DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 14 BAB 11

Posted on

Kemana Kehendak

Membunuh Menuntun

Penerjemah: Dark Nier

Teriakan tempur monster bergema bagaikan guntur.

Mengabaikan keringat yang menetes di tubuh, aku merespon paduan suara mengancam dengan pusaran serangan tenang.

Kami berada di medan perang lantai dalam.

Setelah menelusuri labirin beberapa waktu, kami berhasil mengambil posisi di atas tangga.

Keputusan itu didasarkan salah satu syarat Lyu untuk bertempur:

Selalu manfaatkan medan.

Sebagaimana labirin di Ibu Kota Air, labirin-labirin di antara Dinding Cincin lantai 37 itu bertingkat. Langit-langit ruangannya luar biasa tinggi, dan bergerak majus ama saja naik-turun tangga tiada ujung. Sekarang ini, kami melawan monster dari puncak salah satu tangga tersebut.

Jelas sekali monster sulit menyerang kami dari bawah dan sama sulitnya menangkis serangan kami dari atas. Kami unggul geografis—itu dia, kami menggunakan perbedaan ketinggian menjadi keuntungan kami.

“Yaaa!”

“GAAA?!”

Aku mengayunkan gada batu putih di atas laoup-garou tersisa yang sepintas lengah. Bagi monster berkepala serigala di tangga bawahku, senjatanya seperti senjata alam—yang kucuri dari binatang buasnya langsung—sedang aku ayun ke bawah tinggi dari atas kepalaku. Meskipun dia mencoba menahannya dengan tangan, gadanya meremukkan kepala dan tubuhnya, sampai batu sihirnya.

Bahkan tanpa menunggu tubuhnya hancur menjadi abu, aku buang senjata alam retak-retak dan segera menghunus pedang petualang mati. Aku menikamnya secara akurat ke batu sihir skupp sheep yang sekejap langsung berada di depanku, ibaratnya aku memprediksi serangannya. 

“Awasi musuhmu baik-baik.”

Lyu memberitahuku untuk mengawasi dan memperkirakan gerakan monster.

Itu memungkinkanku bertindak taktis, tapi lebih pentingnya, mengganti luka-luka dan rintangan fisik lainnya dengan akalku.

“OOO, OOO!”

“UUUU …!”

Selagi hati-hati memerhatikan mereka, aku tahu monster-monster di bawah kami kehabisan cara bertarung.

Lorong dan tangga tempat kami berdiri sempitnya tidak biasa buat lantai 37, yang memungkinkan kami membatasi jumlah musuh yang kami lawan sekaligus menjadi dua. Mayat-mayat menumpuk seiring teriakan amarah mereka.

Kami hanya harus menghajar keras monster yang mendekat sembarangan.

Itulah yang kuperbuat pada lizardman elite yang menyerang dengan lolongan kesal. Tendangan berputar ke rahangnya menghempasnya ke belakang, menjathukan para monster lan di tangga ketika jatuh lalu mematahkan lehernya.

Lengan kananku cenderung naik …

Itu hal lain yang dikatakan Lyu ke aku.

Aku menyaksikan gelombang monster naik tangga dan sangat sengaja—tanpa panik, atau tegang—menunggu kesempatanku, kemudian—menyerang!

“GUGAA?!”

Dorongan tanganku mendarat di tengah perut si monster. Loup garou menjerit kemudian berubah menjadi kabut abu.

Kau bisa melakukannya. Kau bisa melihat. Kau bisa menyerang. Kau bisa terbang.

Jika aku mempraktikkan saran Lyu, aku bisa bertarung.

Dibanding bertarung di tanah datar, gerakan-gerakan monster jauh lebih terbatas di sini.

Mentalku naik tingkat.

Jangkauan gerak mereka terbatas artinya aku bisa memainkan mereka ke arah manapun yang paling menguntungkanku.

Dan bisa memainkan mereka berarti prediksiku mirip-mirip firasat.

Aku melihat monster berteriak-teriak mendekat, membidik, dan beraksi.

“—haaa!!”

Aku memotong miring ke bawah leher lizardman yang memimpin serangan, menerbangkannya. Langsung dua loup-garou menghindari mayatnya dan mendatangiku. Aku balikkan ayunan dan menusukkan pedang ke dada monster serigala di sebelah kananku. Seketika monster di kiri menyabet cakar tajamnya ke arahku, aku tahan mudah menggunakan Syal Goliath yang membungkus lengan kiriku. Mengabaikannya, aku ayun pedangku membentuk lengkungan rapat. Sekalipun tidak mampu membunuh musuh sekali gerak, aku mencoba bergerak seminimal mungkin. Loup-garou sekarang menghampiriku dari samping, kemudian pedangku mengiris kakinya, hilang keseimbangan. Segera aku serang dengan gagang.

Darah mengalir dari hidungnya ketika serangan kuatku menghantam mukanya di tengah udara. Jatuhnya tertusuk sesuatu yang harusnya menusukku.

Tertusuk tombak tulang, salah satu proyektil jarak jauh skull sheep yang menyelinap dari belakang. Sheep itu membeku sedetik sewaktu serangannya salah tembak ke loup-garou, lalu aku manfaatkan kesempatannya tuk melempar pedangku ke arahnya. Sekilas melihat senjata menembus tengkorak dan batu sihirnya bahkan sembari mengambil Hakugen dengan tanganku yang kini kosong.

 Aku melirik loup-garou yang diam-diam melompat ke atas kepalaku laksana bilang, Ketahuan, tak mengindahkan mata kagetnya karena termakan jebakanku—terus kubelah dua menggunakan Hakugen.

Baru saja aku mengubah empat sampai lima monster menjadi abu seolah-olah sudah kurencanakan sebelumnya.

“UOOOOO!”

Ini dia datang yang keenam.

Aku takkan sanggup menghentikan loup-garou ini sendirian.

Jadinya …

“GUGEI?!”

Aku serahkan ke dia.

Lyu melempar belati dari posiisnya ke lorong di belakangku. Pengaturan waktunya sempurna: dia melempar tepat kala aku keluar dari jalur bilahnya. Pas monternya menggeliat, matanya tertusuk belati dari anggota party menakjubkan di garda belakang, aku mmasukkan pisauku ke dadanya.

Aku terbang—aku menggunakannya.

Memainkan musuh.

Sesuatu yang Aiz ajarkan padaku.

 Mereka selalu paling lengah tepat sebelum melancarkan serangan terakhir mereka.

Saat-saat sebelum mereka menyerang adalah kesempatan terbaikmu.

Jadi kau pancing mereka melancarkan serangan mematikan.

Tatkala itu, kami membicarakan pertarungan satu lawan satu. Namun berkat instruksi Lyu, aku luaskan biar mencakup semua musuh. Aku menghitung mundur dari pukulan terakhir sambil mengawasi dan memperkirakan gerakan mereka. Selanjutnya, dengan memanfaatkan medan, aku sengaja menarik mereka mendekat dan membatasi gerakan mereka.

Aku membaca seluruh medan perang dan memanipulasinya.

Pelatihanku dengan Aiz nyambung dengan saran Lyu.

Ajaan Putri Pedang dan Angin Badai menyambung.

Begitu kusadari, dunia meluas di depanku.

Perasaan mahakuasa sesaat ini sepertinya memberikanku kekuatan.

Sayangnya, aku tak sempat menikmati pengalaman tersebut.

Namun kini aku tahu aku bahkan bisa tumbuh lebih kuat.

Keyakinan itu bersinar di dadaku, dan tahu-tahu tenggorokanku bergetar.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!”

 

ф

 

“… sempurna.”

Ketika teriakan perang Bell yang menandingi teriakan para monster terdengar, Lyu membisikkan kata kagum pada gaya bertarung bocah itu sekarang ini.

Ini pertumbuhan … bukan, lompatan besar. Tapi bisakah dia tumbuh lebih lagi?

Bukan karena dia menyerap cepat banyak sekali hal.

Lyu tahu dia suka bersungguh-sungguh dan betul-betul mempraktikkan sarannya. Sementara dia unggul memperbaiki titik lemahnya, akan tetapi, dia sepertinya tidak mampu melakukan lebih dari yang Lyu katakan padanya.

Harus diapakan?

Sekarang ini, Bell mendengar sarannya dan diaplikasikan.

Dia juga tak meninggalkan pengetahuan dasar; dia memikirkan bagaimana cara mengembangkannnya sendiri. Meskipun Lyu tak tahu itu, mirip yang dia lakukan untuk mengembangkan Argo Vesta dari keterampilannya sendiri. Dengan demikian, dia pikirkan dan bereksperimen sendiri. Itu penting bagi seorang petualang.

Ada tanda-tanda kedatangannya. Kejadian dramastis yang meningkatkannya ke Level 4, termasuk bertemu Xenos dan menemui musuh layaknya, Asterios, telah mengubahnya. Kini, kondisi ekstrim lantai dalam memaksanya membuat lompatan lain.

Jika dia tak menjadi lebih kuat, kematian semata yang menunggu.

Didorong menuju neraka ini, rahang kematian kejam memaksanya tumbuh.

Lyu menyipit ibarat melihat cahaya menyilaukan.

“…!!”

“!”

Dia sedang melihatnya membantai monster ketika mendengarnya—lolongan monster-monster jauh dari lorong di belakangnya.

Sekawanan lizardman elite.

“Nona Lyu?!”

Bell beralih menghadapnya, berteriak terkejut.

Lorong mereka berada sekarang tidak ada terowongan bercabang. Mereka terjebak dalam serangan penjepit.

Takut pada Lyu yang masih berlutut dan tidak bisa bergerak bebas, Bell mulai menghampirinya, tapi Lyu hentikan dengan perintah tajam.

“Tuan Cranell, fokus saja pada musuhmu sendiri!”

“Tapi …!”

“Aku tidak bisa lagi mendukungmu. Aku takkan sempat mengawasimu lagi.”

Inilah lantai dalam. Dia semata-mata tidak bisa terus menyerahkan pertarungan kepada Bell selagi dia berperan jadi cadangan.

 Lyu selama ini sudah tahu dalam party duet, tiba waktunya waktu garda belakang mesti bangkit dan bertarung. Kini waktunya tiba.

Wajahnay tenang walaupun butir-butir keringat disebabkan rasa sakit kakinya.

“Aku tidak bisa menyusahkanmu. Aku harus bertarung juga.”

Lyu berbalik dan berposisi bertarung.

Dengan monster mendesak menghampiri, Bell tak sempat ragu-ragu. Dia hanya dapat terus bertarung di atas tangga dan percaya Lyu di bawah.

“UOOOOOOOOOOOOOO!”

Tangannya memegang pedang di pinggangnya seketika lizardmen mendekat.

Pedang besi yang dia ambil dari para petualang meninggal.

Pedangnya indah, kemungkinan besar ditempa seorang penempa yang tertarik senjata-senjata Timur Jauh. Dibuat dari bahan-bahan yang dikumpulkan dari Dungeon, bilahnya masih tajam.

Memegangnya di sebelah pinggul kiri, Lyu berlutut satu kaki selagi menghadapi kawanan monster.

“…?”

Para lizardman memandang curiga elf yang berlutut di tanah.

Dia diam sempurna, kedua tangan masih di sarung. Bagi para monster, itu perilaku aneh. Mereka berhenti sejenak di depan mangsa mematung mereka, lalu menyerang sekaligus.

Lizardman di depan melangkah panjang menujunya, berniat membelah dua dengan senjata pedang panjang alamnya.

Bahkan orang yang tak mengenal ilmu pedang akan tahu Lyu menunggu kedatangannya.

Seketika monster itu menyerbu asal ke arahnya, Lyu menanggapi.

“—Yaaa!!”

“GUAA?!”

Lyu gemetar, selanjutnya ada kilatan perak.

Tak lama setelah lizardman memasuk jangkauan serangan barulah dia menghunus pedangnya dan menyerang musuhnya. Awan debu terlampau besar memenuhi udara. Para lizardman lain menganga bingung terhadap sisa-sisa rekan mereka yang dibelah dua bersih, batu sihir dan tubuhnya.

“Kaguya … aku pinjam trikmu.”

Lyu melancarkan quick-draw, keterampilan mendiang rekan tempurnya dari Timur Jauh banggakan. Dengan kaki terlukanya, Lyu nyaris tidak bergerak. Maka dari itu menyerah bergerak dan fokus serangan balasan. Itulah satu-satunya strategi bertarung yang tersedia untuknya.

Saat menyarungkan pedangnya, para lizardman kebingungan menyerbunya, melolong.

Mata menyipit, Lyu menghunus lagi dan merobek batu sihir mereka sebelum pedang batu sempat mencapainya. Sesering apa pun mereka menyerang, hasilnya akan senantiasa sama: Begitu masuk jangkauan, dia serang. Gara-gara jalannya sempit sekali, hanya dua monster yang dapat menyerang. Dan Lyu cukup terampil tuk membela diri dengan pedang di masing-masing tangannya, sehingga gunungan abu bertambah dua kali lipat cepatnya.

Serangan perak berkilat yang dia tunjukkan dengan setiap bagian tubuhnya kecil kaki kanan masuk wilayah serangna tebasan.

Seandainya Kaguya di sini, dia barangkali bilang aku membuatnya mengantuk …

Dia memelajari keterampilan itu dari temannya, tetapi dia sama sekali tak sebagus yang orisinil. Namun demikian, Kaguya cukup menjadi ancaman bahkan bagi monster lantai dalam. Begitu mereka berusaha menerobos, kilat pedang Lyu menghabisi mereka. Seolah menyerupai sihir.

Ketepatan serangannya membuat monster terentak dan ragu-ragu menyerang.

Dan makin ragu-ragu makin bagus. Semakin banyak waktu yang bisa diulurnya buat Bell untuk menyingkirkan kian banyak musuh-musuhnya. Sekarang Bell mestinya cakap mengalahkan mereka sendiri tanpa dukungannya.

Strategi Lyu justru berfungsi pas sebab menangani monster-monster lantai dalam amat cerdas.

Namun kala itu—dia mlompat.

“!!”

Suara pertanda buruk mengubah detak jantungnya menjadi alarm kebakaran. Bahkan sebelum dirinya melihat celah dalam membelah dinding tepat di sampingnya, Lyu melompat menjauh. Tak lama setelah melompat satu tangan raksasa muncul dari dinding dan mengayun ke udara tempat Lyu persisnya berdiri.

“…! Barbarian!”

Lyu meringis melihat monster kategori besar muncul. Barbarian punya dua tanduk bengkok serta taring-cakar tajam. Monster pertarung segarang lizardman elite atau loup-garou. Serangan kejutan barbarian yang telah diatur membuat kuda-kuda quick-draw Lyu goyah, dan kini diikuti serangan lanjutan.

“HAA!”

“Eeeh?!”

Lidah panjang meliuk keluar dari mulutnya.

Tidak kuat bergerak cepat, Lyu tidak sanggup menghindari jilatannya sepenuhnya. Kekuatannya luput.

Seruan perang mendadak menggelegar.

Dipimpin barbarian, para lizardman menerjang Lyu.

Tepat sesaat monster diterangi pendar cahaya hendak menelan elf itu bulat-bulat.

“UAAAAAAAAAAAAAAAAA!”

“GYA?!”

Bell lari cepat untuk membloknya.

Sesudah menuntaskan musuhnya di sisi lain tangga, dia mengeksekusikan tendangan terbang sekuat tenaga. Tulang dada barbarian itu retak karena kekuatan pukulannya, ia jatuh ke belakang, menabrak lizardman-lizardman di belakangnya.

Tapi Bell tidak berhenti. Menghunus Hakugen, dia jatuh ke monster roboh. Lyu syok ngikut dengan mengambil pedang yang dijatuhkannya lalu menerjang monster seakan-akan dia sendiri monsternya.

“GYAAAA!”

“GA?! GO?! GI?!”

“…, …, …?!”

Diciprat air mancur darah, para monster berteriak tanpa henti.

Mengabaikan teriakan mereka, Bell dan Lyu terus menikam anggota tubuh musuh-musuh mereka. Mereka tahu tidak boleh membiarkan satu pun bangkit lagi. Melihat kedua petualang dengan murka menusuk monster bekali-kali tanpa gentar sedikit pun; terlihat bersahaja, bahkan aneh.

Pipi mereka dicat darah musuh-musuh dan mata mereka membelalak terbuka, gerakan mereka gelisah kepayahan. Mereka melakukan segalanya untuk membunuh monster dalam pertarungan yang mempertaruhkan nyawa mereka ini.

Ketika lengan monster terakhir berhenti kejang-kejang dan akhirnya berbaring diam … lorongnya hhanya terdengar suara terengah-engah kedua petualang.

Sepasang  mata biru langit dan mata merah mudah merah memantulkan petualang basah kuyp.

Lyu pelan-pelan membuka bibirnya.

“Ayo istrirahat sebentar …”

 

ф

 

“Juggernaut?”

Duduk bersandar di dinding, aku mengulang namanya.

Kami berada dalam sebuah ruangan satu pintu. Bentuk aneh ruangannya jauh dari kata kubus makin jauh kau masuk—gua batu analogi lebih akurat. Setelah merusak dinding, Lyu dan aku beristrirahat kedua kalinya setelah sampai di lantai 37.

“Iya, dengar-dengar itu namanya … lagi pula semuanya sudah berakhir, tentu saja.”

Selagi mengawasi monster, percakapan kami berubah ke monster mengerikan dair lantai 27—monster bercakar mengerikan yang mengikuti kami sampai bawah sini.

“Sesudah aku kehilangan teman-teman dan membalas dendam …. Sekitar saat Syr mempekerjakanku. Sosok hitam muncul di depanku … barangkali seorang penyihir.”

Deskripsinya mengejutkanku. Seorang penyihir hitam … pastinya Fels. Jadi Fels mengontak Lyu bertahun-tahun lalu?

Angin Badai … jangan pernah membicarakan Juggernaut yang kau temui di Dungeon.

Dua orang itu berbicara di gang belakang saat malam hujan gelap. Fels datang memperingatkannya, memanggil namanya. Tatkala itu, tidak ada yang tahu identitas sejatinya.

Ia tidak boleh dipanggil lagi. Jikalau kau menepati janjimu … kami akan membebaskanmu. Kami akan memperhitungkan pencapaianmu di Astrea Familia dan takkan menuntut kejahatanmu.

Apakah kami artinya eselon atas Guild … ataukah Lord Ouranus?

Apa maksudnya berkat dekrit Ouranus, Guild hanya memenuhi tugas dasarnya dengan memasukkannya dalam daftar hitam, tetapi tak mencoba melacaknya?

Menurut Lyu, dia merespon dengan mengangguk diam terhadap peringatannya, kemudian Fels mengabur ke kegelapan.

“Jika peneyihir itu adalah pengirim pesan pribadi, artinya Guild mengetahui eksistensi monster itu. Boleh jadi mereka bertindak di bawah mandate Dewa Ouranus, yang berdoa kepada Dungeon …”

Lyu sepertinya sudah menebak identitas asli Fels. Aku melirik dirinya yang bersandar ke dinding, kecapekan. Aku tersesat dalam pikiranku sendiri.

Jadi bahkan Fels mengkhawatirkan monster itu … bencana yang muncul dua kali di depan Lyu.

“Juggernaut …”

Aku mengelus lengan kiri hancurku seraya membisikkan namanya. Selagi kembali memikirkan makhluk yang jauh-jauh lebih menakutkan ketimbang monster-monster lain yang aku temui, pertanyaan dalam benakku membesar hingga titik aku tak mampu menyembunyikannya lagi.

“… Nona Lyu. Sesuatu yang orang bernama Jura katakan …”

Itu menggangguku semenjak aku mendengar si penjinak mengatakannya.

Demi menyelamatkan diri berhargamu!

Dengan mengorbankan teman-temanmu, kau akhirnya dapat mengusir monster itu!

Aku yakin itu yang dikatakannya.

Apa yang terjadi hari itu sewaktu semua Astrea Familia gugur kecuali Lyu? Kok bisa dia selamat? Apa yang terjadi pada Juggernaut yang dia temui waktu itu? Apa dia membunuhnya? Jura bilang mengusir monster itu—mungkinkah dia masih hidup?

Itulah pertanyaan-pertanyaan yang melingkupi pikiranku di saat aku menanyakannya apa yang terjadi. Aku mau tidak mau bertanya.

“…”

Lyu tidak menjawab. Bibir tersegelnya membalas hening, meskipun tinjunya mulai gemetaran karena erat sekali dikepal.

“… Tuan Cranell, musuh.”

Banyak raungan bergema dari jalan di kejauhan. Dari belakang, aku melihat Lyu berdiri. Aku ngikut tanpa bicara, tidak kuasa bertanya dua kali.

 

ф

 

Dia tengah mengembara.

Dia menghembus napas panah. Potongan cangkangnya terkelupas dari tubuhnya dan jatuh ke tanah.

Cakar di kaki kirinya diterangi pendar samar dinding, berkilau keunguan aneh.

Labirin gelap itu kini tenang.

Monster-monster lain berbondong-bondong menahan napas takut padanya, memastikan tak menghalangi jalannya. Semata-mata suara langkah kaki mengguncang udara.

Monster yang para dewa dan petualang panggil Juggernaut menjelajahi lantai 37.

Lukanya sangatlah dlam.

Dalam dirinya eksis kecerdasan yang orang sebut akal.

Diri bisunya melihat-lihat tubuhnya dengan mata cerdas itu.

Sendi bengkok di kaki kanannya telah diiris. Dia masih bisa melompat, tetapi mobilitasnya menurun dibanding sewaktu masih kondisi terbaiknya. Kecepatan ekstrim yang menakuti para petualang tidak lagi ada.

 Lengan kanannya diledakkan suar terlampau besar itu. Tidak tersisa sejejak pun. Ancaman mematikan yang mengeja akhir lengannya telah mengenai seluruh sisi kanan tubuhnya, dan sebagian cangkan penangkal sihir yang menjadi zirahnya telah terkelupas. Sebagian ekornya pun hilang.

Seluruh tubuhnya terluka.

Luka-lukanya parah.

Ujung-ujungnya, dia akan dilumpuhkan.

Dia tak peduli.

Pada akhirnya dia akan hancur pula.

Tanpa diberitahu, dia sudah menyadarinya. Dia memahaminya.

Juggernaut adalah makhluk berumur pendek.

Keunikan teragung mereka adalah—sesuatu yang membedakan mereka dari monster-monster lain—adalah kurangnya batu sihir mereka.

Bisa jadi keseluruhannya bisa dianggap sepenggal batu sihir besar. Kekuatan dan kecepatan tiada banding mereka adalah produk ini.

Potensi mereka bervariasi sesuai zona kemunculan mereka; makin dalam lantainya, makin kuat individualnya. Beberapa sangat kuat sampai-sampai mampu membantai habis seluruh familia semacam Astrea Familia, atau menghancurkan segenap party petualang kelas satu. Kendatipun Juggernaut kehilangan kepalanya dalam pertempuran ataupun ditembus dadanya. Dia akan terus menghancurkan. Tatkala seluruh tubuhnya dihancurkan barulah nyawanya berakhir.

Ganjaran kekuatan luar biasa ini adalah kehancuran alami setelah jangka waktu tertentu. Sebagaimana patung es, mereka pecah berisik.

Juggernaut pertama mungkin saja jantan, atau betina. Tidak diketahui ras manusia, anak bencana ini dedesak setelah membantai habis Astrea Familia dan menjadi abu. Hidup mereka ada tanggal kadaluwarsanya. Merekalah spesies sepintas yang ditakdirkan membakar diri sendiri bagaikan bintang jatuh. Sehingga skema Jura si penjinak yang mencoba mengendalikan Juggernaut pun ditakdirkan tak terpenuhi pula …

Juggernaut tidak meninggalkan batu sihir satupun atau drop item apa pun. Tidak ada tanda apa pun sisa kehidupannya Lahir mengabdi pada sang ibu, ia ‘kan membasmi unsur-unsur yang mengancamnya selanjutnya lenyap dari dunia dan ingatan orang-orang.

Maka dari itu, pembantaian adalah satu-satunya yang memberikan arti pada eksistensinya.

Juggernaut tidak menganggap hidupnya kosong. Tidak pula mengasihani dirinya sendiri. Emosi yang dirasakan makhluk ini tidak ada dalam makhluk baru lahir ini.

Namun—tubuhnya terbakar api neraka.

Mangsa putih tersebut.

Makhluk yang senantiasa bangkit kembali, tak peduli berapa kali dihancurkan.

Pejantan itu yang kehilangan darah dan dagingnya berbalik menghancurkannya.

Api putih yang mengajarkannya rasa takut.

Juggernaut tidak memaafkan ini. Dia tak menerimanya. Membiarkannya sama saja menolak arti eksistensinya. Dia akan kehilangan alasan utamanya dilahirkan ke dunia ini. Hal demikian belaka dia pahami secara insting.

Itu buruk, buruk, buruk, buruk.

Satu-satunya hal yang tidak mampu dia tahan. Dia barangkali akan diluapakn dunia, hidupnya mungkin sekeja mata akan lenyap, tapi dia harus memenuhi tujuan kelahirannya.

Harapannya kandas, doa-doanya ditolak, doa-doanya hancur.

Namun bagi Juggernaut, keduanya adalah segalanya.

Seolah-olah bersimpati dengan pikirannya, lingkaran yang diikat ke sekeliling lehernya berdenyut cahaya.

Memberi makan impuls destruktifnya, laksana menggerakkan emosinya atau mebuatnya liar. Suara ibunya sekarang terdengar jauh. Dia mengabaikan suara yang berulang-ulang memohon akan sesuatu padanya. Dia mengutamakan keinginannya sendiri.

Inilah efek samping barang sihir Jura.

Sekalipun semestinya tidak demikian pada makhluk yang menjadi antibody virus penyerang, perasaan dirinya terlampau kuat. Utusan pembunuh yang tujuan satu-satunya adalah membantai tak sadar kepentingan pribadi tengah mengendalikannya. Niat pembunuh kuat kini fokus pada satu mangsa yang cukup membuatnya independent. Juggernaut sekarang ini yang tidak diperbudak kehendak ibuunya, bersiap mati saat menjalankan tugas.

Dia telah dibebaskan.

Bebas dari keinginan sekarat Jura, tapi lebih dari itu, terbebas dari suara Dungeon.

Utusan pembunuh pemberantas zat asing dari Dungeon telah dilahirkan kembali sebagai monster yang tujuannya semata-mata gila-gilaan mengejar satu orang manusia lalu membunuhnya.

Lantas.

Dia akan membunuh makhluk itu, sebagai satu-satunya keinginannya.

Dia absolut tanpa pertanyaan akan membunuhnya.

Disertai hasrat kuat membara di inti keberadaannya, Juggernaut pelan tapi pasti mendekati mangsannya.

Di saat yang sama, niatnya memicu keabnormalan yang bahkan Dungeon tidak ramalkan, keabnormalan amat-amat besar sampai-sampai melampaui kemampuan yang dilimpahkannya menuju ranah evolusi.

Dia tidak punya lengan kanan. Dalam keadaan ini, dia tidak mampu membunuh mangsa putih.

Dia perlu lengan. Dia butuh cakar untuk membunuhnya.

Mata merah tua Juggernaut berdenyut lemah.

Detik berikutnya, dia menyerang kaum sendiri.

Paduan suara teriakan diikuti gaung kehancuran selanjutnya suara kunyahan.

Suara-suaranya bergema jahat di sepanjang kegelapan Dungeon yang menggeliat-geliat.

12 Replies to “DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 14 BAB 11”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *