DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 14 BAB 12

Posted on

Harapan Sedih dalam Dungeon

Penerjemah: DarkNier

Suara pertarungan pedang tiada henti.

Dalam labirin yang dibayangi gelap layaknya malam, percik api tak terhitung jumlahnya beterbangan.

Terengah-engahnya para petualang menyambung teriakan tempur monster.

“…!!”

“…?!”

Sebuah pedang seputih susu dari Dungeon mengayun ganas ke bawah.

Bell memblokir tipis serangan petarung kerangka.

“Para spartoi …”

Seperti halnya skull sheep, mereka pun monster kerangka. Tubuh bertulang putih mereka setinggi Bell atau lebih tinggi lagi. Masing-masing membawa pedang atau tombak tulang yang mereka gunakan dengan niat membunuh. Sekawanan spartoi telah mengepung Bell serta Lyu sekaligus tipe-tipe monster petarung lain.

Itu serangan mendadak.

Bell dan Lyu yang memerhatikan baik-baik tanda-tanda monster, mendengar suara retakan. Celahnya tidak menyusuri dinding melainkan sepanjang lantai, melahirkan para spartoi di bawah kaki petualang-petualang terperangah bagaikan mayat hidup bangkit kembali dari kubur tuk menyerang mereka.

Lengah dan terkepung, mereka tidak bisa kabur. Berbanding terbalik, suara pertarungan mulai menarik monster-monster lain ke mereka. Mereka terjebak jaring.

“OOOOOOOOOOOOOOOOO!!”

Bell tak mampu menyembunyikan kepanikannya ketika spartoi itu menerjangnya dengan ganas, satu tangan memegang pedang dan satunya pelindung berbentuk perisai laying-layang.

Yang satu ini lebih kuat dari yang ditemui Bell sejauh ini.

Meski tidak punya kulit dan otot, monster itu jauh lebih kuat dari lizardman elite atau loup-garou, dan lebih gesit daripada barbarian. Keterampilan gerakannya mengingatkan akan seorang petualang alih-alih monster, menyadarkan Bell ini memang monster tangguh. Saat dia mengarahkan pedang petualang mati ke batu sihir yang sekilas dia lihat di tengah tulang rusuknya, spartoi tersebut cepat-cepat melawan tusukan Bell yang mematikan itu dengan pedang tulangnya sendiri.

Bell bukan tandingan tingkat pertahanan ini.

Usahanya mendaratkan satu pukulan kuat sesuai ajaran Lyu gagal maning. Jikalau Bell melawan monster itu satu lawan satu, status Level 4-nya mengartikan dia pasti dapat menang. Tetapi ini Dungeon.

Angka merupakan senjata terhebatnya. Apabila Bell kelamaan melawan satu monster, dia akan segera dibanjiri beberapa monster lain.

Status yang diperlukan untuk lantai 37 adalah Level 4, serta tingkat kemampuan dasarnya adalah D atau lebih tinggi. Dan petualang yang diasumsikan itu ada di party-nya. Anehnya, perasaan yang dimiliki Bell di lantai dalam—bahwa ada satu poin yang ditetapkan Guild soal standar lantai ini—adalah persis yang Welf dan yang lainnya rasakan di lantai bawah.

Aku tidak bisa memainkan gerakannya …!!

Hal terparahnya adalah taktik itu tidak berhasil.

Mengikuti, para spartoi memblok upaya Bell untuk membatasi gerakan mereka dengan memainkan gerakannya ke arah yang diinginkan Bell. Mereka punya keterampilan komando tempur menakjubkan yang mempergunakan variasi senjata, entah pedang mereka, perisai, tombak, atau kapak. Seketika Bell mencoba maju, dia dihadang perisai, dan sewaktu mencoba mundur, dia dicegat pedang. Dari seluruh perjalanannya sepanjang lantai atas, menengah, bawah, dia belum pernah menemui spesies yang baik sekali kerja samanya. Fakta mereka bertarung di lorong lebar yang tidak menawarkan medan berguna juga tidak membantu.

Dia tidak sanggup mengendalikan medan perang seinginnya.

“Ugh …!”

“Nona Lyu?!”

Para spartoi juga mengancam Lyu yang bertarung berpunggungan dengan Bell. Dia bahkan menghadapi risiko lebih besar lagi karena Lyu tidak dapat bergerak bebas penuh. Dia berhasil menangkis serangan dengan keterampilan quick-draw-nya, tetapi dia tidak mampu menghindar sepenuhnya, dan kulit putihnya serba luka-luka.

“—Firebolt!

Tidak tahan lebih lama lagi, Bell memutuskan menggunakan sihirnya.

Firebolt meluncur maju, mengikis kekuatan mental berharganya. Strateginya adalah meledakkan cukup banyak musuh untuk keluar dari jarring yang mengelilingi mereka. Keputusannya memerlukan keberanian sebab opsi menyimpan kekuatan mentalnya berkedip-kedip di depannya, dan bahkan Lyu merasa itu keputusan benar.

Selama monster itu tidak termasuk sekawanan musuh.

“Apa?!”

Tetapi tidak lama sesudah Bell sepintas melihat sesuatu menyerupai batu hitam mengintip dari belakang monster lain yang dilemahkan api elektrik, tepat sebelum meledak ke sasarannya. Bebatuan jatuhnya sedramastis selongsong yang mendadak berubah menjadi peluru.

“Sialan—obsidian soldier?!”

Bentuk terdistorsinya menyinarkan warna hitam legam bagaikan batu mulia. Di titik yang semestinya bagian kepala, cahaya ungu bersinar menakutkan bagai mata cyclops.

Obsidian soldier. Monster-monster batu ini punya tubuh terbuat dari lahar padat dan gerakannya kurang licah dari monster-monster petarung; satu-satunya keahlian mereka adalah pertahanan. Disebut-sebut petarung paling payah di lantai 37, karakteristik paling khas mereka adalah kemampuannya menangkis sihir. Tubuh-tubuh obsidiannya yang bernilai tinggi sebagai drop item, menonaktifkan sihir seefektif jimat batu.

Dengan usaha Bell untuk menerobos sekawanan monster dikurangi dengan semata-mata sedikit mendorong mereka ke belakang, Lyu menyipitkan alis dan Bell meringis. Seakan-akan Dungeon menggunakan trik apa pun yang diketahuinya untuk membalas pertumbuhan Bell. Mendapati tidak hanya menghancurkannya dengan kekuatan kasar, kini memanfaatkan kelemahannya.

Labirin memberi mereka pandangan sekilas mengenai jurang yang tidak bisa ditaklukkan petualang-petualang biasa.

“OROOOOOooon!”

Tembakan beruntun Dungeon berlanjut. Monster baru telah muncul.

“Peluda?!”

Teriakan Lyu kedengaran mirip jeritan.

Monsternya punya tubuh panjang nan kurus selayaknya ular berkaki empat. Kulit mereka berwarna hijau tua memuakkan, dan punggungnya ditutupi duri tak terhitung jumlahnya, seperti landak. Sekelebat mereka seperti kadal, namun nyatanya mereka dari spesies naga yang terkenal.

Peluda … itukah makhluk yang disebutkan Lyu?!”

Bersama para spartoi, merekalah salah satu spesies yang Lyu namai sebagai monster paling berbahaya di lantai 37. Senjata spesial mereka adalah racun kuat.

“Jangan biarkan duri-duri mereka menusukmu!”

Volume teriakan Lyu menunjukkan jelas tingkat ancamannya.

Bell menganga melihat tiga peluda muncul. Duri di punggung mereka gemetaran seolah-olah lagi menyerap tenaga, kemudian ditembakkan serempak.

“Ah!!”

Bell menarik Lyu mendekatnya seketika deretan duri melesat ke arah mereka, meluncur langsung menuju satu spartoi memegang perisai layang-layang. Ujung pedangnya merobek kulit Bell, tetapi hal pentingnya adalah mereka dapat berlindung di balik perisai.

Durinya bertabrakan bagian depan alat pelindung dengan bunyi trang Kretek kretek kretek.

Di waktu bersamaan, sepasang jeritan mengerikan membelah udara.

“GAAAAAAAAAAAAAAA?!”

“GE, GUEE—?!”

Seekor lizardman dan loup-garou telah ditusuk racun-racun berduri. Sesaat setelah mereka terguling. Kulit mereka menghitam, mereka mulai kejang-kejang, dan darah dimuntahkan dari setiap lubang. Bahkan darahnya hitam. Bell pucat pasi melihatnya.

Duri beracun peluda bahkan bisa mudah menembus kemampuan defensif petualang kelas atas.

Durinya pun terlalu kuat; bahkan goresan kecilnya mampu menjerumuskan petualang ke neraka kesakitan dan batuk darah. Satu-satunya pengobatannya adalah obat penawar kualitas tinggi atau sihir detoksifikasi. Mengingat keadaan buruk perlengkapan mereka, tertembak salah satu duri saja akan menjadi kematian untuk Bell atau Lyu.

“Uh!”

Sesaat hujan duri beracun terus berlanjut, Lyu mencopot lengan spartoi dengan kekuatan murni kemudian Bell mencuri perisai besarnya.

Rentetan duri yang ditembakkan cepat membuat jaring monster ke kekacauan. Lyu dan Bell hanya sanggup membungkuk di balik perisai seperti kura-kura. Satu-satunya monster yang kuat bergerak setelah ditembak adalah obsidian soldier serta para spartoi. Namun rongga mata dan persendian mereka tertusuk duri, bahkan beberapa monster tersisa tidak bisa mendekati Bell dan Lyu sesuka mereka.

Kretek kretek kretek! Perisainya gemetar sebab hentakan duri tersebut.

Menekan tubuh Lyu, Bell menggertak gigi dan menahan badai duri.

“GOooooooooooooo!”

Mungkin frustasi gara-gara serangan mereka efeknya tak sesuai keinginan, atau barangkali karena kehabisan duri, para peluda beralih ke strategi lain. Sesuai garis keturunan naga mereka, monster-monsternya mengubah sekeliling menjadi lautan api oleh napas membara mereka.

Waktu apinya menjilat para petualang dan mayat hidu, Lyu merogoh kantongnya.

“Tuan Cranell, aku akan menggunakan ini!”

Dia melempar Batu Inferno yang ditariknya dari task e lautan api. Bell refleks berlutut dan menguatkan cengkeraman perisainya. Detik berikutnya, ledakan besar mengguncang tanah.

“~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ooo?!”

Para monster beteriak menderita menuju maut mereka.

 Bell dan Lyu terhempas mundur, perisai dan seluruhnya, ketika para spartoi dan obsidian soldier meledak menjadi pecahan tak terhitung jumlahnya. Ketiga peluda pun ditelan bola api.

Bell dan Lyu berguling-guling di lantai dahulu barulah menegakkan tubuh babak belur mereka.

“Apa berhasil …?”

“… kurang lebih, monster-monster terdekat sudah dihabisi.”

Api merah tua menerangi wajah Bell sedangkan perisai di tangannya hancur. Api masih berkobar di kawah yang diukir tempat ledakannya. Banyak tulang dan potongan obsidian tak terhitung—drop item, kelihatannya—berserakan di tanah.

 Begitu dia melihat ketiga naga terbakar di kejauhan Bell menarik napas.

Di satu waktu, Bell mendengar suara gedebuk.

Duri panjang menonjol dari bahu kirinya.

Lyu membeku seketika Bell melihat ke belakang mereka.

Tatapannya tertuju kepada monster yang menempel di dinding labirin laksana kadal, asap naik dari punggung yang barusan menembakkan duri.

Peluda keempat.

Sewaktu dia menyadari tidak hanya ada tiga, sudah terlambat.

“!!”

“GUGEEI?!”

Lyu langsung beraksi dan melempar pisaunya.

Menempel ke dinding semacam spesimen ilmiah dengan pisau menembus batu sihirnya, peluda itu jatuh dan menjadi tumpukan abu.

Di saat bersamaan, Bell roboh ke tanah.

“Tuan Cranell?!”

Bahkan Bell bisa mendengar keputusasaan di jeritan Lyu. Bahu kirinya yang tertusuk dirusak pusaran racun yang mencoba menyerang dan membusukkan setiap organ tubuhnya lalu menghancurkannya dalam hitungan detik.

Membawanya ke akhir sama para petualang mati yang sudah ditemui.

Saat Lyu berlutut, wajahnya pucat pasi, Bell menarik duri dari bahunya, matanya melotot.

“Uhh!”

Sesaat berikutnya, dia menikam pisau yang dipegang tangan kanannya ke luka.

Kali ini dia menyerang dirinya sendiri. Sejenak, Lyu mempertanyakan kewarasannya, namun mata birunya melebar kaget.

“Pisaunya bernoda hitam …. Tidak mungkin …?!”

Pisau putih berkilau yang ditancapkan ke bahu kirinya tertutup cairan hitam.

Pisau itu, Hakugen, pisau panjang buatan Welf dari tanduk unicorn, drop item langka. Tanduknya berharga untuk barang tipe pemulihan, dan berkemampuan menetralkan banyak tipe racun. Wajar berekspektasi demikian, berekspektasi bahwa Hakugen punya sifat penawar. Bell ingat asal-usul pisaunya dan buru-buru tusuk ke lukanya.

Benar saja, pisau tanduk unicorn menyedot racun hitam itu di luka Bell. Partikel hitam jelaga berkumpul di tengah pedang dan akhirnya lamban laun menghilang, dimurnikan. Seketika hilang, rasa sakit menyusut dari tubuh Bell layaknya gelombang, membalikkan deru menuju kematian.

Ketika pisau itu akhirnya mengeluarkan semua racun, Hakugen berkilat dalam kegelapan, telah kembali ke kondisi putih berkilau aslinya.

“Aduh …!”

Bell menarik Hakugen dari lukanya dengan suara menyesap kemudian jatuh lesu ke samping. Selagi Lyu melihat syok, Bell menekan tangan kanan yang masih menggenggam pisau, ke dahinya.

Duh, Welf, Welf …!!

Berkali-kali, dalam hati memanggil nama rekannya yang membuatkannya senjata itu. Andaikata si penempa ada di sini sekarang, Bell akan memeluknya. Dia akan menaruh kepalanya ke dada seperti adik laki-laki kemudian meratap menyedihkan.

Karena tidak bisa, dia menggumam terima kasih tiada akhirnya kepada penempa yang telah menyelamatkannya dari sentuhan kematian dekat.

“… Tuan Cranell, ayo rawat lukanya.”

Sesudah menyaksikan Bell menggigil beberapa menit, Lyu akhirnya bicara dengan suara dingin. Racunnya mungkin hilang, tapi darah masih berdenyut dari bahu kiri Bell, Lyu menyuruhnya meminum ramuan terakhir. Lyu putuskan jika tidak Bell minum sekarang, Bell kemungkinan takkan berdiri.

Masih terjatuh letih ke tanah, tangannya menekan luka dan mati-matian berusaha menenangkan napasnya. Untung, serangkaian pertemuan dengan monster berakhir sudah, dan Bell berkesempatan memulihkan diri sembari terus mengawasi lautan api.

“…”

Seketika Bell mencoba meraih kembali kekuatannya, Lyu memaksa dirinya ganti tindakan. Kini mereka telah menggunakan barang terakhir, mereka harus melanjutkan perjalanan. Lyu menarik gulungan dari pinggulnya—peta yang dia dapatkan dari petualang-petualang mati.

Sebab Lyu telah menandai rute mereka sepanjang perjalanan, petanya sekarang nyaris penuh garis rumit labirin.

Kami sudah sampai banyak jalan buntu …. Mempertimbangkan kondisi fisik Tuan Cranell, kami sebaiknya cari rute utama dan pergi cepat.

Lyu melirik Bell lalu kembali lagi melihat peta. Biarpun pemilik sebelumnya telah memetakan sedikit untuk mereka, mereka masih belum sepenuhnya memahami lingkungan mereka. Setiap kali menyusuri cabang jalan yang tak ada di petanya, mereka akan menemui jalan buntu atau sekawanan monster dan terpaksa balik.

Menghitung jaraknya, bukan ide bagus kembali ke bagian jalan terakhir yang tak kami tempuh. Sisanya rute ini yang ditandai tanda blokir mayat …

Jari-jari Lyu menelusuri garis yang tidak digambarnya.

Menetap pada jalan yang dibuat para pendahulunya adalah satu-satunya pilihan.

Tapi mengapa mereka berbalik arah di rute ini …?

Para petualang dibunuh racun. Seperti Bell, Lyu putuskan itulah hal yang pasti. Hingga sekarang, dia berasumsi mereka menjadi korban racun kuat ketika menempuh jalan terakhir ini, dan karena itulah mundur ke ruangan kecil di mana dirinya dan Bell menemukan mereka.

Akan tetapi, kalau Lyu pikir-pikir, dia sadar itu hal tak natural.

Semisal petualang kelas atas diracuni dan tidak ada cara untuk melawan substansinya, benarkah mereka akan berbalik dan kembali ke pangkalan jauh?

Apabila Lyu berada dalam situasi mereka, dia akan terus lanjut.

Tanpa barang apa-apa, dia akan berpacu dengan waktu bersama racun yang memakan dagingnya, jadi balik ke pangkalan sama saja memotong semua harapan kabur. Itu lebih benar lagi andai dia tak mengharapkan party penyelamat.

Dia akan mencoba merintis jalan maju untuk mencari rute utama. Asumsikan party berisikan para petualang kelas atas mampu masuk ke lantai dalam sini, bukankah mereka mempertaruhkan nyawa mereka ke petualang itu juga?

… ataukah ada sesuatu di rute ini yang memaksa mereka menyerah …?

 Sentakan ketakutan melintas di balik benak Lyu.

“Nona Lyu, kita harus melakukan apa sekarang …?”

“… kita akan ikuti peta ke rute di depan.”

Bell akhirnya bernapas normal lagi. Lyu menjawab singkat selagi Bell menatapnya.

Tidak ada pilihan lain.

Lyu bersandar ke bahu Bell, dan mereka mulai berjalan maju lagi.

“…?”

Beberapa saat mereka telah berjalan seketika jalan mereka berada mulai berubah.

Tangganya kini cuma mengarah ke atas. Berbeda dengan sebelumnya, seiring setiap naikan, turunannya juga setara, mereka sampai di satu set tangga demi tangga yang memanjang naik. Lantai 37 memang punya struktur lapisan jamak, tapi bagaimanapun juga konstan naik ke atas itu tidak biasa.

Awalnya Lyu bingung, tetapi setiap waktunya dia makin-makin curiga.

Medan ini … tidak mungkin …

Tangganya tak rusak. Terus naik dan naik.

Rasanya ibarat dituntun menuju platform gantungan atau balok kayu algojo.

Kecurigaannya menjadi keyakinan.

Setetes keringat lebih dingin dari yang dirasakannya semenjak ditenggelamkan ke lantai dalam menggulung pipinya.

—jadi ini toh yang terjadi.

Nampaknya Dungeon sangat-sangat ingin membunuh mereka.

Begitu Lyu menyadari di mana mereka dan di mana rute ini membimbing, dia merasa putus asa sekali sampai-sampai ingin tertawa.

“Nona Lyu?”

“… aku tidak apa-apa, tidak apa-apa.”

Dia berhati-hati agar tidak menyebarkan keputusasaannya kepada Bell yang menyadari ekspresinya.

Perlu usaha sebaik mungkin untuk menghapus keputusasaan dari raut wajahnya.

“Aku sudah tahu kita di mana.”

“…! Betulan?!”

“Iya. Tolong lanjut saja jalan ini. Kita mestinya akan sampai di sebuah tangga besar.”

Lyu semata-mata memberitahunya fakta.

Akhirnya, sesuai katanya, sebuah tangga putih susu besar muncul dengan setiap langkahnya terdapat jarak tak teratur.

“Kalau kita daki lantai ini dan melewati yang ada di sisi lain … kita akan sampai di jalur utama.”

Wajah Bell cerah mendengar kata-katanya. Dia mendadak mulai menaiki tangga dengan penuh semangat. Kontras, mulut Lyu menegang ketika memikirkan satu pilihan yang dia paksakan kepada Bell.

Bell akan lebih berhati-hati memikirkan situasinya.

Bell seharusnya bertanya-tanya kenapa Lyu mengetahui lokasi mereka walaupun belum sampai rute utama. Kok bisa dia tebak padahal lantai 37 sebesar seluruh Orario? Satu-satunya jawaban pasti adalah mereka tersandung sebuah titik penting dalam labirin—atau sebuah area yang pastinya dianggap sangat hati-hati.

Namun Bell tidak sadar Lyu mengingat tempat ini sebab inilah titik berbahaya yang patut dihindari apa pun caranya. Baru tatkala dia menaiki tangga terakhir bulu kuduk Bell naik.

“…”

Dia menghadap ruangan yang besarnya bukan main.

Tapi tentu berbeda dari ruangan-ruangan area lain lantai.

Pertama-tama, ada jurang lima puluh meter antara tempat Bell berdiri di pintu masuk ruangan dan lantainya. Jauh di bawah, dia mendapati bebatuan tajam menonjol dari tanah, disusun rapat seolah-olah tentara gaib tengah menyiagakan tombak mereka. Bebatuannya melingkupi keseluruhan lantai. Jatuh sama saja mati, bahkan bagi petualang kelas atas.

Satu-satunya jalan di seberang ruangan adalah jembatan panjang yang terbuka persis di depan Bell. Jembatannya mencapai jauh ke tengah ruangan redup cahaya, di sana dia melihat semacam struktur besar. Bayangan-bayangan melambai—kemungkinan besar para monster—tengah mengitari strukturnya dengan jumlah besar. Paduan suara teriakan tempur yang sampai telinga Bell asalnya dari mulut yang jumlahnya melebihi yang bisa dia hitung, mengumumkan tingkat keunggulan material di bagian Dungeon.

Berdiri di sebelahnya, Lyu melepas seluruh emosi dari suaranya seraya bicara.

“Koloseum … ini tempat pembantaian di mana monster dilahirkan tanpa batas.

ф

Koloseum.

Cuma ada satu ruangan sejenisnya yang berada di lantai 37.

Sekalipun ruangan luas itu jauh lebih besar ketimbang ruangan-ruangan lain lantai ini, dimensi tepatnya tidak diketahui. Gara-gara kelewat berbahaya sampai-sampai para petualang menyerah mengukurnya.

Bagi Bell, kelihatannya sama seukuran gua di lantai 25, atau barangkali lebih besar. Sebagaimana tempat lain lantai, langit-langitnya tersembunyi dalam kegelapan, membuat ketinggiannya mustahil dinilai.

Udaranya pasti bersirkulasi dalam tempat, sebab siulan yang terdengar mirip angin dingin yang ringkai bertiup dari jurang sempit nan jauh di lantai berbatu. Bell gentar melihat skalanya.

Terutamanya bangunan kolosal menjulang bagaikan pulau di tengah-tengah ruangan patut diperhatikan. Mengingatkan Bell akan bangunan tertentu di Orario.

“Amfiteater1 …?”

Bangunan bundaran besar tampak persis sama. Berpendar redup sehingga laksana mengapung di kegelapan.

Bahkan sekarang seruan tempur bergema tanpa henti dari bentuk seputih susu yang berada di ujung jembatan di depan Bell.

“Jelasnya, Koloseum bukan seluruh area ini—hanya bangunan di tengah-tengahnya saja. Dibilang begitu karena … sebanyak apa pun monster yang kau bunuh, suplainya takkan pernah habis,” tukas Lyu.

Karena desakannya, baik dia dan Bell sedang tiarap agar monster tidak menyadari mereka.

“Dalam ruangan ini, begitu jumlah monster turun, lebih banyak lagi muncul dalam Koloseum itu. Tidak ada cara mengurangi batas atasnya. Dengan kata lain, suplainya tak habis-habis.”

“…!!”

“Mungkin bisa kau sebut ruangan ini merupakan versi miniatur Dungeon itu sendiri.”

Bell tahu tempat ini.

Eina memberitahunya bahwa ada area di lantai dalam di mana monster muncul tanpa henti untuk mempertahankan populasi yang ditentukan sebelumnya. Namun ketika melihat hal nayta dan mendengar Lyu menjelaskan kenyataan yang dihadapinya, dia merasa keputusasaan memakan hatinya.

Sekarang dia petualang kelas atas, dia paham betul arti kenyataan itu.

Bahkan di lantai dalam di mana pertarungan makin cepat dan sengit, selalu ada jeda kecil antara pertemuan. Namun Koloseum itu berbeda. Berbanding terbalik dengan ruangan biasa dan jalan-jalannya, monsternya takkan habis tidak peduli sebanyak apa dibunuh. Pertarungan tanpa akhir berlanjut sampai petualang binasa oleh sesuatu tidak dimengerti.

Piala Tanpa Dasar monster.

Itulah julukan yang para petualang gentar yang takut berikan kepada Koloseum.

“Kita telah sampai ke zona berbahaya di lantai 37 yang bahkan party-party petualang-petualang kelas satu tidak berani dekati.”

Bell tercengang oleh perkataan Lyu. Bahkan petualang kelas satu—bahkan Aiz dan rekan-rekannya—tidak bisa memasuki tempat ini?

Ini Zona Kematian paling mematikan, setara atau bahkan melampaui bahaya Monster Rex yang tertidur di lantai ini.

Bila mana mereka melewatkan ini, mereka akan sampai di rute utama.

Bell akhirnya paham arti sebenarnya kata-kata yang Lyu ujar beberapa menit lalu.

Demi mencapai harapan, mereka harus melewati keputusasaan sedalam jurang di bawah mereka.

Bell berkeringat.

Di waktu yang sama, dia termakan desakan bingung.

Dia mengingat kembali mayat para petualang yang mati di ruangan kecil itu. Keputusasaan sama yang telah menghancurkan semangat juang mereka sekarang menekan Bell. Keringat membasahi dahinya. Dia megap-megap tak terkendali dan mengalihkan pandangan resah.

“…”

Lyu curi-curi pandang. Jauh di dalam tudung panjang robeknya, mata menyipit, ibarat membulatkan hatinya untuk menghadapi apa pun di depan.

“Satu-satunya pilihan kita adalah melewati Koloseum.”

Mereka sementara waktu telah menjauh dari ruangan gerbang masuk, namun suara Lyu kukuh.

“Nona Lyu, itu—”

“Faktanya, kembali bukanlah pilihan. Kita semata-mata tak punya kekuatan ataupun perlengkapan.” Mereka sedang di tengah jalan tangga naik menuju Koloseum. Lyu buru-buru menarik barang-barang dari ranselnya dan bergerak-gerak gelisah tanpa melihat Bell.

Perkataannya benar.

Dia tidak punya energi tersisa untuk mencari rute lain. Sekurang-kurangnya, bila mana mereka tidak sampai rute utama dari sini, kabur dari lantai 37 sungguh mustahil.

Untuk bertahan hidup, mereka harus melewati Koloseum menjulang tinggi di hadapan mereka.

“Ini momen krusial … waktunya melakukan satu petualangan yang tidak bisa kita hindari.”

Dia mendongak kemudian mata biru langitnya menatap Bell.

Bell menelan ludah … lanjut mengangguk.

Keringat menetes jatuh dari tubuhnya dan hatinya berdegup-degup, tapi dia percaya Lyu. Lyu sejauh ini menjaganya. Lyu mengangguk setuju menanggapi kepercayaan tulusnya.

“Namun caranya melewati Koloseum bagaimana? Kiranya kita kudu melawan monster yang muncul tanpa habis-habis berapa pun yang kita bunuh itu …”

“Tentu saja kita hindari pertempuran. Kita sembunyi-sembunyi berjalan ke seberang ruangan, tanpa sepengetahuan mereka.”

Lyu menghentikan pekerjaan persiapannya. Dia memegang selembar kain hitam terulur di tengah kedua tangannya.

“Apakah itu …?”

“Ya. Buatan jubah skull-sheep.”

Bell kaget mendengar penjelasan Lyu. Selama pertarungan mereka sejauh ini, Lyu berhati-hati memilih drop item dan menyimpannya di ransel Lyu. Jubah skull-sheep di antaranya.

Lyu telah menjahit dua jubah menjadi satu menggunakan jubah ketiga yang dirobek menjadi potongan-potongan untaian serta sebuah jarum tulang. Cukup besar buat menutupi mereka berdua.

“… maksudmu kita akan gunakan ini buat kamuflase?”

Skull sheep meluncurkan serangan dengan membaur ke dalam kegelapan hitam yang menembus setiap sudut lantai. Gerakan klandestin death hermit banyak menyusahkan mereka dalam perjalanan, namun sekarang mereka hendak meniru cara mereka. Bell tahu dari pengalaman menyakitkan betapa bagusnya kerja jubah itu. Dipikirnya jubah-jubah itu barangkali memungkinkan mereka menipu para monster Koloseum.

“Kita juga akan menyamarkan bau kita. Tolong gosok ke dirimu dari ujung kepala sampai kaki dengan organ-organ monster yang mau aku gunakan.”

Hoek …!”

 Aku mengerti kekhawatiranmu, tapi kau harus menahannya.”

Bell refleks menutupi hidungnya ketika Lyu mengangkat tas. Zat hitam kemerahan yang menodai bagian bawah tas adalah campuran jantung barbarian serta organ-organ monster lain. Drop item ini normalnya digunakan seperti garam berbau kuat, namun walau sudah dalam tas tertutup rapat, bau buruk bahan-bahan belum diolah sudah jelas. Sukar mentoleransinya kendatipun mencegah monster mengendusnya. Biar air mata menggenang di sudut mata Lyu, parasnya masih kosong bak topeng.

Namun demikian, bagi Bell nampaknya itu strategi pramungkas.

Dia tahu betul kekuatan jubah abu-abu. Dan mereka pun akan menghilangkan bau mereka pula. Jika saja mereka berwaspada untuk bergerak diam-diam, mereka semestinya bisa menipu monster.

“Pas kita sampai Koloseum aku sadar kita ada di mana.”

Lyu mengeluarkan petanya.

“Cuma ada satu Koloseum di lantai 37, di Zona Petarung antara Dinding Kedua dan Dinding Ketiga. Di bagian timur zona itu.”

Dia menggelar peta di depan Bell yang berlutut bahkan selagi terus mengawasi monster. Menggunakan Bulu Darah, dia menggambar kotak besar untuk menunjukkan lokasi Koloseum.

“Ada empat pintu di ruang Koloseum—utara, selatan, timur, dan barat. Pintu selatan mengarah ke rute utama.”

“Jadi misalkan kita dapat pergi ke sisi selatan …. Oh, tapi kita tidak tahu selatan yang mana …”

“Ada beberapa tiang melengkung di sisi barat laut Koloseum di tengah-tengah ruangan. Aku melihatnya pas kita di sana semenit lalu dan mengetahui orientasi kita. Kita dekat pintu utara … artinya pintu selatan ada di seberang langsung.”

Bell melihat peta. Rute utama ditandai sedikit lebih jauh dari Koloseum, dan di seberangnya ada pintu masuk tempat mereka kini berjongkok. Lyu telah mengkombinasikan yang diingatnya mengenai Koloseum dengan pengetahuan yang tertidur dalam dirinya tuk menentukan jalan maju paling logis.

Bell penuh kekaguman. Dia menatap terus wajah elf bijak ini yang membuat keputusan-keputusan bagus dalam situasi yang akan menghancurkan banyak batin-batin lebih lemah.

“Nona Lyu, kau mengagumkan sekali …”

Kata-katanya terurai tak terdua dari bibirnya.

“Tuan Cranell …?”

“Bahkan dalam situasi ini kau tetap tenang dan membuat keputusan benar …. Kau berkali-kali menyelamatkanku. Seandainya kau tidak di sini aku takkan bisa keluar dari lantai dalam …”

Sekejap, tampang bersalah melintas di wajah Lyu selagi bisu mendengarkan. Namun Bell yang menyesal akan ketidakcakapannya, tak melihat tampang itu.

“… Tuan Cranell, tolong ubah pengetahuan menjadi kebijaksanaan.”

“Pengetahuan jadi kebijaksanaan …?”

“Iya. Kalau kau kaitkan pengetahuan sama tindakan dan belajar menerapkannya, kau akan bisa membantu lebih banyak orang. Kau akan menjadi petualang lebih kuat.”

Lyu berhenti sejenak sebelum bicara. Selagi melihat Bell, Lyu kelihatan membayangkan dirinya di suatu hari masa lalu. Tuturnya terdengar seolah tertanam jauh dalam dirinya.

Bell mengangguk serius, lalu Lyu tersenyum cepat.

“Ingatkah tata ruang rute utama dan cara melanjutkan pemetaan?”

“…? Ya … rute utama adalah jalan besar, dan selama kau tidak berbelok ke jalan samping, kau akan sampai jalan penghubung … soal pemetaannya, ubah satuannya sepuluh sampai dua puluh langkah …”

“Sempurna.”

Bell memikirkan apa yang diajarkan Lyu kepadanya. Dia menyuruhnya memetakan selama pemberhentian istrirahat mereka, meski terburu-buru. Lyu menyipitkan matanya jelas terlihat puas dan mengulurkan kantong yang diikat di sekitar pinggangnya.

“Ada sisa tiga Batu Inferno. Kau ambil satu.”

“Tapi …”

“Kita tidak tahu apa yang terjadi mulai dari sini.”

Hingga sekarang, Lyu mendukung Bell dari garda belakang dan mengelola barang-barang mereka. Kini dia bagikan. Dia ingin mengurangi risiko jikalau terjadi keadaan darurat. Masing-masing anggota party wajib mampu menanggapi situasi apa pun yang mereka hadapi.

Bell ragu, tapi tetap menerima kantongnya. Bagaimanapun, Lyu sama sekali tak mengatakan sesuatu yang membuat Bell tidak setuju. Selain Batu Inferno, kantongnya berisi peta Koloseum serta rute utama di balik sisi selatan yang dicatat di sana.

“…”

Bell tak bisa mengutarakan kerisauan yang menghantuinya. Tidak memedulikannya, Lyu berdiri.

“Ayo.”

ф

Empat jembatan mengarah ke Koloseum.

Jembatannya dimulai dari pintu utara, selatan, timur, dan barat, terhubung ke bangunan sentral seperti salib sempurna. Setiap jembatannya buatan batu putih susu dan berukuran sekitar enam meter panjangnya. Tak usah dibahas, tidak ada pagar. Salah langkah akan menjatuhkan petualang malang lima puluh meter ke bawah.

Kematian instan menunggu di ujung tombak batu tidak terhitung jumlahnya.

“…”

Tubuh Bell menempel dekat tubuh Lyu di bawah jubah skull-sheep yang menyembunyikan mereka dari kepala sampai kaki, Bell maju menyusuri jembatan dengan napas tertahan.

Ujian sesungguhnya akan dimulai tatkala mereka sampai Koloseum tempat monster mengendap-endap. Begitu monster-monster tersebut merasakan penjajah, Bell dan Lyu tamat sudah. Sumber daya tak terbatas Dungeon akan menggilas mereka. Tentu saja mereka tegang. Kala proyektil-proyektil batu yang menutupi lantai ruangan menatap mereka, mereka bergerak maju pelan-pelan.

Sewaktu hati-hati melihat lantai, mereka mendapati sosok-sosok menggeliat tak terhitung jumlahnya di antara proyektil.

Para peluda. Semacam kadal, mereka menempel di bebatuan, bergerak-gerak dengan suara merayap. Meralat opsi tiarap di lantai dan sepenuhnya menghindari Koloseum. Racun serta api buruk menunggu siapa saja yang mencoba strateginya.

 Bell tersedak, sialnya sekilas melihat beberapa kerangka dan pasang-pasang baju besi ditembus proyektil dari bawah jembatan.

Kontrak dengan Koloseum sentral, jembatan batunya sunyi. Namun keheningannya adalah ancaman mematikan untuk Bell dan Lyu.

Andaikata mereka ketahuan, cerita mereka tamat di sini. Mereka melintasi jembatan batu berbelok-belok dengan sangat was-was untuk membungkam napas juga langkah kaki mereka. Lyu membuat lusinan lubang di jubahnya dengan jarum agar mereka dapat melihat jalan maju, namun penglihatan sempit kian menegangkan saraf mereka. Rasanya seakan hidup mereka sendiri tengah di tangan perjalanan tanpa akhir secepat siput.

Lyu dapat mendengar napas tak teratur Bell.

Bell dapat merasakan napas hangat Lyu yang mengelus lehernya.

Tiba-tiba, segenggam batu kecil jatuh dari jembatan dengan bunyi gemerisik. Kerikil-kerikil yang terkikis sendirinya dari bangunan.

Bell dan Lyu membeku, menahan napas.

Sepertinya suara itu tidak mengganggu para peluda.

Mereka baik-baik saja.

Andai mereka ketahuan, monster-monster akan langsung melolong ganas mengumumkan kematian pasangan tersebut.

Jadi mereka oke-oke saja.

Mereka masih baik-baik saja.

Hidup mereka belum berakhir.

Bell mengirim pesan putus asa itu ke kaki membekunya dan sekali lagi bergerak maju.

“Itu … Koloseum.”

Setelah mendekati ujung jembatan yang kelihatan tiada ujung, Bell menelan ludah ketika melihat bangunan batu putih menjulang di hadapannya.

Massa maha besar itu megahnya bukan kepalang dan mengesankan. Lingkaran rata sempurna kelihatan punya diameter mirip menara Babel.

“… ayo.”

“… oke.”

Didesak Lyu, mereka menyeberang sisa jembatan.

Kini mereka memasuki tepian luar Koloseum yang terhubung ke jembatan. Baru sesudahnya Bell bisa melihat bangunan dalam Koloseum yang tadinya disembunyikan dari pandangan.

Sebagaimana Amfiteater, dalamnya berbentuk kerucut terbalik. Ada enam lempengan besar yang diatur seperti tangga, dan di paling bawahnya, terdapat lapangan bundar. Soal Amfiteater, keenam lempengan besar sama saja tempat duduk penonton dan lapangan bundar adalah arena tempat pertempuran. Lapangannya ditingkat yang sama dengan batu tombak di luar Koloseum.

“…!”

Selagi Bell mengamati bangunan Koloseum, dia mendapati hal lain.

Yang dilihatnya di bawah memberi makna sejati nama bangunannya.

“OOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!”

Koloseum penuh jumlah monster yang membuat mual.

Tetapi bukan kawah monster mimpi buruk ini yang mengguncang Bell sepenuhnya.

Para monster saling membunuh.

Tanpa jeda sebentar, mereka meraung marah dan tanpa ampun mencabik-cabik satu sama lain.

“… dengar-dengar terkecuali di waktu-waktu seseorang menginvasi wilayah mereka, monster-monster di area ini terus perang saudara.”

Gumam ngeri Lyu masuk ke satu telinga Bell dan keluar di telinga satunya.

Selain arena bagian bawah, lempengan-lempengan di atas juga dijejali monster tak terhitung jumlahnya yang terlibat pertempuran sengit. Dekat Bell dan Lyu di lempengan kelima, sekawanan lizardman elite tengah bertarung melawan sekawanan spartoi. Para petarung skeleton unggul dari petarung kadal.

Sisi diagonal di belakang mereka, satu barbarian meraung sambil menggepeng kepala loup-garou. Pancuran darah memercik penyerang, membuat bulu kuduknya berdiri tegak. Bell tahu sekilas bahwa monster besar-kuat itu adalah spesies yang diperkuat. Namun bahkan monster kategori besar itu bukan tandingan sekawanan skull sheep yang menyerbu dari belakang. Ia berteriak kesakitan selagi mereka robek-robek.

Sesaat monsternya jatuh, retakan muncul di berbagai tempat Koloseum.

Beraneka ragam monster terus-menerus muncul dari lantai-lantai, lempengan-lempengan, dan dinding-dinding yang mengelilingi arena.

Barangkali ungkapaan terbaik siklus kematian-kelahiran itu adalah pengisian ulang tanpa akhir.

Segala hal di depan mata Bell membicarakan keunikan area ini—pada bahayanya Koloseum dan kesesatannya.

“…”

Tangan Bell menutup mulut.

Perlu segenap kekuatannya untuk melawan balik kegelisahan.

Pengulangan hidup-mati tanpa akhir ini.

Kini lebih dari sebelumnya Bell merasakan misteri Dungeon.

Atau mungkin dia baru saja diingatkan—akan kekuatan mengerikan supernatural yang menentang pemahaman juga imajinasi manusia.

“Ayo pergi … tak ada waktu untuk berdiri linglung.”

“… baiklah.”

Begitu demam haus darah berputar-putar ini menyerang mereka, kematian sudah pasti. Pemandangan di depan mereka sudah cukup menguatkan kepastiannya. Bell mengangguk pelan merespon gumam Lyu.

Entah bagaimana mengalihkan mata mereka dari tablo mengganggu, pasangan itu mulai bergerak maju. Mereka berada di ujung paling utara Koloseum, di mana terhubung jembatan utara. Di sini lempengan keenam, lempengan paling tinggi dan terluar. Mulai dari lempengan keenam mereka harus mencapai tepi selatan Koloseum di sisi berlawanan.

Memotong lurus adalah jalan tercepatnya, tapi turun ke arena medan perang sama saja bunuh diri. Malah mereka berencana ke pinggiran lempengan keenam.

Di sebelah kanan mereka, sisi barat Koloseum, adalah tiang melengkung yang Lyu sebut-sebut. Kelihatan macam belukar proyektil-proyektil batu besar. Lempengan keenam yang membentuk bagian luar bangunan di tempat lain, di titik sana tidak ada. Ketiga lempengan di bawah ada, tapi bila mereka turun sejauh itu, para monster kemungkinannya akan mendeteksi mereka entah serahasia bagaimanapun pergerakan mereka. Semuanya akan berakhir jikalau tepi jubah mereka dihempas dampak pertarungan.

Yang berarti mereka harus menuju timur di sekitar lempengan keenam, atau kiri dari tempat mereka berdiri.

Monster-monsternya dekat banget …! Kayak mereka mengaum tepat di telinga kami!

Ketegangan memberatkan masih ada pada diri Bell. Makin dekat monsternya, semakin kuat dia merasa sedang berdiri di batas hidup-mati. Setiap kali seekor monster melewati lempengan kelima yang berdekatan, Bell dan Lyu mesti berhenti.

Tapi untungnya—bila itu kata tepatnya—Koloseum memberi bau mengerikan.

Mayat-mayat yang dihasilkan pertempuran internal dibiarkan di tempat kematiannya. Kalaupun batu sihir mereka sirna, bongkahan daging mereka—drop item—tersisa, bau luar biasanya merembes ke seluruh tempat. Tidak mungkin monster hidup dapat mengendus Bell dan Lyu. Di sisi lain, mereka kesulitan menahan muntah.

Bagian baunya pasti dari mayat-mayat para petualang terlupakan.

Seandainya monster menemukan kami, akankah kami menjadi noda darah lain di dinding?

Bell memaksa pikirannya menjauh dari pertanyaan-pertanyaan yang terus mengumpul. Dia kudu fokus menjaga dirinya dan Lyu.

Raungan konstan para monster bergema menembus jubah robek.

… kenapa … Dungeon menciptakan tempat semacam ini …?

Selagi mereka merangkak bisu rahasia penuh, pertanyaan muncul di pikiran Bell.

Menurut catatan Guild, Koloseum mendadak muncul tiga puluh tahun lalu. Eksistensinya diketahui seketika para petualang melaporkan yang awalnya tak lebih dari ruangan terlampau besar dengan lapisan jamak batuan dasar telah berubah menjadi bentuk uniknya sekarang.

Piala Tanpa Dasar. Perang tiada akhir. Samsara2 monster, di mana awal dan akhir berbagi satu titik asal.

Apakah itu salah satu tipu muslihat Dungeon, bermaksud memancing para petualang penyerbu terus membunuh mereka?

Ataukah panggung yang dibuat agar monster bisa membantai satu sama lain?

Atau mungkinkah produk kebetulan tanpa makna dalam di baliknya.

Kegelapan luas tidak memberi Bell jawaban.

Lolongan menggema di telinganya, bak berkata pertanyaan petualang remeh tidak layak meendapat respon.

“Jembatan timur …”

Akhirnya mereka sampai jembatan pertama di sebelah kiri.

Bangunannya sama sebagaimana jembatan utara yang mereka lintasi, berlanjut hingga dinding ruangan.

“Nona Lyu … misalkan kita melintasi jembatan ini kemudian meninggalkan Koloseum di sisi kiri, akankah kita sampai di rute utama? Misal iya, mungkin kita tak usah repot jauh-jauh ke sisi selatan …”

“Sayangnya, kau tidak bisa sampai rute utama dari pintu masuk timur. Pintu masuk selatan dan barat keduanya terhubung ke labirin sembari melewati Koloseum itu sendiri … namun satu-satunya opsi kita sekarang adalah rute selatan.”

Bell tertekuk ketegangan dan menyuarakan angan-angannya, kemudian ditolak mentah-mentah Lyu. Dia kesal karena fakta tidak dapat menggunakan pintu masuk barat andai saja tiang besar di sisi barat laut tidak menghalangi mereka.

Meski demikian, mereka sudah setengah jalan.

Apabila mereka berhasil melewati pinggiran luar berbentuk kipas yang membentang dari jembatan timur ke jembatan selatan, mereka akan sampai tujuan.

Tapi segera setelah pemikiran itu melintasi benak Bell, dia mundur syok.

“…!!”

Dua loup-garou melomat ke lempengan keenam dekat Bell dan Lyu.

Mereka kurang dari sepuluh meter jauhnya. Bell berjongkok dan menahan napas. Hatinya berdebar keras sekeras gendang.

“Uuu …”

Monster serigala mengamati sekeliling mereka.

Wajah menurun ke tanah, mereka memutar leher beberapa kali dan mendengus.

Mereka sepertinya mendeteksi bau. Dipicu kepanikan, suhu tubuh Bell meroket. Dia bisa merasakan Lyu meringis di sampingnya.

Pergi, pergi, pergi …!

Dari balik jubah yang menyaru ke kegelapan, mereka dalam hati meminta, memohon, dan berdoa.

Setelahnya.

Mata monster itu bertatapan mata yang mengintip dari jubahnya.

Tepat sewaktu hati Bell serasa pengen meledak …

“…GURUuu!”

Para loup-garou berbalik dan pergi.

Lima detik berlalu, lalu sepuluh, dan mereka masih belum berbalik.

Mereka tak melihat laju rahasia Bell bersama Lyu. Mereka sudah aman.

Bell mendadak melepas ketegangan dari tubuhnya.

Otot-otot tegang yang tiba-tiba mengendur membuatnya mendesau, namun untung Lyu menutup mulutnya dengan tangan.

 Lolos dari yang itu …

Detak jantungnya yang kian mencepat kembali ke irama normalnya. Kelegaan membanjiri tubuhnya.

“GYAAAAAAAA…!!”

Tatkala itu pula, seekor monster menjerit di bagian jauh Koloseum. Sesaat berikutnya dia menjadi tumpukan abu, batu sihirnya hancur.

Jelas saja, membuat kehidupan baru muncul menggantikannya.

Tangisan kelahiran itu asalnya langsung dari bawah kedua manusia.

“…”

Retakan menjalar padat membelah lantai tepat di bawah kaki Bell.

Waktu terhenti.

Lyu membeku.

Mereka bahkan tak sempat bereaksi di depan lengan tulang putih yang meraih-raih dari lempengan retak.

“OOOOOOOOOOOOOOOOO!!”

Lima jari kurus menggenggam kaki Bell.

Petarung kerangka yang muncul dari lantai adalah seekor spartoi.

Tangannya masih memegangi pergelangan kaki Bell, mengangkatnya ke udara. Jubah kamuflase terjatuh ke lantai.

Setiap mata Koloseum, setiap tetes haus darah monster, menyorot kedua manusia yang terekspos.

“—UAAAAAAAAAAAAAA!”

Meraung yang raungannya mungkin lebih ngeri dari teriakan perang, Bell memotong tangan tulang yang menggenggam pergelangan kakinya dengan Pisau Hestia.

Begitu dia terjatuh ke tanah, Lyu menabrakkan dirinya sendiri ke bahu spartoi, mendorongnya keluar Koloseum. Lolongannya dibalas suara sesuatu pecah.

Tapi sudah terlambat.

“OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!”

Dengan paduan suara seruan perang begitu keras hingga mengguncang seluruh ruangan, para monster meluncur mendekati Bell dan Lyu.

“Lari!!”

Kala Bell mendengar teriakan tak acuh Lyu, kakinya bergerak. Menarik tangan Lyu, dia buang setiap tetes energi yang dimilikinya ke pintu masuk.

Huhh, fuuhh, huhh!”

Napasnya tersengal-sengal, bukan karena lari dari skenario terburuk yang menimpa mereka.

Menggenggam tangan Lyu ibarat takkan dia lepaskan, Bell belari ke seberang pinggiran luaur tenggara Koloseum, satu-satunya jalan terbuka untuk mereka.

Raungan monster tiada habis, permusuhan serta haus darah mendekati kedua manusia tersebut.

Tak kuasa menahan desakan melihat ke belakang, Bell menoleh kemudian meringis kaget akan apa yang dilihatnya.

Siluet-siluet monster tak terhitung jumlahnya menggeliat diterangi pendar terlihat bagaikan komet hitam kelewat besar turun menuju mereka.

Harfiahnya semua monster di Koloseum mengincar Bell juga Lyu.

Sepasukan monster membanjiri para petualang. Bila mana arus deras lumpur ini menelan mereka, tak satu tulang pun tersisa tuk menyaksikan kematian mereka.

“GAAAAAAAAA!”

“OOOOOOOU!”

Monster-monster yang ada di lempengan keempat dan kelima melompat di atas atau merayap di dinding, muncul di lempengan keenam.

Hutan monster menghadang jalan maju mereka.

Secara berpasangan atau bertiga, mereka berkumpul di depan dua petualang.

“MINGGIIIIIIIIIIIIIIIIIIR!”

Teriakan Bell kedengaran seperti permohonan alih-alih teriakan.

Hakugen menikam dada lizardman elite yang mengayun pedang batunya ke arahnya. Sebelum abunya mengendap, Syal Goliath yang melingkari lengan kiri Bell mulai mengiris tiga loup-garou yang melompat ke arah mereka. Ayunan sembarangnya menabrak mereka bagai palu besar, meremuk taring dan cakar mereka lalu dilempar ke belakang.

Walau demikian, tak lama sehilangnya mereka, sekawanan spartoi menyerbu Bell dan Lyu laksana mengejek perjuangan mereka.

“…!”

“Jangan benar-benar melawan mereka! Cukup bersihkan saja jalan maju!”

Ketika sepotong daging Bell dicungkil dan dia tersandung mundur, Lyu berteriak putus asa kepadanya. Tubuhnya condong maju sebagaimana condongnya hewan, dia menyabet saber-nya. Menjaga kaki terlukanya, dia menerjang rendah hampir menyentuh tanah sambil menebas-nebas tulang kering para spartoi.

Tiga monster tumbang menumpuk. Mata melebar, Bell menggenggam tangan yang Lyu ulurkan tepat waktu lalu menariknya dekat ke dada kemudian berlari maju.

Tak melihat sekilas pun tengkorak spartoi yang diinjak hancur sepatu botnya, Bell memanjangkan tangan kirinya ke dinding monster-monster yang menghalangi jalan mereka.

Firebolt!!”

Menggunakan semua Kesadaran yang dimilikinya, dia tembak empat tembakan berturut-turut Swift-Strike Magic ke barisan musuh.

Ketika barisan depan maju kalah, Bell bersama Lyu menyerang tanpa mengindahkan dampak angin kencang berapi yang yang dia lepaskan.

Menyelip melewati sekawanan monster, mereka membuka paksa jalan maju. Cakar serta senjata alam monster yang menggeliat dipukul-pukul sembarangan ke mereka, merobek dan mencungkil kulit para petualang.

Menyelinap melewati lolongan marah yang banyaknya tak terhitung, mereka muncul di sisi jauh hutan monster ini. Menangkis serangan beruntun sekawanan monster menyebar dengan tendangan atau tebasan pedang para petualang mati, menerbangkan penyerang-penyerangnya ke luar Koloseum.

Begitu Lyu merasa gerombolan pengejar milik musuh hendak mencapai mereka, dia berteriak.

“Tuan Cranell!!”

“!!”

Dia lempar benda merah berkilau ke belakangnya.

Salah satu Batu Inferno berharga mereka. Sesaat bomnya meluncur ke udara, Bell melihat ke belakang, membidik, dan menembak.

Api elektrik mengenai targetnya, memicu ledakan besar.

“~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~aaa?!”

Kelopak api mengamuk tak cuma menelan monster namun juga bagian luar tepian Koloseumnya, mengirim kerumunan monster ke tanah di bawah. Kala lempengan di belakang mereka runtuh dengan raungan gemuruh longsor, Bell dan Lyu melirik belakang ke monster yang praktisnya di balik mereka. Tetapi …

“AAAAAAAAAAAAAAAA!”

Setiap kali mereka membunuh satu monser, terdengar teriakan monster baru dilahirkan.

Inilah kekuatan sejati Koloseum yang bahkan petualang kelas satu takuti. Aliran monster tiada habis. Retakan menutupi tanah di depan Bell dan Lyu seperti halnya sarang laba-laba, mengirimkan musuh baru tatkala para petualang mengira mereka nyaris tidak berhasil kabur.

Menghancurkan musuh tiada artinya.

Gerombolan pengejar tiada akhir.

—mustahil.

Bahkan ketika Bell menangkis monster yang melompat dari lempengan kelima lalu menerkam tepat dari sebelah mereka, pertimbangan sulit tanpa perasaan membisikkan kebenaran di sudut benaknya. Darah dingin mengalir ke otaknya yang kepanasan, mendorong pikirannya yang berbayang ke konklusi setengah-setengah.

 Lyu, yang tangannya masih berpegangan ke Bell, tidak bisa berlari dengan kecepatan penuh.

Seandainya Bell mencoba menggendongnya, mereka akan kesusul.

Meskipun mereka sukses lolos melintasi jembatan dan meninggalkan ruangan, monster-monster dari Koloseum barangkali akan mengikuti mereka dan itu artinya ajal. Parade tak terbatas akan mengejar mereka hingga sampai pukulan terakhir.

Itu mustahil. Inilah akhirnya. Lyu sendiri yang bilang—seumpama mereka ketahuan, semuanya berakhir.

Tidak ada gunanya kabur.

Tidak ada jaan keluar—

“—belum!”

Bell berteriak seakan ingin membuang hati lemahnya.

Yang perlu dia lakukan adalah mengerahkan segalanya untuk kabur.

Begitu mereka menyeberangi jembatan selatan, sihirnya dapat digunakan untuk meledakkan jembatannya.

Ada banyak cara untuk menghindari kejaran. Tidak peduli semustahil apa, dia akan mewujudkannya. Seabsurd apa pun itu, entah itu kastilnya ada di udara atau tidak, tidak peduli apakah itu egoisme kekanak-kanakan. Karena kalau tidak, nyawa mereka akan berakhir.

“Belum, belum!”

Berteriak, dia melepaskan tangan Lyu lalu menghunus pedangnya dengan liar ke barbarian yang memblokir jalan depan. Pedangnya meliuk-liuk ke lengan dan tubuh lanjut mengiris satu kaki. Tangan kirinya menyingkirkan tubuh raksasa menjerit, Bell lanjut menghancurkan para obsidian soldier di belakang barbarian.

Lyu meringis saat menyaksikan pertarungan kelewat sengit Bell.

Tak seperti mata merah muda merahnya yang mati-matian mencari masa depan, mata biru langitnya sendiri bersusah payah melihat kenyataan. Menolak berpaling dari kejamnya dunia, dia siap membuat pilihan tanpa perasaan.

Tak disadari di sebelah si bocah, skalanya mulai retak.

Huhh, fuuhh …! Jembatan selatan …!!”

Bell dan Lyu akhirnya tiba di tepi selatan Koloseum, setelah menderita begitu banyak luka dan kekuatan fisik serta mentalnya terkuras sangat besar.

Bell ingin habis-habisan mencari harapan di jembatan yang terbentang di hadapannya, namun—

“OOOOOOO—!”

“…?! Monster datang dari luar Koloseum?”

Boleh jadi setelah mendengar keributan di dalam, sekawanan monter muncul di pintu masuk menuju rute utama.

“Tidak mungkin …!”

Mereka berhenti.

Satu kelompok musuh sudah menuruni jembatan menuju mereka sementara gerombolan tak berujung mengejar dari belakang. Jelas sekiranya mereka mencoba menyeberangi jembatan maka akan dihancurkan dua apitan gelombang musuh. Walaupun Bell mulai mengisi daya sekarang dan meluncurkan firebolt ke kawanan di depan mereka, monster untuk dikalahkan kebanyakan.

Sebelum mereka menyeberang jembatan—sebelum Bell sempat menjatuhkannya—mereka akan ditelan monster dari kedua sisi.

Tentu saja, terjebak di jembatan tanpa jalan keluar sama saja mati.

Wajah Bell penuh kepanikan.

“…”

Karenanya Bell tak sadar.

Tepat di belakangnya, tatapan Lyu tiba-tiba melihat hal jauh.

Skalanya mendadak berbalik.

“—Tuan Cranell! Ke jembatan!”

“Apa?!”

“Kau menghancurkan musuh di depan kita! Aku akan gunakan sihir untuk mengurus yang di belakang!”

Tiba-tiba Lyu meneriakkan perintah secara beruntun. Bell tidak percaya telinganya.

Benar, bila mereka dijepit dua kumpulan monster satu-satunya pilihan adalah menangani dua-duanya. Namun kali ini, Lyu mengurus belakang. Andaikan salah satu dari mereka harus menghadapi musuh tak terhitung jumlahnya, pasti harus Bell yang masih dapat bergerak normal. Dia punya kesempatan lebih baik untuk selamat. Dia hendak protes tetapi—

“Langit hutan jauh. Bintang tak terhingga bertahktakan langit malam abadi.”     Rapalan Lyu memotongnya. Lyu berhenti bergerak dan fokus penuh ke hafalan kecepatan tingginya. Bell tidak mampu menghentikannya sekarang, tetapi waktu tersia-siakan bisa saja mematikan.

Saat ini, pilihan Bell satu-satunya adalah melawan musuh di depannya.

“Sial …! Aku akan segera kembali!”

Dia melirik Lyu yang memunggunginya, kemudian banjir monster menekan yang menuju mereka sebelumnya sudah melangkah ke jembatan selatan.

Meninggalkan Lyu di titik di mana jembatan terhubung ke Koloseum, Bell bertabrakan massa monster yang menyerangnya.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!”

Sekuat tenaga, dia mulai membantai habis mereka satu per satu.

Sesuai ajaran Lyu, dia mendaratkan serangan mematikan ke batu sihir mereka dan menendang jatuh mereka dari jembatan batu. Bell pun tak menahan-nahan sihirnya, mengamuk liar kepada musuh-musuhnya.

“Indahkan suara orang bodoh ini, sekali lagi hibahkan bintang api perlindungan ilahi. Hibahkan cahaya belas kasih kepada yang meninggalkanmu …”

Dari belakang, Bell bisa mendengar Lyu merapal cepat. Rapalannya secepat angin, melodinya tak menghiraukan semua ancaman sekitar.

“Datanglah, angin pengembara, sesama pengelana. Lintasi langit dan berlarilah melalui alam liar, lebih cepat dari apa pun.”

Jembatan tersebut bergetar di bawah kaki Bell selagi gemuruh menyerang telinganya.

Lyu pasti memanfaatkan napas api peluda untuk menyulut Batu Inferno terakhir dan mengusir banjir monster mendekat.

Itu niatnya, atau barangkali dia bersembunyi di balik asap ledakan untuk kabur dari kejaran. Yang manapun, langkahnya ulung.

Andalkan Lyu untuk melakukan hal semacam itu. Andalkan Angin Badai.

Dia senantiasa berhasil lolos dari rahang kematian dengan strategi uji pertempuran yang takkan pernah dipikirkan Bell. Selama Bell memercayainya, dia akan bisa melewati apa pun. Dia bahkan sanggup lolos dari lantai dalam.

Kalau saja dia menaruh kepercayaannya kepada Lyu.

“Karuniakan cahaya debu bintang dan serang musuhku!”

Itu baris terakhir rapalannya, baris yang mengumumkan sihirnya telah selesai.

Masih banyak monster di jembatan. Bell belum membersihkan jalan, tetapi andaikata dia tak berbalik sekarang untuk menjemput Lyu dia takkan lolos tepat waktu.

Dia menggertak gigi dan bersiap mundur dari titik tengah jembatan.

Dia kembali menatap Koloseum.

“…”

Matanya bersilangan sepasang mata biru langit, dan pikirannya berhenti.

Dia melihat Lyu menghadapnya, lalu waktu membeku.

Lyu tidak bertarung terampil.

Dia hanya menggunakan serangan dan pertahanan minimum. Dia serba luka.

Punggungnya menghadap monster yang seharusnya dia lawan.

Entah kenapa, dia mengarahkan sihirnya ke dasar jembatan.

Bagiakan burung yang sayapnya dipangkas, elf babak belur itu terenyum kepada Bell.

—apa yang dia lakukan?!

Sebelum Bell sempat berteriak, Lyu menuntaskan sihirnya dengan suara paling merdu yang pernah didengarnya.

Luminous Wind.”

Sebuah bola cahaya terbungkus angin muncul di punggungnya kemudian terbang.

Peluru cahaya pertama mendarat di baju zirah Bell tempatnya berdiri mematung, seakan-akan ingin mengangkatnya dari bawah. Sebelum dia mengerang atas syoknya, dia merasakan angin menyelimuti tubuhnya. Angin membungkus bola cahaya mengangkat kakinya dari jembatan ke udara. Seketika para monster mendongak melihatnya, Bell dibawa mundur searah melengkung hingga ujung jembatan.

Begitulah, dia dibawa ke luar Koloseum.

“…”

Tempat selanjutnya yang diincar sihir bintang jatuh ialah jembatannya.

Sisa-sisa bola cahaya meledak menjadi rangkaian ledakan menghancurkan jembatan berselimut awan debu. Monster-monster yang berdiri di jembatan jatuh ke tanah berbatu.

Selagi Bell diputar-putar di udara, dia melihat semuanya.

Matanya melebar, mengulur tangan kanannya biarpun tidak bisa menggapai.

Tidak bisa menggapai elf yang setelah menjatuhkan jembatan harapan, menetap sendirian di tebing keputusasaan.

“—Nona Lyu!”

Sewaktu punggungnya menyentuh tanah, aliran waktu yang membeku hancur.

Terlempar ke jalan di luar Koloseum, Bell memanggil nama Lyu.

Dia panggil berkali-kali, sekalipun tangannya menekan dada untuk menenangkan batuk kerasnya.

Jauh di kejauhan, dia bisa melihat Lyu tersenyum sama.

Kenapa! Kenapa kau melakukannya?!

Begitu emosi dan kesedihan riuh meronta-ronta tanpa kata dalam hatinya, Lyu membuka bibir.

“Sudah semestinya begini …”

 Suaranya tak mencapainya, tetapi bibirnya menuturkan kata-kata tersebut.

Kendatipun Lyu tak ingin Bell paham.

Lyu telah membuat pilihan.

Tak seperti Bell yang mencoba melarikan diri dari rahang kematian tanpa strategi layak sama sekali, Lyu sudah tenang menilai situasinya.

Dia tahu entah sekeras apa mereka berjuang, mereka akan mati bersama-sama, lantas Lyu buang nyawanya.

Dia buang agar Bell bisa hidup.

“Tidak, tidak!!”

Bell meratap bak anak kecil kepada Lyu yang telah mencampakkannya.

Dia berteriak kepada elf yang telah melindunginya layaknya seorang ibu atau kakak.

Tetapi semengerang dan semenangis apa dia, tiada jembatan untuk membawanya kepada Lyu.

Sejauh apa pun dia berlari lalu melompat, dia takkan sanggup terbang menyeberang jurang yang memisahkan mereka.

Sungai kegelapan pemisah mereka membuatnya putus asa sekaligus perpisahan abadi.

“Lanjutkan …”

Hingga akhirnya, Bell mendengar kata-kata itu.

Lanjutkan? Hidup? Perjalanannya?

Mata biru langit Lyu menatapnya sampai akhir, memohonnya untuk hidup.

Sekarang ini, seekor monster jatuh dari belakangnya kemudian dia menghilang termakan asap mengkeluk.

“—Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!”

Dengan ratapan yang sepertinya menembus hatinya, Bell berbalik dari Koloseum dan mulai berlari.

ф

“Sudah semestinya begini …”

Lyu menyipitkan mata pada bocah yang teriakannya menghilang di kejauhan.

Sesuai prediksinya, Dungeon akhirnya memaksakan keputusan kepada mereka.

Dungeon menyediakan persimpangan yang segalanya akan sia-sia kecuali ada pengorbanan.

Lantas Lyu membuat keputusan.

Dia akan menyerahkan hidupnya sendiri untuk menyelamatkan Bell.

Dia akan menggunakan kepercayaan Bell kepadanya untuk mencapai yang diinginkannya.

 Dia akan memanfaatkan kepolosan Bell dan kecenderungan untuk mengikutinya begitu saja tanpa mempertanyakan perintahnya.

Dia siap melakukannya dari awal. Dia tak punya penyesalan.

Tapi dia merasa beraslah. Satu-satunya jarum dalam hati nuraninya adalah fakta bahwa dia menipunya.

Aku memberikannya peta dan barang-barangnya … aku mengajarinya sebisa mungkin … bahkan tanpaku—lebih tepatnya, tanpa diri bebanku, dia bisa kabur dari lantai dalam … Lyu paham tindakannya akan menyakiti anak itu.

Dia juga ingin Bell hidup.

Jauh lebih daripada dirinya, sang pendosa, ingin hidup.

“OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!”

Sang monster yang meraung di belakangnya tidak memberi waktu bersentimental.

Bell telah dibebaskan. Tidak peduli sebanyak apa monster yang dibantai Lyu dalam Koloseum, musuh-musuh baru akan bangkit menggantikan mereka.

Tidak ada gunanya perjuangan terus-menerus.

Namun demikian, Lyu bertahan sampai akhir.

Dia ini seorang petualang, dan dia takkan menyerahkan nyawanya tanpa menuntut harga.

“Dan … kalau aku tak menderita hingga akhir, aku takkan mampu menghadap Alize dan yang lain.”

Dia berbalik dari posisinya menghadap monster yang mendekat dari tepi selatan lempengan keenam tempat jembatan dulu terhubung. Dia menekuk lutut dan melompat ke atas.

Lompatan berat sebelah karena sedang melindungi kaki kanan terlukanya.

Tetapi, lompatannya cukup tinggi hingga terbang ke udara. Sewaktu monster yang berlari menujunya jatuh dari tepi ke batu berujung runcing di bawah, banyak mata menatapnya.

Dia mendarat di lempengan kelima tetapi tersandung. Ketika dia pingsan ke tanah, langsung dia dibayangi bayangan.

Satu spartoi mengayun gadanya.

Lyu berguling tuk menghindarinya lalu berdiri, menampik tangan si spartoi.

Setelah jatuh lebih dalam ke Koloseum, Lyu dikejar gerombolan monster yang mirip ular besar, atau pusaran air binatang buas mengepung menghampiri pengorbanan menyedihkan.

Dia menebas loup-garou yang menerjangnya dengan pedang petualang yang sudah mati. Dia berhasil merobek perutnya padahal bilahnya membengkok, kemudian dia buang dengan ucapan terima kasih atas bantuannya.

Musuh baru berdatangan. Hukumannya tiada lagi penangguhan. Dia kabur ke lempengan keempat tetapi tak menemukan jalan keluar. Monster-monster mengepungnya.

Bahkan tanpa kekuatan untuk menggunakan sihirnya, dia diseruduk lizardman elite.

Dia jatuh ke lempengan ketiga dan ditangkap satu barbarian yang sudah menanti.

“Ah—!”

Barbarian itu menendangnya ke udara dengan kakinya yang sebesar batang pohon.

Dia tiba-tiba mendarat di dasar Koloseum, yaitu, di arena pusat.

Napas yang diketuk keluar dari dalam dirinya dengan pukulan kuat di punggung, sakitnya dua kali lipat.

Para monster mengepungnya tanpa ampun.

Pemandangan tiada harapan. Dia terjebak di tengah jaring berlapis-lapis. Dia selayaknya jenderal musuh terluka parah yang dikejar pasukan sepuluh ribu orang. Bermaksud memenggalnya, seluruh taring dan cakar yang bisa dibayangkannya mendesing di udara. Bila sesama petualang melihat dari luar Koloseum, mereka sudah pasti akan menganggapnya tak tertolong lagi.

Monster-monster itu tak menyembunyikan kegembiraan mereka terhadap burung yang telah kehilangan sayapnya ini.

Mereka berebut menjadi yang pertama tuk melahapnya, saling dorong di tengah darah dan teriakan.

Namun itu pun persoalan sepele.

Kepungan di sekelilingnya makin padat sampai para monster hampir menginjak-injaknya.

“… aaah … jadi ini …”

Inilah tempat kematiannya.

Kini dia sadar sungguh-sungguh.

Dia memang merasa menyesal. Harga diri elfnya berteriak bahwa dia harusnya tak boleh mati seperti ini dalam sarang monster.

Dia tak ingin dinodai monster, mampu meninggalkan harga diri maupun mayatnya.

Tetapi dia telah mengamankan nyawa seseorang yang penting baginya.

Ujung-ujungnya, terpenuhi sudah perannya sebagai petualang senior.

Sudah cukup. Bukan?

Dikarenakan pengorbanan memalukan namun mulianya, Bell telah diselamatkan.

Lyu belum kehilangan hal penting untuknya.

Menanggapi ucapan bisiknya, hatinya terdiam. Harga diri elfnya nampak puas oleh argumen internalnya.

Dia sekilas tersenyum.

Syr … semuanya …

Benevolent Mistress terbesit dalam pikirannya.

Dia meminta maaf sebab menghilang tanpa bilang-bilang dari teman-temannya yang telah memberinya tempat seperti rumah saat tak memilikinya.

Maaf sudah melepaskan nyawa yang kau selamatkan.

Lady Astrea …

Hatinya berdebar-debar waktu mengingat dewi pelindungnya.

Kepalanya menunduk mengingat mata serta suara sedih yang tidak sanggup lagi dia ingat.

Maaf sudah mengotori namamu dan nama familia kita sampai akhir.

Alize …

Betapa inginnya dia bertemu kembali.

Hukuman mati yang dia rindu-rindukan dalam lubuk hatinya, waktunya pertaubatan dan penebusan telah tiba.

Tolong, kumohon, adili aku.

 Tidak menyadari monster tengah menyerangnya, Lyu menempelkan pipinya ke lantai dan tersenyum.

Sebagaimana yang dilakukannya di suatu gang belakang tempat yang dia kira-kira akan menemui kematiannya.

Dia pelan-pelan menutup mata, bersiap menyambut momen terakhirnya.

Tetapi Lyu salah perhitungan.

Dia lupa.

Dia khilaf mempertimbangkan sifat seseorang yang dia campakkan.

Dia lupa tidak peduli seberapa sering ditipu atau dilukai, laki-laki berambut putih itu sangat sederhana dan baik hati bahkan bersikeras menyelamatkan tidak hanya manusia, tapi monster juga.

Dia lupa mata merah muda merah gigih itu tidak kuat meninggalkan satu orang pun atau berpisah dengan siapa pun—bahwa pemilik matanya adalah orang tolol yang ngotot menghancurkan skala pilihan.

Persis seperti waktu gadis berambut biru abu-abu menyelamatkannya setelah dia melampiaskan dendamnya.

Orang yang mencengkeram tangannya erat sekali tentu takkan menerima hidupnya sudah sampai akhir.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!”

Detik berikutnya, listrik api meletus dari Koloseum.

“…”

Tatkala nyala api meraung-raung, percikan api berputar-putar melayang ke Lyu yang terbaring di tengah arena.

Lyu tidak memedulikan monster-mosnter yang tertegun, melainkan membuka matanya dan melihat arah sumber percikan api.

Dia melihat api putih.

Api putih berkobar di tengah kengerian.

Rambut putihnya kusut, tubuhnya terbalut api berkedip-kedip, satu anak laki-laki muncul di hadapan sang monster.

“Nona Lyuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu

Uu!!”

Bell sedang berada di lempengan keenam tepi luar Koloseum.

Dia menyerbu maju, mengacaukan para monster oleh serangan kejutannya. Dia langsung menuju Lyu yang terbaring tertelungkup menghadap bawah di tengah jaring monster.

“… kenapa …?”

Awalnya, Lyu tidak tahu apa yang terjadi. Tetapi begitu matanya bertatapan mata Bell, menampik kebingungan dan monster murka, dia meneriakkan pertanyaannya sekuat-kuatnya.

“Kenapa?! Kok bisa?!”

Dia menggerakkan tangan gemetarnya di tanah kemudian mendongak melihat pemandangan itu, baginya, pemandangan itu mimpi buruk.

Hatinya penuh kalutan emosi dan keraguan.

Dia yakin Bell telah menghilang dari sisi selatan Koloseum. Jadi kenapa dia di sini? Bagaimana bisa sampai sini? Lyu telah menghancurkan jembatannya. Bahkan petualang kelas atas tidak mampu melompat sejauh itu. Kurang dari lima menit berlalu, jadi bagaimana—?

Alur pikiran bingungnya sudah sampai sejauh itu lalu seketika terhenti dan sangat terkejut.

“Dia tidak mungkin telah mengambil alih … jembatan barat?”

Benar memang.

Bell tak menyerah menyelamatkan Lyu setelah lari keluar dari pintu masuk selatan. Untuk menyelamatkannya, dia telah berlari ke sekitar pintu barat. Mengingat lokasi empat pintu masuk, seluruh medan yang mengelilingi Koloseum terdiri dari tangga mengarah ke atas. Bahkan tanpa mengetahui tata letak tepatnya jalan-jalan itu, Bell bisa saja sampai tujuannya dengan cara memanfaatkan semua kesempatan. Medan unik area ini tidak bisa tidak mengarah ke Koloseum. Dan Koloseum terkoneksi oleh pintu masuk barat serta timur melalui labirin. Bell sudah tahu itu sebelumnya.

Dengan kata lain, dia memanfaatkan saran Lyu yang bermaksud membantunya melarikan diri malah buat menyelamatkannya.

“Bego … dasar bodoh!!”

Dia menyerbu turun, dari lima ke empat sekarang lempengan ketiga tanpa memedulikan isi pikiran Lyu.

Kenapa?! Kenapa dia lakukan ini?!

Kini giliran Lyu yang termakan emosi kacau.

Mengapa Bell menghancurkan keinginan Lyu? Kenapa dia tak mendengarnya?

Sekarang mereka berdua akan sama-sama mati! Kematian mereka sia-sia.

Setidaknya, aku ingin kau, hidup!

“OOOOOOOOO!”

“Hiyaah!!”

Selagi menyerbu langsung ke Lyu, para spartoi dan barbarian menyerangnya dari segala sisi. Bell muntah darah, namun momentumnya membawanya maju.

Misi bunuh diri sembrononya cepat merobohkannya. Tubuhnya lembab darah. Tanpa pisaunya, dia hampir-hampir terbunuh monster. Dia bagaikan boneka rusak.

Cukup. Pergilah! Pergilah selagi masih bisa!

Bibir Lyu tidak sanggup tepat waktu merangkai tangisan menyayat hati.

Tanpa sadar, Bell sudah mendarat di arena tempatnya berbaring, mengabaikan air mancur darah dan dinding monster mengerikan dalam perjalanannya ke sana.

“!!”

Dia meraung haus darah tanpa arti dan menembus musuh demi mendatanginya.

Bell merangkak menghampirinya seperti hewan di sela-sela kaki monster, menghentak tanah dan melompat ke atas kepala mereka selagi musuh-musuhnya melancarkan serangan mengancam, seketika dinding besi monster menjulang di hadapannya, Bell mengebor jalan maju menggunakan api listriknya.

Dia tidak memedulikan mereka. Mengabaikan taring-taring dan cakar-cakar yang mencukur habis dagingnya, dia berlari menuju pusat rajutan kehidupan tempat Lyu berada.

Bell menjadi baji yang membelah dinding monster, selintas api putih.

Tidak ada bagusnya. Tidak ada gunanya. Tidak ada artinya.

Meskipun Bell berhasil sampai sisi Lyu, yang ditunggu hanyalah penghinaan dimakan hidup-hidup. Keduanya akan secara memalukan dicabik-cabik bahkan tanpa sempat menuturkan kata-kata terakhir. Keinginan Lyu telah dirubah menjadi abu.

Ini memang pengkhianatan keji. Egoisme buruk. Kebaikan kejam.

Tidak sanggup menekan emosi naik-turun dalam hatinya, Lyu membuka mulut hendak berteriak.

Lyu ingin mengutuk sosok pemberani teramat-amat bodoh itu sekuat-kuatnya.

“…”

Namun sebelum bisa dia lakukan, dia menyadari sesuatu.

Cahaya terang memancar dari tangan kanan Bell.

Partikel cahaya putih berkumpul seiring bel berbunyi.

Lyu melihat Bell tengah menggenggam bola merah di tangannya, dan partikel cahaya itu terfokus ke bola merahnya.

Lyu melihat mata merah muda merah Bell belum menyerah sama sekali.

Tidak mungkin—!

Tangan kanan yang tak memegang pisau sedang memegang bom.

Itu Batu Inferno terakhir yang Lyu kasih padanya.

Bell tengah merapal batunya.

Inilah kebijaksanaan. Bell menerima saran Lyu dan dengan risiko besar telah menyatukan pengetahuannya sendiri menjadi kebijaksanaan.

Dia pernah bereksperimen dengan Argonaut sebelumnya. Dia tahu rapalannya maksimal empat menit, dan Bell tidak bisa merapal dua hal sekaligus, dan itu pun hanya efektif pada aksi yang berhubungan serangan. Dia sendiri tahu rapalannya dapat diaplikasikan ke sihir atau tinjunya, atau senjata semacam pisau.

Dia akan merapal senjata semacam pedang besar dan Pisau Hestia beberapa kali selama pertarungan. Dia tahu itu selama tangannya menyentuh senjata, masih memungkinkan meningkatkan kekuatannya.

Karenanya, Bell mestinya mampu merapal Batu Inferno yang digenggamnya dengan kekuatan keterampilannya. Dari awal dia akan merapal drop item yang menghasilkan api eksplosif.

Untuk menyelamatkan satu orang elf, dia bersedia mengambil risiko.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!”

Kelinci berlumuran darah itu melolong, bom supernya digenggam, dan meledak menembus dinding monster.

Dia telah melakukan Rapalan Simultan selama lima menit larinya dari sebelah selatan ke barat Koloseum lalu menembus jaring monster yang mengepung Lyu.

Terdengar lonceng. Sudah 240 detik berlalu.

Sudah terisi penuh.

Batu merah letak partikel putih berkumpul berkilauan tajam seakan-akan berteriak dari dalam.

Kemudian—

“Nona Lyu!!”

Dia menerobos.

Berlari sekuat mungkin, mengganjar darah dan luka, jika perlu kesediaan untuk mati, Bell menembus dinding monster.

Dia berlari ke tengah ruangan.

Elf itu berbaring tengkurap, diterangi pendar.

Bell mengulur tangan kirinya yang terbungkus Syal Goliath.

Dia mengulurkan tangan berjuang keras sekali melawan kekejaman realita.

“…”

Pecahan-pecahan ingatan melintas di benak Lyu yang telah lama dibekukan waktu.

Ingatan tentang perdebatan keadilan bersama rekan-rekan tempurnya.

Salah mengartikan idealisme dengan arti keadilan.

Ketika dia pikirkan, Lyu sadar dia telah berhenti mengejar keadilan murni.

… bagaimana seandainya seseorang beneran memenuhi idealisme mereka?

Pertanyaan dari masa lalu.

Pertanyaan dari masa lalu.

Tidak tahukah?

Hari itu, teman tersayang tak tergantikannya menjawab.

Dia meyakininya.

Itulah orang-orang yang kita panggil pahlawan.

Lyu meraih tangan yang terulur kepadanya.

“!!”

Lyu ditarik ke pelukannya.

Ke pelukan bocah itu dan menuju jantung penjara tak terbatas dipenuhi raungan-raungan monster.

Monster mendekati mereka dari semua arah. Rute pelarian mereka hilang. Taring-taring dan cakar-cakar tampak di depan mata mereka.

Sewaktu aliran waktu sampai batasnya, bel berbunyi di tangan anak laki-laki itu, mengumumkan kritisnya.

Segera setelahnya, Bell lempar batu tersebut.

Batunya berputar-putar di atas kepala mereka ke tengah Koloseum.

Sehubungan dasar keterampilan Bell, sepintas sesudah senjata yang dirapal meninggalkan tangan Bell, rapalannya akan kehilangan efek dan partikel cahaya yang tersimpan ‘kan beramburan lalu hilang.

Namun Bell punya penyulut yang membakar lebih cepat ketimbang momen sekilas itu.

Firebolt.”

Swift-Strike Magic-nya.

Menolak membiarkan partikel cahayanya menghilang, api listrik melesat menuju batu merah.

Sesaat—batunya menyala.

Lyu melihat apinya menyebar ke luar.

Bukan api merah yang menyapu Koloseum dua kali, melainkan kilatan cahaya putih indah.

Aurora putih jernih yang menghancurkan segalanya.

Para monster menarik leher ke atas mendongak, mata Lyu sendiri terbuka lebar, Koloseumnya sendiri … semuanya diterangi cemerlang membutakan.

Selanjutnya cemerlang yang bagaikan matahari putih meledak.

Suar putih menelan seluruhnya.

Teriakan-teriakan monster dihapus dan lempengan-lempengan Koloseum berguncang, tidak kuat menahan guncangannya.

Sewaktu sebelum cahaya berkilau datang, Lyu telah ditekan ke tanah, masih dalam pelukan Bell, dan dunia di hadapan matanya pun telah menghilang tak tampak.

Guntur memekakkan telinga serta gelombang panas menghantamnya. Gelombang kejut menyerang tubuhnya.

Pas kesadarannya memutih, sensasi melayang menyelimuti tubuhnya.

Catatan Kaki:

  1. Amfiteater atau ampiteater adalah sebuah gelanggang terbuka yang digunakan untuk pertunjukan hiburan dan pertunjukan seni. Istilah amfiteater berasal dari bahasa Yunani kuno, ἀμφιθέατρον (amphitheatron), dari kata ἀμφί (amphi), yang berarti “di kedua sisi” atau “di sekitar”, dan θέατρον (théātron), yang berarti “tempat untuk menonton”.
  2. Saṃsara atau sangsara dalam agama Buddha adalah sebuah keadaan tumimbal lahir (kelahiran kembali) yang berulang-ulang tanpa henti. Selain agama Buddha, kata samsara juga ditemukan dalam agama Hindu, Jainisme, serta beberapa agama terkait lainnya, dan merujuk kepada konsep reinkarnasi atau kelahiran kembali menurut tradisi filosofikal India.

12 Replies to “DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 14 BAB 12”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *