DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 14 BAB SPESIAL II

Posted on

Kenangan Keadilan

Penerjemah: 2E

“Idealisme dan kenyataan? Apaan, Leon? Apa Alize atau Kaguya menjejalkan pemikiran-pemikiran aneh ke kepalamu lagi?”

Gadis itu sedang duduk di kursi, terlihat jelas sedang mengayun-ayunkan kakinya dengan senang.

Beberapa hari berlalu sejak Lyu adu mulut sama Kaguya. Setelah merenungkannya sementara waktu sendirian, elf itu membahasnya bersama Lyra, sesama anggota familianya.

Prum itu yang tingginya kurang dari 120 sentimeter, sedang menyebar kumpulan instrumen aneh di atas meja. Dia sedang bongkar-pasang dan jari-jari gesitnya bekerja tanpa henti. Tanpa mengangkat kepalanya untuk menatap Lyu, dia nyengir konyol kepadanya.

“Daripada memasang ekspresi serius itu, kau harusnya mengangguk dan tersenyum saja. Misalkan kau lompat ke tempat tidur terus pura-pura mengerti, anehnya semua kecemasanmu benar-benar langsung hilang!”

“Ayolah, Lyra, aku sedang serius. Hanya karena Kaguya konfrontatif banget bukan berarti aku harus mengabaikan omongannya. Itu hanya akan mempersempit pandanganku sendiri. Kata-kata Alize beneran menancap ke diriku juga. Rasanya aku harus mendengar lebih banyak opini kalau ingin menyelesaikan soal ini …”

“Aduh, apa para elf sangat-sangat semenyebalkan ini …”

Lyra menepis sebal kegelisahan Lyu. Perkataan Lyu itu terlampau tak sinkron dengan mata lembut nan polosnya. Mengagetkannya, dia dua tahun lebih tua dari Lyu. Rambut pendeknya diwarnai buah persik (yang mana keren banget, menurut si prum itu sendiri), dan senyum licik terus dibuat bibirnya.

Sebagaimana yang ditunjukkan penampilan dan perilakunya, Lyra si prum cukup sinis.

“Lagian kenapa juga harus kau yang harus mendapatkan jawabannya? Jangankan jawaban yang dianggap benar orang lain.”

Sekilas, prum itu tampak tak cocok dengan elf yang deskripsinya adalah seorang bersanubari lurus total, namun kapanpun Lyu disusahkan sesuatu, dia cenderung mendatangi Alize dulu, terus Lyra. Opini Lyra senantiasa jujur dan berterus terang, dan kadang kala tidak terduga bagi Lyu. Dalam familia, kata-kata tajamnya selalu dihormati.

Biarpun Lyra di luarnya nampak tak serius tentang hidup, Lyu serius sering dikejutkan pemikiran perseptif hingga akar-akarnya Lyra akan sesuatu, dan tanpa sadar mendapati dirinya mengandalkan prum itu cukup sering.

“Anggap saja semuanya skeptis. Kaguya juga Alize anggap begitu saja.”

“Lyra, itu sedikit …”

“Kebenaran sepenuhnya berubah tergantung orangnya.”

“!”

“Ujung-ujungnya, kaulah yang memutuskan apa yang benar. Kaulah yang menciptakan kebenaranmu sendiri. Anggap semuanya meragukan, pikirkan segalanya, dan buat kebenaran sendiri yang memuaskanmu.”

Lyra biasanya tidak kedengaran bak peribahasa berjalan. Barangkali karena kali ini ahli pembohong itu betul-betul membicarakan kebenarannya sendiri.

“… kuharap kau selalu bicara seperti ini kepadaku.”

“Kau ngomong apa, Leon? Aku orang paling serius dan baik di sini!”

“Aku ingin kau mengatakan hal yang menurutmu benar dan pikirkan yang kau ajari di masa lalu sebelum kau bilang begitu …”

Memang benar.

Prum ini selalu mengajarkan Lyu hal-hal paling tak terhormat.

Keterampilan semacam melihat kebohongan itu bagus, tapi ada pula hal-hal perkara seni memeras untuk bernegoisasi, pelajaran intimidasi, dan paling tingginya, dia pun mengajari Lyu cara selalu menang dalam perjudian sekaligus cara curang.

Kalau kau mau menghajar orang-orang bajingan, kau harus paham cara berpikir mereka …. Kata-kata manis takkan berarti banyak dalam pertarungan demi keadilan …. Ajaran Lyra boleh saja masuk akal di baliknya, tetapi tentu saja tak sesuai familia keadilan.

Seusai lima tahun dalam familia, Lyu memperoleh lebih dari cukup pengetahuan tidak perlu.

“Aku sudah menjagamu pas kau masih elf kecil polos.”

“Kalau kau bandingkan aku denganmu, tidak bisa aku debatkan …”

Lyu tersenyum menggoda dan akhirnya menatap Lyu yang tengah berdiri di sebelahnya.

“Dengar, Leon. Pengetahuan adalah senjata. Informasi adalah tiket makan. Yang kuajarkan kepadamu bisa jadi tidak baik dan ngasal, tapi semuanya akan membantu suatu hari kelak. Ingat semuanya dan gunakan semuanya.”

Ingat semuanya dan gunakan semuanya.

Itu ungkapan favorit Lyra.

“Pake otakmu sampai darah keluar telingamu. Misal kau tak punya peralatan atau barang, kaislah keperluanmu dari Dungeon, dan kalau masih belum cukup, andalkan drop item. Buat barang pengganti sendiri. Sekalipun sesuatunya tidak berguna, barangkali akan sangat berguna sekiranya digabungkan hal lain.”

“Pake kepalamu, kan …?”

“Boleh jadi tidak gampang buatmu tapi pelajarilah seluk-beluk sifat alami manusia. Itu bukan hanya kunci bernegoisasi—itu luar biasa penting di Dungeon.”

Karakteristik monster, pembuatan senjata seadanya, keterampilan bertahan hidup, cara kerja anggota-anggota party-nya …. Hari itu, Lyra menyombongkan bahwa mengetahui semua ini dan menggunakannya dengan berhubungna, memungkinkan mendapatkan hal penting untuk sukses di Dungeon.

 Lyra bicaranya mengolok, tapi dia sangat seirus tentang menanam benih ini ke Lyu.

“Semua pengetahuan acak ini mungkin menjengkelkan dan memakan waktu untuk kau pelajari, tapi lebih baik daripada tidak tahu. Mungkin akan lama, namun kini kau harus mengubah pengetahuanmu menjadi kebijaksanaan.”

“Mengubah pengetahuan menjadi kebijaksanaan …?”

“Begitu kau bisa melakukannya, kau akan bisa membantu seseorang selain dirimu. Kau akan jadi elf yang kuatnya sinting yang semua orang hormati. Bahkan Kaguya takkan bisa memanggilmu amatir.”

Lyra sebagian bak anak bandel, sebagiannya lagi seorang kakak.

“… begitukah caramu menjadi sangat kuat?”

“Iya. Karena, seumpama tidak aku gunakan kepalaku, aku akan mati. Lagi pula aku ini prum.”

“…”

“Omong-omong, anggap saja ini skeptis juga. Ingat saja yang berguna untukmu.”

Prum kecil yang secara fisik lebih lemah dari Lyu, mengakhiri pembicaraan dengan mengangkat bahu kurusnya. Lyu tidak pernah melupakan satu pun kata yang dikatakannya hari itu.

“Tidak membuktikan apa-apa, tapi lihatlah aku. Inilah aku, seorang petualang Level Tiga dihormati, dan aku bisa sampai sini lewat cara licik dan memanipulasi mangsa gampangan sepertimu. Akulah bintang baru di antara para prum.”

“Rasanya kau barusan mengatakan sesuatu yang penting nian.”

“Takkan lama lagi Finn Deimne, pahlawan berkembang rasku, akan berlutut dengan proposal siap. Hehehe …”

“Seingatku, Pemberani akhir-akhir ini menghindarimu …”

Lyu mendesah selagi temannya yang bermimpi menikah bersama orang kaya, tertawa-tawa jahat.

Itu pun adalah kejadian zaman dulu.

Di antara memori terpenting yang terlintas di benak Lyu, ini lebih sentimental. Ucapan Lyra dan seluruh ajarannya tertanam dalam-dalam di hati Lyu.

Semua tutur rekan-rekannya, semua aset Astrea Familia, masih ada dalam diri Lyu.

Tetapi …

Lyu tidak yakin apakah dia benar-benar mewariskan tekad mereka.

Dia tidak tahu masih adakah dalam dirinya atau tidak setelah semua kehilangannya—setelah kehilangan keadilan.

3 Replies to “DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 14 BAB SPESIAL II”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *