DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 14 interlude

Posted on

Mereka Mulai Bergerak

Penerjemah: 2B

“Dia bergerak.”

Kata-kata seorang dewa tua yang diucapkan lirih bergema di kegelapan.

Mata membelalaknya fokus pada Dungeon yang terbentang di bawah kakinya.

“Bergerak? Maksud Anda bukan … Juggernaut?”

Jawabannya datang dari kristal seukuran kepalan tangan.

Sebuah okulus, dan di sisi lain barang sihir adalah Fels.

Okulus berada dalam Ruang Doa di bawah Markas Besar Guild. Ouranus—dewa yang berdoa kepada Dungeon—barangkali tidak sempurna, namun dia memahami situasi umumnya. Atau lebih tepatnya, dia merasakan kehadiran suatu monster di sana.

Juggernaut perusak telah bangkit lagi setelah absen lima tahun. Kehadiran utusan pembunuh ini yang telah membantai Astrea Familia familianya Angin Badai kala itu, cukup membuat dewa pendiri Orario berprasangka ekstrem.

“Ya … dia telah menyimpang jauh dari zona kemunculannya dan sedang menuruni lantai.”

Makhluk perusak mulai pindah.

Bukan hanya dalam lantai itu sendiri. Melainkan melintasi sejumlah lantai, banyak lantai sampai-sampai Ouranus dapat melihat pergerakannya dari permukaan.

Penyelaman yang cepatnya mengerikan sepanjang sejarah dari Ibu Kota Air tempat orang-orang memperkirakan kemunculannya.

“Tidak bisa dipercaya …. Mengingat asalnya, kemungkinan dia meninggalkan lantai tempatnya dilahirkan …!”

Fels—yang sekarang ini menyertai Xenos dalam pertarungan menangkap Knossos, dungeon buatan manusia—terdengar bingung.

Jikalau Juggernaut muncul, Dungeon pastilah menderita kerusakan besar.

Ketika itu terjadi, Dungeon hidup merespon defensif dengan memanggil antibodinya. Dengan kata lain, tujuan eksistensi Juggernaut adalah untuk menghapus semua jejak pathogen yang menyerbu—para petualang—di lantai tempatnya terlahir. Dalam keadaan normal, sekalipun target monsternya melarikan diri, Juggernaut tidak pernah pergi beberapa lantai lebih jauh untuk mengejar mereka.

“… apa yang terjadi?”

Kenyataannya adalah delusi seorang penjinak menyebabkan monster itu mengejar seorang anak laki-laki dan elf tertentu.

Tetapi bahkan sebagai seorang dewa mahatahu, terlebih sekaligus dewa pendiri Orario, tidak mampu menguraikan detail kejadian-kejadian Dungeon yang jauh di luar pemahaman mendasar. Ouranus serta rekan-rekannya di permukaan hanya sanggup mengerti bahwa terjadi keabnormalan.

“Dan respon ini … seekor Monster Rex muncul di Ibu Kota Air? Apa Dungeon mengabaikan selang waktu melahirkan monster dan mengerahkannya …?”

Ouranus pun menyadari aksi lain dari Dungeon yang mustahil diabaikan.

Wajah dewa keriput yang diejek panggilan tak tergoyahkan oleh para dewata lain, beralih wajahnya ke meringis.

“Bagaimana, Ouranus?”

“… kirim bala bantuan ke Ibu Kota Air. Walaupun mereka tak dapat mengatasi situasinya, kita perlu tahu situasinya.”

“Tapi kami masih berjuang menaklukkan Knossos. Tersedia beberapa pasukan untuk dipimpin Loki Familia. Apabila Anda menurunkan misi dan mengikuti prosedur-prosedur biasa, mereka takkan tepat waktu!”

Suara yang berasal dari kristal itu penuh kecemasan.

Ouranus sadar bahwasanya ketika Fels bilang pasukannya takkan tepat waktu, penyihir abadi tengah membicarakan keamanan Hestia Familia. Semenjak insiden Xenos, Fels bersedia mempertaruhkan apa pun demi Bell Cranell.

Ouranus sendiri pun sama.

“Aku akan berbuat sebisanya … meskipun akhirnya gagal.”

Keempat obor yang mengelilingi altar menelan kehendak sang dewa.

Dari takhtanya, Ouranus mengalihkan mata birunya ke kegelapan di atas.

“Sisanya tergantung apakah ada orang lain selain kita yang akan bertindak atau tidak …”

ф

Praang!

Sebuah cangkir meluncur jatuh dari meja dengan suara gemerincing.

“Hei, Syr! Kau tidak apa-apa?”

“…”

Runoa si pelayan buru-buru menghampiri gadis berambut abu-abu biru yang dikelilingi pecahan keramik. Benda jatuh itu bukan milik bar; namun cangkir favorit salah satu rekan kerja mereka.

Milik seorang elf yang tidak lagi bersama mereka.

Syr memalingkan pandangan dari pecahan tembikar ke tangannya.

Tetes darah merah merembes dari jari-jari kurusnya.

“… maaf semuanya. Aku mau keluar sebentar.”

“Syr! Kau mau kemana, meong?!”

Syr berlari keluar dari pintu belakang, mengabaikan pertanyaan Ahnya si gadis kucing.

Dia dan beberapa pelayan lain tinggal di bar tenang yang belum buka.

“Keknya dia pergi mencari Lyu, meong?” tanya Chole si gadis kucing sambil membalik satu cangkir di tangannya.

“Tidak tahu lagi dia akan melakukan apa … biarpun kita tidak tahu sama sekali gadis itu ke mana.”

Runoa, satu-satunya manusia dari ketiga pelayan, mengerutkan kening seraya menjawab. Tidak ada keyakinan pada perkataannya.

Para koki pun sama. Namun Mia, pemilik The Benevolent Mistress, hanya menonton dan mendesah ketika para karyawannya benar-benar dialihkan dari pekerjaannya.

“Meong …. Semuanya salah Lyu, meong! Fakta Syr bertingkah aneh juga Mia dan yang lainnya khawatir banget, belum lagi suasana suram di sekitar sini—semuanya salah dia!”

Ahnya meneriakkan kata-katanya ke langit-langit.

Sebelum Lyu pergi menghilang, dia sudah tegang selama berhari-hari, dan rekan-rekan sesama pelayannya curiga dia sibuk sama hal buruk. Cuma firasat, tetapi firasatnya berdasarkan pertemanan panjang.

Mereka tidak bisa menjelaskannya, namun mereka semua rasakan betul-betul.

“Permisi, apa ada orang di sini?!”

Baru ketika itu, seolah-olah bertukar tempat dengan Syr, orang lain tiba.

“Meooongg?”

“Seorang dewi? Seorang pelanggan?”

“Bukan, itu dewi pelindungnya si bocah … Lady Hestia, meong.”

Sang dewi yang bisa dengan mudah disalah anggap sebagai seorang gadis biasa, tengah berdiri di ambang pintu bar. Melihat napas megap-megapnya dan betapa intens rambut kuncirnya memantul-mantul, dia pasti lari ke sana.

Tanpa berhenti untuk mengatur napasnya baik-baik, dia bergegas menuju Ahnya, Runoa, dan Chloe.

“Apa kalian kenal dekat dengan si elf? Cukup dekat hingga tahu rencananya?”

“Si elf …? Maksud Anda Lyu, meong?”

“Iya! Dan ini pertanyaan paling pentingnya: Apa kalian sangat kuat kayak dia?”

“Tunggu sebentar, Dewi. Anda berusaha mencari tahu apa setelah menerobos masuk ke sini seperti itu?”

“Ya, meong. Pertama-tama semestinya Anda harus menjelaskan mengapa bertanya demikian, meong.”

Selagi Ahnya memiringkan kepala merasa aneh dan Runoa kebingungan, Chloe sendiri dengan tenang meminta penjelasan.

Hestia yang condong ke dekat mereka, tidak menjawab lebih jauh.

“… lihat ini.”

Bukannya menjawab, dia mengulurkan surat. Ahnya mengambilnya, sementara Runoa dan Chloe mengintip dari kedua sisi bahu Ahnya.

“Itu surat yang pendukungku kirim dari lantai delapan belas …”

Pesannya berisi penjelasan tentang keadaaan sulit Angin Badai saat ini sekaligus permintaan bala bantuan.

Kendatipun ketiga wanita itu seharusnya tidak lebih dari pelayan biasa, muka mereka setajam para petarung tangguh.

Krak!

Retakan menjalar di palu diikuti suara retak keras.

“Hah …?”

Alat retak yang berada di bengkel Welf dalam taman belakang Hearthstone Manor, kediaman Hestia Familia. Wanita yang menggunakan palu untuk menempa pedang, melayani si wanita sekalipun dia bukan tuan sebenarnya, wanita tersebut menatap tak percaya.

“Apa kepanasan? Mustahil, pasti salah Welf karena tidak merawat baik-baik alat-alatnya dengan semangat layak penempa! Pastinya itu! Tidak mungkin salahku …. Apakah salahku? Aduh duh, gawat …. Dia bakal marah padaku.”

 Mendekap kepala sambil bergumam, tubuh bagian atasnya dibungkus sehelai kain diputihkan, wnaita itu tidak salah lagi mencurigakan. Diab alas menatap palu rusak tersebut.

“Ataukah … pertanda buruk?” gumamnya. Selagi dirinya berdiri menatap palu di bengkel yang kini sunyi, pintu di belakangnya terbuka.

“Apa, pemiliknya sudah pulang? Atau mungkinkah pencuri di kediaman Hestia Familia …?”

“Tenanglah. Seperti Hephaestus yang menyuruhmu tinggal, kami pun diminta menjaga tempat selagi semua orang pergi.”

“Oh beneran? Salahku, salahku. Benar juga, kau tentu kelihatan taka sing … Dewa Miach dan pengikutnya, misal tak salah ingat.”

Wanita itu kembali santai ketika Miach memasuki bengkel, Nahza ikut dari belakang. Dia tertawa tak acuh dan hendak berbasa-basi namun tidak jadi saat menyadari ekspresi mereka lalu menghapus senyum dari wajahnya.

Hestia yang pergi ke The Benevolent Mistress, Nahza-lah yang bicara.

“Anu …. Aku tahu ini menyusahkan sekali, tapi bisa bantu kami, Cyclops?”

Nama panggilan wanita itu menggema di seluruh ruangan diikuti kata bantu.

Tsubaki Collbrande, kapten dan Master Penempa Hephaestus Familia, menyipitkan mata kanan tanpa penutupnya.

9 Replies to “DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 14 interlude”

  1. Apa alur nya bakal sama kek waktu bell dan kawan2 terperosok ke lantai dalam (season awal2 waktu bell vs black golliat/bos) hestia kan ngebentuk tim SAR dadakan buat nyari Bell dan kawan2nya

  2. Min, klo mau tau info mngenai kelas sama level karakter di danmachi dmna ya??, oh iya, bisa djlasin dikit nggk min, prbedaan kelas sama level?? Onegai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *