malah kedengaran mirip cerita hantu. Kepala Karlstahl memiring cemas, dengan resah berusaha memahami isi pikiran Lena.

“Sekiranya kau tidak mau, jangan ragu menolak. Kau bisa tetap memimpin skuadron saat ini, dan seperti yang kukatakan, Spearhead adalah tempat berkumpulnya para veteran. Setahuku, Beresonansi bersama mereka selama bertugas tidak disarankan, lantas kita bisa menyerahkan komando kepada perwira lapangan dan memberikan pemantauan minimal—”

Bibir Lena mengerut tegang.

“Akan saya lakukan. Saya akan berusaha sebisa mungkin menjadi perwira komandan skuadron Spearhead.”

Melindungi ibu pertiwi adalah tugas dan kebanggan warga negara Republik. Memimpin unit lini depan angkatan perang adalah keinginan satu-satunya, melewatkan kesempatan ini tidak bisa diterima.

Karlstahl tersenyum penuh kasih kepadanya. Beneran, deh, gadis ini kelewatan ….

“Boleh kau lakukan tugasmu seabsolut minimum mungkin. Tidak usah melakukan hal tak penting …. Dan juga, jangan kebanyakan berinteraksi sama Prosesor.”

“Mengetahui bawahan adalah bagian dari tugas seorang komandan. Selama mereka tak menolak saya, saya akan berusaha berinteraksi dengan mereka.”

“Waduh ….”

 Karlstahl mendesau sambil tersenyum lembut. Dia membuka laci meja dan mengambil seberkas dokumen.

“Selagi kita membicarakan topik pelaku kejahatan, ada hal lain yang ingin kukatakan. Ya Allah, berhenti mencatat jumlah korban jiwa pada laporanmu. Secara resmi tidak ada orang yang ikut berperang, jadi kami tidak bisa menerima dokumen mengenai data yang tak ada …. Walaupun kau coba protes seperti ini, nanti tidak ada lagi yang betul-betul memikirkan masalah ini.”

“Biarlah demikian, saya tidak bisa begitu saja mengabaikannya …. Tidak ada alasan untuk mengurung Colorata lagi.”

Kekaisaran Giad menguasa benua dengan pasukan Legion mereka. Tapi entah kenapa, rupanya Kekaisaran telah runtuh empat tahun lalu. Transmisi Kekaisaran kepada Republik sempat dicegat di antara gelombang gangguan dan Eintagsfliege tiba-tiba berhenti, lalu mulai saat itu Kekaisaran tidak bisa lagi mencegat transmisi. Masih tak jelas mengapa Kekaisaran jatuh; apakah Legion berbalik melawan mereka, ataukah ada alasan lainnya? Apa pun itu, satu hal yang jelas: Kekaisaran telah jatuh.

86 Ditahan sebab mereka keturunan Kekaisaran, namun kini karena Kekaisaran sudah tidak ada, tidak ada lagi pembenaran atas penahanan kamp konsentrasi mereka. Akan tetapi, setelah merasakan kegembiraan diskriminasi gencar mereka, warga sipil Republik enggan mengubah cara perlakuan mereka. Menginjak-injak pihak lain memberikan mereka ilusi superioritas, mempunyai pihak penekan membuat mereka merasa seolah para pemenangnya. Setelah dipenjara, dihina, dan didesak ke dalam situasi darurat karena Kekaisaran serta persenjataan superiornya, hal demikian semata-mata bentuk pelarian yang menipu diri sendiri alih-alih menghadapi masalah itu.

“Toleran pada kesalahan semacam itu sama saja mendukung mereka. Hal itu mestinya tak diperbolehkan di—”

“Lena.”

Panggilan pelannya membuat Lena menahan lidah.

“Kau terlalu bersemangat mengejar idealismmu, terlepas dari idealismenya darimu atau orang lain. Idealisme itu berharga justru karena itu tak terjangkau.”

“… tapi ….”

Mata perak Karlstahl gentar oleh nostalgia pahit.

“Kau betulan mewarisi Václav …. Nah, Mayor Vladilena Milizé. Dengan ini aku menunjukmu sebagai komandan skuadron pertahanan terdepan distrik pertama front timur. Aku harap kau melakukan yang terbaik.”

“Terima kasih banyak, Pak.”

“…. Jadi ujung-ujungnya kau menerima tawaran itu? Kau sungguhan orang aneh, Lena.”

Mengambil alih komando skuadron baru berarti sejumlah hal mesti diubah juga, salah satunya adalah data target Para-RAID-nya. Annette adalah perwira penanggung jawab tim pengembangan Para-RAID, lantas semua permintaan soal penyesuaian pengaturan Resonansi Sensorik Lena diurus dia. Annette pun menyarankan Lena pergi memeriksa kesehatannya selagi proses penyesuaian, Lena sedang mengganti seragamnya selagi Annette mengomelinya.

Setelah dengan rapi meletakkan gaun pasien di gantungan baju, Lena menjawab Annette dari sisi lain jendela ruangan medis yang berlapis kaca tebal, Lena masih mengancingkan blusnya. Bangunan distrik medis pernah menjadi villa keluarga kerajaan selama zaman monarki, jadi eksteriornya mirip bangunan Abad Pertengahan elok dan berkelas. Namun bagian dalamnya, memiliki semacam desain futuristik tanpa tandingan selera, dilapisi kaca-kaca jendela besi yang menghantarkan perasaan robotik, anorganik. Salah satu layar kaca menampilkan video ikan tropis dan terumbu karang yang terproyeksi di sana.

“Maksudku, cuma cerita hantu, Annette. Alasan tentara buat bolos kerja saja.”

Mengencangkan kedua stokingnya dengan pengikat kaus kaki, Lena merasa bibirnya mengendur tersenyum. Dia melakukan inspeksi medis Para-RAID secara berkala, jadi Annete tidak risau. Mau bagaimanapun juga, Annette itu orangnya sibuk ….

“Bagian beberapa orang yang bunuh diri itu beneran.”

Duduk di sisi lain dinding kaca, Annette dengan santainya menambah berita gembira sembari memasukkan pengaturan baru ke Perangkat RAID Lena lalu menyeruput kopi—lebih tepatnya, semacam asbak substansi yang menyerupai kopi—di cangkirnya.

“Aku tak percaya hal tentang hantu itu. Orang-orang tua barangkali mengada-ada agar ada sesuatu yang digosipkan. Tapi itu benar. Seseorang meledakkan kepalanya dengan senapan.”

Setelah mengenakan rok dan jaketnya, Lena berbalik, meluruskan kerah. Dia menyisir rambut perak yang tergerai di bahunya sembari membungkuk ke depan.

“Masa?”

“Kami mendapat perintah untuk memeriksa insidennya disebabkan malfungsi Para-RAID atau tidak. Selain pengunduran diri, penjelasan biasanya tidak masuk akal saat seseorang bunuh diri.”

“Dan apa hasilnya?”

Annette mengangkat bahu santai.

“Siapa yang tahu.”

“M-maksudmu siapa yang tahu ….?”

“Rincian macam apa yang wajib kukumpulkan padahal subjeknya sendiri sudah mati? Tidak ada abnormalitas terdeteksi pada Perangkat RAID, itu saja. Aku menanyakan mereka apakah ingin aku menyelidiki lebih jauh lagi, mereka harus membawa Prosesor itu. Undertaker, kurasa itu nama panggilannya? Tapi jawaban dungu orang-orang tolol di Transpor bilang, Tidak punya waktu buat babi di penerbangan kami.”

Annette menyilangkan lengan sambil bersandar di sandaran kursi dan mendengus marah. Tingkahnya selalu merusak tampang tomboinya.

“Jika mereka membawanya ke sini, aku bisa memisahkan otaknya dan kuinvestigasi. Sial.”

Lena mengerutkan kening pada ucapan tak menyenangkannya. Annette jelas-jelas tidak serius, tapi masih agak ngeri.

“… hmm, tahu dari mana soal Prosesor itu ….?”

“Aku tahu dia dari anggota parlemen. Mereka mengizinkanku melihat laporan, tapi isinya cuma kumpulan data resmi. Mereka menanyakan pendapatku, itu doang. Entah dia sungguh-sungguh punya hubungan atau tidak.”

Setelah mengatakannya, Annette tersenyum kecut.

“Nyatanya, ketika mereka memberi tahu Handler-nya mati, dia cuma bilang, begitukah? Ibaratnya dia tidak paham apa yang mereka inginkan. Aku rasa masuk akal 86 merasa seperti itu, sih. Biarpun kau memberi tahu mereka perwira komandannya mati, mereka takkan peduli-peduli amat.”

“….”

Ketika dia melihat ekspresi diam Lena, senyum di wajah Annette menghilang.

“… Lena, kau harus pindah ke lab.”

“?”

Mata kucing berkilauan Annette melihat ekspresi bingung Lena.

“Keadaan sekarang, militer tak lebih dari bantuan pengangguran. Semua orang kecuali lab penuh orang idiot dari Sektor lebih tinggi yang tidak bisa bekerja.”

Pusat administrasi Republik saat ini adalah Sektor Pertama, dan letaknya berada di tengah-tengah negara. Sektor-Sektor lain menyebar keempat sisinya dengan bentuk persegi panjang, angka-angkanya ditentukan berdasarkan urutan kedekatannya. Makin tinggi angka Sektor , makin buruk lingkungan tempat tinggalnya, keamanan publik, dan standar Pendidikan, juga kian tinggi tingkat pertumbuhan pengangguran.

“Apa rencanamu setelah Legion tidak lagi jadi masalah? Punya mantan personil militer pada surat lamaran kerjamu tidak menarik selama masa-masa damai.”

Lena tersenyum. Dalam waktu dua tahun lagi, seluruh unit Legion akan dimatikan. Itulah fakta yang dipahami Republik setelah memeriksa beberapa unit Legion yang mereka tangkap. Prosesor sentral Legion punya rentang masa pakai absolut: lima puluh ribu jam operasi per versi. Dengan kata lain, kurang lebih enam tahun. Kekaisaran boleh jadi menambahkan elemen desain ini sebagai jaga-jaga agar Legion tidak mengamuk dan malah berbalik menyerang mereka.

Dan karena Kekaisaran mungkin hancur empat tahun lalu, semua prosesor sentral Legion akan mogok dan berhenti beroperasi dalam kurun waktu dua tahun. Memang benar, jumlah Legion yang mereka deteksi di medan perang sedikit demi sedikit menurun seiring bergantinya tahun. Unit yang belum menerima pembaharuan mulai dimatikan.

“Makasih atas tawarannya. Tapi sekarang, kita sedang perang.” “Yea, tapi bukan berarti ini jadi pekerjaanmu.”

Annette tidak menyerah. Menyelesaikan pekerjaan input7, dia menotol layar holo, membungkuk ke depan, dan mulai melampiaskan frustasinya dengan suara pahit dan gelisah.

“Apa pun kebenarannya, Prosesor yang kita bicarakan di sini kacau. Siapa tahu dia bisa apa …. Lagipula, masih misteri Para-RAID-nya betul-betul aman atau tidak.”

Mata Lena membelalak.

“Bukannya terbukti kalau Para-RAID sangat-sangat aman?”

Annette kelihatannya melewatkan sesuatu yang harusnya tak dilewatkan. Suaranya melirih, terus berbicara dengan wajah bersalah jelas membuatnya terlibat dalam masalah.

“Gini, kau tidak tahu cara kerja negara ini, Lena? Meskipun mereka bilang di depan muka umum, bukan berarti itu benar.”

 Republik membanggakan dirinya sebagai ras unggul dan teknologi negara sempurna. Walaupun ada kekurangannya, mereka tak pernah mempublikasikannya. Berlaku juga untuk Para-RAID … begitu pun Juggernaut.

“Mereka sebetulnya menemukan teknologi ini dengan menginspeksi orang-orang lewat, yah, persepsi ekstrasensor. Begitulah mereka mendapati bagian-bagian otak yang distimulasi … yang mana beginilah cara kerja benda ini.”

Dia menyodok Perangkat RAID di tangannya: kristal biru serta kerangka perak halus. Kristalnya saat ini terhubung oleh sejumlah kabel ke terminal informasi, karena informasi di dalamnya lagi ditulis ulang.

“Para Cenayang itu bisa beresonansi sama keluarga lain, jadi perangkat Handler dan Prosesor membawa informasi semi-genetikan tersebut untuk mengidentifikasi pengguna sebagai penghubung tingkat dua. Kami masih tidak tahu cara Resonansi bekerja.”

“Tapi … bukankah ini penelitian Ayahmu?”

“Penelitian kolaboratif. Teori dan hipotesis dasar adalah pekerjaan semua peneliti. Ayah cuma bertugas menyiapkan kondisi lab dan mereplikasi fenomena subjek tes yang didapatkan.”

“Jadi, kau hanya harus menanyakan para peneliti lain.”

Wajah Annete tersenyum dingin.

“Tidak bisa. Para peniliti lain adalah 86.”

86, yang dianggap manusia rendah, tidak mencatat nama mereka. Tatkala mereka ditahan, mereka masing-masing menerima nomor sebagai pengidentifikasi tunggal. Pada saat ini, bahkan mencari tahu kamp konsentrasi mana mereka ditempatkan itu mustahil.

“Perangkat RAID kini memiliki kunci pengaman, tapinya andai ada orang berusaha beresonansi dengan indra penglihatan beberapa orang, otak mereka akan terbakar sendiri karena informasi berlebihan, dan andaikan kau tetap Beresonansi terlalu lama pada tingkat sinkronisasi maksimum dirimu akan sepenuhnya kolaps. Kau tetap kelewat terangsang sampai tidak bisa kembali …. Kau tahu kecelakaan Ayahku, kan?”

“….”

Ayah Annette, Profesor Josef von Penrose, terlibat dalam kecelakaan selama eksperimen, membuatnya gila dan pada akhirnya membunuhnya. Terjadi tak lama setelah selesainya teori Resonansi Sensorik dan Perangkat RAID. Sinkronisasi Perangkat RAID tidak sengaja diatur ke tingkat maksimum secara teoritis. Beberapa orang yakin dia terhubung ke suatu tempat yang melampaui ketidaksadaran kolektif manusia. Andaikata keseluruhan manusia adalah seorang individu, tempat itu adalah kolektifnya—itulah yang dianggap dunia ketidaksadaran kolektif.

“Jadi sesuai perkataanku, entah apa yang terjadi bila kau kelewat menggunakan Para-RAID …. Aku tidak peduli sama orang-orang 86, tapi seumpama kau kenapa-napa, aku tidak tahu harus melakukan apa ….”

Lena meringis menggerutu. Dia menyadari Annette betul-betul memikirkannya, tapi tetap saja ….

“Itu … itu pengecut.”

Annette melambaikan tangan seolah sudah bosan dengan percakapan itu.

“Ya, ya. Aku bersumpah, kau ini aneh ….”

Sunyi canggung memenuhi kedua sisi ruangan yang terbelah oleh dinding kaca. Seakan ingin menghilangkannya, Annette tersenyum nakal.

“Selagi kita membahas sesuatu yang membuatmu bertingkah aneh …. Lena, kau mau kue sifon8? Ini karya terbaruku. Dibuat dari telur asli.”

“Hah?”

Annette mesti menahan diri agar tidak tertawa terbahak-bahak ketika Lena menatapnya, sepasang telinga kucing khayalan mencuri perhatian. Bagaimanapun Lena lebih seperti gadis alih-alih wanita muda lain seusianya. Hal-hal manis sekilas menangkap perhatiannya, kue sifon dari putih telur asli merupakan komoditas langkah di Republik saat ini, sebab kurangnya tempat atau waktu untuk membangun peternakan ungags. Memelihara ayam di kebun miliknya sudah termauk mewah bagi putri keluarga Penrose yang sebelumnya keluarga bangsawan.

Akan tetapi ….

“Hmm … rasanya bukan keju meski kau masukkan keju ke dalamnya, atau semuanya terlihat hangus dan berasap, atau mirip katak, kan ….?”

Demikianlah kesan seseorang yang pernah mencicipi gumpalan krim buatan Annette. Komentar terakhir itu adalah versi singkatnya mayat seekor katak yang melotot. Tidak menghiraukan bentuknya, Annette entah bagaimana berhasil mereplikasi warna katak yang keakuratannya mengejutkan.

“Yang satu ini aman dimakan. Aku minta tamu perjodohanku menyicipinya.”

Kendatipun dia pingsan, mulut berbusa setelah cokelat purwarupa kelima.

“Kalau begitu, aku duga tidak apa-apa …. Tetapi sekalipun kau tidak menyukainya, pastikan memberikannya cokelat yang benar-benar aman dimakan, oke?”

“Tentu saja nanti aku berikan. Bahkan aku bungkus dengan kertas kado merah muda lucu, pita, dan lain-lain. Bahkan meletakkan kartu pesan dengan jiplakan ciuman yang isinya, Kepada sayangku, Theobald …. Kutinggalkan di kotak surat apartemen Ibu kos yang dia sewa.”

Perlu waktu sesaat bagi Lena untuk memutuskan dia mesti mengasihani pria itu atau tidak.

Setelah kembali ke rumah, Lena menempelkan Perangkat RAID—di lehernya—telah selesai ditulis ulang datanya selagi dia mengobrol bersama Annette tentang kue sifon dan teh. Perangkatnya berbentuk kalung leher, diukir pola halus ornamen Alba. Manik-manik kecil nan berkilau mengelilingi kristal saraf kuasi, sulit dipercaya kalung leher ini fungsinya sama seperti headset komunikasi kelas militer.

Perbincangannya bersama Annette sore ini tiba-tiba terlintas dalam pikirannya. Reaper. 86 yang mendesak orang-orang sampai bunuh diri, orang yang tak tersentak sedikit pun oleh kematian.

Orang macam apa dia?

‘Apa dia … membenci kami?’

Lena menggeleng kepala sekali dan menarik napas panjang. Baiklah.

“—aktifkan.”

Dia menyalakan Para-RAID. Metode komunikasi mutakhir ini bisa digunakan tanpa kenal tempat dan waktu, mengabaikan gangguan jarak, cuaca, atau medan.

Sinkronisasi selesai. Tidak ada masalah selama koneksi. Sinyal statis berdesir di telinganya, berbeda dari suara ruangan tempatnya berada.

“Handler One kepada semua unit skuadron Spearhead. Senang bertemu kalian semua. Aku akan bertugas sebagai perwira komandan mulai hari ini.”

Ada jeda panjang dan ragu-ragu. Lena merasa sedih. Tak seorang pun dalam skuadron tahu bagaimana cara menanggapi seorang perwira yang menyapa mereka pertama kalinya seperti ini, kendatipun itu adalah etika pantas bagi sesama manusia.

Tetapi keragu-raguannya menghilang setelah sejenak waktu berlalu, lalu suara tenang dan terdengar muda merespon dari sisi lain indranya yang Beresonansi.

“Senang bertemu denganmu, Handler One. Ini kapten skuadron Spearhead, Nama personil: Undertaker.”

Berlawanan dari nama jahatnya, pengucapan serta pelafalannya akurat dan jelas, suaranya setenang danau hutan dalam. Anak laki-laki yang kurang lebih seusianya, mungkin berasal dari keluarga kelas menengah atau lebih tinggi.

“Aku telah diinformasikan mengenai pergantian Handler. Aku mendoakan keberuntungan tugasmu ke depannya.”

Lena tersenyum, dapat dengan jelas membayangkan watak diamnya dengan nada suaranya yang berbeda. Ya, dia gampang tahu dari percakapan ini, dan takkan mungkin dia bisa menipu Lena.

Mereka manusia.

Mereka bukan manusia rendah, sesuatu yang hanya dipanggil 86.

“Aku pun mengharapkan hal sama. Aku menantikan kerja samamu, Undertaker.”

 

Catatan Kaki:

 

  1. Liberté, égalité, fraternité (bahasa Prancis untuk “Kebebasan, keadilan, persaudaraan”) adalah moto resmi dari Republik Prancis dan Republik Haiti. Frasa ini lahir selama Revolusi Prancis, tetapi tak berhasil menjadi slogan resmi dari slogan yang lain. Karena keadaan perang yang permanen, yang dipakai adalah Liberté, égalité, fraternité, ou la mort ! (Kebebasan, keadilan, persaudaraan, atau mati!), selanjutnya ditinggalkan dengan cepat karena membangkitkan kenangan tentang perang. Pada abad ke-19, moto ini menjadi semboyan dari republikan dan liberan yang mendukung demokrasi dan penggulingan pemerintah yang menindas dan mendukung tirani dari berbagai jenis. Para revolusioner dari Revolusi Prancis mengambil moto Liberté, égalité, fraternité, tanpa diadopsi oleh Monarki Juli. Frasa ini pertama kali dipakai sebagai moto resmi negara pada 1848, oleh gubernur dari Republik Prancis Kedua. Kosong saat Kerajaan Prancis Kedua, Republik Prancis Ketiga mengadopsinya sebagai moto resmi negara pada 1880. Moto ini tertulis pada konstitusi Prancis 1946 dan 1958, keduanya pada Judul 1, Dari kedaulatan, pasal Namun gua sendiri ga paham mengapa novelnya membuat semboyan ini punya 5 arti, padahal sebenarnya cuma 3.
  2. Skuadron, eskadron, atau skadron (bahasa Inggris: squadron) adalah subunit kavaleri dan formasi dari kompi dalam dunia militer. Istilah ini masih digunakan untuk merujuk pada unit kavaleri modern tetapi juga dapat digunakan sebagai sebutan untuk senjata dan layanan lainnya. Skuadron juga merupakan sejumlah kapal terbang atau pesawat terbang militer yang membentuk suatu kesatuan.
  3. Prosesor adalah komponen komputer yang merupakan sebagai otak yang menjalankan proses dan pengendali kerja komputer dengan bekerjasama perangkat komputer lainnya, satuan kecepatan dalam Prosesor adalah Mhz (Mega Heartz) atau Ghz (Giga Heartz) dengan semakin besar kecepatan suatu Prosesor maka akan semakin cepat kinerja …. Dan dalam cerita ini, prosesornya adalah MANUSIA-MANUSIA 86.
  1. Untermensch (pengucapan bahasa Jerman: [ˈʔʊntɐˌmɛnʃ], jamak: Untermenschen, secara harfiah berarti manusia bawah atau manusia rendah) adalah istilah yang mulai populer ketika Nazi mencap bangsa non-Arya sebagai bangsa inferior. Mereka sering disebut sebagai manusia dari Timur dan mencakup bangsa Yahudi, Roma, dan Slav (khususnya Polandia, Serbia, dan Rusia). Istilah ini juga berlaku untuk sebagian besar orang kulit hitam dan orang kulit warna dengan pengecualian tertentu. Bangsa Yahudi dimusnahkan dalam Holokaus. Bangsa Roma dan orang cacat fisik dan cacat mental juga dimusnahkan. Menurut Generalplan Ost, penduduk Slav di Eropa Timur-Tengah harus dikurangi jumlahnya dengan cara pembunuhan massal. Sebagian besar di antaranya diusir ke Asia atau dipekerjakan paksa di seluruh wilayah kekuasaan Jerman. Sebagian penduduk yang dicap separuh Arya menjalani Jermanisasi (baca penculikan anak oleh Jerman Nazi). Konsep ini merupakan bagian penting dari kebijakan ras Jerman Nazi. Meski Nazi tidak konsisten melaksanakan kebijakannya (terutama saat melaksanakan Solusi Akhir ketika menjalankan Generalplan Ost), proses genosida ini memakan jutaan korban jiwa. Konsep ini terkait dengan makhluk hidup yang tidak layak hidup, istilah lebih spesifik yang awalnya mengacu pada orang cacat yang dieutanasia secara paksa lewat Aktion T4; aksi ini kemudian diterapkan untuk bangsa Yahudi.
  2. Kamp konsentrasi adalah tempat mengumpulkan dan menahan lawan politik, tahanan atau tawanan. – Biasanya kamp konsentrasi didirikan pada saat perang atau masa bergejolak di suatu negara. Di bawah Adolf Hitler, Jerman Nazi membangun kamp konsentrasi di seluruh daerah taklukannya. Kamp konsentrasi Nazi pertama dibangun besar-besaran di Jerman setelah kebakaran Reichstag pada tahun 1933, dan ditujukan untuk menahan tahanan politik dan lawan rezim. Kamp tersebut tumbuh pesat sepanjang tahun 1930-an karena lawan politik dan sekelompok rakyat lainnya dipenjarakan tanpa proses peradilan. Istilah kamp konsentrasi berasal dari masa Perang Boer Kedua di Afrika Selatan. Sejarawan Holocaust membedakan antara kamp konsentrasi dengan kamp pemusnahan, yang didirikan semata-mata untuk memusnahkan Yahudi Eropa, Polandia, Gipsi, dan suku lain melalui Solusi Terakhir. Contoh kamp pemusnahan adalah Belzec, Majdanek, Sobibor, Treblinka, dan Auschwitz-Birkenau.
  3. Peraturan Presiden disingkat Perpres adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibuat oleh Presiden. Materi muatan Peraturan Presiden adalah materi yang diperintahkan oleh Undang-Undang atau materi untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah. Kalau di negara Indonesia, Perpres adalah peraturan yang diutamakan Nomor 5 dari 7 Peraturan Perundang-undangan.
  4. Input adalah memasukkan, ada tiga tahap dalam pengolahan data, yakni Input > Proses > Output, dan bagian Input adalah memasukkan data.
  5. Chiffon cake alias kue bolu sifon adalah jenis bolu dengan tekstur ringan, sangat lembut, dan berongga. Perbedaannya dengan bolu biasa terletak pada penggunaan minyak sayur atau zaitun, tidak menggunakan lemak padat seperti mentega atau margarin. Resep dasar sifon cake biasanya menggunakan tepung terigu, baking powder, gula, minyak, dan telur ayam saja. Tetapi bisa juga dimodifikasi dengan pasta pandan, bubuk matcha, atau keju. Tapi ini Annette keknya buatnya make bumbu peledak, formalin, dan bahan-bahan aneh lainnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *