86 VOLUME 1 BAB 7

Posted on

Selamat Tinggal

Penerjemah: Goodbye DaffaCahyo

“… Shin.”

Tangan-tangan perak tak terhitung jumlahnya, mesin mikro cair berwarna mengalir keluar bercabang dari bawah lapis baja Dinosauria. Tangannya seukuran orang dewasa dan jari-jarinya bersendi. Namun, perbedaan paling mencoloknya adalah tangan Dinosauria beberapa kali lipat lebih panjang dari tangan manusia dan tangannya cepat sekali memanjang. Baik tangan kanan dan kiri terulur mencari-cari sesuatu. Selagi semua tangannya mengulur menuju Undertaker, Dinosauria itu meraung marah.

“SHIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINNNNNNNNN!”

Lenguhannya menggetarkan walaupun tingkat Resonansinya sudah paling rendah. Bahkan Raiden yang paling berpengalaman bertarung di sisi Undertaker, berkeringat dingin mendengar suara raungan mengerikan ini. Anju menjerit dan menutup telinga. Hanya Shin yang berbalik dan menghadapi Dinosauria yang seolah memanggil namanya.

“Kalian pergi duluan. Komandonya kuberikan padamu, Raiden.”

Tatapan dinginnya tertuju ke Dinosauria; Shin menolak melihat hal lain.

“Kalau kau pergi ke hutan, mereka takkan menemukanmu selama kau berhati-hati dengan Ameise. Lewati ini dan terus pergi.”

“Kau bagiamana?!”

“Aku akan menyusul setelah mengalahkannya. Kita tidak bisa maju sebelum menjatuhkannya, dan aku takkan maju sampai mengalahkannya …. Ditambah lagi, aku ragu dia bakal melepaskanku.”

Sensasi merinding menusuk Raiden ketika mendengar kalimat terakhir Shin.

Idiot ini.

Dia …

Dia tersenyum.

Sial euy, parah men. Tidak ada yang bisa mengubahnya sekarang. Hatinya dari awal tidak pernah di sini. Dia selalu dihantui kepala buntung itu. Selalu mencari kepala mendiang kakaknya yang dicuri. Sepanjang hidup sampai sekarang …. Barangkali sejak hari kakaknya mencekiknya.

Raiden tahu ini, tapi dia masih menggeram.

“Persetan denganmu. Siapa pula yang mau menuruti itu?”

Seakan-akan dia menerima perintah untuk membiarkan Shin mati.

“…”

“Kalau maksudmu lawannya harus kau, aku tidak bisa berbuat apa-apa … aku urus sisanya, jadi selesaikan masalahmu secepat mungkin.”

Seraya mengatakannya, Raiden menekan amarah yang mengalir dalam dirinya. Jadi dia berniat melakukan ini sendirian. Andai dia meminta bantuan atau meminta dukungan, Raiden akan menyetujui semuanya.

Ngapa idiot ini bodohnya … bodohnya akut, dari kemarin-kemarein kenapa sekarang?

Sesudah hening sejenak, Shin mendesau.

“Dasar idiot, kau tahu itu?”

“Kau yang idiot …. Jangan mati, kau dengar aku?”

Kali ini, Shin tidak memberi tanggapan. Suara melengking artileri jarak jauh yang ditembakkan dari suatu tempat adalah sinyal pembuka pertempuran ini. Empat unit lapis baja melompat beraksi, menghindari rentetan peluru. Mengendarai laba-laba kaki empat, kesatria kerangka melompat maju, bagaikan hewan buas yang menerjang mangsanya.

Dinosauria itu menjawab tantangan Shin, Ameise yang mengawal di sekelilingnya dikerahkan. Seluruh model Legion kecuali tipe Pengintai memiliki kemampuan sensorik rendah dan menerima informasi lewat tautan data dengan Ameise yang mengorbankan senjatanya demi kemampuan sensor lebih unggul. Unit-unitnya tersebar di sekeliling Dinosauria sebagai matanya.

Sepasang Ameise yang berdiri di depan melihat Juggernaut yang menyerbu maju, mentransfer semua jenis data dan rekaman dari sensor opik ke Dinosauria, kemudian memutar baterai utamanya ke arah Undertaker. Meriamnya meraung. Turet Dinosauria—meriam kaliber 155 mm yang setara senjata altileri—menembak tanpa ampun, melepaskan selongsong lapis baja yang kecepatannya melampaui suara, tepat berdampak di depan Undertaker.

Tapi penglihatan Undertaker tidak diarahkan ke Dinosauria—tetapi menuju Ameise yang melayaninya. Menembak satu dan memanfaatkan tubuhnya sebagai pelindung sambil menendangnya sampai hancur, selanjutnya Shin menembak tipe Tank Berat. Granat asap yang dia luncurkan meledak di udara, sesaat menyilaukan sensor optik kecil Dinosauria. Memanfaatkan peluang ini, Undertaker menghancurkan Ameise kedua kemudian melompat ke titik buta hasil dari dua tipe Pengintai yang hancur.

Senjata utama Juggernaut—adalah meriam 57 mm lemah yang kalah jika dibandingkan senjata Legion—tidak bisa menembus titik manapun lapis baja tebal Dinosauria, bahkan dalam jarak dekat sekalipun. Cuma ada satu titik rentan, dan Undertaker harus menghancurkan mata Dinosauria dulu untuk meraih peluangnya.

Begitu Dinosauria menggunakan udara bertekanan untuk menghembuskan asapnya, kerangka besarnya merangkak. Memutar senapan mesin ke posisi paling pasti Undertaker, daya tembak lebih mantapnya mencoba merobohkan Shin. Undertaker yang melompat mundur untuk menghindari tembakan senapan mesin, muncul dari sisi lain asap. Kabut panas naik dari suhu meriam Dinosauria yang mengubah posisinya, Tank Berat itu kembali memutar deretnya lagi, bayangan tanpa kepala berubah dan beralih. Gerakan gesit Undertaker nampak layaknya tarian aneh, mengantisipasi arah penglihatan musuh dengan prekognisinya.

Gerakan Legion jelas untuk memisahkan Undertaker dari rekan-rekannya, seperti biasa, mengisolasi keempatnya dan memusnahkan mereka. Tipe Löwe dan Grauwolf sekampung-kampung menyerang Juggernaut, meskipun para Prosesor mencoba berlindung, Ameise yang menyebar di seluruh medan perang akan melacak mereka dalam hitungan detik. Stier menembaki jalan mundur mereka tanpa henti, tipe Skorpion membombardir dari jauh, menyemat dan membatasi ruang bergerak mereka. Prosesor-Prosesor satu per satu menghancurkan Legion terdekat, tetapi setiap unit yang mereka hancurkan, dua lagi datang menggantikannya.

Legion biasanya takkan berperang di medan penuh sesak semacam itu. Tak salah lagi Gembala yang mengkomandoinya—kemungkinan besar, Dinosauria. Antara jeda-jeda waktu tebasan dan tembakan, Raiden melihat arah tipe Tank Berat. Jauh melampaui gelombang Legion yang menghamburi mereka bagaikan semut, terlihat medan perang Undertaker dan Dinosauria itu berhadapan satu lawan satu.

Pemandangan tak bisa dipercaya, seakan bercanda. Dari awal memutari Dinosauria saja sudah sinting, kenyataan mereka saling bertukar serangan sudah seperti keajaiban. Juggernaut yang jauh kalah unggul dalam hal daya tembak, lapis baja, dan mobilitas. Normalnya, itu namanya bukan pertarungan, tapi karena Shin yang mempilot, Undertaker nyaris tidak bisa melangsungkan perlawanan …. Tidak, bahkan Shin seharusnya tidak mampu melakukannya.

Senjata lapis baja sama sekali tidak berkutik di hadapan Dinosauria yang hanya berdiri diam percaya diri selagi Undertaker bergerak memutar cepat padahal situasi kapan saja bisa terbalik. Juggernaut itu bermanuver tepat dan ceroboh sambil menghindari serangan-serangan yang nyaris kena sampai-sampai Raiden merasa dirinya silih berganti dari ngeri ke tegang. Sama sekali bukan pertarungan sebanding. Mampukah Shin mempertahankan kehati-hatian ekstrimnya dengan lama? Ataukah mereka lebih dahulu terbunuh Legion?

Celah kecil pada tekadnya mulai terbentuk. Sudah hilang hitungan berapa banyak Legion yang dia tembak hancur sekarang, tapi tembakan demi tembakan, mereka masih terus berdatangan. Akumulasi letihnya serta usaha sia-sia membebani diri. Bahkan veteran perang seperti mereka berangsur-angsur kelelahan.

“Isi peluru! Lindungi aku!”

Theo berteriak selagi bernapas megap-megap, suaranya pecah karena kelelahan. Fido mengeluarkan salah satu dari enam kontainernya sembari dengan berani bezig-zag di antara tembakan. Kontainer stok amunisi telah habis, berarti mereka telah menghabiskan hampir total 20 persen amunisi satu bulan dalam waktu sesingkat ini. Momen-momen terakhir mereka adalah ketika kehabisan peluru. Pemikiran cepat itu berlalu melintasi kepala Raiden, dia tersenyum paksa. Ayo maju. Hidup dan mati seperti ini adalah keinginan mereka.

Mendadak, satu orang lagi, target Resonansi lain, terhubung ke percakapan mereka.

“Letnan Pertama Shuga! Aku meminjam mata kirimu!”

Sejenak kemudian, penglihatan di mata kirinya menggelap, berikutnya cahaya seketika kembali. Suara sama berbicara lagi:

“Selongsong ditembakkan! Akan mendarat segera—bersiaplah!”

Sekilas berikutnya, langit bersinar putih.

Semburan cahaya tanpa suara memenuhi medan perang, sedetik sesudahnya, ledakan menggelegar memekakkan telinga mereka sepintas. Eintagsfliege menyebar, membuka lubang berbentuk tudung di langit, jatuh bagai debu bintang seketika gelombang kejut ledakannya menghempas dan kobaran apinya melahap mereka. Bombardir perkasa oleh bahan bakar udara. Celah terbuka di awan pucat—lalu menghitam sewaktu rentetan ledakan turun menuju medan perang.

Dengan akurat mengejar dan menabrak target yang sudah dahulu ditentukan, sumbu-sumbu proyektil terlusut, menetas kulit selongsong. Setiap ratusan palet-palet kecil diatur melacak targetnya melalui radar, dan paletnya datang dari atas, didorong kecepatan awal dari 2500 hingga 3000 meter per detik, pecahan peluru tanpa ampun melempari musuh. Hujan baja memakan Legion lapis baja rapuh Legion dari atas, menenggelamkan setengah gelombang kedua Legion dalam waktu setengah detik. Namun hujan baja lain menghancurkan sisa-sisa gelombang kedua.

Raiden, Theo, Kurena, dan Anju lama sekali seratus persen terbungkam seribu bahasa. Mereka belum pernah melihatnya selama operasi, tetapi tahu apa itu. Meriam pencegat. Letaknya selalu di belakang garis depan yang dipertahankan Juggernaut, duduk diam bak landak kebesaran. Tidak sekali pun pernah memenuhi perannya dan menembak, setia di latar belakang layaknya objek tak berguna. Siapa yang menembaknya …? Tidak, satu-satunya orang aneh dan cukup tolol untuk mengawal mereka yang tengah menapaki jalan kecil menuju kematian adalah dia.

“Mayor Milizé! Kaukah?!”

Suara tanggapannya berdering laksana bel perak. Suaranya serba tekad dan tak mampu menahan amarahnya.

“Ya, ini aku. Semuanya, maaf terlambat.”

Ω

 

“Sudah kubilang aku tidak mau melihat wajahmu lagi, Lena.”

Lena khawatir kalau-kalau dia takkan mendatangi pintunya, tapi mengejutkannya Annette cepat membuka pintu.

“Ya, aku ingat kau mengatakan itu, Annette. Tapi aku tidak pernah merasa pernah menyetujuinya.”

Malam itu hujan. Lena berdiri di perbatasan antara gelapnya malam dan cahaya rumah, wajahnya letih dan lelah, sebab tidak sempat memperbaiki diri baik-baik sebelum keluar. Berdiri di tempat dengan rambut kusut acak-acakan, seragam usang dan babak belur, wajahnya pucat pasing tanpa riasan, Lena kelihatan mirip sekali dengan mayat. Hanya mata peraknya yang masih menyinari cahaya aneh.

“Aku ingin kau mengatur ulang terget Resonansiku dan sesuaikan Perangkat RAID-ku.”

Annette mengerang, matanya mirip binatang terluka dan terpojok. “Tidak mau, dan kau tahu itu. Aku tak ingin berurusan denganmu lagi.”

“Oh, kau bakal melakukannya. Apa pun yang terjadi.”

Lena tersenyum. Sebagian dirinya menyangka parasnya kini pasti sangat menakutkan, jahat, dan jelek.

“Teman masa kecil yang kau tinggalkan itu.”

Senyumnya mirip setan …. Laksana malaikat maut.

“Namanya bukan Shin, kan?”

Sejenak, raut wajah Annette betul-betul kusut.

“… kok tahu …?!”

Tak pernah melihat raut wajah si gadis sepucat itu, Lena berpikir bagaimana dia bisa dengan benar menebaknya. Itu pertaruhan, dan Lena telah menipunya. Tetapi di saat yang sama, dia yakin itu benar. Shin hidup di Sektor Pertama, tempat 86 dulu jarang tinggal di sana bahkan sebelum perang, seumuran—atau setahun lebih muda—dari Lena dan Annette.

Tetapi yang paling meyakinkannya adalah bahwa Shin mampu mendengar suara-suara hantu sedangkan Annette menjelaskan kemampuan berkomunikasi dengan hati sanak keluarga. Dasar kemampuannya sama, kecuali orang-orang yang terhubung saja berbeda. Kemiripannya terlalu besar—tidak mungkin kebetulan.

“Kok bisa kau tahu namanya …?! … tidak mungkin—!”

“Ya, itu benar. Dia bagian skuadronku. Kapten skuadron Spearhead, Nama Pribadi: Undertaker. Dia Shin.”

Annette punya kesempatan menyelamatkannya dan dia malah meninggalkannya untuk kedua kalinya. Lena bahkan tak bergeming sewaktu Annette mencengkeram kerah baju dan dengan panik menempelnya.

“Shin bilang itu padamu?! Dia masih hidup?! Bocah itu …. Apa dia, apa dia masih membenci perbuatanku?!”

“Kau minta apa dariku? Kukira kau tidak mau berhubungan denganku lagi.”

Lena melangkah mundur, menampik tangan Annette dan tersenyum dingin kepadanya, teman Lena melangkah ke kegelapan hujan mengejarnya. Dia tak pernah mendengar Shin menyebutkan Annette. Kemungkinan besar … dia tidak ingat lagi … dia bahkan tak mengingatnya lagi. Memorinya tentang Rei dan orang tuanya telah habis terbakar api peperangan dan ratapan para hantu, jadi kemungkinannya kecil Shin mengingat teman masa kecilnya. Entah itu kutukan atau berkat untuk Annette, adalah sesuatu yang tidak perlu Lena jawab.

“Tapi semisal kau pikir ini melibatkanmu, maka bantu aku. Dan cepat putuskan. Kalau kelamaan, ayamnya nanti berkokok.”

Seketika itu, boleh jadi kau lagi-lagi akan bilang tidak peduli padaku tiga kali.

Berdiri diam, Annette tersenyum. Senyumnya diwarnai air mata, ekspresinya tampak lega.

“… dasar iblis.”

“Kita berdua iblis, Letnan Teknisi Penrose. Kau dan aku sama-sama iblis.”

Ω

Itu benar—Lena tidak berpikir atau dikuasai rasa bersalah.

Dia hanya tak punya waktu untuk Beresonansi dengan skuadron Spearhead. Resonansi Sensoriknya perlu dikonfigurasi ulang agar bisa berbagi indra penglihatan, untuk mendapatkan kode penembakan seluruh meriam pencegat di distrik-distrik sekitar, juga mengumpulkan setiap metode memungkinkan untuk melindungi skuadron.

“…! Lima puluh persen meleset …?!”

Lena mengerang, melihat hasil tembakan. Tiga puluh persen meriam pencegatnya tidak bisa dioperasikan, tiga puluh persen proyektil yang diatur arahnya malah hancur, sumbunya tidak terbakar. Beratnya masing-masing seratus kilogram, jadi proyektil-proyektil yang jatuh berakhir menghancurkan sejumlah Ameise tak beruntung, tetapi itu masih jauh dari daya tembak yang semestinya.

Pemeliharaan gagal total. Melihat Republik memperjelek persenjataannya sampai berkarat karena kesombongannya adalah pemandangan tak masuk akal. Lena mengarahkan meriam pencegat yang tersisa ke titik yang sama dan menembak lagi. Mengonfirmasi target unit musuh sudah dihancurkan, Lena mendesau.

Shin bilang mereka akhirnya terbebas, dan Lena mendebat kalau itu bukanlah kebebasan. Terlepas dari itu, Lena tidak bisa membatalkan misi Pengintaian Khusus atau menyelamatkan mereka. Lantas, sekurang-kurangnya dia bisa memperlama perjalanan yang diidamkan mereka, membersihkan jalannya. Itulah persembahan satu-satunya yang bisa Lena berikan.

Kebebasan yang akhirnya mereka peroleh.

Itu hari pertama mereka mengetahui kebebasan. Dia tidak boleh membiarkan perjalanan mereka berakhir di sini. Tak seperti ini. Raiden terdengar meneriaki suara dering itu sambil melawan pasukan pertama Legion yang terputus dari rantai pasokan mereka. Gelombang ketiga Legion berdiri diam, menimbang-nimbang apakah maju atau tidak setelah melihat gelombang kedua dimusnahkan.

“Kau ini betul-betul idiot total, tahu?! Kau ini mikirin apa?!”

“Aku cuma berbagi informasi optik matamu untuk mengonfirmasi lokasi dan menembakkan meriam pencegat sesuai informasinya. Oh, aku terus menutup mata agar tak mengganggumu, jangan khawatir.”

Mendengar Lena berterus terang menjelaskannya justru membuat Raiden kian memarahinya.

Maksudnya apa, kau hanya berbagi?! Kau tahu tidak cuma sebatas itu!

“Tidak tahu apa kalau Handler tak ingin berbagi penglihatan gara-gara efeknya bisa mengakibatkan kebutaan, goblok?! Dan lagi apa kau diizinkan menembakkan barang sialan itu?! Berada di sana pun sudah masuk pelanggaran perintah!”

Berbagi penglihatan akan membingungkan kedua ujung koneksi, sebab membuat mereka melihat hal-hal yang tak di dekatnya, terlebih lagi, berbagi penglihatan memiliki konten informasi kelewat banyak. Keseringan menggunakannya akan membebani otak dan kelak bisa saja menimbulkan kebutaan, sehingga tidak pernah menggunakannya sewaktu memberi komando. Lena telah menembakkan senjata artileri tanpa izin sebagai dukungan untuk mereka yang berada dalam misi khusus padahal secara eksplisit melarang segala bentuk dukungan. Pelanggaran perintah terang-terangan dan tentu saja tak layak untuk unit bunuh diri!

Tapi Lena mendadak membentaknya. Pertama kali Raiden mendengar gadis Handler itu meneriaki seseorang.

“Terus?! Kalau aku memang buta, entah kapan itu bakal terjadi, aku pun tak peduli jika menembakkan meriam itu melanggar perintah! Mereka mau ngapain, potong gajiku? Ini takkan membunuhku!”

Teriakannya membuat Raiden lengah, membuatnya terbungkam sepenuhnya. Terengah-engah karena marah dan geram, Lena meludahkan kata-kata putus asa yang belum pernah dikeluarkan.

“Lagian markas besar dan pemerintah takkan mendengarkan akal sehat. Tidak ada gunanya mengikuti peraturan, kupersilahkan mereka mengkritikku semaunya … dari awal harusnya melakukan ini. Bodo amat sama otoritas.”

Sejenak suaranya direndam pahit seraya mengakhiri omelannya dengan dengusan angkuh. Mengesampingkan kagetnya, Raiden tahu-tahu nyengir ironis.

“Kau ini goblok tulen, tahu?”

 “Kukasih tahu, aku melakukan ini bukan untuk kalian. Misal pasukan sebesar ini menembus maju, Republik akan dalam bahaya. Aku bertarung karena tidak mau mati.”

Suara jelas menyampaikan kalimat itu, Lena akhirnya tertawa. Itu kali pertama, Raiden merasa, Lena tersenyum hari itu.

“Setelah formasi ketiga bergerak, aku akan menembak. Aku tidak bisa menembak formasi pertama dan menjamin kalian takkan terjebak dalam ledakan, jadi jangan harapkan dukungan di sana. Maaf, tapi kalian mesti mengatasinya sendiri.”

“Ya, ga masalah. Bisnis biasa buat kami.”

“… Kapten Nouzen bagaimana?”

Mata Raiden menyipit pahit menghadapi pertanyaannya. Sang Reaper masih Beresonansi dengan yang lainnya, namun karena tidak kunjung merespon, artinya dia tidak menghiraukan mereka. Resonansi yang dirasakan Raiden adalah semangat juangnya yang dingin dan ganas.

“Dia bertarung melawan kakaknya, sampai mati. Itu seluruh tujuan Shin. Dia tidak bisa mendengar kita lagi.”

Shin memacu Juggernaut-nya, berusaha mencari kesempatan untuk mendaratkan serangan pelumpuh selagi teriakan bising kakaknya bergemuruh dalam telinga. Selagi Shin berada di situasi hidup-mati dan ketepatannya tidak boleh keliru, kesadaran Shin hanya fokus pada lawan di hadapannya. Tidak bisa melihat dan mendengar apa pun selain suaranya dan suara tembakan. Shin bahkan tak merasakan jalannya waktu lagi.

Dinosauria mengarahkan meriamnya dan meluruskan pandangan. Undertaker menekuk kaki belakang sebagai pendukung, sengaja tergelincir, menghindar dari jalur tembakan Dinosauria. Persenjataan sekunder Dinosauria dibidik ke kanan, letak meriamnya, dan bila Undertaker terus menghindar searah jarum jam, dia bakal ditembaki, bukan hanya oleh meriam utama tetapi juga senapan mesin—

Dinosauria itu menembakkan senjata sekundernya. Proyektil itu nyaris mengenai kaki kanan Undertaker, dan ketika itu senjata utama menyelaraskan arahnya. Undertaker masih tergelincir ke samping, posisinya tidak untuk menghindar melainkan mengelak tembakan yang menujunya, memanfaatkan kawat yang ditembakkan ke tanah dari jarak jauh untuk menyeret dirinya keluar dari bahaya. Selongsongnya mengenai Löwe yang kebetulan berada di belakang Shin, menghancurkannya sampai menjadi serpihan. Dinosauria menguatkan dirinya, karena bahkan bobot besar serta kaki tangguhnya, tolak balik dua tembakan berturut-turut merusak kuda-keduanya.

Undertaker menggunakan momen itu tuk melompat menghampiri Dinosauria. Senjatanya berganti posisi di tengah udara, bidikannya mengarah ke bagian atas belakang turret Dinosauria. Selihat Shin, titik lapis baja itu paling rapuh, satu titik di kerangka lapis baja beratnya diharapkan dapat ditembus persenjataan utama Juggernaut yang kalah unggul.

Undertaker menekan pelatuk. Menembakkan peluru anti lapis baja dari sudut tinggi, serangan fatal dari atas.

Namun salah satu tangan yang tumbuh dari turret Dinosauria menangkis selonsongnya.

“…?!”

Mata Shin melotot melihat perkembangan mimpi buruk ini. Tangannya hancur meledak, tetapi karena bahan pembuatannya adalah cairan, dalam hitungan detik jarinya merestrukturisasi sendiri, bergoyang-goyang menjijikkan. Dia merasa kesadaran Dinosauria kembali tertuju padanya. Undertaker melompat mundur selagi tempat berpijak sebelumnya telah diacak-acak senapan mesin. Rentetan tembakan kedua datang, kemudian yang ketiga. Undertaker menghindar, tapi sekarang Dinosauria berada di luar jangkauan Shin. Dinosauria itu dengan percaya diri banting setir ke arah Shin, mendesaknya dengan senjata mesin, persenjataan terlemahnya.

Tembakan pendesaknya saja sudah memaksa Shin kabur-kaburan dan dia secara bersamaan menghapus titik peluang Shin menyerang. Tubuhnya merinding, tetapi bibirnya tersenyum lebar, berbanding terbalik dengan itu.

Salah satu tipe Grauwolf mungkin menganggapnya kesempatan emas, keluar dari barisannya dan menerjang Undertaker. Tetapi, dia dihempaskan tanpa ampun oleh Dinosauria, seakan-akan raungan meriamnya melarang Legion ikut campur. Melihatnya makin-makin memperlebar senyum Shin.

Kata-kata terakhir kakaknya masih memanggil-manggilnya, berkata semuanya adalah dosanya, menyuruhnya mati dan menebus dosa. Bahkan setelah mati pun, Rei bersikeras membunuh Shin dengan kedua belah tangannya sendiri.

… aku juga, Kak.

Rei tak tahu dia saat ini adalah jiwa Shourei Nouzen atau salinan ingatan dari mayat membusuk di malam bersalju itu. Dia tidak tahu, dan apa pun itu perbedaannya tak signifikan. Dia cuma tahu walau sudah mati, dia dapat kesempatan kedua. Itu bagus; hanya itu yang berarti.

Dia tahu Shin berada di suatu tempat medan perang sana. Dia bisa mendengar suaranya. Tapi kedengaran kecil sekali dan ditenggelamkan suara riuh bangkai-bangkai membusuk nan menyedihkan Republik.

Selain itu, Republik tanpa tahu malu telah melempar Shin ke medan perang dan dengan beraninya memanggil dia properti mereka, alhasil semakin sulit lagi membedakan keberadaan Shin.

Kapan pun dia pergi ke distrik Republik, Rei akan menggunakan mata Ameise untuk mencarinya. Rei yang kini Legion, tidak bisa menentang arahannya dan sebagai seorang komandan, dia mesti bertahan di kedalaman wilayah Legion. Sayangnya biar begitu, jika Shin dekat, dia ingin melihatnya lagi. Menemuinya, meminta maaf, dimaafkan, lalu …

Lama setelahnya, akhirnya dia menemukan Shin, lewat mata rusak dan cacat Ameise yang hampir-hampir tak berfungsi. Malam itu ada hujan meteor, terlihat agak jauh dari lokasi Rei. Memperbesar tampilan gambar dan akhirnya dapat sekilas melihat wajah adiknya. Dia sudah lebih besar dan lebih tua. Rupanya sedang berbicara bersama salah satu rekannya, seorang Eisen. Ingin mendengar suaranya, Rei mengalihkan fokus ke sensor suara Ameise. Apa suaranya barusan berubah? Mungkin tidak. Tak jadi soal, sih. Aaaah, aku ingin mendengarnya langsung ….

Mereka berdua melihat langit serba bintang-bintang jatuh. Juggernaut mereka berjongkok di tanah, para Prosesor bersandar di lapis baja mesin, sosok-sosok mereka seperti anak-anak kecil.

“Apa kakakmu masih di luar sana?”

“Ya. Dia terus-terusan memanggilku. Jadi aku harus menemukannya.”

Apa mereka membicarakanku? Jadi kau mencariku juga …

Kendati dia sudah berubah menjadi mesin, badan Rei merinding. Sedih saat tahu Shin pergi ke medan perang, namun ketika tahu dia pergi untuk mencari Rei membuatnya bahagia.

“Tapi kau sudah menguburkan kakakmu, kawan. Bukannya dah cukup?”

Oh …. Jadi kau menguburkan mayatku. Shin, kau baik banget …

“… cukup. Kakakku takkan memaafkanku hanya dengan itu saja.”

Rei membeku kaget.

Kenapa bilang begitu? Jika kau tidak dimaafkan, terus apa harapanku untuk dimaafkan? Aku harus bilang padamu itu tidak benar; aku ingin menjelaskan, bertemu, bertemu denganmu, sangat ingin sampai-sampai membuatku gila.

Transportasi Republik kemudian datang dan menjemput Shin, suara kecil saudaranya sekali lagi ditelan kebisingan dan menghilang dari jangkauan. Rei akan mencarinya ke mana-mana, tetapi setiap kali menemukannya, Republik akan merenggutnya lagi.

Rei putus asa. Dia tidak dapat bergerak dari posisinya di wilayah dalam, tapi dia menggunakan seluruh Legion di bawah komandonya. Dan Shin terus bertarung. Terus menyerbu medan perang (yang suatu hari kelak dia akan ditinggal mati di tempat ini), tetap tenang setelah selamat dari petempuran demi pertempuran.

Aaah, tapi kau tidak usah melakukannya lagi. Tak perlu lagi bertarung demi para babi itu, Shin. Sekiranya itu satu-satunya tempat tinggalmu, sekalian saja aku membawamu ke sisiku. Tinggalkan tubuh rapuh manusia itu. Kami bisa mentransfermu ke sebanyak mungkin tubuh yang diperlukan. Dan kali ini, aku akan melindungimu. Kali ini, aku akan menjagamu, selamanya.

Hari ini, babi-babi kotor itu akhirnya melepaskan Shin dari cengkeraman keji mereka. Suaranya tak kecil dan bercampur dengan Republik lagi. Kini suaranya jelas. Rei tahu Shin sedang pergi ke kedalaman Sektornya, lantas Rei pergi untuk menyambutnya. Akhirnya, dia bisa pergi bereuni dengan adiknya.

Sekarang, paling tidak, dia berhadap-hadapan dengannya. Adik tersayang nan berharga yang dia cari-cari tanpa kenal lelah tengah duduk dalam laba-laba kikuk itu. Juggernaut kelewat rapuh untuk disebut lapis baja, jadi Rei dengan lembut dan hati-hati mengulurkan tangan agar tak merusaknya. Sayangnya karena laba-laba itu terus berlari dan tampaknya susah ditangkap, dia menembak kakinya agar berhenti bergerak.

Akhirnya aku menemukanmu. Sekarang aku bisa memulangkanmu, dan kita akan selalu bersama. Kakakmu akan menjagamu, jadi tolong ikut aku … Shin.

Dinosauria hanya mengincar kakinya. Dia tak menarget baterai utama, cuma menembakkan peluru tembus lapis baja. Jika ia menembakkan meriam 155mm-nya, tak mungkin dia mampu mengendalikan serpihan-serpihan selongsong yang dilepaskan secepat kilat, dan Juggernaut bahkan tidak akan sanggup menahan gelombang kejut ledakannya.

Apa dia memainkannya? Tidak—barangkali tidak suka meledakkanya saja. Tangan-tangan licin itu merayap dan menggeliat. Sebagaimana milik kakaknya malam itu.

Ibarat berusaha bilang dia boleh melakukannya lagi, sebanyak mungkin.

Shin memeriksa layar optiknya, mencari posisi yang lebih menguntungkan. Begitu Undertaker melangkah mundur, Rei melangkah maju, mengejarnya. Shin mundur, di tengah gerakannya berganti arah sedikit namun signifikan, sementara Rei mengejarnya, memutar senapan mesinnya ke arah batang tubuh Undertaker. Pandangannya diselaraskan, siap menembak, namun kemudian—

Dinosauria mencapai tempat tujuan Shin. Shin berhasil menjebaknya.

Sesaat sebelum moncongnya menyemburkan api, Shin mengeluarkan jangkar kawat yang menusuk pohon cemara besar di kiri, di belakang rangka Dinosauria. Menarik kawatnya secepat mungkin, Shin melesat menjauh dan naik dengan cepat. Bergerak ke kiri seketika melesat ke pohon, Undertaker bergerak menyusuri batang dan cabang menuju Dinosauria. Meriam kelas Tank Berat dibuat untuk melawan unit-unit tempur lapis baja yang punya ketinggian sama, meskipun dapat berotasi 360 derajat horizontal, namun gerakannya sangat terbatas kalau soal mobilitas vertikal. Tidak bisa mengarah ke atas langsung dan tentu saja, tidak bisa membidik pas bagian bawah kakinya, tidak mampu melancarkan serangan balik saat dihampiri musuh dari jarak itu.

Mencopot kawat di tengah udara, Undertaker menggunakan gaya semu untuk membalikkan tubuhnya dan menyesuaikan posisi pendaratan. Memanfaatkan bekas rusak di lapis baja Dinosauria sebagai pijakan, dia bergantung pada bagian atas rangka badannya. Rangka raksasanya sendiri jadi penghambat, dan lagi tembakan senapan mesin takkan mencapai target yang sedekat ini. Shin menggerakkan pedang frekuensi tingginya ke titik lapis baja paling rapuh. Percik-percik api Meletus dari bajanya seakan melelahkan mentega. Meriam Shin membidik bagian terekspos, sayangnya tiba-tiba dua tangan perak tumbuh dari rangka dan meraih tangan penggenggam Juggernaut Shin.

“Apa—?!”

Seperti malam di gereja. Dia dihempas ke atas dan dirobohkan. Kemudian Shin tak sadarkan diri.

Mata Raiden membelalak ketika merasa Resonansinya dengan Shin mendadak terputus. Mereka hampir kelar mengurus Legion di area sekitar. Fido telah membersihkan kontainer keduanya, dan Lena terus-terusan menembak proyektil ke Legion yang ngotot menyelinap masuk dari pinggiran distrik untuk melihat kejadiannya. Saat itu Legion akhirnya mulai mundur.

“… Shin?!”

Dia mencoba mengatur ulang Resonansi, tetapi Shin tidak merespon. Raiden melihat arah Dinosauria, melihatnya pelan-pelan berbalik menghadap Undertaker yang terbaring lemas tak wajar, seolah-olah dihantam ke tanah. Resonansi Sensorik dioperasikan dengan menghubungkan kesadaran orang, lantas misalkan salah satu pihak tak sadar, koneksi tidak bisa dibangun. Artinya Shin entah tertidur, pingsan—atau mati.

Dinosauria dengan tenangnya menghampiri Undertaker. Dia tak menembaknya, namun Raiden punya firasat ngeri yang bilang mereka tidak boleh mendekati Shin. Raiden beralih ke transmisi nirkabel. Masih berfungsi, berarti kokpitnya utuh.

“Shin! Bangun, dasar bego!”

Tapi Undertaker tidak bergerak.

Rei mesti berhati-hati agar tak merusak bagian dalam Juggernaut tetapi berhasil merobek kedua lengan penggenggam rapuhnya. Sisa-sisa Undertaker jatuh, entah berserakan ke mana. Shin tidak akan bisa pergi ke mana pun, sih, itu bagus. Dia barangkali pingsan dan mungkin terluka, tapi Rei juga nanti akan minta maaf karenanya. Dia menghampiri Shin, berusaha menahan diri.

Akhirnya, pikirnya, penuh suka cita. Akhirnya, aku dapat memulangkanmu. Kini kita bisa bersama. Jadi mari mulai dengan kupas cangkang lemah manusiamu itu …

         Lena mengigit bibirnya, dengan ngeri melihat titik Dinosauria menghampiri Undertaker. Raiden dan teman-teman lain di tengah jalan hendak membantu, tetapi senjata mereka takkan menghentikannya. Kalau begini, Shin dan bahkan Raiden serta yang lainnya, akan …

Lena merasakan darah. Rupanya, dia menggigit bibirnya kuat-kuat sampai kulitnya pecah. Sebelumnya, Rei bilang dia ingin kembali. Sekalipun dia tidak mencurahkannya ke dalam kata-kata, Lena tahu betapa dia sangat menyayangi adiknya. Tapi andai itu benar, kenapa Rei sekarang mencoba membunuh Shin? Lena tahu dia harus menghentikannya, namun dia tidak tahu caranya. Proyektil-proyektil kendali1 dan meriam pencegat terlalu kuat; dia tidak punya cara menghancurkan Dinosauria tanpa membunuh Shin dalam prosesnya. Lapis baja Juggernaut kelewat rapuh, dan bila Lena menembak tipe Tank Berat, pecahannya pasti akan menembus Shin. Apa pun. Apa tidak ada yang bisa kulakukan?

Pikirkan, pikirkan, pikirkan—! Dan kemudian mata Lena membeliak, benaknya terbesit ingatan.

“Letnan Muda Kukumila, amati posisi Dinosauria seakurat-akuratnya dan kirim aku datanya.”

Kata-kata itu membuat Kurena melompat. Dia seorang penembak jitu dan tahu rencana Lena tanpa penjelasan lebih lanjut.

“Kita harus mengendalikan misilnya secara manual sampai ke Dinosauria. Aku serahkan padamu. Kau hanya harus mengeksposnya dengan bidikan lasermu2, jadi …”

“B-bentar! Bukannya itu …?!”

“Kau tidak pengen ngebom dia, bukan?! Kau sudah gila?! Shin di sana!”

“Kendati berada dekat, tidak mungkin Juggernaut akan tahan sama ledakannya! Pada jarak itu, Shin pasti akan ikutan kena!”

Theo memotong percakapan mereka, murka. Anju juga ikut, suaranya panik.

“Aku punya ide. Aku pikir misilnya cuma memberi kita kesempatan, tapi … aku tidak mau kapten mati juga.”

Mendengar permohonan tulus hampir putus asa itu, Kurena mendapati dirinya menyetujui ide Lena.

Raiden mulai menembaki Dinosauria seketika memasuki jangkauannya, Theo serta Anju mengikuti. Peluru-peluru mereka dibelokkan lapis baja tipe Tank Berat, kemajuannya tanpa halangan. Mereka mulai menembaki, menumpas beberapa Ameise yang sementara waktu masih berkeliaran di sekitar. Setiap peluru mereka dihalau lapis baja atau ditebas lengan perak target mereka, dan pawai maju Dinosauria terus berlanjut.

Sial. Ternyata kakaknya sama mengesalkan dengan adiknya, menganggap semua orang di sekelilingnya sebagai serangga belaka.

Salah satu senapan mesin Dinosauria terkena puing-puing dan dibungkam, dan sepotong pecahan peluru lain mengenai salah satu sensor optik kelas Tank Berat, memecahkannya. Pertama kali semenjak pertarungan dimulai, Dinosauria berbalik dan menghadap Prosesor lain. Sewaktu menyadari senapan mesinnya mulai berotasi, bersiap memberondong Juggernaut menyebalkan, Raiden memindahkan unitnya ke samping di detik-detik terakhir, tepat tatkala rentetan tembakan merobek bekas posisi sebelumnya.

Di seling waktu, Anju dan Theo mendatangi Dinosauria dan menembakkan jangkar kawat mereka ke arahnya.

Salah satu jangkar kawat melingkari sekitar laras senapan dan satunya lagi ke salah satu kaki. Selanjutnya Prosesor meneguhkan pijakan, kaki tertanam kuat-kuat di tanah. Dua Juggernaut, masing-masing kira-kira sepersepuluh beratnya Dinosauria, tidak sanggup merobohkannya sekalipun mereka bekerja sama. Raiden mengalihkan amunisinya ke peluru eksplosif sumbu pendek, menembak dari sudut tinggi, mematikan senapan mesin berat lain. Raiden selanjutnya melingkarkan jangkar kawatnya sendiri di sekitar rangka besar Dinosauria. Rei akhirnya mulai melambat.

Kemarahan dan haus darahnya mulai jauh lebih jelas dan intens. Merobek jangkarnya, Dinosauria memutar laras senapannya sekuat mungkin. Snow Witch yang gagal memutus kawatnya tepat waktu, terlempar ke udara dan menabrak Laughing Fox, mereka berdua jatuh ke tanah.

“Anju! Theo!”

“.. aku baik-baik saja.”

“Sama. Maaf, Theo!”

“Lupakan itu … Raiden! Dia bakal menembak!”

Sebegitu dia memalingkan perhatiannya ke rekan-rekannya, tipe Tank Berat telah mengunci Raiden. Tidak sempat menghindar. Raiden menggertak gigi tegang, tetapi tubuh Dinosauria tiba-tiba tersentak, dan selongsong yang ditembakkannya nyaris menabrak Wehrwolf yang terbang jauh. Kurena menembaknya. Dinosauria menguatkan kaki depan, menginjak-injak tanah dan meratakannya.

“Kau baik-baik saja, Raiden?!”

“Yea, aku hutang satu nyawa padamu! Tapi sekarang mundur dulu. Misal kau terbunuh, aku tidak tahu bisa menghadap Shin atau tidak …. Mayor, berapa lama lagi sampai kau siap?!”

Suara Lena serba tegang.

“Selongsong ditembakkan! Sisa jarak menuju target … tiga ribu kilometer! Letnan Muda Kukumila!”

“Diterima, mengambil alih. Pemanduan dimulai. Lima detik sampai dampak … tiga … dua …”

Gunslinger mengarahkan bidikan laser gaibnya menuju Dinosauria yang masih berdiri terdiam di samping Undertaker.

Kemampuan sensorik Dinosauria rendah. Unit komandan macam Rei pun tak terkecuali, dia memerlukan hubungan konstan dengan Ameise untuk mengimbangi sensor visualnya yang relatif kurang. Tetapi Ameise yang dikerahkan bersamanya telah dimusnahkan semua, apalagi dia hanya memberi arahan sederhana untuk para pasukan lain di awal pertempuran. Sekarang, mereka telah dialihkan dan mundur. Mengembalikan Shin adalah prioritas utama Rei, tidak ada lagi yang berarti, maka dari itu ketika Rei menyadarinya, waktu itu sudah jauh terlambat.

Persis sesaat tangannya terulur dan hendak merobek kanopi Undertaker, alarm terkunci menyala pada dirinya. Sensor optik Dinosauria berputar ke atas, dan mendapati selongsong massif menghantamnya. Sayap pengontrol ketinggian menyebar tuk mempertahankan gerakan di sudut 45 derajat—mengincar langsung lapis baja atasnya. Selongsong ini—bentuknya mirip siput seukuran anak manusia—adalah proyektil kendali antiartileri 155 mm.

Rei dikuasai kemarahan mendidih. Memang selongsongnya cukup kuat sampai bisa menghancurkannya. Tetapi pada jarak ini, Shin akan terjebak dalam ledakannya pula. Bajingan-bajingan di Republik tak puas memanfaatkan adik laki-lakinya dan lalu menyingkirkannya; kini mereka juga menggunakannya sebagai umpan!

Dia tak sempat mengambil Shin dan lari ke tempat aman, jadi Rei menghentak kaki depannya, tubuh atasnya naik seperti kuda berjingkrak. Tubuhnya berputar, mengeluarkan sebanyak mungkin tangan mesin mikro cair, dan menahan selongsongnya dengan bagian lapis baja paling kokoh. Walaupun lapis baja atasnya rusak, lapis baja depan semestinya mampu menahan ledakan. Dia akan menahan ledakan serta gelombang kejut dengan tubuhnya—dia akan melindungi Shin, yang terbaring di belakangnya apa pun yang terjadi!

Selongsongnya mulai mendekat. Sepintas sebelum dampak, tiba-tiba.

Seketika, dia mendapati dirinya memandangi langit malam, dimuat debu-debu bintang yang bersinar di langit malam. Seorang gadis menatapnya sambil memunggungi langit, rambut dan matanya perak cantik. Dia pernah menemuiniya dulu. Kurang lebih seumuran Shin.

“Bukannya kau ingin melindunginya?”

“Ya. Pengen. Pengen menjaga Shin. Dia adik berhargaku.

Berikutnya si gadis bertanya:

“Kau akan membunuhnya lagi?”

————————————————————————————————————!

Juggernaut itu terbaring diam.

Shin kecil terbaring diam.

Aku …

Tidak lagi …

Dampak.

Mengontak Rei, sumbu selongsongnya—tidak aktif.

Selongsong malfungsi tak meledak.

Proyektil kendali berbentuk itu biasanya kurang massa atau daya dorong untuk menembus lapis baja kokoh permukaan kelas Tank Berat. Selongsongnya dengan menyedihkan dihancurkan, sumbunya tak tersulut, alhasil bahan peledaknya tak bereaksi. Akan tetapi, proyektil yang bergerak secepat supersonik itu membuat berat selongsongnya tak normal. Kekuatan penuh energi kinetik luar biasa itu tanpa ampun memengaruhi tubuh Rei.

“Dampak terkonfirmasi.”

Lena terus menatap layar radar, mengawasi indikator proyektil kendali memotong titik Dinosauria. Proyektilnya tidak meledak. Jelas, karena Lena tahu sumbu selongsong yang ditembakkan tak bereaksi. Ayahnya pernah bilang, sekalipun lapis baja tank mampu membelokkan peluru musuh, nyatanya dia sedikit demi sedikit dirusak. Tank sanggup membelokkan tembakan selongsong yang menuju arahnya, tetapi energi kinektiknya masih memberikan dampak. Bagian-bagian dan peralatan yang tersebar akan menghujani awaknya, setiap baut atau paku keling akan robek dan memantul dalam tanknya, melukai dan berpotensi membunuh siapa pun di dalamnya.

Melawan Dinosauria, hasilnya cuma serangan kuat ke tubuhnya. Namun inilah satu-satunya metode serangan tanpa melibatkan Shin yang bisa Lena pikirkan. Paling tidak dapat mengulur waktu beberapa detik, hingga saat itu, seseorang … siapa pun … perlu memikirkan tindakan selanjutnya.

Namun setelahnya dia tersadar.

Orang lain terhubung ke Resonansi.

Raiden tersadar akhirnya dia berhasil kembali berkoneksi dengan Shin.

“Shin!”

Koneksinya serasa lemah, seeakan-akan Shin belum sepenuhnya sadar. Raiden memanggilnya lagi dan lagi, tapi belum ada respon. Tetapi Raiden tidak bisa menyerah, jadi teriakannya diteruskan.

“Bangun, bodoh! Shin!”

“Kapten Nouzen! Bisa dengar aku, Kapten?! Tolong bangun!”

Mendengar semua orang memanggilnya dari jauh, Lena berteriak pula.

Tolong bangun. Keluar dari sana dan hancurkan Dinosauria. Bukan karena ini. Alasannya tak berhubungan dengan situasi ini. Aku sudah tahu. Aku baru mengetahuinya. Lantas kau harus keluar dan lakukan, dengan kedua belah tanganmu sendiri.

Shin mengatakannya malam itu dengan sedih yang serasa seolah menusuknya—bahwa dia akan menembak mati kakaknya. Namun Shin tidak betul-betul ingin melawannya. Alasan Shin melawan Rei terlepas dari itu adalah …

“Kau ingin membiarkan kakakmu meninggal, bukan?!—Shin!”

Samar-samar, mereka merasakan mata merah membuka.

Kaki belakang Rei menghancurkan tanah di bawahnya selagi menguatkan diri. Tubuh bajanya berderit seketika pikirannya memutih bising, dampak selongsongnya menyebabkan eror pada prosesor sentral. Biar begitu, instingnya sebagai mesin tempur mendesaknya untuk terus menembak.

Dia merasakan serangga menjengkelkan mendengung di sekitarnya mulai menjauh sewaktu prosesor dan sensornya mulai pulih. Dan lalu Rei melihatnya.

Undertaker telah bangkit berdiri tanpa disadari Rei dan kini berdiri di belakangnya—moncongnya mengarah ke Dinosauria.

Mata kiri Shin tak terbuka. Rupanya tahu-tahu dahinya terluka, sekarang matanya tidak mau terbuka sebab tertutup darah. Seluruh tubuhnya rasanya mati rasa dan lamban, setiap upaya untuk bergerak kelihatan mustahil. Pikirannya mengabur, berusaha berpikir pun akan membebaninya.

Shin mendekap kepalanya sambil memeriksa kokpit gelap lewat kabut yang menyelubungi pikirannya. Tampaknya layar sekunder rusak. Bersandar dan duduk ke dinding bagian dalam, dia menatap layar utama dengan tuas kendali di tangan.

Teriakan-teriakan seseorang telah menyadarkannya, namun efek pukulan di kepalanya masih menyiksa. Shin tidak tahu apa yang terjadi. Tak paham bagaimana dia bisa hidup atau apa yang terjadi di sekelilingnya. Hanya dua hal yang dia tahu. Shin dan Undertaker masih hidup. Kakak yang dia cari-cari sekian lamanya—kakak yang harus dia kuburkan sendiri—sedang berdiri di hadapannya.

Anggota tubuhnya masih mati rasa, namun dia sukses memegang tuas kendali dan tangannya bergerak ke atas pelatuk. Dia cuma harus melakukan itu.

“… Shin.”

Dia dapat mendengar bisikan-bisikan hantu, suara mendiang kakaknya. Dia bersembunyi di sini, di medan perang nan sepi ini, tak pernah memaafkannya. Saat dia pertama kali mendengar suara Rei bertautan dengan ratapan para hantu, Shin bertekad untuk menemukannya kemudian menguburkannya sendiri.

“Shin.”

Dia menggertakkan giginya yang terkatup. Anak usia tujuh tahun yang seharusnya mati dicekik hari itu masih menangis di suatu tempat. Kakaknya bilang semuanya salah dia. Bahwa mestinya dia mati kala itu. Barangkali dia mungkin bakal membunuhnya juga. Shin takkan melupakannya …

Kakaknya takkan memaafkannya.

Tapi Shin bukan anak kecil lagi. Dia tidak boleh membiarkan dirinya dibunuh dua kali.

Telah lama berlalu semenjak hari itu, dan Shin berhasil berdamai dengan banyak hal. Dia memikirkan segala hal yang terlanjur terjadi, dari dalam hati, kemudian memahaminya. Bukan salahnya hari itu dia dicekik. Baik kematian kakaknya atau orang tuanya, semua itu bukanlah dosanya. Rei butuh pelampiasan untuk emosi terpendamnya. Kakaknya cuma dibawah tekanan, Shin yang kebetulan di dekatnya dan lebih lemah: pelampiasan sempurna untuk frustasinya. Itu saja. Shin tidak memikul dosa tuk ditebus.

“Shin.”

Shin dapat mendengar suara para hantu, namun dia tidak takut pada mereka. Mereka menyedihkan dan malang semata. Mereka hanya mengerang ingin mati, berteriak dengan suara pinjaman para almarhum atau boleh jadi menangis dengan bahasa mekanis yang mereka seorang mengerti. Mereka kehilangan tanah air dan tubuhnya, terus menjerit tak ingin mati, tidak bisa kembali ke ajal. Sepasukan hantu yang cuma bisa menangis tidak ingin mati, terlepas hasrat kuat mereka untuk mati.

Kakaknya tersesat dalam pasukan itu, tidak bisa mati. Dia gugur dan jiwanya dicuri, dijebak dalam salah satu mesin pembunuh Legion. Shin harus merebut kembali kepala saudaranya yang hilang. Karenanya Shin pergi menuju medan perang, alasan dirinya bertarung lima tahun lamanya. Bukan untuk membayar hutang budi, bukan pula menebus dosanya, melainkan mencari kakaknya, mengalahkannya, lalu menguburkannya selamanya. Tetap saja, dia harus menebus dosa warisan kakaknya yang diwariskan di momen-momen terakhirnya. Dia mesti menebusnya demi hantu kakaknya.

Shin menyorot celah yang dia goreskan di lapis baja monster itu—

“… selamat tinggal, Kak.”

—dan menarik pelatuknya.

Rei menyaksikan segalanya lewat sensor optik. Dia merasakan pelatuknya ditarik, nyala api keluar dari moncong.

Tatkala itu, entah kenapa, dia merasa tatapan merah tertuju padanya, penuh kekuatan, hasrat, dan tekad.

Dia tidak tahu wajah adiknya seperti ini, tak tahu ekspresinya bisa begitu. Wajarlah. Rei mati lima tahun lalu, dan tetap stagnan sejak kala itu, tidak mampu melanjutkan hidup. Tapi Shin hidup. Dia berubah, tumbuh, dan berkembang. Adik yang dia sumpah akan lindungi telah lama hilang. Suatu hari, Shin akan tumbuh lebih tua dari kakaknya. Itu membuat Rei bahagia dan sedikit kesepian juga.

Ah, benar juga …

Ada satu hal yang pada akhirnya mesti kukatakan, ya? Sesuatu yang tidak bisa kuberi tahu hingga akhir. Dulu kucoba menyampaikannya, malam itu di reruntuhan bersalju, namun mati duluan.

Sesuai malam itu, Rei mencekik adiknya. Satu tangan terulur dari celah di lapis bajanya.

Shin.

Sesudahnya dia hanya dapat melihat cahaya.

Kesemuanya terjadi sepersekian detik setelah dia menarik pelatuk. Lengan mesin mikro cair menyelinap melalui kanopi Undertaker yang hancur, merayap ke kokpitnya. Tangan itu bergerak sangat lamban selama momen lama dan tertunda itu, mencari sesuatu. Itu tangan besar kakaknya. Shin membeku ketakutan, melihatnya mengingat kejadian malam itu, tetapi memaksa tubuh kakunya untuk tidak berpaling.

Dalam kurun waktu kurang dari satu detik, kakaknya akan terbakar nyala api. Kakak yang dia cari selama lima tahun. Shin tidak berniat membawa sisa-sisa pikirannya lebih lama lagi, entah itu kebencian atau kemarahan. Namun harus dia ingat. Jemari melingkari luka di lehernya, menelusuri syal birunya. Tapi begitu Shin pikir tangan mesin mikro cair itu akan mencekik dan mencengkeramnya, sentuhan jari-jari yang dulu mencoba membunuhnya menjadi belaian baik dan menyedihkan.

“… maafkan aku.”

Seketika mata Shin melebar kaget, waktu mengalir normal lagi.

Hulu ledak eksplosif antitank berdampak ke Dinosauria, meledak. Ledakan logam sangat panas berkecepatan tinggi melanda masuk ke rangka lapis baja lewat retakan, api hitam-merah menelannya. Tangan kakaknya melepaskan Shin, kembali merayap ke tubuh terbakarnya.

“Kaka—”

Shin meraih tangannya yang mundur, tetapi jari-jarinya hanya menangkap udara. Dia cuma melihat pemandangan tangan kakaknya terbakar di saat memasuki neraka, sementara lainnya tertutup.

“… ah.”

Perlu waktu sejenak sampai Shin sadar tetes hangat mengalir di pipinya. Sejak hari itu, hari Rei pertama kali membunuhnya, Shin tidak bisa menangis. Dia tidak mampu memahami perasaan yang melonjak dalam dirinya, menghancurkan hatinya, perasaan itu sedih. Air mata jatuh satu demi satu, tanpa akhir.

“Mayor, ayo matikan Resonansinya …. Ini tidak boleh kita dengar.”

“Ya …”

Tak lama sesudahnya Lena terhubung lagi, setelah Raiden menghubunginya dan memberi tahu baik-baik saja. Yang lainnya pun kembali, dan Raiden berbicara mewakili semua orang.

“Kau tak apa, kawan?”

“Ya.”

Suara Shin masih menggigil, walau dia tidak menangis lagi, sikap tak acuhnya menghilang pula. Raiden tertawa.

“Sekarang kau bisa membawa nama kakakmu juga.”

Shin pun tersenyum, meski samar.

“Ya. Bisa.”

Dia lanjut mengalihkan perhatian ke Lena.

“… Mayor.”

“Aku di sini. Tentu saja aku di sini. Bagaimanapun aku ini perwira yang mengkomandoi skuadron Spearhead.”

Dia bertugas melihat segalanya sampai akhir. Kendatipun tidak seorang pun ingin dia melakukannya, itu masih tugasnya.

“…”

“Tugas selesai. Kerja bagus, Undertaker dan semuanya.”

         Mendengarnya merujuk ke Nama Pribadinya membuat bibir melengkung Shin menyeringai.

“Ya. Kerja bagus, Handler One.”

“Baiklah,” bisik Raiden sewaktu dia meregangkan tubuh dalam kokpit. Lena berkedip bingung. Rasanya seakan-akan kelima-limanya menyetujui sesuatu, Lena dikecualikan. Lena mencoba memahaminya. Apa itu? Mereka barusan memutuskan sesuatu yang sangatlah penting, dia seorang yang tak tahu apa-apa.

“Fido, sudah selesai menghubungkan kontainernya?”

Ada jarak di percakapan antar Resonansi, ibarat seseorang yang tak terhubung baru saja menjawab. Fido? Oh, benar juga, nama Scavenger yang menyertai mereka.

“Kita akan tangani pemeliharaan dan perbaikan setelah menemukan tempat tidur entah di mana … aku mesti menyamai kalian. Menghabisi amunisi sebanyak ini di hari pertama agak buruk.”

“Lihat sisi baiknya. Kita mungkin menghabisi sejuta Legion di luar sana.”

“Kurasa …. Yah, pokoknya.”

Dia bisa mendengar suara khas motor juga sesuatu yang berat bergerak. Semua Juggernaut nganggur bangkit berdiri.

“Ayo pergi, kawan-kawan—Sampai jumpa, Mayor. Jaga dirimu.”

Komentar perpisahan Raiden teramat biasa sampai-sampai Lena tidak langsung paham maksudnya. Pertempuran baru saja berakhir, bukan? Musuh sudah mundur, Mereka tidak ada yang mati. Lantas sekarang cuma harus balik ke markas seperti biasanya, kan?

“Anu.”

Para prajurit muda berangkat, membiarkan Lena kebingungan. Para Juggernaut bergerak maju—langkah mereka gak goyah sebab dampak pertempuran—selagi pilot-pilotnya mengobrol seperti siswa-siswi pergi ke sekolah.

“Teman-teman, kalian yakin lewat sini? Banyak bom tersebar di mana-mana.”

“Ya … aku sedikit ketakutan; tempat ini kurang lebih ladang ranjau. Shin, bisa cari jalan memutar yang tak melewati distrik ini?”

“Tidak ada Legion di daerah sini, jadi kurang lebih bisa ke mana-mana …. Bentar, bom?”

“Akan kami jelaskan nanti. Halah meki, Shin, kau benar-benar tak menghiraukan hal lain, kan …?”

Mereka berbaris ke timur, menuju medan perang tak dikenal yang dikendalikan Legion.

Oh, benar juga …

Mereka tidak bisa kembali lagi …

“Tunggu—”

Firasat menakutkan mendesak membara di seluruh tubuh Lena dan perasaan kehilangan yang membekukan jiwanya mendorongnya untuk berbicara.

“Tunggu. Tolong, tunggu …!”

Lena merasa mereka berbalik menghadapnya. Mereka berhenti, menunggu tuk mendengar perkataan berikutnya, tetapi Lena tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Lagipula dia bagian pihak yang mengusir mereka, pihak yang menyuruh orang-orang itu menerjang kematiannya. Lena bisa meminta maaf dan mengutuk dirinya sendiri semaunya, namun ucapan itu tak berarti apa-apa bagi mereka sekarang. Jadi dia bisa bilang apa? Namun, tuturnya tak terurai dari bibir.

“Jangan tinggalkan aku …”

Lena menegang, tidak paham kata-katanya sendiri. Apa dia barusan memberi tahu mereka untuk tak meninggalkannya? Itu, dari semua hal yang dapat disampaikannya? Dia tak percaya dirinya setidak berdaya ini. Tapi mereka cuma tertawa lembut menanggapinya. Pertama kali, mereka tulus tersenyum kepadanya, bak kakak melihat adiknya ngambek.

“Ah, rasanya mantap banget, mendengar itu.”

Raiden nyengir, senyumnya penuh kekuatan dan kebanggan hewan buas di medan perang, senyum yang mengandalkan kekuatannya sendiri dan bantuan kawan-kawannya.

“Benar. Kami tidak diusir. Kami bergerak maju, hingga mencapai tujuan akhir.”

Fokus semua orang beralih dari Lena menuju cakrawala, sorot mata dan hati mereka sekali lagi membulat ke tempat nan jauh itu. Napas Lena tersangkut. Emosi mereka yang dia rasakan bukanlah tekad atau ketenangan. Jika harus digambarkan, adalah emosi ketika pertama kali melihat hamparan laut jernih tak terbatas. Layaknya anak-anak yang melihat ladang musim semi tiada akhir, diberi tahu mereka boleh berlari sejauh mungkin dan bermain selama mungkin. Kegembiraan murni tanpa akhir, suka cita tanpa cela. Kegembiraan dan ekspektasi yang tidak dapat ditahan.

Ah.

Aku tidak bisa menghentikan mereka. Kata-kata apa pun yang kurangkai tidak mampu mengikat mereka kepadaku.

Karena bagi mereka, kebebasan artinya boleh memutuskan tempat kau mati dan rela memilih untuk menempuh jalan itu. Mereka tahu betapa berharganya hal itu dan sesulit apa tuk menggapainya.

Lena terdiam. Tak seutas kata pun tidak tersampaikan. Merasa dia menerima perpisahan mereka, para prajurit muda melanjutkan perjalanan. Namun menyadari Lena menggigit bibir furstasi, tidak dapat menerima kenyataan, dengan satu senyuman terakhir Shin berbalik menghadapnya. Senyuman tenang yang pertama kali Lena lihat. Riang, melegakan, dan cerah.

“Kami pergi, Mayor.”

Setelahnya Resonansi pelan-pelan menutup. Lima titik cahaya berkedip-kedip menghilang dari radarnya. Mereka berada di luar jangkauan komandonya, catatan target Resonansi Sensorik mereka telah dihapus.

Selesai sudah, aku takkan menemui mereka lagi …

Tetes-tetes air mengalir di pipinya. Satu per satu, air mata mengalir turun tanpa jeda. Tidak sanggup menahan rasa sakit yang muncul dalam lubuk hatinya, Lena bersandar di konsol dan menangis sedih tersedu-sedu.

Ω

Gambar besar nan samar bendera lima warna, warna-warnanya yang terbalik dari kiri ke kanan, dicoret-coret di dinding kayu barak. Tidak, warnanya bukan hanya terbalik dari kanan ke kiri—benderanya sendiri terbalik secara vertikal. Mungkin untuk berdiri melawan penindasan, diskriminasi, intoleransi, kekejaman, dan vulgaritas. Di sampingnya ada gambar Saint Magnolia memegang rantai dan belenggu—yang semestinya pedang memotong sang tirani—tersenyum saat Lena direndahkan menjadi babi dan menginjak-injak mereka.

Demikianlah anggapan mereka kepada Republik. Jari-jari tanpa luka Lena menyusuri gambar yang menghisai kayu rusak dan beserpih. Terlihat tua, barangkali digambar oleh 86 yang pertama kali ditugaskan ke barak ini, sembilan tahun lalu. Republik mati. Republik Lena dan warga sipil lain yang banggakan dan yakini telah lama mati. Tercabik-cabik dan dicampakkan warganya sendiri.

Lena menutup mata dan mendesau pelan. Kepalanya berkelana ke bocah yang sudah pergi, penasaran apakah dia bisa mendengar suara Republik juga. Setelah semuanya berakhir, perwira komandonya menjadikan Lena tahanan rumah sampai turun keputusan untuk menindaknya, dan Lena merespon dengan naik angkutan yang membawanya ke pangkalan skuadron Spearhead ditempatkan. Angkutan sama yang mengumpulkan orang-orang untuk dieksekusi. Lena praktisnya mengancam petugas lembut dan baik hati untuk mengizinkannya masuk.

“… kau Mayor Milizé, kan?”

Lena berbalik, tatapannya menuju anggota kru pemeliharaan yang kelihatan berumur lima puluh tahun. Letnan Lev Aldrecht, kepala pemeliharaan pangkalan ini.

“Aku tahu kau dari bocah-bocah bandel itu. Tidak kusangka akan benar-benar datang sampai sejauh ini …. Kau seaneh yang mereka katakan.”

Suaranya dalam dan sedikit serak sambil menyentakkan daugnya ke barak.

“Bocah-bocah itu membersihkan kamarnya sebelum pergi, tapi masih ada beberapa barang tertinggal. Anak-anak baru harusnya tidak lama lagi datang menempatinya, silahkan melihat-lihat sebelum mereka datang, kalau kau mau.”

“Terima kasih banyak. Maafkan saya mengganggu seperti ini; Anda pasti sibuk …”

“Heh, tidak usah merasa terganggu. Kami sudah melihat banyak anak-anak pergi ke kematian mereka sampai-sampai lupa berapa orang, tapi seorang Alba datang berkabung adalah pertama kalinya.

Lena mendadak menatap wajah galak kecokelatannya.

“… Letnan Aldrecht. Apakah Anda …?”

Rambutnya tidak berubah karena usia. Rambutnya perak, diwarnai minyak hitam.

“… seorang Alba …?”

“…”

Aldrecht melepas kacamata hitamnya, mengungkap sepasang mata berwarna salju.

“Istriku seorang Colorata. Putriku pun kelihatan sangat mirip dengannya. Aku menolak membiarkan mereka berdua pergi sendirian, lantas aku warnai rambutku dan pergi mengejar mereka. Setelahnya, aku mengajukan diri ke sini agar hak-hak mereka dipulihkan, tapi … heh, itu tak berhasil. Selagi aku bekerja keras di sini … keduanya dikirim ke medan perang dan mati.”

Dia menghela napas panjang dalam-dalam, selanjutnya menggaruk kepala dan membuka bibir untuk berbicara lagi.

“… apa Shin memberitahumu kemampuannya?”

“Iya.”

Cerita itu akhirnya jadi cukup terkenal di front timur sini …. Jadi aku berjalan menghampirinya saat ditugaskan ke sini. Bertanya apa dia mendengar Legion manapun yang mencari-cari suami atau ayah sialnya.”

“…”

“Aku pikir dia bilang iya, maka aku bakal pergi dan membiarkan mereka membunuhku …. Tapi dia bilang tidak mendenganrya. Tak ada Legion yang memanggil-manggil namaku di luar sana. Mendengar itu … kurasa keknya menyelamatkanku. Gadis-gadisku tidak terjebak di medan perang bahkan seusai kematiannya. Jadi sewaktu aku pergi ke sisi lain … mereka akan menungguku di sana.”

Awak tua itu tersenyum samar. Senyum sedih namun entah bagaimana kelihatan lega. Tetapi sesaat dia palingkan pandangannya ke timur, tempat medan perang membentang sejauh mata memandang, satu-satunya kata untuk mendefinisikan ekspresinya adalah kesepian.

“Aku senantiasa memberi tahu anak-anak di sini kalau aku Alba sebelum mereka pergi menjalani misi Pengintaian Khusus. Aku selalu bilang mereka berhak membenci kami dan boleh membunuhku seandainya dapat membuat perasaan lebih baik …. Tapi tidak ada yang menerima tawaranku. Kali ini sama. Berkat itu, aku ditipu keluar dari kematian lagi.”

Lena hampir merasa ibaratnya dia ditinggalkan lagi. Oleh istri dan putrinya … juga anak-anak tak terhitung jumlahnya yang dia temui di sini sembari memperbaiki mesin-mesin mereka. Aldrecht mengenakan kacamata hitamnya lagi, seakan-akan menekan sesuatu, menggumam, “Aku ngapain …?” ke dirinya sendiri.

“Tidak banyak waktu tersisa … kalau punya urusan di sana, urus cepat.”

“Ya …. Terima kasih banyak.”

Lena membungkuk hormat kepada Aldrecht dan memasuki barak lewat pintu di sampingnya. Tempatnya nampak seolah campuran kayu bekas, abu-abu dan cokelat menjadi warna dominan interior hambar dan tanpa hiasan. Koridornya berderit begitu Lena berjalan melewatinya, permukaan dinding dan lantainya memutih karena debu yang menempel selama bertahun-tahun. Kayunya serasa kasar dan keras. Dapur serta ruang makan penuh minyak dan noda jelaga yang tidak bisa dibersihkan. Sama sekali tak higenis.

Kamar mandinya basah dan suram yang mengingatkan Lena perihal ruangan gas yang dilihatnya dalam fim dokumenter. Massa hitam menggeliat yang tak diketahui Lena tengah menggeliat-geliut di pinggir ruangan. Tidak ditemukan mesin cuci atau penyedot debu. Sapu dan pengki ditaruh di ujung lorong juga papan bergerigi dan ranjang cucian di halaman belakang barak sebagai pengganti barang yang tak layak. Tidak mungkin manusia beradab hidup seperti ini. Bahwasanya ini jenis kehidupan yang terlampau dibanggakan negara yang punya praktik-praktik inovatif dan kemanusiaan bagi warga negaranya membuat Lena merasa malu.

Kamar Prosesor terletak di lantai dua. Tangganya mencicit protes saat dia naik. Kamar-kamar kecil penuh tempat tidur pipa dan lemari, warnanya pudar sebab penuh debu bertahun-tahun, kemerosotan dan terekspos ke sinar matahari bertahun-tahun. Semua kamarnya dirapikan, menghilangkan jejak orang-orang yang pernah meninggalinya. Tempat tidurnya digerai seprai baru dan sarung bantal yang baru dicuci, diam-diam menunggu kedatangan penghuni baru mereka.

Kamar yang paling jauh di lorong, termasuk paling besar, adalah milik kapten. Pintu yang tidak bisa terbuka sepenuhnya dengan bunyi derit. Selain tempat tidur dan lemari pipa, pondok ini pun dilengkapi meja dan ruang terbuka kecil tempat menaruh sejumlah objek.

Gitar. Satu dek kartu dan satu set papan permainan. Koleksi alat-alat kerajinan tangan. Majalah teka-teki silang yang hilang beberapa halamannya, menyisakan masalah tak terselesaikan. Buku sketsa, betul-betul kosong tanpa satu gambar pun tersisa. Keranjang penuh renda dan jarum rajut yang tak terlihat bekas-bekas pemakaiannya. Papan-papan yang dipaku ke dinding menjadi rak sementara penuh buku. Ada berbagai genre dan penulis, tak memberi petunjuk siapa yang mungkin memilikinya.

Barangkali telah disisihkan ke tempat itu agar tidak dibuang, melestarikannya untuk anggota regu berikutnya. Namun mereka telah menyingkirkan semua hal yang telah dibuat sebelum-sebelumnya, tahu ujung-ujungnya akan dibuang.

Lena merasa dia bisa mendengar tawa para prajurit muda itu, memilih menjalani hidupnya sepenuh hati tanpa meninggalkan kenang-kenangan apa-apa. Tidak sekali pun menyerah berputus asa, tak pernah membiarkan kebencian menodai harga diri mereka. Berdiri tegap dan kuat bahkan dihadapan ancaman kejam yang hendak menghapus martabat mereka, hidupnya sendiri adalah sebagai contoh arti manusia.

Lena berjalan ke rak buku, dan berhenti di tengah jalan. Seekor anak kucing hitam yang punya bercak-bercak putih tak sampai di cakarnya, dia berdiri diam, seolah-olah bertanya-tanya ke mana perginya semua orang. Di luar jendela, dia mendengar suara para tentara yang rupanya sedang sesi foto-foto. Lena tidak menduga akan menemukan apa-apa tapi setidaknya ingin tahu mereka membaca apa. Dia membuka sebuah buku yang penulisnya dia kenal kemudian mulai membolak-baliknya, lalu sesuatu menyelinap keluar dari halaman.

“Ah.”

Dia membungkuk dan mengambil beberapa lembar kertas. Lembar pertama adalah gambar: foto sekelompok orang berdiri di depan bangunan. Dia menyadari bendera terbalik itu; bangunannya barak ini. Awak pemeliharaan duduk di sana, mengenakan pakaian biasa, di samping 24 cewe-cowo berusia pertengahan hingga akhir remaja.

“…!”

Lena paham tanpa penjelasan apa pun. Mereka adalah anggota skuadron Spearhead-nya. Mereka Shin, Raiden, Theo, Kurena, dan Anju, serta semua orang yang meninggal, bisa jadi diambil pada hari mereka ditugaskan di sini. Format gambarnya sesuai berkas personel Prosesor, fotonya melibatkan semua orang, bahkan kru pemeliharaan ikut. Fotonya terlalu kecil untuk menggambarkan wajah-wajah di antara banyak sosok yang berdiri di sana. Entah kenapa, Scavenger model lama pun berdiri di sampingnya. Kemungkinan Fido.

Itu pertama kalinya dia melihat anggota regunya, tetapi kualitas buruk membuatnya sulit membedakan sosok-sosok mereka. Orang-orangnya berdiri berbaris, masing-masing berposisi dan berpose bebas secara alami sembari melihat kamera. Tapi Lena tahu mereka tersenyum santai.

Lembar berikutnya adalah halaman dari buku catatan memo, isinya pesan bertulisan maskulin yang ditulis terburu-buru.

Seumpama kau repot-repot menemukan ini, kau betulan bego sinting.

Dan kali ini, napasnya benar-benar tercekat di tenggorokan.

Tulisan Raiden. Dan biarpun dia tidak bilang kepada siapa suratnya ditujukan, Lena tahu Raiden tuliskan untuknya.

Perasaannya balas-berbalas, dari Raiden. Kau betulan susah-susah menulis ini dan menaruhnya di sini berharap aku menemukannya.

Catatan berikutnya memiliki daftar nama yang disusun tak rata. Tidak perlu banyak berpikir kalau Lena harus mencocokkannya dengan foto grup.

Aku menuliskan nama semua orang untukmu. Aku bertaruh kau menangis sekarang karena tidak tahu masing-masing kami yang mana.

Theo.

Jaga kucing itu. Akan kau lakukan, bila kau bersikeras menjadi orang suci.

Kurena.

Kami masih belum memberi nama. Beri nama imut, oke, Mayor?

Anju.

Tangannya gemetaran selagi memegang kertas itu. Perasaan berkumpul dalam dadanya, ingin meledak.

Mereka semua meninggalkan semua ini untukku. Meskipun aku tidak pernah bisa bertarung bersama mereka. Walaupun aku tidak bisa menyelamatkan satu pun. Kendati aku cuma bisa menyemburkan indealisme omong kosong tak berdaya padahal menginjak-injak hidup mereka semua, mereka masih meninggalkan ini untukku …

Lembar kertas terakhirnya adalah dari Shin. Satu baris kalimat singkat khas, ditulis dengan tulisan tangan rapi dan gantengnya.

Andai, kelak, kau mencapai tujuan akhir kami, berkenankah kau meninggalkan bunga?

Maksud suratnya jelas, dan di saat yang sama, mengemban makna lain. Kebebasan yang Shin dan lainnya cari adalah kebebasan bersyukur selama mungkin, hingga kematian akhirnya merenggu mereka. Dan Lena takkan menggapai tujuan akhir mereka kecuali dia juga mengikuti jejaknya. Dia pun harus berangkat menjadi seseorang yang takkan menyerah pada keputusasaan, yang tak menodai martabat manusia. Seseorang yang bertarung dan terus bertarung sampai hidupnya habis.

Pada akhirnya, Shin memercayai Lena.

Setetes air mata hangat mengalir di pipinya. Lena tersenyum sekalipun kesedihan dan kesepian membanjiri airnya.

Shin bilang Republik pasti akan jatuh. Bahwa keangkuhannya sendiri akan mengumumkan kehancurannya.

Boleh jadi ini takdir tak terhindari negara ini. Bahkan mungkin datang besok. Karena alasan itulah, bertarung sampai saat-saat terakhir. Tidak pernah menyerah. Jangan pernah kehilangan hasrat untuk hidup. Tetap berdiri sampai waktu terakhir. Hormati nilai-nilai yang harus diwakili prajurit pemberani.

Bertarunglah. Sampai takdir sendiri lelah. Bertarunglah, sampai akhir.

Tiada negara yang pernah menganggap keji pelanggaran hak asasi babi.

Karenanya, seandainya Anda mendefinisikan aksen berbeda seseorang, seseorang yang warna kulitnya berbeda, seseorang yang berbeda keturunan dari babi bersosok manusia, penganiayaan, persekusi, atau kejahatan manapun yang mungkin Anda perbuat kepada mereka takkan pernah dianggap bengis atau tak manusiawi.

Terjadi ketika kami membenarkan ini, ketika kami membiarkannya terjadi, ketika itulah Republik San Magnolia mati—dan ketika itulah ia binasa.

—VLADILENA MILIZÉ, MEMOIRS

Catatan kaki:

  1. Peluru kendali anti-tank (bahasa Inggris: Anti-Tank Guided Missile, ATGM) adalah peluru kendali yang dirancang untuk menghancurkan tank dan kendaraan tempur lapis baja lainnya. Ukuran ATGM bervariasi, mulai dari senjata yang ditembakkan dari bahu yang bisa dibawa satu prajurit, senjata yang lebih besar yang harus ditembakkan menggunakan tripod, sampai yang terpasang dan ditembakkan dari kendaraan dan pesawat udara. Dengan diperkenalkannya ATGM lebih kecil yang mampu membawa hulu ledak yang lebih besar pada medan perang modern membuat infanteri memiliki kemampuan untuk menghancurkan tank tempur utama yang kuat dari jarak yang sangat jauh, dan biasanya pada tembakan pertama. Senjata-senjata infanteri sebelumnya seperti senapan anti-tank, roket anti-tank, dan ranjau darat magnetik memiliki daya tembus baja yang lemah dan/atau mengharuskan seorang prajurit untuk berada di dekat target.
  2. Bidikan laser adalah bidikan yang menggunakan sinar laser sebagai pemandu tembakan ke sasaran, biasanya dipasang sejajar dengan laras senjata api. Sinar laser yang digunakan biasanya berwarna merah, tetapi saat ini ada juga bidikan laser yang menggunakan warna hijau sebagai warna sinar lasernya. Bidikan model lain yang populer digunakan diantaranya bidikan besi, reflex sight dan bidikan teleskopik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *