DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 13 BAB 3

Posted on

Niat Sejati Angin Badai

Penerjemah: DarkNier

Api kemarahan.

Itulah satu-satunya cara menggambarkan dorongan yang membakar hatinya.

Perasaan yang menguasainya saat melihat dia dari belakang.

Begitu mendapati sosok dia sekilas.

Seketika mata mereka saling bersilangan.

Emosi dalam hatinya melonjak naik.

Dia masih hidup!

Dia masih hidup!

Dia masih hidup!

Dia—pria itu!

Siapa yang sanggup memadamkan api amarah berkobar-kobar dalam dirinya saat mengetahui itu?

Tangan yang mencengkeram pedang kayunya gemetaran, pedangnya sendiri berteriak marah tidak jelas.

Itulah percikannya. Dia lepaskan jubah keadilan lalu menjadi binatang buas mengejar sekelompok orang yang berteriak ngeri.

Dia tak tahu berapa kali perak bersinar.

Dia tidak ingat sebanyak apa darah menyembur ke udara.

Dia didesak kemarahan sewaktu mengetahuinya.

Tidak, kemarahan adil hanya tampang depannya saja. Sejatinya, dia mungkin cuma ingin melempar emosi mengamuknya kepada mereka.

Sudah, dia sudah tidak tahu mana diri sebenarnya.

Dia cuma tahu tengah didorong maju. Didorong api kemarahan. Oleh emosi hitam.

Dia mengatakan pembenaran kepada diri sendiri, itu cuma perasaan dalam misi.

Kali ini. Kali ini aku yakin.

Pedangnya sangat lapar, hatinya mengamuk-amuk.

Ingatan masa lalu menjerit menyuruhnya menyelesaikan perkaranya, untuk selama-lamanya.

Selagi melaju melalui Dungeon secepat angin, terbesit suatu pikiran.

Teman pertamanya sepertinya mengatakan sesuatu kepada pribadi emosiannya.

Teman keduanya tampaknya memaafkan kesalahan-kesalahannya.

Teman ketiganya, anak laki-laki itu …. Apa yang dipikirkannya kalau melihat dirinya yang sekarang?

Itu kekhawatiran satu-satunya sewaktu kebencian membara keras di balik benak dan dalam dirinya.

Dan ada hal lain.

Dia pura-pura tidak memerhatikan tangannya, tangan yang mencengkeram tubuh mereka, berdenyut-denyut seakan menangis.

Ж

Hanya petualang paling andal dalam party pemburu dan orang-orang yang banyak pengalaman dalam Ibu Kota Airlah yang dipilih untuk melanjutkan ke lantai 27.

Aku bergabung kelompok elit yang dipimpin Bors sebagai perwakilan Hestia Familia. Awalnya, dia kelihatan kesal karena aku seorang dalam kelompok kami yang menjadi sukarelawan, tapi ketika menjelaskan mesti bergerak cepat—dan setelah Aisha memberinya sejumlah perkataan mengancam—dia setuju.

Aku pergi ke lantai 25, Syal Goliath dari Welf dan Cassandra melingkupi leherku serta kata-kata perpisahan Lilly dan teman lain di belakang.

“RAAAAAAAAA!”

Raungan mengerikan bergema di udara berkabut.

Monster menyerbu kami, mata kuning mereka berkilat-kilat.

Mermen.

Monster separuh ikan separuh manusia yang ditutupi sisik biru. Layaknya manusia, mereka berjalan dua kaki, dan tangan bersirip mereka berayun selagi piawainya berlari menempuh bentang alam, senjata alamiah Dungeon. Disertai sisik yang menyelimuti seluruh tubuh mereka, monster tersebut mengingatkanku akan lizardmen bawah air. Mereka salah satu monster kuat yang kemungkinan ditemui di lantai 26.

Para petarung manusia ikan berbondong-bondong keluar dari sungai yang mengalir melalui lorong dan naik ke darat satu per satu, mencengkeram gada kristal, sejenis senjata alam kelas rendah.

“Errrghh!”

Aku lompat ke samping menghindari gada yang menabrak lantai kristal lalu mengayunkan ke bawah Hakugen di atas kepala merman itu.

Aku melancarkan serangan cepat-membutakan yang dengan mudah mengiris lehernya sambil memutar pinggang.

Bobot ringan pisau berkilauan bergerak membentuk kurva sempurna, bagai berenang di udara, lalu menjatuhkan gada kristal lain yang mengarah ke tubuhku.

“?!”

Aku menyelam ke tengah-tengah kawanan, dan merman-nya tersentak terhadap gerakan tempur akrobatikku. Memanfaatkan kelemahan sesaat mereka dengan menaruh tangan ke tanah dan melangsungkan tendangan memutar di atas tanah.

Tendangannya mendarat kuat ke beberapa mermen, membuat mereka tersandung ke tanah, dan menumpuk.

 “Bors!”

“Yeah!”

Sekejap kemudian, Bors dan para petualang lain mengarahkan senjata-senjata mereka ke para mermen yang terjatuh. Hujan pedang besar dan palu sepenuhnya menghajar mereka sampai jadi bubur.

Pada dasarnya, pertempuran strategi mermen adalah bergerak dalam kelompok.

Tetapi seketika pemimpin mereka dibunuh, kelompoknya akan kacau!

Ini kali pertamaku menemui mermen, tetapi berkat pelajaran Eina, aku sudah tahu kebiasaan dan metode menyerang mereka. Aku mempraktikkan metode buku untuk membunuh mereka, tapi aku pun menambahkan serangan secepat petirku.

Mataku tertuju kepada sang pemimpin, dilindungi mermen-mermen lain, selagi dia memekik-mekik menakutkan. Aku menyerbu lurus menujunya.

Syal Goliath memperlambatku mungkin? Mungkin, tapi tidak terlalu! Barangnya kebalikan Hakugen, dan aku dapat merasakannya menekan tubuh atasku saat tengah bersiap.

Mengabaikan reaksi monster sekitar, aku pergi ke pemimpin mermen yang terperangah, mengeluarkan pisau hitam dari pinggangku di tengah gerakan.

“Hiyah!!”

“Gya?!”

Pisau Ilahi yang aku selipkan dari sarungnya merobek tubuh pemimpin. Serangan kerasnya mendarat bagaikan tombak yang menusuk dadanya, lalu tokoh penting mermen langsung hancur menjadi abu.

“Sial, itu light quartz!”

“!”

Sedetik kemudian, aku memutar kepala menangapi teriakan Bors dari belakangku.

Beberapa bentuk kristal ungu kira-kira sebesar ukuran dan bentuk perisai kecil tengah beterbangan di lorong yang tingginya lima meter. Di tengah-tengahnya terdapat satu organ mata kuning pucat yang kelihatannya hanya sebuah mata.

Para light quartz adalah monster anorganik yang melayang di kepala para petualang, dan seperti yang ditunjukkan tampilan luar kristalnya, mereka tak punya cara menghadapi pertempuran jarak dekat. Malahan, cara satu-satunya namun mematikan mereka adalah menembakkan sorot cahaya!

“!”

“Agh!”

Kami melompat mundur berbarengan saat light quartz menembakkan sinar tipis tersebut. Sinar kuning cahaya membakar lantai kristal Dungeon dan dinding-dinding seiring lajunya. Bors bersama petualang lain berebut mencari tempat berlindung.

Kemudian menunggu kesempatan mereka.

Cara khas mengalahkan light quartz adalah membuatnya menguras seluruh kekuatannya, lalu menyerang ketika sedang diisi ulang. Dan memang, tidak ada cara lain yang lebih betul.

Tapi aku—aku terbang langsung menuju sinar cahayanya.

Aku perkirakan sinar-sinar cahaya itu takkan berakhir.

“Hei, Kaki Kelinci?!”

Suara bingung para petualang kelas atas berbunyi di belakangku, aku mencepat.

Musuhku melayang di udara. Terlalu jauh dijangkau pisau.

Firebolt barangkali berfungsi …

Kurasa akan mencoba hal lain dulu.

Mematuhi suara dalam kepalaku, yang hampir mirip kilasan inspirasi, tangan kananku meraih syal di leherku.

Sedetik berikutnya, aku robek dan ayun ke udara bak senjata.

Betulan berat!

Aku memegangnya macam cambuk, lebih tepatnya, rantai.

Syalnya memblokir dan mencegah sinar dari beberapa light quartz sebelum mengenai mereka langsung!

“—?!”

Syal hitamnya berakselerasi ibarat angin puyuh, menghancurkan gugusan kristal berkeping-keping dan menjatuhkan kristal-kristal lain ke lantai.

Para light quartz yang ketiban entah menjadi diam begitu cahaya menghilang dari mata mereka atau kehilangan batu sihir dan beurbah menjadi abu.

“Suksesss …!”

 Perlengkapan pelindung yang dibuat dari Jubah Goliath ini sungguhan hebat. Kelewat tangguh hingga mampu bertahan dari apa pun, entah pedang atau api, tetapi di sisi lain juga bisa berubah menjadi senjata terberat. Aku diam-diam menyemangati syalnya aas hasil luar biasa dengan menangkis semua sinar light quartz.

“Aduh …”

Aku menggosok lengan kanan sembari terus menyeringai penuh semangat. Gerakan tak biasa dan beratnya syal bisa jadi telah melukai urat dagingku. Selagi menggosokkan banyak ramuan ke lengan, aku berkata pada diriku sendiri mungkin tidak terlalu sering-sering menggunakan senjata khusus ini sebelum terbiasa dahulu.

Berbeda dengan Firebolt yang merupakan senjata jarak jauh yang bergerak lurus, jangkauan syalnya cuma menengah, senjata tak langsung. Ini boleh jadi membantuku menambahkan banyak varian metode serangan. Aku sedikit merasa tidak enak menggunakan barang yang dibuat Welf sebagai pelindung dengan cara ini, namun …

“Hei, Kaki Kelinci … ini sungguhan kali pertamamu di lantai ini?” tanya Bors, berjalan mendekat.

Karena aku membunuh semua monsternya, para petualang menurunkan senjata mereka dan matanya menyipit padaku seolah ada matahari di mata mereka.

“Aku bisa bilang apa …? Kau sudah jadi lebih kuat. Aku memindahkanmu ke barisan depan. Aku yakin kerjamu nanti bagus!”

“Bors …”

“Ayo urus semuanya! Aku serahkan semua pekerjaan beratnya padamu. Oh, dan kita bagi drop item langkanya lima puluh-lima puluh.”

“Uh, baiklah,” jawabku, berkeringat. Wajah tulus kebapakan Bors telah digantikan senyum kotor, kek dia kesandung rejeki nomplok menguntungkan.

Di sekitar kami, para petualang lainnya membersihkan pertempuran. Demi mencegah munculnya spesies yang diperkuat serta para Abnormal lain, para pendukung cepat-cepat mengumpulkan batu sihir. Aku melihat-lihat wajah mereka.

Ada elf terlihat jahat berpedang ganda, manusia hewan memegang kapak dengan selembar kain menutupi mulutnya, serta seorang kurcaci berperisai besar dan kapak tempur.

Mereka mendemonstrasikan kehebatan tempur di perjalanan lantai menengah kami …. Namun meskipun Status-Status mereka lebih tinggi dari Welf dan anggota party lain kami, kerja sama mereka seratus persen tidak selaras satu sama lain.

Itu salah satu alasanku mengambil risiko beraksi menghadapi semua monsternya sendirian. Dalam party yang terlampau cepat didirikan, pergantian antara serangan dan pertahanan, cepat-lambatnya tidak berfungsi sesuai ekspektasiku. Sesekali kami bahkan saling mempersulit.

Sekali lagi, aku baru menyadari betapa piawai dan berharganya Lilly, Welf, dan anggota party lain kami dalam cara mereka yang menyesuaikan diri untuk mendukungku.

Ditambah lagi, monster di sini … mereka tentu berbeda dari monster di lantai menengah.

Serangan jarak jauh light-quartz itu merepotkan, dan berbeda total dari api yang dilepaskan para hellhound …. Namun lebih pentingnya, monster di bawah sini, seperti pemimpin merman, sangat cerdas. Jauh lebih cerdas dari monster lantai atas dan menengah.

Mereka barangkali tidak terlalu cerdas, tapi fakta para monster di sini bisa mengkoordinasikan aksi mereka membuat ancamannya tidak terukur.

Aku sungguh tidak boleh membiarkan diriku terlampau percaya diri.

“Oke, aku akan memisahkan party-nya lagi! Kita terlalu tidak efisien ketika bergerak sebagai satu kelompok! Jikalau seseorang menemukan Angin Badai, cobalah mendesaknya ke dalam gua! Skenario paling buruk, kita memastikan keberadaannya di sini dan mundur ke lantai 25! Seandainya kita ambil posisi di sana, suatu waktu Aisha pasti akan membantu kita!”

Bors meneriakkan perintah sementara kami melewati terowongan yang menghubungkan lantai 26 dan lantai 27, melewati kolam terjun di lantai 26 yang merupakan lantai tengahnya tiga lantai yang dihubungkan Air Terjun Besar.

Kami turun menuju lantai 27 langsung, sekarang kelihatannya kami akan berpencar mencari Angin Badai … dia, Lyu.

“Kau, Kaki Kelinci! Ikut aku!”

“Uh, umm, oke.”

Bors membuat keputusan eksekutif dengan membawaku, seorang petualang Level 4, bersamanya. Para petualang lain mengejek dan mencemooh tak setuju.

Apa dia memanfaatkanku sebagai orang serba bisa?

Pokoknya, kelompok beranggotakan lima orang kami berbelok ke jalan samping. Salah satu rute utama menuju bagian yang menghubungkan lantai 28. Bagian Dungeon ini meliputi sedikit kristal biru tua bercorak-corak. Jalur air lebar mengalir tepat di sebelah jalur lahan kering. Alirannya lebih cepat dari sungai di lantai atas kami. Cahaya samar berasal dari gugusan kristal putih, menerangi kegelapan.

Ke manapun aku pergi, aku melihat sisa-sisa lorong tua yang telah runtuh, juga tumpukan kristal yang rupanya hasil reruntuhan gua yang menghalangi jalan kami. Ini pastinya hasil ledakan yang kami dengar sebelumnya.

Aku memimpin kelompok kami, tetapi kami semua terus berwaspada pada monster. Kami maju terus mengikuti jalan menurun tak terhitung jumlahnya dan lereng berkelok-kelok di sepanjang lantai berlapis-lapis.

“Hei, Bell Cranell. Kau ingat waktu kita melawan Goliath?”

“Iya, kita menyerbu si besar itu bersamamu.”

  “Kau bisa mengandalkan kami, Kaki Kelinci!”

“Uh, iya. Baguslah!”

Para petualang kelas atas cakap dalam kelompok kami balas bercanda dan terus mencegah kami menjadi amat tegang.

Ada sepasang saudara manusia hewan dan petarung Amazon maskulin. Aku teramat-amat mengagumi keramahan mereka.

Barangkali berkat pertempuran melawan Black Goliath, warga kota Rivira cenderung ramah memperlakukanku. Para petualang kelas atas lain kerap menanyakan pertarungan epikku melawan minotaur Asterios di Orario dan umumnya kelihatan mengagumiku.

Sudah jadi kehormatan besar bisa diterima dengan cara ini oleh para petualang senior, dan aku tidak dapat menahan senyum pada diriku sendiri soal itu …. Namun aku pun merasa tidak enak hati karena harus menyelinap pergi dari kelompok ini dalam waktu dekat.

Aku mesti melakukannya, sih, demi Lyu. Kurasa bakalan lebih lancar seandainya mencari-cari kesempatan untuk menjauh dari mereka …. Tetapi aku takkan menemukannya misalkan mencari secara acak …

Rentetan panjang ledakan yang kami dengar dalam perjalanan kemari sekarang telah membisu.

Raungan Air Terjun Besar nan jauh bahkan bergema sampai tempat ini, menenggelamkan suara-suara yang barangkali memberi tahu lokasinya. Mencari Lyu seorang di lantai akbar ini akan terlampau sukar.

Tapi tetap saja … bukan berarti aku tak punya tujuan.

Aku meyakinkan Aisha dan yang lainnya untuk mengizinkanku pergi sendiri, dan salah andai bilang aku tidak punya strategi apapun. Aku menyerahkan semuanya ke kekuatan manusia … atau kekuatan monster?

Aku sibuk memikirkan bagaimana caranya membuat mereka menemukannya saat—

“B-B-Bors?!”

Salah satu manusia hewan yang mengintip ke sebuah lorong bercabang dari rute ke kanan kami ketika ini, berteriak.

Dia kedengarannya ketakutan, seolah sesuatu tidak biasa terjadi. Kami bergegas menghampirinya.

“Apa …?”

Aku terdiam seribu bahasa begitu melihatnya.

“Ini sebenarnya apa?”

Bors dan kami melihat ke atas.

Kami melihat lubang.

Lubang vertikal besar yang mengarah ke lantai di atas kami.

Bukan lubang bulat pas seperti di Labirin Gua Batu. Namun, kelihatan mirip sesuatu menggali paksa langit-langit.

Aliran sungai mengalir deras selayaknya miniatur air terjun.

“… belum pernah kulihat lubang sebesar ini di lantai 27 …” erang lirih Bors.

Sesuatu tidak biasa sedang terjadi di Dungeon—sesuatu yang bahkan para petualang kelas atas ini yang berkali-kali melewati Ibu Kota Air tidak pernah lihat sebelumnya.

Di sudut benakku, bel alarm mulai berbunyi pelan.

Ж

“Aku tidak keberatan tinggal … tapi sepertinya kita akan baik-baik saja berkemah di sini sebentar.”

Welf menggosok tenggorokannya seakan ingin cairkan.

Dia berdiri di atas tebing di ujung paling selatan lantai 25. Tempatnya seluas ruangan kecil, cukup besar untuk beberapa lusin petualang. Faktanya, titik persis yang Lilly sarankan membuat pangkalan waktu dirinya dan anggota party lain terpisah dari Bell oleh moss huge, benar memang, cukup besar untuk tujuan itu. Juga merupakan lokasi sempurna buat mengusir serangan monster bersayap.

Beberapa jam telah berlalu semenjak party pemburu, termasuk Bell, berangkat mengejar Angin Badai. Kini, para petualang yang tinggal di belakang tengah fokus dengan tugas masing-masing.

Yang mana, mereka berdebat tentang siapa yang akan bertugas jaga atau bersantai.

“Mereka tidak punya semangat juang tinggi, kan? Tentu saja, kurasa itu wajar.”

“Yah, sulit menemukan sesuatu untuk dilakukan sekarang. Kau tak mau menghabiskan waktu berburu monster yang berdampak di momen-momen kritis menjadi kelewat lelah untuk membantu.”

Mikoto dan Ouka saling ngobrol selagi mengamati para petualang lain. Orang-orang yang tetap mendiami lantai 25 mewakili kelompok Bors yang tidak dipilih menjadi party pemburu elitnya, beberapa bahkan merajuk karena dikucilkan. Individual-individual ini tidak mengira setara dengan Angin Badai perihal pertempuran, namun mereka berharap entah bagaimana mencuri sebagian hadiahnya. Tak susah menebak perasaan mereka yang kudu menunggu hadiah yang sebelumnya digantung-gantung di depan mata. Kebanyakan petualang sementara waktu ini tidak tahu harus melakukan apa.

Bagi Lilly, Mikoto, Chigusa, dan Dahpne—yang belum terbiasa dengan Ibu Kota Air—cuma menatap dari tebing Air Terjun Besar sudah cukup mencegah mereka dari kegabutan.

“…”

Normalnya, Cassandra akan merasakan hal serupa, tapi sekarang, disiksa mimpi ramalannya, dia semata-mata mampu berdoa setulus mungkin demi masa depan dan kembalinya Bell dengan selamat. Dan dia berdiri di tepi tebing terjal, menatap Air Terjun Besar yang berlanjut ke lantai 27.

“… sejauh ini tidak ada yang mencurigakan, keknya,” kata Welf yang sedang duduk.

“Lebih baik tidak usah mencolok banget; dia bisa saja menyadarimu,” Lilly memperingatkan santai sembari membagikan jatah perjalanna.

Welf telah mengamati manusia serigala yang dikhawatirkan Bell.

“Namanya Turk Sledd. Aku bertanya-tanya sedikit, dia sepertinya sudah tiga tahun hidup di Rivira,” katanya.

“Statusnya bagaimana?”

“Asumsikan dia tak membuat laporan palsu, dia Level Dua. Dia nongkrong sama para petualang kelas dua, tapi dengar-dengar dia sudah menyelam ke lantai bawah sendirian beberapa kali,” Lilly tanpa ragu menanggapi pertanyaan Welf bersama orang-orang lain yang merobek potongan daging mentah dengan tangan buat makan.

Warga kota Rivira tampaknya menaruh kepercayaan tertentu pada Turk, tambah Lilly.

  Yang lain tidak tahu persis mesti memanfaatkan apa informasi ini.

Tiba-tiba, Aisha—yang berbaring sambil menutup mata—tersentak.

“Sudah cukup istrirahatnya …. Haruskah aku menyerang?”

“Kau bicarakan apa?”

Seluruh kelompok tengah menatap Aisha yang perkataannya dirasa sama sekali tidak masuk akal.

“Kita cuma buang-buang waktu dengan duduk-duduk dan mencurigai orang lain. Bukannya menurutmu solusi paling cepatnya adalah membiarkanku menghajarnya sampai mampus?”

Ouka dan petualang lain meringis tidak nyaman pada perkataan tidak nalar Amazon Level 4, jelas-jelas petualang paling kuat di sini.

“Wow, itu beneran cara berpikirnya orang Amazon …. Namun jika dia betulan menyembunyikan sesuatu, aku ragu kau akan bisa mengorek keluar informasi darinya. Dan kau barangkali bakalan membuat kawan-kawannya menjadi musuh kita pula,” kata Daphne dengan nada bosan.

“Okelah, tidak ada pilihan …. Kalian semua jaga-jaga saja.”

“A-a-apa yang kau rencanakan?” tanya Mikoto tegang, sekali lagi punya firasat buruk pada niat Aisha.

“Bukannya jelas? Aku mau menariknya ke gua sana dan menelannya. Bibirnya nanti mengendur setelah aku mengangkang di atasnya dan membuatnya mengerang—”

“Aaahh! Aaahh! Aaahh!”

Membuang sikapnya, Haruhime—yang merona sampai ujung telinganya—menjerit-jerit dan tangan mengibas panik menolak saran Aisha. Aisha mendecakkan lidahnya tak puas.

Bukan cuma Mikoto, Chgiusa, dan Cassandra tapi bahkan Lilly dan Daphne pun merona. Dua orang pria, Welf dan Ouka, kelihatan sangat-sangat tidak nyaman. Para petualang lain yang berdiri di sekitar menatap jijik fraksi party campuran karena membuat keributan semacam itu.

“Ini bukan Ishtar Familia!” tutur Haruhime, menutupi wajah merahnya dengan kedua tangan dan hampir ingin menangis.

“—oke, ayo pergi!”

Kala itu, subjek argumen mereka beralih menjadi tindakan.

“Aku tidak tahan menyerahkan semuanya ke tangan Bors! Demi temanku yang terbunuh, Jan, aku akan membantai Angin Badai!”

“Misalkan kita terbawa emosi, kita nanti akan dihajar oleh yang kita kejar. Bagaimanapun, bukannya Bors menyuruh kita menjaga area ini?”

“Kita ini masih seorang petualang! Bukankah kalian paling tidak punya nyali membunuh buronan dan membuat diri kalian terkenal?”

“… aku ikut sama Turk. Duduk manis di sini tidak melakukan apa-apa itu goblok.”

Reaksi ajakan tindakan manusia hewan berbeda-beda: Sebagian menentangnya, sedangkan sebagian memihaknya.

Kelompok memihak jauh lebih kecil dari yang menentang.

“Kami tak ingin membuat Bors marah. Tapi jika kalian ingin pergi, maka pergilah.”

“Aku akan pergi dan menunjukkan kalian semua bagaimana menuntaskannya!”

Ujung-ujungnya, sekelompok empat orang berangkat menuju lantai 27.

Kendatipun para pendukung Bors bertengkar dengan kelompok berangkat, mereka tidak menghentikan kepergian mereka, alhasil Turk bersama orang-orang yang memihaknya menempuh jalan turun yang mengarah ke tepian tebing barat.

“Ayo pergi,” kata Lilly, berdiri. Welf dan anggota lain mengangguk diam merespon kata-kata singkatnya.

Cassandra seorang merasa gelisah. Dia tidak boleh membiarkan mereka pergi tanpanya, akan tetapi, dia pun juga mengikuti kelompok menuju labirin lantai 25.

Ж

Kami tidak bisa mengalihkan pandangan dari lubang besar itu. Aliran air mini jatuh dari sana membanjiri lantai.

Selagi kami berdiri mematung di tempat sambil melihat ke atas, aku menyadari sesuatu.

“Lubangnya mulai pulih sendiri,” bisikku.

Dungeon mulai memulihkan komposisinya. Prosesnya sangat amat halus sampai kau takkan menyadarinya kecuali berdiri diam menatapnya, tetapi perlahan-lahan, langit-langit kristal terisi kembali, kemudian lubangnya menutup.

Menilai situasinya, pemulihannya baru dimulai. Artinya lubangnya barangkali baru-baru ini dibuat.

Dengan kata lain, apa pun yang membuat lubang itu …

“… masih di dekat sini, bukan?”

Pas mendengar perkataan Bors, suhu lorong serasa mendingin. Di waktu yang sama, kelompok kami memasang posisi bertahan. Kami memindai lingkungan sekitar dan menggenggam senjata dengan tegang.

Ada kemungkinan suatu Abnormal tidak dikenal berkemampuan menembus dinding batu Dungeon berada di lantai ini. Gendang telingaku berdenyut suara deras air yang bergema di sepanjang lorong.

Sesuatu dinign menetes ke punggungku.

“… ini bukan perbuatan si Angin Badai, bukan …?”

“Aku ragu dia bahkan mampu melakukan ini dengan sihirnya …. Nampaknya sesuatu menggali dari atas, alih-alih menembus langsung.”

Spekulasi terbang ke sana-kemari antar petualang yang akhirnya lengah setelah beberapa jam kondisi lancar. Aku sadar seluruh party teralihkan pikirannya.

Ada aturan tak terbantah di antara para petualang: Bila terjadi hal tidak biasa di Dungeon, larilah.

Bors berusaha membuat keputusan, muncul kerutan dalam di antara alisnya. Haruskah kami melanjutkan tujuan atau kabur dari lantai ini?

Kami semua merasa bahwa Abnormal ini tidak boleh dibiarkan.

… kenapa sekarang …?

Entah apa alasannya, namun mendadak aku memikirkan wajah Cassandra, khawatir dan khawatir akan sesuatu.

“Kita mesti apa, Bors?”

“Biasanya kita akan cabut dari sini … tapi kita tidak boleh melupakan para petualang yang berpisah dari kita dan yang lagi beristrirahat. Antara kita kejar atau tidak Angin Badai, aku ingin memberi tahu mereka tentang hal ini.”

Aku merasa semakin tertekan saat mendengar percakapan mereka. Ada kemungkinan besar Lyu berada di lantai ini. Andai ada semacam Abnormal merayap di sekitar sini, dia nanti akan dalam bahaya juga. Aku cuma berpikir harus menemukannya secepat mungkin tapi tiba-tiba—

“…?”

Apa kami … lagi diawasi?

Aku mulai sangat sensitif pada perasaan orang lain (atau makhluk) yang melihatku, dan aku merasa ada yang mengawasi. Tetapi bukan perasaan tidak enak …. Aku tak tahu pasti bagaimana bilangnya … tapi mungkinkah orang yang kukenal?

Aku mendongak kaget. Barusan—

“Hei, kau dengar itu …?!”

“Lagu apa tuh? … Apa Angin Badai nyanyi? Tidak, itu …”

“… Lagu yang Bergema dalam Dungeon.”

Sepasang saudara manusia hewan serta seorang Amazon melupakan segalanya sewaktu mereka mendengar melodi indah. Bros pula berdiri menganga dan menggumamkan nama lagu yang para petualang desas-desuskan sendiri.

Aku bergegas menjauh dari mereka seolah-olah terlempar maju.

“H-hei, Kaki Kelinci?!”

“Aku akan periksa!”

Suara-suara para petualang yang mencoba menghentikanku sudah jauh.

Aku merasa mereka kebingungan mengejarku, namun aku berlari lebih cepat. Aku merasa tidak enak, tetapi demi menjauhkan Bors dan yang lain, aku lari secara acak melewati lorong-lorong.

Kapanpun aku menemui monster, aku memutarinya. Kalau tidak bisa, aku gunakan pisauku, dan ketika monsternya mundur ketakutan, aku lari melewatinya. Kadang-kadang menghindari pertarungan dengan melompati kepala mereka.

Lagunya bergerak!

Siapapun yang bernyanyi tengah memerhatikan gerak-gerikku dan bergerak menuju tempat di mana kami bisa bertemu.

Suaranya keluar-masuk, tetapi selalu terdengar merdu. Lagu tenang bagaikan pantai diterangi cahaya bulan, menuntunku maju. Akhirnya, aku sampai di sebuah ruangan besar dengan mata air di dalamnya.

Di tengah mata air, duduk di atas batu kristal dan terus bernyanyi, adalah mermaid yang sangat-sangat cantik.

“Mari!”

Aku memanggil nama mermaid Xenos itu. Terakhir kali aku melihatnya adalah di hari aku melawan moss huge. Sulit percaya itu baru dua hari lalu.

Dia terlihat mirip yang kuingat, rambut panjang berwarna biru zamrud dihias ornamen kerang serta Mutiara. Dia mengenakan atasan bikini terbuat dari kerang karena ada aku, itu melegakan. Kami pertama kali bertemu di lantai 25, namun aku rasa dia dapat bergerak bebas ke manapun dalam Ibu Kota Air.

Aneh rasanya bertemu lagi secepat ini, tapi aku melangkah ke mata air yang tingginya sepinggang lalu berjalan menghampirinya. Dia berbalik menghadapku dan mendorong batu kristal dengan dua tangan. Kemudian memelukku erat-erat.

“Bell!”

Dia lompat ke dadaku bak anak kecil dan memelukku. Aku mulai merona oleh sensasi lembut tubuhnya, lalu menyadari sesuatu.

“Mari …?”

Dia gemetaran …

Aku dapat merasakan ketakutannya, dan itu mengejutkanku. Lalu aku meraih bahunya.

“Ada apa, Mari? Sesuatu terjadikah?”

“…”

Aku bicara lembut untuk menenangkannya. Walaupun aku ingin memanggilnya untuk membantu menemukan Lyu, malah dia yang memanggilku. Kenapa? Dia bahkan bersedia ditemukan Bors dan anggota kelompok lain kami.

Sejenak dia terlihat murung, selanjutnya menggerakkan bibir mungilnya.

“Sesuatu di sini … yang seharusnya bukan di sini …”

Sesuatu yang seharusnya bukan di sini …?

Ketika itu juga, aku memikirkan lubang besar yang kami temukan tak lama lalu.

Entah apa yang membuat lubang itu tengah mengintai di lantai 27?

“Mari, kau tahu sesuatu? Kau melihat apa?”

“Aku tidak tahu … aku tidak tahu dari mana datangnya, dan aku tidak tahu dia pergi ke mana … aku belum pernah melihatnya sebelumnya …!”

Kata-kata Mari dan tindakannya membuatnya lebih muda dari Wiene, dan bahasa manusianya buruk. Aku tahu dia sendiri pun frustasi atas ketidakmampuannya menjelaskan yang dia lihat.

Tetapi yang dia katakan pun sudah cukup.

Sesuatu yang teramat-amat menakutkan Mari berada dalam lantai ini. Aku meremas bahunya dan menanyakan pertanyaan lain.

“Mari, aku lagi mencari seseorang. Kau lihat seorang gadis elf tidak?”

“Elf …?”

“Um, telinganya lebih panjang dariku, dia pun punya pedang kayu, dan dia tentunya menyembunyikan wajahnya … dan dia pun cepat banget.”

Aku memberitahunya seluruh detail konkrit yang mampu kupikirkan.

“Aku beneran, beneran mau menemuinya,” tambahku.

Mari menatapku sebentar. Kemudian dia mengangguk.

Tapi menit berikutnya, dia membenamkan kepalanya ke dadaku dan menggosoknya bolak-balik, seakan-akan bilang tak ingin memberitahuku sebab berbahaya.

“… tunggu.”

Dia sedikit menjauh dariku, menutup mata, dan mulai bernyanyi lagi.

Kali ini, bukanlah melodi memikat tetapi terdengar sumbang: lagu spesialnya pribadi yang bukan untuk memikat manusia melainkan sesama monster. Mari punya kemampuan mengontrol monster yang kemampuannya lebih rendah darinya.

Ketika muncul ombak dari tempat duduk airnya, lolongan balasan menggema kepadanya dari banyak arah. Dia membuka mata lebar-lebar sembari mendengar suara-suara para monster yang memberitahukannya informasi mengenai elf menghilang.

“Sekarang aku tahu, Bell …. Dia di sebelah sana!”

“Makasih!”

Seketika Mari menyelam ke mata air dan mulai berenang, aku naik ke darat dan mulai berlari.

Kayak sebelumnya, aku bergerak melewati labirin yang isinya air dan kristal dipandu mermaid.

Aku akan melakukan apa waktu bertemu Lyu? Haruskah aku menanyakannya apa yang terjadi pada lantai delapan belas? Namun dapatkah aku betulan sempat menanyakannya dengan semua keabnormalan yang terjadi di lantai? Bors dan para petualang lain sedang dalam bahaya …!

Segala macam kecemasan serta pertanyaan beterbangan dalam kepalaku.

Memikirkan semua hal yang wajib aku lakukan membuatku sinting.

Baru saja, kejutan kuat bergemuruh di lantai.

“Ledakan?! Lagi?!” Aku berteriak begitu gemanya menggetarkanku.

Ledakan-ledakannya berhenti sejenak, namun kini dimulai lagi.

Mari yang berada dalam air, tersentak mendengar suaranya. Gelombang air naik dalam sungai tempat si mermaid berenang—bukti kekuatan ledakannya.

Suara dan guncangannya sepertinya datang dari dekat sini!

Aku lari lebih cepat, dituntun gema dan suara yang kedengarannya berasal dari kristal runtuh. Mari membimbingku ke arah yang sama, dan aku mengikuti sirip ekornya memotong air.

Firasat tidak enak membuatku tak tenang.

Aku berusaha mengabaikannya.

Berbelok ke sudut yang dipenuhi fragmen kristal, aku sadar kami mencapai sumber guncangannya.

“Oh tidak …!”

Semuanya berantakan nian. Tanah terbelah membuka dan tidak dikenal total, sementara dinding-dinding kristal telah longsor masuk ke sungai bersamaan jalannya, menghalangi aliran sungai. Air mulai menyembur keluar dari retakan-retakan langit-langit, mengalir bagai aliran air terjun. Kehancuran nampak yang terukir di labirin kristal sepertinya hasil serangkaian ledakan.

Asap melayang ke udara, ibarat semacam barang atau sihir telah digunakan, dan di balik asapnya adalah … sosok manusia.

Mari yang sejauh ini datang bersamaku, menyelam panik sampai dasar air.

Tubuhku kaku, aku menatap ke depan beberapa detik lamanya.

Asap mengepul dan mulai menjelas—

“…”

Aku kehilangan kata-kata tatkala kejadiannya mulai terungkap.

Seorang kurcaci terbaring di tanah.

Terlentang dengan punggung di bawah, kejang-kejang dan berdarah.

Di sana, berdiri dengan satu kakinya menginjak bahu kurcaci tersebut, adalah seorang wanita.

Wanita persis sama yang datang menyelamatkanku berkali-kali sedang memunggungiku, ujung jubah panjang layaknya mantel berkibar-kibar.

Dia menusukkan pedang kayu ke tanah tepat di sebelah wajah kurcaci. Dengan kata lain, dia menghunus pedang pendek berdarah.

Sekilas aku menatap mata biru langit dari balik tudung yang ditarik ke atas kepalanya.

Matanya terbuka lebar, membuatku merinding.

Hatiku gemetar saat melihat sosoknya yang mengekspos emosi terbukanya.

“Nona … Lyu …?”

Aku memanggil namanya, setengah ragu. Aku pernah melihat ekspresi wajahnya sekali sebelumnya.

Telinganya bergerak-gerak.

Waktu terhenti sewaktu dia beralih dan mata biru langitnya menusukku. Betapa terheran-heran wajahnya, aku tahu. Dia Lyu.

Di depan mataku tak salah lagi elf cantik yang aku kenal baik.

“Nona Ly—”

“Kenapa kau di sini?!”

Npaasku tercekat saat dia menegurku keras-keras.

Aku belum pernah mendengarnya bicara semarah itu.

Belum pernah kumelihat tatapannya seperti ini.

Laksana ekspresi … seorang pembunuh haus darah.

“Kenapa. Kau. Di. Sini?”

Sesaat selanjutnya, parasnya mengkerut membentuk varian emosi berbeda.

Apa yang tumpah dari mata kaburnya? Penderitaan? Kesedihan? Ataukah penyesalan?

“Tuan Cranell, tinggalkan lantai ini. Secepatnya.”

Dia bicara dengan suara lirih, nadanya tanpa emosi.

Tanganku gemetaran ibarat ada arus listrik yang mengalir menjalar, sedangkan sisa tubuhku tetap membeku.

“Kau tidak boleh di sini. Pergi sekarang.”

“N-N-Nona Lyu, maksudmu apa—?”

“Ikuti kataku!!”

Dia kembali berteriak kepadaku.

Kata-katanya bukan permintaan melainkan perintah yang tidak mengizinkan pertanyaan, apalagi tentangan.

Di sisi lain, dia terus menembusku dengan mata tajamnya di saat aku berdiri membeku.

“Kau tidak usah melakukan apa pun. Atau mengetahui apa-apa. Jangan terlibat.”

Dia menutur setiap kalimatnya dengan cepat, lalu menarik pedangnya dari tanah, mengambil sesuatu dari kurcaci yang mati, dan bergerak pergi.

“Nona Lyu …. Tolong tunggu, Nona Lyu! Apa yang terjadi? Apa yang kau lakukan?!”

Waktu mulai berjalan lagi.

Aku akhirnya berhasil menggerakkan bibir membekuku dan mengeluarkan beberapa kata.

Aku merasa semuanya kacau, dan tidak tahu harus mengatakan apa kepadanya, namun terlepas dari itu aku terus bicara.

“Apa yang sebenarnya terjadi pada kurcaci itu …?!”

Lyu kelihatan kesal oleh suara gemetarku dan menatap tubuh si kurcaci.

“Aku tidak peduli, bajingan ini bagusnya jadi makanan monster.”

Dia ludahkan pernyataan itu dan berlari, meninggalkan kurcaci babak belur.

Suara yang mengucapkan kata-kata perpisahan itu penuh kebencian. Aku sungguh terkejut sampai-sampai tertegun. Aku ditinggalkan, sama sekali tiada arti.

“Nona … Lyu …”

Aku mau tahu niat sejatimu.

Namun pertanyaan itu tidak sampai padamu.

Jauh dari sampai—malah, kau menolakku dan pergi.

Aku tak paham yang barusan kulihat.

Pikiranku bahkan tidak berputar—isinya kosong. Tidak berguna.

Aku berdiri linglung di tempat.

“Bell … Bell!”

Suara Mari kembali menyadarkanku.

Aku pastinya berdiri di tempat selama beberapa detik, lebih tepatnya menit.

Suara air mengalir kembali memenuhi telingaku, dan kejadian di hadapan mataku kembali bergerak.

“…!”

Dengan kepalaku yang sama bingungnya, aku menghentak tanah. Sesudah goyah sejenak antara memilih mengejar Lyu atau tinggal bersama si kurcaci, aku pilih yang kedua dan berjongkok di sampingnya.

“Duh …”

Petualang kurcaci pingsan itu tidak sadarkan diri. Alat protektifnya separuh hancur, dan badan pendeknya terpenuhi darah. Dia disakiti luka panjang dan tipis, ibaratnya disayat berkali-kali.

“…!”

Aku tidak boleh meninggalkannya di sini, lantas aku mulai merawat luka-lukanya. Setiap saatnya dia berdenyut, seolah tubuhnya mengingat kekejaman yang dikenakan.

Namun selama ini, aku hanya bisa memikirkan Lyu.

Waktu dirinya memunggungiku dan menolakku tidak minggat dari pikiranku. Tanganku gemetar parah, aku tak mampu memberi pertolongan pertama dengan benar.

Sadar diriku lebih syok.

“Nona Lyu …!”

Aku menyelesaikan tindakan perawatan meendesak yang tak boleh ditunda, selanjutnya menyelipkan tangan ke satu lengan si kurcaci lalu berlari. Sesaat lengan dan kaki kurcaci lemas itu mengayun ke sana-kemari, aku pergi ke arah Lyu menghilang, melompati bongkahan kristal yang jatuh dari dinding serta langit-langit. Mari mengejar cepat di belakangku, menyelam ke dasar sungai dan memunculkan wajahnya ke atas permukaan air.

“Fyuuh, fuaah …”

Keringat mengalir turun dari tubuhku yang berlari dalam kecepatan tinggi, masih memikirkan apa yang terjadi.

Aku sampai di tempat kejadian persis setelah terjadi ledakan.

Sihir Lyu pastinya cukup kuat hingga menghasilkan kerusakan sebesar ini di lorong. Memikirkan kembali situasinya, aku yakin serangkaian peristiwa ini selaras.

Serangan bengis sihir?

Pengeboman yang mustahil ditahan?

Apakah Lyu menyerang kurcaci ini dengan niat jelas membunuhnya?

Itu bohong; tidak mungkin …. Bukan dia …!

Aku ingin percaya Lyu bukanlah seorang elf yang tega melakukannya.

Tetapi aku harus apakan kurcaci di tanganku ini, bernapas amat lemah hampir tidak bisa kurasakan?

Apa dia kebetulan ada saja sesudah kurcaci ini diserang monster?

Dan sepintas berikutnya aku tepat di momen yang benar-benar sial? Idenya konyol sekali sampai-sampai aku pengen nangis.

Luka tebasan dalam kurcaci terlihat terlampau mirip dengan mayat di Rivira.

Kelihatannya nyaris tidak bisa disangkal lagi luka-luka pada kurcaci ini adalah perbuatannya.

Mengapa dia menyerangnya? Sebenarnya apa yang membuatnya sampai melakukan ini?

Entahlah. Aku tak tahu apa pun.

Pikiran gelisahku bahkan tidak sanggup menyatukan teori untuk menghibur diri sendiri.

Aku kira insiden Rivira itu karena kekeliruan.

Aku tidak tahu kebenarannya. Tapi …. Raut wajah Lyu, perasaan dalam hatinya … niat membunuh itu …. Apakah nyata?

Bulu kudukku naik ketika mengingat ekspresi wajahnya berdiri diam menusukkan pedang kayu ke tanah, mata dinginnya menatap kurcaci.

Meskipun ada keterlibatan skema orang lain—sekalipun dia tertarik ke dalam sesuatu—jika perasaan Lyu, niat membunuhnya, asli …

Apabila motif yang mendorongnya nyata, maka—

“!”

Aku menggeleng untuk menghentikan pemikirannya.

Aku tersiksa spekulasi yang muncul-hilang ini dalam benakku, oleh ilusi tanganku sendiri yang mencekikku.

Andaikata aku tidak tenang, maka aku akan tenggelam dalam pikiran sendiri.

Seakan Dungeon mengejek konflik batinku, ledakan lain bergemuruh di kejauhan.

“…?!”

Aku mengubah arah dan pergi ke sebelah ledakan.

Raungan monster berbaur gelombang kejut. Betulkan itu jeritan manusia yang samar-samar kudengar tadi?

Firasatku buruk tentang ini. Kegelisahannya takkan pergi. Aku ingin merobek hatiku yang berdegup keras dan berisik. Menyesuaikan kembali seorang kurcaci di atas lenganku lalu bergegas menuju gema ledakan.

Mari berjuang mengikuti langkah cemasku selagi dia berenang di jalur air setapak di samping.

“Mari, kau tidak boleh ikut!”

“Aku mau ikut!”

Mari menggeleng kepala macam anak kecil tidak masuk akal sebagai respon peringatanku.

Aku sangat sadar betapa gelisahnya dia karena tingkah anehku. Namun gelisahnya tidak jadi soal sekarang. Aku tidak boleh menyeretnya ke situasi berbahaya.

Aku mengerutkan kening, selanjutnya dengan sedih mengubah arah, menuju lorong dimana jalur kering berlanjut namun jalur airnya buntu.

“Oh!”

Mari terengah-engah kaget. Mata giok bagaikan permatanya penuh air mata.

“Bell bego!”

Perkataannya terbang ke punggungku selagi aku berlari maju, membisikkan maafku kepadanya. Aku bertemu banyak sekali monster, hampir rasanya seperti mereka menyadari ledakannya dan menuju ke sana sendiri. Para devil mosquito, blue crab, dan bahkan crystal turtle kategori besar menghalangi jalan.

Selain para harpy bersayap dan siren, monster-monster air Ibu Kota Air tidak terpengaruh sihir tipe air. Aku membatasi penggunaan Firebolt untuk menjauhkan mereka, tetapi selagi tangan kiriku mengepal, tangan kananku menggenggam Hakugen dan memotong musuh yang menghalangi.

Setelah menghindari mnster-monster yang mengejarku, aku sampai di tempat tujuan … kemudian melihat pemandangan sama yang aku saksikan beberapa waktu sebelumnya.

“…!!”

Dinding dijebol, dan kristal-kristal jatuh seperti hujan dari langit-langit retak.

Perbedaan satu-satunya dari sebelumnya adalah banyak petualang menjerit dan berteriak.

“Ada apa?!”

“Semuanya hancur total …. Apa yang menyebabkannya?!”

Lokasi ledakannya mengerikan.

Berbagai party-party pemburu yang berpisah di lantai 27 telah mengikuti suara ledakan dan berkumpul di sini. Mereka berkerumun di sekitar seorang petualang yang berbaring di rute utama luas, bongkahan kristal berbagai ukuran tersebar di sana.

“Eh …? Dia dibunuh.”

“Tapi aku tak mengenalnya dari party pemburu kita!”

Cakar tajam mencengkeram hatiku ketika mendengar kata dibunuh.

Korbannya antara manusia atau manusia hewan, berlumuran darah dan terbakar parah di sekujur tubuhnya. Mata hangusnya takkan melihat apa-apa lagi. Bau daging terbakar memasuki lubang hidungku, dan gelombang mual menguasaiku.

Tangan dan kakiku merinding.

Emosi kacau membuat otakku tak terkendali.

Aku mundur syok.

Rasanya seakan dibaptis oleh lantai bawah. Ini berbeda dari lantai menengah dan lantai atas—menemui kematian sesering ini.

Pikiran tak koheren terlahir lalu mati saat aku mencoba kabur dari kenyataan yang menghadapiku.

“…?!”

Ada korban di sini juga?

Apakah ini pun … perbuatan Lyu?!

Kurcaci di lengan bawahku pun rasanya kian berat. Mendadak aku tersadar tubuhku berlumuran keringat.

“Kaki Kelinci! Kau dari mana saja?!”

“… Bors!”

Begitu teriakan marah terbang bolak-balik dalam Dungeon, suara yang bahkan lebih keras dari panggilan lain memanggilku. Aku membaringkan si kurcaci dan pergi menemui Bors beserta sisa kelompok kami yang berjalan mendekatiku.

“Maaf aku pergi sendirian. Tapi apa yang terjadi …?!”

“… kami baru saja sampai di sini pula, lantas kami sendiri tak tahu. Namun tentu saja ini perbuatan monster. Satu-satunya orang yang melakukan hal semacam ini …”

Sekarang ini, Bors menyadari kurcaci yang terbaring di tanah penuh luka-luka pedang.

“Hei, ada apa sama kurcacinya?”

“O-o-orang ini—”

“Jangan bilang Angin Badai yang melakukannya …?!”

“Uh …”

Aku tidak bisa mengonfirmasi atau menyangkal dugaan Bors.

Aku merasa tidak sanggup membelanya kali ini.

Tapi aku harus bilang apa? Lyu yang membuat semua luka ini, tapi dia bukan orang jahat, barangkali takkan berakhir bagus.

Aku cuma dapat berdiam diri ketika Bors dan yang lainnya mambawa pergi petualang terluka dan mulai merawatnya.

“Tidak berguna; dia tak membuka matanya. Apa ada orang di sekitar sini yang bisa memberi tahu kami kejadiannya?”

“Bors! Ada yang selamat di sini! Dia sadar pula!”

Baik Bors dan aku pucat pasi mendengar kata-kata tersebut. Kami bergegas menuju petualang yang berteriak kepada kami. Kolaps ke tanah di samping dinding kristal adalah seorang manusia kucing.

“…”

Aku terlampau syok melihat kondisinya hingga perutku serasa mual.

Pertama-tama, dia kehilangan satu lengan.

Lengan bawah yang semestinya menonjol dari lengan baju berlumuran darah di bawah lengan atas tertebasnya, tidak terdapat apa-apa.

Wajahnya diselimuti luka bakar, tebasan, serta darah, perihal telinga yang menandainya sebagai seorang manusia hewan … juga hilang satu.

Lukanya banyak sekali sampai-sampai ingin mengalihkan mataku.

“Hei, kau bisa bicara? Apa yang terjadi di sini?”

Pertanyaan Bors lebih mirip teriakan.

Jari-jari tangan kiri manusia hewan itu masuk ke mulutnya, menahan gemeretak giginya. Dia menatap Bors ibaratnya baru sadar dia ada di tempat. Kemudian tubuhnya meringkuk—tubuhnya amat tinggi dan kurus bagai seorang manusia kucing—berlagak berlebihan menjadi kucing.

“A-A-Angin Badai … Leon yang melakukannya …”

“Kau lihat dia, Angin Badai?!”

“Dia melempar sihirnya kepadaku, terus aku lihat kilat cahaya, dan semuanya memutih …!”

“…!”

Bors terpaku pada nama kedua yang disebut manusia kucing, sementara aku syok terhadap semua perkataannya. Selagi aku berdiri membeku, Bors condong maju dan hendak menanyakan posisinya sekarang namun seorang Amazon anggota party kami menghentikannya.

“Tunggu, Bors, kita mesti merawatnya dulu—”

Manusia kucing itu membelalakkan matanya ketika wanita Amazon itu mengulurkan tangan.

“Jangan sentuh aku!”

“?!”

“Jangan sentuh aku, tolong …!”

Dia makin pingsan ke tanah berusaha menjauh darinya. Dengan satu tangan tersisa, dia mendekap kepala dan berkali-kali tersentak seolah-olah ketakutan. Pemandangan menyedihkannya bukan main sampai Bors dan yang lainnya tidak tahu harus bilang apa.

Mereka nampaknya sudah gila …. Tidak, lebih tepatnya panik.

“…? Hei, kau bukannya … Jura Harma dari Rudra1 Familia?”

Sewaktu manusia kucing itu menggosok rambut acak-acakannya ke lantai, terlihat ornamen telinga menjijikkan dibuat dari tulang monster, dan satu mata Bors membeliak kala identitas manusia hewan itu mulai dia ketahui.

Manusia kucing itu pun tergerak kaget.

“Bors, kau kenal dia?”

“Iya …. Dia biasanya punya nama Kucing Pedagang Budak. Dia dulunya bagian Evilus yang disebut Rudra Familia …. Fraksi yang menjebak dan membantai Astrea Familia familianya Angin Badai …”

Sepanjang hari ini baru sekarang hatiku paling berdebar keras.

Jadi inilah musuh Astrea Familia … musuh Lyu?

“Lima tahun lalu, ketika Angin Badai menggila, dia membantai habis Rudra Familia. Menghabisi semua anggota mereka. Paling tidak kita kira dia membunuh mereka semua … namun kayaknya yang satu ini selamat.”

Bors mengabaikan muka terkaget-kagetku dan melotot ke seorang pria yang dipanggil Jura.

“I-iya …. Akulah satu-satunya orang yang selamat dari serangannya—serangan Leon, si bajingan itu!”

Manusia kucing yang gemetar hebat, tidak menyangkal dia adalah bagian Evilus.

Dia terlihat kesal, tetapi dia menatap Bors dan kami semua dengan tatapan memohon.

“Tapi sejak saat itu aku tidak melakukan hal buruk apa-apa …! Sejujurnya, aku bersembunyi di dungeon suram itu …!”

“…!”

“Namun kemudian Leon menemukanku, dan aku kabur ke sini …!”

Kala Bors dan sisa anggota kelompok kami mencerna informasi mengejutkan ini, akulah satu-satunya orang yang sepertinya menyadari dungeon yang dia maksud bukanlah dungeon ini. Melainkan Knossos.

Sesuai perkataan pemburu kejam Ikelus Familia, dungeon buatan manusia merupakan tempat berkembang biak serta persembunyian Evilus. Dan orang ini berkeliaran di bawah sana.

Tapi …. Oh, oke …. Kini segalanya mulai masuk akal.

Bahkan aku pun dapat menebak-nebak semua hal ini apa.

Lyu mendapati musuh mantan familianya masih hidup, dan tatkala api amarah sekali lagi berkobar, dia menyerahkan diri kepada hasrat balas dendam.

Dan sekarang Lyu mengejarnya mengikuti dikte emosi liarnya: bukan dengan air mata atau darah tetapi kekejaman dingin yang kusaksikan di wajahnya.

“Apa Jan yang dibunuh di Rivira ada hubungannya sama orang ini …?”

Tangan Bors dan petualang lain bergerak ke mulut, seperti akhirnya mereka mengerti. Kepalaku memutar ulang kejadian yang kami bayangkan.

“Aku mohon—tolong aku …! Aku takkan melakukan hal jahat lagi. Serahkan aku ke Guild, apa punlah, lindungi saja aku dari dia …!”

Manusia kucing itu merendahkan dirinya ke tanah dengan sikap bersujud dan memohon.

Tidak kelihatan pura-pura. Salah, teror Angin Badai dan mata serta tubuh gemetaran itu tentunya asli.

Aku terjebak antara kenyataan di depan mata dan kejadian yang dibayangkan kepalaku.

Aku tidak sanggup memilih kebenarannya apa.

Aku terus saja menanyakan sosok Lyu yang melayang di pikiranku, apakah itu benar?

Ж

“… kalian masih mengikuti kami?”

“Hentikan pertanyaan anehmu. Kita akan menghajar Angin Badai sampai jadi bubur, kan? Tentu saja lebih baik bergerak dalam kelompok.”

Aisha menyeringai, tidak malu, selagi Turk si manusia serigala itu menoleh menatapnya.

Mereka berada di lantai 25. Lilly dan yang lainnya mulai mengekor kelompok empat orang Turk, tetapi tak lama setelahnya mereka bergabung bersama.

Mengikuti seseorang tidak terdeteksi dalam Dungeon itu mustahil. Begitu monster mendapati seorang petualang, dia akan melolong dan meronta-ronta, alhasil mengakhiri gerakan diam-diam apa pun.

Barangkali sedikit lebih memungkinkan untuk petualang solo, tapi bagi Lilly dan orang lain yang ingin party mereka tidak terpisah, maka opsi tersebut dikesampingkan.

Opsi paling sederhananya adalah bergabung saja dengan kelompok yang ingin mereka ikuti. Demikian, andaikan kelompoknya tidak mendapati hal mencurigakan, kelompok tersebut bisa memonitor mereka atau mengekang tindakan mereka.

“Bagaimanapun, kita memburu petualang Level Empat,” ucap Aisha, menyampaikan maksudnya.

Turk berbaik ke jalan di depannya. Para petualang lain dalam kelompoknya terus memandang curiga ke belakang dan berbisik-bisik.

Kelompok Lilly mengikuti kelompok Turk menyusuri Dungeon dari jarak tiga meter jauhnya.

“Mereka pasti mengawasi kita juga.”

“Yah, wajar sebal ketika party lain nempel padamu seperti ini …. Namun tetap saja, wataknya yang suka naik pitam meresahkanku.”

Welf dan Lilly bicara lirih. Di sisi lain, Ouka mengawasi Turk yang mengantisipasi serangan monster. Seluruh kelompok punya tensi tegang yang berbeda dari biasanya.

Cassandra sendiri merenung.

Dia memikirkan Bell di lantai 27.

Aku ingin tahu apakah sepatutnya memberi tahu dia mimpiku …. Namun jika dia tahu isi ramalannya, dia pasti akan …

Alasan dia tak memberitahu Bell adalah karena dia merasa tidak mampu mengubah tekad kuat Bell yang setara kuat takdirnya. Ditambah lagi, ada hal lain.

Bila Angin Badai adalah akar segalanya …

Pikiran Cassandra mulai takut.

Angin Badai—Sang elf ditakdirkan membimbing segalanya menuju kehancuran, memaksa api putih mengaum memutar takdir kejam—rupanya merupakan asal utama kemalangan mimpinya. Dan memang betul, sekiranya segala tindakan dia dari pembunuhan Rivira hingga bencana besar?

Seumpama Angin Badai adalah penyebab semua kemalangan ini, maka usaha Bell menyelamatkannya akan sia-sia. Lebih buruknya lagi—orang yang dia percayai akan mengkhianatinya, lalu Bell akan menghadapi kenyataan pahit.

Sungguh takdir kejam bagi bocah itu.

Selalu saja sama. Aku khawatir, aku bimbang, aku menderita, aku gagal … terus aku menyesal.

Kecemasan dan kesedihan memenuhi wajah Cassandra selagi dia bengong ke jalan air yang mengalir melalui Dungeon.

Tidak seorang pun mengetahuinya, dan tidak ada yang memahami.

Aku harus melakukan apa untuk membantunya?

Tiada jawaban mendatanginya.

Ж

Para petualang di sekitarku masih gempar.

Kelompok yang berkumpul mengernyit sebab bau daging terbakar. Seluruh lorong yang runtuh, bukti kekuatan destruktif ledakan hebat. Beberapa monster kelihatannya terkena bencananya pula, sebagaimana dibuktikan mayat mermaid yang tergeletak di atas tanah, tubuh bagian atasnya hancur.

Beberapa petualang menyumpah serapah para monster yang masih berkeliaran di lorong-lorong lain, tetapi kami yang masih berada di sekitar korban telah tenggelam kebisuan.

Manusia kucing bernama Jura belum hilang takutnya pada Angin Badai. Umur sebenarnya tak jelas, barangkali karena efek Statusnya, namun kelihatannya dia masuk pertengahan tiga puluhan. Mungkin sebab kelelahan, dia punya pupil bundar hitam mencekung di sekitar mata berbentuk badamnya yang serba takut.

“Bors …. B-b-bagaimana?”

“Kita tak bisa berbuat banyak, menurutku …. Kalau kita serahkan dia ke Guild, kita cuma akan dapat bundel uang hadiah lumayan. Misal dia dibunuh Angin Badai, dia akan menghilang saja,” jawab Bors berlagak, seolah menyatakan ketidaktertarikannya kepada keadilan.

“Terus kita di sini buat apa? Untuk membunuh elf yang membunuh sesama warga kota kita, kan? Pekerjaan kita belum berubah. Pertanyaannya kita dapat uang lebih atau tidak.”

Sikap tegas Bors menghilangkan keraguan wajah para petuaang lain. Bagiku, walaupun keputusan buruk. Mukaku menegang.

Tapi, aku pun bimbang.

Aku tidak bisa membaca niat sejati Lyu.

Apakah dia betul-betul dikuasai hasrat balas dendamnya?

Apakah dia didorong amarah untuk membunuh para petualang itu?

Terus …

Kepalaku menangkap hal-hal lain.

Aku tidak tahu apa itu … tapi sesuatu mengenai situasi terkini, kejadian-kejadian ini, membuatku muak.

Dari balik benakku, sebuah suara berteriak bahwa ada sesuatu yang ganjil.

Suatu ingatan berusaha bangkit menuju permukaan kesadaranku.

… tapi aku tidak mampu menangkapnya.

Pikrian dan emosiku bercampur aduk. Aku tak tahu mana yang benar atau harus percaya apa!

Betapapun para dewa bilang kalau aku sudah dewasa, aku masih Bell Cranell yang sama.

Gampang bingung dan tak dapat membuat keputusan sendiri. Aku masih aku menyedihkan yang dulu, terus-terusan tidak yakin mesti berbuat apa—

“…?”

Selagi menekan tangan ke sisi kepalaku untuk menyingkirkan perasaan putus asa ini, sepatu botku menginjak tanah—kemudian mengenai sesuatu.

“Ini …”

Fragmen merah tua.

Sepertinya berasal dari dalam Dungeon.

Aku menjepit sesuatu yang kelihatan bak sepotong kecil kristal merah tua di tengah jemariku dan menatapnya baik-baik. Akhirnya, aku membuka mata lebar-lebar.

“Itu—Angin Badai?!”

Nyaris di waktu bersamaan, seseorang menggemuruhkan nama Lyu.

“?!”

Kepalaku beralih ke arah sumber teriakan.

Di kejauhan jauh, di salah satu banyak lorong, aku sekilas melihat sesuatu terbang di sepanjang jalur air.

Jubah panjang tertiup angin, menyerbu kami secepat kilat.

“Tangkap dia, pasukan!!”

Bors berteriak sangat keras, urat nadinya keluar. Dia sepertinya berpikir momen-momen kritis telah tiba.

Aku tak sempat menghentikan mereka. Tidak seorang pun bersedia mendengar dalih atau penjelasan. Menanggapi perintah pemimpin mereka, para petualang menyeru perang kemudian membanjiri elf tunggal itu.

Tapi Lyu bahkan tidak melirik mereka. Malah, meraung tepat kepada kami, ekspresi mengerikan di wajahnya.

“JURAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!”

Sulit percaya raungan amarah sekuat itu bisa ada dari sosok lembutnya.

Teriakannya bergema hingga tempat kami berdiri, cukup jauh darinya. Mengguncang dinding kristal Dungeon.

Meskipun dia mungkin tak bermaksud demikian, suaranya membuat setiap petualang yang menyerbunya gemetar ketakutan, seakan-akan mendengar raungan monster.

Dia terus menerjang langsung menuju pria yang namanya dia teriakkan.

“Minggir!!”

“Aaaah!!”

Pemandangan di depan mataku tidak dapat dipercaya.

Sang Angin Badai menembus dinding para petualang kelas atas—termasuk beberapa Level Tiga—selayaknya anak panah.

Pedang kayunya menumbangkan seorang kurcaci di garis depan kemudian melancarkan serangan tambahan, menghantam seorang manusia hewan yang menerjangnya ke dinding. Amazon-Amazon dan manusia-manusia diinjak-injak selagi mereka berusaha menahan serbuannya. Pedang Lyu sungguhan memancarkan cahaya warna biru-hijau. Berdenyut-denyut sesuai mata langit birunya, dan setiap kali berdenyut, petarung keras lain diterbangkan ke udara.

Apa dia bermaksud mengalahkan kedua puluh petualang kelas atas semuanya …?!

“JURAAAA!”

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaah!!”

Saat elf bertopeng itu menatap tajam dari balik tudungnya dan berkali-kali meneriakkan namanya, manusia kucing tersebut memucat ibarat dunia tengah berakhir. Lalu dia berpaling dari Lyu dan kabur.

Aku kaget melihat sosok kaburya, tapi party Bors melakukan hal sebaliknya: Senjata diangkat, mereka menjilat bibir pada Angin Badai yang menembus dinding para petualang.

“Dia menggunakan semacam sihir atau keterampilan! Hentikan dia! Kalau saja kita dapat memperlambat momentumnya, bisa kita hajar dia sama jumlah!! Jangan biarkan dia mengungguli kita!”

Bors bukan cuma kepala Rivira, dia pun menunjukkan kepercayaan diri petualang Level Tiga tingkat puncak, apalagi komandonya cepat dan tepat. Dia yakin dengan banyaknya sumber daya di pihak kami, kami mampu mengalahkannya. Perintahnya memicu semangat juang kakak-beradik manusia hewan dan Amazon yang menyerbu maju.

Tapi.

“…”

Tepat sebelum mereka saling kontak, tubuh elf itu tiba-tiba berganti dari serbuan kekuatan penuh menjadi pusaran berputar-putar.

Selagi dia berputar-putar di atas, jubahnya menyembul tajam sambil menembus angin, dia menyelinap melewati party Bors yang siap siaga. Selanjutnya, selagi mereka berdiri linglung karena dipermainkan, Lyu menggetok belakang kepala mereka dengan pedang kayunya begitu sukses menyelinap. Mereka dihempas, diketok tak sadar.

Keterampilannya dahsyat sekali, membuat napasku tercekat dan terperangah tidak etis untuk situasi saat ini.

“Apa, dipikir kau ini orang Loki Familia atau semacamnya?!”

Bors yang dengan singkat menjadi orang terakhir yang berdiri, meludah dan mengutuk sembari mengacungkan kapak perang besarnya. Namun sebelum dia hendak mengayunkan bilahnya ke petarung elf luar biasa tersebut, petarung yang sungguh menjelmakan badai dan menginspirasikan julukannya—

“—? Hah? Kau elf sama yang … Ugh!!”

Bors berhenti sejenak ibaratnya mengingat sesuatu—kemungkinan besar pertempuran di mana mereka berdua saling bertarung bersama-sama di lantai delapan belas. Di sela momen-momen keraguannya, pedang kayu Lyu menabrak tanpa ampun sisi wajah Bors.

Wajahku sendiri berkedut ketika melihat tubuh besarnya menabrak dinding, darah muncrat dari hidungnya sewaktu mukanya menghantam permukaan keras.

 “Uh … bentar! Tolong tunggu dulu!”

Sekarang aku sendirian, dan aku berteriak seketika Lyu menyerbuku.

Aku tidak mau bertarung. Aku mau mendengar. Aku ingin mendengar cerita menurut sudut pandangmu sendiri.

Itulah satu-satunya pikiran dalam benakku selagi sedang memblokir jalan majunya.

“Kau menghalangi.”

Dia sepertinya tak sempat memikirkannya.

Mata birunya menyipit dari balik tundungnya, dan saat berikutnya, kaki kurus dalam sepatu botnya menghentak tanah.

“?!”

Dia barusan melompati kepalaku.

—dia mengakaliku!!

Aku kagum dia sanggup memanfaatkan momentum terakhirnya dan digunakan untuk melompati kepalaku, hampir menyentuh rambutku. Dia tidak berbalik seketika mendarat di sisi lain—lepas landas begitu saja bagaikan angin.

“Kejar dia, Kaki Kelinci!!” Bors berteriak setelah mengeluarkan kepalanya dari dinding.

Aku mendengar suara marah di belakangku; Aku punya kemampuan paling tinggi dari semua orang di party pemburu ini, dan dia ingin aku mengejarnya.

Praktis sebelum menyelesaikan kalimatnya sendiri, kakiku menghentak lantai kristal untuk mengejar Lyu dengan alasanku sendiri.

“Hiyaaah!!”

Sesudahnya, aku nyaris tidak bisa melihat jubah panjangnya. Aku berlomba mengejar dirinya yang mengejar si manusia kucing. Sesaat berikutnya, boleh jadi karena dia berbelok ke sudut lorong.

Aku berhenti di depan banyak lorong bercabang, tak yakin mesti pergi ke mana. Dengan sangat cepat aku memilih lorong. Lorong yang kupilih bergema raungan dan jeritan mengancam monster.

Mengikuti suara yang kuduga teriakan-teriakan binatang buas yang dihabisi pedang Lyu, aku terus berlari. Seolah membenarkan dugaanku, aku melewati tubuh monster menggeliat-geliat yang telah dia singkirkan serta tumpukan abu teratur bak jejak kaki.

Metode ini ada batasnya, dan tidak lama segera aku sepenuhnya hilang jejak elf terlampau cepat dalam Dungeon besar ini.

“Dia pergi ke mana …?”

Perasaan mendesak meningkatkan panikku, terlebih keringat tidak nyaman memenuhi tubuh.

Sekarang ini, aku mendengar rapalan.

Kini, jauh—di surga tak terbatas—”

Aku menghentikan langkah.

Fragmen rapalannya terus bergema dari suatu tempat dalam Dungeon, tidak memedulikanku.

Datanglah ke diri bodohku—kepada yang telah mencampakkanmu—

Kekuatan sihir mengumpul.

Intuisi petualangku bergetar ketakutan sesaat bunyi gema akibat pengeboman mencapaiku, bahkan dari jauh, bagaikan air meluap dari wadahnya.

Selanjutnya, jelas bahwasanya kekuatan sihir telah sampai titik kritisnya.

Buntinglah oleh cahaya bintang, kalahkan musuhmu!”

Mustahil!!

Intuisiku benar.

Luminous Wind!!”

Ada suara gemuruh, dan lorong di hadapanku hancur berantakan.

“?!”

Sebuah bola cahaya raksasa melintasi jalan di depanku, membawa serta badai angin.

Tanganku menghalangi wajah kala hujan meteor beterbangan di kanan-kiri.

Bersamaan raungan buas kekuatan sihir, Dungeon dipenuhi jeritan.

“… tembus dinding Dungeon?”

Aku menampik kejutanku pada kekuatan konyol ini dan berjalan masuk menuju terowongan yang baru dibentuk. Anehnya, jejak ledakan tersebut menuntunku kepada Lyu.

Sesudah melewati empat dinding kristal hancur, aku sampai dalam ruangan besar. Ada banyak lahan kering, tetapi sejumlah jalur air pun mengalir ke dalam ruangan. Boleh jadi dikarenakan sisa-sisa panas bola besar sihir cahaya, uap mengepul dari air dan membuat kabut tipis.

Tatkala menerobos dinding rusak dan masuk ke ruangan, aku mendapati seorang manusia kucing di kakiku, meringkuk.

“Kau …”

“… K-Kaki Kelinci? T-tolong aku! Selamatkan aku dari dia!!”

Tentu saja aku tidak usah bertanya siapa dia yang dimaksudnya.

Mendadak, bayangan samar berwujud humanoid keluar dari kabut di tengah ruangan dan mulai menjelas.

Bayangan seorang elf, pedang kayu di tangannya dan tatapan berbahaya.

“Nona Lyu …!” teriakku, sembari menyipitkan mata.

“… jadi kau mengikutiku ke sini, ya, Tuan Cranell?”

Sorot mata tajamnya melihatku, seolah-olah baru sadar aku hadir.

Hal demikian saja sudah membuatku tak yakin mesti bilang apa. Aku hampir merindukan kata-kata yang digumamkan dari balik topengnya.

“… kenapa kau selalu melakukan ini?”

Kemudian, bicara lebih keras lagi—

“Minggir. Kau menghalangiku. Aku tidak bisa mendekatinya kalau kau di sana.”

Dia melihat manusia kucing di belakangku.

Menghunuskan pedang berlumuran darahnya, dia pelan-pelan menghampiri kami, sepatu bot panjangnya menggores tanah keras.

Si manusia kucing masih meringkuk di tanah, mengerang terhadap pemandangan mengerikan tersebut.

“Satu-satunya kesalahanku adalah aku tidak menghabisimu di kali terakhir. Aku arogan berasumsi telah membunuhmu tanpa memeriksa benar-benar, dan aku menyesalinya.”

Suara Lyu penuh kebencian selagi mengutuk pekerjaan buruknya sendiri.

Sepanjang waktunya dia bermonolog, matanya menusuk si manusia kucing.

“… seharusnya aku pastikan kali terakhir itu kau mati.”

Ketika kata mati terjatuh dari bibirnya, aku hampir pingsan. Sebagaimana mata dingin mendungnya, wajahnya telah berubah. Bukan wajah elf serius yang bekerja di kedai maupun petualang gagah yang datang membantu kami berkali-kali.

Wajah seorang pembalas dendam.

Betulkan dia Lyu?

Tidak, dia …

… Angin Badai?

Di saat kami berada di lantai delapan belas bersama, dia memberitahuku sesuatu perihal masa lalunya. Kini karakter dari cerita tersebut kelihatannya muncul di depanku. Elf berbeda, elf yang belum pernah kutemui sebelumnya.

“Namun kita akan tuntaskan hutangnya di sini saat ini juga—kalkulasimu dan semacamnya,” kata Lyu tegas sambil menarik topeng dari wajahnya.

Manusia kucing itu berteriak saat Lyu berjalan stabil menghampirinya, seakan-akan dia tidak mampu lagi menahan terornya sendiri.

“Kaki Kelinci! Bunuh dia; aku mohon! Rasanya buruk; seluruh tubuhku sakit; pendarahannya tidak mau berhenti …! Lengan yang dia potong …!”

Sepertinya dia tengah menderita selagi memeluk tubuh berdarah miliknya dengan lengan tersisa. Aku merinding pas menatap belati Lyu.

“B-benarkah? Bahwa kau memotong lengan pria ini …?”

“… iya, akulah yang memotong lengannya. Aku juga memotong telinganya. Terus kenapa?!”

Amarah dan penyesalan bercampur tak terpisahkan dalam suaranya. Dia sudah jelas mengakui perbuatannya. Aku jatuh ke lantai karena lututku kolaps.

“Cepat minggir!”

“N-Nona Ly—”

“Kubilang minggir!!”

Ujung pedang kayunya mengarah kepadaku.

Kemarahannya cukup menyusutkanku, terlepas dari Level Empat atau bukan. Detak jantung yang bergemuruh di telingaku dan keringat yang bercucuran dari tubuhku sudah hendak sampai puncaknya.

“Kalau kau ikut campur, kau pun akan kusingkirkan …. Aku tidak punya waktu untuk itu.”

Kata-katanya membekukan tenggorokanku.

“Tolonglah, Kaki Kelinci …. Selamatkan aku …!”

Ratapan manusia kucing tersebut membuatku makin-makin cemas.

Di depanku ada ultimatum di belakangku ada permohonan.

Bak adegan dalam drama.

Ada kriminal haus akan darah, dan di sini, menghadapnya, ada si detektif, kemudian ada korban yang memohon bantuan.

Akulah yang berperan detektifnya, dipojokkan tanpa henti. Aku sungguh aktor yang malang. Atau meminjam kata-kata para dewa, menyedihkan banget aku telah salah ditunjuk peran ini.

Aku nyaris tidak bisa lagi menonton.

“… tolong beri tahu aku.”

Sekalipun merasa pengen hancur, aku kerahkan seluruh kekuatan emosionalku dan bicara.

Aku harus tahu. Harus mengerti.

Keseluruhan cerita, serta niat sejati Lyu.

Kalau tidak, aku takkan pernah mendapatkan jawaban.

Lantas aku lawan tekanan luar biasa ini dan menanyakannya.

“Apa kau membunuh orang dari Rivira?”

“Tidak ada waktu untuk menjawab pertanyaanmu!”

“Ditemukan mayat di luar Rivira! Orang-orang melihat kau melarikan diri dari tempat kejadian sana!”

“Berapa kali perlu kukatakan agar kau paham?!”

Dia sangat sebal, bertekad tidak menyerah.

“Nona Lyu, kumohon! Tolong jawab aku!!”

Aku mencurahkan semua keinginanku untuk mendengar cerita dari sudut pandangnya ke empat perkataanku selanjutnya.

“Apa kau membunuh dia?!”

“Bukan aku!!”

Kami berteriak kelewat keras seakan seperti bertengkar.

Mataku bersilangan mata biru langit yang kehilangan ketenangannya.

Teriakannya semacam kriminal mengamuk.

Kata-kata pahit yang dilontarkan kepadaku bukan penjelasan ataupun dalih, hanya emosi.

Tapi—sudah cukup.

“… aku paham.”

Paling tidak aku paham.

“Kaki Kelinci, apa yang kau lakukan? Cepat selamatkan aku! Cepatlah dan …?”

Manusia kucing tersebut berteriak kepada diriku yang menghilangkan tensi dari tubuhku.

Tubuh fisikku masih berdiri di seberang Lyu, namun dalam hatiku, aku tidak lagi menentangnya.

Jura menyadari perubahan tersebut.

Adegannya bukan lagi terdiri dari seorang kriminal, seorang detektif, dan seorang korban.

Alih-alih, ada dua orang detektif serta satu orang kriminal.

Dan Jura tahu itu.

“Bisakah kau memperlihatkanku lukamu?” aku tanya dia dengan teanng.

“Hah? Kau bilang apa …?”

“Tolong tunjukkan aku sebelah mana lenganmu dipootng.”

Kebetulan saja aku baru-baru ini melihat seorang pria yang lengannya dipotong—Luvis si elf, yang diserang moss huge.

Aku tidak pengen melihatnya, tetapi letak luka yang monster itu robek benar-benar mengerikan. Pendarahannya tidak berhenti-berhenti, pakaian dan peralatan dinodai merah tua, bau segar darah yang terlampau menyengat.

Pemandangan lengannya terpotong sangat mengerikan sampai-sampai kepalaku memucat sewaktu melihatnya sekilas.

Tetapi orang ini tidak punya gejala-gejala tersebut.

Tentu, pakaian dan perlengkapannya berlumuran darah, tetapi tidak parah-parah amat hingga menyebabkan nekrosis tetap pada lengan atas. Bau darah segar yang masuk ke lubang hidung pun tidak ada.

Itu yang diceritakan ingatanku selama ini. Bahwa perasaan aneh yang terbesit di kepalaku.

Hingga semenit lalu, aku amat kesal hingga tidak menyadarinya.

Namun kini aku paham.

Lengan hilang itu—

“Luka itu …. Sudah lama, bukan?”

Dia melotot marah padaku.

Lyu sendiri bilang telah memotong lengan dan telinganya. Tetapi bagaimana kalau dia melakukannya di masa lalu, seketika termakan hasrat balas dendamnya—selama masa waktu yang disesalkannya sesuai yang dia ceritakan padaku sebegitusedihnya di lantai delapan belas?

Itu masuk akal. Dan menjelaskan beberapa halnya.

Manusia kucing ini kesal dan menolak luka-lukanya dirawat. Mungkinkah gara-gara khawatir kami akan menemukan sesuatu jika mengecek tubuhnya? Takutkah dia kami akan menyadari luka-lukanya sudah lama?

Dengan kata lain, dia mengenakan luka baru itu pada dirinya sendiri.

  Lyu bahkan belum menyerangnya.

Ada beberapa hal ganjil pula.

Sebetulnya, banyak hal mengganjal tentang situasi ini.

Semisal Lyu menggunakan sihir untuk membuat ledakan, maka para korbannya bakal ikut terbakar. Namun salah satu dari mereka tidak demikian: kurcaci yang kutemui.

Dia sendiri ditandai luka belati semata.

Aku tebak kurcaci itu adalah satu-satunya musuh Lyu yang keberadaannya ketahuan. Alhasil Lyu barangkali menggunakan senjatanya sebab si kurcaci melawan.

“Aku telah lama memikirkan ini … namun klaimmu tidak membuktikan apa-apa.”

“Kau ngomong apa? Aku menjelaskan …!”

“Baiklah kalau begitu, kenapa kau sekarang masih hidup?”

“…?!”

“Jika lenganmu dipotong, telingamu juga, sekaligus terkena sihir … mengapa kau tidak mati?”

Musuhnya itu Angin Badai.

Dia menghancurkan fraksi besar sendirian. Dia adalah seorang petarung legendaris dalam daftar pencarian orang.

Tidak masuk akal Lyu menangkapnya tapi ujung-ujungnya membiarkannya kabur.

“Awalnya pikirku dia mungkin gila … karena mustahil Lyu akan pergi dari tempat di mana Bors dan para petualang lain berkumpul setelah menyerangmu.”

Artinya, bila mereka memang diserang, seperti yang diklaim pria tersebut, kenapa juga Lyu meledakkan sesuatu namun berikutnya sengaja tidak mengakhiri semuanya?

—karena dari awal dia belum menyerang siapa-siapa.

Mengapa kami belum juga menemukan tanda-tanda kekuatan sihir atau mendengar mantra apa pun, kek kali ini?

—karena dia belum meledakkan lantai.

Jadi intinya apa?

Bahkan detektif salah tunjuk ini bisa menemukannya.

Jawabannya sederhana.

Semuanya merupakan pertunjukan dibuat dan diperankan orang-orang ini.

“Aku menemukan ini di lorong lain.”

Aku membalikkan pecahan merah tersebut ke arahnya. Masih serasa panas, dan aku pernah melihat itu sebelumnya.

“Ini Batu Inferno, bukan?” kataku.

Aku memikirkan kembali sesuatu yang terjadi empat bulan lalu, tepat setelah bertemu Welf. Dia membawaku melihat bengkelnya, dan dia menunjukkanku alat untuk membuatnya di perapian. Untuk menempa mineral dari Dungeon, dia kudu menggunakan ledakan besar yang memperkuat panasnya api.

Wajah manusia kucing itu berkedut.

“Nona Lyu bilang dia tidak membunuh siapa-siapa … dan aku percaya padanya.”

Satu-satunya hal yang masih tidak aku mengerti adalah pembunuhan di lantai delapan belas.

Jikalau amarahnya benar-benar mendorongnya untuk membunuh pria itu …

Aku harus tahu jawaban pertanyaan terakhir ini.

Seandainya dia sekali lagi menjadi pembalas dendam berlumuran darah, maka semua penalaranku akan ambruk oleh kekuatan hasrat membunuh besarnya.

—bahkan bukan keadilan.

Lyu pernah mengucapkan kata-kata itu padaku, suaranya serba penyesalan.

“Tuan Cranell …”

Tapi Lyu bilang dia tidak melakukannya.

Dia memberitahuku dengan mata terbuka—matanya dipenuhi mata kebanggaan bengis seorang elf, kebencian akan kebohongan, juga rasa tanggung jawab kuat. Dengan mata langit biru yang sangat kukenal.

Itu cukup. Lebih dari cukup.

Membelakangi si manusia kucing, wajahku berpaling menghadapnya dan menatap intens.

“Misalkan Lyu bukanlah orang yang menyebabkan ledakannya … maka hanya kau dan gengmu penyebabnya.”

Seluruh ledakan sejauh ini adalah pekerjaan destruktif mereka.

Aku masih tak tahu mengapa mereka meledakkan lantai ini. Tetapi akhirnya, semua untai berbeda telah menyatu membentuk satu tali.

“Mohon tunjukkan luka di lenganmu.”

Apabila dia tunjukkan, aku akan yakin.

Tunjukkan aku luka yang dia perbuat padamu sebagai bukti kesalahannya.

Aku yakin mataku sendiri tampak dingin, merah, dan berkilauan.

Pandanganku muram, nada bicaraku tidak memberikannya kesempatan berdebat.

Lyu menatapku, satu-satunya orang yang memercayainya.

Manusia kucing itu menelan ludah.

Setelahnya, tidak salah lagi, dia mendecakkan lidah.

Saat dia memelototiku, tampang pucat korban yang terluka parah berubah menjadi tampang penjahat brutal.

Detik berikutnya, tangan yang terulur ke samping sekejap bergerak ke depan.

“Jadi aku ketahuan!”

“Ah!”

Aku terbang mundur menghindari sambaran sesuatu berwarna merah yang seketika menembus udara.

Dia menggenggam cambuk merah di tangan kirinya.

“Kau dan idiot-idiot dari Rivira itu tidak berguna! Biarpun kau tak membunuh Leon, setidaknya kau memperlambatnya!”

“Jura …!”

Aku bersama Lyu berdiri berdampingan menghadapi lawan kami. Dia menaruh cambuk ke bahunya, lalu mengeluarkan ramuan dari kantungnya, dengan cekatan satu tangan membuka tutupnya, kemudian dituangkan ke atas kepalanya. Barang kelas teratas yang menyembuhkan luka berdarahnya dan mengirim kepulan asap dari bekas lukanya.

“Kerja Turk bagus, tapi di akhir-akhir dia keliru. Dia meresahkanmu, Leon, dan kecepetan mengaktifkan ledakannya.”

Layaknya seorang penyihir yang memberikan rahasia-rahasianya, dia melempar Batu Inferno yang dia sembunyikan di tanah sekitar kami.

Pasti kurang lebih ada dua puluh. Dia jelas mampu menyebabkan banyak kerusakan ke Dungeon dengan batu sebanyak ini.

“Maaf, Nona Lyu, sebab sedikit meragukanmu …!”

“… tidak, aku pemarah dan tidak cukup bijaksana. Aku berusaha menghindarimu demi dirimu sendiri … tapi aku salah.”

Kami bicara bersampingan, tanpa menatap satu sama lain. Lyu bergumam lirih padaku, matanya terpaku ke pria di depan kami.

“Terima kasih, Tuan Cranell, sudah percaya sama orang bodoh sepertiku. Aku sangatlah berterima kasih.”

Aku tak yakin itu kegembiraan atau kebahagiaan, namun kehangatan membanjiri dadaku.

“Aku ingin menghentikan penjahat ini …. Tolong, bantu aku.”

“Tentu saja!”

Aku mengangguk, senyuman melebar ke mukaku yang terus melihat ke depan.

Menjaga pandangan baik-baik ke musuh kami, aku menghunus Pisau Hestia.

“Jura, terima takdirmu. Kau hampir saja menghasut orang-orang Rivira untuk membunuhku, namun rencanamu sudah hancur. Kau tak punya siapa-siapa lagi.”

Menjinakkan kemurkaannya dengan nalar, Lyu bicara ke Jura laksana menyampaikan keputusan terakhir. Matanya menatap Jura, Lyu pelan-pelan menutup jarak antara dirinya dan kami.

Dia menanggapi dengan senyuman.

Selanjutnya, sembari mengayunkan cambuk merahnya, dia menertawakan kami.

“Hahahahaha, hehehehehe …! Jangan membuatku tertawa!”

“…”

“Kau lupakah, Leeeon?”

Saingan Lyu—musuh berbuyutannya—tertawa keras-keras lagi.

Sejenak berikutnya, cambuk itu menghantam tanah, berkilau cahaya merah.

“Aku ini seorang penjinak!”

Sepintas setelahnya, bayangan besar menerobos langit-langit dan jatuh ke tanah.

“Hah?!”

Baik Lyu dan aku menghentak tanah. Dia melompat ke kiri dan aku ke kanan; wujud besarnya menghantam ke tengah-tengah kami. Sewaktu seluruh ruangan berguncang, tanganku menghalangi wajahku untuk memblokir pecahan kristal yang beterbangan.

“Perkenalkan peliharaanku.”

Terkejut, aku melihat tubuh besarnya yang menggeliat-geliat.

Mulut menganganya tengah mencari apa pun untuk ditelan.

Tubuh panjang dan membengkaknya tak punya lengan maupun kaki. Di bagian yang mestinya ada wajah, terdapat tiga pasang mata.

Ia ular raksasa bermata banyak.

“Kau melakukan apa?” tanya Aisha, senyum tanpa rasa takutnya memungkiri kata-katanya. Dia menyorot Turk dan rekan-rekannya yang sedang menghunus pedang sambil menerjangnya.

“Jadi bukan cuma satu …” ucap Welf.

“Iya, nampaknya mereka semua jatuh ke sisi gelap,” jawab Ouka. Sesaat keempat musuh mereka menghunuskan senjata masing-masing dan saling bertukar tatapan membunuh, kedua pria menarik keluar senjata mereka sendiri.

Party musuh terdiri dua manusia serta dua manusia hewan. Terkecuali Turk yang memakai ransel besar.

“Gara-gara kami kekurangan waktu dan kalian takkan membiarkan kami … kami akan membunuh kalian di sini! Tentu saja demi rencana Jura!”

Sedetik berikutnya, Turk mengeluarkan cambuk merah dan memanggil monster.

“?!”

Aisha dan rombongan party melompat mundur seketika tubuh panjangnya menembus dinding. Lilly mencengkeram Daphne dan Haruhime mencengkeram Mikoto, lalu keempatnya lari dari lorong yang berguncang.

Anehnya, di saat Bell dan Lyu menghadapi ular besar, monster lain yang sama muncul juga di hadapan party-nya.

“Apa-apaan …?!”

“Seekor Lambton …!”

Ular besar panjang tersebut adalah monster ekstrim kategori besar, pastinya cukup mengesankan hingga menjadi bos lantai. Ukurannya sekitar setinggi lima meter dan sepanjang sepuluh meter.

Sepintas, pikiranku mengosong di hadapan kehadiran binatang buas sangat besar ini.

Terlepas dari sosok kerennya, aku tidak ingat apa-apa perkara monster di hadapan mataku. Bahkan tatkala Lyu meneriakkan namanya, aku tidak ingat apa pun. Apa nasibnya informasi yang dijejalkan Eina kepadaku sebelum pergi ekspedisi ke lantai bawah?

“—oh iya.”

Akhirnya, dari dalam memori, aku berhasil mengekstrak sejumlah informasi. Begitu ingat, napasku berhenti.

“Tidak mungkin …!”

Ж

“Ouranus.”

Sosok berpakaian hitam yang menggenggam bola kristal berbicara ke permukaan lewat barang sihir.

“Seperti halnya perkiraaan Anda, saya telah menemukan gudang penuh monster.”

“Apa ada Xenos yang dipenjara di sana?”

“Tidak, tidak ada. Hanya monster biasa.”

Sosok yang berbicara dengan Ouranus adalah asisten terdekatnya, sage jatuh delapan ratus tahun, Fels. Penyihir itu telah menggunakan kekuatan spesial untuk menginvasi Knossos dalam misi paling rahasia dan kini melaporkannya lewat sebuah okulus.

 “Rupanya mereka memindahkan monster-monster tipe lain yang ditangkap dalam Dungeon juga, bukan hanya Xenos.”

“Seberapa banyak?”

“Katakan saja kelewat banyak untuk dihitung.”

Ruangan dingin berbatu dipenuhi kandang-kandang hitam varian ukuran berisikan segala macam monster. Ada monster tipe tanaman dengan kulit kuning-hijau, kelompok monster kategori besar yang ditangkap satu kawanan, serta naga yang air liurnya menetes dari gigi tajamnya. Mereka nyatanya ditekan semacam obat penenang, boleh jadi barang sihir, sampai-sampai ketika Fels mendekat, reaksi mereka pasif.

Penyihir itu mendekatkan lampu berbatu sihir ke kandang-kandang tersebut satu per satu. Bahkan tanpa daging manusia, Felt kerangka bijak merasa merinding samar.

“Apa Lido dan yang lainnya bersamamu?”

Tanya Ouranus.

“Tidak, kami berpencar. Di masa lalu sebagian Xenos dipenjara seperti ini. Sekalipun mereka bukan spesies yang sama, saya putuskan bukan pengalaman baik bagi mereka unutk menyaksikan ini …. Dan juga, serangan musuh cukup brutal.”

“Bisa singkirkan mereka?”

Melirik daftar monster yang dibuat buru-buru, Fels menjawab jujur Ouranus.

“Sejujurnya, akan sukar. Bukan hanya jumlah, beberapa ada spesimen yang sulit ditangani.”

Kebanyakan monster lantai menengah dan bawah yang umumnya dianggap tangguh terdapat di sana. Dokumen yang Fels temukan menginformasikan bahwasanya Ikelus Familia serta Sisa-Sisa Evilus lain sedang melakukan semacam eksperimen kepada mereka.

Fels berhenti di depan beberapa kandang tua di belakang aula.

“Bagaimanapun juga, sulit memercayai ini …”

Suara yang asalnya dari balik tudung hitam sebagian terdengar mengerang.

“Tak kusangka mereka membawa monster dari lantai dalam …”

Ada dua kandang besar. Jeruji keduanya telah dibengkokkan dari dalam.

Catatan Kaki:

  1. Rudra (Devanagari: रुद्र) adalah sebagai salah satu aspek Deva-deva, merupakan unsur hidup dan kehidupan yang disebut sebagai Rudra prana. Kesebelas Rudras yang mengatur alam semesta (buana agung dan buana alit), diantaranya Kapali, pingala, Bima, Virupaksha, Vilohita, Shasta, Ajapada, Abhirbudhnya, Shambu, Chanda, dan Bhava. Upacara “Bhuta Yadnya” yang paling besar yang ditujukan kepada kesebelas “Rudra” dilaksanakan setiap seratus tahun sekali di Pura Besakih yaitu upacara EKA DASA RUDRA.

9 Replies to “DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 13 BAB 3”

  1. Epic sangat, sempet kepikir yakin klo si bell bakal gelud ngelawan si Angin Badai buat nyadarin Angin Badai biar tobat.
    Yaaa gua di permainnkn sama si author
    _
    tenqkyu TL nya min, semakin menarik cerita nya, tinggal nunggu kejutan aja ntar tentang xenos, rencana evilus & ikelus familia, trus rencana licik antek2 evilus si Jura ini buat ngalahn bell and frnd

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *