DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 14 EPILOG

Posted on

Kau akan Kembali II

Penerjemah: Daffa Cahyo Alghifari

Kau masih bisa kembali.

Seseorang pernah sekali mengatakan itu kepadaku.

Dan orang itu benar.

Aku berhasil mengatasi masa lalu—dan kini kembali ke tempat cahaya bersinar.

ф

“…”

Lyu merasakan air mata menggenang di bawah kelopak matanya. Dia mengerutkan kening, berusaha tak menumpahkannya.

“Aku di mana …?”

Dia membuka mata sedikit tetapi segera menutupnya setelah melihat cahaya menyilaukan.

Bahkan lentera berbatu sihir keterlaluan terang buat mata biru langit yang sudah terbiasa akan kegelapan labirin.

Saat dia meringis, bahkan tidak dapat berkedip, dia langsung mendengar suara terkejut yang asalnya dari sebelahnya.

“Lyu, kau baik-baik saja?!”

Dia melihat sosok yang membungkuk di atasnya.

Bentuk buramnya akhirnya menjelas. Dia melihat rambut dan mata berwarna abu-abu biru. Lyu membuka bibirnya ketika wajah kelelahan menatapnya.

“Syr …”

Suaranya sangatlah serak, seakan lupa cara bicara. Namun demikian, seketika dia panggil nama itu, wajah di atasnya bersinar bahagia. Tampaknya dikuasai emosi, gadis itu memeluk Lyu.

“Lyu! Oh, Lyu!! Aku lega sekali …!”

Dia membenamkan wajahnya ke leher Lyu dan memeluk lembut dirinya seperti saudara perempuan atau seorang ibu. Lyu dapat merasakan kehangatan familier dan nyaman dari tubuhnya melalui selimut. Hatinya terlampau emosional sampai-sampai tidak bisa bicara.

“Meong!! Lyu membuka kepalanya, meong!”

“Sekarang mohon beri tahu kami perasaanmu soal merepotkan kami setelah kau tertidur selama tiga hari berturut-turut!”

“Sial, aku mengkhawatirkanmu!”

Tiba-tiba, Lyu dikepung kekacauan. Ahnya mengangkat tangannya dan berjingkrak-jingkrak bak anak kecil sementara Chloe menggodanya dengan senyuman dan wajah bahagia Runoa berbanding terbalik dengan kata-katanya.

Air mata mengalir dari mata Lyu sewaktu melihat senyuman menghiasi wajah teman-teman paling berharganya.

“… belum pernah aku melihatmu menangis sebelumnya, meong.”

Lyu balas tersenyum lemah pada Ahnya yang nyengir-nyengir. Pikirannya masih kosong seperti selembar kertas belum tersentuh, namun dia hanya menggumamkan satu kata yang dapat dipikirnya: “makasih.”

“Kau setidak sadar itu jadinya kami harus menjelaskan apa yang terjadi. Kau ada di klinik Guild dalam Babel, meong.”

“Kau dibawa ke sini segera sesudah kembali ke permukaan.”

“Kami mencoba banyak barang dan sihir kepadamu selaagi kami buru-buru melalui Dungeon namun kau tidak bangun-bangun. Kami mencemaskanmu banget, meong!”

Sembari Chloe menjewer telinga elf yang terbungkus kain kasa, Runoa dan Ahnya menyelesaikan penjelasannya. Agak sulit buat Lyu untuk memahami semuanya karena barusan bangun beberapa menit sebelumnya, tapi bau khas antiseptik dan ruangan putih bersih turut membantunya mengerti.

Saat Syr menepis tangan Chloe dari telinga Lyu, Ahnya membungkuk ke dirinya.

“Lyu, ingatanmu semana, meong?”

“… aku mendengar suaramu di lantai dalam … dan aku tahu bisa pulang, bersamanya …”

Dia sudah berpikir sejauh itu dan seketika bayangan Bell membesit di ingatannya lalu dia membuka mata lebar-lebar. Sedetik kemudian penglihatan putihnya lenyap dan dia melompat berdiri, terjaga sepenuhnya.

“Dia bagaimana?! Bell bagaimana?!”

“Meong! Tenanglah, meong!”

“Lyu, kau akan menyakiti dirimu!”

Chloe panik di sisi lain wajah Lyu berubah warna dan Syr mati-matian berusaha menenangkannya. Lyu kembali terduduk, tubuhnya berteriak protes pada gerakan tiba-tibanya, namun Lyu mengabaikan rasa sakit dan meraih bahunya.

“Syr, beri tahu aku! Tidak apa-apakah dia?!”

“Tuan Bell baik-baik saja! Dia bangun sebelum kau bangun!”

“Iya, iya, meong! Anak rambut putih itu masih hidup dan sehat di kamar aula! Sekarang tenanglah dan tidur siang, meong!”

“Bego …!”

Mengabaikan kata-kata menenangkan Syr, Ahnya terus mengoceh-ngoceh sampai dia memberikan informasi yang tak semestinya, membuat Runoa panik. Pas dengan yang dia takutkan, Lyu instan melompat dari tempat tidurnya dan mencari keberadaan Bell. Dengan kecepatan yang mengejutkan teman-temannya, dia melesat keluar dari ruang rumah sakitnya.

“Lyu, Lyu?! Kau tidak boleh pergi dengan pakaian semacam itu!”

Mengabaikan upaya Syr untuk menghentikannya, Lyu berlari cepat di lorong putih. Melihat sekilas jendela langit biru yang telah lama dirindu-rindukannya juga tak memperlambatnya. Seorang manusia hewan menghampirinya—kemungkinan penyembuh familia tertentu yang bekerja di klinik atas permintaan Guild—menatapnya kaget, namun Lyu bahkan tidak menyadari kehadirannya.

Bell … Bell!

Yang dia pedulikan sekarang ini adalah keselamatan rekannya.

Tersandung beberapa kali, dia memantapkan dirinya dengan menyandarkan tangan terbungkus kain kasa ke dinding dan lanjut berlari ke ujung lorong. Ke tempat jalan berpotongan dengan lorong lain, dia mendapati ruang perawatan khusus yang disebut Ahnya dan menerobos pintunya.

“Bell!”

Benar saja, dia di sana.

Dia sedang duduk di tempat tidur yang didempetkan ke dinding, mengenakan baju pasien tanpa lengan selagi seseorang meraba lengan kirinya yang terbungkus erat.

Seorang gadis cantik berambut perak tengah memeriksanya. Hestia dan Lilly duduk di kedua sisi tempat tidur. Di sampingnya ada Dewa Miach dan pengikutnya, Nahza, berdiri memerhatikan.

Waktu Bell mendongak heran, wajah Lyu lega.

“Nona Lyu! Bentar!”

Bell mulai tersenyum kembali kepada Lyu, tapi kemudian wajahnya memerah. Lyu tak mengikuti tatapannya dan melihat tubuhnya sendiri—lalu dia tersadar.

Dia tidak mengenakan apa pun yang bisa disebut pakaian pantas.

Cuma sepotong kain tipis. Terus terang saja, pakaian dalam klinik.

Bawahannya celana pendek putih dan baju seatas pusar sebagai atasannya.

Perban membungkus lengan Lyu dan pakaian di pahanya tidak sampai menyembunyikan kulit mulusnya. Lyu berdiri membelalak, wajahnya semakin-makin merah, seketika tragedi lain menimpanya.

Barangkali karena gerakan cepatnya, tali tipis yang terikat di bahunya telah lepas …

Saat atasannya jatuh ke tanah dengan suara gemerisik, Lyu menjerit bak gadis.

“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhh!”

“Jangan lihat!!”

“Aduh!”

Tidak menghiraukan Lyu yang jatuh ke bawah sambil melipat tangan menyembunyikan dadanya, Hestia dan Lilly merona menampar kepala Bell bareng-bareng. Menambah keributannya, Nahza menegur dewa pelindungnya dengan teriakan tajam, “Dewa pun tidak boleh lihat, Lord Miach!” dia merengek kala disiku pengikutnya.

“Berani-beraninya kalian memukul pasien terluka parah!!!!!!!!!!”

Demikian, gadis cantik berambut perak—Amid Teasanare, penyembuh Dian Cecht Familia—berteriak ke sekumpulan orang.

ф

Sesudah keributannya mereda, Amid memulangkan Lyu ke ruangannya, di sana dia ditangani ke istrirahat ketat. Sedikit demi sedikit, dia mendengar seluruh ceritanya dari para pengunjung yang keluar-masuk.

“Dengar-dengar dari Xenos menakjubkannya kau masih hidup.”

Lyu mengetahuinya dari Welf.

“Nona Lyu, kami senang sekali kau selamat.”

“Terima kasih sudah menyelamatkan Tuan Bell.”

Si penempa yang menemani kunjungannya bersama Mikoto dan Haruhime sudah sembuh total, mengingat kembali percakapannya dengan Lido si lizardman.

“Bayangan menghabiskan hari-hari di tempat itu tanpa peralatan layak bahkan membuat monster sepertiku bergidik.”

Percakapannya terjadi setelah mereka menjemput Lyu dan Bell kemudian cepat-cepat kembali ke zona aman lantai bawah untuk berlindung. Welf tak sengaja mendengar Xenos mengatakan hal-hal serupa dengan yang Lido katakan kepadanya.

Empat hari.

Itulah seberapa lama Bell dan Lyu habiskan mengembara di lantai 37 setelah wormwell membawa mereka ke sana. Welf dan anggota party lain sama-sama empat hari melawan Amphisbaena, bergabung bersama Xenos, dan turun ke lantai 37.

“Sejujurnya, dipikir kami dalam masalah besar saat kedapatan pesan Ouranus dari Fels yang menyuruh kami untuk pergi ke lantai 37.”

Selagi mereka istrirahat sebentar di zona aman dan Lilly, Ahnya, juga beberapa anggota lain berusaha menyembuhkan Bell serta Lyu, Welf menemui Xenos di tempat Bors takkan menemukan mereka.

Mereka tahu lantai mana Bell dan Lyu berada berkat arahan dewa keriput yang berbicara kepada mereka lewat okulus Lido. Kendatipun bahkan Dungeon tidak mampu mengendalikan Juggernaut, dewa itu telah merasakan tindak-tanduk abnormalnya, khususnya teriakan pertempuran dan dikirimnya langsung tim penyelamat ke lantai 37.

“Selain fakta tidak adanya yang bisa dimakan di bawah sana, lantai itu terlampau besar, dan sesama monster kami kelewat kejam. Kami hampir tidak pernah menghabiskan waktu di sana. Ditambah, tidak adanya pengurus desa seperti Gryu atau Mari di bawah sana …”

“Tidak dapat kupercaya. Jalan-jalan dan dinding-dindingnya juga semua hal di sana besar sekali sampai memusingkan. Aku tak tahu caranya menemukan Bell dan Lyu.”

“Kami bisa berteirma kasih kepada Bell dan Lyu karena berhasil sampai yang kalian para petualang sebut rute utama. Kami takkan menemukan mereka jika mereka tersesat di labirin tak tertembus itu.”

Gara-gara Xenos tidak tahu lantai 37 sebelah mana Bell dan Lyu berada, mereka hanya bisa menyerang rute utama sambil gelisah. Di situlah mereka mendengar suara-suara perjuangan besar melawan Juggernaut dan pada akhirnya mampu menemukan mereka. Bagian besarnya, penyelamatakn mereka adalah hasil penolakan Bell dan Lyu untuk menyerah kembali ke permukaan.

“Berkat kalian, kami bisa menyelamatkan Bell. Sampaikan terima kasih kami ke si mermaid juga.”

Selain ramuan biasa, mereka menggunakan darah kehidupan mermaid, drop item dalam keadaan darurat. Mari yang tidak bisa meninggalkan tepi air telah menyayat tubuhnya sendiri dan mengambilkan darahnya kemudian diserahkan ke party Lido. Dia tidak mampu memberikan banyak, karena baru-baru ini dia gunakan darah hidupnya untuk menyembuhkan Bell selama pertarungan di lantai 27—dan faktanya, Lido mesti menghentikannya memberi kebanyakan padahal dia sendiri mau pingsan—namun itulah kunci mempertahankan hidup Bell dan Lyu.

Lido diam-diam menyerahkan botol darah kehidupan kepada Welf dan menurut Lilly dan Aisha, nyawa Lyu serta Bell akan dalam bahaya kalau mereka tidak mempunyainya selama perjalanan ke permukaan.

“Jangan resahkan itu …. Tapi benarkah beberapa manusia yang bersamamu tidak bersama kami? Maksudku, apa semuanya oke-oke saja?”

“Yah, kesampingkan Rivira dan para pelayan kedai, kupikir si pria besar dan teman-temannya mungkin sudah tahu …. Namun dewa pelindung mereka tuh orang baik. Aku serahkan keputusannya ke familia mereka soal bagaimana menghadapinya mulai dari sini.”

Kemungkinan besarnya, beberapa anggota party menyadari para monster membantu Hestia Familia dimulai dari bentrokan besar lantai 27. Akan tetapi, kelihatannya Ouka dan anggota-anggota familianya sudah tahu tanda-tandanya bahkan sebelum itu, dari ocehan misterius Cassandra tentang mimpi ramalannya tatkala pertarungan di Daedalus Street. Di sisi lain, Aisha dan Tsubaki sudah tahu Xenos. Masalah utamanya adalah menjelaskan banyak hal ke Daphne, tapi Welf putuskan tugas itu diserahkan ke Miach dan Takemikazuchi.

Pokoknya, publik nampaknya mustahil dengar-dengar soal Xenos atas hasil kejadian paling baru ini, jadi sedikit alasan Hestia Familia akan dilabeli musuh umat manusia.

“Anu, Welf … elf itu sama Bell, apa mereka akan baik-baik saja?”

Wiene si vouivre menghampirinya dengan sangat risau persis sebelum meninggalkan zona aman.

“… iya. Akan kupastikan mereka disembuhkan biar Bell bisa menemuimu lagi. Dan akan kukirim elf itu sebagai pengawal saat Bell ingin bertemu denganmu.”

Kelihatannya Welf tak mampu menahan diri tuk berjanji kepada gadis naga lembut itu.

Setelah mereka berhasil melewati lantai 25 yang masih punya bekas-bekas tanda cakar, para petualang berpisah dengan Xenos dan buru-buru ke permukaan tanpa istrirahat sedikit pun, menurut penempa muda.

“Ngomong-ngomong, sudah dia katakan, tapi … makasih sudah merawat Bell.”

Menunjuk Haruhime, Welf mengungkap rasa terima kasih malu-malunya ke Lyu yang masih terbaring di tempat tidur. Hestia dan Lilly sudah berkunjung sebelumnya dan bilang hal sama. Lilly mencoba protes kalau Lyu-lah dari awal yang telah mengaitkan Bell, dan Bell-lah yang menyelamatkan Lyu, namun Welf takkan dengarkan.

“Kau menyelamatkan pantatnya lebih dari sekali atau dua kali. Aku tidak pernah berterima kasih kepada seseorang sebenar-benar ini … jadi anggap saja aku sudah perhitungkan semua itu dan terimalah terima kasihku.”

Seperti Welf menawarkan bukti keadilan dalam diri Lyu yang Bell bicarakan.

“Jura Harma … dan orang-orang selamat lain dari Rudra Familia akhirnya mati. Dan Angin Badai mati bersama mereka. Begitulah ceritanya.”

Aisha berkunjung sendirian untuk memberi tahu Lyu bagaimana seluruh kejadiannya di permukaan.

“Kau telah dibebaskan dari kecurigaan pembunuhan Rivira. Kelihatannya sedari awal ini tuduhan palsu … tapi omong-omong, semua orang nampaknya puas dengan penjelasan bahwa keabnormalan di lantai 27 juga perbuatan Jura Harma si penjinak. Berterima kasihlah ke orang tolol bermulut besar atasnya.”

Rupanya, terjadi pertengkaran di Guild sehabis Lyu dan Bell di bawa ke klinik.

“Dengar, Angin Badai muncul! Tapi dia berusaha melindungi kami, terus dia modyar! Angin Badai betulan mati kali ini!”

“Uh, anu, bisa lebih koheren penjelasannya …?!”

“Apa-apaan yang kau bicarakan?!”

Bors setengah sembuh menyerbu meja resepsionis Guild, kelihatannya. Dia mencekik seorang karyawan separuh elf yang semata-mata ingin memastikan kebenaran tuduhan Lyu, bersama teman resepsionisnya, lalu mengocehkan beritanya keras-keras hingga petualang-petualang lain di Guild mendengarnya.

“Banyak rekan petualangku mati kali ini. Tapi bukan salah Angin Badai! Tapi bangsat-bangsat dari Rudra Familia! Ef itu berusaha melindungi kami sampai akhir!”

Bors menghantam sepotong pedang kayu patah Angin Badai ke konter dan melanjutkan omelannya.

Menurut Aisha, inilah cara uniknya untuk membalas hutang budi karena telah menyelamatkan nyawanya. Ternyata, dia berusaha melindungi Lyu yang masih masuk daftar pencarian orang, sekaligus kehormatan nama Angin Badai. Kata-katanya lebih berbobot dari yang Aisha kira. Sebagai seorang petualang kelas dua dan kepala Rivira, dia sepertinya meyakinkan sebagian pengembara dan berandal bahwa ceritanya benar. Awalnya, penduduk Rivira dan para petualang umumnya curiga pada perubahan tiba-tiba hatinya, terutama karena sedari awal dia sendiri biang keladi penuduhan Lyu yang masuk daftar pencarian orang, namun ujung-ujungnya mereka percaya dia sebagai salah satu dari sedikit penyintas insiden.

Lebih tepatnya, para petualang yang berusaha membayar hutang budi mereka tak mampu bicara banyak tentang kata-kata atau tindakan Bors sebab mereka mengisyaratkan ketetapan seluruh kejadian. Ditambah, tampaknya ada kabar dari Rivira bahwa elf yang membantu membunuh Black Goliath sebetulnya adalah Angin Badai.

Sekarang ini, Angin Badai mulai dianggap teman keadilan yang mencoba mengagalkan skema jahat Evilus. Banyak orang menganggapnya itu cerita yang dilebih-lebihkan, tapi ada yang percaya ceritanya dan bersyukur.

Lyu mendapati dirinya berkedip kaget, tapi menurut Aisha begitulah kejadiannya.

Tetapi itu bukan akhir keributan di Guild, sih.

“Ngomong-ngomong … dia memang masuk daftar pencarian orang, dan aku punya sejumlah propertinya di sini. Misalkan kau pertimbangkan uang hadiah Jura Harma, kubilang sepertiga itu adil. Hei, aku bahkan senang-senang saja dapat sepersepuluhnya …”

“Um, menurutku itu tidak mungkin …”

“Aku setuju. Logikanmu gila …”

“Sialan!!!!!!!!!”

Anehnya, Lyu merasa tenteram ketika mendengar argumen Bors dengan resepsionis atas usahanya untuk diam-diam memeras uang tunai terlepas seluruh persoalan ini.

Para eselon atas Guild menerima laporan berguna kematian Angin Badai dengan sedikit pertanyaan, ibarat kehendak sang dewa yang memimpin organisasi berada di baliknya. Pengumuman resmi seharusnya tidak lama lagi dibuat. Guild pun menempatkan perintah pembungkaman ketat perihal Juggernaut yang telah membunuh banyak sekali para petualang kelas atas juga Amphisbaena yang muncul tanpa memedulikan waktu interval reguler. Perihal Juggernaut, beberapa orang bahkan tahu dia ada, dan bahkan para petualang di Rivira sewaktu tragedinya terjadi nyatanya menyalahkan semuanya ke bos lantai.

Intinya, ini seluruhnya menandai akhir hubungan Lyu dengan Angin Badai.

“Semuanya berjalan baik, bukan, sobat lama keadilan? Siapapun yang masih membencimu beneran menyerah kali ini, dan aksi kekerasanmu di masa lalu telah ditutup-tutupi.”

Karena Lyu diperintahkan untuk menghindari seluruh aktivitas berat, dia toleransi seringai mengejek Amazon dengan ekspresi dingin wajahnya.

Kemudian The Benevolent Mistress.

“Mama Mia sungguhan marah ke Ahnya, Chloe, dan Runoa karena berangkat menyelamatkanmu.”

Di hari lain, Syr datang menemuinya. Ternyata, tim penyelamat tidak libur sejak mereka kembali, yang artinya mereka belum ke klinik—klinik juga semenjak Lyu terbangun. Lyu merasa gugup sedikit soal menemui nasib sama tak lama di masa depan kelak.

“Juga, aku punya pesan untukmu.”

Gadis berambut abu-abu-biru yang menyelinap kabur selagi rekan kerjanya romusha menyedihkan tidak melihat, tersenyum.

“Mama Mia bilang kami kebanyakan membuat risotto1, jadi sebaiknya kau cepat datang bantu kami memakannya.”

Lyu merasa dorongan hati sangat-sangat kecil untuk menangis.

ф

Berjalan di bawah langit biru.

Bagi Lyu, tindakan sesederhana itu seperti kemewahan dan kegembiraan besar.

Hanya merasakan sinar mentari menyinari dirinya dan angin bertiup di kulitnya.

“Cahaya matahari …”

Saat Lyu menutupi matanya dan melihat langit, penyertanya menjawab. Bocah itu yang juga melihat langit, tersenyum malu-malu ketika dia sadar Lyu tengah melihatnya.

Lyu berjalan di Orario di sebelah Bell.

Kedengarannya lucu mereka telah dipulangkan, namun karena perawatan mereka kelar, mereka diperbolehkan meninggalkan Babel. Mengingat mereka telah menghabiskan banyak hari bersama-sama sendirian berkeliaran di Dungeon, familia Bell dan rekan kerja Lyu memutuskan memberikan mereka waktu sendiri. Rasanya benar saja pasangan yang telah melampaui kesulitan bareng-bareng harus berjalan di permukaan bersama-sama lagi untuk pertama kalinya.

Lyu sangat senang mereka melakukannya. Dia berharap Bell merasakan hal serupa.

“Nona Lyu, benarkah pakaian itu—?”

“Iya, ini milik Syr …. Aneh, kan?”

“Tidak sama sekali! Kelihatan bagus.”

“T-tentu saja bagus, karena punya Syr.”

Syr cukup berbaik hati meninggalkan baju ganti sewaktu berkunjung, karena tahu Lyu barangkali tidak ingin meninggalkan klinik menggunakan pakaian pelayannya. Gaun putih sederhana dihiasi renda berbunga cocok dengan Lyu.

Lyu menekan ujungnya di sekitar lutut seraya menjawab kasar Bell—meski jawabannya bernada tinggi dan suara semangat.

“Apa lengan kirimu baik-baik saja?”

“Iya. Mereka menyuruhku untuk tak berat-berat menggunakannya, tapi rentang gerakannya sama seperti sebelumnya. Kayak belum pernah terluka …”

Bell melihat lengannya sambil berjalan. Lengan kiri mengerikan kacau sebelumnya kini kembali ke bentuk aslinya. Separah-parahnya, kelihatan sudah sembuh sempurna setahu Lyu. Perbannya hilang dan gantinya ada pengekang logam di siku, pergelangan tangan, dan persendian jemarinya. Mengingatkannya akan sarung tangan yang bagiannya dipotong atau lengan buatan tidak lengkap.

“Sebenarnya, mereka bilang tidak bisa dirawat … jadi mereka praktisnya membuat ulang semuanya.”

“… aku tidak tahu mereka bisa melakukannya.”

“Rupanya mereka bisa …”

Pegawai medis hanya mampu melakukannya gara-gara semua tulang dan segala hal yang membentuk lengannya disimpan dalam syal yang Bell bungkus menggantikan perban. Semisal Bell kehilangan semuanya, dia harus ganti dengan lengan buatan seperti Nahza.

“Lenganku masih sama panjangnya pula,” katanya, sembari memegangi kedua lengannya sama-sama dan melihat Lyu. Lyu mengingat wajah Amid dan berpikir bukan tanpa alasan dia jadi penyembuh terbaik sekota.

“Ngomong-ngomong, berapa biayanya?”

“Um … ada sekitar delapan angka nol sebaris …”

“…!!”

“Oh, tidak, tak apa. Guild, atau kupikir mungkin Ouranus, menutupinya karena ini darurat! Dan Hermes mengumpulkan barang-barang untuk penguatnya …!”

Selagi Bell buru-buru menjelaskan situasinya ke Lyu syok, mereka terus berjalan di kota bersebelahan.

Angin mendesir permai pipi mereka.

Sinar matahari seolah membersihkan tubuh mereka setelah lama menghabiskan waktu dalam kegelapan.

Senyuman anak-anak lewat begitu menular.

Suara jalanan nan damai bercampur suara lembut atmosfer permukaan.

Mereka terima semuanya dengan seluruh tubuh mereka, mengembara ke mana pun sesuka hati. Melewati jalan-jalan bercabang, mereka melintasi jembatan membentang di kanal kemudian menaiki tangga gang, akhirnya sampai ke puncak bukit yang menghadap Orario barat.

“Aku tidak tahu ada tempat ini di sini …”

“Iya … aku biasanya ke sini bareng Alize.”

Alize Lovell menikmati tempat-tempat tinggi.

Dia seringkali membawa Lyu ke puncak bukit semacam ini atau naik ke atap gedung sembari ngobrol dikelilingi langit biru.

Sebagaimana Bell dan Lyu sekarang.

“… lima tahun lalu, Lady Astrea bilang padaku untuk melupakan keadilan.”

Lyu berbicara lirih selagi berdiri di dekat pegangan tangga dan melihat ke kota. Dia berbicara ke Bell yang diam mendengarkan sekaligus langit biru tanpa ujung, di mana suaranya terbawa angin.

“Kukira dia mengucilkanku. Kupikir dia kehilangan harapan kepadaku begitu melihat aku yang termakan balas dendam … kalau dia cuma membiarkan tanda Berkatnya di punggungku karena kasihan.”

Itulah tafsiran Lyu waktu itu, berpikiran dia menerima kehendak dewatanya. Dia memikirkan fakta bahwa Astrea telah menghilang dari kota dan hanya mengirimkannya surat sesekali berarti, Lyu, telah dicopot haknya untuk bertindak atas nama keadilan.

Bell condong maju bak ingin mengatakan sesuatu, namun kata-kata Lyu selanjutnya menghentikannya.

“Tapi … aku salah.”

Dia menatap kejauhan, bibirnya tersenyum.

Dia benar.

Astrea tidak meninggalkan Lyu.

Dia mengawasi tubuhdan jiwanya.

Balas dendam namanya bukan keadilan. Tapi keinginan untuk mengakhiri balas dendam dan memutus siklus kebencian ini namanya keadilan.

Bila Astrea memberi tahu Lyu bahwa balas dendam takkan menciptakan apa pun, apa jadinya Lyu?

Dia pasti akan hancur berantakan.

Tidak mampu mengklaim balas dendamnya, dia pasti akan mengakhiri hidup menyedihkannya.

Dewinya pasti sudah tahu itu sejak awal. Tentus aja dia paham lebih baik dari Lyu. Lantas dia sampai-sampai mengkhianati keadilan yang diujunjungnya demi melindungi Lyu.

“Dia bilang padaku untuk melupakan keadilan demi diriku sendiri …”

Pilar familianya telah berbalik melawan kebenarannya sendiri demi pengikutnya. Dia menanggung setengah balas dendam Lyu.

Namun itu belum semuanya.

Sang dewi yang yakin bahwa tatkala api balas dendam telah padam dan berubah menjadi abu, Lyu ‘kan bangkit lagi sebagaimana peri yang menyebarkan sayapnya saat dia bangkit dari kematian. Astrea percaya bahwa keadilan akan sekali lagi hidup di dada Lyu.

“Aku harus berterima kasih kepadamu atas semuanya.”

“Hah?”

Lyu pelan-pelan berbalik dari pegangan tangga dan menghadap Bell. Dia menyipitkan tatapan matanya ke mata membelalak Bell.

“Kau memberitahuku. Aku masih punya keadilan dalam diriku. Kau menunjukkanku ikatanku dengan Astrea yang masih tersisa … juga kau menunjukkanku apa yang tersisa dari familiaku.”

Bell membantunya tersadar.

Keadilan yang bertahan dalam dirinya masih menghubungkannya dengan Astrea dan sisa familianya.

Bell membantunya mengingat.

Kala kabut penyesalan hilang dari memorinya, Lyu mengingat suatu hari lima tahun lalu ketika mereka berpisah, dewinya menangis, dan tersenyum.

Begitulah bagaimana Lyu tahu dia tidak salah.

“Alize melindungiku. Syr menyelamatkanku … dan kau membuka mataku.”

Alize menuntunnya maju.

Syr menyelamatkannya di saat-saat dia hangua api balas dendam dan menunjukkannya masa depan yang ditinggalkan anggota-anggota familianya.

Dan Bell … dia memberikan Lyu kebenaran untuk melawan masa lalu yang tidak mampu dia lepaskan. Bell berdiri dan mendukungnya sepanjang waktu.

Semuanya sedang terjadi.

Orang-orang yang telah membantu Lyu adalah orang-orang yang Lyu ucapkan terima kasih atas hiduppnya. Dia tidak lagi mencoba menyembunyikan perasaan rasa syukur berlimpah dalam hatinya.

“Masih ada sesuatu yang belum aku kasih tahu kepadamu.”

Di bawah sinar matahari hangat serta langit biru cerah, dia berbalik menghadap Bell.

“Makasih, Bell.”

Lalu dia tersenyum.

“Dialah seorang manusia yang bisa aku hormati.”

Senyuman mekar layaknya bunga putih indah di bibir mungilnya.

Bell menatapnya sewaktu senyuman elf menarik perhatiannya.

Angin bertiup di sekitar mereka, menderai ujung gaun putih bersihnya dan mengacak-acak rambut putihnya. Senyuman menyebar ke wajahnya. Dia tersipu malu seketika kebaikan memenuhi matanya.

“Senyumanmu sekarang sangat indah,” kata Bell.

“Huh …?”

“Lebih indah dari sebelumnya. Jauh lebih indah dari sebelumnya.”

Bocah itu memikirkan kembali hari ketika Lyu berdiri di depan makam Astrea Familia, dikelilingi htaun dan kristal. Merenung, anak itu tersenyum selayaknya anak polos.

“Membuatku senang melihatmu tersenyum seperti itu.”

Kata-kata Bell semurni salju. Dia bahagia bagaikan perubahan Lyu adalah perubahannya sendiri.

Lyu merasa jantungnya melonjak selagi dia menatapnya. Wajah Lyu memanas. Dia menatap ke bawah, walaupun dia tidak yakin mengapa dirinya sendiri melakukannya.

“… Lyu, Nona Lyu …?”

Menyadari perilaku anehnya, Bell mendekat dan bicara gelisah ke telinganya.

Itu cukup membuat hatinya terperanjat lagi.

Aneh. Jantungku berdebar-debar. Apa yang terjadi?

Kebingungan oleh emosi sukar dikendalikannya dan gagal berpikir jernih, dia mengatakan kebenaran jujur.

“A-aku tidak bisa melihat wajahmu …”

“Hah? Kenapa?!”

“A-aku tidak tahu …”

Itu kebenaran jujur.

Mengapa pipinya memanas pas Lyu melihatnya?

Kenapa hatinya kacau?

Lyu tidak tahu kenapa dia tidak bisa melihat langsung mata merah muda itu.

“B-Bell! Sampai nanti!”

Tidak sanggup lebih lama lagi menahannya, Lyu berlari.

Ditinggal kaget, Bell segera pergi pula.

Gawat.

Biarpun dia terus berlari, menekan tangannya ke kedua dada seperti gadis lugu, dia tidak mampu menyembunyikan kegembiraan yang bergemuruh jauh dalam hatinya.

“Apa-apaan …?!”

Lyu tak sadar.

Kapan bibirnya mulai menyebut namanya?

Kapan kulit putihnya mulai memerah begitu?

Perasaan yang berkembang dalam hatinya ini apa?

“Oh, Alize, aku harus apa …?!”

Wajahnya merah padam, dia berlari mengikuti angin melewati kota sibuk, meminta nasihat ke teman tersayangnya.

Jangan lepaskan dia!

Dari luar langit biru, Lyu kira mendengar suara cerah seorang gadis tersenyum yang percaya diri menjawabnya.

Catatan Kaki:

  1. Risotto adalah hidangan nasi campur khas Italia Utara, yaitu beras yang dimasak dengan kaldu sehingga lengket menyerupai krim. Kaldu yang digunakan dapat berasal dari daging, ikan, atau sayuran. Banyak jenis risotto mengandung mentega, keju, anggur, dan bawang. Risotto adalah cara paling lazim memasak nasi di Italia.

20 Replies to “DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 14 EPILOG”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *