DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 12 BAB 6

Posted on

Api Kudus Pahlawan

Penerjemah: Daffa Cahyo

Raungan memancar lewat lorong-lorong, disertai gemuruh langkah tak berujung.

Dikendalikan tanaman parasit merambat, monster melolong marah dan menyerbu maju menuju mangsa mereka.

Para petualang berdiri lumpuh menghadapi pemandangan menakutkan ini.

“Parade lewat monster …?!”

“Berhenti bercanda! Ini tidak lucu.”

Ketika Lilly dan Welf melihat peristiwa tiruan ini diciptakan—tidak, ciptaan monster—terjadi, panik mereka meningkat.

Parade lewat monster. Kejadian itu tak pernah terdengar. Kali ini spesies yang diperkuat tak menjadi umpan—dia menggunakan kekuatan manusia super dan mengirim peluru benih untuk mengarahkan para monster dari sarang mereka menuju rute utama. Mereka muncul dari lorong demi lorong lain seperti jarum jam, memotong jalur mundur para petualang.

“OOO …”

Aisha menggertak gigi dan menatap lurus ke depan. Spesies yang diperkuat telah menghilang dari bidang pandangnya sesaat melintasi rute utama dan menuju terowongan lain. Raksasa mengerikan dan cerdas tersebut melompat-lompat jauh di dalam labirin persis seakan-akan menyiapkan upaya pembunuhan baru.

“Lari, kalian! Kaburlah!”

Petualang kelas dua langsung memutuskan. Dia berbalik menghadap party di belakangnya lalu dengan ekspresi wajah terdesak, menyuruh mereka melarikan diri.

“Spesies yang diperkuat itu rencananya menggunakan monster lain untuk menghancurkan area ini! Tak mungkin kita bisa melawan mereka dengan pedang sihir!”

Welf dan yang lainnya kagum oleh kemampuan Aisha yang secara akurat membaca maksud si monster. Entah semaha kuat apa kekuatan Pedang Sihir Crozzo, kekuatannya hanya bekerja di satu arah pada satu waktu. Berusaha menghabisi monster yang masuk dari setiap arah akan memakan banyak waktu. Seketika mereka kalah unggul oleh jumlah superior musuh dan dikuasai sekawanan monster, semuanya tamat. Kawan dan musuh saling bercampur tak teratur, pertarungannya akan kacau, kemungkinan besar yang tersisa di akhir hanyalah mayat petualang terinjak-injak tanpa ampun.

 Tetapi yang terpenting, masa pakai pedang sihir yang akan menghancurkan mereka.

Kalau parade monster menyerang lagi setelah pedang mereka pecah berkeping-keping—

“Sial!” ludah Welf, meskipun dia mematuhi perintah Aisha. Mengembalikan pedang sihirnya ke sarung, dia lari secepat mungkin bersama Ouka. Dua orang itu memimpin, party terjun ke lorong bercabang dari rute utama.

“GROOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!”

Lolongan monster mengejar mereka. Haruhime bahkan tak sempat menggunakan trik yang dia simpan, Level Boost-nya. Di lini tengah, para kurcaci berlari mati-matian, meneteskan keringat selagi berjuang lari dari mimpi buruk yang menerjang mereka. Para elf di punggung mereka pun panas ketakutan bukan pada tanaman parasit merambat yang melilit mereka.

“Huuh, fyuuh …. Celaka, kakiku capek sendiri!” “Dasar kurcaci kaki lamban …. Lari lebih cepat!”

“Apaan?! Berani sekali kau padahal punggungku menggendongmu!!”

 Selagi Dormul mengutuk tanaman merambat yang merampas kekuatannya, Luvis membisikkan penghinaan ke telinganya. Didorong amarah, kurcaci itu sekali lagi meningkatkan kecepatannya. Lilly memperhatikan dari belakang, tasnya bergoyang ketika dia berlari.

“Aku tak tahu mereka ini teman atau musuh …”

Kata-kata Luvis tentu bukan membujuk Dormul dengan menjanjikan hadiah. Dinamika serupa terjadi pada pasangan kurcaci-elf lain.

Sewaktu para petualang terluka habis-habisan memacu diri mereka berusaha menyamai kecepatan party, Welf dan Ouka melancarkan serangan ke musuh.

“Minggir, Pria Besar!”

“Uuh!”

“GWAAAAAAAAAAAAAAA!!”

Welf menghunuskan pedang sihirnya selagi berlari menuju blue crab terpencar yang menghalangi jalan depan mereka. Belati sihirnya—yang Welf bawa selain pedang merah tua—melepaskan kilatan petir. Daging monster itu digoreng.

Ouka menggunakan kapak perang besarnya untuk mementung musuh manapun yang berhasil melewati Welf ke sungai di sebelah mereka. Priroritasnya adalah membersihkan jalan di depan, bukan menghancurkan lawan tanpa tujuan.

Aisha kembali menjadi penjaga belakang menghadapi parade lewat yang teramat-amat buruk. Menyisakan Welf dan Ouka untuk mempertahankan barisan depan.

“… sial!”

Belati sihir Welf hancur riuh di tangannya. Menendang serpihan-serpihan bilah sambil merasakan kombinasi penderitaan dan penyesalan, dia menarik pedang besar dari punggungnya. Menyimpan pedang sihir yang tersisa untuk waktu nanti, dia harus menghadapi pertarungan secara langsung tanpa trik apa pun.

“Aku datang, penempa!”

“Aku temani!!”

Beserta Ouka memegang kapak di sebelahnya, Penempa Besar menerjang maju menuju musuh-musuhnya.

Б

 

“Bell lewat sini!”

Suara Mari menuntunku maju.

Kami sedang berada di labirin lantai 25. Aku memompa lenganku sembari berlari sedangkan Mari berenang di depan, memukulkan ekornya ke air. Jalan lahan kering berlawanan dengan air, alhasil kami bisa bergerak berdampingan. Lagi dan lagi, aku mengikuti jari telunjuknya dan berbelok menuju lorong-lorong kecil yang saling bercabang.

“Teman-teman Bell di sana! Banyak kaumku di sana juga!”

Berkali-kali, dia mendesakku bergegas menuju para petualang yang lokasinya dia tentukan dengan lagunya. Dia kelihatannya mengira spesies yang diperkuat berada di sana pula. Keringat menetes dari pipiku, aku menendang jalur kristal untuk meningkatkan kecepatanku.

“—GUAAAAAA!”

“Aqua serpent! Lagi?!”

Monster besar itu menghancurkan permukaan air membuat cipratan dahsyat, tubuh hijau mudanya meliuk-liuk memanjang di sepanjang sungai. Monster itu bukan mengincarku tetapi mengincar Mari yang berada tepat di bawahku.

“Mari!”

Aku mengulurkan tangan kananku.

“…!”

Tubuhnya telah menghilang ke dalam air.

“GUA!!”

Aqua serpent itu berteriak terkejut seketika taringnya menemui udara, aku tertegun takjub pula, masih siap menembakkan Firebolt. Pada saat ini, aku sekilas melihatnya. Dengan gerakan cepat dan halus, seolah-olah dia menari, sang putri duyung menyelinap melewati tubuh ular panjang yang membentang melintasi sungai.

—dia sangat cepat!!

Bahkan di antara monster penghuni air, mermaid sering disebut burungnya air. Mereka mampu bergerak-gerak penuh kebebasan di dalam air, kecepatan dan kemampuan berbelok melingkar mereka tak tertandingi. Sewaktu mereka berada di dalam air, mustahil mereka dibunuh. Itulah salah satu alasan para petualang kelewat mencari monster langka ini.

Kukira dia sedikit linglung, tapi dia berhasil menghindar menjadi mangsa monster lain.

Karena dia ini Xenos, dia barangkali bahkan lebih cepat dari mermaid-mermaid biasa.

“Bell! Sebelah sini, sebelah sini!”

“Ah, oke!”

Wajahnya muncul di belakang monster seakan-akan dia berteleportasi di sana.

Yang mengejutkanku, dia berenang lebih cepat dari lariku. Kami meninggalkan aqua serpent yang berteriak-teriak marah dan lanjut maju. Ketika mermaid-nya menunjuk jalan, rasanya bagaikan roh yang bisa jadi muncul di dongeng-dongeng untuk membimbingku.

Tentu saja bukan berarti kami bisa menghindari semua pertempuran …! Aku beraksi sendirian di sini, jadi terus-terusan melawan setiap monster yang aku temui di sepanjang tepian air. Ada crystal turtle yang punya banyak kristal menonjol dari tubuhnya, juga devil mosquito mengerikan yang menyengat para petualang dan menghisap darah mereka, bahkan light quartz yang menembakkan sinar cahaya. Aku mencoba mengalahkan mereka secepat-cepatnya, tapi aku tak sempat menghadapi bahkan salah satunya. Menuju lantai 25 luas untuk kembali menemui party-ku sendiri membutuhkan banyak waktu. Dan lagi terlampau tak efisien kalau Mari terus menyanyikan lagu-lagu memikatnya. Selagi mermaid bingung bernavigasi ke seluruh labirin, kami terpaksa mengubah rute berkali-kali. Setelah ke sekian kalinya kami mengubah arah, sesuatu tak terduga terjadi.

“Uhh …”

“Sungainya!”

         Jalan air yang mengalir di sepanjang jalur daratan kering mendadak terputus. Sementara jalur daratan kering terus berlanjut, ujung sungai berakhir di dalam semacam teluk. Barangkali kami berakhir di sini karena sering sekali bebrelok, tetapi tak mungkin Mari bisa ikut lewat jalan darat setapak. Aku takkan dapat mengandalkan navigasinya.

“Bell, aku minta maaf …. Mulai dari sini, aku …”

Bahunya merosot sedih. Berdiri di sampingnya, aku mencoba memikirkan pilihan lain. Solusi yang berbunyi keras di otak petualangku sedetik kemudian sangat sederhana dan primitif total. Aku merasa penolakan kuat untuk menggunakannya dan mengerutkan dahi, namun bukan waktunya mencemaskan penampilan. Aku putuskan melakukannya.

“Mari, maaf!”

“Hah?—Eee!”

         Aku mencebur ke teluk dan mengangkat mermaid itu ke lenganku. Kemudian, layaknya pangeran yang membawa putrinya, aku naik kembali ke dataran dan berlari maju.

“N-nah, jadi kita bisa pergi bersama kek gini! Maaf!”

Seraya mengucapkan dalih setengah maaf, aku bahkan berakselerasi lebih cepat.

Seandainya dia tak punya tempat untuk berenang, yasudah aku bawa saja dia. Jelas sekali. Tapi rasanya benar-benar bodoh … berlari membawa gadis ini yang punya ekor ikan di tubuh bawahnya.

Ekornya bergerak lembut ke sana-kemari. Sifatnya sangat lembut, tapi bahunya tegang, aku mendapati tatapannya menatap wajahku, yang wajahku tepat berada di sebelah wajahnya. Pipinya memerah samar sesaat mata kami bersilangan, lalu kepalanya diletakkan ke dadaku.

Mungkin pertama kalinya sepanjang sejarah seorang manusia berlari membawa mermaid.

Aku ingin tahu ini terhitung sebagai excelia luar biasa atau tidak …. Sejenak, aku membiarkan pikiranku mengembara dari situasi ini dan tertawa terbahak-bahak.

Sebaliknya, mata Mari berbinar-binar. “Waw!”

Pertama kalinya, pemandangan daratan kering membentang di depan mata goyahnya. Gua-gua kristal yang belum pernah dilihatnya lewat satu demi satu selagi lanskap silih berganti membuat kepala pening. Pasti bagaikan petualangan daratan kering baginya. Matanya penuh kegirangan dan kegembiraan berlebih dari yang pernah kulihat.

“Bell! Ini luar biasa! Aku suka!”

“Oke, tapi heeeeeeeeeeiii!! Tolong jangan peluk aku seperti itu!” dia bersemangat sekali tuk mengalami dunia tak dikenal sampai-sampai memeluk leherku. Aku dapat merasakan payudara eratnya menekanku dari balik kutang bikini tempurungnya. Aku melompat tinggi seperti kelinci dan melompati kerumunan blue crab yang menghalangi jalan depan kami.

Misalkan petualang lain melihatku kayak gini, reputasiku bakal tamat …!

Bell Cranell mencoba membawa pulang mermaid bersamanya. Sekiranya kabar itu muncul, aku bakal dicap sebagai orang yang sungguhan punya fetish monster.

Keringat menetes dan didesak segala macam ketakutan, aku bergegas bersama energi baru menuju tujuanku.

“… sial, aku jadi terbiasa bawa wanita seperti ini …” “…?”

Kepala Mari memiring heran selagi aku menggumamkan pemikiran mendadak ini. Pertama, dewi yang aku gendong, kemudian baru-baru ini haruhime. Aku bahkan menggendong Lilly saat kerusuhan … aku memikirkan kejadian-kejadian itu dan tertawa lirih menyedihkan. Rasanya sudah jauh dari tempat kali pertama aku mulai …

Aku kedapatan perasaan lucu jika Lilly dan yang lainnya melihatku seperti ini, mereka bakal teramat mengkritikku sekarang. Tapi aku mengalihkan pikiranku dari hal itu dan menyerbu maju sementara Mari berteriak gembira.

Θ

 

“OO!”

Capit raksasa blue crab diayun ke bawah.

Welf nyaris tak berhasil menangkis serangan itu dengan pedang besarnya. Tersandung, pedang besarnya mengembalikan serangan. Dia melompat mundur ketika api terpercik di cangkang kepiting. Akhirnya, di serangan ketiga, bilahnya menemukan lapisan paling tipis di cangkang dan menebas tubuh berdaging di baliknya.

“Sial …!”

Dia menyeka keringat yang menggenang di bawah lehernya.

Ini tak mudah. Aisha bilang bahkan petualang Level 2 bisa melawan monster di lantai ini. Dia benar. Andai Welf mengerahkan segenap kekuatannya, dia pasti menang.

Tetapi pertarungannya sengit. Membunuh satu monster perlu banyak waktu dan usaha. Di Dungeon, tempat serangan monster datang bertubi-tubi, itu bisa fatal. Dia akan terpojok oleh senjata utama Dungeon—sumber dayanya—lalu dihancurkan.

Pengalaman mengajarkannya dengan menyakitkan, arti standar lantai yang ditetapkan Guild.

Dia tak dapat mengimbangi tuntutan garda depan. Jumlah monster di lini depan party mulai bertambah. Welf meringis selagi kelompok terus berupaya melarikan diri.

“Yaaaaah!”

“GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!”

“…!”

Namun dukungan adalah gunanya party.

Satu serangan dari pedang yang diayunkan keras-keras membelah blue crab yang menyerbu Welf.

“Ada apa, penempa? Sudah lelah?”

“… wah. Kau kelihatan senang sendiri seperti biasa!”

Ouka mencengkeram kapak tempur di satu tangan yang telah membantai crab-nya. Welf tersenyum mengejek padanya.

“Kurasa bisa memaafkanmu karena kau jago menggunakan senjata itu,” kata si penempa.

“Iya …. Yang satu ini beneran menyelamatkanku.”

Welf menelan salah satu ramuan yang dibawanya dan melompat ke depan menuju si monster. Ouka di sisinya.

“Rrrraaahh!”

Menggunakan gerakan seni bela diri yang tak sesuai tubuh besarnya—teknik yang dia pelajari di Timur Jauh—Ouka merobek salah satu sisi blue crab tepat di depannya. Dia lanjutkan dengan sapuan kapak peraknya, dengan gampang menghancurkan cangkang keras musuh dan melumat daging lembutnya.

Kapak tempur Kougou.

Welf tempa untuk Ouka menggunakan varmath, bijih Dungeon kualitas tinggi yang Hephaestus berikan padanya sebagian sebagai hadiah, sebagiannya tugas. Hanya ditemukan di lantai bawah. Welf gunakan sisa-sisanya buat perisai Ouka. Perlengkapan berat itu sangatlah kuat, tajam, dan protektif.

Walaupun dia gratis dapat bahannya, Welf membuat peraturan untuk menjual apa pun yang dia bisa buat sebagai seorang penempa, karenanya dia tagih 700.000 valis untuk satu set. Harganya sudah termasuk diskon besar.

         Ouka menyalurkan utangnya pada Welf menjadi kekuatan tempur dan meraung murka.

“UAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHH!!”

Pembuluh darah biru muncul di lengan kuatnya, kedua tangan memegang Kougou.

Kemampuannya tak berkembang dibanding para petualang kelas dua, tetapi perlengkapannya—dijamin oleh Welf setara petualang kelas dua—untuk menebus kekurangan Ouka, membuatnya bisa menghancurkan para monster. Mengayun kapak ke samping, dia iris dua blue crab secara horizontal dengan sangat kuat sampai-sampai batu sihirnya hancur bersama sisa tubuhnya, kemudian semuanya menjadi abu.

Dinding monster yang memblokir jalan party telah menipis, jalan maju kini terbuka.

“Pekerjaan garda depan mantap! Makasih, kalian …!” “Nona Lilly, sekarang kesempatan kita!”

Selagi Daphne tersenyum kepada Ouka yang basah kuyup, Mikoto mendesak party maju.

Daphne yang berkonsentrasi pada serangan mendadak dari samping, mengayunkan belati mirip tongkatnya. Sambil mempertahankan Lilly serta Dormul dan yang lainnya di tengah, Mikoto mendukung garda depan.

Mikoto sendirian mengisi celah yang ditinggalkan Chigusa. Menggunakan keterampilannya, dia secara langsung mengidentifikasi musuh mendekat, selanjutnya melempar pisau kepada mereka sebelum mencapai party.

Pisau lempar yang disebut sakuya, ujungnya diwarnai merah tua, sebagaimana arti namanya—malam merah. Welf telah membuat senjata ninja sesuai spesifikasi Mikoto. Senjatanya ditempa dari darah onyx, bijih yang ditemukan di lantai menengah. Meskipun senjatanya punya pengorbanan soal jarak lempar, gagang senjatanya jauh lebih baik ketimbang busur dan anak panah. Mikoto mencengkengkeram empat pisau lempar di antara jemarinya dan membidik mata monster mendekat. Seketika musuh goyah, Ouka beserta Welf bergegas membunuh mereka menggunakan kapak dan pedang. Kadang-kadang Mikoto bahkan berlari ke depan dan dengan berani mengisi celah di antara kedua bocah tersebut.

Kepalaku mau meledak …!

Selain Aisha yang memancing sekawanan monster di belakang dan membantai mereka, Mikoto saat ini adalah anggota party yang memikul beban paling berat. Dia bukan hanya mendukung lini tengah dan mengisi garda depan, tetapi juga mengintai musuh. Perannya tentu saja menuntut stamina fisik, tetapi penggunaan Yatano Black Crow terus-menerus juga menguras energi mentalnya menit per menit. Biarpun dapat diisi lagi dengan barang atau sihir, beban psikologisnya terlampau berat. Talenta serba bisanya menggunakan berbagai senjata dan posisi jelas yang membuatnya kelewat memberatkan.

Karena Tuan Bell tidak di sini sekarang, aku harus mendesak diriku sendiri …!

Sewaktu keringat membasahi tubuhnya, dia secara mental memacu dirinya untuk bertarung lebih keras bersama psiau lempar dan katana-nya. Saat itu, Ouka dan Welf mulai membuat keributan.

Apa itu?!

Sosok sebesar Ouka menyerbu mereka secara langsung.

Jaring persepsi Mikoto belum mendaftarnya—dengan kata lain, pasti jenis monster yang belum dia temui.

“Crystallus urchin! Kalian semua, menyingkir dari sini!”  Aisha berteriak dari belakang. Dia tahu lebih banyak mengenai lantai ini dari orang lain.

Tubuh monster bebentuk bola serba jarum panjang dan tajam. Spesies laut biru sedang menyerbu menuju party dengan kecepatan tinggi. Melihatnya menghancurkan tanah kristal seiring laju marahnya, menghancurkannya berkeping-keping, yang menghalangi bakal berubah menjadi ribuan potong.

Selagi Mikoto melihat, mata ungunya mengarah ke rahang menyeramkan di tengah permukaan bundar. Dia dapat melihat gumpalan lendir besar menggenang di mulut bundar penuh gigi tak terhitung jumlahnya.

“Hei, Pria Besar! Ngapain? Menyingkir!” Welf berteriak, memucat.

“Chigusa dan yang lainnya tidak bisa lari! Kalau makhluk ini sampai ke belakang, seseorang pasti bakal terperangkap jarum itu!” Ouka menjawab, mengangkat perisainya.

Dia benar. Para dwarf yang dilemahkan tanaman parasit merambat tidak mampu lari cukup cepat untuk kabur. Para elf yang mereka gendong pun sama. Tetapi mengingat status Ouka, dia dan perisai varmath-nya bakal menjadi panekuk daging cincang apabila mencoba menghadapi cangkang besar serba jarum secara langsung.

Mikoto melihat Ouka meneteskan keringat sesaat bersiap-siap mencegat urchin tersebut, mata Mikoto menyipit.

Ah—kejadian ini rasanya ada yang akrab!

Lebih dari tiga bulan lalu, dia sedang melindungi Chigusa terluka di lantai menengah tatkala hard armored menyerbu mereka dari belakang. Pertarungannnya berakhir dengan cedera baik di pihak monster dan pihak mereka, akhirnya dalam kondisi kelewat buruk sampai-sampai menuntun parade lewat monster ke party Bell. Kalau saja dia lebih kuat kala itu! Dia masih menyesali kejadiannya.

Dia tersenyum perihal situasi sulitnya saat ini. Berikutnya bergerak maju seolah-olah sesuatu menariknya.

“Mikoto!”

Dia bergerak melewati Ouka terkejut dan melompat ke barisan paling depan party. Menyarungkan Kotetsu Harimau Besinya, dia menarik senjata baru dari punggungnya, sarungnya dan semuanya.

Pedang baru buatan Welf yang disebut Shunsan, artinya Seruan Musim Panas.

Ujung bilah pedangnya bagiakan api. Tetapi jauh lebih unggul daripada dua pedang di pinggangnya, Kotetsu dan Chizan.

Seketika Mikoto melompat menuju jalur crystallus urchin, ia maju, mengiris monster di jalannya. Awan darah dan daging memenuhi udara. Mikoto melesat maju, kesadarannya menajam di tengah jalan.

Suara Ouka dan kawan-kawan di belakangnya mensamar. Bahkan suara monster yang berguling mendatanginya menghilang.

Dia siap menghadapinya. Takemikazuchi telah mengajarkan keterampilan baru. Dia punya senjata fantastis baru dari Welf. Andaikata dia tak bisa melewati ini—andaikan dia tidak sanggup melalui peristiwa yang telah dia temui sebelumnya—maka seluruh hidupnya sampai sekarang sama saja palsu.

—aku bisa jadi seperti Bell juga!

Sedetik berikutnya, tubuhnya membara.

Tangan kanannya memegang gagang yang disarungkan di pinggangnya. Memasang posisi bertarung, dia bersiap menarik pedangnya.

Dari semua gerakan yang dipelajarinya selama pelatihan sepuluh hari bersama Takemikazuchi, yang akan dia gunakan sama kuatnya seperti Full-Moon Throw. Tarikan cepat paling hebat yang diketahuinya, lalu gurunya, sang dewa pertarungan menyuruh Mikoto menamainya.

“—!!”

Monster itu mengerang ketika dengan cepat mempersempit celah di antara mereka, menghancurkan kristal selagi maju. Begitu mereka mengontak, Mikoto melepas pedang dari sarungnya.

Di momen tepat, dengan napas tepat, dia mengeluarkan pedangnya.

Takemikazuchi tak terlihat amat puas dengan nama yang dipilihnnya, tetapi Mikoto puas dia telah memilihnya baik-baik. Sebetulnya, dia mendasari namanya dari nama yang diberikan sang dewa kepadanya. Dengan kata lain—

Zekka. Eternal Flower.

Pedang mengkilat itu menusuk tajam sewaktu membelah tubuh keras crystallus urchin.

“Waaaaaaaaaahhhh!!”

“M-mustahil!”

“Dia belah dua!!”

Welf, Ouka, dan bahkan Lilly lupa posisi mereka dan bersorak tatkala menyaksikan Mikoto mengubah monster itu menjadi tumpukan abu. Dia cepat-cepat mengembalikan Shunsan ke sarungnya dan mengangkat tangan kanannya.

“Cepat, semuanya! Maju!”

Jantungnya masih berdebar kencang, dia balas berteriak pada anggota kelompok lain.   Seluruh party—petualang kelas dua termasuk Luvis dan Dormul—terkagum-kagum. Mereka buru-buru menyusuri lorong terbuka, moral mereka tinggi.

“N-Nona Mikoto, kau luar biasa!”

“Makasih, Nona Haruhime!”

Haruhime sedang menunggu Mikoto ketika dirinya kembali ke barisan tengah. Saat keduanya berlari mati-matian menuju anggota lain party, Haruhime menyerahkan Mikoto salah satu Ramuan Rangkap Dosis Tinggi. Seketika dia menenggaknya, kekuatan fisik dan mentalnya pulih sepenuhnya.

Sekilas, Mikoto merona ditatap tatapan girang Haruhime yang menjadi pendukungnya, tetapi dia cepat beralih. Sekali lagi, dia mulai menggunakan Yatano Black Crow untuk mencari musuh.

 “Tiga di kanan, enam di air, dan satunya lagi bersembunyi di balik kristal!”

“Tuan Welf, tolong belok kiri dan serang dengan pedang sihirmu dalam waktu empat detik!”

Saat Mikoto memberi tahu party letak monster, informasinya disalurkan melalui Lilly. Dia membuat semua keputusan sesuai kebijakannya sendiri, setelah Daphne mempercayakan komando kelompok kepadanya. Memutuskannya berdasarkan pengalaman yang didapatkannya sebagai pendukung, dia menilai gerakan rekan, koordinasi, serta tingkat energi rekan-rekannya lalu langsung mengisi setiap lubang yang terbuka. Tak puas cuma duduk dan memerintah, dia pun mendukung dengan busur tembak di tangannya serta pedang sihir. Alhasil, dia mengendalikan party seakan-akan merupakan bagian tubuhnya sendiri.

Kemampuan luar biasa Mikoto untuk mengidentifikasi musuh dan keterampilan pengambilan keputusan Lilly menyelamatkan party dari bencana beberapa kali. Kini kelompoknya telah kehilangan intinya—Bell—dua orang ini tak salah lagi yang menuntun maju.

Kemudian ada Cassandra.

“Nona Cassandra! Pemulihan, tolong!”

“Ya, bu!”

Gadis itu melepaskan sihir penyembuhannya sesuai keputusan Lilly yang paling memahami situasi seluruh pertempuran.

“Cahaya surgawi, yang pernah dipungkiri. Tangan penuh kasih yang menyelamatkan diri rapuhku. Selamatkan rekan-rekan sengsaraku menggantikan perkataanku yang tak sanggup menjangkau mereka.”

Cassandra menyerahkan Chigusa ke Haruhime dan mulai merapal selagi melambai tongkat kristalnya.

“Wahai sinar mentari, semoga kau mengalahkan kehancuran—”

Kecepatan dan kepercayaan lantunan kata-kata itu adalah bukti pengalaman dan keterampilan berlimpahnya perihal menyembuhkan rekan. Dia sesuaikan jumlah kekuatan sihir yang dia lepaskan tergantung tingkat keparahan luka pasiennya.

Setelah rapalannya sampai akhir, dia mengaktifkan sihir. Soul light.

 Cahaya sihir menyerupai sinar matahari dituangkan dalam lingkaran sekitar sepuluh meter, Cassandra di tengah-tengahnya. Metode khusus ini yang memungkinkannya merawat banyak orang sekaligus, disebut penyembuhan area. Semua petualang selain Aisha berada dalam lingkaran, berjemur dalam cahaya penyembuhan yang kekuatannya jauh lebih besar daripada ramuan biasa.

Sewaktu luka mereka tertutup, gerakan mereka kembali mendapatkan kecepatan hebat. Kemampuan Cassandra sebagai penyembuh jelas terlihat dari kekuatan pasiennya. Mereka pulih seratus persen.

“Siap beraksi!”

“Terima kasih, Cassandra!”

“Rasanya hampir nikmat, bukan begitu, Lilly kecil?” “Kita tidak boleh menggunakan keterampilan Cassandra setiap detiknya pada satu waktu seperti ini!!”

“Kenapa kalian berdebat padahal baru aku sembuhkan …?” dia mengerang.

Selagi Ouka dan Mikoto memuji Cassandra, Welf dan Lilly kembali ke mulut bawel biasa mereka. Sang penyembuh nyaris menangis melihat mereka.

Para petualang membentuk kembali barisan tempur, dalam satu gelombang, monster-monster tersebar menghalangi jalan maju mereka dan sekali lagi mulai bergerak menyusuri lorong.

“Kalian semua lumayan … kukira pas kita kehilangan Bell Cranell, semuanya bakal berantakan, tapi kurasa aku tak tahu membicarakan apa,” ucap Aisha, mata menyipitnya menatap upaya keras party.

Posisi mereka masih kesulitan, namun dia takjub pada petualang kelas tiga seketika bekerja sama menembus rentetan serangan tingkat rendah. Di waktu yang sama, dia merevisi pandangannya tentang mereka.

Dia bisa manfaatkan orang-orang ini.

“Belok kanan di lorong selanjutnya!” teriak Lilly. Mengikuti perintahnya, Welf dan kawan-kawan lain mendapati diri mereka melompat ke lorong panjang nan lebar.

Jalan lurus kering tanpa aliran air. Meskipun mereka bisa melihat terowongan kecil di sampingnya, sekawanan besar monster hanya dapat mendekat dari depan atau belakang mereka. Kristal putih di langit-langit memberikan cahaya luar biasa kuat. Saat kelompok tersebut menghampiri pusat lorong, Lilly mengeluarkan perintah lain.

“Kita akan mencegat mosnternya di sini!”

“Di sini?! Keknya tempat ini punya banyak monster!” balas Ouka.

“Di jalan ini, mereka cuma datang dari satu arah! Kita harusnya bisa memaksa mereka dalam jangkauan api pedang sihir kita! Tuan Welf, bakar mereka sampai jadi abu!!” Lilly balas teriak, menambah perintah pada Welf di akhir-akhir.

“Haha!”

Welf kewalahan oleh ganasnya otak party, matanya praktis keluar sebab sangking cepatnya pikiran Lilly berputar, tetapi Welf cekikikan. Dia akui—rencananya mudah dipahami. Musnahkan musuh satu arah.

Di relung hati terdalamnya, dia tidak mau mengakuinya, tetapi Pedang Sihir Crozzo nian kuat tak tertandingi dalam situasi ini.

Ketika melewati Aisha yang berlari dari belakang, dia menghadapi sekawanan monster mendekat dan mengayunkan pedang sihir merah yang dia tarik dari belakang punggungnya.

“Kougou!”

Begitu pedangnya terayun turun dari atas kepalanya, pedang tersebut menghembus bola api yang besarnya bukan main.

Gelombang panas yang dihasilkannya melampaui pedang sihir yang dia gunakan melawan Goliath, memusnahkan sekelompok monster yang hendak mencapai kelompok. Deru api menenggelamkan jeritan mereka selagi badai bunga api menari-nari di sepanjang lorong kristal.

“Panasnya mantap …!” kata Daphne, satu tangannya menutup wajah seketika api merekah menghembuskan napas membara kepadanya. Mayat monster serta batu sihir meleleh terkubur dalam tumpukan abu yang terbaring di depan matanya.

Tetapi di kejauhan, dia dapat melihat parade baru menghampiri. “Kita barangkali memanfaatkan medan, tetapi bagaimana nanti setelah pedang sihirnya hancur?” tanya Aisha, berkeringat deras selagi minum ramuan.

“Kita kabur ke tempat manapun, situasinya tambah memburuk! Sekalipun kita kabur dari labirin ini, kita entah bagaimana mesti menurunkan jumlah besar monster atau kalau tidak, akan terjebak di lantai ini!” Lilly habis-habisan memindai peta seraya menjawab Aisha, mencari solusi. Ketika pedang sihir Welf membakar gelombang parade kedua, Amazon—yang punya pengalaman lebih sebagai seorang petualang dari semua orang di party—membuang sisa-sisa ramuannya. “Kita cuma harus lihat kelanjutannya.”

“…”

Tentu saja, Mikoto yang pertama kali merasakan bahayanya.

“Mikoto?”

“—ini buruk.”

Dia berdiri di samping Haruhime yang memberikan barang kepada Aisha, dan mata ungunya mengamati sekeliling mereka.

Seolah-olah menegaskan gumamnya, suara berderak terdengar di lorong.

“…”

Dinding kristalnya retak-retak. Ribuan retakan, meliputi hamparan besar.

Waktu terhenti bagi LIlly. Ouka dan Daphne membisu, sementara Cassandra membeku, lalu Welf yang hendak mengayunkan pedang sihirnya, mendongak. Bahkan Dormul, Luvis, dan Chigusa lemah pun memucat.

Para petualang yang sudah sampai lantai bawah langsung tahu nubuat keretakannya.

Party monster. Monster lokal hendak muncul secara masal.

Trik kotor Dungeon ini menjerumuskan para petualang ke jurang keputusasaan.

Retaknya memanjang dari pusat lorong lebar sekitar lima puluh meter, memerangkap seluruh petualang ke batasnya. Dungeon telah mengungkap kedengkiannya dan jelas mencoba membunuh party.

“Ini sinting!” Welf berteriak sambil menghadapi parade monster mendekat. Biarpun dia hadapi, retak dan derak jahatnya tak berhenti. Ibarat dindingnya menyatakan jumlah menit sisa hidup para petualang.

“Terlalu besar …. Kalian tidak percaya bisa sampai ke bawah sini?” “Sial, kita sudah sampai sejauh ini … dan sekarang …!”

Dormul serta Luvis meringis melihat kejadian menyayat hati di depannya. Wajah-wajah elf dan para kurcaci putus asa, selagi menerima skala peristiwa luar biasa ini.

“Yah …. Aku tak punya pilihan lain.”

Aisha sendiri mendecakkan lidah kesal. Poni disisihkan ke samping seolah niat, padahal sebenarnya enggan melakukan rencananya, dia berbalik menghadap Lilly.

“Oke, udang, aku akan melakukannya. Bersiaplah.” “…!”

Tak repot-repot menunggu jawaban prum kaget, Aisha berjalan menuju Luvis dan orang terluka lain.

“Hei, kalian—berjanjilah,” imbuhnya kepada mereka. “Hah?!”

Aisha menghunuskan podao-nya ke para elf dan kurcaci yang wajahnya terangkat menghadapnya. Lalu ujungnya ditempelkan ke pangkal tenggorokan Luvis. Elf itu pucat pasi kaget. Begitu pula Dormul yang menopangnya dengan satu bahu. Pandangan tajam Aisha menyapu ke para kurcaci tertegun dan elf di belakang mereka.

“Kalian takkan membicarakan apa yang akan terjadi …. Kalian janji?”

“A-a-apa yang kau bicarakan?! Menggila di saat-saat seperti ini?!”

“A-aye! Mengagetkan sekali—?”

“Kalian. Janji?”

Suara Dormul terputus tatkala Aisha menusukkan ujung pedangnya ke leher Luvis, merobek kulitnya. Sesaat tetes darah menetes turun, sepasang petualang melemah mulai memucat.

Aisha tak bercanda. Kala teriakan monster baru lahir terdengar dan dinding labirin meregang laksana hendak terpisah, matanya berkilau ganas.

Kematian menghadapi party. Teror menginjak-injak pikiran Luvis.

Dihadapkan tatapan merinding Aisha, sang kurcaci dan elf memaksa diri mereka merespon.

“A-aku janji.”

“A-aku bersumpah atas nama Yang Mulia ratu elf.”

“Aku pegang janji kalian,” kata Aisha. Sementara Dormul dan Luvis mengangguk berkali-kali, dia menarik senjatanya. Sedetik kemudian, dia tersenyum dan memanggil.

“Oke, Haruhime—lakukan!”

Sepasang telinga rubah berdiri kaget dan kepala berambut emas indah gemetaran.

Kemudian gadis manusia rubah mengangguk gugup namun bertekad kepada Aisha lalu bersiap-siap melepaskan sihirnya.

“Bentuk formasi lingkaran di sekitar Nona Haruhime dan lindungi dia dengan nyawa kalian!” teriak Lilly, mendongak. Perintahnya sederhana dan jelas, kemudian yang lainnya cepat patuh.

Ouka bersama perisai dan kapak tempurnya, Mikoto dengan pedangnya, Daphne beserta belatinya, Cassandra memegang busur pendeknya, dan Aisha menggenggam podao-nya membentuk lingkaran di sekitar si manusia rubah. Welf melompat mundur, menghentak tanah untuk bergabung. Di tengah-tengahnya, si gadis diam-diam menarik jubah hitamnya ke kepala dan tangannya disatukan layaknya gadis kuil sedang beritual.

“—aku mulai.”

Sekejap berikutnya, dinding Dungeon di sekitar mereka meraung bagaikan longsoan salju sembari melahirkan segerombolan besar monster.

“OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!” party monster telah dimulai.

Saat pedang dipantulkan tebasan cakar, pekikan logam melengking bergema di sepanjang lorong.

Haruhime merasa Mikoto yang kuncir hitamnya kusut, telah menangkis serangan monster dengan serangan pertamanya. Manusia rubah tersebut memejamkan mata dan menggunakan seutas konsentrasinya untuk menenangkan diri. Selanjutnya melepaskan kekuatan batin yang telah dibuka kitab sihir.

“Kokonoe.”

Mengejutkannya, sihir yang baru dia pelajari tak dimulai dengan rapalan tetapi penyataan nama mantranya.

“Salju tercinta. Merah tua tercinta. Cahaya putih tercinta.”

Seketika Haruhime menyanyikan rapalannya, tubuhnya mulai berubah. Sihir yang dilepaskannya berubah menjadi percikan cahaya tak terhitung jumlahnya yang berkumpul di sekitar bawah pinggulnya. Suara seperti bel menggelinding terdengar, di saat yang sama lima ekor cahaya buatan yang sewarna bulunya tumbuh di belakangnya.

“Mohon izinkan aku menemanimu—cinta yang aku temukan pada akhir dua ribu malam.”

Haruhime kini punya enam ekor, termasuk ekor yang asli, kesemuanya mengkilaukan cahaya keemasan. Jubah hitamnya menyerap efek sihir dan melayang di sekelilingnya. Sebagaimana gadis itu sendiri, para kurcaci yang dilindungi dalam lingkaran petualang menatap terpesona. Bahkan para elf luhur melupakan sekelilingnya dan mulai menatap terpesona seorang gadis yang menyerupai gadis kuil tengah mengucapapkan doa ritual.

“Sial, celakalah kita,” gumam Aisha ketika sihirnya berefek. Aisha melarang Haruhime menggunakan mantranya kecuali dia perintahkan. Alasannya adalah ketika kekuatannya ketahuan, perjuangan buruk gadis itu akan terulang lagi.

Alasan lainnya adalah itu merupakan kartu truf utama mereka, satu-satunya orang yang mempunyai kekuatan yang mampu langsung menerobos pertempuran buntu.

Ini susah banget.

Butiran-butiran keringat terbentuk di dahi Haruhime. Dia merasakan kekuatan mentalnya terkuras menghilang. Seakan-akan fragmen hidupnya tersedot ke dalam ekor cahaya tersebut. Dengan acak entah bagaimana terlintas dalam benaknya bahwa inilah rasanya pengorbanan gadis kuil di Timur Jauh.

Namaku Rubah Sihir, mantan penghancur. Namaku Lagu Kuno, mantan pemimpi. Kepadamu yang mengepakkan sayap bagai burung, kuperkenankan ke sembilan roh bersemayam dalam diriku.”

Tenggorokannya terbakar. Tubuhnya membara. Cahaya keemasan menjadi taring ganas merobek daging lunaknya seolah-olah nyaris mewujudkan sebuah harapan palsu.

 “GYAAAAAAAAAAAA!”

“Hiyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!!”

Dia dapat mendengar Mikoto melawan monster. Raungan rekan-rekannya melindungi dirinya tak berdaya membakar hatinya.

Haruhime hanya bisa bernyanyi.

Lantas dia akan bernyanyi, hingga suaranya mengering, sampai hidupnya terkuras habis, menghembuskan doa untuk rekan-rekan terkasihnya. Dia akan memenuhi harapan semangat mereka. Dan dia akan membantu anak laki-laki yang didambakannya.

Selagi rekan-rekannya menahan serangan monster kian ganas, Haruhime mulai mempercepat rapalan mantranya.

Mikoto mengumpulkan sedikit kekuatan tersisa dan pedangnya menebas berulang kali pada serangan gencar. Welf melepaskan api dari pedang sihirnya dari jarak dekat. Ouka menyeru perang seiring darah mengalir dari luka-lukanya. Podao Aisha memotong semua monster yang mendekatinya.

“Gema lagu emas, puisi suci Tamamao. Wajah putih, bulu emas, raja sembilan ekor.”

Nyanyian medan perang mengguncang kepemilikan diri Haruhime, namun dia mampu melanjutkan rapalannya tanpa putus. Menutup mata, dia menyanyikan baris berikutnya lagu cahaya keemasan.

Wahai ekor hewan baik, lahaplah segalanya, kabulkan semua keinginan—”

Kemudian”

“—tumbuh.”

Haruhime menunjukkan Penggabungan Rapalan, menghubungkan dua rapalan berbeda untuk merapal mantranya satu demi satu.

“Kekuatan dan wadah itu. Luasnya kekayaan juga keinginan. Sampai bel berlontengan, bangkitlah kemuliaan dan ilusi. Tumbuh.”

Begitu dia mengimbuhkan kata-kata familier, ekor cahaya emas mulai bergerak-gerak seakan-akan melihat ke atas menuju langit. Masing-masing ekor terlihat bergelombang sendiri, mengirim massa debu emas laksana bubuk pada sayap peri merekah. Kristal menggetar disertai taburan cahaya, kemudian debu menelannya. Sungguh kejadian mistis.

“Lahirkan persembahan ilahi dalam tubuh ini. Cahaya keemasan ini dianugerahkan dari atas. Ke dalam palu dan ke dalam tanah, semoga melimpahkan keberuntungan bagimu.”

Seraya Haruhime merapalkan kata-kata itu, lalu kabut tipis kekuatan sihir membentuk. Dengan cepat, berubah menjadi awan cahaya yang memanggil pola spiral serta palu cahaya di atas kepala Haruhime.

Bahkan para monster memalingkan mata mereka ke cahaya indah berkilauan dan berdiri diam sebentar.

Tumbuh.”

Bulu mata panjang Haruhime mengedip-ngedip. Dia membuka mata, mengangkat alis halusnya, lanjut mengumumkan penyelesaian mantra.

“Uchide no Kozuchi!”

Palu cahaya terbelah dengan suara tinggi, pecah menjadi fragmen-fragmen cemerlang yang diserap ekor. Kini bersinar sebagaimana cahaya serupa yang terpancar dari palunya.

“Menarilah!”

Saat Haruhime mendorong satu tangannya ke langit-langit, ekor-ekor mengoyak dari pangkalnya dan menari di udara. Ekor cahaya gemuk ini berkumpul di tengah udara dan berubah menjadi bola cahaya berkilauan yang menari-nari di tengah party, masih di tengah pertempuran.

Massa cahaya diserap ke dalam tubuh Mikoto, Ouka, Welf, Daphne, serta Aisha. Sepintas berikutnya—

“””…!!!”””

Reaksi berantai Level Boosts. Kelimanya. Lima petualang semuanya naik level.

“HIYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH!!”

Seruan perang mereka membuat para monster tersandung ke belakang, dan senjata mengamuk mereka dengan mudah menerobos pengepungan musuh. Mereka memulai serangan balik.

“A-a-apa yang terjadi?!”

“G-gerakan mereka berbeda!”

Luvis dan Dormul tergagap idiot sewaktu melihat banyak efek Level Boots di depan mata mereka.

Sihir baru Haruhime bernama Kokonoe. Rapalan unik melimpahkan penggunanya ekor rubah cahaya, kemudian mengkonsentrasikan efek mantra sihir setelahnya ke ekor. Sesudahnya, haruhime sanggup mengaktifkan perulangan sihir sebanyak jumlah ekor, semuanya dalam satu tekad upaya.

Selayaknya pedang sihir, beberapa ekor bertindak sebagai mediator sihir. Sebagaimana batu pembunuh yang menyegel sihir, mantra ini memungkinkan Haruhime memberikan level boosts ke beberapa orang di waktu yang sama.

Para elf dan kurcaci kebingungan.

“H-hei, apa yang terjadi di sini?”

“Mereka semua kuat sekali sampai-sampai nyaris tak kukenali!” “Sederhananya, semua orang naik level,” tutur Lilly. “Hah?!”

Mendengar penjelasan Lilly secara langsung, mata para elf dan kurcaci berputar ke belakang, mulut mereka menggelembung. Kaget pada keterampilan yang menentang akal sehat dan benar-benar illegal.

Kombinasi magis Kokonoe dan Uchide no Kozuchi menciptakan peningkatan level area. Itu kartu truf baru Hestia Familia.

Menurut status Haruhime, jumlah maksimum yang dapat dihasilkan mantranya adalah sembilan. Namun saat ini, dia hanya bisa menciptakan lima.

Dia telah menghabiskan banyak energi, kini setelah selesai, kakinya terlutut. Dia sudah sampai batas, selangkah menuju pingsan. Tetapi, para petualang sudah menuai lebih dari cukup hadiah dari sihirnya.

“Zhaaaa!”

“GAAAAAAAAA!!”

Sihir barusan adalah pusaran tebal partikel cahaya yang menyelimuti tubuh Mikoto begitu dia menggunakan kekuatan barunya dengan maksimal. Kelima petualang dipenuhi perasaan mahakuasa dan kegirangan atas kekuatan yang dituangkan ekor-ekornya. Mereka menggagalkan penyerangan monster dengan kecepatan, kekuatan, dan kebesaran baru, senjata-senjata mereka menerbangkan musuh.

Mereka bersatu.

Aisha memandang dingin pertempuran yang berlangsung di sekitarnya. Moral sesama anggota party telah meroket seiring kemampuan mereka. Mereka bertarung gigih melawan banyak monster yang masih mengepung bak cincin padat, menebas dan memotong musuh. Dengan usaha gabungan mereka, mereka menahan fenomena yang paling putus asa, party monster.

Mereka bertahan dari senjata pramungkas Dungeon, penghalang sumber dayanya.

Aku khawatir sebentar … tapi bila kita bisa mengurangi jumlah mereka sedikit lagi, kita semestinya dapat keluar dari sini.

Jumlah absolut monster di lantai tertentu punya batas atas. Di lantai rendah, monster baru bisa muncul pada waktu interval sangat pendek, tetapi karena barusan banyak sekali muncul di satu area, barangkali ada jeda begitu mereka melewati tempat ini. Jumlah monster yang mereka temui pasti berkurang.

Masih tersisa waktu pada party yang naik level. Tak lama lagi, pertarungan akan memihak petualang. Tentu saja berasumsi mereka bisa mempertahankan tingkat energi ini.

Sbeliknya, jika mereka tersandung di sini, mereka bakal dalam masalah.

Karenanya Aisha sagnat-sangat waspada terhadap spesies abnormal yang diperkuat.

Jadi kau punya apa lagi, hah? Mengungguli kami dengan jumlah saja tak berhasil, seperti yang kau lihat, takkan ada yang melemahkan kami kalau cuma mengirim yang kecil-kecilnya. Coba trik kecilmu yang lain lalu akan kami hancurkan.

Karena statusnya kini sudah Level 5, kecakapan bertarung Aisha betul-betul luar biasa.

Menurut monster, caranya mengalahkan beberapa musuh kategori besar dengan sekali serangan podao-nya pasti jadi mimpi buruk. Dia cepat membersihkan lingkaran besar yang dia pertahankan. Aisha yakin mampu dengan gampang membunuh spesies yang diperkuat jikalau dia muncul sekarang.

Selagi mata menyipitnya melihat-lihat sekeliling tanpa rasa takut, akhirnya dia melihatnya.

Itu dia!

Dia berada jauh, di belakang monster level rendah yang masih beraksi. Moss huge kehijauan mencolok itu tak memedulikan teriakan perang para monster atau teriakan para petualang. Berkeliaran di lorong, berjongkok, berdiri, kemudian mengulangi semua rutinitas itu lagi.

…? Dia sedang apa …?

Aisha menatap ragu ulah misterius spesies yang diperkuat itu, sembari menerbangkan monster-monster dengan podao-nya dan kaki panjangnya.

Baru saja, mata Aisha menatap party, seakan-akan menjawab pertanyaan tak terucapkan Aisha, dari posisinya di belakang dinding monster menipis.

Kedua tangannya menggenggam sesuatu … batu sihir biru keunguan tak terhitung jumlahnya.

“…”

Amazon yang menyombongkan keberanian prajurit berperang ini merasa seakan waktu terhenti. Rambut hitam panjang nan indahnya gemetaran.

Dia barusan menyadari sesuatu.

Musuh mereka tak berusaha melampaui mereka dengan jumlah, ataupun melelahkan mereka.

Si bodoh itu—

Dia mengincar kumpulan batu sihir yang diproduksi kala Aisha dan teman-teman membunuh monster.

Tatapan spesies yang diperkuat dan Aisha saling bersilangan, pertama kalinya monster itu mengungkap emosi.

Dia menyeringai.

Tak salah lagi dia menyeringai. Mulut terentang lebar dan air liur menggantung dari bibirnya, pasti tersenyum.

Sesaat kemudian, menjejalkan batu sihir ke mulut terbukanya.

“…!!”

Begitu giginya meretakkan kristal tersebut, potongan-potongan lumut yang menyelubungi tubuhnya menegak bak sisik runcing naga. Badan kayu bagai baju besi berderit ketika membesar, serta potongan-potongan kayu tipis mirip akar menjalar ke ujung jari tangan-kaki monster itu. Mulutnya yang membuka layaknya gua menguap, menyelesaikan transformasinya menjadi roh jahat sejati.

Bila kehadirannya sebelumnya sudah besar sekali, sekarang malah lebih-lebih lagi. Sosok mengerikan ini perlahan mengangkat wajahnya dan menatap Aisha.

Mata mengedip—yang kini berwarna merah berlumpur—dia menghentak tanah.

“…?!”

Kemudian maju, menginjak menghancurkan monster lain dan menendang jauh tubuh mereka.

Aisha mengangkat podao-nya sesaat ancaman menimpanya.

Begitu kepalan besar monster itu mengayun ke bawah, kepalannya menabrak pedangnya.

“Uuh!”

“OOOOOOO! OOOO! OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!”

Gemuruh lenguhan sapi membuat Aisha ingin menutup telinganya. Dia tersandung ke belakang.

Kendatipun levelnya naik, dia tahu kekuatan intens ini akan menjadi tantangan berat untuknya. Mabuk rasa mahakuasa sendiri, spesies yang diperkuat meraung gembira seperti erangan kotak musik rusak. Sembari mengepalkan tinjunya ke udara, duri-duri mirip akar muncul dari tubuh kayu.

Aisha kini paham apa yang terjadi. Spesies yang diperkuat dengan serakah melahap batu sihir dari semua monster yang party-nya bantai dalam perjalanan ke sini.

Dia telah mengambil lusinan inti, atau bahkan ratusan monster.

Sejauh apa …?

Sejauh apa prediksi mereka akan dihancurkan?

Kalau begini, Aisha hanya bisa mengakui tipu daya dan kelicikan monster yang diremehkan sebelumnya.

Setetes keringat mengalir dari wajah Aisha.

Sekejap dia dikuasai keraguan dan kegelisahan, seketika itu membuatnya rentan terhadap serangan.

 Aisha pikir soal status, peluang masih memihaknya. Bahwa dia masih bisa melawan balik.

Tepat tatkala itu, moss huge memanjangkan lehernya layaknya naga.

“…?!”

Lehernya menggigit bahu cokelat Aisha dan taringnya menancap ke pangkal lehernya.

Dagingnya terkoyak, tulangnya hancur, darah menyembur ke udara.

Lilly dan Welf merasa sesuatu aneh terjadi dan berbalik menghadap Aisha berbarengan. Yang mereka lihat membungkam mereka.

“…!”

Aisha melotot murka pada monster selagi darah tumpah ruah dari mulutnya.

Sekuat tenaga, tinjunya membanting ke dagu musuhnya, daging Aisha sudah di mulut musuh yang didorong jauh. Momentum mundurnya dia tambahkan serangan berputar, membuat gerakan monster tak stabil.

“N-Nona … Aisha?!”

Haruhime yang sedang duduk di tanah dan tatapannya mengabur, menjerit tajam.

Spesies yang diperkuat menarik lehernya dan menempelkan sepotong lumut ke rahang hancurnya. Sedangkan Aisha megap-megap sembari tangan kirinya menekan lubang mengaga di bahunya. Dia tertawa sebal sewaktu darah mengalir dari lukanya.

“Aku gagal …”

Dia menarik tangannya dari luka. Sebuah tanaman parasit merambat telah tumbuh di lukanya dan kini merayap di kulit cokelatnya. Sudah membelit ke sekitar bahu kiri dan tangannya, perut serta pinggulnya, juga seluruh payudaranya.

Pemandangan itu mengejutkan para petualang lain. Monster itu telah menanamkan benih saat giginya menyentuh tubuh Aisha.

“HAHAHA …”

“Si bodoh jelek itu—!!”

Air liur menggantung dari taringnya, moss huge itu tertawa mengejek melihat keturunannya memparasit tubuh seorang Amazon. Lalu tanpa ampun melancarkan serangan lain.

Aisha melawan, keringat sakit menutupi tubuhnya.

“—minggir!” teriak Welf.

Welf meninggalkan posnya dan berlari menghampiri Aisha. Mengangkat pedang sihirnya, Welf memandang spesies yang diperkuat dan monster-monster lain yang mengepung Aisha.

“Kouga!”

“—!!”

Keempat kalinya, leedakan api masif terbentuk di sepanjang lorong. Aisha melompat mundur, melihat monster tersiksa dalam api merah tua. Tetapi ketika mereka meraungkan kematian … Aisha mendapati sosok raksasa berdiri santai di antaranya, menyilangkan tangan di dada.

“Huh?!” kata Welf, melihat takjub.

“Dia melawan pedang sihir Tuan Welf!” teriak Lilly.

Spesies yang diperkuat itu pelan-pelan mengangkat kepalanya saat lumut terbakar mengelupas dari tubuhnya. Begitu lumut jatuh ke tanah, bahan biru mengkilap mulai terlihat dari baliknya.

“Mungkinkah itu … kain Undine?!” tanya Lilly.

“Jangan bilang dia ambil dari petualang mati!” gumam Welf. Mikoto, Ouka, Daphne, dan Cassandra tak dapat mempercayai matanya pula. Kain yang diregangkan sampai robek-robek membungkus tubuh besarnya, namun tak salah lagi—kain pelindung roh. Sesuai dugaan Welf, monster itu fokus mengatasi satu titik lemahnya—api—lantas telah mencuri kain itu dari mayat para petualang.

“Dari semua kebetulan buruk …!”

Alis Welf mengerut saat melihat pakaian monster itu. Keluarga yang membawa darah roh dalam garis leluhurnya membuat Pedang Sihir Crozzo. Dengan kata lain merupakan pedang sihir roh. Roh pun terlibat dalam kain pelindung. Energi dua roh yang berkumpul bersama nampaknya memicu reaksi ekstrem.

Terlebih lagi, Kouga termasuk pedang sihir kelas api. Membawa kekuatan salamander sang roh api. Di sisi lain kain Undine dikaruniakan kekuatan air. Kompabilitas antara keduanya teramat-amat buruk, saling meniadakan.

Namun demikian, tubuh spesies yang diperkuat entah bagaimana terbakar. Welf hendak menggunakan pedangnya lagi tetapi pedangnya retak-retak.

“Sial …!”

Detik berikutnya, pedang merah tua hancur dengan suara pecah nada tinggi.

Bilah sihirnya sudah mencapai akhir rentang hidup, hasil penggunaan berat melawan parade monster. Bukan hanya Welf, tetapi Lilly juga menatap kaget tatkala serpihan-serpihan pedangnya berhamburan ke tanah.

“—AAA!!”

Seakan-akan lebih banyak berita buruk ingin membanjiri mereka, parade terakhir monster tiba di lorong.

Semangat mengering dari wajah Mikoto yang bersimbah darah—darah dirinya sendiri dan musuhnya.

“OOOOO!”

“Hah?”

Spesies yang diperkuat mengabaikan Welf dan yang lainnya malah ngotot mengejar Aisha. Dia telah mengenali kekautan Aisha dan bertekad bahwa jika dia mati, para petualang pun akan mati. Seolah terpacu sosok seekor petarung jahat, monster-monster lain menyatukan kekuatan mereka dan mengamuk marah. Bersatu bersama barisan yang baru tiba, pandangan mereka tertuju pada Mikoto dan anggota party lain.

“Gawat!!”

“Aku tidak bisa bertahan …!”

Mencengkeram perisai mereka, Daphne dan Ouka berteriak ketika monster mempersempit lingkaran di sekitar mereka dengan gelombang kuat.

Serangan balik katana Mikoto dan pedang besar Welf tidak ada apa-apanya. Cassandra melempar senjatanya dan mencoba menahan barisan menggunakan sihir penyembuhannya, tetapi begitu berhasil menutup satu luka, luka lain terbuka.

Massa partikel cahaya yang telah meningkatkan level mereka telah goyah seakan mereka pun mengerang juga.

“Oh tidak …!”

Wajah Lilly pucat pasi selagi menyaksikan lingkaran para petualang yang melindunginya terus ditekan mengecil.

Bahkan ketika Lilly memegang pedang sihir petir di tangan gemetarannya, monster-monster itu tak menghilang. Segera mereka akan mengisi seluruh lorong. Aisha di balik pagar monster, tak kelihatan, lantas mereka tidak dapat lagi mengandalkan bantuannya. Sebaliknya—dengan tanaman parasit merambat menyelimuti tubuhnya, Aisha hampir saja dihajar spesies yang diperkuat.

Lilly keliru.

Aisha telah pergi dan keliru membaca semuanya.

Keabnormalan spesies yang diperkuat. Ancaman lantai rendah. Kedalaman tak terduga Dungeon.

Sebagai pemimpin dia telah membuat keputusan buruk.

Dia kurang pengalaman, dan pada momen-momen terakhir, Lilly membuat kesalahan.

Lilly tidak bisa mengubah dirinya menjadi Pemberani.

“Pinjamkan aku kapakmu …!”

“Uh …. T-Tuan Dormul?”

“Bahkan tanpa tanganku, paling tidak aku bisa jadi perisai!” “D-dan Tuan Luvis, juga … ini mustahil! Kalian tidak bisa!”

Dormul berdiri di samping Lilly kebingungan, dan Lilly mengikuti jejak Dormul. Mereka ingin meminjam peralatan dan berdiri bersama Welf serta yang lainnya dalam lingkaran perlindungan. Keduanya mengabaikan protes Lilly. Mereka tak punya kesempatan menang, tetapi mereka masih ingin bertarung mati-matian hingga akhir selayaknya petualang.

“Uh, anu …!!”

Gawat. Semua orang sudah tidak tenang.

Semua orang bertempur ibarat akan mati di sini.

Lilly tak mampu menghilangkan bau-bau kematian menyengat di sekelilingnya.

Topeng pemimpin jatuh dari wajahnya, sebuah film air mata terbentuk di mata yang memasang tindakan tegas sejak awal ekspedisi.

“Manfaatkan kami sebagai umpan dan kaburlah kalau bisa!” teriak Dormul dengan tekad bulat.

“Seseorang mesti memberi tahu semua orang di permukaan tentang monster ini …! Sebanyak mungkin yang selamat …!” tambah Luvis.

Haruhime yang masih duduk di tanah menelan ludah. Mata lebar Lilly goyah.

“Tinggalkan kami di sini … Hestia Familia!”

Menanggapi kata-kata Dormul, sifat sejati Lilly—sifat sejati gadis kotor yang menghinakan diri dengan kotoran dan menyeruput air berlumpur—pelan-pelan mengangkat kepalanya.

Menurut pemimpin, tidak ada lagi argumen logis. Lilly mengangkatnya seperti perisai, senyum gelap di bibirnya, ingin sekali memilih pilihan ini. Lagian, pilihan apa yang dimilikinya? Dia sudah sampai sejauh ini, dan dia tak ingin mati. Dia tidak mau menyerah bahkan pada satu momen kehidupan ekstra. Ya memang, mereka harus meninggalkan yang terluka!

Jantungnya berdetak tak menentu. Dia tidak sanggup bernapas. Pikiran dan emosi berputar pusing dalam dirinya.

Sekarang! Sekarang! Sekarang!

Jangan ragu! Katakan! Putuskanlah!

Lilly realistis berteriak pada dirinya, bersikeras dia benar.

Gadis kotor itu berteriak bahwa inilah caranya bertahan hidup sejauh ini. Sekarang kenapa ragu?

Bibir kecilnya gentar. Lidah terjeratnya mencoba bicara. Tapi, Lilly lain, Lilly yang menekan hatinya, berlinar air mata memohon dengan pikiran tenang nan damainya.

Selamatkan mereka.

“…!!”

Tangan kiri Lilly mengkilat.

Baut petir dari pedang sihirnya melesat ke antara elf dan kurcaci, membantai monster yang barusan menerjang mereka.

Dormul dan Luvis menatap Lilly, tercengang. Akhirnya dia bicara.

“Kalau dia di sini, dia takkan meninggalkan kalian!”

Bayangan lain Dungeon terbesit di mata pikirannya. Firebolt indah nan hangat yang menyelamatkannya kala dirinya dikepung sekawanan giant ant, juga uluran tangan seorang anak lelaki.

“Dia tak meninggalkanku!” dia berteriak, air mata mengalir dari sudut matanya.

Lilly belum menjadi Pemberani. Di saat-saat terakhir, dia menendang pilihan terbaik. Emosi dan simpati manusia telah menggoyahkannya.

Di sudut pikirannya, angan Finn mendesah kecewa.

Tapi tidak. Lilly tak ingin menjadi Pemberani. Yang sungguh-sungguh dia inginkan—yang mau dia kejar—adalah orang yang menyelamatkannya.

Tangan baik yang tak meninggalkannya ketika dia dioles lumpur.

“Aku bisa melakukannya juga …! Lilly bisa berubah juga!!”

Bell punya banyak pengalaman, matanya mengincar tujuan jauh, dia telah berubah.

Kalau itu benar, maka bohong misal Lilly tidak bisa berubah. Bohong bilang Lilly tidak bisa lari juga.

Jika tidak, maka dia tak berhak berdiri di sisi Bell. “Karenanya takkan aku lakukan! Takkan aku tinggalkan kalian! Jangan menyerah!”

Tangan dan kakiinya gemetaran. Emosi membanjiri seluruh tubuhnya. Sekalipun tubuh kecilnya dengan mudahnya dihempas lolongan kejam monster, dia masih mengubah suara tangisnya menjadi tekad. Selagi Luvis dan Dormul melihat Lilly, bayangan kematian memudar dari wajah mereka.

Setetes air mata meluncur dari mata cokelat lembabnya. “Aku lakukan karena aku pendukungnya!!”

Telinga Welf menangkap kata-kata Lilly dan wajah basah keringatnya tersenyum.

Sesaat itu, Haruhime kelelahan mengangkat telinganya. “…!!”

Mata hijaunya melebar, menggigit bibir, dengan kekuatan terakhirnya, mengulurkan satu tangan.

“Lady Lilly …!”

Lilly berbalik terkejut ketika Haruhime meraih lengan baju Undine-nya.

“Dia datang …!”

“Huh?”

“Dia akan datang …!”

Gadis hewan mendapati suara di tengah-tengah pertempuran kacau. Dia tersenyum, wajah penuh iri dan dorongan semangat.

“Orang itu datang …!”

Sesaat berikutnya …

“Lillyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy!!”

Suara Bell mencapai telinga Lilly saat dia meneriakkan namanya. “…”

Dia mendekan dari jauh, jauh sekali. Di paling ujung pandangannya, di ujung lorong luas tersebut, Lilly melihatnya melambaikan tangan.

Persis sebagaimana hari dia menyelamatkan Lilly dari sekawanan semut menakutkan.

Lilly lain yang merendahkan dirinya di tanah tertutupi kotoran, tangan menapak tanah. Gigi menggertak, menarik dirinya dari tanah lalu berdiri.

Dadanya memanas, kelenjar air matanya meledak terbuka, tak lama tetes tak terhitung menetes dari pipinya.

“…! Nona Haruhime, tolong menyingkir!!”

Waktu itu, Lilly menebak niat bocah lelaki yang memanggil namanya.

Dia menanggapi sesuai yang diketahuinya tentang bocah itu, Bell yang percaya pada dirinya dan tangan kanan melambai pelan ingin Lilly melakukan keinginannya. Menggunakan akal cepatnya, Lilly menusukkan pedang sihir ke tanah dengan kakinya, menyebabkan ledakan. Baut petir kuat mengukir kawah di lantai kristal.

“Cepat, semuanya, masuk ke lubang! Cepat!!”

Para petualang yang mengelilinginya tanpa bertanya merespon teriakan mendesaknya. Dormul dan Luvis mengikuti. Mereka buru-buru mengabaikan pertarungan mereka, meraih Haruhime dan yang terluka, kemudian melompat ke lubang.

Tanpa melewatkan sedetik pun waktu, sekawanan monster mendekat. “Nona Aisha, lari!” Lilly berteriak sembari mengangkat Jubah Goliath dan dia lemparkan ke atas lubang.

“…!”

Aisha yang masih terkunci dalam pertarungan melawan spesies yang diperkuat, menatap kaget.

Monsternya tidak paham kata-kata Lilly. Baginya, itu hanyalah jeritan manusia. Inilah penentuan nasib masing-masing.

Amazon memukul paksa serangan raksasa dan terjun menuju terowongan yang cukup besar untuk menyembunyikannya.

Tak lama setelahnya Bell muncul di medan perang, lonceng berbunyi, dirinya meluncur dari tanah dengan hentakan kuat, mengulurkan tangan kanan.

Dia telah mengisi daya selama empat menit, muatan penuh.

Dia membidik semua yang dapat dilihatnya dan berteriak sekeras mungkin.

“FIREBOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOLT!!”

Baut raksasa dari api.

“…”

Seketika Amazon menghilang dari bidang pandangnya, spesies yang diperkuat melihat rahang merah membara.

Monster-monster lain telah menyambar lubang dan cakarnya menusuk jubah hitam, kemudian detik berikutnya dibakar Firebolt.

Aliran api mematikan menerpa lorong menelan seluruh kawanan.

“O—OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!”

Ketika monster terbakar melolong, spesies yang diperkuat—yang juga telah tertelan nyala api —terlempar jauh ke lorong oleh kekuatan bak sungai meluapkan tepiannya. Dia menghindari pembantaian berkat kain roh pelindung, tetapi bersama ledakan api merah, dia dilempar ke dinding di ujung lorong.

Dinding kristal meledak menjadi pecahan, dan kolom api horizontal mengamuk di Dungeon.

Seluruh tubuh spesies yang diperkuat terbakar. Dia jatuh menembus dinding hancur menuju ruangan besar di sisi lain, kemudian punggungnya mendarat.

 

“… Tuan … Bell!”

Lilly mengesampingkan Jubah Goliath yang menuutpi lubangnya, wajah mengintip ke lorong, kemudian memanggil namanya seperti dulu.

Lilly dapat melihatnya di sana, lebih jauh dari lorong yang kini monsternya telah disapu bersih dan mengepulkan panas dari batu-batu sihir meleleh tak terhitung jumlahnya.

Seorang anak laki-laki sendirian berjalan melalui kabut berkilauan yang ditinggalkan api.

Baginya, sosok yang berjalan diam-diam melewati pusaran angin percikan terlihat sangat heroik.

Lilly gemetaran sewaktu dia melihatnya. Bahkan Welf dan kawan-kawan lain yang mengintip merasa tersentak.

Lilly ingin keluar dari lubang dan melompat kepadanya. Dia pengen memeluknya, menangis, dan membanjiri Bell dengan permintaan maaf serta ucapan terima kasih.

Tetapi api petarung itu masih menyala di mata Bell.

Bell menatap lurus tepat, seluruh tubuhnya membara marah dan bertekad membantai musuh kuatnya.

Kalau begitu, ada satu hal yang bisa dilakukan Lilly. Dia berguling keluar dari lubang dan menarik botol gelas kecil dari kantong di pinggulnya, lalu diserahkan kepada Bell dengan kasar.

“Tuan Bell!”

“—makasih.”

Itulah yang dikatakannya setelah mengambil Ramuan Rangkap Dosis Tinggi, salah satu ramuan baru Nahza, dari tangan Lilly. Tetapi masih belum cukup.

Aisha keluar dari terowongannya dan berjalan melewati lubang tempat Mikoto dan teman-teman saling bertumpuk, kemudian tersenyum di belakang Bell.

“… Bell Cranell! Habisi makhluk itu sebelum kami semua mati!” ujarnya.

“Maaf soal ini, Bell, tapi kami mengandalkanmu!” tambah Welf, senyum sedih di wajahnya selagi merangkak keluar kawah.

Bell tak berbalik menghadap mereka, balasannya hanya dengan mengangkat satu tangan.

Dia meminum tetes terakhir Ramuan Rangkap Dosis Tinggi, menyeka sudut mulutnya dan berjalan menuju lubang di dinding Dungeon.

Ω

 

Dia marah gila.

Apa ini?

Barusan apa yang terjadi?

Semestinya perburuan sempurna. Setelah dia habisi si betina cokelat, dia akan membunuh manusia lain, lalu makan batu sihir mereka. Tapi—

Kenapa manusia itu hidup?!

Kupikir kau sudah jatuh ke air terjun!

Kenapa kau tak mati?

Kenapa? Kenapa? Kenapa?

Pertama kalinya sesuatu seperti ini terjadi.

Tak mungkin dia membiarkan sesuatu seperti ini.

Tak diterima seorang manusia hidup yang tak sesuai ekspektasinya sebagai pemburu.

Mereka cuma mangsa, cuma makanan. Tidak lebih.

Kemarahan dan kebencian bangkit bak asap dari tubuhnya.

Kain biru yang menggesek kulitnya telah meregang dan menggeret karena penggunaan berlebihan.

Taringnya menggertak dan berdiri.

“UOOOO …!”

Kalau kau datang, maka datanglah. Aku sudah cukup makan batu sihir.

Dia berbeda dari sebelumnya. Kekuatannya membesar sampai tingkat luar biasa. Gampang memelintir dan menghancurkan lengan kurus manusia itu.

Api tak bisa lagi memengaruhinya.

Barangkali dia harus menyeret manusia itu ke dalam air lagi.

Dungeon adalah ibunya. Dalam rahim ibunya, dia bisa mendapatkan kekuatan tiada habis. Tetapi manusia tak punya trik untuk mendapatkan kekuatan. Kali ini, dia bakal benar-benar menghentikan napas mangsanya.

Matanya berkilau hasrat membunuh, dia melotot pada bocah yang muncul dari luar lubang.

Ω

 

Bell berdiri di tepian lubang yang dia buka lebar dengan Firebolt, menatap pemandangan di hadapannya.

Ruangan tenang dan berair. Air menutupi lebih dari setengah ruangan besar, dan di tengah-tengahnya terdapat massa kristal berdiameter lima puluh. Kelihatan mirip sebuah pulau megambang di danau besar. Bell tak melihat monster. Tak satu pun, benar, kecuali spesies yang diperkuat sedang berdiri di tengah-tengah pulaunya, tatapannya penuh niat membunuh.

Bell melompat turun dari tepi dan loncat menyeberangi danau, menggunakan kristal yang menonjol dari permukaan air sebagai batu loncatan, hingga sampai di pulau yang ditunggu monsternya. Di tanah biru rata nan berkilau, diterangi kristal putih yang mengelilingi langit-langit, Bell serta spesies yang diperkuat saling berhadapan.

“GRRRRRR…!!”

Mata Bell menatap lawannya yang menggeram berat. Dia sedikit lebih besar sekarang. Berdiri di depan raksasa aneh tersebut, emosi yang si petualang rasakan dalam hatinya nyaris pasti amarah. Monster ini telah melukai teman-temannya dan membunuh banyak sesama petualang. Dengan kejam menyiksa para elf. Bell bukanlah orang tolol yang berdiri diam saat makhluk ini dengan sadisnya dan penuh perhitungan mengamuk dalam Dungeon tuk memuaskan keserakahannya sendiri.

Namun dia pun tahu menurut sudut pandang monster ini, amarahnya tak absurd. Luka dan bahkan kehidupannya sendiri merupakan harga petualangan. Segalanya dilakukan atas risiko petualang sendiri. Salah menganggap pertarungan ini merupakan pembalasan atas lengan Luvis. Bell dan party-nya adalah penyusup yang menginjak-injak menghancurkan Dungeon. Merekalah penjajahnya.

Bell paham ini, dan mata petualangnya menatap musuh di depannya. Dia akan mematuhi hukum Dungeon—dan membunuh monster yang dihadapinya.

“…”

“HAA …”

Bell diam-diam menarik kedua pisaunya.

Monster bermata merah mendesau napas membunuh.

Sepintas berikutnya, tubuh mereka gemetaran dan mereka menendang tanah.

Bell dan spesies yang diperkuat saling menerjang, menghancurkan keheningan ruangan dan mengubah pulau kecil menjadi arena tarung.

“Uuh!”

“OOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!”

Monster itu unggul pada bentrokan pertama mereka. Kekuatannya melampaui ekspektasi Bell, lalu lengan si monster menghempas mundur tangan Bell. Agar terhindar kejaran monster, Bell berguling ke tanah dan menendang sisi sampingnya.

Moss huge itu menyerbu lagi, giginya dipamerkan persis seakan-akan sedang tersenyum. Bell melawan balik.

“Mereka mulai …!”

Mendengar teriakan tempur, Lilly dan rekan-rekan lain berlari menuju lubang dinding.

Welf teengah-engah, Ouka menggendong Chigusa, Mikoto mendukung bahu Haruhime, dan Aisha berdiri dengan tanaman parasit merambat yang memintal seluruh tubuhnya. Bahkan Luvis, Dormul, serta kurcaci-kurcaci lain dan para elf mengesampingkan rasa sakit mereka dan berkumpul di lubang untuk menyaksikan pertarungan dimulai.

“Hei, kalian! Kalian berdiri di sana dan tak membantu?” Daphne megap-megap selagi berlari mengejar ketertinggalannya dengan orang lain yang sedang melihat pertarungan sengit. Opininya disampaikan jujur ekstrem, seolah-olah mereka bersama-sama dapat menghajar monster itu dalam situasi ini.

“Ide buruk. Kalau kau diserang benih-benih itu dan ditanam tanaman merambat, kau hanya akan membebani Bell Cranell,” tambah Aisha. Daphne tersentak sekilas pas melihat Amazon memeluk setengah tubuhnya yang terlingkupi tanaman merambat, kemudian memperbarui argumennya.

“T-tapi … kita bisa pake panah, mungkin bisa menaikkan level lagi! Kaki Kelinci tak semestinya menghadapi monster itu sendirian—!”

Cassandra memotongnya, menunjuk arah ruangan. “D-Daphne … lihat …” Daphne menatap curiga pertarungan.

“OOOOOOAAA!!”

“…!”

Pisau Bell berhasil melewati lengan monster dan sekarang menebas tubuh lawannya tanpa henti. Memanfaatkan sosok kecilnya dibanding sosok lawannya, dia melompat dari kanan ke kiri, kemudian membungkuk maju hampir menyentuh tanah lalu menyelinap ke sisi belakangnya. Melancarkan rentetan serangan jarak dekat—tak selalu serang-kabur, tetapi menerjang, menghindar, dan mengulanginya.

Pisau ungu-biru serta putih yang berbinar-binar menghantam si monster, memotong tubuh zirah kayu dan daging berlumutnya.

“A-apa monster itu jadi lebih kuat setelah makan batu sihir?!” seru Daphne.

“Kurasa begitu. Tapi lebih pentingnya …” mata Aisha menyipit.

“… bukannya Bell Cranell bergerak lebih cepat dari kali terakhir kita lihat dia?” kata Ouka dari sebelahnya,suaranya melirih ngeri. Di tangannya, Chigusa terkejut membuka matanya sedikit.

Hanya Mikoto yang berdiri di sebelah grup, berkeringat dingin.

Mustahil …

Ada yang familier soal perasaan yang mendatanginya selaagi membedakan Bell sekarang dan Bell yang kali terakhir dia bersama party.

Bukannya dia bergerak lebih cepat. Tetapi gerakannya lebih punya vitalitas dari yang dulu.

Seperti ketika Haruhime meningkatkan level kami …

Mikoto berdeham, sadar pada berat si manusia rubah di bahunya.

Sesaat Mikoto dinaikkan levelnya, seringkali dia merasa tubuhnya tak terkendali. Pikirannya tidak sanggup mengimbangi peningkatan kekuatan mendadak tubuh fisiknya.

Bagaimana seandainya Bell berada di situasi sama sebelum dia terpisah dari grup?

Bagaimana sekiranya pikiran dan tubuhnya tak sinkron?

Itu terjadi tatkala perubahan fisik drastis yang disebabkan naik levelnya seseorang melampaui rasa yang dibuat pikiran.

Bulu kuduk Mikoto naik.

Jadi selama ini, Tuan Bell telah—

Barangkali petualang kelas satu mampu menyinkronkan pikiran dan tubuh mereka sesudah satu pertempuran besar. Tetapi Bell masih belum matang—lebih pentingnya lagi, laju pertumbuhannya sangatlah cepat. Bahkan lebih dari orang biasa, pikirannya tak mampu mengikuti tubuhnya.

Tetapi bagaimana bila pengalamannya di lantai dalam akhirnya telah menyelesaikan masalahnya?

Mata ungu Mikoto membesar begitu melihat bocah itu memantulkan serangan lawannya di sela-sela pisaunya. Mikoto teringat kembali pada sesuatu yang pernah dibahas Takemikazuchi ketika dia melatihnya sebelum ekspedisi.

Apa kau bertarung dengan tubuh dan pikiran yang tidak selaras?

Mikoto benar.

Tubuhku bekerja lebih baik dari sebelumnya.

Bell menyadarinya di tengah-tengah pertarungan melawan monster. Tubuhnya mengikuti jejak sama yang dipikirkan pikirannya. Keterlambatan serangannya, pertahanan, dan mundurnya—yang sebelumnya kelewat kecil sampai-sampai tak dia sadari tanpa fokus—kini sudah tak ada.

Perasa dalam tubuh Bell lebih jelas ketimbang sebelumnya.

Perasaan menggelisahkan telah sirna.

Anehnya, pertarungan besar melawan iguaçu—makhluk-makhluk yang mempertaruhkan nyawa untuk mengebomnya—telah membuat pikiran dan tubuhnya selaras.

Sekarang karena tubuhnya sudah betul-betul dia kendalikan, nampak jelas. Dia bisa tahu sejelas apa pembuluh tubuh fisiknya telah menggerakkannya, bahkan ketika pertama kali tiba di lantai rendah dan selama pertarungan pertamanya melawan spesies yang diperkuat.

Kini tubuhnya bekerja sesuai keinginannya, seolah-olah semua persnelingnya akhirnya berbunyi. Dia mampu menghadapi pergerakan lawannya.

“OO, OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!”

Dia melihat kerisauan meningkat di mata spesies yang diperkuat, saat melawan Bell baru ini yang cara bertarungnya berbeda penuh dari terakhir kali mereka bertemu.

Kekuatan manusia super yang menghancurkan tanah kristal di bawah kakinya bahkan tak menggores bocah itu. Akar pohon yang menjalar dari kaki monster sampai ke tanah lalu menjulur naik sebagai serangan diam-diam telah dipotong sebelum sempat melakukan pekerjaannya. Serangan yang menyiksa banyak sekali petualang di masa lalu tak terpengaruh.

Sang monster meraung, seolah-olah mengusir kecemasannya. Kemudian benjolan tumbuh di seluruh tubuhnya. Menghadapi Bell dari jarak dekat, dia menembakkan sebutir peluru benih ke arahnya.

Peluru bijinya tak secepat iguaçu!!

Ketenangan Bell tidak hilang. Dibanding garis-garis merah tua menakutkan yang dia temui sebelumnya, peluru biji praktis tampak tak berubah arah.

Bell melacak lintasannya dan menggerakkan lengan sangat cepat sampai-sampai kelihatan kabur, pisaunya menebas setiap pelurunya.

“…!!”

Monster terheran-heran itu tak sempat menenangkan diri sewaktu Bell melancarkan serangan tebasan kuat.

“GUO?!”

Menanggapinya, moss huge melepaskan serangan balik dipicu semangat juang serta keuatan manusia super. Pukulan dipupuk kehidupan saudara-saudaranya yang tak terhitung jumlahnya mengguncang baju besi dir-adamantite yang menutupi tubuh Bell. Kali ini pukulannya menimbulkan luka nyata.

Monster ini lebih kuat, kemampuan bertahannya lebih baik.

Kemungkinan besar, Bell tak mampu menandingi seluruh potensinya.

Tetapi Bell lebih cepat.

Sebab pikiran dan tubuhnya sudah terhubung sepenuhnya, kemampuan sejatinya menguntungkannya di medan perang.

Lebih pentingnya lagi—

Dia lambat!

Musuh yang berdiri di depannya sangat lamban.

Bell punya standar untuk monster ini.

Monster yang sungguh-sungguh di luar kata biasa.

Monster yang jauh lebih cepat, lebih kuat, dan lebih sinting dari yang berada di depannya.

Bell telah bertarung melawan monter itu. Dan dia bersumpah akan bertarung melawannya lagi.

Aku ingin mengalahkannya.

Dia ingin mengalahkan petarung yang muncul di hadapannya bahkan setelah dilahirkan kembali.

Aku ingin mengalahkannya.

Dia ingin mengalahkan petarung yang telah berulang-ulang menghantamnya dengan kekuatan garang dan kapak bermata dua, Labrys.

Kali ini, aku mau menang!

Dia ingin mengalahkan minotaur pemberani yang mengukir kekalahan ke tubuhnya pada malam yang diterangi cahaya bulan itu.

Statusnya naik membara.

Perjuangan sengit melawan moss huge telah memicu kehendak besar dalam diri Bell, saat ini, seraya memikirkan black minotaur, kehendak besarnya telah meledak keluar.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHH!!” “…!!”

Serangan pemotong berkecepatan ekstrim jauh melampaui kemampuan respon musuh. Namanya Rabbit Rush.

Seperti melawan iguaçu, Bell mengukir angin puyuh hitam dan putih berkilauan di udara. Baik pikiran dan tubuhnya mencepat. Topan lumut terbang dari tubuh spesies yang diperkuat.

Akhirnya, tebasan horizontal yang dilancarkan langsung dari samping menghempas mundur tubuh besar itu. Sekarang terdapat cukup jarak yang memisahkan Bell dan moss huge.

“AAAAAAAAAAA…!!”

“…!”

Walaupun bagian-bagian monsternya terus mengelupas, lumut baru tumbuh mengisi luka-luka. Segera setelahnya nampak ibarat Rabbit Rush tak pernah terjadi. Bell menganga.

Kecepatan pemulihannya teramat-amat cepat. Meskipun robek-robek, lumut yang kembali hidup mendadak mulai tumbuh kembali. Keunggulan sederhana soal jumlah luka yang dihasilkan takkan cukup untuk menjatuhkan monster yang telah mengkonsumsi banyak sekali batu sihir. Dengan kain Undine melilit tubuhnya, Firebolt jelas takkan berefek banyak pula.

Ditambah lagi, sekalipun Bell telah meminum Ramuan Rangkap Dosis Tinggi, seluruh tubuhnya masih merasakan efek samping serangan penuh tak lama ini. Bila pertarungannya alot, keseimbangan mungkin bakal memihak si monster.

Lantas serangan pisau atau sihir takkan berfungsi, lalu pertarungan berlarut tak akan menguntungkan Bell.

Kalau begitu—satu seranganlah pilihan satu-satunya.

Bell akan menghabisi musuhnya dengan satu serangan terkuatnya, serangan yang takkan memberinya kesempatan memulihkan diri.

Dia selipkan Hakugen ke sarungnya dan memegang terbalik Pisau Hestia di tangan kanannya. Dia angkat sampai setinggi dada, kemudian tangan kirinya mengulur.

Firebolt!”

Gumpalan api listrik yang tak perlu rapalan tuk mengaktifkannya langsung dilepaskan.

Tetapi Bell tak mengarahkannya ke musuh di depan. Malahan, dia salurkan ke pisau hitam pekat di tangan kanannya.

“…?!”

Baik monster maupun petualang yang menonton dari luar ruangan tak bisa mempercayai mata mereka.

Aksi Bell tak berakhir dengan infus sihir ke bilahnya. Begitu sihirnya terlepas, dia mulai mengisi daya.

“…”

Kring, kring.

Lonceng bergetar di telinga sang raksasa. Matanya tertuju sesuatu.

Firebolt yang seharusnya menerbangkan massa percik api sewaktu meledak masuk ke pisau dan massa apinya harusnya menyebar, malahan ditekan ke bilah pisau oleh partikel cahaya putih yang dilepaskan si bocah.

Tidak, bukan ditekan—difokuskan.

“Apinya berkumpul di pisau …”

“Penguatan …? Tidak, kurasa bukan …. Itu apa?!”

Bahkan dari posisi jauh mereka, Ouka beserta Daphne bisa melihat kejadiannya. Petir merah tua menyatu dan memadat. Pisaunya mengenakan zirah api menyala-nyala, bergantian terlingkupi kabut tebal partikel-partikel cahaya.

Hieroglif terukir di pisau yang mendenyutkan cahaya putih laksana beresonansi dengan api.

Pengisian daya ganda.

Investigasi Bell membuahkan pemfokusan ciri-ciri Argonaut, lalu dia gunakan untuk mengembangkan aplikasi keterampilan baru. Dengan kata lain, dia menemukan cara mengisi daya sihirnya juga serangan pisaunya di waktu yang sama.

Dengan meledakkan Firebolt ke dalam bilah kemudian membungkus seluruhnya dengan partikel-partikel cahaya, Bell bisa memasukkan dua mekanisme serangan, secara bersamaan memperkuatnya.

Sesaat panas api terfokus pada bilah, Pisau Hestia mulai membesar. Bilahnya membentang sampai selebar pedang dan sepanjang belati. Kian panas dan terang sebanding panjang pengisian dayanya, hingga cahaya merah tua mengisi seluruh ruangan luas. Di tengah-tengah hasil kekuatan besar ini, sejumlah api keluar dari fokus Bell dan menari-nari terpisah dari pisau dalam wujud bunga api.

Serangan yang dipersiapkan Bell mendorong kekuatannya sampai batas dan kelihatan mirip guntur bersuara api yang akan memusnahkan segalanya begitu dilepaskan.

Bell telah menemukan teknik tempur berdasar kekuatan tak masuk akal sama sekali. Serangan mematikan ini secara tegas dirancang untuk mengalahkan saingan besarnya kapan pun mereka bertemu.

Ya. Seperti halnya nyala api ilahi kekal—

“Dewi, aku dapat ini darimu.”

Bell mengangkat pisau api berselimut cahaya di tangan kanannya dan menatap monster yang berdiri di hadapannya.

Kring, kring.

Seakan-akan mengumumkan waktu monster itu sudah habis, lonceng Bell berbunyi.

Ἑστία

 

Dia gemetaran.

Tadi itu apa?

Tadi itu apa?!

Apa itu?!

Dia tak tahu. Dia belum pernah melihat yang seperti itu.

Berkali-kali di masa lalu, dia telah mendengar lagu-lagu yang disertai pengeboman. Dia telah dibakar api dan dibekukan es, disambar petir dan bagian tubuhnya dilucuti.

Tapi dia belum pernah melihat sesuatu seperti ini.

Tak pernah cahaya tanpa ampun ini.

Tak pernah kilatan cahaya dan api yang sepertinya ditakdirkan menghancurkan segalanya dan mengembalikan semuanya menjadi abu.

Dia betul-betul ketakutan. Terlampau ketakutan sampai-sampai hasrat membunuhnya dan kebenciannya lenyap.

Air!

Dia mesti masuk air!

Semisal dia dalam air, manusia takkan bisa mengejarnya!

Dia berbalik dari si bocah.

Meninggalkan amarah dan kebanggan serta rasa malunya lalu hendak terjun menyelam ke sungai yang disediakan ibunya sang Dungeon.

“Ey!”

Tapi sebelum sempat mencapainya, badai salju putih murni menghujan dari atas dan membekukan aliran sungai sejauh matanya memandang.

“?!”

Berdiri tercengang di tepi sungai membeku yang tak bisa lagi dia selami, dia mendongak.

“Dipikir kami bakal membiarkanmu kabur, ya?”

Seorang pemuda berambut merah memegang pedang biru di tangan kanannya berdiri di atas tiang kristal besar, menatapnya dari atas. Tangan satunya tolak pinggang.

“Maaf, tapi orang itu bakal membunuhmu di sini, saat ini. Paham?”

Senyum tanpa kenal takut manusia membuatnya marah gila. Dia meraung, ingin mengamuk sebab perintah hasrat membunuhnya.

Tetapi langkah kaki yang menghampiri dari belakang tak memperkenankannya.

Dia menahan napas dan melihat ke belakang.

Bocah berambut putih berjalan mendekati.

Kemarahannya lenyap, kengerian datang menggantikan. Bocah itu berjalan tenang mendatanginya, berualng kali memfokuskan cahaya mengerikan selaagi mendekat.

Dia mendekat!! Mendekat!! Mendekat!! Kehancuran yang ‘kan menghancurkannya.

Manusia yang akan membunuhnya.

Kelinci putih yang matanya bercahaya merah tua.

“—AYO GELUD,” umum si bocah, mengangkat bilah bercahaya dan berapinya.

Jalan anak laki-laki itu menjadi lari. Dia menyerbu secepat kilat. “U—UOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOO!!”

Pisau maut menusuk sang moss huge.

Rambut putih meninggalkan jejak seiring lajunya, percikan-percikan api bertaburan dari pisau dan menari-nari di udara.

Monster itu melolong ngeri dan mengayun ke bawah tangan kuat penghancurnya.

Tapi.

Bocah itu melesat mendatanginya dengan kecepatan yang mengalahkan kekuatan dirinya.

“…”

Loncengnya telah berbunyi selama enam puluh detik.

Huruf-huruf sakral yang diukir pada bilahnya melempar cahaya cemerlang dan melepas deru api.

Argo Vesta!”

Tepat sebelum itu terjadi, kala cahaya merah tua dan putih bersih memenuhi dunia, sesuatu terjadi padanya.

Kalau aku terlahir kembali …

Aku takkan pernah mendekati kelinci putih lagi.

Itulah pikiran terakhirnya sebelum kesadarannya meledak menjadi jutaan keping.

Άργκο Εστία

 

Argo Vesta.”

Terdengar bunyi guntur nyala api dan kilatan cahaya, kemudian gelombang kejut dahsyat.

Ke semua itu adalah serangannya.

“—O, OO!!”

Bola api meledak menelan teriakan gagap kematian monster, lalu menyala kilat merah tua yang melingkupi cahaya putih berkedip-kedip.

Serangan pisau berapi menyebabkan ledakan kuat.

Ketika Lilly dan yang lainnya menyaksikan dari atas, penglihatan mereka awalnya serba putih, lalu bercahaya merah. Tangan menutupi wajah mereka sesaat gelombang panas dan kejut mengguncang mereka. Terlahir sekejap, serangan pisau yang dimasukkan api elektrik telah menghasilkan nyala api yang membakar segala yang dilewatinya.

Ketika warna kembali ke lanskap kerlap-kerlip, para petualang perlahan mengangkat wajah mereka.

Dua kaki besar berdiri dalam ruangan sunyi, tubuh atas yang dulu dimilikinya sekarang telah hilang. Sepintas kemudian, kakinya berubah menjadi abu dan swush, menyebar ke udara.

Bell berdiri dengan tangan terulur di ujung ayunan serangannya, diam-diam menatap pisaunya sembari melepas tensi pada tubuhnya. Pisau ilahi telah matang bersamanya, rasanya sehalus dan tajam seperti sebelum menyerang. Api serta cahaya yang melekat pada pisaunya berubah menjadi asap dan melayang naik menuju langit-langit.

“Tuan Bell—”

“HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHH!”

Teriakan emosional Lilly dan Haruhime ditenggelamkan suara suka cita para elf dan kurcaci. Daphne dan Cassandra berusaha menutup telinga mereka sedangkan Welf, Mikoto, dan Aisha ikut berteriak.

“Chigusa!”

“Ah … Ou … ka.”

Tiba-tiba, tanaman parasit merambat yang menjerat tubuh para petualang telah menghilang.

Tanaman merambatnya bernasib sama dengan pembuatnya, menjadi kabut abu seperti halnya si monster. Sewaktu senyum sembuh merekah di wajah Chigusa yang masih lemah, Ouka menyeringai dan memeluknya.

Para elf dan kurcaci pun menangis bahagia ketika siksaan buruk sang monster lenyap dari tubuh mereka.

“Tuan Bell!”

“Bell!”

Si bocah meringis bahagia sementara Lilly, Welf, dan yang lain melompat turun dari lubang di dinding dan tersandung menghampirinya. Selagi mengangkat tangan mengartikan Bell baik-baik saja, Bell mendengar suara percikan air.

Asal suaranya dari belakang Bell, di sisi berlawanan dari aliran beku.

“Uh …”

Kaget, Bell berbalik menghadap arah percikan air dan tersenyum sedikit.

Mermaid cantik menjulurkan kepala dan bahunya keluar dari air.

Dia Mari yang berpisah dengan Bell sebelum menyelamatkan party.

“Bell, terima kasih … aku mencintaimu!”

Xenos itu telah mengantarkan si bocah ke rekan-rekannya dan kini Mari merona dan tersenyum lebar. Lalu jemarinya menyentuh bibir mungil macam anak dewasa sebelum waktunya dan menghembus kecupan perpisahan.

Sembari melambai, bibir membisunya merakit kata-kata, Sampai jumpa.

Hanya Bell yang bisa melihatnya; dia tersembunyi dari pandangan anggota party lain. Bocah itu nyengir dan balas melambai sedikit.

Beberapa saat setelahnya, suara teman-teman Bell memeluknya terdengar, dan satu buntut ikan menciprat permukaan air.

Begitu suara obrolan penuh semangat para petualang di darat melayang menghampiri si mermaid bagai gumam lembut nan lirih, mermaid itu tersenyum samar dan kembali ke dunia air.

18 Replies to “DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 12 BAB 6”

  1. Sumpah makin lama makin dark nih light novel apalagi waktu volume 10 yang monster laba laba bunuh diri gegara mau diperkosa sekarang yg monster lumut, ntar volume 13 yg gue baca bakalan bagus nih.
    Semangat terus min, w bosen baca yg inggris

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *