DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 13 BAB 2

Posted on

Bab 2: Nabiah Tragedi

Penerjemah: DarkSouls

Bencana besar mendekat.

Dia yang tidak boleh didatangi adalah sang inkarnasi malapetaka. Dia yang tidak boleh disentuh adalah suatu ramalan kematian.

Ratapan seorang ibu akan mendatangkan bencana, lalu keputusasaan ‘kan melepaskan tangisan bayi.

Jalan jeroan akan dilapisi tangisan orang-orang dikorbankan tak terhitung jumlahnya.

Arus biru langit akan memerah darah, lalu kumpulan makhluk-makhluk aneh akan bersukacita.

Kedalaman neraka akan dipenuhi mayat, mengembalikan segalanya kepada sang ibu.

Tupai akan bermekaran menjadi bunga daging.

Rubah akan segera terkoyak-koyak.

Palu akan dihancurkan.

Hidup para petarung asing akan dijadikan mainan.

Penggoda berdarah akan melarikan diri membawa kenang-kenangan rubah, tetapi akan berduka karena dikotori taring dan cakar tak terhitung jumlahnya.

Seorang teman akan memberi kesedihan.

Sang elf ditakdirkan membimbing segalanya menuju kehancuran, memaksa api putih mengaum memutar takdir kejam.

Maka kurungan keputusasaan akan menjadi peti mati, menyiksa diri engkau sendiri.

Janganlah lupa. Carilah semata-mata cahaya matahari yang kembali dihidupkan.

Kumpulkan pecahan-pecahannya, sucikan api, memohonlah pada cahaya matahari.

Saksikanlah. Demikian perjamuan bencana …

Ж

Mimpinya tidaklah istimewa.

Produk khayalan seorang gadis tertidur.

Singkatnya, hanya mimpi buruk mengerikan, lebih buruk dari mimpi-mimpi sebelumnya, terlampau buruk hingga fisiknya sakit. Pertama kali, gadis itu dihadapkan pesan ilahi yang tidak bisa disangkal dan tak terhindari.

Ж

“?!”

Cassandra tersentak di tempat tidurnya sembari menjerit bisu.

Kelewat tegang sampai-sampai pita suaranya meledak, dia merasakan air mata bermassa besar berkumpul di sudut mata paniknya.

“Hah … hah … hah …”

Mendengar napas megap-megapnya sendiri.

Pakaiannya basah keringat, dia merasa amat sakit.

Menatap bingung ke depan ibarat matanya terpaku di tempat, napasnya masih pendek-pendek.

“Apa … yang barusan … terjadi?”

Sesaat, kebingungan melandanya.

Di depan, dia melihat dinding batu tanpa hiasan. Dia sedang di Rivira, kota pengelana di lantai ke delapan belas. Di luar, dia dapat mendengar sibuknya para petualang bak riak ombak. Seprai kusut dilebarkan ke sekitar tempat tidurnya dalam kamar sewa.

Kala kesadarannya kembali, ingatan mulai muncul satu per satu.

Benar juga …. Aku istrirahat sebelum bergabung dengan party pemburu …

Cassandra selalu tidur sebelum terjadi peristiwa-peristiwa besar.

Bagaikan peramal, alasannya tidur adalah untuk bermimpi.

Cassandra diberkahi kemampuan bermimpi rekognitif.

Dalam mimpi-mimpi tersebut, gambaran samar disertai firman-firman ramalan. Senantiasa mengisyaratkan bencana mendatang, dan bagi Cassandra, isyarat itu bak masa depan yang menunggu dirinya. Biarpun bukan pengalaman teramat-amat menyenangkan, dia selalu menegaskan untuk bermimpi sebelum terjadi peristiwa besar apa pun, sebab makna ramalannya sangatlah akbar. Dia melakukan hal serupa sebelum Apollo Familia pergi berekspedisi dan sebelum Permainan Perang.

Setelah Bell dan teman-teman memutuskan mengontak Angin Badai, Cassandra menuruti naluri yang berdenyut-denyut di sudut otaknya dan mendapatkan izin untuk beristrirahat. Dia datang sendirian ke kamar ini dan berbaring di tempat tidur.

Menurut jam pasir dalam kamarnya, kurang satu jam berlalu sejak dia tidur.

Di sebelah bantalnya tergeletak beberapa daun Argelica, serta ramuan yang selalu Cassandra bawa untuk memastikan tidurnya nyenyak.

“… apa yang terjadi …?”

Kepalanya sakit, dia merasa pusing. Bibirnya tidak berhenti gemetaran.

Dia telah melihat mimpi buruk. Sungguh-sungguh mengerikan, jauh lebih buruk ketimbang mimpi apa pun yang pernah dialaminya di permukaan.

Mimpinya terdiri dari tujuh belas ramalan disertai adegan-adegan mengerikan jelas. Kegelapan berwujud keputusasaan akan menghancurkan semuanya.

Merah tua menyembur, usus tumpah-ruah, mayat-mayat bergelimpangan.

Di antaranya adalah mayat-mayat Lilly, Haruhime, Welf, Mikoto, Chigusa, Ouka, Aisha, juga temannya Daphne.

Tatkala dia mengingat adegan itu, rasa mual kuat menjalar dari perutnya.

Hoeeekkk!!”

Dia berjuang menahan muntah yang naik di tenggorokannya. Usahanya gagal, dia berguling turun dari tempat tidur dan berlari ke kamar di dalam gua yang diubah menjadi penginapan. Dia melupakan penampilan luarnya saat muntah berkali-kali ke dalam lubang yang diukir di salah satu dinding. Rasa asam memenuhi tenggorokannya.

Ketika mualnya akhirnya mereda, tangan gemetarannya terulur ke ember di sampingnya. Mengambil air murni dari Under Resort yang diangkut pemilik penginapan, dia kumur-kumur beberapa kali, kemudian meneguk airnya beberapa kali.

Aku sangat kedinginan … dan sangat ketakutan …!

Dia kembali memikirkan masa mudanya, sebelum bergabung Apollo Familia. Setiap kali bermimpi menakutkan di rumah, dia bakal melompat ke tempat tidur ibunya, terisak-isak. Dia penuh keinginan untuk sekali lagi tenggelam dalam perasaan hangat tangan ibunya yang mengelus kepala dan punggungnya. Meski ibunya tidak di sini. Walau ibuunya hadir, ramalam mimpinya takkan menghilang.

Sebab bagi Cassandra, mimpi-mimpinya mewakili masa depan yang menunggu.

“Gawat. Tenanglah …. Kau harus berpikir … kalau tidak, mimpinya akan menjadi nyata …!”

Mimpi dan kenyataan berpacu di benaknya, masih berhubungan. Dia merenungkan penglihatannya.

Sang elf ditakdirkan membimbing segalanya menuju kehancuran … seorang elf? Angin Badai? Para petualang …. Kami …. Akan dibimbing Angin Badai? …. Tidak, dengan mengejarnya, apakah kami akan mewujudkan mimpinya?

Angin Badai itu seorang elf.

Cassandra tahu itu benar berdasarkan informasi yang diketahuinya lima tahun lalu saat dia diburu.

Tetapi dia tampaknya juga kenalan Bell dan yang lain.

Lebih tepatnya, dialah petualang bertopeng yang ikut andil dalam Permainan Perang melawan Apollo familia.

Terus kami hendak mengejar Angin Badai untuk mencari tahu kebenaran petualang yang dibunuh …

Itu tujuan mereka; itu gambaran besarnya.

Tapi …

Itukah cerita keseluruhannya …?

Aku tak tahu. Aku tak tahu.

Benarkah ini betul-betul investigasi pembunuhan langsung?

Cuma kisah membantu kenalan Bell?

Cassandra pucat pasi karena ingatan mimpi ramalannya sekali lagi menyerang. Tatkala itu, dia mendengar suara di dekatnya.

“Sial, Bors bangsat itu, terpikat sama duit. Jujur dah, party pemburu untuk mengejar Angin Badai? …. Hah? Hei, kau, kau sedang apa di sana?!”

Willy, seorang manusia hewan pemilik penginapan, berpapasan dengan Cassandra sambil membawa beberapa paket ke belakang menginapan.

Kini setelah Willy melihatnya, dia tak bisa mengalihkan pandangan darinya.

Lekuk tubuh kewanitaannya terekspos berkat keringat yang menempel di pakaiannya. Pemandangan seorang gadis cantik berdiri di sana kelelahan dan sengsara membangkitkan nafsu penakluk si pemilik penginapan.

Dia menelan ludah menyaksikan pemandangan seksinya, lalu mendapati wajah pucat Cassandra.

“Hei, kau tidak apa-apa …? Kau kelihatan pucat banget …!”

“… aku … baik-baik saja.”

Menghindari kekhawatiran si pria yang hampir panik, Cassandra berdiri. Benar-benar seperti bayi, dia berjalan maju kemudian berlari.

Entah bagaimana berusaha menjauhkan dirinya dari adegan mimpinya, dia buru-buru pergi ke Daphnee dan yang lain.

Yang kuimpikan bukan masa depan pasti …!

Tergantung tindakan Cassandra, masa depan yang disaksikannya kadang-kadang bisa dihindari.

Party-nya masih bisa diselamatkan!

Dia merengsek keluar dari gua, terobsesi satu keinginan kuat tersebut.

“Welf-sama, apa perlengkapannya lengkap semua?” tanya Lilly.

“Ya, aku pun sudah menyiapkan senjata buat Bell dan yang lainnya pula. Beberapa pedang sihir sisa juga. Kita bisa mendesak ke lantai bawah sekali atau dua kali lagi!” jawabnya.

“Dikarenakan dia mesti mendahului para petualang lain … musuh-musuh kita bukan hanya monster. Kita barangkali juga mesti melawan orang lain pula. Jangan lupakan itu,” tambah Aisha.

Party-nya sudah berkumpul di depan penginapan. Hari di Dungeon masih malam, menjelaskan alasan cahaya kristal putih yang menerangi mereka tampak memancarkan cahaya bulan.

Lilly serta Aisha memimpin arahan terakhir grup.

“Hei, Cassandra! Kau dari mana saja? Kita mau pergi!!”

Teriak Daphne. Bukan hanya dia tetapi anggota party sisanya mendapati kemunculan kembali si gadis.

“Semuanya!” dia menyeru sekeras-kerasnya, dia mengajukan permohonan mendesak. “Tentang party pemburu …. Apa ada kemungkinan kita tidak ikutan?”

“… hah?”

“Hal menakutkan akan terjadi … jadi … ayo jangan pergi saja …!”

Suaranya gemetaran. Welf dan Lilly menatap tak percaya permohonan sintingnya. Tentu saja Daphne orang pertama yang menghampirinya.

“Cassandra! Kau mau mengocehkan mimpimu lagi? Bukannya sudah kuberi tahu untuk sadar diri?”

“…!”

Teman lama Cassandra yang dia kenal semenjak bersama di Apollo Familia, menutup telinga terhadap permohonannya. Daphne tidak pernah memercayai mimpi ramalannya. Tetapi bukan Daphne seorang. Cassandra tak dapat membuat siapa pun memercayainya. Seakan-akan dia dikutuk. Hal persis sama terjadi selama Permainan Perang.

Lilly kelihatan linglung, tak seorang pun juga percaya peringatannya mengenai sesuatu menakutkan terjadi. Mikoto, Haruhime, dan Chigusa terlihat kebingungan, sementara Ouka ekspresinya ragu-ragu, dan Aisha kelihatannya ingin memberi tahu bahayanya memang sudah satu paket sama Dungeon.

Dulu, tidak satu orang pun percaya … namun kali ini …!

Cassanda memalingkan pandangan putus asanya dari Daphne menuju anak laki-laki berambut putih.

“B-B-Bell …!”

Ada satu orang yang mungkin percaya di waktu tak seorang pun percaya.

Anak laki-laki yang berdiri di depannya, Bell Cranell.

Ya, dia sadar betul; dia diberkahi semacam perlindungan ilahi, sesuatu yang dia boleh jadi bahkan disebut takdir. Sesuatu cukup kuat untuk menyingkirkan kutukan Cassandra. Semenjak dia datang ke kediaman lama Apollo Familia mencari bantal hilangnya, bocah ini percaya perkataannya dan menjadi orang spesial bagi Cassandra.

Dia pun pemimpin party dan sekarang memindahkan pandangan memohonnya kepada Bell.

Wajah Bell kerepotan, dia pelan-pelan membuka mulut.

“Aku sangat minta maaf, Nona Cassandra …. Aku tidak bisa.”

Wajahnya digelapkan keputusasaan.

“Kita harus bertemu Nona Lyu …. Aku ingin membantunya,” lanjut Bell.

Selagi bicara, Cassandra menangkap kilat mata merah muda merahnya, dan Cassandra tahu Bell bersungguh-sungguh.

Aaah … gawat. Dia tidak mau menyerah …!

Sekalipun dia benar-benar memercayai peringatan Cassandra, Bell terlalu baik hati sampai menuju tempat yang ditentukan mimpi ramalannya demi orang yang dia pedulikan.

Pertama kalinya, Cassandra memahami keinginan teguh bersinonim takdir kuat.

Tidak peduli apa pun yang terjadi, dia takkan bisa menghentikan kelompoknya.

Sewaktu dia menyadarinya, kekuatan terkuras dari lututnya dan dia jatuh ke tanah.

“Uh … Cassandra?”

Saat Lilly dan kawan-kawan lain berkumpul panik, Daphne buru-buru mendukung sosok lemah temannya. Dia mau bertanya Cassandra baik atau tidak tetapi seketika menyadari betapa pucat wajahnya. Menurut Daphne, Cassandra selalu mengatakan atau melakukan hal aneh, dan tampang paling baiknya bahkan tidak bisa dibilang sehat, namun Daphne belum pernah sekali pun melihatnya selesu itu.

“… maaf. Aku berencana membantu pencarian Angin Badai …”

Kata Daphne, masih mendukung Cassandra dan wajah tak nyamannya melihat sekeliling grup. “Tetapi gadis ini sepertinya merasa sakit …. Boleh biarkan dia istrirahat sedikit? Aku tidak ingin meminta ini, tapi aku pengen tinggal bersamanya di Rivira—”

Ketika itulah, Cassandra yang merosot matanya terbuka lebar-lebar.

“Tidak!!”

“?!”

“Jangan! Jangan itu! Apa pun selain itu …!”

Mengangkat wajah, Cassandra berkali-kali mengulang penyangkalannya seolah-olah menggila. Bukan cuma Bell dan anggota party lain yang syok, Daphne pun ikutan. Berangsur-angsur kejutan mereka berubah menjadi kebingungan parah, selanjutnya mulai mengamati Cassandra selayaknya dia wanita sinting.

Kedua tangan mendekap kepala dan rambut panjang acak-acakan, dia merasa tubuh kurusnya menggigil. Menghadapi teman-temannya yang tidak paham pesannya, dialah sosok persis seorang nabiah tragedi.

Apa pun yang terjadi, aku tidak boleh terpisah dari mereka …!

Kendatipun garis besar ramalannya tidak terhindari, mereka masih bisa menghindari kehancuran total dengan keluar dari jalur yang diramalkan.

Dan hanya Cassandra seorang yang mengetahui isi mimpinya, yang dapat membantu mereka untuk menghindari jalan itu menuju jalan lain.

Dengan kata lain, seumpama Cassandra tidak ikut bersama party, bencana mengerikan yang diramalkan mimpinya akan menimpa mereka.

Tidak bisa; tidak bisa …! Tidak mungkin aku meninggalkan mereka sekarang!

Jika Cassandra dan Daphne tinggal di kota, mereka pasti akan aman. Dan belum lama ini, Cassandra telah memilih keamanannya dan teman terdekatnya sendiri daripada kelompok.

Tetapi sudah terlanjur. Dia berpetualang bersama mereka, dia pun tahu orang macam apa mereka. Lilly pelit soal uang, tapi dia seorang prum yang memedulikan teman-temannya. Welf adalah penempa berkepala dingin yang bukan hanya bertanggung jawab atas persenjataan mereka tetapi juga memimpin perlindungan party.  Ouka, Chigusa, serta Mikoto adalah orang-orang yang dia hormati karena rasa tanggung jawab kuat mereka, karakteristik orang-orang dari Timur Jauh. Haruhime itu baik dan, ada sisi yang mirip dengan Cassandra sendiri; mereka jadi teman dekat. Canggung bersama Aisha, namun dia masih bisa memercayainya sebagai sosok kakak perempuan tegar.

Ada juga Bell … yang spesial baginya dalam banyak hal.

“Nona Cassandra …. Kau tidak apa-apa?”

Cassandra sadar Bell menjadi lebih kuat dan telah berubah, dia perlahan-lahan menganggap Bell berbeda. Dia nyaris menangis saat tahu pada momen-momen ini, Bell masih mengkhawatirkannya.

Mustahil Cassandra tega mengabaikan mereka sekarang.

Terlambat sudah …

Tatapan lelahnya melihat Daphne dan yang lain. Paling akhir, matanya tertuju kepada bocah berambut putih.

“… maaf aku bertingkah sangat egois … aku ikut dengan kalian.”

Demikianlah, party—antusiasmenya yang sementara waktu berkurang—kembali meraih semangat juangnya, sekalipun diwarnai kecurigaan. Setelah pemeriksaan akhir tuk memastikan segalanya siap, mereka pergi ke luar kota untuk menemui para petualang lain dalam party pemburu.

Begitu Cassandra bergabung dalam barisan, pribadinya memastikan kembali tekad suramnya. Dia akan menyelamatkan party itu dari takdir terburuk selagi berbaris menuju kehancuran.

Pemberontakan nabiah apatis telah dimulai.

Dia sendiri ‘kan menentang rintangan kehancuran.

Ж

Hampir tiga jam telah berlalu sejak ditetapkannya keputusan untuk membuat party pemburu dan mengejar Angin Badai. Para petualang telah selesai bersiap-siap dan hendak berangkat ke lantai delapan belas.

Sekitar separuh party beranggotakan para penduduk Rivira dan sisanya adalah para petualang yang kebetulan lewat waktu itu. Beberapa bergabung karena rasa keadilan; mayoritasnya pencari ketenaran nama sendiri dengan mengalahkan Angin Badai, seorang elf dalam daftar pencarian orang.

“Misalkan informasi yang kita miliki ini akurat, Angin Badai Level Empat! Bukan cuma Level Empat sembarangan, tapi Level Empatnya kelas atas! Kaki Kelinci, Antianeira, aku mengandalkan kalian dalam misi ini, karena kalian berdua levelnya setara. Bersama kalian berdua, kita seharusnya pasti sanggup menangkap pemberontak ini,” ucap Bors, penuh percaya diri. Mereka sedang berkumpul di Pohon Sentral yang mengarah ke lantai sembilan belas.

Menilai sikap Bors, Hestia Familia praktisnya dipaksa berpartisipasi dalam party pemburu.

“Uh … iya,” jawab Bell, berkeringat.

“Percayalah Bors akan menyerahkan pekerjaannya kepada orang lain,” gumam Lilly, matanya menyipit.

Kenyataannya, situasinya menguntungkan mereka. Seandainya mereka ingin mencapai Lyu lebih cepat dari siapa pun, lebih gampang mendapatkan informasi dari posisi pihak party dalam.

Luvis, Dormul, beserta anggota-anggota lain Modi Familia juga Magni Familia akan tinggal di Rivira.

Mereka berada jauh lebih lama di lantai bawah ketimbang Hestia Familia, apalagi tingkat kelelahannya dari siksaan berkepanjangan moss huge yang diperkuat jauh lebih besar dari tingkat lelah Bell serta rekan-rekannya. Termasuk mental sekaligus kondisi fisiknya.

Menetap sudah menjadi keputusan alaminya.

Tentu saja tidak mengejutkan bila party para kurcaci Dormul dari Magni Familia bersikeras ikut, mengingat mereka akan menyombongkan, tamasya kecil semacam ini tidak kerasa buat kami.

Tetapi mencari dan menangkap siapa pun—bukan cuma Angin Badai—dalam Dungeon yang luasnya bukan main itu susah. Dibanding lantai-lantai atas, lantai sembilan belas ke bawah besar nian. Fakta para party yang dikirim dalam misi petualang-petualang hilang tipikalnya gagal menemukan satu jejak pun, apalagi mayat aktual mereka, menunjukkan betapa sukarnya pencarian model apa pun. Dan kali ini, tidak tujuan atau destinasi individu hilang tidak diketahui. Ekspedisi perburuan diperkirakan berlangsung beberapa hari. Makanan berjumlah besar diambil dari persediaan kota lalu dikemas untuk party besar.

“Mata kalian jangan berhenti mencari tanda-tanda buronan! Andai kalian menemui para petualang lain, tanya mereka informasi! Manusia hewan, ini kesempatan menunjukkan hidung-hidung yang kalian banggakan!”

Bors memerintahkan party-nya mencari di setiap lantai sedetail mungkin, dan saat mereka selesai, kirim penjaga di lorong yang mengkoneksi satu lantai dengan lantai lain. Selama mereka memenuhi satu rute yang mengarah ke lantai atas, target mereka pada akhirnya pasti akan tertangkap jaringnya. Lantas party pemburu maju, meningalkan cukup banyak penjaga yang bahkan petualang Level 4 bisa gampang kalahkan, lalu pergi ke lantai bawah bersama banyak sekali petualang kelas dua.

“Lantas setelah kita menggeledah setiap sudut lantai, kita tempatkan penjaga masuk-keluar …. Kedengarannya seperti formula standar pencarian di Dungeon sangat besar ini,” tukas Aisha.

Kelompok tersebut berhasil emncapai Labirin Pohon Kolosal di lantai dua puluh satu. Saat para petualang beristrirahat di ruangan besar, Aisha, Lilly, serta Ouka lagi ngobrol-ngobrol dan memeriksa senjata dan perlengkapannya.

“Jenis strategi yang sepenuhnya bergantung kepada tenaga kerja. Aku ingin tahu Bors salah atau tidak memilihnya,” ujar Lilly.

“Yang artinya, pikirmu Kepala Kota Pengembara boleh jadi sombong,” balas Ouka.

Party yang dipimpin Hestia Familia sedang duduk bersama di sebuah lapangan bunga dekat tengah ruangan, tempat yang lebih sulit bagi monster untuk mengejutkan mereka.

“Sekalipun metodenya lumayan, kau sungguhan berpikir kita akan menemukan Angin Badai dengan bergerak dengan kelompok sebesar ini? Biasanya dalam pencarian, orang-orang akan berpencar menjadi kelompok-kelompok lebih kecil …. Aku bertaruh sebelum kita sempat menyalip, kelompok-kelompok besar ini akan berpisah-pisah.”

Kian banyak petualang dalam party, makin sering pula mereka bertemu monster. Kenalan barangkali saling membantu, tetapi prediksinya, petualang kelas atas angkuh sejauh ini bertarung secara independen tanpa terlalu ingin bekerja sama. Para anggota party terus-menerus mengutuk dan berteriak-teriak kepada satu sama lain, bahkan para pendukung menghunuskan senjata-senjata cadangan dari ransel mereka untuk dibarter batu-batu sihir dan drop item.

Memutar-mutar belati-tongkatnya, Daphne mengawasi dari kejauhan ketika para petualang memperebutkan mata air menggelembung dari sudut lain ruangan. Dia mendesah.

“Yah, misalkan ini mempermudah kita, tidak ada salahnya. Namun tetap saja …. Aku penasaran sudah sampai sedalam mana elf kedai itu,” kata Welf.

“Sejauh ini, kita belum melihat sejejak pun Nona Lyu …” jawab Mikoto.

“Dia kayaknya mengejar seseorang …. Dan karena dia ini Level Empat, dia tak kesulitan berkelana di lantai bawah …” tambah Chigusa.

Sudah setengah hari berlalu kala party pemburu bereangkat. Lilly memeriksa arloji rusak di lehernya.

“Buat referensi nanti, jangan ambil misi pencarian apa pun. Secara finansial tidak masuk akal,” gumamnya, mengangkat bahu. Haruhime dan Bell nyengir.

“…”

Dari kelompok itu, cuma Cassandra yang ekspresi wajahnya tegang.

Dia tenggelam dalam pikirannya, gagal total memanfaatkan waktu istrirahat berharga untuk bersantai.

Mimpi yang mewakili kemungkinan terburuk … jikalau ramalannya benar, maka party ini tamat. Demi melakukannya, aku mesti menguraikan ramalan ini …!

Dia membalikkan perkataan dalam mimpinya berkali-kali lagi, mencoba menebak maknanya.

Masa lalu, tatkala orang-orang tidak mendengar ramalannya, dia antara menyerah atau terus menggumamkan masa depan tidak terhindari. Kini dia mati-matian mencari jalan keluar.

Bencana besar … inkarnasi malapetaka … ratapan seorang ibu akan mendatangkan bencana … aku menebak bencananya, inkarnasi malapetaka, dan bencana semestinya sama …

Seringkali, bagian pertama mimpi ramalan Cassandra memberikan garis besar masa depan. Dan tak terhindari, masa depan itu tak terhindarinya sampai-sampai tidak bisa diikut campuri Cassandra.

Aku yakin ibu pastinya mengacu ke Dungeon. Dungeon adalah ibunya para monster, sebagaimana orang-orang Orario katakan. Andaikata demikian, maka memikirkan ungkapan tangisan bayibencana yang akan didatangkan sang ibu pastinya monster atau monster-monster yang akan muncul.

Cassandra memeluk dadanya erat-erat di balik pakaian tempurnya.

Pertumpahan darah akan dimulai ketika keputusasaan ‘kan melepaskan tangisan bayi. Tangisan orang-orang dikorbankan tak terhitung jumlahnya, jalan jeroan, arus biru langit akan memerah darah …. Mengikuti mimpi ramalan lampauku, kata-kata samar ini hampir pasti mengisyaratkan kematian … tapi apakah kita para petualang yang mengejar sang elf ditakdirkan membimbing segalanya menuju kehancuran, yang akan mati?

Dengan kata lain, betulkah ramalannya berarti Dungeon akan memunculkan satu atau lebih monster-monster kuat yang akan memakan banyak korban? Interpretasi tersebut barangkali paling akurat. Hingga saat ini, pemikirannya terlalu menuju inti.

Namun monster-monster kuat itu berwujud apa? Apakah makhluk lebih buruk dari moss huge yang diperkuat akan muncul kembali di Dungeon?

Makhluk cukup kuat untuk membunuh kami semua—bahkan Aisha, seorang petualang kelas dua?

Tupai akan bermekaran menjadi bunga daging …. Dalam mimpinya, Lilly mati dengan isi perutnya tumpah ruah ke mana-mana.

Rubah akan segera terkoyak-koyakHaruhime tenggelam dalam lautan darah, tercabik-cabik.

Palu akan dihancurkan …. Welf kehilangan lengan dan kakinya, visi kejam.

Hidup para petarung asing akan dijadikan mainan …. Mayat Mikoto, Chigusa, dan Ouka, ditumpuk di atas satu sama lain.

Penggoda berdarah akan melarikan diri membawa kenang-kenangan rubah, tetapi akan berduka karena dikotori taring dan cakar tak terhitung jumlahnya …. Aisha, membawa mayat manusia rubah, melambat kelelahan sampai akhirnya dikerumuni dan dimakan kawanan monster.

“Urgh …?!”

Sesaat kata-kata dan bayangan setiap baris ramalan terbesit dalam benaknya, Cassandra buru-buru menekan mulutnya dengan tangan.

Kendati gambarnya kabur, seperti angan-angan, penglihatan rekan-rekannya dibunuh dengan kejam sangatlah mengerikan dan menakutkan. Dia masih tidak mampu menampik syok melihat mereka.

Apalagi …

Daphne!

 Seorang teman akan memberi kesedihan. Di mimpinya, Daphne berlumuran darah yang mata hampanya menghembuskan napas terakhir di hadapan Cassandra.

Cassandra merasakan aliran air mata, tetapi dia habis-habisan berusaha menahannya.

Ini bukan kenyataan. Dia mesti bertarung sekarang tuk memastikan tragedi ini tidak menimpa Daphne serta yang lain.

Tenang; tenanglah!

Tidak ada waktu untuk menangis atau berputus asa. Dia memarahi dirinya sendiri.

Selama kau duduk-duduk bermimpi. Aisha dan semua orang akan dibantai. Namun monster macam apa yang sanggup melakukannya? … bos lantai?

Kembali mengendalikan emosinya, Cassandra mengamati ruangan besarnya sekali lagi. Ruangan penuh petualang-petualang kelas atas bersenjata lengkap.

Sekilas, dia menduga pasti ada sekitar tujuh puluh orang. Satu-satunya monster yang dapat dia bayangkan membantai kelompok ssebesar ini adalah Monster Rex.

“… uh, Nona Lilly? Pikirmu bos lantai, anu … tidak lama lagi akan muncul?”

“Maksudmu Amphisbaena? Jangan remehkan aku, Nona Cassandra! Aku pergi ke Guild dan meneliti waktu spesifik kemunculannya untuk memastikan kita tidak berpapasan dengannya selama ekspedisi ini. Baru-baru ini dihabisi tepat dua minggu lalu, jadi kita punya dua minggu tambahan sebelum ia muncul lagi!”

“B-benar juga …” kata Cassandra, menundukkan kepala canggung ketika Lilly marah-marah mengomelinya; lagipula; bertarung melawan bos lantai pada ekspedisi pertama bukan candaan.

“Amphisbaena itu bos lantai bawah, kan? Aku yakin dia muncul di lantai 27,” kata Welf.

“Nona Aisha, Apa kau pernah bertarung melawannya seewaktu masih di Ishtar Familia?” tanya Mikoto.

“Iya. Mereka tentu lebih kuat ketimbang Goliath. Guild menilainya selevel Level Enam karena mereka hidup dalam air, tetapi kekuatan mentahnya lebih dekat ke Level Lima. Andaikan kita menemui salah satunya dalam kelompok para petualang kelas atas sebanyak ini, kita akan mampu mengalahkannya,” jawab dia.

Selagi Cassandra menelinga percakapan mereka, dia sekali lagi cemas.

Jadi Aisha pernah melawan Monster Rex lantai bawah …. Kalau yang dikatakannya benar, maka Monster Rex pastinya takkan dapat menyebabkan pembantaian semacam yang kulihat dalam mimpi …

Dengan pemikiran ini, dia makin-makin tidak yakin bencananya apa. Kepalanya mulai pening.

Akankah ada banyak monster? Party monster besar atau sesuatu semacamnya …?

Itu mungkin. Tapi tetap saja, dia merasa itu kurang tepat.

Sesudah lama memikirkannya, dia menggeleng kepala. Dia tak sampai ke mana-mana jika mencari tahu sifat sejati bencana tersebut. Menyerah pada fakta menebak lebih lanjut itu sia-sia, dia lanjut memikirkan kalimat lain ramalan.

Satu-satunya peringatan dalam mimpi ini adalah baris matahari yang kembali dihidupkan …. Namun apa maksud matahari itu …?

Terkadang, mimpi Cassandra mengandung peringatan perkara cara menghindari ramalan. Biasanya, berbentuk abstrak atau alegoris dan karenanya sulit ditafsirkan. Alhasil, Cassandra normalnya tidak bisa menghindari kemalangan.

Apakah mataharinya simbol atau alegori? Bisa jadi Apollo? Akankah sesuatu berhubungan dengannya menyelamatkan engkau—aku—ketika aku membisu dalam peti mati? Ataukah referensi mataharinya aku? Iyakah sesuatu terjadi pada siang hari? Namun waktu dalam Dungeon beda dari permukaan …. Argh! Ini tidak berkembang sama sekali!

Tinjunya membentur kepala, kemudian tenggelam depresi.

Haruhime dan Chigusa tersentak kaget. Di sisi lain, Daphne—yang sudah lama mengenal Cassandra sampai terbiasa sama Susana hatinya—sepertinya muak.

Kumpulkan pecahan-pecahannya, sucikan api, memohonlah pada cahaya matahari …. Kelihatannya kalimat ini terkoneksi dengan kalimat yang ada kata matahari, tetapi aku tidak tahu apa hubungannya sama yang sebelum atau sesudahnya …

Cassandra mengepalkan tangan yang bertumpu pada lututnya.

Firasatku bilang aku tahu di mana tempat pembantaiannya … jika kami tidak berada di sana di suatu waktu, kami semestinya dapat menghindari perjamuan bencana

Cassandra menghirup bau-bau khas yang dikeluarkan bunga Dungeon sambil merenungkan kesimpulannya, memikirkan dia dapat berbuat apa.

“Uh, Nona Cassandra?”

Dia tidak sadar anak laki-laki berambut putih itu lagi berlutut di depannya, menatap wajahnya.

“Oh! Aduh! Tuan Bell!”

Bell menyeringai ketika Cassandra menjerit terkejut. Dia ragu-ragu sepintas, lalu pelan-pelan membuka mulut.

“Anu … kalau ada yang meresahkanmu, tolong beri tahu aku.”

“Huh?”

“Aku tahu kita dari familia berbeda, tapi kita di party ini bersama-sama, dan …. Yah, jika ada yang bisa kulakukan, aku mau bantu. Maksudku, tidak persis harus aku; boleh saja Nona Daphne atau Nona Haruhime …”

Dia memberikan Cassandra sebotol air dingin. Sepertinya dia memberanikan diri menghampiri petualang bertengkar untuk mengambil air tawar dari mata airnya. Dia menyadari wajah kesusahan Cassandra dan ingin melakukan sesuatu untuknya.

Kemungkinan besar, Bell tahu Cassandra diganggu mimpi ramalan bahkan sebelum mereka meninggalkan Rivira.

Gadis itu berkedip terperangah dan merona.

Dia betulan … berubah …

Belum lama ini, dia selalu tersipu dan kebingungan setiap kali sesuatu terjadi. Sebagaimana Cassandra.

Selama ekspedisi, Mikoto mengajarinya pepatah dari Timur Jauh, menggunakan Bell sebagai contohnya: Kalau kau belum melihat seorang pria selama tiga hari, perhatikan baik-baik dirinya saat kalian bertemu. Memang benar—keahliannya kelihatan tumbuh hari demi hari. Dia menjadi pemimpin sejati party.

Tentu saja, dia tetap bukan orang yang Cassandra sebut bermartabat, namun kapan pun Bell sadar ada yang salah, dia berpikir bisa melakukan apa untuk membantu, lanjut bertindak berdasarkannya. Perkara moss huge pun benar, seketika Cassandra tak yakin mesti melakukan apa sebagai penyembuh mengenai tanaman parasit merambat mengganggu party. Dia duduk di samping Cassandra kemudian menggenggam tangannya, menyemangatinya.

Rupanya dia masih dapat merasakan kehangatan genggaman Bell.

Sewaktu dia berpikir parahnya lagi Bell lebih muda, dia mau nangis.

“Terima … kasih …” katanya lirih, mengambil botol dan berisik meneguknya.

Bocah itu menggaruk pipi dan tersenyum malu-malu.

Si gadis tak tahu apa yang terjadi hingga sebegitumengubahnya. Tetapi dia merasa tenggelam dalam kebaikannya.

“Uh, um …”

Dia baru mau membuka mulut mengatakan sesuatu, masih tidak yakin ingin bilang apa, seketika terjadi keributan di dekat pintu ruangan.

“Bors! Sekawanan mammoth fool!” teriak seorang petualang.

Biarpun ukuran makhluknya setiap individu bervariasi, semuanya berukuran antara enam sampai tujuh meter lebarnya dan bahkan dari kejauhan mencolok. Taring melengkung naik mereka sepanjang tombak, dan bulu mereka semerah darah.

Mammoth fool adalah contoh monster langka di Labirin Pohon Kolosal yang bahayanya cuma dari kekuatan kasarnya; kebanyakan lain punya kemampuan khusus semacam serangan tak teratur atau bagai serangga keras kerapas. Para mammoth juga merupakan monster biasa lantai menengah terbesar.

“Sekawanan bocah-bocah kategori besar, ya? Kalian siap-siap bertarung! Kaki Kelinci, kau juga!”

Dipanggil namanya oleh Bors yang memegang kapak, Bell melompat bagai kelinci sungguh. Sesaat Cassandra menghembus napas, dia sudah berada jauh, memimpin serangan menuju kawanan monster.

“…”

Aisha dan Ouka bergegas bergabung dalam pertempuran melawan empat mammoth fool yang tampaknya cuma mereka anggap merepotkan, lalu Chigusa berlari mendukung mereka. Cassandra menatap sedih Bell yang bertarung.

Dia dapat pedang lebar dari Bors dan sedang menebas kaki-kaki hewan-hewan buas, menjatuhkan mereka dengan suara memekakkan telinga.

Selagi mengemban api magisnya, bocah pemberani itu terlihat layaknya pahlawan dongeng bagi Cassandra.

Dialah satu-satunya orang yang tidak jelas ditandai kematian dalam mimpiku …

Sang elf ditakdirkan membimbing segalanya menuju kehancuran, memaksa api putih mengaum memutar takdir kejam. Api putih mengaum adalah satu-sautnya kata yang sepertinya berkenaan Bell.

Cassandra yakin Elf yang ditakdirkan itu adalah Lyu. Takdir tidak terhindari keduanya akan saling bertemu. Bagian menyeramkannya adalah cara elf itu menyalakan api. Nampaknya ramalannya berbeda tipe dari ramalan mengenai Aisha dan yang lain.

Dia melihat peri-peri kecil mengepakkan sayapnya sebagaimana api putih mengaum mengelilinginya. Penglihatannya berakhir persis sebelum dia ditelan semacam bencana hitam legam.

Jikalau ada yang ingin membatalkan ramalan mengerikan ini—bukankah dia orangnya?

Cassandra mengerutkan bibir. Mikoto, Daphne, beserta Welf yang tetap tinggal di belakang melindungi para pendukung dan mengawasi monster lain; sekarang mengambil langkah pertama berniat melawan ramalannya, Cassandra menghampiri Welf.

“Anu, Tuan Crozzo.”

Penempa muda tersebut sedang menyaksikan pertempuran dan hendak bergabung.

“Berhenti memanggil nama keluargaku, oke? Welf saja,” katanya, kelihatan kecewa momen hendak bertarungnya dicegat.

Di waktu yang sama, Welf sedikit terperanjat Cassandra memanggilnya. Gadis itu meminta maaf gugup lalu menguatkan tekad membahas topik. Cassandra memutuskan meminta Penempa Besar—yang keterampilannya secara bertahap meningkat—suatu permintaan.

Ketika dia ajukan permintaan, Welf menjawab blak-blakan, seperti halnya sifatnya sebagai pengrajin.

“… bisa kulakukan, tapi kenapa kau mendadak memintanya?”

“Uh, anu …”

“Jujur deh, tidak bisa dibilang pengen banget melakukannya. Kami putuskan dia bakal membawa senjata yang aku tempa pribadi.”

Cassandra yang biasanya pemalu tampaknya tidak ingin lagi membalas perkataan Welf, tetapi kemudian dia mengerucutkan bibirnya lagi.

“Dia … Tuan Bell bisa sembrono demi orang lain …. Itu sifatnya. Aku mau membantunya …” ucap Cassandra, sambil melihat mata si penempa.

Dia tak mengungkit mimpinya. Dia tahu Welf takkan memercayainya jika diungkit. Tapi dia barangkali percaya pengakuan perasaan jujurnya.

Seperti Bell, Cassandra telah berubah dan tumbuh. Welf diam-diam mendengar dia bicara, kilat tajam di balik matanya yang memiring ke bawah. Welf terdiam sejenak, lalu membuka sudut mulutnya.

“Oke. Aku lakukan.”

“S-seriusan?”

“Yap. Jangan pedulikan ocehan seorang penempa sombong. Sama seperti pedang sihir …. Aku putuskan berhenti menimbang harga diriku pada teman-temanku,” ucapnya, tersenyum ibarat melupakan masa lalu.

Entah bagaimana, Cassandra tahu senyumnya adalah hasil perjuangan batin panjang. Dia sungguh iri padanya sampai-sampai terdiam sesaat, di waktu yang sama pula bersimpati terhadap perjuangannya.

“Ditambah, sesuatu mengenai bisnis sekarang ini terlihat mencurigakan bagiku. Aku setuju denganmu kalau Bell roman-romannya bakal melakukan hal sembrono. Aku malah tak kaget misal menjadikan semua petualang dalam ruangan ini musuhnya demi melindungi elf itu …. Lagian, rekan jahatku punya catatan melakukan hal mirip-mirip itu.”

Welf memikirkan waktu-waktu bersaama Xenos, ekspresi serius di wajahnya, tetapi demi menyembunyikan pikiran sebenarnya, Welf akhiri kalimatnya dengan lelucon. Cassandra mengangguk-angguk penuh semangat.

“T-t-terima kasih banyak!”

Pertama kalinya, dia merasa ibarat tindakannya berdampak kepada masa depan. Tiada satu pun hal berubah dari hasil mimpinya, namun tetap saja, dia merasa sangat-sangat bahagia.

“Lilly kecil, ambilkan aku bengkel portabel yang kubawa. Juga pinjamkan aku barang-barangmu selagi mengambilkannya. Mungkin karena kepanjangan jadi terseret-seret di tanah.”

“Tapi Welf-sama, kau sendiri ‘kan yang mengukurnya!”

Welf mengambil alat dari Lilly yang kemurkaannya sekali lagi berkobar-kobar. Menaruh bengkel berbentuk kotak di depannya, dia mulai membangun bengkel miniatur di salah satu sudut Dungeon.

“Kalian gadis-gadis, bantu aku dong. Para monster berkumpul, kelihatannya Bell dan petualang lain bakalan lama. Aku ingin menyelesaikannya sebelum mereka tuntaskan.”

“Ya, pak!”

Mikoto, Haruhime, dan Daphne berkumpul di samping penempa beritikad membantu.

Para petualang lain yang menetap di barisan belakang ikut berkerumun, menjulurkan leher ketika pekerjaannya dimulai.

Sesaat teriakan para petualang dan monster bergema di latar belakang, Cassandra sadar dia merasa bersemangat.

Ж

“Ahhh …”

Hestia mendesah santai dan membaringkan dada ke atas meja, menindih payudara besarnya. Dia berada di kediaman Hestia Familia, Hearthstone Manor, bermalas-malasan di sekitar ruang tamu.

“Hari ini kau kelihatan lesu. Kerjamu lagi libur?”

Tanya Miach. Dia datang membawa sejumlah paket.

“Ya. Ajaibnya, aku libur dari tempat Hephaestus dan Jyaga Maru Kun, juga. Tapi tidak suka menyia-nyiakan hari libur saat Bell dan anak-anak lain tidak ada!” jawab Hestia.

Dengan aliansi fraksi banyak familia berangkat menuju ekspedisi dan seluruh anggota Hestia Familia ikut andil, kediaman mereka ditinggalkan tanpa pertahanan. Yang menggantikan, beberapa dewata dekat Hestia bergantian mengirim anggota familia mereka ke Hearthstone Manor.

Hari ini giliran Miach Familia. Miach sendiri ikut datang, seraya ngobrol sama Hestia, Nahza si manusia anjing membuka pintu dan masuk.

“Lady Hestia, saya sedikit bersih-bersih …”

“Oh waw, sungguh, masa? Makasih banyak!”

“Tidak masalah …. Bagaimanapun, Anda membuatkan saya makan malam dan memperbolehkan saya mandi di sini juga.”

“Yah, manis sekali kau mengatakannya seperti itu,” ucap Hestia.

Nahza tersenyum, kelopak mata terkulainya sekilas membuatnya nampak ngantuk. Ekor pinggangnya yang naik-turun juga bergerak ke sana-kemari, seolah-olah menantikan senjata hari.

“Omong-omong, Hestia, gaduh-gaduh di halaman belakang itu apa?” tanya Miach.

“Oh, itu … Hephaestus mengirim salah satu penempa mudanya sebagai penjaga, tapi dia orangnya aneh. Dia meminta melihat bengkel Welf, sebab mereka dulunya satu familia … dan pas aku iyakan, dia menggeledah tempatnya, kini sudah mulai membuat semacam senjata …”

“Yah kalau begitu, aku ingin melihat-lihat ruangan Lilliluka …. Aku bertaruh dia punya sejumlah barang-barang tidak biasa dan obat-obatan tersembunyi di sana …. Bolehkah?” tanya Nahza.

“Jangan! Dia akan marah padaku!”

Miach menyeringai pada posisi rendah Hestia, sekalipun dia dewi mereka.

“Kau merasa gelisah karena Bell dan anggota lain pergi?”

“Ya, tentu saja. Tapi aku masih harus menyambut baik mereka sepulangnya, kek senang atas semuanya,” jawab Hestia sebelum balas bertanya Miach. “Kau bagaimana? Daphne dan Cassandra ‘kan yang pergi ekspedisi?”

“Jelas aku tidak bisa berhenti merisaukannya dan merasa kesepian …. Tapi sampai saat ini, selalu saja cuma aku dan Nahza. Aneh bilang semuanya kembali ke keadaan semula, tapi aku menganggapnya semacam hadiah kecil untuk diriku sendiri alih-alih menganggapnya selingan damai.”

“…”

“Kita sudah lama saling kenal. Aku hampir merasa nyaman Nahza di sisiku,” ucap Miach ramah, senyum wajah seorang dewa tampan.

Suara gebrak berisik terdengar dari rak yang dirapikan Nahza, punggungnya menghadap kedua dewata. Ekornya bergoyang-goyang.

Hestia tidak tahu latar belakang cerita dari kata-kata serba kasih sayang Miach, tapi entah kenapa membuat dadanya terbakar, lantas dia mengubah paksa topik pembicaraan.

“Omong-omong, Miach … aku ingin menanyakanmu soal Cassandra,” katanya, wajah dan nadanya pasif. “Aku memikirkan ini sejak dia masih dengan Apollo, namun …”

“Ya …. Dia bisa melihat hal-hal. Hal-hal yang kita para dewata tidak bisa lihat.”

Nahza menoleh menghadap dewa-dewi yang saling mengangguk, lalu kepalanya memiring bingung.

“Entah apa tujuan Apollo menahannya dalam familianya … tetapi dia sepertinya membawa misteri dunia fana dalam dirinya.”

“Misteri yang bahkan melebihi kita … aku tentu paham alasan dewa-dewi sungguh terpesona oleh dunia fana sedari pertama mereka turun dari surga,” tutur Hestia, berat badannya disandarkan ke belakang kursi. Sesaat, dia menatap langit-langit, ibaratnya membayangkan sifat awal dunia fana.

“Aku sendiri belum banyak bicara dengannya. Dia ini gadis macam apa omong-omong? Tanya Hestia, laksana pertanyaannya terbesit dalam benaknya.

“Cassandra itu orang aneh …” jawab Nahza, sambil mengambil teko dari rak. Seraya bicara, dia menyiapkan teh hitam untuk semua orang. “Pertama-tama dia mirip Bell—Tidak, bahkan lebih pemalu dan canggung dari dia …. Akhir-akhir ini kurasa dia mulai lebih nempel ke kami …. Tapi dia senantiasa antusias membicarakan hal-hal filosofis …”

“Filosofis?” tanya Hestia.

“Saya tidak bisa menjelaskannya …. Tapi saya pikir ada hubungannya sama takdir atau semacamnya …”

“Ah, takdir …”

“Dia mengatakan hal-hal yang jelas bohong, kadang kala saya benar-benar tidak memahami dia …. Seperti pas cangkir favorit saya pecah, entah kenapa dia yang paling kesal sendiri …”

Selagi Nahza dan Hestia bicara, Miach berdiri di samping, mendengarkan sambil terdiam.

“Itu maksud anehnya dia. Seakan-akan dirinya hidup di dunia berbeda dari kita semua …” ujar Nahza.

“…”

“Dan Daphne tetap Daphne, dia mengatakan isi kepalanya, dan itu bahkan membuat Cassandra kurang percaya diri dan lebih pemalu dari sebelumnya …”

Nahza mengendus uap mengepul dari pemanas air kemudian tersenyum.

“Tapi, saya menyukai mereka. Mereka itu orang yang para dewa barangkali panggil pasangan aneh. Dia selalu saja mencemaskan sesuatu, kelihatan murung terus …”

“Aku memang perhatikan dia kelihatan agak suram …. Tapi apa yang membuatnya tidak begitu, Nahza?”

“Dia gembira sewaktu melihat Bell …”

“A-a-apa?! Tidak mungkin! Jangan bilang bahkan gadis itu menyusun skema mengincarnya?!” tegas Hestia, loncat berisik merespon ekspresi Nahza menurut yang dirasakan insting wanitanya.

“Saya pikir bukan begitu,” ucap si manusia aning sembari mengatur tiga cangkir teh di atas meja. “Saya terkejut dia sudah sejauh ini melanjutkan sebagai petualang.”

“Terlepas penampilannya, dia kelihatannya punya kekuatan dalam lubuk hatinya. Sesekali ketika tersenyum, dia terlihat penuh cahaya sampai-sampai aku tidak mampu berpaling darinya,” kata Miach.

“…”

“Aduh, Nahza! Kenapa kau mencubitku? Itu sakit …!”

“Kupikir seharusnya kau tidak bilang tak mampu berpaling darinya kepada siapa pun!”

Ketika dialog konyol antara anggota Miach Familia terungkap, Hestia mengunyah potongan Jyaga Maru Kun sambil meminum teh sama sekali tidak menghiraukan sekitarnya, tampak tidak teratarik sepenuhnya.

“… oh, ada orang di depan pintu?”

Suara bel pintu bergema di seluruh ruangan.

“Saya yang terima,” tutur Nahza, berdiri. Dia kembali kemudian waktu bersama sepucuk surat di tangannya.

“Nampaknya surat dari Lilliluka …. Dia bilang mereka diminta melakukan sesuatu di lantai delapan belas …”

“Surat dari pendukungku? Sulit percaya si pelit kecil itu rela menghabiskan sesuatu untuk mengirimkanku sesuatu …”

Biasanya, jika seseorang diminta oleh sesama petualang untuk menerima misi mumpung berada di Dungeon, mereka meminta harga di atas pasar. Dengan kata lain, mereka memanfaatkan situasinya. Itu lebih benar lagi bagi para petualang kelas atas dengan kemampuan mencapai zona aman sejauh mungkin. Hestia bicara canda, tetapi fakta Lilly—seorang manajer keuangan tegas tersohor—sudah sampai menggunakan lambang familia dan menulis pesan bertanda tangan dan bersegel, terlebih lagi dia mengirim seorang pengantar pesan dari lantai delapan belas padahal Bell bisa saja pergi sendiri, itu membuat Hestia berfirasat buruk.

“… party pemburu dibentuk untuk mengejar elf kedai itu?! Demi melakukan sesuatu mengenainya, mereka bergabung party pemburu?!”

“Hestia, apa yang terjadi?” tanya Miach.

“A-a-aku tidak tahu …”

Hestia syok atas berita tidak terduganya dalam surat itu. Ditulis secara samar agar tidak ada informasi bocor bila mana dicegat orang luar familia, namun suratnya menyebutkan pertemuan mereka dengan spesies yang diperkuat serta keputusan untuk mengakhiri ekspedisi.

Hestia membaca ulang suratnya dua atau tiga kali, lalu menyerahkannya kepada Miach, tercengang.

“Apa-apaan yang sebenarnya terjadi di Dungeon …?”

Hestia cuma dapat mendesah terhadap kalimat terakhir, yang mana Lilly mengirim pasukan pendukung ke Dungeon untuk jaga-jaga sekiranya terjadi sesuatu—seumpama Lyu tertangkap—demi membebaskannya.

Ж

Meskipun diserang para mammoth fools sedang mereka beristrirahat, party pemburu Badai Angin melanjutkan tanpa insiden. Sesuai instruksi Bors, mereka mengorek setiap lantai, kemudian menempatkan penjaga di lorong antar lantai. Tak lama setelahnya mereka sampai di lantai 24.

Sehari telah berlalu, dan bahkan para petualang yang paling antusias mengejar buronannya kini mulai melambat.

“Hey, berhenti merangkak! Ayo cepat! Angin Badai bisa saja melakukan kejahatan lain!”

“Tenanglah, Turk. Lebih bego lagi kalau terburu-buru dan melewatkan petunjuk di perjalanan. Aku tidak menyangkal merasa lambat, sih …”

Dari kejauhan, Cassandra mendengar para petualang bertengkar di perjalanan. Dia berbalik menghadap Lilly.

“Um, Nona Lilly …. Boleh pinjamkan aku peta lantai?”

“Apa, lagi?”

“Ya, aku ingin meminjam peta yang berbeda lantai kali ini …. Maaf.”

Lilly menyipit curiga mata cokelat kemerahan bundarnya tetapi ujung-ujungnya mengambil peta lantai dari ranselnya.

Cassandra yang sudah memegang satu peta lain, mengambil peta satunya dari Lilly.

“Nona Cassandra bermaksud apa …?”

“Y-y-ya, apa, ya? Dia terus melihat peta Dungeon …”

Haruhime dan Chigusa saling berbisik saat Cassandra menyelipkan tongkat penyembuhannya di ketiak dan menatap perkamen terbuka. Cassandra tak menyadarinya; dia terlampau terpaku pada peta. Setetes keringat jatuh dari wajah tegangnya.

“Awas, Cassandra; nanti kau tersandung,” ucap Daphne sambil memindai jalan di depan mereka.

Cassandra mencoba menghentikan Bors dan rekan-rekannya melanjutkan ekspedisi perburuan, tetapi dia gagal, sebagaimana perkiraannya. Kembali ke fakta dia mesti melakukan sesuatu sendiri, kini dia sungguh-sungguh harus mencegah ramalannya terjadi. Demi melakukannya, dia mencoba mengingat sebanyak mungkin informasi perihal setiap lantainya sebisa dia.

Menatap petanya begitu fokus sampai seakan membolonginya, Cassandra memeras otak mencari ide baru.

“Aku tahu ini prosesnya bakal panjang, tapi pencariannya sangat memakan waktu, bukan …?”

“Kita hampir kelar sama lantai menengah. Kalau Nona Lyu berada di Labirin Pohon Raksasa, menurutmu kita akan menemukan paling tidak satu atau dua petunjuk segera …”

Cassandra mendengarkan obrolan Mikoto dan Lilly, dan dalam hatinya, dia menggeleng kepala.

Tidak …. Ini tidak benar.

Angin Badai tidak berada di bagian Dungeon ini.

Ini bukan tempat elf ditakdirkan menuntun para pengejarnya menuju kehancuran.

Nabiah tragedi tahu dalam hatinya bahwa Labirin Pohon Raksasa bukan tempat malapetaka yang ditujukan.

Mimpi ramalan buruk menggumamkannya.

Arus biru langit akan memerah darah, lalu kumpulan makhluk-makhluk aneh akan bersukacita.

Kedalaman neraka akan dipenuhi mayat, mengembalikan segalanya kepada sang ibu.

Tiga dari tujuh belas kalima ramalan menyebutkan lokasi, dan kalimat kelima dan keenam dari paruh pertama menyebutkan lokasi spesifik …!

Arus langit biru.

Kedalaman neraka.

Dalam konteks kejadiannya, cuma ada tiga tempat yang dirujuk kalimatnya.

Ya! Dengan kata lain—

“Hah? Ledakan?!”

“Gelombang kejutnya berasal dari bawah …. Dari lantai bawah?!”

—asalnya hanya dari Ibu Kota Air

Tanah terguncang dan suara sesuatu retak membuat para petualang kalang kabut.

Peta lantai bawah masih digenggam gemetar Cassandra selagi dia menahan napas.

Dia tahu waktunya telah tiba.

 Peluit awal telah berbunyi, kini ramalannya akan menjadi nyata.

Bibirnya gemetar bisu.

“Ayo pergi!”

Menuruti perintah Bors, semua orang mulai berlari. Para petualang menjilat bibir penuh antisiapsi dan ketegangan Bell seperti party-nya sama-sama ditarik maju oleh suara ledakan berselang-selang. Cassandra, berlari menuju belakang kelompok, tersiksa kegelisahan yang belum pernah dirasakannya.

Dia putus asa berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar kencang.

Selagi mereka bergegas melalui lorong yang menghubungkan lantai 24 dan 25, langkah kaki tak terhitung jumlahnya bergema di gua bertakhtakan kristal. Mencapai ujung lereng panjang, mereka melompat ke mulut gua yang dibanjiri cahaya biru.

Di hadapan mereka mengalir air biru-zamrud nan indah dari Air Terjun Besar dan gua kristal menganga.

Untuk kedua kalinya, Bell dan anggota party lain mendapati diri mereka menatap pemandangan menakjubkan Dunia Baru.

“Wow …. Ledakan lain!”

“Apa Angin Badai sedang mengamuk?”

“Gelombang kejutnya datang jauh dari bawah …. Mungkinkah asalnya dari lantai 27?”

Ibu Kota Air dimulai dari lantai 25 hingga lantai 27, dengan Air Terjun Besar yang menghubungkan ketiga lantainya.

Di setiap lantai ini, sebuah gua masif berisi air terjun dan kolam terjun sebesar danau. Jauh, jauh dari pinggiran tebing tempat mereka berdiri sekarang adalah titik ujung lantai 27.

Dikelilingi para petualang, Bors menyipitkan mata kanannya yang tidak ditutup.

Asap abu-abu berbeda dari kabut air terjun melayang ke atas sedangkan ruangan kristal tenggelam ke dalam kolam terjun bagaikan gunung es menyingsing, pecah oleh gelombang kejutnya. Bell barusan keluar dari massa semburan yang menggelembung mewujud kabut putih dari air terjun.

“Ledakan-ledakan itu kayaknya bukan perbuatan monster! Kemungkinan, ini perbuatan seorang petualang—atau lebih tepatnya, Angin Badai! Aku akan memilih orang-orang terbaik di antara kalian untuk turun menuju lantai 27! Sisanya, tingal di sini dan jaga lorongnya!”

“Yeaaaaaaaah!”

Merespon perkataan Bors, para petualang dengan antusiasnya mendorong pedang, tombak, serta kapak mereka ke udara. Keletihan mereka kini hilang, sekelompok tentara bayaran menyerukan teriakan perang bersemangat mereka begitu perburuan Angin Badai akhirnya dimulai.

Di sisi lain, party Bell buru-buru membentuk lingkaran beberapa langkah jauhnya dan mulai mendiskusikan strategi mereka.

“Di sinilah waktunya jadi kritis. Kita harus mencari Lyu sebelum keduluan para petualang lain,” tutur Lilly.

“Iya. Kita perlu mendapatkan informasi dari mereka tentang kejadiannya juga,” tambah Bell.

“Jelas …. Namun ledakan itu apa? Rasnaya kaut. Kau sungugh mengira si elf menggunakan sihirnya atau semacamnya?” tanya Welf.

Cassandra telah mengabaikan perbincangan mereka dan malah melirik gugup lorong menuju lantai 24, tetapi saat ini dia menggeleng kepala. Sudah waktunya memutus hubungan sebagian dirinya yang masih ingin berbalik kabur.

Bahkan selama delapan belas tahunnya, dia punya pengalaman menyakitkan ketika tahu desakan lemah semacam itu takkan membelokkan mimpi ramalannya.

Sekaranglah segalanya dimulai.

Mulai saat ini, dia tidak boleh berbuat kesalahan apabila ingin membelokkan ramalannya. Itulah yang dia katakan kepada dirinya sendiri, mencoba mencari keberanian walau jantungnya yang berdegup cepat serasa bak ingin muntah lagi.

“Jadi, lanjutkan … Lilly punya perasaan ganjil perkara lantai 27. Kita entah bagaimana perlu bergabung party spesial dan mengontak Ly—”

“Uh, bentar!”

Cassandra menyela prum si pemimpin party di tengah kalimatnya.

“Kukira tidak usah pergi ke lantai 27, kan …? Akan sukar bergerak dalam kelompok sebesar itu …”

Ada banyak hal yang tidak dia pahami tentang mimpi ramalannya, tetapi setidaknya dia punya ide bagus persoalan lokasinya.

Kedalaman neraka akan dipenuhi mayat, mengembalikan segalanya kepada sang ibu.

Cassandra menyimpulkan kedalaman neraka ini mengacu pada ujung Air Terjun Besar di lantai 27, yang mana merupakan lantai paling bawah Ibu Kota Air. Dengan kata lain, di sanalah malapetakanya terjadi. Kalau saja dia dapat menjauh dari lantai 27, Lilly dan yang lainnya seharusnya sanggup menghindari kematian yang diramalkan. Bagi Cassandra yang bergelut dengan makna banyaknya mimpi-mimpi tidak masuk akal masa lalu, poin yang satu itu rasanya pasti. Selagi dalam hati mencela diri sendiri karena bicara tidak jelas demikian, Daphne di sampingnya bicara.

“Aku setuju sama Cassandra. Meskipun kita bertarung di lantai ini sebelumnya, kita cuma mengeksplorasinya sekali. Tidakkah kau pikir kita kemungkinan bakal membuat kesalahan di tempat yang sama sekali tak familiar?”

“D-D-Daphne …”

“Biarpun kita mengandalkan proteksi Kaki Kelinci serta Antianeira, aku ragu kita akan mampu menemukannya lebih cepat dari petualang-petualang lain.”

Penalaran Daphne sepenuhnya tidak ada hubungannya dengan kekhawatiran Cassandra—menghindari ramalan. Tetapi Daphne pernah didesak menjadi peran komandan Apollo Familia, dan dia takkan melepaskan sikap kehati-hatiannya terhadap area berisiko semacam lantai bawah.

“Ngomong-ngomong, aku pribadi tidak mau mempertaruhkan nyawa untuk seseorang yang hampir tidak kukenal,” pungkasnya bercanda.

“… aku mengerti. Kau benar kalau kecepatan berbanding terbalik sama ukuran party, dan kali ini kita harus bergerak cepat. Karenanya, jangan kirim semua orang ke lantai 27,” ucap Lilly, mempertimbangkan kata-kata mentornya.

Cassandra merasa sangat lega. Dia yakin mereka telah menghindari skenario terburuknya. Dia melemaskan bahu dan mendesah.

“Jadi selain Tuan Bell dan Nona Aisha, siapa yang akan pergi?”

Seketika, tubuh Cassandra menegang lagi.

“Aaaaaah, anuuuu?!”

Dia lagi-lagi menginterupsi Lilly, mengangkat tangan kanannya. Aisha, yang kematiannya jelas diberitahu ramalannya, tidak boleh pergi ke lantai 27. Cassandra harus menghentikannya!

Lilly terlihat muak pada interupsi lain, sementara Aisha melirik curiga. Cassandra yang sebelumnya tidak memikirkan kudu mengatakan apa, menggerak-gerakkan mulutnya tanpa suara, berikutnya menggerakkan mulut menutur kata-kata.

“N-N-Nona Aisha mestinya tinggal di lantai 25 bersama semua orang …”

“Kenapa?”

“Di lain hari waktu Haruhmie pingsan dan lalu aku membawanya ke lantai delapan belas … dia sebetulnya beneran berat …!”

“Hah?!”

Itu bohong.

Dia sangat ringan.

Jubah Goliath terasa lebih berat ketimbang Haruhime. Faktanya, sekalipun dadanya besar, pinggulnya kecil sekali hingga Cassandra putus asa sama pinggulnya sendiri. Dia tersentak dan tersipu seketika si manusia rubah berteriak menyangkal klaim palsunya.

“Kalau-kalau kita harus kabur dan dia harus digendong lagi, aku hanya, um, punya firasat buruk bahwa Lilly dan aku barangkali tidak bisa melakukannya sendiri …. T-t-tentu saja semua orang akan melindungi kita juga, tapi tanpa Aisha di sini, Haruhime bagaimana, karena dia berat banget …?”

Sesaat Cassandra dengan panik mengulang-ulang kata berat, tatapan Daphne berkata, Kau punya dendam sama dia atau semacamnyakah?

Di sisi lain, air mata mengalir di mata Haruhime sewaktu orang lain membicarakannya seolah seperti barang bawaan. Dia terus melirik Bell yang sepertinya tidak tahu wajahnya harus memasang ekspresi apa dan nyaris-nyaris kelihatan pingsan karena malu.

“… yah, benar memang dia tumbuh peesat dibanding saat kami masih di Timur Jauh. Apalagi dadanya,” gumam Ouka.

“Betulan?” Welf menjawab dengan sedikit penasaran.

“Mulai, Ouka!! Welf juga!”

Bentak Chigusa, menjadikan kelompok makin kacau. Mikoto yang berdiri diam gugup dan tak yakin mesti melakukan apa, mengelus hibur bahu Haruhime.

Isak manusia rubah itu ditelan gemuruh Air Terjun Besar.

“Siapa peduli rubah tolol ini ringan atau berat? Dia hanya perlu berdiri di dekat lorong sini. Ada banyak petualang lain di sekitar, dan bila keadaan jadi berbahaya, dia selalu bisa menggunakan sihirnya,” ucap Aisha.

“Uh …”

“Kalian sungguh was-was sekali. Sebenarnya, misalkan kalian tidak belajar mandiri selagi aku tak ada, entah aku akan melakukan apa. Hestia Familia pun termasuk.”

Cassandra tidak tahu bagaimana mestinya menanggapi perkataan blak-blakan ekstrim Aisha. Di waktu yang sama, melihat perhatian murni Aisha kepada adiknya, Cassandra merasa malu pada upaya nekat memanfaatkan Haruhime demi tujuannya sendiri.

Terlepas dari itu, dia harus menemukan cara mencegah Aisha pergi ke lantai 27. Dia semakin tertekan.

“… um, Nona Aisha.”

Bell menatap wajah Aisha, dan akhirnya angkat bicara.

“Maukah mengikuti permintaan Cassandra dan tetap berada di lantai 25?”

“Hah …?” Cassandra terkesiap. Dia melihat heran selagi Bell melanjutkan.

“Bocah, kau bicara apa? Jangan bilang kau akan memintaku menjaga rubah goblok ini juga?”

“Bohong seandainya tidak bilang begitu …. Tapi ada orang lain yang kuingin kau awasi.”

“Seseorang yang kau ingin kuawasi?” Aisha membalas ragu.

Bell condong mendekat ke kelompok dan menunjuk salah seorang petualang.

“Manusia serigala yang bersikeras pelakunya Lyu-lah … Angin Badai … yang melakukan pembunuhannya. Dia terus saja mengulang itu, kayak membuat semua orang emosi.”

“… benar juga, dia memaksa semua orang untuk cepat-cepat pergi ke sini. Dipikir-pikir, memang tak wajar,” tukas Lilly.

“Persis. Kurasa orang itu … bohong.”

Lilly dan orang lain menatap diam-diam kelompok para petualang, di sana mereka bisa melihat seorang manusia serigala bicara dan menggandeng tangan petualang lain.

Bell sejenak mengamatinya, lalu kembali menatap Aisha.

“Seandainya Lyu tak bersalah, maka orang itu tidak baik.”

“…”

“Seumpama dia melakukan hal janggal, aku ingin kau menghentikannya …. Ataukah aku tidak tepat?”

Walaupun Bell membagikan pemikirannya tanpa ragu-ragu sampai saat ini, dia malah kurang meyakinkan.

Alih-alih menjawab langsung pernyataannya tepat atau tidak, Aisha mendesah panjang.

“Barangkali katamu ada benarnya. Berhati-hati sajalah, kau dan aku mesti berpisah,” katanya.

“Baiklah, Nona Aisha, aku mengandalkanmu.”

“Tapi. Andai perasaanku benar … elf itu akan kelewat merepotkan untuk kau atasi sendiri,” ucap Aisha, menatap tajam Bell. Dia kelihatannya mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang lain.

Bell sepintas ragu, tetapi kemudian wajahnya menampakkan ekspresi tegas.

“Aku percaya Nona Lyu.”

“… terserah kalau begitu.” Aisha menghembus napas, mata menyipit dan diam-diam menerima dirinya akan tinggal di lantai 25.

Cassandra menyaksikan kaget sesaat Bell berterima kasih kepada si Amazon. Mata merah muda merah Bell sekejap menatap mata Aisha, lalu mulutnya nyengir sedikit.

  Ah …

Cassandra sadar Bell berusaha mati-matian membuat Aisha tetap di lantai ini dan memberikan bantuan. Tentu saja, dia pun punya alasan tersendiri …. Namun tetap saja, dia menghormati Cassandra yang berjuang sendiri tanpa seorang pun percaya padanya.

Sekali lagi, dia merasakan cahaya panas berdenyut jauh dalam dadanya.

“Tapi tidak apa-apakah Bell Cranell pergi sendirian?” tanya Ouka, jelas khawatir.

“Benar katamu itu bakal sulit, tapi fakta Bell-sama akan bisa bergerak lebih mudah sendiri jauh melebihi risikonya. Kurasa inilah cara terbaik bagi Bell untuk mendahului para petualang dan mengontak Nona Lyu,” jawab Lilly.

Ditambah lagi, dia mengungkit, sisa anggota party bakalan kesulitan melalui lantai ini sendirian, sementara Bell bisa berkeliaran sebagai pemain solo bahkan di lantai dalam.

 “Ngomong-ngomong, Welf barusan selesai membuatkannya perlengkapan protektif tangguh,” ucapnya, menatap si penempa.

“Bell, ambil ini.”

“Welf … ini apa?”

“Ini Syal Goliath. Aku membuatnya dari potongan jubah Lilly kecil.”

Bell menatap kain hitam legam yang Welf pegang. Itu bagian Jubah Goliath yang menawarkan kekuatan pelindung setara dinding besi. Walaupun tidak menutupi area seluas jubah, perlengkapan pertahanan raksasa itu sekuat dan setahan barang apa pun yang ada di sini.

“Aku membuatnya diam-diam selagi kalian bertarung di lantai 21. Tidak gampang, percaya deh! Aku tak punya persiapan tepat, jadi mesti menggunakan pedang sihir untuk memotongnya.”

“Uh, Welf … kau yakin tidak apa-apakah?”

Tanya Bell, melihat temannya.

Sesuai yang Bell ketahui, penempa itu enggan rekan kontraknya menggunakan drop item dari monster. Namun terlepas dari kebanggaan penempanya, Welf mengangguk.

“Ya. Jujur saja, aku lebih ingin kau cukup bertahan menggunakan zirah yang kubuatkan …. Tapi jika sesuatu terjadi padamu, aku takkan bisa memaafkan diri sendiri. Lagi pula, aku sudah berhenti menimbang kebanggaanku dengan pertemanan kita, kan?”

Dia tersenyum sambil memberikan Bell Syal Goliath.

“Maaf, bung—tidak terlalu bergaya.”

“Jangan khawatir. Tapi aku yakin benda ini akan membuatku sakit leher!” canda Bell, membungkus syal ke lehernya. Harga drop item berkekuatan pertahanan luar biasa setara bobotnya.

Selagi dua orang tersebut tertawa dan bercanda bagai saudara, Welf tampaknya tiba-tiba mengingat sesuatu, dan dia membungkuk lalu berbisik ke telinga Bell.

“Waktu aku membuatnya, peramal Mirabilis kita ini membantuku. Sebetulnya, dialah yang menyarankanku membuat ini.”

“Masa?”

Bell berhenti bergerak saat disebutnya nama Cassandra dan menatap ke arahnya. Pipi gadis itu memanas dan matanya menurun.

“Um …. Terima kasih, Nona Cassandra.”

“…”

Sewaktu Lilly dan anggota lain memerhatikan, Cassandra menatap Bell yang menghampirinya. Penyembuh itu senang Bell berterima kasih padanya dan gembira melihat senyum kekanak-kanakan di wajahnya.

Mendadak, muncul pikiran di benaknya.

Kendatipun ramalannya tidak langsung merujuk kematian Bell, tidak apa-apakah dia pergi seendirian? Seandainya dia biarkan, hal buruk tentu akan terjadi padanya. Dia tahu saja.

Dia sudah sampai sejauh ini. Bukankah bisa dia bujuk sedikit lagi?

… tidak, itu mustahil. Mustahil aku dapat menghentikannya.

Selagi menatap mata Bell, dia menyerah pada harapan sekilas tersebut yang terlintas dalam pikirannya. Semohon apa pun dia, Cassandra tahu takkan mampu menghentikannya. Bagaimanapun, beberapa hari yang lalu dia baru menyadari kehendak kuat identik takdir kuat?

Kendati dia percaya pada mimpiku, akankah dia …?

Dia berkali-kali bertanya-tanya apakah harus mengatakan yang sebenarnya kepada Bell perihal ramalannya, sebab dialah satu-satunya orang yang memercayainya. Namun seiring waktu, Cassandra menahan diri.

Berasumsi Bell percaya semua yang Cassandra katakan padanya, Bell akan melakukan apa bila mana takdir kejam itu menunggu Lyu? Dia tahu jawabannya bahkan tanpa memikirkannya. Bell akan terbang mendatanginya, meski tahu sedang menyerbu rahang kematian.

Kalaupun masalahnya demikian, maka lebih baik dia simpulkan tidak memberitahunya.

Dia sendiri tak memahami semuanya. Dia tidak mau membuat keputusan keliru dengan membagikan mimpi tak masuk akal padanya.

“… Tuan Bell.”

Cassandra merasa mimpi ramalannya adalah kutukan.

Tidak seorang pun percaya padanya.

Tidak ada yang serius menganggapnya.

Dia bahkan tak tahu para dewata menyadari kejadian mendatang atau tidak.

Tetapi satu orang … anak laki-laki ini … percaya kepadanya. Kepercayaannya menyelamatkan Cassandra.

Dia tidak ingin melepaskannya. Dia tidak ingin meninggalkannya. Dia tidak ingin kehilangannya.

Jika demi menjaganya di sisinya, gadis itu bahkan akan menjadi kekasihnya. Pasangan seumur hidup.

Tapi emosi yang berkalkulasi ini, hasrat yang lebih ingin menyelamatkannya alih-alih menginginkannya, itu menyimpang. Walaupun dia seketika merasa tertarik kepadanya, bukan bocah itu sendiri yang tertarik melainkan semata-mata ilusi bahwa dia seorang yang meyakini mimpinya. Kurang lebih demikian isi pikiran Cassandra.

Maka dari itu, dia jelas bukan wanita yang tepat untuk Bell.

Namun dia ingin Bell hidup … paling tidak. Tidak apa-apa ‘kan menginginkan itu?

“Tolong kembalilah hidup-hidup,” ucapnya, suaranya serba emosi. Jika orang lain mendengarnya, dia tahu mereka bakalan berpikir dramastis berlebihan.

“Begitu kita kembali ke permukaan bersama-sama … ada banyak hal yang pengen … aku beritahukan kepadamu,” tambahnya.

Dia cuma dapat memercayakan segalanya kepada anak ini.

Kepada cahaya putih yang akhirnya tidak dapat dia lihat bahkan dalam mimpinya sekalipun.

Seketika mata ragu-ragu sang nabiah menatapnya, Bell tersenyum cerah, seolah-olah menghapus tragedi.

“Ya, aku berjanji. Aku akan kembali.”

7 Replies to “DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 13 BAB 2”

  1. Wohohoho alangkah baiknya mimin ini
    —–
    Pahlawan sejati mah emang gitu, klo si casandro bilang tentang mimpinya ke bell, si
    Bell bakal jadi lebih kekeh buat nyelamatin si angin badai

  2. Pikir gua lebih barbar arc xenos, ternyata di arc ini juga bakal barbar, idealisme pahlawan nya si bell bakal di uji rupanua…..
    _

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *