DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 14 BAB 13

Posted on

di Balik Ribuan Kegelapan

Penerjemah: Kain[E]

Sama seperti sebelumnya.

Hari itu pun semuanya dimulai ledakan dahsyat.

Hari yang ditakdirkan itu menandai awal malapetaka.

Gentaran tanpa henti-henti. Suara puing-puing berjatuhan di kejauhan.

Lyu udduk sambil mendengar suara yang masih terngiang-ngiang di telinganya.

“Hah …?!”

Ruangannya kacau. Lubang besar dicungkil dari dinding, dan lantainya penuh kawah. Bekas cakaran melintasi dinding, mematikan pendar dan menjatuhkan labirin ke kegelapan segelap malam.

“Hei, semuanya baik-baik saja?!”

“Itu hampir!”

“Jadi beneran jebakan … meski mesti kutertawakan rencana segamblang mengubur kita hidup-hidup make bom …!”

Suara Alize, Lyra, Kagura, dan anggota-anggota lain Astrea Familia bergema di sekeliling Lyu. Selagi mereka memanjat reruntuhan untuk bangkit berdiri, para gadis melihat beberapa anggota party mereka terluka, tapi tidak ada yang fatal.

 Hari itu, mereka telah turun ke lantai dalam untuk mengejar musuh lama mereka, Rudra Familia, dan dipancing ke jebakan.

Ledakan tanpa pandang bulu di sepanjang area luas, dipicu sekumpulan Batu Inferno hampir mengurung mereka.

Namun berkat Lyra si prum yang telah mengendus jebakan dan memperingatkan semua orang, mereka kabur tipis.

“Kenapa kalian masih hidup, lonte-lonte Astrea Familia?! Berapa banyak Batu Inferno yang kalian pikir kami sia-siakan buat kalian?!”

Di sisi jauh percikan api serta asap yang berputar-putar, Jura Harma sedang berteriak.

Si penjinak kala itu masih muda, baik telinga dan kedua tangannya masih utuh, dia penuh kebencian melihat musuh-musuhnya yang dirinya cerca. Namun merasa ngeri pula, menyesap di ujung-ujung amarahnya.

Menunjang situasi tak terduga, mereka menyebarkan lebih dari seratus peledak dalam Dungeon. Menilai skala ledakannya, ini jebakan terakhir Rudra Familia.

Jura serta anggota lain familianya jelas-jelas ketakutan oleh fakta bahwa ledakan itu tidak berhasil menyapu bersih klan keadilan.

“Terima kasih banyak, Jura. Namun ini akan menjadi skema jahat terakhirmu.”

“…?!”

“Kami akan akhiri. Akhiri Evilus dan era jahat ini.”

Kata-kata fasih Alize kedengaran ibarat tengah mendakwa para pria dalam pengadilan. Lyu beserta anggota-anggota lain Astrea Familia berdiri di belakangnya, menusuk Jura dan kroni-kroninya yang pelan-pelan menjauh dengan mata mereka.

Astrea Familia hehndak menjatuhkan palu keadilan kepada Rudra Familia terpojok—seketika itu terjadi.

Dungeon menangis.

“…”

Ini bukan suara retakan monster dilahirkan, maupun guncangan yang meramalkan kedatangan Keabnormalan.

Suara anorganik menusuk, bagaikan bilah yang mengiris tali perak.

Insing setiap petualang yang hadir berkedip-kedip merah pada ratapan jelas Dungeon ini.

Lyu bukan satu-satunya orang yang tertegun oleh situasi asing ini.

Para anggota lain Astrea dan Rudra familia membeku pula. Kemudian dia datang.

Retakan keras.

Retakan dalam, lebar, dan panjang menjalar di salah satu reruntuhan besar dinding.

Cairan ungu aneh menyembur dari celah vertikal.

Pembukaan itu mengeluarkan uap panas dan sesuatu menggeliat keluar, seolah merangkak keluar dari rahim.

Mata Lyu bertatapan mata merah tua menusuk yang ada di dalam celahnya.

Saat berikutnya, tebasan sengit menggores udara, lalu Astrea Familia terpecah.

“—hah?”

Sebelum satu orang pun sdar, bahkan petualang-petualang pun tidak, satu kehidupan tamat.

Cakar ungu penghancur bersinar tanpa ampun, dan tubuh seorang gadis dibelah tiga.

Seseorang membisikkan sesuatu. Suara daging segar robek.

Seolah-olah mendadak mengingat tugas mereka, kepala dan anggota badan yang berputar-putar di udara mulai muntah darah, kemudian bagian bawah separuh gadis itu jatuh ke tanah.

Tragedi mereka telah dimulai.

“No-Noin?!—Uuuuhh?”

Nomor dua.

Tidak lama setelah Neze memanggil nama gadis mati itu tubuh manusia hewannya terbang ke udara. Ini pun perbuatan cakar penghancur biru-keunguan berkilauan.

Nomor tiga.

Asta si kurcaci mengedepankan perisainya, hanya untuk dihancurkan sosok besar yang melompat ke udara lalu menerkamnya.

Ketiga kematian itu semuanya terjadi dalam rentang waktu beberapa detik semata.

“…”

Crot!

Cairan hangat menyemprot pipi Lyu dan telinga panjang-runcingnya.

Darah mulia yang seharusnya mengalir di tubuh temannya kini menempel ke Lyu.

Perlu beberapa waktu buatnya untuk menerima kejadian ini sungguh-sungguh terjadi—semomen untuk menyadari rekan-rekannya takkan kembali.

Wajah Lyu memucat, kemudian memerah semerah darah temannya disertai murka.

“—AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!”

Mengamuk marah atas kematian rekan-rekannya, Lyu menyerbu monster itu.

“Leon, jangan!”

Kata-kata Alize tidak mampu menahannya selagi dia menghunus pedangnya dengan gila-gilaan.

Cakar-cakar beralamat buruk yang basah darah temannya, mata merah tua berkilauan dalam kegelapan, juga tubuh besar kurus yang nampak layaknya fosil dinosaurus terbungkus baju zirah.

Inilah perwujudan malapetaka bernama Juggernaut.

Lyu mengaum tanpa pikir panjang dan mengayun pedang kayunya kepada utusan pembunuh yang dikirim tuk membantai benda-benda asing dalam Dungeon.

“?!”

Serangan ganasnya hanya mengenai udara.

Sendi terbalik monster itu berderit selagi ia melompat ke atas, menghancurkan tanah di bawah kakinya, dan menghilang. Dia mendarat di langit-langit beberapa lusin meternya di atas kepala Lyu. Itu baru satu lompatan dalam rangkaian lompatan terlampau cepat sampai-sampai Lyu tidak sempat terkejut.

Setiap petualang di ruangan tersebut berdiri terpaku di tanah selagi dia memantul-mantul dari dinding dan langit-langit sebagaimana sambaran petir tiada henti.

Lyu menatap linglung pertunjukkan kecepatan mustahil monster kategori besar.

Sesudah benar-benar membingungkan mangsanya, monster itu mendarat di belakang Lyu.

“!!”

Sewaktu ngeri mengganti murka, Lyu sadar dari melihat bagaimana teman-temannya mati bahwa dia harus menghindari cakar itu apa pun caranya. Dia buru-buru menghindari pertanda kehancuran, lanjut mendapati sang monster mengancamnya dengan serangan yang bahkan lebih luar biasa.

“Aaah!”

Seperti halnya lengan ketiga, ekor monster itu menghantam Lyu yang hampir-hampir tidak berhasil menghindari serangan sebelumnya.

Pelengkap mirip gada Juggernaut sangatlah mampu memberi pukulan mematikan. Ekornya membentur langsung Lyu, mengukir retakan ke seluruh tulang dalam tubuhnya. Darah mewarnai bibir merahnya.

Tatkala punggungnya menabrak tumpukan puing, Lyu melihat kilat cahaya di depan matanya dan setelahnya berputar-putar ke pusaran yang menghancurkan tekad melanjutkan hidupnya. Ditarik ke tanah keras sekali sampai-sampai nyaris pingsan, dia melihat si monster mendekat tenang lanjut tanpa ampun mengayun cakar ke arahnya.

“—idiot!”

Kaguya-lah yang menyelamatkannya.

Ganjarannya satu tangan.

Ketika lengan kanan temannya terbang ke udara, darah menghujani wajah mematung Lyu, cakar penghancur menabrak tanah, menerbangkan kedua gadis itu ke belakang.

“Celty, serang! Bersama!!”

Lyu, anggota familia paling suka berperang telah dijatuhkan target tujuannya, dan Kaguya kehilangan satu lengan. Namun semangat juang Astrea Familia jauh dari kata patah. Malahan, sisa-sisa anggotanya mendidih marah berkeinginan membara untuk membalas dendam rekan-rekan terbunuh mereka, lantas mereka merapal dan mengaktifkan sihir mereka.

Tentu saja, malah menjadi makanan tambah untuk tragedi.

“?!”

Penangkal sihir.

Mantra yang ditembakkan kedua penyihir familia, Lyana serta Celty, dilempar kembali ke mereka oleh perisainya—kemampuan menangkal sihir apa pun dan semuanya. Mereka dibakar mengerikan.

Sang Juggernaut tak hanya diberkahi cakar yang sanggup membantai petualang kelas atas sekali sapuan, tapi juga dengan mobilitas monster yang belum pernah terdengar sebelumnya dan cangkang kuat penangkal sihir.

Sepantasnya gambaran lengkap binatang buas ini yang sepenuhnya dikhususkan pembunuhan di hadapan gadis-gadis Astrea Familia, keputusasaan menguasai mereka.

“!!”

 Raungannya lebih menakutkan dan tak menyenangkan dari raungan-raungan monster lain.

Teriakan binatang buas lebih unggul dalam pembunuhan sekilas.

Mobilitas luar biasanya tidak kekurangan pertarungan secara langsung, dan sihir tidak cukup mengalahkannya. Kekuatan monster ini cukup untuk membantai habis bahkan satu party petualang kelas atas. Juggernaut itu betulan simbol kematian.

Mereka butuh lima menit untuk mengelak rentetan serangan pertama dan membangun bersama-sama posisi defensif yang mereka perlukan tuk menangkis cakar-cakar penghancur yang kelihatannya tak berhenti-berhenti.

Tidak satu orang pun bisa melakukan sesuatu untuk mengalahkan mimpi buruk ini.

“TIDAAAAAAAAAAAKKK!”

“Jangan makan aku!!”

Pembantaian, penyiksaan, pemburuan.

Mereka yang mengungkap celah pada tekad bertarung mereka adalah yang pertama akan dengan kejam dibantai.

“Iska, Maryu?!”

Suara Alize terdengar. Mengandung air mata yang belum pernah ditunjukkannya.

Lyu bagaimana?

Dia berdiri di sebelah Kaguya mengerang dan menyaksikan setiap detik kematian teman-temannya.

“Ah, aaah …”

Amazon modis dicabik-cabik.

Sepasang kakak-beradik manusia yang merupakan seorang koki piawai dimangsa dari kepala sampai kaki.

Gadis-gadis luhur nan baik itu dibantai kelewat kejam.

Selagi Lyu lihat, dia merasakan sesuatu dalam dirinya hancur.

Jeritan sekarat menyedihkan mereka, mayat-mayat buruk teman-temannya yang dia rasakan suka-duka bersama, simbol malapetaka yang membunuh semua orang—ke semuanya menghancurkan hatinya.

Dan tatkala hati jujur seorang elf mulia ini hancur, hatinya merapuh. Kurang lebih, lebih rapuh dari ras-ras lain. Salah satu alasan Kaguya memanggilnya lemah.

Lebih dari apa pun, Astrea Familia-lah yang memberikannya kekuatan.

Merekalah teman non-elf pertamanya, dan mereka adalah segalanya bagi Lyu.

“Aaaaaaah …!”

Ketika rekan-rekan tempurnya runtuh, atau meledak menyisakan semata-mata senjatanya, atau dimakan hidup-hidup seiring teriakan mereka, hati Lyu sangat dan seluruhnya terluka.

Pertama kalinya dia merasa tidak berdaya.

Pertama kalinya dia merasa sangat kehilangan.

Keputusasaan menghancurkan harga diri kaum elf yang dibanggakan.

Pertama kalinya, Lyu merasa takut.

Elf ini yang belum pernah sekali pun menyerah, tidak peduli sebrutal atau sejahat apa musuhnya, kini mengetahui teror dikarenakan satu monster belaka.

Tatkala itu, luka dalam terukir dalam hatinya.

“Gyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”

Akhirnya, dampaknya menyebar ke Rudra Familia.

Kroni-kroni Jura berubah menjadi gumpalan daging, dalam rentang waktu terlalu singkat untuk dipahami, anggota familia tak terhitung jumlahnya telah mati oleh cakar serta ekor.

Sesudah mengarahkan ujung tombaknya ke familia sebesar ini, monster itu secara mekanis lanjut memusnahkan mereka laksana tidak sudi membiarkan satu orang penyintas pun.

“… Kaguya, kau tidak apa-apa?”

“Misalkan aku terlihat baik-baik saja bagimu, Kapten, kau pasti buta.”

Empat anggota Astrea Familia tersisa. Mereka terluka dari atas sampai bawah. Alize menderita oleh serangan bersama rekan-rekan terbunuh mereka, namun dia semata-mata hanya bisa melanjutkan hidup. Tentu saja, Kaguya, kehilangan tangan. Dia menggunakan giginya untuk merobek pakaian tempur dan mengikat lukanya, tetapi wajahnya licin oleh keringat.

Lyra si prum juga hadir.

“… maaf, Alize dan Kaguya. Dia dapat mataku …”

“Lyra …”

“Aku tak sanggup melihat apa-apa …”

Dikenai sihir yang terpantul cangkang keras monster tersebut, kedua matanya tertutup rapat dari balik poninya. Tidak bisa dipulihkan. Kedua bola mata serta kulit di sekitar matanya telah meleleh.

Kedua belah tangannya gemetaran, barangkali akibat rasa sakit buruk sebab ujung sarafnya membara.

“Makhluk itu apaan …? Sial, kurasa nasib burukku habis di sini …”

Sumpah serapah prum itu terdengar dalam kegelapan.

Lyu yang berbaring telungkup di tanah, grogi mengikuti percakapan mereka. Batuk-batuk mengejangkannya. Dia meludah darah, lalu dengan gemetar mendongak.

“…”

Mata mereka saling bertatapan.

Sesaat ketiga gadis itu berdiri di depannya, sepasang mata hijau meliriknya cepat. Walaupun dia berharap sebaliknya, tatapannya menatap tatapan sementara namun indah milik Alize, penuh ketetapan.

“Maaf—Kaguya, Lyra. Tolong beri aku hidupmu.”

Alize membalas pandangan kedua gadis lain.

Mata Lyu sendiri melebar.

“Aku ingin menyelamatkan Leon.”

Mustahil menggambarkan keputusasaannya kala itu.

Emosi jauh lebih besar dari yang dirasakannya dari monster malapetaka menggeliat dalam dirinya, menghentikan napasnya.

“… sejak awal, ini adalah pertempuran yang mesti kita pilih siapa penyintasnya. Kita bertiga sudah seperti boneka rusak siap mati di sini.”

Mengabaikan Lyu membeku, Kaguya mengonfirmasi perkataan Alize.

“Kalian kenal aku. Aku mempertaruhkan nyawa sendiri. Tapi aku ini yang paling lemah dari semuanya. Lagian aku paling-paling mati duluan … jadi lebih baik ikut-ikut saja rencanamu.”

Lyra tersenyum tegas. Lagipula, bukan dia kalau membuat pertaruhan yang pasti kalah.

“Tapi Kapten … kau harus hidup. Selama kau dan Lady Astrea ada, keadilan akan tetap ada.”

“Tidak, Kaguya. Sudah kubilang. Ada banyak macam keadilan sebagaimana banyaknya orang-orang di dunia. Tak ada definisi benar keadilan.”

Alize tersenyum.

“Namun aku tahu Leon akan memilih pilihan tepat.”

Tidak!!

Kesadaran Lyu menangis.

Dari luar ingatan, Lyu masa kini yang berjongkok dalam kegelapan bertentangan sama perkataan Alize.

Kau salah, Alize!

Lyu akan termakan api balas dendam! Dia akan kehilangan pegangan keadilannya!

Kaulah yang harusnya hidup!!

Wajahnya mengkerut, dia menunjuk dirinya sendiri dari hari tragis dirinya terkapar tidak bergerak di tanah. Namun Alize tak mendengar teriakan putus asanya. Dia berlutut di samping ingatan Lyu.

“Leon … bisa dengar aku? Kami perlu sihirmu untuk membunuh monster itu.”

Tatapan terakhirnya murni kebaikan.

“Aku ingin kau tinggal di sini dan merapal.”

Kata-kata bisikan terakhirnya murni kejam.

“Kami akan melepaskan cangkangnya.”

Gara-gara Lyu tidak sanggup bertarung lagi. Karena seorang elf berpatah hati akan merepotkan mereka.

Yang paling pentingnya, karena dia adalah Alize Lovell.

Untuk menyelamatkan nyawa temannya alih-alih dirinya sendiri, gadis mulia ini menjauhkan Lyu.

“Tolong … berjanjilah kepadaku, Leon.”

Kata-kata itu adalah kutukan.

Kata-kata itu adalah sumpah yang menahan Lyu di tempat dan mencuri kesempatannya untuk bangkit.

Kata-katanya adalah sumpah yang memaksa Lyu hidup.

Kata-katanya adalah permohonan tuk tidak menyia-nyiakan pengorbanan mereka.

Lyu gemetaran, bahkan tidak dapat menangis.

“Leon, kau di sana? Kau … akan hidup!”

Sebentar.

“Aku akan memberikanmu pedang pendekku. Jangan kau simpan kayak kenang-kenangan—gunakan. Kuatlah, saingan pertamaku yang layak.”

Jangan pergi.

“Selamat tinggal, Leon.”

Tolong.

Gadis itu tersenyum cerah, seperti mempersembahkan bunga perpisahan.

Air mata Lyu dulu dan masa kini saling bercampur.

“!!”

Setelah kelar mengurus Rudra Familia, Juggernaut itu mengumumkan dimulainya kembali pertempuran. Alize, Kaguya, beserta Lyra berlari menyerbunya tanpa melihat sekilas pun ke belakang.

“… hutan nan jauh …”

Lyu mulai merapal dengan suara gentar.

Dia merapal ke sosok mereka yang menjauh, dalam ketakutan dan keputusasaan.

Lyra-lah yang pertama kali menyerahkan hidupnya.

Buta dan tidak dapat bergerak dengan benar, dia mati oleh satu cakaran Juggernaut.

“Bintang tak terhingga bertahktakan langit malam abadi.”

Tepat sebelum dirinya mati, Lyra mengaktifkan peledak yang dipegangnya di belakang. Salah satu bom terbaik yang dimiliki gadis berjari-jari gesit itu.

Bomnya merenggut lengan kanan Juggernaut.

“Indahkan suara orang bodoh ini, sekali lagi hibahkan bintang api perlindungan ilahi.”

Saat monsternya melolong, Kaguya tusuk dengan pedang panjangnya.

Memanfaatkan celah sesaat yang Lyra ciptakan, dia arahkan senjatanya ke dadanya dengan kecepatan tinggi.

Meraung marah, Juggernaut itu mengayun horizontal cakarnya ke tubuh Kaguya, menerbangkan potongan-potongan tubuhnya.

“Hibahkan cahaya belas kasih kepada yang meninggalkanmu.”

Lyu hanya bisa merapal.

Tidak mampu mengumpulkan bagian-bagian hati hancurnya, tidak kuat berdiri, masih merintih, dia membiarkan citra temannya terkoyak menjejal ke matanya.

Satu orang sedang melihatnya.

Jura cukup beruntung bisa lolos dari pembantaian familianya. Dia tersenyum mengejek ketika elf yang dibenci-bencinya menangis dan merapal sekaligus meninggalkan rekan-rekannya ke takdir masing-masing mereka. Di wajahnya terpasang senyum ketakutan nan gelap.

“Datanglah, angin pengembara, sesama pengelana.”

Alize-lah yang terakhir.

Agris Arvensis!”

Begitu menyebutkan nama sihirnya, api melonjak dari tubuhnya.

Alize Lovell.

Dia punya keterampilan tidak biasa yang melimpahkannya kekuatan setara petualang kelas satu kendatipun dirinya petualang kelas dua. Para dewa-dewi memberinya nama Harnell Kirmizi kerena dia mampu menggunakan penguatan api kuat yang menyelimuti lengan, kaki, serta pedangnya ke dalam baju besi api.

Kali ini kobaran apinya berkumpul di sepatunya, lalu meremukkan pijakannya sewaktu putri pedang kirmizi melesat maju dengan kecepatan ganas.

“Lintasi langit dan berlarilah melalui alam liar, lebih cepat dari apa pun.”

Kaguya mengorbankan nyawanya untuk menghancurkan lutut serta sendi terbalik musuh, merampas gerakan cepatnya. Waktu Juggernaut mulai kikuk karena kebingungan, Alize mendekati lawannya di masa-masa terakhir hidupnya.

Karuniakan cahaya debu bintang dan serang musuhku!

Juggernaut itu merespon dengan sabetan buas.

Yang dilihat Lyu adalah punggung teman tersayangnya ditembus cakar.

Sejenak, waktu membeku.

Selagi Lyu berputus asa, Alize membakar hidupnya.

“!!”

Dia sengaja memancing monster itu untuk menusuknya demi melumpuhkan tangannya.

Sambil meraung, dia balas dengan menusukkan pedangnya ke tubuhnya.

Arvellia!!”

Itulah kunci mantra penguatannya.

Bunga api menyala merah semerah rambutnya.

Dia tidak cuma mengirim bunga apinya ke permukaan cangkang Juggernaut tetapi ke baliknya, agar sungai api memecahkan pelindung macam zirah dari dalam, alhasil meledakkan hujan pecahan.

Dicampur jeritan bergemuruh Juggernaut adalah teriakan Alize sendiri.

Sekalipun Alize tidak berbalik—tidak kuasa, sebab dia ditusuk—dia menyebutkan nama dengan suara yang hampir-hampir hilang ditelan neraka api.

“—Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”

Air mata mengalir ke wajah Lyu, tenggorokannya gentar, Lyu melepaskan sihirnya.

Luminous Wind!”

Ada banjir cahaya, badai bola-bola besar bersinar.

Cahaya menyinari wajah Jura dan memancarkan air mata Lyu.

Angin kencang menelan Juggernaut tercengang bersama gadis yang menancap di tangannya.

Gelombang ledakan dahsyat mengguncang ruangan.

Pas cahaya menelan segalanya, Lyu melihatnya.

Monster itu kabur.

Setelah kehilangan cangkangnya sekaligus kemampuan bertahan, Juggernaut tersebut memilih mundur di hadapan serangan sihir besar-besaran.

Sisa-sisa sendi terbaliknya berderit, monster itu berakselerasi. Biarpun bola cahaya beruntun mengenainya, menghancurkan berbagai bagian tubuhnya, sang monster melarikan diri dari ruangan sembari melolong sakit dan benci.

Sesudah gemuruh dan guncangan mereda, Lyu melihat sekeliling, napasnya terengah-engah. Yang tersisa di tempat monster itu berada beberapa waktu lalu adalah lantai rusak berat.

“Aa, aa … aaaaah …”

Lyu tidak merasa heran maupun lega telah mengusir monster itu.

Mayat-mayat temannya dan anggota-anggota familia Evilus bergelimpangan di selilingnya.

Alize tidak di sana. Lyu telah melenyapkan mayat Alize.

Lyu menyaksikan temannya yang terbakar terang hingga momen-momen terakhir hidupnya dan mengasingkannya ke balik cahaya. Dia menguburkannya dalam cahaya.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah…!”

Ratapannya keluar ibarat merobeknya.

Seratus emosi berpadu dalam harmoni sempurna, mencap Lyu sebagai makhluk tidak berharga.

Teriakannya bahkan tidak membiarkan Lyu merasa menyesal atau taubat.

Teriakannya identik hancurnya keyakinan akan keadilan.

Kala itu, Jura telah pergi. Hal ini tidak mengganggunya. Lyu terlempar ke lautan emosinya.

Mayat-mayat Lyra dan Kagura yang terkapar begitu saja di atas tanah tidak membolehkan Lyu mati tanpa arti.

Menyeret tubuh luka-lukanya, bahkan tidak sanggup membawa peninggalan-peninggalan rekan-rekannya, air mata mengalir dari mata biru langitnya, Lyu melarikan diri dari tempat tragedi itu.

ф

Itulah cerita lengkapnya.

Lyu mengorbankan teman-temannya agar dia bisa hidup. Lyu telah mengirim Alize ke balik cahaya menuju kematiannya.

Inilah inti sejati kegelapan yang masih tinggal jauh dalam hatinya.

Setelah insiden itu, Lyu konstan tersiksa rasa kehilangan dan bersalah.

Dia tidak kembali ke Astrea, melainkan merawat luka-lukanya di permukaan dan kemudian kembali ke Dungeon secepat mungkin.

Mayat teman-temannya tidak lagi ada di ruangan tragedi itu terjadi. Malah dia menemukan tanda-tanda mayatnya dimakan monster. Senjata berlumuran darah mereka yang tergeletak di tanah memberitahu Lyu semuanya. Sekali lagi, Lyu berteriak dan menangis.

Gemetar bak bayi, berjuang mati-matian melawan trauma yang diukir jauh ke dalam dirinya, dia mencari monster itu. Dia ingin menghabisi binatang buas yang telah membantai teman-temannya, tapi sebenarnya itu adalah tindakan bunuh diri. Dia harus mengakhiri segalanya—baik klaim balas dendam demi teman-temannya, dan menghakimi dirinya.

Namun pada akhirnya, dia tidak bisa memenuhi keinginannya.

Jauh di dalam Dungeon, dia mendapati segunung abu biru keunguan yang dipikirnya pasti sisa-sisa Juggernaut, seolah-olah seseorang menghancurkan batu sihirnya menjadi bubuk.

Sekali lagi, dia kehilangan semua harapan.

Sihirnya tidak membunuh monster itu. Sesuatu tanpa koneksi padanya telah terjadi. Sekarang tidak apa-apa yang bisa diselesaikan emosi mengamuk dan harapannya. Bahkan kesempatan menguatkan hatinya pun diralat, kedua tangan Lyu mendekap kepalanya dan roboh ke tanah. Dia jadi elf gila, batin dan tubuhnya sama-sama terbelah ribuan retakan.

Setelahnya, Lyu membawa pulang kenang-kenangan yang ditinggalkan kawan-kawannya di lantai dalam. Dia membuat kuburan untuk mereka di lantai delapan belas, tempat yang mereka cintai. Air matanya seakan takkan pernah kering. Suatu waktu mereka bercanda semisal mereka mati, mereka ingin dimakamkan di surga Dungeon sini.

Rekan-rekannya tiada, hatinya jatuh ke kedalaman kekecewaan dan keputusasaan, dia berdiri di hadapan senjata yang dia hujamkan ke tanah bagaikan batu nisan dan mempertanyakan dirinya sendiri.

Dia satu-satunya orang yang masih hidup.

Dia harus melakukan apa?

Kalau saja dia bisa lenyap.

Dia ingin menyambut kematian dan menghilang dari dunia ini.

Namun kecil kemungkinan dia sanggup mengakhiri hidupnya senediri.

Teganya dia buang nyawa yang Alize dan teman-temannya berikan?

Itu sama saja membuat kematian mereka tidak berarti.

Misinya adalah untuk hidup. Keinginan terkuatnya adalah mati.

Dalam ruangan sempit antara emosi yang saling bersaing ini, api hitam muncul.

“Dia takkan pernah kumaafkan!”

Dunia terdistorsi bagaikan permen meleleh.

Emosi terpendamnya membeku membentuk balas dendam yang hingga kini dia lupakan, juga suara gelap bukan kepalang yang hampir tidak dia sadari suaranya sendiri terurai dari bibirnya.

Jura. Rudra Familia. Jahat mutlak.

Mereka telah mendatangkan bencana dan membunuh Alize dan yang lain. Mereka memuakkan. Mereka tidak boleh dimaafkan. Seandainya saja mereka tidak ada. Pikiran Lyu sangat cepat menyatu dengan car aini.

Kemarahan hitamnya membara laksana api nereka.

Semuanya atas nama balas dendam.

Lyu membenarkan semuanya dengan menyerahkan dirinya kepada kemarahan serta kebencian.

Mereka tidak boleh diperkenankan hidup. Misalkan mereka hidup, mereka mungkin saja memanggil malapetaka lain. Membiarkan mereka berkeliaran tidak masuk akal.

Mengabaikan kejahatan mereka saja bahkan bukan pilihan. Dia putuskan akan gunakan hidupnya untuk menghancurkan kejahatan.

Ini bukan demi kepentingan kota, ataupun warganya yang menderita di sana. In bukan misi mulia untuk melindungi orang-orang yang belum pernah ditemuinya.

Itu demi dirinya.

Lyu akan membuat mereka membayar kematian tragis rekan-rekannya.

Waktu itu, Lyu tidak dapat memikirkan cara lain tuk menggunakan nyawa yang mereka berikan kepadanya. Lebih tepatnya, dia berpura-pura tidak bisa memikirkan cara lain.

Dia melakukan tindakan keadilan terakhirnya.

Dari semua keadilan yang dibicarakan Alize, boleh jadi ini yang paling jelek.

Sebetulnya, ini bisa jadi sama sekali bukan keadilan.

Inilah akhir seorang elf yang meratap tanpa lelah, tubuhnya hancur dan sayapnya membusuk.

Api hitam membakar pedang dan sayap keadilan Lyu, membakarnya hingga tidak tersisa satu pun.

Setelah dia putuskan melangkahi jalan kehancuran, Lyu menjauhi Astrea.

Terjatuh sepenuhnya kepada emosi mengamuknya, dia tidak dapat lagi melihat jelas dirinya. Tak mampu memahami hatinya sendiri, dia tidak ingin dilihat dewata. Lebih dari itu, dia tidak mau dicegah balas dendam.

Dia tidak yang Astrea pikirkan tentangnya di saat Lyu menjambanginya dan memohon habis-habisan, menggores dahinya ke tanah dan menolak menatap mata dewi itu. Barangkali Lyu kelelahan oleh tragedi dan kebencian tiada habisnya, atau mungkin dia kecewa oleh ketidakmampuan anak-anaknya untuk berhenti bertarung.

Lyu tidak bisa mengingat ekspresi wajah Astrea hari itu.

Matanya sendiri dilingkupi amarah, kesedihan, kebencian, dan dendam.

Sebelum dewinya pergi, dia bicara dengan suara sedih.

“Lyu … tolong lupakan keadilan.”

Lyu membalas dendam cepat.

Pertama-tama dia targetkan orang-orang, kemudian bangunannya, akhirnya seluruh fasilitas.

Dia tak memberikan waktu kepada familia-familia yang berpihak pada musuhnya untuk campur tangan. Dia menyerang di malam hari, dengan serangan kejutan dan jebakan. Dia habisi mereka yang tekait kejahatan memanfaatkan metode-metode tak sesuai seorang elf.

Tidak ada teknik yang takkan dia gunakan. Dia serbu mereka yang jahat bersama mereka yang mencurigakan. Tak peduli mereka pemilik toko atau para karyawan Guild. Pembalasan ini kejauhan, nemun juga penghakiman kepada dirinya sendiri.

Kalau kau berkehendak membunuh musuhmu, seharusnya lebih pintar lagi soal itu.

Tidak lama seusainya, Chloe mengatakan kata-kata itu kepadanya.

Lyu tak menanggapi. Malahan, relung hatinya tersenyum mengejek. Tentu saja dia tidak bisa bilang ke si gadis kucing dia ingin mati sedari awal.

Dia tidak bisa memaafkan Jura dan kroni-kroninya karena telah menghadirkan bencana.

Dia takkan memaafkan dirinya sendiri karena membiarkan teman-temannya mati.

Masa-masa gelap dan nekat bagi Lyu.

Dia semata-mata mencari kematian.

Balas dendam hampir berakhir.

Lyu siap-siap menyerang tempat persembunyian Rudra Familia.

Banyak anggota-anggota familia yang masih menetap di sana. Jura pun di sana, tersiksa rasa takut.

Lyu mengingat kejadian itu samar-samar. Dia ingat dirinya meraung bak binatang dan menebas-nebas penjinak itu. Dia buang ketenangannya dan mengikuti komando emosi mengamuknya selagi mengiris lengannya lalu telinganya, belatinya berkilat-kilat berkali-kali.

Dia tak membiarkan satu pun anggota familianya hidup. Setelah membunuh pemimpin mereka, dia menggunakan sihirnya untuk membakar tempat persembunyian mereka sampai rata dengan seluruh mayat mereka masih di dalam.

Segera setelahnya, seiring asap naik dari reruntuhan, Dewa Rudra muncul di depan Lyu dari entah di mana dirinya bersembunyi.

Bahkan tatkala itu dalam hidupnya Lyu tidak sanggup membunuh seorang dewa.

Namun tidak ada yang melindunginya, sesudah Lyu pergi, Guild memutuskan menangkap dan mengusirnya. Pengusiran dari dunia fana yang terjadi di hadapan Lyu dikelilingi api merah dan raungan tawa.

Lalu dia bicara kepada Lyu:

“Barusan saat aku melihatmu, aku ingin mengundangmu ke familia kami.”

Wajah yang terefleksi di matanya adalah wajah iblis yang sudah lelah akan balas dendam.

Lyu menghancurkan 27 organisasi, termasuk bisnis dan sekelompok tentara bayaran tidak resmi.

Aksi Lyu menyebabkan empat tiang suci menembus langit.

Dorongan gelap Lyu menarik banyak orang lain bersamanya.

Ironisnya, kejadian itu memicu berakhirnya hari-hari kelam kota.

Namun bertentangan dengan keinginannya, Lyu sendiri selamat.

Ketika balas dendamnya selesai, dia menuntaskan segala hal yang ingin dilakukannya.

Yang dicapainya dengan menghancurkan orang-orang yang merenggut teman-temannya beserta mereka yang memihak orang-orang itu bukanlah perasaan pencapaian, tetapi kekosongan buruk.

Dia tidak ingat senyum teman-temannya maupun wajah-wajah malang mereka seketika menemui ajalnya.

Air mata yang mengalir dan ratapan yang meletus dari tenggorokannya lenyap.

Dia berjalan ke gang belakang yang tidak pernah dilangkahi satu orang pun. Kosong juga keletihan, Lyu menunggu kematiannya.

Kau tidak apa-apa?

Berikutnya, sebagaimana yang dia katakan kepada Bell.

Lyu dipungut dari gang belakang kehujanan oleh Syr, diselamatkan paksa.

Syr menariknya kembali ke jalur kehidupan.

Terima kasih sudah berjuang demi kami.

Di saat Syr mengucapkan kata-kata itu, dia merasa seolah-olah sudah dimaafkan.

Di waktu yang sama, dia merasa mesti hidup—hidup demi Alize dan rekan-rekannya yang lain. Semua ini berkat Syr dan The Benevolent Mistress.

Namun Lyu tidak kuasa menghapus perasaan lama dari lubuk hatinya.

Rasa haus hukuman atas dosa-dosanya terus membara.

Dia tidak mengakui kejahatannya kepada Syr atau orang lain.

Rasa sakit dan kehilangan teman-teman tak tergantikannya takkan pernah bisa disembuhkan.

Walaupun luka-lukanya menutup, tiba-tiba akan berdenyut lagi di waktu-waktu yang tak Lyu kira, menimbulkan kesepian mengerikan.

Kesalahan yang tidak pernah hilang memburu hatinya yang telah memilih jalan hidup.

Senantiasa, dan masih.

Lyu melangkah keluar hutan kenangan dan berdiri sempurna masih dalam kegelapan.

Mendadak, ada cahaya membutakan, kemudian dia beralih ke sana.

Pemandangan sama yang disaksikannya berkali-kali sebelumnnya. Di balik cahaya putih, teman-temannya berdiri dengan punggung menghadapnya. Di antara mereka ada gadis berambut merah.

Mereka berada di tepi terjauh cahaya, di sanalah Lyu mendorong mereka.

Pantai jauh, tempat orang-orang mati.

Dia bisa memanggil mereka hingga suaranya serak dan merindukan mereka dari lubuk hatinya, namun mereka takkan pernah melihat balik padanya.

Seakan-akan berkata, Inilah hukumanmu.

Barulah saat dia mencapai sisi mereka dan disambut pelukan mereka dia benar-benar dimaafkan.

Lyu percaya itu, dan dia sedih sekali lagi gagal menggapai mereka. Begitu kesedihan membasahi dirinya, cahaya putih itu menghilang dari dunia dan menelannya.

ф

Kesadaran kembali.

Tapi Lyu tidak tahu dia dalam kenyataan atau keberlanjutan mimpinya.

Dia hanya menyadari sebuah kegelapan layaknya rawa. Indra lainnya tidak berfungsi baik. Kemampuannya menafsirkan lingkungan telah dicuri bekas-bekas masa lalu, kelopak matanya bergetar. Dia membuka mata—dan melihat sepasang matah merah tepat di depannya.

“!”

Keheranan langsung menyadarkannya. Pemilik mata itu menggeliat dalam kegelapan.

Dia mendengar suara gesekan dari sekelilingnya.

Dia perlu sejumlah waktu untuk sadar kalau seseorang sedang mengeluarkannya dari tumpukan puing.

Kemudian dia sadar lagi mata merahnya adalah warna merah muda merah.

Akhirnya, silir angin dingin melewati kulit serba lukanya, serta sepasang tangan berdarah menggenggamnya. Tak menyempatkannya berkata apa pun perkara ini, tangan itu menarik tubuh Lyu ke punggung kurusnya.

“… Cra … nell …?”

“… iya.”

Suara seorang bocah yang kembali untuknya lirih sekali dan bercampur hembusan napas yang nyaris menghilang.

Tiba-tiba segalanya cepat kembali ke Lyu, dan mata melebarnya melihat-lihat sekeliling.

Jalan lurus di depan telah menjadi gunungan tanah dan puing-puing.

Jalan yang sepenuhnya diblokir di belakang mereka, hanya menyisakan pilihan bergerak maju.

Lyu mendongak dan melihat batuan dasarnya diperbaiki sendiri. Lubang-lubangnya hampir tertutup. Sejenak, dia melihat kegelapan luas menutupi langit-langit dan membentang sepanjang Koloseum.

Apa permukaan Koloseumnya runtuh … dan aku jatuh bersama Tuan Cranell?

Laksana mengiyakan tebakannya, bagian-bagian mayat monster mati mencuat di sana-sini dari gunungan puing-puing. Ada lizardman yang tertimpa batu, loup-garou berleher patah, juga spartoi terpotong-potong. Mereka pasti tersapu lantai runtuh. Mayat tergeletak di mana-mana.

Sebagaimana Ibu Kota Air, lantai 37 punya struktur berlapisan jamak.

Kekuatan Bell yang terisi penuh mengakibatkan lantainya jauh, menerjunkan Lyu, Bell, dan para monster ke jalan yang nampaknya berada persis di bawah.

Memangnya ada jalan semacam ini di bawah Koloseum …? Bagaimanapun juga, aku perlu fokus hal lainnya sekarang …

Lyu mengembalikan pandangannya pertama-tama ke si bocah yang masih menggendongnya di punggung.

Bell nyaris mati.

Napas tersengal-sengalnya membuatnya aneh dia masih bisa bergerak.

Tempo napasnya yang tidak teratur membuat Lyu ingin menutup telinganya. Dia kedengaran bagai instrumen rusak atau hewan sekarat. Gelembung-gelembung merah kecil berbusa dari tepi mulutnya, kemudian, seakan ingat ingin melakukan sesuatu, dia memuntahkan bola merah.

Tubuhnya penuh lubang.

Tetes hidupnya mengering sekarang ini. Cairan merah hangat membasahi dada Lyu ketika menempel punggung Bell.

Bell pasti melindunginya begitu terjadi gema karena beban berat dan pijakan mereka runtuh. Keseluruhan tubuhnya berlumuran darah, dan perlengkapan pelindung yang didapatnya dari para petualang mati sudah cacat tak dikenal.

Sebagian besar kuku di jari yang mencengkeram Lyu antara retak atau hilang.

“Dasar bego … dasar bego!!”

Lyu berteriak kepadanya selagi Bell menggendongnya di punggung.

“Tuan Cranell, kenapa kau menyelamatkanku?!”

Dia marah sekali pada Bell karena kembali lagi ke Koloseum. Rambut tepat di depan hidungnya—rambut seputih salju murni yang suka dia tatap dari kejauhan—sekarang kotor berwrna merah darah. Selagi dia lihat dirinya, Lyu merasa matanya penuh air mata tak masuk akal.

“Jawab aku!”

“… Nona Lyu, maksudku …”

Mata Lyu tertutup rapat saat Lyu membentaknya. Bell hampir mengimbuh beberapa kata sebagai jawaban di sela-sela napas pendeknya.

“Nona Lyu … kau akan … pasti melakukan hal sama.”

Lyu kehilangan kata-katanya. Bibirnya gentar karena kepastian dia akan mengambil risiko serupa menggantikannya.

“… tidak tak akan. Aku tak akan … menyelamatkanmu!”

“… pembohong.”

Bell menolak kata-kata yang Lyu tutur dengan sedih dan menyakitkan.

Lyu tahu dari suara Bell kalau bibirnya merengut sedikit. Membentuk senyuman.

Lyu benci kebohongan. Lyu adalah seoranag elf yang takkan tahan kebohongan.

Bell tersenyum karena elf pembenci kebohongan ini telah berbohong demi Bell.

Wajah Lyu berubah seperti halnya bayi yang ingin menangis.

“Cukup! Turunkan aku sekarang …!”

“… gamau.”

Bell menolak tegas.

“Aku takkan membiarkanmu mati …”

“Kau sendiri yang akan mati!”

Lyu menjawab bisik Bell dengan jeritan.

Lyu menghendaki dirinya untuk terbebas dari gendongnya.

Namun Lyu tak mampu memaksakan dirinya melakukannya.

Itu karena Lyu tahu Bell berjuang keras dan panjang demi—satu orang sama yang Alize dan yang lainnya perjuangkan agar selamat.

Tiada kekuatan di kedua kaki yang berjalan maju.

Bell tersandung berkali-kali, hingga Lyu bahkan tidak yakin dia sadar atau tidak.

Namun demikian, Bell terus berjalan maju bersama Lyu di punggungnya seakan Bell kerasukan.

Bell berjuang demi Lyu. Bell mengorbankan hidupnya demi dirinya.

“Tolong hentikan …!”

Hentikan.

Hentikan!

Kenapa kau harus menyelamatkanku seperti Alize dan yang lain?

Aku tak pantas!

Aku tidak mampu menyelamatkan satu orang pun!

“… Tuan Cranell.”

Sebab kurang kekuatan untuk berteriak lagi, Lyu menaruh wajah lemasnya ke leher Bell. Dia sudah seperti mayat hidup yang kehilangan harapan dan segalanya.

“Aku … membiarkan teman-temanku mati di hadapanku …”

“…!”

“Seperti kata Jura … untuk menyelamatkan diri berhargaku, aku … membunuh temanku Alize dengan kedua tangan ini …”

Lyu membisikkan pengakuannya ke telinga Bell.

Lyu akhirnya mengungkap yang Bell tanyakan sebelumnya.

Lyu lakukan agar Bell meninggalkannya.

Untuk pertama kalinya, tubuh merinding Bell menunjukkan tanda-tanda kesal.

“Aku bukan elf suci yang kau pikirkan … aku ini seorang kriminal, kotor jauh melebihi anggapanmu …”

Lyu mengutarakan perasaan sejatinya. Inilah hal-hal buruk di relung jiwanya. Tanda kegagalan yang tertanam dalam hatinya.

“Elf yang coba kau selamatkan … itu tak layak diselamatkan …”

Itu adalah isi hati sebenarnya Lyu.

Jika dia pejamkan mata, dia dapat melihatnya.

Momen-momen kematian teman-temannya. Diri menyedihkannya. Alize, dibunuh tangan persis ini. Kesedihan dan keputusasaan tiada akhir yang dia lihat dalam mimpinya menggerogotinya.

“Aku tak berhak membicarakan keadilan … keadilan sudah hilang dariku …”

Lyu sadar dia bergumam sambil mengigau.

Lyu memikirkan perintah-perintah familia yang menjadi segalanya baginya, juga ikatan dengan teman-temannya yang takkan pernah bisa digantikan. Selama lima tahun semenjak hari itu, ada sebuah lubang ditempatkan dalam diri Lyu. Lubang yang tidak sanggup dipenuhi seluruh kata-kata hiburan Syr atau pelukan terbuka The Benevolent Mistress. Inti hilang dirinya yang dia coba sembunyikan dengan sangat keras.

 Bahkan kini berkah keadilan yang terukir di punggungnya berdenyut-denyut macam kutukan.

Kau tidak berhak memikul beban keadilan. Pikrian delusionalnya berbicara padanya dengan suara Astrea.

Paras Lyu tanpa ekspresi.

Gantinya, hatinya yang membeku menangis lirih.

Lyu menunduk seraya mengucapkan kata-kata selanjutnya.

“Bagiku … keadilan tidak lagi ada.”

Kata-kata sedihnya bergema dalam kegelapan.

Langkah Bell melamban. Kekuatan terkuras dari tangan yang mendukung Lyu, ibarat sudah sampai batas. Bell batuk beberapa tetes darah yang jatuh ke lengan lunglai Lyu.

“Aku … tidak tahu apa-apa perkara keadilan.”

Tapi.

“Tapi … kau memberikanku banyak sekali hal.”

Kaki Bell hampir patah sekali lagi melangkah tanah. Lengan gemetarannya tidak melepaskan Lyu. Dia mengatupkan giginya dalam mulut berlumuran darahnya.

“Jadi …”

Bell bicara laksana membuktikan keberadaan Lyu—laksana menyapu kegelapan dalam dirinya.

“Kau tentu punya keadilan dalam dirimu.”

“…”

Mata Lyu terbuka lebar.

“Kau menyelamatkan petualang-petualang lain.”

Kejadiannya di lantai 18. Elf itu beraksi di depan Goliath dan menyelamatkan banyak nyawa.

“Kau menyelamatkan dewi kami … dan Lilly, juga Welf …”

Itu waktu Permainan Perang. Lyu berlari membantu mereka di depan kehendak absurd Apollo.

“Kau menyelamatkanku …!”

Kejadiannya kerapkali ketika sedang terdesak sampai-sampai tidak bisa Bell hitung.

Tangan Lyu berkali-kali menuntun maju Bell saat dia terluka atau tersesat atau membeku.

Saran Lyu, kata-katanya, selalu, memberanikan Bell.

“Kau selalu seperti pahlawan … selalu benar, selalu di pihak keadilan …!”

Kata-kata sederhana Bell mengguncang diri dalam Lyu. Mata biru langitnya gemetar dan memanas. Suara jujur nan tulus Bell menembus hatinya, sebagaimana Alize.

“Tidak … kau salah! Aku salah! Aku kehilangan keadilan …!”

Lyu tidak boleh membiarkan Bell mengakui pribadi yang telah mencampakkan Alize dan teman-temannya di saat-saat perlu, lantas Lyu habis-habisan membantahnya.

Tetapi …

“Kau, salah? Takkan kubiarkan satu orang pun menyangkal kelayakanmu …!”

“!”

“Bahkan tidak dirimu sendiri …!”

Bell membantah bantahan Lyu.

Tetes cairan merah menggenang di kaki mereka. Walau demikian, langkah-langkah Bell makin kuat dan kata-katanya lebih bersemangat.

“… aku tidak kenal Lyu yang lama … tapi …”

Perkataannya membangkitkan elf yang kesurupan api balas dendam. Sekaligus, Bell mendebat bahwa keadilan masih ada dalam diri Lyu.

“… aku kenal Lyu yang jauh lebih adil dari siapa pun …”

Bell telah berubah. Seperti yang dirasakan Lyu beberapa kali sebelumnya. Menemui Xenos telah mengubahnya. Kebodohan dan kemunafikan. Baik-buruk. Terjebak antara kutub ini, Bell terluka dan mentalnya menderita. Saat ini Bell berusaha mengajarkan Lyu sesuatu. Bell mencoba mengembalikan sesuatu kepada elf yang menyelamatkannya berkali-kali.

“Ah …”

Lyu langsung mengerti.

Ada tiga orang yang dia izinkan untuk meraih tangannya.

Tiga orang yang hatinya terima dan hormati sebagai kebenaran.

Alize telah menuntunnya.

Syr telah menyembuhkannya.

Dan Bell—

“Keadilan … itu hidup dalam dirimu.”

Layaknya cermin, Bell mencermin kembali keadilan yang Lyu berikan kepadanya.

Andaikata Bell adil, maka Lyu, yang memberikannya banyak hal, pasti adil pula.

“Iya …! Ada keadilan! Dalam dirimu!”

Air mata jatuh dari mata Lyu.

Itulah sisa keadilan yang menetap dalam dirinya yang Bell tunjukkan kepadanya.

Lyu sekali keluar jalurnya.

Itu pasti.

Api balas dendam membakar tubuh dan jiwanya.

Tetap saja, dalam pedang dan sayap terbakar, abu keadilan tetap ada.

Inilah titik mula untuk Lyu yang tidak berpaling kepada orang-orang ini, namun malah menyelamatkan mereka.

Namun aku tahu Leon akan memilih pilihan tepat.

Ucapan Alize kembali padanya.

Bell dan banyak orang lain bisa membuktikan hal serupa.

Apabila Lyu lihat ke belakang, dia mestinya bisa melihatnya.

Banyak senyum bersemi di jejak yang Lyu tinggalkan.

Inilah pencapaian Lyu.

Inilah pencapaian keadilan yang terus eksis biarpun sebagai abu.

Abu di dasar hatinya berputar-putar untuk memenuhi lubang dalam dirinya.

Hati elfnya tidak kosong lagi.

Air mata mengalir tanpa henti dari mata bimbang layaknya kolam air.

“Aku … aku …!”

Tidak bisa menyangkal kebenaran lebih lama lagi, bahkan tidak kuasa menyeka air matanya, Lyu memahami perkataan itu. Lyu tidak tahu perasaan dalam hatinya ini apa. Dia tidak tahu apa yang coba diberikan seorang anak laki-laki yang tengah menatap ke depan dengan tubuh hangatnya amat dekat ke tubuhnya sendiri.

“Bagiku sekarang ini, keadilan itu … kembali hidup bersamamu.”

Tidak ada yang namanya baik atau buruk dalam Dungeon.

Cuma ada hidup dan mati, yang kuat melahap yang lemah.

Apabila keadilan ada dalam Dungeon, maka, keadilan itu adalah untuk kembali hidup-hidup.

Kembali hidup-hidup dari labirin tak terhingga ini adalah jalan kerajaan para petualang, dan keadilan mereka.

“Kembali ke permukaan … ke para dewa-dewi berada, ke Syr dan teman-teman lain kita berada …!”

Mari kita bicarakan keadilan.

Lakukan saja yang kita anggap adil.

Satu-satunya keadilan yang eksis untuk mereka, dan untuk mereka belaka pada momen ini.

“Jadi … aku takkan pernah melepaskanmu!”

Sebagaimana embun jatuh dari daun yang dihujani, tetes air jatuh dari hati Lyu yang pernah kering, menyebarkan riak ke dalam dirinya.

Kemungkinan besarnya, lantai dalam mengerikan ini takkan meloloskan mereka. Lyu tahu itu.

Namun Lyu ingin hidup—meski sebentar, meski beberapa detik lebih lama.

Dia pengen kembali hidup-hidup bersama Bell menuju Syr dan orang-orang lain. Lyu tidak bisa menahan keinginannya.

Lalu, seolah meredam perasaan itu—sosok hitam muncul di depan mereka, mencemooh harapan mereka.

“…?! Satu barbarian …!”

Bell dan Lyu sama-sama tercengang saat mendapati monster kategori besar mendengus-dengus sedang menghalangi jalan maju mereka.

Barbarian itu terluka. Kemungkinan besar selamat dari runtuhnya Koloseum, seperti halnya Bell dan Lyu. Serpihan batu mencuat dari otot yang menggembung di bahu dan lengannya yang mirip sisik. Salah satu sudut kepalanya patah juga. Amarah mewarnai mata berlumuran darah monster itu selagi memelototi para petualang dengan sesuatu serupa balas dendam.

“Waduh …!”

Mereka berada di jalan lurus nan sempit. Tidak ada tempat kabur. Mata barbarian itu menatap tajam Bell seketika dia berdiri mengakar di tanah.

“GAAAAA!”

“Ah!”

Sosok besar tersebut mengangkat gadanya dan menyerbu mereka. Bell tidak mungkin menangkis serangannya. Dia lempar Lyu ke samping sesaat sebelum pukulan penghancur tanah menghempas mundur dirinya bagai kertas.

“Aduh …! Tuan Cranell!”

Sewaktu Lyu jatuh ke tanah, Bell terbang ke udara, berguling satu-dua meter di tanah dan berhenti.

Dia berbaring diam. Tak setetes pun kekuatan tersisa pada lengan dan kakinya yang babak belur. Bayangan poninya menyembunyikan matanya, Lyu bahkan tidak dapat melihat dadanya yang naik-turun karena napasnya. Kesedihan merekah ke mukanya seketika Lyu sekali lagi berdiri di ambang keputusasaan.

“—Tuan Canell! Tolong bangunlah!” teriaknya.

Lyu mencoba mengumpulkan kekuatan untuk berdiri, namun tubuhnya tidak mau. Kaki kanan terlukanya terpeleset terus, membuatnya jatuh ke belakang. Dia tidak dapat bangkit berdiri.

Mengabaikan elf yang sayapnya dipangkas ini, barbarian itu berbalik menghadap Bell.

“Tuan Cranell … Bell!! Jawab aku!”

Lyu tidak menyadari perubahan suaranya selagi memanggil-manggilnya.

Lyu tak sadar betapa sebalnya dia.

Dia terus saja memanggil nama Bell, membuang ketenangan keren biasanya.

Tetapi Bell yang berbaring telungkup di tanah, tak menjawab.

Monster itu pelan-pelan melangkah tanpa belas kasih menghampiri Bell, berniat melancarkan pukulan terakhir.

“Bell, Bell! … tolong … jawab aku …”

Suara Lyu melemah. Pada tubuh tumbang Bell, Lyu melihat sosok teman-teman meninggalnya.

Tidak, tidak.

Aku tidak mau kehilangan siapa-siapa lagi.

Dia tidak ingin melepaskan perasaan dalam hatinya.

Lyu bisa saja kehilangan segalanya … segalanya kecuali dia.

Betapa ironis hal ini terjadi begitu sesuatu dalam dirinya hendak berubah.

Namun keinginannya sia-sia. Barbarian itu berhenti di atas Bell.

Dia barangkali ingin menggigitnya. Satu tangan memegang kepalanya dan mengangkatnya.

“Tidak, jangan, tunggu dulu …”

Dia menggeleng kepala lesu, air mata menggenang, dan mengulur tangan gemetarannya.

Diejek keputusasaan, topeng Angin Badai retak-retak dan jatuh.

Diri sejati Lyu terungkap.

Ini bukanlah elf sang Angin Badai yang ditakuti. Inilah seorang gadis lemah yang menagnis sewaktu seseorang penting baginya akan direnggut darinya. Inilah Lyu sejati yang bersembunyi di balik zirah dan topeng petualang.

Melupakan cara bicara biasanya, dia memohon sia-sia dengan kata-kata seorang gadis kecil tidak berdaya.

“Tolong … hentikan …”

Tubuh Bell bergoyang lemas saat digantung ke atas tanah.

Rahang monster itu terbuka lebar, memperlihatkan gigi mengerikannya.

“Bell!!”

Begitu air mata mulai mengalir—

“—!!”

Mata merah muda merah yang terselubung poninya membuka kemudian menarik pisau di pinggulnya.

Dia menusukkan pisau putih berkilau Hakugen ke dada monster itu.

“GAAA?!”

Ditusuk dari jarak dekat, batu sihirnya ditembus, dengus heran barbarian itu adalah tutur terakhirnya.

Bell jatuh ke tanah di tengah pusaran abu tebal.

Bagi Lyu, waktu berhenti.

“Hah …?

Dari balik abu yang berputar-putar dan asap tipis, Lyu melihat anak laki-laki itu bangkit gemetaran. Sebelum sempat memahami kejadiannya, Bell berjalan pelan mendekat.

“Maaf Nona Lyu … aku kudu memancing monsternya kepadaku …”

“Ah …”

Mendengar kata-kata itu, Lyu mengerti.

Sudah jadi strategi unutk membunuh monster itu.

Lyu mengajarinya melancarkan satu serangan mematikan yang ditujukan ke sihir batu. Tanpa energi untuk mengangkat tangannya, Bell menunggu barbarian mendatanginya. Mendaratkan serangan ke dadanya, Bell pura-pura menjadi mangsa tanpa daya.

Betul-betul pertaruhan terakhirnya.

“Aku mendengarmu, tapi … maaf.”

Bell berlutut di depannya dan menariknya berdiri. Lyu duduk dengan tatapan selaras tatapan Bell … wajahnya terlalu merona melebihi kewajaran situasinya.

Dia mendengar Lyu memohon bagaikan gadis kecil.

Dia mendengar suara menyedihkan itu.

Bell terlihat agak tak nyaman.

  Ditambah malunya, Lyu memaksa mata berkaca-kacanya untuk melotot ganas dan mengangkat tangannya. Bell menutup mata, dan Lyu hendak menampar pipi Bell … tapi ujung-ujungnya, Lyu menurunkan tangannya tanpa melakukan apa-apa.

Merasa lega, dia benamkan wajahnya ke dada Bell seakan-akan Lyu hendak larut ke dalam tangisan.

“Kumohon … jangan pernah lakukan itu lagi …” gumamnya, menekan dahinya ke dada Bell.

“… maaf.”

 Permintaan maaf Bell karena membuat Lyu khawatir telah menenangkannya. Detak jantung yang sampai telinga Lyu memberitahunya bahwa Bell benar-benar hidup, karenanya, Lyu memaafkan semuanya.

Selang beberapa waktu, Bell menggendong Lyu ke punggungnya. Mereka mulai menyusuri lorong samar cahaya.

Langkah Bell tidak andal seperti perahu buatan pasir, namun baginya langkah itu fantastisnya meyakinkan—sekalipun langkahnya adalah perpanjangan misi yang barangkali mengorbankan nyawa mereka.

… aku tidak merasakan monster apa pun. Bukannya ada monster di sekitar sini …?

Meskipun jalan samar-samar itu penuh puing-puing dan mayat-mayat monster, tidak ada mata yang menatap mereka ataupun permusuhan haus darah yang mengintai dalam bayang-bayang. Barbarian dari beberapa menit sebelumnya datang dari Koloseum. Pikiran kelelahan Lyu menyimpulkan itu pasti keberuntungan belaka para monster tidak muncul di dekat sini.

Barulah, Bell berhenti.

Dalam kegelapan pekat di depan mereka, jalannya berbelok.

Cahaya biru redup tumpah ruah dari sudut.

Dalam Dungeon, perubahan pemandangan menandakan bahaya. Berbalik bukanlah pilihan, tentu saja. Jalan di belakang mereka diblokir puing-puing. Bell bersama Lyu was-was lanjut menuju belokan.

“—!!”

Lyu tersentak melihat pemandangan yang terungkap mendadak. Kendatipun lebar jalannya tetap sama, air mengalir di pusatnya.

“Sebuah sungai …?”

Bell benar. Aliran biru murni mengalir di depan mata mereka.

Air menggelegak bak tumpuan dari batuan dasar dan terus berlanjut jauh di jalan lurus sejauh mata memandang.

“Mata air di lantai 37 …?”

Lyu belum pernah mendengar hal semacam itu.

Dapat makanan dan air di Istana Putih terbuat dari batu putih susu terlampau sulit. Inilah salah satu alasan mengapa Lyu berpikir kabur dari lantai dalam adalah hal terpenting. Bahkan Lyu yang sampai sejauh lantai 41 bersama Astrea Familia, tidak tahu tempat seperti ini ada.

“Tidak kusangka ini ada di bawah Koloseum … kurasa tidak pernah ditemukan karena tak ada yang berani dekat-dekat Koloseum …?”

Sesaat Lyu bergumam ragu, Bell bergerak maju. Apa pun pertanda ini, airlah yang mereka harap-harapkan. Bell melangkah menuju tepi sungai, berencana memuaskan tenggorokan keringnya.

“…!”

Akan tetapi, tiba-tiba, kaki di bawahnya menekuk. Kekuatan di kakinya anehnya terkuras, Bell kehilangan keseimbangan, terjerumus ke air bersama Lyu di punggungnya. Impak jatuhnya melepaskan pedang panjang hijaunya, dan berputar-putar di air.

“… B-Bell!”

Lyu menggerakkan tangannya ke tepian dan melihat ke atas. Bell berada di bawah air di sebelahnya, dan tak menjawab. Dari air jernih Lyu bisa melihat matanya tertutup ibaratnya menghabiskan kekuatan terakhirnya. Gelembung-gelembung pecah di permukaan air.

Untungnya, aliran airnya dangkal. Namun demikian, Bell berdarah, air biru segera berubah menjadi merah jambu. Lyu mengulurkan tangan panik.

Tidak sanggup berdiri sebab kaki terlukanya, Lyu tetap duduk beralaskan aliran air kemudian memeluk pinggulnya untuk menarik kepalanya keluar air.

Kini aku menyanyikan hutan nan jauh. Melodi kehidupan familier!”

Lyu mulai merapal, melekat ke bocah berwajah pucat. Inilah kekuatan mental terakhir Lyu, pertaruhan terakhirnya. Lyu tahu betul dirinya mungkin menderita Hilang Kesadaran dan akhirnya jatuh ke air bersamanya, namun tetap dia aktifkan sihir penyembuhannya.

Noa Heal …!”

Warna hijau hangat menyelimuti badan Bell.

Lyu merasakan kekuatan mengalir dari ujung jarinya sementara kesadarannya mati-nyala, tetapi dia gigit bibirnya. Penyembuhannya lambat bukan main. Luka-luka Bell tidak menutup. Kehidupan merembes ke tubuhnya detik demi detik.

Gawat. Lyu harus menghentikan pendarahannya. Lyu menolak membiarkannya mati.

Dia peras setiap tetes sihir terakhir dari seluruh sudut tubuhnya, separuh mengutuk dirinya sendiri ketika melakukannya lalu dia salurkan ke Bell.

Tepi cahaya hijau menyebar ke luar, membawa kehangatan seperti sinar matahari yang disaring pepohonan.

Akhirnya, cahayanya menyatu.

Semua luka Bell sudah tertutup.

“… Bell.”

Lyu membisikkan namanya lirih sekali sampai-sampai suaranya bisa mati seperti api lilin.

Putus asa memegang teguh kesadarannya, Lyu raup air ke tangannya dan dia bawa ke bibirnya. Barulah tatkala memastikan airnya aman diminum dia sendok sedikit buat Bell.

“Tolong minum … minumlah,” dia berbisik lagi, agar Bell dapat hidup.

Mendukung kepala Bell dengan tangan kirinya, dia gerakkan tangan kanan ke mulutnya.

Air jernih ditangkup di telapak tangannya gemetaran. Jari-jarinya menyentuh bibir Bell yang direkat darah.

Seakan-akan berdoa, Lyu terus membasahi bibir Bell. Terus-terusan.

Walaupun kegelapan menyelimuti mereka dari atas, kemilau murni air menerangi wajahnya. Bell kelihatan fana, bisu, dan mulia selayaknya patung pietà.

Hanya Dungeon hening yang mengawasi elf dalam penjagaannya.

Akhirnya, Bell batuk-batuk dan membuka matanya sedikit.

ф

Aliran sungainya berdeguk lirih.

Suara mata air lantai 37 adalah sebuah lagu yang tak terkait medan perang.

Tidak ada pendar di dinding atau langit-langit.

Tetapi aliran air murni yang mengalir di tengah jalan bersinar, mata airnya sendiri merupakan sumber cahaya yang menerangkan jalannya dengan cahaya biru misterius. Tepian di kedua sisi mata air lebarnya sekitar empat meter. Tidak berbatu tetapi halus sehalus gunung es.

Lyu dan Bell duduk di tepian, sampai sekarang beristrirahat dengan bersandar ke dinding.

“… bagaimana perasaan tubuhmu?” bisik Lyu, suara gemerisik terdengar dari sosoknya yang hampir tak bergerak.

“Baik-baik saja. Aku tidur cukup lama … dan aku minum air itu.”

Bagi Bell dan Lyu, menemukan air adalah penyelamat. Kombinasi lingkungan keras serta serangkaian pertempuran tanpa ampun telah mendorong Bell ke ambang dehidrasi. Aliran airnya adalah air kehidupan.

Mereka hampir menghabiskan waktu satu jam di tepi sungai.

Tanpa monster untuk dilawan, mereka bisa beristrirahat penuh. Itu pertama kali terjadi mengingat jeda lima menit mereka hingga waktu sekarang.

“…”

“…”

Lyu dan Bell sama-sama diam.

Faktanya, apa pun yang mereka perbincangkan, pembicaraan mereka berakhir cepat, lantas percakapannya jadi rentetan bicara singkat. Mereka memandang sungai, tidak saling bertatapan.

Langsung membicarakan intinya, mereka setengah telanjang.

“…”

“…”

Pakaian serta peralatan basah yang mereka lepaskan tanpa ragu menghilangkan panas tubuh mereka—terlebih lagi karena mereka kelewat lelah. Akibatnya memutuskan melepaskan pakaian. Itu pilihan jelasnya.

Tidak peduli sebagaimanapun mereka mengerti logikanya, akan tetapi, emosi mereka persoalan lain.

Elf serius yang tegas beserta manusia tak berpengalaman dua-duanya panik. Mereka tersipu malu, masing-masingnya tidak bisa mengabaikan kehadiran satu sama lain, selagi dua-duanya mati-matian menenangkan jantung berdebar kencang mereka.

Itulah situasinya.

“…”

“…”

Lyu telanjang atasnya tapi mengenakan jubah panjang yang tidak basah. Dari pinggang ke bawah, dia cuma mengenakan sepasang pakaian dalam tipis.

Atasan Bell pun telanjang dan memakai sepasang celana dalam hitam-panjang yang digulung sampai lutut. Penyembuhan tidak mencukupi berulang telah merekatkan celana dalam ke luka kakinya, dan menariknya paksa akan membuka lukanya lagi. Bell setuju membiarkannya. Namun jika diukur, Bell masih lebih terekspos dari Lyu.

Awalnya, Lyu menutupi dadanya dengan lengan dan bersikeras membungkus Bell menggunakan jubahnya sembari mengalihkan mata dengan pipi memerah, tetapi Bell berhasil meyakinkan Lyu tetap memakai sendiri jubahnya.

“…”

Tidak mampu melawan perasaan yang membesar di dadanya, Lyu menggeliat sedikit tapi konstan, dan jubahnya bergesekan kulitnya. Setiap kali Lyu lakukan, Bell menahan napas dan menegang.

Ini memalukan banget … walau tahu harusnya tidak memikirkan itu sekarang.

Lyu bergumam lirih sendiri, kaki mulusnya menempel erat di dadanya. Semisal dia melirik Bell, Lyu bahkan bisa lihat dalam cahaya samar ini kalau wajah Bell memerah muda. Wajahnya sendiri pun demikian. Lyu bisa merasakan panas di ujung telinga panjangnya.

Pakaian serta peralatan mereka berserakan di tanah. Lyu tak melipat pakaian tempurnya karena ingin dia keringkan, dan sepatu bot panjangnya meringkuk tak rapih.

Entah kenapa, Lyu tidak paham sama sekali, suasananya menganggapnya sedikit tak bermoral. Lyu tidak bisa toleransi, barangkali sebab barang-barang itu dimilikinya, seorang elf. Bell pun terus-terusan menolak melihatnya.

Lyu ya Lyu, dia pun tidak sanggup melihat pakaian yang Bell lepas.

Mereka terjebak siklus negatif ketegangan menular.

Celah di antara bahu mereka jelas mengutarakan malu masing-masing.

Kenapa aku terlalu memikirkannya?

Tidak ada jawaban atas merespon pertanyaan sederhana yang Lyu tanyakan kepada hatinya. Apakah itu karena Bell menyelamatkannya? Gara-gara mereka diikat bersama? Sebab Bell menghiburnya karena bilang dia itu adil?

Karena memeluknya dan bilang takkan pernah meninggalkannya?

Lyu terus mempertanyakan dirinya sendiri, tapi tidak menemukan jawaban. Hatinya semata-mata terus berdetak setidak teratur sebelumnya.

Dari awal, dia tidak merasa seperti ini sewaktu Bell melihatnya mandi pas itu—

“…!!”

Lyu memotong pemikirannya di sana. Darah mengalir cepat ke wajahnya mengingat kejadian di lantai 18. Lyu menatap ke bawah, bertekad tidak membiarkan Bell melihat dirinya yang nampak amat mengerikan.

Lyu berhasil menghindari perhatiannya, tetapi Bell mundur.

Tidak pernah mengira akan berakhir dalam situasi ini dalam Dungeon … di lantai dalam, dari semua tempat …

Lyu tak punya waktu untuk lelucon semacam ini.

Bukan karena dia setengah telanjang. Lyu tak punya banyak energi tersisa pula. Misalkan monster menyerang mereka sekarang ini tamatlah mereka.

Lyu harus melupakan masa lalunya dan melakukan hal sebisanya.

Namun entah kenapa … rasanya monster tidak akan muncul.

Dia menebak Bell pun berpikiran sama.

Lyu tidak mampu utarakan ke kata-kata, tetapi seluruh area di sekitar sungai ini tidak punya suasana tegang biasa Dungeon. Lyu tak merasakan monster apa pun atau mendengar napas manapun, atau bahkan merasakan mata diarahkan ke mereka. Dia hanya mendengar aliran gemericik.

Fakta mereka bisa beristrirahat selama sejam didukung pemberitahuan instingnya. Lyu bahkan merasa waktu bergerak lebih lambat di tempat ini.

“…”

Namun situasi ini tidak boleh diteruskan.

Di sini mereka membuang-buang waktu istrirahat dengan merasa gugup sekali sampai-sampai tidak sanggup meraih kembali kekuatan mereka, kata Lyu ke dirinya sendiri.

“… ada sesuatu yang mau aku tanyakan padamu.”

“Uh … ah, tentu saja. Apa?”

Lyu pengen meredakan ketegangan, tetapi dia pun bertanya-tanya tanpa henti. Lyu menatap Bell seraya bertanya.

“Kenapa saat itu kau kembali?”

Saat itu yang dia maksud adalah ketika dia masih di Koloseum.

Keputusan Bell tidak salah. Dia tak mencoba mengagungkan pengorbanan diri; situasi ini menuntut pilihan. Opsi mereka harus dipertimbangkan. Tidak mungkin mereka tahu duluan segala halnya akan menjadi seperti ini.

“Misal kau salah selangkah saja—atau sekalipun kau tidak salah—kita berdua bisa sama-sama mati,” lanjutnya.

“…”

“Tahukah kau ada tempat ini di bawah Koloseum?”

“Tidak …”

“Terus kenapa kau kembali?”

Lyu kesampingkan emosinya dan menanyakannya sebagai seorang petualang.

Bell membalas tatapan serius Lyu tanpa ragu.

“Aku tidak ingin membiarkan orang lain mati … karena itulah aku kembali.”

Perkataan Bell sederhana. Perasaan yang memotivasi tindakan Bell tidak diikuti motif lain dan murni.

 Tapi benarkah tidak ada apa-apanya pada tindakan Bell? Apakah itu satu-satunya alasan dia menyelamatkan Lyu?

Itu terlihat jelas. Tidak ada perhitungan atau tujuan aksinya selain untuk menyelamatkan nyawanya belaka. Bell telah menghancukan pertimbangan yang memaksakan pilihan tindakannya demi idealismenya sendiri. Bell mengerahkan segenap kekuatan dan kecerdasannya, dibayar darahnya sendiri dan berjuang melawan dunia.

“…”

Bell meninggalkan segalanya ke takdir.

Mereka lebih beruntung karena lantai Koloseumnya telah runtuh.

Jika tidak—

… jika tidak runtuh, kemungkinan Bell akan melawan monster-monster yang masih hidup, membawaku pergi, dan menyelamatkanku juga intinya. Mengenal Bell, aku tidak meragukannya.

Kalau begini, Lyu mau tidak mau sampai kesimpulan itu.

“Bell … mau dengar ceritaku?”

Lyu tidak benar-benar niat bertanya. Namun sebagaimana hari itu di surga Dungeon, dia memberi tahu si bocah di sebelahnya. Dia beri tahu apa yang terjadi kepadanya dan sisa Astrea Familia—seluruh detail cerita yang selalu dia sembunyikan dari semua orang.

“—itulah maksud pengorbanan Jura.”

“…”

Setelah menyelesaikan ceritanya, Lyu melihat ke tanah seolah-olah kabur.

Luka yang dia beberkan sendiri sedang berdenyut-denyut.

Dia takut akan apa yang dikatakan Bell berikutnya.

Bell perlahan membuka bibirnya.

“Kalau begitu … kedengarannya kau harus tetap hidup …” katanya, tersenyum. “orang-orang yang memedulikanmu berjuang agar kau hidup.”

“Ah …”

“Bahkan orang idiot sepertiku tahu itu. Misalkan kau mati sekarang … Alize dan yang lainnya pasti bakalan marah.”

Bell bicara pelan, seakan-akan menjelaskan sesuatu kepada seorang anak kecil.

Bell tidak meremehkan ataupun menegurnya. Tetapi Bell memang terdengar sedikit marah, ibarat takkan memaafkannya jika dia melakukan hal yang sama lagi. Bell mirip Syr, dan sorot matanya mengingatkan Alize.

Bell mengangkat alisnya seolah pengen tersenyum sinis lagi. Tertarik mata merah muda merahnya, Lyu menaruh tangannya ke dada. Hatinya berdebar-debar.

Setidaknya, dia merasa seperti itulah. Tentu saja, itu cuma perasaan.

Dan dorongan untuk menjangkau dan menyentuhnya ini tentu hanya imajinasi Lyu saja.

Lyu melihat ke bawah lalu mengepalkan tinjunya.

“B-Bell.”

“…?”
“K-kupikir kita harus … mendekat.”

“Apa?”

Bell telah menatap aneh dirinya dan sekarang dia menolak bicara. Setelah jeda lama, selama itu dia pasti mengerti maksud elf itu, pipi si bocah mulai memerah. Lyu yang ujung telinganya ikutan merona, tukas selanjutnya patah-patah.

“Y-yang kita lakukan sekarang … tidak e-efisien. Semisal kau ingin aku kembali hidup-hidup … kita mesti saling menghangatkan kulit …!”

“Uh, anu, tapi …?!” Bell tergagap.

“Sekarang bukan waktunya malu … tidak bisakah kau merasakan sedingin apa aku?”

Mata Bell membuka waktu Lyu menggenggam tangannya. Tangan si elf sendiri putih dan sedingin es. Sedangkan Bell, ia kehilangan cukup banyak darah. Kini bukan waktunya mengatasi situasi dengan pertunjukkan kekuatan petualang kelas atas.

Lyu merasa malu juga, tetapi maksudnya dimengerti. Dia benar-benar memerhatikan kesejahteraan Bell.

“T-tapi kau ini seorang elf, Nona Lyu …”

“Tidak usah risaukan. Dalam situasi darurat … aku bahkan bersedia memeluk seorang kurcaci …”

Lyu cepat-cepat mematikan keresahan Bell tentang masalah ras. Bell kehabisan argumen.

“T-tapi, Bell … jangan ada pikiran-pikiran kotor di kepalamu.”

“… apaan?”

“K-kalau ada, a-aku takkan bisa menahan diri untuk menamparmu.”

Lyu sekarat malu meski dialah yang dari awal membuat aturan. Ekspresi wajah Bell mengosong.

“M-maksudku, mengingat tipe tubuhku, gimanapun aku ragu kau tertarik … maksudnya …!”

Dia sekarang lebih bingung dan memerah dari sebelum-sebelumnya, tidak mampu melarikan diri dari sifat tegas elfnya.

“Uh … hahaha. Aduuuh …”

“Apa yang kau tertawakan …?”

Bell tertawa. Melihatnya memegangi perut kesakitan nampaknya karena tegang tertawa, makin membuat Lyu kesal. Sementara Lyu bingung sama Bell yang tidak menganggapnya serius, bocah itu tersenyum sembari tertawa.

“Maaf banget. Tolong jangan khawatir … karena lagian kau ini Nona Lyu.”

Dengan kata lain, Lyu barangkali bertingkah aneh, tetapi dia masihlah elf yang Bell tahu dan sukai. Lyu mengaga sebentar, kemudian menutup bibirnya. Lyu merasa makin banyak darah panas mengalir ke mukanya, dan dia merasa sangat-sangat gemas.

Bell yang masih merasa sakit dua kali lipat karena tertawa-tawa, menatapnya was-was.

“Anu, jadi … kita harus melakukan apa …?”

“…”

“Berpelukan rasanya canggung karena kita tidak pakai pakaian, kurasa, jadi, anu …”

Lyu hening dn terdiam beberapa detik sebelum berdiri.

Menyeret kaki sakitnya, dia bergerak ke depan Bell dan berbalik. Lanjut melepas jubahnya.

“…”

Penutup badannya jatuh ke tanah dengan bunyi wush.

 Di bawah tengkuk putih Lyu, punggung telanjangnya segar dan awet muda. Tetes-tetes air mengalir dari lehernya ke pinggang langsing, di pinggangnya diserap pakaian satu-satunya—celana dalam.

Bell menelan ludah. Seluruh tubuhnya tegang bukan main. Biarpun punggungnya menghadapnya, Lyu tersipu. Logisnya, Bell tak dapat melihat apa pun dari belakang, namun Bell tetap memeluk dadanya selagi duduk di tanah.

Keheningannya berlangsung beberapa detik, namun bagi Lyu rasanya seperti kekal. Lyu melihat ke bawah, dan maksud Lyu entah bagaimana pasti sudah tersampaikan, karena dia merasa Bell membulatkan hatinya di belakang.

Bell berjongkok.

Hati Lyu berdegup kencang.

Teramat-amat pelan, Bell peluk Lyu dari belakang.

Bahu wanita itu menggigil.

Jarak antara mereka menghilang.

“…”

“…”

Bell memeluk Lyu yang bersandar ke punggungnya dari belakang. Bocah itu bisa merasakan punggung dan dada kecil Lyu. Dia menyilangkan lengan ke depan tubuh bagian atas Lyu yang telanjang bak baru lahir.

Rasa malu membara cuma berlangsung beberapa detik. Tubuh-tubuh mereka saling menghangatkan. Kulit dingin kehilangan dinginnya dan kehangtan menyebar ke Lyu. Jantung berdebar-debar cepat Bell telah melamban dan mulai tenang, mengetuk punggungnya. Ritme nyaman mengguncangnya bagaikan buaian, menenangkan hatinya.

Kaku telah mencair dari tubuh mereka.

Suara detak jantung mereka menyatu.

Mereka rileks hingga merasakan perasaan ini seolah semuanya sudah biasa.

Bell bersandar di punggung Lyu sedangkan Lyu bersandar di dadanya.

“Kau hangat sekarang?”

“Iya, sangat …”

“Bagus …”

“Iya …”

“…”

“…”

Seperti biasa, peprcakapan mereka tak berlangsung lama. Namun sunyi ini tidak mengenakkan. Gemericik arus ditambah perasaan damai ini. Bell melebarkan kakinya sedikit biar Lyu muat sepenuhnya di tengah-tengah kakinya. Lyu kelewat hangat, namun dipikirnya Bell pasti sangat dingin. Lyu menyuruhnya memakai jubah miliknya untuk menyelimuti mereka berdua. Wjaah Bell tepat di samping Lyu. Napas pelannya menggelitik telinga dan lehernya sedikit, membelai telinga tipisnya berkali-kali.

“Aku tidak sadar …”

“…?”

“Tidak sadar kau ini kecil sekali …”

“Aku tidak pendek-pendek amat dibanding dirimu.”

“Aku tahu, tapi … tidak bisa kujelaskan.”

“Apa?”

“… bukan apa-apa.”

“… beri tahu aku.”

“Bukan apa-apa.”

“Um—”

“Cepatlah.”

“… kau sangat ramping dan lembut … menyadarkanku kau ini seorang wanita.”

“…”

“Kek aku memahami perasaan yang dimiliki pria … ingin melindungi wanita.”

“… bisa aja,” gumam Lyu lirih.

Dia memposisikan ulang dirinya sehingga punggungnya lebih menekan Bell, seolah-olah dia menggodanya. Bell tanggapi dengan mengencangkan otot dadanya.

Bell mendesau gemetar. Entah kenapa, menurut Lyu manis.

… tidak adil.

Lyu berusaha untuk tidak memikirkan gadis berambut abu-abu itu.

Di hati terdalam elf itu sedang mengkritik dirinya karena bertingkah hina.

Lyu ingin dimaafkan.

Hanya demi momen singkat satu ini.

Dia tidak tahu meminta maaf apa. Dia tidak paham meminta maaf kepada siapa. Dia mematuhi emosinya saja.

Hatinya berbisik ingin menyuruhnya berbalik.

Dadanya membara ingin bertemu tatapan mata merah muda merah indah di belakangnya.

Dia ingin bertatapan anak laki-laki yang wajahnya begitu dekat hingga hampir bersentuhan wajahnya sendiri.

Namun Lyu takut.

Dia takut sesuatu akan berubah permanen di antara mereka.

Lyu rasanya takkan dapat kembali.

Lantas dia tahan keinginan itu.

Dia cengkeram lengan atas kurusnya dan membiarkan elf berwibawa dalam dirinya menyelamatkannya. Dia memarahi dirinya sendiri yang bukan seorang elf bukan pula pelayan kedai maupun Angin Badai, melainkan Lyu apa adanya.

Sedih dan menyakitkan, tetapi itu menenangkannya.

“Nona Lyu …”

“Ya …”

“Kau ingin melakukan apa pas kembali …?”

“… aku pengen makan makanan hangat buatan Mama Mia.”

“Ah, aku juga …. Ayo makan sama-sama deh.”

“Tapi sebelum makan, aku yakin bakal dimarahin Syr dan yang lain …”

“Hahaha …”

“… kau bagaimana?”

“Aku ingin pulang sama Welf dan anggota party lain, jalan balik ke kediamanku, dan bilang, Aku kembali! ke dewi kami …”

“Itu rencana bagus. Kau harus menghargai familiamu …”

“Akan kuhargai. Aku akan menghargainya selamanya, sama sepertimu …”

“… terima kasih.”

Mereka saling bersandar sembari berbisik bolak-balik.

Mereka kayak sepasang kekasih yang sedang berbicara dari hati ke hati.

Namun di saat yang sama, sekilas ada perasaan yang tidak bisa mereka hapus.

Ada bahaya tenang pada senyuman tipis dan suara amat lembut mereka hingga angin sekecil apa pun bisa menerbangkannya, sebagaimana nyala api lilin yang hendak padam.

Mereka memejamkan mata dan tidur selayaknya pengelana di luar angkasa.

Mereka saling berpelukan, kian dekat dalam dunia pribadi mereka sendiri.

Di sebelah mereka, aliran air murni berkilau biru, ibarat memberi mereka momen hening ini.

ф

Beberapa jam telah berlalu semenjak Lyu dan Bell mulai beristrirahat.

Tidur nyenyak mereka memulihkan pikiran dan tubuh.

Mengesampingkan luka fisik mereka, pemulihan kekuatan mental teramat-amat penting. Sakit kepala susah dihilangkan dan kelesuan mereka sirna sudah. Dibanding kondisi sebelum istrirahat, sudah seperti siang-malam.

Sesaat mereka membuka mata, mereka langsung beraksi.

“Makasih, Bell, sudah menggunakan kekuatan mental berhargamu untuk menyulut api.”

“Tidak apa-apa, aku sudah istrirahat dengan baik … aku mampu menangani daya kekuatan setingkat itu.”

Suara derakan api bercampur gemericik aliran air. Api unggun menerangi wajah mereka. Lyu sekarang yang entah bagaimana sudah direvitalisasi, mengumpulkan kayu bakar dan Bell menembak firebolt ke kayunya. Menyalakan api di lokasi lembab tanpa bahan bakar atau peralatan tepat sungguh-sungguh sulit.

Mereka telah menggunakan drop item sebagai kayu bakarnya. Lyu kembali di sepanjang jalan menuju puing serta mayat-mayat Koloseum untuk mengumpulkan kulit-kulit monster—terutama rambut berminyak para barbarian. Sesuai barbarian sesat yang Bell dan anak-anak dari panti asuhan temui di lorong rahasia di bawah Daedalus Street, rambutnya terbakar dengan baik.

“Bell, seberapa kuat kondisimu?”

“Jauh lebih baik, tapi tanganku masih gemetaran seperti ini kalau tak diperhatikan …”

Karena mereka menyalakan api, Bell serta Lyu tidak lagi berpelukan. Tetapi mereka duduk bersebelahan di depan nyala api. Lyu menatap tangan gemetaran Bell yang dia pegang di depan dadanya.

Aliran airnya adalah zona aman.

Lyu yakin.

Laksana air biru berkilau merupakan jimat yang menangkal para monster, tidak ada yang menyerang. Sepertinya satu-satunya surga di lantai 37. Selama mereka berdiam diri di sini takkan ada pertumpahan darah dan bisa beristrirahat sesuka mereka.

Bersembunyi di sini jadi salah satu pilihan … namun kami tidak punya ransum penting lengkap untuk menyanggupinya.

Ada banyak air. Akan tetapi tidak ada remah untuk dimakan.

Para petualang kelas dua mungkin jauh dari orang biasa, tapi mereka masih mengandalkan nutrisi untuk bekerja. Maka dari itu mereka takkan pernah pulih sepenuhnya selama apa pun mereka istrirahat di sini.

Yang menunggu mereka di jalan ini adalah kematian perlahan. Itulah pesan tak terucapkan tangan gemetaran Bell.

Walaupun regu penyelamat telah dikirim, takkan pernah berhasil sampai sini sebelum mereka mati. Lyu meyakininya.

Pertama-tama, kemungkinan para penyelamat berpapasan Lyu dan Bell di lantai sebesar Orario itu tipisnya nyaris tidak mungkin. Para petualang yang tersesat di lantai dalam sama saja mati. Paling tidak, itulah anggapan Guild.

Dungeon tidak membiarkan mereka yang berhenti bergerak kembali hidup-hidup ke permukaan …

Tidak seorang pun ingin menderita lebih brutal.

Namun menerima kerinduan hati akan kedamaian sama saja kalah oleh Dungeon.

Gambaran para petualang berubah menjadi kerangka terbesit di pikiran Lyu. Jika mereka menetap di surga nan damai ini, Lyu dan Bell akan menemui akhir sama.

Mereka mesti terus maju.

Mereka harus mempertaruhkan pertualangan lain—kalau mereka para petualang.

Lyu membuat keputusan.

“Bell … ayo istrirahat sebentar lagi terus tinggalkan tempat ini.”

“… baiklah.”

Bell mengangguk merespon suara tenang Lyu. Mencurahkan kekuatan mentalnya, dia menggunakan Noa Heal untuk memulihkan kondisi fisik Bell sepenuhnya. Itu dia, terkecuali lengan kirinya dan pendarahan, tidak dua-duanya bsia instan dikembalikan dengan penyembuhan.

Lyu pun menyembuhkan kaki kanannya sendiri. Ketika dia sudah punya cukup kekuatan mental, sihirnya mampu memperbaiki tulang patah. Masalah satu-satunya adalah terlepas sudah mestabilkan retakan menggunakan gagang pisaunya, Lyu keseringan bergerak-gerak sampai tulangnya tidak cukup kembali ngepas lagi. Inilah harga yang mesti dibayarnya sebab tak menjadi penyembuh sejati.

Gerakannya barangkali masih sedikit terganggu, namun sekurang-kurangnya dia sanggup berkeliaran sendiri sekarang. Tidak salah lagi beban Bell akan diringankan, karena dia telah memapahnya sepanjang waktu. Sewaktu dia kembali ke permukaan, Lyu bisa meminta penyembuh sejati membetulkannya.

 Sesudah Lyu kelar penyembuhan dan istrirahat sebentar lagi untuk mengisi kembali Kesadarannya, dia dan Bell mengambil pakaian mereka. Berkat api unggun, pakaian tempur mereka hampir kering. Saling memunggungi, mereka mulai mengenakan kembali perlengkapan. Sekarang mereka tak terlalu bingung oleh situasinya, tetapi mereka masih tidak terlalu terbiasa oleh suara gemerisik pakaian.

Mereka selesai berpakaian dan memadamkan api.

Tepat sebelum berangkat, Lyu sadar dia ragu-ragu pergi.

… ini hanya kelemahan sementara. Kelelahannya pasti sudah memengaruhiku.

Terselubung kehangatan Bell, Lyu telah mengalami ilusi bahwa pikiran dan tubuhnya menyatu. Dia belum pernah mengalami kedamaian semacam itu sebelumnya.

Meski begitu, dia takkan membiarkan dirinya tenggelam dalam perasaan itu. Dia ini elf tulen bermartabat. Dia pura-pura tak menyadari perasaan yang tumbuh dalam hatinya, pribadinya bilang perasaan itu hanyalah keterikatan palsu.

“Bisa pergi?”

“Ya, aku siap.”

Dua orang itu keluar bersampingan. Memunggungi tempat yang memungkinkan mereka beristrirahat sejenak, mereka mulai bergerak maju sekali lagi.

Mereka berjalan menyusuri jalan berarus air yang rasanya seperti selamanya.

Sesuai dugaan mereka, nampaknya bebas dari monster, dan mereka bergerak maju tanpa masalah.

“Apa ini area yang belum dijelajahi?”

“Ya, artinya belum dipetakan. Tapi … rasanya ini tempat spesial.”

Bell menatap sekelilingnya sembari berbicara dengan Lyu. Seperti tempat lain, dindingnya batu putih susu, tapi karena cahaya yang dipancarkan aliran air di tengah lantai, jalannya sendiri sepertinya berwarna biru. Berkat airnya, serasa lembab dan dingin. Bunga-bunga kecil semacam bunga bakung bermekaran di sepanjang batas jalan antara dinding dan lantai. Beberapa ada bunga mungil berwarna putih yang hanyut bersama aliran air sungai.

Bunga tidak ditemukan ini, absen dari paduan bergambar detail yang Dungeon simpan dari Guild, tampaknya satu-satunya tanaman di Istana Putih. Lyu berhenti sesuai saran Bell lalu memetik sekuntum bunga dan memakannya.

Manis. Dia tawarkan satu bunga untuk Bell coba. Lyu benar—ada rasa macam nektar yang meleleh di lidahnya. Kendati dia menjejalkan mulutnya dengan bunga-bunga ini, Bell memperhitungkan akan mendapat sangat sedikit stamina. Tapi tetap saja, menjadi pelipur lara sementara, lebih baik dari tidak ada. Faktanya, seseorang setipe Bell yang telah lama tidak merasakan gula, bunga-bunga ini adalah suguhan lezat.

Kemudian dia melihat ke atas dan menyadari langit-langitnya lebih rendah dari tempat lain di lantai 37. Bell jelas bisa melihat permukaannya yang tak rata. Mengingatkannya akan gua berbatu.

Tempatnya terasa layaknya lapisan air tanah, atau jurang yang atasnya dihalangi langit. Itulah kesan yang diberikan jalan ini kepadnaya.

“Jalan ini memanjang selamanya … aku cuma dapat mendengar air …”

Jalan dan aliran airnya membentang di hadapan mereka selayaknya jalan biru.

Dibandingkan Under Resort di lantai 18 atau Ibu Kota Air di lantai 25, pemandangannya terlampau hambar. Namun bagi Bell dan Lyu yang mengembara di dunia gelap lantai dalam, aliran air bercahaya biru jauh lebih berharga dan misterius dari apa pun yang sanggup mereka bayangkan.

Di sini pun Dungeon.

Ia memperlihatkan taring-taring kejamnya kepada para petualang, tetapi juga menunjukkan pemandangan fantastis seperti ini. Ini tindakan belas kasih Dungeon dalam kegelapan tanpa ujungnya, atau begitulah kelihatannya bagi Bell.

“…”

“…”

Jalan biru membentang tiada ujung.

Pastilah percakapan antara bell dan Lyu berakhir. Perjalanannya panjang. Akan berakhir di mana? Apa yang menanti mereka di depan?

Sesekali Bell tersandung, ganjaran pendarahannya. Mampukah dia kabur dari lantai dalam dengan kondisi begini? Kecemasan senantiasa bersamanya.

Tapi dia dan Lyu memegang harapan sambil melanjutkan perjalanan. Kini …

“Jalan buntu …”

Di seberang jalannya ada mata air kecil. Ruangan melingkar tak sempurna mengumumkan akhir jalan. Berbeda dari mata air di tengah jalan tempat air menggelembung, di sini airnya tersedot ke dasar mata air, laksana menyelesaikan siklus Dungeon.

Tiada terowongan atau tangga terlihat. Selagi Lyu melihat-lihat sekeliling bertanya-tanya apakah mereka harus putar balik, dia menyadari sesuatu.

“Batu itu … komposisinya berbeda dari yang lain.”

Bijih putih murni mengingatkannya akan kuarsa alih-alih batu.

Dengan ekspresi wajahnya yang tegang, Bell menghunus Pisau Hestia dan menusuknya ke massa yang ditunjuk Lyu. Tidak lama setelah ditusuk retakan menjalar melintasi permukaannya kemudian seluruh gumpalan bijihnya hancur. Di baliknya terdapat gua dan tangga naik.

Bell dan Lyu bertukar pandang, mengangguk dan merangkak melalui guanya. Mereka dapat mendengar mineralnya memperbaiki sendiri di belakang mereka. Guanya cukup lebar untuk mengisi dua orang bersebelahan, gelap gulita pula. Lyu mengeluarkan salah satu toples yang dia isi air sungai. Toplesnya memancarkan cahaya biru samar. Menggunakannya sebagai lentera, mereka naik selangkah demi selangkah.

Seketika mereka kurang lebih naik seratus anak tangga, mereka sampai di langit-langit yang diblokir bijih sama yang ada di mulut gua.

Bell nekat menerobosnya.

“Ini …”

Mereka tengah melihat sebuah ruangan di lantai 37.

Itu jalan buntu satu pintu. Tanahnya berserakan batu-batu setinggi Bell. Bongkahan bijih yang mengarah ke jalan dengan arus air tersembunyi di antara bebatuan ini.

Mereka dapat merasakan monster di labirin luar sana.

Menyesuaikan fakta mereka sekarang kembali ke kenyataan Dungeon kejam, mereka melangkah keluar ruangan dengan segenap sarafnya wapada.

Tapinya, berlawanan ekspektasi, mereka tak menemui monster apa pun di jalan lurus tak bercabang di hadapan mereka.

Saat ini mereka sampai di jalan lebih besar. Segera, dinding besar kelihatan.

“…Nona Lyu, itu bukannya …”

“Iya … Dinding Cincin.”

Selagi Bell mendongak untuk mengintip dinding menjulang tinggi, Lyu mengonfirmasi tebakannya. Tidak salah lagi, permukaannya yang besar bukan main dan mulus adalah salah satu dari kelima Dinding Cincin Istana Putih. Mungkin seratus meter jauhnya dari titik Lyu dan Bell datang dari jalan samping ke jalan lebih besar.

Terlebih lagi …

“Jalan ini … iya, aku yakin. Ini rute utama.”

“!”

“Dinding Cincinnya berwarna abu-abu. Berarti, Dinding Keempat.”

Seraya bicara, Lyu melihat sekelilingnya bak lagi menyusun teka-teki dari memorinya. Ketika Astrea Familia masih hidup dan baik-baik saja, Lyu beberapa kali mendatangi lantai dalam. Meskipun tidak punya gambaran lengkap tentang lantai luas di benaknya, tubuhnya tahu rute utama secara naluriah karena dia sering sekali menjambanginya di perjalanan dan dari permukaan.

Koloseum terletak di bagian dalam Dinding Ketiga, yang artinya aliran air tepat di bawahnya—Jalan Biru—mengarah langsung ke Dinding Keempat.

Bell dan Lyu benar-benar menderita, tetapi penderitaan mereka membawakan keberuntungan besar.

“J-jadi sekiranya kita melewati dinding itu …!”

“Ya, hanya tersisa Dinding Kelima. Dan apabila kita melewatinya, takkan ada labirin di sana dan lorong penghubung ke lantai 36.”

Di balik Dinding Kelima terdapat tanah kosong luas. Cukup jauh dari tepi selatan lantai, lokasi jalan berada, namun bila mereka sampai sejauh itu maka takkan mungkin tersesat. Hanya Istana Putih dalam Dinding Cincin punya struktur labirin.

Pertama kalinya sejak Bell terjun ke lantai dalam, harapan sejati menerangi wajahnya. Ekspresi Lyu tidak terlihat bagus, tapi dia pun merasa sama.

Selayaknya mercusuar menyorot sinarnya ke atas kapal yang ditabrak gelombang badai deras. Seberkas cahaya itu lebih dari cukup untuk mereka pegang erat.

“Ayo pergi! Selagi tidak ada monster di sekitar!”

“… iya!”

Sesuai kata Bell, tidak terlihat monster. Ini kesempatan sempurna.

Kegelapan mengintip mereka jauh dari atas selagi lurus maju menuju Dinding Cincin.

Kami betulan beruntung …! Tidak—kami raih keberuntungannya sendiri karena tidak menyerah!

Bell tidak berbuat kesalahan tolol dengan ribut-ribut saat buru-buru.

Maju lebih hati-hati dari sebelum-sebelumnya, Bell maju dengan berani. Selangkah di belakangnya, Lyu pula berwaspada melihat sekitarnya sambil berlari maju penuh energik.

Labirin antara Dinding Keempat dan Dinding Kelima namanya Zona Binatang … andai kami bisa melewati ini …!

Wilayah di tengah Dinding Kedua dan Ketiga, letak Koloseum, adalah Zona Petarung. Area yang sekarang ini mereka lintasi adalah Zona Prajurit. Selain beberapa tempat, rute utama di lantai 37 beberapa lusin lebih luas.

Waktu mereka sampai sana, mereka kemungkinan besarnya takkan tersesat, kecuali menemui sejumlah keabnormalan.

Selagi Bell memeras otaknya mencari informasi yang diajarkan Eina, dia menggiling gigi gerahamnya seolah-olah ingin mengeluarkan setetes dua tetes energi.

Aku bisa pulang … aku akan pulang! Ke permukaan! Ke teman-temanku berada! Bersama Lyu …!

Bell berlari menuju masa depan. Dia menyaru dengan kegelapan kehitaman, bergerak semakin jauh dari monster yang menghantui di dekatnya.

Bell tak lengah.

Begitu pula Lyu.

Terlepas dari itu, mereka sepatutnya sadar.

Selagi mereka dengan panik mencoba memanfaatkan keberuntungan, semestinya mereka lebih memikirkan lagi keberuntungannya.

Mengapa mereka tidak menemui monster apa-apa?

Kenapa monster yang mereka rasakan dari Jalan Biru belum juga menemukan mereka?

Kenapa mereka bersembunyi seakan-akan takut pada sesuatu?

“Dinding Keempat …! …. Akhirnya kita sampai!”

Setelah sampai di dinding menjulang tinggi, Bell bersama Lyu masuk ke lubang lingkaran di dasarnya. Mereka terus maju tanpa ragu-ragu menuju pendar samar di luar terowongan hitam pekat.

Mereka melangkah keluar.

Mereka berada di disi lain Dinding Keempat.

Mereka berada di labirin terakhir yang memisahkan mereka dan lorong penghubung ke lantai bawah.

Mereka berada di Zona Binatang, medan perang terakhir.

“…”

Bell merasakannya.

Begitu dia keluar Dinding Cincin, Bell tahu.

Dia merasakannya pas melangkah ke zona itu.

Sekerikil batu jatuh berintik lembut dari atas.

Sebuah tatapan menembus kepalanya.

Tatapan merah tua mematikan sang malapetaka.

“…”

Monster itu ada di sana.

Jauh di atas kepala Bell.

Cakar mengerikannya menempel ke Dinding Cincin menjulang tinggi.

Menunggu satu-satunya target datang berjalan di bawahnya.

Menunggu mangsanya—dialah, Bell serta Lyu—melewati Dinding Keempat lalu memasuki Zona Binatang.

Sosok aneh menarik cakarnya dari dinding dan turun bisu.

Memberi para petualang sedikit waktu tuk melacak gerakannya, dia menghentak tanah.

Kala cakar kehancuran mendekat, Bell meraih tangan Lyu dan melompat sekuat teanga.

“OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!”

Sebuah ledakan.

Bak dihantam meteor, tanah tempat Lyu dan Bell berdiri sesaat sebelumnya telah hancur. Batuan dasar retak, pecahan batu turun menghujan, dan awan debu kacau berseliweran. Mereka berdua jatuh canggung di atas tanah. Seketika Bell akhirnya berhenti berguling, Bell mengangkat kepalanya, terkaget-kaget.

“Ooo …!”

Cangkang biru keunguan bersinar samar.

Ada bentuk khas, mengingatkan fosil dinosaurus berbaju besi. Monster malapetaka telah mengembara mencari mangsa lolosnya dan akhirnya menetap di tempat untuk menunggunya.

“Jugger … naut …!”

Sekali lagi melihat mimpi buruk tak terlupakan, Bell pertama kali mengujar namanya. Ibarat merespon panggilan Bell, monster itu berpindah ke sebelah kirinya yang diselimuti kegelapan, menuju Bell dan menarik cakar hitam keunguannya dari tanah. Kehadirannya kian besar sekali semenjak dia terluka; tiada simbol kematian lebih besar bagi Lyu dan Bell.

“Aaa …!”

Trauma yang berada dalam diri Lyu bangkit lagi melihat pemandangan mencengangkan itu.

Selagi Lyu berjuang keras melawan teror, Bell meringis.

Kenapa harus sekarang …!

Emosi melonjak menggelora di dadanya ketika mengingat neraka yang dilalui lengan kirinya. Dagingnya berdenyut-denyut dengan rasa sakit panas di balik syal yang melilitnya, Bell menghunus Pisau Hestia.

Bell tidak terjatuh ke amarah absurd atau mengerang sia-sia, melainkan bersiap melawan agar tetap hidup.

Juggernaut mnyipitkan matanya pada mangsa yang masih belum hilang tekad bertarungnya, mata tajamnya bersinar dalam kegelapan. Cakar di kakinya memanjang di sepanjang tanah labirin, dia pelan-pelan memutar tubuhnya hingga menghadap Bell.

“Apa—?”

Bell tidak percaya matanya.

“Dia punya lengan kanan?”

Separuh bagian kanan tubuhnya menghadap Bell.

Melalui selubung kegelapan gelap, siluet tangannya terlihat jelas.

Apa yang terjadi? Selama pertarungan mematikan mereka di lantai 27, Bell mempertaruhkan tubuhnya untuk merenggut lengan itu. Bell menggunakan Argo Vesta, keterampilan mematikannya untuk menghapus lengan beserta cakar kehancurannya—kira-kira begitulah yang dipikirnya.

Namun sekarang sehabis dia lihat lebih dekat, dia melihat ekor Juggernaut itu kembali ke panjang aslinya pula, sekalipun putus selama pertarungan.

Apa beregenerasi sendiri? Apa punya kemampuan sama sebagaimana Black Goliath?

Ketika Bell kebingungan soal regenerasi lengannya yang Bell curi dengan harga mahal, dia mendengar suara.

“…?”

Sesuatu menggeliat dalam kegelapan.

Suaranya dari lengan kanan monster tersebut, dari bahunya hingga ke bawah.

Mungkin Juggernaut sengaja membuat suara berderit tak enak didengar. Mengingatkan Bell akan serangga yang melahap satu sama lain dalam sebuah toples. Perumpamaannya itu atau layaknya dua perkakas yang tak cocok dipaksa berputar dengan sepotong daging yang terjebak di antaranya.

Bel alarm bawah sadar mulai berdering di benak Bell.

Akhirnya, monster bernama malapetaka itu maju selangkah demi langkah bergemuruh.

Di bawah pendar, ia mengguncang kegelapan.

“…”

Bagi Bell waktu berhenti.

Lyu pun membeku.

Lengan kanannya yang kini terekspos—terbuat dari topeng tulang tak terhitung jumlahnya.

“… skull sheep …?”

Dari bahu monster hingga sisi tubuhnya, skull sheep saling bertumpuk. Domba kematian yang Bell lawan berkali-kali di lantai ini menjadi bagian tubuh Juggernaut.

 “Mustahil. Dia …”

Bibir Lyu bergetar sambil merinding tak terkendali. Bell mengatakan kata-kata keji yang tak bisa dikatakan Lyu.

“… memakan monster-monster itu …?”

Itulah jawabannya.

Berbeda dari spesies yang diperkuat.

Dia tidak cuma memakan batu sihir.

Dia memakan monsternya hidup-hidup seutuhnya.

Dengan memakan mereka, dia menyerap tubuh mereka.

Seharusnya tidak mungkin. Itu tidak dapat dipahami.

Namun tiada cara lain untuk menjelaskan monster itu di depan mereka.

Dia adalah jenis Abnormal satu-satunya.

Dia adalah makhluk tak dikenal yang bahkan tidak terduga oleh sang Dungeon sendiri.

Para petualang, monster, labirin.

Saat bicara, Lyu mengungkap seluruh kengerian hal-hal itu.

“Mana mungkin … jangan-jangan …!”

Juggernaut itu semata-mata mengangkat lengan anehnya seolah ingin memamerkannya.

Lengan kanan buatan tulang putih kontras dengan baju zirah biru keunguan yang menutupi seluruh tubuh sang monster.

Tulang rusuk, paha, dan tanduk bengkok tidak terhitung banyaknya dipaskan satu sama lain bagai teka-teki dalam bentuk kurva melengkung. Sobekan otot merah muda terlihat di sana-sini.

Kemungkinan besarnya, urat besar yang masih mengilap darah, asalnya dari para barbarian.

Kerangka mirip manusia yang bercampur di tengah-tengah tulang bervariasi tidak salah lagi merupakan kerangka para spartoi.

Sisik-sisik cukup besar yang menutupi ekor panjang melengkungnya adalah milik para lizardman.

Bongkahan batu yang memperkuat cangkang pemantul sihir yang retak parah asalnya dari para obsidian soldier.

Skull sheep bukanlah satu-satunya monster yang Juggernaut gabung. Gara-gara tidak punya batu sihir pribadi, dia mengambil segala tipe monster yang menghuni lantai dalam dan menjadikan tubuh mereka miliknya.

Sosok mengerikan itu sudah membesar dari sebelumnya.

Semua monster yang Bell lawan di lantai ini telah menjadi satu makhluk yang kini membayang-bayangi di depannya.

Chimera.

Bell terus memikirkan monster yang hanya muncul di cerita buat-buat—monster dongeng yang terdiri dari mayat seratus binatang buas, goblin kuat yang dia yakini semata-mata hasil imajinasi inventif.

Tetapi sekarang mimpi buruk tersebut telah mewujud menjadi Juggernaut dan muncul di hadapannya.

“Haaa …!”

Sang Juggernaut menghembus kabut putih yang barangkali disalah anggap sebagai uap, bak si monster tidak mampu menahan volume panas mengepul yang datang dari badannya.

Bunyi desis, beberapa tulang yang menyusun lengan kanannya meleleh.

Wajah Bell dan Lyu berkedut ketika kepala-kepala skull-sheep dilapisi aliran cairan lengket.

Monster-monster itu melawan penggabungan tidak wajarnya.

Bagi Bell, suara berbagai bagian saling bergesekan dengan suara derit dan erangan ngeri kedengaran bagaikan teriakan—sebagaimana monster hidup menangis kesakitan.

Juggernaut juga mungkin menderita karena zirah kegigihan ini. Dengan memakan sesama monster dan menggunakan tubuh-tubuh mereka menggantikan bagian tubuhnya sendiri, Juggernaut telah mendapatkan senjata baru.

Satu-satunya tujuan senjata itu adalah untuk membunuh si mangsa putih—yakni, Bell.

“OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!”

Juggernaut menandai dimulainya pertempuran, menghancurkan momen-momen horor Bell dan Lyu. Membengkokkan sendi kiri terbaliknya, dia melompat tiba-tiba ke Bell.

“Waduh!”

Seketika Juggernaut melesat di udara bagai peluru, Bell melindungi Lyu di belakangnya dan menangkis cakar kehancuran tepat waktu. Dia gunakan Syal Goliath. Percik-percik api seliweran dan rasa sakit melanda otaknya, namun sekarang ini dia tidak bisa komplain.

Mobilitas musuhnya menurun. Bell percaya itu.

Selain menghancurkan sendi terbalik di lututnya, Argo Vesta telah merusak parah seluruh tubuh bagian bawahnya, mengurangi kecepatan lompatannya sampai-sampai Bell yang dalam keadaan kehabisan tenaga masih dapat mengikuti monster melalui matanya dan menangkis serangannya.

Namun …

“HAA!”

Juggernaut itu mendarat di dinding jalan dan mengulurkan lengan kanan kompositnya. Bak meniru Firebolt Bell, dia menembak beberapa tulang putih runcing.

“…”

Sebanyak empat lembing putih terbang dari berbagai ruas lengan kanannya. Bell menganga wakut proyektil tajam tersebut membumbung menujunya.

“Sula—?!”

Dia dan Lyu nyaris tidak berhasil menghindari senjata mematikan itu.

Bruk, bruk, bruk!! Empat lembing menghantam tanah dengan bunyi gaduh.

Bell yang bahu kanannya digores, tidak mampu menyembunyikan sebalnya.

“Apa itu serangan skull-sheep …?!”

Bell terperangah. Tampaknya musuhnya mendapatkan metode serangan yang dia serap, termasuk sula skull sheep yang telah menyiksanya.

Bell balas menatap tatapan monster itu dengan tatapan gentarnya sendiri.

“!!”

Serangan sengit Juggernaut telah dimulai.

Dengan gemuruh terus-menerus, dia menembak sula dari posisinya di lorong dinding. Enam belas sula. Setiap sulanya berukuran beda dan melesat sendiri-sendiri di udara menuju mangsa Juggernaut. Ketika Bell dan Lyu meliuk untuk menghindari bahayanya, rentetan tembakan cepat proyektil tajam menabrak tanah, mengirim hujan batu.

Mata merah itu melacak dua petualang di sisi lain awan debu saat mereka berlari panik ke san-kemari. Mendadak, Juggernaut itu menekuk lututnya kemudian terbang maju.

“?!”

Beralih dari menembak ke serangan langsung, monster itu mengubah dirinya sendiri menjadi sebuah cangkang yang meluncur ke depan.

Bell bergerak mempertahankan dirinya dari sosok besar yang mendekat cepat. Meski dia sukses menghindari serangan tiba-tibanya dengan keterampilan dan taktik, monster Juggernaut mulai menembak-nembak sulanya lagi begitu mendarat.

Bell tak sempat mengatur napas, apalagi merasa syok.

Sula memanjang itu berdatangan dari bawah dan udara mengikuti lompatan monsternya. Sula-sulanya terbang menuju Bell layaknya falangs2 menyerbu maju bersama kekuatan gelombang amarah. Bell terpaksa defensif oleh ancaman konstan serangan mematikan cakar-cakar baru digabung kegigihan Juggernaut untuk menusuknya bak sate ayam panggang.

Bell tidak bisa menggunakan Firebolt karena takut penangkal sihir monsternya.

“Dia menggunakan proyektil …!”

Lyu menyipitkan mata pada kejadian di hadapannya.

Dalam keadaan normal, sula itu menyusahkan bagi Juggernaut. Rudal yang bergerak lebih lambat dari kakinya hanyalah beban. Namun karena Bell telah menghancurkan sendi terbaliknya, sula adalah senjata ideal untuk menutupi kekurangannya.

Walau sulit dipercaya, monster itu melancarkan serang-kabur yang serangannya adalah tembakan-tembakan rudal berulang dikuti sergapan kepada Bell. Juggernaut mengalahkan para petualang menggunakan cara mereka sendiri.

Tubuh besar Juggernaut berzig-zag melintasi bidang pandang mereka bersama sula-sula beterbangan tak terhitung jumlahnya.

Sulanya kecepetan!

Tidak bisa aku lacak—!!

Saat mata merah bersinar itu menembus kegelapan mengikuti ekor cahaya, Bell dan Lyu berteriak bisu. Sulanya datang dari segala arah, termasuk dari atas kepala mereka, diserang serangan lengkap yang ganas. Terpaksa mencegatnya, Bell bergerak cepat ke kiri-kanan, atas-bawah.

Medannya pun tidak menguntungkan bagi mereka.

Jalannya lebar, tanpa rintangan. Juggernaut mampu melompat bebas ke segala arah di sekeliling tempat yang selebar ruangan, membuat kekacauan. Sekalipun kecepatan lompatan mencengangkannya entah bagaimana dikurangi, ruangan tertutup akan mempermudah Bell melacaknya.

Serangan menyerupai gelombang semakin nekat ke para petualang seiring detik berlalu. Biarpun menyebarkan pecahan cangkangnya di setiap lompatan dan melelehkan bagian monster, sang Juggernaut tidak melambat. Meraung menyeramkan dan cakar-cakar mengkilat, kehendak membunuh tak tertahankannya serasa jelas.

Bahkan tanpa mobilitas luar biasanya, Juggernaut adalah seekor pembantai. Terbalut baju zirah kegigihan buatan monster-monster lain tidak terhitung jumlahnya, dia membawa operasi militer kehancuran baru yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dihadapkan malapetaka mematikan ini, para petualang mengingat keputusasaan mereka. Utusan pembunuh telah menghapus cahaya harapan.

Tanganku gemetaran. Malapetaka ini mengerikan …!

Semangat juang Lyu-lah yang pertama kali habis. Kendatipun situasinya kini berbeda, perilaku sinting Juggernaut yang tidak seperti halnya monster biasa lain mengungkit ingatan abu-abu di benaknya—

Astrea Familia, diinjak-injak, direnggut darinya, kehilangannya. Trauma sama itu masih menyiksanya.

Masa lalu memburunya. Mimpi buruk itu mencoba bangkit dari abu.

Lyu tak tahan. Dia bersedia kehilangan apa pun kecuali Bell. Bertekad mengusir kembalinya tragedi, dia mencoba mati-matian menyalurkan tekad bertarung ke anggota tubuh ketakutannya.

“HAAA!!”

Namun Juggernaut tidak menunggu anggota tubuhnya merespon. Ia mendorong kekejamannya sampai batas berupaya membantai musuh yang melarikan diri dari cengkeramannya sebelumnya.

“Ah!!”

Seketika mendarat ke tanah, Juggernaut mengayun ekor bersisiknya ke bawah, menghempas Lyu dan Bell ke belakang. Begitu posisi kelinci putih itu ambruk, sang monster meraung penuh kemenangan.

Lengan kanan tulangnya diayun ke bawah.

Telapak tangannya menghantam.

Tanahnya bergemuruh.

Retakan dalam merekah di sepanjang batu secepat kilat.

Sewaktu retakannya sampai kaki Bell dan Lyu, retakannya meledak.

“…”

Tumpukan tulang besar menjulang dari tanah persis di bawah mereka.

Dua mata merah muda merah dan biru langit terpaku ke gunungan jarum besar yang mencuat dari bawah tanah.

Juggernaut telah menembakkan lembing tulangnya ke tanah. Sulanya ada terlalu banyak—lebih tepatnya sula terbalik—sampai-sampai tidak bisa mereka hitung.

Tatapan dua orang itu fokus ke atas karena hujan sula diluncurkan semenit lalu. Sekarang datangnya dari bawah. Itu serangan kejutan yang niatnya untuk melengahkan mereka.

Mereka sudah terbiasa melihat ke atas menanti serangan mendatang, di saat kuda-kuda mereka hancur, lantas mereka tidak dapat menghindari yang satu ini.

“Eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeaa!”

Semacam ranjau darat berukuran super. Tsunami sula bergemuruh mengerikan selagi meledak di sekitar mereka.

Ledakannya mengikis zirah samping, lengan, dan pipi Bell.

Mencungkil potongan mantel, kaki kanan, dan telinga Lyu.

Gunung pedang menyeramkan itu menelan kedua petualang.

Sial—ini serangan bos lantai Udaeus—

Lyu merinding saat waktu berputar sampai batasnya bagaikan lentera beredar.

Keputusasaan tingkat baru singgah pada dirinya selagi bertanya-tanya apakah musuh mereka setara Monster Rex lantai 37.

Walaupun dia pikirkan ini, sulanya terus menembak naik layaknya penanda kuburan, mencongkel kulitnya seiring ledakannya membentuk sebuah gunung yang lebih padat lagi.

 “!!”

Juggernaut meneriakkan raungan menyeramkan, tidak mengurangi serangannya sedikit pun. Dia menembak deretan sula berlanjut.

Dalam baju zirah menyeramkannya, dia mengujar monolog.

—lihatlah.

Mangsanya berjuang sia-sia, menggunakan alat pelindung yang dimilikinya, menyembur keringat merah. Dia takkan berkenan mengalah pada duri-durinya. Dia akan bertarung sampai akhir.

Aku tahu, aku tahu. Seperti itulah mereka.

Merekalah mangsa tertinggi, menolak mati tidak peduli bagaimana aku hancurkan mereka. Malah semakin lagi, semakin lagi—

Monster malapetaka melolong dan terus menghasilkan sula mematikan.

Atau begitu gemuruhnya menembak keras sekali sampai-sampai telinga pengang.

Sula yang terbang menghujani darah dan daging monster-monsternya.

Akhirnya …”

“—ugh.”

Lembing terbalik terakhir mengenai Bell.

Di balik baju zirah samping compang-camping dengan penjepitnya yang rusak, perut Bell tertusuk lembing.

Proyektil merah runcing menembus dagingnya.

Tembakan artileri terkonsentrasi padanya.

Cengkeraman sula yang mengarah ke mangsa putih yang telah membuntungi lengan kanannya tak membiarkan mangsa itu lolos.

Waktu terhenti bagi Lyu yang juga terluka.

Saat Bell melayang tidak wajar di udara dan tombaknya jatuh ke tanah, Lyu meraihnya.

Tetapi Lyu tidak mampu memutar balik waktu.

Sebaliknya, ibarat menghancurkan aliran menit membeku, darah mulai merembes dari lubang di perutnya.

Darah keluar dari mulutnya, memerahkan bibirnya.

Itu luka mematikan.

Serangan penentu tak terubah.

Respon Bell tepat terhadap situasi terburuk dari seluruh situasi yang bisa mereka hadapi.

Sebelum isi perutnya tumpah dari lubang, Bell bertindak.

Bell membuat keputusan mendadak untuk menutup lukanya.

“—Firebolt!!”

Sambil menekan tangan kirinya ke lubang, ledakan kecil meletus.

Perutnya serasa membara.

Rasa sakitnya seperti neraka, kilat cahaya melintasi bidang penglihatannya diikuti sensasi terbakar dalam perutnya.

Mata Bell sangat memerah seolah-olah semerah buah delima.

Lyu terperangah dan monster itu mengkaku.

Perutnya berasap, Bell mengangkat tangan kirinya dan menembak ganas.

“GAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!”

Tembakan pertama dan kedua menyentuh tanah.

Tembakan ketiga mengudara tepat di depannya.

Gelombang panas dan angin mengepuk begitu tanahnya meledak.

Melupakan kebiasaan merendahkan kuda-kudanya untuk menahan rekoil, dia meraih tangan terulur Lyu dan mereka berdua melesat mundur.

Menarik elf terkejut itu bersamanya, Bell terbang jauh dari gunung pedang, seakan-akan memang itu rencananya selama ini.

“!!”

Sepintas, Juggernaut lengah.

Kepulan asap berputar-putar di udara, tirai menutupi mangsa.

Dari balik tabir ini, nyala api melesat menuju monster tersebut.

Penangkal sihir tidak berguna jika tak tahu di mana mangsanya. Lebih buruknya, usahanya untuk menangkal tembakan membuat monster itu terdiam di tempat.

Jarak antara monster dan mangsanya kian lebar.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA?!”

  Bell menembakkan banyak firebolt tanpa lihat-lihat selagi terbang di udara.

Harga membakar perutnya dibayar ketidakmampuan membidik secara benar.

Percik-percik api memenuhi penglihatannya. Rasanya dia ibarat hancur, semata-mata melepaskan sihirnya dengan harapan buta akan menjauhkan musuhnya, mengulur waktu dan jarak.

Sedetik dan dua detik berlalu Bell bersama Lyu jatuh ke tanah dan berguling-guling.

“Bell?!”

Mereka terlempar ke tepi jalan besar. Lyu menjerit waktu berdiri.

Muncul rasa sakit ekstrem, kesadaran Bell hidup-mati.

“… uhk!”

Lyu terdiam sejenak.

Dia melihat asap berputar-putar di belakang mereka dan paham pelariannya berisiko tinggi. Menyeret Bell di belakangnya, dia berlari ke jalan samping yang dapat dilihatnya di kejauhan.

“…!!”

Seketika api listrik berakhir, Juggernaut-nya meraung marah.

Sosok besar biru keunguan meluncur menuju para petualang.

Lyu bahkan lebih keras lagi memijak tanah sewaktu monster yang menembus asap itu berlari menuju mereka.

Persis sebelum cakarnya mencapai jubah panjang Lyu dan merobeknya, dia terjun ke jalan samping.

Jalannya selebar dua meter,  cukup lebar untuk memuat dua petualang namun tidak untuk monster kategori besar.

Juggernaut setinggi tiga meter tidak muat masuk terowongan. Soal lebarnya, bagian yang diserap dari monster lain ternyata jadi kutukannya.

“OOOOOOO!”

“…?!”

Di waktu bersamaan, dia berputar-putar, mencoba menangkap para petualang.

Lengan kirinya terulur ke depan, ingin merobek Bell dan Lyu yang terbaring roboh di tanah. Tetapi tak sampai. Dia bak raksasa mengaum yang mencoba menarik kurcaci dari lubang tempat pelariannya. Lyu merasa cakar biru keunguannya gigih menggores ujung sepatunya

Merinding dikarenakan suara cakar berusaha menghancurkan dinding dan tanah, Lyu buru-buru berdiri. Sekarang waktunya dia mendukung Bell. Berkeringat dari kepala sampai kaki dan napasnya megap-megap, setiap saatnya hampir tersandung dan jatuh, dia kabur lebih dalam ke terowongan, jauh dari mata merah tua yang memerhatikan setiap gerakan mereka.

Jalannya lurus dan tanpa cabang. Dia merasa ibarat dinding di kedua sisinya mendekatinya. Akan tetapi langit-langitnya tinggi sekali sampai-sampai tidak dapat dilihatnya, membuat jalannya serasa seperti gang di malam hari.

“GAAAAAA!”

“OOU, OOOUN!”

Para lizardman elite, loup-garou, dan spartoi menghalangi jalan di depan mereka.

Monster-monser itu mungkin gemetar ketakutan selagi bersembunyi secara naluriah dari kaum pembawa malapetaka mereka, namun bila seorang petualang hidup di depan mereka maka takkan menunjukkan belas kasih. Lyu dan Bell tidak bisa berbalik; satu-satunya jalan menuju suaka ada di depan. Lyu menghunus pedang pendeknya, meringis.

“…!!”

Pada saat itu pula, Juggernaut—yang lengan kirinya meraba-raba terowongan—melangkah mundur lalu memukul dinding terdekat dengan lengan kanan tulangnya. Jalannya gemetar sedangkan retakan dalam mulai menjalar di sepanjang dindingnya.

Puluhan sula ditembak menembus dinding sebelah kanan Lyu dan Bell.

“?!”

“Ahh!”

Lembing jahat menargetkan para petualang dan sesama monster.

Lizardman-lizardman, para loup garou dan spartoi terkoyak-koyak.

Tangan kanan Lyu yang memegang pedang pendek dan kaki kanannya ditembus juga tengkuknya dicungkil. Bercak merah melayang di depan matanya seketika terjatuh ke tanah di samping mayat-mayat terkoyak monster.

Darah segar berceceran di dinding terowongan dan menggenang seperti mata air di tanah. Lyu dan Bell sama-sama merah ibaratnya bermandikan darah. Jalannya terlihat semacam TKP pembunuhan brutal. Mayat-mayat monster sangatlah bau. Bell dan Lyu tenggelam dalam lautan usus dan daging memuakkan—ibarat mereka sendiri adalah mayat.

“…!”

Sula masih menembak menembus dinding kanan dan menusuk dinding kiri mereka. Akan tetapi, tidak menjangkau Bell dan Lyu berada. Sudutnya melenceng.

Pada akhirnya, Juggernaut itu menghentikan serangan, kek menyadari proyektil-proyektilnya tidak sampai target.

Mata merah tua menatap terowongan.

Setelah mengamati danau darah stagnan beberapa saat, monster itu diam-diam menghilang ke kegelapan.

“… ugh, ahh.”

Lyu yang tidak bergerak sama sekali, mendesah dengan erangan lembut.

Dia masih hidup.

Ironisnya, kumpulan monster yang berniat membunuh mereka telah menjadi dinding yang melindungi mereka dari luka mematikan.

Lyu berhenti pura-pura mati dan membuka matanya. Dia hanya melihat warna merah.

Cairan tubuh hangat dan memualkan serta gumpalan halus mengganggu indranya.

Bau busuk menyengat ingin membuatnya muntah biarpun isi perutnya kosong.

Luka-lukanya terbuka kembali. Sinyal berkedip-kedip dari seluruh tubuhnya, memberi tahu kalau dia tak melakukan sesuatu dia bakalan mati.

Lyu harus menggunakan sihir pemulihan—tidak, tak ada gunanya.

Lyu kehilangan terlalu banyak darah. Sihirnya tidak mampu mengembalikan darahnya. Sekalipun mereka selamat dari momen khusus ini, mereka—

“… Bell …”

Membulatkan tekadnya terhadap gambaran neraka di sekitarnya, Lyu menoleh. Matanya tertuju kepada Bell yang berbaring di sebelahnya. Dia pasti mendengarnya karena jarinya bergerak-gerak sedikit.

Uhuk, uhuk …! … Nona Lyu?”

Dia mulai kejang lagi, seolah-olah lupa sejenak dan kemudian teringat lagi, lalu batuk-batuk beberapa kali. Dia memalingkan kepala ke samping dan menatap Lyu yang sedang berbaring di perutnya.

“… Juggernaut bagaimana …?”

“Pergi … tidak ada di sini …”

Suara mereka di dunia ini samar sekali nyaris menghilang.

Tatapan Bell masih terkunci tatapan Lyu, Bell menaikkan sudut mulutnya seminimal mungkin. Senyumnya bahkan tidak kelihatan seperti senyuman.

“Jadi dia menyerah mengejar kita …”

“… iya.”

Tidak.

Kemungkinan besarnya Juggernaut tidak menyerah melainkan menunggu kesempatan berikutnya. Juggernaut takkan berhenti mengejar mereka hingga membunuh dua-duanya dengan tangannya sendiri. Lyu merasakan kegigihan monster itu dan memahami kebenaran mengerikannya.

“Jadi … kita bisa pulang sekarang, kan …?”

Bell barangkali memahaminya pula. Tapi dia pura-pura tidak paham agar bisa membohongi Lyu.

Bell pura-pura mereka bisa kembali ke permukaan—mereka mampu melampaui kegelapan labirin dan berjemur di bawah sinar matahari hangat.

“Kau bisa kembali … ke Syr dan teman-teman lainmu …”

Peluang kembali mereka lebih buruk dari kata buruk.

Selama Juggernaut ada, Lyu dan Bell takkan bisa meninggalkan lantai 37.

Bell paham, tapi dia mengatakan kebohongan baik kepada Lyu.

Dia menjanjikannya masa depan di mana mereka ‘kan berjalan bersama melewati pintu The Benevolent Mistress, disambut Syr marah, dihukum sedikit, selanjutnya menghabiskan sore hari tertawa-tawa dan bicara bersama.

Dia menjanjikan Lyu takkan merasa takut meskipun telah kehilangan Astrea Familia.

Sungguh kebohongan baik.

Sungguh mimpi membahagiakan.

Lyu tersenyum.

Kilau air mata berkumpul di sudut matanya selagi tersenyum damai.

“Iya … kita bisa pulang sekarang …”

Kebohongannya menipu Lyu.

Waktu berbaring di batas hidup-mati, tenggelam dalam genangan darah di bawah tatapan kegelapan, dia tenggelam dalam mimpi indah.

Anak laki-laki bersama elf itu saling tersenyum.

“Bell …”

“Ya …”

“… bisa peluk aku?”

Di akhir paling akhir, dia akhirnya jujur. Akhirnya sanggup mengungkapkan perasaan untuk temannya, dan kebanggaan elfnya, juga hati yang dia sembunyikan lama sekali.

Bell awalnya kelihatan kaget, tetapi mengulur tangan gemetarnya ke Lyu. Lyu mengulur tangannya sendiri ke Bell dan tangan Bell menariknya ke pelukannya.

Dia hangat banget …

Lyu tersenyum ketika mereka berdoa dan memeluk satu sama lain.

Lyu menikmati kehangatannya dan membiarkan air mata mengalir di matanya.

Dunia betul-betul kejam.

Dari semua orang di dunia, Bell-lah orang yang dia harapkan untuk terus hidup, namun Dungeon menjadikannya rekan perjalanan ini. Hatinya hancur, harapannya habis dimakan monster itu. Dia tidak bisa lagi berjuang.

Dia tidak bisa lagi melepaskan kehangatan ini.

Dia tempelkan pipinya ke dada berdarah Bell. Dia bau besi. Dia melihat pemandangan salju putih bersih. Dia melihat mereka berdua berpelukan sementara salju mengubur mereka.

Seketika dia tarik wajahnya, lapangan bersalju indah menghilang dan yang tersisa hanyalah mereka berdua basah kuyup darah satu sama lain.

Aku tidak mampu berbuat apa-apa tetapi di momen-momen terakhir ini … begitu lembut.

Lyu tidak kuasa menahan perasaan itu.

Momen ini, Lyu lebih dekat dengan Bell dari semua orang.

Apa pun yang dikatakan semua orang, Lyu bisa mengatakan mereka dengan kepercayaan diri ini.

Sekarang, momen singkat ini, Bell bersama Lyu lebih terikat dekat dari siapa pun di dunia.

Lyu sangat senang, dan sangat sedih.

Sangat bahagia, dan sangat kesepian.

“Bell … aku pengen tidur, sebentar saja …”

Berangsur-angsur, dia menutup kelopak mata beratnya.

Apa Lyu mengucapkan selamat tinggal selamanya?

Ataukah seketika dia membuka mata, akankah dia masih di sini bersama kenyataan gelap nan dingin ini, kehangatan lenyap dari sampingnya?

Atau dia akan bertemu Bell sekali lagi, di pantai jauh seberang cahaya, di samping Alize dan yang lainnya?

“Ok … tidak lama lagi akan aku bangunkan.”

Suara Bell mengelus lembut telinga Lyu yang dicungkil bagian dagingnya.

Lyu menarik tangan Bell ke dadanya agar dia tak melupakan kehangatannya, dan tertidur seperti bayi.

ф

Lyu tidur.

Bell tersenyum sedikit selagi melihatnya tertidur.

Lyu membiarkan Bell membodohi dirinya.

Begini, bocah itu yakin rekannya takkan mimpi buruk.

Itulah yang Bell inginkan.

Anak laki-laki itu menginginkannya mimpi indah hingga semuanya berakhir.

Lyu sudah sangat menderita …

Sesuai dugaannya, Bell berbohong kepadanya.

Tapi bukan kebohongan baik. Berbanding terbalik, pengkhianatan mengerikan dengan motif egoisme sok benar sendiri.

Bell tidak menyerah kembali hidup-hidup.

Aku ingat raut wajahnya pas dia menceritakan segalanya …

Dia tidak melupakan ekspresi sakit yang telama lama dideritanya di wajah elf yang telah kehilangan rekan-rekannya.

Karenanya Bell lakukan.

“…!”

Kejang-kejang parahnya sudah mereda. Yang menggantikan adalah sakit bukan main.

Bell menyentuh luka perutnya yang dia bakar sampai menutup.

Percik-percik api menari di depan matanya.

Sakit. Sakit. Sakit.

Bell ingin menjerit, meratap, dan hancur menjadi ratusan keping.

Bell ingin meraung hingga seluruh energinya hilang.

Tapi kalau dia bisa merasakan sakit, maka dia bisa bergerak.

Seandainya tubuhnya menjerit-jerit akan mati, maka Bell punya energi yang dia perlukan untuk memegang teguh kehidupan.

Apabila hatinya bersikukuh dengan detak cepatnya bahwa dia lari dari kematian, maka dia punya sisa kekuatan untuk kabur.

Bell takkan menggunakan kekuatan untuk kabur dari kematian—dia akan gunakan untuk mengalahkan kematian.

“!!”

Dia mendengar instingnya berteriak. Dia abaikan.

Dia mendengar tubuhnya meneriakkan peringatan. Dia abaikan.

Dia mendengar hatinya mendengus kalau itu mustahil. Dia abaikan.

Segenap dirinya, setiap elemen yang membentuk manusia bernama Bell Cranell, tengah bertarung melawan keputusannya. Dia abaikan.

Dia mendengar jiwanya menangis menyuruhnya berdiri. Dia tegaskan.

“Aaaaaaaaaaaaaa…!!”

Dia berteriak selayaknya hewan.

Petualang itu menjadi binatang buas dan mengunyah pecahan kehidupan terakhir sehingga dia mampu berdiri.

Seketika cahaya melintas di depan matanya, yang tersisa dari rasionalitas manusianya mengingat sebuah cerita.

Cerita Belius sang Pengawal.

Pelindung elf itu adalah seorang kesatria menderita dan pantang menyerah yang dicintai seorang elf danau. Seorang martir yang dicintai hingga akhir, martir itu mati di lengan elf danau.

Bell memohon kepada pahlawan elf itu agar memberikannya kekuatan tuk melindungi hal penting baginya.

… aku tidak punya cahaya untuk dikonsentrasikan. Kemungkinan besar tersisa satu rapalan. Aku tidak bisa memanggil serangan heroik.

Namun hasrat untuk menjadi pahlawan ada di hatiku ini.

Dia membelai lembut rambut Lyu, senyumnya hilang.

Laki-laki itu berdiri sendirian.

ф

Juggernaut itu bergerak.

Setelah menyerah menembus jalan tempat Lyu dan Bell berada dari pintu masuknya, Juggernaut berkeliling di pintu keluar. Juggernaut punya indra terlampau ditajamkan. Kemampuan kekebalan ini adalah anugerah sang ibu, Dungeon, untuk memungkinkannya memusnahkan virus-virus asing. Dia dapat melacak cepat petualang di lantai sama dengannya. Inilah salah satu alasan perjamuan bencana terjadi cepat sebagaimana di lantai 27.

Di lantai 37 sini, dia tahu di mana Bell dan Lyu.

Alasannya memilih menunggu di Zona Binatang adalah karena dia tidak suka jalan-jalan lebih sempit dan tak ingin mengambil risiko mangsanya lolos.

Juggernaut—dia pun tahu bahwa Bell dan Lyu masih hidup.

Dia akan menghancurkan mereka ketika keluar dari jalan keluar berpikiran dia telah menghilang. Inilah rencana yang dibuatnya mengikuti insting pemburunya. Disertai kecepatan tidak sebanding ukuran tubuh besarnya, dia melesat ke ruangan besar yang dekat rute utama. Ada empat pintu masuk dalam ruangannya, dan dia berlengah-lengah di pintu masuk yang mengarah ke jalan pelarian mangsanya.

Dia masih merasakan suatu kehidupan di dalam. Dari posisinya, dia bisa mengirim sula menembus dinding menuju titik mereka berada, artinya dia bisa memaksa mereka keluar. Juggernaut menghembus napas panas dan mengintip ke bawah dengan mata merahnya.

“—Firebolt!”

Sekejap setelahnya, sungai api meletus dari kegelapan.

“!!”

Monster itu melompat mundur, sendi kiri terbaliknya berderit. Api listrik meleuts dari lorong dan mengukir jalur api berkobar di tengah ruangan.

Perlahan, anak laki-laki itu menyusuri jalan api ini.

Menelusuri jejak percikan api, rambut putihnya berdesir, sang petualang muncul.

Dia berhenti cukup hingga Juggernaut sampai bisa mencapainya sekali lompat. Kemudian dia meraung perang dan menerjang maju.

“…”

Di tengah sergapan, Juggernaut membeku.

Mangsanya mendongak dan tersenyum.

Sekilas tersenyum gelap.

Tubuhnya babak belur sekali sampai-sampai sukar mencari bagian tanpa luka, tengah tersenyum yang sepertinya senyumannya siap padam kapan saja.

Bayangan kematian membayangi anak bocah itu.

Dewa kematian menghampiri dan memberi hadiah kepadanya.

Dengan kata lain, akhir yang dijanjikan.

Kemenangan atau kekalahan tidak banyak berarti bagi mangsa di hadapan Juggernaut.

Walaupun dia, sang monster tidak melancarkan serangan terakhirnya, manusia ini akan—

“—OOOOOOO!!”

Namun itu tidak berarti.

Kendati anak itu ditakdirkan mati, Juggernaut itu akan membantainya dengan kekuatan penuhnya.

Sabit Pencabut Nyawa takkan mengambil nyawa mangsanya—cakar kehancurannya yang akan mengambil nyawanya.

Juggernaut akan mengerahkan segalanya melawan manusia ini.

Itulah tujuan utama Juggernaut yang kini telah terbebas dari Dungeon.

“… aku akan mengakhirimu.”

Namun anak laki-laki itu tidak pula menerima kematian dengan tangan terbuka.

“Aku akan kembali ke permukaan … bersama Nona Lyu …”

Andai dia tidak menang—sekiranya dia tidak kembali kepadanya—dia akan mati.

Jadi petualang itu harus menang. Dia tidak boleh kalah.

Dia acungkan pisau hitam legamnya, dadanya penuh perasaan tak tertutur.

Monster itu paham kata-kata maupun perasaannya.

Yang dipahami Juggernaut adalah kehendaknya.

Bell berniat membunuhnya. Dia akan mencoba mengalahkannya.

Dia akan mengubah Juggernaut menjadi api putih dan membakarnya sampai menjadi abu.

Dada monster itu gemetaran.

Monster malapetaka yang mekanis menyebar pembantaiannya ke manapun dia pergi sepantasnya tidak merasakan emosi itu.

Kesenangan.

Juggernaut berterima kasih telah menemui manusia ini.

Dia teramat tersentuh oleh fakta pejantan ini menawarakan dirinya sendiri.

“Ayo tuntaskan.”

Monster itu menyambut ucapannya dengan raungan senang yang membelah langit.

ф

Waktu Lyu terbangun,d ia tengah duduk dalam kegelapan.

Kegelapannya tidak asing.

Inilah kegelapan yang menyiksanya selama lima tahun.

Inilah batas antara hidup-mati tempatnya dihentikan.

Tidak ada orang di sampingnya. Orang itu hilang. Dia merasa itu menyedihkan.

Dia tidak tahu kenapa. Dia tidak ingat apa-apa. Namun tangan dinginnya sama sedihnya.

Mendadak, cahaya menembus kegelapan.

Dari balik cahaya, dia melihat rekan-rekan tak tergantikannya.

Astrea Familia.

Alize, Kaguya, Lyra, dan yang lainnya berdiri memunggungi Lyu.

Mau berteriak bagaimanapun, mereka takkan berbalik menghadapnya. Lyu tahu itu. Jurang dalam kegelapan yang memisahkan mereka di pantai cahaya nan jauh terlalu lebar.

Tiba-tiba, dia sadar bisa berjalan maju.

Dia bisa keluar kegelapan. Dia dapat berjalan ke sumber cahaya, ke tempat rekan-rekan yang sangat-sangat dirindukannya berada.

Suka cita memenuhi dirinya.

Tidak peduli sesering apa dia memanggil mereka atau sepahit apa dia menangis, mereka takkan menghadapnya. Tapi jika Lyu berjalan menuju mereka, mereka akan menyambutnya.

Awalnya mereka bakal marah. Kaguya akan memarahinya dan Lyra barangkali menjewernya. Maryu dan teman lain mungkin akan mendorongnya. Alize pasti akan menunjuk udara dan memberi khotbah setengah matang.

Kemudian, tentunya, mereka akan tersenyum.

Mereka akan saling berkumpul untuk menyambut kepulangannya dan memuji bagaimana dirinya melalui lima tahun ini.

Mereka akan merangkul bahunya dan mengelus kepalanya.

Keinginannya akhirnya dikabulkan.

Dosa-dosanya akan ditebus.

Dia akhirnya meninggal.

Lyu mulai berjalan menuju cahaya, mencari suaka.

Selangkah, dua langkah, tiga langkah.

Dia melewati batas kegelapan. Hanya sedikit lebih jauh lagi hingga dia sampai pantai jauh—

Tidak boleh.

Saat-saat itu, salah satu sosok yang belum pernah berbalik akhirnya menunjukkan wajahnya.

“…”
Rambut merahnya berdesir dan mata hijaunya menusuk Lyu.

Lyu mencari-cari cahaya, namun kini kakinya berhenti.

Leon, kau tidak boleh datang ke sini. Takkan kami biarkan.

Alisnya terangkat ketika ditolak mentah-mentah.

Bibir yang senantiasa menyangkalnya.

Alize bicara bak berusaha membuat Lyu menyadari sesuatu.

Kau tidak boleh melarikan diri.

Tatapan Alize melewati Lyu menuju balik kegelapan.

Raungan mengerikan monster itu menerpa punggung Lyu. Raungan keputusasaan sama yang menakutinya, merampas topeng anginnya, dan mengubahnya menjadi elf buruk.

Tetapi dalam raungan merinding itu ada suara perlawanan—teriakan perang berani bagaikan amukan api.

Jika kau ke sini, kau akan menyesalinya!

Suara kuat Alize menggetarkan tangan Lyu.

Akhirnya dia mampu datang ke cahaya yang dirindu-rindukannya, tetapi sekarang dia mulai mempertanyakan keputusannya.

Hati ringkainya yang merindukan teman-temannya bersaing melawan hasrat gila tuk mencari seruan tempur nyala api itu.

“Aku tidak bisa melakukannya lagi …”

Suara Lyu tenang sekarang. Demi menghentikan pertarungan dalam hatinya, menyerah akan segalanya, dia bicara dengan suara tulus hatinya.

“Aku hanya tidak bisa, Alize … tidak bisa bertarung lagi. Tidak kuat melawan masa lalu.”

Juggernaut. Awal semuanya, sumber segala kemalangan. Simbol masa lalu yang menyiksa Lyu. Lyu tahu kalau dia kembali ke kegelapan, kenyataan pahit menunggunya. Menakutinya. Dia dilumpuhkan ketakutan masa lalu.

Lyu mengembik menyedihkan dan menundukkan kepala.

Pembohong.

Tapi jawaban Alize adalah sepatah kata.

“…”

Lyu membuka mata biru langitnya dan melihat ke atas. Wajah teman-temannya ada di depannya, diikuti tatapan tegas yang menembusnya.

Kau mengaku tidak ingin kehilangan keadilan.

Alize tidak menjelaskan apa-apa. Dia tidak menegur Lyu. Dia tidak membimbingnya.

Dia semata-mata menyuguhkannya kebenaran.

Kata-kata Alize mengguncang Lyu hingga diri terdalamnya, mengirim riak ke hatinya.

Keadilan masih hidup dalam dirimu!

Apa itu keadilan? Apa itu benar?

Lyu tidak pernah tahu. Dia tidak pernah bisa menemukan jawaban.

Dia cuma tahu Astrea memberitahuunya keadilan. Dia asumsikan telah kehilangan semua hak akan keadilan.

Namun Bell memberitahunya sesuatu berbeda.

Bell bilang dia masih punya keadilan dalam dirinya.

Sekarang Alize pun memastikan keadilan Lyu.

Perkataan anak laki-laki dan gadis terhubung di benaknya membuat Lyu akhirnya paham artinya.

Keadilanmu—harapanmu belum mati!

Memang benar.

Keadilan yang Lyu cari-cari smeenjak hari rekan-rekannya mati adalah harapan.

Ketika Syr menyelamatkannya, Lyu putuskan hidup sehingga keadilan rekan-rekannya terpenuhi. Dia ingin percaya apa yang diwariskan Astrea Familia kepadanya akan terhubung harapan.

Dia ingin percaya itu akan membawa ketertiban dan kedamaian pada Orario serta senyuman kepada wajah-wajah penduduknya. Lyu telah mengejar visi itu sejak hari mereka mati.

Sesuai perkataan Bell:

Lyu membawakan mereka semua bantuan, suaka, dan harapan.

Perbuatan Lyu membimbing harapan pada seseoranag.

Itulah yang Bell katakan selama ini.

Tiada hal semacam keadilan universal.

Namun inilah keadilan Lyu.

Harapan yang menerangi masa depan, bukan masa lalu.

Akhirnya, akhirnya, Lyu sadar maksud keadilan dalam dirinya.

Saat menyadarinya, anggota-anggota lain Astrea Familia menoleh menghadapnya, laksana menambah perubahan ke hatinya.

Pergilah.

Di sebelah Alize, Kaguya mendorong Lyu menuju kegelapan.

Jangan lari!

Lyra tersenyum mengejek, tangannya digantung di belakang kepalanya.

Berusahalah yang terbaik.

Hajar mereka!

Setiap anggota familia mereka punya kata-kata penyemangat sendiri buat Lyu.

Tidak sanggup menahan kata-kata dan tatapan ramah mereka, Lyu mengerutkan kening dan balas berteriak kepada mereka.

“Aku … aku sudah lama ingin meminta maaf! Aku mau meminta maaf sama kalian semua!”

Pada akhirnya dia mengucapkan kata-kata yang membebani pikirannya.

Inilah keinginan sejati yang dia simpan sejak hari dia kehilangan semuanya.

“Aku berdiri diam dan melihat kalian mati, tidak berbuat apa-apa. Aku ingin kalian menghakimiku! Aku ingin kalian menyalahkanku dan mengutukku dan menghukumku!”

Di tepi seberang cahaya, baik Kaguya atau anggota lain tidak mengatakan apa-apa.

Mereka semata-mata menatap ramah dirinya seolah bilang, Tapi kau tahu itu!

Iya, Lyu tahu.

Dia tahu mereka takkan menyalahkannya.

Hanya Lyu saja yang tidak kuasa memaafkan dirinya sendiri. Tidak sanggup menerima masa lalunya.

Menganggapnya kejahatan, dia mencoba menghukum dirinya sendiri agar berhenti menderita.

Tinju Lyu mengendur dan terkulai lemas di sebelahnya.

Leon!

Suara gadis yang amat disayanginya terdengar keras dan jelas.

Apa arti keadilan bagimu?

Tenggorokan Lyu gemetaran.

Tanpa sadar, dia menangis sejadi-jadinya.

Mati-matian menahan ratapannya, dia menjawab dengan keinginan paling jujurnya.

“Aku ingin … menyelamatkannya …”

Bukan cahaya lembut di pantai seberang, melainkan kedalaman kegelapan letak kekejaman menunggunya.

Bukan di sisi Alize dan teman-temannya, namun di sisi bocah yang sekarang hidup.

“Aku ingin kembali ke bar bersamanya … ke Syr berada!”

Bukan ke masa lalu yang ada familianya, namun ke masa depan.

Alize tersenyum.

Senyumnya bagaikan matahari yang memberitahunya Lyu sudah berbuat hal baik.

Leon, jangan lari! Jangan kau lepaskan!

Lyu tersenyum.

Air mata membasahi pipinya.

Tiada kesedihan dalam isak tangisnya, dan tak ada kegelapan.

Lyu memunggungi kawan-kawannya dan menuju kegelapan.

Kita akan bertemu di lain hari, Leon.

Tutur mereka menghantar pelan dirinya ke perjalanannya.

Lyu akan pergi, dan suatu hari kelak akan kembali.

Aku menyayangimu, teman tersayangku.

ф

“…!!”

Lyu membuka matanya.

Sensasi pertama yang dia rasakan adalah rasa sakit membara serta tekad yang menghancurkan letihnya. Kemudian kesepian karena ditinggal sendirian. Kehangatan yang menyelimutinya telah hilang.

Bell menghilang. Menggantikannya, dalam kegelapan di ujung jalan, adalah lagu pertempuran sengit.

Bell tidak menyerah sedikit pun.

Dia memikirkan Lyu dan berusaha memenuhi harapannya.

Dia tidak ingin keadilannya hilang.

“Bell …!”

Lyu mengumpulkan kekuatannya dan mengepalkan tangan.

Dia tahu apa yang harus dilakukan.

Penglihatan itu hilang. Halusinasinya telah hilang. Alize dan rekan-rekannya tidak ditemukan di mana-mana. Barangkali semua hal yang dilihatnya di tepian cahaya nan jauh tidak lebih dari delusi yang memuaskan keinginannya saja.

Namun, mereka mengajarkannya sesuatu.

Keadilan hidup dalam dirinya.

Tidak boleh dia buang. Dia harus mencari harapan.

Lyu menaruh tangan gemetarnya ke tanah dan bangkit berdiri.

“Aaaaaa …!!”

Dalam genangan darah, Lyu berteriak bagaikan baru lahir.

Dia putus dirinya yang meringkuk dalam bayang-bayang mendiang rekan-rekannya, dipenjara masa lalunya, dan melahirkan diri baru.

Dia harus menghadapinya.

Dia harus menghadapi masa lalu yang lama sekali dia sembunyikan.

Dia harus bertarung.

Dia harus melawan simbol masa lalu yang dia takuti bertahun-tahun ini.

Juggernaut, monster malapetaka, perwujudan masa lalunya.

Kalau dia menginginkan masa depan, dia harus mengatasi masa lalu itu.

Seandainya dia bertekad tak kehilangan siapa-siapa, dan untuk memenuhi keadilan serta harapannya, maka dia tidak punya pilihan lain.

“Aaaaaaa!!”

Dia berdiri.

Dia mengambil senjata dari genangan darah—pedang kerangka spartoi—lalu tusuk ke tanah.

Menekan rasa sakitnya, dia melangkah maju. Langkah itu melahirkan langkah lain, langkah lain. Dia mengingat kekuatan untuk bergerak maju.

Mengabaikan tubuh menjeritnya, Lyu menapaki jalan gelap setapak.

Dia berjalan menuju lagu pertempuran.

Menuju tempat di mana raungan monster dan seruan perang seorang manusia bergema.

Di bawah pendar yang menerangi kegelapan, Lyu melempar dirinya menuju tempat malapetaka dan kekejaman menunggu.

“OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!”

Dari balik jalan itu, pertarungan sampai mati tengah terjadi.

Di tengah-tengah ruangan, monster dan manusia berbentrokan, berniat membunuh satu sama lain. Bell sedang bersilangan pedang dengan Juggernaut. Dari mana asalnya kekuatan itu? Seakan-akan Bell benar-benar mencurahkan sisa terakhir nyawanya ke pertarungan mereka.

Dia menuntun monster itu ke adu kekuatan murni.

Bersama pisau putih berkilauan di tangan kanannya, dia menangkis setiap tombak terbalik yang monster itu tembakkan kepadanya selagi memantul-mantul tanpa henti dari dinding, lantai, dan langit-langit.

Sula musuh lebih lamban dari iguaçu. Tentu saja, berarti Bell bisa menangkalnya. Dia sudah menghadapi badai murderous swallow sebelumnya, dan kini Hakugen menjatuhkan tembakan sula jahat tanpa melewatkan satu pun.

Sewaktu Juggernaut yang meraung penuh kebencian, beralih ke pertempuran jarak dekat, Bell berganti ke Pisau Hestia. Senjata kecepatan tinggi bermata ganda. Bergantian antara bilah ungu tua serta bilah putih berkilau di tangan kanan, Bell sukses menghentikan strategi serang-kabur. Dia bahkan sempat-sempatnya menebas ekor dan memotong beberapa sisik lizardman.

Ada pola teratur pada lompatan musuhnya karena ia tak mampu lagi bergerak bebas penuh. Dengan insting petualangnya, Bell mencatat hubungan antara sudut pendaratan dan waktu yang dibutuhkan untuk menyiapkan lompatan berikutnya, dengan begitu dia berhasil menahan serangan barbarnya.

Bertekad menggunakan ketidakunggulan awal Juggernaut sebagai dasar kemenagan kali ini, Bell meraung dan melancarkan serangan balik.

Pisau dan cakar bersinar biru keunguan, menggambar lengkungan tak terhitung di udara. Percikan-percikan api berputaran di tengah dentingan memekakkan telinga. Tarian melingkar cahaya yang berbenturan keras.

Bagi Lyu, kelihatan seperti secercah kehidupan murni saling dilemparkan satu sama lain.

“…! Nona Lyu?!”

Bell telah menyadari kehadirannya.

Di saat yang sama, Juggernaut berputar dan menatap tepat dirinya.

Dada Lyu gentar. Dia tidak mampu sembunyikan. Traumanya berderit takut.

Tapi sekarang ada sesuatu yang lebih menakutinya dari luka masa lalu yang terbuka lagi.

Yaitu kemungkinan dirinya sekali lagi kehilangan sesuatu tak tergantikan.

Selama waktu terkonsentrasi sejenak, hatinya tenang.

Keheningan sempurna diikuti angin badai menggelora.

Inilah angin tekad yang mendorongnya maju.

“…!!”

Lyu condong maju dan mulai berlari.

Dia menghentak tanah, menari di udara, kemudian mendaratkan pukulan hebat pada Juggernaut tercengang.

Dia tusukkan bilah tulang putih ke monster yang mengangkat lengan kanannya, di atas baju pelindungnya.

“Bell! Aku … tidak bisa menjadi elf danau.”

Disingkirkan lengan musuhnya, Lyu berguling-guling ke tanah dan berteriak kepada Bell kebingungan. Karena Bell suka cerita heroik, Lyu yakin Bell familier dengan yang Lyu sebutkan. Para elf sangat menghormati ceritanya. Para elf muda memimpikan cerita itu. Namun Lyu menolaknya.

Bell menatapnya.

“Aku takkan biarkan orang-orang tersayangku melindungi aku yang duduk manis tidak melakukan apa-apa! Takkan kubiarkan kau berjalan ke rahang kematian sendirian!”

Bell tersenyum sesaat perkataan kuat Lyu mencapainya. Dia balas mengangguk dengan kepala berdarah-darah dan terluka. Hieroglif di Pisau Ilahi yang digenggam tangannya mendenyutkan cahaya, layaknya terbakar semangat baru untuk bertarung.

Berdiri bahu-membahu, manusia dan sang elf meluncurkan serangan balik mereka.

“AAAAAA!!”

Juggernaut meliar murka.

Dia kelewat sebal pertarungan sampai matinya melawan Bell dicampuri.

Jam terus berdetak bagi monster yang telah menggabungkan banyak sekali kaumnya dan kini mengenakan baju zirah kegigihan tak natural.

 Dia telah memutuskan untuk mengerahkan setiap detik sisa hidupnya untuk melawan jantan satu ini. Dia sungguh-sungguh harus membunuh bocah berambut putih.

Makhluk tak berharga ini mengganggu alasan keberadaannya meskipun hanya pengalih belaka. Dalam amarah mendadaknya, Juggernaut bersiap membasmi serangga pengganggu itu.

“!!”

“!”

Namun Lyu mengelak. Bukan itu saja; dia melawan balik.

Gerakannya tidak bisa dibandingkan beberapa saat sebelumnya. Sulit percaya gerakannya dari petualang sama.

Darah masih mengalir dari lengan kanan dan kaki kirinya, dan memang dari seluruh tubuhnya. Lyu terluka dari kepala sampai kaki tetapi masih berani menghadapi masa lalunya, traumanya. Angin Badai kembali ke diri dulunya yang luar biasa. Lebih dari itu, dia siap mengatasi batasan masa lalunya.

Kecantikan yang dia lawan membedakannya dari pengacau yang sejauh ini Juggernaut bantai.

“Aku akan mengakhirimu!!”

Dia meneriakkan kata-kata sama sebagaimana anak laki-laki rambut putih dengan tatapan sama dan tekad sama.

Juggernaut yang mengenali ini sebelumnya. Seperti si bocah, elf itu layak diburu. Layak menyerahkan jiwa dan raganya ke Juggernaut untuk dibantai.

Maka dari itu, dia akan sama-sama membunuh mereka berdua.

Juggernaut menyeru tempur menakutkan dan mengabdikan setiap titik keberadaannya untuk membunuh mereka.

“Ahhh …!”

Serangan yang dipercepat terdiri dari serangkaian lompatan serta badai sula mendesak Bell hingga batas.

Lima menit berlalu sejak pertempuran dimulai. Tetapi dalam kondisi penuh luka-luka mereka, tak mengejutkan seumpama Bell atau Lyu hilang keseimbangan mereka kapan pun juga.

Tubuh mereka jauh di luar kapasitas. Tatkala api kehidupan padam, perjalanan ‘kan berakhir. Biarpun Juggernaut membayar transformasinya ke chimera melalui penolakan berbagai bagian tubuh, kekuatan fisik tidak standar monster ini melampaui para petualang. Saat permainan tunggu-tungguan berakhir, Juggernaut akan menghancurkan mereka.

Sewaktu Bell bertarung sendirian, dia terus-menerus mencari peluang tuk meluncurkan serangan mematikannya. Juggernaut, akan tetapi, sepertinya menyadari hal ini. Buktinya selagi Juggernaut menggunakan cakarnya, sula kini menjadi senjata utama.

Di tahap pertempuran sekarang, tidak ada yang namanya serangan pramungkas.

Langit hutan jauh. Bintang tak terhingga bertahktakan langit malam abadi.”

Melawan latar ini, Lyu mulai merapal.

“!”

“!”

Baik Bell beserta Juggernaut punya reaksi sama pada elf yang sedang mulai merapal selagi berlarian dan menghunus pedangnya.

Rapalan simultan.

Sambil menyerang, bergerak, menghindar, dan merapal di waktu sama, pengguna memanggil momen-momen penting untuk melangsungkan serangan mematikan.

Indahkan suara orang bodoh ini, sekali lagi hibahkan bintang api perlindungan ilahi.”

Juga rapalan penyesalan.

Lyu merapalkan mantra sama kala membiarkan Alize dan teman-teman melindunginya tanpa balas melindunginya. Jatuh ke keputusasaan dan teror, dia membeku, hanya bisa menggerakkan bibirnya saja.

Hibahkan cahaya belas kasih kepada yang meninggalkanmu.”

Kini dia merapalkan mantra menjijikkan itu sembari bertarung.

Dia bertekad tak kehilangan hal yang paling dia pedulikan. Kali ini, dia tak cuma dilindungi, dia juga akan balas melindungi.

“…!”

Bell merasakan niat di balik tindakannya, sekaligus arti strategi mereka.

Penghapusan cangkang Juggernaut.

Cangkang yang masih tersisa di sisi kiri tubuhnya diberkahi tidak cuma menangkal sihir, tapi tubuh batu obsidian soldier yang digabungkan. Luminous Wind Lyu tidak kuat memberi pukulan mematikan selama musuh mereka memakai baju zirah berbatu yang sanggup mengurangi kekuatan sihir. Dia pun tidak punya kekuatan mental tersisa untuk melangsungkan dua serangan.

“…!”

Juggernaut menganggap kecepatan berbahaya rapalan Lyu sebagai ancaman. Menimbang keadaan zirahnya yang terganggu, ada kemungkinan tipis serangannya tepat sasaran. Ada kemungkinan kecil akan membuka pintu kekalahan. Oleh sebabnya Juggernaut bertekad menghancurkan Lyu duluan, sebelum sihirnya membesar hingga kekuatan penuh.

“—Firebolt!

Bell menembak—tidak ke monster, tapi ke pisau hitamnya sendiri.

“!”

Api listrik berkumpul di bilahnya, diikuti suara lonceng. Dia bersiap mengaktifkan Argo Vesta. Dia memanggil sisa kekuatan untuk merapal terakhir kali.

Juggernaut tidak mampu bereaksi terhadap tanda-tanda dua serangan yang sama-sama telah mengambil lengan kanannya. Tidak mungkin dia mengabaikan serangan mematikan yang nyaris membunuhnya.

Inilah tujuan Bell.

Di depan monster itu ada seorang manusia yang melakukan rapalan simultan; di belakangnya ada seorang elf yang merapal sambil berlari. Yang di depan jelas-jelas pengecoh, namun Juggernaut tidak dapat abaikan. Perhatiannya terpecah, Juggernaut berhenti bergerak sedetik.

Datanglah, angin pengembara, sesama pengelana.”

Di belakang monster, Lyu merapal mantranya.

Di depannya, Bell menyerbu maju bersama pisau menyalanya.

Rencana mereka adalah melepaskan cangkang Juggernaut dan ledakkan dengan sihir.

Monster malapetaka bereaksi dengan membanting lengan kanannya ke tanah.

“…!!”

Sula meletus dari bawah—namun tidak cuma dari bawah. Sulanya membentuk lingkaran berukuran sepuluh meter di sekitar para petualang.

“Sialan!!”

“Ahh!”

Dengan mengirim tombak tulang ke bawah tanah, monster itu telah berhasil menyerang Lyu dan Bell di waktu berbarengan. Gunung pedang naik dengan monster di tengah-tengahnya, melukai kedua petualang. Bahu Lyu robek dan daging di paha Bell dicungkil. Sekali serang, Juggernaut telah mengikis habis nyawa mereka. Bermaksud menghabisi musuhnya dengan menyate mereka ke kumpulan sula.

Lintasi langit dan berlarilah melalui alam liar, lebih cepat dari apa pun.”

Namun Lyu tidak berhenti merapal. Dengan semangat tak tergoyahkan, dia mempertahankan kendali sihirnya dan mengambil kesempatan kemenangan.

Karena Lyu tidak berhenti, Bell juga tidak berhenti.

Walaupun darah tumpah dari mulutnya, dia menyipitkan mata dan tangan kanannya menghantam tanah.

Argo Vesta!!

Dia telah mengisi daya selama tujuh detik.

Serangan mematikannya tidak ditujukan kepada sang Juggernaut, namun ke sula yang mengebor ke bumi.

“?!”

Tanahnya meledak dengan raung gemuruh sedangkan gemanya mengguncang dunia di depan mata Juggernaut. Api bawah tanah menghancurkan setiap tombak tulang menjadi debu. Suplai sulanya telah terputus.

Namun itu belum semuanya. Kekuatan dan dampak api sakral ditransmisikan melalui sula ke lengan kanan Juggernaut. Anggota badan buatan tubuh-tubuh banyak monster hancur.

“?!”

Juggernaut itu menjerit seketika lengan kanannya meledak dari dalam. Ketika Argo Vesta meretakkan sepanjang lantai dan seluruh ruangan bergetar, monsternya tersandung. Sekilas, penjagaannya hilang.

Bell tidak membiarkan kesempatannya berlalu begitu saja. Dia menyerbu.

Tanpa kekuatan tersisa untuk mencengkeram senjatanya, Pisau Hestia berputar ke udara. Gantinya dia kepalkan tangan, berniat dia hantamkan ke dada monster tersebut.

“Sialan—!”

Tetapi dia terlambat.

Menggunakan Argonaut untuk membawa rapalan simultan terakhirnya telah merampok dirinya dari sisa kekuatan mental dan fisik. Meskipun dia menyumpah lutut robohnya dan memberanikan diri untuk mendesak dekat, ancamannya tiada banding buat monster yang spesialisasinya kelincahan. Di momen-momen terakhir, batasan tubuh fisik Bell mengkhianatinya.

Setelah bangkit kembali dari dampak yang menimpanya, Juggernaut memalingkan mata merahnya ke Bell.

Dia menduga tidak ada masalah mencegat kelinci bonyok itu yang tengah terbang menuju dadanya. Dia angkat lengan kiri, menghunus keenam cakar biru keunguan.

Diangkat ke suatu sudut di atas kepalanya, cakar kehancuran tanpa salah lagi hendak menghabisi Bell dengan menusuknya. Tidak salah lagi akan mewarnai merah ke dunia waktu menembus dada Bell sampai punggungnya. Sesuai bayangan Bell. Sebagaimana serangan yang mencuri teman Lyu lima tahun lalu.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!”

Tidak bisa kembali ke kuda-kudanya karena diblok serangan sula sekaligus dampak serangan Bell, Lyu berteriak.

Untuk mengatasi tragedi yang membekap di matanya, Lyu menjadi angin dan terbang melintasi angkasa. Dia menghentak kakinya dari tanah kemudian menembus udara bagaikan kilat cahaya melengkung menuju monster itu. Mendekat dari samping, dia membumbung langsung ke lengan kiri terangkat Juggernaut.

“?!”

Futaba telah terhunus, dia gunakan dua pedang pendeknya untuk membelah cakar kehancuran. Bilah-bilahnya mengiris pergelangan tangan dan persedian jari Juggernaut.

Waktu berhenti bagi Juggernaut tatkala menyadari Lyu barusan mencuri senjata paling ampuhnya, cakar-cakar itu terlampau tajam hingga bisa salah anggap sebagai taring.

Jika aku melakukan hal sama hari itu—

Dalam himpunan waktu terhenti, kenangan masa lalu membesit di benak Lyu.

Sekali lagi dia melihat Alize yang punggungnya tertusuk cakar yang dia sambut untuk melindungi Lyu.

Andaikan Lyu berdiri.

Andaikata dia bertarung bersebelahan mereka seperti sekarang.

—dia takkan dikalahkan!

Penyesalan dan rasa sakit membakar tubuhnya begitu hatinya menjerit hingga merobek dadanya.

Dia tahu takkan sanggup mengembalikan masa lalu.

Tetap saja, dia mengingat kembali waktu-waktu itu pas diselamatkan dan berteriak dengan hati penuh ratusan emosi berbeda.

Semua ini terjadi sesaat melayang melewati Juggernaut kaget.

“OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!”

Detik berikutnya, Bell meluncur tepat ke Juggernaut.

Dukungan Lyu memungkinkan Bell melakukan lompatan terakhir menuju dada monster.

Kerangka besar itu membeku ketika jarak antara Bell dan Juggernaut lenyap dan tinju kanan si bocah menghantam sisi kanannya.

FIIIREBOOOOOOOOOOOOOOOOOOLT!

Teriakannya datang sesaat setelahnya. Swift-Strike Magic meledak ke tubuhnya.

Cuma ada satu tembakan.

Tapi satu tembakan saja cukup.

Ampas terakhir sihir Bell mengalir jelas ke tubuh Juggernaut yang berpertahanan buruk, kejam meledakkannya dari dalam.

“?!”

Cangkang tersisa di sisi kirinya terbang dari tubuhnya sewaktu api listrik meledak. Baju besi obsidian pun hancur berkeping-keping ke tanah dalam pusaran bunga api.

Satu Firebolt lemah sama sekali tidak kuat menjatuhkan Juggernaut. Tanpa batu sihir untuk dihancurkan, monster uniknya tetap berdiri. Biar begitu, sosok besarnya betul-betul terbuka dan tanpa zirah.

“—lebih cepat dari apa pun.”

Rapalan elf itu terdengar, melodi angin nan indah.

Menurut Juggernaut, Lyu berada di kanannya. Sesudah mencuri cakarnya, dia kini berada di bawah dengan kedua kaki ditekan ke tanah.

Dia ulurkan tangan kanannya ke Juggernaut membeku dan bersiap-siap melepaskan semburan sihir.

Karuniakan cahaya debu bintang dan serang musuhku!”

Inilah baris terakhir, baris yang mengumumkan penyelesaian mantranya.

Bell telah terlempar ke belakang oleh serangannya sendiri. Keheranan memenuhi mata merah monster tersebut.

Lyu menembak.

Luminous Wind!

Sihirnya diaktifkan.

Bola cahaya besar diselimuti angin hijau mewujud.

47 jumlahnya2.

Serangan sihir yang Lyu tuangkan setiap tetes kekuatan mentalnya telah dimulai.

“!!”

Aliran bola cahaya terbang menuju monster itu.

Tidak ada jalan keluar dari badai kehancuran ini.

Tetapi Juggernaut berhasil melarikan diri.

“Apa?!”

Bell menatap tak percaya.

Monsternya melompat kuat sekali sampai-sampai kelihatannya lutut kanannya akan hancur begitu ditekuk. Bola-bola cahaya menelan ekor dan meledakkan kaki kanannya dari tulang kering sampai bawah, tetapi dia tetap terbang ke udara.

Sesudah kehilangan target mereka, badai bola—bola bersinar menerpa Bell selagi dia menjerit frustasi dan menabrak dinding ruangan.

Monster itu telah menghindar dari serangan mematikan Lyu.

Bell meringis begitu gema mengguncang udara. Tapi Lyu tidak.

“Aku tahu kecepatanmu lebih dari semua orang di dunia.”

Dia simpan sepuluh dari 47 bola di sisinya.

Dia memprediksi ini.

Dia mengira monster malapetaka boleh jadi bahkan menghindari sihir terkuat yang dilepaskan di momen-momen tepat.

Bahkan dengan pengorbanan teman dekatnya Lyu masih tak dapat sepenuhnya mengalahkan Juggernaut pendahulu. Dia melihat situasi terkini dengan realisme kepala dingin dan seratus persen mengantisipasi kemampaun monster yang menghindari serangannya.

Dari posisinya di dinding jauh ruangan, Juggernaut menatap Bell juga sepuluh bola bersinar di bawahnya.

Sepuluh.

Itu nomor spesial bagi Lyu.

Nomor tidak tergantikan rekan-rekan tempur tidak tergantikan yang telah hilang darinya.

Bola-bola ini, lebih besar dari semua bola yang dibuatnya, melayang di sekitar punggungnya.

“—ayo.”

Demikian, dia berlari maju.

“?!”

Dia tidak menembak bola-bola yang dipegangnya sebagai cadangan melainkan menarik maju mereka bersamanya ke Juggernaut.

Ini takkan menjadi serangan jarak jauh atau menengah.

Tepat sebelum Bell menggunakan Argo Vesta di lantai 27, monsternya melompat ke udara. Apabila Bell tak menggunakan Syal Goliath untuk menariknya mundur, serangan Bell takkan sampai sasaran. Begitu pula seumpama Lyu tak melepaskan serangannya dari jarak sangat dekat, Juggernaut takkan dihancurkan.

Lyu mengetahuinya dari pertarungan berulang melawan Juggernaut dan dia memilih serangan jarak nol.”

Kendatipun dia tidak mampu berakselerasi secepat yang diinginkannya dikarenakan sula yang melukai pahanya, dia melompat sambil berteriak.

“Noin, Neze!”

Seolah-olah menanggapi namanya, dua bola bersinar itu meledak ke sepatu bot Lyu.

“Hah?!”

Suara cahaya menyelinap ke telinga Bell seketika Lyu berakselerasi meledak cepat. Bola cahaya yang terbungkus angin memberi Lyu momentum maha besar untuk maju. Lyu menjadi Angin Badai yang membelah udara terlampau cepat sampai-sampai membuat Bell dan Juggernaut terheran-heran kebingungan. Seakan-akan dia mulai dari dua cahaya, dia meluncur langsung ke arah sang monster.

“?!”

Juggernaut buru-buru mendorong lengan kanannya yang sekarang kehilangan separuh bagian bawahnya, ke elf terbang.

Tembakan tombak tulang meledak dari antara lengan dan tubuhnya.

“Asta, Lyana!”

Lyu sekali lagi meneriakkan nama teman-temannya dan menembak maju dua bola cahaya besar. Salah satunya dilepaskan dari sisinya dan mendarat di lengan kirinya yang dia pegang dekat, membuatnya berbelok di tengah udara.

“?!”

Lyu berbelok di sudut yang nyaris tepat, mengelak hujan sula di waktu-waktu kritis.

Segera, begitu bola bercahaya meledak di telapak kaki sepatu kanannya, dan sekali lagi terbang ke depan.

Lengkungan yang dia ukir di udara selayaknya sambaran petir.

Saat jarak antara Lyu dan Juggernaut hampir seketika menghilang, kaki kiri monsternya menghentak dinding berusaha melarikan diri.

“Tidak mungkin!!”

Lyu mengikuti.

Mengabaikan angin kencang dan hukum kelembaman, Lyu putar tubuh berderit dengan kekuatan tekad murni, mendarat di dinding posisi monster itu sebelumnya, dan dia terbang lagi.

Tatapan Juggernaut goyah ketika Lyu terbang menderu menujunya.

Lyu pertama kali segininya menggunakan sihir bergerak di udara. Lompatan kecepatan tingginya mengalahkan Juggernaut yang terheran-heran di permainanya sendiri.

Tentu saja strategi sembrono Lyu untuk mengubah sihirnya ke kekuatan pembakar bukannya tak ada konsekuensi. Hak sepatunya terkelupas, memperlihatkan telapak kakinya yang merah menyala. Lengan kirinya yang meledakkan bola demi mengubah arah juga retak-retak.

Untungnya tubuhnya tidak hancur.

Mungkin memerlukan seluruh kemampuan yang dimilikinya untuk menahan kekuatan jahatnya, tapi dia takkan membiarkan dirinya mati hingga membunuh monster itu.

Dia melempar dirinya dengan sihir sendiri, membuat dagingnya berasap dan kulitnya terbakar, namun penerbangan elf berlanjut.

—teman-teman, berikan aku kekuatan.

Bersama-sama familianya, dia akan menembak musuh mereka.

“OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!”

Memahami benar niat Lyu, sang penghancur memperdengarkan alarm menggelegar.

Memerhatikan angin, dia menembakkan sisa-sisa sulanya.

Setelah kehilangan banyak mobilitas, dia berusaha habis-habisan mencegah elf mendekat.

“Celty, Iska, Maryu!”

Ibaratnya mereka membantu, tiga bola cahaya yang namanya dipanggil mengalihkan Lyu secara diagonal dan menghancurkan sula yang cepat menujunya.

Kala Lyu terbang di udara diterpa tekanan angin kuat, dia melihat wajah-wajah rekan-rekannya dalam perang.

Sepuluh saudari keadilannya terbang di samping, meninggikan suara mereka bersamanya dengan berteriak perang.

Itu halusinasi. Delusi sentimental belaka.

Khayalan menyesuaikan keinginannya.

Lyu tahu itu.

Lantas dia ubah penglihatannya menjadi kekuatan yang mendorongnya maju.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!”

Raungan elf mengguncang udara.

Anehnya, inilah pertempuran sengit antara dua lawan tanpa sayap.

Seolah tertarik menghadap atas oleh pemandangan yang berlangsung layaknya debu bintang saling bersilangan di langit malam, Bell bangkit berdiri. Matanya membelalak, dia seperti hewan yang hanya dapat menatap bintang-bintang langit.

Dia melihat:

Jejak elf yang menari-nari di udara dipandu sepuluh bola cahaya.

Jubah panjang berkibar-kibarnya sebagaimana sayap membentang lebar, sungguh penglihatan sayap keadilan.

Pedangnya adalah si gadis sendiri yang berusaha mengalahkan monster.

Akhirnya, gadis ini atas nama Astrea, dewi keadilan, diukir di punggungnya mencapai monster malapetaka.

“AAAAAAAAAAAAAA?!”

Anehnya, semua ini terjadi di tengah udara pusat ruangan

Tatkala monsternya mengangkat lengan kanan bertulang untuk mencegat pengejaran yang tak memberikan celah keluar, Lyu melepaskan salah satu dari tiga sisa bola cahaya.

“Kaguya!”

Bagaikan menanggapi teriakan rekan seperjuangan, bolanya berlari kencang seperti pemain anggar yang dilempar angin cepat.

Bolanya menghancurkan bagian terakhir si monster, senjata terakhir.

“…”

Dampak ledakannya membuat bagian tubuh monster berputar-putar di angkasa.

Lyu melesat terlampau dekat dengannya lalu menyusul, berputar di atas kepalanya. Begitu momentum kuat Lyu hilang … tubuhnya berputar pelan, sebagaimana waktu telah dipotong dari sepetak udara itu.

Kakinya direntangkan ke langit, kepalanya mengarah ke kanan.

Juggernaut tepat di bawah mata Lyu memutar tubuh besarnya agar melihat Lyu di atas.

“Lyra.”

Dia memanggil lirih bola bercahaya itu dan dia menghampiri Lyu yang mulai jatuh. Seperti halnya kakak perempuan yang mendorongnya maju sembari tersenyum.

Air mata berkumpul di mata Lyu dan saat berikutnya dampaknya mengenai kaki Lyu. Lyu menjadi bintang jatuh ke bawah.

Dan terakhir:

“Alize.”

Bola cahaya terakhir terbang ke telapak tangan Lyu.

Dia menginginkan penghakiman.

Dia menginginkan penebusan.

Dia menginginkan kematian dan bergabung bersama teman-temannya.

Dia takut melampaui masa lalunya.

Dia takut melupakan masa lalunya.

Kalau bisa, dia ‘kan mengambil kembali masa lalunya dan membenarkannya.

Namun kini.

Sekarang dia menginginkan masa depan.

Karenanya—

Sosok besar monster itu makin dekat. Dia kehilangan kedua lengannya, tapi mata merahnya masih menatap linglung.

Lyu sama, simbol masa lalunya dihancurkan dari atas sampai bawah.

Lyu memegang bola cahaya di tangan kanan dan mengangkatnya.

Dia yakin bahwa di terang bola bercahaya indah itu, dia melihat tangan temannya di atas tangannya sendiri. Air mata menetes dari mata biru langitnya seraya bicara dengan bibir gemetar.”

“—selamat tinggal.”

Selamat tinggal kepada bayangan teman-temannya.

Selamat tinggal pada hari-hari berlalu itu.

Selamat tinggal kepada masa lalu yang mesti dia atasi.

Lyu mengucapkan selamat tinggal kepada semuanya, dan dia meraung.

Luvia!!”

Ledakan dahsyat.

“…”

Bola besar bersinar itu menabrak dada sang monster.

Layaknya menerima seluruh keterampilan gadis yang telah melindungi Lyu dan menyelamatkannya, bolanya berkembang menjadi lingkaran cahaya.

Tidak sanggup membela diri, bahkan tanpa teriakan sekarat atau raungan amarah maupun kebencian, Juggernaut bisu meledak berkeping-keping. Melodi cahaya tajam dan angin terdengar saat tubuh monster itu berubah menjadi pecahan-pecahan tidak terhitung jumlahnya.

Lyu menayksikan pecahan jatuh berubah menjadi abu sebagaimana monster lain dan menutup matanya, kehabisan energi.

Air matanya bertaburan di udara.

“Nona Lyu?!”

Lyu serta sisa-sisa Juggernaut melayang ke tengah ruangan bagai hujan meteor. Seketika abu monsternya meliuk-liuk seperti kabut asap, Bell melihat, dalam kondisi terlukanya tidak bisa berlari ke sisi Lyu. Dia seret dirinya pelan-pelan ke tengah ruangan dan melihat asap keunguan melayang di udara.

“Aah …!”

Dia melihat sesosok elf melayang di kejauhan. Berangsur-angsur siluetnya memfokus dan sosoknya melangkah keluar dari asap.

Dia Lyu penuh luka.

Lyu menatap mata Bell dan sedikit menekuk ke atas bibirnya. Bell balas tersenyum lega.

Keseluruhan ruangan sunyi selain mereka berdua.

Mereka telah mengalahkan malapetaka.

Masih tersenyum, mereka berjalan maju pelan-pelan, seakan-akan saling mencari satu sama lain.

Namun sebelum mereka sampai, Bell tersandung.

Tubuhnya condong maju.

Lyu pun sama.

Meskipun mereka selangkah jauhnya, lutut mereka menekuk dan jatuh menabrak tanah.

“…”

“…”

Darah keluar dari tubuh mereka yang semata-mata luka berjalan.

Napas mereka dangkal.

Mereka nyaris tak bisa merasakan tangan-kaki.

Mereka hampir tidak bisa melihat dunia kabur.

Mereka cukup dekat hingga Lyu meletakkan tangan kanannya ke atas tangan kanan Bell.

Mereka berbaring telungkup ke bawah di lantai Dungeon dingin.

“… kita menang, bukan?”

“… iya.”

“… dan sekarang kita bisa pulang.”

“… iya.”

Suara mereka lemah.

Mereka tak saling menatap selagi tersenyum yang bukan senyuman sebenar-benarnya.

Masa depan mereka akan kembali ke permukaan bukan lagi mimpi bersama-sama, batasnya dengan kenyataan mengabur.

Tidak ada petualang yang tersisa di ruangan itu.

Hanya ada abu terbakar.

Mereka sebagaimana burung yang terbang ke langit dan kembali hanya untuk kehilangan sayap mereka.

Bara putih serta bekas-bekas memudar seorang elf.

Itu saja.

Lolongan monster menggema di kejauhan. Seolah-olah keheningan yang dihinggap monster malapetaka itu adalah kebohongan, kegelapannya menggemuruh. Hentakan kaki tak terhitung jumlahnya diiringi raungan menuju ruangan tempat Bell dan Lyu berbaring.

Mereka tidak mampu berdiri. Mereka tak sanggup menggerakkan satu otot pun. Kegelapan menatap mereka.

“… Bell.”

“… ya.”

“… aku … –mu …”

“…”

Lyu tak menyelesaikan perkataannya.

Cahaya memudar dari mata mereka ketika menatap ke samping.

Seolah-olah mereka akan tidur, mereka memejamkan mata.

Seketika monster meraung itu sampai ruangan, tubuh mereka berhenti bergerak.

Petualangan mereka telah berakhir.

Mereka telah mengalahkan malapetaka namun kalah dari Dungeon.

Mereka gagal kabur dari labirin.

Sebagaimana banyak petualang sebelum mereka, Lyu dan Bell termakan kegelapan lantai dalam—

“—, —chi, —llucchi!!”

Atau begitulah kelihatannya.

“—Bellucchi!!”

Suara raungan monster—raungan yang kedengaran persis seperti monster berkomunikasi bersama rekan-rekannya dari jauh—berubah menjadi kata-kata berbahasa manusia.

Dalam dunia redup, Bell merasakan bayangan menutupi dirinya.

Kelopak matanya terbuka lebar saat tubuhnya diangkat lengan seseorang.

“Dia hidup, dia hidup!!”

“Beri tahu para manusia!”

Mengikuti ledakan raungan gembira, suara-suara akrab bergema di telinganya.

Bell mengerti punggungnya telah dibalik, dan sepasang mata tengah menatapnya.

Mata kuning bundar sama yang lama ingin dilihatnya.

“Bell, Bell!”

Air mata mengalir dari mata kuning dan membasahi pipi Bell. Batu merah berkilauan di dahi gadis itu berkaca-kaca seakan-akan dia juga menangis. Bell mencoba menghapus air mata dari wajahnya, namun teringat dia tidak bisa bergerak sama sekali. Sekurang-kurangnya dia mencoba tersenyum pula. Akhirnya dia berhasil menggerakkan otot-otot di pipinya dan sedikit mengangkat sudut mulutnya. Gadis bermata kuning meannggapi dengan senyum lebar.

“Tuan Bell!”

“Bell!!”

“Lyu!”

“Dia ada di sana, meong!”

Bell dapat mendengar suara familier lain di kejauhan.

Suara teman-teman yang telah menemukan mereka.

Petualangan mereka telah usai, mereka kalah kepada Dungeon.

Namun harapan Lyu tak hancur.

Dia dan Bell tidak menyerah kepada harapan. Malah mereka mempertaruhkan nyawa untuk melawan monster, dan pertarungan itu telah memanggil rekan-rekan mereka ke sisi mereka. Ikatan persahabatan yang mereka tarik ke diri mereka telah mengalahkan Dungeon.

Bergerak cepat, para monster yang berkumpul di sisi mereka bergegas menjauh. Pekerjaan mereka selesai, sekalipun mereka akan terus mengawasi pasangan itu dari bayang-bayang. Kehadiran mereka tetap dekat, laksana membisikkan penghiburan mereka.

Dua Xenos tersisa bersama para petualang adalah gadis naga dan harpy yang menyamar dengan tudung dan jubah. Harpy itu mengankat Lyu dan memeluknya erat-erat.

“… Bell.”

“… ya.”

Suara tangis dan riang teman-teman mereka yang memanggil nama mereka kian dekat.

Lyu menatap mata Bell kemudian tersenyum.

“Kita bisa … pulang.”

Catatan Kaki:

  1. Patung Pietà (1498-1499) adalah sebuah patung marmer karya Michelangelo yang terletak di basilika Santo Petrus di Roma, Italia yang merupakan karya pertama dari sekian banyak karya dengan tema yang sama oleh Michelangelo. Patung tersebut dibuat sebagai monumen di makam kardinal Prancis Jean de Billheres, tetapi kemudian dipindahkan ke lokasinya yang sekarang, kapel pertama di kanan basilika pada abad ke-18. Karya ini menggambarkan tubuh Yesus dipelukan ibunya Maria setelah penyaliban Yesus.
  2. 47 Juga bisa berarti 47 Ronin.

8 Replies to “DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 14 BAB 13”

    1. gak naik level bell kalau di liat dari ceritanya sih malahan yang naik level harusnya lyu soalnya syarat naik level melapaui batasan drinya tapi lyu gak mau update stastusnya jadi lyu juga gak naik level

  1. Thanks min,… Btw kalo ga salah saya pernah liat buku/jilid/volume yang sampulnya Freya, trus pas check Wiki/Fandom katanya itu salah satu special Volume… Punya Special Volume ga min btw?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *