DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 14 BAB 10

Posted on

Istana Sihir Putih

Penerjemah: Operator60

Istana Putih.

Inilah nama lantai 37. Dinding lantai ini anehnya seputih susu dan skala labirin jauh lebih luas ketimbang lantai-lantai yang pernah kudatangi sebelumnya. Semua jalan dan ruangannya besar, jelas sepuluh meter panjangnya di sebagian besar tempat.  Langit-langitnya bukan main pula, walaupun tidak bisa melihat seberapa tinggi karena kegelapan.

Dinding Cincinnya sangatlah khas.

Di tengah lantai terdapat tangga menuju lantai berikutnya, serta lima cincin menyerupai dinding istana besar mengelilinginya seolah melindungi tahkta kekaisaran tangga. Tata letak ini tidak terdapat di lantai lain manapun. Para petualang pastinya harus melewati kerumitan labirin di antara dinding-dinding, atau naik-turun berkali-kali selagi menuju tangga sentral.

Aku tidak lebay kalau bilang seluruh Orario muat di sini.

Banyak bagian lantainya masih tidak tereksplor atau tidak terpetakan, dan mereka bilang misalkan kau tersesat di sini kau takkan pernah keluar. Itu sempurna menggambarkan situasi kami sekarang ini. Kami harus keluar dari Kastil Putih luar biasa besar ini.

Kami harus melarikan diri dari labirin ngeri ini.

“SHAAAAAAAAAAAAAA!!”

Lengan kuat ditutupi sisik biru menyilaukan pedang.

Petarung lizardman itu menderu mengancam selagi aku menghindari tipis serangan kuatnya yang sudah memangkas sejumlah rambut putih kepalaku dan membuatku berkeringat dingin.

Lizardman elite.

Sesuai namanya, monster itu versi peringkat lebih tinggi dari lizardman yang muncul di Labirin Pohon Raksasa. Kemampuannya terletak di tingkatan lain. Sisik-sisiknya biru bukannya merah, dan sekeras zirah, tidak meninggalkan sisi rentan pada ofensif atau defensifnya. Tangannya piawai memegang senjata alamiahnya—dua kapak buatan batu putih susu yang menyerupai tulang. Meskipun level ancamannya bervariasi di setiap individuunya, Guild memeringkatkan mereka antara Level 3 dan Level 4. Mereka ahli dalam pertempuran jarak dekat.

“GRUO!”

“JAAAA!”

 Medan perangnya berbentuk ruangan persegi. Aku melawan dua musuh.

Sebab dia belum bisa bergerak bebas total, Lyu terpaksa berlutut di belakangku sebagai garda belakang, menunggu di tempat penonton pertarungan. Aku menghadapi dua lizardman bersamaan, sekaligus melindunginya.

Aku merasakan kekuatan musuh secara naluriah, tetapi aku berhati-hati agar tidak terlibat serangan balik tak perlu. Berkuda-kuda serong, aku memegang pedang panjang di tangan kanan dan pelan-pelan mundur per inci, menahan serangan musuh setabah mungkin. Aku merasakan mata biru langit Lyu mengawasiku dari belakang. Perhatianku terfokus ke gerakan musuhku, menghemat kekuatan.

Lyu memberlakukan syarat majuku melewati lantai dalam ini.

Aku harus mengutamakan konservasi energi di atas segalanya. Penting untuk tidak menyia-nyiakan gerakan, dan sebisa mungkin kapan pun membunuh monster sekali serang.

Dengan kata lain, satu serangan mematikan.

Aku wajib mengincar batu sihir di dada monster!

“Hiyaah!!”

Begitu salah satu lizardamen lelah menunggu dan mengangkat kapak batu ke atas kepalanya, aku bertransisi dari posisi bertahan ke serangan kilat.

Sambil melompat ke depan dengan kaki kiri, aku mendorong lengan kanan ke depan layaknya panah!!

“GAA?!”

Pedang petualang mati menembus dada tengah tanpa pelindung monster.

Aku merasakan pedang menyerang barang keras—batu sihir.

Matanya melotot, lizardman itu kejang-kejang kemudian ambruk menjadi tumpukan abu.

“Haaaaaa!”

Aku berbalik ke monster satunya, bingung karena sendirian.

Cemas agar tidak melewatkan kesempatan, aku langsung menyodok pedangnya. Ujungnya menembus dada musuhku, tapi …

“?!”

“Gu…GAaa!”

Biarpun darah mengucur dari mulutnya, sang monster tidak menjadi abu. Malahan, mata merah darah mengintimidasinya diputar menatapku.

Aku gagal menghancurkan batu sihirnya. Sasaranku meleset!

Setengahnya salah kecemasanku, tetapi selebihnya, kurangnya keterampilan. Pedang panjang tersangkut di antara dua sisik, dan tidak bisa kutarik dari daging monster itu. Aku kehilangan kendalinya seketika lizardman elite meronta-ronta. Dengan mengerikannya menyerbuku padahal masih ditikam pedang.

Berputar setengah ke samping, dia menyabet ekor besarnya kepadaku dari kiri.

Aku blok menggunakan Syal Goliath yang masih melilit lengan kiriku.

Sedetik kemudian, kejut mematikan bergema dari lenganku ke otak.

Lengan kiriku telah menjadi tumit Achilles1 (kelemahan). Sekalipun aku memblok serangan monster, serangannya keras sekali sampai-sampai melumpuhkanku, membuat penjagaanku terbuka lebar. Dan monster lantai dalam takkan mengabaikan kesempatan tersebut.

Dia mengaum marah dan mengangkat kapak batunya.

“Oh, tidak, tidak boleh.”

Sesaat sebelum lizardman itu membelah kepalaku, belati terbang menusuk mata kanannya.

“GUGAAAAA?!”

“!”

Dukungannya dari Lyu.

Mengaga kaget, tindakanku selanjutnya adalah refleksif sepenuhnya. Menghunus Hakugen dari pinggul, putar ke lizardman elite menggeliat, kemudian kutusuk.

“?!”

Pisau panjang putih berkilauan menembus dadanya.

Ditusuk pedang dan pisau, lizardman elite akhirnya tamat. Belati dan pedang panjangnya jatuh ke tanah sementara dia berubah menjadi abu.

“Tuan Cranell, lebih banyak lagi akan datang!”

“…?!”

Aku bahkan tak sempat menarik napas.

Banyak langkah kaki menghentak menghampiri kami dari lorong jauh di bawah. Kebanyakan. Seandainya kami bertarung di sini, kami akan terkepung!

Aku meringis dan menyeka keringat, memaksa pikiranku beralih dari mode pertarungan ke kabur. Aku mengambil pedang panjang dan belati dari tanah lalu melempar senjata kedua ke Lyu. Kami tidak boleh membuang-buang senjata apa pun. Aku menghampiri, menarik lengannya ke bahu lalu buru-buru keluar ruangan.

Setelah meninggalkan ruangan tempat para petualang terbaring, kami hanya berhasil melawan monster dalam waktu singkat. Kami menggunakan peta untuk menghindari jalan buntu dan pergi ke lorong lebih besar, tetapi pertarungan pertama kami memulai gelombang monster marah tiada habis.

Sebab lantai 37 sangatlah besar, jumlah total monster—itu dia, jumlah absolut yang bisa muncul di sini—itu luar biasa. Bahkan jeda waktunya pendek, membuat para petualang tak sempat beristrirahat. Anugerah satu-sautnya adalah monster-monster menyebar dalam labirin kelewat besar ini, namun seumpama kau sialnya menemui sekelompok monster, kau akan berakhir di situasi kami sekarang.

“OOOOOOO!”

“!”

Kami dikejar para lizardman elite, skull sheep, dan banyak monster-monster lainnya. Satu pertarungan memanggil pertarungan-pertarungan lain. Satu seruan tempur mengundang seruan tempur lain. Misalkan pertarungannya memakan waktu beberapa detik lebih lama, monster lantai dalam mendeteksinya dengan indra tajam mereka kemudian mengepung mangsa.

Lyu menyuruhku menghindari pertarungan sebisa mungkin … tapi ini mustahil!

Kami sudah melawan empat belas pertaurngan. Aku berhenti menghitung jumlah monster yang kami hadapi setelah mengalahkan tiga puluh.

Apa ini sebanding kuliah lantai dalam?

Pasti bercanda!

“—OOO!”

Seekor loup-garou memegang senjata pedang batu alam melompat-lompat di sepanjang bidang penglihatanku.

Monster kategori sedang yang badannya pendek seukuran 120 sampai 130 sentimeter. Aku hampir salah menganggapnya sebagai cobolt sekilas, tapi kepalanya serigala alih-alih anjing. Dibanding monster level rendah di zona atas, dia lebih berotot dan mampu melancarkan serangan ganas dengan tubuh kecilnya.

Bila manusia hewan di permukaan mendengar ada monster jenis manusia serigala, mereka akan hajar sampai mampus. Itu gara-gara mereka bukan hanya menyebabkan tragedi invasi permukaan. Seringnya ketika desa dirampok pada malam terang bulan, perampoknya adalah sekawanan loup-garou. Bahkan aku pun suka merinding sama cerita-cerita binatang-binatang buas ini sewaktu masih kecil.

Manusia-manusia serigala khususnya membenci monster serigala penyuka perang ini seolah mereka ular berbisa!

“AUUUUUU!”

“GUUUKKK!”

“…?!”

Satu loup-garou menghentak dinding dan menyerangku dari atas, sedangkan satunya merayap di tanah tuk menyerang kakiku. Menggunakan pedang batu seputih susu yang terlihat mirip pisau, kedua serigala menyerang liar di waktu berbarengan. Percik-percik api beterbangan dari pedang panjang yang kuayun ke atas biarpun paha kiriku sedikit robek. Aku mendadak dalam posisi bertahan sebab ketangkasan ekstrim mereka yang luar baisa dibanding monster lantai dalam lain. Tidak mungkin mendaratkan satu serangan mematikan ke dada mereka.

Pertempuran jarak dekat berbahaya.

Itu alasan lain lantai 37 disebut istana.

Selain mayat hidup, tempatnya penuh monster tipe petarung.

Dari lizardman elite hingga loup-garou, spartoi, kesemuanya ahli pertarungan jarak dekat yang membawa kekuatan brutal, kelincahan serta penguasaan senjata alam untuk pertarungan-pertarungan mereka. Mereka bahkan ‘kan menenggelamkan para petualang yang unggul keterampilan serta taktik ke pertumpahan darah.

Merekalah penjaga sejati kastil.

Dan inilah jenis tempat Aiz serta familianya menghabiskan waktu …!

Mereka cepat dan kuat.

Jauh lebih cepat dan kuat dari monster manapun di lantai bawah.

Bukan berarti tidak mampu kukalahkan satu lawan satu. Senjata terbesar mereka adalah jumlah mereka.

Sedikitnya perlu tiga pukulan untuk membunuh satu monster—satu menangkis serangan, satunya menjatuhkan keseimbangan, dan yang ketiga menikam pedang ke dada mereka. Barulah aku bisa membunuh satu monster. Dan setelahnya, tiga monster lain menginjak mayat terakhir untuk menyerangku.

Ini tidak mungkin—aku tidak bisa membunuh mereka semua!

“Tuan Cranell, sebelah sini!”

Barangkali melihat diriku mencapai batas, Lyu berteriak mendesakku.

Tidak lama setelahnya sebuah belati melewati salah satu telinga loup-garou dan menembus tengkoraknya. Memanfaatkan momen itu, aku berputar sekuat-kuatnya. Berkeringat sewaktu pedang batu lizardman menyerempet punggungku, aku berlari mendatangi Lyu.

“OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOooo!”

Tentu saja sekawanan monster juga mengejar kami.

Kami takkan pernah bisa benar-benar melarikan diri. Kami akan dihancurkan. Apa-apaan yang ada dalam kepala Lyu?

Dia berada di ujung lorong sementara aku mundur menyedihkan mendekatinya. Kini dia berbelok ke sudut dan bersembunyi.

“Tidak ada pilihan lain … aku mengugnakan ini,” bisiknya.

Aku memandangnya penuh pertanyaan.

Dia merogoh pinggulnya dan mengeluarkan batu merah cemerlang dari kantongnya. Aku sadar pernah melihat itu sebelumnya.

“Tuan Cranell, tolong ledakkan.”

—Batu Inferno!

Seketika memunculkan kepalanya di pojokan dan melempar pedangnya ke monster mendekat, aku refleks mengangkat tangan kanan.

Firebolt!

Waktu aku melepaskan api listrik, Lyu meraih dari sudut dan menarikku dengan lengan kurusnya—artinya, lengan Level 4-nya.

Disulut api listrik, Batu Inferno meledak dahsyat.

“~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~?!”

Gelombang kejut dan dampaknya mencapai kami di pojokan, menenggelamkan teriakan monster.

Tatkala gelombang panas akhirnya suruut, aku pelan-pelan mengintip ke sekeliling dan melihat-lihat, dari balik asap terangkat … lorong retak berserakan mayat monster yang terbunuh oleh ledakan.

“… nona Lyu, kau baru saja menggunakan …”

“Iya, Batu Inferno yang aku rampas dari kurcaci tersebut.”

Gemetaran sebab abu daging terbakar, aku dengan gugup menatap balik Lyu.

Dia mengerutkan kening.

Kami membicarakan insiden lantai 27 di saat aku pertama kali mengontaknya.

Lyu mencuri sesuatu dari kurcaci tewas, dia temannya seorang penjinak bernama Jura. Aku sadar sekarang yang dicurinya pastilah Batu Inferno yang mereka gunakan untuk menghancurkan lantai.

“Tidak pernah mengira Batu Inferno yang kucuri dari krunya Jura akan menyelamatkan kita …”

Seraya mengungkit ironi mengerikan ini, Lyu sekali ini tidak sanggup menyembunyikan kebenciannya.

Kendatipun dia bilang tidak ada pilihan, rasanya perasaannya rumit.

Bagaimanapun … ledakannya tampak menghentikan gelombang pasang monster. Kemungkinannya menyapu bersih monster manapun yang berada di dekat kami. Lorongnya tiba-tiba sepi.

“… berapa banyak Batu Inferno yang masih kau miliki?”

“lima.”

Dengan kata lain, kami cuma punya lima jalan keluar dari situasi sulit lagi …

Aku tidak bisa bilang apa-apa. Sebagiannya, aku terdiam karena tidak berdaya.

“Tuan Cranell, aku perlu sedikit waktu. Aku ingin memetakan.”

“Oke …”

“Tolong berjaga-jaga.”

Lyu mengintip was-was, kemudian duduk di tengah lorong hancur lalu mengeluarkan peta. Mencelupkan bulu pena—barang sihir bernama Bulu Darah yang memungkinkan penggunaan darah menggantikan tinta—ke salah satu lukanya, dia meneruskan yang ditinggalkan peta terputus di tengah jalan itu. Hasil terlibat ke dalam banyak sekali pertempuran, kami menyimpang jauh dari bagian labirin yang para petualang gugur catat. Tangan Lyu tidak pernah berhenti, seakan-akan rute ribet yang kami tempuh tercetak dalam benaknya.

“Kau bahkan bisa membuat peta …?”

“Yang sederhana. Sama sekali tidak sebagus pencuri piawai dan kartografer.”

Aku takkan pernah dapat melakukan yang dilakukan elf kelas dua ini dengan gampang.

… aku bergantung kepadanya.

Jauh dari melindunginya, aku membiarkannya menyelamatkanku sedari awal. Jujur, aku bahkan tidak bisa membayangkan di mana posisiku sekarang bila dia tak bersamaku.

Selagi melihatnya menggambar garis merah dengan akurasi sempurna, aku roboh ke tanah dengan bunyi gedubrak.

Tidak bisa kusembunyikan. Rangkaian pertempuran ini telah sepenuhnya menghabisi seberapa pun energi yang kudapatkan. Bagaimana ceritanya aku dapat melewati lantai dalam seperti ini …?

“Tuan Cranell, kau masih melakukan hal-hal tidak penting. Cobalah jadi lebih efisien.”

“…”

Lyu masih mengerjakan peta. Dia bahkan tidak mengangkat kepalanya selagi menawarkan nasihat keren ini. Wajahku langsung memanas—karena malu dan penyesalan.

“Aku tahu, aku tahu! Tapi tidak bisa!”

Aku melupakan sekelilingku dan meneriakkan jawaban.

“Seluruh situasinya mustahil! Monster-monsternya kuat banget dan cepat! Makin kesal aku makin berkurang kemampuan bertarungku!”

Aku menutup setengah wajah dengan tangan kanan, tenggelam dalam jengkel serta keputusasaan. Lyu mendongak diam.

“Jika terus berlanjut seperti ini …”

Aku takkan bisa melindungi diriku atau Lyu …!

“… maaf.”

Aku mengakhiri kritik pribadi marahku dengan gumam maaf menyedihkan. Lalu merosot ke tanah dan mengerang.

Saat aku menatap tanah sambil cemberut pahit … Lyu akhirnya angkat bicara.

“Tuan Cranell. Kau tidak bertingkah selayaknya seorang petualang.”

Suaranya tidak berubah sama sekali, namun kata-katanya betul-betul tidak sesuai.

“Hah …?”

“Kerja bagus. Menurutmu, ini dunia yang sepenuhnya tidak dikenal. Wajar saja kau kebingungan dan tidak bisa bekerja dengan baik. Kendati kau sekarang Level Empat, luarnya memang.”

“…!”

“Jika kau seorang petualang normal maka kau akan berteriak-teriak saat ini aku absurd.”

Dia tidak menyalahkanku, dia tak terdengar putus asa. Dia semata-mata memberitahuku dengan suara tenang yang ada di pikirannya.

“Kau terlalu keras pada dirimu sendiri. Itu maksudku soal tidak bertingkah selayaknya seorang petualang.”

“Ah …”

“Andaikan saja kau sedikit lebih percaya diri … kau akan jadi petualang jauh lebih kuat.”

Dia tersenyum samar. Aku tidak bisa berpaling dari wajahnya yang terlihat jelas bahkan dalam kegelapan.

Dia meletakkan pena bulunya, sejenak ragu-ragu, kemudian meremas kelingkingku.

“Awasi musuhmu baik-baik dan perkirakan gerakan mereka. Monster lantai dalam sangatlah cerdas. Kemungkinan besarnya mereka akan melancarkan taktik jauh lebih maju dari monster-monster yang kau temui sebelumnya.”

“… oke.”

“Lengan kananmu cenderung terangkat saat sedang bingung. Bahumu santaikan lalu incar batu sihirnya.”

“… oke.”

“Lebih andalkan aku di garda belakang. Sekarang ini, aku bagian party-mu.”

“… oke!”

Harus mengaitkan kelingkingmu dengan jari telunjuk dan ibu jarimu ada maknanya bagi para elf. Aku merasa tenang sekarang, laksana air pasangnya telah surut. Kehangatan jarinya membersihkan kabut dari hatiku.

“Ingatkah yang kukatakan selain mengincar batu sihirnya?”

“… manfaatkan medannya?”

Dia mengangguk dan menatap mataku langsung.

“Kita akan bertarung lagi sekarang, dan aku ingin kau mengingat segala hal yang baru kuberi tahu. Kau bisa.”

Bahkan dalam situasi mengerikan kami, ucapan Lyu seperti halnya sihir. Membuka mataku ke banyak hal. Ucapannya membuatku mengingat banyak hal.

Aku harus lebih menyadari diriku lagi.

Aku barangkali berubah ketika bertemu Xenos dan sewaktu kalah oleh saingan terhebatku, namun bukan berarti aku ini petualang berpengalaman.

Sebagaimanapun pertumbuhanku, betapapun besarnya pertumbuhan statusku, aku masih baru melakukan ini selama lima bulan. Aku ini masih pemula. Masih banyak yang belum mampu kulakukan.

Aku amatir total.

Tetapi sisi sebaliknya adalah aku bisa jadi lebih kuat.

Bahkan mulai sekarang. Tiada batas.

Wanita ini beneran luar biasa …

Sama halnya tatkala kami dihadapkan para petualang mati.

Dia menghapus cemasku dan membimbingku maju.

Aku bertekad menjadi lebih kuat agar bisa melindungi pemanduku dari lantai dalam.

“… kau seperti guruku, tahu?”

Tanpa sadar, aku mengatakan kata-kata dalam kepalaku.

Tentu saja, aku belajar dibimbing Aiz yang gaya bertarungnya mirip dengan gaya bertarungku, menurut seorang petualang kelas satu. Meski demikian, aku tersenyum pada hubungan yang mungkin ada.

“… itu mungkin bisa.”

Lyu melebarkan matanya sedikit lalu tersenyum kepadaku.

Situasi kami masih seburuk biasanya. Walau begitu, kami masih dapat tersenyum satu sama lain.

“Tuan Cranell, ayo semangat lagi.”

Sehabis beberapa waktu berlalu, Lyu mengganti persneling dan ekspresinya baik terjaga biasa.

Aku mengangguk. Keraguanku telah hilang, tapi aku takkan mampu mengalahkan monster dalam kondisi lelahku sekarang ini. Berwaspada melihat sekeliling, Lyu menyingkirkan petanya dan mengeluarkan barang lain: sebuah botol kecil bercairan ungu cerah mengaduk-aduk menjijikkan di dalamnya.

“Minum ini.”

“…”

Salah satu ramuan anggur tak terjamin yang kami dapat dari para petualang mati.

Aku berkeringat ketika Lyu fokus menawarkan cairan berubah warna aneh itu kepadaku.

Apa aku betulan harus minum ini?

“Bukan waktunya minta yang sempurna-sempurna. Minum.”

Katanya singkat, seakan membaca pikiranku. Dia kedengaran bak guru tegas nan serius yang tidak pernah melanggar peraturan …

“Tidak masalah sudah kadaluarsa atau belum.”

“Nona Lyu …”

“Masih berfungsi … kayaknya.”

“Nona Lyu?!”

Aku memprotes kala dia menyelipkan kata-kata menggelisahkan, kayaknya.

Tapi sepertinya aku kudu minum.

Lagi pula, Lyu mesti menyimpan sihir pemulihan untuk keadaan darurat. Aku yakin banyak petualang tersesat di dungeon atau reruntuhan pernah makan makanan membusuk atau menggunakan barang-barang rusak untuk bertahan hidup …!

Aku minum ramuan kadaluarsa, sambil meringis.

Hoek …!”

Sensasi geli dalam mulut serta bau menjijikkan menyerang hidung membuat suaraku terdengar aneh.

Ramuannya manis. Tetapi setelah manis datang pahitnya …!

Dengan suara deguk aneh, organ-organ dalamku mulai bergerak-gerak aneh. Aku jatuh berlutut, mencengkeram perutku untuk entah bagaimana mentolelir sensasi ini.

“Kau harusnya baik-baik saja berkat imunitasmu …”

Ayolah, jangan bilang harusnya …!

Mengabaikan kata-kata Lyu, aku meminum sisa terakhir ramuan.

Untungnya, tidak membuatku diare atau muntah.

Kemampuan, atau semestinya aku sebut petualang, itu hebat …

Dan hei … kekuatanku kembali.

Secara fisik, aku merasa lebih baik dari pertama kali datang ke Dungeon, walau saraf-sarafku lelah karena cemas dan stimulasi berlebihan. Namun bahkan luka-lukaku menutup begitu menaburkan beberapa tetes ramuan.

Aku bisa bertarung lagi.

“Ayo.”

“Baiklah.”

Kami segera memeriksa peralatan dan berdiri.

Mengawasi bahaya, kami menghancurkan batu sihir ke mayat-mayat monster yang terbunuh ledakan agar tidak mereka gunakan untuk menciptakan spesies yang diperkuat. Kami memungut belati hangus pula, meski ada satu yang tidak bisa digunakan.

Dibanding ramuan dan makanan, peralatan yang kami dapat dari mayat-mayat petualang masih dalam kondisi bermutu tinggi. Di saat petualang kelas atas pergi ke lantai dalam, mereka membawa senjata dan perlengkapan pelindung yang ditempa Penempa Besar yang sanggup menahan penggunaan jangka panjang dan nyaris tidak ada penurunan performa.

Menggenggam pedang panjang di tangan kananku, aku menyandarkan Lyu dan mulai berjalan, baju zirah sampingku berdentang.

Labirin Istana Putih itu damai.

Sangat mudah melewatkannya karena setiap jalannya amat-amat besar, namun jumlah persimpangan dan tangga naik-turunnya juga terlampau besar. Banyaknya pilihan yang mesti kami pilih mengingatkanku akan Daedalus Street. Dalam hal ini, struktur lantai 37 barangkali anehnya ortodoks.

Berbeda dengan Labirin Pohon Raksasa dan Ibu Kota Air, ini labirin asli. Labirin kapur dirancang untuk membingungkan dan memerangkap para pencuri yang menyerang istana kerajaan Dungeon.

“Nona Lyu … apa ada monster sangat berbahaya di lantai 37?”

“Saat ini semua monster di lantai ini adalah ancaman untuk kita … tapi sekiranya harus menyebut satu-dua monster, kataku spartoi dan peluda.”

Kami saling berbisik selagi maju hati-hati di jalan remang-remang. Beda dengan pertarungan beberapa menit lampau, labirinnya sekarang sunyi. Aku tak merasakan monster apa pun di sekitar atau mendengar seruan-seruan tempur apa-apa. Kami belum menemui siapa-siapa semenjak menggunakan Batu Inferno. Namun biar kami berdoa agar ini terus berlanjut, kami berdua sama-sama tahu ini adalah tenang sebelum badai.

“Selain monster langka, spartoi-spartoi adalah yang paling terampil dari semua petarung perkara pertarungan jarak dekat. Mereka sungguh berbahaya karena dilahirkan bersama senjata buatan tulang. Ada beberapa yang bahkan membawa lembing.”

Masih mengawasi monster, aku membandingkan apa yang dikatakan Lyu kepadaku dengan buku pengetahuan yang sudah kumiliki. Untuk melewati lantai dalam, aku mesti membuang semua sumber kekhawatiran dalam pikiranku. Maka dari itu aku menanyakan Lyu monster paling menakutkan.

“Peluda menyerang dengan racun. Kemungkinan besarnya penyebab mendadak kematian petualang-petualang yang kita temukan di ruangan itu … diracuni anak panah peluda.”

“…!”

“Apabila kita berpapasan spartoi atau peluda, kita harus kabur kalau memungkinkan.”

Aku menyimpan kata-kata Lyu dalam hati sambil melawan panik yang dibawanya.

Aku sudah pernah bertanya Lyu tentang pengalamannya ketika dia masih seorang petualang, dan dia memberitahuku sebanyak mungkin. Dengan tamak dan habis-habisan aku ingat, biarpun sedang mengawasi sekitar dengan kewaspadaan meninggi.

Istana Putih …

Aku mengulang-gulang namanya dalam benakku, memikirkan betapa cocoknya.

Dinding dan lantai dengan warna putih susu sedikit asing kurang kemegahan istana, tetapi skala tidak dimengertinya tentu sesuai sebagaimana kastil alami. Istana dunia bawah barangkali nama yang benarnya.

Perihal kesulitan menaklukkan Istana Putih ini, Guild menetapkan persyaratan lantai 37 di Level 4. Kalau dipikir, aku sadar Lyu dan aku memang memenuhi standar. Ditambah, Bors bilang Lyu berada di batas atas Level 4. Dia sendiri bilang Astrea Familia berhasil sampai lantai 41. Kemampuan kami tentunya tidak tak sesuai dengan lantai ini.

Itupun, jika kami tidak dalam situasi sekarang.

“Nona Lyu. Apa party dua orang pernah menjelajahi lantai dalam …?”

“Kemungkinannya tidak. Selain Ottar, sang Panglima Perang, bahkan petualang kelas satu takkan datang ke sini sendirian. Bukan tempat semacam itu.”

“… bahkan Loki Familia tidak?”

“Boleh jadi beda misalkan kau Level Enam … tapi sekurang-kurangnya kau harus bawa kelompok beranggotakan tiga orang—tidak, sekelompok empat orang. Ditambah kau harus punya penyembuh.”

Lyu kedengarannya ibarat sudah menduga apa yang ingin kutanyakan.

Bahkan Loki Familia serta Freya Familia tidak boleh sembarangan di sini.

Putri Pedang pun tidak.

Aku merasa paru-paruku membeku.

“Tuan Cranell, apa kau punya gambaran umum mengenai lantai 37?”

Lyu memotong diamku dengan pertanyaannya sendiri. Aku mengangguk, dalam kepala membentangkan peta lantai dalam yang kulihat atas izin Eina.

Analogi sempurna untuk lantai 37 adalah sebuah kotak yang di dalamnya kue bulat.

Kotaknya adalah lantai itu sendiri, dan kuenya adalah labirinnya—itu dia, Istana Putih kami berada. Istananya terdiri dari lima Dinding Cincing. Dinding-dindingnya diberikan nomor, dimulai dari Dinding Pertama di tengah, Dinding Kedua di luarnya, dan seterusnya. Labirin di antara dinding-dindingnya pun punya nama pula.

Area paling tengahnya adalah dinding Pertama yang bernama Zona Tahkta, dan di situlah bos lantai muncul. Pindah dari sana ada Zona Kesatria, Zona Petarung, Zona Prajurit, dan Zona Binatang.

Terlepas dari nama-nama ini, tidak ada perbedaan besar dalam hal tipe monster yang kemungkinan besarnya muncul di setiap bagian labirin. Namun demikian, sebab areanya kian kecil dan labirinnya makin rumit seiring dalam kau bergerak, jumlah pertemuan serta serangan kejutan juga alamiahnya meningkat. Selain itu, data menunjukkan pertarungan di luar lingkaran lebih berselang, meskipun tidak senantiasa benar karena monster-monster bisa berpindah-pindah antar area labirin.

 Tangga paling penting menuju lantai 36 berada di luar Dinding Kelima, di ujung paling selatan kotak. Berarti, kami harus keluar dari Istana Putih.

Di rute yang kami rencanakan, tidak mungkin kami akan menemui bos lantai di tengah labirin. Itu salah satu rahmat keselamatan di situasi mengerikan kami saat ini. Bila mana kami mesti melawan bos lantai, yah … aku bisa jadi sungguhan patah semangat.

“Ini …”

Kami berpapasan sejumlah monster yang berkeliaran di labirin, lalu aku lawan mereka mengikuti instruksi Lyu. Kami masih belum berada di rute para petualang lain catat di peta. Akhirnya, kami memasuki sebuah ruangan terbuka. Menara dinding besar di hadapan kami.

“… Dinding Cincin.”

Walaupun belum pernah melihat yang asli sebelumnya, aku tahu sekilas itu apa.

Dalam labirin berwarna susu, dinding lengkungnya masih murni, putih bersih. Kau bisa salah menganggapnya dengan es bening—bukan, kristal putih. Sedikit mirip Dinding Besar Kesedihan di lantai 17, tempat Goliath muncul, kendati yang satu ini jauh lebih besar.

Dindingnya membentang sejauh mata memandang ke kiri-kanan. Beraturan terlampau sempurna sampai-sampai tak seperti struktur alam. Karena gelapnya, aku tidak tahu setinggi apa dindingnya. Tapi aku yakin misalkan mencarinya di semua negeri belahan dunia manapun, aku takkan menemukan dinding kastil semonumental ini.

“… jelas, ini Dinding Ketiga.”

Kata-kata Lyu membuatku linglung. Masih bersandar di bahuku, dia menyipitkan matanya ke dinding megah.

“Setiap Dinding Cincin punya warna yang berbeda sedikit. Satu-satunya dinding putih bersih itu adalah Dinding Ketiga, di tengah-tengah lima lingkaran.”

Dia terdengar sangat pede. Atas desakannya, kami berjalan mendekati dinding. Dia tanpa bicara menekan telapak tangannya ke permukaan, tak menghiraukan kengerianku berada kelewat dekat dengan dinding labirin, yang mana tempat teramat-amat berisiko datangnya serangan tiba-tiba sebab monster bisa muncul kapan saja.

Dia terus bergerak dengan tangan masih menempel di dinding.

“… tipis banget, tapi dindingnya melengkung ke dalam menuju kita.”

“…! Artinya …!”

“Iya, kita di antara Dinding Ketiga dan Dinding Kedua … artinya, Zona Petarung.”

Jika dindingnya melengkung ke arah kami … artinya kami dikelilingi oleh dindingnya.

Kami baru saja mengetahui posisi kami.

Zona Petarung ada di sekitar titik tengah Istana Putih!

“Aku belum yakin lokasi persisnya kami … tetapi benar-benar penting kita bisa mengetahui area umum lantai 37 kita berada.”

Aku mengangguk, tidak mampu menahan kegembiraan. Mataku menatap mata langit biru Lyu yang mengisyaratkan lanjutkan saja bergerak mengikuti dindingnya. Kami tidak punya waktu untuk merayakannya. Kami mesti mencari bagian lain jalan sebelum monster menyadari kami di sini.

Yang kami ketahui sejauh ini adalah lokasi umum. Kami masih belum bisa menunjuk titik tepatnya.

Masih sama, langkah maju. Kemajuan.

Sesorot cahaya bersinar di hamparan labirin tiada ujung.

Karenanya aku berusaha yakin. Selagi melangkah maju, aku meyakinkan diriku jalan ini menuntun menuju harapan.

Kami bisa selamat … kami bisa kembali ke permukaan! Party dua orang kami …!

Aku memfokuskan energi ke bahu yang menopang bentuk tubuh langsing Lyu.

ф

Perbedaan pandangan antara kedua petualang tidak hilang.

Sebanyak apa aku bisa membantunya tumbuh sebelum aku tiada?

Lyu tenggelam dalam pikirannya sambil curi-curi pandang ke wajah Bell yang dipenuhi harapan baru bahwa mereka akan kembali hidup-hidup. Biarpun dia tidak tahu, dia memikirkan apa yang terjadi setelah hidupnya dikorbankan.

Strategi buruknya yang berekspektasi mengorbankan nyawa satu orang langsung dari awal, tapi … aku harus siap pada momen itu kapan pun terjadi …. Misal aku ragu-ragu, kami berdua akan mati.

Seperti Bell, Lyu berdoa agar dia bisa selamat dari cobaan berat mereka. Tentu saja dia berdoa. Tak ada salahnya kembali selamat dua-duaan.

Tapi dia pun tahu lantai dalam takkan mungkin membiarkan mereka seenak itu.

Kendatipun peralatan mereka sedikit meningkat atas penodaan orang mati, situasi mereka jauh dari kata solid.

Lagian, kenapa juga Dungeon membiarkan mangsa terluka nan lemahnya lolos dari rahangnya?

Dia mengira situasinya akan memaksanya berbuat sesuatu.

Niscaya, akan muncul situasi dirinya harus berkorban.

Sebelum itu terjadi … aku harus mengajarinya cara bertahan hidup.

Lyu berencana menyampaikan semua yang diketahuinya kepada Bell dalam jangka waktu yang dimilikinya.

Bahkan sesudah melarikan diri dari lantai dalam, Bell mesti bisa bertahan sendirian hingga bantuan tiba.

Pertanda baik dia aktif mencari informasi darinya. Ditambah lagi, karena Dungeon memaksanya langsung mempraktikkan yang dipelajarinya, Bell menyerap segalanya sangat cepat.

Dia sekarang lebih kuat. Jauh lebih kuat dari sebelumnya. Sekalipun dia kini berjuang … seketika dapat pengalaman, yang tak diketahui akan diketahui dan dia akan mampu beradaptasi.

Lyu tak meragukannya.

Dia betulan lebih kuat sekarang. Kuat sekali sampai-sampai susah mengenalnya.

Dia sendirian mendesak Juggernaut. Sejumlah faktor berkontribusi pada kesuksesannya, tetapi bagaimanapun, itu pencapaian luar biasa.

Pemandangan dirinya bertarung gigih sekali melawan keputusasaan dan akhirnya menerobosnya memberi Lyu harapan. Dia melihat cahaya api putih yang tidak boleh dimatikan.

… bahkan kini dia masih mengejar cita-citanya. Dia mengejar masa depan di mana kami berdua dapat bertahan.

Bocah itu brilian. Sungguh cemerlang hingga membutakannya.

Dia pun pernah sekali sepandangan jernihnya. Dia mendorong maju percaya akan masa depan lebih baik.

Dia ragu sanggup mengejar cita-cita itu lagi.

Berbahagialah, Kaguya … aku sepertimu sekarang.

Sesaat berjalan maju menyusuri labirin putih susu samar cahaya, Lyu tersenyum menghina dirinya sendiri pada mendiang temannya.

Bayangan hari-hari itu terbesit di benaknya.

Selagi Lyu si petualang mencari-cari monster tanpa henti, bagian dirinya yang telah terbebas dari masa kini membumbung tinggi ke masa lalu.

Catatan Kaki:

  1. Menurut puisi Achilleid yang ditulis ole Statius, ketika Akhilles lahir maka Thetis berusaha untuk membuat Akhilles menjadi abadi dengan cara mencelupkan bayi Akhilles ke sungai Styx. Hal ini yang menyebabkan tumit Akhilles menjadi lemah karena di tumit itulah Thetis memegang bayi Akhilles. Versi lain dari cerita ini adalah Thetis mengoleskan bunga Ambrosia pada siang hari, kemudian membakar bayi Akhilles pada malam hari agar bagian tubuh manusianya lenyap, tetapi usaha Thetis dihentikan oleh Peleus, sehingga tumit kiri Akhilles masih berupa tumit manusia biasa. Thetis kemudian meninggalkan suami dan anaknya dengan kemarahan.

7 Replies to “DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 14 BAB 10”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *