DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 13 Bab 1

Posted on

Berkas Kasus Cranell Muda

Penerjemah: DarkLeon

“Itu buruk …”

Para petualang meringis serempak begitu mereka melihat pemandangan tersebut. Noda hitam kemerahan berceceran ke mana-mana.

Di tengahnya, tergeletak bak boneka, mayat.

Mayat sesama petualang, tercabik-cabik menyedihkan—lebih tepatnya tertusuk-tusuk—membuat luka tusukan tak terhitung jumlahnya.

Aku kehabisan kata-kata selagi berdiri membeku di tanah sebelum kejadian ini. “Mustahil …”

Welf-lah yang bicara. Dia dan anggota party sisaku terlambat bergabung bersama sekelompok petualang yang berkumpul sesudah mendengar insidennya. Alisnya memberengut sambil mengerang.

Lokasi kami sekarang ini ada di lantai delapan belas Dungeon.

Kami kembali ke zona aman demi mencari pengobatan untuk anggota-anggota terluka party gabungan kami—dibentuk dari fraksi-fraksi aliansi antara Hestia Familia dan beberapa Familia lain—setelah kami berhasil mengatasi moss huge Abnormal yang ditemui di lantai rendah, tujuan ekspedisi kami. Saat ini, kami mestinya merencanakan perayaan untuk memperingatkan kepulangan selamat kami bersama Modi Familia dan Magni Familia yang kami temui di tengah jalan.

Namun rencana tersebut gagal total sebab kemunculan mayat ini.

“Oh ya … tentunya pembunuhan. Ini kerjaan manusia, bukan monster …”

Bors, kepala Rivira, mendecakkan lidahnya saat menatap mayat tersebut. Dia dan kelompok petualang yang ribut-ribut lagi berkumpul di kaki pulau besar yang berdiri dari rawa-rawa pinggiran kota.

Dia benar. Luka di tubuh kelewat bersih jika diakibatkan taring atau cakar monster. Hanya bisa diperbuat pedang seorang petualang. Kemungkinan besarnya, serangan fatal yang menyisakan lubang berlumuran darah di leher si petualang.

Seluruh mayatnya dipenuhi tebasan yang membuktikan keganasan serangannya. Ada pula luka-luka dari senjata tumpul, termasuk tulang hancur serta anggota badan patah. Mata berdarahnya terbuka lebar … seakan-akan petualang itu menghadapi sesuatu menakutkan namun tak sanggup melakukan apa-apa untuk melawannya.

“Ugh …” erang Haruhime, menekan satu tangan ke mulutnya.

“Tolong jangan lihat, Nona Haruhime,” tukas Mikoto, memeluk bahu temannya dan menghalangi pemandangan mengerikan tersebut dari pandangannya.

Terperangkap dinding penonton, Lilly beserta Aisha saling tukar pandang. Di dekatnya, Ouka berdiri bungkam sedangkan Daphne mengerutkan kening. Tapi Cassandra si penyembuh lebih pucat dari siapa pun.

“Hei, Bell, kau oke?” tanya Welf, kedengaran gelisah. “…”

Aku tidak bisa mencari kata-kata untuk menjawabnya. Aku cuma menatap kaget mayat petualang itu.

Jantungku berdegup kencang. Tentu saja aku terguncang. Berada di lokasi kematian petualang lain—di lokasi pembunuhan—jadi kejutan besar untuk jiwa dan ragaku.

Perasaan itu kuat sekali hingga pipiku yang basah keringat merasa ketakutan.

“Pelakunya Angin Badai! Dia di sini! Dia yang melakukannya …!” napasku tercekat terhadap kata-katanya.

Ya, memang, nama yang menyebabkan keributan di antara para petualang tidak lain adalah Angin Badai.

“Aku melihatnya! Aku melihat seorang elf bertudung menikam Jan kek orang gila terus kabur!” teriak laki-laki manusia serigala, seorang penduduk Rivira dan orang pertama yang menemukan mayatnya.

Ketika menyebut nama almarhum kenalannya, dia memeluk mayat itu, menarik tatapan Bors dan para petualang yang berkumpul.

“Aku pernah sekali melihat Angin Badai, bersama sekelompok anggota Astrea Familia. Orang-orang itu sekuat monster. Wajahnya sepanjang waktu disembunyikan … tetapi mata biru langit yang kulihat dalam topengnya persis seperti yang kulihat hari ini!”

Boleh jadi sebab menghidupkan kembali pengalaman itu, petualang manusia serigala gentar dari ujung kepala hingga kaki selagi bicara.

Tidak salah lagi—deskripsinya cocok. Namun aku masih tak percaya.

Aku tidak ingin memercayainya.

Kok bisa Angin Badai—teganya Lyu—melakukan hal semacam ini? “Aku yakin! Angin Badai membunuh Jan!” teriak si manusia serigala.

Sewaktu aku pengen membalas …

“Tunggu sebentar!” petualang lain angkat bicara.

“Dari katamu …. Aku melihat seesorang bermantel lari melintasi lapangan.”

“Oh, aku juga! Dia langsung pergi ke Pohon Sentral … kemudian turun langsung ke lantai di bawahnya!”

Aku kehilangan kesempatan menyela sesaat para saksi bicara satu per satu. Tampaknya beberapa petualang melihat seseorang mirip Angin Badai dari berbagai sudut pandang Rivira, yang diukir membentuk tebing dan punya pandangan luar biasa menuju medan sekelilingnya. Lilly, Welf, Mikoto, serta Haruhime—semua orang yang tahu latar belakang Lyu—wajahnya membantu.

Entah kenapa, Aisha pun terdiam. “… tapi bukannya Nona Leon Angin Badai mati lima tahun lalu? Dan walaupun dia masih hidup, mengapa dia mencari masalah sekarang?” tanya Mikoto. Dia termasuk orang-orang yang memihak perjuangan Lyu, dan dia memutuskan mengungkap keraguannya.

“… aku dengar rumor bahwa Guild dan Loki Familia merencanakan operasi skala besar dalam waktu dekat ini. Kabar di jalan menyatakan mereka menemukan tempat persembunyian rahasia sisa-sisa Evilus,” ujar Bors dengan nada serius tak biasa.

Kata persembunyian rahasia menyadarkanku. Knossos, dungeon buatan manusia.

Para pemburu kejam yang menangkap Wiene serta Xenos lain memanfaatkan tempat mengerikan itu sebagia markas. Betul-betul incubator Evilus.

Pasti ada hubungan antara Evilus yang membesar di Orario lima tahun lampau dan Lyu yang merupakan anggota Astrea Familia. Aku dengar dari elfnya sendiri persis di lantai delapan belas ini.

“Seandainya Angin Badai masih hidup dan memanfaatkan ekspedisi baru dari Guild ini untuk menjadi aktif lagi … semuanya bakalan masuk akal.”

“…!”

“Angin Badai itu petualang gila, didesak kebencian pada mereka yang membunuh familianya, menghancurkan siapa pun yang mencurigakan tanpa memberi kesempatan membantah. Dia akan membunuh semua orang yang dianggapnya termasuk area abu-abu … termasuk para pedagang dan anggota-anggota Guild,” lanjut Bors, menyilangkan tangan dan memandangi kerumunan.

“Banyak penduduk kota ini yang semuanya mengetahui Evilus. Sebetulnya, semua orang di sini punya karakter mencurigakan. Kita ada di Kota Pengembara ini sebab tidak mampu tinggal di permukaan mengikuti aturan keras Guild, lantas kita tak punya pilihan lain.”

Aku pernah menelinga tentang pasar bawah tanah di Rivira sini, di luar pengawasan Guild, terlibat perdagangan ilegal merajalela dengan para petualang. Ada desas-desus barang ilegal dan bahkan barang-barang langka seperti Status Thief dapat dibeli, yang terbuat dari ichor para dewa. Jelas saja semuanya abu-abu gelap nyaris sampai hitam.

Mengesampingkan para petualang seperti kami yang mampir dalam perjalanan menuju berbagai lantai, orang-orang yang hidup di kota ini ke semuanya terlibat bisnis berisiko. Kata-kata Bors pastinya menyentuh hati, sebab hampir semua orang yang berdiri di sekelilingku bergidik.

“Angin Badai boleh jadi telah memutuskan kita, termasuk Jan yang terbaring di sebelah sana, jatuh ke sisi hitam,” kata Bors.

“I-ini bukan candaan, Bors! Iya, kita melakukan banyak hal busuk sehari-harinya sampai tak terhitung, tapi apa kau sungguh membela pembunuhan berdasarkan kecurigaan belaka?” seorang manusia hewan pemilik penginapan berteriak.

“Ya, kita mungkin jahat, tapi tak ada hubungannya sama Sisa-Sisa Evilus!” suara teriakan melengking seorang pedagang Amazon kedengaran mirip jeritan.

Hal itu membuat semua penduduk Rivira lain ikut berteriak.

Sekejap mata, tingkat kehebohan dan amarah kepada Angin Badai membengkak.

“Bors, ayo tangkap dia!”

Aku tidak percaya barusan mendengar apa.

“Jan, sesama warga kota kita terbunuh karena sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal! Biarpun kita tinggal di Kota Pengembara, tidak bisakah setidaknya memenuhi kewajiban kita kepada komunitas dan membalaskan kematiannya?!”

Bisa jadi dikuasai kematian kenalannya, manusia serigala yang pertama kali menemukan mayatnya tengah berdebat marah, wajahnya merah padam. Ketika panasnya argumen menyebar ke orang-orang di sekitarnya, Bors menyilangkan lengan kekarnya dan suara bingungnya merespon.

“Yang kau katakan benar … namun aku mengutamakan hidupku. Yang terjadi pada petualang lain bukanlah urusanku. Pikirmu aku akan mengejar monster Level Empat seperti Angin Badai, yang masuk daftar hitam dan tengah dicari?”

“Omong-omong dirinya dicari, bukannya ada hadiahnya? Uang yang disiapkan beberapa asosiasi pedagang masihlah diperebutkan, kan?”

“Setelah kau bahas, kurasa hadiahnya … delapan puluh juta valis?”

“—dengar, semuanya. Aku akan mengumpulkan kelompok untuk membunuhnya!”

Mendengar ini, Bros melambaikan tangan penuh semangat.

“Kami akan membalas dendam sesama warga kota! Takkan kita biarkan orang lain mengambil kepalanya! Uang hadiahnya milik kita!” teriaknya.

“Yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”

Bors jelas-jelas teralihkan keinginan egoisnya. Matanya cuma bisa melihat uang. Aku hanya dapat memberengut Kata-katanya membuatku risau. Welf dan Mikoto merasakan hal yang sama. Setiap petualang yang berkumpul membuat perhitungan individualisnya sendiri, banyak yang berteriak penuh semangat.

Semua bukti menunjuk Angin Badai. Sayang sekali, tetapi itu kebenarannya. Alasan lain aku merasa sangat kebingungan adalah karena perkataan Bors mengingatkanku sesuatu.

Sesuatu yang Lyu pernah katakan kepadaku sebelumnya.

Aku membiarkan emosi mengambil alih, dan aku melancarkan balas dendamku.

Bahkan bukan keadilan.

Andai Lyu merasa dia telah menemukan Evilus yang takkan pernah dimaafkannya, juga keinginan jahat balas dendamnya telah kembali … mungkin itu motifnya.

Lyu, sungguhkah kau betul-betul melakukan ini?

Bayangan seorang elf tunggal berdiri di depan segunung mayat berlapis darah segar terbesit di ingatanku.

Matanya brutal, laksana dikonsumsi badai emosi gelap nan kejam.

Aku buru-buru menyingkirkan penglihatan mengganggu itu. “Tunggu sebentar!”

Kali ini, aku lantang-lantang mengutarakannya, semua orang menghadapku.

Takkan mungkin Lyu melakukan ini.

Paling tidak, aku, yang sudah mendengar ceritanya, mesti menyuarakan keraguanku! Aku masih ingat ekspresinya, teramat-amat penuh kesakitan dan kehampaan.

“Bukankah terlalu dini berasumsi ini perbuatan Angin Badai?”

“Apa, kau menuduhku berbohong?!” petualang manusia hewan itu balas membentak.

Ada hal lain yang menggangguku. Aku menghadapinya secara langsung.

“Kau tahu dari mana pelakunya Angin Badai?”

“Sudah kubilang! Aku pernah melihat Angin Badai sebelumnya! Dia dan kriminal yang membunuh Jan itu sama!”

“Sudah berapa lama kau tinggal di Rivira?”

Manusia serigala yang menyembur marah, menatap ragu diriku sambil merespon pertanyaan anehku.

“Hah? Aku sudah di sini selama bertahun-tahun! Kau mungkin tidak sadar, tapi kami beberapa kali berpapasan di kota, Tuan Pemula Super!”

“Jadi kau di sini empat bulan lalu saat insiden itu terjadi?”

“Terus kenapa?”

Ya, ada yang aneh. Dan tanggapan manusia serigala terhadap pertanyaan terakhirku, keraguan samar berubah menjadi keyakinan.

Ada yang janggal.

Sebenarnya, sudah tiga setengah bulan lalu Black Goliath muncul. Lyu melawannya, tepat bersama para penduduk kota Rivira. Manusia serigala ini jelas-jelas baru bilang dia di sini saat kejadian tersebut terjadi. Tak masuk akal tidak menyadari Lyu waktu itu.

Tentu saja mustahil mengingat semua petualang yang terlibat, sebab pertarungan sengit terjadi di seluruh lantai. Namun Lyu persis di sana bersama Asfi, menahan bos lantai sepanjang waktu. Terlebih lagi, dia menggunakan sihir kuatnya untuk melawan Black Goliath. Mustahil manusia serigala itu tak mengingatnya.

Menimbang situasinya, bisa saja tidak seorang pun menyerahkannya ke pihak berwenang kala itu. Tetapi masa lalu Lyu pun tidak terungkap setelah insiden tersebut. Menilai reaksi Bors dan yang lainnya sekarang, tidak seorang pun sadar Angin Badai adalah petualang yang bertarung bersama mereka di lantai ke delapan belas.

Tetapi misal penyamarannya benar-benar sempurna … boleh jadi si manusia hewan tak tahu orang yang bertarung semencolok itu adalah dia, tapi manusia serigala itu mengenalnya di sini meski informasinya seterbatas itu?

Kalau bisa, aku tak mau meragukannya. Aku tidak ingin, tapi …

Orang ini bohong …!

Aku balas menatap tatapan tajamnya yang mengancamku.

Dia tidak tahu Angin Badai.

Sesuatu semacam intuisi seorang petualang membisikkan pikiran tersebut kepadaku.

“… Kaki Kelinci, maksudmu kriminalnya bukan Angin Badai?” tanya Bors.

Banyak petualang yang mengelilingiku matanya curiga.

Barangkali karena penduduk Rivira memercayai manusia serigala itu sampai mereka skeptis pada klaimku. Bors pun termasuk.

Mereka menimbang buronan Angin Badai dengan perkataan sesama penduduk kota.

Jelas mereka percaya siapa. Tak seorang pun mendukung diriku yang membela elf yang masuk daftar hitam.

Kalau kau ingin mengatakan sesuatu, katakan sajalah. Tampaknya begitu yang dikatakan mata-mata di seluruh sisiku.

Aku hampir saja mundur, tetapi masih menahan diri. Lyu takkan melakukan ini. Itu yang aku yakini. “Angin Badai—”

Aku hendak mengatakan dia bukan kriminalnya tetapi Aisha mengulurkan tangan dan menarikku mundur.

“Hentikan.”

“Apa?!”

“Maaf sudah mengganggu semuanya. Nah, kalian semua bilang apa, ya?”

Aisha melangkah maju ibarat menggantikanku, tangan terlipat di balik payudaranya, dia mendesak kerumunannya untuk melanjutkan.

Bors dan yang lainnya menatap dada besar lalu belahan dada dalam Aisha yang berdiri di sana dengan bibir memikatnya tersenyum menawan. Bors mulai terperanjat sesudah melihat ekspresi jijik dan decak lidah para wanita di kerumunan, lalu setelah batu-batuk sengaja, dia melanjutkan percakapan seakan-akan tidak ada yang terjadi. Seolah-olah dia lupa aku ada.

Aisha yang sangat terbiasa menghadapi karakter kasar, diam-diam menyentakkan dagunya seakan-akan bilang: Ayo pergi dari sini, tetapi aku tidak dapat menahan desakan diri bertanya mengapa dia menghentikanku.

Tepat ketika ingin melakukannya, seseorang menarik mundur bahu kananku.

“Tenanglah, Bell.” “Welf …”

Sekarang dia mendebatku juga.

Aku menutup mulut dan mengangguk pelan selagi tubuhnya yang satu kepala lebih tinggi menatapku dengan tatapan seorang kakak.

Seluruh rombongan party kami menjauh dari Bors dan penduduk lain yang membicarakan perburuan Angin Badai.

“Pikirmu kau ini sedang apa, pemimpin?” tanya Aisha seketika kami sudah menjauh. “Bukan ide bijaksana membela gadis itu.”

“Lilly setuju. Menilai kejadiannya, kita tidak boleh mencari musuh di sini.”

“Tapi Nona Aisha, Lilly—”

“Siapa tahu, orang-orang bahkan mungkin mulai mencurigai kita terkait kejahatan itu,” lanjut Lilly.

“!”

Kata-kata Lilly membuatku tersentak.

Aku sungguh fokus memikirkan Lyu sampai-sampai tidak mempertimbangkan kemungkinannya.

… Aisha benar. Aku mengecewakan mereka sebagai pemimpin.

Walaupun aku ingin membela Lyu, seharusnya reaksiku lebih tenang. Aku hampir saja menyereet Welf dan kawan-kawan lain ke sesuatu yang berisiko.

Aku merasa sangat malu pada tingkah tidak dewasaku ini.

“Sialan, pas kupikir kau sudah sedikit lebih dewasa, kau malah berperilaku macam anak kecil lagi,” ucap Aisha.

“Maaf …” kataku, melihat ke bawah dan menundukkan kepala. Aisha tertawa.

“Bukan hal buruk seandainya dalam hatimu tetap seperti itu.”

“Huh?”

“Kau marah sama orang yang bahkan bukan bagian familiamu …. Bukannya itu yang orang lain sukai darimu? Aku kebalikannya, tentu saja.”

Aku terkejut mendengarnya mengatakan itu.

Saat aku lihat sekeliling, aku dapati Haruhime dan Mikoto tersenyum sedangkan Ouka menutup mata dan menyeringai, di sisi lain Daphne mengangkat bahu, dan Cassandra menunduk malu-malu.

“Ditambah lagi, jika peri kaku itu di sini, aku yakin tahu dia bakal mengatakan apa.” Aisha menaikkan bibir memberi kesan tak meyakinkan soal Lyu.

“Dia akan bilang: Tuan Cranell, itulah kebaikanmu.”

Ж

 

Cahaya telah sirna dari gugus-gugus kristal berbentuk bunga krisan di lantai delapan belas, dan senja tanpa matahari hadir di Dungeon.

Kami kembali ke pusat Rivira dan sedang berkumpul di ruangan tempat tinggal kami. Tempat yang kami pilih adalah Penginapan Willy, hotel murah dibangun dalam gua. Dibanding harganya, penginapannya merupakan salah satu tempat terbaik Rivira, dan ruangan kami sekarang bisa dengan mudah mengakomodasi sepuluh lebih tamu. Kami menemui Chigusa yang beristrirahat memulihkan diri dari tanaman merambat parasit yang ditanam dalam dirinya oleh moss huge yang diperkuat.

“Berdasarkan bukti, Angin Badai adalah tersangka utamanya …. Sayang sekali, fakta itu tidak bisa diubah,” tukas Lilly, berpaling menghadap kami semua yang berdiri dikelilingi dinding batu tanpa hiasan serta lampu berbatu sihir.

“Namun sesuai perkataan Tuan Bell, ada beberapa hal yang menjanggal. Kesampingkan motif Lyu dulu …. Selagi Tuan Bell berdebat dengan orang lain, Nona Daphne dan aku mengamati mayatnya lebih dekat.”

“Benar juga, aku tersadar kalian berdua tengah merencanakan sesuatu …”

Kata Welf, sedikit kaget.

“Jujur saja, aku sebetulnya tidak mau.”

Daphne mendesah enggan.

Aku menyadari Lilly yang menghilang misterius sesaat Aisha menginterupsi argumenku. Nampaknya mereka segera memutuskan rencana sendiri.

Lilly bilang aku yang mengalihkan perhatian orang banyak jadi bantuan besar … tetapi selagi berdiri di samping trio licik ini, aku merasa takkan pernah setara dengan otak sejati party.

“Ada bekas tusukan di sekujur tubuh …. Namun di antara luka acak pedang itu, ada pula luka tajam di lengan dan kaki. Aku tidak ingin menyebutnya bersih … tetapi nampaknya luar biasa cepat luka itu dihasilkan.”

“Dengan kata lain …”

“Teramat-amat mungkin luka-luka spesifik tersebut diakibatkan Angin Badai. Aku cuma melihat sekilas dari kejauhan, namun lukanya hampir kelihatan identik dengan hasil yang kulihat dari pedang pendeknya sebelumnya.”

Ekspresi kaget menyebar di wajah Mikoto seraya Lilly bicara. Aisha melanjutkan penjelasannya.

“Kemungkinan besar, dia melukai urat daging keempat anggota tubuhnya biar tidak mampu melarikan diri.”

“K-kenapa dia melakukan hal itu …?” tanya Haruhime, ekor rubahnya gemetar terhadap bayangan syok itu.

“Yang kukatakan ini spekulasi murni … tapi aku yakin dia mempertanyakan si petualang,” jawab Aisha.

Welf dan Ouka yang mendengarkan perbincangannya, terkesiap heran.

“Mustahil! Maksudmu elf itu baru saja mengekstrak sejumlah informasi dari tuh orang?”

“Begitu dia dapat, pergilah dia … sebelum turun ke lantai rendah, sesuai kata para saksi?”

“Yah, ada banyak alasan untuk membunuhnya sesudah dia memaksanya bicara,” jawab Daphne, ibaratnya itu hal yang normal total untuk dilakukan. “Tapi bukankah ada hal aneh tentang menusuk seluruh tubuhnya seblak-blakan itu, kek menunjukan amarah dan kebencian Angin Badai?”

Artian lain, bisa jadi sudah diatur.

Orang lain barangkali mendapati petualang yang Lyu tinggalkan setelah interogasinya, dia bunuh, selanjutnya tikam ke banyak tempat biar Lyu dicurigai.

Itu implikasi tak terkatakan Daphne.

“W-waw, Daphne …. Kau sudah seperti detektif saja!” Kata Cassandra penuh semangat.

“Bacot,” dia balas membentak, mencoba menyembunyikan rasa malunya.

“Eeeh!” jerit Cassandra yang ditampik kasar.

Aisha melanjutkan penjelasannya.

“Penduduk kota Rivira mengincar kepala Angin Badai. Mereka pasti akan mengirim party pemburu.”

“Itu buruk …” gumam Chigusa, mewakili kami semua.

Sejenak, hening menguasai ruangan.

“Jikalau kita ingin menghilangkan kecurigaan Nona Lyu … hal paling pentingnya sekarang ini adalah mencapainya sebelum keduluan mereka,” tutur Lilly, menutup diskusinya.

Kami harus lebih cepat mencapainya lebih dari orang lain dan mencari tahu kebenarannya. Itu langkah pertama. Mata cokelat-kastanye Lilly menatap tepat diriku selagi menjelaskan kita perlu melakukan apa.

“…”

Mata semua orang alamiahnya tertarik kepadaku juga. Sejenak, seluruh energiku dipusatkan ke kepalan tanganku.

Informasi apa yang Lyu dapatkan dari petualang mati, kenapa dia menuju Dungeon? Dia mengetahui apa?

Kalau kriminalnya orang lain, mengapa mereka ingin menyudutkan salahnya ke Angin Badai?

Ada banyak hal yang tidak kami pahami.

Namun misalkan dia terlibat dalam insiden ini … maka jawabanku telah diputuskan.

“Ayo cari Nona Lyu.”

Semisal dia terseret ke suatu skema, aku ingin membantunya.

Lilly, Welf, Mikoto, Haruhime, Ouka, beserta Chigusa mengangguk bareng-bareng. Waktunya melunasi hutang budi kepada elf bertopeng yang membantu kami berkali-kali. Dari pertarungan fana melawan bos lantai Goliath hingga Permainan Perang dan bahkan selama pertarungan di Dedalus Street menghadapi Xenos, dia telah membuktikan diri sebagai sekutu tak ternilai berkali-kali lagi.

Melihat situasinya sudah tidak bisa dirubah, Daphne dan Cassandra ikut-ikut dalam rencana juga.

“Baiklah, mari siap-siap!”

Kata Welf, sambil mengepalkan tinjunya ke telapak tangan berusaha mengubah suasana hati ruangan.

Itu sinyal agar semua orang terjun ke persiapan.

“Barangkali artinya kita harus bergabung bersama party pemburu Rivira, kan?” tanya Ouka.

“Ya. Walaupun kita pergi sebelum mereka, Dungeon itu kebesaran. Peluang kita menemukan Lyu dengan mencarinya secara acak sangatlah kecil,” jawab Lilly.

“Kita tidak tahu lantai mana dia berada …” Chigusa setuju. Haruhime menyelesaikan pikirannya.

“Jadi kita memanfaatkan kekuatan kerumunan dan mulai mencari beberapa petunjuk perihal posisinya …?”

“Betul, Nona Haruhime. Namun agar mencapai Nona Lyu duluan, di suatu titik kita harus mendahului party pemburu …” respon Mikoto.

Welf dan Cassandra mulai memeriksa peralatan kami, sementara beberapa orang mulai berkemas untuk misi pencarian. Aku berdiri ke samping sedikit, mengawasi persiapan penuh semangat ini, seketika Aisha menghampiriku.

“Bell Cranell.”

“Ya?”

“Aku rasa kau tahu ini, tapi seluruh percakapan barusan cuma spekulasi. Interpretasinya yang sesuai saja sama kita—Tidak, yang paling sesuai dengnamu …. Sangat mungkin elf itu sendiri yang membunuh si petualang.”

“…”

“Pastikan saja kau ingat itu.”

Rasanya dia tahu sesuatu.

Sesuatu tentang Lyu …. Sesuatu mengenai situasi terkini.

Aku tatap punggung Amazon selagi dia gerai rambut hitam panjangnya. Hatiku berdegup tak tentu.

Ж

“Bagus …” gumam si gadis, satu jarinya menaikkan kacamata.

Mantel putih bersihnya tergerai. Cahaya lampu berbatu sihir sedikit menyinari rambut hijau kebiruan mudanya. Salah satu bagian poninya diwarnai seputih salju, dan dia menghunuskan belati perak tajam berkilauan dengan satu tangan.

Selagi Asfi Al Andromeda melihat-lihat sekeliling, sandalnya dilengkapi sayap emas lecet di lantai.

Udara dngin melayang lewat.

Dinginnya dungeon bawah tanah yang tak setitik pun sinar matahari menembus.

Dia tidak berada di dungeon natural yang terbentang di bawah Orario, melainkan.

Dia berada di Knossos, dungeon buatan manusia.

Asfi memimpin Hermes Familia melalui labirin yang dibangun keturunan terkutuk sang pengrajin legendaris, Daedalus.

“Kukira bakal menjadi pekerjaan mudah, menyelinap melalui Loki Familia selagi maju melewati Knossos, memeriksa jalan-jalan yang sudah mereka bersihkan … tapi tempatnya penuh monster!”

Tanah di depan Asfi dan anggota familia lain berserakan mayat-mayat monster yang beberapa saat sebelumnya terkunci dalam pertarungan sengit. Seolah-olah menanggapi desau Asfi, salah satu mayat yang batu sihirnya retak langsung menjadi abu.

Di sisi lain Hestia Familia telah pergi berekspedisi, beberapa familia lain bekerja sama dengan eselon-eselon tinggi Guild untuk diam-diam melancarkan Operasi Penaklukan Knossos. Guild telah menyelidiki dungeon buatan manusia atas perbuatan jahat Ikelus Familia, dikepalai pemburu brutal Dix Perdix, mengungkap keberadaannya, akhirnya menentukan Knossos tidak boleh diabaikan. Agar tidak membangkitkan kecurigaan warga kota yang masih dalam pengaruh kejadian Xenos terbaru, operasinya dijalankan secara sangat rahasia yang diketahui sejumlah familia terpilih saja.

Hermes Familia adalah salah satunya.

“Aku tahu mereka menangkap Xenos hidup-hidup … tapi aku tidak sadar orang-orang Ikelus Familia membesarkan monster-monster lepas lain. Ataukah pikirmu mereka melepaskan mereka karena memprediksi kita akan datang ke bawah sini?”

Asfi dan para anggota lain familia diberi pengarahan mengenai Xenos oleh Hermes dan familiar dengan seluruh situasinya.

Alhasil, mereka membayangkan tempat ditangkap dan dikurungnya monster-monster Dungeon. Akan tetapi, mereka tak menyangka akan terus bertemu monster setiap kali mencoba menelusuri jalan setapak, persis sebagaimana Dungeon asli. Selagi dia berdiri dikelilingi dinding batu dingin yang membentuk labirin, Asfi mendesahkan salah satu ketiga desahan kebiasaannya.

Ada hal lain yang mengesalkannya.

“Asfiii! Elf bertopeng itu pasti sudah gila! Bukannya dia mestinya mendukung?”

“Percayalah—aku tahu …”

Mereka mengandalkan Lyu, tapi kini dia telah pergi.

Saat gadis manusia anjing berteriak padanya, Asfi mengeluhkan elf yang yang telah lama pergi.

“Menurut pernjanjian kita, kau tidak diharuskan bertindak semaumu …. Betul, Leon?”

 Sehari sebelum operasi Hestia Familia mengembalikan Xenos ke Dungeon dimulai. Asfi telah menjanjikan Lyu sesuatu.

“Dengar-dengar Sisa-Sisa Evilus yang selamat tengah bersembunyi di Knossos. Begitu situasi ini dibersihkan, aku akan memeriksa dungeon dan cari informasi yang kau inginkan.”

Kemudian hari, Lyu mendatangi Asfi mengajukan permintaan.

“Aku ingin ikut serta dalam pemeriksaanmu,” katanya.

Permintaannya tidak terduga, tapi Asfi senang.

Tidak ada salahnya membawa kekuatan ekstra jika dia harus pergi ke dungeon buatan yang masa lalunya asing. Lebih baik lagi kalau bersama Angin Badai.

Kini penolong kuat itu menghilang.

Ditambah lagi permintaan Hermes, Aisha bergabung bersama grup Bell Cranell … misalkan dia di sini, segalanya bakal berbeda.

Aisha adalah seorang pendatang yang di atas kertas belum dimiliki fraksi manapun dan kebetulan kartu trufnya Hermes Familia.

Biarpun mereka membuat kesalahan dalam Operasi Penaklukan Knossos, bergabungnya dia bersama Hestia Familia ‘kan menjadi insuransi si bocah dan party-nya tak terlibat. Tetapi Aisha itu Aisha, artinya ujung-ujungnya dia akan ikut-ikut juga dalam ekspedisi, demi Bell Cranell dan adiknya dari fraksi sebelumnya, Ishtar Familia.

Asfi menatap gelapnya jalan yang dilalui Angin Badai menghilang, mengejar hal mustahil apa pun yang terjadi.

“Kukira dia sedikit tenang …. Apa aku meremehkan kegigihannya perihal Evilus?”

Terjadi sekejap saja.

Seketika Lyu sekilas melihat sekelompok petualang yang berusaha kabur di ujung lorong dipenuhi sekawanan monster, dia berubah total. Mata biru langitnya membeliak murka memancarkan aura haus darah mengintimidasi yang bahkan memengaruhi Asfi. Kemudian elf tersebut mengejar target kaburnya tanpa melihat ke belakang sesaat pun.

“Pastinya ada hubungannya sama sejarah Astrea Familia …”

Sisa-Sisa Evilus menetap di Knossos selain para pemburu jahat.

Merekalah sisa kekuatan Evilus yang membawakan masa kegelapan ke Orario dan hampir musnah lima tahun lalu sebelumnya. Knossos juga cocok sebagai tempat persembunyian mereka, sebab Guild tidak sanggup menangkap mereka di sana.

Koneksi Angin Badai kepada Evilus itu dalam. Dia—Lyu Leon, anggota Astrea Familia penegak keadilan—tak salah lagi terikat kepada mereka.

Para petualang lari ketakutan …. Apakah musuhnya di antara mereka?

“Api balas dendam membakarmu, Leon …. Akankah kau tenggelam lagi?”

Tidak seorang pun di sana menjawab pertanyaan gumam Asfi.

Dalam dungeon bawah tanah buatan, matanya menyipit iba.

5 Replies to “DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 13 Bab 1”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *