DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 13 BAB 6

Posted on

Maka Mereka Balikkan

Takdir Jahat Mereka

Penerjemah: DarkSoul

Terdengar suara batuan dasar hancur.

Wujud besar turun diiringi hujan bongkahan batu besar dan kecil.

Suara dahsyat dari suatu wujud yang menembus udara diikuti suara wujudnya menabrak bumi.

Di balik tabir asap, tubuh panjang putih kebiruan menggeliat sebab penderitaan barunya.

Wujud itu adalah wormwell, monster ular sangat besar.

“—aa!!”

Lambton-nya mengamuk.

Mata jamaknya hancur dan berdarah, meronta-ronta seakan menderita siksa terkejam yang bisa dibayangkan. Cairan bergaris merah dimuntahkan dari dalam rahang besar selagi tubuh panjangya menggelepar di tanah.

Terlihat persis sebagaimana anak kecil makan benda asing yang dijamin pasti menyebabkan sakit perut megah.

Seketika, tubuhnya kejang-kejang membunyikan gedebuk keras. Lagi dan lagi, totalnya empat kali. Setiap kejang, ia makin menjerit putus asa. Permukaan putih kebiruan tubuhnya bersinar merah muda pasi, seolah-olah diterangi dari dalam dengan lampu. Akhirnya, getaran mnguasai seluruh tubuhnya, dan cahaya api elektrik keluar.

Sekali, dua kali berdenyut, dan tetap tidak berhenti.

Gumpalan api listrik membara keluar dari sisi tubuh lambton.

Dengan suara gemuruh, monsternya—terbakar terbuka dari dalam—berguling ke samping, seluruh kekuatannya habis.

Kemudian, dari dalam wujud panjang binatang buas tersebut, pisau hitam menembus kulit. Seakan-akan pedang tumbuh dari dalam tubuh wormwell. Hieroglif yang terukir pada bilahnya menyinarkan cahaya. Disertai suara mengerikan daging dirobek, pisaunya dia robek ke bawah.

  Garis miring vertikal muncul di kulit.

Isi perut monster keluar ditemani semburan air merah. Diikuti sepasang tangan yang meraih tepi luka lalu dibuka sekuat teanga.

“Uwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…!”

Muncul seorang anak laki-laki berambut putih.

Menyipitkan mata, uap mengepul dari tubuhnya, Bell berteriak. Dia tersandung ke depan beberapa kali dari penjara tubuh lambton, berikutnya jatuh pas wajahnnya menabrak genangan cairan kemerahan.

“Ahhhhhhhhhhh!!”

Seluruh tubuhnya meleleh. Kulit terekspos dan bagian-bagian perlengkapan petualangnya sepertinya telah hancur, dan rambut putihnya berasap. Satu-satunya bagian dirinya yang tak terluka adalah syal hitamnya yang dibungkus ke tangan kirinya sekaligus senjata yang dilindungi sarungnya.

Dia dibakar oleh asam beracun kuat dalam perut monster yang menelannya. Ketika udara dingin membasahi kulitnya dalam pelariannya, rasa sakit membakar menyelimuti seluruh tubuhnya. Dan karena dia berbaring telungkup dalam genangan darah bercampur asam lambung, kulitnya terbakar lagi.

Meski sakit, dia menaruh tangan ke tanah dan mendorong naik tubuhnya, kemudian berdiri goyah.

“Nona Lyu … Nona Lyuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu?!”

Membuka kelopak mata yang dipejamkan rapat-rapat dan melihat-lihat pemandangan kabur di depannya, dia beralih ke monster. Lalu, mendengar erangan memekakkan kuping, Bell balik ke perut lambton. Saat setelahnya, dia keluar lagi, memeluk seorang elf.

“Hoeeeeeekkk!”

Seandainya mereka orang biasa, mereka sudah lama meleleh bersama-sama menjadi satu genangan air bagus dalam usus monster itu.

Namun mereka bukan orang biasa. Mereka adalah petualang kelas atas yang tiga kali diangkat ke level lebih tinggi. Mereka mampu menahan mandi asam lambung kuat.

Bell menyeret Lyu—yang setengah duduk, setengah berdiri, ditambah lagi tidak berdaya sama sekali—di sekitar genangan darah dan jatuh ke atas tanah.

Tenaga Lyu terkuras penuh. Walaupun Bell telah melindunginya setelah mereka ditelan dengan memeluk erat, jubah panjang serta pakaian tempurnya sebagian tiada. Kulit lentur elfnya pun sangat dirusak luka bakar. Matanya tertutup rapat bagaikan dalam tidur abadi.

Air mata jatuh dari mata Bell. Sekarang dia bergerak dengan kehendak murni. Dia berlutut di sampingnya dan mengangkat tubuh Lyu dalam pelukannya.

“Nona Lyu, Nona Lyu?! Tolong, tolong buka matamu …!”

Dengan tangan dan jari gemetaran yang kulitnya terkelupas, dia mencengkeram bahu Lyu. Berkali-kali, dia memanggil namanya, ibarat ingin mengikatnya ke dunia orang-orang hidup.

Tidak jelas dia merespon atau tidak, tetapi bulu matanya yang tertutup, gemetaran.

“Nona Lyu …!”

Namun begitu kegembiraan membanjiri wajah Bell—

Monster melolong, menghancurkan harapan.

“…”

Ditarik kembali ke kenyataan, Bell pelan-pelan mengangkat kepala.

Mereka berada dalam ruangan luas. Besar tak terbayangkan. Terlalu besar.

Mengintip gugup ke lingkungan sekitar yang redup cahaya, Bell mencoba menghibur dirinya dengan pikiran dia tak melihat monster apa pun di dekatnya, tetapi dia tak merasa nyaman.

Kalau kami diserang monster sekarang, semuanya akan tamat.

Tidak, itu salah.

Kami di mana?

Kami di lantai berapa?

Dia tahu para wormwell sanggup berpindah lantai. Dia pernah berulang kali tersentak maju-mundur dalam perut hitam pekatnya dan terombang-ambing akibat penggaliannya. Akan tetapi, Bell tak tahu sejauh mana monster yang kini terbaring mati di sampingnya, menggali.

Kemungkinan besar, Bell berada di suatu tempat di bawah lantai 27.

Selagi jarinya masuk ke sela bahu Lyu dan memeluknya kuat-kuat untuk melindunginya, Bell berusaha lama menampik kengerian untuk mencari tahu situasi.

Daratannya dari tanah dan batu. Di kejauhan, dia dapat melihat dindingnya pun sama. Ruang terbuka di atas kepalanya terlampau tinggi, tinggi sekali sampai-sampai dia tak bisa melihat langit-langit dengan penglihatan Level Empatnya.

Dia terjebak dalam kegelapan luas.

Satu-satunya sumber cahaya adalah pendar-pendar cahaya yang masing-masing jarak pisahnya rata di sepanjang dinding. Daratannya, dindingnya, bahkan lantainya sendiri putih keruh.

Angin sedingin es bertiup melewati Bell, menyerang lehernya seakan-akan berbisik:

Akhirnya tahu, kan?

Kegelapan suram yang membebani pundaknya mulai tertawa ke telinganya.

Jantungnya berdegup kencang. Merasa seperti meledak menembus tulang rusuknya lanjut terbang keluar dari tubuhnya.

Perlu beberapa detik hingga menyadari suara serak berkelanjutan, layaknya seseorang meniup peluit parau, sebenarnya adalah napas terengah-engahnya.

Tidak mungkin. Tidak mungkin. Tidak mungkin.

Nalurinya berteriak kepadanya, tapi pikiran rasionalnya ingin menolak kebenarannya.

Pengetahuan yang dia simpan dalam ingatannya selama belajar bersama Eina memberitahunya bahwa lingkungannya saat ini jahatnya cocok dengan deskripsi suatu lantai.

Struktur ruangan kelewat besar. Skala berbeda jauh sampai ingin membuatnya menangis.

Ini bukan skala lantai atas, atau lantai menengah, atau bahkan lantai bawah.

Keputusasaan mencengkeram hati Bell kala dirinya sampai pada jawabannya sendiri.

Identitas kejam lokasinya kini adalah—lantai 37.

Bibir gemetarnya membisikkan:

“Lantai dalam …”

13 Replies to “DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 13 BAB 6”

  1. Min, ente nonton nimex season 3 nya ngak?
    Klo iya kek mana kesan nya menurt ente
    Atau siapalah kalian orang padaan juga boleh jawab, ngak mesti si mimin

    Kok pribadi gua ngerasa klo kurang ngena yaa kesan nya di anime padahal menurut gua arc yg paling barbar itu di arc xenos (khususnya vol 10 dan 11)
    Di volum 9 (LN) keliatan bener klo bell binggung setengah mati
    Tapi di nimex nya (episod awal) bell ini ngak jelas ngapain alias ngak keliatan binggung/stres nya

    Sebenernya kenapa si ni danmachi klo di adaptasi ke anime ngak meledak
    Apa karna anime bersumber dari LN klo di adaptasi ke anime emang susah meledaknya yaa

    1. ga nonton, karena gada di netflix, anime danmachi ga meledak karena studionya ga pinter mengadaptasi anime-nya, jadi ga ngeluarin potensi penuh ceritanya

      1. Ceritanya Mantep….. Komiknya seru….. Gamenya gak kalah ama Fate series….. Animenya kok masih kayak anime tahun 2010 ke bawah….. JC Staff gambarin Karakternya standar banget….. Mana background Dungeonnya gak pernah landscape….. Lvl petualang gak dicantumin lagi…. Battlenya cuma 3 gerakan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *