DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 14 BAB 8

Posted on

Suara Palu

Penerjemah: 2B

Mereka terlambat.

Bahkan Ahnya yang khalayak umum anggap bego, mengerti begitu matanya memastikan pemandangan itu.

“Ini apa?!”

“… apa Ibu Kota air selalu punya pemandangan mengerikan, meong?”

Runoa terguncang, suara Chloe memberat.

Mereka berdiri di tepi tebing luar lorong yang mengarah ke lantai 25.

Pemandangan mengerikan terhampar di bawah mereka.

Puing-puing yang nampak mirip akar pohon raksasa timbul dari lautan api biru mengamuk. Kolam terjun dipenuhi tumpukan puing kristal kelewat besar sampai-sampai cukup mudah mengubur makhluk hidup yang barangkali berada dalam gua terbuka. Gelombang napalm biru tidak ada tanda-tanda mereda, mengirim gelombang besar panas dan uap pedas ke sekelompok petualang. Chloe tak melebih-lebihkan ketika menjelaskan pemandangannya mengerikan.

Dinding serta langit-langit gua juga tampak seakan-akan dihancurkan sehancur-hancurnya di rahang naga.

Surga air yang dahulunya indah tidak lagi nampak.

“Kayaknya bos lantai mengamuk di gua ini … aku bertaruh kau belum pernah melihat sesuatu semacam ini sebelumnya, kan?”

Bahkan Tsubaki Level 5 menyipitkan mata tunggalnya sambil melihat kehancurannya. Lingkungan mereka memberi tanda-tanda pasti pertempuran sengit alih-alih bencana alam. Namun berapa lama waktu telah berlalu semenjak pertarungan terjadi? Berjam-jam? Setengah hari? Apa Amphisbaena-nya sudah dikalahkan?

Hanya satu saja hal pasti:

Tsubaki dan rekan-rekannya datang terlambat untuk membantu para petualang yang bertarung di sini.

“Yah … Lyu semestinya sudah berada di lantai 27, meong! Ayo cepat ke sana, meong!” teriak Ahnya, kepalanya menggeleng kuat untuk menepis pertanyaan berputar-putar. Karena dia bodoh, dia sadar tak banyak gunanya berdiri di tempat berusaha memikirkan cara melewati hal-hal ini.

Jelas, tidak tersisa satu orang pun dalam api neraka di bawah mereka. Entah di daratan atau air, segala hal dalam apinya takkan mampu bernapas. Bisa terbakar bisa juga terkubur hidup-hidup. Mencari orang selamat sama saja buang-buang waktu.

Mereka dengar di Rivira bahwa party pemburu yang mengejar Angin Badai sedang di tengah jalan menuju lantai 27. Menemui Abnormal ini membuat Ahnya gelisah. Wajah rekan kerja elfnya terbesit dalam benak sembari mendorong petualang lain.

“Di satu sisi bagus-bagus saja, tapi … seluruh tempat ini berantakan! Tak ada tempat untuk jalan! Kita harus apa?!” tanya Runoa, memberengut. Tsubaki menepuk punggung pedangnya ke bahu seraya menjawab:

“Sepertinya satu-satunya pilihan adalah menuruni muka tebing ini.”

“Apa? Kau serius, meong …?”

Chloe menjulurkan lidah kaget.

“Tak banyak monster dalam gua sekarang, moeng! Selama mereka tak mengganggu kita, kita bisa melakukannya, meong! Ditambah lagi … kakakku bisa menuruninya sendirian! Misal dia bisa, kita pun bisa, meong! S-setidaknya, aku pikir begitu!”

Argumen tak meyakinkan Ahnya bergema hampa di seluruh gua.

“Oh, sialanlah, keknya kita memang harus turun!” ucap Runoa final.

Keempat wanita mengangguk satu sama lain dan membungkuk maju berani.

Menembus uap panas, mereka turun dari tepi tebing.

Tanpa menggunakan tangan, mereka berlari lurus ke bawah nyaris vertikal. Kapan pun bebatuan mulai menyelip keluar dari bawah tapak kaki, mereka tusukkan senjata mereka dalam-dalam ke muka bahu untuk mendukung diri sendiri.

Biarpun para petualang hampir jatuh beberapa kali, lini maju para petualang saling membantu, menuju lantai 26.

ф

“Sial!!”

Pedang panjang cadangan Welf membelah dua seekor mermaid.

Namun meski monster separuh ikannya terbelah mati, merman baru menginjak mayatnya menyerbu penempa yang merespon dengan makian.

“Ini bercanda? Mereka tidak ada habisnya!” teriak dia.

“Jumlahnya tidak normal!”

“Mereka datang dari s-samping dan belakang kita juga!”

Ouka dan Chigusa saling berteriak.

Party-nya sekarang ini berada di lantai 26. Setelah kabur tipis dari gua runtuh, mereka kini menghadapi pertarungan beruntun. Mereka menemui aliran monser tiada habis. Mungkin disebabkan kehancuran lantai 25 yang mengacaukan interior labirin, para monster menjadi kian sensitif terhadap keberadaan penjajah.

Para petualang bernapas terengah-engah selagi melawan kawanan monster akuatik yang ganasnya menerjang mereka.

“Kita tak usah repot-repot menghadapinya! Buang-buang energi berharga!”

Bahkan selagi berteriak, panah Lilly menembus kerumunan penuh sesak mermen kemudian menembus mata pemimpin mereka. Tembakan dari pendukung sekaligus komandan yang normalnya tak berpartisipasi langsung dalam pertarungan, itu jarang. Pemimpin merman di tengah kawanan berteriak dan sementara waktu lalai mengarahkan pasukannya.

Para petualang memanfaatkan momen ini untuk kabur dari sana.

“Ini konyol! Kalau beigni, kita takkan sempat mencari Kaki Kelinci …!”

Menyorot Aisha yang menangani monster di sisi samping, Daphne memastikan rute kabur. Barulah, monster iblis melompat turun dari atas selanjutnya dia tebas menggunakan belati-tongkatnya. Tak memikirkan semburan cairan dari luka monster negeri yang berguling-guling di sepanjang lantia, Daphne berlari maju.

Setetes sesuatu—keringat saraf atau panas, dia tak tahu—menuruni dagu sempitnya.

“Berapa kali kau akan mengatakannya?! Pas kita datang ke lantai 26, kita memutuskan menemui Bell!”

“Aku tahu, aku tahu! Kita tak bisa kembali ke lantai 26 sekarang karena sudah hancur! Percaya deh, aku paham kau tak ingin mengabaikan temanmu! Aku pun sudah menyerah meyakinkanmu melakukan sebaliknya! Tapi ini, tetap saja …!

Daphne membalas teriakan Lilly sama kesalnya. Bahkan matanya kelihatan siap mengerang kesusahan selagi mengamati lingkungan mereka.

Lantai 26 jelas mengalami kerusakan akibat katalisme lantai 25. Dinding beserta tanahnya retak-retak, menunjukkan tidak mampu bertahan benar-benar terhadap desakan dari atas. Air yang turun dari tengah lorong sudah meluap dan kini membasahi kaki mereka. Taburan kristal berjatuhan memberi firasat buruk bahwa seluruh langit-langit dalam waktu dekat akan runtuh. Labirin bisa saja mudah runtuh setiap saatnya.

Lolongan akrab entah monster bingung atau bersemangat makin memperbesar kecemasan party.

“Dalam keadaan kita sekarang ini, dan tanpa petunjuk satu pun menuju lokasinya, kemungkinan kita menemukannya dasarnya nol!”

“Duuh!”

Setiap kali Lilly mau memprioritaskan pencarian Bell, Daphne senantiasa menyela sama kenyataan situasi mereka.

Kondisi malang party setelah pertarungan melawan bos lantai adalah perhatian serius. Mana bisa mereka mencari seorang petualang dalam lantai sebesar ini?

“Pokoknya, karena ini pertama kalinya kita di lantai ini, kita perlu mengutamakan keselamatan dahulu …!”

Sekalipun lantai 26 dianggap bagian Ibu Kota Air, dunianya baru sepenuhnya bagi sebagian besar party. Terlepas dari itu, mereka betul-betul mengabaikan standar biasa membersihkan lantai baru dan tengah menerobos maju. Cukup membuat Daphne—yang cara menjelajahi Dungeon-nya dengan prinsip teguh, waspada, dan pelan—mau pingsan.

Dipikirnya sungguh-sungguh gendeng melompat masuk tanpa melihat ke dalam perut Dungeon iblis.

Namun kendati dia saling berteriak dengan Lilly, Daphne tidak bisa berhenti berlari. Jelas saja begitu dia berhenti, dia akan hancur diinjak-injak serbuan monster.

“Bergerak maju adalah pilihan kita satu-satunya! Kita tak dapat kembali ke lantai 24 hingga Dungeon selesai memperbaiki diri, dan kita bahkan tak tahu apakah ia akan memperbaiki diri! Doakan saja kita bertemu Bell!”

Sekarang ini party tengah melangkah maju menuju rute utama lantai.

Aisha yang konstan memantau moral party, berusaha sebaik mungkin meredakan kegelisahaan Daphne.

Plus, meski aku tak suka mengandalkan orang lain, Angin Badai seharusnya di lantai 27 juga, di tempat kami akan menemukan Bell …!

Dia punya banyak hal dalam kepalanya pula—contohnya, elf yang dituduh melakukan pembunuhan di Rivira. Bagi Aisha, dia bersalah atau tidak tak berarti banget. Seandainya mereka bisa menemuinya dan Bell lalu bekerja sama, bahkan dengan paksa pun, jalan maju akan terbuka, walau ruam dan berpotensi mematikan. Justru sebab kehadiran ide itu dalam benaknya meyakinkan Aisha untuk mengubah arah dan mempertaruhkan hidupnya pada laju sembrono mereka saat ini.

Sayang sekali satu keabnormalan terlampau ekstrim akan merobek-robek skema Aisha tengah menunggu mereka di tempat tujuan, lantai 27.

“Lebih banyak monster …!”

“Bahkan buat Abnormal pun ini keknya kebanyakan!”

Selagi Chigusa menggendong Mikoto dan Cassandra memanggul Haruhime, Ouka dan Welf merengut ke sekawanan monster yang barusan muncul. Mereka di depan party, sekarang para petualang dipaksa mengubah arah.

“Ibaratnya setiap monster di tempat ini sedang mengejar kita …!”

Spekulasi megap-megap Chigusa tidak dilebih-lebihkan.

Sebaliknya, dia tepat sasaran.

Semua monster di lantai—persisnya, seluruh zona—telah menyerbu party, mencari mangsa. Seakan-akan memastikan tebakan menakutkannya, sosok besar meledak keluar dari permukaan air.

“ROOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!”

“Apa?! Kelpie1?!”

“Tapi itu monster lantai 27!”

Keheranan Lilly bahkan lebih besar dari mata membeliak terkejut Aisha.

Para kelpie. Monster kuda ini berbulu biru dan bersurai sekaligus tubuh bersirip sanggup berpacu di air seakan-akan mereka berada di darat. Sesuai perkataan Lilly, mereka biasanya muncul di lantai 27. Penampilan luar cantik mereka memungkiri potensi sebagai salah satu monster terbesar Ibu Kota Air.

“Dia datang ke lantai ini?! Dan dalam persyaratan ini …?!”

Dipenuhi kemegahan dan kekuatan musuhnya, Lilly terus berteriak bingung kala diganggu paduan suara yang datangnya dari dalam labirin.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!”

“OOOO, OOO!”

“GUAAAAAAAAAAAA!”

Satu lamia, afanc2, dan dodora3 lantang mengumumkan kehadiran mereka. Semua monster yang biasanya muncul pertama kali di lantai 27.

“Sekawanan besar monster? Bukan, migrasi massal …?! Tidak mungkin!” teriak Daphne.

Semua monsternya memerah darah, potongan daging merah tergantung di mereka.

Semuanya milik para petualang. Petualang kelas atas yang bergabung dengan pemburuan Angin Badai malah dihancurkan taring-taring serta cakar-cakar malapetaka.

Tragedi ini terjadi tanpa sepengetahuan Aisha dan rekan-rekannya. Kini, sesudah melahap banyak mayat petualang dan mabuk darah kental berjumlah besar, para monster menjadi lebih ganas dan brutal dari sebelumnya.

Lebih banyak darah. Lebih banyak daging. Pesta lain.

Mencari-cari persembahan baru, kawanan besar monster yang meninggalkan lantai 27 hancur lalu tumpah ruah ke lantai 26.

“Apa-apaan yang terjadi?”

“Tanya Dungeon! Dia tengah bermain-main sama petualang seperti ini …!”

Tentu saja, Lilly bersama petualang-petualang lain tidak tahu sama sekali soal itu.

Aisha yang berharap mencari perlindungan di tempat aman, bersumpah frustasi tatakala menyadari rencananya telah digagalkan.

Untung, gara-gara Dungeon memprioritaskan perbaikan lantai 25, tiada monster baru sekarang ini dilahirkan dalam ketiga lantai Ibu Kota Air. Namun demikian, monsternya masih banyak nian untuk dihadapi party.

Merasakan malapetaka yang hendak datang dari semua sisi selagi mereka melawan kelpie langsung di depan, darah terkuras dari wajah mereka.

“…!!”

“Uwaduh!!”

Lutut Welf gemetaran melihat kelpie meronta-ronta liar dan mengibas surai birunya. Spesimen ini kuat sekali. Kekuatannya bahkan barangkali melebihi status Welf dan Ouka. Peningkatan level yang menyediakan mereka perlindungan ilahi mendatangkan kemenangan berkali-kali sebelumnya tak tersedia.

Menghadapi musuh lantai 27 ini, party akhirnya mulai menabrak dinding yang tak mampu didakinya dengan keterampilan petualang-petualang Level 2 seperti Welf dan Ouka.

“Ugh!”

Terkena serangan monster, Welf terhempas mundur. Dia entah bagaimana sanggup mencegah serangan langsung dengan pedang panjangnya, namun kini punggungnya menabrak dinding. Dindingnya sudah retak sebelumnya, tapi gara-gara dampak terbaru membuatnya berubah, menerbangkan fragmen-fragmen sedangkan kristalnya mengerang.

“Sialan …!”

 Welf yang masih kecapekan dari pertarungan melawan bos lantai, menggertakkan gigi dan sedang berusaha mundur, seketika …

“…?”

Trang, trang!

Sebongkah dinding jatuh berguling di sepanjang lantai diiringi dentangan menarik perhatiannya.

Warna baja biru berkilau bukan warna membosankan kristal berlimpah Ibu Kota Air.

Melainkan batang logam alami Dungeon, berkilauan dengan kilau logam langka.

Batang logamnya menyerupai warna merah tua seukuran dan sebentuk kepalan tangan cacat, dengan fragmen-fragmen kristal menempel. Kelihatannya berjatuhan dari interior lantai, bisa jadi disebabkan kerusakan ekstensif yang diderita lantai.

Dengan pandangan sejati seorang penempa, Welf menatap tak percaya bijih yang berguling ke kakinya.

“Mustahil … ini adamantite!”

Dia tersentak saat sadar jenis logam langka macam apa itu.

“Apa yang kau lakukan, Ignis?! Bangkit berdiri!”

“Oh, iya juga!”

Aisha yang barusan memotong kelpie, berteriak tak sabar kepadanya.

Sewaktu Welf berdiri lega, dia refleks memungut batang logam kemudian mengejar rekan-rekannya.

“Uoooooooooooooooooo!”

“!!”

Baru saja, seseorang berteriak.

Seseorang yang bukan bagian party mereka.

Suaranya berasal dari sosok manusia dikepung monster lebih jauh menyusuri rute utama.

“Apa itu … seseorang yang pergi ke lantai 27?!”

Prediksi awal Aisha terbukti benar. Welf dan beberapa anggota party lain berlari menghampiri orang aneh, segera mengusir monsternya dan menyelamatkan korban yang dituju.

“Kau orang Rivira …”

“Bors-sama!”

Welf dan Lilly benar. Memang Bors Elder si petualang raksasa, seluruh tubuhnya megap-megap saat bernapas.

Dia dalam keadaan menyedihkan.

Sosok kekarnya penuh luka dari atas sampai bawah. Pakaian perangnya berlumuran darah, sekalipun tidak ada yang tahu seberapa banyak darahnya dan berapa darah monster yang dibunuhnya. Penutup mata yang biasanya dia kenakan di mata kirinya hilang. Begitu pula senjatanya, mereka tebak Bors kehilangannya di tengah jalan. Tak dapat dipercaya dia sampai sejauh ini tanpa senjata. Tangan dan sarung tangannya robek-robek dan memerah-darah, bukti dia telah bertahan melawan monster dengan memukul-mukul ngasal lalu menghantamkan tinjunya ke cangkang dan sisik keras mereka.

“K-kau, kalian … Hestia Familia …? Kalian … selamat …?”

Bors bingung menatap satu per satu anggota party.

Tidak ada bekas-bekas arogansi biasa pemimpin Rivira atau perasaan terlalu mementingkan pribadi.

Malah, dia bicara seolah-olah mengingau setelah bangun dari mimpi buruk.

“Kau sendirian? Sisa party pemburu mana?”

Serba ketakutan ngeri, Aisha menanyakan orang yang kembali dari lantai 27 ini. Respon Bors adalah bisikan nyaris tak terdengar, wajahnya tertutup ekspresi gelap tidak biasa.

“… aku satu-satunya orang yang tersisa. Semuanya … mereka mati.”

“Apa?”

“Kau bilang apa …? Apa kau bahkan tahu berapa banyak petualang kelas atas yang pergi bersamamu?!”

“Mustahil mereka semua dibantai habis!”

“Apa mereka dibunuh Angin Badai saat mencoba menyerangnya?”

Chigusa-lah orang pertama yang memecah hening dengan bisikannya, diikuti Daphne, Ouka, beserta Aisha menembak pertanyaan cepat berurutan. Mereka tidak langsung menyangkal klaim Bors, tetapi wajah mereka ragu dan tak percaya.

Beberapa jam sebelumnya, mereka menyaksikan kolam terjun lantai 27 berubah merah tua. Hilirnya mencapai sungai neraka telah mengubah sejumlah besar air menjadi warna darah.

“Itu Abnormal … monster yang belum pernah kulihat sebelumnya menghabisi para pengikutku dan …”

“… malapetaka besar.”

Cassandra memucat sesaat mata tertutup Bors mengingat pertemuannya dengan makhluk yang bukan dari dunia ini.

Hanya Cassandra yang mengerti bahwa inilah malapetaka yang dia peringatkan.

“—Bors-sama?!”

Baru ketika itu, Lilly menginterupsi dengan teriakan yang menghancurkan telinga.

“Bell-sama bagaimana?!”

“Kaki Kelinci pun kena juga … salah satu lengannya buntung bersih, dan tulang di lehernya … aku yakin dia …”

“?!”

“Dan Angin Badai pula! … elf yang bodoh sekali sampai melindungiku …! Semua orang, dan maksudku semuanya, terbunuh! Monster itu membantai mereka semua!!”

Selagi mendengarkan kisah tragis ini, dada Lilly memberat seakan-akan dia tertutuk pedang. Sementara itu, makin banyak Bors bicara, semakin emosional dia.

Seolah-olah patah semangat. Ibarat hilang harapan.

“Itu bohong … bohong, bohong, bohong! Bell tidak mungkin mati! Dia tidak mungkin meninggalkan Lilly sendirian!!”

“Tenanglah, Lilly kecil!”

Welf menahan kepalan tangan Lilly yang kelihatannya hendak meninju Bors sementara tangan satunya mencengkeram bajunya.

Hati penempa itu juga tak tenang. Dari pemusnahan petualang kelas atas hingga kematian Bell, informasinya yang mendadak dihadapi party sebagaimana belenggu mengikat mereka. Semuanya membeku, tapi hanya jeritan Lilly yang menggema di lorong.

“OOOOOOOOOOOOOOOOOO!!”

“…?!”

Tentu saja, para monster tak peduli sedikit pun terhadap perasaan mereka.

Teriakan perang liar mereka sekali lagi mencapai para petualang yang sementara melupakan situasi mereka terkini. Sedetik kemudian, sekawanan muncul dari sekitar tikungan lorong kemudian menyerbu mereka.

“Lari!!”

Aisha meneriakkan perintah, rekan-rekannya mengabaikan keterkejutan mereka dan patuh. Menuruti insting sendiri-sendiri, berteriak bertahan hidup, mereka sekali lagi menantang kematian.

“UOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!”

Bagi para petualang, raungan monster-monster terdengar seperti seringai jahat.

Mundur bukan pertanyaan, namun bergerak maju bukan harapan untuk mereka.

Di depan hanya terbaring mayat-mayat banyak petualang.

Party telah keluar dari peti mati dan melampaui keputusasaan, namun jamuan bencana.

Gema lari monster mengejar mangsanya berubah menjadi bayangan melolong Menyerahlah! di bawah pendar redup, bayangan berubah bentuk mengalir lewat laksana menari liar kegirangan. Binatang-binatang itu terlihat bertekad menghancurkan hati lemah para petualang.

“Sialanlah!!”

Seraya mengutuk, Welf mengayunkan sisa pedang sihirnya ke sekawanan monster yang menyerang langsung menuju mereka. Api melesat maju tanpa memerhatikan lingkungan berair, membakar monster yang melolong dalam pergolakan kematian mereka.

Kemudian dia mendengar belati retak.

“…!”

Pedang Sihir Crozzo terakhir mulai retak-retak.

Welf panik sewaktu melihat retakannya. Ouka pun meringis. Begitu mereka kehilangan pedang sihir terakhir adalah momen party akan runtuh.

Tidak lama setelahnya, mereka sampai di persimpangan jalan tempat sejumlah rute berpotongan. Di satu waktu, lolongan-lolongan monster muncul dari semua arah bagian.

Para petualang tak tahu mesti berbuat apa tatkala kematian mendekat.

“Cebol, ambil bom bau!!”

“Apa …?! Malboros?! Tapi bomnya tidak berugna untuk monster air …!”

“Bukan buat hidung mereka, untuk mata mereka!”

“!”

Menyadari niat Aisha, Lilly merogoh saku samping ranselnya dan mengeluarkan lima tas bom bau—seluruh persediaan Malboros. Dia lempar ke empat lorong menuju monster mendekat.

“UUUUU?!”

Kala minoritas monster yang punya indra penciuman menggeliat tak nyaman, mayoritas sisanya mengerang bingung. Tirai kabut dari partikel hijau yang dilepaskan bom menyeimuti mereka. Laksana sejenis serbuk seri aneh, debu bau memenuhi seluruh persimpangan, membuat tabrakan berantai. Monster-monster itu melupakan para petualang—yang menyelinap di tengah-tengah kekacauan—dan mulai mencabik-cabik satu sama lain.

Rencana Aisha bukan menggunakan Malboros untuk menjauhkan monsternya, melainkan membuat tabir asap membutakan dengan melempar satu tas penuh.

“Sekarang kesempatan kita!!”

Tepat sebelum bom baunya meledak, party berbalik dan menyelam ke salah satu jalan yang tidak dipenuhi monster. Mereka terus lari secepat-cepatnya, bergerak lebih jauh dan lebih jauh lagi dari rute utama. Sesudah cukup jauh dari para monster, mereka sampai di sebuah ruangan besar.

“…!! Ini jalan buntu …”

Ruangannya adalah jalan buntu.

Luasnya sekitar tiga puluh meter di setiap sisinya dan tidak ada jalur air di dalamnya. Yang dulunya merupakan ladang kristal terletak di reruntuhan, barangkali sebab guncangan kehancuran di lantai atas.

Cuma ada satu celah untuk keluar-masuk, berarti tiada jalan keluar.

“Waduh …”

Mereka harus keluar cepat.

Kata-kata sama tertutur di bibir semua orang, namun mereka terlampau megap untuk mengujarnya.

Kombinasi pertempuran bos lantai dan gangguan terus-menerus yang mereka tangani seusainya membuat seluruh party sangat memerlukan istrirahat. Setidaknya mereka butuh waktu untuk mengatur napas. Paling pentingnya, kemungkinan nyata Bell bisa saja mati membuat pikiran dan tubuh mereka tak sinkron.

Kami masih putus asa … kami masih belum lepas dari kehancuran. Apa ramalannya tetap berlanjut? Ataukah sudah berpisah? Apa aku membuat keputusan salah?

Sementara itu, Cassandra tengah berkeliaran dalam labirin pertanyaan tak terjawabnya sendiri.

Dia tak tahu apakah mereka masih mengikuti lintasan mimpi nabiahnya, atau sudah menyimpang dari jalannya. Pemikiran suram menggelegak tiada henti dalam kepalanya, bahkan merampas tekad tuk mengangkat wajahnya.

Tidak satu orang pun mampu mengangkat jari, apalagi mengambil tindakan tegas.

“—Bors. Beri tahu kami persisnya yang kau lihat.”

Seketika party hampir lumpuh mental, Aisha memecah keheningan.

“Beri tahu kami semua detail yang kau tahu tentang monster yang menyerang Bell Cranell … bukan tebakan pesimismu, tapi yang persis terjadi.”

“… lengan Kaki Kelinci buntung, dan dia mengalami serangan di leher. Tak salah lagi itu luka fatal. Namun aku lihat Angin Badai menggunakan sihir pemulihan juga. Dia boleh jadi … masih hidup.”

“…!”

Dipelototi Aisha, Bors menyampaikan yang dilihatnya tanpa majas hiperbola.

Selagi mendengarkan perkataannya, Lilly dan teman-teman bergidik. Cahaya kembali ke mata mereka. Transformasinya mengagetkan Cassandra.

“Dengarkan aku. Rencana kami belum berubah. Kami masih akan menuju titik aman. Sampai di sana barangkali membuat kami nyaris mati, tapi kami akan mencari Bell Cranell. Biar ganjarannya nyawamu, kau akan tetap membantu kami, Bors.”

“H-hei?! Kalian tidak dengar?! Aku bilang ada monster buruk di lantai 27!!”

“Siapa peduli? Lagian tidak ada jalan kembali.”

“Aku … aku tak akan pergi! Terkutuklah aku misalkan pergi ke neraka itu lagi!”

Seketika Bors berteriak protes, Aisha meraih pakaian perangnya mengancam.

“Jika kau mengerti betapa berhutang budinya kau pada Bell Cranell dan Angin Badai … maka tegarlah.”

Kata-kata Amazon tersebut tenang namun berbobot. Bors berdiri terperangah sejenak, lalu menatap marah ke bawah. Dia tidak mengangguk setuju, namun tidak berdebat pula.

Wanita ini sunguhan kuat. Bukan cuma kekuatan yang diberikan statusnya, tetapi ketabahan emosionalnya …. Bahkan dalam keadaan terdesak seperti ini, Aisha belum menyerah.

Cassandra penatap pembangkit listrik berambut hitam. Sekalipun berlumuran keringat dan darah, Aisha cantik. Kata-katanya bukan cuma berasal dari semua argument Bors, tetapi juga menyatukan tekad party. Buktinya wajah-wajah mereka yang tidak lagi diselimuti keputusasaan. Aisha sukses membangkitkan kembali tekad bertarung yang hampir dibungkukkan kemungkinan kematian Bell.

Tidak Lilly maupun Daphne, komandan mereka, mampu melakukan itu. Hanya Aisha yang lebih kuat dan berpengalaman dari mereka semua, bisa melakukannya. Selagi Cassandra menatap sosok kuat itu, dia berharap dapat sekuat dirinya.

“Kalau kita ingin ke suatu tempat, sebaiknya keluar buru-buru dari ruangan ini.”

Daphne bicara perlahan. Kalimatnya kedengaran berat, ibaratnya membawa kenyataan.

“Barangkali kita telah menggoyahkan monsternya, tetapi rute menuju ruangan ini tuh lurus. Seumpama kita tak keluar dari sini, kita akan dihancurkan serbuan monster …”

Namun selanjutnya apa? Apa yang terjadi semisal mereka berhasil lolos dari kawanan monster? Berapa banyak lagi pertarungan yang menunggu mereka di perjalanan panjang menuju lantai 27?

Pertanyaan tak terucapkan membesit silih berganti di pandangan sekilas para petualang. Bahkan Daphne pun tidak tahu jawabannya.

Hati dan pikiran mereka menyatu, tetapi situasinya tidak meningkat sedikit pun. Mereka masih tak punya rencana solid untuk memutarbalikkan monster-monster mengamuk atau menyingkirkan mereka selamanya.

Sekali lagi, selubung keheningan menghantar ruangan. Mereka dapat mendengar lolongan monster. Seketika kematian kian dekat, keresahan menyiksa party.

Lilly dan Daphne memeras otak mencoba mencari jalan keluar. Ouka dan Chigusa membaringkan Mikoto dan Haruhime di lantai, mengerutkan kening selagi menggenggam tangan lemas mereka sendiri. Aisha dan Bors menatap tajam lorong di belakang pintu masuk, mengawasi musuh. Cassandra paniknya mencoba menafsirkan bagian terakhir ramalan.

—kami harus melakukan apa?

Terakhir, Welf berdiri terpaku di tanah karena penderitaan mental.

Bagaimana caranya sampai ke Bell? Bagaimana cara kami melewati ini?

Sebagaimana Lilly, dia memeras otak mencari jalan keluar dari kebuntuan ini.

Dia membolak-balikkan masalah yang nampaknya mustahil dalam kepalanya berkali-kali, mencari solusi.

Andai saja kami punya pedang sihir …!

Alih-alih solusi krisis mereka, dia hanya dapat berangan-angan.

Aku sudah memutuskan berhenti menimbang kebanggaanku dengan teman-temanku …. Itu benar, aku, aku memang berhenti! Tapi masih tak punya pedang sihir yang kuperlukan!

Dia hanya bisa mengutuk kebodohannya karena menghabiskannya. Antara itu atau menyalahkan ketidakkompetennya gara-gara membuat pedang sihir yang cepat hancur. Ketika mengingat perbuatan masa lalunya dia hanya merasa menyesal.

Apa ada yang bisa kulakukan untuk membantu orang-orang ini? Aku mampu menawarkan apa tuk membayar para petualang ini?!

Welf menutup mata rapat-rapat dan mencari jawaban.

Mengepalkan tinju dan bertanya gunanya untuk dunia.

Lady Hephaestus … aku harus melakukan apa?

Dia menjadi seorang pengecut. Pengecut total.

Tetapi tetap bertanya.

Sewaktu dia betul-betul dalam masalah, dewi itu, pilar kekuatan yang selalu punya kata-kata yang dibutuhkannya.

Andai dewi itu melihat diri lemahnya sekarang, melihat Welf Crozzo yang tak sanggup melakukan apa-apa, dia akan bilang apa?

Membuatnya muak mengoper tanggung jawabnya kepada seorang wanita seperti ini.

Tetapi demi teman-temannya, dia membuang rasa malu dan perhatiannya akan penampilan luar lalu mencari bantuan suatu kehadiran mulia dalam hatinya.

Dalam Dungeon ini, aku bisa melakukan apa …?!

Kemudian—

“Selama kau punya palu, logam, dan nyala api bagus, kau bisa menempa senjata di mana pun—”

Dia mendengar suara dewi yang dihormatinya.

Dia melihat cahaya tertinggi yang mesti ditujunya.

Wahyu ilahiah menembus pikirannya.

“…”

Matanya terbuka lebar.

Lengannya gemetaran.

Kata-kata Hephaestus, dewi penempa, yang dikatakan di masa lalu muncul jelas dalam benaknya.

Welf mengangkat kepala laksana seseorang memukulnya, lanjut melihat-lihat sekeliling.

Dia dalam ruangan dengan satu pintu masuk-keluar.

Ransel Lilly penuh perkakas.

Terakhir, dia punya pedang sihir api yang mulai hancur ditambah batang logam digenggam di tangannya.

Cahaya panas masih berkedip jauh dalam bilah retaknya, dan bongkahan logam berkilauan bagaikan baja.

Welf menatap tangannya dan menelan ludah.

Sedetik setelahnya—dia membulatkan hati.

Dia mengatupkan giginya keras-keras hampir retak, matanya melebar niat kuat, dan mencengkeram pedang sihir serta batang logam adamantite sekuatnya.

Dia menghampiri rekan-rekannya.

“Hei, kalian.”

Suara tegasnya bergema ke seluruh ruangan sunyi.

“Bersediakah kalian menyerahkan nyawa kalian di tanganku?”

Mereka semua berhenti bergerak dan balas menatap kaget.

Masing-masingnya tersedak pada perkataan Welf, kebingungan dan tidak mampu memahami niatnya.

“… penempa, kau pasti bercanda.”

Ouka, yang suaranya gemetaran, adalah satu-satunya petualang yang menebak rencana Welf.

Welf menatap mantap rekan-rekannya lalu bicara.

“Aku akan membuat pedang sihir di sini.”

Waktu berhenti.

“… apaan?”

“Aku bilang akan menempa pedang baru di ruangan sini.”

Welf menahan emosinya seraya menjawab Cassandra bingung.

Pedang sihir akan lahir dalam Dungeon ini.

Di sini, di wadah monster yang mungkin menyerang kapan saja, dia akan mendirikan bengkel dan mengerjakan logam. Walau wajahnya meneteskan keringat, matanya terbuka seraya mengumumkan niatnya.

“Itu mustahil!”

Lilly-lah yang menolak besar idenya.

“Berhenti mengatakan hal-hal tolol!! Di kepalamu tuh apa?! Ide—menempa senjata dalam area berbahaya Dungeon yang bahkan bukan zona aman!”

Sedangkan Aisha dan kawan-kawan lain membeku di tempat, Lilly yang kenal lama Welf, menggeser idenya.

“Mana alat-alatmu? Tungkumu? Di mana kau mau mengumpulkan material-material mentah yang kau butuhkan?!”

Kendatipun Lilly memutuskan idenya tak masuk akal, Welf menjawabnya dengan suara lirih dan tenang.

“Ada palu di alat-alat yang kubawa untuk pemeliharaan. Perapian pula Dan pedang sihir ini akan menghasilkan apinya.”

Lilly tidak mampu menjawab. Dia melirik ranselnya. Sebagaimana perkataan Welf, semuanya di sana. Dia sendiri mengumpulkan seperangkat alat lengkap untuk ekspedisi mereka. Bengkel penempa yang bisa dipindahkan, dan sudah dia gunakan untuk memperbaiki alat-alat mereka juga membuat Syal Goliath.

“Ditambah lagi, aku mengambil beberapa material menit lalu.”

Daphne dan yang lainnya menganga ketika Welf mengangkat potongan cacat adamantite, bersinar samar di tangannya.

“Dengarlah, satu-satunya cara kita bisa keluar dari kesulitan ini adalah dengan pedang sihir. Misalkan kita ledakkan monster-monster sialan itu dan sampai di lantai 27, opsi kita satu-satunya adalah mengandalkan kekuatan keturunan Crozzo …!”

Penderitaan mental Welf terlihat jelas kala mengutarakan isi pikirannya.

“Begitu aku mulai bekerja, aku takkan bisa bertarung. Kalian mesti melindungiku hingga pedang sihirnya kelar …. Aku meminta kalian menyerahkan nyawa kalian di tanganku.”

Hening tidak wajar menuruni ruangan, seolah telah dipisahkan dari dunia luar. Fragmen-fragmen kristal tersebar di sekitar lantai berkilau biru. Lilly, Chigusa, Daphne, dan Cassandra tertegun, mata mereka gentar. Aisha dan Ouka berdiri di tempat menutup mulut.

“Kau, Ignis … apa kau waras?”

Orang pertama yang mengeluarkan sejumlah kata, matanya berkedut, adalah Bors.

Aku belum pernah menemui penempa segila kau, sepertinya itulah yang dikatakan kepala Rivira. Welf membalas pertanyaannya dengan teriakan kesal.

“Apa artinya aku gila atau tidak?! Kita tak punya pilihan lain! Kau percaya padaku atau tidak?! Jawab aku!”

Welf melihat para petualang sekelilingnya, sampai akhirnya mengarahkan matanya ke Aisha.

Petualang kelas dua memegang kekuatan pengambilan keputusan sejati dalam party.

Berlalu sesaat sebelum dia menjawab penempa yang berdiri di depannya.

“… bisa kau lakukan?”

Cuma itu yang ditanyakannya.

Sebelum menjawab, Welf memejamkan matanya dan sekali lagi berbalik ke hatinya sendiri.

Kau punya palu.

Kau punya logam.

Satu-satunya permintaan, sudahkah apimu dinyalakan?

“Tentu saja bisa!”

Apinya menggelora.

Api di hati Welf membara lebih panas dari sebelum-sebelumnya.

Dia membuka mata kemudian berteriak sekuat teanga.

“Selama kau punya palu, logam, dan api bagus, kau bisa menempa senjata di mana pun. Itulah artinya menjadi seorang penempa!!”

Tekad serta komitmen suaranya membuat pendengarnya gemetaran. Aisha mengabaikan teman-temannya yang menahan napas lalu tertawa.

“Baiklah, lanjutkan!”

Ouka yang sedari tadi terdiam, ikutan ketawa.

“Iya, tempakan sejumlah pedang buat kami!”

Demikian, Lilly menatap langit-langit, Daphne menampik tanda-tanda hendak pingsannya, Chigusa meremas tangannya pertanda yakin.

“Jancuk,” tukas Bors, membanting tinjunya ke lutut sembari tersenyum dengki.

Untuk menghormati keputusan Welf, Cassandra mengacaukan keberaniannya dan mengangguk.

“Nyawa kami—”

Penerimaan, kepasrahan, resolusi.

Ouka berbicara mewakili mereka semua, sekalipun emosi yang masing-masing bawa berbeda.

“—di tanganmu.”

Saat sesama petualang menatap percaya dirinya, Welf balas menyeringai tanpa rasa takut.

Ф

Welf mengambil bandana dari lehernya dan ikat ke sekeliling kepala.

Inilah proses, lebih tepatnya ritual yang dilakukan Welf biasa untuk menjadi seorang penempa.

Dia hunuskan sisa pedang sihirnya.

Tungkunya berpendar merah cerah, bersinar terang sesaat mulai memberi panas. Welf tak punya bahan bakar tepat seperti kokas, lantas dia manfaatkan empedu Amphisbaena yang Lilly pungut. Menyebabkan ledakan kecil tatkala mengontak api, tetapi tungkunya tetap menyala dan mulai memanas hebat. Dia perkuat perapian pertabelnya dengan drop item yang mereka ambil sepanjang jalan, seperti cangkang blue crab yang inginnya mereka gunakan sebagai bukti penyelesaian misi mereka, dan kubah miring berisikan sumur panas. Berfungsi bagus untuk mencairkan adamantite, salah satu logam paling keras.

Setelah meledakkan kekuatan terakhirnya, belati itu jatuh ke tanah hancur menjadi pecahan tak terhitung jumlahnya. Welf mencengkeram kerangka senjata di telapak tangannya kemudian berjongkok di depan tungku menyala.

“Aku mulai.”

Menggenggam bongkahan logam di antara penjepitnya, dia cepat namun berhati-hati memasukkannya ke api.

“Buat formasi tempur! Jangan biarkan satu monster pun mendekati Ignis!”

Ketika nyala apinya meraung, petualang-petualang lain mengikuti perintah Aisha lalu membentuk setengah lingkaran di sekitar pintu masuk tunggal. Aisha, Ouka, Daphne, dan Bors berada di lini depan, sementara Lilly mengambil alih komandao dan Chigusa mendukung formasi dari belakang. Lebih jauh lagi di belakang, Cassandra si penyembuh mengawasi Mikoto dan Haruhime, dan lebih jah di belakang lagi, di tengah ruangan besar, adalah Welf.

Dituntut membangkitkan kembali party, Penempa Besar tak dapat bertarung. Yang lainnya mesti menahan laju monster agar dia sanggup berkonsentrasi.

Fyuh … fyuh …

Suara napas dangkal memenuhi ruangan. Para petualang terengah-engah walaupun bahkan belum melihat sekilas pun monsternya. Bukan hanya karena panas yang memancar dari tungku menyala, membasahi pipi mereka dengan keringat; Lilly serta yang lain pada gelisah saat melihat Welf menatap api.

Isi tungkunya meleleh cepat karena panas intens. Di momen sempurna, Welf pelan-pelan mengeluarkan logam panasnya. Adamantite-nya telah diubah menjadi material semacam permen merah, memandikan dinding kristal biru tua ruangan dengan warna merah tua seiring penempaannya melempar panas hebat. Bayangan para petualang terbentang panjang di lantai, bergerak-gerak tidak jelas.

Welf meletakkan logamnya di permukaan dadakan, satu tangan memegang palu dan satunya memegang penjepit, berikutnya menahan napas.

Ruangannya menjadi sunyi senyap.

Sang penempa memfokuskan pikirannya dan mengayun palunya keras-keras.

Fuuh!!”

Trang! Trang! Ritme dentang keras nan metalik dimulai.

“Bahkan ide menempa dalam Dungeon …!”

Daphne menekan tangan ke mulut.

“Ini tidak mungkin …!” dia mengerang melihat pemandangan tak dapat dipercaya.

Mereka memang memasuki wilayah tak diketahui.

Kebanyakan petualang dan penempa akan menyebutnya idiot.

Para dewa-dewi akan tertawa terbahak-bahak dengan mata berkilat-kilat terhadap perjalanan petualang ini menuju tak diketahui.

Andaikan dia sukses, akan menjadi pencapaian luar biasa.

Semisal gagal, akan menjadi tindakan bodoh yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Mayat-mayat mereka akan dikubur di sini, kematian memalukan mereka akan menjadi bahan tertawaan generasi-generasi mendatang.

Welf pun mengusahakan tindakan barbar yang bahkan master penempa, Tsubaki Collbrande, tak memberanikan diri melakukannya.

—menempa senjata dalam Dungeon.

Memproduksi pedang sihir jauh dalam labirin itu sendiri.

Fyuuh!!”

Welf menghembus napas kuat-kuat sembari mempalu adamantite merah yang menyala-nyala.

Percikan-percikan berputar seiring debaran ritmis berlanjut. Setiap kali palunya menabrak logam, Chigusa dan Cassandra tersentak.

Seluruh dunia serasa bergetar sebab hentakan tiada henti.

Tak mengherankan, dentang logam memekakkan telinga mulai menarik perhatian para monster karena terdengar dalam Dungeon.

Suara palu bagaikan hitungan menuju kehancuran.

Setelahnya dimulai.

“OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!”

Diiringi paduan suara raungan serta hentakan kaki tak terhitung jumlahnya, sekawanan monster besar beraneka ragam mulai nampak jauh dalam lorong. Seluruh kawanan yang mereka hindari di persimpangan jalan sekarang bergegas mendatangi mereka.

Hell Kaios!!”

Aisha instan mengaktifkan sihirnya. Dia telah merapal sembari menunggu, dan kini kumpulan monster berjuang saling mendahului di lorong sempit menjadi makanan serangan gelombang mengiris.

“Ambil perisai ini dan tahan jalan masuknya! Kita tidak boleh membiarkan monsternya memasuki ruangan ini!”

Mematuhi perintah Lilly, Ouka beserta Bors memposisikan diri mereka di tengah lorong dan ruangan untuk membentuk dinding yang ‘kan menahan serbuan monster.

Satu jalan akan membatasi jumlah monster yang bisa masuk di satu waktu sekaligus mengurangi momentum maksimum serbuan mereka. Inilah salah satu taktik untuk menghadapi sekawanan besar monster di Dungeon. Sisik sebaliknya adalah jikalau satu saja monster masuk dan mulai huru-hara, para petualang takkan punya peluang.

Mempertahankan gerbang dengan nyawa mereka adalah prasyarat mutlak demi kesuksesan Welf.

“Uwaaaaaaaaaaaaaa!”

“Bajingan!”

Ouka menguatkan diri ketika monster mulai melempar diri mereka pada perisai cadangan yang ditahannya. Meski menempatkan seluruh tubuhnya ke kuda-kuda bertahan, dampaknya memaksanya melangkah mundur. Di sebelahnya, Bors Level 3 mati-matian menahan mereka dengan perisai pinjamannya sendiri sembari menusuk acak tombak perak yang diberikan Chigusa.

“Tidak usah membunuh mereka! Potong saja kakinya!”

“Aku bahkan tidak mampu membidik!!”

“Kita butuh dukungan …!”

Aisha dan Daphne menebas musuh dari sisi dinding, sedangkan Chigusa melangkah masuk menggunakan Shakuya, Mikoto melelempar pisau dan Lilly mendukung mereka dengan tembakan—tembakan Ballista4 Kecilnya. Di belakang formasi terdapat Mikoto dan Haruhime berbaring, Cassandra berjuang mempertahankan akalnya sembari mengaktifkan sihir pemulihan kapan pun Daphne atau para petarung lain berisiko keluar dari garis pertempuran.

Dengan melodi besi penempa terngiang di telinga mereka, para petualang mencegat monsternya satu per satu.

“…!”

Trang, trang, trang!

Seolah-olah mencerminkan hati risau mereka, palu jatuh itu membentuk busur di udara lagi dan lagi.

Panas berbahaya membakar kulit Welf. Gabungan pedang sihir serta empedu naga menciptakan suhu jauh lebih tinggi dari kata normal, menghanguskan kain tipisnya dan membuatnya bermandikan keringat.

Tatkala setetes uap air jatuh dari dagunya ke palu, airnya menguap dengan suara desis.

Percikan api tersebut membuktikan kekuatannya, meski tak perlu konfirmasi dari luar.

Ketepatan yang digunakannya setiap kali memukul bagian tengah logam berasal dari ketangkasannya.

Seluruh tubuhnya terbakar, Welf mengerahkan segenap kekuatan fisik, keberanian, serta keterampilan yang dimilikinya ke sebongkah logam.

Tapi, tapi, tapi …

“Sial …!”

Dia tidak dapat membentuknya dengan benar sesuai keinginannya. Fakta berkata, logamnya tampak mengabaikan tekadnya, malah berubah menjadi bentuk berjendul tidak rata. Rasanya sekaan-akan logamnya merupakan makhluk hidup punya pikiran berubah-ubah sendiri.

Adamantite adalah salah satu logam langka terbaik. Luar biasa keras, membuat pemrosesan dan penempaannya sukar. Bahkan Penempa Besar terkenal kesulitan mengontrolnya.

Dia punya pengelaman mengerjakan dir adamantite, versi olahan logam lebih ringan, ketika membuat baju zirah Bell. Tetapi bijih murni ini menolak usahanya sepenuhnya.

Keterampilannya jelas kurang. Karena itu, atau memang kurang pengalaman yang diperlukan. Api bergolak-golak liar serta intensnya perlawanan logam adalah tanda-tanda dia tidak memegang kendali.

“Kau pasti bercanda …!”

Tentu saja komplain tidak membantu.

Tangan Welf gemetaran saat adamantite-nya keras kepala menolak palu.

Ketidakmurnian berubah menjadi percik-percik api tak terhitung jumlahnya yang beterbangan ke wajahnya selagi dia memanaskan kembali logam dan mulai memukulnya lagi.

Tidak ada waktu. Aku tak boleh gagal. Aku harus lekas menyelesaikannya.

Namun demikian.

Kuharap detak jantungku tidak kedengaran.

Kedengarannya lambat, berbayang di telinganya tanpa henti.

Setiap tiga kali aku menjatuhkkan palu, hatiku cuma berdetak sekali—

Welf berada di tengah pusaran waktu.

Setiap kali mengayunkan palunya, waktu rasanya menghilang. Logam merah terbakar menghabisi fokusnya.

Berapa lama aku mengerjakan ini?

Berapa banyak jam? Setengah hari? Atau semenit?

Aku di mana!?

Proses pembuatan pedang sihir berbeda dari pedang biasa, tetapi tiada yang dapat dipersingkat secara drastis. Jikalau dia ingin membuat senjata yang cukup kuat untuk menghancurkannya dari kondisinya sekarang ini, dia mesti menguasai keterampilannya dalam waktu terbatas.

Kecemasan yang hendak menguasainya mendorong Welf ke dalam kegelapan.

Aku mencurahkan segenap kekuatan dan keterampilanku.

Seluruh kebanggaan penempaku, harga diri, dan tekad.

Lantas mengapa tak berakhir sesuai keinginanku?!

“GAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!”

“Gyaaaa!”

Raungan monsternya makin sering sekarang. Serangan balik Ouka dan teman-temannya yang lain terdengar lirih.

Welf bertanya-tanya apakah mereka baik-baik saja, tapi tak sempat berpaling. Andaikata dia mengalihkan pandangan dari pekerjaannya sekali saja maka berakibat gagal.

Dan gagal di sini artinya mati.

Pengalihan satu akan mengundang pengalihan lain. Siklus terburuk, memakan mental dan fisiknya.

Selagi berjuang, dia mulai tenggelam dalam kehangatan tak terkontrol, jurang tiada ujung. Ajaib palunya belum meleset pula.

Huhh, fyuuhh, fyuuh …!”

Begitu tetes besar keringat menuruni wajahnya sedang napasnya dirasa keluar mendidih, dunia menghilang menjadi gema debar detak jantungnya.

Dia bahkan tak bisa membedakan kanan-kiri, atas-bawah, depan-belakang.

Dalam kegelapan di hadapan matanya, tergantung logam merah cemerlang dan palunya.

Pada saat ini, merekalah seluruh dunianya.

Pertama kali semasa hidup, dia mengalami penglihatan ekstrim.

Aku mendengar suara.

Dunia dibungkus kegelapan.

Di celah keputusasaan, kecemasan, dan keteguhan individu untuk melawan perasaan-perasaan tersebut, Welf mendengar batang logamnya berbicara.

“Dengarkan kata-kata logam, dengarkan gema, curahkan hatimu ke palu.”

Dia memelajarinya dari keluarga Crozzo di masa kecil.

Kata-kata ini mengungkapkan semangat kakek dan ayahnya yang pernah dia benci sekali.

Merekalah titik awal kelahiran kembali Welf dan batu landasan segalanya; kini mereka mengirimkannya suara logam, pertanyaan palu.

Dengarkan.

Dengarkan apa?

Mengapa kau mengayunku, palumu?

Untuk menempa senjata.

Kenapa kau menempa senjata?

Untuk bertahan hidup.

Salah.

Bukan itu yang kutanyakan. Bukan itu yang kau butuhukan sekarang.

Dengarkan.

Kenapa kau menempa senjata?

“…”

Suara palu bertanya menjadi suara pribadi Welf kala ditanyakan alasannya, menyelam ke relung hatinya.

“Welf-sama!”

 Dari kedalaman kegelapan, Welf mendengar permohonan putus asa si prum.

“Penempa …!”

Dari balik kegelapan, seorang pria mengerang.

“Tuan Crozzo!”

Dari sampingnya, gadis yang dia pinta tak memanggil nama keluarga malahan memanggilnya.

Seruan perang para petualang dan suara-suara temannya mengguncangnya.

Aku …

Aku …

Aku …!

“Aku menempa senjata untuk teman-temanku.”

Untuk Bell.

Untuk orang-orang dalam ruangan ini—rekan-rekannya.

“Untuk menyelamatkan rekan-rekan yang percaya kepadaku!!”

Senjata yang dia tempa seraya memikirkan seseorang khusus mengandung kekuatan spesial. Bersinar lebih terang dari senjata-senjata lain.

Iya. Ini benar. Jelas. Kenapa dia lupa?

Untuk teman-temannya.

Agar mereka dapat menyelamatkan Bell—

“Aku!!”

Palunya menghantam logam dengan dentang keras. Palunya menjerit tatkala memantul kembali ke udara. Melodinya berubah.

Tempo palu lebih bebas, kuat.

Para petualang mendengar perbedaannya selagi terus menahan monster-monster meringkik. Begitu mereka mendongak kaget, mereka melihat mata Welf membara merah tua ibarat menyatu dengan nyala api.

Mengubah, mengubah, mengubah.

Adamantite—logam terkeras semua logam tak punya alasan menuruti palu Welf—tengah mengambil bentuk baru.

Laksana mematuhi kehendak satu orang, teriakan perangnya terdengar, struktur kristalnya beralih, dan sosok bilah mulai muncul.

“Woah!!”

Darah Welf mendidih gembira.

Darah memacunya selaras deru jantung, membuka pintu baru.

Kami takkan pernah bisa keluar dari sini menggunakan pedang sihir biasa.

Kami takkan mengatasi bahaya bila pedang sihir kami punya tanggal habis tempo.

Kami takkan lepas dari rahang kematian dengan pedang sihir yang ditakdirkan hancur.

Lantas kami harus berbuat apa?

Jawabannya jelas.

Dia harus mengatasi.

Dia harus mengatasi gagasan pedang sihir biasa, detik itu di tempat itu.

Dia harus membuat senjata yang melampaui pedang sihir—senjata generasi baru, pedang sihir stabil.

Dia telah membalikkan takdir pedang sihirnya sendiri untuk menciptakan senjata kontradiktif.

Pada hari penentuan di masa lalu, dia telah menyatakan niatnya kepada kakeknya, Tsubaki, dan Hephaestus.

Dia bersumpah alih-alih membuat Pedang Sihir Crozzo belaka, dia akan menempa senjatanya sendiri—senjata Welf. Dia akan memenuhi janji itu di sini sekarang.

Tepat di sini saat ini pula, dia akan menjadi lebih dari sekadar Welf Crozzo.

“Luar biasa!!”

Dia tak punya teori.

Tapi punya ide.

Visi mulai terlihat.

Tidak—itu tak akurat. Petunjuk yang diperlukannya ada di sampingnya selama ini.

Pedang sang dewi.

Mahakarya yang telah dibuat dewi penempa dipandang sesaat, tetapi juga mewakili harapan ideal Welf—dan ada di tangan anak laki-laki itu sepanjang waktu.

Bell, tunggu aku!

Bell lari begitu cepat dan membumbung sangat tinggi sampai-sampai mengejutkan manusia serta dewata.

Dan Welf—yah, terkutuklah dia kalau cuma diam dan melihat jarak antara mereka semakin melebar.

Aku takkan meninggalkanmu!

Aku menolak meninggalkanmu. Aku akan berjalan di sampingmu apa pun yang terjadi.

Tidak.

Aku akan berjalan satu-dua langkah di depanmu.

Aku akan mengunggulimu, Hephaestus juga!!

Karenanya—!!

Aku mengincar ketinggian, jauh melebihi darah terkutukku ini.

Aku akan melewati kutukan keji itu menuju sumber kebajikan dan kebaikan.

Kulit di kepalan tangan Welf robek, rembes darah mendesis dalam api.

Tetapi darah Crozzo tidak menguap. Malah menjadi panas kabut yang bercampur dan memasuki adamantite.

Darah terkutuk—garis keturunan orang mati yang diwariskan kepada Welf—menjadi sangat panas sembari menjawab kehendak penempa muda itu.

Selagi pikirannya meliar dalam keadaan tak sadarkan diri tanpa perasaan atau pikiran kosong, pikirannya membuat desain yang mengakui hukum dasar, mengindahkan takdir ilahi, dan menjungkarbalikkan logika itu sendiri.

Selagi bicara dengan adamantite, Welf memasukkan desainnya ke rencana yang telah dia gambar dalam pikiran.

“Takkan tahan!!”

Tepat waktu itu juga, suara logam terkoyak bergemuruh di seluruh ruangan.

“Hiyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhh!”

Teriakan Daphne diikuti lolongan Bors tatkala dirinya dan perisai hancurnya terbang ke udara.

“!!”

Dengan raungan yang kedengaran bak deklarasi kemenangan, longsor monster tumpah ruah ke dalam ruangan.

 Yang terjadi setelahnya adalah potret neraka.

Bermaksud menginjak-injak para petualang yang garis tempurnya hancur, para monster menyerang mereka dari segala arah.

“Bentuk lingkaran! Jangan tunjukkan para monster punggung kalian!”

Party-nya nyaris tidak berhasil mematuhi perintah Aisha dan membentuk lingkaran, tetapi jelas takkan bertahan lama. Monster-monster tersebut kian dalam menekan lingkaran detik demi detiknya, garis lingkarannya dikikis ibarat dicukur habis.

Tak lama, mereka dipukul mundur ke tempat Cassandra menjaga Mikoto serta Haruhime. Selain area tengah, seluruh ruangan dipenuhi monster.

“Aaaaaah …!”

Lingkaran konsentris monster mengepung petualang-petualang.

Cassandra merasa kekuatan terkuras dari tubuhnya ketika menatap mereka.

Para petarung masih menangkis taring dan cakar musuh-musuhnya, tapi itu pun mati-matian. Momen kendali mereka atas ruangan menghilang, moral mereka melemas.

Paras-parasnya berlumuran darah dan keringat, party di ambang menerima kehancuran total.

Cassandra menegang tatkala keputusasaan ke sekian kalinya menghembus kerahnya, dan hendak memejamkan mata.

—?

Namun saat ingin melakukannya, dia menyadari sesuatu.

Suara itu—

Palunya sudah diam.

Melodi tempaan yang terus berlanjut hingga kini tidak peduli sesengit apa lolongan monsternya, telah berhenti.

Cassandra melihat ke belakang, tidak yakin arti perubahan ini.

“…”

Kemudian dia melihatnya berkilauan.

Woah—!

“Ouka!”

Di saat yang sama, cakar setajam silet mencabik-cabik bahu Ouka, dan akihrnya, dia roboh. Chigusa menjeritkan namanya begitu beberapa mermen haus darah menyerbunya.

Bayangan hitam mereka menyelimuti Ouka, yang telah berhenti bernapas.

Taring mengerikan mereka menancap sosok jatuhnya—lalu mereka dibakar.

“… apa?”

“GYAAAAAAAA!”

Kala rahang api melahap sekawanan mermen, waktu Ouka terhenti, Lilly, dan para monster.

Apinya datang dari tengah ruangan.

Sumbernya adalah sepetak tanah dihuni seorang pria yang Lilly dan kawan-kawan lindungi.

Semua orang melihat ke arahnya.

Seperti Cassandra yang mata membelalaknya menatap dan tidak mampu menarik pandangannya, masing-masing orang memproses yang dilihatnya.

“…”

Sang penempa berdiri tegak.

Biar kain undine-nya mengepak gelombang panas, kelimannya hangus, dia berdiri diam-tenang.

Di tangan kiri, dia memegang bandananya.

Di tangan kanan, dia memegang pedang panjang merah tua gagah.

“OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!”

Monster-monster mendapatkan kembali naluri destruktif mereka. Mengguncang kebingungan mereka, menyerbu para petualang, berniat memulai pertumpahan darah lagi.

“Bisa bantu aku?”

“Apa?”

Dari semua arah, setiap monster di ruangan menerjangnya.

Welf berdiri di sebelah Cassandra tanpa cara menghadangnya sendirian.

“Aku tidak dapat melakukannya sendiri—bisa pegang ini?”

Cassandra mengintip ke dalam matanya lalu memegang gagang sihir yang Welf ulurkan.

Taring serta cakar monster mendekat.

Para petualang mengambil posisi.

Welf memegang gagang yang sama-sama dipegang Welf lanjut mengarahkan ujung pedangnya ke tanah.

“Kita mulai!”

Bagi Welf, ini adalah permulaan.

Semata-mata pijakan untuk mencapai tingkat penguasaan yang telah dicapai sang dewi penempa.

Dia membusungkan dadanya seraya bicara.

Untuk menyelamatkan teman-temannya, juga mengukir tekadnya ke dunia, dia meraungkan nama senjata tuk seluruh Dungeon dengar.

ShikouKazuki!”

Dia tusukkan pedangnya ke tanah.

Seketika, api merah besar melonjak naik.

“OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!”

Persis sebegitu monster-monster bersiap meluncurkan diri menuju Ouka, Chigusa, Lilly, Daphne, terakhir Aisha, api meletus langsung dari bawah.

Teratur menghindari para petualang—tepatnya, melindungi mereka dengan dinding tangguh—apinya melonjak naik dalam bentuk lingkaran tersusun sebagaimana bunga api. Apinya bergerak menembus tanah dari ujung pedang Welf dan berkembang eksplosif begitu mencapai kaki monster.

Sekelompok petualang yang berdiri di tengah-tengah badai tercengang oleh kekuatan api serta gelombang panas yang dipancarkannya. Dari balik kabut merah, mereka mendengar mermen, kepie, blue crab, dan lamia melolong waktu dibakar.

Api nerakanya kuat bukan main bahkan memakan monster air yang biasanya tahan serangan api. Meledak ke segala arah di sekeliling para petualang, terlihat sebagaimana matahari turun ke Dungeon.

“—ah.”

Kilat cahaya melintas dalam otak Cassandra.

Mimpi buruk paling mengerikan itu terulang dalam benaknya bersamaan baris ramalan. Dalam mimpinya, Lilly mati dengan usus tumpah ke mana-mana; Haruhime tenggelam lautan darah, tercabik-cabik; tubuh Mikoto, Chigusa, dan Ouka ditumpuk satu sama lain; Aisha membawa tubuh gadis rubah, terhuyung-huyung sebab kekelahan hingga dikerumuni dan akhirnya dimakan banyak monster; dan Daphne berlumuran darah bermata kosong menghembus napas terakhirnya.

Ramalannya jelas-jelas mengacu ke kematian, juga gambaran-gambarannya melukiskan pembantaian—tetapi Welf seorang yang tidak dimasukkan.

“Palu akan hancur …” Welf kehilangan lengan dan kakinya dalam penglihatan kejam Cassandra.

Yang pasti, lengan juga kakinya terputus dalam mimpinya.

Tetapi itu saja.

Dalam ramalan pun Welf satu-satunya orang yang kematian pastinya belum diisyaratkan kata-kata semacam bunga daging atau terkoyak-koyak.

Bagaimana kalau dia kehilangan keempat anggota tubuhnya tetapi masih hidup?

Bagian terakhir ramalannya, peringatan di baris ke enam belas, menghubungkan segalanya.

Kumpulkan pecahan-pecahannya—pecahan-pecahannya adalah keempat anggota tubuh Welf. Membisikkan Cassandra, seorang penyembuh, akan memulihkannya.

Sucikan api—ini metafora untuk menyalakan api di tungku buat memurnikan pedang sihirnya.

Hingga akhirnya, memohonlah pada cahaya matahari—jawaban atas teka-teki ini ini nampak jelas.

“Matahari besar … tidak, bunga teratai merah tengah bermekaran berbentuk matahari.”

Api neraka dalam wujud matahari telah terbentuk untuk melindungi para petualang dalam formasi pertempuran melingkar mereka. Dan cahaya matahari tersebut memang telah membakar monster tak terhitung jumlahnya.

Menyembuhkan penempa, mengawasi dirinya selagi menempa, terus menyalakan jejak baru pada pedang sihirnya.

Itulah arti sebenarnya baris ke enam belas.

Aksi Cassandra telah mengubah masa depan, hasilnya, Welf tidak kehilangan keempat anggota tubuhnya. Daphne dan yang lainnya pun tak mati.

Cassandra memenangkan takdir tanpa kehilangan satu pun rekannya.

—dia berhasil mencegah ramalan itu menjadi kenyataaan.

Nabiah tragedi, paham penuh pertama kalinya, berdiri terpaku di tanah selagi api menerangi wajahnya. Tangannya masih memegang gagang pedang sihir, dia menatap muka pemuda di sebelahnya.

Welf melihat api menjulang tinggi dan perlahan-lahan membuka bibirnya.

“Benar juga … ini awalan. Awal misi supremasiku.”

Bagi Welf, memang awal.

Pijakan belaka untuk mencapai tingkat penguasaan yang telah digapai sang dewi penempa.

Pangkal pedang yang masih digenggamnya erat-erat tidak lebih dari sekadar tempaan ahli yang dilahirkan lewat meniru kreasi Hephaestus.

Oleh sebab itu sebagian dia sebut Shikou, atau Ketinggian Pertama. Nama yang berarti ambisinya tuk mencapai penguasaan sejati sekaligus mensinyalkan dimulainya perjalanan dia untuk menyadari tujuan tersebut.

Permulaan pendakiannya menuju puncak—seri pertama, layak diperingati.

Kekuatan jenis pedang sihir baru tergantung kekuatan magis penggunanya dan karena itulah, takkan kering. Jangka hidupnya tidak ditentukan tanggal kadaluwarna yang sudah ditetapkan sebelumnya.

Pedang ini takkan ditakdirkan hancur; pedangnya telah mengguncang takdir tersebut.

Itu Pedang Sihir Welf—satu-satunya di dunia. Kekuatan pepdang ini tak hanya sebanding kekuatan penggunanya, namun akan terus berkembang sebagaimana pertumbuhan pemiliknya. Barusan, Welf menambahkan kekuatan sihir Cassandra, seorang penyembuh, untuk dirinya demi meningkatkan kekuatan serangan pedangnya.

Pedang sihir Welf takkan pernah pecah lagi.

Takkan lagi mereka merusak harga diri orang yang menggunakannya atau martabat penempa yang membuatnya.

Mereka akan temani penggunanya seumur hidup, berkembang bersama sebagaimana bagian tubuhnya sendiri, menempa ikatan yang hanya bisa dipisahkan kematian.

“… hei, kalian.”

Nyala api telah memudar dan ruangannya sunyi kembali.

Diawali Daphne dilanjutkan semua orang berbalik pelan-pelan menghadapnya dengan tatapan tak percaya, Welf menyapa mereka.

“Aku siap mengembalikan nyawa yang kalian pertaruhkan di tanganku.”

Welf menarik Kazuki dari tanah terus angkat ke bahunya.

Mata Daphne kebetulan bersilangan mata Welf saat itu, dan dia tersipu malu.

Cassandra tersenyum ke si penempa yang tampak lelah tetapi santai.

Ouka pun pulih dari diamnya kemudian angkat bicara.

“Kau berhasil!!”

Dia, Aisha, Bors, bahkan Lilly memuji si penempa.

Welf balas nyengir sedikit, lalu mulai serius. Mereka mesti bergerak, cepat.

Meninggalkan tumpukan abu besar yang dulunya monster, para petualang keluar ruangan.

ф

“…?”

Tepat seketika party-nya berangkat, di suatu tempat lain, Tsubaki mengangkat kepalanya.

“Ada apa, meong?”

“Oh … bukan apa-apa, hanya saja …”

Kali ini, Tsubaki tidak punya jawaban siap untuk pertanyaan Chloe. Semata-mata perasaan—lebih persisnya, indra keenam seorang penempa. Dia mencoba mengungkap firasatnya ke dalam kata-kata, tetapi cepat menyerah dan menggeleng kepala. Bila dia tak fokus pada sekelilingnya, dia pasti akan melakukan kesalahan.

“OOOOOOOOOOOO!”

Jalan di depan matanya dipenuhi monster. Haus darah, meraung-raung tiada henti.

Ini lantai 26.

Tsubaki bersama rekan-rekannya berhasil melewati cobaan berat menuruni tebing, tetapi begitu mereka melewati lantai 25, para harpy, siren, dan monster-monster bersayap lainnya muncul, memaksa mereka menyerah menempuh rute itu. Mereka malah memutuskan masuk lantai 26 sebelum dilempar ke Air Terjun Besar.

“Hyaahh!”

Tsubaki mengarahkan pedangnya dengan berani dan terampil ke gelombang binatang-binatang mengerikan yang berlari cepat mendatangi mereka.

Tanpa suara, hampir seperti sihir, beberapa kepala monster diterbangkan ke udara. Kilat perak mengerikan membelah tubuh panjang aqua serpent, selanjutnya beralih memutus kepala crystal turtle.

 Pedang yang dipegang tangannya adalah Benishigure, senjata tongkat ditempa indah beragam Naginata5 tanpa satu pun goresan di bilahnya. Dia tempa sendiri, senjata kelas satu tak tertandingi di atas semua senjata. Melintas di udara bagaikan kelopak bunga berputar-putar, menurunkan hujan darah segar sesuai namanya, yang artinya Hujan Musim Dingin Merah Tua.

Monster manapun yang menghalangi Cyclops akan segara ternoda merah dideposit di atas tumpukan mayat meninggi.

“Minggir~~~~~~~~~~~!!”

Gaya bertarung ketiga pelayan yang mengamuk di depan Tsubaki pun sama ekstrimnya.

Pas dengan pekerjaan mereka di The Benevolent Mistress yang punya sejarah uniknya sendiri, keterampilan tempur mereka tidak bisa dibilang rata-rata.

Selagi Ahnya menghabisi sekawanan mermen sekali ayun tombak emas menembus batang tubuhnya, Chloe memotong crystal urchin berputar-putar cepat menjadi serpihan menggunakan pisau pembunuhnya. Di saat bersamaan, keling tanpa ampun Runoa merobek usus serta dada kelpie yang bersiap menyerang, mengubahnya menjad massa abu.

Mereka menyelesaikan cepat monster kelas rendah. Tetapi berapa pun monster yang mereka bantai, banjirnya tiada habis.

“Kita tidak tahu banyak soal Dungeon, tapi, wah!”

Runoa dan Chloe terus bertempur dalam pertempuran tiada akhir seraya mengobrol.

Tsubaki dan Ahnya juga memegang naginata mereka masing-masing dan pedang seraya menjawab.

“Misalkan selalu seperti ini, tempatnya akan dikotori mayat para petualang!”

“Ini pasti Abnormal, meong! Belum pernah aku melihat Dungeon seperti ini!!”

Ekspresi mereka diliputi kerisauan selagi berjuang menangani banjir monster, belum lagi membendung arusnya. Mereka memikirkan Hestia Familia, yakin berada di zona ini, dan Angin Badai yang lokasinya masih tak diketahui. Bukan situasi yang bisa diselesaikan mudah, bahkan bersama Tsubaki Level 5 dalam party mereka.

Apa nasib kelompok para petualang yang kurang kekuatan cukup?

“Para monster melolong gila …!”

Bahkan Runoa yang tahu sedikit Dungeon, bisa merasakan terjadinya sesuatu tak biasa selagi raungan-raungan tempur menggema dari setiap sudut lantai. Bak Dungeon-nya sendiri menjadi liar karena tidak mampu mengendalikan situasi.

“… firasatku bilang ada monster sangat-sangat jahat sekitar sini, meong.”

“Apa? Maksudmu apa?”

“Firasat doang, meong. Tetap saja … ekorku gemetaran. Barangkali di lantai ini, mungkin di atas atau bawah, tapi ada sesuatu buruk di dekat sini, meong.”

Chloe menyipitkan mata jengkel saat Tsubaki balas menatapnya.

Seolah-olah mendukung pengalaman yang memberitahunya kalau itu benar, telinganya bergerak konstan dan bulu di ekor kurusnya berdiri tegak. Ahnya dan Runoa merasa gugup pula; waktu-waktu bareng mereka bersama Chloe mengajarkan tuk percaya Chloe sebagai orang yang sensitif bahaya sebagaimana kucing liar.

Yang tak mereka sadari adalah sesaat memasuki lantai 26, dan oleh karenanya memisah perhatian monster-monster, ajaibnya mereka meringankan beban pihak lain yang juga bertarung di lantai tersebut.

Tanpa sepengetahuan party, perjuangan mereka memungkinkan party lain menembus dinding monster dan masuk lantai 27.

Maka dari itu, bagaimana mungkin Tsubaki dan rekan-rekannya tahu mereka mengantar party lain ke situasi lebih mengerikan?

“…! Jeritan?!”

Barulah, telinga Ahnya berdiri tegak. Di tengah teriakan perang monster, dia mendengar suara manusia.

ф

“Lantai 27!”

“Kita berhasil!”

Welf dan Lilly berteriak kegirangan begitu kaki mereka menginjak tanah datar kristal di sisi jauh lorong penghubung. Labirin di sini tidak terlihat berbeda signifikan dari yang mereka lihat di lantai 25 dan 26. Ukuran kristal kolom dan lorongnya sendiri, akan tetapi, lantainya umumnya lebih besar.

“Berhenti melamun! Kita akan bergerak!”

Aisha bahkan tak memberi waktu sedetik pun untuk party buat mengatur napas lalu menyegerakannya lagi. Dia bertekad sampai zona aman lantai bawah secepat-cepatnya.

“Monster datang!”

“Menyingkirlah!”

Sewaktu sekawanan besar monster meluncur mendatangi mereka dari jauh, Welf menyuruh Ouka minggir lalu melompat ke garda depan.

Kazukiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!”

Dia mengayunkan Shikou Kazuki di udara. Mengeluarkan tarian api menjilat-jilat dramastis yang membakar seluruh kawanan sampai garing.

“Dia lakukan lagi …!”

“Keknya jauh lebih kuat dari pedang lamanya!”

Cassandra dan Daphne menatap kaget pemandangan musuh binasa. Demikianlah seruan pedang sihir baru ini. Aisha tersenyum sendiri, badai percik api mengalir di sekitarnya selagi menghadapi monster yang bermunculan dari terowongan samping sedangkan Welf menangani yang berada di rute utama.

Pedang sihir yang takkan hancur …! Dia membuatkan kami senjata cukup bagus, kan?!

Pedang merah tua berkilau cemerlang di latar belakang lingkungan mereka. Memainkan peran utama dalam perjalanan menuju lantai 27 pula. Mereka memancing para monster ke lorong-lorong sempit kemudian membakarnya secara massal. Bahkan tak perlu merapal sihir tatkala monster mencoba mendekat selama sela-sela waktu serangan pedang sihir. Selama pengaturan waktu mereka tepat, monster-monster takkan bisa mendekat, jikalau beberapa lolos apinya, Aisha dan petualang lain dapat mengurus sisa-sisanya. Ditambah lagi, mereka bebas dari risau yang senantiasa dirasakan atas ketidaktahuan kapan Pedang Sihir Crozzo akan hancur.

Dalam kondisi party yang kini terluka, pedang sihir Welf drastis mengurangi beban pertempuran dan mengubah prospek tidak mungkin mencapai lantai 27 menjadi mungkin. Aisha diam-diam memuji pencapaian penempa di tempat sukar ini.

Tetapi, dia masih khawatir.

Bukannya hancur … aku rasa memakan mana pengguna seperti mantra.

Dia pun sudah melihat keletihan melapisi wajah Welf. Tidaklah mungkin terus-menerus memanggil kekuatan berlimpah seperti itu.

Melancarkan banyak sekali serangan ini menipiskan besar mana sangking besarnya sampai mengerdilkan tekanan penggunaan sihir anti-sihir.

“Ignis, bertahanlah!”

“Aku tahu!!”

Selagi Aisha berteriak kepada Welf basah kuyup keringat, dia diam-diam bersumpah takkan ketahuan membawa seorang petualang pria di punggungnya, dan melipatgandakan usahanya. Mengayun podao terus-menerus, membersihkan jalan maju demi party dengan ganasnya setara sihir Welf.

“—oh tidak!”

“Jangan bilang ini party utama pemburu …!”

Mereka mengikuti jalan naik-turun dalam labirin bertingkat beberapa waktu hingga mendapati pemandangan mengerikan.

Chigusa memucat dan Ouka mengerang kala darah berhamburan di dinding kristal, genangan darah masih basah, lengan dan bola matanya nampak. Kemungkinan besar, mereka dibunuh oleh monster yang disebut-sebut Bors, setiap mayatnya dimiliki korban yang diburu binatang. Air di dekatnya diwarnai merah muda terang, seakan-akan sejumlah mayat diseret ke dalam.

Adegannya mengisyaratkan jamuan mengerikan telah terjadi di sini. Aisha memeriksa ruangannya, anehnya lega Haruhime sekarang ini tidak sadarkan diri.

“Apa-apaan yang muncul di sini …?!”

Selagi mereka berdiri terdiam sembari menerima akibat serangkaian pembunuhan yang membentang di kejauhan layaknya jejak kaki, setiap anggota party berusaha membayangkan monster macam apa yang sanggup melakukan pembantaian ini pada party pemburu.

Apa benar-benar sukes membunuh banyak sekali petualang?

Apakah ia masih berada di lantai 27?

Betulkah Bell dan Lyu berhasil selamat dari pertemuan mereka dengan bencana ini?

Begitu renung kosongnya terlintas di benak, Aisha melihat sekilas Bors, satu-satunya anggota party yang betulan melihat monsternya. Aisha cemas dia boleh jadi sekali lagi termakan teror, tetapi bukan itu kejadiannya.

“… tak aku dengar.”

Dia semata-mata syok.

“Apa?”

“Suara lompatannya … suara gerakannya, tak bisa kudengarkan lagi …!”

Bencananya memainkan melodi kematian tertentu—pertanda kehancuran kian mendekat, selayaknya memantul dari lantai, dinding, serta langit-langit. Bors sudah mengalami neraka itu secara langsung.

Bencana bergerak langsung menemukan dan menyerang ke semuanya, ke mana pun mereka bersembunyi, dan dia terganggu tiada lagi tanda-tandanya.

“Betulkan sudah … tiada? Mungkinkan Angin Badai dan Bell membunuhnya?”

Aisha tak tahu mau menafsirkan apa kata-kata gumaman Bors. Apa mengumgkap harapan nyata atau optimisme tanpa dasar? Aisha tidak tahu, jadi dia memutuskan bergerak.

“Bors, bawa kami ke tempat terakhir kau melihat Angin Badai!”

“Baiklah!”

Entah monsternya masih ada atau tidak, setiap detiknya berharga. Aisha memilih tindakan ketimbang stagnasi. Dia mendesak Bors ke posisi paling depan party dan menyuruhnya membimbing.

“… dak … jangan.”

Begitu mereka mau berangkat, Aisha mendengar suara aneh.

“Jangan … ke sana.”

“…?”

Peringatannya sepotong-potong di tengah suara hentakan kaki party. Kata-katanya diucapkan terbata-bata dalam bahasa manusia.

Dia memeriksa sekeliling tetapi tak melihat siapa pun. Satu-satunya sesuatu yang tercermin di matanya adalah kristal berkilau redup, senjata-senjata berdarah berserakan di tanah, dan air mengalir di sepanjang lahan kering.

Hanya dia yang mendengar suaranya. Kedengaran mendesak dan sedih, ibarat berusaha keras menahan mereka. Meskipun dia merasakan emosi tersebut, akan tetapi, satu-satunya pilihannya adalah mengabaikan peringatannya.

Itu gara-gara dia tahu sisa party takkan berhenti hingga mereka menemukan Bell.

“Di sini …!”

Akhirnya, mereka tiba di sebuah ruangan terlampau besar jumlah tanah padatnya dan banyak jalur air.

Seluruh ruangan dirusak jejak pertempuran hebat.

“Ini … apa?!”

Formasi kristal sangat besar tergeletak, berselaput retakan ibarat sesuatu menabraknya secepat kilat. Celah-celah dalam menjalar di langit-langit, dinding, serta permukaan, dilubangi lubang bak gua dalam. Beberapa kristal kolom terlihat bagaikan dilelehkan api panas ekstrem.

Setiap sudut ruangan punya bekas luka.

“Apa yang menyebabkan kerusakan semacam ini …?” Daphne bertanya-tanya lantang. Di sebelahnya, Ouka menatap bingung sekelilingnya.

Para petualang tak perlu mengatakannya keras-keras karena jelas telah terjadi pertempuran besar di sini, dan karena peprtarungan sampai mati melawan monster yang kelewat kuat dari mereka semua.

Masalahnya adalah yang menang atau yang kalah tidak ada di ruangan.

Tiada tumpukan abu yang menunjukkan monsternya telah dibunuh, tidak pula sisa-sisa tragis seorang petualang yang telah menemui akhir kejam. Gemericik jalur air yang saling melintaslah yang tersisa di medan perang hancur.

Welf serta kawan-kawan lain berjalan menuju tengah ruangan, tetapi tidak menemukan petunjuk di sana.

Laksana ditarik kekuatan tak nampak, Lilly mendekati sebidang tanah tempat terjadinya pertempuran sengit hingga mengubah arah aliran airnya.

Di antara beberapa lubang dalam tanah, dia melihat satu lubang vertikal yang lebih besar dan dalam dari lubang-lubang lain. Kelihatan diukir oleh sesuatu berputar, dan terlihat ukirannya memanjang hingga lantai di bawah mereka. Saat Lilly melihat tanpa mengatakan apa-apa, rasanya ibarat mengantar sampai kedalaman terdalam Dungeon. Sebagaimana bekas luka lain dalam ruangan tersebut, pelan-pelan menyembuhkan diri dan menutup sendiri.

—tidak mungkin.

Mendadak, Lilly memikirkan lambton, monster lantai dalam yang takkan dia sangka-sangka akan temui di zona perairan.

Kemungkinannya kek berlebihan, namun bel alarm berbunyi di sudut pikirannya.

“Kemana perginya semua mayat? Aku melihat orang-orang itu mati dengan mata kepala sendiri …. Apa monster sialan itu memakannya juga …?”

Jelas masih takut pada monster mengerikan yang ditemuinya, Bors memeriksa baik-baik jumlah darah kental yang ditinggalkan petualang-petualang menghilang.

Dialah satu-satunya orang yang tahu persis kejadian di sini. Sisa party melihat sekelilig mereka selagi Bors berbicara.

Siapa yang akan berada di medan perang tanpa pemenang atau yang kalah, kemana menghilangnya para petarung? Tentu saja para penjarah yang meginjak-injak martabat para petarung gugur.

Bandit-bandit yang melahap tumpukan mayat untuk memuaskan lapar mereka. Tetapi medan perang hancur ini bukanlah rumah loping hyenas manapun di daratnya atau circling vultures di langitnya.

Yang ada hanyalah corpse fish mengintai di dalam air.

“?!”

Ciprat, ciprat.

Mendadak, banyak wujud menembus permukaan air dan berenang ke udara.

“Monster ikan …? Mengambang di udara …?!”

Ouka menganga ketika tubuh menyerupai ikan melayang di ruangan kosong.

Tubuhnya terbuat dari batu. Warna tubuhnya hitam keunguan serta panjangnya berkisar satu sampai dua meter, dengan delapan pelengkap menonjol bak sirip. Hanya terdapat satu bola mata melotot menggantikan bagian yang mestinya menjadi sepasang mata.

Sobekan daging manusia compang-caming tersangkut di antara taring tajam mereka menjawab pertanyaan ke mana perginya mayat-mayat tersebut.

“Voltemeria!”

Aisha yang pernah sampai ke lantai 27 sebelumnya, meringis.

Voltemeria merupakan monster langka yang cuma ada di lantai tersebut. Peringkat kekuatannya di jajaran monster terkuat Ibu Kota Air, tepat sebanding kelpie. Tubuh batunya sangat tahan terhadap serangan fisik, sementara rahang kuat dan taring tajamnya bahkan mampu menghancurkan zirah terberat yang dikenakan para petualang. Kemampuan berenangnya di udara membedakannya dari monster-monster akuatik lain.

Kerangkanya yang mirip light quartz yang mana juga ada di lantai 27, monster-monster ikan sanggup mengapung kira-kira tiga meter di atas permukaan tanah. Akan tetapi, kecepatan mereka melampaui para monster kristal mengambang; voltemeria menerjang para petualang bagaikan iblis mengancam berenang di udara sebagaimana pertarungan bawah air. Alih-alih fosil hidup, para petualang biasanya menyebut mereka fosil terbang.

Normalnya, voltemeria hanya mendiami daerah yang banyak jalur air bersilangan dan membentuk kolam dalam. Tetapi bau darah pembantaian memancing mereka ke sini.

Sekarang, mereka melompat tiada henti dari setiap jalur air dalam ruangan.

“Banyak banget …!”

Cipratan tanpa henti yang dibuat voltemeria selagi mereka terbang ke udara mengesalkan Cassandra, lalu alarmnya cepat menyerbar ke Chigusa. Mereka bisa dengan mudah menghitung tiga puluh ikan mengapung di depan mereka.

Gawat.

Daphne memucat saat melihat kejadiannya.

Kemajuan mereka menempuh lantai 26 merupakan latihan mengambil risiko. Mereka telah bersembunyi di berbagai ruangan dan selamat dari serangan monster dengan membatasi bagian depan yang mereka anggap sebagai pintu masuk belaka. Namun kini mereka sedang dikepung. Monster-monster memanfaatkan ruangan besarnya untuk menyerang dari semua arah, termasuk dari atas dan bawah air. Kebanyakan untuk dihadapi party-nya satu per satu.

Selain itu, ikannya bahkan dapat bergerak di udara dan air. Bahkan menggunakan pedang sihir Welf, tidak mungkin melenyapkan musuh yang merayap menghampiri mereka dari kedua arah.

“Ignis, bisa bakar mereka semua?”

“Apa aku punya pilihan?”

Welf melontar tanggapannya kepada Aisha seolah sumpah serapah. Dia hampir kehabisan mana. Dia tahu sekilas dari betapa mengerikannya.

Party sadar bahwa ketiga kalinya, mereka menatap rahang kematian. Mereka kehilangan jejak Bell dan Lyu lagi, setelahnya menghilang pula indikasi jalan maju yang tepat. Stamina fisik party dan kehendak pergi mereka menyusut keduanya.

“…”

Voltemeria batu tidak mengeluarkan suara. Mereka semata-mata menggulung satu mata di dahi tanpa henti, menandakan takkan pernah melepaskan mangsanya.

Aliran ikan monster mengelilingi para petualang sebagaimana ular melingkari mangsanya atau tsunami hitam pekat hendak menelan mereka semua. Dari luar ruangan, mereka bisa mendengar paduan suara gemuruh monster lain. Dihadapkan sumber daya tiada habisnya Dungeon, petualang-petualang hampir jatuh berlutut.

“…!!”

Sekejap berikutnya, benang ketegangan kencang telah putus dan monster terbang menyerbu mereka.

Pengepungan tanpa ampun telah dimulai.

Prediksinya, pedang sihir Welf adalah senjata pertama untuk mencegat aliran banyak sekali ikan sampai-sampai dianggap party monster itu sendiri. Napas api Kazuki membantai sepuluh ikan monster, namun tiga puluh lain menyerang mereka dari arah berbeda.

Dengan panik berjuang mempertahankan hidup, Bors dan petualang lain balas menyerang. Mengiris, merobek, menusuk, menghantam, berusaha habis-habisan melindungi rekan-rekan terluka mereka dan anggota garda belakang yang kini pusat formasi melingkar.

Tetapi sekarang tidak lebih dari perjuangan terakhir hewan terpojok.

“Siaaaaaaaaaal!”

Simpanan barang Lilly telah lama habis, dan mana Cassandra telah dikeringkan hingga ampas terakhir. Jari-jari Welf sudah tergelincir dari gagang pedang sihirnya. Kekuatan kasar Ouka, akal cepat Daphne, kendali senjata Chigusa, dan Bors yang gigih memegang nyawanya sudah hampir habis. Bahkan aliran kutukan yang senantiasa mengalir dari mulut Aisha mulai kering.

Mereka membunuh banyak monster, tetapi tetap saja kawanannya datang. Salah satu ikan menggigit keras bahu Daphne. Gadis itu muntah darah. Ouka cabut dengan kasar. Selanjutnya giliran dia merasakan taring tajam menggigit lengannya. Cassandra dan Chigusa berteriak. Lilly hilang harapan sebab perintahnya tanpa arti.

Kemudian kegelapan tunggal menutupi penglihatan mereka.

Para petualang hendak dihancurkan para voltemeria. Gelombang hitam keunguan hendak menelan mereka. Persisnya kurungan keputusasaan yang ingin dihindari nabiah tragedi.

Lalu, sebagaimana pukulan fatal, para petualang melihat pemandangan mengerikan tersebut menghancurkan semangat mereka.

“Tapi itu tidak mungkin …”

Dari luar ruangan, longsor monster dipimpin lamia bergemuruh masuk.

Berbagai macam spesies meraungkan teriakan menakutkan masing-masing.

Para petualang tersentak melihat jumlah akbar yang mereka hadapi.

“Inikah akhirnya …?”

Seseorang menuturkan kata-kata itu, dan semuanya mengerti maksud ngerinya. Voltemeria-voltemeria menyerang keras para petualang patah semangat dengan pembalasan baru.

“…!! Haruhime?!”

“Cassandra?!”

Taring maut menancap garda belakang.

Setelah menerobos lini depan, para monster menghampiri Lilly dan Cassandra, masing-masingnya menjaga Mikoto dan Haruhime. Seketika tubuh mereka dihempas ke Cassandra, dia ikutan terhempas bersama Haurhime. Manusia rubah terlempar ke tanah agak jauhan, sedangkan Cassandra mendongak mendapati dirinya menatap perut menyeramkan.

Pupilnya berkontraksi.

Dia menatap langsung kematian.

Daphne tengah meneriakkan sesuatu.

Cassandra menutup matanya di hadapan kematian tak terhindarinya.

Kemudian—

Seekor lamia terbang mendekat dari samping dan merobek voltemeria mendekat.

“—hah?”

Cakar itu membuat lengkungan berdarah di sepanjang ikan mengapung.

Ketika Cassandra membeku di tempat, lamia itu memotong voltemeria lain di dekatnya dengan tubuh bagian bawah panjangnya yang bagaikan ular.

“aaAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!”

Lamia-nya meronta-ronta dan memekik nyaring.

Monster-monster lain mengikuti.

Mustahilnya, kawananan lain yang barusan menerobos masuk ruangan mulai menyerang voltemeria.

Waktu sepertinya berhenti saat para petualang memerhatikan monster mulai membantai satu sama lain.

“Perang saudara?!”

“Apa yang terjadi?!”

Daphne dan Ouka menatap bolak-balik, melihat pertarungannya sambil kebingungan. Dalam waktu singkat, pertempurannya menjadi huru-hara habis-habisan. Para petualang berdiri bagaikan batu, tak mampu memahami pemandangan di depan mereka.

“… a-apa …?”

“…”

Lilly linglung di belakang Cassandra tertegun, menatap monster yang menyerang voltemeria.

Para pendatang baru itu sangat-sangat kuat.

Wajah-wajah mereka diwarnai riasan berdarah.

Mereka membawa-bawa senjata.

“…”

Mata Lilly betul-betul melotot.

 Lamia—lamia sama yang barusan menyelamatkan Cassandra—menyadari tatapan Lilly dan diam-diam mengedip menggemaskan.

Bukan kedipan monster tanpa perasaan, tetapi lebih seperti kedipan yang seorang manusia berikan kepada temannya.

Dada Lilly dipenuhi emosi kelewat kuat sampai-sampai nyaris tak mampu bernapas.

“—para Xenos!”

Dia praktis menangis saat meneriakkan kata-kata itu.

“Salam sekali lagi, orang-orang baik dari permukaan!”

Tidak lama setelah dia berteriak sesosok menarik di udara dan mendarat di sisinya.

Sosok ini mengenakan tudung serta jubah yang menutupi seluruh tubuhnya. Lilly mengenalnya sebagai penyamaran yang dimaksudkan untuk menyamar sebagai seorang petualang.

Dia ingat mata monster yang hangat dan baik hati nian.

“Kami datang menyelamatkanmu!”

Dari balik tudungnya, Fia si harpy menggerai rambut merah tuanya lalu tersenyum cerah pada mata berair Lilly.

“Kau tidak apa-apakah, Nona Lilliluka?”

Waktu berikutnya, monster kecil lain tiba di sisi Lilly, hanya menggunakan kapak perang kebesaran bagi tubuhnya membelah dua voltemeria. Dia Lett, goblin bertopi merah sopan, mengenakan jubah untuk menyamarkan identitas aslinya.

“Kenapa kalian di sini …?” tanya Lilly, masih tidak sanggup memadamkan keterkejutannya.

“Fels memerintahkan kami untuk datang! Rei bersama beberapa Xenos lain sekarang ini sedang dalam misi lain, tetapi sisanya bergegas ke sini dipimpin Lido!”

Demikianlah kehendak Ouranus sewaktu mengetahui keabnormalan dalam Dungeon. Xenos-Xenos telah menerima misi dewa keriput itu selama penyerangan mereka ke dungeon buatan, Knossos, selanjutnya dipecah dua kelompok. Rei memimpin Knossos sementara kelompok Lett menempuh jalan rahasia di lantai delapan belas Dungeon dan langsung menuju Ibu Kota Air berdasarkan informasi yang disediakan Ouranus. Mengambil rute sesingkat mungkin dan menggunakan cara apa pun, mereka bahkan menembus langsung melewati garis pertahanan petualang untuk menyelamatkan garda belakang.

Faktanya, monster-monster yang mengakibatkan kepanikan besar di antara petualang-petualang yang kembali ke Rivira adalah Xenos.

Mereka melakukan sebisa mungkin untuk menyelamatkan Hestia Familia yang mereka yakini telah tersangkut ke pusaran bencana tertentu.

Jikalau orang luar melihat Lett dan Fia dengan kostum mereka, mereka takkan curiga sedikit pun, tetapi Lilly kehabisan kata-kata terhadap penjelasan mereka.

“Kami berjanji kepada Tuan Bell! Berjanji akan datang membantu kalian bila mana berada dalam masalah!”

Mereka tepat waktu dikarenakan Xenos.

Bahkan pasukan pendukung yang diminta Lilly akan terlalu lambat untuk menyelamatkan mereka dari kejadian tragedi ini.

Semata-mata monster yang Hestia Familia jabat tangan saja, menempa hubungan kepercyaan, dan akhirnya diselamatkan dari kematian pastilah yang bisa datang tepat waktu untuk menyelamatkan mereka dari bahaya yang ‘kan segera terjadi.

“Kami datang untuk membayar kembali hutang kami kepada teman-teman tak tergantikan kami!”

Dan ada satu alasan tambahan lagi.

Ada ikatan yang telah dijalin Bell.

Layaknya pemuda yang telah menyelamatkan Lilly, dia pun menyelamatkan Xenos, saat ini mereka datang membalas yang Bell tawarkan gratis kepada mereka.

Mustahil menghentikan aliran air mata dari mata kastanye Lilly kali ini.

“T-tapi, kok bisa kalian sampai sini? Bisa-bisanya kalian menemukan Lilly serta rekan-rekannya dalam Dungeon besar ini …?”

Dia buru-buru menyeka matanya hingga kering.

Fia menjawab sembari tersenyum.

“Kami punya Helga dan Aruru soal itu!”

“Cit!”

Selagi Cassandra berbaring merosot di tanah, seekor al-miraj putih duduk di atas hellhound muncul di depanya. Mengabaikan kagetnya, monster putih lembut mengangkat satu tangan energik, seakan-akan bilang: Halo lagi, teman lama!

“K-kau …”

Cassandra membelalak pernah melihat wajah-wajah ini sebelumnya di hari tak terlupakan itu tatkala monster bersenjata sama ini muncul di permukaan dan menjerumuskan Orario ke dalam kekacauan total.

Mematuhi mimpi ramalan, Cassandra diam-diam melindungi hellhound dan al-miraj.

“Cit! Cit!”

“Guk, guk!”

Cassandra menjerit kala al-miraj memeluknya dan si hellhound menjilatnya. Dia mau pingsan saat monster kelinci putih membenamkan wajahnya di belahan dada dan menyondol payudaranya. Sambil menatapnya dengan mata merah, Cassandra merasa tersentak sedikit.

“Apa kalian … datang menemukanku?”

Mata bulat kecil itu berkilauan seketika al-miraj mengusap dadanya di dada. Cassandra anggap iya—tapi sesaat setelahnya, syok menerpa, merenggut napasnya.

“Mimpiku … dengan gelombang hitam pekat dan jimat kelinci …”

Terjadi sekitar dua puluh hari lalu, tepat sebelum pertempuran Daedalus Street. Dia telah melihat mimpi ramalan yang menuntunnya untuk melindungi al-miraj.

Dalam mimpinya, gelombang hitam pekat hendak menelannya. Persis ketika di ambang kematian, dia mengeluarkan jimat kelinci yang didapatkan sebelumnya dan berhasil kabur. Waktu itu, menganggap gelombang hitamnya sebagai si black minotaur.

Karena Cassandra melindungi al-miraj, Cassandra tidak diserang binatang buas menyeramkan itu.

Namun kini kalau dipikir lebih baik lagi, interpretasinya serasa aneh.

Seandainya dia tidak melindungi kelinci sebagaimana didiktekan peramal dan pergi ke tempat yang menyuruhnya mendatanginya, Cassandra takkan menemui minotaur sedari awal. Mungkin Dahpne benar sewaktu dia marah dan memberitahunya seakan dia berakting sendiri.

Arti lainnya, kehancuran yang dihindarinya dengan melindungi al-miraj tidak terjadi hari itu.

Cassandra bingung melihat sekitarnya.

Voltemeria berwarna hitam. Dan sesaat massa mereka disatukan sesak, mereka kelihatan persis sebagaimana gelombang hitam pekat.

Mungkinkah gelombang hitam yang menelannya dalam mimpi itu bukanlah minotaur namun kawanan ikan terbang?

Apakah jimat kelinci—yakni, al-miraj—terbiasa sama baunya yang Cassandra urus selama berhari-hari dan kemudian menggunakannya untuk mencarinya dalam Dungeon?

Meremas monster berbulu putih dengan tangan kanannya selagi monster itu mengais lembut belahannya, Cassandra tersadar dia barusan menghindari takdir dalam mimpi nabiahnya beberapa saat lalu.

“Dapatkah mimpi ramalan tidak lagi ada gunanya …? Apakah penglihatan hari itu adalah peringatan untuk menghindari kerusakan hari ini?”

Cassandra memandang penuh pertanyaan al-miraj serta hellhound yang sepertinya sangat gembira melihatnya.

Di sisi lain, Daphne—yang kewalahan total dengan perubahan kejadian tak terduga-duga—tidak memerhatikan Cassandra yang mengerahkan keberaniannya dan diam-diam hendak memeluk si monster.

“… ga, tidak boleh!”

“Cit?”

Yah, niat atau tidak, kelihatannya dia masih belum siap sejauh itu.

“Kalian …”

Di ambang kehabisan mana, Welf hanya bisa megujar beberapa kata gumaman. Tetapi selagi memerhatikan, satu troll, lamia, serta deadly hornet menyapu bersih lantai berisi sekawanan besar voltemeria sambil mengabaikan benar-benar para petualang.

“A-apa yang … sebenarnya … terjadi?”

“Apa mereka … monster-monster bersenjata yang kita dengar?”

“Kukira Loki Familia sudah memusnahkan mereka di Daedalus Street!”

Bors, Chigusa, dan Ouka bingung benar. Daphne masih membeku, tak bisa memahami kejadiannya. Monster-monster datang melindungi petualang, lebih tepatnya memprioritaskan pertarungan sengit melawan kaum mereka sendiri juga mengabaikan para petualang. Bors, Chigusa, Ouka, dan Daphne hanya bisa merespon panik, jangan tanya reaksi koheren.

Tetapi Welf paham apa yang terjadi.

Seekor gargoyle terbang di atas kepalanya, menyadari tatapan Welf dan balas menoleh lanjut berbalik seperti orang kurang ajar. Tiba-tiba, pertempuran buas udara dimulai. Sepenuhnya dikuasai Xenos dengan sayap batu besar hampir tak terhancurkan, voltemeria-voltemeria jatuh satu per satu.

Di bawah gargoyle, satu lizardman sedang bertarung dalam pertarungannya sendiri.

Dengan kemenangan pertarungan darat tak terhitung yang membantu pertarungan-pertarungan ke depannya, petarung agung itu mengiris beberapa ikan terbang marah sekali ayun scimitar di tangan kanannya, sembari terus mengayun kuat pedang panjang di tangan kirinya.

Saat melaju di depan Welf, mulut penuh taring si lizardman menyeringai.

Dia kelihatan ingin tersenyum.

—tebak siapa lagi di sini?

Itulah kilatan tak tergoyahkan mata reptil yang sepertinya katakan selagi melihat-lihat seberang ruangan.

Welf mengikuti pandangannya dan melompat kaget.

Sesosok berjubah hitam berlari melintasi medan perang—

“… ahh.”

Kelopak mata Haruhime berkibaran begitu sesuatu bergerak di pipinya.

Dia merasa grogi, ibarat kain kasa menutup telinganya untuk meredam suara di sekitarnya.

Satu hal yang dirinya tahu pasti adalah dia tengah berada di medan perang.

Boleh jadi disebabkan efek samping kehabisan mana terus-menerus, keletihan besar dan kelesuan membebani lengan-kakinya. Namun dia harus merapal. Dia mengerti perannya sebagai penyihir. Dia tidak boleh terus berbaring.

Haruhime mencambuk tubuhnya dengan cambuk tekad. Dia harus memanggil kekuatan di tubuhnya dan membaca mantra di bibirnya. Dia harus melimpahkan cahaya sihir it uke rekan-rekannya. Namun seketika berpikir dia harus benar-benar berdiri cepat, sebagaimana Bell perbuat di masa lalu—seseorang memeluknya.

“…?”

Saat sadar tubuhnya ditopang lembut, dia membuka mata.

Melihat sepasang mata kuning, dan wajah penuh cahaya merah hangat.

Tampak persis sebagaimana wajah gadis yang dipikirkan Haruhime tiada henti semenjak perpisahan mereka.

Sewaktu pandangan kaburnya memfokus, bibir Haruhime menyebut nama gadis tersebut.

  Menanggapi kata-kata bisikkan lemah, muka si gadis naga tersenyum, rambut biru-putihnya berdesiran.

“Iya, Haruhime.”

Air mata terjatuh dari mata hijau Haruhime begitu mendengar suara gadis separuh naga.

“Aku datang menyelamatkanmu!”

“Ah … ahhh …!”

Masih berlutut, Xenos itu memeluknya erat-erat.

Haruhime merasa tidak bisa menahan emosinya.

Dia tidak pernah berhenti memikirkan gadis yang rasanya sangat mirip sepeti adik atau putrinya. Tidak satu hari pun berlalu tanpa memikirkannya. Perasaan lembutnya tatkala melihatnya lagi menyapu kelelahan apa pun. Dia memeluk gadis naga dan menariknya mendekat. Wiene mengusap wajah berlinang air matanya ke wajah Haruhime.

“Aku pengen banget menemuimu, Haruhime!”

“Aku juga … aku juga!”

“Aku tidak menangis setiap saat! Aku tidak mau membuatmu khawatir!”

Seperti Fia, Wiene mengenakan jubah menutupi kepala dan tubuhnya. Suara cantiknya terdengar semacam kicau burung di telinga Haruhime.

“Tapi … sekarang aku tidak bisa berhenti menangis!”

 Haruhime merasa seakan hatinya hendak meledak. Senyum gadis naga semurni aliran air mata yang menuruni pipinya.

Mereka sekali lagi saling berpelukan.

“Nona Wiene …!”

“Wiene sudah mengikuti berbagai aktivitas kami, dan ketika mendengarmu dalam bahaya, dia bilang ingin datang apa pun yang terjadi.”

Lilly menyaksikan reuninya dengan kaget campur bahagia. Selagi Lett menjelaskan motivasi gadis naga, dia merasakan kebenaran pada kalimatnya. Lilly memikirkan hari-hari hangat ketika menghabiskan waktu di permukaan bersama Wiene. Dia sungguh-sungguh menjadi bagian familia mereka.

“Apa yang terjadi di sini, meong~~~~?!”

Baru saat itu, dia mendengar suara jelas meneriaki mereka dari gerbang masuk ruangan, diikuti suara monster yang ditendang berani ke samping.

Ahnya beserta party-nya baru sampai beberapa langkah di belakang Xenos.

“Kita menemukan para petualang, tapinya …”

“Monster-monster membunuh satu sama lain, meong?!”

Ahnya terengah-engah itu dikejutkan kejadian yang mereka temukan dari dalam ruangan. Runoa dan Chloe juga terperangah melihat ganasnya pertempuran berbagai monster—bisa dibilang, antara voltemeria melawan Xenos.

Sesudah kelompok beranggotakan empat orang mendengar jeritan Lilly, mereka mengikuti firasat Chloe ke lantai 27, di mana dirinya melihat sekilas parade monster bersenjata yang kuatnya ngeri dari belakang. Merasakan monster-monsternya barangkali bermaksud melakukan sesuatu dengan bergerak ke lantai lebih dalam berdasarkan pemikirannya sendiri, Ahnya dan rekan-rekannya memutuskan mengikuti. Kapan pun mereka kehilangan jejak parade, mereka hanya mengikuti suara pertarungan hingga akhirnya sampai ke ruangan ini.

“Ahnya-sama …! Lady Hestia sungguhan datang demi kita!”

Lilly-lah orang pertama yang menebak arti kedatangan mereka, diam-diam menyoraki dewi pelindungnya atas permintaan dukungan dari permukaan.

Sementara itu, separuh kurcaci tertentu sedang menghampiri seorang anak muda seolah-olah ditarik magnet.

“Welf …”

“Tsubaki?! Apa yang kau …?”

Tsubaki berhenti di depan penempa kebingungan.

Mantan koleganya tergopoh-gopoh. Welf megap-megap, dipenuhi luka besar-kecil, dan terlihat mau pingsan jika didorong sedikit pun.

Tetapi sekarang ini, dia tak peduli. Matanya hanya melihat pedang di tangannya.

“Pedang sihir itu …”

Pedang panjang merah tua. Bukan Pedang Sihir Crozzo—Pedang Sihir Crozzo.

Mata kanannya terbuka lebar-lebar terhadap tingkatan emosi yang Welf belum pernah lihat sebelumnya.

Namun demikian, dia tak sewajar itu hingga bertanya pedangnya apa.

Berbanding terbalik, dia mendapati dirinya tercengang sejenak. Sekali lirik kilatan pedang memberi tahu master penempa pencapaian Welf.

“Hehehehehehe, hahahahahahahahahaha!! Jadi akhirnya kau berhasil, anak baru?”

Gelak tawanya tak cocok di medan perang. Seketika Bors dan para petualang lain menatap sebal, cuma Welf yang balas menatapnya dengan mata jernih.

“Kau mencobanya walaupun tidak tahu sejauh apa tingkatan penguasaan! Kau mengincar puncak kahyangan!”

“…”

“Aku memanggilmu idiot, tapi ternyata kau idiotnya orang-orang idiot! Dan lebih begonya lagi memberi saran tidak berfaedah! Ahhh, dasar bajingan nakal! Ini, rasa senang unik!”

Kata-kata Tsubaki bukan penghinaan ataupun kritik, melainkan ekspresi gembira murni.

Itu tanda-tanda persaingan yang dirasakannya kepada anak laki-laki yang dulu melebihi harapannya.

Dan itulah bukti Tsubaki telah menerimanya sebagai bagian sukunya.

“Selamat, Welf Crozzo. Kau akhirnya bagian dari kami.”

Kemudian dia menambahkan, “Dan … selamat datang di neraka.”

Pujiannya tulus; sang master penempa merayakan pencapaian Welf dari lubuk hatinya.

“Suasana hatiku lagi bagus. Serahkan sisa monster-monster itu kepadaku.”

“…! Bentar, Tsubaki, monster-monster itu—”

“Aku tahu, aku tahu. Aku cuma akan menghabisi yang tidak bersenjata.”

Tsubaki berpaling dari Welf, menjilat bibirnya pada kedatangan kawanan baru voltemeria yang dibawa jalur air ke sisinya.

Tidak sanggup menyembunyikan kesenangannya, dia nyengir ketika melihat mereka seperti seorang iblis wanita.

Ahnya, Chloe, serta Runoa beraksi dan bergabung bersama Tsubaki membantai voltemeria demi party lumpuh yang mereka selamatkan.

Pertempuran sengit antara monster melawan petualang, dan Xenos telah dimulai.

“Lido! Lidoooooooooo!”

Suara sopran menembus suara pertempuran sengit tanpa henti-henti tersebut. Liaardman mendongak melihat mermaid Xenos, Mari, menjulurkan kepalanya dari jalur air. Lido bergegas menghampiri.

“Mari, kenapa kau di sini?! Kalau begitu kau pasti tahu apa yang ter—”

“Bell! Bell ke bawah!”

Mari sambil menangis menginterupsi kata-kata manusia Lido.

“Bellucchi? Mari, kau bersamanya?!”

Lizardman kaget buru-buru memahami kata-kata patah Mari, mengekstrak informasi bahwasanya Bell dan seorang elf telah tersedot ke dalam lubang cacing dan dibawa ke suatu tempat di bawah mereka, kemudian diikuti utusan pembunuh yang baru-baru ini dilahirkan. Laporannya sesuai yang mereka ketahui mengenai malapetaka dari dewa tua lewat Fels.

UOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!”

Xenos-Xenos memutar kepala mereka ke Lido saat dia menyeru perang. Panggilannya merupakan pesan untuk monster yang manusia tidak dapat mengerti. Setelah menerima informasinya, lamia juga beberapa Xenos lain balas melolong dan cepat-cepat keluar ruangan.

“Monster bersenjata telah …!”

“Semenit lalu kupikir mereka perang saudara, dan berikutnya pergi. Sebetulnya apa yang terjadi, meong?! Aku tak paham sedikit pun, meong!”

Chigusa dan Chloe menyaksikan syok monster-monster eksentrik memburu beberapa voltemeria terakhir sebelum buru-buru keluar ruangan.

“Lido-sama ngapain—?”

“Dia bilang Mister Bell dan seorang petualang elf dibawa ke lantai lebih rendah oleh monster lain!”

Lett, masih mengenakan penyamaran petualangnya, tetap tinggal bersama Fia. Dia menyampaikan pesan yang baru saja diterima.

“Sepertinya utusan ibu kami, Dungeon … monster besar mengejar Bell dan elf!”

“…! Terus mereka pergi ke lantai mana?!”

“Kami tidak tahu! Tapi kalau tebakan dewa Ouranus benar … mereka bisa jadi berada di lantai dalam.”

Kata-kata Lett membungkam Lilly. Pikirannya kosong sepenuhnya mendengar prospek kabar paling buruk.

“Dan Lido punya pesan untukmu … misal kau mau ikut, maka ikutlah. Kami akan mengantarmu ke sana.”

“!!”

Ajakan tindakan Lido mengejutkan Lilly. Dia mengerti betul maksudnya.

“Ahnya-sama!”

“Meong, meong, meong? Pendukung si rambut putih memanggil …?” si gadis kucing mengangkat suarnaya selagi beralih menghadap Lilly tanpa bergerak. Si prum berlari mendatanginya.

“Ahnya-sama level berapa?”

“Pertanyaan macam apa itu, meong? Lebih pentingnya lagi, Lyu di mana—?”

“Aduh ya ampun! Jawab sajalah!!”

“Meong? Level Empat! Chloe, Runoa, dan aku sama levelnya dengan Lyu, meong!”

Takut oleh mata merah darah Lilly dan ekspresi marahnya, Ahnya refleks menjawab. Hati Lilly berdegup kencang mendengar jawabannya.

“—kalau begitu kita bisa membersihkan Ibu Kota air!”

Detik berikutnya, Lilly meneriakkan perintah ke party.

“Sangat mungkin Bell-sama dan Lyu-sama dibawa turun lewat lubang wormwell ke lantai bawah! Kita semua akan menuju zona aman dan berkumpul kembali! Dari sanalah kita akan mencoba menyelamatkan Bell-sama serta Lyu-sama!”

“Apa …?!”

Bors dan orang-orang lain menatap kaget Lilly selagi dia meneriakkan perintah-perintah.

“Tidak ada protes!!”

Komandan kecil itu menyatakan keputusannya bak tirani.

Pelayan misterius dari The Benevolent Mistress sebenarnya adalah para petarung Level Empat! Dan Tsubaki, kapten Hephaestus Familia, itu Level Lima! Seumpama kami bekerja sama dengan Xenos, kami bisa menembus lantai 28 dan ke bawahnya …!

Lilly memerhatikan kemampuan bertarung Ahnya dan rekan-rekannya dalam peta pertarungan dalam kepala, mengkalkulasi apakah strategi yang diimpikannya layak atau tidak.

Dia telah menebak maksud pesan Lido dengan benar.

Xenos berencana menyelamatkan Bell bersama party Lilly. Kemungkinan besarnya mereka akan menjaga jarak dari para petualang sembari mencari Bell dan Lyu, menyampaikan pesan bolak-balik lewat lolongan binatang yang diterjemahkan Lett. Ini maksud perkataan Lido tentang Xenos akan mengantar mereka ke sana.

Dimulai Lido dan Gros yang keduanya kekuatan Level 5, Xenos punya kemampuan bertarung tinggi.

Termasuk party Tsubaki yang mengartikan mereka punya lebih dari cukup kekuatan untuk pertarungan ke depannya. Banyak anggota mampu menembus lantai bawah. Lilly dan yang lainnya adalah petualang Level 1 dan 2 yang harus menyediakan bantuan.

Jelas saja kesempatan tidak terduga-duga—semacam pembukaan—telah terbentuk. Namun bisakah mereka mengeksekusikan strateginya dengan baik untuk memanfaatkannya?

Barangkali kami mampu.

Tidak. Kami pasti akan berhasil!

Mereka akan mengambil tantangan untuk mengalahkan Dungeon dan menemukan bocah serta elf itu.

Di dekatnya, Daphne dan Cassandra mendebatkan langkah mereka selanjutnya.

“Maksudmu kita sedang mencari lubang wormwell? Tapi tidak ada buktinya Kaki Kelinci bahkan dibawa ke bawah sana, apalagi jaminan dia masih hidup atau tidak …” bantah Daphne.

“A-ayo ikut sama mereka, Daphne!! Ayo selamatkan Bell dan Lyu!”

“Yaelah! Okelah, aku ikutan! Bukan lagi pertanyaan logika karena kita sudah sampai sejauh ini.”

Daphne mencoba menyuarakan keraguannya terhadap rencana Lilly, tetapi Cassandra nyodor semangat untuk meyakinkan temannya, Daphne nyerah dan responnya beda cara.

Sedangkan, Bors tengah mencari jalan keluar. Seperti biasa, dia menomorsatukan keselamatannya dahulu.

“Aku tidak wajib ikut sampai akhir …!”

“Kau ngomong apa? Seorang petarung Level Tiga sepertimu itu penting buat kami. Kami akan memeras setiap tetes kekuatanmu sampai tulangmu kering!”

 “Jangan bercanda!”

Aisha tertawa tidak tahu malu, seusai menolak kesempatan kabur apa pun secara efektif. Di satu waktu, party Tsubaki sedang memperbarui komitmennya untuk menyelamatkan Lyu.

“Aku tidak terlalu paham … tapi kalau Lyu di bawah sana, yaudah aku ikut, meong!” ucap Ahnya.

“Dalam Dungeon, semakin rendah kau pergi makin buruk jadinya, kan? Uwaduh, aku sudah kelelahan.”

“Ini persoalan rugi kalau tidak dibayar atas misi ini, meong …. Dan kita bahkan bukan petualang.”

“Hahaha! Kita semua satu situasi sekarang!”

Tawa Tsubaki menghilangkan pesimisme Runoa dan Chloe yang masih menetap.

Chigusa dan Ouka, di sisi lain, masih memikirkan kejadian yang telah mereka saksikan di Daedalus Street, pas monster naga humanoid menyelamatkan seorang anak.

“… rasanya monster-monster bersenjata itu sengaja membantu kita …”

“… dan yang bersembunyi di balik jubah itu yang kelihatan mirip petualang …. Penempa, sebaiknya kau jelaskan semua ini nanti!”

“Tidak yakin bisa aku jelaskan baik-baik!”

Mengesampingkan pertanyaan mereka, Welf tersenyum tenang menyebalkan kepada dua rekannya.

Vouivre sama yang masih berdiri di sebelah Haruhime.

“Ayo, Haruhime! Ayo selamatkan Bell!”

“Iya, Nona Haruhime!”

Gadis naga mengulurkan tangannya, dan Haruhime remas erat.

Sesaat Lilly melihat-lihat sekelilingnya mendapati tekad dan semangat tinggi di paras rekan-rekannya, dada kecilnya hangat akan emosi.

Kami bisa melakukannya …! Dengan party ini, kami bisa sampai lantai dalam!!

Tersisa satu masalah saja.

“Mulai dari sekarang adalah pertarungan melawan waktu. Kita harus menemukan Bell-sama selagi dia masih baik-baik saja!”

“…!”

“Menempuh di lantai bawah itu lambat. Palingan akan memakan waktu sehari atau dua hari untuk sampai lantai dalam …!”

Lilly menanggapi gumam khawatir Lett dengan berdehem.

Tanpa peralatan tepat, mereka cuma akan kuat bertarung lantai bawah selama waktu terbatas. Tidak boleh menyia-nyiakan satu detik pun. Mereka perlu maju kecepatan penuh jika hendak menyelamatkan Bell dan Lyu. Lilly sejenak membuang kecemasan dan ketakutan yang dia rasakan mengelilinginya, lalu menitahkan perintah.

“Kita berangkat!”

Para petualang mulai berlari.

Mereka meninggalkan ruangan dan melesat menuju rute utama yang mengarah ke lantai berikutnya.

Dungeon takkan mampu menghentikan mereka sekarang.

Teriakan-teriakan perang Xenos menggemuruh di depan mereka, ibarat menyambut majunya front keberanian.

Catatan Kaki:

  1. Kelpi adalah kuda air supranatural dalam mitologi Kelt yang diyakini menghuni sungai dan loch di Skotlandia dan Irlandia. Kelpi tampak sebagai kuda yang kuat dan bertenaga. Dipercaya jangatnya hitam (beberapa kisah menyebut putih). Kulitnya seperti anjing laut, lembut namun dingin seperti mayat. Kuda air dipercaya dapat berubah bentuk menjadi wanita cantik untuk menggoda pria menuju jebakannya. Kuda air merupakan wujud kelpi yang umum. Konon ia suka memakan anak-anak. Ia tampak sebagai wujud kuda yang memikat sehingga anak-anak tertarik untuk menungganginya. Sekali menungganginya, maka tak akan bisa lepas dan kelpi akan membawa korbannya ke air untuk dimakan.
  2. Afanc, sesekali dipanggil Addanc, adalah monster danau dari Mitologi Wales. Deskripsi pastinya bervariasi; ada yang bilang mirip buaya, berang-berang, atau makhluk mirip kurcaci, kadang kala dibilang-bilang seperti iblis.
  3. Setau gua, kalau ga salah yak, monster campuran naga, ikan, ubur-ubur, sama ayam.
  4. Ballista adalah senjata misil kuno yang mampu melontarkan proyektil yang besar sampai jarak yang jauh. Ballista berasal dari bahasa Yunani: βάλλω (ballō, “melempar”). Ballista dikembangkan dari senjata Yunani yang lebih awal. Ballista bekerja berdasarkan beberapa mekanisme berbeda, mempergunakan dua pengungkit dengan pegas torsi, alih-alih lecutan, pegasnya terdiri dari beberapa putaran unting yang terbelit. Versi awalnya melontarkan proyektil berupa anak panah atau batu bulat dalam berbagai ukuran. Ballista terutama digunakan dalam peperangan pengepungan. Ballista berkembang menjadi senjata yang lebih kecil, yaitu sniper, Scorpio, dan mungkin polybolos.
  5. Naginata (なぎなた, 薙刀) adalah salah satu dari beberapa senjata di Jepang(nihonto). Naginata awalnya digunakan oleh para samurai kelas feodal Jepang, serta prajurit ashigaru dan Sohei.

10 Replies to “DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 14 BAB 8”

  1. Mantaplah…..
    Aslilah gua pikir nantu si loki fmly atau freya familia bakal ada yg ikut jadi tim BASARNAS, setelh liat komposisi party di BAB ini kek nua ngak perlu lagi…
    Tinggal si black mino blm keliatan posisi ny dimana, yaa kli black mino lagi ngeGym di lantai dalam trus ketemu bell deh heheeee

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *