DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 12 Epilog

Posted on

Epilog

Kabar Angin Badai

Penerjemah: Daffa The Lord of Cinder

Setelah mengalahkan spesies yang diperkuat, party kami meninggalkan lantai rendah bersama Dormul, Luvis, dan rekan-rekan mereka.

Kami terluka besar dan kehabisan persediaan, karena itulah mengambil rute terpendek ke Labirin Pohon Raksasa tanpa putar-putar sekali pun. Dari sana kami kembali ke titik aman di Rivira. Penduduk kota tak mempersalahkan Luvis dan anggota party terluka lainnya, seolah-olah melihat para petualang dengan luka tak tersembuhkan sudah jadi bagian hidup keseharian. Kami meminta dan mendapat akomodasi untuk merawat orang-orang yang terluka di sini.

Sehari penuh berlalu semenjak pertarunganku melawan spesies yang diperkuat.

“Kalian semua … baik-baik saja …?”

Party kami mendatangi penginapan untuk memeriksa Luvis dan orang terluka lain, yang kami dengar-dengar telah melewati tahap perawatan palnig berbahaya.

“Maaf meresahkanmu! Tidak mengancam nyawa,” kata Luvis, duduk di tempat tidur. Aku tahu dia masih kelelahan, tetapi masih tersenyum hangat. Dia berbagi ruangan besar dalam gua bersama sejumlah petualang lain, termasuk elf-elf dari Modi Familia dan para kurcari dari familianya, Magni Familia. Ke semuanya berbaring di tempat tidur atau seprai yang digelar di lantai—bukti hubungan buruk lumrah antara kurcaci dan elf.

“Makasih banyak. Kebaikanmu sudah menghangatkan hatiku, dan, yah … yohoho?!”

Dormul tersipu dan tertawa terbahak-bahak ketika melihat Cassandra dan Haruhime.

“Aku sungguh senang kau baik-baik saja,” ucap penyembuh.

“Apa kurcaci-kurcaci lain puluh dengan baik?” tanya Haruhime.

Aku melirik Luvis yang sudah berganti ke satu set baju tempur cadangan. Tanpa lengan yang menonjol dari ujung lengan pendek kanannya.

“Maaf kami tak bisa membenarkan lenganmu …” tukasku.

Pas dengan yang kutakutkan, tidak ada cara memulihkannya. Anggota badan terputus yang kami temukan sudah mulai membusuk, seandainya kami pasang, barangkali akan menyebabkan nekrosis dari bahu sampai bawahnya. Tidak ada barang penyembuhan atau kekuatan tuk membalikkan waktu juga pembatalan kebusukan.

Aku cemas maafku mungkin terdengar arogan, tapi Luvis menjawab, “Tidak, aku beruntung.”

“Hah?” kataku.

Tangan kirinya menyentuh tunggul kanannya lalu menggeleng kepala.

“Aku kehilangan lengan, bukan hidup.”

“… tuan Luvis.”

         “Tidak usah mengkhawatirkanku. Ini semua terjadi karena kecerobohanku sendiri.”

Aku mengikuti mata Luvis dan melihat beberapa elf diperban lain ikut tersenyum. Satu elf perempuan berkaki buntung. Aku tidak tahu mesti bilang apa.

“Ini hidup petualang. Ini Dungeon,” tegas Luvis, mengerutkan alis tipisnya.

“Ini harga yang kami bayar dalam pencarian hal-hal tak tak diketahui. Itu kenyataan yang harus kami semua hadapi.”

Sesuai kata-katanya, kenyataan menjadi seorang petualang ada tepat di depan mataku. Sama sekali bukan dongeng indah. Kebenaran pahit hilangnya lengan atau mata atau bahkan hidupmu.

Meski demikian—lanjut bertarung selama masih hidup adalah bagian diri seorang petualang.

Melihat senyum mendadak Luvis membantuku menyadarinya.

“Saat kami kembali ke permukaan, aku akan menemui Dian Cecht Familia dan meminta mereka membuatkanku lengan palsu terbaik di sana …. Wah, bakalan membuat dewa pelindung kami gempar saat mendengar kami berhutang untuk itu!”

Mungkin karena membayangkan berbagai hal sesaat mengungkap beritanya, Luvis terkekeh. Tawanya menyenangkan, tidak sedikitpun dibayangin rasa pahit.

Elf anggun itu menatapku.

“Kaki Kelinci … Bell Cranell. Terima kasih sudah menyelamatkan kami. Aku bersumpah atas nama Luvis Lilix bahwa suatu hari kelak akan membayar hutan kelewat akbar ini …. Terima kasih banyak, rekan para elf.”

Menaruh tangan ke dada dan membungkuk rendah-rendah. Elf-elf lain pun melakukan hal serupa, dengan senyum di wajah mereka.

“… hmph! Kalian para elf terlalu formal. Semua hal yang kalian harus sederhana.”

Dormul yang mengamati perbincanganku dengan Luvis diam-diam, mendekat bersama rekan-rekannya.

“Makasih, Hestia Familia dan petualang-petualang lain. Jika kalian kedapatan masalah di masa depan, kami para kurcaci akan membantu.”

Kami saling menyeringai, kemudian menggenggam tangan besar Dormul yang terulur. Lilly, Welf, dan teman-teman berjabat tangan dengan kurcaci-kurcaci lain

“Cukup sudah formalitas membosankan ini! Kita sudah melewati masa-masa paling buruk; sekarang waktunya minum-minum!”

“N-Nona Aisha? Kau ngomong apa …?” Haruhime terperanjat.

“Berkat raksasa penebang kayu itu, rencana kita kacau balau dan mesti menghentikan ekspedisinya di tengah jalan. Kita sekurang-kurangnya cuma bisa bersenang-senang sekarang!” Aisha menjawab puas. Mata para kurcaci berbinar mendengar sarannya, sementara para elf kelihatan heran.

“Buat orang terluka mabuk, ya, Amazon?” “Kami ikut!”

“Baiklah kalau begitu, pesta minum! Kita minum sampai kotanya kering!” kata Aisha.

“Nona Aisha, ini sama sekali tidak bisa diterima! Harga minuman Rivira yang selangit akan membuat kita bangkrut! Palng tidak tunggulah sampai kembali ke permukaan …!” jerit Lilly.

“Berhenti pelit-pelit, Lilly! Lagian, kita memang bawa banyak permata dari lantai rendah!” ucap Welf.

“Itu masalah lain! Pikirmu aku membiarkan kalian membuang perhiasanku untuk minum-minum?!”

“Balik lagi ke omong kosong sama …” Daphne mendesah, mengingat kejadian mirip di hari pertama ekspedisi. Cassandra ketawa hampa.

Aku nyengir dan menyelinap kabur dari ruangan besar. Mungkin sebagian diriku tidak mau ditarik ke perayaan, tapi sebagian besarnya ingin memberi tahu penduduk kota yang membantu kami bahwa Luvis dan yang lain sudah baikan.

Di luar penginapan gua, lantai delapan belas ramai dengan aktivitas tengah hari. Kristal bak krisan di langit-langit bercahaya lembut bagaikan matahari.

“Hei, Kaki Kelinci! Dengar-dengar kau bertemu monster menarik di bawah sana! Sial untuk ekspedisi pertamamu!”

Bors, kepala Rivira, mengajakku bicara begitu keluar dari penginapan. Senyum yang tak cocok di wajahnya dan penutup satu mata, dia menepuk pundakku. Pesona anehnya membuatku balas tersenyum pada kata-kata lugasnya

“Kasih tahu aku keseluruhan ceritanya! Aku bayar minumannya kalau kau traktir makanan ringan,” tukasnya.

“Uh, wah, bagaimana kalau mengadakan pesta sama semua orang …?” “Okelah! Serahkan kepadaku!”

Aku buat saran dengan pikiran Aisha dan yang lain boleh jadi akan menghargainya, tapi waktu itu kami disela.

“Bors! Bors!”

Seorang petualang manusia hewan belari menghampiri kami.

“Ada apa ribut-ribut?”

“… nuh.”

“Apaan?”

“Pembunuhan! Seorang petualang dibunuh di luar kota!” Baik Bors dan aku menatap syok si pembawa berita. “Bentar, sekarang, kau yakinn bukan perbuatan monster?” “Bukan, seorang manusia! Aku melihat kriminalnya!”

Saat manusia hewan terlampau kesal menggambarkan yang dilihatnya, aku tak bisa menyembunyikan depresiku.

Sekali lagi, kematian mendekat …. Leherku merinding, perutku mulas karena sesuatu mengerikan.

“Siapa yang kau lihat?” tanya Bors, matanya menyipit tajam.

Manusia hewan itu ragu-ragu sebentar, kemudian pucat pasi dan bicara.

“Angin Badai …”

Hah?

Aku berdiri di tempat layaknya patung, tidak paham yang barusan kudengar. Penduduk kota riuh melanjutkan.

“Itu perbuatan petualang yang masuk daftar hitam dengan hadiah di kepalanya …. Angin Badai!”

3 Replies to “DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 12 Epilog”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *