DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 14 BAB SPESIAL

Posted on

Ingatan Keadilan

Penerjemah: DarkNier

“Tarik kembali kata-katamu, Kaguya!”

Hari di masa lalu, dan Lyu berteriak emosional.

Dia dan sesama anggota Astrea Familia berada dalam ruangan Stardust Garden, kediaman mereka di Orario, bertengkar.

“Dan kenapa, tepatnya, aku mesti menarik kembali perkataanku?”

Gadis cantik yang balas tersenyum ceria padanya punya rambut hitam mulus yang panjang. Pakaian bergaya kepulauannya serta jepit rambut cantik mengesankan asalnya dari Timur Jauh, sementara kata-kata anggun dan berbudinya menandakan gadis rumahan kelahiran bangsawan. Masih tersenyum, dia memiringkan kepalanya penuh pertanyaan terhadap desakan nafsu Lyu, seakan-akan bilang, Kenapa ribut-ribut?

“Katamu minoritas harus diabaikan demi persoalan utama? Apakah itu keadilan yang diinginkan Lady Astrea?! Apa bagusnya kedamaian dengan harga pengorbanan itu?”

Kala itu Lyu lebih muda, kata-katanya diwarnai karakter tulus ras elf. Selagi Kaguya mendengarkan, dia menurunkan alis melengkungnya, lalu menyipitkan mata bagaikan rubah.

“Idiot! Kau ini dungunya sampai mengherankanku!”

“Apa …!!”

“Kenapa … pikirmu … orang-orang memanggilmu elf kecil tidak berguna?!”

 Kaguya mendengus, sikap sopannya sesaat lalu lenyap bagaikan asap.

Lyu mau meledak murka sebab cara bicara sangat pelan gadis di depannya, ibaratnya dia anak tolol.

Gojouno Kaguya.

Dia seorang petualang Level 4 juga wakil kapten Astrea Familia.

Ilmu pedang dan keterampilannya dalam pertarungan tangan kosong jauh melampaui anggota familia lainnya. Dia dan Lyu terus-menerus bersaing satu sama lain mencari tahu siapa bisa lebih cepat berkembang.

Biarpun dia tidak suka membicarakan latar belakangnya, dia rumornya memang tumbuh dalam keluarga bangsawan di Timur Jauh. Rambut panjang nan halusnya sampai pinggang dan rambut di dahinya dipotong lurus kemudian diponi. Sembari mengenakan kimono dan tersenyum, dialah gambaran sejati seorang wanita Timur Jauh.

Akan tetapi, begitu membuka mulut, ilusinya hancur.

Dia punya mulut terkenal kotor dan tidak pandang bulu.

Lyu merasa pengen pingsan malu ketika Kaguya melipat kakinya agar semua orang bisa melihat pakaian atasnya atau berjalan-jalan memakai daleman saja meskipun banyak laki-laki. Dia persis seperti Cyclops dari Hephaestus Familia yang membuat Lyu bertanya-tanya apakah hanya wanita macam ini yang diproduksi Timur Jauh.

“Aku mengagumi Lady Astrea. Seandainya dia tak membuat kesan sangat mendalam kepadaku, aku takkan berada di familia ini. Hormatiku paling tinggi kepadanya.”

“Nah, kalau begitu …!”

“Tapi tidak ada hubungannya sama penerapan konsep adil dalam kehidupan nyata,” ucap Kaguya, memotong upaya protes Lyu.

“Apa lebih gampang untuk kau mengerti misal aku katakan seperti ini? Jangan kira kita cukup kuat buat menyelamatkan seluruh dunia.”

Sorot matanya tajam dan nadanya dingin.

“Leon, kau ini petarung kuat. Cukup kuat sampai-sampai aku menganggapmu rival layakku. Namun kau ini masih anggota paling naif familia ini.”

“Ha …!!”

Lyu menerjang Kaguya, alisnya terangkat tak percaya terhadap penghinaan mendadak.

“Aku tidak mencari ribut denganmu karena kau ini seorang elf. Aku bilang kau punya semangat juang paling kuat di antara kami semua. Tapi andai kau benar, maka kenapa adik perempuan Shakti, Adi, mati?”

Tangan yang menggapai Kaguya, membeku.

“Dia mati di depan mata kita, bukan? Dia dibunuh bom bunuh diri tak masuk akal Evilus.”

Masa-masa gelap Kota Labirin.

Rudra Familia juga pasukan jahat lainnya telah aktif di Orario, menghadirkan kehancuran dan penderitaan.

Kekacauan dan kebingungan berseliweran di kota tanpa hukum selagi bandit-bandit itu mengamuk. Darah dan air mata warga tak berdaya telah mengalir tiada henti, dan mereka yang berkekuatan menghentikan sang kejahatan dipaksa berkorban.

“Lihatlah kota. Tangisan rakyatnya masih belum berhenti. Kita harus berkorban meskipun sudah sampai titik ini. Kok bisa kita menjeritkan keadilan yang tidak ada satu pun cacatnya?”

“…!”

“Kau pikir kita bisa menyelamatkan semua orang? Kurasa tidak, idiot.”

Kaguya mengelus dua belati di pinggangnya seraya meludahkan kata-kata terakhirnya. Namun dia tidak marah ataupun putus asa. Malah, dia dengan santainya menggambarkan kenyataan pahit mereka.

“Keadilan yang kau bicarakan tidak lebih dari idealisme sejalan. Ada kalanya setiap orang harus menentukan pilihan. Kau dan aku, termasuk.”

Dia membalikkan sorot hitamnya dari Lyu seolah-olah hilang minat.

“Kurasa kau perlu lebih belajar sedikit lagi tentang dunia nyata.”

Diakhiri kata-kata perpisahan mengejek itu, dia berpaling. Ditinggal sendirian …

Lyu hanya dapat mengepalkan tinjunya—tidak kesal kepada Kaguya, tapi marah pada dirinya sendiri gara-gara tidak sanggup membantah.

“Sepertinya kalian berdua ribut lagi.”

Suaranya melengahkan Lyu. Alize yang mengintip dari lorong seolah kebetulan lewat.

Lyu buang muka ketika rambut merah itu masuk ke dalam ruangan.

“Baguslah kalian berdua saling berbagi ide, tapi bisakah lain kali turunkan suara kalian sedikit? Selain aku, Lady Astrea menelinga. Kalian hanya akan menambah rasa sakitnya.”

“…”

“Tentu saja, dia barangkali cuma mendorongmu untuk membahas semuanya. Ngomong-ngomong, kedengarannya Kaguya menang lagi? Kau terlalu lurus. Jadinya gampang untuk mencari ribut dengnamu.”

Alize tersenyum sembari menggoda Lyu sedih, matanya terus menempel ke lantai selagi Alize bicara.

“Aku … tidak bisa teirma. Meskipun aku ini idiot dan Kaguya benar, aku hanya tidak dapat menerima gagasan membuat pengorbanan dari awal …. Tidak ada bedanya menyerah kepada Evilus. Sekalian saja kita akui ketidakberdayaan kita dan lupakan mengabdi untuk keadilan!”

Seraya bicara, emosinya meluap dan tidak bisa menahan teriakannya.

“Tolong tenanglah, Leon.”

Alize meremas kelingking Lyu.

Jari telunjuk dan ibu jarinya melilit jari kurus elf itu. Ketika Alize lakukan, perasaan Lyu anehnya jadi sangat jelas.

Itulah yang selalu terjadi.

Alize selalu mampu membuat Lyu merasa tenang bagaikan laut sunyi. Seakan-akan mata hijau gadis itu menyedotnya.

“… dengarkah yang Kaguya katakan?”

“Maksudmu soal harus menyerahkan sesuatu? Iya, aku dengar—kenapa?”

“Menurutmu bagaimana? Setujuhkah dengannya kalau harus membuat pengorbanan?”

Tanpa sadar, dia menanyakan pendapat Alize. Alize menjawab tanpa jeda atau ragu-ragu, membusungkan dada sempitnya dengan bangga.

“Tentu saja lebih baik bila bisa menyelamatkan semua orang. Aku pikir kau yang benar!”

Lyu kaget. Alize senang hati mengonfirmasi resolusi Lyu sehabis mempertanyakan dirinya sendiri. Sementara Lyu berkedip kaget, Alize melanjutkan.

“Tapinya tak yakin kalau itu jawaban tepat.”

“Huh …?”

“Aku tidak berpikir semuanya akan berjalan lancar hanya dengan maju menuju idealismemu secara langsung.”

Bagaimanapun, ganjarannya besar dan bahkan lebih banyak lagi pengorbanan. Alize tidak menyangkal ucapan Lyu atau Kaguya; dia tak melihat hal-halnya dari perspektif pribadi, melainkan dari hukum alam.

“Aku dengar saat Kaguya masih di Timur Jauh, dia melalui banyak hal berat. Aku duga dia melihat hal-hal yang kau dan aku tidak mampu bayangkan.”

“… maksudmu perselisihan politik di Timur?”

“Dia mungkin ngomong kasar gara-gara pengalaman itu … boleh jadi dia mengatakan hal-hal buruk untuk melindungi yang sungguh penting baginya.”

Kapten familia melihat jauh ke dalam hati Kaguya.

“Aku rasa tidak ada jawaban benarnya. Hanya apa yang kita lakukan untuk memenuhi keinginan kita dan sekeras apa kita berjuang. Hanya ada hal yang sanggup kita tinggalkan di altar idealisme yang tidak mampu kita capai. Bahkan aku yang suci sempurna dan benar serta bijaksana, cuma bisa bilang begitu.”

Lyu tak yakin apakah bagian terakhirnya ditutur bercanda atau serius, tetapi Alize tersenyum seusai bicara.

“Tapi idealisme itu penting, bukan?”

Sebagaimana bunga murni nan anggun.

“Bisa jadi tidak lebih dari kata-kata cantik, tapi kita harus tetap memperjuangkannya, entah ditertawakan atau dihina kek gimanapun. Kalau tidak, maka kita akan menjadi makhluk lemah yang bersedia menerima hasil akhir apa pun.”

Mata Alize betulan serius saat menukasnya. Lyu bahkan mengingatnya sekarang.

“Kalau kita tidak mengejar idealisme kita, hal-hal yang kita peroleh melalui mara bahaya akan tidak berarti.”

Pikirku begitu.

Yakinku begitu.

Alize mengatakannya cukup jelas.

“Entahlah itu jawaban benar atau tidak. Tapi menyerah itu salah. Idealisme yang kau kejar dipenuhi kebahagiaan.”

“…”

“Karenanya bermakna untuk mengejarnya.”

Setiap kata-kata Alize sangat menyentuh hati Lyu.

“… bagaimana seandainya seseorang beneran memenuhi idealisme mereka?” tanya Lyu.

Alize tertawa seperti anak kecil.

“Tidak tahukah? Itulah orang-orang yang kita panggil pahlawan.”

7 Replies to “DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 14 BAB SPESIAL”

  1. min boleh kasih saran?
    klo buat chapter yg blom update tulisannya item aja jgn merah semua
    rada bingung saya dipencet pencet kok ga ada😅
    maaf klo ada salah kata🙏

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *