DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 12 BAB 4

Posted on

Seorang Pemburu di Tepian Air

Penerjemah: Lord of Cinder (Daffa Cahyo)

“Chigusa, bertahanlah!”

Teriakan Ouka menggema lagi dan lagi.

Kami sedang berada dalam ruangan kristal di sudut labirin lantai 25. Setelah raksasa berlumut itu melepaskan serangannya, kami mundur ke ruangan ini untuk menghindari pertempuran melawan monster lain. Kami cepat-cepat merusak dinding dan menempatkan penjaga di pintu masuk, sekarang berusaha menyembuhkan Chigusa dan Luvis.

“Wahai sinar mentari, semoga kau memukul mundur kehancuran. Cahaya jiwa.”

Cassandra, penyembuh kami, tengah merapalkan sihirnya kepada Chigusa dan Luvis yang terbaring di lantai. Tongkat yang dipegang Chigusa di sampingnya menyinari cahaya hangat menyerupai sinar matahari, menyelimuti yang terluka dalam pelukannya. Bentuk penyembuhan yang sangat langka ini memiliki kekuatan untuk menutup semua jenis luka berdarah … namun jelatang yang menyiksa Chigusa serta Luvis tidak menghilang.

Malah sebaliknya, cahaya sihir penyembuhan tampak memacu pertumbuhannya, hingga menjadi lebih kuat dan menumbuhkan daun rimbun.

“Uuuuh, uuuuuuuhhh ….!”

“I-ini tidak berguna! Aku tidak bisa menyingkirkan jelatangnya ….! Aku tidak bisa menyembuhkan ini!” Cassandra menjerit selagi berdiri di atas Chigusa yang keringetan dan mengerang.

Kami sudah mencoba semua jenis ramuan dan obat penawar. Semuanya tak bermanfaat. Kami tidak dapat mengeliminasi jelatang yang tumbuh dari lukanya. Ketika kami mencoba mencabut tanamannya dengan paksa, Chigusa dan Luvis menjerit kesakitan, dan tatakala kami potong dengan pedang, tanaman baru tumbuh menggantikannya.

Cassandra terdiam seribu bahasa, suaranya putus-putus.

“Kemungkinan besar, benih yang masuk ke tubuh mereka telah menumbuhkan akar dan memperkuatnya …. Jadi ramuan dan penawar malah berkebalikan dari tujuan kita ….”

“Maksudmu tidak bisa pulih?!” tanya Ouka, membungkuk di atas Chigusa.

“Lebih tepatnya, kupikir, tanaman merambatnya akan menyedot kekuatan dari tubuh mereka yang mulai pulih ….” erang Daphne, dia berdiri di sebelah Ouka sambil memasang ekspresi muram.

Seandainya masalahnya hanya luka, lantas lukanya pasti sudah sembuh. Namun jika vitalitasnya yang direnggut detik demi detik, maka tak mungkin mereka bisa terus bertarung. Bukan hanya itu—kemungkinan terburuknya, nyawa sendiri yang akan menjadi ….

Mikoto membelakangi kami sambil menggunakan Yatano Black Crow untuk menjaga pintu masuk, tetapi tak mampu menyembunyikan kekhawatirannya. Setiap beberapa detik dia melirik Chigusa.

“Ini tidak dalam kuasa penyembuhan, bukan? Seolah-olah monster itu yang memparasitkan tanamannya,” ucap Welf.

“Tepat … tanaman parasit,” tukas Lilly. Ouka dan teman-teman memucat terhadap kata-kata mereka.

“Chigusa ….!” panggil Haruhime yang berlinang air mata, mencengkeram tangan sahabat semasa kecilnya.

Melalui semua ini, aku diam-diam mendengarkan percakapannya. Aku menatap Luvis.

Seperti Chigusa, wajahnya basah keringat. Lengan kanannya dibungkus kain untuk menyembuhkannya, tetapi peluang memulihkan lengan bawahnya sama sekali tidak ada. Terlebih lagi monster itu menghancurkannya sampai tak terbentuk, sudah mulai membusuk. Menghubungkannya kembali bukan pilihan.

“Oh, ahh ….!”

Terperangkap mimpi buruk kesakitan bahkan selagi berbaring tak sadarkan diri, Luvis meremas matanya yang tertutup rapat hingga meringis. Tidak salah bila karir pria petualang tangan buntung ini telah tamat. Antara pensiun atau menjadi prajurit dengan cacat berat.

Sejujurnya, aku beberapa kali membicarakannya dengan Luvis. Aku tak tahu orang macam apa dia atau tujuannya menjelajahi Dungeon. Tetap saja … kejutan melihat seorang kenalan terkena situasi tak terpulihkan seperti ini tidak terperkirakan.

Realita Dungeon serta labirin gelapnya adalah bahwa ia memberikan kesuksesan cemerlang di satu sisi, dan satu sisinya lagi adalah aliran korban konstan.

Tatkala kebenaran ini menghadapku, suatu getaran menggelegar ke seluruh tubuh. Andai aku menghadapi situasi seperti ini sewaktu pertama kali sampai di Orario, mungkin diriku sudah pucat gemetar berantakan.

Namun sekarang ….

Diam-diam mengepalkan tangan kala berdiri di depan sesama petualang. Mendongak. Di sampingku, Cassandra, tangannya melemas, diliputi kekecewaan.

“Aku tak pernah melihat gejala seperti ini ….! Aku tidak bisa apa-apa ….!”

Barangkali karena kehilangan harapan pada dirinya sendiri sebagai penyembuh di hadapan gejala-gejala misterius ini, yang bukan karena penyakit abnormal atau kutukan, mata tenang terkulai Cassandra digenangi air mata.

“Bagaimana caranya menyelamatkan Chigusa dan Luvis?” tanyaku, secara paksa menerobos kebingungannya. Nada suaraku begitu kuat sampai-sampai menghancurkan suasana resah party dan bahkan mengejutkanku.

“Hah ….?”

“Tolong berikan pendapatmu sebagai seorang penyembuh, Nona Cassandra, meskipun cuma firasat.”

Dia berlutut, jadi aku merendah sampai sejajar dengannya dan tangan kiriku menggenggam tangan kanannya. Meremasnya untuk memberikan keberanian, berbicara pelan kepada penyembuh yang menangis itu.

“Masih belum ada yang mati.”

“….!”

“Semuanya masih di sini. Apabila kita pikirkan bersama-sama, kita bisa menyelamatkan mereka.”

Mata yang menatapku melebar. Dengan tegas kusorot balik, lalu pipi Cassandra mendadak memerah. Ketika aku lepaskan tangannya, dia kelihatan sedikit malu-malu dan tangan kiri ditempelkan ke hati seakan-akan menahannya. Aku merasa Lilly ingin mengatakan sesuatu, tapi untuk saat ini, dia harus menunggu. Cassandra mengalihkan pandangannya bolak-balik dan segan-segan menjawab.

“Antara k-kita bisa buru-buru membawa mereka ke permukaan dan mengirim mereka ke penyembuh yang lebih baik dariku … seseorang seperti Dea Saint dari Dian Cecht Familia ….”

“Ya?”

“Atau … membunuh makhluk yang menanam benih ke mereka ….”

Aku mengangguk kepada Cassandra yang walaupun kurang percaya diri telah membagikan idenya sendiri dengan cukup jelas. Setelahnya aku tersenyum, menunjukkan rasa terima kasihku.

“Apa orang lain punya ide? Tolong bicaralah kalau punya.”

“Tuan Bell ….”

“Bell, kau ….”

“Aku ini orang idiot yang tidak bisa apa-apa selain bertarung, saat ini pun aku tidak berguna … aku memerlukan bantuan semua orang, demi Chigusa dan Luvis.”

Melihat sekeliling kelompok seraya bicara. Lilly dan Welf nampak kaget.

Barang dan sihir gagal mengembalikan kedua petualang ini. Dalam misi dungeon, sama saja hukuman mati. Setiap petualang merasakan teror tersebut di tulang mereka. Semua orang pun bakal panik jika satu-satunya cara pemulihan gagal selagi berada di Dungeon.

Aku berusaha menyapu perasaan panik itu. Biarpun wujudnya saja. Sekalipun kepercayaan diriku adalah ilusi.

Aku bermain peran pemimpin. Karenanya, aku yakin, itulah pekerjaanku sekarang ini. Sebagaimana perkataanku kepada Cassandra, satu-satunya cara menerobos ini adalah dengan mengandalkan teman-teman, betapa pun tidak bertanggungjawabnya itu.

Aku akan berusaha sebisanya, perihal yang tidak bisa kulakukan, akan kuandalkan mereka tanpa penyesalan. Tidak ada yang memalukan. Lagipula, itu gunanya party.

Mungkin karena dia mengagumiku, atau boleh jadi semata-mata bahagia saja, Lilly tersenyum saat aku mengakui kelemahan sendiri dan meminta bantuan kelompok.

“Serahkan pada kami, Tuan Bell. Apa pun yang Tuan Bell tidak bisa lakukan sendirian, Lilly dan teman-teman akan membantu!” katanya.

“Sesuai perkataan Bell—mari bicarakan baik-baik. Misal otak kita disatukan, kita bisa jadi bakal menemukan jalan keluar,” ujar Welf.

“Ya, waktu hampir habis,” tambah Ouka. Daphne dan kawan-kawan mengangguk.

“… aku jadi hiasan belaka di sini!” oceh mulut Aisha. Dia kelihatan kecewa karena peran bintangnya dicuri. Tapi sesaat kemudian, dia tersenyum dan sikunya menusukku dari belakang.

“Hei, kau berhasil bicara! Kau beneran sudah tumbuh dewasa,” ucapnya. Aku menyeringai kala tersandung ke depan dan memindahkan perhatian ke renungan pribadi.

Para dewa memberitahuku berkali-kali bahwa aku telah tumbuh. Aku yakin sumber pertumbuhan ini adalah menguatnya tekadku. Tekadku menjadi hipokrit.

Atau mungkin rasa terima-terima saja kalau mungkin kehilangan tangan atau kaki, seperti Luvis tepat di depan mataku.

Pikirku mungkin belum punya cukup tekad sebelumnya. Aku tak mengabaikan janji kepada kakek untuk mencoba mencari cewe di Dungeon. Tetap saja, aku terjebak dalam jilid pertama kisah pahlawan penuh warna. Aku ingin menjadi tokoh dalam salah satu kisah mencolok itu.

Tapi bukan itu masalahnya. Para pahlawan—sebagaimana semua orang—ada kalanya mereka jatuh ke kegelapan dalam. Kehilangan kepercayaan orang-orang, kehilangan ketenaran, kehilangan semua harapan.

Bahkan tepat detik ini, aku yakin banyak orang mengalami rintangan. Para penyembuh seperti Cassandra, dan para petarung yang melindungi rekan-rekan mereka, juga para penyihir yang menenun lagu untuk orang lain.

Sumpah lagi dan lagi dilanggar. Aku yakin tiada sumpah di dunia yang belum pernah dilanggar.

Namun beberapa orang memang tidak ahli menyerah, dan orang-orang itu menghidupkan kembali sumpah mereka lagi dan lagi.

Orang-orang ini bertekad melakukan sesuatu, mereka yang maju meski sembari menyeka air mata—mereka dipanggil petualang.

Sebab hasrat, aku yakin menjadi jauh lebih kuat dan kurang ajar sewaktu dilahirkan kembali.

Sama sepertiku.

Tekad yang terukir dalam hati, aku bergerak maju, walaupun hanya beberapa langkah.

Memindahkan fokusku ke dunia luar. Lilly dan kawan-kawan lain cepat-cepat meninjau opsi kami.

“Kupikir satu-satunya pilihan nyata saat ini adalah yang disebut Cassandra.”

“Jadi, entah membawa yang terluka kembali ke permukaan atau membunuh si monster.”

“Lilly pikir pilihan yang pertama, mengembalikan mereka ke permukaan, lebih baik.”

Otak operasi kami sedang berada di pusat perbincangan. “Nona Lilly, mengapa kau merasa demikian?” tanya Mikoto, masih pasang mata karena tugas pengawalnya.

“Sepuluh banding satu, monster itu adalah spesies yang diperkuat. Kemungkinan besar, ia memakan banyak sekali batu sihir. Menilai pertarungan melawan Tuan Bell, sekurang-kurangnya Level Empat. Bukan tipe makhluk yang kau temui di lantai 25. Kita tidak tahu berapa banyak teknik yang dimilikinya selain peluru benih tersebut … mencoba menaklukkannya terlalu berbahaya,” jawab Lilly tanpa ragu-ragu.

Spesies yang diperkuat. Itulah nama monster yang membunuh kaumnya sendiri dan mengonsumsi batu sihir mangsa mereka demi meningkatkan kemampuannya. Kasarnya, Lido dan Xenos lain termasuk kategori itu juga. Monster yang telah mengasah potensi mereka dengan prinsip yang kuat memakan yang lemah dipandang sebagai Abnormal, dan sewaktu-waktu individu yang terlampau kaut muncul, Guild memasang hadiah pada mereka dan mengeluarkan perintah penumpasan. Aku mendengar sedikit kerusakan terjadi setiap kali perintah itu diturunkan.

“Ngomong-nogmong … spesies jenis apa monster tanaman itu?” tanya Welf. Dalam benak aku membolak-balik halaman panduan bergambar Dungeon.

“Menurutku itu moss huge. Mereka hidup di lantai menengah, bukan lantai bawah ….” kataku.

Moss huge adalah monster jenis langka yang muncul di lantai 24. Tubuh mereka terbuat dari lumut, artinya mereka tanaman berwujud manusia. Normalnya mereka tak punya baju zirah kayu yang kami lihat, dan tidak mampu menghancurkan dinding Dungeon dengan kekuatan manusia super. Itulah sebabnya di awal-awal aku tak mengenalinya.

Ciri pembeda utama moss huge adalah kemampuannya menghasilkan replika dirinya yang tak memiliki batu sihir saat dipotong. Rupanya, banyak petualang membicarakan kalau mereka telah membunuhnya, alhasil ternyata cuma replika saja dan monster aslinya sudah kabur. Mereka bukan monster yang sangat suka berperang, melainkan monster sangat cerdas yang menggunakan banyak mimikri, penyergapan, dan pelarian …. Kemungkinan besar, dengan berulang kali memakan batu sihir, individu ini mengubah kondisi fisik dan mentalnya.

Itulah sebabnya, dia mendapatkan kemampuan untuk menyelam ke lantai bawah dan mencari-cari batu sihir berkualitas lebih tinggi.

“Monster kelas rendah yang memperkuat dirinya sendiri dengan turun ke lantai bawah … jadi tipe Abnormal seperti itu ada, ya?” kata Daphne, kedua alisnya memberengut.

Berkebalikan dari tipikal Abnormal yang menjadi ancaman dengan naik dari lantai bawah ke lantai lebih tinggi, seperti minotaur yang menyerangku di lantai atas.

“Kembali ke pokok pembahasan, sesuai omonganku, melawan spesies yang diperkuat itu berisiko,” tutur Lilly. “Namun masalah terbesar kita, karena lantai 25 jauh lebih besar daripada lantai lain di lantai menengah, tidak ada jaminan kita bakalan menemukannya lagi. Sebaliknya, ketemu malah menjadi tantangan nyata. Dan bila begitu, Lilly lebih suka opsi pasti.”

Prioritas pertamanya adalah keamanan party, dan dia tak berpindah posisi. Yang Lilly katakan masuk akal. Namun setelah aku mendengarkannya, Luvis—dia masih terbaring di tanah—membuka matanya sampai seukuran celah tipis saja.

“Tidak … monster itu … pasti akan muncul lagi,” ucapnya terbata-bata. “Tuan Luvis! Kau bangun!”

“Jadi si Pemula Kecil … atau Kaki Kelinci sekarang? Tak kusangka kau akan menyelamatkanku ….!”

Dia menatapku, wajah basah kuyup keringatnya jadi seringai masam. Kemudian melirik tangan buntungnya, wajah tampan elf itu terdistorsi keputusasaan dan kesedihan. Dia menatap jijik tanaman merambat yang merangkak di ats lengan, bahu, dan kaki kanannya, selanjutnya kembali menatapku.

Party-ku tertinggal di lantai ini … kumohon … selamatkan saudaraku dan hancurkan monster menjijikkan itu.”

Saat party kami mencerna permohonan mengagetkan ini, Aisha mengangkat alisnya terheran-heran.

“Elf, kau bilang telah meninggalkan teman-temanmu dalam kesulitan dan melarikan diri?”

“Jangan bego! Apa aku kelihatan kek orang yang meninggalkan saudaraku ….?! Tidak, aku ini umpan ….”

Mungkin kebanggaan atas spesiesnya membuat Luvis meledak murka walaupun dia terengah-engah.

“Tolong jangan mendesak dirimu sendiri!” teriak Cassandra bingung selagi mencoba menenangkannya. Lilly menurunkan kepalanya ke samping Luvis.

“Maksudmu umpan? Dan semenit lalu, sewaktu kau bilang dia akan muncul lagi ….”

Luvis menyipitkan matanya kepada prum yang berusaha memahami situasinya secepat mungkin. Sesudahnya, rambut emas panjang terpampang di lehernya, menarik tas seukuran kepalan tangan dari sakunya dengan bantuan Cassandra.

“Makhluk itu memburu para petualang … karena dia menginginkan ini.”

 

Ακανόνιστος

 

Mari sebut monster itu dia.

Saat dia terlahir, dia lemah.

Walaupun dia mengamuk sesuai insting monsternya, manusia yang menerobos Dungeon dan dengan mudah mengalahkannya. Menikamnya dengan pedang, membakar kulitnya dengan api, menerbangkannya dengan palu. Hampir mukjizat dirinya belum mati di awal-awal pertempuran itu.

Tidak ada yang dipertanyakan; dialah yang dirampok. Tapi dia memang memiliki lebih sedikit kecerdasan daripada kaumnya. Berkali-kali, dia akan memanfaatkannya sebagai umpan atau mengumpulkan segenap kemampuannya untuk kabur dari para penghuni permukaan dengan cara lain.

Nasibnya adalah kemarahan membara yang mendorongnya tuk terus menyerang orang tanpa berkecil hati entah bagaimana, bertahan hidup.

Titik baliknya tak disangka-sangka tiba.

Suatu hari, dia bukan bertengkar melawan manusia tetapi salah satu saudaranya. Entah bagaimana—mungkin tak sengaja merobek sepotong tubuh lawannya—dia membangkitkan amarah. Dia adalah makhluk yang benci kematian, gigih melawan, dan rahangnya malah merobek batang tenggorokan lawannya. Dia teruskan lalu menggigit seluruh tubuh musuhnya sampai hancur.

Setelahnya, dada dan seluruh bagian tubuh lain, dia lahap inti keberadaan saudaranya.

Merinding sewaktu menggigit kristal ungu. Kilatan cahaya melintasi bidang penglihatannya. Dia melanggar tabu, tindakan pokok terlarang.

 Kekuatan meledak dari seluruh tubuhnya. Stimulasi membanjiri setiap saraf. Merasa seolah-olah tubuhnya telah mengembang. Untuk pertama kalinya, makhluk lemah ini serasa mahakuasa. Dia telah memperoleh kekuatan.

Mulanya, mabuk akan kemahakuasaan. Tenggelam perasaan menyenangkan lebih dalam dan dalam lagi, mati-matian mencari lebih, memakannya. Dengan kata lain, dia membunuh bangsanya sendiri. Mengejutkan mereka dari belakang, menyeret mereka satu per satu ke lubang pohon. Mulai mengerti jelas jika semakin melahap, makin banyak bagian tubuhnya yang dibuat ulang dari dalam hingga luar.

Akhirnya, mulai memikirkan cara paling efisien untuk melahap saudara-saudaranya. Dungeon yang melahirkannya tampak diam-diam saja selagi dirinya membangun gunung abu dan berjongkok di sampingnya. Menelan kristal-kristal ungu yang tak terhitung jumlahnya. Rakus, terus-menerus, tanpa memikirkan hal lain.

Tersadar bahwa kini dialah yang merampok.

Perasaan paling menyenangkan ketika mudahnya menghancurkan saudara-saudara sendiri sama tinju yang diayunkan sekuat tenaga. Bagaimana caranya mengekspresikan ekstasi menusuk seseorang dengan bagian tubuhnya sendiri?

Sekali lagi, mabuk kekejaman dan kehancuran.

Tiada yang sanggup menghentikan kekuatan yang tumbuh hari demi hari itu.

Kemudian tibalah saat itu.

Sudah kehilangan sebagian besar minatnya kepada monster-monster satu saudara yang dengan gilanya dia lahap, namun mereka masih belum melupakannya. Geng-geng orang yang mengejar dan menyerangnya sangat menjengkelkan dan bahkan lebih kuat dari saudara-saudaranya. Tidak ada salahnya menghindari konflik sama mereka. Biasanya, dia berusaha bersembunyi dari mereka sebisa mungkin, tetapi orang-orang yang datang hari itu kelewat gigih. Maka dari itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia menyerah kepada insting dan melawan balik.

Sesudah membantai setiap orang, dia menyadari beberapa gumpalan daging yang orang-orang itu bawa.

Apalagi dalam jumlah besar.

Akhirnya—dan ini jauh disayangkan bagi manusia—dia tersadar mereka sama sepertinya.

Sepertinya, mengambil barang-barang itu dari saudara-saudaranya dan dikumpulkan.

Itu sebabnya para manusia punya begitu banyak—banyak sekali batu sihir.

 

Ενστικτο

 

“Monster itu mengincar batu sihir yang dikumpulkan para petualang?!” kata Lilly, yang memucat saat mendengarkan penjelasan Luvis. Aku belum pernah mendengar hal semacam itu!”

“Tapi benar …. Ketika hewan buas itu menyerang party kami, dia langsung mengincar para pendukung di belakang dan menyambar kantong berisi batu sihir mereka. Dia memakannya persis di depan mata kami …. Bahkan sihir tidak berefek padanya. Kami cuma bisa kabur ….”

Tatkala itulah benih tertanam dalam dirinya, Luvis menjelaskan. Menurutnya, party-nya terdiri dari empat anggota, semuanya Level 3, dan sepertinya terbiasa menjelajahi lantai dalam. Sekuat itulah para petualang yang dihajar monster ini.

“Alasan kami datang ke Ibu Kota Air pada awalnya adalah karena diminta untuk melakukan misi …. Kami semestinya mencari orang hilang, atau mayat mereka. Selain kami dari Modi1 Familia, familia Dormul si kurcaci, Magni2 Familia, menerima permintaan yang sama. Kami bertengkar sepanjang jalan ….”

“Jadi Dormul pun ada di sini?”

“Ya.” Luvis mengangguk. Tampaknya, mereka berpisah setelah sampai di lantai dalam.

“Makhluk itu bosan pada kami. Tapi hampir semua orang di party penuh luka, dan entah bagaimana mereka harus pulih. Jadi kami tidak punya pilihan lain ….”

“Lantas kau mengambil batu sihir yang tersisa dan bertindak sebagai umpan demi rekan-rekanmu?” dengus Aisha.

“Ya, benar itu ….” Jawab Luvis, mengangguk dalam-dalam. Sesudahnya dia menyesuaikan kembali raut wajahnya dan sekali lagi memohon kepada kami.

“Monster itu buruk. Dia mengetahui efisiensi, mungkin itulah alasan dirinya jauh lebih kuat daripada spesies yang diperkuat yang pernah kutemui sebelumnya … bahkan lebih kuat dari Bloodstained Troll.”

Ouka dan kawan-kawan pucat pasi ketika mendengarkan permohonan mendesak Luvis, tapi Cassandra mengangkat wajahnya.

“Troll Bloodstained, aku pernah mendengarnya ….”

“… ya, itu monster yang diperkuat, dia menimbulkan kekacauan total selama sepuluh tahun terakhir. Saat Guild mengonfirmasi keberadaannya, sejumlah petualang kelas atas telah terbunuh. Bahkan kelompok elit petualang kelas dua dan lebih tinggi yang dikirim untuk mengalahkannya malah diserang sendiri. Aku dengar lima puluh orang gugur ….”

“L-lima puluh …. D-dan apa yang terjadi pada akhirnya?”

“Guild memohon-mohon kepada Freya Familia dan mereka menghabisinya. Aku dengar dari mereka bahwa monster itu setidaknya setara Level Lima ….”

Haruhime terkejut oleh penjelasan Aisha. Bukan hanya dia, baik Daphne dan Ouka pun menahan napas terhadap kisah megnerikan spesies yang diperkuat.

Luvis bilang mossy giant ini bahkan lebih berbahaya daripada Bloodstained Troll?

… memang mungkin.

Dibanding memburu jenisnya sendiri dalam Dungeon luas ini, menargetkan para petualang yang telah mengumpulkan sejumlah besar batu sihir akan jauh lebih efisien, secara eksponensial timbal baliknya akan lebih besar. Dan petualang yang datang ke lantai dalam barangkali punya lebih banyak batu sihir dan kualitas lebih baik. Terlebih lagi, monster lain takkan menargetkan spesies yang diperkuat kecuali dia sendiri yang mengajak bertarung.

Bagian terburuknya adalah spesies yang diperkuat ini sedang dalam proses mempelajari trik terbaik untuk menyerang para petualang.

Caranya kabur setelah menanam benih adalah bukti yang cukup. Seekor spesies yang diperkuat yang unggul dalam berburu petualang …. Tidak sama. Keduanya berbeda dan berarti ancaman.

“Seandainya kau tak melakukan apa-apa … kurasa ini akan menjadi bencana yang belum pernah terjadi sebelumnya.”

Ruangan menjadi sunyi selama beberapa detik sebagai tanggapan atas ocehan gagap Luvis. Semua orang kelihatan tegang.

“Sial. Aku memilih waktu yang sangat tepat untuk berekspedisi,” ludah Aisha, mengibas rambut panjangnya ke leher. Seketika semua mata tertuju padanya, dia melanjutkan.

“Kesampingkan pertanyaan yang membantainya adalah kita atau kelompok yang dikirim Guild ketika mereka tahu ini, dia tentu tidak boleh dibiarkan berkeliaran.”

“Itu benar, tapi jelas semakin banyak waktu yang kita berikan, makin sulit pula untuk membunuhnya. Hasilnya banyak petualang bisa-bisa kehilangan nyawanya. Paling penting, kita tidak boleh membiarkan rekan-rekan Tuan Luvis ….” ucap Lilly sembari memasang ekspresi tegang.

Ouka dan Welf menambah untuk membantu argument Aisha.

“Ditambah lagi, perlu satu hari untuk kembali ke permukaan. Tidak ada jaminan Chigusa akan bertahan selama itu. Belum lagi kita tidak tahu apakah penyembuh di sana bahkan … mampu menyingkirkan tanaman parasit ini.”

“Selama kita punya banyak batu sihir, kita yakin dia akan mendekati kita, kan? Jelas strategi mana yang akan memakan waktu lebih sedikit.”

“tapi memangnya ada jaminan kalau kita bisa menghilangkan parasitnya begitu monster ini dibunuh?” Lilly menanyakan kedua pemuda.

“Aku pikir peluangnya bagus,” Daphne menjawab, menggantikan kedua pemuda. “Seumpama individual ini memisahkan diri dari garis hidup moss huge, maka sesaat kita membunuh tubuh utama dan menghancurkan semua batu di dalamnya, seharusnya dia berubah jadi abu, kan? Aku rasa hal serupa akan terjadi kepada tanaman merambat ini.”

Lilly menatap mata Daphne seolah ingin merespon sesuatu, tetapi Daphne mengangkat bahu dan berkata, “Aku sendiri pun tidak mau bertarung. Tetapi berdasarkan semua hal yang kudengar … aku kira dia akan melepaskan kita.”

Aku lumayan yakin semua petualang kelas atas punya firasat yang sama. Sebut saja firasat. Sewaktu kami berpaling dari spesies yang diperkuat, dia akan membuka giginya.

“… Lilly mengatakan apa yang perlu dikatakan. Jadi ….” dia memandangku, begitu pula Aisha.

“Kau dengar dia bilang apa, Bell Cranell. Apa pilihanmu?”

Merenungkan semua pendapat yang diungkapkan kelompok, dan aku membuat keputusan.

“Ayo buru monster itu.”

“YAAA!” teriak Welf, tinjunya memukul telapak tangan satunya.

“Aku ikut,” tambah Ouka antusias, mengayunkan kapak perang di bahunya. Lilly dan para pendukung saling mengangguk dan mulai bersiap-siap berangkat.

Tujuan ekspedisi Dungeon kami tak terduganya telah berubah. Di hadapan situasi abnormal yang tidak seorang pun prediksi, aliansi party kami bersiap menaklukkan spesies yang diperkuat.

 

Ξ

 

Hal pertama yang dia lakukan kala tahu semua orang membawa banyak batu sihir adalah mengawasi mereka untuk mempelajarinya.

Awalnya, dia menyadari orang-orang di bagian belakang kelompok yang suka menyanyikan lagu-lagu itu terlalu menyusahkan. Lagu-lagu itu adalah hal mengerikan yang membakar tubuhnya dan seringkali hampir membunuhnya. Karena itulah, penting membunuh yang berada di belakang terlebih dahulu.

Orang-orang di depan kelompok itu teramat kuat dan membunuh banyak saudara-saudaranya selagi menonton sambil menahan napas. Cukup banyak anggota penghuni permukaan yang luar biasa. Tetap saja, sekiranya mereka sendirian, dia bisa mengalahkan mereka. Karenanya, dia fokus mengurangi jumlah kelompok atau mencegah mereka membentuk regu.

Dia pun belajar bahwa yang kuat melindungi yang membawa batu sihir. Dia merancang segala macam senjata untuk mengecoh manusia dan mengambil kristal mereka. Benih adalah salah satu senjata itu.

Meletakkan dasar-dasarnya dan menunggu waktu yang tepat untuk menyerang.

Umumnya yang menyanyikan lagu adalah wanita bertelinga panjang. Jika dia mengalahkan mereka sampai mati terlebih dahulu, orang lain bakalan terlampau kesal. Ketika itulah, dia akan menghantam mereka, membelah kepalanya dan melempar-lempar isinya. Menginjak-injak makhluk-makhluk yang memberikannya banyak penderitaan membuatnya begitu gembira dan girang sadis.

Para wanita menjerit dan menangis. Entah kenapa, saat dia mendengar tangisannya, dia merasa lebih baik. Seakan-akan tangisan-tangisan itu memenuhi sesuatu di dalamnya, berkali-kali meraih tangan dan kaki mereka yang kurus bak ranting dan diayunkan ke sekeliling lalu dipukul-pukul ke tanah. Menggigit dan memukul mereka berkali-kali. “Kumohon!” “Hentikan!” mereka akan menangis. Dia tidak memahami kata-kata mereka, tapi nada nyanyiannya membuatnya senang. Daging betina yang mulutnya berbusa darah terasa lebih enak ketimbang daging orang lain.

Ah, aku mau membunuh.

Ingin kugigit mereka sampai mati berkali-kali.

Berkali-kali dan berkali-kali kali.

Biarpun aku jatuh ke jurang kematian dan terlahir kembali ….

Tapi dia mulai dari yang lemah, berhati-hati untuk tak menyerahkan diri speenuhnya kepada insting. Mendahulukan kecerdasan yang menyelamatkannya, dan pilihan itu bermanfaat baginya.

Dia tidak pernah melepaskan manusia yang ingin kabur. Misalkan mereka kabur, dia yakin mereka akan berubah, sepertinya. Dia tahu itu secara intuitif. Dan dia benar. Alasannya turun dari tempat kelahirannya ke tepi air adalah sebagian untuk menemukan batu sihir dan sebagiannya memastikan agar para petualang tidak kabur. Gemuruh air menenggelamkan jeritan mereka. Air adalah sekutunya. Dia belajar memanfaatkannya. Apabila dia melemparkan mayat-mayat yang digigit ke dalam arus, tidak akan ada yang tahu perbuatannya.

Dalam situasi di mana dia bertekad tidak bisa membunuh semua manusia, dia menanam benih ke dalamnya dan mundur. Inti kedua itu tumbuh menjadi jelatang yang melemahkan target dan memberitahunya lokasi mereka. Sangat mudah melahap manusia lemah. Benih adalah ciptaan paling berharganya.

Dia masih harus belajar banyak, masih sering merasa takut. Merasa paling takut sesaat dia melihat gadis berambut emas dan mata emas juga party-nya. Meskipun mereka jauh, mereka menakutinya. Mereka mustahil dikalahkan. Dia tahu tidak boleh menghadapinya secara langsung. Sebelum mereka sempat mendekat, dia kabur menuju kedalaman labirin. Ada juga manusia-manusia lain sepertinya. Makhluk yang setahunya mesti tidak boleh dalam keadaan apa pun hadapi dalam pertempuran. Sekurang-kurangnya, belum, tidak saat dia lebih lemah dari mereka. Itulah hal lain yang dia pelajari.

Dia pun menyadari di antara saudara-saudaranya ada himpunan bagian aneh. Merekalah sesat-sesat yang mengkhianati saudara-saudara lainnya. Seringkali, kebencian kuat dan kemarahan yang serasa membakar tubuh telah menguasainya, hampir-hampir berserah diri pada impulsnya. Namun kebijaksanaan yang berbisik di telinganya menang terus. Dia tahu tidak bisa mengalahkan mereka, karena membentuk grup. Dia harus mendapatkan kekuatan untuk mengalahkan mereka sendirian. Dia mencari kekuatan lebih besar sehingga suatu hari mampu menghabisi mereka sendirian. Menusuk taringnya ke saudara-saudara sesat itu—terutama siren yang kelihatan sangat lembut. Sebagai permulaan, dia akan membidik betina-betina yang tinggal di sini.

Dia telah belajar berburu di waktu yang tepat.

Suatu waktu, dia bangga menjadi pemburu.

Gadanya menggores tanah ketika berjalan menyusuri jalan kristal.

Diterangi samar-samar cahaya kristal putih, membelai tubuhnya dengan jari-jari gemuk tanpa tulang. Luka dari pisau di tubuhnya sudah sembuh.

Memikirkan perburuan yang terjadi sebelumnya. Biarpun kesempatan telah muncul dengan sendirinya seketika dia tengah mengejar mangsa yang melarikan diri sambil membawa batu sihir, dia tidak bisa menghabisi mereka.

Khususnya, ada manusia berambut putih yang melukainya.

Dia akan sulit diurus.

Perempuan coklat di belakang pun mencemaskannya. Sepatutnya tidak meremehkan orang-orang yang menahan peluru benih. Tahu betul sekelompok penghuni permukaan berbakat berarti masalah serius.

Dia memutuskan akan menjebak mereka.

Dia berhenti dan menggunakan gadanya untuk menghancurkan ruangan kristal yang dia cari-cari, kemudian nyelip ke celah yang dibuatnya. Di baliknya ada sebuah gua kecil.

Beberapa potong makanan sisa yang dia tangkap dan sembunyikan di gua, berguling-guling di kakinya. Dia akan menggunakannya.

“A-aaahhh ….!”

“Hentikan ….!”

Orang-orang bertelinga panjang merinding. Air mata menggenang.

Dia tahu banyak manusia tidak mampu meninggalkan saudara-saudara mereka. Tidak peduli seberapa parah terlukanya seseorang, bila dia melukai salah satu saudaranya sedikit dan membuat mereka menangis, manusia lainnya akan murka dan dengan gagah berani menghadapinya. Tetapi pada akhirnya, manusia tersebut akan diserang.

Mungkin mesti menyiksa wanita-wanitanya sampai mati. Gagasan itu terpikir olehnya, tetapi memutuskan untuk tak melakukannya. Dia belajar, tolol kalau sangat mengantisipasi sesuatu selagi mangsanya masih di sini. Dia tak boleh lengah hingga manusia terakhir berhenti bernapas.

Perlahan-lahan, mengangkat gada yang digenggam tangan kanannya.

“Hentikannnnnnn ….”

“Tolong, jangan ….”

Tergerak oleh permohonan itu, makna yang tak dia mengerti. Tanpa henti, menurunkan lengannya.

“Aaaaaahhhhh!”

Sedetik berikutnya, jeritan jelek tak tertahankan memenuhi udara.

 

Κ

 

Kami berangkat, menuju tempat pertama Luvis terpisah dari party-nya.

Bersandar di Pundak Daphne, pemanah elf bertangan satu dan mata mengabur menatap peta yang dibentang Lilly. Berjuang melawan kelelahannya, dia menunjuk arah yang harus kami tuju. Cassandra membawa Chigusa di punggungnya.

“Aku … minta maaf ….” Bisik Chigusa.

“T-tidak, tak apa. Aku mungkin seorang penyembuh, tapi aku Level Dua. Aku tidak peduli sedikit pun ….!” ucap Cassandra, menggeleng kepalanya dengan tegas.

Kami memutuskan menghindari evakuasi yang terluka dari lantai ini dan membagi pasukan.  Berpisah di lantai dalam adalah strategi yang amat buruk. Alih-alih, kami bertujuan membunuh spesies yang diperkuat cepat-cepat, bersama kekuatan sebanyak mungkin. Itulah yang kami putuskan setelah mendengarkan saran dari Lilly, Daphne, dan Aisha.

“Memang mengkhawatirkan penampakan moss huge itu belum pernah dilaporkan,” tukas Aisha.

“Kemungkinan besar dia berusaha tak kelihatan …. Jika dia berpikir tidak bisa seratus persen membunuhnya, dia akan bersembunyi. Dia mampu melakukan hal seperti itu. Makhluknya licik,” jawab Luvis dengan nafas megap-megap.

“Waspadalah …. Monster itu berbeda,” dia lagi-lagi memperingatkan. Saat itu—

“…! Apa ini ….?”

Aku memimpin party, dan melihat sesuatu di persimpangan yang barusan kami capai.

Garis merah lebar melintasi lantai dari lorong sebelah kanan … sepertinya garis merah itu dari seretan sesuatu yang berat. “Pola merah ini, tidak mungkin ….”

“… darah?”

Ouka mengatakan apa yang tidak bisa dikatakan Mikoto.

Kami bergegas, mulut kami tertutup rapat. Mengikuti garis merah seakan-akan menuntun laju kami. Sesekali kemajuannya terhambat pertarungan.

Akhirnya, kami tiba di pintu masuk sebuah ruangan.

Di dalamnya, sungai terbelah dan berputar-putar bagaikan jarring laba-laba yang bersatu dengan pantai. Rangkaian kristal putih menusuk tanah layaknya bongkahan es besar. Barangkali karena kami dekat Air Terjun Besar, suara deburan airnya menggema lebih keras dalam labirin dari sebelum-sebelumnya.

Mata kami tertuju ke bagian tengah ruangan.

“Itu ….!”

Kami sedang melihat dasar salah satu kristal besar yang diabadikan di tengah-tengah ruangan. Dua petualang elf terbaring telungkup di tanah. Satunya laki-laki dan satunya perempuan. Parasit tanaman merambat tumbuh dari tubuh mereka, kakinya hancur seakan-akan senjata tumpul telah meratakannya.

“Oh tidak ….!” ucap Haruhime, tangannya menekan mulut. Reaksinya wajar saja; pemandangan kaki merah darah yang tak mirip bentuk aslinya benar-benar mengerikan. Aku yakin mereka tidak bisa berjalan atau bergerak dalam kondisi itu.

Dan di sebelah mereka, di atas alas kristal …. “….”

“Spesies yang diperkuat ….!”

Sesuai perkataan Welf, moss huge duduk diam manis di sana, dagu terselip. Sama sekali tidak memperhatikan orang-orang yang tergeletak di depannya. Nampaknya hanya menunggu sesuatu.

“Shario, Lana ….!”

“… jadi mereka teman-temanmu?” tanya Aisha.

“Ya. Tapi satunya hilang ….! Alec ….!” jawab Luvis. Wajahnya memucat karena lemah, namun kini memerah marah, alisnya menyatu putus asa. Matanya berkabut.

Mendengar kata-katanya, hatiku sendiri mengerang kesakitan. Sama seperti Wiene, kami tidak mampu menyelamatkan mereka …. Mungkin sombong berpikiran seperti itu. Tapi aku tidak sanggup menghentikan emosi tak terjelaskan yang mengamuk-amuk dalam sukmaku.

Mengepalkan tanganku. Selagi melakukannya, monster-monster mulai bermunculan dari berbagai tempat di jalinan aliran rumit dalam ruangan, persis seakan-akan bau darah di tanah telah menarik mereka ke sini.

Blue crab dan monster-monster lainnya mulai bergerak ke jalur pantai tempat spesies yang diperkuat serta para elf berada.

“Aaaaahhhh ….!”

Elf wanita yang di ambang kematian menjerit parau. Mata berlinangan air, menggeliat tak berdaya di tanah.

“Aduh …. Jangan-jangan mereka umpan!”

“Kau bilang dia memanfaatkan petualang tak berdaya sebagai umpan untuk menarik kami ke sini?!”

Tebakan Welf dan Ouka pasti benar. Tidak ada penjelasan lain.

Spesies yang diperkuat tersebut bermaksud menyandera pertualang untuk menarik kita ke ruangan ini.

Tidak bisa dipercaya. Tak kukira monster akan membuat jebakan seperti ini.

Monster itu berbeda.

Ucapan Luvis berkedip-kedip dalam pikiranku.

Aku bersembunyi dari bayang-bayang lajur kristal di pintu masuk ruangan selagi mengintip ke dalam. Seperti Welf dan kawan-kawan, wajahku ngeri.

“… hei, udang, kau yakin kalau konyolnya spesies yang diperkuat itu sebenarnya bukan Xenos? Belum pernah kudengar monster selicik ini,” bisik Aisha.

“A-aku tidak tahu! Para Xenos tak pernah menyebut hal ini, apalagi Fels ….!” tutur Lilly, jelas kesal. Wajah si Amazon emosian memberengut sampai hampir kelihatan sangat jelek.

“Dan setelah dia menjebak kita, apakah dia bermaksud untuk menembak kita dengan benih atau sesuatu selagi melawan monster-monster lain ….? Bayangan Abadi, bisa kasih perkiraan monsternya ada berapa?”

“Tidak, itu mustahil. Perhitungannya keterlaluan banyak dalam ruangan ini …! Yang masih bersembunyi di bawah air pun banyak ….!”

Mikoto merengut frustasi selagi memindai medan dengan Yatano Black Crow.

Spesies yang diperkuat itu mungkin memilih lokasi ini sebagai perangkapnya saat tahu bisa seratus persen menguntungkannya.

Dia masih belum bergerak, barangkali karena belum menyadari kami.

“Nona Aisha ….!”

Aku bersandar ke ruangan, tidak mampu menahan diri selagi si monster makin-makin mendekat ke petualang yang terbaring seiring berlalunya detik. Aisha mengangguk jijik, boleh jadi karena dia tidak tahan kenyataan segala sesuatunya berjalan sesuai rencana si monster.

“Aku tahu. Pendekatan paling sederhananya adalah menggunakan sihir dari posisi kita di sini, namun elf-elf itu pun akan terjebak di dalamnya.”

Membiarkan rekan-rekan Luvis mati bukan pilihan. Bahkan jika main langsung ke perangkap monster.

“Bell dan aku akan menghadapi spesies yang diperkuat itu. Bayangan Abadi, kau, Ouka, dan Welf mengurus monster lain. Begitu menyingkirkan makhluk besar dari para elf, bawa mereka keluar dari sini.”

“Dimengerti.” Mikoto mengangguk.

“Haruhime, kalian pindah ke tempat terbuka yang jauh dari tembok. Tidak di pintu masuk sini. Jika monster mendadak muncul, semuanya akan cepat memburuk.”

“Ya, bu,” jawab Haruhime.

Aisha, Mikoto, Ouka, Welf, dan aku mulai menyelamatkan para elf. Lilly, Haruhime, Cassandra, dan Chigusa terluka juga Luvis tetap berada di pinggiran, bersama Daphne menjaga mereka.

“—ayo!”

Kami tak punya banyak waktu. Untuk menyelamatkan kawan si elf, kami melompat ke dalam ruangan sekaligus secepat kilat, dari pintu masuk di sisi tenggara ruangan menuju area pusat. Lilly dan teman-teman yang tidak bisa melawan pergi ke ujung selatan ruangan, dan tempat teraman yang ditentukan Mikoto. Monster-monster itu berkumpul di sekitar spesies yang diperkuat. Tidak ada tanda-tanda musuh di tepi selatan.

Aisha menuntun kami selagi melompat sungai, melaju kencang. Para monster menyadari kami dan mencoba menyerang, tetapi pilihannya antara menjauhkan mereka atau menjatuhkannya, menolak bertarung. Kami buru-buru mendekati pusat.

Tapi … mengapa moss huge-nya masih tidak bergerak?

Alisku berkerut. Monster lainnya telah memperhatikan kemajuan pesat kami, jadi mustahil spesies yang diperkuat ini tak sadar pula. Meski demikian, dia duduk diam di atas alas.

Ada apa? Sedang menyiapkan serangan? Ataukah ada tujuan lain?

Tatkala Mikoto menemui monster tertentu, dia takkan pernah bisa lepas dari lingkup persepsinya. Kecuali Mikoto berkata sebaliknya, pasti monster yang kami lawan beberapa waktu lalu. Aku meliriknya. Dia menatap tajam sosok spesies yang diperkuat seolah-olah dia ini semacam teka-teki. Welf, Ouka, dan Aisha tidak mampu menyembunyikan ekspresi bingung mereka.

Kami semua merasakan sesuatu tak menyenangkan, tapi satu-satunya pilihan adalah terus mendekat.

“… tidak, j ….”

Sepotong kata mencapai kami dari seorang elf laki-laki yang terbaring di tanah, namun suaranya hampir ditenggelamkan suara air mengalir. Bibirnya kejang-kejang selagi berusaha habis-habisan memberi tahu kami sesuatu.

“… ia bukan monster …. Jangan datang ke sini ….!”

Seketika aku mengerti perkataannya, aku mendengar suara jatuh sesuatu yang lembut.

Sepotong lumut terkelupas dari mata si monster dan jatuh ke tanah.

“….”

Dari bawah lumut yang jatuh, muncul kulit manusia.

Kemudian mata manusia, lelah sekali sampai tidak bisa fokus.

Elf lain, seperti yang terbaring di lantai.

Rekan ketiga Luvis.

Jemari dingin mencengkeram hatiku. Aku mendengar napas Mikoto berhenti sejenak.

—aku pernah mendengarnya.

Biarpun Yatano Black Crow Mikoto memungkinkannya mengidentifikasi musuh, dia tidak kdapat membedakan antara individu. Seolah-olah selembar kertas hitam membentang dalam kepalanya dan titik-titik merah muncul di atasnya, namun titik-titik yang mewakili monster tak memvariasikan ukuran atau warna.

Keahliannya berfungsi dengan baik. Tapi hanya bereaksi terhadap kulit terluar. Monster itu menutupi seorang petualang dengan massa lumut tubuhnya sendiri. Kami ditipu tiruannya.

Belum pernah kudengar moss huge menggunakan lumutnya seperti ini. “….?!”

Sedetik sesudahnya, Mikoto menggeser wajahnya ke selatan seolah dipukul.

Menyadari sesuatu—satu musuh berenergi intens mendekati Lilly dan pendukung lain, jauh melampaui monster-monster yang berkumpul di tengah ruangan. Wajahnya memutih.

“Tolong larilah, Lady Lilly!”

Selagi aku mengikuti pandangannya, aku pun melihatnya. Wujud hijau berangsur-angsur muncul dari aliran di belakang tempat Lilly dan teman-teman lain terlihat terkejut oleh teriakan mendadak Mikoto.

Lengan kanan basah monster menggenggam gada kristal selagi ekspresi kosongnya menatap mereka.

“—!”

Lalu.

Bahkan sebelum aku mampu melihat kejadian di depan atau mendengar teriakan Mikoto membelah udara, aku membeku dan berhenti berlari ke depan. Aku berputar, kaki menggesek lantai kristal selagi diliputi rasa inersia mengerikan, lantas berpisah dari Aisha, Ouka, dan Welf.

Berakselerasi secepat-cepatnya sembari berlari ke sisi selatan ruangan.

“!!”

Monster itu mengangkat gadanya.

Kaki kiriku melompat menyeberangi sungai ke tanah berikutnya.

 Akhirnya, Daphne menyadari sosok yang merayap di atasnya tanpa suara sedikit pun.

Kaki kananku menghentak, menghancurkan sekelompok kristal yang tadi aku jadikan pijakan.

Gerakanku lambannya bukan main. Kali ini takkan berhasil tepat waktu. Itulah yang Daphne pikirkan, wajahnya membeku.

Aku bernapas, bibirku gemetaran.

Lilly dan yang lainnya juga membeku, selagi mereka melirik ke belakang dan melihat si monster hendak menjatuhkan hukuman mematikannya.

Kaki kiriku terangkat dan melangkah lagi.

Kring, kring.

Itu suara lirih lonceng, menyinarkan cahaya putih.

Aku menggunakannya selama dua detik.

Di bawah kakiku yang merendah tanah meledak. Aku menjadi rudal.

Wuuuuussshhh!

Kekuatan hentakanku di tanah menjadi bahan pembakar yang mengirimku ke langit-langit. Sekejap, kecepatan gila yang berani aku lepaskan ini menutup celah antara kelompok yang terancam dengan diriku. Menghunus Pisau Ilahi.

“Aaaaaaaaaaaaaarrghhhh!”

Melepaskan teriakan perang dari perutku dan menebas monster tersebut secepat kilat.

Kilatan pedang hitam memotong senjata kristal tumpul yang diayunkan ke bawah, mengincar Lilly dan teman-teman.

 

Ч

 

Tatapannya tak percaya.

Perangkap yang terdiri dari umpan dan replika dirinya tampak berhasil.

Sepertinya sukses menyelinap ke belakang si manusia wanita.

Namun kemudian bocah lelaki berambut putih itu mendekat dan kecepatannya konyol sekali lantas menghalangi jalannya.

Senjata kristal kesukaannya terbelah dua dan terbang ke langit-langit.

Dia jengkel. Rencana perburuan yang cermat nan hati-hati dia persiapkan telah dihancurkan, juga kesempatan untuk memakan batu sihir telah dicuri darinya.

Dia mendengarkan amarahnya dan memutuskan bahwa langkah pertamanya adalah membunuh anak laki-laki yang tergelincir ke tanah.

Lalu bocah itu mendongak, dan dia menatap matanya, instingnya mengatakan sesuatu.

Manusia ini berbahaya.

Tatapan rubi berkilau yang menyorotnya tidak dapat dihindari, dingin, diresapi keinginan tunggal untuk bertarung.

Sudah lama semenjak dia menatap langsung dan merinding karena sensasinya mirip-mirip teror.

Cahaya yang bersinar di mata merah itu adalah nyala kemarahan. Manusia tersebut murka sebab sesame manusianya terluka dan dalam keadaan bahaya.

“—aaaaaaaaaaaaaaahhhh!”

Bocah itu maju ke depan sambil menggenggam dua pisau.

Cepat. Cepat. Cepat.

Satu demi satu, bilah hitam-putih terbang ke arahnya, berusaha mencungkil tubuhnya.

Tapi—dia masih sedikit lebih kuat daripada si manusia. “?!”

Mengabaikan bilah yang menggali di dalam dirinya dan mengayunkan tinju ke bawah.

Seketika si bocah menghindar, berguling-guling di lantai. Lumut yang dicungkil terbang dari tubuhnya dengan cepat terisi kembali.

Tubuhnya bagus. Bisa meregenerasi diri sendiri. Semakin banyak batu sihir yang dia makan, kian banyak pula selnya bertambah.

Saat si manusia berdiri, wajahnya terheran-heran. Segera bocah itu meneyrang lagi dengan kecepatan dan kekuatan yang kurang lebih mirip kelinci alih-alih kuda liar. Setidaknya, demikian anggapan dia kepada Bell, dan dia telah memburu banyak manusia.

Musuh ini tidak tergesa-gesa, hanya cepat. Namun itu tidak merusak ketenangannya. Dia dapat menangani banyak sayatan tajam dan tak signifikan itu.

“Tuan Bell?!”

Si perempuan kecil menatap wajah bocah lelaki itu dan berteriak. Aroma batu sihir datang darinya. Setelah dia hancurkan bocah itu, selanjutnya dia bakal menghancurkan si perempuan.

“Yaaaaahhh!”

Bocah yang terpaksa mundur sebelum mengayunkan lengan, mengulurkan tangan kirinya.

Dia tahu semua trik yang digunakan manusia. Itu disebut sihir.

Bahkan tidak mampu menghitung berapa kali dia dan saudara-saudaranya hampir dilenyapkan ketika dia masih lemah. Itulah senjata manusia yang paling diwaspadai. Tetapi dia pun tahu untuk menggunakan sihir, mereka harus bernyanyi. Mereka butuh waktu. Dan entah sependek apa nyanyiannya, serangan dia akan lebih cepat.

Idiot. Cibirnya.

Namun sewaktu dia hendak menerjang bocah itu dan menghancurkannya—sesuatu tak terduga terjadi.

Firebolt!

Hanya sekilas.

Sekejap agar cahaya berapi itu dilepaskan.

Membeku di hadapan sihir yang belum pernah dialaminya, dia terkena serangan langsung.

Tenggorokannya menjerit.

 

Ѫ

 

“EEEEEEEEEEAAAAAAAAAAAAAA?!”

Teriakan monster itu mengoyak udara.

Sesudah Swift-Strike Magic-ku mengalahkan terjangan moss giant dan mengenai bagian tengah tubuhnya, lengannya mengayun-ayun kesakitan.

Dia berusaha menghancurkan aku yang belum sempat merapal ….!

Aku tahu banyak dari perilakunya. Itu kenyataan menakutkan. Monster yang bukan Xenos telah menemukan struktur sihir yang digunakan oleh para petualang dan berusaha menangkalnya.

Ini memang seekor Abnormal yang terlahir dari Dungeon, dan abnormalnya luar biasa tak normal pada waktu itu.

Kami benar-benar harus membunuhnya di sini dan sekarang juga.

Selagi membulatkan tekad, aku menyerbunya.

“Hiiyaaahh!”

“OOO ….?!”

Menggunakan pisau hitam di tangan kananku untuk mencukur sebagian bahu musuhku, kemudian pisau putih berkilau di tangan kiri mengiris tubuhnya yang membara pedih, mencoba melarikan diri dari badai api hebat dan pisau pemotong yang turun satu per satu.

Persis saat dia berdiri dan serampangan bergerak-gerak berputar-putar kuat dan cepat ke segala arah.

—oh tidak bisa!

Alisku terangkat dan menghentak tanah selagi monster itu mencoba menyelam ke sungai dan mundur lagi. Sambil bergerak maju, aku mencoba melancarkan serangan fatal.

“—”

Ketika itulah terjadi.

Si monster yang hingga detik ini bertingkah seperti itu dan meski tersiksa berusaha kabur, terdapat sinar pembunuh di mata kuningnya yang membuatku curiga. Tiba-tiba mata itu setajam elang.

Bahkan dalam pergolakan situasi sulit, musuhku telah mengetahui ketidaksabaran dalam hati lawannya.

Sewaktu tubuhku mengalir maju, cambuk-cambuk kayu melonjak naik di sekitar kakiku.

“Huh?!”

Akar pohon berliku di sekitar sepatu botku dan melilit erat lutut. Akar tumbuh dari betis moss huge—akarnya di titik butaku—dan masuk lagi ke tanah. Akar-akar itu adalah senjata tak langsung yang dihasilkan oleh rangka kayu yang meluas dan berkontraksi yang menutupi seluruh tubuh si monster.

Aku dibawa ikut—tidak, dikecoh.

Spesies yang diperkuat cerdas ini telah memainkan kartu tersembunyinya, dan aku akui dia telah mengalahkanku dalam pusaran taruhan ini.

“OOOOOOOOOO!”

Dia meraung penuh rasa sakit dan amarah, terus mengempas mundur, menyeretku ke air bersamanya.

“Tuan Bell?!”

Ketika teriakan Lilly menggema di seluruh ruangan, akar-akar pohon menembus tanah kristal dan menjadi gaib.

Aku tergantung di udara dengan kaki terikat dan tidak mungkin bisa melawan. Akar-akarnya sangat erat dan menyeretku kian dekat dan dekat ke air sampai menabrak aliran deras.

“Glug—?!”

Kewalahan oleh kejutan dan tetes-tetes air terbang, selanjutnya merasakan sensasi tertelan sepenuhnya oleh air.

Dunia berubah biru. Suara menjauh, seolah selaput telingaku meregang. Tenggelam dalam dunia berair dingin yang memutus seluruh komunikasi dengan daratan. Sensasi mengambang hanya terasa sepersekian detik, terus tubuhku tersapu kurang lebih lima meder di bawah permukaan air.

Kena aku. Ungkapan tunggal itu mengedip-ngedip di otak tenggelamku. Sesaat kemudian, sosok mengerikan yang mengaitku dengan seutas kayu mendekat sambil mengangkat tinjunya.

“GAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHH!”

Raungannya mengirim ratusan gelembung melayang ke arahku disertai getaran suara. Tinju besar si moss huge menghantam batang tenggorokanku.

“Uuuh!”

Udara dalam paru-paruku mengalir ke luar dalam bentuk gelembung besar. Tubuhku melesat melintasi anak sungai layaknya panah, seratus persen mengabaikan segala hal seperti tekanan air. Spesies yang diperkuat mengikutiku sama cepatnya.

Begitu punggungku menabrak dinding kristal bawah air, monster menunju tulang pipiku.

“—?!”

Arus membawaku selayaknya udara sewaktu aku terbang. Namun musuh tidak melepaskan. Akar yang mengikat kaki kami telah menjadi belenggu yang merenggut nyawaku. Si monster menghampiri sambil melotot, macam gelombang murka.

Memaksa memulihkan diri dari serangan terakhir dan akhirnya berpikir menggunakan pisau yang masih dipegang di kedua tangan untuk bertahan. Meskipun aku mencoba menghitung waktu pergerakan Pisau Ilahi dengan pendekatan musuh, aku kelewat lambat. Gerakanku lamban. Seketika pisau berenang di depanku secara horizontal, kepalan monster mengubur dalam-dalam ke perutku. Sekali lagi gelembung keluar dari mulut.

Indra perasa gerakan dan pengaturan waktu di darat jauh berbeda dari tempat ini.

Tangan dan kaki diikat air, kini aku dalam posisi bertahan sedangkan monsternya menyerang. Sekalipun pakaian biru yang aku miliki menyinarkan cahaya samar, tubuhku tidak bergerak sesuai keinginan. Lantas beginilah keadaannya, walaupun dibantu kain Undine. Dari sudut pandang monster, aku tak jauh berbeda dari anak tenggelam. Lingkungan ini membutuhkan pergerakan yang sangat berbeda dari darat, tetapi aku tidak mampu beradaptasi. Aku hanya membuang-buang waktu. Bentuk aliran air di sekitarku berubah, merasa diriku telah terhanyut keluar dari ruangan ke arus utama.

Dunia biru mengalir ini indah nan kejam.

Takut tidak mampu bernapas dan kepastian momen-momen aku tidak tenang, aku bakal ditarik ke kematian. Sesaat aku terlempar ke depan oleh serangan monster tersebut, aku menatap ke bawah ke arah lika-liku arus dan mendapati mayat seorang petualang. Lengannya memanggilku untuk bergabung bersamanya.

Tubuhku terbalik, kaki dan kepala berkali-kali bertukar tempat. Keseimbanganku hilang. Sudah tidak tahu mana jalan lurus dan mana permukaannya. Jadi begini tidak stabilnya manusia ketika kakinya tak lagi menyentuh tanah. Hanya ini sudah membuat kami tidak seimbang.

Dihadapkan ketidakunggulan besar di medan tempur, Status Level 4-ku tidak berguna sama sekali.

Teror penuh Dungeon tepi laut ini, esensi sebenarnya Ibu Kota air, akhirnya aku tersadar.

Ini—pertarungan bawah air!

“OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!”

“Yaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhh?!”

Biarpun moss huge bukan monster yang hidup di air, gerakannya sedikit lebih baik daripada aku. Memanfaatkan antena kayunya sebagai perasa. Wujudnya nampak dirancang untuk mengurangi resistansi air, dan kadang-kadang mendorong tubuhnya ke dinding atau mengelilingi kristal agar mendapatkan kecepatan atau mengubah arah.

Musuhku lebih lama berada di Ibu Kota Air daripada aku, karena itulah tahu cara menangani medan lebih baik.

Semua serangan balasanku tidak mengenai apa-apa. Tetap saja, entah bagaimana bisa menangkis serangan yang datang 360 derajat menggunakan sarung tangan serta baju zirah. Andai kata bukan karena kain Undine, aku sekarang mungkin sudah mati. Berkat naik level, kapasitas paru-paruku lebih besar dari orang-orang biasa dan masih punya sejumlah simpanan, namun aku tak yakin berapa lama lagi bisa bertahan. Mencoba lagi dan lagi untuk mencapai pantai, tetapi akar yang mengikat kakiku takkan membiarkan diriku sampai sana.

Darah merembes dari bagian mulutku yang dipukul dan letak akar tajam menyodok celah-celah zirahku. Seketika darah melintas pergi, mengaburkan air biru jernih dan mengubahnya menjadi merah suram. Seakan-akan ditarik aliran darah ini, sosok besar berputar-putar di kejauhan.

Itu seekor—aqua serpent?!

Monster kategori besar telah memasuki aliran dari anak sungai. Kemilau tajam matanya yang magnifisen nan menakutkan di dalam air.

“JAAAAAAAAAAAA!”

Yang satu ini adalah monster asli penghuni air, dan dia berenang ke arahku bahkan lebih cepat ketimbang si moss huge. Tidak ada waktu untuk membela diri karena taringnya menggigit bahuku.

“Ah!”

Merasakan sakit membakar karena lebih banyak darah berputar-putar ke dalam air. Aku mulai berpikir bahwa hidupku sudah dalam bahaya kala rahangnya mencari-cari tulangku—seketika itulah akar hukuman yang melilit kakiku mendadak menghilang.

Huh?

Moss huge menghilangkan akar dari tubuhnya. Menatapku sejenak, mencopot antenna kayunya, berbalik melawan arus, dan menghilang ke anak sungai lain.

Dia melepas kekangku? Persis saat dia punya kesempatan sempurna untuk membunuh mangsanya?

Apakah dia takut pada aqua serpent? Jawaban itu membuatku curiga, tetapi aku tak punya waktu buat berpikir. Menusukkan pisau di tangan kanan ke monster yang mengunci pundakku.

“—!”

Saat tubuh besarnya menggeliat kesakitan, mengguncang-guncangkan tubuhku, aku berusaha menarik lepas taringnya dari dagingku.

Waktu itu, aku terlambat menyadari gemuruh kuat bergetar di air.

Melihat ke balik bahu arah sumber getaran.

Di kejauhan, aku dapat melihat patahan di air.

Patahannya terlihat berada di tempat aliran sampai titik akhirnya dan jatuh ke bawah—

—tidak … mungkin.

Semua aliran di lantai ini mengarah ke Air Terjun Besar—

Eina mengajariku itu. Aku sendiri belum lama ini bilang demikian.

Tersapu arus, tubuhku menuju ke tengah lantai 25, langsung ke air terjun yang sangat besar.

Oh sial!

Di tengah jalan menghampiri air terjun, alirannya menjadi pusaran seseungguhnya. Airnya bergerak terlampau cepat. Semakin cepat.

Mulut air terjun menghisap segala sesuatu di sekitarnya dan menghancurkan semua hal sampai berkeping-keping di dasarnya.

Wajahku kehilangan darahnya saat memusatkan seluruh tenaga untuk melepaskan diri dari aqua serpent ini. Tanpa pikir panjang menusukkan pisau hitam ke leher, wajah, bola mata. Si monster muntah darah dan menjerit marah meronta-ronta tubuh panjangnya. Tiba-tiba aku terdorong ke atas permukaan air.

“Peh!”

Kepala menjulur keluar dari air. Namun udara yang selama ini kurindukan sangatlah hambar. Terbakar ketidaksabaran, menusuk Hakugen ke tengkorak serpent. Akhirnya, kekuatan melemah dari rahangnya dan melepaskanku.

Sudah terlambat.

Aku sudah berada di titik akhir. Air terjun itu menyedotku tanpa ragu-ragu ke jurang.

Mengulurkan tangan tetapi tidak menemukan apa-apa selain udara. Sekejap berikutnya, sensasi mengambang menakutkan menguasai tubuhku.

Sedetik lagi aku akan diseret ke tepian bersama air—

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH!!

Ledakan air mengalir deras. Tetes-tetes besar menerpa kulitku. Jeritanku hilang termakan deru air yang menyelam, aku tersapu ke bawah menuju air terjun terbesar Dungeon, Air Terjun Besar.

 

Catatan Kaki:

1 dan 2: Dalam Mitologi Nordik, Modi dan Magi adalah putra Thor. Nama mereka masing-masing diterjemahkan “Keberanian” dan “Kebesaran,” serta putrinya Thrud (“Kekuatan”), mereka bertiga mewujudkan sosok sang ayah.

Selain itu gua gak tau lagi informasi tentang mereka. Tapi kalau lu main God of War 4, itu mereka berdua muncul kok bareng-bareng, terus nantinya dibunuh Kratos.

 

3 Replies to “DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 12 BAB 4”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *