DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 13 BAB 4

Posted on

Hitung Mundur

Penerjemah: DarkNier

“Hahahahahahahahaha!!”

Tawa manusia kucing itu bergema ke seluruh ruangan.

Sementara aku dan Lyu berdiri menonton bersampingan, tetes besar cairan lengket jatuh dari taring runcing monster ular tersebut.

Seekor lambton.

Monster langka dari lantai dalam.

Kepalanya semakin ke ujung semakin menyempit, dan rahangnya—yang terbuka vertikal—terlihat cukup lebar untuk menelan orc seutuhnya. Di kedua sisi mulutnya terdapat sembilan lubang berisikan organ yang belum pernah ada di monster lain.

Namun hal pertama yang aku dapati adalah kerah buatan yang terpasang di bawah kepalanya. Berkilauan permata merah yang tampaknya ditandai sebagai peliharaan penjinak.

Kulitnya berwarna biru tua, mata kuningnya berputar gelisah ketika memelototi Lyu dan aku.

“Kok bisa monster dari lantai dalam naik sampai sini …?!”

Monster yang asalnya jauh di kedalaman Dungeon bisa muncul di Ibu Kota Air sini memang merupakan keabnormalan yang sangat tidak lumrah.

Selagi aku melongo kaget terhadap fenomana yang tidak mampu kupercayai, manusia kucing itu tersenyum mencemooh kami.

“Aku bawa dia dari Knossos. Salah satu monster yang kru sebelah sana tangkap. Kau mungkin tahu apa yang kubicarakan, karena kau berkaitan dengan monster bicara menyeramkan juga Ikelus Familia.”

“…!”

Dia sepertinya tahu semua hubunganku sama Xenos dan Ikelus Familia. Dan bila dungeon buatan manusia itu ada hubungannya sama hal ini, maka segala halnya mulai masuk akal. Tapi tetap saja, monster sebesar ini tentunya akan menangkap perhatian para petualang lain. Tetapi belum ada rumor tentang hal ini, apalagi satu laporan penampakannya. Aneh!

Pikiranku masih terpampang di wajahku, sebab manusia kucing itu terus bicara, ekspresinya masih rileks seperti biasa.

“Kau belum pernah dengar, Kaki Kelinci? Kemampuan khusus wormwell?”

“…!”

“Lambton itu cuma julukannya saja, kek yang kita para petualang punya.”

Kini aku ingat.

Aku secara mental meneliti informasi perihal monster lantai dalam yang aku ulas di salah satu buku bergambar yang kupelajari bersama Eina sebelum ekspedisi, untuk jaga-jaga saja.

Lambton adalah julukan yang para petualang berikan untuk spesies tersebut. Nama tepatnya adalah wormwell, bagian pertamanya mengartikan ular (serpent) dan yang kedua mengacu ke sumur air (water well). Ketika aku kaget mengingat mengapa nama julukannya lambton, alis Lyu mengkerut dan mengutarakan isi kepalaku.

“Lambton bisa berpindah lantai dengan menggali menembus bumi …!”

“Monster yang berpindah lantai?!” Welf berteriak merespon penjelasan Aisha, sma asekali melupakan sekelilingnya.

“Iya, karenanya ada nama julukan berlebihan, Lambton. Karakter tulisan yang artinya pertanda buruk.”

Mereka berada di lorong lantai 25. Selagi party menghadapi tipe monster serupa yang Bell temui di dua lantai di bawahnya, Aisha tersenyum gugup.

Normalnya, wormwell—atau Lambton—hidup di lantai 37. Tetapi sebagaimana namanya, ia punya kemampuan menggali vertikal ke atas melewati lantai seakan-akan sedang menggali sumur secara terbalik, dan muncul di lantai lebih tinggi. Itulah yang membuatnya sangat mengerikan bagi para petualang.

“Maksudmu monster dari lantai lebih rendah bisa menyerang ke lantai yang lebih tinggi …?!”

Bagi para wormwell, itu bukan karakteristik abnormal; tetapi semata-mata sifat alamiahnya mereka. Mereka tidak memedulikan prinsip lantai dan malah bergerak bebas antar lantai. Mikoto dan Chigusa yang paham betul betapa menakutkannya ini, memucat.

“Terus sekuat apa dia …?” Lilly mencicit, tertegun oleh pertemuan monster yang sepenuhnya tidak terduga.

Menurut Guild, kekuatannya Level Empat.

Ia jarang muncul di lantai bawah, tetapi begitu muncul, sama saja lonceng pertanda kematian mengumumkan kehancuran total para petualang.

“Kau pasti bercanda!!” teriak Welf, mempersiapkan pedang besarnya.

Dikendalikan Turk serta cambuk merahnya, wormwell menggeram tersebut memutar tubuh ke posisi menyerang.

Seketika ketegangan gugup merekah dalam party, Aisha berteriak memperingatkan.

 “Apa pun yang terjadi, jangan memegang erat monster itu! Kalau kalian pegang, nanti dia akan membawa kalian ke lantai lain!”

Yang tidak dia katakan kemungkinan besarnya di depan para petualang malang di sana, adalah mereka akan digencet jadi daging cincang oleh tubuh besar monster dan dinding berbatu terowongan Dungeon yang dilewatinya.

Pokoknya, begitu monster itu menangkapmu, tamat sudah kau.

“Sikat mereka, Lambton!”

Turk si manusia sergiala mencambuk ke tanah. Responnya, ular raksasa itu menggeram keras, lalu menerjang ke arah party.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!”

Aku melompat untuk menghindari kepala wormwell yang melesat.

Dengan merinding, aku sadar dia mampu mencapai sudut manapun dalam ruangan besar ini, yang ukurannya setinggi dua puluh meter serta lebar lima puluh.

Tubuh ular yang merayap itu memotong gugusan kristal lantai dan menerbangkannya.

Sementara waktu, gelombang dari jalur air yang bergolak, memercik ke atasku.

Tetapi biarpun aku basah kuyup dari ujung kepala sampai kaki, aku takkan pernah mengalihkan pandangan dari monster menggeliat di sisi seberang ruangan.

“Dia jauh lebih kuat dari semua makhluk di lantai 27 …!”

Wormwell itu nampaknya muncul secara misterius dari habitatnya di lantai 37, selanjutnya menghilang lagi tanpa jejak. Belum pernah menggali ke lantai di bawah 37. Sebab turun satu lantai saja dalam Dungeon sama dengan bunuh diri, tempat monster tumbuh lebih kuat kian dalamnya seseorang turun.

Aku dengar banyak party petualang telah disapu bersih ketika monster satu ini dengan kekuatan tidak proporsionalnya muncul di lantai lebih tinggi. Aku bahkan ingat pernah mendengar bahwa wormwell adalah makhluk yang paling ditakuti semua petualang yang mengeksplor lantai bawah.

Suara berbeda yang dihasilkannya sewaktu menembus tanah meramalkan bencana. Betul-betul pertanda buruk.

Tetapi di waktu bersamaan, belum pernah terjadi sebelumnya wormwell muncul di Ibu Kota Air!!

Lantai tertinggi penampakannya adalah di lantai 29. Eina bilang mustahil seekor Lambton mampu menggali bebatuan padat sepuluh lantai.

Namun semua halnya sekarang terjadi begitu saja.

Lubang besar yang aku temukan bersama party Bors dibuat oleh monster ini. Trek buatan makhluk itu yang bergerak-gerak antar lantai!

“Hajar mereka, Lambton!”

Manusia kucing penjinak itu mencambuk-cambuk ke tanah. Begitu dia lakukan, si Lambton mengaum dan tubuhnya terbang ke udara.

“Apa—?”

Kepalanya menggambar busur setinggi sepuluh meter menembus ruangan. Tubuh panjangnya mengikuti, berenang di udara dengan kilat berwarna biru tua. Aku terpana sesaat oleh pemandangan fantastis tersebut, terlepas monster atau bukan. Waktu serasa melamban. Meski begitu, instingku berteriak-teriak memperingatkan.

Tubuh berputar, lalu pelan-pelan sosok mengancamnya ditarik ke bawah oleh gravitasi. Bayangan hitam menghalangi cahaya kristal putih langit-langit, menggelapkan posisiku berdiri.

Aku menatap syok tubuh besar ular yang berputar turun menuju diriku.

“Larilah, Tuan Cranell!!”

Suara Lyu menggerakkanku, dan aku bergegas menjauh dari sosok yang bergerak turun itu sekuat tenaga.

“!!”

Ruangannya—tidak, kemungkinan besar seluruh Dungeon—gemetar dengan suara gemuruh ketika Lambton menabrak lantai tempatku berada sedetik sebelumnya.

Aku terhempas ke udara oleh gelombang kejutnya, dan penglihatanku mensamar.

Ular itu tengah berputar dan menggali lantai batu. Bahkan sewaktu tubuhku terhempas ke atas kristal, sosok panjangnya itu tertelan sepenuhnya di tanah.

Menggunakan momentum pendaratanku, aku cepat-cepat berdiri dan sukses memulihkan posisi bertarung. Darahku mendingin begitu melihat sekeliling ruangan yang kini dirusak lubang raksasa.

“…?!”

“…!”

Lyu dan aku sama-sama mengarahkan senjata ke tanah.

Getaran yang memancar ke atas tiada hentinya. Si ular menggali tanah berniat menelan mangsanya—kami—seutuhnya.

Di mana dia bakal muncul?

Dari darat atau air?

“Salah!” manusia kucing itu mengejek saat kami menatap waspada ke tanah.

Sedetik setelahnya, sosok besarnya muncul beserta suara hancur di satu sisi. Fragmen-fragmen kristal beterbangan dari dinding dekat Lyu di sisi barat ruangan, dan monster lambton menyerbu maju dengan rahang terbuka lebar menuju Lyu.

“Nona Lyu!!”

“Hiyaah!”

Lyu nampak membara seketika ular tersebut menyerangnya. Demi menyusul waktu yang hilang, dia menghentak tanah dan dengan desir jubah panjangnya, terbang ke atas. Dia dengan cekatan berlindung di udara selagi tubuh panjang ular lewat di bawah.

Dia mendarat di sampingku dan menghadapi monster yang sekarang lagi menyerang di tengah ruangan.

“Apa para lambton selalu sesinting ini?” tanyaku, megap-megap.

“Yah, karena mereka itu monster langka, di lain waktu aku cuma pernah sekali menemui spesies ini. Aku tidak terlalu bisa menjawab pertanyaanmu …” jawabnya samar, menyiagakan pedang kayunya.

Satu-satunya waktu aku menghadapi monster sebesar ini adalah ketika melawan Goliath. Tetapi makhluk ini …. Baik metode serangan dan skalanya itu gila. Kurasa begitulah monster lantai dalam!

“Jadi akhirnya telah datang, ya, Leon? Kau dan Kaki Kelinci bisa saling berdekatan dalam perut dia!”

Manusia kucing tersebut tertawa keras.

“Kita tidak usah ikut andil dalam pertunjukan sirkus musuh,” bisik Lyu di bahuku.

Aku kaget tapi menggangguk cepat. Sesudah bertukar kata singkat ini, kami mulai berlari maju secara pararel.

Aku mengulurkan tangan kanan ke arah lambton yang meraung-raung.

Firebolt!”

Api elektrik yang meledak dari tinjuku mencapai si monster dan mendarat ke salah satu dari sembilan lubang di sebelah mulutnya. Tentu saja, serangan sihir ini tidak menimbulkan banyak dampak kepada musuh kategori besarku.

Tapi tetap saja, tiga pasang mata merah fokus padaku.

Kena kau!

Jeritan marah monster tersebut membuatku berkeringat, tanganku membentuk kepalan tangan.

Ini pertama kalinya aku bertarung melawan penjinak, namun bahkan aku tahu lebih masuk akal mengincar si penjinaknya sendiri alih-alih monster yang dikontrolnya. Mengingat mereka mesti mempelajari keterampilan penjinak, tebakanku adalah mereka umumnya lebih lemah dari petualang-petualang lain.

Jadi kau memisahkan mereka dari monster-monsternya dan serang mereka yang dalam kondisi terbuka.

Dalam hal ini, aku bakal menjadi umpan untuk menarik monster sementara Lyu menjadi tombak yang menembus si penjinaknya.

Kala lambton sesaat memfokuskan perhatiannya kepadaku, Lyu mencepat.

Bagaikan elang yang melayang di langit terbuka, dia berlari maju, tubuhnya memiring ke tanah. Lyu menyelinap melewati celah sempit antara kedua tubuh monster dan tanah lalu sampai di samping penjinak yang dihalangi ularnya.

“Jura!”

“Eh?!”

Suara tanggapan panggilannya menyedihkan. Namun demikian, dia mengubah wajahnya menjadi senyuman dan mencambuk sekali ke tanah.

“!!”

“Hah?!”

Yang mengejutkanku, lambton-nya—yang kukira fokus padaku—mengalihkan kepalanya ke arah si manusia kucing. Arahnya terbalik, dia mengincar langsung punggung Lyu.

“Nona Lyu!”

“?!”

Persis sebelum pedang kayunya mengontak si penjinak, Lyu dipaksa melompat mundur untuk menghindari monster yang menerjang.

Jura melirik Lyu yang baru menghindari taring ular. Lambton-nya tidak membahayakan penjinaknya tetapi justru melingkarinya seakan melindunginya.

 “Hahaha …! Jadi kau kira bisa mengincarku, ya? Kau pikir aku tidak siap?”

“…!”

“Aku pun cukup baik mengajarkan perilaku ini kepada peliharaanku!” bualnya, masih tersenyum, sementara Lyu mengigigt bibirnya.

Sedangkan, aku terang-terangan terheran-heran.

Aku tidak amat familier dengan penjinak atau profesi mereka. Aku bahkan belum pernah melihat Monsterphilia Ganesha Familia, alhasil tidak tahu betapa serba gunanya mereka.

Walau begitu … monster ini kelihatannya sangat-sangat terlatih!

Aku hanya tahu yang Eina ajarkan padaku, tapi pemahamanku semata-mata dasarnya saja, menjinakkan monster tidak juga termasuk menyuruh mereka melakukan keinginanmu untuk mencegah mereka memberontak. Ini perihal menyadarkan dan membuat mereka menyerah terhadap kekuatan superior penjinak—dengan kata lain, penjinakan adalah keterampilan penaklukan.

Buktinya adalah fakta monster-monster yang dijinakkan masih akan menyerang orang-orang selain penjinak mereka.

Aku pun mendengar susahnya bukan main untuk mengajarkan mereka banyak perintah.

Tapi manusia kucing ini mengendalikan monster ibarat tangan-kakinya sendiri.

“Nona Lyu …. Apa orang ini beneran seorang penjinak luar biasa?”

“Tidak … maksudku, dia salah seorang penjinak yang lebih ahli, namun kurasa dia di bawah para penjinaknya Ganesha Familia. Itu dia, Jura Harma yang kukenal lima tahun lalu.”

Aku tidak dapat menyembunyikan keterkejutanku terhadap fakta bahwa Lyu—yang sama-sama terkoneksi dengan familia sekaligus saingan tua pria ini—menyangka keterampilannya lebih rendah.

Penjinak itu mengelus lembut tubuh licin ularnya.

“Ah, sial … ini tidak berguna … aku masih ketakutan! Leon, Angin Badai menjijikkan!” teriaknya, tidak sanggup menyembunyikan suara gentarnya.

“Lihat saja tangan gemetaran ini! Kek tangan tidak berfungsi! Kau nyaris membunuhku sekali—tentu saja aku takut padamu!”

Seketika itulah aku tersadar.

Senyumnya sesaat sebelumnya itu palsu dan dipaksakan.

“Aku ingat, Leon! Aku tidak bisa lupa. Takkan mungkin aku lupa!”

“…”

“Pas aku menutup mata, aku masih melihatmu di sana, meronta-ronta di lautan darah pada hari kau menyerang kediaman kami! Aku memimpikannya setiap hari. Aku belum pernah tidur nyenyak sejak hari itu! Bisakah kau memercayainya? Lima tahun pun tidak!”

“…?!”

“Hari itu, aku bersembunyi di antara mayat-mayat rekan-rekanku yang dibantai, mengigau! Aku berbaring di sana menahan napas dan mendengarmu mengaum mirip monster sampai kau hancurkan seluruh kediaman kami dengan sihirmu! Anehnya aku bahkan selamat.”

Lyu berdiri terdiam seraya mengungkap perasaannya. Aku panik bingung. Aku sepintas terus melihat emosi sintingnya dalam sepasang mata cekung membeliak. Bukan hanya lengan kanan terlukanya tapi bahkan lengan kirinya berkedut bereaksi oleh gerakan sesedikit apa pun sang Angin badai.

Aku akhirnya mengerti.

Pria ini yang menampilkan ketakutan selama pertunjukan dan skema berbahaya yang dia manfaatkan untuk menipu Bors serta kami semua bukanlah akting. Alasan aku tidak mempertanyakan terornya adalah gara-gara itu nyata.

Baginya, Lyu merupakan simbol trauma. Angin Badai—elf yang melukai lengannya, memotong telinganya, dan hampir membuatnya sekarat—jauh lebih menakutkan dari orang lain atau hal manapun.

“Sekiranya aku mesti melawanmu sendirian, aku bakalan kencing di celana. Karenanya aku suruh monster untuk bertarung menggantikanku! Dia lebih kuat dariku, peliharaan kecil imut milikku ini!”

Masih gemetar sebab ketakutan tidak terkendali, penjinak itu mencambuk. Lambton menyerbu kami lagi, memperlihatkan taring-taringnya.

Manusia kucing tertawa selagi kami berjuang bertahan dari monster yang dikomandoinya.

Sementara itu, mosnternya bergerak setepat dan dengan kecepatan tinggi sesuai kehendak penjinaknya, baik menyerang dan bertahan.

Tetapi aku ragu keterampilan manusia kucing ini satu-satunya hal yang menyebabkan semua hal ini.

Tidak—ada hubungannya dengan lingkaran di lehernya serta cambuk merah. Keduanya barang sihir.

Ж

“Sikat mereka, lambton!”

Dimulai suara Turk si manusia serigala serta cambuknya, wormwell tersebut menyerbu maju.

Dihadapkan serbuan tak terhentikannya, Aisha memilih mundur.

“Pergi ke lorong samping sana!”

Lilly dan yang lainnya terjun tepat waktu untuk menghindari makhluk besar yang menggeliat menghampiri mereka, menghancurkan lorong sempit tersebut seiring lajunya.

Suara gesekan berisik memenuhi koridor yang baru saja mereka tinggalkan sementara tubuh putih kebiruan merayap di lantai. Jeritan-jeritan monster yang digepengkan perutnya bergema.

Haruhime memucat, dikuasai rasa jijik intens.

“Makhluk itu cuma mesti menyerbu kita …” teriak Welf.

“… terus tamatlah kita!” balas teriak Ouka, menuntaskan pikirannya.

Keduanya menatap celah yang merekah dari pintu masuk lorong selagi musuh menyerang maju.

Dia berbalik cepat dan kini menuju party yang panik.

“Kita tidak mampu melawannya di sini! Mundur!”

Mereka bakal berada dalam posisi sangat tidak menguntungkan jika melawan monster ekstrem kategori besar di lokasi mereka saat ini. Aisha—yang sering kali bertarung di lantai dalam tempat tujuan ekspedisi Ishtar Familia—buru-buru menyerah pada pertempuran tiba-tiba tersebut dan malah mengerahkan segenap energinya untuk kabur.

“Hei, cebol, carikan kami tanah lapang!” teriaknya.

“Tempat terbuka!? Maksudmu apa?!” Lilly balas berteriak, mukanya pucat pasi.

“Ruangan buntu di lantai 25! Selama tidak ada jalur air di sana, maka ada tanah lapang! Bawa kami ke sana!”

Yang berarti, Lilly mesti melihat peta.

Party tersebut mundur secepat mungkin, berhasil memperlambat pergerakan lambton lewat tembakan bertubi-tubi panah Mikoto dan Chigusa juga belati sihir Daphne.

“Hei, dia tidak mengejar kita. Dia menghilang!!” teriak Welf sambil melirik ke belakang.

“Tidak, Tuan Welf … dia masih di sini!” jawab Mikoto, menggunakan keterampilan Yatano Black Crow-nya.

“Dia menggali ke bawah tanah! Datang dari bawah—Tidak, datang dari samping!! Tembak dia!” Aisha berteriak sekeras mungkin, merasakan getarannya.

Sedetik kemudian, lambton menerobos dinding di sebelah mereka lalu menyerbu maju.

“Ooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo!!”

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah?!”

“Makhluk ini gila!”

“Apa lantai dalam penuh monster semacam ini?!”

Haruhime berteriak, seru putus asa Daphne, dan pertanyaan takut Ouka meramaikan lorong seketika mereka baru saja menghindari ularnya.

Sekarang ini Haruhime tidak lebih dari sekadar barang bawaan yang memperlamban grup, lantas Aisha menyuruhnya menjatuhkan ransel dan tubuh Haruhime ditopang bahu kanan Aisha. Aisha mendecakkan lidah ketika melirik monster mendekat di belakang.

Kami sepenuhnya dilarang mengikuti para petualang itu. Bell Cranell meminta kami mengawasi mereka, tapi sekarang kami betulan di posisi terpojok!

Mengutuk dirinya secara internal, kelompok yang terdiri dari petualang kelas dua belaka mencari jalan keluar.

Di sisi lain, kembali ke lorong yang ditempuh pelarian Aisha dan kawan-kawna, Turk bersama tiga rekannya tengah merayakan.

“Hahaha …! Barang sihir ini beneran luar biasa! Tidak kusangka bahkan bisa membuat monster lantai dalam mematuhiku …. Makasih, Evilus!”

Turk menatap cambuk merah dengan permata yang terpasang di ujungnya, mabuk rasa kemahakuasaan palsu. Barang sihir tersebut dibuat oleh Sisa-Sisa Evilus yang bersembunyi di Knossos. Kristal misterius—atau lebih tepatnya, bongkah terkutuk—adalah penjamin untuk meyakinkan para pembeli Xenos juga penyelundup monster-monster lain demi keuntungan oleh para pemburu Ikelus Familia bahwa produk yang mereka beli itu aman.

Dengan memasang kerah cocok ke monster, barang sihir terlarang yang memungkinkan para penjinak kurang jago, atau bahkan yang tak punya kemampuan sama sekali, bisa menundukkan makhluk. Jura memanfaatkan kejadian terkini di Knossos untuk menyelundupkan barang-barang berharga ini yang sangat-sangat efektif tetapi tidak dapat diproduksi secara masal.

“Sewaktu aku mendengar rencana Jura, aku pikir dia sinting …. Tapi ini keren. Kalau bisa berfungsi sebaik ini, kerenlah!”

Manusia serigala muda—yang awalnya anggota sekelompok kriminal kecil yang tidak ada hubungannya sama Evilus—telah mengendus sesuatu menguntungkan pada anggota sisa terakhir Rudra Familia, Jura. Sekarang setelah dia melihat efek barang sihir dengan mata kepala sendiri, dia sudah siap bersumpah setia.

Dia tidak hanya bertekad menjebak musuh lama Jura, Angin badai, namun juga memastikan seluruh rencana manusia kucing membuahkan hasil.

“Sekarang kesempatan kita beraksi! Lakukan sesuai perintah Jura!”

Ketiga petualang yang mengenakan ransel mengangguk.

Meninggalkan lambton sebagai hadiah perpisahan mereka, party meninggalkan tempat kejadian.

“Haruhime, kita butuh Level Boosts! Mulailah merapal!” perintah Aisha.

“Maksudmu Kokonoe? Untuk Nona Mikoto dan semua orang?”

“Dua saja sudah cukup! Seandainya kau kelelahan sekarang, kita bakal kedapatan masalah nanti. Saat ini, tingkatkan saja dulu Ignis dan Masuratakeo di garis depan!”

Party-nya tiba di ruangan buntu berkat arahan Lilly.

Begitu mereka tiba di sana, Aisha mulai memerintah-merintah, termasuk perintah meningkatkan satu level Welf dan Ouka. Aisha-lah satu-sautnya orang di antara mereka yang berpengalaman mengeksplor lantai dalam, dan dia tidak mengizinkan Lilly atau Daphne memegang komando. Situasi mereka terlampau kritis—sesuai jelasnya suara kasar Aisha. Ditambah lagi, dia paham rincian keseimbangan internal party, didapatkan dari posisi non-komandan biasa.

“Awalnya spesies yang diperkuat itu, sekarang ini … aku memang tidak kebosanan pas bersama kalian!” candanya, mulutnya tersenyum selagi mengacungkan podao besarnya.

“Aku tidak pernah membayangkan orang Amazon Berbera akan mengatakan itu!”

“Yea, pasti tak terduga …. Suatu kehormatankah?”

Ouka dan Welf ikutan bercanda sesaat partikel cahaya Level Boost Haruhime melingkupi mereka. Mereka berdiri di kanan-kiri Aisha, menyiagakan pedang besar, kapak, dan perisai mereka.

Dengan kekuatan terkuat mereka di garis depan, kelompok itu siap melawan monster lantai dalam.

“… apakah ini bencananya?”

“Cassandra, hentikan!”

Ketika nabiah tragedi berdiri linglung, pertarungan dimulai.

“—!!”

Seakan-akan beresonansi dengan raungan sang ular, kerah di lehernya mendenyutkan cahaya, kemudian binatang buas itu gemetar.

Ж

“Susah banget membawa makhluk ini ke lantai sini.”

Aku dan Lyu menghindar panik saat lambton memutar tubuhnya dan menyerang ganas, merespon sambaran cambuk ke tanah.

“Memang, ia bisa menggali sampai tempat ini, tapi masalahnya adalah tubuhnya. Dapat mudah ketahuan. Aku mesti menyuruhnya menelan semua petualang yang melihatnya.

“…!”

“Bagian tersulitnya adalah mengeluarkan dia dari Knossos.”

Manusia kucing tersebut melirikku selagi aku mengepalkan tangan sebagai respon pengakuan pembunuhannya.

“Kaki Kelinci, setelah kau terlibat dengan Ikelus Familia, aku putuskan lebih baik minggat dari Knossos. Berkatmu—tidak, dimulai waktu Dix membuat kesalahan—kupikir Guild ujung-ujungnya akan mencapai tempat persembunyianku. Dan betulan dong!” teriak Jura. “Setelah tempat sembunyi diam-diam kami tidak ada, tak ada jaminan kami bakalan aman …. Sewaktu itulah aku mulai menggerakkan rencanaku.”

Gelombang kejut dari gerakan ular itu menerbangkanku. Begitu mendarat, aku melihat ke belakang dan bertanya:

“Dari situ?!”

“Yea. Kau tidak mengira kami berhasil menggerakkan monsternya ke bawah sini dari kemarin, padahal Leon sedang mengejar kami, bukan? Kami mulai dengan menyembunyikan dua lambton di lantai ini.”

“Apa …?”

“Kau tahu, selama kami menyuruh mereka diam di bawah air, tidak satu pun petualang akan menemukan mereka. Oh, dan siapa tahu? Turk bersama orang-orangnya barangkali menyerang para petualang sekarang. Karena aku memberikannya salah satu cambuk ini.”

“…!”

Seraya memproses perkataan mengejutkan ini, manusia kucing lanjut bicara.

“Terus dua hari lalu, ketika pasukan akhirnya menyerbu Knossos, kami hendak melanjutkan rencana kami dan keluar cepat dari Knossos …. Namun Leon kebetulan ada dalam kelompok, lalu dia mendapati dirku.”

Matanya serba kebencian selagi menatap Lyu.

“Dia mengejarku terus, jadi aku manfaatkan Jan dan Turk untuk mengurusnya. Aku tahu dia akan mengikuti kami hingga lantai ini, lantas aku sulut amarah penduduk Rivira demi menghentikannya.”

Aku menduga kejadiannya ketika sementara waktu menghindari Lyu dan kabur dari Knossos menuju lantai delapan belas, langkah pertamanya adalah mengirim kedua bawahannya ke Rivira. Tetapi salah satunya ditangkap dan diinterogasi Lyu, membuatnya kabur secepat mungkin ke lantai 27.

Lalu Turk yang luput dari Lyu … pastilah memanfaatkan temannya. Dia membunuh Jan yang terluka, membuatnya seakan-akan Angin Badailah pembunuhnya, kemudian lari memberi tahu Bors dan aku di Rivira.

Berikutnya, dia mempelopori pembentukan party pemburu untuk mengejar Angin Badai, sesuai perintah Jura.

Semua ini hanyalah bagian spekulasiku saja, tetapi terlepas dari itu membuat perutku mual. Dan aku cukup yakin spekulasinya benar.

“Aku berpikir menggunakan orang-orang yang ikut bersamaku ke lantai 27 sebagai umpan untuk menjauhkanmu dan Leon! Tapi saat kru Rivira akhirnya sampai sini, aku ledakkan mereka semua!”

“…!”

Dengan kata lain, dia mengorbankan rekan-rekannya agar penduduk Rivira memihaknya dan membuat mereka takut pada Angin Badai.

Amarah menjalar di wajah Lyu selagi dia mendengarkan penjelasan jelas musuh kami.

Aku pun sama-sama merasa takut dan muak pada pria ini yang bersedia menggunakan cara apa saja demi mencapai tujuannya.

Tapi … mengapa dia memberi tahu kami sekarang? Untuk menunjukkan ketenangannya? Membuat kami marah? Atau … mengulur waktu?

Selagi aku berdiri kebingungan di tempat, sebuah ekor diayun ke bawah dari atas kepalaku dan dampak hantaman ke tanahnya lebih kuat dari dampak sebelumnya.

“Ugh!”

Aku melompat sejauh mungkin. Tatkala menarik napas, Lyu mendarat di sampingku.

“Benar dugaanku, Jura memberi makan monster ini batu sihir untuk memperkuatnya …”

“…!”

Kata-katanya menyadarkanku akan pertarungan panjang di hadapan kami. Nyaris mustahil mencapai batu sihir dalam tubuh sebesar ini. Mempertaruhkan percobaan satu serangan mematikan tidaklah bisa. Boleh jadi lebih masuk akal mencoba membalikkan situasi seimbang ini dengan sihir, meskipun ganjarannya menguras banyak energi mental.

Defensif tidak ada gunanya di hadapan serangan habis-habisan musuh kami …. Tapi bagaimana andai Lyu dan aku menggunakan Concurrent Casting dan Concurrent Charging untuk mengubah diri kami menjadi benteng hidup? Akankah si penjinak akan meloloskan kami dengan melancarkan strategi sejelas itu …?

Aku memanfaatkan seluruh pengalaman masa lalu mencoba merancang strategi terbaik paling memungkinkan. Kata-kata Lyu berikutnya mengejutkanku, sih.

“… tapi aku sudah tahu hubungan komando Jura dan pergerakan si monster.”

Aku tak yakin Lyu sudah memahami pola perilaku yang ditempelkan penjinak kepada monsternya—artinya, hubungan antara gerakan cambuk dengan aksi lambton.

Kok bisa dia tahu dalam waktu sesingkat ini?

“Salah satu opsinya adalah menghancurkan barang sihir, namun begitu monsternya terbebas dari kendali, dia nanti akan mengamuk dan mengurusnya merepotkan. Aku akan secara paksa melumpuhkannya.”

“Uh, oke, mengerti! T-t-tapi bagaimana …?!”

“Jura mewaspadai sihirku, jadi akan kubunuh dengan senjataku.”

Mengabaikan kebingunganku, Lyu menelusuri pedang kayunya.

“Tuan Cranell, kau mengelak saat aku membunuhnya.”

“O-oke, mengerti!”

“Aksi paling menyusahkannya adalah kemampuannya untuk menggali ke bawah tanah. Misalkan kau mengira dia hendak menggali, gunakan Swift-Strike Magic-mu untuk memblokirnya. Aku percaya padamu.”

Petualang kelas atas berpengalaman berbicara tegas bahkan di depan monster luar bia saini.

“Aku pernah melawan lambton sebelumnya. Tidak masuk akal mengira dia bisa mengalahkan kita.”

Rekor yang Lyu—lebih tepatnya Astrea Familia—daftarkan kepada Guild adalah lantai 41. Dia betulan petarung menakjubkan yang berpengalaman bertarung di lantai dalam. Aku terpana oleh kekuatan observasi dan wawasannya, kecerdasannya mengembangkan dan menyuguhkan strategi tanpa ragu-ragu, lebih pentingnya lagi tekad yang mendasari keputusan serta tindakannya.

Jalanku masih panjang sebelum kemampuanku sebagai seorang petualang mencapainya.

“Ayo cepat urus makhluk ini agar kita bisa menangkap Jura.”

Api murka masih membara besar dalam dirinya, si elf berubah menjadi anak panah angin badai.

“!!”

Di saat yang sama, aku mulai lari ke arah berlawanan.

Mata jamak monster itu berputar-putar di kepala, mengikuti kami berdua yang berpisah ke kiri dan kanan.

Demi lebih menarik perhatiannya kepadaku, aku meningkatkan serangan, menggunakan ketangkasan dan kecepatan untuk membingungkannya.

“Hiyaaah!”

“Ergh?”

Di sela gangguan tersebut, Lyu dengan beraninya menerjang dada musuh.

Mengantisipasi setiap gerakan si monster, dia menghindari semua gerakan pertahanannya meski hampir sekali terkena, menyalurkan kekuatan serangannya ke pedang kayunya. Sisik beterbangan, dan kulit binatang buas itu mulai rontok. Tanah bergetar seolah-olah Lyu menumbuknya dengan palu besar, menghasilkan suara retakan yang meluncur melewati gendang telingaku.

Sementara waktu, aku selipkan kembali Hakugen dari tangan kiriku ke sarungnya dan mengulur tanganku yang kini kosong ke kaki kiri. Pelan sekali, aku mengambil beberapa barang dari sarung kakiku yang diperlengkap dan memeriksanya.

Ada ramuan dosis tinggi, ramuan sihir, penawar racun, dan dua buah botol Ramuan Ganda Dosis Tinggi Eliksir Anak Harimau.

Aku tak hemat-hemat menggunakannya.

Kemudian menguatkan tekad lalu mulai membunyikan lonceng.

Argonaut.

Partikel cahaya putih murni berkumpul di sekitar tangan kiriku yang memulai Concurrent Charge.

Memerlukan waktu sekurang-kurangnya dua menit rapalan untuk menghabisi monster kategori besar seakbar ini. Tapi tugasku sekarang bukan memusnahkannya.

Melainkan mendukung Lyu!

“Sialan! Lambton, gali!”

Manusia kucing yang melihat monsternya menderita dikarenakan serangan Lyu, dia mencambuk.

Perintahnya sudah kutebak. Aku langsung mengulur tangan kiri. Sudah aku rapal selama dua puluh detik.

Mengincar kepala musuh yang mencoba menggali ke tanah secepat mungkin, aku berteriak.

Firebolt!”

Kilatan api listrik besar dikelilingi partikel cahaya putih membelah tanah lantai kristal dan lambton.

“Ooooooooooooooooooooooo?!”

Terhempas mundur oleh ledakannya, ular itu menggeliat-geliat di tanah.

Memanfaatkan momen-momen di saat binatang buas tersebut—gagal percobaan penggaliannya—memelintir kesakitan, Lyu meningkatkan kecepatan serangannya.

“Woah?!”

Depan, diagonal kiri, samping, diagonal lagi.

Baik manusia kucing dan aku menganga menghadap Lyu yang menyerang dan mengelak, melepaskan serangkaian serangan beruntun. Kecepatannya meningkat seiring tusukannya, dan kini dia bergerak sangat cepat sampai-sampai meninggalkan ilusi.

Seumpama aku dapat melihatnya dari atas, aku yakin gerakan menerjang dan mundurnya akan membentuk bintang di tubuh tengah monster.

Untaian serangan keras tak putus-putus dari pedang kayunya mengangkat tubuh besar musuh kami dari tanah.

Tidak salah lagi—seketika kecepatan serangannya meningkat, keganasannya pun ikut meningkat.

“Hiyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhh!!”

Pedangnya menyinarkan cahaya biru-hijau dari keterampilannya.

Akhirnya, dia mendaratkan serangan memiring penentuan di sepanjang dada ular, melempar wujud raksasanya menabrak dinding.

“?!”

Mataku melotot keluar dari kepalaku, lalu Jura ngeri, ibaratnya menyaksikan kembali mimpi buruk terburuknya.

Apa dia betul-betul baru menerbangkan tubuh monster kelas sangat atas?

Kepala dan leher memuakkannya yang menjerit kesakitan dan kejang-kejang, jatuh ke tanah. Kristal hancur mengubur tubuh masifnya.

Entah mati atau tak sadarkan diri, aku bahkan terlalu tercengang untuk bersorak atas pertunjukan keterampilan menakjubkan Angin Badai yang mengalahkan monster kategori besar dengan senjatanya belaka.

Aku menduga manusia kucing—yang terjatuh ke tanah—pastinya merasa sama.

“Jura, tinggal kau yang tersisa … berakhir sudah.”

Lyu menghunuskan pedangnya, melintasi ruangan yang saat ini sunyi, dan berjalan menghampiri manusia kucing itu. Kembali tersadar, aku mengikuti. Buru-buru mengisi energi dengan Ramuan Dosis Tinggi, aku berdiri di sampingnya menghadap Jura.

Rekan-rekannya sekarang telah tiada, begitu pula monster yang dijinakkannya.

Dia terlampau trauma untuk melawan Lyu.

Sebagaimana kata-katanya, inilah akhirnya.

Sisa satu tangannya gemetaran, matanya menurun di hadapan sorot tajam lyu.

Setelahnya, rambutnya menyembunyikan matanya—dia pelan-pelan tersenyum.

Ж

“Pasukan garis depan, berdiri teguh! Sekali lagi saja!”

Suara Aisha terdengar sampai ke seluruh ruangan.

Welf dan Ouka menggertakkan gigi mereka, memiringkan perisai, dan sukses menggagalkan serangan monster itu. Tubuh mereka tegang dan darah muncrat keluar dari luka-luka mereka, tetapi tangan dan kaki dibungkus cahaya Level Boost, tidak terlihat tanda-tanda menyerah. Perisai buatan valmar putih keras pun berdiri menjalankan tugasnya. Segera, Cassandra menghujani mereka sihir restoratif.

Si lambton meraung bingung di hadapan dinding pertahanan yang berhasil bertahan dengan keberanian murni dan keterampilan pas sederhana entah segigih apa binatang buas itu menyerang mereka.

Panah dan senjata tajam lain menembus rahang menganga bahkan selagi ularnya meraung.

 Di bagian atas mulutnya terdapat delapan belas lubang, sembilan di kiri dan sembilan di kanan. Saat ini, ditandai luka dari kepala anak panah, pisau lempar, dan podao besar Aisha.

Lubang-lubang itu memberi wormwell kemampuan hebat untuk merasakan panas. Faktanya, lubang-lubang tersebut memungkinkan si monster secara akurat menemui para petualang bahkan ketika berada dalam tanah. Karena organ-organ ini pun mampu membedakan manusia dan monster dengan bereaksi terhadap batu sihir serta mendeteksi sensitifitas tinggi penggunaan sihir dan pedang sihir, mereka mampu kabur ke bawah tanah bila mana diharuskan, alhasil membuatnya sangat sukar dilawan. Bahkan sekarang, wormwell-nya berkali-kali menggali ke bawah tanah, menggagalkan upaya Lilly dan yang lainnya untuk menggunakan pedang sihir mereka. Kecuali menggunakan Swift-Strike Magic, kemungkinannya sulit menyerang binatang buas tersebut.

Dari semua alasan di atas, Aisha mengincar dulu lubang di kepalanya.

Sedangkan Welf bersama Ouka sungguh-sungguh mempertaruhkan nyawa untuk menahan serangan musuh sekaligus mengalihkan perhatiannya, Aisha bekerja sama dengan Mikoto dan petualang lain di penjaga tengah untuk menghancurkan lubang-lubangnya.

Ruangan buntu yang diantar Lilly memang tanah lapang kristal, gugusan-gugusan kristal tumbuh di sekitar bagaikan rumpun pohon. Tiada yang menghalangi lambton yang bisa menggali lantai dan dinding Dungeon, tetapi susunan besar kristal tentu memperlama gerakannya. Mikoto, Chigusa, Lilly, dan Daphne menghujani serangan monster yang dilemahkan.

Berulang kali dia kabur ke bawah tanah, berangsur-angsur mengubah sebagian besar ruangan menjadi dataran datar. Cuma satu lubang tersisa di atas kepalanya

“Eeyaaaaaaaaaaa!!”

“Sekarang, Nona Chigusa!” Mikoto—tempat anak panahnya yang sudah kosong—berteriak selagi Ouka dan Welf mendorong monsternya keluar jalur.

Chigusa yang bersembunyi dalam salah satu sisa rumpun kristal, mengarahkan busur yang ditarik dan anak panahnya ke ular. Hanya mata kirinya yang tampak dari balik poninya.

Seperti Mikoto, Chigusa juga berlatih sama Takemikazuchi dan seorang petarung serba bisa. Dia pemalu dan boleh jadi tak cocok pada peran petualang, tetapi ada satu keterampilan yang melampaui Mikoto: panahan.

“Tepat sasaran dan mematikan—”

Menggumamkan jimat sang dewa perang, Chigusa melepas tali busurnya sambil berkonsentrasi.

Kokutoba, anak panah yang Welf tempat untuknya dengan keterampilan penempa kelas puncak, mendesing di udara dan meendarat pas di lubang utuh terakhir lambton.

“?!”

“Horeee!” sorak Aisha, beralih dari bertahan ke menyerang.

Bagi seekor lambton, kehilangan lubang di kepalanya sama saja dibutakan. Inilah strategi Aisha, bermaksud memainkan jumlah superior party dan topografi menguntungkan. Semuanya dipercayakan kemampuan menembak terlampau cepat penjaga tengah.

Lambton-nya bahkan tak mampu lagi menggali ke bawah tanah. Sesaat lini depan menekan balik monster yang meronta-ronta, si Amazon menyelesaikan Concurrent Chant-nya, loncat mundur, kemudian melempar podao-nya ke tanah.

Hell Kaios!”

Sihirnya, yang disertai kekuatan penuh energi Aisha, dilepaskan.

Gelombang mengiris dijiwai kekuatan mental kuat berubah menjadi guillotine empat meter panjangnya dan menerjang maju. Dilepaskan di samping monster, senjata mematikan tersebut mendarat tepat di kerah merah tua, dan terus maju.

Lambton-nya lenyap, bahkan tak mampu berteriak mati ketika bilahnya mengiris kepalanya, barang sihir dan kesemuanya.

“Yeah!!”

“Kita mengalahkan monster lantai dalam!”

“Aku dan Ouka di lini depan cukup kena hajar … tapi kita berhasil.”

“Ouka! Kau tidak apa-apa?”

“Kita dapat sejumlah drop item pula!”

“Tidak percaya betapa serakahnya kau, Lilliluka …”

Welf mengepalkan tinjunya pada kekalahan hebat monster lantai dalam, dan Mikoto nyengir sembari menyeka darah dari wajahnya.

Welf dan Ouka-lah yang paling terluka dalam kelompok, berdiri sebagai dinding melawan serangan lambton, dan perisai-perisai mereka juga babak belur. Selagi Chigusa membawakan mereka ramuan, Lilly riang memungut taring-taring tajam wormwell dan sisik tengkorak, juga batu sihir yang terlampau murni. Hanya Daphne seorang yang terlihat kebosanan.

Di sisi lain, Aisha menyipitkan matanya, ibarat cukup bangga bisa memenuhi reputasinya, dan tersenyum lega.

“Nona Cassandra, aku buang ranselku dengan semua barang sihir di dalamnya, jadi maukah menggunakan sihir penyembuhan kepada semua orang? Maaf aku tidak berguna …” kata Haruhime, merasa malu, sembari berbalik kepada satu-satunya penyembuh party untuk meminta bantuan.

“Nona … Cassandra?”

Gadis penyembuh berdiri terpaku di tempat, seolah tak mendengar apa pun.

Apakah ini … bencananya?

Dia melihat anggota-anggota party-nya, merasa gembira meluap-luap atas kemenangan mereka di hadapan mayat monster yang sudah berubah menjadi abu.

Ini sajakah?

Suatu waktu, Cassandra percaya monster lantai dalam itu adalah bencana yang mimpi ramalannya peringatkan, tetapi keyakinnya telah dibalikkan.

Tidak cukup mengancam.

Tidak cukup menakutkan.

Tidak cukup menarik keputusasaan.

Ia terlalu cepat berakhir.

Nyatanya tak layak atas istilah malapetaka.

“Bukan ini,” gumamnya, dirinya sendiri memutuskan ini bukanlah kenyataan mimpinya.

Sebaliknya, jika mimpinya tidak lebih dari ini, dia akan lega sekali.

Tetapi pemandangan yang dilihat dalam mimpinya jauh lebih kejam dan jahat. Tiada harapan untuk diselamatkan.

Ini bukan bencananya …!

Tidak. Keputusasaan sejati masih berada di depan mereka.

Ж

“Hehehe …. Hahahahahahahahahahahahaha!!”

Tawa keluar dari manusia kucing seakan mulutnya menggila, bahu tanpa tangannya menyentak naik-turun. Tubuhnya melipat seakan tiba-tiba sakit, dan ekornya—yang putus separuhnya—menari-nari di belakangnya.

Kami berdua menatap Jura yang meringkuk di pojokan, bertingkah konyol ini.

“Pikirmu ini sudah berakhir? Kau salah. Ini baru awalnya!!”

Dia berteriak sambil tertawa-tawa dan air mata menggenang di sudut matnaya.

“Tahukah kau kenapa aku memilih tempat ini untuk upacaranya, Leon?”

“Kau membicarakan apa …?!”

“Ibu Kota Air terhubung di sepanjang zona ini! Seluruh area yang terkoneksi dengan Air Terjun besar bagaikan satu lantai! Kerusakan di satu tempat menyebar ke semua-muanya! Kurang lebih, itulah yang dipikirkan Dungeon!”

Lyu tersentak bak baru disambar petir.

Kerusakan? Menyebar? Dungeon … berpikir?

Rupanya akulah satu-satunya orang yang tidak paham kejadiannya. Tawa vulgar manusia kucing tersebut bergema ke seluruh ruangan.

“Tidak jadi soal ledakannya di lantai 25 atau lantai 27 …. Bagi Dungeon lukanya seakan di lantai yang sama!”

Ekspresi Lyu berganti.

“Aku bahkan memanfaatkan sihir yang kau lepaskan!”

“Tidak mungkin …?!”

“Menurutmu segala halnya akan baik-baik saja dengan kerusakan setingkat ini?”

Dia menyeringai, sedetik kemudian—

Duar!

Langit-langit ruangan kami berguncang.

“Kalian bersusah payah mengejarku—tapi aku ini cuma umpan!”

Fragmen kristal menghujani kami.

Sepertinya ada ledakan di salah satu lantai lebih tinggi, laksana melanjutkan rentetan ledakan yang terjadi di lantai ini.

Lantai 25 sedang menjerit.

“Hentikan …” kata Lyu, menatap ke langit-langit atas selagi aku berdiri teheran-heran di tempat. “Hentikan!!”

Pertama kalinya, suara Lyu tidak tenang.

Dia berteriak panik.

Manusia kucing itu mengabaikannya.

“—lakukan, Turk!” teriaknya.

“Hufft … huff … huuft …!!”

Selagi seorang manusia serigala berlari menyusuri Dungeon, dia merobek ransel rekan-rekannya dan menyebarkan bola merah cerah di dalamnya ke lorong lantai.

Mengabaikan kejaran monster, sekelompok kecil pria terus berlari dan menyebarkan lebih banyak bola-bola merah.

“O-o-oke, kita mulai … aku sulut sekarang!”

Sesudah menjatuhkan semua bola, mereka terjun ke tempat berlindung dan menghunus pedang sihir mereka.

Objek yang mereka lihat merupakan Batu-Batu Inferno. Dikumpulkan sebagai drop item dari flame rock, tipe monster lantai dalam, mereka punya kekuatan api dan ledakan kuat walau digunakan apa adanya.

“Tembak!”

Meringkuk di lorong lantai 25 yang dipenuhi monster, Turk bersama rekan-rekannya membidik bola-bola merah dan mengayunkan pedang sihir mereka.

Api yang ditembakkan dari ujung bilahnya menyebar, kemudian Batu Inferno bersinar.

Berikutnya, ledakan besar mengguncang Dungeon.

“—ahh!”

Monster yang mengikuti kelompok Turk ditelan bola api.

Namun tak berhenti di sana.

Batu Inferno yang sembarangan mereka hambur-hamburkan di lorong telah menyala bak sekering, meledak dan semakin jauh menyebarkan apinya, satu demi satu menghancurkan lorong dan gugus kristal meleleh sama-sama tersapu pusaran kehancuran.

“?!”

“Apa yang terjadi?!”

Gelombang kejutnya mencapai titik lantai tempat Aisha, Welf, dan sisa party tengah berdiri.

Sementara itu, dua lantai di bawahnya, para petualang mendongak seketika ledakan bergemuruh sampai pada mereka.

“B-Bors?!”

“Apa ini? Apa yang terjadi?!”

Di atas mereka, dinding-dinding kristal diledakkan, lantai terbuka, langit-langit runtuh, dan jalur-jalur air dengan kacau membanjiri tepiannya.

Satu bagian lantai 25 berlapis-lapis telah runtuh seluruhnya, kehilangan penopangnya.

“Tanahnya runtuh …!!”

“Lari! Lari!”

Welf bersama sisa party mati-matian kabur menghindari bangunan runtuh.

Dalam gua masif, Air Terjun Besar memuntahkan puing-puing kristal dan mayat-mayat monster, membanyak dan meraung-raung bagaikan gelombang pasang.

Jeritan Dungeon tiada habisnya.

Ledakan terus berlanjut.

Sewaktu cahaya bekerlap-kerlip dan kristal-kristal ruangan gemetar dan melompat-lompat karena guncangannya, manusia kucing berdiri di hadapan kami sambil ketawa-tawa.

“Aku tahu kau akan mengejarku kek wanita sinting! Karenanya akulah umpannya! Rencananya adalah waktu aku nyaris selesai menghancurkan lantai 27, Turk akan mengambil alih lantai 25!”

Dia berteriak gembira ketika kristal jatuh dari langit-langit di sekelilingnya.

“Selagi kau dengan panik mengejarku, para bawahanku meledakkan bom di lantai lain. Jadi gimana rasanya diperdaya?”

Aku merinding seketika si manusia kucing kembali tertawa terbahak-bahak terlepas dari kejadian di sekitarnya. Aku tidak dapat mengikuti logikanya.

Bom?

Hancurkan lantai 25?

Orang-orang ini mencoba melakukan apa?

“Kalian tidak memerhatikan sesaat aku melempar bom-bom itu tidak lama lalu, kan? Kalian ini ceroboh, ya? Benarkan itu, Leon? Hahahaha! Kan? Kena kau”

Sekejap setelahnya, Lyu—yang menatap langit-langit kebingungan—melotot dan merengsek ke manusia kucing itu.

“JURAAAAA!”

Lyu meraih kemeja di dadanya dan menariknya ke tanah.

“Sadarkah apa perbuatanmu? Sadarkah?!” teriaknya.

Tinjunya gemetaran, seolah-olah berusaha menahan emosinya.

Manusia kucingnya tetap tersenyum walaupun dihajar dan tak menjawab pertanyaannya. Malah, dia terus berteriak padanya.

“Kau kira aku berlamas-malasan selama lima tahun terakhir sejak kau menghancurkan hidupku?! Tidak, aku sibuk meneliti! Di mana tempat terbaik untuk memanggil keputusasaan? Bagaimana caraku melakukannya?!”

“Hah?”

“Sepanjang waktu, aku berpikir bagaimana caranya menghancurkan wajah cantikmu itu!”

“—Aaaaaaaaaaaaah!!”

Lyu yang putus asa mencabut belatinya dan dia ayunkan ke manusia kucing.

Tetapi aku menghentikannya.

“Tidak ada gunanya, Nona Lyu!”

“Lepaskan aku! Lepaskan aku!”

Segenap kekuatannya diarahkan untuk melepaskan diri dari kekang sekuat tenagaku.

Si manusia kucing perlahan-lahan bangkit berdiri, cekikikan.

Apa yang terjadi?

Kami semestinya mendesaknya, namun sekarang kamilah yang terjebak!

Sewaktu pikiran itu melintas di benakku—

“?!”

Ledakan terkuatnya mengguncang kami ibaratnya semacam babak akhir besar.

Selanjutnya—

Tangisan Dungeon.

“…”

Bukan suara retakan yang dibuat Dungeon sewaktu monster dilahirkan.

Bukalah guncangan pra terjadi keabnormalan.

Harfiahnya tangisan.

Tangisan sedih nan keras, anorganik, bernada tinggi.

Sebagaimana pisau ditarik busur kencang bertali perak, menembus gendang telingaku.

Atau sopran seukuran seluruh dunia berteriak.

Tangisan keras Dungeon ini membuat instingku menandakan tanda bahaya.

“Aaah …. Aaaaah …!”

Aku tidak mampu menutup telinga, karena masih menahan Lyu, tapi seluruh tubuhku menegang. Baru ketika itulah, kekuatan terkuras dari tubuhnya.

“Seperti waktu itu … lagi …. Aaah, Alize …!”

“Nona Lyu? Nona Lyu?”

Tubuh langsingnya ambruk, dan aku berjuang menopangnya. Aku panik memanggil-manggil namanya saat wajahnya memutih dan membiru.

Aku tidak kenal Lyu yang ini.

Siapa orang bermata hampa dilubangi trauma ini?

“Lari …. Pergilah!!”

“Apa …?”

Dia menatapku seraya menuturkan perintahnya dengan suara putus-putus.

Wajah kami amat dekat sampai-sampai nyaris bersentuhan. Dia mencengkeram pakaianku.

“Pergilah dari sini secepat mungkin!! Biarpun kau harus pergi sendirian—cepatlah!!”

Ketika itulah aku paham.

Sekarang masuk akal mengapa dia berusaha segigih mungkin menyingkirkanku sewaktu menemuinya di lantai ini.

Dia takut sesuatu semacam ini akan terjadi.

Jura berdiri.

“Sudah terlambat!” teriaknya.

Dia melihat ke langit-langit seakan-akan tangan buntungnya menunjuk.

“Kau dan aku, kita berdua terjebak dalam keputusasaan!”

Senyumnya berkedut. Dia juga pucat pasi.

“Datang dan renggutlah kami! Tunjukkan dirimu!” teriaknya, seperti tengah melempar cipnya dengan taruhan nyawa. Suaranya serba kegembiraan.

“Sekali lagi muncullah di hadapan kami!!”

Ж

“…”

Nabiah tragedi berlutut ke tanah.

“Cassandra?”

“Nona Cassandra?”

Dia tidak bisa mendengar suara Daphne. Dia tak bisa melihat Haruhime atau orang lain yang berlari menghampiri. Kilat cahaya menerobos kepalanya. Dia tahu waktu itu telah tiba.

“Aa …. Aaa …”

Tangisan Dungeon adalah ratapan.

Wajahnya sepucat Lyu. Kedua tangannya mendekap kepala, membeku di tempat seketika ramalan terurai dari bibirnya.

“Bencana besar … mendekat.”

Ж

Krak!

Retakan menjalar ke gua lantai 27.

Retakannya panjang, lebar, dan dalam, secara vertikal menyusuri bagian berlawanan Air Terjun Besar.

Hal pertama yang keluar dari retakan tersebut adalah cairan.

Serum ungu dimuntahkan layaknya darah, uap mengepul dari dalamnya. Air biru-zamrud mengkeruh bak dikotori lumpur selokan.

Retakannya meluas, menyebarkan fragmen-fragmen kristal, ibarat Dungeon membelah rahimnya sendiri.

Akhirnya.

Mata merah berkilauan dari kedalaman retakan.

Keputusasaan melepaskan tangisan bayi.

19 Replies to “DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 13 BAB 4”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *