DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 13 BAB 5

Posted on

Datangnya Malapetaka

Penerjemah: DarkNier

“Bors, ini buruk!”

“Aku belum pernah dengar Dungeon bersuara seperti ini! Ayo pergi dari sini!”

Para petualang kembali berkumpul setelah dipencar-pencar karena pertemuan mereka dengan Angin Badai, kini membentuk kelompok untuk mengejar dia dan Bell.

Mereka berkehendak membunuh buronan legendaris dengan tangan sendiri. Lyu berhasil kabur dari serangan kejutannya, namun mereka yakin dengan kelompok sebesar ini, mereka pede bisa mengalahkannya.

Akan tetapi, situasinya cepat berubah.

Terjadi ledakan besar di lantai 25, sekarang tangisan yang tidak salah lagi dari Dungeon. Semua orang menduga suara frekuensi tinggi tersebut, keras sekali hingga tidak tahan membiarkan telinga mereka terbuka, mensinyalkan keabnormalan.

Para petualang kelas atas tahu sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya telah terjadi, dan tanpa terkecuali mereka memohon pada kepala Rivira untuk mengevakuasi party dari lantai.

“Hei, Bors! Bors!”

“… tunggu.”

“Huh?”

Mereka berhenti bergerak ketika Bors mengulur telapak tangannya ke arah mereka.

Dia menyingkirkan tangan satunya dari samping kepalanya yang dilengkapi penutup mata besar lalu menggumamkan:

“Suaranya … berhenti.”

Mermaid mendekap tubuhnya.

Ugh … aku benci suara ini …!

Dia sedang berada jauh di bawah air, dikelilingi kegelapan kebiruan.

Dia menyelam untuk menghindari tangisan mengerikan ibunya, Dungeon, mencoba bersembunyi dalam air. Tubuhnya meringkuk mirip janin, dia mati-matian menekan tangannya ke sirip yang berfungsi sebagai telinga.

Aku takut, takut, takut …!

Pernah terjadi sebelumnya, sekali.

Sudah lima tahun lamanya, dia yakin.

Dia pernah mendengar tangisan ibunya dari jauh di dalam Dungeon. Tentu saja, waktu itu tak ada hubungannya sama Mari yang tidak dapat meninggalkan Ibu Kota Air, tapi tetap saja, dia ketakutan

Sesuatu buruk pun tatkala itu terlahir. Dia tidak tahu banyak, tapi tahu itu. Dia paham.

Mari menekan telinganya dan memejamkan mata.

Dia melarikan diri ke dalam air berusaha memisahkan dirinya dari kenyataan mengerikan. Namun dari balik kelopak mata tertutupnya, dia melihat teman-teman serta keluarganya—Xenos.

Xenos, bayangan punggung seorang bocah yang baru-baru ini ditemuinya dalam Dungeon.

Bocah itu yang sepenting keluarganya sendiri, ada di sini.

Dia sudah termasuk salah satu harta paling berharganya.

Bell …!

Dia tampik raasa takutnya dan membuka paksa matanya.

Air matanya tumpah ruah ke air dan ekornya menggebrak air, mermaid itu berenang menuju permukaan air tempat cahaya tersaring.

“Tadi hampir saja …” gumam Lilly, mengabaikan butiran keringat yang menetes ke dagunya.

Di hadapan matanya terdapat lantai kristal runtuh. Jauh di bawahnya, dia bisa melihat jalur air mengamuk.

Party-nya nyaris tak berhasil lolos dari bencana sejauh mereka berlari melalui lantai 25 yang berguncang, ledakan terdengar di seluruh sudut mereka dan menghancurkan apa pun yang menyerupai jalan.

Mereka tak tahu separah apa kerusakannya, tetapi mereka tahu itu buruk. Bagaimanapun, bukan waktunya melawan monster yang berada di situasi serupa seperti mereka.

Surga air telah menjadi ibu kota hancur, kemudian sejumlah rute saat ini tidak dapat dilewati. Lilly takutnya hingga Dungeon selesai memperbaiki diri sendiri, mereka takkan mampu kembali ke lorong yang mengarah ke lantai 24.

“Aku mengkhawatirkan ledakan-ledakan ini, tapi …!”

“Suara bernada sangat tinggi semenit lalu …. Apa dari lantai 27?!”

“Kalau itu keabnormalan, maka Tuan Bell …?!”

Aisha, Welf, dan Mikoto sama-sama putus asa.

“Cassandra! Cassandra! Sadarlah!”

“Nona Cassandra?”

Tapi si penyembuh lebih sebal dibanding mereka semua.

Dia pingsan di lantai, tak merespon Daphne yang lagi berlutut di sebelahnya dan mengguncang bahunya, atau Haruhime yang memanggil panik namanya.

Tenaga di kakinya terkuras, lalu kedua tangannya memeluk kepala. Wajahnya putih. Darahnya telah dikuras habis sampai-sampai rekannya bingung benarkah seseorang mampu setenggelam itu dalam keputusasaan.

Ouka serta Welf merasa sama selagi mereka menatap, menahan napas gugup.

Kemampuan berpikir mereka ditumpulkan di tengah kekacauan.

Lilly hampir tak mendengar perkataan Cassandra.

“… r … ri …”

Dia terus menjeritkan sesuatu.

“Lari …!”

Ж

Saat suara batu kristal pecah terdengar, dia diam-diam muncul dari dalam celah.

Dilahirkan dari dinding gua, dia jatuh dengan bunyi crot dahsyat.

Tangisan bayi merupakan desah hangat tidak menenangkan.

Ketika suara benturan Air Terjun Besar menghajar kulitnya, kabut putih menutupi sosoknya.

Dia tak melolong maupun meraungkan teriakan tempur melainkan mengayunkan ekor panjang dan menggerakkan kedua kakinya, membuat riak ke seluruh permukaan air.

Jauh dalam rongga matanya, cahaya merah tua jahat berkilauan.

Di pinggir kolam selebar telaga, dia membengkokkan sendi-sendinya, lalu lututnya berderit.

Sekejap setelahnya, dia menghilang.

Keluar dari permukaan air dan menuju bagian dalam lantai labirin.

“Hei, bukannya kita mesti menemui Bors?”

“Idiot. Kita selamatkan dulu nyawa kita!”

Sekelompok kecil para petualang berada di lantai 27, tetapi mereka tidak bisa bertemu party utama Bors. Alih-alih, party empat orang beranggotakan manusia dan manusia hewan buru-buru berbalik kembali ke jalan turun mereka. Keberanian mereka sudah hilang di hadapan keabnormalan Dungeon.

Bagi sekelompok berandal yang mencari nafkah dengan mengeksplorasi Dungeon, itu tindakan jelas.

Tetapi segala halnya tak berjalan sesuai perkiraan mereka.

“…? Suara apa itu …?”

Dumdumdumdumdum!

Suara aneh datang dari belakang mereka.

Kedengarannya bak makhluk melompat-lompat. Para petualang berhenti dan melirik ke belakang.

Suaranya dengan cepat menghampiri mereka.

Sesosok bayangan berkedip-kedip di kedalaman lorong.

“Hah?”

“Ada yang data—”

Tuing!

Ada suara yang agak enak didengar, kemudian kepala para petualang itu terbelah, membuatnya tak mampu menyelesaikan kalimatnya.

Bahkan kala momen terakhir tiba, dia tidak tahu apa yang terjadi.

Petualangnya menjadi segumpal daging bisu, dengan air mancur darah menyembur dari si petualang selagi dia jatuh terlutut.

Terjadi empat kali.

Mereka dibantai.

Dia mengabaikan darah segar yang menetes dari cakarnya dan menginjak-injak mayat-mayat petualang.

Ketika bayangan besarnya bergentayangan di labirin, monster itu berbalik.

Dia menuju mangsa berikutnya.

“A … Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!”

Teriakan menggema di seluruh Dungeon.

Tangisan pengkuda yang menangis.

Party kecil petualang pria itu telah dihancurkan serangan mendadak.

Penyihir elf dibunuh duluan. Dia bermaksud menyingkirkan Angin Badai sesama elf dari rasnya, dan pribadi sombongnya membual, menjadikan dirinya seorang wanita yang tidak bagus ditemani. Namun terlepas dari itu, walaupun dia tak lembut, dia pengertian meski carnaya aneh, dan petualang pria itu menganggapnya seorang wanita baik.

Wanita itulah yang pertama kali menjadi korban cakarnya. Tubuh elf itu dirobek terpisah pinggangnya. Isi perutnya tumpah ruah dan darah menetes dari mata kosongnya. Kematiannya tidak diperkenankan elf pongah manapun. Lantas pria itu kehilangan ketenangannya dan pedangnya menusuk ke depan. Tetapi pedangnya tak mengenai apa-apa. Segala sesuatu di hadapannya menghitam, dan kepalanya terbelah.

Ketika dia terjatuh, tangannya mengelus pipi elf yang nangis darah.

“Makhluk ini apa? Aku tak tahu …. Kau ini apaaaaaaaaaaaa?!”

Petualang kelima, seorang elf blasteran dan yang terakhir hidup, mengeluarkan pedang sihirnya.

Terjadi ledakan diikuti api.

Kala asapnya pudar, dia menghilang, meninggalkan kelima mayat petualang yang dibakar terkapar di lorong.

Bayangan itu berlari dan menari, kemudian disusul mayat berikutnya, dan berikutnya.

Dungeon dipenuhi jeritan.

Jeritan kesakitan digabung air mancur darah.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!”

Semakin cepat, terlalu cepat hingga tidak dapat dipercaya, mayat-mayatnya berlipat ganda.

Punya indra perasa kejam yang mengetahui posisi para petualang, lalu dia menghabisi nyawa mereka satu per satu.

Tebasan cakarnya merobek apa pun yang disentuhnya. Taring menggigitnya mengoyak daging dan baju besi. Ekor meronta-rontanya meneteskan darah dari mulut para petualang.

Sekitar lima puluh pertualang di lantai 27 tidak mampu berbuat apa-apa. Mereka dibantai begitu saja.

“Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkk!!”

Semua orang yang melihatnya berteriak.

“Makhluk besar ini ap—?!”

Semua orang yang melihatnya gemetar ketakutan.

“G-g-g-g-g-g-g-g-g-g-g-g-g-g-g-g-g-g-g-g-g-g-g-g-g-g-g-g-g-g-g-g-g-giginya …”

Semua orang yang melihatnya dihancurkan dan dimakan.

Teriakan mereka menggema.

Senjata-senjata mereka dihancurkan.

Mereka berusaha kabur, tetapi tidak bisa.

“Bors, selamatkan kami!! Selamatkan—Aaah!!”

“Eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee!!”

Perjamuan tiada habis.

Banyak tangisan saat jalan jeroan dibangun dalam labirin kristal.

Arus biru langit kini dialiri merah darah.

Seketika mayat-mayat petualang digandakan sedikit demi sedikit, monster—kumpulan makhluk-makhluk aneh—bersukacita.

Mereka meminum darah manusia yang menodai jalur air seakan-akan embun segar, dan mereka dengan rakusnya melahap mayat-mayat yang dihanyutkan air kepada mereka seolah-olah daging terbaik.

Beberapa petualang bermekaran menjadi bunga daging.

Beberapa terkoyak cepat.

Beberapa dihancurkan.

Martabat beberapa orang dijadikan mainan.

Mereka yang habis-habisan mencoba melarikan diri telah dirobohkan monster-monster lain yang mengerumuni mereka kemudian mencabik-cabiknya dengan taring dan cakar tak terhitung jumlahnya, lalu mereka semua akan makin menyedihkan diduka.

 Mereka yang mati dan meninggalkan rekan-rekannya diberi kesedihan.

Tetapi mereka yang berduka kepada yang mati tak lama lagi mengikuti jalan serupa.

Ibu Kota Air telah berubah menjadi panggung pembantaian.

“Aduh …!”

“Ini …”

Ketika mereka melihatnya, Chigusa gemetar ketakutan dan Ouka tertegun.

Mereka berada dalam gua lantai 25.

Lilly bersama sisa party berdiri di tebing mulut sungai, dekat jalan menuju lantai 26, dan menatap kejadiannya seketika air jatuh bergemuruh di telinga.

Mereka baru keluar dari gua.

Air Terjun Besar memerah. Merah samar sekilas.

Riam yang terhubung langsung ke jalur air dalam labirin, menyemburkan sungai darah hasil pesta para monster. Kolam biru-zamrud di lantai 27 kini hanya memori nan samar.

Terombang-ambing dalam air jauh di bawah, terlampau jauh dipandang Lilly dan yang lainnya hingga terlihat bintik-bintik hitam semata, adalah kaki-kaki serta tangan-tangan mayat-mayat yang setengah dimakan. Sisa-sisa senjata menyedihkan dan para petualang mengapung-tenggelam di titik terendah surga air.

Kedalaman neraka akan dipenuhi mayat, mengembalikan segalanya kepada sang ibu, Dungeon.

“Mustahil …. Apa semua itu … darah …?”

Welf tidak sanggup menyembunyikan suara gentarnya.

“Ini gila; berapa banyak petualang …? Bukan, semua orang yang pergi ke lantai 27 …?”

Suara Mikoto juga memudar seketika memikirkan kemungkinannya.

“Tolong berhenti bercanda!! Tuan Bell masih hidup! Tuan Bell itu …!”

Kata Lilly panik.

Haruhime bahkan lebih panik lagi dari Lilly, dia pucat total.

“Ah, aaah …!!”

Bahkan Aisha pun kebingungan.

“… apa yang terjadi?”

Petualang kelas dua mengalihkan pandangannya dari luapan merah darah kolam ke celah di seberangnya.

Sementara, dia lupa bernapas sesaat membayangkan apa yang dilahirkan dari celah teramat-amat dalam itu.

“… ayo pergi ke lantai 27! Aku tak tahu apa yang terjadi, namun kita harus menyelamatkan Tuan Bell!” teriak Lilly. Jauh di atasnya, berdiri di tebing di jalan menuju lantai 24, kelompok petualang lain berteriak.

Terowongan menuju bagian dalam lantai 26 berada di sisi tenggara gua tempat Lilly dan anggota lain berdiri sekarang.

Bagi Hestia Familia, lantai di bawah adalah dunia tak diketahui, namun mereka semua mengangguk pada Lilly. Tidak Welf maupun Mikoto ataupun Haruhime ragu sebentar saja.

Lilly hendak berlari menyusuri gua bersama orang lain yang mengikuti di belakang, tetapi Cassandra yang sampai sekarang diam, menyambar tangannya.

“Nona Cassandra! Ini bukan waktunya bermain-main—”

Dia berhenti di tengah kalimat ketika melihat wajah gadis itu selagi kedua tangannya menggenggam tangan mungil miliknya.

“Cassan … dra …?” panggil Daphne, berdiri diam seperti Lilly.

Welf dan teman-teman lain berhenti pula dan lagi menatap Cassandra diam-diam.

“Maaf … maaf; maaf; maaf …!”

Dia terisak-isak, tetapi takkan melepaskan tangan Lilly.

Wajahnya dipenuhi keputusasaan. Kepalanya menunduk sementara air mata meluap-luap di matanya. Dia meminta maaf kepada orang-orang yang tidak berada di sana.

“Maaf; maaf …!!”

Dia meminta maaf pada para petualang tak terhitung jumlahnya yang telah dia tinggalkan karena mereka takkan memercayainya.

Juga pada anak laki-laki yang dia biarkan pergi ke tempat bencana.

Dia tak dapat berhenti meminta maaf.

Inilah perjamuan bencana.

Dungeon tak mengatakan apa-apa. Dia semata-mata menerima darah yang mengalir ke dindingnya, seolah-olah ini acara tepat. Kristal yang tadinya berkilauan biru sekarang berlumuran darah, mengubah pemandangan fantastis yang membuat party Bell terheran-heran menjadi gambaran neraka.

Dungeon tahu bagaimana akhir perjalanan mereka.

Tak seorang pun akan kembali hidup-hidup.

Ж

Kristal di langit-langit sudah redup cahayanya sekarang, bagiakan lentera berbatu sihir yang mau kehabisan energinya, gara-gara ledakan di lantai 25. Tatkala ruangannya kian gelap, suara mencapai telinga kami.

“Ini …?!”

Raungan kacau monster.

Suara sesuatu yang mengguncang Dungeon.

Dan bercampur dengan semuanya, jauh tapi jelas merupakan teriakan manusia.

Suaranya bercampur melodi aneh dan meresahkan.

Suara ini apa?

Teriakan ini apa?!

Sembari menopang tubuh Lyu, aku berteriak pada pria di depan kami.

“Kau melakukan apa?!”

“Ini upacara, tahu!”

Dia tersenyum dengan sangat gembira.

“Upacara untuk membangunkanku dari mimpi burukku!”

“Mimpi buruk …?”

Mata sipitnya bersinar selayaknya kaca, seperti sudah gila.

Tak ada gunanya. Aku tidak tahu dia membicarakan apa.

Yang memacu panikku adalah kenyataan pria yang berdiri di hadapan kami yang lagi menyeringai seburuk situasi kami. Keringatnya menetes sementara monster-monster terus melolong dan Dungeon terguncang, giginya kelihatan ingin berceloteh.

Ibarat dirinya pun tengah menuju rahang kematian—

Tapi yang lebih menggelisahkanku adalah Lyu—yang senantiasa tenang dan santai—sedang bertingkah sekarang.

“Jura …!”

Dia menjauh dari topangku dan mencoba menenangkan napasnya. Namun tubuh kurusnya tak mematuhi keinginannya. Kek lagi berjuang melawan rasa takut yang nyaris tumpah ruah atau lebih tepatnya, dia tidak sanggup lepas dari rantai trauma yang mengikatnya, dia terus gemetar hebat.

Tangannya melipat erat di sekitar dadanya dan melotot tajam ke Jura. Jauh dari kata ciut, namun demikian, si manusia kecing menganggap situasinya menyenangkan.

“Jadi belum kau sadari, ya, Kaki Kelinci, sekalipun Leon sebal banget sampai mau mati?”

Dia mengejekku. “Aku memanggilnya ke lantai 27 sini!”

“Hentikan!!”

Manusia kucing itu mengabaikan permohonan Lyu dan berteriak lagi. Perkataan berikutnya membungkamku.

“Aku memanggil binatang buas yang membantai Astrea Familia!”

“!!”

Ouranus bangkti dari singgasananya.

“Ouranus, apa yang salah?”

Dia masih berada di Ruangan Doa di bawah Guild, sebuah ruangan batu yang mengingatkannya akan kuil. Empat obor dipasang di atas kuil ruang bawah tanah memancarkan cahaya merah. Berdiri di tengah bayangan, mata biru sang dewa membelalak.

Bahkan lewat okulus, Fels merasakan kritisnya situasi yang mendesak dewa tua itu bangkit dari kursinya. Jika bukan keadaan biasa, dia nyaris tak bergerak. Bagi Ouranus, waktu tidak berjalan. Ouranus bicara serius.

“Makhluk itu telah keluar …”

“Makhluk? Maksud Anda apa? Anda mengatakan apa, Ouranus?”

Suara Fels meninggi panik merespon perilaku aneh dewanya.

Ouranus menatap melalui mata menyipit yang mengarah ke dunia bawah tanah yang meluas di bawah kakinya seraya berbicara ke bola kristal.

“Monster yang menghancurkan Astrea Familia lima tahun lalu …”

“…?!”

Ouranus lanjut bicara sungguh-sungguh kepada Felt tercengang.

“Bencana dimulai lagi …”

“Lima tahun lalu, familiaku, Rudra Familia, tengah berseteru sama Astrea Familia, tahu! Entah siapa yang benar atau gimanalah, tapi mereka menghalangi kami, Evilus, dan kami tidak tahan! Lantas kami putuskan menjebak mereka dalam Dungeon!”

Bell ternganga kaget ketika kata-kata Jura bergema di sebuah ruangan lantai 27.

Berdenyut sinyal di balik benaknya.

Yang Bell dengar sekarang terhubung dengan cerita Lyu beri tahu di lantai delapan belas.

“Pas kek hari ini, kami mengumpulkan banyak sekali bom api! Kami kira dengan memancing Leon bersama familianya ke bawah sini bisa mengubur mereka hidup-hidup! Namun bajingan-bajingan tangguh itu tidak mati. Malah kami yang jadi bertahan!”

Ketakutan dan kemarahan nampak di mata Jura kala mengingat hari itu. Mendadak, emosinya menenang, dan senyum gundah melingkar di bibirnya.

“Tapi setelahnya … terjadi sesuatu yang tak kami duga-duga.”

Wajah Lyu berubah, kemudian Jura tersentak.

“Tak terduga …?” tanya Bell, keringat menetes di wajahnya.

Si manusia kucing pucat pasi, tetapi dia tetap sama terus menyeringai.

“Kau tahu, satu monster dilahirkan dari Dungeon.”

“Saat terjadi kerusakan berlebihan, Dungeon membangkitkan insting perlindungan dirinya …. Ratapan Dungeon buruk sekali bahkan doa-doaku tidak dapat mencapainya.”

Ouranus bicara sedih sembari mendengarkan suara berlanjut Dungeon.

Hari itu lima tahun lalu, Rudra Familia dengan cerobohnya membawa banyak Batu Inferno ke Dungeon, menyebabkan ledakan besar hingga meletuskan satu lantai.

Kerusakannya teramat-amat luas sampai-sampai istilah labirin tidak lagi berlaku.

Sesudahnya Dungeon mengirim sinyal peringatannya.

“Kalau mereka cuma merusak struktur labirin, takkan terjadi hal besar. Dungeon akan memperbaiki diri dan beregenerasi. Kekuatannya besar sekali sampai—sampai anak-anak memanggilnya sumber daya tak terbatas …”

“Namun seandainya perbuatan destruktif sangat besar, kelewat berlebihan … sampai-sampai regenerasinya tak mampu mengimbangi …”

“Ya …. Dungeon tidak memilih regenerasi melainkan mengeliminasi sumber kerusakan.”

Betulan sederhana, apabila seseorang menganggap Dungeon merupakan makhluk hidup.

Tatkala organisme asing menyerang manusia dari dalam, sistem kekebalan bertindak membunuh pathogen yang menyerang. Inilah naluri pertahanan diri alami semua makhluk hidup.

Dungeon pun sama.

Sesuai kata para petualang, Dungeon itu hidup.

Ketika rahim semua monster terlalu gencar diserang, labirin bawah tanah hidup akan mengaktifkan insting bertahannya dan melahirkan makhluk yang menjadi respon kekebalannya.

Makhluk ini yang membunuh organisme-organisme asing—dalam hal ini, para petualang penyerang—dapat dianggap utusannya Dungeon. Dan bahkan sampai tak menghiraukan kehendak Ouranus yang berperan menjaga Dungeon.

“Maksud Anda kerusakan yang sama seperti lima tahun lalu terjadi sekali lagi?” tanya Fels.

“Sepertinya demikian …”

Makhluk yang dilahirkan Dungeon lima tahun lalu adalah Abnormal.

Ouranus tidak mengantisipasinya, Astrea Familia juga Rudra Familia pun tidak; betulan monster tak diketahui.

Loki Familia belum pernah melihatnya, Freya Familia pun belum, tak pula dua familia terbesar waktu itu, Zeus dan Hera familia. Yang artinya seribu tahun semenjak dewa-dewi turun ke dunia fana, fenomena itu cuma diamati sekali.

Ouranus seorang yang berdoa memohon belas kasih pada Dungeon, yang menyadarinya.

Dan korban monster tanpa nama inilah yang pernah melihatnya.

“Selain aku, semua orang terbunuh! Wanita sialan dari Astrea Familia dan aku!”

Selagi Bell mendengarkan cerita lengkap yang dirahasiakan Lyu darinya, segala hal kecuali syok tersedot dari pikirannya.

Di sampingnya, wajah Lyu dipenuhi rasa sakit.

“Lima tahun terakhir, aku mencari tahu kejadiannya! Aku menginvestigasi semua detail penyebabnya dan bagaimana cara memanggil monster itu lagi! Aku tak menanyakan Sisa-Sisa Evilus lain—aku melakukan seluruhnya sendiri!”

Bell tidak dapat memercayai telinganya ketika mendengar penjelasan terlalu menggebu-gebu Jura. Kepalanya masih berenang keheranan dan pipinya gemetar, akhirnya dia bicara.

“Kenapa? Kenapa kau ingin memanggil makhluk itu lagi …?”

“Tentu saja biar aku bisa melatihnya!!” balas langsung Jura. “Kendatipun aku terkencing-kencing waktu itu, sebagai seorang penjinak aku tidak mampu mengalihkan mataku darinya. Leon, apa dia terlihat seperti monster bagimu? Bagiku tidak! Bagiku, lebih cantik dari dewi!!”

Lyu membalas pandangan Jura dengan tatapan tak terbaca.

Pertama kalinya, suara si manusia kucing bergetar.

Pecinta monster.

Kalimat tersebut terbesit di benak Bell.

“Kehadirannya luar biasa, membunuh segalanya, menghancurkan semuanya! Aku menginginkannya; aku menginginkan seutuhnya untuk diriku sendiri!!”

Barangkali karena dia seorang penjinak, matanya berkilauan bak anak kecil, dan suaranya berdenyut gembira tak wajar.

Saat itu, meski kekaguman dan ketakutan besar membuat seluruh tubuhunya gemetaran, dia menginginkan monster itu bukan main. Dalam artian tertentu, Jura telah mendewakan sekaligus menyembah makhluk mengerikan tersebut.

Dengan kata lain, penjinak berlengan satu telah terpesona oleh binatang yang kekautan maha besarnya mengakibatkan tragedi sebesar itu.

Lyu melotot marah pada Jura yang mengungkapkan motivasi terdalamnya.

“Idiot! Monster itu tuh berbeda! Bukan seperti itu! Bukan makhluk yang dapat dijinakkan!”

“Tidak dengan metode biasa! Tapi aku punya ini!!”

Jura mengeluarkan kerah yang bisa diperluas. Diresonansikan cambuk, barang sihir buatan Evilus bahkan mampu menjinakkan monster dari lantai dalam.

“Dengan ini di sini, aku tak takut terhadap apa pun!! Aku tidak bisa diancam!”

“…?!”

“Bahkan tidak olehmu, Leon!”

Satu tangan tersisa Jura menunjuk Lyu, kebenciannya membara tinggi.

“Sampai sekarang, tidak satu malam pun kau tak menghantui mimpiku! Iya, itu mimpi burukku! Tetapi detik aku memanggil monster itu …. Ya! Hari itu aku akan mengatasi mimpi buruknya!”

Selagi Bell mendengarkan kalimat yang mengalir deras, arti mimpi buruk dan mengatasi jelas sudah baginya. Lyu merupakan perwujudan trauma Jura, dan dia berencana memanfaatkan trauma pribadinya untuk mempermalukan dan menghapusnya.

Tiada simpati buat orang ini.

Bagaimanapun, Bell menganggap dirinya juga disiksa masa lalu.

“Milikku! Takkan pernah kuserahkan!” teriaknya, melihat langit-langit.

Lima tahun investigasi dan penelitian mengarahkan Jura ke dua konklusi.

Pertama, separah apa kerusakan lantai atas, Dungeon takkan mengeluarkan tangisannya, atau bahkan sampai peringatan. Sebab zona dekat permukaan amat dipengaruhi kehendak Ouranus. Maka dari itu, dia memutuskan monster takkan dapat dipanggil di area sana.

Konklusi keduanya berkaitan kondisi untuk memunculkan monster tanpa nama. Kerusakan pada lantai harus parahnya bukan main, sampai-sampai Dungeon tidak sanggup mengimbangi perbaikannya. Apabila tingkat kerusakannya dihasilkan, monsternya akan dilahirkan di lantai yang sama. Monsternya tidak bisa dipanggil tanpa pengukuran tertentu. Membandingkan jumlah Batu Inferno yang familianya gunakan lima tahun lalu dan data kerusakan Dungeon di ratusan lokasi peta, Jura menentukan sekitar 20 persen bagian lantai tertentu harus dihancurkan. Dengan kata lain, struktur Dungeon itu sendiri mesti dirusak.

Jura telah menjinakkan dan sesudahnya mengorbankan banyak monster selama lima tahun eksperimen gagalnya. Berdasarkan menit reaksi Dungeon, dia akhirnya menyimpulkan Dungeon memandang seluruh Ibu Kota Air sebagai satu lantai.

“Tidak seorang pun tahu mengetahui tabu Dungeon ini. Kalau kita mengeluarkan semacam regulasi, kita nantinya akan mengungkapkan ada sesuatu di sana …. Jadi kita tidak ada pilihan lain selain menutup mulut dan menyembunyikan kebenaran,” tukas Ouranus.

Asumsinya adalah dalam keadaan biasa, tak satu pun orang sanggup mengakibatkan kerusakan skala besar ke lantai menengah dan bawah yang luas. Lagian siapa juga yang akan mempertaruhkan nyawa mereka untuk melakukannya? Astrea Familia yang telah menyaksikan monsternya, telah dihabisi, dan Rudra Familia telah dimusnahkan seluruhnya oleh Angin Badai.

 Lyu-lah satu-satunya orang tersisa yang mengetahui kebenaran kejadiannya, dan Ouranus tidak mengira dirinya—yang secara langsung mengalami tragedi tersebut—akan mengetes batas-batas ketabuannya.

Dengan kata lain, dia semestinya takkan dilahirkan lagi.

Itu benar bila Angin Badai tak gagal membunuh Jura.

“Aku mengekspos semuanya kepada Xenos. Mereka merasakan Abnormal lima tahun lalu dan takut padanya. Aku meminta bantuan mereka untuk memastikan hal semacam itu takkan pernah terjadi lagi. Namun …”

“Saat ini, Lido dan Xenos-Xenos lain tengah berpartisipasi dalam invasi Knossos …!” Fels mengerang, kristal yang berkedip-kedip menerangi wajah penyihir lewat okulus.

Ouranus mengangguk serius.

“Ya. Tidak mungkin bisa cepat merespon situasinya.”

“Dan itu terjadi di menengah—tidak, lantai bawah …. Tepat tujuan ekspedisinya …. Mustahil! Hestia Familia ada di bawah sana?”

“Menjinakkan monster …? Monster semengerikan itu membantai habis seluruh familia Lyu …. Dan kau memanggilnya ke lantai ini?”

Bell tidak mampu menyambungkan seluruh informasi yang sangat cepat dilempar kepadanya.

Tidak bisa! Aku tidak bisa mengikutinya.

Saat suara jantungnya sendiri berdegup kencang di telinganya, Bell gelagapan mencoba memahaminya.

Jadi monster yang sengaja Jura panggil di sini dengan menghancurkan lantai-lantai adalah musuh sejati Lyu …

Mimpi buruk itu seharusnya tidak pernah kembali.

Namun saat ini dia mengamuk di lantai ini, memusnahkan sesuatu yang dianggap virus. Berarti—

“—Bors?!”

Akhirnya setelah mengetahui apa yang terjadi, Bell berbalik menghadap pintu masuk ruangan dan labirin di luar, di tempat dia masih bisa mendengar lolongan monster seolah-olah sedang perayaan.

Tampang-tampang para petualang di party Bors muncul di pikirannya, dan dia ingin berlari mendatangi mereka namun Lyu meraih lengannya.

“Nona Lyu?!”

“Jangan …!”

Tangan lembut si elf seputih salju.

“Jangan pergi! Jika kau mencoba melawan makhluk itu …!”

Pertama kalinya, Bell melihat ekspresi memohon terpampang di wajahnya. Mata biru yang normalnya tegas telah goyah putus asa. Seakan-akan dia menangis tanpa jatuh air mata—seolah-olah membaca pikiran Bell dan memohon dengan bayangan masa lalu agar tidak maju.

Bell kebingungan harus melakukan apa. Dia tak mengatakan apa pun.

“Benar juga, Leon! Kau tidak bisa melepaskannya, kan?! Kau sendiri melawan monster itu, dan kau pun tahu lebih baik dariku betapa mengerikannya dia!”

Sekali lagi, Jura terkekeh.

“Belum lagi …”

Bell terkesiap mendengar perkataan selanjutnya si manusia kucing.

“… fakta kau tidak ingin lagi membantai teman-temanmu dengan tanganmu sendiri!”

Paras Lyu terlihat retak.

“Oh iya, itu yang kau lakukan!”

“Diam.”

“Demi menyelamatkan diri berhargamu!”

“Diam!”

Dengan mengorbankan teman-temanmu, kau akhirnya dapat mengusir monster itu!”

“Diaaaaaaaaaaaaaaaaaammmmm!!”

Bell berdiri terdiam di tanah.

Lyu mendongak dan berteriak.

Mereka bertiga terjebak dalam kekacauan jeratan emosi.

Tepat sewaktu itulah, raungan menggelegar di Dungeon.

Sepintas, setelah suara gemuruhnya mereda, seluruh lantai diam.

Bell tak bisa bernapas. Lyu berdiri membeku. Jura bergidik.

Baik indra was-was yang terlatih para petualang dan insting naluri hewan paling dasarnya meneriakkan sinyal peringatan.

Getaran ngerinya berlangsung sedetik saja.

Lantainya serempak gemetar, dan tatkala hening sesaat hancur, serbuan pria dan wanita menggila membanjiri ruangan tempat Bell berdiri.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!!”

Kelompok para petualang tiba dipimpin Bors.

Party pemburu yang Bell dan Lyu kenal baik.

Namun kini, ukurannya yang jelas berkurang.

Mereka yang tersisa menghamburkan banyak darah—dan bukan darah mereka.

Bell ternganga melihatnya.

“Tuan Bor—”

Teriakannya terpotong di tengah kata.

Sepasang mata merah darah melayang samar di kegelapan luar pintu masuk ruangan. Cakar es mencengkeram jantungnya.

… di sanalah dia.

Sesaat setelahnya, bayangan itu menghilang ke kegelapan.

“…”

Bell mendengar suara kristal diinjak, lalu gerakan kilat menyerempet melewati Bors dan party-nya yang sedang berusaha kabur.

Dia terus bergerak tanpa henti, mendesis miring di atas kepala Bell.

Dia bahkan tak sempat bereaksi.

Tatkala dia memutar kepala, salah satu anggota party Bors menghilang.

Dicekam teror, masih belum memahami apa yang terjadi, dia mengamati ruangan di belakangnya.

Tak ada apa-apa di sana.

“Aa … Aaaa …”

Dia di atasnya.

Bagaikan laba-laba raksasa, menempel di sana mencengkeram sambungan dinding dan langit-langit.

Petualang hilang naas itu dikunyah rahangnya.

“…”

Wujud yang diterangi cahaya kristal itu besar dan kurus.

Dia punya dua tangan dan kaki. Lengan panjang juga kurus anehnya proporsional dengan tubuhnya. Kakinya juga panjang dan kurus tetapi persendiannya membungkuk ke belakang. Anehnya, tubuh bertulang hampir tanpa daging dilengkapi cangkang yang sekilas terlihat bak lapisan baju zirah.

Mengkilaukan cahaya biru tua keunguan aneh. Dari permukaan punggungnya menjulur ekor keras sepanjang empat meter.

Kepala berjendulnya identik tengkorak binatang, kecuali cahaya merah tua yang bersinar dalam dua rongga mata kosongnya. Warnanya jauh lebih dalam dan bengis dari mata merah muda merah Bell.

Semisal Bell perlu menjelaskan keseluruhan wujud monster, dia akan menjelaskan fosil dinosaurus mengenakan baju zirah.

Bahkan di antara monster-monster tak terhitung jumlahnya yang mendiami Dungeon, dia memang seekor Abnormal.

“…”

Tubuhnya bergantung terbalik sambil mencengkeram dinding kristal dengan cakar kaki dan menatap Bell beserta para petualang lain, panjangnya berukuran tiga meter. Tidak salah lagi ini monster kategori besar.

Ciri paling mencoloknya adalah cakar bagai taring. Memanjang dari ujung tulang tangan berjari enam, cakar yang panjangnya tak proporsional berkilau ungu tua. Melihatnya, Lyu jatuh putus asa dan Jura tersenyum gugup.

Monster yang menyebabkan tragedi lima tahun lalu telah muncul sekali lagi di hadapan kedua petualang, sekarang pertama kalinya, Bell melihatnya pula.

Mata merahnya mengamati petualang-petualang tersisa.

“T-tolong aku—”

Kres.

Di depan mata Bell yang tertegun, monster itu menggigit petualang yang dipegangnya, ibarat melakukannya merupakan hal paling lumrah di dunia ini.

Ж

Inilah penyebab utama penderitaan Astrea Familia.

Waktu itu, orang-orang bilang hanya masalah waktu saja sebelum para petualang perempuan muda yang mendirikan familia mencapai status kelas satu. Tapi monster satu ini menghancurkan mereka, menghapus masa depan dalam hitungan menit.

Dua anggota Level Tiga. Delapan Level Empat.

Monster tanpa nama ini memusnahkan kesepuluh petualang kelas dua ini.

Walaupun catatan Guild tidak menyebutkan binatang buas itu, Ouranus telah memberikannya nama.

Juggernaut1.

Sang Penghancur.

Ж

Kepala para petualang terjatuh membisu dari dalam taring monster dan terbelah di tanah.

Bors dan kawan-kawan memucat begitu melihatnya. Pikiran Bell mengosong.

Monsternya bergerak lagi.

“…”

Lututnya menekuk ke belakang, dipanjangkan—dan sekali lagi menghilang.

“—?!”

Gerakannya cepat bukan kepalang.

Angin yang dihembusnya kuat sekali sampai-sampai menipu rambut para petualang.

Bell menghindari garis ungu tepat waktu.

Sedetik kemudian, seseorang berteriak.

“Gyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!”

Seorang manusia hewan dipotong-potong.

Cakarnya yang bergerak terlampau cepat hingga meninggalkan lengkungan ungu tua telah membunuhnya.

Sekali sabet saja.

Pembantaiannya terus berlanjut.

Binatang buasnya melumat sepasang kurcaci dengan ekor panjang macam cambuknya. Mereka pingsan, muntah darah. Lalu tangannya menghantam seorang elf wanita hingga menabrak tanah. Tubuhnya masih digenggam monster, dia menjadi mangsa cakar bak taringnya. Lengan dan kakinya dipisahkan dari tubuhnya, kini tak lebih dari segumpal daging hancur.

Dia melahap manusia dari kepala hingga ujung kakinya.

Dalam rentang waktu sangat singkat sampai-sampai pikiran Bell tidak dapat menyusul, rantai lima kematian telah terjadi.

“Rrrrraaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhh!”

Setengah sinting karena ketakutan dan amarah, tiga petualang di garda depan bergegas maju, mengayunkan pedang besar mereka, gada, dan kapak tempur.

Sekejap sebelum senjata mereka mendarat di target, kaki bengkok monster itu berjongkok gesit, menghancurkan lantai kristal di bawahnya, dan melompat ke samping. Ketiga senjata menemui udara belaka. Juggernaut mendarat di samping gugus besar kristal, mengirim semburan puing.

Dia menerjang maju lagi, kemudian tubuh bagian atas ketiga petualang terbang ke udara.

Wujud ungu-biru tak berhenti.

Muncul berpindah-pindah dari gugus-gugus kristal, dia memulai tarian kematian gilanya.

“Aaaaaah!!”

Setiap kali dia lewat, darah segar muncrat dari para petualang dan baju zirah robek terbang ke langit-langit. Sebagaimana laba-laba menenun jaringnya, monster itu mengepung Bors dan party-nya dengan kilatan ungu berpotongan. Terjebak dalam jaringnya, mangsanya muntah darah, kehilangan anggota tubuh, jatuh ke tanah satu per satu.

Bencana yang diramalkan Cassandra dalam mimpinya menjadi nyata.

Yang memungkinkan monster itu melancarkan pembantaian yang bahkan bos lantai tidak bisa lakukan adalah kemampuan bergerak super cepatnya. Normalnya, monster kategori besar tidak mampu bergerak secepat ini.

Menggunakan kekuatan edan kakinya, kecepatannya bak misil bergerak dari sudut sebuah ruangan seluas lima puluh meter ke sudut ruangan lain, secara efisien menghabisi virusnya—itu dia, para petualang. Dia memantul-mantul dari lantai, langit-langit, dan dinding dengan serangkaian lompatan berkelanjutan, dengan cepat dan kejamnya membantai kelompok besar petualang yang telah berkumpul dalam ruang kematian itu. Mereka bahkan tak sempat memahami kejadiannya.

Selagi menyaksikan mimpi buruknya hidup sekali lagi, suara Lyu tercekat.

Bahkan Jura yang merupakan pencetus horornya, mendapati kaki di bawahnya gemetaran.

Bell menatap tak percaya.

Para petualang pingsan.

Petarung-petarung pemberani tercabik-cabik bersama perisai mereka.

Para pengecut ditusuk dalam pelariannya.

Rapalan gentar para penyihir berubah menjadi misa sebagaimana mereka dibunuh.

Amukannya bahkan bukan pertempuran.

Pemandangan begitu banyak kematian dalam periode waktu singkat menantang batas emosi. Selagi Bell menyaksikan pembantaian tanpa ampun tersebut terjadi, dia tak merasa ngeri maupun putus asa; malahan, seolah-olah dia dilepaskan dari semua perasaan.

“—!!”

Tiba-tiba, dia meledak.

Dengan mata terbuka lebar serta teriakan tanpa kata di bibirnya, dia melompat ke tengah-tengah pembantaian.

“Tuan Cranell?!”

Barangkali untung Bell tidak pergi ke labirin dan melihat kematian para petualang. Bagiamanapun, kematian di dalam ruangan sudah cukup menghilangkan ketenangannya.

Mengabaikan teriakan Lyu, dia berakselerasi.

“Uaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhh!!”

Cakar dan taring buas menyerang para petualang yang tak lama merupakan party Bell—sepasang saudara manusia hewan, Amazon kuat, dan Bors pengguna kapak.

Menurutmu aku akan membiarkanmu begitu saja?!

Menyalurkan emosi mengamuknya ke raungan, Bell memungut pedang besar yang dijatuhkan pemilik aslinya dan menyerbu menuju laju ungu membayang.

“!!”

Pedangnya bergema dengan suara dentang klang.

Fragmen biru keunguan berserakan di tanah.

Cahaya dalam rongga mata Juggernaut terfokus pada si anak laki-laki. Dia mengalami serangan langsung dari samping, mendesaknya membatalkan serangan. Mata merah muda merah Bell telah sempurna melacak pergerakan tubuh besar Juggernaut dan merespon dengan akselerasi serangan pedang setara, dan diblokir salah satu lengan panjang-kurusnya.

“Kaki Kelinci?!”

Bersimbah darah dan terisak-isak, Bors bersama ketiga rekannya berteriak gembira saat Juggernaut berhenti. Pertama kalinya, semburan kekerasan tak terhentikan terhenti sementara.

Pandangan Bell dan cahaya rongga mata monster saling bertatapan.

Sela waktu beberapa detik singkat itu, dia merasakan keterampilan musuh yang kekuatannya tak terperkirakan, kemudian Bell bergidik.

Bagi Juggernaut, dia mengakui makhluk di depannya sebagai ancaman, alhasil otomatis mengubah prioritas terpentingnya ke Bell.

Masing-masing hanya melihat satu sama lain.

  Pertarungan sampai mati antara petualang melawan monster dimulai.

“Aaaaaa!!”

“!!”

Bocah itu mengayunkan pedang besarnya, dan si monster menyapu lengan bawah kirinya.

Desing logam menerbangkan fragmen cangkang lapis baja musuh. Bell terhuyung-huyung karena kekuatan brutal Juggernaut, meskipun dia meneteskan keringat ketika memikirkan kekuatan besarnya, dia telah menemukan titik serangan.

Pertahanannya lemah!

Cangkang lawannya sudah retak sekali serang, dan celah tipis merekah di lengan tipisnya. Pertarungan singkat sudah cukup membuat Bell mengerti. Hingga kekuatan monster dan kecepatannya telah berkembang jauh dari batasan biasa, ketahanannya di hadapan serangan telah menurun.

Siapa yang menyerang lebih dulu akan menang!

Setelah mencapai kesimpulan sederhana ini perihal syarat kemenangan, Bell bahkan lebih energik bergerak memacu tubuhnya.

“Hiyaah!”

Memanfaatkan energi dari kaki yang dia tanam di tanah, Bell seketika memutar tubuh bagian atasnya melancarkan serangan berputar keras dengan pedang besarnya.

Lengkungan syal hitam di lehernya mencerminkan bilah perak.

“…”

Tanggapannya, sendi terbalik Juggernaut berderak, dan dia menerjang maju.

“Hah?!”

Serangan yang Bell kerahkan sekuat tenaga tidak kena begitu musuhnya menghilang dari pandangan. Bell mendongak lalu mendapati monsternya mendarat di atasnya.

Juggernaut bergantung terbalik dari langit-langit.

Mana bisa!

Beneran sekali loncat bisa sampai dua puluh meter?

Ga, ga mungkin.

Mana mungkin sesuatu seperti ini ada.

Di satu sisi, dia monster tidak waras kategori besar yang cukup kuat membunuh petualang kelas atas sekali serang, namun di sisi lain, kecepatan dan ketangkasannya tak tertandingi sampai bisa mudah menghindari serangan musuhnya.

Segala hal yang Bell kira ketahui soal si monster telah dikacaukan. Namun demikian, pengetahuan dan pengalaman yang dia dapatkan sejauh ini memberikan persamaan.

Makhluk ini kek bos lantai yang bergerak lebih cepat dari seekor iguaçu!

Kau bercanda. Ini apaan? Aku tidak bisa menang. Tidak mungkin. Aku harus keluar dari sini.

Bell membuang pikiran yang menggelegar dalam kepalanya, menolak baik logika maupun naluri yang memberitahunya.

Lagian tidak ada kemungkinan aku bisa kabur.

Dia menekan rasa takut dan keresahan yang melonjak dalam dirinya dengan tekad bertarung kuat, menggertakkan gigi dengan kebulatan hati besinya.

“!”

Sang Juggernaut menghembus napas panas, menyorot bola-bola mata bersinarnya pada Bell, lanjut meluncur dari langit-langit dengan hentakan kuat.

“Woah!”

Bell hampir tak sempat mengelak anak panah kehancuran besar yang datang cepat menujunya.

Gelombang kejut menyusul cepat dan ganas. Para petualang yang berdiri terpaku di tempat dihempas mundur sewaktu tanah meledak terbuka membentuk kawah. Fragmen-fragmen kristal membombardir Bell bagaikan tembakan menyebar.

Pedang besar—yang terlambat sebentar dia hunuskan—setengah hancur.

“Apa-apaan …?!”

Bell tergelincir di tanah, melempar pedang besarnya, dan mengulurkan tangan kiri.

Secepat apa pun musuhnya, Bell menyangka dia bukan tandingan kecepatan api elektriknya apalagi setelah naik level.

Dia menggunakan Swfit-Strike Magic untuk menerobos pertahanan rentan musuh.

“Itu tidak berguna!!”

Teriakan keras maksimal Lyu datang ketika Bell membuka mulutnya.

Firebolt!”

Api listrik menyembur dari tinjunya.

Akan tetapi sepintas sebelum petir merah meledak ke targetnya, cangkang biru keunguan yang menyelimuti Juggernaut bisu tersebut berdenyut cahaya.

Sekejap mata, api elektrik meledak ke tubuh Bell sendiri.

“Aduhhh—!”

Dia tersandung ke belakang, tak memahami apa yang terjadi.

Asap mengepul dari pelindung dadanya.

Kekuatan dan panas sungguhan kuat hingga menahan napasnya menginformasikan bahwa sihirnya sendiri telah mengenai dadanya. Percikan api menari tak berguna di hadapannya.

Memantul—?

Ketika api yang tidak pernah dia duga-duga membakar tubuhnya, dia menatap makhluk yang berdiri di kejauhan.

Bahkan sekarang, cangkang lapis baja binatang buas tersebut masih bersinar.

Keluar cahaya dari titik perut yang Bell anggap letak api elektriknya kontak, namun tidak terdapat sejejak luka samar apa pun.

  “…”

Ketidakpahaman tanpa arti dalam pikiran Bell berlangsung sekilas belaka, namun Juggernaut memanfaatkan momen itu.

Kakinya menghancurkan tanah, dia meluncur maju secepat-cepatnya.

“Woaaaahhhh!!”

Seketika si monster menukik dengan tangan kanan terangkat di atas kepalanya, Bell berganti ke mode defensif satu detik terlambat.

Cakar panjang berkilauan menyapu udara.

Tangan kanan Bell mencabut Pisau Hestia dari gagangnya.

Lengkungan ungu pisau tersebut mencerminkan cakar monster itu selagi Bell mencoba menahan serangannya.

“Tidak—”

Sewaktu dia bersentuhan, Bell mendengar bisikan seseorang di belakangnya.

Bisikan putus asa seorang elf, seperti burung yang kehilangan sayapnya.

Kemudian datang serangan sungguh kuat sampai seluruh dunia gemetar di depan mata Bell.

Di momen berikutnya, dia merasa bahu kanannya ringan.

“—?”

Sesuatu berputar di udara.

Seintens burung kicau, menyemburkan bintik-bintik cairan yang kelihatan menyerupai darah.

Bersarung.

Mencengkeram pisau hitam.

Itu tangan kanan Bell.

“Aa—”

Dia kehilangan satu tangannya.

Tangan kanan, dipotong dari sikunya.

Perlu waktu sedetik hingga kenyataan memukulnya.

Waktu setelahnya, sisa lengannya berkorbar layaknya terbakar.

“Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!”

Teriakan mengoyak dari tenggorokannya.

Seakan-akan memulai ulang aliran waktu yang membeku sementara, air mancur darah muncrat dari daging di siku kanannya yang telanjang.

Rasa sakitnya sangat intens sampai-sampai mengira ujung sarafnya mau terbakar. Matanya memerah darah sampai dalam-dalamnya.

Lengannya berputar di udara sebelum mendarat—masih menggenggam pisaunya—di jalur air.

“Tuan Cranell!”

Dia dapat mendengar Lyu meneriakkan namanya.

Tetapi bukan teriakan sedih—melainkan peringatan.

Bayangan besar yang menutupi Bell berkedip-kedip.

Dia mendongak kaget dan mendapati siluet monster dengan cakar di tangan kirinya terangkat bak guillotine di atas kepalanya.

Ketakutan yang membanjiri tubuhnya ketika melihat cakar-cakar tersebut yang telah mengorek lengannya, pelindung dan segalanya, cukup membuatnya menangis.

Meski begitu, dia mengangkat lengan kiri terbalut sarung tangannya untuk menahan serangan tersebut.

Adamantite gandanya menyala.

Sesudahnya, sarung tangan mengontak cakar, dan dihancurkan.

“…”

Lapis baja itu semestinya tidak tertandingi.

Kurang lebih, itulah yang diyakini Bell. Tentu saja itu lapis baja terkuat yang Welf tempa untuknya. Namun kini pelindung dir-adamantite yang bahkan menahan hantaman black minotaur telah dihancurkan.

Tidak mampu menahan serangannya.

Bell mengharapkan cakarnya menggores logam, tetapi ketika terjadi kontak, kekuatan pukulannya menghancurkan baju zirah.

Sekuat itulah cakar penghancur Juggernaut.

Cakarnya terulur buruk dari ujung keenam jari yang mensinyalkan seekor monster. Jari-jarinya sendiri sekurus tulang, tetapi ujungnya keras, tajam, dan melengkung. Berkilauan seperti Pisau Ilahi Bell.

Hanya Lyu dan Jura yang mengetahui kebenarannya: bahwa seseorang tidak boleh terkena cakar-cakar tersebut. Dia entah bagaimana harus bertarung tanpa membiarkannya mencakar dagingnya. Mereka seorang, yang dilumpuhkan kembalinya mimpi buruk terburuk mereka, tahu pertahanan melawan cakar-cakar kehancuran itu sepenuhnya mustahil.

Berbentuk lebih mirip taring alih-alih cakar, hadiah dari Dungeon, lebih kuat dari baju zirah manapun dan ujungnya diasah lebih tajam ketimbang senjata manapun.

“…”

Monster itu maju tanpa ampun menuju Bell yang menatap bingung punggung tangan kirinya.

Cakarnya naik, kemudian diturunkan.

Cukup untuk membelah baju zirahnya.

Entah bagaimana berhasil menghindari serangan langsung, tubuh bertangan satunya merosot. Seluruh harapan terkuras dari hatinya selagi melihat pecahan-pecahan keperakan berputar di depan matanya.

Pelindung bajunya, pelindung pinggulnya, serta pelindung dadanya dipecah-pecah dan terlempar darinya. Bahkan sarung kaki di kaki kirinya hancur, menyemburkan darah ke udara.

Entah rasa sakit sangat atau ketakutan, Bell menyadari sesuatu dari cairan darah dan air mata.

Alasan pertahanan monsternya begitu rendah adalah karena dia tak memerlukannya.

Dia punya kekuatan magnifisen, cakar penghancur segala, serta kemampuan membunuh hebat tak tertandingi. Kenapa dia perlu mempertahankan diri terhadap mangsa yang dapat dibantainya dalam waktu satu detik? Seluruh tujuan spesialisasi serangan ofensifnya adalah tuk menghancurkan musuhnya.

Monster di hadapannya merupakan inkarnasi malapetaka.

Utusan pembunuh yang dilepaskan Dungeon.

Sebagaimana boneka yang talinya dipotong, Bell menampilkan tarian kikuk. Bayangan hitam telah merusak hatinya, meskipun berhasil bertahan hidup selama ini. Dia sebetulnya bisa mendengar jantungnya hancur.

Suara keputusasaan yang jauh lebih dalam dan membinasakan dari yang pernah dirasakannya tatkala menghadapi minotaur berlengan satu.

Tanpa ampun, Juggernaut menyapu ekornya—senjata kematian penghancur segalanya—menuju mangsa yang posisi bertarungnya hancur.

Ekornya mendarat di leher Bell.

“…”

Datang suara retakan dari tempat yang semestinya tak pernah membunyikan suara itu.

—kematian.

Bell mendengar suara hidupnya sendiri berakhir.

Kesadarannya menghilang.

Ж

Dilempar ke udara oleh ekor si monster, tubuh bocah itu terbang ke depan bagaikan anak panah.

Darah mengalir dari sendi lengan putusnya, dia berguling-guling di lantai dan akhirnya berhenti di pesisir sungai.

Dia terkulai tidak bergerak sama sekali.

“… Tuan … Cranell!”

Berdiri diam, Lyu nyaris tak dapat membisikkan kedua kata-kata itu.

Waktu terhenti.

Dunia mendatar—kejadian di hadapannya, kebohongan. Bahkan air serasa berhenti mengalir. Teriakan para petualang lain dan suara detak jantungnya sendiri mensunyi.

Hanya sosok mengerikan seorang anak laki-laki yang terkulai menghadap atas dalam pendaratan sempurnanya.

“—Bell?!”

Teriakan Lyu bak sutra yang dirobek. Merobek rantai-rantai trauma yang menahannya, dia separuh melompat, separuh berlari menujunya.

“…?!”

Dia berlutut di sampingnya, tercengang.

Lengannya bukan hanya terputus, seluruh tubuh tanpa baju zirahnya serba luka dalam dan memar, menandakan patah tulang. Darah bercucuran dari mulutnya. Tidak ada tanda-tanda kesadaran pada sepasang mata di balik poninya. Namun, ajaibnya kepalanya masih nempel di tubuhnya walau diserang keras ekor monster.

Kata kematian melintas di benak Lyu.

Merinding dan memucat, satu jarinya digerakkan ke leher Bell.

“…! Dia masih hidup …?!”

Kaget, dia membungkuk mendekat. Dia hampir tak mendengar suara napas paling pelannya.

Syal Goliath yang menyerap serangan keras ke lehernya tidak tergores sedikit pun. Bahan buatan dinding besi raksasa itu menghentikan serangan mematikan dan menyelamatkan hidup pemakainya.

Meskipun menangkis serangan langsung, akan tetapi tidak mampu mengurangi dampaknya. Hal itu saja sudah menimbulkan dampak besar sampai-sampai Bell sendiri merasa sekarat. Kemungkinan besarnya, beberapa tulang belakang lehernya retak-retak.

Aku harus menghentikan pendarahan di lengan itu! Tidak, sebaiknya aku mengurus lehernya dulu!

Berkeringat, Lyu mulai merapal mantra.

Kini aku menyanyikan hutan nan jauh. Melodi kehidupan familier!

Dia telah menggunakan seluruh ramuannya selama pertempuran melawan Knossos dan pengejaran geng Jura. Mantranya terasa lama dirapalkan, tetapi itulah satu-satunya sihir penyembuhan yang dimilikinya.

Noa Heal!”

Cahaya lembut bagaikan sinar matahari belang-belang di hutan menyelubungi punggung leher Bell. Sihir serba guna yang kekuatannya menyembuhkan permukaan luka, sekaligus luka tipe lain, dan mengembalikan kekuatannya. Akan tetapi, tak langsung bekerja bak ramuan; lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pemulihan penuh merupakan kelemahan utamanya.

Selagi menunggunya bekerja, gigi dan tangan Lyu merobek secarik jubahnya lalu diikat ke sekitar lengan kanan Bell untuk menghentikan pendarahan. Mengutuk kegagalannya sendiri pada momen-momen krusial, dia merawat si bocah seolah-olah membayar dosanya.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhh!!”

“!”

Setelah mengakhiri Bell, target pertamanya, Juggernaut sekali lagi mengalihkan perhatian ke sisa-sisa petualang. Alasannya berganti ke kelompok Bors alih-alih Lyu atau Jura adalah karena mereka lebih banyak.

Badai pembantaian terjadi lagi.

“T-t-tolong!!”

Hati Lyu gentar mendengar permintaan bantuan.

aku ingin membantu mereka, tapi kalau aku meninggalkan Tuan Cranell sekarang—

Lyu tidak mampu menyelesaikan pikiran sedihnya.

Dalam sela waktu yang terlalu singkat untuk menyebutnya momen keraguan, monster tersebut menyelesaikan pembantaiannya. Selain Bors dan beberapa orang lain yang berlari ke arah berlawanan, semua petualang sekarang tidak lebih dari mayat-mayat mengerikan. Di antaranya adalah sepasang saudara manusia hewan serta Amazon petarung yang Bell coba selamatkan.

Lyu bahkan belum diberi kesempatan untuk memilih.

“Hiyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhh!!”

Begitu cahaya penyembuhannya memudar, Lyu meraung dan menyerbu monster yang berpaling darinya. Layaknya hewan gila, dia menyerbu maju dan menancapkan pedang kayunya ke punggung berwarna ungu-birunya.

“…”

Respon Juggernaut santai.

Melepas energi yang terkumpul di lutut membengkoknya, dia melompat menghilang dari pandangan seketika. Terus, menempel ke sisi kristal kolom, mata merah tua menyorotnya seakan-akan berkata, Kau selanjutnya?

Detik berikutnya, dia menerjang Lyu.

Wanita elf itu menghindari cakar mirip pisau cukur dengan berjongkok ke tanah.

Meski ujung jubah panjangnya dirobek, dia singkirkan paniknya dan terbang bagaikan binatang menuju monster yang baru saja mendarat kembali ke tanah.

Serangan Lyu diblokir ekor Juggernaut, namun sang elf terus mengincar dadanya tanpa henti, mendekati tubuh yang membuat fisiknya muak.

Menyelinap ke titik yang tak terjangkau lengan panjang si monster, elf itu lagi-lagi menusuknya menggunakan pedangnya.

 “!”

“—!”

Namun monster luar biasa gesit tersebut lompat zig-zag mundur, kemudian balas menyerangnya dan Lyu mendapati dirinya bertahan.

Inilah alasan dia berusaha keras menghindari Bell dulu. Jikalau Juggernaut sekali lagi dilahirkan, dia tak mau Bell menjadi target Juggernaut.

Strategi pasif yang sama sekali bukan dari Lyu normal. Sedalam itulah teror yang tertambat dalam lubuk dirinya.

Sedalam itulah dia disiksa malapetaka yang mencuri segala hal miliknya lima tahun lalu.

“Aaaaaaah, aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!”

Pemandangan kelabu muncul lagi di depan matanya.

Rekan-rekannya berjatuhan. Senjata mereka dihancurkan, teman-temannya dicincang. Mereka berteriak ketika monster itu mengunyah mereka.

Cakar ganas tersebut telah merobek tubuh rekan-rekannya.

Kejadian-kejadian itu hangus ke otaknya, membangkitkan teror dan menghancurkan kehendak bertarungnya.

Maka dia berteriak.

Dia berteriak untuk menipu ketakutannya, melenyapkan masa lalunya, dan memacu reaksi tubuhnya.

Tatkala teriakan ini, curah emosi mengamuk ini, mati, Lyu takkan sanggup bertarung lagi. Hatinya akan runtuh di depan makhluk besar ini, dan dia akan memeluk dirinya sendiri dan menangis seperti anak kecil.

Karena dia tahu itu, dia mengayun pedang kayunya dan meneriakkan teriakan perangnya.

“—ha!”

Juggernaut menanggapi dengan napas pendek nyaris mirip desahan dan cakar di satu tangannya menyikat.

Cukup menerbangkan pedang kayu Lyu.

“…”

Alvs Lumina, senjata kelas duanya yang terbuat dari cabang pohon suci, hancur berkeping-keping. Sebagaimana baju zirah Bell.

Dia mengucapkan selamat tinggal.

Kekuatan tanpa ampun yang menghancurkan senjatanya berdampak mematahkan jari-jari yang menggenggam gagang pedang. Lyu diterbangkan ke udara dan jatuh menabrak lantai kristal, wajah menghadap atas.

Sehembus napasnya dipaksa keluar dari paru-parunya.

Aaarrghh! Sekarang! Sekarang kesempatan kalian! Hajar bajingan itu!!!”

Jauh darinya, Bors menyeru perang.

Sisa petualang tahu kabur tidak ada harapan. Waktu yang Lyu ulur, mereka gunakan untuk memulai rapalan—dengan kata lain, melepaskan Concurrent Bombardment. Bors pun ikut andil, menggunakan pedang sihirnya kendati kengerian menghancurkan semangatnya.

“Jangan, hentikan!!”

Kata-kata Lyu tak mencapainya. Dia bahkan hampir tidak mampu bernapas.

Begitu teriakan sia-sianya sirna, cangkang ungu-biru yang menyelimuti sosok besar Juggernaut bersinar.

Persis putaran ulang kejadian sewaktu Bell mencoba menggunakan Firebolt ke monster itu, serangan sihirnya memantul kembali ke sumber.

Namun kali ini, bukan satu Firebolt melainkan Concurrent Bombardment yang jauh lebih kuat.

 “…”

Menghantam langsung mereka.

Cangkang pelindung Juggernaut mempunyai kekuatan pemantul sihir. Satu-satunya perisai di monster ini yang ditukar demi kekuatan pembantai. Sekalipun seorang petualang hendak melepaskan sihir perpindahan, yang sejatinya metode yang terbukti gagal mengenai target, maka takkan mengontak Juggernaut.

Para petualang dengan demikian terputus dari sihir yang mereka perhitungkan sebagai jaring pengaman pramungkas mereka. Siapa pun akan patah semangat dihadapkan situasi putus asa ini, sebagaimana Astrea Familia perbuat lima tahun lalu.

Untungnya, Bors berada di belakang party dan menghindari serangan langsung. Dia menatap linglung rekan-rekannya yang terbakar hangus. Penutup matanya telah robek dan rongga mata kiri kopongnya terekspos, tetapi dia tidak sempat mencemaskannya. Monster itu menekannya, rongga matanya bersinar.

“Hentikaaaaaaaaaaaaaaaaaaannnnnnnnn!!” Bors terisak.

Kedua tangan terulur ke depannya, bahkan tidak mampu berdiri, dia kencing di celana.

Bahkan bagi petualang kelas dua seperti Bors, monster ini kelewat sulit dihadapi.

Cakar mengayun ke bawah menuju dirinya.

“—aaahh.”

Menggambar lengkungan jelas, bergerak lurus ke bawah dari atas kepalanya.

Dia bahkan tak sempat memikirkan nyawanya. Tapi otaknya mendengar suara tubuhnya sendiri dibelah dua. Dia mendengar dagingnya dirobek, tulangnya ditumbuk.

Berakhir sekejap. Bors mati.

“Berdiri!”

“—!!”

Kabut halusinasi menghilang. Ketika Bors pulih dari penglihatan yang dihasilkan otaknya, dia hidup, dengan seorang elf bertarung menggantikannya. Di hadapan cakar penghancur segala yang mencapainiya, elf itu sendirian mencegat serangannya, mengincar lengan monster tersebut. Sekarang dia bertarung mati-matian menggunakan dua belati.

Di momen-momen itu, seorang elf melindungi Bors.

“Pergilah, cepat!”

“K-kau …”

Kata Bors dihentikan sambil menatap sosok petualang perempuan yang jubah dan topengnya jatuh.

Elf pemberani tepat sama yang dilihatnya sebelumnya di lantai delapan belas. Elf persis sama yang sendirian melawan raksasa besar menakutkan.

Seketika itu, monster dengan kecepatan ganas mengangkat cakarnya.

Lyu membungkuk ke belakang, hampir tak sanggup menghindari serangan langsung, tetapi cakarnya menyerempet, merobek bahunya sampai terbuka.

Geyser darah menyembur dari tubuh kurus elf.

Sewaktu cairan hangat menyembur wajah Bors, Lyu mengatupkan giginya dan menahan hasrat tubuhnya yang hendak roboh.

“Cepaaaaaaaattttttt!!”

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!!”

Bors kabur, kakinya berderap berisik di tanah.

Berkali-kali tersandung sendiri, dia sama sekali tidak membuat kemajuan. Untuk melindunginya, Lyu—wajahnya ditutupi riasan darah—menanggung beban serangan penuh Juggernaut-nya sendirian.

“!!”

“Uuh!”

Ekor panjangnya menabrak kakinya.

Biarpun ancamannya kurang dibanding cakar, pelengkap keras dipenuhi cangkang hitam dan biru keungunan tak ada bedanya dengan sebuah gada.

Kaki kanan Lyu, dimasukkan sepatu bot panjangnya, tumbang oleh serangannya. Tulang keringnya membunyikan suara serak mendadak selagi terhempas ke udara.

“Ah—!”

Satu tangan Lyu mencengkeram pelan kaki patahnya sembari berteriak menderita tanpa kata.

Dia merasa ingin pingsan sebab sakit luar biasanya. Tapi dia tahu tidak boleh pingsan.

Dug! Suara mengerikan tubuh besar si monster maju menujunya terdengar di ruangan.

 ‘Tidak …!”

Saat pecahan kristal menembus pipi kirinya, dia mengangkat wajah gemetarnya.

Selain tubuh menggeliatnya, tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan lain di ruangan luas. Bahkan Jura pergi. Dia melarikan dirikah? Dia tak paham lagi apa yang terjadi.

Kehancurannya berlanjut.

Keputusasaan membebaninya dalam bentuk Juggernaut.

Dia serba luka dari atas sampai bawah. Seketika mendarat di depannya, dia sadar tidak mungkin bertahan melawannya.

Aku tidak dapat menghentikan rencana jahat Jura, dan di sinilah aku, kegagalan memalukanku ketahuan …

Dia merasa terhina. Dia ingin berteriak dan menangis. Dia ingin menaruh kutukan mematikan pada dirinya sendiri karena sekali lagi berbuat kesalahan yang mengakibatkan malapetaka itu.

Dia masih belum menjelaskan apa pun kepada Syr dan rekan-rekan kerjanya. Dia belum membalas apa-apa kepada mereka yang memberikannya rumah. Dia mesti bertahan hidup, jika untuk menjelaskan hal tentang dirinya kepada mereka.

… oh, tapi …

Seandainya aku mati di sini, aku bisa bersama Alize dan yang lain …

Akhirnya, dia bisa bersama rekan-rekannya sekali lagi.

Akhirnya, dia bisa meminta maaf kepada mereka.

Akhirnya, dia dapat membiarkan mereka menghukumnya.

Akhirnya, dosa membunuh mereka akan …

Akhirnya, dia akan terbebas dari penyesalan yang disembunyikannya di tempat hatinya yang paling dalam.

Bagi Lyu, itu adalah suaka.

Semacam upacara untuk mengubur diri yang aibnya telah terungkap.

Bibirnya tersenyum pasrah.

Air mata jatuh dari satu mata biru langitnya.

Skala hatinya berganti dari terikat pada kehidupan menjadi damainya kematian.

“Hah?”

Barulah, sesuatu menarik perhatian Lyu.

Ж

Terdengar jeritan—lagu-lagu kematian para petualang.

Teriakan bergema—kehendak seorang elf yang bertarung dan menderita namun menolak menyerah terhadap rasa takut.

Jari Bell bergerak-gerak merespon suara medan perang.

Getaran yang sedikit lebih kuat dari getaran lain mengukir retakan pada kristal di tanah, menghancurkannya, dan mengirim tubuh Bell meluncur dari pesisir menuju air.

Di bawah permukaan, suara terendam. Kabut merah tua menyebar dari lengan terputusnya. Dia tenggelam dalam dalamnya jalur air dingin.

Suara penuh air mata menggapai dirinya yang perlahan makin tenggelam.

Rambut biru zamrudnya melambai-lambai, mermaid itu mengulur tangannya ke bocah terluka menyedihkan. Dia memeluk lengan kanannya, masih menggenggam pisau, ke dadanya. Mermaid itu menggigit pergelangan tangannya sendiri.

Sembari menekan lengan ke permukaan lengannya yang putus, bagian itu menyerap darahnya.

Gelembung-gelembung penyembuhan melayang di sekitar tubuh Bell yang mendapatkan kembali anggota tubuh hilangnya.

“Bell … Bell.”

Air mata mermaid itu tak berhenti-berhenti.

Tangan menempel di pipi anak laki-laki yang matanya tetap tertutup, dia mengambil pisaunya dan menyayat dirinya berkali-kali lagi. Dia memeluk erat tubuh yang tenggelam itu.

Darahnya mengalir ke luka-luka Bell, melebur ke tubuhnya. Dikepung gumpalan darah merah tua hasil campuran darah mereka, tubuh babak belur Bell mulai pulih.

“Hiduplah,” gadis monster berbisik berulang-ulang.

“Buka matamu,” gumamnya ke telinganya.

Dia merespon.

“Oh!!”

Tangannya mengepal, mata membuka, dan muntah gelembung tak terhitung jumlahnya.

Pisau hitam berkilau hidup baru.

Dia menatap mata mermaid yang berlinang air mata, dekat sekali padanya hingga dahi mereka saling bersentuhan.

Terima kasih.

Maaf.

Aku harus pergi.

Bocah yang mengucapkan kalimat itu, bocah yang Mari cintai, bukanlah pangeran di atas kapal karam.

Dia seorang petualang.

Demi rekannya yang masih bertarung, dia harus membangkitkan hatinya yang dipenuhi keputusasaan. Dia mesti menerangkan api pemulihan.

Air mata menetes di pipinya, Mari mengulurkan tangan untuk menghentikannya namun ditarik kembali.

Bocah itu keras kepala. Dia seorang petualang. Mari akan melakukan hal serupa untuk menyelamatkan sanak keluarganya yang dia cintai. Jadi alih-alih menahannya, dia memeluknya sekali lagi. Lalu, dengan diam, melepasnya.

Lepas dari lengan mermaid, Bell menghentak dan berenang naik.

“Berjanjilah padaku—”

Mari menangis sambil melihat sosok itu bergerak lebih jauh darinya. Mengulur tangan kepadanya, dia kirimkan harapannya ke dunia air.

“—berjanjilah kau takkan kalah.”

Bell mengulur tinjunya dan menerobos permukaan air tempat cahaya disaring.

Ж

Lyu melihat semuanya.

Melihat tetes air terbang, wujudnya meledak kuat menembus permukaan air, dan kaki melangkah kuat di tanah kristal.

Dia melihat anak laki-laki itu berdiri di darat.

Dia melihat cahaya tekad di mata merah muda merahnya.

“Makasih, Mari.”

Darah kehidupan mermaid. Drop item misterius yang katanya mampu menyembuhkan luka. Dan sungguh, Bell pulih sepenuhnya. Kabut naik dari luka yang bermandikan darah pengorbanan diri Mari.

Bagi mata Lyu, pemandangannya nampak bagaikan suara serangan balik.

Tangan kanannya pulih, Bell menguatkan tekad dan mempererat cengkeraman pisau hitamnya.

“…”

Di belakang Juggernaut yang berdiri diam, di depan Lyu yang kelihatan terheran-heran, dan di samping Mari yang mengintip dari air, Bell murka.

“!!”

Dia berlari mendatangi Juggernaut, tubuhnya—beberapa waktu lalu di ambang kematian—sekarang berubah menjadi peluru melaju cepat.

“!!”

Monster itu berputar cepat selagi dilihat Lyu. Ia berhasrat pada pembalas dendam ini yang telah ia hancurkan sampai tak pulih lagi kini kembali hidup, bukan lagi mangsa biasa melainkan musuh utamanya, layak dimusnahkan sepenuhnya.

Selagi anak laki-laki itu menyerbu dengan kecepatan menakutkan, sang monster mengayun kuat cakarnya, ibarat bilang: Kali ini, kau harus dihancurkan.

“—!!”

Dihadapkan serangan mematikan mengancam secepat kilat, bukannya kabur Bell memilih maju langsung.

Dia menyabet syal dari lehernya, kemudian dibungkus ke tangan kiri, lalu menerjang maju.

“?!”

Bola-bola mata bersinar Juggernaut berkedip heran.

Syal hitam yang dililit Bell ke tangannya menggantikan sarung tangan hancur memercik-mercik api ketika cakar monster menyerempetnya di atas.

Senjata penghancur yang diberikan Dungeon kepada sang monster dibelokkan baju zirah pertahanan pramungkas yang dilahirkan dari Dungeon yang sama.

Seakan-akan membayar kembali monster dengan hal yang serupa dengannya, Bell memanfaatkan momen ragu sesaat untuk menyerang.

Dengan mendadak dan kecepatan yang tak menyempatkan waktu menghindar, Pisau Hestia berkilat-kilat terbalik menuju dada monster.

“?!”

Selanjutnya giliran Bell yang heran.

Dia telah merobek dada musuhnya. Tetapi responnya tak menunjukkan intinya telah dihancurkan.

Yang berarti, tidak punya batu sihir?!

Merinding terhadap kehadiran mengancam satu sama lain, si bocah dan monster menyelinap melewati satu sama lain.

Seketika, mereka berdua berbalik. Saling bertatapan. Setiap serangan mereka tidak mengenai apa-apa.

Barulah kala ini pertarungan hidup-mati dimulai.

“—!!”

“Yah!”

Tatkala Juggernaut meraung mematikan, Bell berteriak semangat dan menyerbu langsung monsternya, Syal Goliath dan Pisau Hestia disiagakan.

Monster itu pun melompat-lompat cepat dipompa energi yang tersimpan dalam sendi lutut terbaliknya.

Sebelum berkedip pun aku bakal kebantai kalau membiarkannya menggunakan kaki itu.

Bell malah memilih adu banteng2.

Mencurahkan setiap tetes kekuatannya ke serangan pembuka dengan harapan mengungguli lawannya, Bell mengubah tubuhnya menjadi panah cahaya putih.

“—?!”

 Juggernaut menyerang maju biarpun serangan musuh mengiris permukaan leher dan bahunya.

Darah, daging, dan kulit beterbangan.

Selagi Lyu melihatnya, tercengang, dan kedua tangan Mari menutup mulutnya, Bell melancarkan serangan spesial yang ditenagai lonjakan darahnya.

“Aaaaaaaaaaaaa!!”

Pisau hitam diarahkan ke sendi lutut kanan sang monster.

Kecepatannya bukan manusia, bilahnya menebas target.

“?!”

Kaki kanan Juggernaut menurun sedikit dengan dentuman keras.

Sekalipun kuda-kuda dan kemampuan bertarungnya tidak terdampak sedikit pun, tetapi dia tidak mampu lagi terbang secepat kilat bagaikan badai. Satu serangan Bell mendarat sempurna pada sumber lompatan-lompatan kuat tersebut: sendi lutut terbalik monster.

Ia menatap tajam Bell yang menderita luka serius pada pertarungan mereka. Walaupun bagian kiri tubuhnya berlumuran darah, mata petualang tersebut menyampaikan pesan jelas: Kita baru mulai.

“Ayo bertarung!”

Bell mengangkat pisaunya, mata merah muda merahnya berkedip.

“—ooo!!”

Mata merah monster membara.

Pertama kalinya, dia melolong murka.

Dia menyerbu maju, pusaran fragmen kristal yang meledak dari lantai mengaburkan sosok lawannya.

Sebagaimana antisipasi Bell, pertarungan jarak dekat dimulai.

“Tuan Cranell?!” Lyu berteriak sambil duduk bersandar, kaki di bawahnya patah, dan menyaksikan usaha sembrono Bell.

Lyu tahu kengerian Juggernaut lebih dari semua orang.

Tindakan Bell barangkali adalah satu-satunya pilihannya, namun demikian, bergerak dalam lingkup pembantaian monster itu sama saja sinting.

Waktu demi waktu, Lyu bisa melihat tubuh Bell dihajar dan terluka.

Darah dan bongkahan daging beterbangan sementara kaos dalamnya—yang dilucuti dari baju zirah pelindungnya—dicabik-cabik. Setiap detik berlalu, dia dikikis habis. Mari menonton tanpa kata dengan wajah pucat.

Tapi—

“…?!”

Cakar kehancuran tidak menembus tubuh Bell.

Memanfaatkan syal yang dililit tangan kirinya persis mirip sarung tangan, dia menangkis cakar Juggernaut dengan menggeser permukaan kerasnya.

Lagi dan lagi, monster itu mengayunkan senjata paling mematikannya seolah-olah bilang: Berhenti bermain-main denganku.

Tetapi syalnya tak robek. Jumlah goresannya bertambah, tetapi zirah Goliath—perisai yang Cassandra pinta dan Welf buatkan—tidak robek.

Selama tidak robek, Bell masih bisa terus bertarung.

Selama memiliki perisai yang dibuatkan teman-temannya, dia sanggup menghadapi malapetaka terkuat dan terburuk ini.

Seandainya dia mampu menahan serangan mematikan yang disangka tiada petualang dapat menahannya, maka dia bisa mengekstrak peluang kemenangan sekecil apa pun, maka dari itu dia bisa mengalahkan keputusasaannya sendiri.

Kriiiikk!!
Pisau Hestia menyeru perang sendiri sembari membelokkan arah cakaran. Pancuran percik api menari-nari di udara seraya bilahnya berteriak. Namun, Pisau Hestia tidak gentar. Terus berbentrokan dengan senjata monster.

Juggernaut marah pada kemurkaan destruktifnya. Bell pun bertarung dalam pertarungan mati-matian dilengkapi segenap bilah dan perisai terkuat.

Sesuai dugaanku.

Saat lukanya menyemburkan darah segar, Bell menyipitkan mata ke arah lawannya.

Dia lebih cepat dariku.

Dia tak hanya lebih kuat namun lebih cepat. Dibanding Juggernaut, semua kemampuan Bell lebih rendah. Di masa lalu, setinggi apa pun tingkatan lawannya, Bell senantiasa unggul perihal kecepatan dan ketangkasan. Bahkan kini keunggulan itu tidak lagi ada.

Tetapi dia tidak menyerah dihadapan analisis tanpa harapan ini. Malahan, hatinya menjerit keras.

Kok bisa dia melawan monster ini yang mengungguli semua hal tentangnya? Tentu saja jawabannya jelas.

Menggunakan keterampilan dan taktik yang dia kembangkan selama ini.

Inilah senjata sejati sekaligus perisai yang diberikan untuknya sebagai seorang petualang—tekad ini membara dalam dadanya. Para petualang mengikuti ujian bernama keputusasaan lalu mengubahnya menjadi pencapaian besar.

Kekuatan dan potensinya luar biasa untuk tubuh seukurannya—

Andai aku diminta membandingkan Black Goliath dengan Juggernaut ini, Bell jujur takkan tahu mana yang lebih superior.

Membandingkan mereka tak ada artinya.

Sisi mereka berbeda sepenuhnya.

Goliath berkemampuan menekan pasukan, sementara Juggernaut merupakan pembantai yang unggul memberi dampak mematikan ke petualang tunggal.

Dalam hal menuntaskan pekerjaan dengan satu senjata, cakar penghancur kemungkinan melampaui palu dan raungan Goliath.

Di sisi lain, kemampuan menahan serangan, Juggernaut tak sebanding bos lantai.

Monster ini dapat mengerahkan potensi penuhnya—kekuatan, kecepatan, dan kemampuan tingkat tingginya untuk membunuh—bukan dalam ruangan berukuran lebar melainkan lorong-lorong dan ruangan-ruangan tertutup lain dalam Dungeon. Membuatnya utusan pembunuh ideal, didesain semata-mata untuk menyapu bersih virus-virus yang melukai Dungeon.

Apa lebih cepat dari saingan terbesarku?

Serangannya ganas dan cepat serta konstannya gelombang kejut menggetarkan yang membuat kaki dan tangan Bell mati rasa.

Di ujung pikiran Bell membara, sepenggal logika membandingkan binatang buas yang dihadapinya sekarang dengan black minotaur.

Dalam hal kekuatan destruktif, Juggernaut jauh lebih unggul karena cakarnya.

Tapi kemungkinan Asterios-lah pemenangnya soal kekuatan fisik?

Saat itu, banteng besar sudah mau mati. Kekuatan sejatinya mungkin jauh lebih besar—

Bell memotong pikiran tak relevan yang melintas dalam benaknya. Di pertarungan habis-habisan ini, gangguan mental tak penting apa pun dapat langsung mengarahkan ke kematian. Kesalahan terkecil dari salah satu kombatan ganjarannya adalah kepala mereka.

“—!”

Bahkan ketika badai serangan pisau Bell melukai tubuhnya, Juggernaut itu tidak menunjukkan tanda-tanda melonggarkan serangannya sendiri.

Seluruh tubuhnya menjerit. Anggota badan dan badannya yang kepanasan terasa ingin meledak.

Lengan kirinya bisa jadi meneriakkan raungan kematiannya. Dalam Syal Goliath, tangannya dihancurkan kekuatan serangan cakar bertubi-tubi yang ditangkisnya. Rasa sakitlah satu-satunya perasaan yang dimilikinya. Darah mengaduk-aduk berisik dalam bungkusnya. Terlepas dari itu, Bell tahu begitu berhenti menangkis cakarnya, tamatlah dia.

Bahu dan lehernya serasa terbakar di bagian dagingnya yang dicungkil.

Lukanya yang sudah sembuh robek lagi, darah menyembur.

Tapi, cahaya bersinar di matanya, dan dia bergerak maju.

Jika dia roboh sekarang, dia yakin Juggernaut akan membunuh Lilly dan sisa party-nya. Semua petualang di Ibu Kota Air akan dihabisi.

Dia tidak boleh membiarkannya. Dia mesti bertarung demi mereka sampai mati.

Berarti—

Mati kau!!

Walaupun monster ini dipanggil oleh suatu Kejahatan dan Bell tidak pernah ingin melawannya, dia tak boleh membiarkan makhluk seberbahaya ini.

Akankah Bell membiarkannya membunuh lebih banyak orang? Apa dia akan membiarkan kematian berlanjut?

Bell mengenakan topeng munafik.

Demi orang-orang yang ingin dia lindungi, dia akan membunuh makhluk di depannya.

“!!”

Serangan musuhnya dimulai. Fragmen kristal beterbangan. Bell dipaksa berposisi defensif.

Sabetan cakar, menghindar, menggigit taring, mencegat.

Serangan balik dari Bell diblokir musuh. Terlalu dangkal. Belum. Serangan lain. Potongan cangkang musuh copot. Aku kubur dia dalam serangan.

Bell Cranell masih bisa bertarung. Ya! Lanjutkan! Demi dirinya!

Dari awal kenapa aku datang ke lantai ini?

Pada momen-momen yang melamban hingga seolah terasa selamanya, Bell makin cepat diganti nyawanya yang berkurang.

Lebih cepat, lebih cepat, lebih cepat!

Dia berkehendak mengakhiri mimpi buruk Lyu.

“AAAAAAA!!” Bell meraung, darah mengalir dari seluruh tubuhnya.

Dia menebas arah badai kematian, sehelain kain pakaian—satu-satunya jaring pengaman—dibungkus satu tangan.

Dia berhadapan langsung melawan binatang buas yang Lyu simbolkan keputusasaan murni.

Bell hanya memahami sebagian kecil penderitaan yang Lyu tahan. Namun itu sudah cukup membuat membara hatinya yang pernah putus asa.

Dia meraungkan raungan panjang, karena suara itu adalah api semangatnya yang akan membakar tragedi juga malapetaka.

“Tuan Cranell …”

Bahkan Lyu yang agak tidak peka tahu Bell berteriak untuk siapa. Rasa panas dalam dadanya membesar.

“… kau sangat …”

Bisik kata terakhirnya—kuat—menghilang termakan hiruk-pikuk medan perang.

Dia merasa menyedihkan berbaring di sana tanpa melakukan apa-apa. Namun perasaan ini tetap membara dalam hatinya.

Pertama kalinya, dia paham mengapa Bell amat menyukai dongeng-dongeng pahlawan itu. Kali pertama, elf itu melihat tampang para pahlawan mulia sewaktu mereka menantang sang keputusasaan.

“…?”

Juggernaut kebingungan oleh perasaan baru yang dialaminya. Api putih yang padam telah meraung hidup kembali, ditebas namun kini maju, dihajar namun bangkit menentang lagi. Monster baru lahir tidak paham kalau batin musuh telah mendominasi batinnya.

 Akhirnya—antara mengakui serangkaian tebasan sebagai ancaman atau karena diungguli tekad bocah itu—pertama kalinya si monster mundur.

Dia kalah duluan dalam kontes ketahanan hidup-mati.

Boleh jadi disebabkan insting, atau mungkin hasil tak terhindari. Bagaimanapun, tidak perlu mempertaruhkan nyawa demi sedikit kecil yang hampir mati sekali dan sekarang setengah mati lagi. Lantas, monster mundur dari pertarungan jarak dekat yang telah dicurangi.

Tak salah lagi itu langkah menguntungkan. Tetapi Bell melihat peluang kemenangan.

Monster itu mundur.

Mengigau ditambah berlumuran darah, Bell tetap merasakan lapar akan pertarungan membara ganas segar. Dia mengizinkan pikirannya mengikuti jalan yang dikehendakinya.

Saingan terbesarnya belum mundur.

Idolanya akan selalu bertarung hingga akhir.

Monster di depannya bukan petarung maupun petualang. Bell tersenyum.

Dia memancing Juggernaut ke pertarungan jarak dekat agar merebut momen ini darinya. Walau monster tersebut lebih cepat dari Bell, ia pertama kalinya dipaksa bertahan agar bisa mundur.

Bell mengulurkan tangan kiri terbungkus syal ke tubuh musuh yang bungkuk ke belakang.

Firebolt!!”

 Tujuh belas tembakan beruntun.

Bell memusatkan kepalanya ke ketujuh belas tembakan, memuat setiap tetes serangan sihirnya ke serangan bertubi-tubi.

Daya tembak instan habis-habisan meletus di hadapan monster yang terkejut.

“!”

Tentu saja, Juggernaut menggerakkan cangkangnya tuk menggunakan kekuatan sihir pantulan. Sihir Bell tanpa ampun dipukul mundur oleh perisai tak terkalahkan.

“Yeah!!”

Dia terpancing!

Berteriak menang, Bell menyerbu menuju angin puyuh nyala api listrik yang meluncur kembali ke arahnya.

“?!”

Lyu tidak percaya. Mari menjerit, bahkan monsternya menatap kaget.

Rentetan tujuh belas Firebolt melesat mendatanginya. Sedetik kemudian, tubuhnya dikuasai cahaya merah tua.

Bahkan meski apinya sendiri membakar daging dan menembus rusuknya, Bell maju, berteriak menang.

Satu tembakan.

Satu Firebolt yang diarahkan hati-hati meledak ke pisau hitamnya.

Dia tengah mengisi senjatanya.

Juggernaut melihat itu—melihat alih-alih semestinya berhamburan ketika sihir mengenai pisau, Firebolt digantikan cahaya putih dan memfokus.

Dual Charge (Rapalan Ganda).

Bell telah mengantisipasi bahwa Firebolt-nya akan ditangkal dan memanfaatkannya untuk serangan mematikannya sendiri.

Deretan api besar-besaran memberi perlindungan. Seketika api listrik berkobar-kobar menutupi tubuhnya dari pandangan Juggernaut, Bell menghampiri sosok besar musuh.

Juggernaut membeku sesaat, paham segalanya.

Dia dipancing menggunakan sihir pantulannya dengan rentetan tembakan cukup kuat sampai-sampai membuat luka mematikan kepada monster. Dia diserang dengan tujuan memprovokasi momen imobilitas sekejap hasil efek penggunaan cangkang lapis bajanya.

Waktu Juggernaut membeku selagi menatap Pisau Ilahi mengamuk terbungkus zirah api.

Dia tahu sedang dalam situasi buruk.

Segalanya bergerak cepat. Namun demikian, perlu waktu. Kalau dia mengerahkan seluruh kekuatannya, dia bisa mencegat serangan, mempertahankan diri lalu kabur.

Tapi terdapat semacam listrik statis mengganggu naluri si monster.

Shiirkah itu, atau serangan pisau? Haruskah ditangkis zirah tak terkalahkan atau hancurkan dengan cakar mematikan?

Utusan pembunuh itu bingung.

Dia memilih kabur.

Menggunakan sisa satu sendi kaki terbaliknya, dia melompat maju—tidak sempurna tetapi cukuplah.

“…”

Langsung ke intinya, monster malapetaka kehilangan adu serangan dengan sang petualang.

Satu atau dua detik dihabiskannya untuk memutuskan langkah selanjutnya, bagi Juggernaut, merupakan lengah paling disesali yang sepatutnya tidak pernah boleh ditunjukkan dihadapan kelinci secepat kilat.

“—hiyaaahh!”

Bell tiba-tiba membuka syal yang dililitkan di tangan kiri, diluncurkan ke depan.

Tak seperti Firebolt, ini serangan tak langsung jarak menengah.

Potongan kain hitam bergelombang di udara layaknya cambuk, mendarat di ekor panjang monster itu.

“?!”

Terjadi gelombang kejut besar ketika syalnya terulur ke panjang penuhnya dan Bell menjejakkan kedua kaki di tanah kristal.

Juggernaut itu membeku tidak wajar di tengah udara. Kemudian gaya semu meluncurkan kembali ke tangan kiri Bell yang masih mencengkeram syalnya.

Terdengar suara otot berderak-derak dan patahnya tulang lengan yang membengkok.

Mata Bell melotot.

Tetap, dia mengumpulkan sisa kekuatannya dan menarik lengan kirinya.

Hiyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhh!!”

Juggernaut—ekornya dijerat syal—ditarik ke dekatnya. Saat sosok raksasa tersebut mendarat di kaki Bell, dia bergidik. Monster itu menyadari sifat alami emosi yang dirasakannya selama beberapa menit terakhir.

Inilah kengerian yang dirasakan mangsanya.

“—?!”

Seakan-akan menyingkirkan perasaan itu, Juggernaut menggetarkan cangkangnya dengan warna biru keunguan. Di hadapan pisau berapi dalam genggaman tangan kanan musuh, Juggernaut menghunuskan senjatanya sendiri—cakar penghancur segala, cakar yang tidak bisa ditahan apa pun.

Sesaat sebelumnya, Juggernaut bertanya-tanya apakah pisaunya mengantarkan sihir atau serangan tebasan biasa. Jawabannya tidak dua-duanya. Serangan mematikan yang disimpan pisaunya tak bisa dipantulkan atau ditahan.

Api sakral yang akan mengubah apa pun menjadi abu.

Bell mengisi daya selama sembilan detik.

Seketika Juggernaut berdiri menjulang dengan cakar disiapkan, Bell melepaskan serangannya.

Argo Vesta!!”

Ledakan cahaya.

“…”

Api menggelegar menelan cakar besar bak taring itu.

Suar memadamkan kilat cahaya biru keunguan.

Cakar kehancuran hancur. Fragmen hitam dan ungu terbang ke mana-mana.

Bell dilempar ke belakang, tetapi tangan kanannya terus terulur.

Kali ini, tangan kanan Juggernaut-lah yang dilenyapkan.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!”

Sang monster meratap.

Lengan kanannya lenyap, cakar dan semuanya, oleh raungan dan kilat api sakral. Gelombang kejutnya menggema di bahunya dan masuk ke sebelah kanan tubuh menjulang tingginya.

Kecepatan dan serangannya berkembang akbar, tetapi daya tahan serta pertahanannya juga rendah. Rusuk dan punggungnya retak-retak, bongkahan cangkang jatuh ke lantai. Ketika wujud bak fosilnya hancur, Juggernaut jatuh menabrak kristal di lantai.

Lengan kanannya diledakkan dan ekornya akhirnya terbebas dari ikat syal, dia berguling dan digores lantai, akhirnya berhenti di tengah-tengah ruangan.

Pertama kalinya dalam hidup, Juggernaut melolong kesakitan.

Rapalanku belum cukup …!

Bell memicingkan mata ke monster yang menggeliat dan memekik. Sekalipun wajar gara-gara waktu rapalannya singkat, serangannya tidak mematikan.

Namun Bell bisa atasi. Dapat dia habisi monster mengerikan itu.

“Aduuuuuuuuuhhhh …!!”

Sentakan rasa sakit mengerikan melanda tangan kiri Bell.

Pikirannya merampas kekuatan di tubuhnya saat berusaha keras melakukan baik Swift-Strike Magic sekaligus Dual Charge. Kakinya gemetaran. Lengannya dirasa ingin copot dari bahunya. Dia sekarang tidak bisa merasakan tangan kirinya.

Namun dia mesti bertarung. Dia mesti mengumpulkan tetes kekuatan terakhirnya.

Dia harus menghentikan monster dan angin puyuh malapetaka.

Saat pusaran rasa sakit memaksa matanya menangis, Bell mencengkeram Pisau Hestia dan berbalik ke arah Juggernaut yang masih tengkurap di lantai.

“—Tuan Cranell?!”

Lyu yang menonton linglung kejadiannya, gemetar kemudian berteriak.

Bell pun sadar, tetapi sudah kelewat terlambat.

Sesosok bayangan melompat dari belakang kristal kolom dan melompat ke Juggernaut.

“Hahahahahahahahaha! Berhasil!”

Sesosok itu adalah Jura.

Penjinak yang bersembunyi dan menunggu momen-momen ini terjadi lagi.

Kerah sihir, masih melingkari leher kurus bertulang si monster, mendenyutkan cahaya merah aneh.

“Tidak kusangka kau membuatnya bertekuk lutut seperti itu!”

“Jura …!”

“Tapi dengan begini, menjadi milikku!”

Gemetar gembira, si manusia kucing nyengir pada Bell dan Lyu yang terperangah.

Inilah momen berharga yang telah lama dinanti-nantikannya.

Mencibir, dia mencabut cambuk merah dan dicambuk kuat-kuat ke tanah.

“Berdirilah, monsterku! Bunuh Leon dan bocah itu!!”

Kerahnya berdenyut cahaya terang merespon cambuk. Tatkala barang sihirnya bersinar liar, tubuh setengah hancur Juggernaut mengejang lagi dan lagi … hingga akhirnya, perlahan-lahan, bangkit.

Cahaya merah tua dalam rongga matanya menyorot Bell dan Lyu.

Bell meringis, tidak mampu menyembunyikan ketakutan di hadapan monster yang matanya—ibarat tak peka terhadap semua luka yang dideritanya—penuh haus darah murni.

“Hahahahaha! Ya, bunuh mereka! Bunuh mereka berdua! Dengan cakar milikmu itu—”

Selanjutnya, sang monster mengayun sisa-sisa ekornya, kek kesal.

Bongkah daging beterbangan. Tubuh manusia kucing dibelah dua.

Akhirnya, Jura tidak tahu apa yang terjadi. Separuh bagian atas tubuhnya terbang ke udara dan mendarat mendebur air jalur air yang mengalir melewati ruangan. Seolah menyadari takdirnya, separuh bagian bawah tubuhnya jatuh. Gelembung-gelembung merah berbusa seiring tenggelamnya separuh tubuh bagian atas ke dalam air.

Bell dan Lyu menganga bisu.

Akhir Evilus datang tiba-tiba.

“… !!”

Tetapi kerahnya terus mendenyutkan cahaya.

Seakan diterangi keinginan terakhir pria itu—lebih tepatnya, dendamnya—kerahnya terus berkedip, menghidupkan tubuh Juggernaut. Kaki terhajarnya melangkah ke Bell.

“Waduh …!”

Di hadpaan penghancur yang tampaknya tidak menyadari luka sendiri, Bell menghunuskan Pisau Hestia. Dia menyeru perang, ibarat mencambuk tubuh kelelahannya menuju satu pertarungan terakhir.

“Hah?”

Baru waktu itulah, dia mendengar suara hancur. Atau tepatnya, suara tumpukan puing tersapu ke samping.

Sesuatu menarik pikiran Bell.

Kendatipun Juggernaut tepat berada di depannya sekarang, dia mematuhi insting petualang dan menoleh ke suara yang menandakan sesuatu abnormal dalam Dungeon.

Persis di belakangnya ada Lyu yang masih tak kuasa berdiri.

Di belakang Lyu, merayap dari tumpukan puing kristal, adalah seekor monster ular raksasa.

“—”

Lambton yang harusnya mati.

Namun di sanalah dia, besar sebagaimana dirinya, kerah berdenyut di sekitar lehernya jelas menanggapi perintah penjinak. Mata jamak berlumuran darahnya melotot mematuhi perintah terakhir tuannya.

Bunuh Leon dan bocah itu!

Ular yang hampir mati itu meraung dan merayap di belakang Lyu, menghamburkan pecahan fragmen sambil mendekat.

“Nona Lyu!!”

Matanya membelalak kala menyadari apa yang terjadi, namun terlambat sudah. Lambton menyerbu maju, rahang besar nan lebarnya membuka.

Bell berlari menghampirinya.

Dengan sedikit energi tersisa, dia berakselerasi, meraih uluran tangan Lyu, dan menariknya ke dekatnya.

Tak lama seusainya, kedua petualang ditelan mulut ular itu.

“Oooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo!!”

Sembari berteriak, lambton menggali kepala runcing tajamnya ke tanah. Tubuh seperti pembuka tutup botol menembus batuan dasar yang dibor kemudian menggali turun.

“—!!”

Juggernaut mengikuti. Meraung dan menghamburkan potongan-potongan cangkang dari tubuh retak-retaknya, menyelam ke lubang yang lambton buat.

Pertarungan heroik yang telah terjadi dalam ruangan kristal telah berakhir.

“Bell … Beeeeeell?!”

Sisa satu makhluk.

Tangisan sedih mermaid menggema dalam ruangan yang sekarang ini sepi.

Ж

“Tolong lepaskan aku, Nona Cassandra! Cukup sudah …!”

Teriakan Lilly menghilang ke dalam riuhnya Air Terjun Besar.

Mereka berada di gua lantai 25. Berdiri di atas tebing dekat mulut air terjun yang menghadap ke gua lantai bawah, para petualang saling bertengkar.

“Tidak, jangan pergi …! Jangan ke lantai 27 …!”

Cassandra memegang erat lengan seorang prum. Dia mendorong Mikoto yang nangis-nangis menahan Cassandra yang mencengkeram tangan mungil Lilly. Wajahnya berubah drastis selagi berusaha mencegah Hestia Familia bergerak sehingga mereka tak tahu mesti mengapakannya.

Bagaimanapun mimpiku menjadi kenyataan! Aku tidak boleh membiarkan mereka pergi! Kematian mereka sudah diramalkan …!

Semua tindakannya dimotivasi satu pikiran itu. Rasa bersalah dan keputusasaan menguasainya. Jiwa-jiwa tak terhitung jumlahnya yang telah dia tinggal mati tengah menyiksa kesadarannya dan memberatkan hatinya. Dadanya terasa ketat dan hangat, laksana pikirannya sendiri memakannya.

Air mata mengalir.

Tapi, tapi, kalau mereka tidak pergi …

Dia bisa menyelamatkan mereka. Selama mereka dapat tinggal di sini, orang-orang yang dikhawatirkan Cassandra akan baik-baik saja. Ini takkan membebaskannya dari dosa-dosanya, tetapi pemikirannya sendiri tetap membuat Cassandra sedikit lega.

Andai dia simpan saja, Cassandra bisa menghindari kehancuran total.

Namun kalau begitu, ibaratnya Dungeon mencibir pada Cassandra, getaran mengguncang tanah.

“…”

Gempa bumikah? Tidak, guncangan yang disebabkan Dungeon.

Welf bersama teman-teman lain yang sangat disusahkan keanehan perilaku Cassandra, membeku.

Suaranya tidak salah lagi.

“Hei, suara itu …!”

“Kau bercanda …!”

“Mustahil. Maksudku, baru muncul dua minggu lalu!”

Dungeon mengabaikan wajah Ouka, Welf, dan Lilly yang mendadak pucat pasi kemudian melanjutkan erangannya.

Dungeon hanya punya satu pikiran.

Dungeon telah mengirim utusan pembunuh, setara dengan sistem kekebalan, namun virusnya masih hidup.

Bahkan lebih buruk, anak malapetaka telah meninggalkan lantai, terlepas dari fakta kontaminan menghancurkan rahim ibunya tetap berada di Ibu Kota Air.

Bukan cuma satu-dua tetapi jumlahnya banyak sekali sampai-sampai tidak boleh diabaikan.

Dungeon tidak bisa gelap mata terhadap hal ini.

Lantas ia membuat keputusan yang mustahilnya bukan main. Suaranya melolong tinggi, ia melahirkan makhluk itu.

“I-i-ini …”

Lilly bersama teman-teman mengenal sesuatu—sesuatu pertanda makhluk terlampau besar hendak dilahirkan, dalam getaran yang mengguncang lantai diikuti suara retakan besar membelah dinding.

“Dia datang!” teriak Aisha.

Detik sesudahnya, Air Terjun Besar di lantai 27 meledak. Pancaran besar air menyembur lantai 25, menabrak gua selayaknya hujan deras.

Hujan di bawah tanah ini mengguyur air terjun di lantai paling rendah, membungkus wujudnya dengan kabut putih berasap.

Pelan-pelan, tenggelam ke dasar kolam.

Sepintas setelahnya, meledak lagi.

Berikutnya mulai betul-betul mendaki kolom air3 mengamuk setinggi beberapa ratus meter yang mana merupakan Air Terjun Besar.

“…”

Selagi Cassandra melihat wujud merinding di bawah yang bangkit dari lantai 27 menuju lantai 26, lalu menuju lantai 25, dia mengingat sesuaut.

Oh, jangan khawatir, monster tidak memanjat Air Terjun.

Yah, kebanyakan tidak.

Seorang Amazon menuturkannya beberapa hari sebelumnya. Amazon sama yang berdiri di sebelahnya sekarang, podao-nya disiagakan dan matanya terheran-heran.

Cassandra akhirnya paham maksudnya.

“Munduuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuurrrr!!” teriak Welf. Seluruh kelompok menjauh dari tepian tebing yang membentuk mulut air terjun.

Tidak lama sehabis mereka menjauh, tepian tebing hancur berantakan. Tsunami yang melonjak naik menelan semuanya dan menghayutkan mereka ke belakang pinggir sungai.

Satu per satu, mereka berdiri; mengangkat wajah basah kuyup dan batuk-batuk; selanjutnya melihat naga berkepala dua di depan mereka.

“Monster Rex-nya lantai 27—” bisik Lilly kebingungan.

Aisha meludahkan sisa kalimat.

“—Amphisbaena.”

Layaknya menjawab panggilan ibu, bos lantai besar itu menggeliat di tengah kolam lantai 27, menodngak.

“Oooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo!”

Amphisbaena adalah anomali di antara lantai-lantai bos yang dikenal Guild. Melanggar aturan yang membatasi Monster-Monster Rex yang menjaga lantai tertentu, namun Monster Rex satu ini bergerak.

Ketika rekan-rekannya merengut dan menghunus senjata mereka, Cassandra menatap linglung.

Inilah Dungeon, wadahnya para monster.

Dungeon tiada batas yang menganggap remeh pemberontakan nabiah tragedi.

Monster putih berkepala dua meraungkan kehendak Dungeon.

Wajah Cassandra membeku.

Dia dan party-nya barangkali sudah lolos dari malapetaka, tapi mereka sekarang menghadapi—ya, keputusasaan.

Catatan Kaki:

  1. Juggernaut adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan sebuah wahana ataupun pasukan yang dikategorikan sebagai tidak dapat dikalahkan, yang akan menghancurkan apapun yang dilalui dengan kekuatannya. Kata juggernaut diturunkan dari bahasa Sanskerta जग्न्नाथ Jagannātha (artinya “raja jagat raya”) yang merupakan satu di antara sekian banyak nama dewa Kresna dari kitab suci Weda. Satu di antara kuil suci terkenal di India adalah kuil Jagannath di Puri, Orissa, yang memiliki relief Ratha Yatra, prosesi tahunan membawa patung murti dari Jagannâth (Kresna) dengan kereta, Subhadra and Baladewa. Saat pemerintaan kolonial Inggris, warga inggris menyebarkan pemahaman yang salah bahwa agama hindu yang memuja kresna merupakan orang-orang gila yang mengorbankan diri mereka dilindas kereta ini untuk mendapatkan keselamatan. Deskripsi seperti di atas ditemukan pula pada tulisan-tulisan populer pada abad ke-14 Perjalanan Sir John Mandeville, dan juga dijelaskan pada kisah Melmoth Sang Pengembara.
  2. Adu banteng adalah sebuah kontes fisik yang melibatkan manusia dan hewan yang berniat untuk menghadap, menghindari atau membunuh seekor banteng; biasanya menurut serangkaian aturan, paduan atau budaya. Terdapat banyak bentuk dan ragam berbeda di berbagai tempat di seluruh dunia. Beberapa bentuk melibatkan tarian di sekitaran atau di atas sapi atau kerbau, dan berniat untuk mengambil barang dari hewan tersebut.
  3. Stratifikasi kolom air merupakan lapisan-lapisan pada perairan, contoh dalam hal ini adalah laut, yang terbentuk dengan karakteristik fisik tertentu seperti suhu, salinitas, densitas, dan tekanan. Stratifikasi atau pelapisan ini terjadi secara vertikal, dimana pada kedalaman tertentu karakteristiknya akan berbeda dengan kedalaman lainnya.

5 Replies to “DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 13 BAB 5”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *