DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 13 Prolog

Posted on

Kau Akan Kembali

Kau akan kembali.

Seseorang memberitahuku hal itu

Ж

 

“Gawat; Lyu tidak kutemukan di mana-mana,” kata seorang pelayan manusia, Runoa, sambil menggeleng-geleng kepala.

Dia baru saja kembali ke The Benevolent Mistress, bar di East Main Street. Sesaat sebelum waktu buka, kata-katanya seketika menggemparkan para karyawan lain.

“Kemana perginya gadis itu, meong? Aku yakin dia lagi bolos. Tidak dimaafkan, meong …” Ahnya si manusia kucing mengeluh, membanting diriniya ke meja. Akan tetapi, kalimatnya tidak dihiraukan mereka.

“Tapi ini pertama kalinya dia pergi tanpa bilang apa-apa, cuma meninggalkan sepucuk surat,” kata Runoa, memegang selembar kertas dan mendesah seakan-akan cukup kesal. Lyu menghilang dari bar. Tanpa izin dan tak terduga.

Dia meninggalkan catatan di kamarnya di gedung belakang, tulisan tangan indahnya mengumumkan dia akan pergi sementara waktu dan meminta maaf.

“Dia sering menghilang kemarin-kemarin, tapi … kali ini …” rasanya berbeda.

Karyawan The Benevolent Mistress merasakannya dan berpisah lebih awal untuk mencari rekan kerja elf mereka di tempat yang biasa dia jambangi.

“Dia akhir-akhir ini tegang banget, tahu? Tegang sekali sampai-sampai setiap kali melihatnya … aku merasa tidak nyaman.”

“Hei, kucing berhati hitam, jaga mulutmu!” “Ups!”

Tangan Chloe menutup wajahnya menanggapi teguran Runoa. Gadis kucing itu menyipitkan mata dan tak terlihat seperti dirinya sama sekali, namun saat dia menjauhkan tangan dari mulut, dia menunjukkan senyum biasa, seolah-olah sekali lagi berganti kepribadian.

“Meong … aku cuma cemas terjadi sesuatu padanya, karena dia suka melakukan pekerjaan lebih kotor dari bersih-bersih selokan, meong. Lebih tepatnya, dia melakukan sesuatu, meong,” ucapnya, mengibaskan ekor kucing dan tersenyum tanpa ekspresi.

Kegelisahannya lebih terasa seperti firasat ketimbang wawasan—firasat seseorang yang tahu tentang masa lalu seorang elf bernama Angin Badai.

“Hei-hei,” kata Runoa, mengomeli kata-kata setengah bercanda gadis kucing kedua kalinya.

Dia melirik sudut tempat seorang gadis berambut biru keabuan sedang duduk membisu.

Syr tetap diam, ekspresi merenung intens di wajahnya.

Ibarat hendak menghilangkan tensi di ruangan, dua orang gadis kucing yang diam sementara mulai mengobrol berisik lagi.

“Selagi si rambut putih bersembunyi di Dungeon, Syr lagi sedih, meong! Aku yakin itu semua salah satu plotnya, meong!”

“Pastinya! Semua itu salah si bocah, meong! Untuk menebusnya, aku akan paksa dia mengizinkanku menjejalkan wajahku ke pantatnya, meong!”

“Kalian berdua menjijikkan! Kalian ini ngomongin apa sih?” tanya Runoa.

Namun bahkan tingkah biasa Ahnya dan Chloe yang mengoceh-ngoceh lalu dimarahi Runoa tidak menghadirkan senyum ke wajah Syr.

Itu karena si elf serius yang selalu santai mencela orang lain, menghilang dari pertemanan mereka.

Mendadak, pintu ruangan terbuka dengan bunyi brak.

“Kalian idiot-idiot ini sedang apa? Berhenti bergosip dan bekerjalah!” si kurcaci pemilik The Benevolent Mistress, Mia.

Ahnya, Chloe, dan Runoa tersentak ketika diteriaki bos mereka dan bergegas keluar bar layaknya banyak bayi laba-laba.

Sekarang sendirian, Syr dan Mia saling menatap di bar yang tiba-tiba sepi.

“Mama Mia …. Mama tahu sesuatu?”

“Kalau kau saja tidak tahu apa-apa, bagaimana aku tahu?” jawab singkat Mia.

Syr adalah teman terdekat Lyu.

Kurcaci itu berbalik dan meninggalkan bar.

 “Elf itu beneran menyusahkan,” katanya selagi keluar. “Lyu …” bisikan Syr menghilang di bar sunyi.

Ж

 

Kau tidak apa-apa?

Aku ingat kehangatan itu.

Aku ingat tangan gadis berambut abu-abu biru terulur padaku.

Aku ingat senyuman gadis yang mengembalikanku ke dunia cahaya setelah melampiaskan dendamku, didorong amukan emosi dan rasa keadilan salah, lama setelah kehilangan alasan hidup.

Dia menyelamatkanku.

Wanita-wanita itu menyelamatkanku—gadis-gadis kucing yang bekerja di bar dan pemiliknya kurcaci gila.

Aku merasa ibarat bar menyenangkan berisik itu membersihkan tubuhku. Tubuhku dilumuri darah dan kotoran.

Mata biru langitku yang dibakar menjadi abu oleh api balas dendam.

Jika seseorang bertanya padaku saat ini apa hal paling berharga di hidupku, barangkali aku bilang The Benevolent Mistress.

Begitulah betapa sakralnya kehidupan sehari-hariku bersama wanita-wanita di sana.

Meski begitu, Lukaku takkan pernah hilang.

Kekosongan karena kehilangan familiaku, yang sepenting bar itu.

Kesepian terasa yang ‘kan berdenyut sakit setiap saat.

Walaupun aku gelap mata, aku tahu bara hitam masih membara dalam hatiku.

Aku memimpikannya.

Teriakan di mana-mana. Jeritan pengang mengerikan. Air mata bercampur kemerahan.

Momen-momen terakhir gadis itu, yang dulunya cantik dan mulia, terus saja terbesit di mata tertutupku.

Di pagi hari sesusai aku memimpikannya, aku berjuang mengatasi geliat emosi ngeriku dan rasa kehilangan tak tertahankan.

Emosi mengamukku menangis.

Nyaris seolah-olah aku dapat mendengar penyesalan gentayangan rekan-rekanku, tangisan mereka membakar badanku.

Aku akan menahan diri dan menusuk jari kukuku ke daging lenganku.

Dibayangi cahaya lembut yang disinarkan The Benevolent Mistress, kegelapan kecil mengintai. Selama lima tahun terakhir, aku menyimpan dua emosi dalam hati.

Lantas aku barangkali sudah tahu.

Aku tahu betul bahwa misal muncul kesempatan, bendungannya akan hancur dan aku akan berubah menjadi monster tak terhentikan.

Ada labirin bawah tanah samar cahaya. Aliran udara dingin mengisi jalan-jalannya.

Pada labirin itu, terdapat pusaran air Kejahatan yang takkan pernah digapai matahari.

Yang kulihat di sana membuat bulu kudukku tegak berdiri. “L-L-Leon!”

Suara putus asa.

Namaku, bersimbah ketakutan.

Orang-orang itu merinding tatkala menatapku.

Waktu melambat, dan kala waktunya pecah, monster dalam hatiku menghancurkan rantainya dan meraung-raung.

“Leon?!”

Aku mendengar mereka memanggil namaku lagi.

Boleh jadi utas terakhir yang menahanku.

Tetapi aku menampik suara rekan-rekanku dan menyerahkan diri kepada amukan emosi.

Ketika orang-orang itu lari menjauh dariku, aku kejar mereka.

Kemanapun mereka lari, berusaha bersembunyi di sudut bercabang labirin manapun, hasratku takkan pernah berhenti berteriak hingga diri dalamku menerkam.

Api dari bara api hitam telah menyebar. Dengan mudahnya, api itu berubah menjadi api neraka.

Ж

 

Kau akan kembali, Angin Badai.

Hatiku berkata demikian. Dan benar memang.

Selama tidak mengatasi masa laluku—

6 Replies to “DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 13 Prolog”

  1. Hum-hum… Seperti janji mimin, ternyata mimin menepati janjinya, terimakasih atas Chapter nya, walaupun saya udah pernah baca versi engnya dan udah jauh, tapi lebih enakan baca disini, bahasa sendiri lebih enak, dan juga tl nya Darktranslation emang ga bisa di pungkiri bagus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *