DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 14 Bab 7

Posted on

Puisi Keputusasaan,

Puisi Kemenangan

Penerjemah: 9S

Apa pun yang kulakukan, selalu saja sama.

Apa pun yang kukatakan, tidak ada yang mendengarkan.

Sememohon bagaimanapun, permintaanku tidak sampai siapa-siapa.

Selalu saja sama.

Dunia senantiasa menginjak-injak kerja kerasku.

Dunia kerap mencibir tragedi-tragediku.

Walau sudah mengumpulkan keberanian dan berusaha, meski berteriak sekeras mungkin, aku terus bertemu hal mustahil.

Seringkali, peringatan mati-matianku diabaikan.

Kerapkali, tekadku goyah bagaikan kastil pasir.

Aku telah mencicipi kekalahan berkali-kali.

Waktu ke waktu, aku terlempar dari tebing ke dalam kedalaman kegelapan.

Tapi aku bisa apa? Aku pasti dikutuk.

Aku bisa apa, aku bisa apa … aku bisa apa?

Kapan kata-kata itu mulai menyerang hatiku?

Kapan aku mulai merasakan bayang-bayang pasrah bahkan ketika momen-momen diriku mencoba mengubah masa depan?

Tidak seorang pun memercayaiku.

Tidak seorang pun mencoba memercayaiku.

Bahkan anggota familiaku sendiri tidak.

Dia pun tidak, yang kupanggil sahabat.

Jadi aku menyerah.

Aku tidak berusaha sekuat tenaga mencoba mengubah masa depan.

Hanya sekali, muncul seorang anak laki-laki yang memercayai kata-kataku.

Aku kira kali ini aku harus berhasil.

Aku melangkah maju karena sangat tidak ingin kehilangan teman-temanku.

Tetapi sebagaimana biasanya, dunia mengejekku.

Ahh, ujung-ujungnya, semuanya tak berguna.

Siapa yang bisa menyalahkan aku yang berpikir demikian?

Dihadapkan keputusasaan semacam itu, siapa yang bisa menghukumku dan patah hatiku?

Sendirian, nabiah tragedi tenggelam dalam kesedihan.

ф

Ia serba putih.

Dua kepala besar terangkat.

Tubuh besar nan indahnya membawakan ungkapan naga impian, namun faktanya, ia adalah perwujudan keganasan dan kehancuran.

“Monster Rex-nya lantai 27—”

Raungan ganda sang naga menggema. Kedua kepala nyambung memadukan permusuhan dan niat membunuh dalam harmoni sempurna.

“—Amphisbaena!”

Ketika prum tertegun melihat naga itu, Amazon di sebelahnya meludahkan nama monster tersebut.

“OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!”

Raungan besarnya bukan hanya menggelegar di sepanjang lantai 25 namun di seluruh tiga lantai Ibu Kota Air. Para anggota aliansi mundur serempak saat mendengar teriakan tempur Amphisbaena, bos lantai yang telah muncul dari Air Terjun Besar yang menghubungi ketiga lantainya.

Aliansi ini dibentuk oleh banyak familia untuk melaksanakan ekspedisi, bersama Hestia Familia sebagai intinya, berpetualang ke lantai bawah dengan tujuan mengungkap kebenaran mengenai pembunuhan yang Lyu, si Angin Badai, didakwa melakukannya.

Mereka telah pergi beberapa jam lebih awal bersama Bell yang bergabung bersama party elit yang pergi duluan ke lantai 27. Setelahnya, banyak rangkaian ledakan yang amat besar sampai-sampai seluruh Ibu Kota Air nampak akan dihancurkan, diikuti kemunculan suatu keabnormalan Dungeon—perjamuan bencana—yang terjadi kurang dari dua puluh sampai tiga puluh menit lampau, sekalipun party Lilly tidak terdampak apa-apa.

Kini muncul lagi di hadapan mereka, bersamaan Abnormal baru.

“Itu … boss lantai dari lantai bawah.”

Monster Rex selanjutnya sesudah Goliath dari lantai tujuh belas.

Chigusa dari Takemikazuchi Familia, menatap linglung monsternya seraya bicara. Sang monster tengah mendongak dari danau besar yang merupakan kolam lantai lantai 25.

Chigusa harus mendongak untuk melihat bentuk agung yang menjulang setinggi dua puluh meter. Puluhan kali lebih lebar dari orc, benar-benar cocok dijuluki bos lantai. Seluruh tubuhnya berwarna putih. Sosoknya yang dibungkus sisik kapur memang besar, namun juga membangkitkan keindahan tertentu.

Akan tetapi, cahaya di matanya, tidak salah lagi cahaya seekor monster—kilat-kilat makhluk keji yang membuang seluruh logika demi memanjakan insting penghancurnya.

“Naga kepala dua …”

Dua kepala yang tampaknya bergerak sendiri-sendiri, penting untuk diperhatikan dengan khusus.

Leher panjangnya terbelah dari titik munculnya di tubuh. Setiap kepalaya berwajah binatang buas yang ditutupi sisik-sisik naga sebesar pelindung dada. Sepasang mata di kepala kiri berwarna biru, sementara di kepala kanan berwarna merah.

Ketika kata-kata gumam itu terurai dari bibir Mikoto, tidak satu pun anggota party—tidak Lilly, Welf, dan Haruhime maupun Ouka, Chigusa, Daphne, dan Aisha—mampu menyembunyikan syok mereka.

 “… ah.”

Wajah Daphne memutih. Tinju terkepalnya bersuara membuka. Dia bisa mendengar hancurnya permintaan maaf sesudah dirinya mengorbankan banyak sekali nyawa untuk menyelamatkan teman-temannya.

Naga yang dihadapinya sungguh-sungguh perwujudan keputusasaan.

“…”

Raungannya—begitu memekakkan telinga hingga bahkan suara gemuruh konstan Air Terjun Besar tidak sanggup membenamkannya—dikeluarkan, menyisakan sisa raungan yang menggema di setiap sudut Dungeon.

Sesaat cahaya samar dari kristal di Ibu Kota Air memantulkan tubuh putihnya, naga berkepala dua pelan-pelan melatih tatapan mengancamnya ke zat asing yang mengancam ibunya, Dungeon. Berarti, menargetkan para petualang.

“—OOOOOOOO!!”

Teriakan ganas lain.

Kepala bermata biru menghembus napas buruk.

Api biru melesat, menghanguskan udara.

Pemandangannya terlampau indah sampai-sampai para petualang yang menyaksikannya merasa merinding. Yang mengerikannya, seketika beberapa bara api menyentuh permukaan kolam terjun, hembusan uap besar meledak naik. Ouka dan kawan-kawan lain menatap ngeri ketika api membakar mendatangi mereka, menguapkan air seiring lajunya.

“Menyebar!!”

 Teriak Aisha, tidak memberikan waktu ragu sedikit pun, mendesak rekan-rekannya untuk bertindak.

Mereka meluncur saat itu juga. Welf meraih ranselnya dan menarik paksa Lilly ke dekatnya, di sisi lain Aisha memeluk Haruhime ke dadanya, dan Mikoto kabur bersama Chigusa secepat mungkin.

“Cassandra?!”

Penyembuh seorang yang tertinggal di belakang. Dia tidak sadar, tertegun. Tak bisa bergerak.

Daphne terlanjur kabur, namun dia buru-buru kembali dan meraih lengan Cassandra. Dia terlambat.

Cahaya biru neraka mengerikan menerangi wajah kedua gadis.

Yang menyelamatkan mereka dari kemastian pasti adalah dinding garda depan.

“Gyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”

“Ouka!”

“Tuan Ouka?!”

Memenuhi tugasnya sebagai tank party, Ouka menyodorkan perisai bersarnya.

Petualang Level 3 nyaris tidak lolos kematian lebih dari satu kali sewaktu berkelana di lantai bawah. Kini dia menggunakan imajinasi kepalanya—yang bisa juga disebut cepat tanggap—untuk melindungi party. Alih-alih memblokir api secara langsung, dia memegang perisainya di salah satu sudut.

Mendorong Daphne dan Cassandra kaget menjauh dengan punggungnya, Ouka lompat ke samping lalu menangkis semburan napas api. Pikiran cepatnya menunjukkan keterampilan yang didapatkannya dari ekspedisi sekarang ini sekaligus akumulasi pengalamannya. Tapi …

“Huh …?! Tapi perisaiku berfungsi baik pas bertahan melawan lambton …!”

Ouka menelan ludah seketika melihat permukaan keras valmars dan mendapatinya meleleh bagaikan lilin.

Penghancuran peralatan. Biarpun Ouka berhasil menangkal bahaya langsung, perisainya tidak menahan sepenuhnya napas berapi musuh. Bagian lantai manapun yang dilintasi api atau dinding apapun yang ditabrak kini tersisa pahatan dan potongan-potongan meleleh yang menyebar ke mana-mana. Lebih buruknya, kristal-kristal kolom meleleh persis bagaikan lilin dipanaskan api biru, dan runtuh dengan suara roboh menggemuruh.

Dengan panik, Ouka membuang perisai mendesis yang permukaannya masih terdapat api biru menari-nari.

“Panasnya luar biasa …!”

Setiap rambut di tubuh Welf berdiri selagi dia berlutut di atas kristal tanah dan menatap napas naga yang berapi-api. Selayaknya Ouka terdiam seribu bahasa, penempa yang menempa perisainya bergidik ngeri.

Hingga beberapa saat sebelumnya, lantai 25 sudah sedikit terasa dingin dikarenakan aliran air deras. Sekarang rasanya sungguh panas sampai semua petualang di sekitar meneteskan keringat.

“Napas Amphisbaena … api-api itu membara di permukaan air …”

Tepat perkataan Lilly, nyala apinya tidak hanya membara di darat tapi air juga. Dari pantai kristal sampai air mengepul, air biru menari anggun pada segala sesuatu yang ada di jalur napas naga. Lilly pernah membaca sesuatu perihal naga berkepala dua di Guild sebelum mereka berangkat, dan kini, selagi dia berlutut ke tanah di samping Welf, kekuatan murni monster menakutkan itu diungkap di depan matanya.

Napas Amphisbaena diacampur cairan jenis khusus yang mudah terbakar diproduksi dari tenggorokan empedu naganya sendiri. Berkat kualitas cairannya yang sangat-sangat hidrofobik1, zatnya menolak air, mengubah napasnya menjadi sungai api yang sifatnya berlawanan. Amphisbaena dilahirkan dalam dunia berair, namun senjata utamanya adalah api; inilah atribut spesialnya.

Napalm2 biru memesona.

Bahkan dalam air pun, kobaran apinya berkobar dalam suhu yang tingginya bukan main.

Membuat pemandangan surealis, namun apapun atau siapapun yang cukup sial berada di jalan napas mematikan Amphisbaena akan dibakar instan, tak menyisakan satu debu pun.

Serangan langsung berarti kematian.

“Jangan biarkan napasnya menyentuhmu! Kau akan terbakar dan tidak bisa dipadamkan! Sihir pemulihan tak ada gunanya!”

Saat Aisha meneriakkan peringatan itu, dia menurunkan Haruhime di tengah pusaran bunga api kemudian mengambil podao-nya.

Sungai keringat mengalir di kulit berwarna tembaganya—disebabkan temperatur meroket serta paniknya sendiri.

Kami bakal melawan bos lantai sekarang?! Mimpi buruk amat! Mustahil kami punya tenaga buat membunuh monster sialan itu!

Petualang kelas dua level 4 atau bukan, situasi terkini melanda ketakutan ke dalam hatinya.

Di saat dia masih bagian Ishtar Familia, Aisha melawan Amphisbaena berkali-kali dan senantiasa membunuhnya. Tetapi itu pun bersama sekelompok Berbera Level 3, dan bahkan lebih krusialnya, Phryne Level 5 ada di sana.

Monsternya teramat-amat ganas hingga biasanya perlu lebih dari dua puluh Berbera bekerja sama untuk mengalahkannya. Party-nya sekarang ini jauh lebih lemah dari Ishtar Familia. Bagaimana caranya mereka melalui ini?

Mereka kekurangan kekuatan tempur, sederhana.

“Terkutuklah orang-orang di atas sana yang kabur!”

Jauh di atasnya, di tebing ujung selatan gua besar tersebut, tak satu jiwa pun terlihat.

Bors menempatkan sekelompok petualang di mulut lorong yang menghubungkan lantai 24 untuk mengawasi Angin Badai, tetapi sepertinya mereka balik badan lalu melarikan diri ke lantai lebih tinggi. Tak kaget, mengingat deretan keabnormalan diakhiri kemunculan bos lantai.

Para petualang cenderung mengutamakan diri sendiri. Tak masuk akal menyimpan dendam kepada mereka karenanya, tapi Aisha menyumpah serapah ketika melirik tebing. Kalau saja mereka dapat bekerja sama untuk menjepit naganya dari kedua sisi, mereka barangkali punya kesempatan menerobos.

Apa-apaan?! Misalkan informasi Guild itu benar, Amphisbaena seharusnya tak muncul selama dua minggu ke depan!

Lilly, otaknya party, telah mengumpulkan semua informasi tersedia untuk umum yang didapatkannya dari Guild sebelum mereka pergi, tetapi Aisha juga tak melewatkan pengumpulan informasinya. Memeriksa kehadiran boss lantai dan interval waktu kemunculan mereka adalah salah satu persiapan paling dasar kapan pun party berangkat menuju ekspedisi. Sangatlah penting untuk menyelidiki secara menyeluruh potensi bahaya macam apa di rute yang direncanakan, termasuk keabnormalan-keabnormalan apa, demi menyingkirkan resiko sebanyak mungkin. Memang, Hestia Familia telah menanggalkan ekspedisinya untuk secara khusus menghindari periode tatkala bos lantai bawah muncul.

Moss huge, lambton … Abnormal terus-menerus!

“Sial!”

Amazon emosian mengernyitkan wajah cantiknya sampai cemberut.

“Nona Aisha! Aku rasa mundur adalah satu-satunya pilihan kita …!”

“Tentu saja! Tak mungkin kita mampu sungguh-sungguh melawan makhluk itu!”

Aisha membalas jeritan Lilly dari belakang tanpa mengalihkan matanya dari naga berkepala dua.

Kami tidak bisa kembali ke labirin di lantai 25. Sudah runtuh sehabis kali terakhir ledakan besar. Kemungkinan tidak berhasil, tapi satu-satunya kesempatan kami adalah dengan lari ke lantai 26 …!

Baik manusia maupun monster sama-sama tidak bisa melewati bagian dalam tebing sekarang sebab ledakan Batu Inferno telah menghancurkannya. Aisha kembali melirik ke belakang terowongan mengaga di sisi tenggara gua yang mengarah ke lantai di bawah mereka.

Masalahnya adalah karena Amphisbaena merupakan bos lantai bergerak, dia bisa saja menggunakan sungai besar yang terhubung ke Air Terjun Besar untuk meninggalkan gua kemudian memasuki bagian tempat menyerupai labirin Ibu Kota Air. Andai mereka didesak ke sudut sana, begitu pancaran napalm biru menembak dari lorong, semuanya bakal jadi roti panggang—

Sejauh itulah jalan pikiran Aisha sebelum dirinya mendengar suara tetesan.

“…?”

Sesuatu tengah turun menghujan deras.

Sewaktu menyentuh tanah, kilau-kilau biru menyebar.

Kedengarannya seperti hujan es.

Cahaya kecil menari-nari di sekeliling Lilly dan orang-orang, memantul dari tudung, jubah, dan pakaian tempur mereka.

“Kristal-kristal dari langit-langit …?”

Dia mengintip ke langit-langit lantai 25 jauh, jauh di atas.

Seluruh area permukaan dilapisi kristal, akar-akar nian besar mencuat keluar dari medan biru di sana-sini. Akar-akar sama yang Bell lihat saat mereka pertama kali sampai di lantai, diameternya lima meter dan menjalar ke luar, tanda Labirin Pohon Raksasa di atas.

“OOOOOOooooooo!!”

Amphisbaena itu berteriak.

Mengabaikan Aisha dan teman-teman lain yang menutup telinga, monsternya melihat ke atas dan berteriak lagi.

Guanya gemetar. Taburan hujan kristal semakin intens.

Riak tak terhitung merekah di sepanjang kolam.

Raungannya kedengaran bak gugat.

Ibarat sang naga memohon Dungeon akan sesuatu.

Tidak seorang pun tahu apa permohonannya.

Tapi saat berikutnya, langit-langit lantai 25 retak-retak.

“…”

Di waktu Lilly, Welf, Mikoto, Haruhime, Ouka, Chigusa, Daphne, dan Aisha menatap langit-langit dan melihatnya perlahan-lahan mulai runtuh, mereka semua merasa laksana waktu berhenti.

Pelan-pelan dan terus-menerus awalnya, lalu dengan kekuatan tak tertahan, kristalnya jatuh menghujan.

Pecahan-pecahan langit-langit hancur jatuh di sekitar mereka.

Kemudian.

“Pohon Raksasanya—”

Batangnya kehilangan penyangga.

Bagaikan proklamasi keputusasaan tiada akhir, akar-akar yang telah menjalar di sepanjang langit-langit telah jatuh turun langsung.

“Kurungan keputusasaan—”

Wajahnya pucat, nabiah tragedi bergumam seakan-akan akhirnya dia menyadari semuanya.

WUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUSSSSSSHHHHHHH!

Akarnya merobek udara dengan suara cambuk lalu jatuh ke kolam. Di tengah jatuhnya, akar-akar menggesek dinding gua dan bahkan menghantam Air Terjun Besar dengan tabrakan mengerikan, seolah-olah naga raksasa menyeret cakarnya ke dinding dan air terjun.

Iguaçu yang bersembunyi di belakang air terjun tertimpa runtuhan-runtuhan jatuh. Tidak sempat melarikan diri, para scarlet swallow berkilauan ditabrak gepeng dan terlempar ke kolam, sisa-sisa sayap-sayap hancur mereka tersebar ke mana-mana.

Selayaknya iguaçu, Welf dan anggota party lain tak bisa kabur ke mana-mana.

Mereka hanya dapat berposisi tempur, mata membelalak.

Massa akar-akarnya akhirnya menghantam tanah.

“~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~?!”

Sewaktu Lilly melompat naik-turun karena dampaknya, Lilly membayangkan seluruh lantai telah runtuh.

Badai pecahan kristal terbang dari dinding dan permukaan, mengguncang kolam terjun, selanjutnya ditelan gelombang api biru membara.

Tak sanggup menahan syoknya, para petualang tersandung dan satu per satu kehilangan arah.

Pikiran kosong mereka berangsur-angsur kembali dihidupkan dan mulai memproses sekitar.

Butuh beberapa detik untuk untuk menyadari mereka masih hidup.

Dan perlu sejumlah waktu lagi untuk menyadari lingkungan baru yang telah tercipta.

“Apa—?”

Sebuah kubah besar menjulang dari tengah danau kolam terjun.

Objek aneh sebetulnya dibuat dari akar-akar terlampau besar pohon raksasa. Layaknya kurungan burung hancur, tumpukan kayu bengkok telah mendarat di antara pantai tempat Lilly dan kawan-kawna berdiri dengan dinding.

Keseluruhan gua lantai 25 telah dilapisi akar-akar tumbang yang dulunya pernah terbentang di sepanjang langit-langit.

“Pohon raksasa dari lantai 24 … tumbang?”

“Pastinya karena bagian dari lantai 25 yang menyangganya sudah hancur …”

Gumam Ouka menjawab Daphne yang masih belum kembali berdiri.

Bukan berarti seluruh lantai 24 telah runtuh. Yang mereka saksikan adalah salah satu bagian akar Labirin Pohon Raksasa telah jatuh.

Dan juga cuma bagian akar paling bawahnya.

“Bentar …! Kita kehilangan rute kabur!”

Aisha melihat-lihat sekelilingnya untuk memeriksa pantai tenggara.

Sebuah serpihan panjang nan tipis yang pastinya dari akar masif telah menembus dinding dan tanpa ampun menghancurkan lorong penghubung. Berarti para petualang kehilangan jalan keluar dari gua.

“Oooo…”

Naga berkepala dua tidak salah lagi masih berada di tengah-tengah danau.

Dia menggerakkan masing-masing kepalanya bergantian, tidak kebingungan atau kesulitan sedikit pun.

Akar-akarnya dijalin menyambung mirip jaring, menghalangi pelarian mereka.

Penutup berbentuk kubah yang sekarang menutupi kolam terjun memang benar sebuah kurungan.

“Kita tidak bisa kabur …”

“Itu …”

Wajah mereka langsung pucat pasi begitu Mikoto dan Chigusa menyuarakan ketakutan rekan-rekan terjebak mereka.

Sekarang mustahil meninggalkan Ibu Kota Air. Mereka bahkan tak mampu melarikan diri dari lantai 26. Satu-satunya pilihan mereka sekarang adalah menghadapi naga yang merupakan perwujudan keputusasaan.

Pertempuran wajib yang dituntut Dungeon.

“OOOOOO!”

“?!”

Seakan berkata panggungnya telah siap, Amphisbaena bersendawa api biru.

Lilly dan teman-teman lain refleks melompat menjauh dari api neraka yang membakar air dan kristal sekaligus. Api berkedip-kedip di seluruh pantai timur laut tempat mereka berdiri.

Sekali lagi, suhu di lantai meroket.

Api berkobar di sekujur sudut mereka seolah berada dalam panci masak iblis.

“Siapkan senjata kalian! Tidak ada pilihan lain selain bertarung!”

Tak heran, Aisha adalah orang pertama yang pulih dari keterkejutannya.

Dia menghunuskan podao-nya, melindungi Haruhime di belakangnya.

“Tapi … Nona Aisha …”

“Kuatkan dirimu! … aku sudah menentukan pilihan.”

Tidak ada jalan mundur. Mereka harus bertarung.

Artinya, bila mereka menganggap diri mereka sebagai petualang sejati.

Sejenak setelah berteriak kepada semua party kalau mereka harus bersiap-siap akan kemungkinan terburuk, Aisha meringis.

Apakah mungkin bisa …?

 Wajah-wajah anggota party yang menatap bos lantai sepertinya hampir kehilangan seluruh harapan.

Ini berbeda dari pertemuan mereka dengan moss huge. Nyawa mereka bahkan dalam risiko lebih besar kali ini.

Tidak seorang pun di sini yang bodoh sekali hingga tidak menyadari perbedaan jelas kekuatan tempur. Amphisbaena kekuatannya setara Level 5. Aisha tak mengetahui ini, tapi di atas kertas, setara level Black goliath. Seratus pertualang kelas atas ada dalam pertempuran tersebut. Asfi, Lyu, bersama Bell berada di sana. Sekarang ini, cuma ada sembilan orang. Sekalipun kemampuan regenerasi sinting goliath membuatnya lebih kuat ketimbang naga ini, party masih punya banyak alasan untuk menyerah ke dalam keputusasaan.

Hanya satu hal yang jelas.

Mereka sedang diserang segunung hal absurd yang kelihatannya dikirim khusus untuk membunuh mereka.

Ini akan menghancurkan mereka. Menghancurkan tekad mereka, dan semangat juang mereka.

Seolah-olah Dungeon tengah berbisik kepada mereka. Jangan kira kau bisa kabur!

Tekad bertarung mereka mati-nyala seperti lilin tertiup angin. Cassandra paling buruk. Dia cuma berdiri diam di tempat, pasrah kepada takdir.

Kami tak punya kekuatan tempur cukup. Kami tak punya kekuatan destruktif cukup. Kami tak punya moral cukup.

Kami tidak punya pilar untuk bersatu.

Mengherankan banget betapa tidak siapnya party ini bertarung melawan boss lantai.

Bahkan Aisha mau menyerah.

“Ini hari yang naas,” gumamnya, berpikir seberapa kali mereka menemui banyak sekali Abnormal-Abnormal yang belum pernah dilihatnya, bahkan dalam lantai dalam.

Kalau saja Bell Cranell ada di sini.

Dia hampir lantang mengutarakan kata-kata itu. Mendadak, wajahnya memerah marah.

Tenangkan dirimu, Aisha Belka! Sejak kapan kau jadi wanita penakut yang mengandalkan seorang pria?

Dia mencela pikiran melintasnya, malu kepada dirinya sendiri. Sebagai seorang Amazon berdarah murni, dia tidak boleh mentolelir rengekan itu.

Dia berteriak perang, menguatkan tekadnya.

Tetapi orang-orang ini …

Dia pernah melawan monster ini sebelumnya.

Dia pernah melawan kenyataan brutal dan absurd berkali-kali lalu mengatasinya. Paling pentingnya lagi, merupakan senjata utama melawan hatinya yang patah semangat.

Tapi Lilly dan anggota party sisanya tidak bisa dibilang sama.

Mereka tak punya kekuatan sekaliber Aisha atau banyak pengalaman untuk berdiri di garis hidup-mati. Dan tanpa itu, mereka tidak sanggup bertahan dari keputusasaan mengganggu.

Aisha mengatakan sesuatu kepada Bell waktu mereka memasuki Dunia Baru di lantai bawah pertama kalinya beberapa hari silam.

“Andai kau tersandung, party-nya akan tersandung. Beginilah jenis party ini.”

Aisha keliru.

Aliansi dan Hestia Familia itu kuat. Mereka cukup kuat sampai-sampai mengalahkan kesulitan padahal si bocah tak bersama mereka.

Namun kali ini berbeda.

Mereka sedang menatap rahang kematian. Kekuatan kapal sedang diuji.

Situasinya akan amat menonjolkan pentingnya sosok semacam Bell yang bisa bertindak sebagai penyangga pilar.

Bagi mereka … Bell Cranell adalah seorang pahlawan.

Atau setidaknya mirip-mirip pahlawan.

Bell itu lemah dan jujur parah, namun kala mengerahkan segenap keberanian yang dimilikinya dan menantang keputusasaan itu sendiri, dia menjadi sinar cahaya yang mendorong maju semua orang yang mengenalnya.

Air mata Bell meremas hati Lilly.

Suara mengamuknya mencuri hati Mikoto.

Punggung menyusut di kejauhan memacu kaki Haruhime.

Namun kini dia tak bersama mereka sekarang.

Apa jadinya pasukan yang tidak punya pahlawan mereka?

Dalam dongeng, mereka dihancurkan monster-monster bak korban pengorbanan.

Andai Bell di sini.

Andaikan saja Bell di sini.

Aisha sepintas tahu kata-kata itu muncul dalam tenggorokan Lilly.

Bell Cranell teramat penting bagi mereka sampai-sampai Aisha pun tidak mampu menggantikannya.

Mereka memerlukan pilar untuk menggantikan Bell.

Sebuah suara memacu maju mereka.

Sekarang ini, mereka tak punya pilar.

Tapi …

… mereka punya api.

Sedetik setelahnya—Duar!

“!!”

Lilly dan yang lain menoleh ke logam berdentang yang ditabrak ke lantai kristal.

Si rambut merah di ujung party memantapkan pedang besarnya dengan kedua tangan, kimono biasa miliknya masih bergelombang.

Fokus semua orang tertuju padanya.

Bahkan Amphisbaena berhenti bergerak sejenak untuk melihatnya.

Masih melihat ke bawah, Welf mendesah keras. Wajahnya berkeringat, namun begitu menghadap Lilly di sampingnya, ekspresinya tidak peduli.

“Lilly kecil, aku bertaruh ini kali pertamamu.”

“Um …?”

“Petualangan pertama tanpa Bell.”

Mata Lilly membelalak mendengar kata-kata Welf.

“Kau barangkali mengira tidak bisa bertarung tanpa orang kuat itu, tak dapat berdiri tanpa pahlawanmu—namun itu salah, kan? Bukan begitu, ya? Buat petualang tidak demikian.”

Mikoto dan Ouka memegang senjata mereka dengan tangan gemetaran.

“Waktunya menunjukkan Bell kelayakan kita! Kita harus buktikan bisa mengalahkan bos lantai itu tanpa bantuannya!”

Haruhime bersama Chigusa menelan ludah.

“Misalkan kita bilang ke dia, Kami tak berdaya waktu kau tidak ada … wah, itu malah akan menyusahkannya! Aku benar, kan?!”

Mereka tak punya pilar.

Namun mereka punya seorang penempa yang bertarung di samping mereka dan mengawasi mereka sedari awal.

Mereka punya nyala api tungku yang mendeking suara palu di waktu susah-senang untuk mempersenjatai mereka.

Welf tersenyum tegas, tidak kenal takut, dan tersenyum sok.

“… tentu saja! Lilly bersama rekan-rekannya bukan cuma barang bawaan!!” si prum balas membentak keras. “Lilly akan berdiri berdampingan dengannya dan menjadi bagian dalam petualangan!”

Satu tangannya menekan ke dada mungilnya lanjut meneriakkan keputusan besar.

“Aku … aku, juga, tidak mau ditinggalkan. Aku takkan kembali menjadi pelacur yang cuma menunggu dirinya menyelamatkanku!”

Seraya bicara, Haruhime mengibas ekor rubahnya.

“… aku ikutan juga, Mikoto. Kita tak boleh mempermalukan nama Takemikazuchi!”

“Iya!”

“Chigusa, takkan kubiarkan Bell Cranell mengalahkanku!”

“Ya!”

Ouka, Mikoto, serta Chigusa ke semuanya meneriakkan teriakan perang mereka.

“Oh, ayolah, kalian … bukannya terlalu berpikiran sederhana?”

Daphne-lah satu-satunya orang yang belum mengatakan apa-apa, meskipun komentarnya diucapkan dengan nada sangat jengkel, dia terlihat hendak menangis. Momen kemudian, dia tersenyum.

“Aku tahu, aku tahu …. Bagaimanapun, kita ini petualang, kita mesti bertarung.”

Bagi Daphne yang berusaha keras membuat keputusan secara objektif, moral naik mereka serasa pertanda—semacam angin bertiup kencang menuju pertempuran.

“Daphne …”

Di depan mata bingungnya, Cassandra melihat Daphne melangkah ke garis pertempuran kemudian menarik belati-tongkatnya, mengonfirmasi keputusannya.

“… aku lagi dalam kondisi sempurna, Ignis,” ucapnya.

Saat Aisha melihat kejadiannya berjalan, dia dalam hati memuji sosok kakak laki-laki Hestia Familia.

Kerjaan penempa adalah membawa api ke senjata.

Dan tugas para petualang adalah menggunakan senjata itu untuk membunuh monster.

Api mewarnai muka kedua petualang serta penempa.

Disulut api yang dinyalakan sang penempa, para petualang berpaling ke depan dan menghadapi monster itu.

Mata naga berkepala dua yang menunggu bersilangan dengan mata mereka.

“OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!”

“Maju!!”

 Raungan Welf cocok dengan raungan naga. Mikoto menirunya.

Dimulai.

Usaha melawan keputusasaan.

ф

Kokonoe!”

Orang yang meniup peluit awal pertempuran bukan bos lantai maupun petualnag.

Namun seorang pengguna sihir tertentu.

Salju tercinta. Merah tua tercinta. Cahaya putih tercinta.”

Bahkan sebelum orang lain bergerak, Haruhime mulai merapal.

Haruhime sering menyaksikan berlangsungnya pertarungan melawan bos lantai sebelum-sebelumnya.

Tipikal pemandangan khas tatkala dia masih menjadi bagian Ishtar Familia.

Ketika para petualang mengumpulkan seluruh upaya untuk melawan monster kuat, pekerjaannya sebagai penyihir adalah untuk langsung merapalkan sihirnya.

Sihir dikombinasi kekuatan fisik.

Menganugerahkan peningkatan level secara keseluruhan, dia mampu meningkatkan performa seluruh party.

Antara Lilly atau Aisha yang menginstruksikan orang mana yang sepatutnya dia tingkatkan, lantas dia memprioritaskan fokus ke rapalan. Selagi menenun mantranya yang salah satu mantra terpanjang, dia mulai memanggil ekor emas sekuat teanga.

“Hiyaah!”

Tindakan selanjutunya adalah Welf.

Dia mengayun ke bawah pedang panjang biru kehijauan mudanya dari atas kepalanya.

Dia mengarahkan pedang sihir senapan es ke air.

“?!”

Danaunya langsung membeku. Empat mata terlihat kaget seketika airnya berubah menjadi bidang es.

Ouka beserta para petualang lain raut wajahnya serupa.

Tidak ada rapat strategi, tak seorang pun menyuruh Welf melakukannya. Dia pribadi menyimpulkan untuk mendekati bos lantai besar itu dan mengalahkannya, mereka butuh pijakan. Itulah yang membuatnya menggunakan pedang sihir besar yang punya kekuatan membekukan semua yang terlihat.

Tiada strategi lebih baik untuk melawan naga berkepala dua. Normalnya, metode lebih bagusnya adalah melawan Amphisbaena di dalam suatu ruangan spesifik yang ada banyak pulau-pulau terpisah di atas jalur airnya. Sejumlah besar petualang akan pergi ke ruangan spesifik tersebut di lantai 25, 26, atau 27 kemudian menunggu selagi petualang lain memancing bos lantainya.

“Lumayan!” sorak Aisha sambil tersenyum.

Kekhawatirannya soal kurang pijakan alami yang diperlukan pada pertempuran ini baru saja dihilangkan.

“OOOO!!”

Makhluk ketiga yang bergerak adalah sang Monster Rex sendiri.

Laksana berkata dia tidak berniat membiarkan para petualang melakukan hal semau mereka, dia memutar kedua leher dan menghembus napas napalm biru bagaikan pemandangan mimpi.

Retakan muncul di seluruh danau kala api biru mulai melelehkannya. Bidang es padat dengan cepat menjadi pulau jamak.

Kini mereka punya medan ideal untuk menghabisi Amphisbaena, sesuai harapan Aisha.

Bersamaku, pejuang pemberani!

Untuk mengakhiri pertarungan kecil awal, Amazon itu memulai rapalan berkelanjutannya. Dia berniat menarik perhatian monster tersebut hingga Haruhime menyelesaikan peningkatan level.

Si gadis manusia rubah tak dapat bergerak sama sekali saat melakukan rapalan sekuat itu. Memastikan tiada serangan mencapainya, Aisha buru-buru melompat ke salah satu pulau dan menghampiri bos lantai.

“OOOoooooOOO!”

“—!!”

Naganya memusatkan perhatian kepada Aisha yang mulai mengaktifkan sihir mustahil diabaikan dan sekarang berakting sebagai pengalih. Kepala kanan sang naga berteriak seakan memacu rekan kirinya, yang lalu ditanggapi semburan api biru.

Aisha melompat menyingkir tepat waktu, meringis melihat panas mematikannya, dan memutari bos lantai membentuk lengkungan lebar. Menghindari semburan api musuh, dia terus merapal tanpa jeda sampai akhirnya melepas sihir menggantikan salam.

Hell Kaios!”

Dia membanting podao-nya ke gunung es di kakinya, melancarkan gelombang mengiris yang melesat maju semacam sirip hiu. Kepala kedua naga merespon cepat.

“HAAAAA!!”

Biarpun kepala kirinya telah menyemburkan api biru, yang kepala kanan datangkan adalah kabut merah. Kabut pekat berbentuk sabit melengkung protektif melindungi tubuh naga itu. Tak sampai sedetik kemudian, podao sihir meluncur ke sisi monster itu.

Begitu menyentuhnya, kekuatan sihirnya jelas melemah.

Gelombangnya bergoyang layaknya kabut panas berkiauan dan kian kecil, tetapi ujung-ujungnya berhasil menembus kabut. Ketika mengontak, tubuh bos lantai meletus.

Sisik sang naga tak terluka sedikit pun.

“Hah …?!”

“Kekuatan sihirnya turun?!”

Mikoto dan Ouka tercengang. Aisha langsung menjawab pasangan bingung itu.

“Itu kabut Amphisbaena! Sihir apa pun yang menyentuhnya akan disebarkan!’

Inilah kemampuan kepala naga kedua.

Semisal api biru adalah pedang naga untuk membasmi mangsanya, maka kabut merah adalah perisai untuk menangkis serangan musuh-musuhnya. Jelas efektif. Bahkan mampu menetralkan serangan mematikan petualang kelas atas yang pernah membantai segala macam monster yang ditawarkan lantai bawah.

Aisha kedengaran sebal sembari meneriakkan kata-kata selanjutnya.

“Cara satu-satunya buat membunuh Amphisbaena adalah menyerangnya dari jarak dekat!”

Karenanya para petualang tipikal memilih ruangan dengan banyak pulau sekiranya ingin membunuhnya.

Biasanya, secara sukarela melawan naga air kebesaran di air sama saja bunuh diri. Namun gara-gara kabut merah menekan sihir yang krusialnya bukan main untuk membunuh bos-bos lantai lain, para petualang terpaksa melawan Amphisbaena dalam pertempuran jarak dekat.

 Senjata-senjata mereka juga tidak bisa mencapai batu sihir dalam tubuh besar si monster, yang artinya membunuhnya dengan satu serangan bukan pilihan.

“Apabila kita serang kuat dan berulang sama sihir, akhirnya akan membuka sebuah lubang dalam kabut atau menyingkirkannya, tetapi tidak sepadan! Sekurang-kurangnya, kita tidak bisa melakukannya!”

Lilly menambahkan apa yang diketahuinya tentang monster itu biarpun dia gemetar di depan spesimen hidup.

Kabutnya bukan tak tertembus. Setiap kali melumpuhkan sihir mendatang, kabutnya sendiri sedikit menipis. Tetapi naganya bisa melengkapi kembali celah di mana pun dengan kabut segar dari kepala kanannya. Masuk akal menyamakan tubuh besarnya Amphisbaena dengan tangki penyimpanan kabut tanpa dasar. Kemungkinan besarnya, party pengguna sihir akan kehabisan mana-nya sebelum monster kehabisan kabut. Atau mereka akan dibakar api biru terlebih dahulu.

Napas ganda Amphisbaena benar-benar ideal untuk serangan dan pertahanan.

“Jadi pedang sihir ini tidak berguna juga …!”

Welf menatap Pedang Sihir Crozzo yang digenggam tangan kanannya dan tersenyum ironis.

Tumbuh. Uchide no Kozuchi!”

Dengan itu, Haruhime menyelesaikan persiapannya.

Lima ekor rubah yang mewujud saat melakukan rapalan berlanjut kini terisi penuh dengan sihir menaikkan level.

“Berikan ke Welf-sama, Ouka-sama, Mikoto-sama, Chigusa-sama, dan Daphne-sama!” Lilly berteriak segera.

Amphisbaena punya kekuatan Level 5. Seumpama petualang Level 2 terkena dampak langsung serangannya, hasilnya akan fatal. Penguatan garis depan dan garis tengah itu penting. Di waktu yang sama, daftar Lilly tak mencantumkan Aisha Level 4 dan garda belakang terdiri dari dirinya, pendukung party, serta Cassandra, penyembuh. Prum itu memutuskan melancarkan serangan cepat.

Lilly berperan menjadi komandan karena Aisha berdiri di lini depan, lantas Haruhime cepat-cepat mematuhi perintahnya.

Menarilah!”

Ekor cahaya yang tumbuh dari pinggul Haruhime dipisahkan dari tubuhnya dan berubah menjadi bola-bola cahaya. Penguatan Kokonoe, dirapal mantra Uchide no Kozuchi, terbang menuju Welf dan petualang lain, memasuki tubuh-tubuh mereka ibarat dirasuki sihir. Bola-bola cahaya peningkatan level membentuk rantai.

Namun cuma ada empat bola.

Satu ekor cahaya masih nempel di tubuh Haruhime. Satu tangannya menekan dada, megap-megap sambil mengeluarkan ramuan sihir.

Misalkan dikeluarkan lima-limanya, aku akan pingsan. Tapi kalau aku tahan satu sebentar saja …!

Haruhime memelajarinya dari pertarungan melawan moss huge.

Sekiranya dia mencoba menggunakan semua sihir Kokonoe secara bersamaan, dia akan Kehabisan Mana lalu menjadi onggok menyedihkan tidak berguna.

Inilah metode yang dipikirkannya untuk menghindari masalah tersebut.

Dengan mengaktifkan semua ekor sihir kecuali satu beserta menyimpan bagian terakhir sihir untuk jaga-jaga, dia dapat mempertahankan satu ekor yang setara akalnya dan tidak pingsan. Begitu pulih, dia bisa menyediakan party peningkatan level lagi. Ditambah, dia bisa menggunakan sisa ekor sebagai cadangan untuk keadaan darurat.

Dia tidak boleh pingsan saat ini.

Hal itu jelas.

Dia sudah membuang kesopanan dan kerendahan hati. Yang paling dibutuhkan party dalam situasi terkini adalah kekuatan Haruhime. Demi sebanding dengan bos lantai terlampau kuat, dia harus menghasilkan cahaya peningkatan level terus menerus demi mendukung Mikoto dan teman lain.

Dia merasa bersalah, namun inilah satu-satunya caranya bertahan.

Mata Haruhime menatap mata Chigusa, satu-satunya orang yang tidak ditingkatkan levelnya padahal termasuk yang disebutkan Lilly.

“Aku sungguh minta maaf, Chigusa.”

“Tidak apa.”

Maksud Chigusa adalah aku masih bisa bertarung.

Haruhime merasakan air mata ketika teman semasa kecilnya tersenyum, satu mata ramah mengintip dari balik poni bersilirnya. Di tangannya, Chigusa memegang busur dan anak panah. Dia bagian garda tengah.

Ekor Haruhime bergoyang, manusia rubah mengarahkan pandangannya ke medan perang, bertekad tidak berpaling sekilas pun, kemudian fokus memulihkan diri.

“Aku pengennya tidak menggunakan ini, tapi … sekarang bukan waktunya pelit, kan?”

Daphne cekikikan sendiri selagi berdiri di sebelah Haruhime dan melihat Amphisbaena merusuh. Kelihatan enggan tapi pasrah saja, dia mulai merapal mantra sendiri.

Ikutilah dengan buta matahari di langit. Mekarlah, zirah laurel, hingga segalanya menjauh dari engkau.”

Rapalan singkat. Menggambar lingkaran di udara dengan belatinya, Daphne menyelesaikan rapalan mantra.

Raumure.”

Lapisan cahaya hijau tua menyelimuti seluruh tubuhnya. Sihir proteksi, mirip penguatan. Hasilnya daya tahannya naik sedikit dan agility-nya naik besar. Satu-satunya sihir yang dimiliki Daphne, dan dia tidak suka menggunakannya karena mengingatkannya pada seorang dewata tertentu; dia bahkan tidak menggunakannya selama Permainan Perang, saat eksistensi familianya tengah dipertaruhkan.

“Ooraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!!”

Demikian, para petualang Level 3—palsu, ditingkatkan sihir Haruhime, menyerbu maju.

Status mereka meningkat dramastis. Termasuk sihir Daphne, party telah selesai di-buff.

Seluruh persiapan mereka selesai. Mereka hendak beralih dari pertempuran kecil ke pertempuran utama.

Dengan teriakan perang kuat, Ouka bersama yang lain bergerak dari pantai menuju pulau di atas air selanjutnya bergegas ke bos lantai.

Sepatu bot mereka menginjak es dan kekuatan baru mendorong mereka ke udara. Memanfaatkan momentum yang diberikan oleh status Level 3 sementara mereka, Welf, Mikoto, serta Ouka melompat energik berpindah-pindah pulau, menyebar ke tiga arah seketika bos lantai menyerbu mereka.

 Bersama Aisha yang sudah mengelilingi belakang naga, mereka mengepungnuya, semuanya mengincar target berbeda.

Tetapi …

“UOOOOOOOOOOOOO!”

“HAAAAAAAAAAAAAAA!”

“?!”

Sewaktu kedua kepalanya meraung ganda, trio yang maju merasa langsung hampir kalah. Welf nyaris tidak menghindari kepala kanan yang menukik ganas ke bawah, sementara Mikoto dan Ouka mesti melompat menjauh dari kepala kiri yang mencoba menggepengkan mereka. Tatkala kepalanya menyabet horizontal, menyerempet sol sepatu mereka, posisi bertarung para petualang telah goyah dan pulau es besar pijakan mereka terbelah membentuk huruf V.

Percik air terbang ke udara menabrak ketiga petualang yang entah bagaimana berhasil mendarat di pulau lain.

“Dia cepat banget!!”

“Tapi parahnya …!”

“Dia tidak pernah lengah!”

Welf, Mikoto, dan Ouka bicara dengan gemetar ketakutan.

Kedua kepala naga yang naik-turun cepat punya pikiran sendiri. Entah dikeung atau terjebak serangan menjepit, kedua kepala menyatukan kesadaran situasi untuk mengeliminasi semua titik buta. Terlebih lagi, leher panjang nan kuat yang disertai otot-otot naga menyerang sangat cepat dan mampu menyambar musuh yang mendekat dari mana pun.

“…?!”

Tanpa jenda, kepala kanan sang naga menerjang maju mengejar Mikoto yang menghindar.

Perhatian Mikoto gentar sesaat, bahkan tidak cukup lama sampai disebut momen ceroboh. Meski statusnya Level 3, dia masih tidak mampu kabur sepenuhnya.

Palu naga ini lebih dari cukup untuk mencegah Mikoto memulihkan diri.

“Awas!”

“…! Nona Daphne!”

Daphne mendorong Mikoto menyingkir tanpa pikir panjang.

Kemampuan prekognitif luar biasanya memperingatkan situasi berbahaya Mikoto, kemudian menggunakan agility ekstrim yang didapatkan dari mengkombinasikan efek Raumure dengan peningkatan level Haruhime, dia sukses melompat ke sisi Mikoto dari posisinya di tengah party.

Serangan naganya meleset namun menghancurkan bongkahan es tempat berdiri mangsanya sesaat sebelumnya. Menggendong Mikoto di pinggangnya, Daphne, mendarat di bongkahan es lain dan menurunkannya.

“Ini barangkali kedengaran tak masuk akal, tapi kau mesti terbiasa sama monster cepat ini. Aku tidak bisa terus menyelamatkanmu.”

“Baik, tentu saja!”

Berkeringat, Daphne segera kembali ke garis pertempuran.

Mikoto berdiri, merinding ngeri ketika sadar kalau pikiran teralih sama saja langsung mati dalam pertarungan melawan bos lantai ini. Selagi menatap naga itu, dia menyuruh dirinya makin-makin menajamkan indranya.

“Bos lantai naga … aku kira sudah mengerti betapa galaknya bahkan tanpa melihat dari dekat, tetapi kekuatannya luar biasa!”

Sosok besar naga putih yang diselimuti kabut merah belaka sudah membuat kagum lawan-lawnanya.

Kendatipun kilat mengancam di mata naga tersebut hendak menguasai mereka sepenuhnya, Mikoto dan rekan-rekannya kembali menyerbu bersama-sama. Kali ini mereka menyerang berbarengan dari depan, kiri, juga kanan naga. Berkat Aisha membantu, Ouka sanggup melarikan diri dari perhatian Amphisbaena dan akhirnya mendaratkan serangan sukses, sayang hasilnya tidak sesuai harapannya.

“Eh?!”

Badai bunga api dahsyat beterbangan dari Kougou, kapak tempur besar dari bijih varmath kualitas tinggi. Sisik tangguh naga itu telah merintangi serangannya.

Menembus sisik naga—yang merupakan drop item paling tinggi yang tersedia—adalah salah satu tantangan terbesar yang dihadapi petualang manapun. Gabungan serangan ganas dan pertahanan hampir tak tertembus inilah yang memberikan naga reputasi salah satu monster kuat.

Sepenuhnya tidak terpengaruh serangan Ouka, si naga mengayun kedua lehernya ke depan-belakang seolah-olah terjebak dalam badai hebat. Keempat penyerang terpaksa menjauh dari lingkup serangannya, alat pelindung mereka sudah rusak.

Tidak lama setelah mundur, kabut biru muncul di sekitar mulut naga.

“Napasnya datang!”

Daphne meneriakkan peringatan dari salah satu pulau es tempatnya berlabuh di tengah formasi mereka, pedang sihir seperti belatinya digenggam satu tangan. Chigusa lari di belakangnya lalu melepas panah berusaha mengalihkan perhatian naga putih, tetapi dia tidak berhenti.

“~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~?!”

Gelombang napalm biru baru menyapu medan perang.

Sekejap mata, pulau es melampung seluas sepuluh meter mencair menghilang, kemudian permukaan danaunya membara.

 Napalm biru yang ditenagai empedu naga tidak mengandalkan sihir, melainkan kekuatan serangan murni. Oleh sebabnya, bahkan rapalan api anti-sihir Welf tidak berguna melawan napas monster.

Gelombang uap yang naik dari jalan api biru membuat keseluruhan lantai teramat-amat panas dan lembab. Mengubah lingkungan tepi luar yang normalnya sejuk menjadi sauna3—lebih tepatnya, menjadi kuali api biru.

“Aku tidak bisa bernapas …”

“Tenggorokanku panas.”

Setiap kali para petualang melawan Amphisbaena, Ibu Kota air mengalami perubahan ini. Aisha sudah terbiasa, tetapi petualang-petualang lain berbeda. Baptis uap ini—terlepas tidak berada di lantai gunung berapi—sudah cukup tak menyenangkan bahkan bagi para petualang kelas atas dan mengikis kemampuan mereka untuk berkonsentrasi. Dan kala mereka berhasil menenangkan diri, mereka telah dilemahkan secara signifikan.

Berdiri dekat api biru yang konstan mengonsumsi oksigen udara, Mikoto dan Ouka mengerang.

Kabut merah ini … bukan cuma menghalangi sihir. Tetapi juga menginterfensi serangan dengan mengurangi visibilitasnya. Digabungkan panas dan kelembapan ini … buruk.

Daphne berdiri agak jauh dari garis depan, cermat mengamati Amphisbaena.

Kiranya mereka memasuki pertempuran jarak dekat, kabut yang menutupi musuh berfungsi bagaikan tirai yang menghalangi pandangan mereka. Kemungkinan besarnya, serangan pertama Ouka tidak efektif bukan hanya gara-gara sisik naganya kelewat protektif, tetapi karena pengaturan waktunya juga.

Kami teknisnya punya pijakan, tapinya platform-platform es ini tidak bisa diandalkan dibanding tanah padat …

Berkat aliran air Air Terjun Besar di sebelah utara gua, terciptanya fragmen-fragmen tak terhitung jumlahnya ketika gunung es hancur layaknya pulau terapung tidak stabil. Jarak antara mereka terus bervariasi, lantas mustahil para petualang bergerak seingin mereka.

Pertama-tama, kedua kepala itu bergerak kecepetan padahal dia bos lantai terlampau besar!

Sewaktu mereka menghadapi goliath, semua petualang perlu menghindari serangan mematikan dengan berhati-hati ketika berada di depan monsternya langsung. Plus, kedua kepalanya bisa merayap dari dekat untuk menyerang.

Namun pertempuran melawan Amphisbaena ini beda.

Kecepatannya dirasa mustahil bagi monster kelas teramat sangat besar, apalagi dia terampil memanfaatkan kecepatannya untuk mengumpulkan informasi sekaligus mencegat serangan. Ditambahkan hal spesial yaitu api biru kuat yang nampaknya membakar segala yang mereka sentuh serta kabut penghalang yang memblokir sihir.

“Kalau saja aku bisa kabur … walaupun tidak bisa.”

Berkat peran komando yang dipaksakan kepadanya semenjak berada di Apollo Familia, Daphne terpaksa menganalisis musuh, dan menggumamkan kesimpulan suramnya tanpa memikirkan diri sendiri.

“Guaaaaaaaa?!”

“Sial, kedangkalan?”

Aisha telah menyelinap melewati gigi tajam musuh dengan kepercayaan diri biasa dan mendaratkan serangan yang diarahkan ke sela-sela sisik protektif, namun Aisha cuma dapat menumpahkan beberapa tetes darah. Amarah mengalir keluar dari mata bos lantai kepada Amazon yang melukainya.

Kedua kepala tersebut meraung bergantian, kemudian saat berikutnya naga itu masuk ke bawah air.

Ketakutan melingkupi para petualang selagi melihat monsternya menghilang jauh ke bawah air.

Naga putih tersebut nyaris menyelam ke dasar danau, keempat matanya menyorot ke atas dari permukaan air beriak-riak, selanjutnya naik.

“—OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!”

“Guooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo!!”

Kedua kepala tersebut melonjak naik ke atas air diikuti tubuh masif yang langsung menuju para petualang.

Serangan balik atau bertahan pun tidak mungkin. Selagi Ouka dan yang lain melarikan diri dari raksasa yang menembak keluar menuju mereka, para petualang kewalahan oleh tsunami yang diciptakan sang naga.

Naga air—yang mencapai kekuatan terbesarnya dalam air—tengah menerjang mereka. Setelah meraih akselerasi luar biasa di dalam air, baik kekuatan maupun jarak serangan mendatang berbeda tingkatannya dibanding semua hal yang sudah mereka lihat sejauh ini.

Gelombang kejutnya bahkan sampai ke Daphne dan Chigusa di tengah, menakuti mereka.

Uhuk, uhuk …. Agh!”

Kain undine mereka sekarang basah kuyup, Welf dan garda depan lainnya berlutut di sebuah pulau kemudian mendongak bos lantai yang lagi menyorot mereka.

Guild menilai mereka Level 6 seketika ditemui dalam air, Aisha pernah sebutkan sebelumnya. Petualang-petualang lain barulah mulai memahami arti kata-katanya.

Dunia air yang terbentang di sisi lain kepingan es tunggal itu sendiri merupakan senjata paling penting musuh merka. Jelas bila mana mereka ditarik ke kedalaman air, mereka akan dibunuh dengan brutal sekejap mata.

“Sialan kuat sekali …. Lebih kuat dari monster apa pun yang kita lawan sebelumnya!”

“Tapi akan kita kalahkan! Betul?”

“Betul itu. Aku datang!”

 Welf dan Ouka membalas pandangan sang naga, mengangkat senjata mereka ke bahu, dan bergegas maju untuk memulai kembali serangan mereka.

“S-s-s-sebentar! Sebentar dulu …!”

Di sisi lain.

Berdiri di pantai sebelah belakang anggota-anggota penyerang party mereka, Lilly tidak sanggup melakukan apa-apa.

Aksi terakhirnya adalah mengarahkan peningkatan level Haruhime. Sejak itu, Lilly merasa seperti anak hilang.

Kami harus mengapakan makhluk ini …?!

Bertarung melawan bos lantai sepenuhnya berbeda dari pertempuran biasa.

Kebanyakan informasi untuk diambil. Saat mereka dalam lorong di labirin, Lilly dapat menangani pekerjaan komandan. Namun kini mereka berada di gua. Ruangnya kelewat besar, dan termasuk medan tepi laut sulit. Skalanya asing bagi dia, terutama dengan naga terlalu besar yang menyelam masuk-keluar air untuk menyerang mereka sesukanya. Paling pentingnya, ada gumpalan es tidak terhitung jumlahnya, beserta api mengamuk-amuk, dan masalah terakhir—kubah akar yang mengepung mereka di atas dan semua sisi.

Lilly pengen menanyakan seseorang apakah dia berada dalam dongeng atau tidak.

Lilly masih komandan magang. Situasi sekarang melebihi yang dapat ditangani Lilly.

Lilly harus melakukan apa …?!

Padang gurun luas dalam otaknya, terdapat opsi tak terbatas. Dia tidak bisa dengan cepat menemukan opsi tepatnya.

Jauh di pantai, nyala api berputar-putar di sekeliling pohon ajura. Sekilas terbakar, kelopak jatuhnya berhamburan ke tanah. Lilly melihat Haruhime menekan dadanya dan kedua siku ditempatkan ke atas tanah, mati-matian berusaha memulihkan diri. Bagi Lilly, cewek rubah itu tampak semacam cerminan perasaan sedihnya sendiri.

Keringat turun membasahi pipinya selagi mengalami kejadian mendalam ini dari sudut matanya.

“Lilliluka! Tenanglah!”

“!!”

Dia Daphne, guru dasar-dasar kepemimpinannya.

“Yang terpenting di bagian belakang, terkhusus seorang komandan, adalah wawasan juga ketegasan! Dan ketenangan! Kau harus punya kepala paling dingin dari semua orang dalam party!”

“A-aku mengerti! Tapi ‘kan …!”

Dari jauh sebelah gunung es, Daphne memotong teriakan Lilly dengan teriakannya sendiri.

“Komandan terbaik tidak bertanya mereka mesti melakukan apa-apa dalam waktu-waktu tertentu. Mereka bertanya bagaimana caranya mengubah situasi!”

“!!”

“Kalau bisa melakukannya, kau sudah siap lulus.”

Demikian, Daphne pergi.

“Kita kekurangan orang! Aku bakal maju!”

Dia menyerahkan komando party sepenuhnya kepada Lilly.

Prum itu berhenti sesaat sambil memikirkan keyakinan tak terucapkan yang Daphne berikan. Lalu mata kastanyenya berkedip marah.

Kebingungan telah lenyap dari benaknya. Dia sekarang merasakan kehendak bertarung membara dalam hatinya.

Tekanan berat yang datang seiring tanggung jawab hilang sudah. Gantinya adalah panas membara sebuah janji tuk tidak mengecewakan party-nya, tidak membiarkan satu orang pun mati, dan bertarung bersama mereka.

Diperkuat nasihat Daphne yang membesarkan hati, kepala kecil Lilly mulai membuat rencana besar.

Ada kolam beku dan pohon di atas …

Awalnya, dia mengamati sekeliling.

Kami punya empat pedang sihir tersisa, dan status anggota party yang bisa menggunakannya adalah …!

Berikutnya, dia memeriksa kartu di tangannya.

Beruntung—meski itu barangkali kata yang salah—kehancuran labirin berarti tidak ada monster lain bisa masuk ke pantai. Lilly masih dalam jangkauan napalm biru, tetapi selama Welf dan petarung garis depan lain menjaga naganya tetap sibuk, Lilly punya waktu berpikir.

Akhirnya, dia mengatur strategi.

“Mikoto-sama, merapallah!”

Petualang lain berbalik mendengar teriakan keras prum.

“Tukar posisi sama Daphne dan mundur ke tengah! Semua orang di garda depan, tolong tahan musuh sekuat tenaga! Chigusa-sama, lanjut beri dukungan!”

Mengeluarkan banyak perintah, komandan mereka menjalankan rencananya.

Suara kuat nan jelasnya punya wewenang tuk memacu para petarung untuk bertindak. Laksana secercah cahaya menembus kegelapan. Tidak ada yang protes.

Mikoto mengganggu, Welf tersenyum, dan Aisha menjilat bibir.

Maafkan kelancanganku saat aku memohon kepada engkau—”

Mikoto mundur ke tengah formasi yang tadinya posisi Chigusa lalu memulai rapalannya, sesuai perintah.

Sementara itu, Daphne—yang dari awal punya status lebih tinggi dari Mikoto—dengan cekatan memenuhi celah yang ditinggalkan Mikoto, menggunakan perspektif mata elang yang dia dapatkan sebelumnya untuk berkoordinasi terampil dengan sisa garda depan.

“Tidak ada yang lebih lancar menggantikannya daripada kau!”

“Wah, makasih, tuan!”

“OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!”

Welf dan Daphne yang saling berhadapan dalam Permainan Perang, kini berdiri bersampingan sambil bercanda. Ketika kepala kanan naga melesat miring ke bawah menuju mereka, Daphne memancingnya sedekat mungkin sebelum mundur. Sementara waktu, Welf menggunakan pedang besarnya untuk mengiris badan monster itu.

Aisha dan Ouka menyelinap-nyelinap di tengah sekeliling api biru yang berderak-derak untuk menekan kepala kiri.

 “Datangkah pedang penghancur kejahatan! Tunduklah kepada bilah penindasan, pedang mitos penakluk. Aku memanggilmu kemari sekarang, dengan nama.”

Selama ini, Mikoto berangsur-angsur membangun gudang sihirnya.

Dia memutuskan kalau bertahan di satu tempat itu berbahaya, lantas sembari melakukan rapalan berkelanjutannya, dia terus bergerak berpindah-pindah pulau. Chigusa berusaha penuh untuk menyusul dan menjaga Mikoto yang melompat-lompat dan berlarian layaknya Level 3.

“!”

Amphisbaena menyadari gerakan mengancam para petualang.

Begitu monsternya berusaha mengarahkan napalm birunya ke Mikoto, Aisha bersama petualang lain mencegat serangan. Naga putihnya mengguncang dua kepala miliknya, seolah-olah sebal pada makhluk-makhluk kecil yang berkeliaran siap menghunuskan pedang mereka tatkala melihat celah sekecil pun.

“OOOOOOOOO!”

“AAAAAAAAAA!”

“Sialan!”

Boleh jadi menyadari pola serangan mereka tidak berguna, kedua kepala meraung kemudian menghilang ke bawah air. Lebih banyak gunung es retak-retak tatkala tubuh besar naga menabraknya, dan Welf mundur sambil melaknat.

Targetnya tidak kelihatan lagi. Welf tak tahu dia akan muncul lagi di mana. Apa akan menargetkan Mikoto yang merapal? Ataukah berusaha mencerai-beraikan Welf dan yang lainnya di lini depan? Kala tegang yang menggetarkan menyebar ke seluruh anggota party, Lilly mengeluarkan komando lain.

“Mikoto-sama, gunakan keterampilan Yatano Black Crow-mu!!”

“!”

Mikoto secara refleks mematuhi wahyu ilahiah. Yatano Black Crow memungkinkannya mendeteksi monster yang ditemui sebelumnya. Berkat peningkatan levelnya, naga itu tidak bisa lepas dari perhatiannya sekalipun sudah menyelam di bawah air.

Di peta hitam yang terbentang di balik pikiran Mikoto, ada satu titik merah bergerak cepat ekstrem.

Dia melanjutkan rapalan berkelanjutannya sambil menggunakan keterampilan lain ini, lantas dia semata-mata menunjukkan ke mana seharusnya mereka mengarahkan serangan.

“Barat laut! Di bawah Aisha-sama!”

“!!”

Tanpa ragu-ragu, Lilly meneriakkan informasinya. Ketika suara prum menggema ke sudut ruang membuka, Aisha dan orang-orang di dekatnya segera melompat menjauh.

Kurang dari sedetik sesudahnya, bos lantai menyerang.

Pecahan-pecahan es berserakan dan air menyembur ke udara. Para petualang sukses menghindari serangan yang asalnya dari bawah air.

Shinbu Tousei!”

Hampir di satu waktu, Mikoto menyelesaikan rapalannya.

Serangan naga gagal, musuh mereka sekarang benar-benar penuh celah. Ini kesempatan sempurna.

Tetapi dengan waktu reaksi mencengangkan, kepala kanan menghembuskan napas kabut merah tua baru. Ouka dan garda depan lain merengut frustasi ketika naganya mengenakan zirahnya tepat waktu—tetapi Lilly tenang melangsungkan perintah terakhirnya.

“Bidik sejauh dan setinggi mungkin.”

“Hah?” gumam Mikoto, tetapi sewaktu dia melihat ke tempat yang ditunjuk prum, Mikoto mendengar es retak.

Suaranya datang langsung dari atas bos lantai.

Dari kubah akar mirip sangkar yang mengelilinginya.

Mikoto menebak niat Lilly dan menyebutkan nama mantranya.

Futsu no Mitama!

Pedang buatan cahaya ungu tua muncul, diikuti lingkaran konsentris beriak keluar pusat lingkaran dari Amphisbaena.

Mikoto telah mengaktifkan sihir pengendali gravitasinya.

“UUUUUU…”

Serangan gravitasi yang menekan dari atas mengepung Amphisbaena, tetapi sesuai prediksi, kabut mirip zirahnya melemahkan dampak. Paling kuatnya adalah mendesak lehernya menunduk sampai nyaris menyentuh permukaan air. Medan gravitasi dikikis kepadatan kabut, namun sang naga segera menghembuskan lebih. Serangan sihir bukan pukulan mematikan.

Bos lantai menggeleng kepala kesal.

“—GA?!”

Kemudian, rentetan serangan keras mendarat di kedua kepala. Hujan serangannya tidak berhenti, terus-terusan menghujani Amphisbaena tanpa berhenti. Pikirannya mengosong. Tidak mungkin mengerti apa yang terjadi.

“Akar-akar pohon raksasa …”

“Mikoto jatuhkan dengan sihir gravitasinya!”

Para petualang menyaksikan berlangsungnya kejadian itu dari jauh.

Ouka dan Daphne terkagum-kagum.

Pedang cahaya—tanda gravitasi tengah dimanipulasi Futsu no Mitama—telah dikerahkan dalam jarak maksimal, muncul persis di dekat kubah akar di atas kepala naga. Artinya, kurungan akar besar di atas berada dalam jangkauan kekuatan Futsu no Mitama.

Ditarik gravitasi ekstrim, bagian kubah akar langsung dari atas bos lantai telah runtuh sendiri.

Kabutnya cuma dapat melemahkan sihir yang datang; tidak mampu memblok hujan akar pohon. Ditambah lagi kekuatan gravitasinya, segunung akar selebar lima meter meluncur turun ke Amphisbaena.

“…?!”

Salah satu kepala bos lantai raksasa dihantam langsung puing berjumlah besar. Langsung tertegun.

“Kau berhasil Lilly kecil!”

“Giliran kalian sekaranag!”

Mereka bukanlah tipe petualang yang melewatkan kesempatan ini.

Bos lantai linglung itu seperti mainan bebek duduk yang mengambang di atas air.

Para penyerang menjilat daging mereka di depan mangsa ideal ini—target kebesaran tak berdaya.

Mengincar kakinya lanjut menjatuhkannya. Itu latihan standar ketika melawan bos lantai juga monster kategori besar lainnya.

Lilly melakukan sebaliknya: Bidik kepalanya dan jatuhkan ke air.

Welf serta Aisha menyoraki komandan muda mereka, sedangkan Ouka dan Daphne terbang maju agar tidak kehilangan kesempatan.

“UOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!”

Kala Futsu no Mitama menghilang, Welf mengiris, Ouka menubruk, Daphne menusuk, dan Aisha mencabik.

Sisik-sisik naga terbang copot oleh serangan pedang besar dan kapak tempur. Darah muncrat dari semburan tikaman belati, bilahnya menusuk sisik-sisiknya. Sepotong daging lepas dari leher ketika ujung tajam podao menggigit dalam. Pedang Mikoto dan juga panah Chigusa bergabung dalam serangan.

Tubuh besar yang ditutupi sisik-sisik besar tidak terhitung jumlahnya telah terluka, dan kedua lehernya pun terdampak pula.

Tak lama setelahnya, sang naga pulih dari kondisi tertegunnya kemudian berteriak murka pada serangan habis-habisan yang diluncurkan para petualang.

“~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~?!”

Raungannya juga berfungsi ganda untuk memanggil monster-monster lain ke dalam pertarungan.

Para petualang melompat mundur dari naga meronta-ronta kemudian beberapa waktu kemudian sejumlah kepala ular keluar dari air.

“Aqua serpent!”

“Dan harpy juga?!”

“Keknya memanggil teman-temannya!”

Tubuh panjang aqua serpent muncul dari air di sela-sela pulau es. Party menyumpah-nyumpah seketika sekawanan harpy turun dari atas di waktu yang sama.

Secara keseluruhan, enam monster muncul.

Bala bantuannya adalah lawan menyebalkan. Tetapi jumlah mereka bukan tak dapat ditangani party.

“Kita urus monster-monster ini dulu! Aisha-sama dan Daphne-sama alihkan perhatian bos lantai!”

Tidak membuang waktu dengan merasa ragu, Lilly mengarahkan alur pertempuran dengan komando cepatnya.

Welf, Ouka, Mikoto, dan Chigusa mengejar monsternya.

Sedangkan Aisha beserta Daphne mengalihkan naga hingga monster lain dimusnahkan.

Menarilah!”

Tepat di saat-saat paling membutuhkannya, Chigusa mendapati dirinya mendapatkan peningkatan level. Ketika dirinya dan Mikoto mendongak, mereka melihat Haruhime melanjutkan bagian berikutnya rapalan Kokonoe, butir-butir keringat mengalir di tubuhnya. Hati Mikoto penuh emosi begitu tahu temannya mendukung mereka, lalu dirinya melancarkan serangan pedang ke para monster.

“Pukul mundur mereka—!!”

Dentang serangan pedang keras terdengar, lagu medan perang.

Para petualang memegang senjata masing-masing sekuat-kuatnya.

Ф

Orang-orang ini kuat banget.

Inilah yang dipikirkan Cassandra ketika menatap pemandangan sebelumnya.

Mereka terus bertarung … tanpa berputus asa.

Betapa berani mereka terlihat, tubuh-tubuh mereka serba luka dan pipinya berdarah-darah.

Mereka bertarung sekuat tenaga, tidak seorang pun meringkuk ketakutan.

Aku …

Cassandra tidak bisa melakukannya.

Keputusasaan masih melemahkan hatinya. Kengerian bersarang jauh dalam dirinya.

Apapun yang kami perbuat, akan terjadi lagi. Akan terjadi lagi.

Kata-kata itu bergema tanpa henti dalam telinganya.

Dia merasa kewalahan oleh ketidakberdayaannya untuk mengatasi mimpi buruk.

Sekalipun dia ikut berjuang, dunia akan mendorongnya dari punck harapan ke kedalaman jurang. Ketakutan akan penderitaan dan patah hati yang ‘kan menyeranngya seketika terjadi, tangan juga kakiniya menolak bergerak.

Jikalau ini kurungan keputusasaan maka … apakah artinya gua tempat bos lantai muncul ini telah menjadi peti matinya …? Kami takkan lolos dari kematian tepat waktu …? Gawat, aku tidak bisa berpikir …

Sebagian hatinya ingin bertanya: Tidak apa-apakah menyerah pada semuanya di sini dan sekarang juga?

Namun seakan-akan kabel yang menghubungkan pikiran dan tubuh fisiknya telah diputus,tubuhnya menolak bergerak sesuai kehendaknya. Dia merasa bagaikan menonton drama tragis terjadi.

Cassandra telah meninggalkan banyak sekali petualang ke takdir masing-masing. Dia mempersembahkan mereka sebagai pengorbanan untuk malapetaka. Hal demikian pun adalah kanker yang membuatnya berpasrah diri. Bukankah kau semestinya membayar dosa-dosamu dengan nyawa sendiri? bisik hati lemahnya.

Dia kehilangan semangat dan kehendak bertarungnya.

Cassandra tidak tahan.

Cassandra tidak sanggup menghadapinya.

“—tenanglah!!”

“Aduh!”

Mendadak, sesuatu mengenai isi kepalanya dan dunia dipenuhi bintang.

“D-Daphne?!”

Sahabatnya sendiri tengah berdiri di sampingnya dengan satu tangan tinju mengepal dan napasnya tersengal-sengal. Cassandra berlinang air mata ingin bertanya mengapa Daphne di sana, namun dia tak sempat.

“Tenangkan! Dirimuuuuuuuuuuuuuuuuuu!!”

Dia diinterupsi tuntutan kuat. Itu teriakan paling mengerikan yang pernah didengar Cassandra.

Haruhime yang berdiri di pantai yang sama, menggoyang ekor kaget pada suara murkanya.

Bibir Cassandra merintih sendiri.

“Kau ini seorang penyembuh! Kau sedang apa berdiri di tempat doang?! Kalian di garis belakang lebih penting dari semua orang lain dalam pertarungan bos lantai! Pikirmu kami bisa bertahan dengan kau yang bertingkah seperti ini?! Kita bahkan tidak punya cukup orang di lini depan!”

Menanggapi teror Cassandra, Daphne terus mengoceh, matanya memerah.

Pemandangan penyembuh mengabaikan pekerjaannya rupanya membuat Daphne marah, mendesaknya meninggalkan pertarungan di garis depan dan pergi kemari membawa palu amarah kebenaran.

“Sekarang aku harus lari jauh-jauh ke sini! Masalahnya jadi berlipat! Dari awal pun aku tak sempat!”

Cassandra mundur untuk menghindari Daphne marah-marah. Kemudian dia menyadari sesuatu.

Daphne serba luka-luka.

Garis-garis merah bersilangan di lengan dan bahunya.

Kain undine-nya compang-amping dan bahunya megap-megap ketika bernapas.

“Daphne … ini salahkukah ..?”

“Itu maksudku! Cepat bekerjalah!”

Cassandra menunduk, wajah memucat sambil mencengkeram kain yang mengikatnya. Dia tak menatap ke depan ketika bicara.

“Kenapa semua orang belum putus asa?”

“Hah?”

“Kau tidak takut pada keputusasaan yang akan menelan kita bulat-bulat?”

Cassandra mengerutkan alisnya. Dia tahu maksudnya sebenarnya bukan untuk mengungkapkan perasaan, tapi dia tetap tanyakan.

Ini Dungeon, labirin tanpa ujung. Pertarungan yang dia dan rekan-rekannya jalani perbandingannya tidak lebih dari setitik debu.

Dia bertanya apakah perwujudan Dungeon—naga yang mengubah harapan menjadi keputusasaan—gagal menakuti mereka.

Tanggapannya, Daphne yang senantiasa punya kebiasaan melotot di saat-saat biasa, sekarang bahkan lebih melotot lagi.

“Bukannya dengan melihatku saja sudah jelas?! Tentu aku takut!”

“Apa?”

Daphne mengulurkan lengan yang hingga sekarang masih gemetaran. Sesudahnya terus mengomel-ngomel ke Cassandra bingung.

“Tapi aku terus bertarung! Aku bertarung untuk bertahan hidup!”

Dia condong maju, suaranya penuh tekad.

“Keputusasaan memang kata yang bagus, kan?! Kau tahu mungkin akan tambah dalam masalah misalkan bertarung! Malahan itu dalih terbaik buat menyerah!”

“?!”

“Aku pun sama beberapa menit lalu! Tapi pilihanku apa? Lilliluka sama teman-temannya berdiri bertarung, dan aku pun berpikir belum siap menyerah pula!”

Sesukar apa pun perjuangannya, Daphne ingin kembali pulang hidup-hidup.

Terlebih, terlepas dari dirinya sendiri, dia telah menemukan sekelompok rekan-rekan yang benar-benar dia sukai, dan dia tidak mau mereka mati. Motifnya sesederhana itu.

“Kau juga menyukai mereka, bukan? Sulit tak menyukai mereka, kan?!”

“!!”

“Jadi buat dirimu berguna! Sembuhkan seseorang! Lindungi seseorang! Kau dan aku sama-sama masih hidup! Jangan biarkan kata keputusasaan menjatuhkanmu!”

Kalimat Daphne bak menampar wajah. Dia memberi tahu Cassandra untuk tidak berpaling dari kenyataan. Belum berakhir.

Cassandra menafsirkan dia tidak boleh menyerah terhadap masa depan yang bahkan belum datang, atau kepada ramalan yang belum disadari.

Terlepas sekeras atau semenyakitkan apa, dia harus berjuang sekuat tenaga hingga akhir. Harus melakukannya karena dia seorang petualang, dan para petualang tidak pernah menyerah pada tantangan.

Iya! Biarpun keputusasaan menunggu—

“—tatap masa depan! Bangkit!”

Selalu.

Selalu, Daphne menggertak maju Cassandra. Dia tidak memercayai ramalan Cassandra, tetapi begitu Cassandra meringkuk sedih, Daphne memarahinya dan menariknya bangkit kembali.

Daphne adalah kebalikan Cassandra, dan Cassandra merasakan perasaan iri hati, penasaran, dan kekaguman kepadanya. Karenanya Cassandra menjadi sangat terikat padanya. Itulah sebabnya Cassandra ingin menjadi teman dekatnya.

“… aku …”

Tidak ada waktu untuk disia-siakan—itulah yang disimpulkan Cassandra dari sosok Daphne yang mengecil ketika sekali lagi bergegas menuju medan perang. Melihatnya sekali sudah jelas dia memercayai Cassandra.

Gadis penyembuh masih terpaku di tempat, kedua tangannya mencengkeram tongkat kristal dan ditekan ke dahi.

Sedikit lebih lama lagi.

Sedikit lagi.

Dia akan terus melawan keputusasaan.

Cassandra gagal menyelamatkan banyak nyawa. Namun mereka yang penting baginya masih hidup. Dia akan melakukannya lagi. Dia akan menantang ramalan tragis sekali lagi.

Cahaya surgawi, yang pernah dipungkiri. Tangan penuh kasih yang menyelamatkan diri rapuhku.

Cahaya menembak dari tongkatnya. Sihir yang dilepaskas mengirim kemilau gemerlapan penuh kehangatan yang mengusir kegelapan.

“Nona Cassandra …!”

Haruhime yang menonton pemandangan itu dari pantai sama, tidak bisa menahan senyum.

Selamatkan rekan-rekan sengsaraku menggantikan perkataanku yang tak sanggup menjangkau mereka. Wahai sinar mentari, semoga engkau mengalahkan kehancuran—

Merapalkan mantra dengan mata terpejam. Cassandra kelihatan layaknya seorang gadis berdoa.

Nabiah tragedi yang dijauhi dunia menyanyikan lagu perlawanan sekali lagi, dan ketika selesai, dia membuka mata.

Dia memandang area pusat tempat bertarung paling ganas. Memanggil seluruh kekuatan mentalnya dan membidik sejauh mungkin, dia merapal sihirnya.

Soul light.”

Merasakan mantranya lebih cepat dari semua orang, Daphne berteriak.

“Pemulihan mau datang! Semuanya, berkumpul di sekitar Ignis!”

Cahaya sihir hangat mengalir ke pulau-pulau es dari udara.

Ouka dan para petarung lain meninggalkan posisi mereka dan pergi ke area melingkaran berukuran sepuluh meter yang sebelumnya telah diterangi.

Sekejap mata, tubuh-tubuh mereka semua sembuh total.

“Yeeeeeeeeeyyy!”

“Siap mulai lagi!”

Welf dan Mikoto berteriak kegirangan, penuh semangat menyapu monster yang terbang ke arah mereka. Kini karena mereka telah pulih dari kelelahan, gerakan mereka setajam awal pertempuran.

“Aku minta maaf sekali … sangat, sangat minta maaf! Aku bergabung kembali ke dalam pertarungan!”

Cassandra menekan dadanya dan berteriak sekeras mungkin. Kata-kata taubatnya memudar di medan perang yang sampai ke tingkat kekejaman baru. Tidak satu pun petarung bahkan sempat menjawab.

Namun Cassandra pikir dia sekilas melihat Daphne tersenyum kepadanya selagi menebas monster yang menghalangi.

“Akhirnya kau pulih! Cassandra-sama, kau beneran lamban!”

“M-maaf!”

“Aku akan membuat dan Haruhime kerja rodi! Tanpa kalian berdua, kita takkan bisa menang!”

“D-dimengerti!!”

Lilly tetap Lilly biasa—lebih persisnya, dia bahkan lebih nakal dari biasanya, memaksa Cassandra dan Haruhime menjawab tegas.

Entah kenapa membuat keduanya senang sekali, kemudian nyengir.

“Bukan waktunya tersenyum! Kita ganti lokasi! Monsternya sudah menyadari kita!”

“Ya, Bu!”

Tiga anggota garda belakang bergerak bersama ke titik berbeda di pantai.

Biar masih dalam pertarungan sengit, party-nya sekarang sedang paling kuat-kuatnya.

Ф

“Maksudmu apa?! Aku menuntut penjelasan!”

Dormul Bolster meninggikan suaranya. Si kurcaci, anggota Magni Familia berada di lantai delapan belas, Under Resort, di mana dia dan anggota familianya menunggu. Dia lebih dekat menghampiri petualang yang roboh di depan matanya.

“A-aku sudah bilang, satu Amphisbaena dilahirkan di Ibu Kota Air!”

“Tapi harusnya masih sisa setengah bulan lagi hingga interval berikutnya! Kenapa juga bos lantai muncul sekarang?!”

“Entahlah! Kami barusan dengar dari beberapa orang yang kabur dari lantai bawah dan berlarian kembali kek orang sinting!”

Para petualang yang kabur ke titik aman Rivira, kota pos Dungeon, adalah anggota party pemburu yang mengejar Angin Badai. Bawahan-bawahan khusus ini ditugaskan menjaga lorong-lorong penghubung antar lantai untuk mencegah buronannya melarikan diri, atas perintah pemimpin mereka, Bors. Setelah mengetahui kejadian lantai 25, mereka mengirim pengantar pesan untuk membawakan informasi ke Rivira secepat mungkin.

“Orang-orang yang kabur dari lantai 25 setengah sinting …! Mereka bilang Dungeon sedang menangis dan Air Terjun Besar ternoda merah … satu-satunya hal pasti adalah ada banyak ledakan besar dan labirin di lantai itu runtuh.”

“Runtuh?! Labirin gede banget itu?!”

 Dormul menatap kaget petualang pucat yang kata-katanya berhenti di akhir.

Para kurcaci curiga hal aneh lagi terjadi. Beberapa jam sebelumnya, mereka merasa tanah berguncang. Bukan gempa bumi, namun lebih dari gerakan naik-turun yang kelihatannya berasal dari lantai di bawah.

“Seandainya ledakan menyebabkan lantai bos mengabaikan interval … maka ledakannya terjadi karena apa? Apa Angin Badai dan party pemburu utama mendadak terlibat dalam pertarungan sihir atau semacamnya?”

Di sebelah Dormul terperangah, Luvis si elf dari Modi Familia meringis tegas sambil mengayun lengan baju kanannya yang kosong.

Takkan mungkin bawahan Bors—yang belum berangkat bersama party utama menuju Ibu Kota Air dan tidak tahu perbuatan Jura dan Turk—memahami seluruh situasi. Tentu saja, Luvis pun sama, Dormul juga Dormul familia. Mereka semua tinggal di lantai delapan belas.

Mereka tidak tahu bahwa malapetaka mengakibatkan pembantaian.

“Menurut orang-orang yang kabur, Hestia Familia ditinggal dalam gua dengan bos lantai …”

“Apa …?! Maksudnya kalian meninggalkan mereka?!”

“Mau bagaimana lagi! Siapa coba yang tidak kabur dari pertarungan bos lantai pas perlengkapan dan tenaga kurang?”

“Dan monster-monsternya bertingkah aneh! Kami dengar mereka berteriak-teriak, dan pas sebelum kami pergi, sekawanan monster segala tipe bercampur bersama tengah masuk lorong penghubung di lantai sembilan belas yang kami jaga!”

Tampaknya monster-monster tersebut sedang menuju Ibu Kota Air.

Dormul dan Luvis terdiam selagi mendengar para petualang menceritakan informasi ini. Namun semua orang yang hadir berpikiran sama:

Abnormal.

Sesuatu terlampau tidak biasa sampai-sampai perkara Angin Badai nampak bagaikan hal sepele terjadi di Dungeon. Setiap petualang kelas atas mengalami firasat kuat sama.

“Kita harus apa …? Kirim dukungan? Ataukah kembali ke permukaan dahulu dan beri tahu Guild?”

“… dua-duanya. Kita tak bisa berbuat banyak andai tidak tahu yang terjadi di sana, kita tidak dapat menemukannya di Rivira sini.”

Berkebalikan Dormul gelisah, tanggapan Luvis bijaksana sebagaimana dirinya menilai situasi.

Dikarenakan ekspedisi pemburuan, sebagian besar populasi Rivira pergi. Di antara para petualang kelas atas, anggota-anggota Magni dan Modi familia adalah peringkat tertinggi. Bawahan-bawahan Bors menunggu familia-familia itu memutuskan gara-gara kepala mereka kosong di hadapan situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Hal terpenting, kita tidak boleh mengabaikan Hestia Familia! Shario, Alec, siapkan senjata kalian!”

“Bentar, Luvis! Kalian bisa apa dalam keadaan sekarang? Kami para kurcaci akan mendatangi party Bell. Kalian para elf tunggu di sini!”

“Menurut kalian sekelompok elf akan meninggalkan orang-orang yang pernah berbuat baik kepada kami? Atau maksudnya kami menghambat kalian? Kalian kurcaci-kurcaci pelanlah bebannya!”

“Ampas! Seorang elf salah paham sama kata-kata baikku!”

Para penonton bergegas menuntaskan pertengkaran antara kurcaci-kurcaci dan elf-elf yang terjadi di situasi salah. Tetapi kala itu, suara lain menyela.

“Kalian bilang apa soal Hestia Familia?”

Semua orang yang hadir membeku ketika mendengar suara kuat memotong pertengkaran mereka bagai pedang.

“C-Cyclops?!”

“Apa yang Kapten Hephaestus Familia lakukan di sini?!”

“Ngapa, seorang penempa tidak boleh masuk Dungeon? Lupakan itu—katakan saja apa yang terjadi!”

Blasteran kurcaci tersenyum yang berdiri di hadapan mereka punya kulit hitam dan satu penutup mata.

Tsubaki rupanya tiba tepat pada momen itu di Rivira. Di belakangnya terlihat tiga petualang perempuan—dua orang manusia kucing dan satu manusia.

Luvis serta rekan-rekannya penasaran sama para pendatang baru, tetapi sebagai petualang kelas satu, instruksi Penempa Besar Level 5, mereka membagikan pengetahuan mereka mengenai situasinya.

“Bos lantai, katamu? Dan lantai 25 meledak? Dan paling pentingnya, monster-monster bertingkah aneh?”

“Anggap kami semaumu, kami cuma tahu itu!” Luvis membentak Tsubaki yang menanyakannya dengan muka curiga.

“Angin Badai nasibnya bagaimana, meong?”

Salah seorang manusia kucing melompat masuk ke percakapan tanpa mengindahkan sopan santun.

“Hei, kau siapa?”

“Hanya kucing penasaran yang penempa ini bawa. Nah, jawab pertanyaan kami.”

Luvis dan Dormul kebingungan memeriksa party Tsubaki sekali lagi. Mereka dilengkapi peralatan ringan seperti jubah bertudung dan keling. Lagipula mereka berada di Dungeon, lantas perlengkapan mereka tidak janggal, namun, anehnya mereka tidak kelihatan seperti petualang. Terutama manusia dan manusia kucing berbulu hitam. Kurang lebih, mereka adalah wajah-wajah asing di lantai menengah kamp Rivira.

Konyol menggunakan ungkapan untuk menggambarkan petualang umum, tetapi orang-orang ini tidak terlihat cukup terhormat.

Rasanya pernah melihat gadis kucing yang menginterupsi kami di suatu tempat sebelumnya …

Luvis melirik gadis kucing yang mengenakan pakaian rapi, pakaian tempur merah-putih serta membawa tombak bertimbul emas.

Dia rasanya akrab. Tetapi alur pemikirannya disela tuntutan tak sabarannya, “Beri tahu aku, meong!”

“Angin Badai belum ditangkap. Kami dengar dia kemungkinan besar berada di lantai 27, dan itu tempat tujuan para pemburu elit kami … namun jujur, itulah kekhawatiran paling kecil saat ini.”

“Kalian membicarakan yang mereka sebut-sebut Abnormal?”

“Tempat ini beneran sarang monster. Ah, kuharap kita bisa cepat-cepat keluar ke matahari lagi, meong!’

Manusia dan manusia kucing lain bereaksi terhadap penjelasan Luvis seakan-akan mereka bertanya-tanya siapakah kru beraneka ragam ini, Tsubaki memotong.

“Baiklah, serahkan lantai 25 ke kami. Kami akan periksa.”

“Hah?! Apa maksudnya?!”

“Ada masalah? Kami lebih cepat dari kalian, jadi kami lebih cocok buat pekerjaannya. Apalagi karena waktunya singkat. Ditambah … seorang mantan rekan kerja yang biasa aku anggap peliharaan lagi sama Hestia Familia sekarang.”

“B-bentar! Hei!”

Begitu Luvis dan Dormul mencoba menghentikan mereka, Tsubaki dan party-nya sudah jauh. Para petualang melihat bingung tatkala keempat sosok itu menghilang, meninggalkan Rivira.

“Kalau sudah begini. Kita tidak menyamar kayak Lyu. Menurutmu mereka menebak kita ini para pelayan bar?”

“Dalam situasi semacam itu kau harus melebur ke bayang-bayang, meong. Jika mereka tak ingat mata dan suaramu, kau akan baik-baik saja, meong.”

“Aku tidak bisa melakukan serba-serbi pembunuh sepertimu.”

Party tersebut telah melintasi rawa-rawa di lantai delapan belas dan masuk ke padang rumput luas. Chloe si manusia kucing, mengenakan jubah bertudung, dan Runoa si manusia, mengenakan keling, mereka mengobrol selagi kelompok itu maju dalam formasi rapat. Suara-suara kasual mereka bertentangan sepenuhnya dengan kecepatan super mereka.

Melewati zona tengah lantai delapan belas kelewat cepat sampai-sampai monster-monster yang bersembunyi di padang rumput tak menyadarinya, andaikan sadar, mereka takkan mampu mendekat.

“Duh, kalian masih bilang padaku kalian ini cuma pelayan kedai biasa atau tidak jauh-jauh dari itu? Kedai-kedai minum belakangan ini memang berbahaya!”

“Yah, bukan berartu kami punya kebiasaan berpesta sama orang-orang yang tidak kami kenal, meong …”

Masih mempertahankan kecepatannya, Tsubaki tertawa kek anak-anak. Chloe memandang marah sambil berlari di sampingnya.

“Belum pernah dengar The Benevolent Mistress? Tempat itu lumayan terkenal.”

“Tempat yang dimiliki Mia, kan? Aku selalu tinggal di bengkel jadi tidak tahu semua hal dunia luar itu. Aku bahkan tak tahu gadis-gadis seperti kalian itu ada! Maaf, hahaha!”

“Wanita ini benar-benar sulit diajak kerja sama, meong …

Inilah pasukan pendukung yang dikirim Hestia Familia. Party itu disusun cepat demi menyelamatkan Angin Badai dan membantu Hestia Familia. Beranggotakan tiga pelayan bar, Ahnya, Chloe, juga Runoa, tambah Tsubaki.

Bila seseorang tahu atau pernah melihat mereka, mata mereka bakal membelalak terhadap party yang hampir sekaliber kelas satu.

“Dan pendapatmu bagaimana perihal perkataan elf itu, meong?”

Chloe melirik tanya Tsubaki.

“Aku cuma bisa bilang, ceritanya berbeda penuh dari cerita yang pernah kudengar sebelum kita pergi. Kupikir kerjaan kita buat membantu Angin Badai kabur semisal dia ditangkap atas sesuatu yang tidak dia lakukan.”

Mereka berempat buru-buru masuk Dungeon bahkan sebelum sempat memperkenalkan diri.

Chloe, Ahnya, dan Runoa datang untuk menyelamatkan Lyu yang nyawanya dalam bahaya, sementara Tsubaki datang untuk membantu Welf dan rekan-rekannya yang menapaki jalan berbahaya. Tetapi sekarang segala halnya beralih ke arah tidak terduga. Tsubaki mengerutkan alis, mengendus hal ganjil.

“Selain poin itu, meong! Lantas bagaimana andaikata kita bertemu monster atau para petualang yang merintangi? Kita akan bunuh mereka dan menyelamatkan Lyu, meong! Sekaligus bocah rambut putih sama party-nya!’

  Ahnya yang berlari secepat-cepatnya di bagian depan gerombolan, balas berteriak ke Tsubaki. Rekan-rekan kerjanya menatap dirinya yang memutar-mutar tombak dengan satu tangan dan lari seperti orang gila, pakaian tempurnya berdesir tertiup angin.

“Orang-orang idiot nganggep gampang, ya?”

“Tapi kitalah yang kudu membereskan kekacauannya saat menyelam tanpa pikir-pikir, meong.”

“Hahahaha! Aku setuju sama gadis itu! Makin sederhana makin baik!”

“Cyclops cepat mengerti, meong!”

Runoa, Chloe, Tsubaki, dan Ahnya terus bercanda. Terlepas suara santai dan riang, kecepatan mereka tidak berkurang sedikit pun.

Setiap petualang kaget menatap kelompok aneh yang tengah melewati mereka menuju Pohon Sentral yang mengarah ke lantai sembilan belas.

Ф

Pertempuran melawan bos lantai adalah ujian ketahanan.

Tubuh besar nampak tak kenal lelah monster itu bahkan tidak gentar ketika merespon serangan kecil. Bahkan rentetan sihir terkonsentrasi—salah satu senjata paling tajam yang dipunyai para petualang—tidak sanggup membunuh binatang buas itu sekali tembak. Selama level para petualang yang terlibat tidak terlalu superior, melawan Amphisbaena cenderung menjadi permainan tunggu-menunggu. Party aliansi Lilly, terdiri kurang dari sepuluh anggota, seharusnya kalah unggul tak teratasi.

Namun mereka bertekad mengatasi kesulitan. Mereka berupaya mati-matian untuk menyamakan kedudukan dan meraih kemenangan.

Hiyo!” jerit pedang sihir.

Pedang besar di tangan kiri Welf dan di tangan kanannya ada pedang sihir—meluncurkan serangannya. Pasokan pulau stabil di danau tersebut mulai menyusut, namun kini bilah es kebiruan yang pernah membuat seorang kurcaci kelas satu mengeluh mengubah danau menjadi padang es kedua kalinya. Bos lantai searah dengan serangan, dan kepalanya menoleh melihat sabetan es melebar.

  “HAAAAAAAAAAAAAAAA!!”

Alamiahnya, Amphisbaena mengimbangi serangan dengan kabut merah.

Tetapi serangan Welf terlampau kuat sampai-sampai sang naga terpaksa menggunakan kabut sebagai perisai alih-alih baju zirah yang membungkus keseluruhan tubuhnya.

Buktinya naga itu sebal selagi kepala kanannya meraung ke penempa muda dan menghembuskan lebih banyak kabut.

Tubuh putih bos lantai dirusak radang dingin.

“Welf-sama! Amphisbaena itu naga air, jadi pedang sihir es takkan berpengaruh banget! Tolong tahan serangan itu!”

“Aku tahu! … pedang ini sudah sampai batas juga.”

Welf menatap senjata di tangan kanannya. Dengan suara kerak, celah merambat sepanjang pedang sihirnya, Hiyo.

Selagi menonton, Lilly sadar waktunya hampir habis; mereka mesti meningkatkan intensitas pertarungan.

“Haruhime-sama, tolong dukung! Cassandra-sama, sembuhkan Aisha-sama dahulu kemudian fokus ke Mikoto-sama dan yang lainnya di lini depan!”

“Tumbuhlah. Kekuatan dan wadah itu. Luasnya kekayaan juga keinginan.”

“Selamatkan rekan-rekan sengsaraku menggantikan perkataanku yang tak sanggup menjangkau mereka.”

Dua rapalan sepertinya menyatu bersama di belakang Lilly.

Haruhime dan Cassandra telah mendukung lini depan dengan merapal mantra terus-terusan. Tanpa pengguna sihir yang menyediakan tembakan artileri dalam party mereka sekarang ini, dua orang ini tidak salah lagi menggenggam takdir pertarungan.

Khususnya Haruhime memainkan peran kunci. Dia sudah masuk putaran ketiga peningkatan levelnya. Normalnya selama pertarungan dia seringnya cuma numpang saja, namun saat ini dia membuktikan kelayakannya. Para petualang cepat menghabiskan ramuan sihir mereka—dan itu merisaukan Lilly.

Semisal makhluk ini melakukan yang dilakukan Black Goliath …. Aku akan sangat marah sampai nangis!

Dia tidak dapat membandingkan Abnormal yang mereka lawan di masa lalu dengan musuh sekarang ini.

Kalau Monster Rex bisa beregenerasi, itu mimpi buruk yang amat parah sampai-sampai cukup menghancurkan tekad siapa pun. Sebagai seorang komandan yang tiada hentinya meneriakkan perintah-perintah untuk membatasi dampak yang mereka derita, Lilly mengetahuinya lebih baik dari semua orang. Pertarungan di lantai delapan belas sungguh tanpa harapan.

Tetapi naga air yang dirinya lihat sekarang tak memiliki senjata rahasia tersebut. Atau paling tidak Lilly pikir dia tidak punya. Itu takkan terpikirkan. Lilly berdoa dalam hati sembari terus memerintah-merintah.

Amphisbaena tidak punya senjata rahasia. Yang menakutkan itu napalm biru. Andaikan napalm birunya mengenai kami, situaisnya akan segera berubah menjadi situasi terburuk.

Orang lain yang berpikir keras adalah Aisha.

Senjata paling mengerikannya naga berkepala dua adalah api neraka yang tidak bisa dipadamkan, membuat serangannya fatal. Membiarkan tangan menyentuh api maka hasil satu-satunya adalah tragedi. Welf dan kawan-kawan lain sangatlah berhati-hati untuk menghindari napalm biru, tetapi kehilangan satu pertarung pun akan merusak seluruh lini depan.

Sekarang berapa banyak botol ramuan pemadam api yang aku colong dari Asfi buat jaga-jaga …?

Terdapat beberapa metode untuk mematikan api napalm biru.

Yang paling terkenal merupakan larutan penyembuhan anti-napalm produksi Amid Teasanare, Dea Saint dari Dian Cecht Familia sekaligus penyembuh terhebat di Orario. Larutannya banyak dicari untuk ekspedisi ke lantai bawah sebab bukan hanya memadamkan api, namun juga menyembuhkan kulit yang terbakar. Barang itu berkontribusi besar terhadap upaya para petualang kelas atas sebab telah membuka pintu untuk menaklukkan Amphisbaena.

Yang kurang terkenal adalah Perseus telah mengembangkan barang sihir serupa.

Asfi dari Hermes Familia yang berbohong tentang level resmi dan lantai yang dicapainya. Pertama kali kapten Hermes Familia melihat Amphisbaena, dia mulai mengembangkan penawar dengan gila-gilaan.

Cuma anggota Hermes Familia yang diizinkan menggunakan barang rahasia itu. Tidak membantu memulihkan, tapi secara universal diakui buat meniadakan api.

Plus, tak seperti obat penyembuhan anti-napalm, obatnya dapat digunakan untuk mematikan segala jenis api lain.

“Hiyah!”

“UUU …!”

Guanya berubah menjadi oven yang ditenagai api biru bergelora, tetapi Aisha tidak menghiraukan keringat yang menetes sesaat menerjang Amphisbaena menggunakan podao-nya.

Tidak bisa menyembunyikan kekuatan mengendurnya, sang naga memindahkan leher agar terhindar dari dampak serius namun menggeliat-geliut ketika sisiknya diserang.

Sekali dorong lagi keseimbangannya akan runtuh. Aisha yakin akan itu.

Efek Uchide no Kozuchi Haruhime bertahan paling lama lima belas menit. Sela waktu sebelum dia mampu mengaktifkan sihirnya lagi sekitar sepuluh menit lebih kemudian … kalau begitu seumpama saja kami bisa melewati sepuluh menit berikutnya, kami bisa mengandalkan peningkatan level lain!

Aisha menjaga Haruhime sewaktu mereka berdua menjadi pelacur, mereka pun satu pasangan di medan perang pula. Dia tahu semua hal perkara sihir si manusia rubah. Dengan cerdiknya memanipulasi lama waktu keefektifan sihir serta jeda interval, menambah satu orang petarung ekstra dengan peningkatan level selama lima menit itu memungkinkan. Beban kepada Haruhime akan meningkat, tapi kali ini dia harus terus maju.

Aisha menatap kembali pantai.

Terlepas jarak jauh memisahkan mereka, Haruhime merasakan tatapan Aisha dan mengangguk ibaratnya memahami niatnya.

Aisha tersenyum singkat kepada ekspresi tegas Haruhime.

Gadis yang pernah meratapi dunia nyata sekarang tidak lagi ada.

Paling pentingnya lagi, bagiku—

Lalu Ouka berteriak.

“Dia terjun!”

Sang naga menghilang lagi ke bawah air, mengirim gelombang begitu naik.

Ancaman serangan yang ‘kan datang dari bawah air akan membuat bulu kuduk sebagian besar petualang naik. Namun party ini berbeda.

“Mikoto!”

“Dia bergerak ke barat! Selatan … bukan, timur! Nona Lilly, menyingkirlah!”

Berkat keterampilan Yatano Black Crow Mikoto, mereka punya keunggulan.

Bergerak cepat, Lilly nyaris tak sempat menghindari serangan jarak dekat Amphisbaena yang muncul persis di tempat yang dikatakan Mikoto. Beberapa monster lebih kecil malah terkena dampak serangannya.

Satu orang melesat melintasi lanskap, mengatur waktu mendekatnya tatkala bos lantai menunjukkan wajahnya.

Orang itu adalah Mikoto yang keterampilan pendeteksinya mendekati firasat.

Dia menghunus pedang panjang, Shunsan.

Walau sukar bermanuver gara-gara panjangnya, tidak ada senjata lebih baik untuk melawan musuh kategori besar. Pedangnya pun ideal untuk melancarkan gerakan spesialnya.

Kilat cahaya keemasan dari peningkatan level berputar-putar di sekeliling murid dewa seni bela diri. Dia melompat maju, memutar pinggulnya ketika menghunus pedang.

Zekka!”

Semangat dan teknik menyatu sempurna dalam serangan yang meledak dari sarungnya. Bilahnya membelah sisik naga dan merobek dalam leher kepala kanan bos lantai.

“OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!”

Sang Amphisbaena menjerit seketika darah segar mengalir turun dari tengah lehernya. Serangannya tidak salah lagi sengit, dan Welf bersorak begitu melihatnya.

Yap, Bayangan Abadi di sini, kami bahkan mampu mencegah serangan bawah air sialan!

Mikoto adalah seorang serba bisa yang bertarung di garda depan juga bisa mendeteksi serta melacak musuh. Dia mengerahkan potensi penuhnya dalam pertempuran ini.

Party-nya punya pedang sihir terlampau kuat yang tak hanya sangat efektif untuk menyerang, namun bahkan juga menciptakan medan pijakan.

Selain itu, mereka punya keterampilan pendeteksi milik Mikoto.

Dikombinasikan secara benar, dua aset tersebut memberi keunggulan sebuah party berisikan kurang dari sepuluh petualang dalam pertarungan air melawan Amphisbaena.

Mikoto sama krusialnya untuk memenangkan pertarungan ini sebagaimana Haruhime.

Kami jago banget sampai-sampai dapat melumpuhkan monster lain di sela-sela waktu!

Gara-gara ledakan besar mengakibatkan bagian Dungeon runtuh, monster-monster di dalam belum bisa mencapai gua.

Itu pun merupakan keuntungan besar dalam pertempuran ini. Normalnya, bagian party akan sibuk mengurus monster alih-alih Monster Rex, tetapi masalahnya bukan itu sekarang.

Podao Aisha mengiris aqua serpent, menjadikan jumlah monster yang terlihat di bawah lima.

“Hei … pikirmu ini keknya beneran sukses?” tanya Daphne, bertarung bertarung saling memunggungi bersama Aisha. Amazon itu mengangguk.

“Iya. Sama pedang-pedang sihir ini, kayaknya kita bahkan bisa menang dalam gua.”

Amphisbaena terluka jelas melemah. Buktinya napalm biru yang di awal pertempuran ia hembuskan dengan dahsyat sekarang cuma hembusan terengah-engah.

Kalau begini, naga air biasanya akan berhenti bertaurng dan bersembunyi ke dasar danau hingga pulih. Menurut para petualang, itu adalah hasil akhir terburuk.

Namun menurut naga, sementara waktu pemulihan diri mangsanya akan kabur. Dalam keadaan darurat nyata, mereka kuat saja mendaki tebing yang mengarah ke lantai 24 dan 26.

Bos lantainya tidak menggubris interval dasar kemunculannya, dan dia pun mengabaikan pola perilaku biasa untuk memprioritaskan membantai musuh. Kurang lebih, Aisha kira demikian.

Selama meresahkan kemungkinan kabur mereka, naga tersebut boleh jadi takkan istrirahat lama.

Lilly dan garda belakang lain terus bergerak di sepanjang pantai tuk menghindari serangan sembari mendukung Welf dan teman lain yang bermanuver di atas gunung es. Di waktu-waktu darurat, Lilly bisa saja menggunakan pedang sihir tipe belati miliknya untuk mengusir musuh. Di sisi lain, kelompok Welf sesekali meluncurkan serangan ke bos lantai.

Seluruhnya bersatu membentuk harmoni sempurna.

Angin bertiup memihak mereka.

Bahkan party ini yang jumlah petarungnya sedikit, sanggup menghabisi Amphisbaena.

Kami bisa menang.

Aisha yakin.

Dia terlalu yakin bisa menang.

Ini Dungeon. Labirin tiada ujung.

Dan Aisha lupa bahwa Dungeon sama sekali tak tertebak.

“…”

Empat mata merah darah naga memelototi pemandangannya.

Luka menghimpun … pendarahan … dan terburuknya, petualang-petualang rendahan yang berani melawan naga terlepas perawakan kecil mereka.

Segala hal soal situasinya memicu amarah Amphisbaena, hingga tubuh besarnya terbakar amarah.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!”

“UOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!”

Kedua kepala meraung bersama-sama. Lalu sang naga terjun ke bawah air.

Welf dan Ouka merinding kala sirip besarnya membelah air, mengirim badai tetes.

“Lagi?”

“Mikoto, kami mengandalkanmu!”

“Paham!”

Dia mengaktifkan Yatano Black Crow. Mustahil gerakan besar di bawah kaki bisa luput dari perhatiannya. Dia melacak arah monster dan hendak menyampaikan informasi kepada rekan-rekannya—seketika dia membeku.

“…”

Waktu terhenti bagi Aisha di momen yang sama.

Insting para petualang yang sudah lama dia asah berdering waspada.

Dulu, Aisha senantiasa memancing Amphisbaena ke medan lebih menguntungkan sebelum melawannya, jadi dia belum sadar.

Memang, tidak satu pun petualang berpengalaman yang pernah mengalahkan Amphisbaena di masa lalu mengetahuinya.

Tidak seorang pun pernah melihat apa yang diperbuat seekor Amphisbaena lakukan misalkan mereka melawannya dalam gua dan memojokkannya.

Mereka tak tahu perilaku abnormal apa yang akan digunakannya untuk membinasakan musuh.

Ia ke air terjun—

Jejak naga air memotong jaring deteksi Mikoto.

Tak memandang ke belakang sekilas pun menghadap para petualang, dia menyerbu langsung ke air terjun di gua sebelah utara. Bergerak dengan kekuatan hebat yang dimilikinya tatkala naik dari lantai 27 menuju lantai 25.

Sedetik sesudahnya, menghancurkan es dan menabrak Air Terjun besar, membuat semburan air besar-besaran.

Welf, Lilly, Haruhime, Ouka, Chigusa, Daphne, bersama Cassandra menyaksikan sosok putih mendaki air terjun besar.

Cuma Mikoto dan Aisha yang berhasil menebak niat musuh mereka.

Bahkan tebakan mereka sudah terlambat.

Seusai sampai di puncak air terjun, Amphisbaena tersebut melompat ke udara.

“…”

Guanya terdiam.

Bahkan gemuruh air terjun pun berhenti.

Dalam dunia hening yang waktunya membeku ini, petualang-petualang melihat naganya menari jauh di atas.

Monster tidak bersayap tengah melayang di udara.

Kemudian deru air terjun ngeri menerobos aliran waktu membeku.

Amphisbaena-nya mulai turun.

“UOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!”

Begitu teriakan Welf berakhir, bos lantai itu terjun ke tengah danau.

Kubah akar meledak dengan hantaman yang serasa menghancurkan bumi sendiri.

Bukan cuma lantai 25 namun seluruh Ibu Kota Air berguncang seketika tumpukan puing—jauh lebih banyak dari yang jatuh dari pohon raksasa sebelumnya—meluncur jatuh cepat ke darat.

Dampaknya mengirim tsunami yang menjungkirbalikkan segala sesuatu yang menyerupai sebuah pulau es.

Aisha dan semua orang yang berhasil lolos tipis dari hantaman tubuh naga terlempar ke dalam air.

Saat tsunaminya mencapai pantai, menyapu garda belakang dan melempar mereka ke dinding.

Bahkan api biru yang berkedip-kedip di pantai dan air ditelan gelombang ganas dan tenggelam dalam buih-buih air.

Bagai anggur meluap dari gelas, air biru zamrud mengalir ke lantai 26 tanpa melamban.

Getarannya membuka celah mengkhawatirkan di sepanjang gua.

“Ahhh—”

Mikoto paling dekat dengan pusat serangan bom selam bos lantai itu. Diterjang gempa susulan serta bongkahan es, dia jatuh ke permukaan air dan tenggelam ke dunia serulean.

Darah mengalir dari luka di kepala, membuat airnya memerah peka.

Mikoto jadi grogi.

Selayaknya memberi pukulan perpisahan, matanya menyampaikan kabar buruk.

Sekelompok ikan besar mendekat cepat.

—raider fish!

Tak seperti aqua serpent, mereka tidak bisa datang ke daratan. Mereka melesat menuju Mikoto bak telah menunggu mangsa jatuh ke air.

Satu raider fish membuka taring panjang nan tajamnya lalu menggigit bahunya.

Aaaaaaaaaaaaaaaaawwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwww!!

Satu ikan lagi menempel ke lengan kirinya, dan gigitan ketiga ke kaki kanannya.

Saat monster mengerikan berkerumun berupaya menjadikannya makanan, Mikoto merasa seolah-olah mereka mencabulinya. Tubuh mulusnya menyemburkan darah, bahkan kain undine yang dikenakannya sepertinya berteriak ketika dirobek.

Jeritan tanpa suaranya hanya mengeluarkan gelembung-gelembung tak terhitung selagi tubuhnya tenggelam bersama kerumunan monster ke dasar danau.

Hal terakhir yang dilihatnya adalah perut besar naga yang naik langsung ke atas air tepat di atasnya.

Uhuk, uhuk! …. Sial!”

Welf berpegangan ke salah satu dari beberapa pulau tersisa dan menyelam kuat-kuat ke air. Dia menghirup udara dalam-dalam, selanjutnya muntah aliran air dan sumpah-serapah.

Guanya buruk.

Air masih mengalir deras bagaikan badai laut, dan daratan guanya tentu kian menurun. Platform-platform es telah pecah menjadi ribuan potong membuat sulit mengatakan dulunya pernah digunakan sebagai basis untuk meluncurkan serangan ke bos lantai. Kubah akar persis di atasnya rusak, langit menganga di tengah-tengahnya. Bahkan keempat dinding gua penuh retakan, seakan-akan dihantam meteorit.

  Dungeon sudah dihancurkan, tetapi kerusakan ini belum pernah terjadi sebelumnya. Riak bercampur di sepanjang permukaan air ketika fragmen-fragmen kristal tak terhitung jumlahnya terus berjatuhan dari langit-langit.

Fyuh, fyuh …!”

“Ini gila …!”

Daphne, Chigusa, dan Ouka meraih bongkahan es yang mengapung serta sisa-sisa akar lalu mengeluarkan kepala mereka dari air.

Setiap anggota party tercabik-cabik memar dan luka. Beberapa bahkan kehilangan senjata mereka.

“Cassandra-sama …!”

“Aduhh …!”

Mereka yang di pantai juga sama menderitanya.

Cassandra berbaring telentang di tanah. Bongkahan es menabrak punggungnya waktu melindungi Lilly dan Haruhime. Ransel Lilly tergantung di gugusan kristal.

Formasi yang susah payah dibangun para petualang demi mengejar kemenangan betul-betul dihancurkan.

“Mikoto …? Mikoto di mana?!”

Chigusa-lah orang pertama yang menyadari salah seorang anggota party mereka menghilang.

Seketika Welf dan sisa garda depan lainnya naik ke salah satu sedikit sisa platform es—pulau besar yang dibalikkan—Chigusa yang sekarang tanpa busur dan panahnya, menatap ke depan-belakang.

“Tidak mungkin … Mikotooo?!”

Tiada yang merespon jeritannya

Namun Daphne melihat geyser gelembung merah menodai permukaan air.

Dia berdiri terdiam, wajahnya mengkerut begitu menyadari nasib yang ditemui Mikoto.

“OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!”

Di momen yang sama, naga berkepala dua itu menerobos permukaan air, matanya menggila.

Dari tempat berpijaknya di atas bongkahan es, Aisha melontarkan caci maki buruk.

Kedua kepala tanpa ampun mengejar para petualang, lini ofensif mereka kini hancur.

Kepala kiri menghembuskan napas napalm biru.

“Ah?!”

“Menghindaaaar!”

Di saat para petualang melompat menjauh, kepala kiri mengikuti mereka, dan segera airnya dibakar api biru. Musuh mereka tidak betul-betul membidik. Aisha melompat pindah-pindah pulau, sementara Daphne terjun langsung ke dalam air.

Sedang dalam amukan murkanya, naga air lanjut menembak api ke setiap arah, seolah berniat membakar semua yang ada di pandangannya. Kristal meleleh ketika gelombang membakar mengembang, dan sisa sedikit udara di gua semakin tipis.

 Erangan monster bersayap memenuhi udara. Meski mereka mencoba melarikan diri dari percikan api biru bergelora dengan kabur lebih dalam ke labirin, bongkahan kristal berjatuhan dari langit-langit ke lautan api biru.

Para petualang mencengkeram leher mereka dan bergidik.

Api telah menyebar ke reruntuhan kubah akar, menciptakan kurungan api.

Lantai atas Ibu Kota Air bersinar biru.

Berikutnya naga itu menembakkan aliran api biru ke arah pantai timur laut tempat Lilly, Cassandra, dan Haruhime berdiri.

“…”

Lilly barusan menarik berdiri Cassandra. Dia menyaksikan api bergerak menuju mereka. Ketika cahaya panas menerangi wajah, mereka membeku.

Tidak bisa kabur ke mana-mana.

Tamat sudah.

Lilly dan Cassandra nyaris pasrah kepada biru langit kematian, seketika—

“Oh!”

Bergema kejutan di punggung mereka.

“Apa—?”

“Haruhime-sa?!”

Mata Lilly bersilangan mata hijau yang balas menatapnya.

Cassandra berteriak begitu tangan kurus mendorongnya menyingkir dengan kekuatan tak berdaya.

Tidak sampai sekejap setelahnya, si manusia rubah menghilang di balik tabir api.

Haruhime-samaaaaaaaaaaaaaaaaaa?!

 Lautan api menutupi pantai.

Api neraka menelan jeritan Lilly.

“—Haruhime.”

Dari jauh, Aisha menyaksikan pemandangan yang dia harap takkan pernah lihat.

Dia lari ke pantai timur laut sekaan ditarik kekuatan gaib lalu berdiri terpaku di depan hamparan membara.

Dia tak melihat Lilly jatuh berlutut atau Cassandra meringkuk.

Pertama kalinya, petualang kelas dua membiarkan dirinya lengah. Namun itu tak berarti.

Naga kepala dua telah memutuskan untuk memusnahkan semua kehidupan dalam gua.

“OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!”

Aliran api liar tak mereda. Bergolak selayaknya ketetapan Tuhan.

Para petualang tersisa melihat sang naga yang raungan gandanya bergemuruh.

“Jadi ini akhirnya …!”

Berdiri di perairan dangkal tempatnya kabur dari api, Ouka mencengkeram kapak tempurnya, Kougou, dengan satu tangan.

Welf memelototi naganya ketika api biru berkobar di belakangnya, wajah berkeringatnya depresi.

Dari balik poni, air mata Chigusa mengalir sewaktu memikirkan dua temannya yang sekarang tidak hadir di medan perang.

“… Mikotoooooooo! Haruhimeeeee!”

Ouka mencurahkan emosi yang memporak-porandakan dadanya ke teriakan marah membara.

Marah kepada bos lantai karena melakukan kekejaman semacam itu. Marah kepada dirinya sendiri sebab tidak mampu melindungi mereka.

Dalam kabut keputusasaan, petarung yang kehilangan teman masa kecilnya ini terbakar kemarahaan.

“Haruhime … bajingan itu akan membayarnya!!”

Begitu pula Aisha.

Lilly dan Cassandra masih tergeletak di tanah di sebelahnya, dia mengatup gigi dan berbalik menghadap si naga.

Sebagai seorang wanita biasa, tinju mengepalnya gemetaran. Namun sebagai seorang Amazon, instingnya mencegahnya jatuh ke kesedihan. Dia takkan membiarkan dirinya mengungkap kelemahan dengan menangis terisak-isak. Yang artinya, termasuk keputusasaan.

Menutup tebal rasa kehilangan yang mencengkeram amarah yang dirasakan mereka, para petualang memelototi bos lantai.

Ouka serta Aisha.

Seketika mereka beralih dari keputusasaan dan melempar diri sendiri ke dalam pertempuran tanpa harapan kemenangan, masing-masing menggunakan cara tersendiri sedang memikirkan dua gadis yang merenggang nyawa. Pikiran-pikiran itu menyatu menjadi kehendak tuk mati sebagai pahlawan dalam pertempuran—untuk membunuh naganya sekalipun ganjarannya nyawa mereka sendiri. Api neraka sekuat api biru memakan keduanya.

Api kegigihan mereka.

Kemudian …

Turun dari surga, rebutlah bumi.”

… rapalan …

Tumbuhlah.”

Hanya mereka yang mendengarnya.

“…”

Hanya pria dan wanita yang kehilangan kehendak bertarung mereka mendengar rapalan dua gadis yang bergema dalam kedalaman api neraka.

Ф

Itu—

Ouka melihatnya.

Selagi semua orang berdiri membeku, dia seorang memegang teguh tekadnya untuk bertarung hingga akhir, melihatnya.

Dia seorang yang melihat secercah cahaya yang sedikit mengaburkan permukaan air, hampir disembunyikan kilau api biru.

Dia seorang yang melihat partikel cahaya membentuk sosok di antara percikan-percikan berputar-putar tersebut.

Sebuah pedang—

Detik setelahnya, dia berlari maju.

“—penempa, tembaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkkk!!”

Jeritan marah itu mengguncang tangan Welf untuk bergerak.

Laksana visi yang dilihatnya sekeilas di sudut mata sewaktu Ouka berlari maju mendorongnya, atau mengesalkannya, atau mendesaknya untuk beradu, kedua tangannya mencengkeram gagang pedangnya.

Berhenti menyuruh-nyuruhku! Aku percaya padamu.

Tepatnya karena mereka senantiasa mengumpat satu sama lain dan bertengkar, Welf bisa bertindak.

Tepatnya karena dia rekan kejahatan Ouka, sekalipun takkan dia akui, dia mampu mengayunkan pedangnya.

Hiyo!!

Sebuah rudal es melesat maju.

Teriakan pertempuran pedang sihir memadamkan api biru seiring laju majunya, meninggalkan es tidak terhitung jumlahnya di belakang.

“HAAAAAAAAAAAAAA!!”

Amphisbaena menafsirkan tindakan ini sebagai ancaman. Kepala kanannya menghembuskan embusan kabut merah kuat. Badai salju yang mengepul menemui banjir kabut. Biru langit melawan merah tua.

Welf menyipitkan matanya tatkala lebih banyak retakan menyebar di sepanjang pedang sihir.

Akhirnya, es menembus kabut dan membekukan sebagian tubuh sang naga. Naga itu menyipit dan menyiapkan api serangan balik dari kepala lain.

Di saat-saat itu pula …

Shinbu Tousei!”

Mantranya terdengar jelas.

“…”

“…”

Rapalan yang seharusnya tidak pernah mereka dengar.

Rapalan undangan yang semestinya menggema di bawah air dan menghilang termakan gelembung-gelembung.

Namun mereka tak salah dengar.

Para petualang dan naga sama-sama mengenal rapalan itu.

Secercah cahaya di permukaan air menjadi lingkaran konsentris memenjarakan naga.

Partikel cahaya melayang di udara bergabung bersama membentuk pedang cahaya ungu tua yang menjulang di atas kepalanya.

Naga berkepala dua itu waspada nian pada pedang sihir.

Ia menghembus napas kabut tuk menciptakan perisai di depannya.

Tiada zirah kabut yang melindungi seluruh tubuhnya.

Pedang sihir hancur dengan bunyi retakan keras dan kabutnya menghilang.

Di waktu bersamaan, Mikoto berteriak.

Futsu no Mitama!!”

ф

Dunia bawah laut bergelombang mencerminkan pemandangan yang terjadi beberapa menit sebelumnya, bagaikan pecahan ilusi.

“Maafkan kelancanganku saat aku memohon kepada engkau—”

Bahu yang taring monster itu gigit sedang berteriak.

Lengan kiri kehilangan sepotong besar daging sedang menjerit.

Kaki kanan yang bahkan kini hampir digigit buntung sedang melolong.

Lukanya dalam. Pendarahannya tak berhenti. Kesadarannya terus hidup-mati.

Tenggelam ke dasar danau kala monster mengoyak dagingnya, Mikoto tidak bisa lagi bertarung.

Lantas dia memanjatkan doa.

“Aku memanggil dewa, penghancur segalanya, untuk bimbingan dari surga. Karuniakan tubuh tidak berharga ini kekuatan ilahi melampaui kekuatan …”

  Seketika kesadarannya teggelam ke kegelapan bersama tubuhnya, kata-kata tertatah-tatah dan terputus-putus.

Satu-satunya gambaran yang tersisa di benaknya adalah rekan-rekannya.

“Menyelamatkan, memurnikan cahaya. Datangkan pedang penghancur kejahatan!”

Dia menyanyikan lagu pengusiran setan tuk mengusir kejahatan dan memanggil cahaya.

“Tunduklah kepada bilah penindas, pedang mitos penakluk.”

Sebuah lagu untuk menghilangkan racun keputusasaan lalu memanggil roh pedang dewa pertarungan yang ‘kan menghadirkan kebebasan.

Dia bernyanyi untuk mengantarkan ini kepada rekan-rekannya.

“Kini di tempat ini aku panggil engkau, dengan nama.”

Saat itulah terjadi.

“Mikotoooooooo!”

Jeritan membuat riak di permukaan air, dia pikir mendengar suara Ouka memanggil namanya.

Lalu seluruh dunia bersinar panas putih.

Kami belum menyerah!

Kami takkan menyerah

Baik Ouka dan aku belum menyerah!

Petarung yang selalu bertarung dengan keberanian itu!

Pria pemberani nan kuat yang terus bertarung untuk melindungi reakn-rekannya!

Tetap saja!!

Mikoto menggertakkan giginya.

Menggunakan satu lengannya yang tidak digigit monster, dia angkat tinju terbaik yang dapat dibuatnya.

“Turun dari surga, rebutlah bumi.”

Dia menyipit tatkala cahaya kembali ke matanya lalu mengeluarkan aliran gelembung keruh.

Di bawah air, dia bahkan tidak dapat melihat musuhnya.

Namun misalkan dia membidik lurus ke atas, tempat sosok besar itu mengambang …

… bisa dia jebak.

Shinbu Tousei—”

Lingkaran konsentris terbentuk di dasar danau.

Raider fish mulai gelisah seketika sihir Mikoto mengalir.

Mikoto berteriak ke pedang cahaya yang terbentuk di atas permukaan air.

“—Futsu no Mitama!!

Menerima perintah besarnya, pedang ungu tua itu menembus bos lantai dan mengerahkan medan gravitasi.

“~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~Aagh?!”

Karena dia tak tahu rapalan bawah air Mikoto, naga itu tidak pernah sempat menghindari serangan langsung. Dan dikarenakan zirah kabutnya hilang, dia tak bisa menangkis sihir pengendali gravitasi.

Kekuatannya kelewat besar hingga menghancurkan sisik-sisik naga sementara kedua kepalanya ditundukkan, memaksa lehernya masuk ke air.

Bahkan pusat danau pun ditarik ke bawah oleh tekanan tiada henti gravitasi tak wajar.

“Gyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa?!”

Persis di bawah naga, Mikoto pun ditumbuk gravitasi yang diciptakan sihirnya. Geyser gelembung tanpa ujung keluar dari gigi terkatupnya.

Tubuh rapuh manusia akan dihancurkan mantranya jauh-jauh hari sebelum memengaruhi monster besar itu.

—tidak bisa menang.

Nampaknya dunia ambruk seiring penglihatannya menyempit.

Jari-jari kurusnya tersentak dengan suara meletus sekejap.

Organ-organ dalamnya berubah bentuk dan selapis darah keluar dari bibirnya.

Namun Mikoto tak berusaha menonaktifkan sihirnya.

Kalau mempertaruhkan nyawaku—Amphisbaena tidak bisa menang!

Diam-diam menjeritkan kesiapannya untuk menghadapi kematian, dia mengatur tubuhnya membara.

Gravitasi membahana menekan tubuhnya ke dasar danau yang muncul retakan satu per satu.

Raider fish tertangkap medan gravitasi bersama Mikoto.

Mata mereka menonjol keluar dari rongganya dan daging mereka hancur dengan suara menakutkan. Sewaktu salah satu ikan besar mengendurkan giginya dari bahu kanan, Mikoto mendorong tangannya melawan gravitasi menuju permukaan air ibarat dia meraih kemenangan.

“OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!”

—takkan kubiarkan dia lepas! Apa pun yang terjadi, takkan kubiarkan lolos!

Di luar permukaan air berkilauan, mata memerah Mikoto melihat sosok musuhnya.

Dia yakin kepada rekan-rekannya yang berada di luar dunia air ini.

Dalam hatinya, dia memegang bayangan temannya, petarung yang memanggil namanya.

“UOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!”

Dia berlari maju.

Menghancurkan kristal di bawah tapak kakinya, Ouka menuju bidang ungu gravitasi di tengah gua.

“Mikoto, jangan lepaskaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan!”

Ouka melompat ke reruntuhan kubah akar.

Akar pohok raksasa itu acak-acakan sebab banyaknya serangan yang dialaminya. Kini api biru tengah menyebar di sepanjang kisi-kisi kayu, membuat jalinan api yang terus membesar. Ketika apinya kian dekat, membakar lapisan akar yang saling terjalin. Namun Ouka tidak ragu maupun mempertanyakan gerakan selanjutnya. Dikepung bunga api berdesiran, dia menyerbu maju melalui satu-satunya celah.

Berlari menelusuri rute terakhir, satu akar tak terbakar—dan melompat.

Saat Welf menatap heran, Ouka mengayun kapak perang besarnya lalu terjun ke medan gravitasi.

“Gu—oooooooooooooooooooooooooo!!”

Dunia mengabur di hadapan mata Ouka kala kekuatan monumental menariknya ke bawah. Dari posisinya tepat di atas naga terperangkap medan gravitasi, dia jatuh cepat ke tubuhnya.

Kendatipun dalam peningkatan level, dia tak kuat memutus kepala Amphisbaena. Lantas dia pinjam kekuatan sihir pengendali gravitasi kemudian mengubah dirinya menjadi alat pancung.

“!!”

Di saat sebelum Ouka mengeksekusikan serangannya, pemandangan dari masa lalu melintas di benaknya.

Mikoto bersama Chigusa bukanlah satu-satunya orang yang menerima pelatihan Takemikazuchi sebelum ekspedisi. Ouka pun pernah mencari jurus spesial baru yang cocok dengan Kougou, kapak tempur yang dia hutang dari Welf.

Dalam cahaya fajar samar, dia berbaring telentang di halaman besar, babak belur dan kelelahan.

Di atasnya berdiri sang dewa seni bela diri yang menghajar keterampilan bertarung kepadanya.

Sederhana namun sempurna, teknik nekat yang mengharuskannya menggunakan seluruh potensi tubuh besar kuatnya.

Ouka seorang yang sanggup melakukannya.

Seandainya kau gunakan keterampilanmu di waktu yang tepat dan pernapasan benar, kau akan menjadi sepasang taring yang kekuatannya bahkan mampu membunuh naga.”

Ouka yakin itu perkataan dewa pertempuran sendiri.

Di tengah jalannya dia berputar.

Melawan tekanan gravitasi, dia menghembus napas dari paru-paru dalamnya. Menjadi percikan api instan.

Bak sepasang taring yang menelan semuanya, Ouka melepas jurus mematikannya ke kepala kanan naga ketika menubruknya.

Kokuu! Devouring Tiger!”

Kapaknya jatuh.

“—Gaa?!”

Raungan kilat cahaya perak menderu di sepanjang pandangan naga, menembus sisiknya, dan membelah dagingnya.

Air mancur darah menyembur keluar, mekar di udaa.

Kepala bermata merah telah terpisah dari leher panjang.

Nyaris di satu waktu, medan gravitasi menghilang, kekuatannya habis.

“OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!”

Petualang itu jatuh, sisa mata naga melotot, selanjutnya es besar meluncur ke udara.

Kehilangan separuh dirinya, kepala kiri meraung.

ф

Ini—

Aisha mendengarnya.

“Kekuatan dan wadah itu. Luasnya kekayaan juga keinginan.”

Aisha pernah mendengar rapalan itu lebih sering dari siapapun di dunia ini, dan semata-mata dia yang dapat mendengar suara jernih nan indah yang menuturnya.

“Sampai bel berlontengan, bangkitlah kemuliaan dan ilusi. Tumbuhlah.”

Asalnya dari pusat lautan api mengerikan.

Dikelilingi api yang menjadi abu—Haurhime duduk lalu merapal.

Jubah Goliath.

Setelah si manusia rubah mendorong Lilly dan Cassandra menyingkir tepat sebelum napalm biru menelannya, Haruhime melempar jubah ke atas tubuhnya kemudian menelungkup ke tanah.

Itu langkah taktis pertama yang pernah dieksekusi pengguna sihir yang tidak tahu caranya bertarung. Jubahnya merupakan dinding tak tergoyahkan yang tidak cuma memblokir serangan langsung dan serangan menusuk namun juga petir serta angin; dalam hal yang serupa, sungai api bos lantai tidak bisa membakarnya.

—rasanya aku mau terbakar!

Tetap saja, kobaran api mematikan masih nyala. Dunia api yang membakar baik orang-orang dan monster benar-benar mengerikan. Pemakai jubah barangkali terlindungi dari api, tapi panas supernatural memburunya tanpa ampun, melelehkan kesadarannya seperti lilin. Lidah api seolah mengejeknya sambil menjilat bagian luar jubah, mengirim keringat menuruni kulit putih indahnya. Dia merasa seakan api hendak meledak dari tenggorokan kurusnya.

—tidak, tidak! Tidak masalah kalaupun aku terbakar! Kalaupun aku terbakar menjadi abu!

Biar begitu, dia duduk bersila dari balik jubah dengan menutup mata dan merapal.

Selama rapalannya bangkit dari apa-apa yang tersisa dan menjangkau mereka!

Haruhime menuangkan seluruh kekuatan mentalnya ke dalam mantra.

Sembari melakukan, dia membayangkan wajah seorang wanita yang dia tahu tengah menunggu rapalannya.

“Kau cuma mesti merapal.”

Beberapa tahun sebelumnya, Aisha mengatakan kata-kata itu ke Haruhime selama ekspedisi Ishtar Familia.

Kendatipun Haruhime pernah sampai lantai dalam, dia hampir sama sekali tidak tahu medan Dungeon.

Itu gara-gara para Amazon selalu menjejalkannya ke dalam keranjang kokoh, mengurungnya di daam, dan dia bawa bersama mereka.

Dia diperlakukan semacam senjata atau barang.

Para Berbera akan mengeluarkannya sewaktu membutuhkannya dan memanfaatkannya demi tujuan pribadi.

Faktanya, mereka tak menyuruh Haruhime melakukan lebih dari sekadar berperilaku layaknya alat lain. Tiada gunanya meminta hal lain darinya.

“Kami tak mengharapkan apa pun darimu. Fokus saja merapal.”

Dalam pertempuran-pertempuran itu dia cuma bisa berdiri di tempat seraya melihat darah dan daging beterbangan sedangkan air mata memenuhi matanya. Dia nyaris tak bisa menahan diri untuk tidak pingsan.

Seorang wanita bangsawan tertutup tidak punya peran dalam dunia brutal Dungeon.

Dia cuma bisa merapal. Mendesak menggunakan kekuatan misterius tersembunyi dalam dirinya, bibir gemetarnya tak punya pilihan lain selain mengujarnya tidak peduli bagaimanapun keadaan pikirannya.

“Terlambat selesai merapal sedetik saja maka salah satu dari kami mati. Di lantai dalam ini, begitulah.”

Itu takdir sulit.

Amazon kuat akan mati satu per satu, anggota tubuh mereka hancur.

Bahkan Phryne, seorang petualang kelas satu, seringkali terluka parah sampai-sampai muntah darah. Haruhime tak berdaya diseret ke medan perang, tidak kekurangan apa-apa, dan dipaksa menanggung tanggung jawab nyawa orang lain.

Bagi gadis lugu yang tak mengenal keras-kejamnya dunia, itu mimpi buruk nyata.

Bohong andai bilang Haruhime tak membencinya.

“Yah, aku yakin kau pasti membenci kami.”

“Tak apalah kiranya kau membiarkan kami mati.”

Itulah yang Aisha katakan padanya.

Tubuhnya setengah berlumuran darah, matanya beralih, itulah ucapan yang dia lempar ke Haruhime.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA?!”

Kepala kanannya dipotong jurus spesial Ouka, Amphisbaena meliar karena murka.

Selama masih punya satu kepala lagi, sang naga akan terus mengamuk. Dan kini gara-gara medan gravitasi tidak lagi aktif, tiada lagi yang akan membatasi pergerakannya lagi.

Matanya dari ujung kepala-kaki memerah darah. Kepala kiri membuka mulutnya selebar mungkin sampai-sampai ingin membelah.

Cahaya biru dalam rahangnya bersinar lebih terang ketimbang sebelumnya.

Dia telah menarik setiap tetes terakhir bensin empedu naga untuk melepaskan ledakan besar terakhir napalm biru.

Welf dan Daphne berusaha melanjutkan serangan Ouka lanjut menebas sisa kepalanya namun tidak berhasil tepat waktu.

Serangan napas ini, cukup kuat hingga membakar seluruh gua, akan menyerang dahulu.

Lilly dan yang lainnya menatap, masih mematung terhadap cahaya penghancur yang ‘kan datang.

Simbol pemusnahan membakar mata para petualang.

Setelahnya.

Aisha bertindak.

Boleh jadi tindakannya dari naluriah, atau barangkali dibimbing kekuatan lebih besar. Namun di tengah-tengah situasi ekstrimnya ekstrim, tatkala tidak serbuan bonek ataupun rapalan mantra bisa menghentikan api gila itu, Aisha condong maju.

“Tidak mungkin teganya aku memilih membiarkanmu mati?”

Suara Haruhime saat menjawab Aisha terdengar serak dan lembab oleh air mata.

Gara-gara dia makhluk tak punya keteguhan hati, lemah dan takutan. Dia tak tahan terhadap tekanan hidup berat.

Tapi orang yang berdiri di medan perang adalah orang-orang yang ingin diselamatkannya, kalau bisa dia selamakan.

Aku akan merapal hingga tubuhku menghilang dari dunia ini.

Dia merapal dan merapal.

Tumbuhlah.”

Dan setelah merapal setiap harinya, mantranya makin cepat.

“?!”

Kekuatan sihir meningkat itu mengejutkan prum.

Suara rapalannya membuat penyembuh yang sudah banyak kali menggunakan sihirnya jadi merinding.

Palu rakssasa cahaya keemasan yang terbentuk tepat di tengah lautan api membuat mata naga terkejut.

Sewaktu mantranya dipercepat, api birunya diabukan.

Rapalan dipercepat.

Puncak dasar-dasar sihir.

Mantra terjalin lebih cepat dari angin bisa menyelamatkan rekan-rekan dan membawakan rizki kemenangan.

Haruhime tak dapat berbuat apa-apa selain merapal, namun keterampilan satu ini yang dia kembangkan dari waktu ke waktu. Kemampuan terasah dan terhaluskan yang dipunyai pengguna sihir ini yang kerapkali digunakan banyak orang. Setelah merapal ratusan bahkan ribuan kali, kecepatan rapalannya—hal itu saja—melampaui para penyihir kelas atas.

“Lahirkan persembahan ilahi dalam tubuh ini. Cahaya keemasan ini dianugerahkan dari atas.”

Rapalan Haruhime melesat melewati gua.

Mengesampingkan keamanan yang biasanya dicari-carinya, dia memprioritaskan kecepatan di atas segala hal, mengabaikan kehati-hatian biarpun artinya dia mungkin saja membawa harapan tak berarti.

Ya, dirinya hanya berguna untuk merapal.

Jika memang demikian, maka dia akan mempertaruhkan tubuh serta jiwanya untuk merapal lebih cepat dari semua orang di dunia sehingga mantranya mencapai para petualang pemberani.

“Ke dalam palu dan ke dalam tanah, semoga melimpahkan keberuntungan kepadamu.” 

Dia membuka matanya lebar-lebar dan melihat si petarung wanita, menghadap jauh darinya selagi berdiri di depan lautan api biru.

“Tumbuhlah!”

Di waktu yang sama, Aisha—tubuhnya membungkuk ke depan—lepas landas lari tanpa melihat sekilas ke belakang.

“Berikan padaku, Haruhimeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee!!”

Seketika Aisha meraungkan permintaannya, palu cahaya menimpanya.

“Uchide no Kozuchi!”

Percikan api berlari menuju Aisha, memicu ledakan partikel cahaya besar.

Diilhami kilau peningkatan level, Amazon itu meraung dan melesat maju dengan kecepatan yang melampaui batas-batas kata mungkin. Tubuh kuning kecokelatannya menjadi panah cahaya emas.

Menendang kristal bak kerikil, dia melubangi api yang menari-nari. Kala sang naga memenuhi paru-parunya dengan api biru, Aisha mengincar matanya.

“…”

Bersama amarah liar, naga itu akhirnya menyadari kekeliruannya.

Biasanya, sementara kepala kiri mempersiapkan serangan berapi-api, kepala kanan akan mengusir musuh. Namun kini kepala kanan telah hilang. Tidak ada lagi yang melindungi kepala kiri.

Amazon itu menyerang mirip orang sinting.

Kecepatan dan jarak yang ditempuhnya mustahil buat Level 4, tapi Level 5 tidak.

Ada jalan.

Satu jalan setapak di sepanjang danau.

Jembatan es menjulang, didirikan Hiyo dengan harga pedang sihirnya hancur total.

“Ooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo!!”

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA?!”

Raungan para petualang dan naga saling menindih.

Bermaksud membakar wanita prajurit bersama sisa gua juga Haruhime, Amphisbaena bersiap melepaskan napas api. Napasnya sudah sampai titik kritis dalam tenggorokannya.

Tetapi cahaya gabungan Aisha dan Haruhime lebih cepat.

Kilatan.

Aisha melompat ke udara, ekor komet terang benderang meluncur naik ke bagian tengah leher bos lantai.

Salah satu sisik besarnya hancur, meledak lepas. Bilah Aisha merobek daging leher tebal di baliknya.

Sesaat setelahnya, penyulut napas api yang terbentuk di tenggorokan serta mulut naga terinterupsi karena luka yang Aisha buka.

“~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~Aaagh?!”

Layaknya saluran air pecah, napalm biru menyembur keluar dan berapi-api.

Terbakar apinya sendiri, Amphisbaena menggeliat ibarat jatuh ke tempat penyucian. Lebih buruk daripada salah sasaran, tembakan napas naga ekstra besar telah memicu ledakan masif. Bos lantainya berteriak seketika aliran semburannya semakin menyulut api.

“Datanglah, penakluk pemberani!”

Aisha tak berhenti.

 “Wahai pejuang pemberani, wahai pahlawan kuat, wahai jawara tamak nan kejam.”

Begitu dia kembali ke bongkahan es yang mengapung di danau, dia berlari lagi dan maju ke Amphisbaena kedua kalinya. Dia menyerang naga itu dengan tebasan liar, cepat, dan bertubi-tubi untuk mencegahnya kabur ke dalam air, kendati dia seraya merapalkan Rapalan Simultan.

Buktikan hasratmu kepada korset sang ratu.”

Dia menendang salah satu es besar yang dibentuk Hiyo, terus bergerak, kemudian terbang ke bos lantai dengan cepat dan tanpa halangan sampai-sampai kasat mata bagi Welf juga orang-orang lain yang melihat dari pantai.

Mereka cuma dapat melihat jejak bintik emas di belakangnya. Inilah tarian perang yang sungguh layak nama Antianeira. Dia menjawab erangan naga air dengan kalimat rapalan terakhirnya:

“Bilah laparku adalah Hippolyta!”

Lompatan epik.

Aisha terbang ke udara tepat di atas tubuh naga terbakar.

Waktu dia turun menuju badan musuhnya, letak intinya terkubur, dia mengangkat podao. Dilanjutkan dengan seluruh kekuatan yang dirinya dan Haruhime sanggup kumpulkan, dia ayun ke bawah.

“Hell Kaios!!”

Podao-nya menghujam tubuh naga, mengkilaukan cahaya magis.

 Gelombang merah serangan pedang mendarat tepat di atas tubuh monster, merobek dagingnya dan menggali lebih dalam. Menempa jalannya menuju sungai darah naga, mencapai kristal ungu tua besar yang terkubur dalam-dalam lanjut menghancurkannya.

Batu sihirnya dimusnahkan, sosok Amphisbaena hancur lalu kecamuk api biru langit merekah.

Abu meletus sewaktu napalm biru tersisa meledak.

Gua itu menggemuruhkan ledakan kuat. Sesaat, semuanya diliputi kilatan panas.

Selagi dirinya melihat pemandangan ini dari dalam lautan api, manusia rubah tersenyum tipis dan roboh tertelungkup ke tanah.

“Aisha-sama?!”

Ketika kilatnya berakhir, Lilly—yang lengan kurusnya menutupi mukanya dan meringkuk agar tak terhempas ledakannya—meneriakkan nama Amazon itu.

Dalam badai salju abu, tempat fragmen-fragmen drop item dan kristal ungu menorehkan parabola di udara di tengah bunga api melayang, dia melihat sepintas Aisha jatuh ke dalam danau.

Tatkala seorang petualang memilih melancarkan serangan jarak dekat ekstrim, tidaklah mungkin tak tertangkap hasil setelahnya.

Lilly dan kawan-kawan yang menyaksikan Aisha melangsungkan serangannya, berdiri memucat terdiam ketakutan … tetapi tidak lama kemudian, sang petarung menerobos permukaan air, rambut panjangnya meneteskan air.

“…”

Kala anggota tubuh indahnya juga kulit tembaga terekspos, mereka melihat dia tertutupi luka bakar. Namun mengingat skala ledakan yang dia alami, kilau matanya mengejutkannya terang. Dia berjalan pelan melewati perairan dangkal, partikel cahaya masih melapisi dan melindungi tubuhnya.

Bara api napalm biru kecil berkedip-kedip di satu tangannya, dan dia menyeret podao di belakangnya melalui air; telapak tangannya menempel di gagang.

Para penonton tersentak dari kebingungan mereka dan berlari menghampiri Aisha, tetapi dia menepisnya dan pergi langsung menuju lautan api yang menelan pantai.

“Haruhime …”

Tangan kirinya mengeluarkan botol kecil ramuan pemadam api Perseus, membuka tutupnya, dan dia tuangkan ke api di tangan satunya. Asap mengepul sewaktu barang itu menjalankan tugasnya. Dia gunakan sisa ramuan untuk mematikan api persis di hadapannya kemudian berjalan masuk ke api melemah.

Dari atas, pasti kelihatan seperti bekas lubang dibuat di tengah lautan api liar.

Aisha sampai di depan Haruhime yang terbaring dengan wajah diturunkan dari balik jubah anti-apinya, lalu memeluk Haruhime.

“… Aisha …”

“Kau sudah menguasainya, kan … rubah kecil begoku.”

Aisha tersenyum kepada si gadis.

Kelopak mata Haruhime terbuka lebar sembari berbaring dalam pelukan Aisha. Gembira penuh, dia tersenyum lemah dan mengistrirahatkan kepala lemasnya ke dada Aisha.

Pasangan tersebut kembali ke jalan yang Aisha gunakan sebelumnya dan disambut air mata bahagia Lilly serta Cassandra. Meskipun Jubah Goliath telah menyerap panas tinggi sampai membakar kedua lengan Aisha, pada momen ini dia bahkan hampir tak merasakannya.

“Kau menyelamatkanku, Haruhime …”

Gadis rubah menutup matanya lagi, namun dia masih mendengar kata-kata yang dibisikkan Aisha ke telinganya, kek kakak perempuan yang merayakan betapa adik perempuannya sudah tumbuh.

“Mikoto! Ouka!”

Di sisi lain, Chigusa menyeberang gunung es ke episentrum ledakan Amphisbaena dan terjun ke dalam air yang kini tebal dengan abu. Memanfaatkan mantra gravitasi untuk membimbingnya, dia berangkat menyelamatkan dua petualang hilang.

Dia segera menemukan Ouka dan Mikoto yang sekujur tubuhnya terluka, lalu menarik mereka ke pantai. Kemudian dia berlari mendatangi Cassandra.

“Hei! Ini gila, maksudku ini beneran gila, kau tidak apa-apa?!”

Sedangkan, Welf tengah mengulurkan tangannya ke Ouka.

“Pegang tanganku, pria besar!”

Api masih berkedip-kedip di sana-sini gua, jadi para petualang berkumpul di atas sepotong es di tengah danau.

“Semua orang hidup …”

“Kita mengalahkan bos lantai sendiri!”

Cassandra dan Lilly tak bisa menahan kebahagiaan mereka sambil menggunakan sisa-sisa barang untuk menyembuhkan anggota party lainnya.

Mikoto punya luka dalam di bahu, lengan, kaki, dan semua tulangnya patah oleh mantra gravitasi. Matanya tertutup dan tidak sadarkan diri tetapi masih bernapas. Haruhime hilang akal dan paling minimalnya hanya sadar sekelilingnya. Adapun Aisha, dia barangkali menggunakan pemadam api dan ramuan lain, tapi ketangguhan Level 4-nya ditampilkan penuh mengingat dirinya masih kuat berdiri sendiri.

“Kecepetan untuk merayakannya … tapi kerja kalian bagus.”

Mereka menang dari bos lantai dengan margin tertipis, dan juga pujian Aisha tulus. Seolah-olah ingin menjelaskan pencapaian luar biasa para petualang, sejumlah empedu Amphisbaena, drop item berharga, terdampar di es mengapung. Welf dan yang lain tersenyum kepada Lilly selagi dia mulai memungut beberapa sebelum mata tajamnya seketika tersadar.

Kelompok aliansi mau berteriak menang sama-sama tetapi teriakan keras menyela mereka.

“!!”

Dungeon tak memberikan banyak waktu tuk menikmati cahaya kemenangan hangat dan mulai aktif lagi.

“Apa itu?”

“Lantainya goyah …?!!”

Welf dan Chigusa berteriak linglung, lantainya mulai gentar jeritan menusuk telinga.

Awalnya ada ledakan sangat besar hingga menghancurkan sebagian labirin, berikutnya jatuhnya kubah akar dilanjutkan selaman Amphisbaena, diakhiri rentetan napalm biru. Guanya tak sanggup menahan pertempuran ganas, dan kini mulai sungguh-sungguh hancur.

“Hei, bukannya ini keknya buruk?!”

“Ini raungan lolongan Dungeon, atau mungkin tangisan sedihnya. Bagaimanapun, gumpalan kristal besar mulai berjatuhan dari langit-langit membunyikan suara benturan ngeri, membuat ombak di kolam kapan pun kristalnya mendarat. Petualang pucat panik menggunakan senjata mereka untuk menghalau hujan deras mengerikan ini.

“Ahhhhhhhhhhhhhhhhhh!”

Teriakannya tak berasal dari anggota manapun dalam party. Ketika mereka berbalik, mereka mendapati party beranggotakan empat petualang berdiri di jembatan kristal yang melewati puncak Air Terjun Besar di sebelah barat laut gua yang terhubung sama labirin dalam tebing.

Salah satunya adalah manusia serigala. Dia Turk, petualang sama yang pernah menyulut api pemburuan Angin Badai di Rivira. Dia pun biang keladi rencana untuk meledakkan lantai 25.

“Kau berbohong ke kami, Juraaaaaa!! Kami tak pernah tahu akan jadi seperti ini!”

“Idiot-idiot itu …!”

Kelompok empat orang pastinya telah lolos dari kehancuran yang menghancurkan seluruh bagian Dungeon dan berhasil sampai di gua ini. Aisha merasa jengkel mesti mengawasi orang-orang mengeluhkan situasi buruk ini padahal merekalah yang bertanggung jawab.

Ngeri, keempat petualang itu menuruni jembatan kristal berusaha kabur sembrono.

Mereka mendarat tinggi di atas Aisha dan teman-teman lain, ke kubah akar yang masih menutupi sebagian besar gua. Walaupun api napalm biru sudah menyebar di sana, Turk memimpin petualang-petualang kabur ke sana tanpa memikirkannya. Begitu sebagian api menyebar ke ransel salah satu anggota, pemakainya meledak jadi bola api, berteriak sampai datang kematian.

“Aku tidak mau mati, aku tidak mau mati!! Aku yakin sangat tidak mau mati di sini!!”

Air mata atau keringat menetes, dikelilingi asap dan api tetapi masih memegang kuat hidupnya, kumpulan penjahat cilik sukses sampai tebing sisi barat gua dan mulai merangkak naik.

Ironisnya, kejadian ini membantu party Aisha menemukan jalan keluar.

“Mereka melintasi akar pohon raksasa …! Apa artinya dapat kita gunakan untuk menghubungi lorongnya sekarang?!”

Umumnya, naik-turun tebing kristal menjulang tinggi bukanlah opsi realistis bahkan bagi petualang kelas satu. Tapi saat-saat ini, karena kubah, memanjat muka tebing relatif gampang. Seandainya mereka mendaki ketinggiannya dan sampai di jalan yang mengantar ke sapanjang tepiannya, mereka akan bisa melarikan diri dari lorong ujung selatan lantai.

Inilah satu-satunya penunjuk arah yang menunjukkan jalan keluar dari gua runtuh.

 “Kita tidak boleh pilih-pilih sekarang …! Misal tetap di sini, kita bakal dikubur puing-puing kristal!”

Banternya, peluang mereka mendaki tebing dengan menggendong anggota-anggota party terluka di punggung adalah lima puluh-lima puluh.

Satu-satunya rute tersisa di seantero kubah terbakar adalah sisi selatannya. Melihat bagaimana nyala api melaju menuju rute jalan keluar kedua, Aisha berteriak menyuruh mereka mundur.

“Ayo keluar dari sini! Panjang tebing barat!”

“Sebentar!! Bell-sama masih di suatu tempat di bawah kita!”

Lilly-lah yang memprotes.

Jari mungilnya menunjuk tebing tenggara—dengan kata lain, ke tebing yang mengelilingi Air Terjun Besar dan menuntun ke lantai 26. Dia menyarankan mereka masih dapat memasuki labirin dengan menuruni tembok tipis sana.

“Aku pun menentang. Kita harus menyelamatkan Bell sebelum berpisah!”

“Aku memahami perasaan kalian … tapi …!”

“Kondisi sekarang, Mikoto dan Haruhime …!”

Welf berpihak ke sisi Lilly, terus dibantah Ouka dan Chigusa.

Saat Chigusa memapah teman masa kecilnya yang lemas bak mayat dan masih belum membuka mata, dia menahan tangis.

“Kalian …! Kalian ini idiot?! Lihat situasi kita!”

Dikarenakan posisi dan pengalamannya, kata-kata Aisha lebih bermakna ketimbang orang lain dalam kelompok. Kini dia balas berteriak pada Lilly dan yang anggota lain, muka Lilly mengkerut sedih.

Sebagaimana Ouka dan Chigusa, Aisha tak ingin meninggalkan Bell. Faktanya, dia paling ingin menyelamatkan pejantan yang disukainya ini. Tetapi dalam kondisi party sekarang, segera sehabis pertarungan sampai mati melawan bos lantai, permintaan Lilly itu bunuh diri. Mikoto sekaligus Haruhime tidak mampu lagi bertarung. Sebagain besar senjata dan barang-barang mereka hancur atau habis digunakan. Mereka tidak dalam kondisi bisa mencari rekan hilang sama sekali.

Di atas itu semua, Aisha memikirkan cewe rubah yang masih dipeluknya.

Selagi Aisha menimbang si gadis ketimbang si bocah dan hendak menaikkan skalanya ke si gadis, satu tangan lemah terulur dari lengannya dan menghentikan dirinya.

“Nona … Aisha … tolong … lupakan saja aku, pokoknya …!”

“…!”

“Kumohon, tolong Tuan Bell …!”

Aisha menggigit bibirnya sambil menatap Haruhime yang berjuang keras sadar.

“Kita tidak bisa meninggalkan Bell-sama!”

“Tapi misalkan kita tinggal di lantai ini …!”

Lilly, Welf, dan Haruhime ingin tetap tinggal.

Aisha, Ouka, bersama Chigusa pengen mundur.

Party terpecah.

Semua orang tidak berpikir jernih. Bahkan Lilliluka dan Antianeira!

Daphne berada di tengah-tengah dua ekstrem ini.

Jantungnya berdebar kencang dan keringat membasahi wajah, dia memaksa dirinya tetap objektif. Hanya dia seorang, yang tak mengenal baik Bell serta familianya, bisa melakukan itu.

Mustahil tetap di sini! Ini gila! Kami harus keluar segera!

Alamiahnya, dia memihak pihak mundur. Itu keputusan mudah.

Mengingat situasi super abnormal yang membuat lantainya ingin runtuh, sisa-sisa bagian Dungeon ini sudah jelas.

Aku yakin inilah lantai satu-satunya yang akan runtuh. Lantai 27 dua lantai di bawah sini! Mestinya baik-baik saja! Apalagi Bell Cranell harusnya punya peluang bertahan hidup bagus …!

Daphne tak begitu memercayainya, namun dia memakai rasionalisasi ini untuk mengutamakan keamanan party terlebih dulu.

Itulah pekerjaan komandan, dan itulah tanggung jawab yang kini diemban Daphne Laulos.

Opini terbagi tiga. Jikalau aku memberi suara dipihak mundur, semuanya akan mengarah ke sana!

Daphne tahu dalam situasi mendesak, beban mayoritaslah yang menentukan.

Dia akan pastikan kecemasan Lilly dan Welf rasakan demi anggota familia mereka tak mengarah ke keputusan salah.

Dengan kebulatan hati gelisah, Daphne ingin angkat bicara.

“Kurungan keputusasaan … akan menjadi peti mati … menyiksa diri engkau sendiri.”

Akan tetapi, rangkaian kata terputus-putus diucapkan gadis yang berdiri di sebelahnya menghentikan Daphne.

“Pohon raksasa terbakar, lantai runtuh … kurungan keputusasaan telah menjadi peti mati … apakah tempat ini, situasi apakah artinya menyiksa diri engkau sendiri?”

Semua orang menyorotnya.

Ketika hujan kristal tiada henti menghantamnya dan cahaya api biru menerangi wajahnya, gadis tersebut terus menuturkan monolognya.

“… Cassan … dra?”

Matanya yang menatap ketas tidak melihat dunia masa kini.

Dia menatap tempat lain, peristiwa-peristiwa yang terjadi di waktu lain, ibaratnya dibimbing menuju sesuatu.

“Sekarang waktunya ramalan. Ini persimpangan jalan, pertigaan, tempat takdir menyimpang—”

Pandangan Daphne tertuju pada Cassandra yang tengah kesurupan sebagaimana gadis kuil yang menerima ramalan.

Peti mati adalah simbol kematian. Tapi seumpama aku masih sempat-sempatnya tersiksa, maka sama saja bilang masa depan penuh kematian belum tak terhindari. Perkara lainnya, andaikata kami membuat keputusan salah setelah tersiksa, ramalan akan memakan nyawaku.

Sementara waktu, Cassandra tenggelam jauh ke dalam pikirannya sendiri.

Tujuh belas baris ramalan melayang di lautan relung hatinya. Selayaknya doa bernama mimpi buruk bergeser dengan kecepatan memusingkan, persepsinya tentang waktu meluas hingga batasnya.

Di dunia terputus dari sekelilingnya, nabiah tragedi tenggelam dalam lautan kalimat sembari mencoba memahai makna ramalan sejati.

Dengan kata lain, hal yang menyiksaku sekarang dalam peti mati ini—adalah keputusannya sendiri?

Inilah aksi yang Cassandra mesti lakukan. Ini menentukan masa depan party.

Tentunya dua pilihan memisahkan party: tinggal atau mundur.

Cassandra tahu keputusan kelompok akan menentukan takdir mereka.

Janganlah lupa. Carilah semata-mata cahaya matahari yang kembali dihidupkan.      

Kumpulkan pecahan-pecahannya, sucikan api, memohonlah pada cahaya matahari.

Perhatikanlah. Demikian perjamuan bencana …        

Meninjau situasi mereka, jelas mereka sudah terjun ke baris empat belas, melihat referensi peti mati. Sisa tiga baris ramalan terakhir.

Baris tujuh belas sederhananya konklusi yang membungkus segalanya, jadi aku abaikan untuk sekarang. Namun tak salah lagi kedua baris lainnya merupakan peringatan untuk menghindari pemusnahan!

Barisnya diawali, Kumpulkan, yang jelas tak sesuai keadaan sulit mereka untuk memilih dua alternatif, jadinya dia kesampingkan pula.

Artinya dia harus mencermati baris yang memerintahkannya untuk, Carilah semata-mata cahaya matahari yang kembali dihidupkan.

Apakah, Cahaya, maksudnya … harapan? Dan aku diharuskan memilih opsi yang berhubungan sama cahaya matahari yang kembali dihidupkan? Tapi mataharinya apa? Hal apa yang diwakili matahari ini? Tidak ada matahari dalam Dungeon!!

Gatau, gatau, gatau!

Kami harus memilih apa? Apa yang harus memandu keputusannya?

Aku bahkan pengen apa?

Aku tak ingin orang-orang ini mati.

Aku ingin pergi ke tempatnya.

Tanpa membiarkan seorang pun mati, aku ingin pergi ke tempat buruk manapun yang dia paksa datangi.

Saat statis emosinya memotong proses berpikirnya, Cassandra berada di hadapan dua pilihan yang dihadapinya.

Mundur atau tinggal?

Lantai 24 atau 26?

Atas atau bawah?

Jalan setapak di tebing sisi barat atau tebing curam timur?

“…”

Mendadak, sengatan listrik melesat ke seluruh tubuh Cassandra.

Cahaya yang mereka cari-cari … apakah itu satu-satunya pilihan yang akan menjaga hidup mereka?

Matahari yang kembali dihidupkan … tidak satu orang pun dan apa pun di lantai air ini mewakilkan matahari.

Apa itu artinya bukan sesuaut yang dapat dia lihat dengan mata sendiri? Bukan seseorang? Bahkan bukan objek fisik?

Saran, abstraksi, alegori.

Metafora.

Matahari yang kembali dihidupkan … matahari menyingsing lalu muncul lagi, jadi matahari terbenam dan—

Cassandra berbalik seakan-akan dia disengat, tatkala itulah dia melihatnya.

Lorong penghubung lantai 26, di sebelah tenggara.

Gua yang sepatutnya dihancurkan kurungan akar.

Guncangan berulang telah mengubah medan sampai-sampai sekarang, di antara akar dan tanah, terdapat celah cukup besar buat seseorang untuk masuk telah terbuka.

“—oh.”

Cahaya berkedip.

Segala sesuatu di depan matanya berkedip-kedip bagaikan percikan api.

Potongan-potongan ramalan berbunyi klik bersamaan suara yang terdengar masuk ke pikirannya.

Cahaya harpaan yang ‘kan memungkinkan mereka lepas dari keputusasaan serta kehancuran telah dikirim ke tangannya.

“Ke timur!!”

Kala dia sampai ke kesimpulannya, Cassandra meneriakkannya.

“Hah?”

“Semuanya, ke timur! Ke lantai 26, cepatlah!!”

Dia mencoba mendesak party kaget. Dia masa bodo dengan penampilannya dan sedang berteriak liar, membuat semua orang linglung.

“Cassandra?! Kau bicara ap—?”

Daphne, wajahnya pucat, berusaha menghentikan teman sembrononya, tetapi diinterupsi.

“Aku salah, Daphne! Aku salah!! Ramalannya bukan membicarakan seseorang atau waktu!”

“?!

Matahari yang kembali dihidupakan mewakili arah! Aku salah menafsirkan kata-kata selama ini!”

Peramal tragedi memotong Daphne dengan lebih banyak lagi pengungkapan mimpi ramalannya.

Selama istrirahat di lantai 21, Cassandra mencoba menyimpulkan arti baris sebelumnya. Dia menebak peringatannya ada hubungan sama barang atau orang yang berhubungan dengan Apollo, atau mataharinya barangkali bahkan mewakilkan siang hari.

Namun dia salah.

Matahari yang kembali dihidupakan merupakan metafora untuk matahari terbit yang pada dasarnya lenyapnya matahari di malam hari dan munculnya kembali di pagi hari. Ramalannya sebetulnya mereferensikan arah terbitnya matahari.

“Lantai ini sudah berubah dari kurungan keputusasaan menjadi peti mati! Satu-satunya cara kita menghindari kematian yang diramalkan adalah menuju timur, ke matahari yang kembali dihidupkan!”

Sewaktu dia pikirkan, kesalahannya sangatlah sederhana.

Dulunya dia mantan anggota Apollo Familia, lantas wajar saja dewa pelindung lamanya kepikiran, dan itu telah membatasi pemikiran, membutakannya akan kemungkinan-kemungkinan. Dia membuat banyak hal menjadi rumit tak perlu.

Barulah sesaat disajikan dua pilihan antara rute barat dan timur akhirnya dia memahami kaliat itu.

“Aku masih tak tahu apa maknanya cahaya matahari! Dan entahlah pecahan-pecahan untuk dikumpulkan itu apa, atau gimana caranya menyucikan api! Tetapi pergi ke timur adalah pilihan kita satu-satunya! Cepat semuanya, ke lantai 26!!”

Akhirnya Cassandra paham, tapi …

“Kau ngomong apa?! Di momen-momen begini!”

Daphne membentak marah. Dia tak percaya pada Cassandra.

“Berhenti bicara omong kosong! Hentikanlah!!”

Hati Cassandra remuk saat melihat temannya menatap tajam dirinya. Bagi Daphne dan teman lain, permohonan habis-habisan Cassandra kelihatannya tidak lebih dari jalinan kata-kata tak logis. Kacau, ocehan membingungkan.

Tidak satu orang pun percaya perkataannya—inilah kutukan nabiah tragedi.

Keraguan memenuhi mata rekan-rekannya.

Dunia berputar sendiri, berubah bentuk, lalu menjerit dan mencemooh Cassandra.

Dia merasa ibarat mata berkaca-kacanya akan hancur berkeping-keping dan lututnya hendak menyerah.

Selalu sama.

Apa pun yang kuperbuat, senantiasa sama.

Kubilang apa pun, tidak ada yang mendengarkan.

Kumemohon bagaimanapun, permohonanku takkan mencapai siapa pun.

Selalu saja sama.

Dunia terus menginjak-injak kerja kerasku.

Dunia terus mencibir tragediku.

Kendatipun aku mengerahkan keberanianku dan berjuang, biarpun aku menjerit sekeras-kerasnya, aku terus bertemu absurditas.

Acapkali, peringatan mati-matianku berakhir kurangnya tindakan.

Berkali-kali, tekadku hancur selayaknya istana pasir.

Aku telah mencicipi kekalahan berulang-ulang.

Waktu ke waktu, aku terlempar dari tepi tebing ke kegelapan sangat dalam.

Namun aku bisa berbuat apa? Aku pasti dikutuk.

Aku bisa melakukan apa, aku bisa melakukan apa … aku bisa melakukan apa?

… benarkah itu?

Kapan kata-kata itu mulai menyerang hatiku? Kapan aku sesangat tidak berani ini?

Kapan aku mulai merasakan kepasrahan separah ini? Kapan aku mulai berbohong?

Kapan aku berhenti bertarung?

Kapan aku berhenti percaya segalanya dan semuanya? Kapan aku jatuh ke dalam keputusasaan?

Apakah aku sungguh-sungguh mencapai titik yang mana bahkan aku pun akan berpaling dari teman terdekatku padahal dia berdiri di sini di depanku?!

Terus saja Daphne yang menghancurkan hatiku.

Lalu—

Jangan biarkan kata keputusasaan menjatuhkanmu!”

Tatap masa depan! Bangkit!

Selalu kata-kata Daphne yang memberanikanku!

Cahaya di altar hatinya mulai bersinar.

Menyembunyikan kata-kata yang berulang-ulang dalam hatinya, dia membalas tatapan tajam temannya dan menghadapi dunia yang mengejek.

Cassandra mengepalkan tinju kemudian berteriak.

“Dengarkan aku, Daphne!”

“!!”

Dia membungkuk ke Daphne tertegun, fokus padanya sambil meneriakkan kata-kata selanjutnya.

“Aku menyerah! Tidak seorang pun percaya padaku di masa lalu, jadi aku asumsikan tidak satu orang pun percaya padaku di masa depan juga!”

Tangannya menekan dada, dia mengungkap perasaan sejatinya.

Penolakan, kejutan, dan keputuasaan yang telah menjerumuskannya ke jurang kekesalan. Menghidupkan kembali semua kenangan masa lalu itu murni menyakitkan untuk Cassandra.

“Aku selalu takut! Sangat menderita! Aku sedih dan tidak ingin disakiti lagi!”

Tetapi kata-katanya terus berdatangan.

“Aku takut dan tidak pernah mengutarakan apa yang benar-benar penting!”

Di saat Bell muncul di depannya, dia merasa seperti diselamatkan.

Cassandra tetap di sisinya, membisikkan telinganya, hidup dalam fantasi yang Bell terima dan percayai.

Namun itu semata-mata ketergantungan belaka.

Cassandra tak berbuat apa pun.

Tidak sekali pun dia sungguh-sungguh melawan dunia yang menyebabkan tragedi.

Dia tak pernah tulus menghadapi kutukan ramalan yang mendekam dalam dirinya.

Dia tak pernah sungguh-sungguh mencoba mengucapkan kata-kata itu.

“Aku tidak peduli sekiranya ini satu-satunya saat kau mendengar salah satu mimpiku! Dengarkan saja!!”

Jangan menyerah pada keputusasaan.

Lawan kutukan yang mencoba merobek kita semua.

Jangan menyerah pada diri lemah

Jangan menyerah pada diri lemah yang takut akan penolakan dan keputusasaan.

“Daphne, percayalah padaku!”

Kekuatan kata-katanya bergema di gua runtuh.

Tangan terulurnya menggenggam tangan kanan Daphne dan dia remas sekaan dalam pelukan.

Mata mereka bertemu.

Mata Cassandra berbinar-binar nafsu permohonannya. Daphne gentar bak genangan air beriak.

Sejenak, hati mereka menyatu.

Kemudian …

“… jangan kira aku betul-betul percaya mimpimu!”

Daphne melepas paksa tangan Cassandra.

Mata berlinang Cassandra membeliak selagi dipenuhi lebih banyak lagi keputusasaan dari sebelum-sebelumnya.

—lalu Daphne melanjutkan.

“Semuanya! Ke timur!!”

Dia mengumumkan keputusannya.

Berbalik ke para petualang terperangah, dia memihak mereka yang ingin bertahan.

“… huh?”

Berikutnya beralih ke Cassandra bingung.

“Aku tak percaya mimpi konyolmu!”

Daphne cemberut, pipinya merah padam. Terus menunjuk gadis lain dan berteriak sekuat tenaga.

“Yang aku percaya adalah Cassandra Illion!”

Daphne tidak percaya ramalan itu.

Dia percaya temannya.

Cassandra butuh satu detik untuk memahami apa yang dikatakannya.

Namun detik itu terlampau lama.

Air mata segar mengalir dari matanya.

Tersipu, Daphne meraih tangan kanan temannya dan pergi berlari.

Cassandra memegang erat telapak tangan panas Daphne.

“Cepet! Buruan!!”

Daphne berteriak selagi berlari bersama Cassandra ke jalan timur. Sisa party refleks mengikuti. Mereka menerima keputusannya karena suaranya menjungkirbalikkan skala.

“Kaboorr! Kaboooooooooooooooooooooooooooooorrrrrrrr!!”

Deru lantai runtuh menenggelamkan teriakan Aisha yang berada di belakang.

Hujan deras bongkahan kristal besar mengejar para petualang selagi melompat dari pulau es satu ke pulau berikutnya. Dengan bunyi duar, kubah akar terbakar kolaps ke danau.

Nyanyian ombak liar, disertai paduan suara kematian. Beralih dari misa Dungeon, Daphne dan sisa rombongan party melintasi gua dan lari ke pantai timur.

Tujuan mereka adalah lorong yang menghubungkan lantai 26.

Sampai celah kecil yang terbentuk antara akar dan tanah, mereka memasukinya satu per satu.

“~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~?!”

Sekejap sesudahnya, seluruh gua runtuh sendiri dengan raungan hebat.

Kolamnya dilenyapkan puing-puing kristal bergemuruh masuk. Dalam gua, para petualang terhempas oleh dampaknya.

“Gyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

aaaaaa?!”

Di tengah-tengahnya, Turk dan rekan-rekan—yang memilih rute barat—terperangkap puing-puing runtuh dan jatuh dari permukaan tebing runtuh.

Tidak satu jiwa pun menemani mereka. Mereka ditindih kejam longsoran kristal, dipaksa membayar harga tertinggi atas perbuatan merusak mereka kepada Dungeon.

“Fyuuhh … kita berhasil …”

“Bila kita coba kembali ke lantai 24 …”

Lilly dan Chigusa megap-megap dan pucat saat berdiri. Waktu melihat kembali ke gua yang menghubungkan lantai 25, guanya sudah separuh hancur, jalannya diblokir sepenuhnya.

“Daphneeeeeeeeeeeeee!!”

 “Berhenti memelukku! Ini belum berakhir.”

Dikelilingi rekan-rekannya yang lolos tipis dari kematian, Cassandra berteriak sedih dan menempel ke Daphne, pipinya menempel ke temannya selagi mereka berjongkok bersampingan. Daphne merona sembari berjuang melepas Cassandra.

“Makasih, makasih …! Kau percaya kepadaku …!”

Dia memeluk leher Daphne kek bayi, terisak-isak dan tersenyum di saat yang sama. Dia hanya bisa menangis gembira sekarang karena temannya akhirnya percaya pada dirinya.

Boleh jadi sebab malu, Daphne cemberut.

“Baiklah, kalian berdua cukup rewelnya! Berdiri! Mereka datang!”

Aisha menegur tajam sambil berlari melewati mereka. Pasangan itu mendongak dan melihat sekawanan monster berlari mendekati mereka dari jalan tepat terpisah di depan yang mengarah ke lantai 26. Masih hidup, ya? Takkan kami biarkan kalian melanjutkan lebih jauh, kelihatannya begitulah yang mereka katakan.

“Kesialan senantiasa membawa teman …!”

“Berhenti ngomong, pria besar! Sekarang sudah sejauh ini, kita pasti akan sampai ke Bell!”

 Ouka mengangkat Kougou babak belur, dan Welf berdiri sigap di sebelahnya memegang sisa pedang sihir. Daphne bersama Cassandra melompat pula.

Bahkan tanpa sempat menikmati kenyataan mereka masih hidup, para petualang bergegas ke posisi tempur.

Garda depan berlari maju, menyerahkan Mikoto dan Haruhime tak sadarkan diri pada rekan-rekan di belakang.

Bersama podao Amazon memimpin jalan menuju monster terbang haus darah, para petualang melanjutkan pertempuran mereka.

Catatan Kaki:

  1. Dalam kimia, hidrofobisitas adalah sifat fisik dari suatu molekul (disebut sebagai molekul hidrofobik) yang tampaknya ditolak dari massa air.[1] (Sebenarnya, tidak ada kekuatan tolakan yang terlibat, hal ini disebabkan karena tidak adanya daya tarik). Sebaliknya, hidrofilik merupakan senyawa yang tertarik pada air.
  2. bahan kimia (naftena dan palmitat) untuk membuat bensin kental.
  3. Sauna (/ˈsɔːnə/ [1] atau /ˈsaʊnə/;[2][3] adalah suatu ruangan kecil yang dirancang agar pengguna dapat menikmati aktivitas mandi uap, atau pemanasan tubuh, baik secara basah ataupun kering.

15 Replies to “DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 14 Bab 7”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *