DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 14 BAB 9

Posted on

Halo, Lantai Dalam

Penerjemah: Operator210

Lantai dalam? … apa di bawah sana menyeramkan.

Aku pernah sekali menanyakan itu.

Aku ingin mendengar jawabannya dari bunga yang jauh melampaui jangkauanku.

Pada gadis yang sangat aku hormati.

Bagaimana dunia nampak dari ketinggian yang dipijak seorang pendekar pedang wanita pengemban nama petualang kelas satu?

Seberbahaya apa tempat berdirinya idolaku selagi dirinya mengejar petualangannya?

Aku bertanya karena penasaran, atau barangkali karena mau lebih dekat lagi dengannya.

Ketika aku di sana, pertama kalinya aku merasa kalau monster … kalau Dungeon itu menakutkan.

Kami berada di atas dinding kota, dikelilingi langit biru.

Aku tidak bisa melihat isi bola mata emasnya.

Dia menjawabku dengan tatapan seorang petualang yang sudah mempertaruhkan nyawanya berkali-kali.

Bukan sesuatu yang kau pahami dengan mendengar serba-serbinya … tapi jika kau ke sana, kau akan mengerti.

Dia bicara sangat jelas.

Seandainya … suatu hari di masa depan, masa depan nan jauh kau bisa ke sana, maka …

Aku mencoba mengingat percakapan itu.

Hari itu dia mengatakan apa kepadaku?

Entah kenapa, aku tidak dapat mengingat kata-katanya.

ф

Telingaku mendengung.

Suara bak jeritan nyaring seorang anak yang baru saja terbangun dari mimpi buruk.

Jeritan akal, berteriak-teriak menyangkal realita.

Jeritan instingku menyerang kedalaman kepalaku.

“Lantai dalam …”

Fragmen-fragmen bisikan pikiran terurai dari bibirku lalu meleleh ke kegelapan.

Keheningan menembus telingaku.

Detak jantungku bergemuruh di seluruh tubuhku.

Labirin gelap nan samar memelukku.

Warna bak susu aneh tampaknya menempel di dinding, langit-langitnya terlampau tinggi sampai-sampai tidak bisa kulihat. Skala labirin kelewat besar hingga dianggap tidak nyata.

Aku berada di lantai 37.

Aku berada di jurang yang ditakuti semua petualang—lantai dalam Dungeon.

“…”

Leherku serasa membeku di tempat, jadi aku cuma menggerakkan mataku untuk melihat-lihat.

Aku tidak melihat monster di sekitar. Tiada suara atau tanda-tanda mereka pula.

Mataku menyipit ke cahaya redup, hampir tidak bisa melihat sekelilingku.

Lokasiku sekarang ini adalah ruangan amat besar. Jarak dari tengah ke ruangan aku berada, sampai dindingnya pasti kurang lebih empat ratus meter. Selain beberapa tempat tertentu seperti Dinding Besar Kesedihan di lantai tujuh belas dan pantry, aku belum pernah berada dalam ruangan Dungeon sebesar ini. Pendar yang menerangi dinding selemah cahaya lilin.

Tepat di sebelahku ada mayat ular besar.

Dia lambton, atau dikenal wormwell, yang sudah mati setelah kami potong keluar dari perutnya dan merangkak melewati mata air darah. Kejadiannya setelah menelan kami di lantai 27 kemudian menggali hingga ke bawah sini bersama kami dalam perutnya.

“…! … ah …”

Satu mata lebarku menatap mayat besar tersebut.

Mulutku membuka-tutup sendiri, terputus dari pikiran sadar.

Lidahku tersangkut, tidak mampu membentuk kata-kata.

Aku cuma bisa bersuara serak kering seakan-akan mencoba menarik napas namun gagal.

—ini tidak mungkin. Mustahil.

Wormwell normalnya muncul di lantai 37.

Apa dia membawa kembali kami ke sarangnya sendiri, tempat paling tidak mungkin?

Apa dia sungguhan menggali batu sejauh sepuluh lantai?

Apa naluri kangen rumahnya membawanya ke sini sembari terhuyung-huyung ke tepi kematian—ke lantai dalam sini?!

Ini aneh banget!

Konyol total!

Pertama kalinya terjadi!

Aku belum pernah mendengar sesuatu sekejam ini!

Ini gawat … beneran, beneran gawat …!!

Pikiranku terus berputar-putar dengan satu kata yang memprihatinkan nian.

Aku berkeringat dan tubuhku rasanya panas tidak wajar.

Guild menetapkan tempat ini sebagai Garis Akhir Sejati.

Tempat paling berbahaya di seluruh Dungeon. Aku pastinya belum siap terlibat di tahap ini—terutama tidak sendirian!

Terkhusus tidak dalam kondisiku sekarang ini …!

“Nona Lyu …!”

Aku memeriksa elf yang berbaring lemas di pelukanku.

Dia babak beluar dari ujung kepala sampai kaki sesudah ditelan wormwell dan terkena asam lambung beracun. Jubah panjangnya robek-robek dan pakaian tempurnya terbakar, mengekspos kulit putih penuhnya yang dirusak luka bakar tak terhitung. Kaki kanannya yang terbungkus jubah, bengkok ke arah aneh. Patah.

Seluruh kulitku sama-sama dibakar asam kaustik serupa. Kelopak mata kiriku meleleh dan menutup tidak mau bergerak, jadi tak bisa kubuka. Selagi terus melihat-lihat dengan satu mata belaka, aku sedikit mendekatkan Lyu untuk melindunginya—atau barangkali berpegang kepadanya.

Aku mencengkeram bahu kecilnya dengan jari gemetaranku yang tidak patuh lagi pada diriku.

 “Nona Lyu, Nona Lyu … Nona Lyu …!”

Selayaknya anak kecil yang menangis pada kakak perempuannya, aku memanggil namanya berkali-kali.

Aku tidak bisa berpikir. Kepalaku kosong.

Ini Abnormal paling buruk. Kami terlempar ke lantai 37. Kami berada dalam belas kasih kegelapan.

Sendirian, terisolasi, terpisah, sepenuhnya terputus. Aku sungguh tidak nyaman.

Dingin. Sendirian. Sedih. Sakit. Emosiku kacau.

Aku diam-diam berputar dalam panik membunuh.

Satu-satunya hal yang bisa kuperbuat adalah memohon pada satu-satunya rekan kenalanku, seorang elf, untuk bangun.

Ketika itulah terjadi.

Bruk, bruk.

Jatuh pecahan-pecahan batu.

“…”

Aku membeku seketika bagian-bagian kecil sesuatu jatuh ke kepalaku.

Aku mengintip ke atas seolah-olah tatapanku ditarik ke langit-langit.

Pecahan batunya masih berjatuhan dari kubah kegelapan yang menghalangi pandanganku ke langit-langit. Aku tidak tahu apa yang terjadi berdasarkan informasi visual terbatas itu.

Tetapi suaranya adalah persoalan lain.

Aku yakin mendengar suara.

Suara bagaikan sesuatu tengah melaju kencang menuju lantai ini.

Layaknya benda tertentu meluncur ke lubang yang kami lalui—

Sewaktu aku sadar akan kemungkinannya, darah di kepalaku mengering.

Bentuk teramat-amat besar itu terbesit kembali di benakku.

Cangkang yang mengusir sihir.

Cakar penghancur segalanya.

Serta mata merah murni berkilau bak darah segar.

Tidak mungkin—

Apa monster yang kami lawan di lantai 27 mengejar kami lewat lubang yang digali wormwell?

Untuk membunuh kami?!

Tubuhku gemetaran, tetapi dalam hatiku, aku tahu kebenarannya

Kata-kata terakhir seorang pria bernama Jura—perintah terakhir tanpa akhir penjinak itu—telah menuntun monsternya kepada kami.

Hatiku berdegup kencang sewaktu memikirkan kembali lingkaran merah batu yang diikat ke tubuh kolosalnya.

“Hiii … aaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhh …!”

Bahan bakar kecemasan dilempar ke pikiran kosongku.

Kabur, kabur!

Lari dari monster itu!

Hasrat satu-satunya itu cukup menggerakkan lagi pikiran dan tubuh membekuku.

Aku memaksakan energi masuk ke anggota tubuhku lalu berdiri, masih memopoh Lyu. Begitu kulakukan, tiba-tiba rasanya seseorang menyulut api ke tubuhku. Gerakan mendadakku menghidupkan kembali seluruh penderitaan yang mati sementara.

Luka terbukaku meneteskan darah ke lantai. Kulit terbakarku berteriak.

Paling parahnya adalah rasa sakit luar biasa di lengan kiriku.

Panas memancar dari lengan yang dibungkus Syal Goliath tatkala aku gunakan untuk memblokir cakar monster sepanjang pertepuran kami. Rasanya aku pengen muntah. Mataku berair dan kakiku gemetaran.

Semangatku di ambang pingsan.

Tapi, aku menggertak gigi dan melanjutkan dengan sepatu botku.

Aku melangkah maju.

Seiring langkah, aku menyingkirkan kelelahan dan rasa sakit untuk menggerakkan maju tubuhku.

Aku masih dapat bergerak.

Aku masih bisa lari.

Bahkan sekarang pun, masih bisa …!

Seketika pecahan batu terus berjatuhan dari atas, aku mengerahkan sedikit kekuatanku dan berangkat.

Memapah Lyu tidak sadarkan diri dengan bahuku, aku berlari cepat di sepanjang ruangan. Tetapi persis sebelum sampai celah yang mengarah ke lorong—brak!

Sesuatu melompat keluar dari lubang.

“!!”

Memancarkan cahaya biru keunguan, ia meluncur dari jauh di atas ke tanah.

Ruangannya bergetar dan bergemuruh.

Saat berbalik, aku melihat siluet berlengan satu bergoyang. Sendi lutut terbalik dan tubuh bertulang familier dilapisi cangkang biru keunguan mengkilap. Tingginya kira-kira tiga meter, sosok besarnya membuatku kepikiran frasa, Fosil dinosaurus mengenakan zirah. Ujung tangan kirinya terdapat cakar penghancur yang suka salah diartikan orang dengan taring.

Di sepanjang cahaya samar yang memisahkan kami, aku bisa melihat dua mata merah bersinar menakutkan.

Tidak salah lagi.

Monster penghancur pramungkas dari lantai 27.

“…”

Swung.

Ibaratnya menghentikan kami lewat tatapannya, monster itu memutar leher.

Bola merah bersinarnya bersilangan mataku.

“—oOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!”

“?!”

Sesaat dia meraung, aku balik badan kemudian menyelam ke lorong, meninggalkan ruangannya.

Aku mendengar hentakan-hentakan di belakangku, menimbulkan keributan mengerikan.

“Fuh …!”

Aku berlari tanpa tujuan ke jalan rumit labirin. Semisal dia mencapai kami, tamat sudah. Seumpama aku sampai jalan buntu, berakhirlah. Andai aku menemui monster lain, selesailah. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan dalam skenario terburuk ini adalah berdoa.

Aku mengubah arah berulang kali, belari ke bagian bercabang sambil berusaha mencoba membuat musuhku salah arah.

Tapi langkah kaki si monster tidak menjauh.

Malahan … semakin dekat!

Fuhh … fuhh … fuhh!”

Paru-paruku membara. Keringatnya tidak berhenti menetes. Tenggorokanku terbakar.

Karena membawa Lyu, aku lambat sekali sampai-sampai mau menangis. Aku nyaris tidak merasakan kakiku menjerit-jerit kesakitan. Di waktu yang sama, aku kabur dari monster sekuat tenaga.

Otakku tidak berfungsi benar.

Suara-suara pertanyaan muncul-hilang bagai gelembung di balik pikiranku.

Aku pernah memojokkan makhluk ini. Haruskah aku berbalik kemudian menghadapinya dan mengakhiri keresahanku? Apa gunanya melarikan diri sekarang?

Bukannya rencana buruk lari terus dari musuh yang akan dan takkan salah lagi mengejarku hingga ujung dunia?

Apa aku cuma mengulur waktu sebelum harus memutuskan?

Tetapi tidak, tidak berguna.

Tidak bisa kulakukan sekarang.

Saat ini, aku hanya mesti kabur!

Aku berani bertaruh. Andaikata aku melawan monster ini sekarang, antara Lyu atau aku yang mati.

Monsternya akan bertarung sekuat-kuatnya dan menimbang betapa tubuhku terbakar parah oleh racun wormwell, aku takkan mampu banyak melawan. Situasinya berbeda penuh dari pertarungan di lantai 27.

Aku betul-betul tidak boleh melawan monster itu sekarang!

Bertekad melarikan diri, aku mengepalkan tangan kiri dan tanpa sadar mulai membunyikan lonceng.

“!!”

Sesudah berputar beberapa kali dalam labirin, monsternya berhasil menutup jarak antara kami sampai-sampai aku bisa jelas melihatnya. Dia memantul ke semua arah lantai, dinding, dan langit-langit Dungeon secepat-cepatnya. Terlepas pertarungan kami yang mestinya mengakibatkan keadaan buruk, insting monster ini pasti mendesak untuk membunuh mangsanya segala cara.

Mata merah berkilau menembus punggungku. Aku dapat mendengar cakar penghancur membuat suara-suara goresan.

Merasakan ancaman haus darah yang kian membesar menerpaku sudah sampai titik kritis, aku berputar di tengah jalan dan mengulurkan tangan kiri.

Lonceng.

Dan partikel cahaya merembes dari Syal Goliath yang menyelimuti tangan kiriku selagi mengisi daya.

Ketakutan memenuhi mata merahnya dan berteriak murka.

Aku mengisi daya dua puluh detik.

Wajahku berubah seraya berteriak.

Firebolt!!

Api listrik besar meluncur maju tanpa henti.

Dalam ruangan jalan tertutup, aliran keruh nyala api menghancurkan dinding serta langit-langit seiring lajunya.

Dari sudut mata, aku melihat sang monster melenturkan kaki kiri terbaliknya dan menyingkir ke jalan pinggir pas sebelum api menelannya.

Sedetik kemudian, firebolt meledak hebat di lorong. Sebab aku tak sanggup sepenuhnya menyerap gaya dorong tembakan, tembakannya naik agak miring ke langit-langit. Jalannya hancur.

“Uwah!”

Aku terhempas mundur oleh angin dan debu dari ledakan tembakanku. Sewaktu kami mundur, batuan dasar di atas mulai bergemuruh dan jatuh, ibaratnya seluruh terowongan hendak runtuh. Bunyi batu berjatuhan menggema di lantai.

Akhirnya … berhenti.

Setelah berguling di lantai dan mendarat telungkup, aku akhirnya sukses melihat ke atas. Seketika debunya pudar, aku sadar jalan luas telah benar-benar diblokir batu-batu seputih susu. Kami tidak bisa kembali ke jalan sebelumnya, namun tidak juga monster yang mengejar kami bisa masuk.

Apa kami … betulan melewati ini?

Huuhh, fyuuhh … aah …!”

Berlaku juga fakta kami tidak dihancurkan bebatuan jatuh.

Aku cukup yakin kami takkan lolos gampang dua kali.

Aku memberi diriku waktu satu detik untuk menenangkan napas megap-megapku, kemudian berusaha bangkit dari tanah dengan tangan gemetaran. Aku gagal beberapa kali.

Akibat keterampilan Argonaut-ku telah memakan habis kekuatan fisik dan mentalku. Aku lemas seperti mie. Buruknya, aku mau pengen pingsan.

Rasanya sakit, tidak enak. Aku menderita.

Sejenak, keinginan kuat untuk membiarkan kekuatanku pudar membasuhku.

Berbaring wajah menghadap ke tanah di tempat dan memejamkan mata.

Dikuasai keruntuhan mental penuh ini, aku terombang-ambing antara dua keinginan, tiba-tiba—

“Tuan … Cra … nell …?”

“!”

Aku tersentak mendengar gumam itu.

Saat mengalihkan pandangan ke Lyu yang terbaring di tanah, aku melihat matanya terbuka sedikit. Iris langit biru kabur mengintip sekeliling hingga mendapatiku.

“Nona Lyu …!”

Instan aku tendang jauh keinginan yang membujuk manis untuk menyerah. Aku mampu menendangnya.

Aku tidak boleh membiarkan siapa pun mati. Aku tak ingin membiarkan seorang pun mati.

Seperti yang kurasakan pada Wiene, tetapi kali ini perasaannya kepada semua orang.

Lagipula, aku berjanji akan menjadi lebih kuat demi alasan persis itu …!

Aku mengutuk diriku sendiri gara-gara membiarkan rengekan dan keluhan mengendalikanku sebentar. Menggigit bibir dan kali ini bangun betul-betul.

Aku menyeret diriku menghampiri Lyu dan berlutut di tanah.

Aku mengangkat tubuh serba lukanya dalam pelukanku.

“… tempat ini apa?”

“Ini … lantai 37 … lantai dalam.”

Aku tidak dapat menyembunyikan keputusasaanku ketika menjawab pertanyaan lemah Lyu. Kata-kataku terputus-putus, aku menjelaskannya sesederhana mungkin bahwa kami ditelan wormwell, dibawa ke lantai berbeda, dikejar monster sama yang kami lawan sebelumnya, dan sementara waktu telah lolos.

Matanya berkilau mengerti, barangkali sebab ingatan lantai 37 kembali lagi kepadanya.

Matanya menyipit padaku, jelas-jelas menebak seburuk apa situasi terkini kami sekarang.

Kemungkinan besar fisik luar biasanya sudah sirna sekarang, bersama semangat yang membuatku merinding.

Dia hanya menatap mukaku dengan satu mata hancurnya.

“Uuu …!”

“Nona Lyu?!”

Meringis, tangannya bergerak protektif ke tubuhnya.

Dia kelelahan dan terluka parah sepertiku. Andaikan aku pertimbangkan kaki patahnya, dia bahkan dalam kondisi lebih buruk dariku. Butiran-butiran keringat teramat besar menutupi kulitnya.

“Tolong sembuhkan dirimu! Gunakan sihirmu ke tubuhmu sendiri …!”

Aku tidak bawa barang apa-apa. Aku menghilangkannya sama sarung penyimpanan kaki di pertarungan melawan monster itu. Karenanya, aku meminta tolong Lyu untuk menggunakan sihir pemulihannya.

“…”

Boleh jadi dia masih grogi, sebab dia terus menatapku dengan mata separuh terbukanya. Akhirnya dia membuka bibirnya sangat lamban.

Kini aku menyanyikan … hutan nan jauh …. Melodi … kehidupan familier …”

Terbata-bata, laksana memeras kekuatan terakhirnya, dia tempelkan tangannya ke wajahku.

Noa … Heal.”

Tatapannya terkejut di mataku tidak sanggup menghentikan kejadian selanjutnya. Sinar hangat seperti belang-belangnya sinar matahari menembus melalui pucuk-pucuk pohon menyelimuti wajahku.

Aku berteriak kepadanya.

“Jangan!! Jangan aku! Tolong sembuhkan dirimu! Kalau tidak, kau akan …!”

Meskipun aku berteriak, luka-luka di wajahku menutup dan rasa sakit mereda dari mata tertutupku. Kekuatan penyembuhannya berpusat ke leherku lalu mengalir ke luka-luka serta kulit terbakarku. Tingkat energiku bahkan berkedip sedikit dari nol.

Setelah melihat mata kananku terbuka, Lyu menurunkan tangannya seperti boneka yang talinya dipotong.

“Kenapa kau menyembuhkanku?!

“… aku tidak bisa … tidak bisa bergerak sendiri … aku tidak berguna …”

“…!”

“Itu pun kekuatan mental terakhirku …”

Berjuang bernapas, Lyu menggerakkan tangannya ke kaki kanan patahnya.

“Jadi itu masuk akal … menyembuhkanmu, membiarkanmu hidup.”

“Itu sama sekali tidak masuk akal!”

Aku berteriak marah pada Lyu yang entah kenapa tersenyum walau situasi kami begini. Aku benci lemahnya senyum itu. Aku marah padanya yang berbuat baik di waktu-waktu ini. Aku tak mau mendengar kata-kata yang dirakit bibirnya.

Dia boleh jadi benar.

Kami terluka dari ujung kepala sampai kaki, lelahnya bukan main, dan benar-benar sendirian. Tidak ada kekuatan fisik maupun mental tersisa, dan tidak satu pun barang dimiliki. Kami menghadapi pemusnahan.

Kegelapan yang memanggil kematian siap menelan kami.

Demi menyelamatkan hidupku, dia akan melepaskan hal lain.

“Tuan Cranell … tinggalkan aku …”

Tapi saat dia mengucapkan kata-kata pasti itu, kami mendengar sesuatu.

Klak klak klak klak.

Suara bergema mendatangi kami.

Suaranya kering, semacam boneka rusak yang tiba-tiba tertawa.

“””

Suaranya jelas tidak normal.

Bukan suara manusia, tetapi bukan suara Dungeon juga.

Mataku tertarik ke kegelapan di luar pendar, di arah berlawanan dari gua.

Sesuatu di sana.

Sesuatu gentayangan dalam kegelapan.

Setetes keringat jatuh dari daguku ke wajah tegang Lyu.

Sesaat setelahnya, sesuatu yang membuat suara itu muncul diam-diam.

“Apa—?”

Begitu aku melihatnya, aku mempertanyakan mataku kembali.

Topeng putih mengambang di kegelapan.

Ada dua tanduk bengkok serta dua lubang hitam mengambang.

Kelihatan seperti—

Malaikat maut …?

Aku memikirkan pembawa pesan kematian dari dongeng khayal—kerangka yang mengenakan jubah hitam juga membawa sabit.

Kematian mendatangi kami yang sedang menderita. Setidaknya, sedetik itu aku memfantasikannya.

Tetapi muncul suara itu lagi—klak klak klak.

Topengnya memantul naik-turun seolah berkokok.

Mirip monster yang bergembira menemukan mangsanya.

“…”

Aku menelan ludah.

Aku salah.

Itu bukan topeng.

Itu tengkorak.

Itu bukan malaikat maut.

Itu monster.

“?!”

Aku meraih gagang pisau di pinggulku lalu menariknya.

Melindungi Lyu yang tidak bisa bergerak sendirian, aku berdiri dan menghunus Pisau Ilahi.

Monster itu mengkelak topengnya seakan tengah menertawakanku.

ф

Pertemuan pertamaku memang perlu dicatat.

Pertarungan debutku di lantai dalam—dan kemungkinan pertarungan terakhirku—adalah melawan seekor sheep.

Skull sheep lebih tepatnya.

Monster menyerupai domba berukuran menengah yang muncul di zona dalam, tingginya sekitar 140 sentimeter. Dua wajahnya masing-masing punya dua rongga mata kosong serta bagian tubuh lainnya terdiri dari tulang, sesuai namanya.

Skull sheep adalah bagian famili monster kerangka lebih besar lagi. Walaupun mereka tidak punya daging, kulit, ataupun organ, jumlah besar monster tak biasa ini berkeliaran di sekitar lantai 37.

Contoh tipikalnya adalah para spartoi. Munculnya petarung kerangka-kerangka tersebut sangat mengejutkan sampai-sampai petualang kelas bawah yang tidak sampai lantai menengah mengetahui mereka.

Mungkin juga sekalian aku sebut labirin seputih susu ini adalah sarang mayat hidup.

“…?!”

Selagi mengeruk fakta yang aku pelajari dari Eina sebelum berangkat ekspedisi, aku melihat monster yang melanggar hukum biologi. Tengkorak-tengkoraknya terlihat melayang di jalan gelap di hadapanku. Perkara bagian bawahnya, entahlah. Karena tulang lainnya dilapisi kulit.

Skull sheep berbeda dari monster kerangka lain sebab kulit lebar nan panjangnya sampai ke kaki, lantas hanya kuku bak tulangnya yang kelihatan. Kulitnya jauh dari kata bersih yang kau kenal. Hitam dan robek sana-sini bak mengenakan jubah tua yang compang-camping. Wajar aku salah mengira makhluk ini dengan malaikat maut.

Selihatku, hanya satu tengkorak yang mengambang dalam kegelapan.

“…”

Monster itu mengarahkan soket kosongnya ke arahku. Sesekali mengguncang tengkoraknya, mengirim melodi klak-klak aneh ke sepanjang ruangan dalam Dungeon.

Aku dilumpuhkan ketegangan, tidak mampu memutuskan apakah mesti menunggunya beraksi atau aku menyerang dahulu.

Tiba-tiba, suara menakutkan itu berhenti.

Tengkoraknya mendekat hingga berada tepat di depan mataku.

“?!”

Tidak lama sesudah mendengar suara kaki menghentak tanah dia tahu-tahu sudah di depanku.

Alasannya adalah kulitnya menutupi segalanya. Aku tidak bisa melihatnya mengais tanah atau bersiap bergerak, dan itulah kesalahanku. Aku terlalu bergantung kepada informasi visual, jadi melewatkan tanda-tanda pendekatan cepatnya.

Di bawah tanduk bengkok, rahangnya terbuka lebar. Aku tidak dapat membaca emosi apa-apa pada topeng tulang tersebut, tetapi taring tak terhitung jumlahnya mengerikan.

Melepaskan kebingunganku, aku buru-buru membungkuk ke samping.

“Uwah!”

Skeleton sheep melompati kepalaku yang menyentuh tanah. Serangan mendadaknya gagal, mendarat diikuti suara gemerincing. Aku melompat ke atas lalu menerjang maju untuk melindungi Lyu yang tengah berbaring di tanah.

Aku hendak bersiap ofensif, seketika—

“Apa … dia hilang?!”

Musuhku menghilang tanpa jejak.

Aku cuma bisa melihat sisa-sisa kabut timbunan batu, dan seterusnya, ada kegelapan pekat.

Apa-apaan …? Dia lenyap?!

“Salah … jubah skull sheep-nya …!”

 Dari posisinya di kakiku, Lyu mengerangkan nama drop item.

Aku melompat sedikit.

Dia benar. Kulit skull sheep tidak hanya menutupi tubuhnya. Namun juga membantu para sheep berbaur dalam kesamaran yang menyebar luas di lantai ini, sebagaimana pemburu manusia mengenakan pakaian kamuflase. Dengan kata lain, skull sheep mampu menyembunyikan diri mereka dalam kegelapan.

Awalnya mereka menakuti mangsa dengan suara tulang menyeramkan, kemudian diam-diam merayap terus melahapnya. Karenanya para petualang memanggil mereka death hermit!

Di mana, di mana … di mana datangnya dia?!

Aku memutar kepala ke depan-belakang. Aku cuma melihat kegelapan. Musuhku pastinya telah menutupi mukanya dengan tudung longgar, karena aku tidak dapat melihat apa-apa. Kebingunganku membuat pengawasan death hermit menjadi sempurna.

Detak jantung bergemuruhku mengganggu indra pendengaran yang aku andalkan, dan mencuri ketenanganku pula.

Sewaktu sampai puncak kecemasan, Lyu berbicara lagi.

“Kanan …!”

“!”

Aku mendengar suara jubah mengepak-ngepak dan tulang-tulang berrderit.

Aku mengelak tipis serangannya, tetapi itu awalan buruk.

Sheep itu menyerempet tangan kananku, dan angin yang dikirimkannya ke arahku mengikis luka bakar. Menurutku menggores, tetapi bagian besar daging di lenganku dirobek. Jubah monster itu berkibaran, skull sheep mengabaikan aku yang menganga ketika mendarat dengan empat kakinya.

“Aduhh …!”

Di saat aku melihat ke belakang, mencengkeram lengan bawahku …. Kalau saja tidak melakukannya.

Taring si monster membuat suara berdenting-denting selagi mengunyah. Sepotong daging tercuriku tergantung di rahang dan lehernya yang tercemar merah.

Tidak salah lagi aku merasa ngeri pada monster mengerikan ini—tidak, pada Dungeon itu sendiri.

“…!”

Skull sheep tidak sanggup menyembunyikan haus darahnya. Dia mengguncang tubuhnya beberapa kali, lalu menunduk hingga menyentuh tanah. Berjongkok rendah-rendah sampai-sampai mengira kukunya menancap kuat dari balik jubahnya.

Insting petualangku berkedip merah.

Detik berikutnya, muncul benjolan di kulit.

“Apa?!”

Benjolannya disebabkan tulang menonjol. Misil-misil dibidik ke mangsa menembus kulit yang menggendut dari dalam.

Tiga tombak tulang melaju ke arahku.

Itu jarum—bukan, itu sula!

Aku tidak bisa sepenuhnya menghindari serangan jarak jauh yang dilancarkan musuhku ini dengan memanjangkan sebagian kerangkanya. Tombak mencungkil daging dari atas bahu kananku serta ketiak kiriku.

“Aduh!”

Aku menghindar agar tidak ditusuk kek tusuk sate, tetapi masih terhuyung-huyung di saat skull sheep menyerbu maju dengan niat menghabisiku.

Mencabut tulang memanjangnya, dia mencakar tanah dan terbang ke arahku.

Taring tajam dan berlumuran darah tersebut hendak menggigit leherku!

“Hiyaaaaaah!”

“!”

Tepat sebelum dagingku dirobek, aku ulurkan tangan kiri. Dombanya malah terkunci di lengan kiri, menjatuhkanku. Punggungku terbanting menabrak tanah.

“Tuan Cranell!”

Teriakan Lyu membelit di tengah monster dan aku yang sama-sama terjerat juga.  Aku langsung tahu dia terkejut.

Taring-taring monster tidak menancap ke dagingku.

Aku sengaja membuatnya menggigit lengan kiriku.

Lengan berikat hitam membungkusnya.

Syal Goliath. Alat pelindung ini keras sekali sampai-sampai menahan cakar monster itu di lantai 27. Taring tajamnya mengkelak dari atas-bawah, tidak berhasil berusaha menghancurkan syalnya.

Pertama kali, aku merasakan emosi—kebingungan—dari skull sheep.

Mengerang sebab rasa sakit menetap di lengan kiriku, aku meronta-ronta keempat anggota badanku untuk melepaskan monsternya.

Aku berjuang keras beberapa detik ini ketika skull sheep merinding dan berhenti bergerak.

Terekspos perutnya di balik jubah. Pisau Ilahi kugenggam di tangan kananku telah menyalip tulang rusuknya dan … menghancurkan batu sihir berkilauan di badan kosong terbukanya sewaktu melayang.

Huhh … fyuhh … huhh …!

Dan itu satu pertarungan.

Aku sudah secapek ini.

Inilah … lantai dalam.

“…!”

Mustahil. Memuakkan. Aku tidak bisa melakukannya.

Misalkan bertemu monster lain dalam kondisi ini …

Mematuhi insting, aku menghampiri Lyu kemudian mengangkatnya.

Sekali lagi, aku topang dia dan berangkat.

Kami harus pergi jauh dari sini …!

Jika kami tidak buru-buru, monster lain yang tertarik oleh suara pertarungan akan segera tiba.

Misalkan salah satu saja melawanku, aku takkan bisa kabur. Seluruh energi yang kudapatkan dari sihir pemulihan Lyu hilang sudah. Kami harus kabur ke suatu tempat dan menghilangkan letih ini.

Aku berlari maju kepayahan.

Darah masih menetes dari luka-luka segar yang disebabkan skull sheep.

Aku sudah banyak pendarahan semenjak pertarungan kami. Semisal aku tak hati-hati, aku akan pusing. Kalau aku tidak naik ke Level 4 dan mendapat ketangguhan luar biasa ini, aku sudah jadi orang kacau tidak berguna.

Tetapi seiring langkah majuku, pikiran serta tubuhku kejamnya melemah.

Lengan kiriku membunuhku. Aku harap bisa memotongnya. Kata hancur membesit dalam kepalaku, ibarat meramalkan akhir mendatang.

 Tapi aku maju.

Demi bertahan hidup, aku maju.

Selayaknya boneka rusak, aku lanjut bergerak maju.

“… Tuan Cranell … berhenti …”

Lyu kedengarannya seakan tidak tahan lagi dibawa proses siksaanku.

“Turunkan aku sekarang dan pergilah sendiri.”

“!”

Dia bertingkah seperti halnya barang bawaan belaka.

Seolah-olah dia cuma memperlambatku.

Itulah gumam tak terucapnya.

Aku mengernyit sebisa mungkin.

“Gamau!”

“Tuan Cranell …”

“Aku takkan meninggalkanmu!”

Aku bersikeras macam anak keras kepala. Lyu balikkan tatapan pedihnya ke tanah.

Meninggalkannya bukan pilihan.

Bila kulakukan, aku bukan Bell Cranell lagi.

Aku takkan mampu menyelamatkan siapa pun lagi!

Aku meneriakkan kata-kata yang didikte amarahku:

“Pikirmu aku bisa bertahan sendirian di lantai dalam ini?!”

“…”

“Contohnya pertarungan barusan. Aku akan dalam masalah besar tanpamu!”

Darah mengalir ke kepalaku. Kata-katanya takkan berhenti biarpun monster barangkali mendengarku.

Tetapi di waktu yang sama, instingku rasanya tanpa sadar mengerti situasi. Untuk bertahan hidup, aku harus meyakinkannya kalau kehadirannya itu krusial. Lantas aku terus berteriak sekalipun menggunakan lebih banyak energi berhargaku.

“Aku memerlukanmu karena kau tahu tentang lantai dalam! Aku butuh pengalamanmu!”

Saat berteriak, aku menyadari sesuatu. Yang baru kukatakan itu masuk akal.

Benar, aku punya pengetahuan lantai dalam yang kuperoleh dari pembelajaran Eina. Namun ada jarak besar antara ilmu pengetahuan serta pengalaman.

Sekarang ini, jarak itu menentukan perbedaan hidup-mati. Pertarungan dengan skull sheep adalah buktinya.

Petualang manapun tahu betapa menakutkannya melihat lantai baru pertama kali. Aku tak punya kompas untuk membimbingku melewati lautan buruk lantai dalam.

Untuk bertahan hidup, aku harus punya lentera untuk menerangi jalan, seorang kapten untuk membimbingku maju.

“…!”

Mata Lyu terbuka lebar. Dia menutup rapat bibirnya dan tak menukas apa-apa.

Aku bertaruh dia sedang menimbang-nimbang pilihan—manfaat membebaskanku dari beban dirinya versus manfaat menjadi otak yang menuntun jalan majuku.

Setelah menghabiskan beberapa waktu dalam penderitaan mental, dia bicara lirih.

“… aku akan awasi monsernya. Kau fokus saja maju …”

“Nona Lyu …!”

“Sesuai perkataanmu … kayaknya aku masih berguna …”

Cahaya kembali ke mata biru langit yang sangat penuh pasrah. Bayangan kematian telah terangkat dari tubuh luka-lukanya.

Bibir kecilnya tersenyum ironis, ibarat bilang, Baiklah, keputusannya terburu-buru. Aku tidak tenang.

Demi aku, dia menyerah. Aku hanya bisa berteriak gembira.

“Tuan Cranell … tolong ke sebuah ruangan … buntu, sekecil mungkin …”

“Ruangan …?”

“Kita akan bersembunyi sebentar … misalkan kita rusak dindingnya … tidak ada monster baru akan dilahirkan … dan kita akan dapat beristrirahat …”

“…!”

Petualang kelas dua berpengalaman ini memberikan perintah tepatnya.

Sarannya mengejutkanku, tetapi dia benar. Bila mana kami bersembunyi dalam sebuah ruangan, kami akan terbebas dari baris maju ini yang kapan pun berisiko kematian.

Kami sekarang punya arah. Jalan maju telah terbuka.

Mengikuti perintah Lyu tanpa bertanya, aku mulai mencari jalan sempit.

… namun situasi kami sebetulnya masih belum lebih baik …!

Kami masih akan tersapu bersih jikalau sekawanan monster menemukan kami. Apabila satu saja teralhir dari dinding di depan kami ini, habis sudah.

Kelelahan ini tahan lama. Andai aku biarkan perhatianku goyah, ltutuku akan terjatuh.

Seandainya kami sampai di sebuah ruangan, berikutnya apa? Sekalipun kami beristrirahat, selanjutnya apa? Apa ada jalan kembali dari lantai dalam? Jalan kembali ke permukaan hidup-hidup?

Aku memunggungi bisikan-bisikan gelap yang memakan semangatku, menutup telinga kemudian mengerahkan seluruh energiku untuk kabur. Aku fokus bertindak berdasarkan kata-kata Lyu. Misalkan tidak, aku takkan mampu bergerak.

Wajahku disinari pendar samar, aku merasakan perjalananku di sepanjang dinding putih susu. Lyu meringis seakan-akan bahkan getaran bahuku menyakitinya. Napas kami bercampur, kami mengembara melalui Dungeon.

“…?”

Aku bertanya-tanya berapa lama waktu telah usai. Apakah hanya beberapa menit saja?

Tiba-tiba aku menyipitkan mata.

Ada sesuatu di depan kami di sebelah kiri.

Cahaya samar berkedip-kedip dari jalan sempit.

Mulanya, kukira monster pasti bergerak maju-mundur di depan sumber cahaya, menghalangi. Tetapi begitu aku sadar polanya regular, mataku membelalak terbuka.

Cahayanya … berkedip?

“Mustahil … apa itu lampu berbatu sihir””

Cahaya berkedip semacam itu tak sesuai dalam Dungeon.

Tetapi di permukaan sudah familier. Bisik tak yakinku berubah menjadi yakin.

Tidak salah lagi. Cahaya ini bukan pendar alami, cahayanya … buatan!

“Nona Lyu, itu lampu berbatu sihir! Ada orang di bawah sini, seorang petualang!”

“… iya, cahaya … itu …”

Lyu menanggapi teriakan mengingauku dengan bisik kaget darinya sendiri. Monster tidak membawa lampu! Pasti ada seorang manusia di depan!

Dengan sorakan mini, aku masuk ke jalan bercabang di sebelah kiriku. Melupakan rasa sakit yang menyiksa tubuhku. Langkahku punya pegas sekarang.

Para petualang telah diselamatkan dari ambang kehancuran oleh petualang lain terjadi lebih dari sekali.

Kebanyakannya, mereka akan bertarung bersama dalam keadaan darurat kendatipun tak akur di kehidupan biasa. Aku mendengar cerita-cerita moralitas tidak sah ini, dan kini aku salah satu dari mereka.

Beruntung banget!

Bayangkan bertemu petualang lain di tempat seperti ini!

Kalau mereka di lantai dalam bawah sini, party-nya pasti kelas atas. Mungkinkah Loki Familia? Ataukah Freya Familia? Itu bagus! Siapa pun juga bagus!

Sekarang kami akan diselamatkan! Kini kami terbebas!

Aku, dan Lyu pula!

“Halo! Halo! Tolong, selamatkan kami!!”

Aku mengumpulkan energiku dan berteriak ke lampu berkedip.

Kami berbelok ke sudut. Sedikit lagi. Kedipnya kian cerah.

Sebentar lagi. Aku bisa melihat pintu masuk ke ruangan. Itu tujuanku!

Ketegangan meninggalkan wajah. Kelegaannya tiada habis. Barangkali menyembunyikan kegembiraannya, Lyu tetap diam. Aku melihat manusia dari balik kedipan cahaya lalu tak ragu-ragu mengulurkan tangan.

“Tolong, selamatkan—!”

Aku masuk ke dalam ruangan itu sembari tersenyum.

Senyumnya bersuara kerakan.

Aku mendengar seseorang menelan ludah.

Terlambat, kusadari seseorang itu adalah Lyu.

Waktu terhenti.

“…”

Pastinya, ada orang di sini.

Orang-orang di sekitar lampu berbatu sihir yang berkedip-kedip di tengah ruangan.

Mereka tentu petualang. Aku tahu dari senjata dan alat pelindung mereka.

Tetapi tidak tahu ras mana. Entahlah usia atau wajah mereka juga. Karena, mereka tidak punya daging atau kulit.

Jari-jari kurus mereka seputih patung gips.

Rambut pirang mereka yang dulunya indah telah kusam.

Bau samar daging busuk menggantung di udara.

Inilah mayat-mayat para petualang, berubah menjadi tulang memutih.

Satu mayat bersandar ke dinding, rongga mata hitam pekatnya menatap kami.

Satunya mengenakan rok tempur panjang berkibar-kibar, tergeletak di tanah dengan rambut tergerai. Satunya lagi merosot dengan tangan menggenggam belati yang menusuk pakaian merah kering, ibarat petualang itu menikam bilahnya ke dada sendiri.

Pastinya, ada orang di sini.

Lebih tepatnya, ada sesuatu yang dulunya orang.

Di sinilah letak akhir tragis para petualang yang menyerah pada lantai dalam.

“… hah?”

Aku terhuyung-huyung ke dalam ruangan seolah ditarik maju.

Lampu berkedip hampir mati. Seakan sudah berbulan-bulan dileltakkan di sini. Ketiga kerangka bisu menceritakan sekadar kisah penghabis waktu.

 Tiada petualang yang menyelamatkan kami. Tentu saja tidak. Kok bisa dari awal aku mengira mereka akan menyelamatkan kami? Aku mengharapkan apa dari mayat-mayat yang tidak bisa menjawab panggilanku maupun bergerak membantu kami? Dikira mereka akan meraih tanganku dan berdansa? Pemikiran ini sungguh konyol sampai-sampai air mata mengalir di mataku.

Ekspresi Lyu tidak berubah. Mulutnya tetap tertutup rapat, ibarat separuh dirinya mengharapkan ini.

Mendadak, mataku bertatapan rongga kosong kerangka yang bersandar menempel di dinding.

Selamat datang! Bergabunglah bersama kami!

Telingaku menipu.

Inilah tujuan yang ingin kau capai.

“… ah.”

Anehnya, inilah yang kami cari-cari: ruangan satu pintu. Jalan buntu.

Aku merasa dunia tengah runtuh.

Aku tarik Lyu mendekat dan berlutut.

“Itu …”

Aku mendengar suara maut penghancur sukma.

Sedikit waktu berlalu semenjak memutuskan mencoba melewatinya bersama Lyu.

Seutas harapan digantung di depan mata kami, lalu ditarik kejam.

Jika ini perbuatan Dungeon, maka dia adalah penipu licik nan kotor.

Dia hancurkan tekadku dengan kesempurnaan tiada banding.

Tawa mengejeknya berdering di telingaku.

Inilah takdirmu juga.

Sebagaimana petualang-petualang ini, dikalahkan dan diabaikan takdir.

“Tuan Cranell …”

Lyu terdengar sedih.

Aku tidak kuasa merespon. Tidak tahu raut wajah mengerikan macam apa pastinya di mukaku. Laksana mengumumkan perannya telah berakhir, lampu berbatu sihir berkedip terakhir kalinya. Alat yang membawa kami ke sisi pemiliknya telah mengakhiri hidupnya.

Kegelapan menghampar ruangan.

Kesekian kalinya, gelapnya keputusasaan datang.

Selanjutnya—

Seolah-olah hendak menarik kami ke ambang kematian sesaat tenggelam dalam keputusasaan, bunyi-bunyi klak dimulai.

“…”

Sepintas rasanya sabit ditahan di leherku, aku beralih.

Dalam kegelapan dari balik pintu tunggal mengapung tiga skull sheep.

Monster itu telah mengikuti jejak kaki mangsa mereka.

Sekali lagi teror muncul di otak membekuku. Kegelapan telah membuka hati terpojokku.

Klak klak klak, klak klak klak.

Para malaikat maut ini memanggil kami dari balik kegelapan.

“… ah aw …”

Lyu meringis dan aku tarik dekat dia sedekat mungkin, menggigil ketakutan.

Topeng yang mengapung dalam kegelapan perlahan-lahan menghampiri.

“Menjauhlah …”

Aku memeras keluar gumam samar dari tenggorokanku. Suara penolakan, ketakutan, dan permohonan.

“Menjauh …”

Mereka tak kenal ampun. Mereka menghancurkan doa-doaku oleh tapak mereka.

Kawanan monster domba melangkah maju dari kegelapan.

Kewarasan telah putus.

“Menjauhlah!”

Begitu aku menyerah terhadap ledakan ketakutan dan berteriak, skull sheep itu menghentak tanah. Bersama energi ngeri, ketiga kerangka bersiap-siap menyerbu ke dalam ruangan.

Aku angkat tangan kananku dan dorong ke arah mereka.

Firebolt!!”

Aku memusatkan segenap kekuatan mentalku ke kata itu.

Dengan panik berusaha menghapus kematian yang membebani kami, aku menembak lima baut api listrik.

Dua tembakan meleset dan menabrak dinding labirin, sementara tiga lainnya meledak besar ke skull sheep.

“…?!”

Mereka menjerit pada serangan langsung Swift-Strike Magic.

Sesaat api listrik menembus jubah gelap mereka dan memecah tulang-tulangnya, para monster berguling-guling menderita di tanah. Lalu kabur, bak percik api menari-nari menakuti mereka.

“—ah.”

Di waktu yang sama, sedikit kekuatan terakhir terkuras dari tubuhku.

Kehabisan mana. Itulah yang terjadi semisal kau terus-menerus menggunakan sihir.

Kekuatan mental cadanganku akhirnya sampai titik terendah.

Walau berhasil tidak pingsan, aku benar-benar tidak mampu menggerakkan satu pun jari.

Tidak sanggup menikmati rasa lega karena telah mengusir ancaman mendadak, keputusasaan fatal menerpaku.

“Tuan Cranell …”

Seseorang memanggil.

Tapi siapa? Siapa di sebelahku?

Gawat.

Aku tidak bisa mendengar. Tidak bisa berpikir. Tidak bisa merasakan.

Mengapa aku di sini?

Apa yang harus kulakukan?

“Tuan Cranell …”

Aku mengembara dalam labirin. Labirin tanpa jalan keluar. Cabang tanpa ujung yang terkubur dalam kegelapan.

Aku tidak tahu mana depan-belakang. Kiri-kanan tidak lagi jelas. Aku tak tahu keberadaanku.

Sensasi di tangan-kakiku memudar.

Suara napas pendekku semakin jauh.

Garis pembatas kenyataan dan ilusi menghilang.

“Tuan Cranell—”

Kegelapan yang tidak dapat ditembus cahaya apa pun menghapus eksistensiku.

Kegelapan melenyapkan tubuh dan jiwaku.

Aku kehilangan kesadaran—

—plak!

Terdengar suara kering.

Perlu semenit barulah sadar suaranya dari pipiku sendiri.

“Tolong tenanglah.”

Denyut di pipi kananku mengembalikan rasa diriku dari kegelapan.

Aku melihat bingung ke atas.

Melihat sepasang mata biru langit.

Dia menatapku dengan tegas.

“… Nona … Lyu?”

Suara kembali. Sensasi kembali.

Realita kembali.

Namanya kembali dan aku memanggilnya.

Dia menampar pipiku. Kini dia mengangguk.

“Mungkin sulit, tapi dengarkan. Pertama-tama, kau harus tenang. Bernapas pelan.”

Aku merasakan kehangatan menyebar dari tangan yang diletakkan ke bahuku. Aku mengikuti instruksinya.

Tarik napas, hembuskan.

Sekali lagi.

Paru-paruku yang mengalami hiperventilasi, menjadi rileks.

Udara dingin mengalir ke dalam otakku dan menenangkannya.

Kabutnya berangsur-angsur menghilang.

“Tuan Cranell. Kau tidak perlu depresi lagi.”

Lyu diam-diam mengawasiku, memilih momen yang tepat untuk berbicara.

“Kita barangkali sudah berpapasan beberapa mayat sesama petualang, namun itu tak mengubah situasi kita sama sekali. Jadi tidak usah berduka.”

Mataku membelalak mendengar perkataannya.

Dari awal juga kami dalam situasi paling buruk—berada di kedalamannya kedalaman. Segalanya tidak membaik, tetapi tidak memburuk pula.

Malahan, kami menemukan ciri ruangan yang kami cari-cari. Kami membuat kemajuan. Lyu sangat jelas memberitahuku janganlah berputus asa.

… dan harus kuakui, dia benar.

Tetapi aku mempertanyakan kewarasannya, tepatnya kekuatan tekadnya.

Bisa-bisanya dia menghadapi mayat-mayat petualang dan masih setenang itu?

“Tuan Cranell, ambil lima menit.”

“Apa …?”

“Tolong tidurlah selama lima menit.”

Lyu memotong protes kagetku dan mengulurkan tangannya ke depan mata.

“S-sebentar, apa yang kau …?!”

“Aku akan menjagamu. Aku menyuruhmu tidur.”

“…?!”

“Luangkan lima menit waktu itu untuk memulihkan kekuatanmu sebanyak mungkin.”

Bicaranya terlampau jelas. Akhirnya aku terima perintahnya untuk beristrirahat.

Namun apa maksudnya lima menit?

“Di lantai dalam ini, terutama pada situasi kita … lima menit adalah batasnya.”

Lebih dari itu mustahil.

Sekarang ini, kami harus berwaspada terhadap monster. Beristrirahat lebih dari lima menit dilarang.

Aku menelan ludah pada finalnya suara Lyu.

Aku tahu yang dikatakannya itu sinting. Aku bisa pulih sebagaimana apa selama lima menit? Entah semanusia super apa para petualang setelah mereka naik level, dapatkah lima menit berarti?

Selagi berjuang menyuarakan keraguanku, Lyu menjawabnya.

“Memperkuat pemulihan di manapun dan kapanpun … inilah anugerah petualang.”

“!”

Aku tersentak.

Kata-katanya mengingatkanku akan ucapan yang diujar idolaku di puncak dinding kota.

Dalam Dungeon, kau harus bisa tidur di manapun, kapanpun.

Teramat-amat penting untuk memulihkan kekuatan fisikmu dengan cepat.

Lantas … keberanianku sebagai petualang tengah diuji sekarang.

Aku akui, masih setengah percaya nasihat itu hingga sekarang ini, namun kini aku tersadar … dia seratus persen benar. Percaya Aiz adalah hal tepat.

Meskipun begitu, kekagumanku kepadanya entah kenapa membuatku berimajinasi dia sekilas melirik bersalah dari samping. Ada apa?

“Untungnya, sihirmu merusak ruangan. Kemungkinannya tidak ada monster akan dilahirkan selama limat menit ke depan.”

Lyu melihat sekitar.

Firebolt yang kugunakan untuk menyingkirkan skull sheep mengakibatkan sejumlah kerusakan dekat gerbang masuk. Batu-batu besar bertumpuk di dekat pintu, membentuk barikade rendah dadakan. Itulah satu-satunya gerbang masuk atau keluar, lantas berasumsi Dungeon memprioritaskan perbaikan ketimbang melahirkan monster baru, adalah satu-satunya hal yang harus kami jaga.

“Bisakah memulihkan pikiran dan tubuhmu dalam waktu lima menit? Ini titik balik untukmu—tidak, untuk kita.”

Dari awal kami berada dalam situasi hidup-mati. Lima menit rasanya sebentar, tapi kalau tidak menumpuk istrirahat-istrirahat singkat ini, tidak mungkin kami akan kembali hidup-hidup.

Istrirahatnya cuma lima menit, tapi lima menit belaka.

Entah kau tafsirkan sebagai surga atau neraka adalah pertanyaan tentang sudut pandang.

Sudut pandang mana yang harus kuambil? Aku sejujurnya tak tahu. Yang kutahu adalah keputusasaan dan kesedihanku berkurang dari sebelumnya. Berkat Lyu aku bahkan dapat memikirkan ini sekarang. Setiap perkataannya berat sekali. Suara beraninya yang berdering di alam penderitaannya memberikanku keberanian. Memberikanku secercah harapan.

“…”

“…”

Masih berlutut, aku melihat mata Lyu dan mengangguk.

Aku harus memercayainya.

Dengan segenap energi terakhirku, aku menuju suatu tempat dekat dinding, menghindari mayat-mayat petualang di tengah jalannya. Dengan bunyi gedebuk, aku jatuh canggung ke tanah kemudian bersandar di dinding dingin.

“Kau tidur duluan. Nanti aku istrirahat setelahmu.”

“… oke.”

Memanfaatkan kebaikan perkataannya, aku siap-siap menutup mata. Aku hendak tidur di sebelah mayat sesama petualang.

Aku benar-benar tidak yakin bisa beristrirahat di tempat semacam ini atau tidak. Namun tepat sebelum memejamkan mata, tatapan biru Lyu menatapku.

“Tidur nyenyak …”

Bibir halusnya tersenyum tipis. Senyuman itu menenangkanku, dan aku bisa tertidur. Aku menyelinap keluar pelan dari dunia sadar.

ф

Lima menit … cukupkah?

Seketika Bell menutup matanya, senyum Lyu hilang. Keringat membasahi tubuhnya.

Lima menit.

Sebenarnya, itu jumlah waktu minimum istrirahat Bell. Menurut diagnosis Lyu, betul-betul paling minimum.

Benar, firebolt-nya telah merusak ruangan. Tetapi belum cukup luas. Belum sampai tingkat yang bisa dibilang aman. Normalnya Lyu akan menghancurkan dinding di empat arah, tetapi dengan kaki patahnya itu mustahil. Dia semata-mata tidak punya kekuatan.

Pertanyaannya adalah, dapatkah dia tinggal di ruangan lantai dalam selama lima menit tanpa diserang? Kemungkinannya kecil.

Melihat Dungeon mulai memperbaiki diri sendiri, Lyu menutup ketakutannya dalam-dalam ke hatinya.

Aku tidak boleh lebih mengkhawatirkannya lagi … tidak setelah perbuatannya untuk melindungiku. Kalau dia tak istrirahat, dia akan hancur …

Mengapa Lyu berbohong kepada Bell? Karena dia tak punya pilihan lain.

Dengan kekuatan mentalnya yang amat-amat lemah, Bell tidak bisa bergerak. Kekuatan fisiknya pun habis. Bell hampir kehilangan perasaan akan dirinya ketika kenyataan mengerikan membanjirinya.

Istrirahatlah—meskipun sangat sedikit—esensial bila ingin bertindak sesudahnya. Teganya dia menyuruhnya menghancurkan ruangan sebelum tidur?

Dia cuma punya satu pilihan: mempertaruhkan nyawa mereka di sini untuk beristrirahat.

Ini titik balik pertama …

Jika mereka berhasil mengatasi satu ini, berapa banyak lagi yang akan menunggu? Dia ingin tersenyum mengejek karena tak mampu menjawab pertanyaan itu, tetapi gagal.

Dia bahkan tidak punya mental atau ruang emosi untuk mengejek dirinya.

Selama lima menit berikutnya, Lyu harus bertarung sendirian.

Dengan tubuh bonyoknya, dia harus melindungi si bocah dan melawan labirin yang dihampar kegelapan.

Futaba adalah senjataku satu-satunya … aku bisa lempar dua pedang pendek itu, artinya bisa mengusir dua monster …. Setelahnya, mesti kuhentikan dengan tubuhku ….

Dia menarik kedua pedang pendek dari pinggulnya dan ditusukkan ke tanah di sampingnya. Dia ingin lempar sekarang ini ke monster menyerang yang muncul dari kegelapan di luar pintu masuk.

Gara-gara kakinya patah dan tidak mampu bergerak, dia berdoa agar tak perlu menggunakan senjata ini.

“Oooooo …”

Suatu tempat nan jauh dia mendengar raungan tempur. Bahunya merinding. Kendati tahu itu tak ada gunanya, dia menahan napas.

Melotot ke kegelapan seraya berdoa berkali-kali: Jangan datang. Jangan muncul.

Setiap kali dia bergerak sedikit kaki kanannya menjerit kesakitan dan bernapas kuat-kuat.

… apa aku serisau ini hanya karena tak berbincang dengan Tuan Cranell …?

Kegelapan kehitaman dari lantai dalam bahkan menggerogoti hati petualang ditakuti bernama Angin Badai.

Itulah yang membuat zona ini memberatkan nian. Kekurangan cahayanya tak bisa diukur dibanding lantai menengah. Kegelapan menyusup ke setiap sudut.

Dan kegelapan membuat orang-orang gelisahnya bukan kepalang. Kegelapan menghancurkan kepribadian serta mengganggu jalan pikiran. Semuanya benar saat terdesak—persis sebagaimana Bell dan Lyu. Juga melumpuhkan perasa waktu.

Berapa lama waktu terlewati?

Berapa lama yang harus dilaluinya?

Dia masih menanyakan jam internal yang dia kembangkan dalam ekspedisi. Dia menggigit bibir terhadap jawabannya. Lama. Lama sekali. Belum sampai tiga puluh detik dilalui.

Dia tahu matanya kosong.

Dia bahkan berjuang untuk mengontrol napas tak teraturnya agar tidak mengganggu istrirahat Bell.

Hening menakutkan yang berangsur-angsur menyebar ke seluruh ruangan membuatnya membayangkan hal-hal mengerikan.

Tidakkah retakan akan menyebar di sepanjang dinding yang dia sandari?

Bukannya monster akan menyuarakan teriakan baru lahirnya lalu memenggal kepalanya?

Bagaimana soal jalan di balik pintu itu? Bukannya sekawanan monster tengah dalam perjalanan ke bawah sini saat ini?

 Lyu mendekap sambil memukul mundur delusi.

“…”

Dia melihat pelan ke samping sehingga tidak perlu menghadap kegelapan, menghadap kenyataan. Bell tengah tertidur. Dagunya ditaruh ke dadanya, membuat Lyu tidak bisa melihat matanya. Dia kelihatan ibarat menarik napas terakhirnya. Tetapi tidak, dia hidup. Dia tentu hidup.

Bell patuh mengikuti instruksinya dan tidur singkat.

Bell hilang kendali atas dirinya … namun dalam situasi ini wajar.

Lyu tak menganggap Bell menyedihkan atau menggila. Sebaliknya, Bell baik sekali mempertahankan kesadarannya meski situasi mereka ekstrim. Dia pertama kalinya berada di lantai dalam, ditambah awal-awalnya sudah membuat putus asa. Mustahil menerobos situasi ini apalagi tanpa harapan. Terlebih, Bell kehabisan energi mental dan fisiknya. Kebulatan hati siapapun akan goyah di bawah situasi tersebut. Bahkan tidak mengejutkan seorang petualang biasa akan menggila dan bunuh diri.

Lyu melirik cepat kerangka dengan belati di dadanya.

“… dia betulan jadi lebih kuat …” bisik Lyu.

Lyu merasakan dorongan hati tuk menyentuh rambut putih berdarah dan berdebunya. Dia ingin menyisir lembut jari-jarinya ke dalamnya. Lyu tak dapat melakukannya.

Malah dia puji tulus dengan emosi dalam. Di satu waktu, hati nuraninya menyakitinya. Setelah Bell selesai istrirahat, Lyu harus memberinya perintah kejam dan memaksanya patuh.

Dia mesti menyuruhnya melakukan tindakan barbar.

Lyu harus melakukannya untuk menyelamatkannya.

Hanya kau seorang yang ‘kan diselamatkan …”

Petualang-petualang membusuklah yang satu-satunya mendengar bisikannya.

Bell salah.

Lyu tidak menolak kematian.

Dia memilih pengorbanan diri.

Dia akan mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan nyawa Bell.

Itulah tekad yang mendukung Lyu.

Kalau saja kami bisa lari dari lantai dalam … masih akan ada kesulitan, dia barangkali sanggup melewatinya sendirian …. Iya, sesuai pikiranku, kami harus mengincar lorong penghubung lantai 36 …

Lyu memikirkan Bell membutuhkan apa biar kembali hidup-hidup dari Dungeon ini.

Lantai bawah berbeda dari lantai dalam. Dia masih akan dalam posisi buruk karena tiada barang tersisa, tetapi paling tidak peluangnya selamat akan meningkat pesat.

Coba saja mereka mampu melarikan diri dari sarang iblis ini—

—kumohon, Alize dan semuanya. Aku tak peduli apa yang terjadi kepadaku. Aku akan mengikuti jejak kalian untuk membayar dosa-dosaku. Namun tolonglah, selamatkan anak itu …

Lyu menunduk sembari berdoa kepada rekan-rekan meninggalnya.

Hanya ketika membayangkan ingatannyalah dia mengekspos pribadi lemahnya yang juga eksis dalam diri kuat dan mulianya.

Dia menutup mata rapat-rapat bak gadis kecil lemah.

Saat melakukannya, raungan datang dari ambang pintu.

Kepalanya tersentak naik. Tiga topeng tulang melayang dalam remang-remang.

 Skull sheep baru. Pertapa yang berpesta dalam kematian telah muncul lagi.

Realita mengingatkannya bahwa bergantung kepada rekan-rekan tiadanya takkan berguna.

Lyu menggigit bibir dan meraih pedang pendek yang mencuat di tanah.

Tiga sekaligus—

Itu tidak mungkin. Dia tidak mampu menangani ketiganya. Salah satu akan masuk ke ruangan.

Sembari merintih, dia membidik skull sheep dan melempar pedangnya.

Salah satu tepat sasaran. Sedetik setelahnya pedang kedua menembus targetnya. Dua monster roboh ke tanah.

Tetapi itu saja yang terjadi.

Monster ketiga berlari mendatanginya dan hendak memasuki ruangan—kemudian bilah putih menusuk kepalanya.

“!!”

Pisau putih berkilauan dilempar ke skull sheep. Pelemparnya persis di samping Lyu.

Bell membuka mata dan melempar Hakugen.

Tulang tanpa nyawa itu kolaps dengan suara bergemerincing.

Seketika Lyu terheran-heran menyaksikan, Bell menurunkan tangan kanan yang melempar pisaunya.

“… Nona Lyu.”

Telinga kurusnya gemetar mendengar bisikan kata-katanya.

“Lima menit sudah habis.”

Arti kata-kata sederhananya tenggelam sehabis beberapa saat berlalu.

Rupanya tubuh Bell entah bagaimana tidak sadar melacak waktu tatkala dia tengah tidur. Dia tak salah lagi waspada terhadap lingkungan sekitarnya. Kemampuan untuk berjaga-jaga dalam tidurnya memang keterampilan seorang petualang, tetapi Lyu kaget melihat Bell menguasainya.

Ataukah barangkali gurunya melatihnya bidang ini.

“… maaf gagal menjalankan peranku dengan benar. Aku tidak berkonsentrasi.”

“Tidak, tak apa.”

Bell tersenyum canggung pada permintaan maaf lembut Lyu. Walaupun dia masih melihat tanda-tanda kelelahan di wajah Bell, dia terlihat sangat berbeda dari lima menit sebelumnya. Suaranya jauh lebih kuat pula.

Dia menduga kepalanya sudah bisa berpikir jernih. Lima menit tidak cukup untuk kekuatan mental atau fisiknya, namun demikian, tetap bermakna.

“Silahkan gentian dan tidur sekarang, Nona Lyu.”

“… baiklah, kalau kau ngotot.”

Mereka selamat dari lima menit ini. Beban berat terangkat dari Lyu.

Keletihan mendadak menguasainya. Kelopak matanya memberat seberat memimpin.

Dia juga sudah sampai batasnya.

“Tuan Cranell … tolong hancurkan dinding-dinding itu biar tidak ada monster dilahirkan.”

“Baiklah.”

Setelahnya, dia bersendar ke dinding. Kantuk dalam mengelilinginya bagaikan buaian. Dia tak melawan.

Pikirannya mengosong.

Leon, Leon.

Dia mendengar suara tak asing.

Dia mendengar suara familianya.

Dia jatuh ke dunia tidur bagaikan diundang mereka.

Ф

“—Leon, kau dengar?”

Lyu mendongak kaget.

Seorang gadis cantik berambut merah mulus dan bermata hijau sedang berdiri di depannya, alis terangkat.

“Berani banget melamum padahal kaptenmu lagi bicara denganmu!”

Gadis berambut merah tengah bicara cepat dan jarinya menunjuk.

Lyu menatapnya baik-baik hingga akhirnya membuka mulut.

“Maaf, Alize. Aku tidak fokus.”

Dia meminta maaf menyesal.

Dia tidak bertanya fakta si rambut merah sedang berdiri di depannya.

“Yah, selama kau menyadari perbuatanmu!” ucap gadis itu, tersenyum cerah.

Oh. Ini mimpi.

Lyu langsung tahu.

Bukti bahwa tubuhnya tak ingin melakukan yang diinginkannya.

Bibirnya mengujar kata-kata yang tak berhububungan dengan keinginannya, seakan-akan cuma menelusuri kembali kenangan lama.

Mimpi itu terulang kembali dari suatu hari lima tahun lalu.

Terjadi di tempat yang terlampau penting baginya, di waktu ketika familia yang kelewat dicintainya masih hidup.

“Kapan elf mulia kita jadi pengantuk seperti ini? Apalagi sambil berdiri juga … keterampilan itu jauh melampauiku!”

“… Kaguya, aku tidak mengantuk. Dan berhenti bicara begitu. Menyebalkan banget.”

“Berhenti menggodanya, Kaguya. Bahkan petulang terkuat pun tidak bisa tidak bertingkah seperti itu di waktu-waktu itu setiap bulannya. Lagian dia ini gadis!”

“Lyra, itu tidak sopan. Omong-omong … b-b-bukan waktu-waktu itu di bulan itu!”

Lyu tengah berbicara kepada seorang manusia berambut hitam dan seorang prum berambut buah persik. Ekspresinya masam dan suaranya meninggi. Misalkan Bell atau teman-temannya yang cuma mengenal Lyu hari ini melihat wajahnya kala itu, mereka pasti akan terkejut.

Dia masih muda, dan ekspresinya sangatlah rentan.

Dia hanya membiarkan teman-temannya melihat sisi muda tidak fleksibelnya.

Dia penuh dengan hal-hal yang hilang dari Lyu masa kini.

“Oh, jadi kau lagi mens, Leon! Maaf, aku tidak sadar. Tapi pas berada di Dungeon kau tidak boleh merengek kek gitu. Cobalah bertahan sebaik mungkin!”

“Jangan juga anggap serius dia, Alize!”

Lyu akhirnya murka ke Alize yang tidak hanya mengedipkan mata kurang ajar tetapi juga menunjuk ke udara lagi. Anggota perempuan familianya tertawa keras-keras sedangkan si elf betul-betul tersipu malu.

Astrea Familia.

Dipimpin Dewi Astrea, simbol familianya adalah pedang keadilan serta sepasang sayap.

Selama masa-masa kelam tatkala kejahatan menyebar di seantero Orario, Astrea Familia bertarung bersama Loki Familia juga Ganesha Familia untuk menjaga perdamaian kota. Kesebelas anggotanya adalah perempuan, dan seluruhnya bertekad keras, pemberani, dan para petarung heroik yang menginspirasi ketakutan. Petualang-petualang laki-laki kabur nyeker dari kelompok elit kecil ini.

“Baiklah, nona-nona, tenang. Mari bicarakan keadilan. Pertarungan melawan Evilus sudah mau klimaksnya. Waktunya membangkitkan kembali antusiasme pertarungan!”

Di antara semua anggota brilian, Alize Lovell paling bersinar. Dialah kapten dan teman Lyu, orang yang mengundangnya bergabung familianya.

Rambut yang diikat kuncir kuda sangat cocok dengan kepribadian cerianya, adalah warna matahari terbenam. Kelebihannya, kata-kata dan tindakannya jujur serta lugas; kekurangannya, blak-blakan dan tanpa pikir panjang. Pertama kalinya Lyu betemu dengannya, Alize songongnya mengganggu kepercayaan dirinya, sampai-sampai bilang: “Namamu Lyu? Susah manggilnya! Mulai dari sekarang aku panggil Leon!” karenanya semua orang di familianya selain dewi pelindung mereka, Astrea, memanggilnya begitu.

Namun Lyu menghormati Alize.

Dia senantiasa fokus pada masa depan, baik ke semua orang tanpa pilih-pilih, dan lebih jujur dari semua orang yang dikenalnya.

Sebenarnya, Alize adalah teman pertama Lyu.

“Kita semestinya membicarakan keadilan? Aku tak yakin harus bilang apa …”

“Definisi paling mudahnya adalah keadilan itu berbuat baik tanpa pamrih …”

“Tapi bukannya berbuat baik tanpa tujuan sama saja dengan berpuas diri?”

“Kalau kau punya tujuan, nanti hitung-hitungan. Itu jauh dari kata keadilan nyata.”

“Ujung-ujungnya, keadilan itu cuma dalih. Senjata kebetulan. Senjata digunakan untuk mencapai tujuan, atau bendera tanpa warna buat membenarkan kata-kata serta tindakan kasar.”

“Bentar, tarik itu. Pedang dan sayap keadilan yang kita abdi sama sekali tidak seperti itu.”

“Eh yah, inilah Lyu si ahli teori!”

Atas desakan Alize, semua anggota familia berkumpul dalam sebuah ruangan di kediaman mereka untuk berdiskusi. Debat penuh gairah itu mulai menciptakan ledakan suasana hati. Alize melihat-lihat sekeliling ruangan dan mengangguk murah hati.

“—baiklah, mari akhiri diskusi topik ini! Bahkan para dewata tidak bisa memberi jawaban sempurna atas pertanyaan ini, lantas tentu saja kita tidak bisa, seberusaha bagaimanapun kita! Iya itu mustahil!”

Alize persis serampangan dan tidak bertanggung jawab atas situasinya.

Anggota-anggota familianya melihat jengkel ketika dia mengakhiri topik yang dibawanya sendiri.

“Siapapun dapat terus-terusan mengocehkan keadilan. Alih-alih mencari keadilan nyata di antara konstelasi kemungkinan tiada habisnya, ayo hajar para penjahat yang beraksi di bawah bendera palsu keadilan!”

“!”

“Seketika kejahatan kepalsuan hilang, harmoni dan keteraturan akan lahir. Orang-orang akan bahagia banget! Aku yakin itulah artinya keadilan bagi kita sebagai anggota Astrea Familia!”

Sesekali, dia mengatakan hal-hal paling mengejutkan dengan sikap tidak peduli.

“Keadilan bukanlah sesuatu yang kita pikul. Melainkan sesuatu yang akan menghancurkan kita suatu hari kelak. Bukan sesuatu untuk dibanggakan. Itu kek mendorong niat buruk ke orang!”

“Alize …”

“Keadilan adalah sesuatu yang disembunyikan!”

Anggota-anggota familianya menatap Alize, tensi hilang dari bahu mereka, alis mereka terangkat ibarat bilang, Dia mulai lagi! seperti dewi pelindung mereka, Astrea, Alize lebih popular dan dipercaya daripada siapa pun di familia.

“Sekali lagi, kalian bersujud di hadapan kebijaksanaanku, aku paham! Hehehe, aku ini orang baik, bukan?”

Dia pun cenderung mengatakan hal-hal tidak perlu. Kali ini, pandangan kepada dirinya yang sedang menaruh tangan ke dada dan menutup kedua matanya dengan bangga adalah pandangan dingin.

Ah, aku rindu hari-hari itu!

Itulah pikiran dalam benak Lyu selagi menyaksikan adegan ini terjadi.

Segala yang dicarinya di sana.

Andai dia bisa kembali, dia akan kembali.

“Baiklah, ke topik utama! Aku dapat dari Guild bahwa aktivitas Evilus terdeteksi di lantai bawah.”

Begitu Lyu mendengar perkataan itu, isi kepalanya mendingin.

“Evilus … makudnya Rudra Familia?”

“Yak. Selama pertarungan mimpi buruk di lantai 27 tahun kemarin, familia pihak Guild menderita kerusakan parah, tapi Evilus bahkan lebih parah lagi. Kemungkinannya mereka cuma bisa beraksi di zona itu sekarang.”

“Strategi waktu itu serangan gencar, berkat Loki Familia memimpin serangan balik. Beneran sangat bergantung pada keberanian familia kita.”

Pikiran Lyu gemetar kala mengingat percakapan Alize dan teman-temannya.

Sehari sebelum terjadi.

Malam bencana.

Ketika itu, dia tidak tahu apa yang menunggu mereka.

Tetapi Lyu sekarang ini tahu segalanya.

“Kita orang-orang Astrea Familia akan menyurvei lantai bawah. Bagus misalkan menemukan sesuatu, lebih baik andai menghentikan rencana musuh, dan fantastis apabila kita mampu menangkap Rudra Familia.”

Tidak, tidak.

Jura dan anggota lain Rudra Familia sengaja menyebarkan informasi tersebut. Anggota-anggota Guild yang ada hubungan sama fraksi mereka membocorkannya.

Alhasil, Astrea Familia akan pergi ke Dungeon dan menghadapi bencananya.

“Bukankah kau mencium-cium jebakan? Kek nightmare di lantai 27 …”

“Meski begitu, satu-satunya pilihan kita adalah pergi. Kita akan pergi sehingga tragedi semacam itu tidak terjadi kedua kalinya.”

Alize menggeleng kepala seraya menanggapi perkataan rekan prum mereka.

Lyu menghormati tatapan langsungnya yang penuh keadilan membanggakan, namun kini mencerminkan takdir yang membuatnya begitu putus asa.

Alize, jangan!

Entah sekeras apa dia berteriak, perkataannya tak terdengar.

Entah seputus asa apa dia memanggil mereka dari dalam tubuh lumpuhnya, mimpinya berlanjut sesuai naskah ingatannya, menuntun Alize dan kawan-kawan ke keputusasaan.

“Kita akan pergi sehabis rapat. Siapkan barang-barang kalian.”

Jangan.

Berhenti, Kagura dan Lyra!

Kalian semua—kalian tidak boleh pergi!

Teriakannya sia-sia. Alize berbalik dan keluar ruangan.

Anggota familia lain mengikuti, dan mimpi Lyu pun mengikuti mereka.

Hanya kesadaran Lyu saat ini yang masih tersisa.

Tunggu.

Perlahan-lahan, rumah mereka menghilang dan dipenuhi cahaya putih.

Sisanya hanyalah punggung mereka berjalan menjauh darinya.

Mereka terus maju tanpa melihat ke belakang.

Di balik cahaya, ke tepi terjauh cahaya.

Mereka meninggalkan Lyu seperti lukisan dinding.

Tunggu.

Kagura, Lyra, Noin, Neze.

Asta, Lyana, Celty, Iska, Maryu.

Dia sia-sia memanggil nama mereka.

Semuanya berjalan semakin jauh.

Mereka hanya meninggalkan Lyu seorang.

Tanpa menyadari pperbuatannya, Lyu habis-habisan meraih-raih punggung gadis berambut merah.

Alize.

Dia bisa melihat sosoknya di balik cahaya, tetapi tak menoleh menghadapnya.

Ф

“Alize …”

Bisik lirih keluar dari bibirnya.

Aku terlanjur mendengar.

Kami berada dalam ruangan bersama mayat sesama petualang.

Sesuai instruksi Lyu, aku merusak dinding di keempat arah. Aku menusuk, merobek, dan mencungkilnya berulang-ulang kali dengan Pisau Ilahi. Ini pasti mencegah monster dilahirkan. Aku mengambil pedang pendek Lyu dan Hakugen juga.

Aku tidak sengaja mendengar bisikan kata itu sesudah menyelesaikan semuanya dan duduk di sampingnya.

Aku melihat wajahnya, mulutku tertutup rapat.

Dia kelihatan sedih saat bertemu orang ini dalam mimpinya.

“…”

Aku kembali mengalihkan mata ke pemandangan di depanku.

Aku mendengar dan merasakan sesuatu. Saat melihat jalan masuk, aku melihat topeng tulang.

Skull sheep kembali mengincar hidup kami. Atau barangkali sekawanan yang berkeliaran di sekitar sini.

Cuma satu … kalau begini …

“… misalkan dia datang kemari, aku akan melemparnya.”

Aku mengangkat lengan kananku dan mengulurnya.

Mengulurkan sedikit energi mental yang diberikan istrirahatku, aku mengkonsentrasikan kekuatan sihir ke tangan kanan.

Mana mungkin aku membiarkannya tahu aku lelah. Aku tetap duduk, tetapi tetap berusaha sebaik mungkin memasang rupa pria kuat.

Skull sheep melihatku dengan rongga mata berlubangnya selagi membidik tembakanku, kemudian hilang ke kegelapan ibarat mundur. Boleh jadi merasa terancam oleh sihirku.

Bila kami berada di lantai atas atau menengah, aku yakin monsternya akan menyerang maju tanpa berpikir. Aku mesti menghormati kecerdasan monster-monster lantai dalam sini. Mereka sukar sekali dilawan, tetapi tampaknya mereka juga ahli taktik.

Aku menghembus napas panjang dan balas menatap Lyu.

… kurasa belum pernah melihatnya selengah ini sebelumnya …

Matanya tertutup. Tubuhnya babak belur. Barangkali karena keadaan kami, wajah berdarah dan berdebunya punya kecantikan fana.

Dia nampak bagaikan elf terluka sedang tertidur di sebelah mata air diterangi cahaya bulan. Aku mesti menjaganya. Itulah sebabnya aku harus duduk sangat dekat.

Bahu hangatnya, dekat sekali sampai-sampai aku akan menabraknya jika bahkan bergerak sedikit saja … kelihatan manis bagiku.

Persetan sama keadaan, mau bagaimana lagi.

Bahu sempit ini telah lama berjuang.

Berdarah dan ditakuti, Angin Badai menjatuhkan dirinya ke badai pertempuran paling dahsyat.

“Alize …”

Dia membisikkan nama sama lagi. Dia memanggilnya seperti gadis kecil.

Tidak disangka petarung gagah nan garang juga bisa lemah.

Aku bahkan tak yakin mana Lyu sebenarnya.

Aku … cuma ingin melindunginya.

Aku melindungi gadis ini yang tidak pernah sengaja menunjukkan kelemahannya.

Rasanya keinginan itu mengembalikan kekuatanku.

“… Alize … tunggu …”

Lima menit habis.

Tapi aku akan membiarkannya istrirahat lebih lama.

Aku yakin akan baik-baik saja.

Aku membiarkannya tidur dan melanjutkan penjagaanku.

Aku membiarkannya tidur agar bisa berbincang sedikit lebih lama lagi bersama para penghuni mimpinya.

Ф

Tak lama kemudian, Lyu membuka matanya.

Elf tua gagah sama telah kembali. Aku tidak bilang apa-apa tentang apa yang kulihat.

Dia boleh jadi sedikit kurang lelah, sepertiku. Sejumlah warna telah kembali ke wajahnya.

Kini waktunya beraksi.

Kepada mereka yang mencari engkau, berikanlah belas penyembuhan … Noa Heal.”

Cahaya hangat mengalir dari tangan Lyu dan melingkari kaki kanannya.

Meski tidak bisa kubilang kakinya normal, kaki yang diikat gagang pisau seperti belat tentu sembuh. Dia menatap tidak puas.

Sekarang kekuatan mental kami kembali sedikit, kami sedang memanfaatkan cepat sihir pemulihan Lyu. Aku berhasil meyakinkannya menggunakannya kepada dirinya sendiri dengan menolak mentah-mentah membiarkannya menyembuhkanku. Paling tidak, dia harus menyembuhkan kaki patahnya. Kelewat capek memapahnya sambil lari. Itu yang kukatakan, dan akhirnya dia dengar.

Desakannya begitu lama mengutamakanku mengingatkanku betapa keras kepalanya dia. Ngomong-ngomong, bergerak cepat masih akan sulit, tapi setidaknya sekarang dia bisa bergerak sendiri.

“Pertama-tama kita akan memeriksa situasi.”

“Baiklah.”

Aku menatap mata Lyu. Kami berdua berlutut. Kami mengawasi jalan pintu masuk untuk mengawasi monster seraya berbicara lirih.

“Aku tak yakin kita di lantai 37 bagian mana. Kita berdua terluka dan lelah. Kita sedang dalam situasi sangat-sangat tanpa harapan.”

Dengan kata lain, entahlah apa yang mungkin terjadi. Aku mengangguk serius.

Jelas saja, tidak tahu di mana posisimu dalam Dungeon terbukti fatal. Pada dasarnya, berkelana tanpa tahu depan-belakang adalah jalan pintas menuju kematian.

Fakta kami beristrirahat tidak mengubah situasi mengerikan kami. Kami masih terlampau lemah untuk melawan monster-monster lantai dalam. Kalau bisa, aku mau mandi ramuan terus nyelem ke tempat tidur.

“Kita pun tidak punya banyak pengobatan pula. Kita cuma dapat merawat tubuh menyedihkan kita dengan sihirku.”

Kami barusan menggunakan sihir ke kakinya, jadi tidak bisa kami gunakan lagi sementara waktu. Yang mana mengingatkanku—aku tidak menyembuhkan lengan kiri hancurku. Sewaktu membicarakan antara menyembuhkan kakinya atau lenganku, dia merobek syal yang membungkus lenganku dan terkesiap.

Dari bahu bawah, layaknya daging dan tulang berantakan yang bahkan aku pun tidak ingin melihatnya.

Namun masih kuat kugerakkan. Artinya aku akan oke-oke saja.

Tentu saja, rasanya teramat-amat sakit sampai-sampai aku pengen mati, dan keringat menjijikkan ini tidak mau berhenti.

Begitu kami kembali ke permukaan, aku barangkali kudu cari lengan palsu.

… aku tak tersenyum.

“Kita pun kekurangan peralatan memadai. Terus terang saja, sama sekali tidak ada siap-siapnya mengeksplor lantai dalam. Dan kita pun kekurangan barnag.”

Aku menyentuh kantong compang-campingku yang keluar dari perut asam wormwell, sedangkan Lyu melanjutkan penilaian pesimisnya. Perkara senjata, kami punya Hakugen, Pisau Hestia, dan dua pedang pendek Lyu. Ditambah Syal Goliath, biarpun aku ragu itu bisa berfungsi lebih dari pelindung sekaligus pengganti perban lengan kiriku.

Perlengkapan pelindungku robek oleh cakaran monster itu setelahnya dilelehkan asam lambton. Nyaris tidak berbentuk lagi. Kami sungguh berperlengkapan buruk sampai membuatku pusing.

Lyu melanjutkan.

“Adapun bantuan luar … kita sebaiknya tidak mengandalkan itu. Sekalipun familiamu mampu mengikuti jejak kita, mustahil mereka bisa sampai lantai dalam.”

Kami melompat dari lantai 27 menuju lantai 37.

Keabnormalan semacam itu tidak disangka-sangka petualang manapun. Satu-satunya harapanku terletak pada Mari yang menyaksikan pertarungan kami. Namun kendatipun dia berhasil mengontak Lilly dan para petualang lain, berapa lama hingga party penyelamat sampai lantai dalam?

Sehari? Seminggu?

Perkara kemungkinan berpapasan petualang lain yang menjelajahi lantai dalam … sebaiknya juga kami lupakan. Ide terlampau optimis itu bukanlah harapan nyata—melainkan racun yang menghancurkan semangat kami.

Aku melirik para petualang yang berubah menjadi tulang memutih dan bertekad menetap seolah pasrah.

Kuharap Lilly dan yang lainnya baik-baik saja ….

Mendadak aku memikirkan teman-temanku. Dikarenakan mereka tinggal di lantai 25, mereka barangkali tidak ditarik ke pembantaian monster mengerikan itu.

Sementara waktu ini, aku menebang habis kecemasan yang tumbuh kian besar semakin aku memikirkan hal-hal. Seumpama kami tidak kembali hidup-hidup, aku takkan bisa memeriksa keamanan seorang pun.

“Berdasarkan situasi kita saat ini … opsi terbaik kita adalah menuju lorong penghubung lantai 36.”

Sesudah mengatur semua hal yang perlu kami resahkan, Lyu melanjutkan rencana maju kami.

“Maksudmu kabur dari lantai dalam? Tapi walaupun kita sampai ke sana …”

“Aku tahu. Keamanan kita tak terjamin. Kita dipaksa melalui lantai-lantai itu juga.”

Zona aman pertama di lantai dalam adalah lantai 39.

Jaraknya dua lantai dari sini.

Jelas semakin rendah posisimu dalam Dungeon, makin besar pula lantainya. Lantai 37 cukup besar untuk menampung seluruh Orario. Alih-alih turun dua lantai, akan lebih sedikit energi untuk kembali ke lantai bawah. Kami tidak boleh menggunakan pendekatan kerja keras untuk zona aman di lantai bawah, sebagaimana strategi upaya terakhir kala itu di lantai menengah. Mulanya, aksi itu bergantung kepada struktur labirin yang menyerupai saluran-saluran vertikal.

“Akan tetapi, kami akan punya peluang lebih baik untuk bertahan hidup ketimbang diam di lantai dalam. Di lantai bawah, ada buah beri serta buah-buahan yang halal kami makan …. Tanaman Dungeon. Pilihan jauh lebih baik mengenai makanan dan air.”

Masuk akal. Aku mengangguk untuk menunjukkan pemahamanku.

Sekurang-kurangnya, kami tidak usah mengkhawatirkan nutrisi. Ditambah lagi, para monster harusnya kurang galak dan jumlahnya lebih kecil. Dibandingkan lantai dalam, lantai bawah sebetulnya mudah.

“Dari sini, kekuatan mental kita adalah solusi kita. Tentu saja, kita sebisa mungkin tidak bertarung melawan monster, dan pokoknya gunakan sihir untuk melindungi diri kita sendiri.”

Walau kami menggunakan sihir pemulihan saat kekuatan mentalnya kembali, kami perlu menimbun energi dan menyimpan kemampuan kami. Menggunakan sihir atau keterampilan sembarangan itu dilarang.

Itu pun sekiranya lantai bawah membiarkan kami konservatif.

“Untuk sekarang, kita perlu mengumpulkan barang dan perlengkapan penting untuk bergerak menjelajahi lantai bawah.”

Kalau bisa air juga.

Demikian, Lyu mengakhiri pidaotnya.

Aku tak punya argumen. Karena, aku punya pilihan apa?

Nah, bagaimana caranya mendapatkan barang penting itu? Aku hendak menanyakannya namun menyadari sesuatu.

Seluruh ekspresi hilang dari wajah Lyu.

“Nona Lyu?”

Bibirnya terbuka-tutup.

Aku melihat keraguan dan konflik batin pada wajah dinginnya.

Dia kelihatan ragu-ragu sejenak sebelum bicara. Seperti hendak menyentuh hal tabu.

Dia mengalihkan mata birunya dari mataku.

“…?”

Dia melirik mayat-mayat tersebut.

Entah kenapa, firasatku tidak enak soal ini.

Entah kanapa, bulu kudukku berdiri.

Akhirnya, dia membuka mulut.

“Kita akan melucuti peralatan orang-orang mati.”

Kata-katanya menembus telingaku.

“… apaan?”

Aku tidak mengerti perkataannya barusan. Kata-katanya tidak masuk akal.

Selagi wajahku nampak bego, dia mengulang.

“… kita akan melucuti peralatan orang-orang mati terus menggunakannya.”

Suara lirihnya sepertinya berbicara kepadaku dan dirinya sendiri.

Tatkala memahami kata-katanya, aku berteriak protes.

“S-sebentar!! Maksudmu menjarah orang-orang mati …?!”

Penodaan orang mati.

Biasanya, ada aturan tak terucapkan di antara para petualang apabila ditemukan mayat, maka harus dibawa ke permukaan. Melanggar aturan itu untuk mencuri barang-barang dari mayat-mayat adalah barbarisme paling buruk.

Perampokan kuburan, memulung mayat-mayat, tindakan bandit … frasa-frasa menjijikkan berenang dalam kepalaku. Pada akhirnya aku berkeringat. Bola mataku terdiam tak natural. Lidahku langsung kering. Saat mencoba mengungkap perasaan tak terkatakan ini kepada Lyu, dia memotongku tanpa ampun.

“Mereka kalah oleh Dungeon, dan kita akan manfaatkan. Mereka para pendahulu kita yang sudah mati, dan kita akan memohon jalan keluar pada mereka …. Kita sedang tak dalam posisi memilih-milih metode.”

Kebulatan hati gelapnya bergema di sepanjang Dungeon.

Aku menelan ludah.

Dia serius tentang ini.

“… aku lucuti pakaian yang wanita. Kau yang pria.”

Dia berdiri.

Menyeret kaki kanannya, dia berjalan menghampiri wanita berok panjang yang berdesir-desir, berlutut, dan betul-betul meraba-rabanya.

“…?!”

Dia tanpa belas kasih merobek rok yang sudah terkoyak-koyak, memotong ikat pinggang dengan pisaunya, kmeudian mengobrak-abrik kantong merahnya. Ibarat kerangkanya sendiri berteriak, sepotong lengannya jatuh dari manset lengan baju, dan helai-helai rambut emas pirang berjatuhan ke lantai.

Tolong hentikan!

Aku tak inign melihatmu seperti itu!

Aku tidak menyuarakan teriakan dalam hatiku.

Mataku menyorot paras Lyu, mata membelalaknya bergerak-gerak tak tenang, dan itu menyadarkanku.

Mustahil dia tak ragu-ragu. Mana bisa dia tidak berusaha menghindari ini. Tidak, Lyu bahkan lebih merasa bersalah ketimbang aku. Dia muntah darah gaib.

Tidak ada tindakan lebih menjijikkan bagi elf baik dan terhormat selain penodaan orang mati. Dia menghancurkan harga dirinya dan memasang topeng kejam tuk mempermalukan orang mati.

Dia melakukannya untuk bertahan hidup. Dia melakukannya demi dirinya sendiri—atau demi diriku?

Untuk melakukan tugasnya sebagai pemimpin petualang?

Selagi melihat Lyu melucuti mayat-mayatnya, aku tidak sanggup menahan emosi kacauku. Menyipitkan mata dan mengepalkan tangan, seolah-olah aku mau menangis.

“!!”

Aku menegur kaki tidak bergunaku dan tiba-tiba bergegas menuju petualang-petualang yang berubah menjadi kerangka.

Mataku bertatapan rongga hitam mayat yang bersandar ke dinding. Sejenak aku menutupnya.

Tanganku bergerak ke baju zirahnya kemudian melepasnya tanpa ragu-ragu.

Itu cukup menggoyahkan dunia di depan mataku.

Napasku tak teratur. Kepalaku pusing. Kepalaku berputar-putar. Sesuatu hangat melonjak naik dari perutku menuju tenggorokan.

Tidak, jangan muntah. Ini situasi bertahan hidup. Berpisah dari cairan tubuh hanya akan mendekatkanku ke kematian. Tanganku menekan mulut dan memaksa cairan terbakar kembali ke bawah.

Pemandangan di hadapan mataku mengabur. Tidak, air mata pun tidak bagus. Aku tidak boleh menyisakan setetes air pun.

Karena itu. Karena itu. Karena itu aku mengatup gigi dan menodai orang-orang mati.

Maaf. Maafkan aku. Aku tidak boleh mati dulu. Selagi melucuti peralatan para petualang aku mengulang kata-kata penuh air mata berkali-kali dalam hatiku. Menyiagakan tangan dan seketika tersentak seolah disambar listrik sentuhan tulang putih-kurus tangan, lalu aku mencuri pedang serta alat pelindung.

Inilah artinya menjadi seorang petualang.

Ini pula.

Begitu dipaksa ke batas hidup-mati, kau mengais dari mayat.

Aku tahu pekerjaan ini tidak selalu manis. Kukira sudah paham. Tapi barangkali sebagian diriku masih naif.

Memperkuat tekadku sekarang ini … itu tidak masuk akal …

Tapi tetap saja—aku ingin hidup.

Aku berjanji untuk menebus nyawa mereka yang direnggut dengan merenggut nyawa itu sendiri.

Aku habis-habisan mengulang kata-kata tak nyaman ini kepada mayat-mayat tersebut, tetapi tulang tidak merespon apa pun.

Namun demikian, pedang yang kucuri dari mereka memberitahuku bahwa aku adalah seorang petualang, aku mesti mengatasi ini.

Kurang lebih, itulah yang dikatakan pancaran tajamnya dalam kegelapan.

Huhh, fyuhh …!”

Terengah-engah dengan kedua tangan menjejak tanah, aku mendongak.

Tersebar di hadapanku adalah benda-benda yang ditinggalkan para petualang—itu dia, peralatan serta barang-barang mereka.

Ada pedang panjang dengan bilah ditoreh, tongkat retak, beberapa belati, sepotong baju zirah samping, pena bulu sihir, sejumlah ramuan yang warnanya tak menarik, sepotong roti berjamur, dan beberapa benda-benda kecil lainnya. Ada banyak, tetapi ada satu barang khusus yang menarik perhatian kami.

“Peta lantai yang sebagian selesai …”

Mayat yang bersandar di dinding mencengkeram gulungan kain tebal di tangannya.

X di salah satu sudut barangkali mewakili pangkalan mereka, yang artinya, ruangan ini. Dari sana, garis merah menelusuri labirin kompleks.

Cukup besar area telah diselesaikan. Selagi melihat petanya aku dapat melihatnya lagi dan lagi ketika mereka berlari ke jalan buntu tetapi terus memetakan proyek mereka, terlepas dari keputusasaan yang pastinya mereka rasakan.

Aku yakin mereka juga terdampar di tempat ini, mengembara mencari jalan keluar.

Dan di tengah-tengah tujuan itu, mereka kehabisan kekuatan.

“Aku tidak bisa menebak kekecewaan pahit mereka … namun peta ini akan sangat membantu kita.”

Aku mengangguk sangat setuju terhadap perkataan yang ditutur Lyu seraya dirinya melihat peta yang dilebarkan di tanah. Kami harus mencari tahu garisnya putus di mana dan terus memetakan lantai ini.

Kami harus menarik garis yang mengantarkan kami pulang.

“… Nona Lyu, apa informasi di peta ini terlihat familier …?”

“Tidak … lantai 37 terlalu besar. Aku belum menjelajahi semuanya. Kurang lebih, aku tak mengingat sebuah labirin berbentuk semacam ini.”

Aku berharap dia sekurang-kurangnya menempatkan lokasi kami saat ini ke lantai secara keseluruhan, namun tak mengherankan, harapannya tidak cerah. Tetapi …

“Aku sudah sering masuk ke lantai dalam. Aku tentu mengingat rute utama.”

“Artinya …”

“Iya. Kalau kita bisa mendekat ke rute utama … aku dapat membawa kita ke lorong penghubung.”

Lyu menatapku, dan aku melihat kilat cahaya di matnaya.

Kecilnya bukan main, namun aku melihat seedikit harapan.

“Soal harta benda ini … bawa sebanyak mungkin. Tak tahu kapan kita akan membutuhkannya.”

“Mengerti …”

Aku berpaling dari peta dan mengambil tumpukan peralatan serta barang-barang.

Aku memperbaiki ransel robek dengan setrip kulit sepatu dan mulai mengemasnya. Aku bahkan memasukkan barang-barang yang kelihatan usang buat digunakan, mirip pelples penyok kehitaman dan botol kecil kosong.

 Lyu menukar baju robek-robeknya sama pakaian tempur sobek-sobek petualang wanita. Aku merona dan berpaling, meski bukan waktunya memikirkan hal semacam itu.

Aku melihat barang-barang milik mereka sekali lagi … dan menyadari ada sisa sejumlah makanan, terlepas menjamur dan membusuk. Diingat-ingat, sulit percaya kelaparan atau kehausan adalah penyebab langsung kematian mereka.

Namun biar banyak ramuan tersisa, aku tidak melihat penawar. Aku tidak mampu membayangkan party eksplorasi lalai membawa … artinya mereka menggunakan semuanya? Mungkinkah penyebab kematian mereka adalah kelainan kondisi mereka yang dipicu racun?

Sepertinya masuk akal. Setelah terdampar entah karena apa, mereka mungkin menjadikan ruangan ini pangkalan mereka sembari mencari-cari jalan keluar. Tetapi sebelum menemukannya, suatu monster meracuni mereka. Mereka sukses mendekam di sini, tetapi tak bisa mengobati racun dengan barang-barang tersisa …

Ketika rekan-rekan satu per satu tumbang, barangkali petualang lainnya menjadi gila oleh kegelapan lantai dalam kemudian bunuh diri.

Mau tak mau aku melirik kerangka yang beberapa waktu lalu mencuat belati di dadanya.

Rupanya menyadari sesuatu, Lyu membalik petanya dan diserahkan kepadaku.

Kainnya awalnya adalah lambang suatu familia, kemungkinan besarnya bendera. Tanpa kertas untuk membuat peta, mereka terpaksa menggambarnya ke simbol membanggakan familia mereka. Tetapi terlalu rusak untuk mencari tahu dari familia mana.

Akan tetapi, di suatu sudut, ada beberapa huruf berwarna merah ditulis dalam bahasa Koine.

“Mohon maa … mi … terhormat … ma … I … Ibu … tidak bisa kembali.”

Aku membacakan pesan terakhir mereka, beberapa dihapus kotoran. Selagi membayangkan hari-hari terakhir party beranggotakan tiga orang ini, baik Lyu dan aku merasa sama sedihnya.

“…”

“…”

Tepat sebelum kami meninggalkan ruangan sembari mengenakan alat pelindung serta senjata mereka, aku bersama Lyu berdiri di depan ketiga petualang dan menutup mata kami. Kami baringkan mereka ke tengah ruangan dengan tangan disilangkan ke dada. Kami diam-diam meminta maaf atas perbuatan kami kepada mereka dilanjutkan berdoa.

Hanya berlangsung beberapa detik.

Ini Dungeon, sarangnya para monster. Kami tidak boleh berlama-lama dalam refleksi sentimental.

Kami meninggalkan ruangan dengan kata terakhir perpisahan dan berterima kasih kepada petualang-petualang tanpa nama ini.

12 Replies to “DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 14 BAB 9”

    1. si bell terakhir naik level ke level 4 butuh 3 bulan lamanya, dari lawan asterios sampe sekarang baru 3 minggu. menurut gw kalo misalnya bell naik ke level 5 sekitar 5 atau 6 bulan mungkin dia naik level di vol 19/20 ( m e n u r u t g w )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *