Ejekan Pasir
Penerjemah: DaffaNieR
――Ruang terdistorsi, dunia hancur, dan mereka masuk langsung ke dalam retakan yang tercipta di dunia nyata.
Seolah terbuat dari kertas tipis yang rapuh, dunia terkoyak dengan mudah.
Ditelan oleh ruang yang terdistorsi, gendang telinga Subaru tak menangkap suara apa pun, bertolak belakang dengan pemandangan luas menekan di sekelilingnya.
Yang terdengar hanyalah suara jeritan, seolah seseorang memanggilnya.
Bahkan suara itu pun perlahan menghilang, dan tak lama kemudian, ia tak bisa mendengarnya lagi.
Perasaan seseorang yang memegangi dadanya juga lenyap, jari-jari yang menariknya terlepas, menjauh darinya.
Tanpa seorang pun di sekitarnya, terasing di tempat kosong ini, sepertinya dia telah sepenuhnya sendirian.
Saat kesepian dan kesedihan menyiksanya, kesadaran Subaru perlahan muncul kembali.
Lalu――
“――Mau tidur sampai kapan? Bangun, dasar Barusu pemalas.”
“Ugh?”
Merasa sesuatu yang tajam menusuk lambungnya, Subaru bangun sambil menjerit kesakitan.
Refleks membangunkan paksa tubuhnya membuat pasir yang menempel di tubuhnya berhamburan ke tanah. Batuk-batuk, dia meludahkan pasir yang masuk ke mulutnya.
“Agh! Cuih! Hoek! Hah! Apa? Apa yang terjadi??”
Mengusap matanya, Subaru mengecek sekeliling sambil berdiri. Dengan lutut gemetaran dan pijakan tidak stabil, dia berdiri dengan gerakan tak teratur. Di bawah kakinya, hamparan butiran pasir masih tersisa.
Ketika kesadarannya pulih, Subaru tersadar area ini masih bagian dari Padang Pasir Augria. Namun pandangan di sekitarnya tidak jelas. Karena tempatnya berdiri gelap, sangat gelap.
Di tengah kegelapan yang menutupi bahkan penampakan tangannya sendiri, mata Subaru menangkap keberadaan cahaya buatan kecil.
“Kau bisa tidur nyenyak dalam keadaan darurat seperti ini, sungguh menakjubkan. Aku terdiam seribu bahasa.”
Suara tegas menghantamnya, lalu pemilik cahaya itu mendengus.
Sumber cahaya tersebut adalah sejenis batu sihir, bijih Lagmite yang diolah menjadi semacam lentera. Melihat wajah yang diterangi cahaya, Subaru mengangkat alisnya.
“――Ram, kaukah?”
“Memangnya siapa lagi? Rem? Aku tidak menyangka jawaban semelarat itu.”
“…Kau dan Rem mirip, tapi dari dalam terasa jelas bahwa kau bukan dia.”
Menanggapi Ram yang rasanya lebih kasar dari biasanya, Subaru memberikan balasan pahit. Menerima lentera dari Ram, dia melihat sekeliling, menerangi area tersebut.
“Tempat ini, di mana? Apa yang terjadi?”
“Ram juga ingin tahu ini di mana. Tentang apa yang terjadi, tiga kali lebih buruk dari yang bisa Barusu bayangkan.”
“Berarti kau berharap aku menjadi optimis? Kau meremehkan pesimis?”
“Sekarang ini, aku penasaran mana yang lebih baik.”
Jawaban itu mungkin disertai bahu terangkat.
Meski Ram berada di sebelahnya, sulit melihat penampakannya dalam kegelapan, karena semakin besar ruang yang diterangi cahaya maka intensitas penerangannya berkurang. Sepertinya mereka berada dalam semacam ruang kosong.
Langit-langit di atas agak tinggi, disambung dengan dinding yang menunjukkan ketebalannya.
“Tak ada aliran udara, tak bisa melihat langit. Berarti kita dilempar ke suatu tempat…?”
“Jika kata-kata Beatrice-sama sebelum kita terpisah benar, distorsi ruang adalah penyebabnya.”
“Terpisah …. Benar, terpisah! Di mana yang lain!?”
Sambil melihat sikap Ram yang apatis, pemahamannya menyusul kenyataan.
Subaru menggerakkan cahaya ke kanan-kiri, mencari figur selain Ram di sekitar mereka. Namun saat dia memindai ruang yang diterangi, cahaya tidak memantulkan siluet yang sangat ingin dia lihat.
“Seperti yang matamu lihat, kita terpisah. Sihir Barusu meniadakan tipuan Menara Pengawas …. Hasilnya tidak jelas, tapi mungkin alih-alih masuk ke jalur yang benar, kita malah terjebak dalam ruang-waktu terdistorsi yang akan menyesatkan kita selamanya.”
“Kau bilang apa!? Kok tenang amat? Kombinasi kita berdua … benar-benar acak!?”
Mendengar penjelasan santai Ram, wajah Subaru memucat dan meninggikan suaranya.
Teriakan Beatrice, ruang hancur tepat di depan matanya; dia langsung teringat. Jurang itu telah menelan seluruh tim yang isinya Subaru dan semua orang, kemudian menarik mereka ke ruang lain.
Saat itu, Subaru dan Ram sama-sama dalam perjalanan, tapi seharusnya mereka berada dalam kelompok berbeda. Subaru menunggangi Patrasche, dan Ram berada di kereta naga.
“Sepertinya pemisahan ini tidak mempertimbangkan siapa yang bersentuhan dengan siapa untuk menentukan siapa yang bersama siapa. Saat kita memasuki jurang, Ram seharusnya sedang memeluk Rem …. Tapi hasilnya seperti ini.”
“Aku juga semestinya memeluk Beako. Tetapi tidak menemukannya …. Aku tidak bisa melihatnya …. Tidak mungkin, hanya Ram yang ada di sini bersamaku? Pengelompokan macam apa ini.”
Jika syarat pemisahan itu bukan kontak fisik, apakah ada alasan lain?
Kelompok mereka terdiri dari delapan orang. Tidak ada kesamaan khusus yang hanya dimiliki Subaru dan Ram. Sekali lagi, apakah pengelompokannya benar-benar acak?
“Tidak, aku tunda dulu menebak syaratnya! Sebaiknya kita harus segera bergabung dengan yang lain …. Tidak! Ada yang lebih penting! Rem!”
“――――”
“Kita berdua masih bersama, jadi masih baguslah. Jika yang ikut terpisah tetap berpasangan, masih ada harapan. Tapi misalkan ada yang sendirian, dan orang itu Rem …. Mengerikan.”
Emilia serta Julius, dua orang semata wayang yang jadi kekuatan tempur dalam tim ini, tidak perlu dirisaukan. Meili dan Beatrice juga bisa bertahan sendiri dengan kemampuan masing-masing. Untuk Anastasia—atau lebih tepatnya Echidna—mungkin masih memiliki kartu as yang pernah digunakan untuk melawan Kenafsuan.
Meski tidak secakap yang lain, kombinasi Subaru dan Ram masih bisa diatasi.
――Tapi, Rem berbeda.
Tidak seperti yang lain, Rem tak bisa berbuat apa-apa.
Jika ada yang bersamanya pun, melindungi gadis yang terus tertidur akan membuat tugas apa pun menjadi hampir mustahil. Lalu kemungkinan terburuknya, misalkan Rem benar-benar terisolasi dari yang lain, maka hanya Kematian yang menunggunya di lautan pasir yang sepi ini.
“Menemukan yang lainnya penting, tapi prioritas utama adalah menemukan Rem! Aku tidak bisa meninggalkannya di tempat sepi seperti ini. Itu satu-satunya hal yang mutlak …. Mutlak tidak boleh terjadi. Sama sekali tidak boleh …!”
“… Barusu.”
“Karena aku yang mengajakmu ke sini …. Pikirku kau mungkin bisa bangun seandainya bertemu Sage, jadi aku membawamu. Tapi sia-sia. Sial, Rem-lah yang penting …!”
“Barusu, tenanglah. Aku juga hampir tidak tahan sekarang…”
“Kenapa kau menyuruhku tenang? Bukannya kau juga khawatir karena Rem hilang dari ingatanmu!?”
“――Ah! Bukan begitu!”
Membayangkan kemungkinan terburuk, Subaru mulai bergumam putus asa tentang masa depan, dan mengungkapkan penyesalannya. Mendengar kata-kata Subaru, Ram tidak tahan dan meledak marah.
Dia menarik kerah Subaru yang kelimpungan kemudian mendorongnya keras-keras ke dinding pasir di belakangnya.
“Kau pikir hanya kau yang peduli pada Rem? Jangan keterlaluan, Barusu. Bahkan tanpa ingatan asli, Ram tetap kakak kandung Rem. Jangan meremehkanku.”
“――――”
“… Aku masih bisa merasakan sedikit hubungan dengannya, jadi setidaknya untuk saat ini dia aman. Aku pastikan itu, jadi tenanglah dulu.”
Wajahnya tidak menunjukkan emosi apa-apa. Namun melihat kegelisahan dan kesedihan yang tak tertahankan di matanya selagi dia berusaha terlihat tenang, Subaru mengendurkan ketegangan di bahunya. Melihat itu, Ram juga melepaskan tangannya. Bebas dari desakan ke dinding, Subaru menunduk malu.
“…Maaf. Aku minta maaf. Sungguh, barusan akulah yang bodoh.”
“Wajar. Misal Barusu mulai merenungkan hidupnya, akan memakan waktu seharian. Berhenti membuang waktu kita.”
“…. Uh, maaf.”
Mengalami kecaman tajam dan kesaksian emosional Ram, Subaru akhirnya menyampaikan permintaan maaf. Kemudian dia menampar pipinya sekuat tenaga, meraih kembali semangatnya.
Meski Ram telah meyakinkannya bahwa Rem aman, Subaru masih takut pada Rem yang bisa saja sendirian. Situasi mereka tidak akan berubah jika tidak segera bersatu kembali dengan yang lain.
“Pokoknya, kita harus segera mencari yang lain. Ram, tidak bisakah kau menggunakan hubunganmu dengan Rem untuk menemukan lokasinya?”
“Sulit. Gadis itu tertidur, jadi satu-satunya hal yang kukirim adalah detak jantungnya. Ada cara lain, Clairvoyance, tapi … tidak terlalu bisa diandalkan.”
“Kenapa?”
“Gurun Pasir ini penuh dengan monster iblis, dan hampir tidak ada hewan atau tumbuhan biasa di sekitar. Clairvoyance tidak bisa meminjam penglihatan target jika gelombangnya tidak cocok dengan Ram. Tidak bisa sinkron dengan monster iblis. Saat ini, Ram hanya bisa meminjam mata dari naga darat Barusu.”
“Patrasche? Tidak, itu mestinya cukup. Aku ingin periksa apakah Patrasche dan Gian bersama seseorang. Akan sangat membantu bila mereka bersama semua orang dari kereta naga.”
“… tidak akan terlalu membantu kita.”
Subaru merasa frustrasi dengan Ram yang acuh, memiringkan kepala sambil berpikir. Sekaranglah waktunya mengumpulkan informasi sebanyak mungkin untuk bersatu kembali.
Namun dia tidak tahu kenapa Ram begitu ragu-ragu saat ini.
Akan tetapi, sebelum dia sempat membahas maksud Ram, jawabannya muncul di depan mereka berdua.
“――?”
Yang tiba-tiba lewat di sudut matanya, adalah secercah cahaya. Cahaya yang berbeda dari lentera yang dipegangnya.
Seketika tubuh Subaru merinding, karena dia memiliki pengalaman buruk dengan cahaya yang bergerak di sudut penglihatannya, tetapi cahaya yang muncul kali ini bergerak dengan pelan, sangat berbeda dengan pengalamannya.
Cahaya itu perlahan mendekat, dan sosoknya semakin jelas,
“Ram-san dan Natsuki-kun, sepertinya diskusi kalian sudah selesai?”
“――Anastasia dan Patrasche?”
Mendengar dialek Kararagi yang familier, kepala Subaru sedikit terangkat terperangah. Di depannya, memegang lentera lain dari yang dipegang Subaru, sembari menunggangi Patrasche, adalah Anastasia.
Menanggapi pertanyaan Anastasia, Ram membungkuk sambil mengangkat ujung jubahnya di tempat.
“Terima kasih atas perhatian Anda, Anastasia-sama. Bolehkah saya bertanya, bagaimana keadaan sekitar?”
“Aku baru memeriksa sepanjang jalan, tapi tidak menemukan orang lain. Hanya kita bertiga di sini … ditambah gadis yang ini nih.”
“Begitu, ya?”
“Kita harus tetap semangat. Meskipun penyemangatku tidak akan terlalu membantu, sih.”
“Terima kasih atas perhatian Anda. Oh, baiklah …. Saya akan tetap semangat.”
Kepada Anastasia yang berada di atas naga, Ram merespon sopan. Dari percakapan itu, Subaru samar-samar tahu Anastasia telah menyelidiki sekitarnya.
Tapi kegembiraan Subaru sebatas itu saja, karena kurangnya penjelasan membuatnya tidak puas.
“Hei, Ram. Bukannya cuma ada kita berdua di sini? Apa artinya ini, bisa kau jelaskan?”
“Aku tidak ingat pernah bilang hanya Ram dan Barusu yang ada di sini. Barusu sendiri yang tergesa-gesa menilai begitu. Memalukan.”
“Bakalan lebih menyenangkan jika kau berdalih karena terlalu meresahkan Rem sampai lupa membahasnya, nee-sama.”
“Haa—“
Mendengar Subaru, Ram mendengus dengan nada biasanya.
Lega oleh sikapnya, Subaru terus berjalan menuju Anastasia.
“Terlepas dari tipuan apapun, kabar baiknya adalah Anastasia selamat. Alhamdulillah.”
“Bukannya dirimu mengira kalau ini tipuan padahal salah paham saja? Aku senang saat tahu tidak sendirian. Lagian, naga daratnya Natsuki-kun, Patrasche-chan, sangat membantu, gadis yang baik banget.”
Meginjak pelana, Anastasia dengan hati-hati berusaha turun dari Patrasche. Lalu Patrasche langsung berjongkok untuk membantunya turun.
Seperti dugaannya, dia adalah naga darat sungguhan. Naga darat tampan. Tapi cewe.
“Tidak ada yang sembunyi lagi, ‘kan? Cuma kita berempat saja?”
“Termasuk Patrasche-chan, tidak salah lagi hanya kita berempat. Emilia-san dan Julius tidak punya alasan untuk bersembunyi … tapi, entahlah Meili-chan gimana.”
“Dia barangkali memanfaatkan kekacauan ini untuk melarikan diri, heh …. Tidak usah diungkit.”
Membayangkan gadis berambut kepang itu dalam benaknya, Subaru memikirkan pilihan Meili.
Persis sebelum terpisah, jaminan rahasia Meili berupa menemani perjalanan mereka dengan monster iblis telah dibocorkan Subaru. Subaru yang baru kembali dari kematian sebetulnya sadar monster iblisnya Meili adalah untuk melindungi kereta naga, baik dari Menara Penjaga sekaligus kawanan penyerang beruang oiran.
Namun demikian karena itu adalah peristiwa yang tidak terjadi dalam perulangan ini, pada dasarnya satu-satunya orang yang tahu alasan Meili membiarkan Cacing Tanah Pasir mengikuti mereka adalah gadis itu sendiri.
Dalam situasi khusus ini, Meili yang kabur dari tim dan berusaha meninggalkan Bukit Pasir sendirian tidaklah aneh.
“Tapi dia tidak akan lari … aku percaya itu.”
“Ekspektasi? Ataukah kepercayaan?”
“Terserah kau sebut apa. Kesampingkan dulu itu, keadaan sekitar gimana?”
Menyampingkan pandangannya soal Meili, Subaru meminta laporan inspeksi Anastasia. Dia memasukkan tangannya ke lengan jubah lalu memiringkan kepala, berkata, “Perihal itu, ya.”
“Dari yang kulihat, kita memang di Bukit Pasir, tapi …. Bisa saja tempat ini di bawah tanah.”
“Bawah tanah? Mana bisa ada bawah tanah di Bukit Pasir?”
“Di bawah pasir bukitnya. Ada gua …. Lebih tepatnya rongga, namun suhunya jelas lebih rendah ketimbang di atas tanah, dan udaranya terasa agak sesak.”
Subaru mengangguk selagi gadis itu melambaikan jubahnya dengan gerakan memohon, melipat bagian depan jubah buat menahan dingin.
Tentu saja suasana di sini terasa jauh lebih dingin daripada sebelumnya. Mengingat ruangan tersebut punya langit-langit tinggi tanpa langit asli yang terlihat, tebakan itu tepat.
“Di bawah bukit pasir. Firasatku tentang ini buruk. Semoga ini bukan sarang Cacing Tanah Pasir.”
“Uh …. Itu, sih ….”
Skenario yang masuk akal.
Faktanya mereka telah menyaksikan keberadaan Cacing Tanah Pasir yang menghuni tanah, mengingat besar per ekornya yang dipelet Meili, rongga ini cukup besar untuk mengisinya.
Mempertimbangkan ekologi Cacing Tanah Pasir, ruang gelap tanpa cahaya ini akan terlalu cocok buat merek
“Maksudku, tim ini sungguhan kekuangan kekuatan tempur …. Aku, Ram, sama Anastasia, ini front khusus buat nonkombatan!?”
“Kesatria pribadi Emilia-sama, dengan bangganya mengakui dirinya sebagai nonkombatan …. Menyedihkan banget.”
“Aku semata-mata menyatakan kenyataan. Tanpa Beatrice, aku tidak sesombong itu sampai-sampai mengandalkan kemampuan cambukku.”
Dalam hal pertahanan diri semua orang, kelompok ini yang betul-betul kekurangan kekuatan bertarung. Contohnya kekuatan Ram yang ada penahannya, Subaru tidak punya Beatrice.
“Ngomong-ngomong, Beatrice-sama bagaimana? Ada hubungan terkait Kontrakmu?”
“Sayangnya, hatiku dan Beako terikat erat tapi tidak dalam artian realistis. Tidak, Beatrice bilang sebelumnya dia dapat merasakanku, tapi aku tidak bisa.”
“Gak guna.”
“Bacot.”
Selagi Ram menghembuskan napas dan mengalihkan pandangan, Subaru diam-diam mendekatkan wajahnya ke Anastasia. Seraya bergumam ke profil Anastasia yang kalem.
“Jadi, kau bisa bertarung? Menurutmu bagaimana?”
“—sekiranya diperlukan, tentu saja aku akan bertarung apa pun yang terjadi. Tetapi akan memperpendek umur Ana. Aku lebih suka menghindarinya sebisa mungkin. Aku akan mengandalkan kalian.”
“Ekspektasi itu mungkin saja tak akan terpenuhi. Terlepas itu hal baik atau buruk.”
Sejenak, Subaru mendengus pada Anastasia yang muncul sebagai Echidna.
Setelah itu melihat Patrasche yang menunggu instruksi dalam diam, Subaru mengelus ujung hidungnya dengan telapak tangan. Naga hitam itu tetap menutup mulut dan sembari mencondongkan badan ke depan, menyundul Subaru dengan sisik-sisik kerasnya.
“Sakit, sakit, tapi … hatiku jadi ringan rasanya. Emilia dan Beatrice tidak di sini … untungnya kau bersamaku. Meski begitu, masih belum cukup untuk reuni utuh kelompok.”
“—Barusu.”
Saat berbagi kecemasan dengan Patrasche, dia dipanggil Ram kemudian menoleh ke dirinya. Ram sedang menyilangkan tangan saat menghadap Subaru lanjut menunjuk Anastasia dengan dagunya.
“Kita tidak boleh berdiam diri di sini terus. Ayo bergerak cari yang lain. Untung saja, berkat Anastasia-sama, kita punya lentera. Kita lanjutkan perjalanan.”
“Ohh …. Aku tidak tahu lentera itu dibawa Anastasia.”
“Persis sebelum kereta naga itu ditelan, aku hanya sempat meraih tas darurat yang disiapkan Natsuki-kun. Berkat dirimu, aku bawa lentera, pisau, dan sejumlah makanan darurat.”
Anastasia menunjuk Patrasche yang di pelananya terdapat tas darurat kecil. Perlengkapan yang disiapkan Subaru untuk kereta naga sebagai perlengkapan darurat sungguhan.
Walaupun tak datang waktu yang mewajibkan penggunaannya, Subaru merasa lega kepikiran tentang itu.
“Kau mestinya jangan coba-coba mengejek kecerdasanku. Mulai dari sekarang, senantiasa ingat untuk periksa pintu darurat di tempat manapun yang pertama kalinya kita tinggali.”
“Mengesampingkan candaannya, ini berkat Barusu. Jadi, hadiahnya adalah lentera untukmu. Nah, silakan tuntun jalannya.”
“Haaah~ …. Kau sebut ini hadiah?”
Sesudah menyerahkannya lentera, baik Ram dan Anastasia naik Patrasche. Kejadian ini, mau dilihat dari sudut pandang manapun, Subaru kelihatan seperti pelayan.
“Sebenarnya bisa muat tiga orang …. Akan ada banyak ruang jika Ram-san dan aku berdempetan, bukan?”
“Tolong berhenti di situ, Anastasia-sama. Bayangkan saja Barusu yang senang hati meraba-raba tubuh kita selama bisa dia jangkau.”
“Kupersilakan dirimu membayangkan hal-hal tanpa alasan itu, tapi kalau maumu begitu, imajinasiku akan lebih dari itu! Jangan macam-macam denganku! Akan kuberikan cita rasa pubertas!”
Mengangkat jari tengahnya, Subaru balas membantah, melihatnya membuat Anastasia nyengir. Reaksi Ram masihlah sama selagi Subaru meneruskan langkahnya ke kedalaman gua seraya memegang lentera.
Adu mulut remeh Subaru dan Ram nampak seolah-olah mereka melupakan situasi terkini—tapi tentu saja cara mereka menyembunyikan keresahan di hati masing-masing, lalu membawakan sedikit saja perasaan lega di kepala mereka.
Siapa tahu, mungkin mereka menyadarinya, tapi mereka tetap diam.
Sekalipun berjalan cukup sulit, Subaru dan yang lain terus maju melewati gua luas di bawah bukit pasir.
Sesuai dugaan, Patrasche sudah terbiasa dan pergerakannya takkan terganggu meskipun dua batu berat diletakkan di punggungnya. Subaru belajar teknik berjalan di gurun beberapa hari terakhir ini, dan dapat melanjutkan perjalanan tanpa banyak kesulitan. Biarpun ada sensasi pasir masuk ke sepatu botnya.
“Anginnya … aku bisa rasakan, tapi juga tidak.”
“Aku merasakannya. Tapi karena anginnya sedikit, masih jauh buat terhubung ke permukaan tanah.”
Sepanjang perjalanan, sambil membasahi jarinya dengan lidah, Subaru berusaha memeriksa aliran duara namun hasilnya tidak jelas-jelas amat. Di sisi lain, Ram yang peka terhadap angin merasakannya, dia menyimpulkan jalan keluarnya masih jauh.
Jalan ke pintu keluar inilah yang Subaru prioritaskan, ingin sekali menemui rekan-rekannya. Sayang saja tidak ada indikasi tanda-tanda angin akan sangat bisa diandalkan.
“Emilia-sama dan Julius-sama harusnya tidak akan tersesat sebab bimbingan roh minor. Dan karena itulah aku curiga ada niat jahat dalam pemilihan kelompok ini.”
“Yah, cukup hoki dibimbing oleh roh minor. Sialan, kalau aku, Beako terlalu kuat sampai-sampai roh minor menjauhkan diri. Dia melampaui kapasitas mereka.”
Yang jelas adalah Emilia serta Julius punya keunggulan di luar medan perang.
Sewaktu mencari anggota yang hilang, pencariannya bisa saja tidak semulus ini semisal mereka dibiarkan melakukan sesuka mereka. Mereka hanya bisa tidak mengabaikan apa pun di sekitar mereka sebisa mungkin selama melanjutkan perjalanan.
“Sebelum Natsuki-kun bangun, Ram-san … kelihatannya terguncang sekali. Dia tidak menemukan Rem-san tetapi sepertinya menyembunyikannya di balik sikapnya sekarang.”
“… iyakah.”
Diam-diam, Anastasia menceritakan anekdot ini, membuat pertengkarannya melawan Ram setelah bangun terasa kian canggung.
Subaru menghabiskan satu tahun terakhir bersama Ram seusai ingatannya mengenai adiknya dihapus seluruhnya. Hubungan apa pun yang mereka miliki sebelum itu pasti meninggalkan jejak setelah penghapusan ingatan. Setidaknya Subaru mesti memercayainya.
“Yah, tidak asik melihatmu meringkuk murung dan sengsara seperti itu, jadi kenapa tidak lihat apa yang ada di depanmu misal terlalu sedih karenanya? Jika tidak begitu, mungkin dirimu akan melewatkan hal penting.”
“… jangan tipu aku seperti itu. Kau, berhenti mengucapkan kata-kata manis itu. Kau meniru penciptamu, memikat orang-orang dengan cara itu.”
“Cepat atau lambat kuharap kau membedakan diriku dan penciptaku. Para gadis tidak akan menyukaimu kalau dirimu sengotot itu. Aku tahu ini dari pengalaman.”
“Aku tidak tahu cara lain. Akan kuingat baik-baik.”
Obrolan ringan penuh canda tersebut tampaknya mengalihkan perhatian dari perasaan tidak sabar dan kecemasan akibat tiada kemajuan.
Di sela-sela percakapan, kelompok Subaru maju melewati gua besar itu. Tidak ada yang betul-betul berubah dari jalan serta dinding pasir itu—selama menyusuri jalan itu, ada beberapa hal yang perlu dipikirkan. Yakni,
“Kendatipun kusuruh waspada karena barangkali tempat ini sarang monster iblis …. Kita belum menemui salah satunya.”
“Itu yang Ram khawatirkan.”
Menendang pasir di bawah kakinya, Subaru menggerutu pada Ram yang turut mengungkapkan pendapat serupa.
Mereka melanjutkan perjalanan ke dalam gua besar tersebut, tak lama setelahnya satu jam telah berlalu. Tanpa seorang pun atau apapun di sekeliling, kerisauan, ketidaksabaran, dan firasat buruk mereka semakin menumpuk.
Tentu saja tidak adanya musuh juga situasi menyenangkan, tetapi kesunyian panjang tidak bisa menghilangkan perasaan buruk perkara tempat ini—rasanya kayak terpisah dari seluruh dunia.
“Tidak mungkin, kita tidak mungkin ditelan ruang hiper yang tidak terhubung ke mana-mana, ‘kan?”
“Jika begitu, bisa kasih tahu angin yang kita andalkan sumbernya dari mana? Menurutmu asalnya dari napas berat monster iblis yang luar biasa raksasa nan ganas yang menguasai gua ini?”
“Lucu pun tidak, malahan seram.”
Faktanya, tidak mengejutkan bila ceritanya demikian. Mereka sudah melihat sendiri dunia pun bisa hancur. Apapun yang terhubung dengan keretakan ini, Subaru tidak akan kaget.
“Terlepas dari niat jahat penyaringan ini, hampir tidak mungkin sipapun yang mengatur ini akan berpikir ruang buatannya bisa dihancurkan. Niat kita tidak demikian dengan sihir negasi, itu kebetulan saja.”
“Persisnya maksudmu apa?”
“Tidak ada gunanya membayangkan skenario terburuk bahwasanya jalan ini seakan-akan terhubung dengan perut monster iblis—Lihat, perhatikan.”
Kurangnya kemajuan mereka mengarah ke teori pesimistis yang Ram tolak secara rasional. Terus di akhir penjelasan, Ram mendesak Subaru untuk melihat ke depan dan menghentikan langkahnya.
Mengikuti arahannya, Subaru menggerakkan lenteranya ke depan. Setelahnya, jalan rongga yang diterangi menyempit, di hadapan mata mereka—
“Ada perduaan di depan kita.”
“Kanan atau kiri, kita harus memilih. Yang mana?”
“Setahuku, Kurapika bilang pilih kanan ketika waktunya telah tiba1.”
“Siapa tuh?” tanya Anastasia.
Dari sudut pandang praktikal, dia ingat pernah mendengar orang-orang cenderung secara tidak sadar memilih ke kiri saat mereka tersesat. Barangkali ada hubungannya dengan dominan, contohnya dominan tangan, kaki, dan faktor-faktor rumit lain semacam itu; katanya demikian salah satu cara berpikirnya.
Maka dari itu, Subaru ingin mengikuti teori karakter intelektual yang pernah dia ketahui dan memilih jalan kanan yang dia anggap benar, tapi—
“Jadi, Barusu, mau ke mana?”
“… jujur saja, kiri.”
“Kurapika nasibnya gimana?”
“Siapa tuh?” tanya Anastasia lagi.
Subaru menjawab, Ram bertanya terus dan Anastasia mau bercanda saja.
Andaikan perkataan dianggap literal maka pembicaraan itu bisa dianggap demikian.
—tetapi realitanya, tiga orang yang saling berbincang memasang ekspresi kaku serta tampang cemas di wajah mereka. Selain itu, meskipun Patrasche tidak bisa bicara, dia sedang menatap jalan kanan dengan tatapan tajam.
Penyebabnya adalah aura negatif tak tertahankan yang mereka rasakan di jalan kanan. Secara abstrak, mereka merasakan suatu firasat tak mengenakkan. Lebih deskriptifnya, yang mereka rasakan lebih mirip ketakutan.
Insting mereka membunyikan bel alarm. Memilih jalur kanan akan berbahaya.
“Jalan kanan … kurasa bahaya. Perasaanku bilang tidak akan menyenangkan.”
“Mengejutkan sekali, aku setuju sama Barusu. Menurut Anda bagaimana, Anastasia-sama?”
“Andaikata kita pakai cara Kararagi, suara mayoritas yang menang, lewat dukungan dua suara …. Lagi pula, aku jujur saja tidak berani buat memilih jalan kanan.”
Sebab tidak ada lengan baju yang bisa diayunkan, Anastasia membuat gerakan mengayunkan kedua tangan sebagai jawabannya.
Subaru bukan satu-satunya yang merasa demikian. Ram dan Anastasia sama-sama merasakan perasaan aneh dari jalur kanan; Patrasche juga sependapat. Oleh sebab itu, jalan kanan tidak masuk opsi.
“Yasudah, kiri … rasanya kayak memilih pilihan buruk juga, sih.”
“Terus, balik arah? Tidak ada tujuannya kita kembali.”
“Tidak ada ruginya maksudmu, aku barangkali terlalu suudzon.”
Karena Subaru gagal membuat keputusan, Ram dan Anastasia siap menggantikan.
Dengan enggan mengangkat bahu, Subaru melangkah maju, berjalan di depan Patrasche. Lurus langsung ke jalan di sebelah kiri.
Sekalipun ragu-ragu, dengan melanjutkan arah tersebut, jalan kanan akan teramat menyimpang dari rongga besar. Subaru mendapati tekanan yang dia rasakan dari dinding pasir kian lama kian menghilang, dan kekakuan di pundaknya otomatis lepas.
“—tempat yang tidak nyaman.”
Ram merasakan hal serupa, Subaru dalam hati setuju saat mendengar gumam itu.
Di persimpangan ini, jalan kanan menyebabkan pikiran negatif. Mereka memilih jalan kiri atas dasar insting yang mencegah mereka memilih jalan lainnya, namun ada satu alasan lain.
—dalam dadanya, Subaru merasakan kehadiran sesuatu yang berteriak kegirangan di jalan kanan.
Akan megerikan sekali mematuhi keinginannya.
Itu juga faktor utama Subaru tidak memilih jalan tersebut.
Tim nonkombatan berjalan melalui gua dan beberapa jam lagi melalui perduaan tersebut.
“….”
“….”
“….”
Saat mereka pelan-pelan memajukan pencarian mereka di gua besar, jumlah kata yang diucapkan di antara ketiganya berkurang drastis.
Karena mereka lelah apalagi gelap-gelapan, persepsi waktu apapun akan terasa kabur, tetapi yang melemahkan semangat mereka adalah kesunyian.
Faktanya, Subaru merasa beberapa jam berlalu namun dia tidak tahu itu benar atau tidak. Ada kemungkinan mereka memanfaatkan waktu lebih baik dari dugaan mereka, atau mereka yang betul-betul menyia-nyiakannya.
Yang mereka ketahui pasti adalah tidak ada kemajuan, tak lebih dari itu.
“… di percabangan itu, haruskah kita belok kanan.”
“Setelah kelamaan diam begitu yang kau pikirkan malah komplain? Hentikan. Itu memalukan.”
Bergumam, Subaru menggerakkan bibir keringnya buat mengeluh, Ram menikamnya dengan pahit.
Meski begitu, racun dari kata-katanya tidak tulus. Ram yang tidak mampu menemukan apa-apa membuatnya cemas sedikit.
Walau pijakan di sepanjang jalan pasir itu jelek, mereka yakin sudah berjalan selama beberapa kilometer. Lantas tanpa melihat akhir gua, jelas saja mereka akan disapu perasaan buruk. Wajar saja seseorang akan meragukan pilihan yang dibuatnya.
Terlebih lagi seandainya mereka sampai di jalan buntu, mereka harus menyerah dan berbalik.
“Tembakan cahaya di atas tanah …. Menurutmu itu apa?”
Subaru ganti topik, takut percakapan negatif akan terus berlanjut.
Topik yang muncul adalah cahaya Menara Penjaga yang memicu situasi ini sejak awal—mekanisme pertahanan bukit pasir, yang diyakini telah disiapkan oleh sang Sage.
“Jarum.”
“Sebuah jarum?”
Ram merespon singkat pertanyaan tersebut. Dia mendesaukan pertanyaan lanjutan Subaru dan membelai lembut rambut merah mudanya.
“Aku tidak tahu rincian basisnya, tapi jarum panajng dan runcing yang dikuatkan sihir itu ditembakkan. Jarum tersebut membawa panas tinggi, boleh jadi efek penembakan sihir. Namun jarumnya sendiri kelihatannya manufaktur khusus. Karena ditangkis dan jatuh ke pasir, terus hancur lalu menghilang.”
“… pandanganmu baik selama kegemparan itu.”
“Kau akan tahu itu dari memandangnya sekilas saja.”
Tidak salah lagi kekuatan observasi Ram tidak senormal klaimnya. Malah ketika Subaru menatapnya, Anastasia menggelengkan kepala dengan perasaan takjub.
Bagi Ram, dia menyadari bakatnya akan tetapi masih bicara sinis. Terlepas dari itu, analisisnya mantap.
“Menurutmu fungsinya apa?”
“Bunuh semua orang yang mendekati Menara Penjaga … masih misteri kenapa mengincar Subaru terus. Memang menghabisi musuh lebih lemah terlebih dahulu adalah praktik standar, jadi mungkin gara-gara itu.”
“Bangsat, tidak bisa kusangkal.”
Wajar berkesimpulan demikian jikalau menggambarkan situasi tersebut secara umum. Karena itulah tidak ada korban jiwa dalam tim.
Konklusi yang dicapai di sini adalah menguntungkan punya Subaru lemah dilapisi sihir tak terkalahkan. Tetapi dalam hal ini—
“Berarti, pertemuan bersahabat dengan Sage akan sulit.”
“Kurasa terlalu awal bilang begitu. Lihatlah dari sudut pandangnya, dia tidak tahu kita siapa atau keinginan kita apa, ‘kan? Ada peluang buat saling bicara, pikirku begitu.”
“Kemungkinan terburuknya, urusan kita adalah dengan ilmu pengetahuan Sage, bukan dengan kepribadiannya. Kalau dia tidak mau bicara, ikat saja lalu siksa sampai mau.”
“Nee-sama, itu sisi jahatmu yang bicarakah!?”
“Kalau kau menginginkan sesuatu, gunakan cara ini. Ini bukan cara anak-anak.”
Ram anehnya tetap tenang di hadapan Subaru yang terheran-heran. Mendengar pernyataan-pernyataan itu mengingatkan betapa polos nan lemah tekadnya.
Entah akan dilakukan atau tidak, tak salah lagi Ram akan melakukannya. Itulah bukti keseriusan dirinya terhadap Rem.
“….”
Agar menyetarai tekad Ram, Subaru harus membuat beberapa keputusan tentang tekadnya sendiri.
Dia tidak pernah berpikir akan mengotori tangannya demi Rem. Rem pun tidak berdosa tentang itu.
Yang dia lakukan adalah bersiap-siap untuk menuai hasilnya.
Tatkala dihadapkan keberadaan sang Sage, mau bagaimanapun lawannya, dia harus benar-benar bertekad—paling tidak tekadnya selevel itu.
“….”
“Patrasche?”
Seketika Subaru menggigit bibirnya dengan pikiran itu, Patrasche menahan napas.
Naga darat itu memelototi jalan setapak dengan mata menyipit dan meringkik lirih. Menyadari tatapan tersebut, Subaru juga menghentikan kakinya dan mundur untuk menenangkan si naga darat. Dia mengelus bagian belakang lehernya kemudian memanggil-manggil, ‘Ada apa?’.
“Kau lihat sesuatu? Apa?”
“… alasannya adalah ini.”
Ram bicara mewakili Patrasche, menyela Subaru. Anastasia mengerutkan kening dan memandangi jalan, mengikuti Patrasche.
Tentu saja tidak bisa melihat apa-apa karena kegelapan ini namun perasaan berbeda muncul alih-alih penglihatan—merembes ke dalam lubang hidung mereka adalah bau sesuatu terbakar.
“… bukankah menurut kalian baunya kayak api?”
“Aku tidak kepikiran hal lain. Tapi tidak kuduga sesuatu semacam dapur akan ada di sini.”
“Umpamakan saja betulan api …. Alasan bau ini adalah orang-orang beradab, ‘kan?”
“…”
Dihadapkan pertanyaan mengikat Subaru, tidak Ram ataupun Anastasia bisa dengan mudah mengiyakannya.
Dia juga memahami penilaian gadis-gadis tersebut. Namun demikian, bau yang melayang ini jelas-jelas bau sesuatu yang sepatutnya terbakar. Ram bilang semacam masakan; bau yang mengawang di udara ini mirip-mirip.
Api unggun, atau sup buat makan. Bila begitu ….
“Apakah mungkin itu Emilia dan yang lainnya?”
“Anggaplah mereka dikirim ke tempat sama, kemungkinannya ada. Terlepas dari itu, entah masuk akal atau ceroboh menggunakan api di situasi semacam ini, kuserahkan penilaian itu ke kalian.”
“….”
Walaupun didiskusikan di sini, jawaban siapa penolong di jalan depan takkan datang.
Gagasan memberi isyarat serta memeriksa niat pihak lain terpikirkan, tapi—
“Meskipun mereka ada di ujung jalan bukan berarti ramah.”
Andaikan bukan Emilia atau rekan lain, mungkinkah Sage? Susah percaya sang Sage yang seharusnya di Menara Penjaga rela turun, tetapi bukannya tidak mungkin.
Dengan demikian, jika Sage terus bermusuhan, serangan yang sepantaran harus diharapkan.
“… sembunyikan cahaya dan terus maju? Yang kumaksud, kalau mereka pakai api ya artinya ada cahaya di sisi mereka. Kita setidaknya harus sembunyi.”
“Aneh rasanya terus berspekulasi tentang itu. Kita juga harus mencari tahu situasinya, jadi kurasa itu ide masuk akal.”
Anastasia mengangguk pada usulan Subaru, setelahnya, Ram juga menyetujuinya dengan tenang.
Seketika cahaya kedua lentera dimatikan, kelompok itu kembali ke jalan setapak tempat bau api mengambang, mengandalkan cahaya Subaru belaka.
“Barusu.”
“Apa?”
“Seandainya terjadi sesuatu padamu, kami akan meninggalkanmu terus lari. Jangan dendam, ya.”
“Kalau betulan lari nanti aku kutuk.”
Ucapan Ram kedengaran menyemangati, barangkali karena dia tahu Subaru pasti takutan.
Diterangi lentera yang dipegang Subaru, Ram sedikit menyeringai, Subaru lanjut berjalan menyusuri lorong tersebut. Merasakan napas Patrasche di belakangnya, bau api sedikit demi sedikit kian pekat ….
“—! Itu cahayanya.”
Di balik lorong tersebut dia mendapati cahaya merah yang sedikit berkilauan.
Subaru segera mematikan lenteranya sendiri dan menyuruh tiga orang di belakang tetap diam. Kemudian dia berjongkok dan menginjak pasir tanpa suara untuk memastikan keberadaan cahaya tersebut.
Selangkah, dua langkah—selagi berjalan ke depan, dia tahu cahaya tersebut di sisi lain sudut gua. Lorong itu sedikit berbelok ke kiri dan apinya tepat berada di seberang sana.
“….”
Pelan-pelan sampai di tikungan, dia mengintip sisi lainnya sedikit sambil bersandar di dinding. Kala itu, angin yang membawa sedikit panas menggelitik dahi Subaru dan dia tanpa sengaja menutup mata.
—langsung setelahnya, pijakan Subaru di pasir tiba-tiba makin dalam, pasirnya meluncur dan tubuhnya berguling-guling turun.
“Apa—!?”
Tidak sanggup mengatasi kejutan tersebut, Subaru lupa berpegangan dan berguling menuruni lereng. Partikel pasir yang halus sukar jadi pegangan, jadi dia tergelincir jatuh hingga dasar.
Terjun bebas kepala duluan ke tumpukan pasir sesudah berguling menuruni lereng pasir curam setinggi sepuluhan meter, Subaru lagi-lagi muntah pasir dan mengangkat tubuhnya.
“Aduh! Cuh! Pasir lagi …. Tidak, itu …!”
Subaru menggeleng kepala terus melihat sekeliling. Diterpa syok, dia menjatuhkan lenteranya. Karena lentar itu jatuh di dekatnya, dia mulai mencari-carinya, dan Subaru menyentuh sesuatu yang terasa keras.
Sejenak, dia pikir telah menemukan lenteranya tapi rasanya beda dari keras lentera yang dia pegang. Bagian luarnya empuk dan nyaman disentuh, kayak tongkat kayu. Walaupun tebal dan panjang, tapi ringan waktu diangkat.
“Apa ini …?”
Dalam gelap gulita itu, mendekat dan memaksakan matanya pun takkan mengungkap identitasnya.
Mengendusnya sedikit-sedikit, bau arang tercium—
“…”
Tak lama setelah terbesit pikiran itu, cahaya tiba-tiba muncul di belakangnya.
Gumpalan-gumpalan yang muncul di sana berwarna merah berkilau tanpa efek apa-apa, namanya api. Lalu ketika api mulai menerangi tempat itu, Subaru melihat identitas sebenarnya dari benda yang dia pegang.
—bisa jadi benda, dia memegangi kaki makhluk.
Sesuatu yang dulunya seekor hewan, dibakar sampai jadi sisa-sia hangus.
Di sekitar posisi Subaru duduk, mayat makhluk yang telah menjadi gumpalan arang berserakan; Subaru menyelinap tepat ke tengah-tengah mayat yang tidak terhitung jumlahnya, terbakar, mati.
“Ohh! Ah! AHH!?”
Membuang mayat sisa hangus di tangannya, Subaru berniat mundur. Akan tetapi api yang mengerikan muncul di belakangnya, dan lehernya terbakar oleh gelombang panas, kali ini dia jatuh dengan wajah menghadap pasir. Hingga akhirnya dia berbalik dan menatapnya langsung.
“—KSHEEEEEEGHHH!”

Subaru dilempar kenyataan, menghadapi raungan dahsyat di depannya.
Mengapa semua raungan para monster iblis begitu menjijikkan sampai-sampai menggaggu manusia ke perasaan paling jijik mereka?
Dengan raungan yang senyaring itu, terdengar laksana bayi yang tak terhitung jumlahnya menangis bersama-sama.
Makhluk najis yang belum pernah Subaru lihat, merah membara di tempat yang penuh dengan mayat-mayat terbakar—sungguhan monster iblis, tetapi warna bulunya berbeda dari yang pernah dia saksikan.
Setahu Subaru, semua monster iblis itu wujudnya cacat dan jelek, namun rupanya entah bagaimana sering kali menyerupai makhluk yang pernah eksis.
Kulitnya yang terbakar memunculkan gelembung yang mengembung dan langsung pecah. Cairan yang sudah mengalir dalam tubuhnya, cairan yang tak pernah dia lihat segera menguap, darahnya betul-betul mendidih.
“….”
Dia sendiri tak sadar sedang berguling-guling di tanah dalam penderitaan ini.
Otot dan lemaknya dibakar, meleleh dan jadi arang. Rasa sakitnya menghilang ke tempat nan jauh, Subaru berhalusinasi tenggelam dalam api.
Dibakar. Iya, dibakar. Dia pernah membaca di suatu tempat soal luka bakar secara rinci.
Dia belajar luka bakar ada tahapnya, begitu sampai di tahap ketiga, bekas lukanya tetap ada, dan kulit perlu dikupas. Dia pun belajar apabila tiga puluh persen tubuh seseorang terbakar, bernapas akan sulit, ujungnya adalah kematian.
“….”
Rambut badan terbakar sampai folikel, gendang telinga, serta cairan otak meleleh lalu mengalir keluar dari daun telinga. Bibir dan gusi menguap, memperlihatkan gigi dan lidah yang ditelan penderitaan gelombang panas. Mau bagaimana lagi. Dia sudah tenggelam. Luka bakar ini, bisakah disembuhkan? Meskipun dia tak yakin sama wajahnya, jika terbakar, apakah dia akan kurang disukai? Emilia, Beatrice, Rem.
“—rusu!”
Terbakar, pandangannya terbakar. Semuanya membara, memerah, kemudian memutih. Darah menguap akibat panas tak tertahankan, kelopak mata melelah, cairan bola mati menguap, menjadi putih dan keruh, tidak tersisa apa-apa.
Dia baru saja mendengar sesuatu. Dia mendengar panggilan seseorang. Dia mendengar bayi menangis. Seseorang turun ke sebelahnya. Bego. Buat apa? Mereka bilang bakalan lari. Kenapa turun? Tapi, turun, artinya apa? Lagian, mana yang kiri mana yang kanan?
Seekor kuda, manusia. Beda. Panas. Meleleh, terbakar, mengantuk.
Meleleh dan menghilang—
“――Mau tidur sampai kapan? Bangun, dasar Barusu pemalas.”
“Guah, uhh!?”
Subaru ditarik balik ke kenyataan dengan tusukan tajam, anggota tubuhnya tidak bisa digerakkan, pikiran terbakarnya lenyap.
Tiba-tiba mengangkat tubuhnya, Subaru menyeka keringat dingin dari dahinya yang berpasir.
“Eh, oh … eh?”
Melihat-lihat sekeliling. Gelap, dia tidak mampu melihat apa-apa. Ada sesuatu yang membangkitkan rasa takut beberapa detik lalu.
“Hii?”
“… aku kaget. Kok bisa takut sama kegelapan? Kau bukan anak kecil.”
“—ah.”
Meringis ketakutan, mata menyipit Subaru membelalak saat mendengar suara itu.
Wajahnya diterangi lentera yang dia bawa sendiri, Ram menghembuskan napas pelan. Kemudian dia berlutut pelan di tempatnya dan mengelus pipi Subaru dengan tangannya.
“Wajah yang menyedihkan.”
“… wajahku meleleh?”
“—selain di depan Emilia-sama, aku tak pernah melihat pemandangan semenyedihkan ini.”
Panas telapak tangan yang menyentuh pipinya terasa hangat sekali, tapi tidak sepanas yang barusan Subaru rasakan.
Gara-gara perasaan itu, gara-gara sensasi api dan kehangatan orang lain, Subaru paham.
Sekali lagi, dia telah Kembali dari Kematian. Dan inilah titik kebangkitan lain, berbeda dari dua Kematian yang dia alami di Bukit Pasir.
Demikian tuk menaklukkan labirin pasir seseorang harus mempertaruhkan nyawanya.
—dia merasa ibarat pasir dingin yang mengalir di lautan pasir, diam-diam mengejek Subaru yang hangus, menyaksikannya.