86 JILID 2 INTERLUDE

Posted on

Ketika John Doe Datang Berbaris ke Kampung Halaman.

Penerjemah: Daffa Cahyo

“Skuadron pertahanan Sledgehammer pertama distrik pertama front utara kepada semua 86 …. Seluruh Prosesor yang mendengar siaran ini.”

Rekannya tergeletak dihancurkan di dekatnya, persenjataan utama dan lapis baja ditendang brutal oleh Löwe seberat lima puluh ton. Rekannya takkan bergerak lagi. Dirinya sendiri merangkak keluar dari rongsokannya, menyeret kaki kanan bawahnya yang terluka sambil berjalan ke jembatan tua di tepian medan perang. Berbaring di pagar pembatas batu adalah usaha terbaiknya, menahan mata terbukanya saja sudah kesakitan. Darah mengolesi lapis baja mesinnya dan warna merah gelap menetes dari bagian bawahnya, bahkan dalam gelapnya malam pun kelihatan.

“Ini Kapten skuadron Sledgehammer, Black Bird (Burung Hitam).”

Rekan satu timnya telah mati semua dalam pertempuran kali ini, dia pun tak tahu skuadron di distrik-distrik lain masih hidup atau tidak. Mereka benar-benar telah dikalahkan, tak dipungkiri lagi.

Legion membanggakan kekuatan besar dan kejituan yang takkan pernah ditandingi Juggernaut. Apalagi pasukannya besar, jumlah yang belum pernah mereka temui sebelumnya mendadak menyerbu. Pasukan kecil seperti mereka tak mampu menandinginya. Terlepas dari itu, mereka tetap menghadapi serangan. Walaupun yang berdiri di belakang barak bukanlah tanah air yang mereka pertahankan bukan pula keluarga tempat mereka pulang. Mereka terus bertarung meski demikian.

“Perang kita berakhir sudah.”

Sebab itulah harga diri mereka—86—yang tersisa.

Satu Löwe mendekatinya, sinar bulan memantulkan lapis baja buramnya selagi membawa rangka logam berat dengan langkah kaki yang hampir tidak terdengar. Bisa jadi tak mau repot-repot menyia-nyiakan selongsong untuk membunuh tikus terpojok ini, bahkan dia tak mengarahkan senapan mesin berat 12.7 mm-nya atau mengancam meriam 120 mm. Dia menghampiri setenang kepercayaan diri seorang pemangsa, rangka besarnya memenuhi seluruh lebar jembatan.

Menatap ancaman logam yang menghantuinya, Black Bird menyeringai sedikit. Dia tahu, entah bagaimana, ada sesama 86 di luar sana yang mendengar ucapannya ke nirkabel, disetel lewat transmisi searah.

“Semua Prosesor yang mendengar ini. Semua orang yang sudah bertarung sampai akhir pahit. Semua yang selamat. Kita akhirnya dibebaskan. Kita semua … kerja bagus.”

Di medan perang tanpa korban jiwa ini, tanpa adanya suaka atau imbalan jasa, lalu satu-satunya hal yang menunggu adalah kematian tanpa kompromi.

Seusai mengimbuh yang perlu dia imbuh, Black Bird mematikan transmisi kemudian membuang penyuara kupingnya. Dia mengambil pengendali jarak jauh di tangan kanan hancur yang masih menggenggam, dipegang ke tangan kiri. Si Löwe mendekat, berdiri persis di depannya di jembatan selagi dirinya bersandar tanpa daya.

Lima tahun lalu, dia bertemu kapten skuadron pertama tempatnya bertugas. Dia adalah seorang prajurit di pasukan angkatan darat lama Republik juga seorang 86 yang dibuang ke medan perang. Dia mengajarinya cara bertarung, cara bertahan hidup, cara menggunakan benda ini. Dan pastinya tak ada orang di antara para babi yang mampu atau bersedia melakukannya.

Sekalipun bibirnya terbakar dan kulitnya terluka, dia nyaris tersenyum riang. Dia takkan menyerah untuk hidup dan takkan menyerah ke keputusasaan, tidak akan membiarkan kebencian mencemari martabatnya pula. Dia bertarung lama sampai ke sini, memilih hidup demikian.

Tetapi ujung-ujungnya dia diizinkan mengatakannya, kan? Melihat lengan logam diayunukan di atasnya layaknya sabit, dia menekan tombol PENGHANCURAN DIRI sambil tersenyum.

Dasar babi putih menyedihkan malang yang memaksakan peperangan kepada orang lain, menutup matamu dari kenyataan, karenanya hilang segala cara mempertahankan diri kalian. Kalian yang kehilangan hak tuk memilih kematian sendiri …

“—makan nih.”

Bahan peledak plastik yang ditanam di gelagar jembatan telah meledak. Di jembatan tua ini yang berfungsi sebagai posisi kunci penyeberangan sungai, satu tiran logam tanah dilalap api dan jatuh ke sungai, ditemani seorang 86 yang bahkan kematiannya takkan terhitung.

Tahun 368 kalender Republik, 25 Agustus, pukul 23:17.

Ketika alarm berbunyi di markas besar militer, tidak satu orang pun mengerti artinya. Wajar, seperti konfigurasi sepuluh tahun lalu. Anggota pasukan Angkatan darat yang mempertahankan negara sebelum mereka lalu dihancurkan sampai pasukan paling belakangnya, dia yang mengatur sirenenya dengan tekad dan harapan agar takkan pernah terdengar.

Perangkat layar holo besar untuk tujuan pengarahan diaktifkan secara otomatis. Layar holografik yang dipasang di sebagian besar dinding, memproyeksikan rekaman terdistorsi yang dirusak gelapnya malam serta gangguan elektronik. Saat rekan-rekannya menatap kesal monitornya dan menggerutu, Lena sendiri menelan ketakutan samar begitu melihat rekamannya.

Rekaman tersebut menunjukkan reruntuhan struktur bangunan berbentuk dinding, hancur dari atas hingga bawah, beton hancur serta pelat baja cukup besar untuk menutupi rumah kecil. Dikarenakan struktur besarnya, bekas kehancurannya membesar bak jurang. Kemudian yang menyeberang jurang tersebut bagaikan sungai berwarna logam adalah pasukan besar mesin-mesin berkaki banyak yang dibuat untuk memaksimalkan potensi pembantaian mereka.

Bulu kuduk Lena ngeri. “Apa ini, film? Kelihatannya keren.” “Seseorang matikan sirenenya; menyebalkan.”

Dia mundur selangkah, menjauhkan diri dari rekan-rekan kerjanya yang bergelimang rasa tak peduli karena mereka tidak tahu ketakutan yang bisa melumpuhkan mereka. Republik telah menutup diri, mendesak perang 86 selama satu dekade kepada 86. Mayoritas warga sipil—bahkan personel militernya—tidak tahu rupa musuh mereka.

Kecuali Lena, karena mereka pernah melihatnya sebelumnya.

Enam tahun lalu, di saat dia dibawa melihat garis depan—tatkala kehilangan sang ayah, lalu Rei menyelamatkannya. Di lain waktu, sewaktu Meresonansikan penglihatannya dengan Raiden untuk memberi tembakan perlindungan kepada skuadron Spearhead.

Yang memimpin arus sungai, berbentuk ceking mengingatkan ikan pemakan manusia, adalah tipe Pengintai Ameise. Memiliki enam kaki yang memberi kemampuan manuver luar biasa dan memungkinkan mereka melompati dinding runtuh dengan mudah, adalah tipe Dragoon Grauwolf. Yang melintas teratur, turet tank 120 mm berbelok ke empat arah, adalah tipe Tank Löwe. Dan akhirnya, yang menghancurkan puing-puing oleh berat besarnya, bergegas menuju ladang tak berpenghuni bagaikan tiran angkuh, adalah tipe Tank Berat—tipe Dinosauria.

Lalu bangunan runtuh yang dibangun pertahanan mutlak tak bisa ditembus … adalah Gran Mule.

Sirene ini … adalah pengingat kejatuhan garis pertahanan terakhir.

“…!”

Akhirnya tiba waktunya.

Legion telah membangun kekuatan mereka, terselubung gangguan Eintagsfliege, dan hari ini adalah hari mereka berubah ofensif. Hari kejatuhan Republik karena beban keangkuhannya, sesudah melindungi matanya dari kenyataan lanjut hidup dalam mimpi rapuh mengenai perdamaian dibuat-buat. Sebagaimana Shin yang pernah memperingatkannya.

Banyak kawanan Legion melintasi Gran Mule runtuh, gerombolan, berbondong-bondong, tanpa penghalang menuju Sektor 85 …. Menuju Republik San Magnolia yang lupa cara mempertahankan diri sendiri dalam mimpi perdamaian abadinya. Mayoritasnya barangkali Domba Hitam, Legion yang menggunakan jaringan saraf manusia untuk menaklukkan rentang hidup mereka. Sepasukan hantu ratusan ribu 86 yang Republik usir dan gunakan di medan peprang.

Pasukan hantu itu akhirnya kembali.

Sesuatu melintas di cakrawala hitam di balik reruntuhan dinding benteng dan gelombang pasang baja, seperti lelatu yang bermaksud menarik manusia menuju rawa tanpa dasar. Cahaya biru mirip bulu bunga adalah silau sensor optik. Siluetnya gentar karena sinar bulan, perspektif mengkelirukan ukuran terlampau besarnya—bayangan kolosal, setinggi gedung atau monster mitos raksasa.

Separuh rangka depannya diangkat selayaknya raksasa, suara yang mendistorsi rekaman menjadi lebih parah. Kala itulah dia tiba-tiba menyadari. Pemandangan mengerikan Gran Mule yang terlihat seakan-akan terulang kali dihajar dan dihancurkan titan ini …. Seolah-olah dihancurkan pengeboman.

Sebuah kilat memenuhi layar, dan rekamannya hilang.

Layar hologram seketika menghitam menakutkan. Kamera …. Tempat dipasangnya boleh jadi diledakkan. Sirenenya menderu-deru tanpa henti.

Ketika itulah. Skuadron Spearhead pernah menemui hal semacam itu sebelumnya di medan perang distrik pertama, bahkan memaksa elit seperti mereka mundur. Hujan selongsong jarak jauh berkecepatan tinggi yang melampaui jarak sanggup artileri. Tipe baru Artileri Jarak Jauh.

“… Railgun.”

Bisik Lena, bibirnya berkerut.

Duaaarrrrr, serunya dimulai dari sini

Lena dengan tegas berbalik, meninggalkan kantor dan rekan-rekannya yang terus mengoceh tanpa merasakan krisis yang ‘kan datang, tak percayaan seperti biasa. Sepatu bot militernya berbunyi klik di atas lantai koridor kayu selagi berjalan menuju ruang kontrolnya.

Perangkat RAID-nya terbakar panas ilusi, kemudian mengaktifkan Resonansi Sensorik. Dia menerima dua panggilan bersamaan—satunya dari salah satu sayap divisi penelitian dan satunya dari Kesatria Ratu di sektor pertempuran jauh.

“Lena! Sirene barusan …!”

“Untuk jaga-jaga saja memberitahumu, Baginda! Front depan utara …!”

“Ya, Annette. Dan aku pun sadar akan situasinya, Cyclops. Mereka akhirnya datang.”

Dia mengubah pengaturan Perangkat RAID-nya, memungkinkannya Beresonansi dengan semua target yang tersedia dalam jangkauan. Biasanya, seorang Handler hanya diizinkan Beresonansi dengan satu skuadron saja, tetapi Annette bekerja sama bersamanya setahun terakhir untuk mengatur pengaturan tersembunyi ini.

Pasukan hantu 86 Republik tidak terhitung jumlahnya yang telah diusir dan digunakan dalam medan perang. Jika mereka melawannya, mereka perlu menyatukan seluruh kekuatan. Melawan balik. Melanjutkan hidup dan menjawab kata-kata yang mereka tinggalkan.

“Reina Berdarah kepada semua Prosesor di seluruh front!”

Militer Federasi secara resmi menyebutnya tipe Railgun. Tipe baru Legion ini sendirian menumbangkan Gran Mule dan membakar benteng pangkalan Federasi sampai menjadi abu. Sesuai rekaman pengamatan terakhir yang ditemukan di reruntuhan markas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *