DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 12 BAB 3

Posted on

Dunia Baru~ Pulau Air~

Penerjemah: DarkSouls (Daffa Poseidon)

Jalan yang menghubungkan lantai 24 dengan lantai 25 adalah gua penuh kristal.

“Es …. Bukan, kristal ….”

Kami telah meninggalkan perkemahan dan sampai di bagian terdalam lantai 24. Setelah membunuh semua monster dalam ruangan itu, kami semua berkumpul di depan pohon berlubang tertutupi kristal, seakan-akan hanya satu bagian dinding ini yang membeku dari bagian-bagian lain.

Guanya serasa menelan kata-kata Lilly. Lubang guanya samar cahaya dan lerengnya menurun jauh, tempat angin dingin bertiup ke arah kami dari dalam sana. Entah di mana terdapat aliran udara di Pohon Raksasa Labirin, mengacak-acak rambutku dan menarik pikiranku ke tahap petualangan berikutnya.

Kami saling menatap dan didorong oleh anggukan Aisha yang lagi tersenyum, dia masuk ke dalam lubang.

Aku berdiri di ujung barisan. Memegang salah satu lentera berbatu sihir yang Haruhime berikan, aku menuruni lerengnya. Semua orang yang berada di barisan depan dan tengah semuanya punya lampu berbatu sihir, tapi Aisha yang berada di belakang, malah membawa sebotol Lumut Lampu. Aku bergerak hati-hati saat menyusuri gua, membayangkan, dinding licin, lantai, dan langit-langit mengingatkanku akan gua es.

Kami turun, semakin turun ke kedalaman terowongan panjang.

“Aku dengar air ….” bisik Mikoto.

Ketika akhirnya terlihat, aku mendapati cahaya kebiruan menembus lubang, juga suara air. Kian keras dan keras. Segera kami bisa tahu bahwa airnya jelas berada pada sesuatu.

Pada saat ini, aku tidak gugup atau cemas. Aku hanya mengikuti naluri petualangku selagi mencari sesuatu tak diketahui cahaya.

Kami mencapai ujung lereng dan keluar gua.

“….”

Aku tercengang. Penampakan luar biasa di depan mata memikatku.

Air terjun mantap bergemuruh, dikelilingi lembah dan tebing yang terbentuk dari ujung kristal.

Bersama semburan air berkabut, udara penuh harpy dan siren. Lagu-lagu mereka mendengung bernada tinggi sembari menggerakkan sayap dan memotong udara di gua luas.

Kami tiba di surga berair yang megah.

“Waw ….”

Di belakangku, Welf dan yang lainnya berdiri diam, menikmati pemandangan. Kami semua bingung oleh pertemuan alam tanpa batas Dungeon, namun yang terpentingnya, air terjun sangat besar persis di depan yang menarik perhatian kami.

“Pasti ini yang mereka bicarakan, Air ….” “Air Terjun Besar ….”

Lirihan Mikoto dan Lilly menghilang termakan deru air. Suara bak hiruk-pikuk awan hujan atau gemuruh bumi. Meski berdiri ratusan meder jauhnya dari sana, gendang telinga kami gemetaran.

Air Terjun Besar.

Sesuai namanya, tempat tersebut adalah riam raksasa yang terdapat dari lantai 25. Dilihat dari mata, lebar sekitar empat ratus meder dan banyak tempat-tempat tinggi. Mungkin karena refleksi cahaya, air jatuhnya kelihatan berwarna biru-zamrud. Sangat indah sampai-sampai sejenak membuat kami lupa sedang berada di Dungeon berbahaya.

Di waktu yang sama aku merasa tersentuk oleh pemandangan itu, akan tetapi, sekaligus merinding kagum—kagum ketakutan. Persis di bawah tebing kristal tempat kami berdiri adalah kolam rendam besar. Bahkan petualang kelas satu akan otomatis mati bila jatuh ke sana. Tapi yang benar-benar mempertanyakan mataku adalah air terjun yang pada kenyataannya terus mengalir melewati kolam.

Sebagaimana tangga, air terjunnya jatuh terus sampai ke bawah lantai 25.

“Air terjun maha besar ini melintasi lantai dan mencapai lantai 26 hingga 27. Oh, jangan khawatir, monster tidak memanjat air terjun. Yah, kebanyakan tidak,” jelas Aisha. Ouka dan Chigusa terkesiap.

Air terjun yang melampaui lantai. Di bagian Dungeon yang aku eksplorasi sejauh ini, betul-betul tak terpikirkan. Orang-orang bilang para petualang akan terus memikirkan akal sehat mereka sampai sinting. Mungkin ini contoh maksudnya.

Gua yang menganga di belakang air terjun pasti ukurannya seperempat lantai sembilan belas.

“Bagaimana caranya pergi ke lantai 26 ….? Jangan bilang kita akan memanjat tebing,” erang Welf.

“Tidak, ada jalan benarnya. Banyak lereng dan tangga juga. Kau bawa mereka ke gua sebelah sana.”

Aisha menunjuk tepian kolam rendam di bagian bawah lantai 25. Walaupun terlihat kecil dari sini, pasti ada sebuah gua dengan pintu masuk terbuka di sana.

Lantai 25 sampai 27 mempunyai struktur bertingkat. Kami harus naik atau turun dengan jarak yang sama berketinggian Air Terjun Besar, memanfaatkan lorong-lorong yang saling berhubungan di kedalaman kolam terjun. Bila kami melompati air terjun, kami barangkali bisa sampai lantai 27 sekali lompat, namun tak sulit berpikir kalau tubuh kami akan hancur berkeping-keping sesaat menabrak air.

Tak seperti Lilly, Daphne dan kawan-kawan yang menatap ke bawah, aku melihat ke atas.

Air Terjun Besar mengalir dari sekitar langit-langit lantai 25. Tepat di atas puncak air terjun, aku dapat melihat jejak-jejak Pohon Raksasa Labirin: Akar-akar pohon besar berdiameter lima meder menyembul keluar.

Air terjunnya pasti berasal dari sana.

Aku melihat kembali pemandangan indahnya.

Gemetar tatkala melihat Under Resort di lantai delapan belas juga, tapi … yang kurasakan sekarang sama halnya seperti bergerak. Sebanyak apa aku belajar dari seminar bersama Eina, tidak ada yang menghentikan perasaan muncul ini tatkala meletakkan mata di tempat-tempat ini secara langsung. Jantungku berdegup kencang, tegang, kegirangan, dan kaget karena bertemu sesuatu tak dikenal.

Bersama-sama, tiga gua besar dihubungkan di tiga lantai oleh satu air terjun yang disebut Ibu Kota Air Dungeon. Dari zaman kuno hingga hari ini, tempat inilah salah satu misteri terbesar bagian Dungeon yang para petualang sebut Dunia Baru.

“Baiklah, cukup melongonya. Ayo bergerak. Seandainya kita terus berdiri di sini, harpy-harpy di sana akan menyerang kita.”

Kata-kata Aisha menghilangkan kesurupan kami dan ditarik kembali ke kenyataan. Para petualang dan pendukung-pendukung mereka adalah tantara-tentara yang melompat tersentak mendengar potensi serangan, kami cepat-cepat melupakan kekaguman kami dan bergegas mengikuti instruksi Aisha.

“Ambil jalan ke kiri dan ikuti saja sepanjang dinding. Tentu saja, jalannya lurus doang, jadi kau takkan tersesat. Gua di sebelah sana akan mengembalikan kita ke labirin biasa.” ucap Aisha secara otoritatif, seakan mengetahui segalanya tentang tempat ini. Menyentakkan dagunya ke jembatan kristal yang dibangun tepat di sebelah kami.

Tebing tempat kami berdiri hampir tegak lurus terhadap persimpangan. Di sebelah kanan kami adalah jurang dan sebelah kiri adalah jalan yang mengikuti kurva bundar gua. Jelas tak ada pegangan atau hal membantu lain seperti itu, jadi apabila kami tergelincir, maka akan jatuh langsung ke kolam terjun.

Secara mental aku membuka peta Guild dan memeriksa posisi kami. Tebing tipis tempat kami berdiri terletak di ujung paling selatan lantai ini, di ujung lorong penghubung dari lantai 24. Gua dan Air Terjun Besar tepat di depan kami berdada di tengah lantai. Lorong menuju lantai 26 yang Aisha tunjukkan semenit lalu berada di sisi tenggara. Persis perkataannya, kami menuju arah barat melintasi dinding gua dan memasuki bagian dalam tebing dari gua. Dari sana kami akan pergi memutar dari barat hingga utara, melewati bagian belakang air terjun, kemudian ke timur melalui jalan pintas penghubung bawah tanah di dasar lantai ini. Dengan kata lain, kami bakal bergerak searah jarum jam dari selatan sampai tenggara.

Melangkahi sepanjang jalan setapak dengan diriku yang memimpin party.

Jejaknya selebar tiga meder. Di kiri adalah dinding dan di kanan adalah jurang pasti. Aku yakin dengan segala cara Cassandra berusaha tidak melihat ke kanan. Di daerah sekitaran Air Terjun Besar, harpy-harpy dan monster berjenis unggas lainnya berenang di udara, meringis dan melengking. Untungnya, mereka tampak belum menyadari kehadiran kami. Bertarung di jalan sempit ini bukanlah sesuatu yang ingin aku lakukan, sepertinya bijaksana untuk masuk ke labirin secepat mungkin. Seumpama kami diserang monster terbang, opsi kami satu-satunya adalah panah-panah dan sihir atau menunduk ke bawah perisai.

Semisal aku lihat lebih dekat, aku dapat melihat jalur kristal mirip jembatan menonjol di dekat Air Terjun Besar.

Mungkin kami bakal menggunakan jalan itu pula ….

“Hei, Bell, apa semua hal di lantai ini terbuat dari kristal?” tanya Wef di belakangku. Aku mengangguk.

“Seharusnya ada sejumlah tanaman juga … tapi Eina bilang, pada dasarnya, semua kristal,” kataku, menatap gua di sebelah kanan dan dinding tebal di sebelah kiri.

Jurang serta dinding batu, jalan yang kami lalu, juga segala sesuatu yang membentuk lantai ini adalah kristal biru tua. Warnanya jauh lebih kaya ketimbang kristal-kristal di lantai delapan belas, kristal ini punya kilat-kilat samar di dalamnya. Sepintas, kelihatan mirip batu biasa.

Kristal putih tembus cahaya dari berbagai ukuran memancarkan cahaya yang menerangi lantai. Kristal-kristal itu menonjol dari dinding dan jalur bagaikan rebung, tetapi masing-masingnya hanya memancarkan sedikit cahaya. Selain dari Air Terjun Besar yang berkilau biru-zamrud, segala sesuatu di lantai terbungkus embun biru suram.

“Haruhime, kau pernah ke sini dengan Nona Aisha sebelumnya, bukan ….?!”

“Ya, Nona Chigusa. Saat itu, aku dibawa pergi dengan kargo dan tak sempat banyak melihat-melihat, tetapi aku ingat diriku merasa terpukau.

Aku mendengar dua gadis berbicara di belakangku di formasi tengah. Melirik mereka. Chigusa mengagumi pemandangan, sedangkan Haruhime mengibaskan jubahnya ke depan-belakang selagi berjalan. Pasti mengibas-ngibaskan ekor rubahnya.

Gadis-gadis tersebut kelihatan terpesona juga oleh fantasi biru ini. Itulah kata-kata yang diberikan lantai ini ke benakku.

“Tapi menurutmu ke mana jatuhnya air terjun ini? Aku cuma bisa membayangkan sejumlah besar air akan meluap cepat, tidak peduli berapa lantai yang dilewatkannya ….”

“Air di sini mengalir dari dasar genangan sampai permukaan. Kau pernah mendengar kota pelabuhan Melen di luar Orario, kan? Airnya terhubung ke Danau Lolog, yang terletak di sana. Tentu saja, semuanya sekarang sudah ditutup, seperti Babel … jadi aku bertaruh Dungeon menyedot air dalam jumlah mengejutkan,” tukas Aisha ketika menjawab pertanyaan Mikoto.

Selama Zaman Kuno, monster air dikatakan pernah menyerbu rute itu tatkala menaklukkan lautan di permukaan. Itu hal lain yang Eina katakana kepadaku selama seminar kami.

Selagi kami berbicara, dinding barat terowongan mulai terlihat, menandai ujung jalan serangkaian panjang tebing. Kami berhasil sampai bagian dalam labirin tanpa harus bertempur di tepian tebing.

“Mari luangkan waktu sebentar untuk membahas rencananya,” tutur Lilly.

Di dalam gua, terowongan berpisah langsung setelah pintu masuk, sebagaimana Labirin Gua di lantai menengah. Seperti struktur batu abu-abu lantai itu diubah menjadi kristal biru tua di sini. Kami berhenti di depan terowongan untuk beristrirahat sejenak dan mendiskusikan rencana. Lilly memimpin pertemuan informal ini.

Demi membuktikan kepada Guild bahwa misinya sudah diselesaikan, kami perlu membawa jumlah dan jenis-jenis drop item berikut: sepuluh cangkang baja dari blue crab dan tiga sirip serpent atau tiga puluh raider fish. Untuk barang langka monsternya, satu kristal secret carbuncle sudah cukup. Sumber dayanya, kita mesti mengumpulkan seribu batu biru untuk memenuhi persyaratannya.”

Lilly mengatur tas punggungnya yang kelihatan berat dan membaca memo dari sakunya.

Masuk akal dibutuhkan begitu banyak barang yang terkait dengan air, karena ini adalah bagian berair pertama di Dungeon.

“Tolong fokus mencari monster dan sumber daya yang barusan kubacakan. Adapun jangkauan eksplorasi kita, tujuan untuk mencapai lantai lebih rendah telah tercapai, jadi aku kira tidak perlu turun sampai lantai 26.”

“Dengan kata lain, kau menyarankan kita untuk menghabiskan waktu menjelajahi lantai 25 secara menyeluruh?” tanya Mikoto. Lilly mengangguk padanya.

“Ya. Ini kali pertama kita di daerah sini. Masih ada enam hari tersisa dalam ekspedisi, jadi Lilly pikir lebih baik menggunakan kemah kemarin di lantai 24 sebagai basis bolak-balik ke lantai 25.”

Welf dan teman-teman tampaknya setuju dengan penjelasannya, dan aku pun tidak keberatan. Berulang kali memasuki lantai 25 dari perkemahan kami di lantai 24 kemungkinan cara yang baik untuk beradaptasi sama lingkungan yang seratus persen baru di lantai dalam.

Sesuai perkataan Eina, para petualang tidak semestinya kelewat berpetualang. Boleh jadi kami harus mengikuti sarannya perihal ekspedisi ini, meskipun berarti melewati beberapa titik sulit yang tak dapat dihindari.

“Aku sudah membahasnya sebelum kita pergi, tapi kita bakalan bertemu banyak monster yang hidup di air dalam lantai ini. Permintaan ini kedengarannya tidak masuk akal, tapi tolong jangan mendekati tepi air.”

Kami mengakui rencana dan peringatannya mengenai lantai bawah, dan Lilly melihat kami masing-masing.

“Akhirnya, untuk jaga-jaga saja …. Apa semua orang punya kain Undine yang aku bagikan pagi ini?”

Dia melihat pakaian baru yang kami semua kenakan. Kaos dan celanaku, kimono Welf, pakaian tempur bergaya Timur Mikoto dan Ouka, pakaian kuil milik Haruhime … semuanya dibuat ulang berbahan biru muda tipis yang resminya disebut kain pelindung roh.

Pakaian tersebut tahain air, persis berkebalikan dari wol salamander yang kami kenakan ketika melewati lantai tiga belas. Pakaian itu terkait roh api; yang ini terkait roh air. Kami takkan bertahan di Ibu Kota Air tanpa perlengkapan ini.

Hal paling penting tentang kain Undine adalah sifat pelindungnya aktif sepenuhnya di dalam air. Mengurangi ketahanan air serta tekanannya dan meningkatkan pergerakan bawah air. Yang artinya, membantu kami berenang lebih cepat. Aku pernah dengar kain Undine mutlak harus dimiliki dalam misi yang berhubungan dengan air.

Sebab Hestia Familia adalah tuan rumah ekspedisi ini, kami spesial memesan semua pakaian tempur Undine dari toko khusus di Babel—bukan hanya untuk familia kami, tapi untuk Daphne, Ouka, dan yang lainnya pula. Tidak murah, tapi untungnya kami punya cukup tabungan untuk menutupi biayanya. Hanya Aisha yang membawa perlengkapan Undine-nya sendiri.

Selama kami memakainya, bahaya mengenai air akan menurun dampaknya.

“Tak bisakah kau melihat benda biru terang ini, Lilly kecil? Jelas karena kita mengenakannya,” imbuh Welf. Mungkin bisa jadi karena dia selalu memusuhi hal-hal yang berhubungan roh, ada sesuatu yang tak bertanggung jawab pada jawabannya.

“Bukannya aku bilang, untuk jaga-jaga?! Kita menghabiskan banyak uang untuk membeli kain pelindung ini buat semua orang. Aku tentu berharap kalian semua akan memanfaatkannya dan mendapatkan cukup uang dari ekspedisi untuk menutupi biayanya! Dan jika tidak ….!”

“N-Nona Lilly seram!” kata Cassandra, membatu oleh lidah tajam Lilly. Dia memakai gaun dari kain Undine.

Kebetulan, kami berencana membagikan tangkapan dari ekspedisi di antara familia-familia yang berpartisipasi berdasarkan jumlah orang yang disediakan setiap pihak.

“Nona Aisha, apa aku melupakan sesuatu?” Lilly bertanya, menyerahkan diskusinya kepada anggota party berpengalaman terbanyak di lantai ini.

“Biarkan kupikir dulu ….”

Amazon itu mengibaskan pakaian birunya dan melirik wajah para anggota Hestia Familia.

“Salah satu fitur utama lantai ini adalah besarnya jumlah bukan hanya monster air tetapi humanoid juga.”

Maksudnya pasti siren, harpy, mermaid, dan lamia. Eina mengaitkan hal yang sama di seminar kami.

“Kau mungkin merasa bingung awalnya, tetapi jangan ragu-ragu. Misalkan kau berdiri di sana bertanya-tanya apakah monsternya akan berbicara, dia akan membunuhmu.”

“….!”

Tak salah lagi kata-kata itu ditujukan khusus untuk Hestia Familia. Aisha tahu tentang Xenos, dan dia memberi peringatan kuat untuk tak goyah dalam keadaaan apa pun. Welf, Lilly, Mikoto, haruhime, dan aku mengangguk muram dan menutup mulut.

“Juga, berhati-hatilah untuk tidak memalingkan wajah meskipun paras musuhmu sangat jelek …. Oke, istrirahat berakhir. Mereka berdatangan,” kata Aisha, membungkus peringatannya dengan lelucon dan meraih podao yang dia tusukkan ke tanah.

 Terkejut oleh kata-kata terakhirnya, Welf dan kawan-kawan menoleh dan mendapati segerombolan monster kepiting bercangkang baja biru mendekat dari ujung gua.

“Jangan berlebihan hanya karena semata-mata ini pertarungan pertamamu di lantai dalam. Lakukan saja seperti yang selalu kau lakukan.”

Saran Aisha, berteriak dan kasualnya memposisikan diri di belakang, sinyal bagi kami untuk menyerang.

Barisan depan berjalan maju, menuju pertarungan pertama kami di lantai dalam.

Namun pertarungan melawan blue crab berakhir tanpa insiden.

Crab, yang masuk kategori monster logam memiliki cakar yang tumbuh tak teratur baik di sisi kanan ataupun kiri, tergantung individu monsternya. Walaupun serangan mereka bagai palu mengancam, bahkan petualang Level 2 seperti Welf bisa bekerja sama dan dengan gampang membunuhnya sambil mengikuti saran Aisha untuk tetap tenang. Capit baja mereka bahkan lebih kuat daripada deadly hornet, namun parutnya lebar, Mikoto dan Daphne yang tangkas menyingkirkan mereka dengan beberapa serangan cepat. Hal paling mengejutkan bagi semua orang mungkin adalah pemandangan nyata makhluk-makhluk yang maju mendekati kami secara langsung, alih-alih berjalan menyamping selayaknya kepiting biasa.

Secara pribadi, aku mengkonfirmasi bahwa Hakugen dapat merobek cangkang baja crab-nya, sehingga aku dapat bergerak maju dengan penuh percaya diri.        “Aku sudah dapat dua cangkang blue crab dan ini pun baru dimulai! Awal yang cukup bagus!”

Semua orang nyengir-nyengir kepada Lilly yang suasana hatinya bagus karena dengan cepat menemukan drop item. Kami mulai menyusuri gua kristal.

Posisi kami dalam formasi tak berubah sejak lantai menengah. Agar keamanan terjamin, aku yang memimpin karena status Level 4. Aisha, tentu saja, masih di ujung ekor. Ketika kami melanjutkan, orang-orang di pusat formasi menyebar melintasi jalan setapak, yang sekurang-kurangnya selebar lima meder. Lilly bertindak sebagai pemandu, membawa peta lantai dan menjaga kami di rute utama.

“… aku dengar-dengar sesuatu bercampur sama suara air terjun ….” bisik Haruhime, telinga rubahnya bergetar.

“Ya, aku bisa mendengar suara aliran air ….” jawab Daphne.

Suara Air Terjun Besar bergema anpa henti di labirin kristal bagaikan suara ombak jauh. Tetapi tatkala kedua gadis itu saling berbisik, sesuatu berubah di lorong terseut.

“Aliran ….”

Sesuai perkataan Chigusa, arus mengalir di sepanjang jalan yang kami lintasi. Sewaktu anak-anak sungai dari lorong-lorong lain mengalir ke sana, anak-anak sungai tumbuh menjadi yang akuratnya disebut sungai. Penampakan air fantastis lain, permukaannya berkilau biru tua karena memantulkan warna kristal.

“Aliran semacam ini mengalir melalui setiap bagian labirin. Namun pada dasarnya, bagian-bagian yang keringnya jadi rute utama, jadi kau tak usah repot-repot berenang,” jelas Aisha kepada kami ketika berhenti menatap air.

Kami mulai berjalan lagi. Jalannya lebih mirip tepi sungai daripada jalan, dan airnya mengalir di sisi kiri kami. Alirannya selebar tepian sungai dan kelihatan agak dalam. Alirannya sangatlah cepat. Bila kami lengah dan terpeleset, kami bakal berada dalam masalah.

“Uh, bagaimana kalau kami jatuh ke sungai ….?” tanya Cassandra, mata membelalak.

“Kembalilah ke darat secepat mungkin. Kau takkan mati begitu jatuh, tapi akan dibunuh.”

“Hah?”

“Monster-monsternya akan menyiksamu sampai mati. Air adalah dunia mereka, jadi kau berada pada posisi yang paling tidak menguntungkan. Jujur, nih. Kalau kau tidak terbiasa sama pertempuran dalam air, kain Undine tak lebih dari selimut keamanan.”

Mata Cassandra melebar dan memutih seketika mendengar respon Aisha.

“Aku mungkin level 4, tapi celakalah aku andai berenang di sini,” Amazon petarung keras itu mengatakannya sambil mengangkat bahu. “Seumpama kau jatuh, tamat sudah. Ingatlah itu.”

Monster penghuni air menunjukkan kekuatan bawah laut luar biasa. Para petualang yang tinggal di darat kebalikannya—performa kami turun drastis dalam air. Kala party kami mendengarkan si Level 4, ucapan petualang Level 4, ketakutan akan air akhirnya mulai mengendap.

Aku dengar satu-satunya cara seorang petualang bisa sepadan bertarung melawan monster penghuni air di wilayahnya sendiri adalah dengan memperoleh pengembangan khusus yang sebagian besarnya meningkatkan kemampuan di bawah air. Bagi kami yang tak memiliki kemampuan seperti itu, kami tak punya kesempatan.

Jika aku terjatuh ke sungai, posisiku bakal sulit. Itulah yang perlu aku ingat.

“Nona Aisha, semua sungai ini mengarah ke Air Terjun Besar, kan?” tanyaku, mengarahkan tatapanku ke air yang melaju deras.

“Benar. Beberapa berubah arah arus dari waktu ke waktu, dan ada jebakan di mana geysernya mendadak melesat keluar dari lantai atau langit-langit.

Menurut ajaran Eina, semua sungai ini saling bertemu di titik asal Air Terjun Besar di tengah lantai. Dengan kata lain, andai kau jatuh, pada akhirnya akan terseret ke dalam riam air yang super besar dan jatuh lagi mencebur kolam air tejrun. Ditamabha lagi, sebagaimana kata Aisha, sebagian besar perangkap dalam zona ini mengaitkan air.

Di mana pun aku berbelok selalu ada aliran.

Mungkin alasan lain mengapa disebut lantai tepian air pertama di Dungeon.

“Oh, dan juga … pastikan senantiasa waspada selagi berjalan melewati tepian air seperti saat ini,” tambah Aisha santai.

“Hah?” Haruhime bertanya, kepalanya memiring. Saat itu, suara percikan kuat datang dari sungai.

“OOOOOOOO!”

“Aaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhh?!”

Seekor ikan besar berukuran 160 celch tiba-tiba memecahkan permukaan air dan membumbung ke udara.

Itu tiper monster jenis raider fish.

Haruhime menjerit kaget tatkala monsternya menyerang kami, tetesan air bertebaran dan taring-taring tajam berkilauan.

“Tuh, bila kau lengah, begini yang terjadi.” “GYAAA?!”

Sebelum si ikan bisa menyerang, podao dan katana mengirisnya menjadi potongan-potongan dan menyingkirkan taringnya. Aisha, senyum di wajah tenang dan kalemnya, juga Mikoto yang berkeringat dingin seketika melindungi Haruhime di belakangnya, sukses mencegat.

Lilly dan teman-teman di pusat formasi setakjub Haruhime. Di depannya, Welf, Ouka, dan aku berdiri membeku, memproses keributan mendadak di belakang.

“Monster-monster itu terus mengawasi kita dari bawah air. Ingatlah …. Tapi bagus reaksinya, Bayangan Abadi. Sepertinya bisa kuserahkan perlindungan rubah ga guna ini kepadamu.”

“T-tidak, itu sangat mendadak, reflekku yang bertindak …. Apalagi, karena Tuan Bell sekarang ada di depan, sudah tugasku untuk menjaga Nona Haruhime ….”

Lilly si otak party dan Haruhime si penyihir, keduanya adalah inti party kami sekaligus kelemahannya. Mikoto tampaknya mengerti hal itu dan mencegah ancaman kepada mereka berdua dijadikan misinya. Alhasil, sarafnya dua kali lebih tajam dari normalnya.

Dikuasai emosi pidato Mikoto, Haruhime memeluknya, air mata mengalir dari wajahnya. Entah kenapa, kami semua berepuk tangan terhadap romansa mini ini, atau lebih tepatnya persahabatan, antara si nona dan ninja.

“Uh, anu, sama-sama?” balas Mikoto yang malu, kepalanya menunduk.

Di sisi lain, mungkin karena dia iri oleh persahabatan mereka, Cassandra diam-diam mengulurkan tangannya kepada Daphne, tapi Daphne menampik acuh, dan respon Cassandra berteriak terkejut.

“Jadi ikan di sini akan melompat ke darat untuk menyerang kita ….” tukas Welf seketika kami mulai berjalan lagi. Dia terdengar lelah.

“Dasar menyusahkan.” Ouka pun berkomentar, seakan bersiap-siap menghadapi yang terburuk. Aku diam-diam setuju dengan mereka berdua.

Aku mendengar tak seperti blue crab yang amfibi, monster yang murni hidup di air muncul dengan cara menerobos lapisan atau dinding-dinding kristal di sungai-sungai. Kami dapat melihat keabnormalan di darat karena penglihatannya bagus, namun monster yang berkembang biak di bawah air juga sulit dilacak. Lebih sulit lagi untuk merasakan kehadiran dan haus darah mereka. Malahan, lusinan musuh bisa jadi bersembunyi dalam arus yang berjalan bersama kami pada sekarang ini.

Aku melirik air. Bayangan hitam samar menghilang ke bawah persis seolah-olah sebal kepadaku.

Saraf-sarafku bakalan kerja rodi sampai aku terbiasa dengan ini.

Hati-hati bergerak maju, melihat-lihat lingkungan kami yang basah maupun kering.

“Hei, apa itu ….?” Welf menyadari sesuatu.

Kami mengikuti matanya. Massa berbentuk cabang tumbuh dari pantai bertabur kristal di sisi jauh arus sungai. Warna karangnya cerah berkilau bagaikan permata. Pasti itu ….

“… karang bawah?  Sebuah barang yang cuma bisa kau dapatkan di lantai dalam ….” Tuturku, memikirkan ilustrasi dalam panduan bergambar Guild soal Dungeon.

“Itu yang kupikirkan! Aku pernah melihat beberapa aslinya sewaktu masih di Hephaestus Familia,” kata Welf girang. “Boleh mengambil beberapa? Dengar-dengar bisa jadi bahan bagus senjata.”

Barangkali karena dia seorang penempa, Wef terkadang meminta kami mengumpulkan bahan-bahan atau drop item tatkala kami berada tepat di tengah-tengah eksplorasi Dungeon. Aku mau setuju, sebab dia bekerja khusus untuk familia kami, namun ….

“Jangan tidak masuk akal Tuan Welf! Bukannya Nona Aisha baru bilang betapa menakutkannya air itu? Kita tidak boleh memasuki wilayah berbahaya itu!’ Lilly bersikeras.

“Karang bawah itu memiliki kilau indah. Semisal kita bawa kembali ke permukaan, harganya akan bagus. Lihatlah, bukannya kulit itu tersembunyi dalam karang di bawah Mutiara?” tukas Aisha.

Lilly menghela napas.

“Yah, kurasa kita tidak punya pilihan lain ….! Ayo ambil!” “Asalkan bisa buat uang, ya, Lilly kecil?!” ejek Welf.

Welf meremas tangannya erat-erat, kami semua tertawa hampa. Sudah diputuskan—kami akan memanen salah satu harta paling berharga Dungeon.

Namun pertama-tama, kami mesti pergi ke tepian jauh di sana, kudu menyeberangi sungai. Peringatan Aisha yang masih segar dalam ingatan kami, berenang bukan pilihan. Tetapi sejumlah batu kristal yang menjorok keluar dari air dan melompat dari satu batu ke batu lainnya, semestinya kita dapat melewatinya.

Tetap saja, tak salah lagi aku menangkap aroma-aroma jebakan samar ….

“Ngomong-ngomong, aku rasa party ini tidak ada pencuri, tapi apakah ada pengintai di antara kita? Jenis pekerjaan ini biasanya diberikan kepada mereka,” ujar Aisha.

Pekerjaan utama seorang pengintai adalah mengintai. Mereka pergi mendahului grup untuk memeriksa monster di jalan atau kadang-kadang sengaja menarik mereka ke suatu tempat. Karena sebagian pekerjaan mereka adalah memanfaatkan medan, tak jarang mereka juga ditugaskan mengumpulkan atau menggali sumber daya Dungeon.

Hestia Familia tidak pernah secara jelas menetapkan posisi pengintai, mata kami alamiahnya tertuju ke satu orang.

“… itu aku, bukan?” imbuh Mikoto, kuncir hitamnya bergoyang. Keahlian deteksi Yatano Black Crow dan kemampuan ninjanya teramat cocok untuk pengintaian dan penjelajahan rahasia Dungeon.

Tepian sungai yang jauh sempit dan tidak mampu menampung lebih dari dua orang. Bersama Mikoto yang telah dipilih secara de facto, aku memilih membantu dikarenakan kecepatan dan ketangkasanku.

“Nona Mikoto, apakah Yatano Black Crow bereaksi terhadap sesuatu?” “Tidak … paling-paling, blue crab dan raider fish yang kita temukan sebelumnya tak berada di sekitar. Tentu saja termasuk di air pula.”

“Kita harus apa misalkan tebing batu itu sebenarnya adalah crystal turtle ….?”

“Kekhawatiranmu bagus, Bell Cranell. Akan kucoba menembakkan panah kepadanya,” kata Ouka.

Untuk meringankan bebanku, aku membuang semuanya kecuali barang penting—pisauku—dan memakai tas punggung untuk memuat barang-barang yang kami kumpulkan. Haruhime memberikan Ouka busur dan anak panah, lalu dia menembak kristalnya untuk memastikan mereka bukan monster yang menyamar. Ternyata bukan, jadi Mikoto dan aku melompat dari pantai.

Menendang bagian atas batu kristal, kami terbang ke udara. Mikoto yang sudah di depanku, bergerak seperti ninja yang menyeberangi sungai, membuat Welf terkejut dan kawan-kawan yang menonton dari pantai yang menyiagakaan panah dan tali.

“Ini kali pertama kita duet sebagai satu tim, ya tidak, Tuan Bell?”

“Benar juga … saat kita berurusan sama Ishtar Familia, kita langsung pergi ke arah berbeda.”

Kami mulai mengumpulkan karang bawah seketika tiba di pantai kristal batu. Mikoto memotong bagian luarnya dengan belati, kemudian aku masukkan ke dalam ransel. Kebetulan, karang bawah adalah spesies yang berbeda dari karang permukaan. Dengar-dengar sekeras mineral.

“Tolong ambil mutiaranya juga!” Lilly berteriak dari pantai jauh. Kami mengikuti perintahnya dan menemukan cangkang berukuran sekepalan tangan yang tersembunyi dalam massa karang mirip cabang.

Mutiara bawah kadang kala disebut pelangi perhiasan karena menyinarkan himpunan warna mempesona. Kami memanennya, cangkang putih bersih dan lain-lain.

“Haruskah kita kembali? Keserakahan berlebihan itu tidak baik.”

Ransel kami dipenuhi kekayaan Dungeon, buru-buru menyelesaikan tugas dan melangkah keluar dari pantai berbatu, padahal sejumlah besar karang bawah masih tersisa.

Tapi sesuai dugaan kami, Dungeon tetaplah Dungeon. Takkan membiarkan beberapa petualang yang barusan mencuri harta karungnya lepas tanpa perlawanan. Permukaan air meledak gaduh.

“Whoa—itu besar!”

“Aqua serpent!”

Seketika Welf dan Lilly berteriak di pantai, Mikoto dan aku berhenti bernapas. Monsternya gede. Punya sisik hijau muda dan berkepala ular, jelas merupakan monster kategori besar. Kepala tangguh dan sirip menonjol mengingatkanku pada seekor naga. Menurut informasi yang dikumpulkan Guild, aqua serpent bisa tumbuh sampai sepuluh meder!

“OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!”

Monster tersebut muncul persis di depan kami di tengah-tengah sungai, seolah menghalangi jalan kami. Gerakannya mengirim gelombang air saat memelototi kami dan membuka rahangnya.

Kepalanya menurun—yang tadinya terangkat sangat tinggi sampai-sampai menyentuh langit-langit—menyerbu Mikoto di depanku.

“Nona Mikoto!”

“Mikoto?!”

Aliran waktu melambat tatkala Haruhime dan aku sama-sama berteriak. Namaun sebelum Ouka bisa melepaskan panahnya dari pantai, atau Aisha yang menyiapkan podao-nya, atau aku yang sanggup menembak Firebolt dari tangan kananku yang memanjang, Mikoto sendiri bertindak.

“Ugh”

Pendaratannya sempurna di batu kristal meski disembunyikan oleh ombak, kemudian melompat lagi, berputar maju melalui udara.

Mengincar rahang aqua serpent yang menurun, kakinya menghentak.

“—GAAA?!”

Serangan keras dari kaki kanan Mikoto menerbangkan kepala si serpent dan mematahkan dua taringnya.

Perlu beberapa detik sampai aku berhenti menganga dan menyadari barusan menyaksikan seni bela diri aksi ninja.

“J-jungkir balik ….” gumam Daphne, meringis.

Kata-katanya mengembalikan aliran waktu yang lamban ke kecepatan normal.

Begitu Mikoto terjatuh ke sungai, Aisha melemparkan seutas tali, dan aku bergegas maju ke tubuh monster panjang dan meliak-liuk itu. Serpent punya banyak titik lemah, dan saat kami berpapasan, aku membelah dua tubuhnya dengan Pisau Ilahi.

“Yah!”

“—?!”

Serpent itu tenggelam ke dalam air, kemaitannya menyulut ombak kuat. Langkah itu sepertinya disengaja, layaknya serangan terakhir padaku. Aku sudah hilang keseimbangan karena kelebihan momentum sesaat berlari ke depan, dan ombaknya hampir menyapuku ke sungai. Entah bagaimana berhasil memijak batu dan melompat lalu mendarat di pantai tempat Welf dan yang lainnya berdiri. Mikoto pun telah ditarik ke darat dengan tali.

“N-Nona Mikoto, kapan kau belajar melakukannya ….?” “S-sebetulnya, aku berlatih bersama Lord Takemikazuchi sebelum ekspedisi dan beliau mengajariku semacam seni bela diri baru …. Latihannya langsung berguna, kurasa ….”

“Itu mengagumkan, Mikoto!”

“Ya, kau mengguncang terus di seluruh perjalanan ini!”

Aku tersenyum padanya dari posisiku, basah kuyup. Mikoto menyeka wajahnya dan balas tersenyum, seolah bilang dia baru saja lolos dari maut. Aisha dan Chigusa memujinya tulus, seluruh party demam gembira.

Kegembiraannya tetap hidup bahkan sesudah kami bergerak dari rute utama yang banjir menuju ruangan kecil agak jauh. Semua orang mengintip penasaran isi tas ransel yang aku letakkan di tanah.

“Kebanyakan karang bawah, apalagi sebuah Mutiara bawah ….!” “Aku bertaruh harganya paling kurang tiga juta valis!” “Andai kau jago nego sama pedagang, mungkin bisa dapat tiga setengah.”

“T-tiga setengah ….?! Jadi inikah nilai lantai dalam ….!”

“Aku bisa langsung membayar kembali pinjaman atas senjatanya ….!”

“O-Ouka, kau tidak boleh mengambil semuanya sendiri!”

“Ini pencapaian luar biasa, Nona Mikoto, dan Tuan Bell!”

Cassandra, Daphne, Aisha, Haruhime, Ouka, Chigusa, dan Lilly bersorak sorai ketika melihat muatan kerang dan Mutiara berkilau dalam tas. Aku dan Mikoto cuma bisa menggaruk pipi tanpa sadar atas tanggapan seluruh tepuk tangan dan pujian ini.

“Rasanya mulai seperti ekspedisi sungguhan, kan?” tukas Welf, tangannya melingkar di bahuku.

“… ya!” ucapku, membalas senyumannya.

Ekspedisi menjanjikan imbalan tinggi dengan risiko tinggi pula. Aku mempelajari arti kata itu awalnya dari mengambil harta ini.

Selagi berdiri ertawa penuh semangat bersama teman-teman, sesuatu yang berbeda tumbuh kian kuat dalam dadaku … sesuatu yang membuatku merasakan hati anak polos dari masa-masa awal Orario. Dulu, aku sepenuhnya terselimuti kesenangan menjalankan misi. Peristiwa beberapa bulan lalu serasa bak sejarah kuno, tetapi aku kembali menemukan kesenangan lama dalam berpetualang.

Di sisi lain, diserang oleh aqua serpent secepat ini ….

Bahkan selagi tersenyum bersama orang-orang lain, lonceng peringatan berdering pelan dalam hatiku.

Tak salah bersenang-senang sepenuh hati selama waktu-watu bahagia. Tetapi tatkala tiba waktunya menghadapi hal lain, kami benar-benar harus fokus. Aku takkan pernah menjadi Finn, tapi paling tidak mesti mampu melampaui kecerobohan dan kesombonganku. Aku yang bertanggung jawab memimpin party kami. Diam-diam, kepalaku memfokus.

Mulai dari sekarang, aku bakal mengantisipasi kesenangan di lantai baru, juga tantangan menjelajahi medan berair, dan akal cepat yang dibutuhkannya.

Bekali-kali, kumeninjau balik dalam benak informasi yang kau pelajari mengenai lantai dalam, juga wajah orang-orang yang membantuku mempelajarinya.

 

Ə

 

Kuharap Bell baik-baik saja ….

Wajah bocah itu adalah gambaran konstan di pikiran Eina.

Dia berada di Markas Besar Guild di permukaan, tempat matahari tengah hari bersinar tenang.

Sudah waktunya istrirahat, dan setelah selesai makan siang, Eina sedang menatap perkamen yang tersebar di mejanya, tangan menyandarkan dagu. Di meja sebelah, rekan kerjanya, Misha Frot, sedangg mendesau di atas tumpukan dokumen yang memaksanya untuk beristrirahat.

Tidak kusangka dia sudah bisa mencapai lantai dalam …. Ah, coba saja aku lebih menjelaskan materi-materi petualang kelas dua untuknya!

Hari kedua sejak Bell dan party-nya pergi ekspedisi. Eina mengira mereka barangkali masih berjalan melewati Pohon Raksasa Labirin. Dia menatap gulungannya.

Lantai atas berbeda dari lantai menengah. Itulah yang dikatakan para petualang satu sama lain. Demikian juga, lantai menengah berbeda dari lantai dalam. Eina mencoba mengajarkan Bell sebisa mugnkin, tapi mungkin karena darah elf murni dalam dirinya, dia tak bisa menahan perasaan kalau dirinya mampu melakukan lebih.

Selagi membaca huruf-huruf di perkamen, beberapa kali menghembuskan napas.

“Eina, jika kau nganggur, mungkin bisa membantuku. Bisa tidak?”

“Tidak, mustahil. Kau harus mengerjakannya sendirian.” “Ugh! Ngomong-ngomong, kau melihat apa?” kata Misha, kepalanya menggantung dan melirik meja Eina. Gulungan yang Eina baca adalah daftar pencarian misi tak lengkap di lantai menengah dan dalam.

“Hmm … rasanya belakangan ini banyak petualang hilang. Khususnya di lantai dalam …. Itu arah party Bell pergi, dan membuatku sedikit risau.”

Semua misi yang tercantum dalam gulungannya adalah permintaan pencarian para petualang yang menghilang dalam Dungeon. Hestia mengajukan permintaan serupa kala Bell dan teman-temannya gagal kembali dari usaha pertamanya ke lantai menengah dan Eina mencemaskannya. Dia curiga ada beberapa penyebab utama di balik fakta para petualang yang tak kembali dari lantai dalam.

Misha berhenti menggerakkan pena bulunya untuk menanggapi kekhawatiran temannya dan menatap resah wajahnya.

“… hei-hei, bukannya itu situasi biasa?”

“Hah?” kata Eina, tidak yakin apa maksud Misha.

“Aku tidak suka bilang ini, tapi … tidak sehari pun berlalu tanpa laporan petualang menghilang di labirin.”

Dungeon mengklaim korban setiap harinya. Setiap karyawan Guild pun tahu itu. Bahkan lebih benar sehubungan lantai dalam yang sulit dibersihkan.

“Ditambah lagi, Eina, bukannya misi pencarian itu diajukan lama ….?”

Eina mendadak tersadar kalau Misha benar. Dia pasti pernah melihat misi ini sebelumnya … dan yang ini ….!

Tapi baru sekarang dia mengeluarkan semua permintaan pencarian, menyusunnya, dan menghela napas setiap kali melihatnya. Baru sekarang, kala Hestia Familia pergi berekspedisi.

Misha memikirkan apa tentangnya?

Saat pikiran itu memasuki kepalanya, wajah Eina memanas.

“Tidak, tapi sungguhan, aku beneran merasa laporan hilangnya akhir-akhir ini banyak! A-aku tak mengeluarkan dokumen-dokumen ini karena meresahkan Bell atau semacamnya …. A-aku bahkan tidak merisaukannya.”

Itu bohong. Bell adalah satu-satunya orang dalam kepalanya. Dia pasti terlalu protektif … lebih tepatnya, kelewat gelisah. Hingga baru-baru ini, dia belum pernah segelisah ini sewaktu Bell pergi ke Dungeon.

Pasti karena ekspedisi! Ya, itu salah ekspedisi! Ini karena terlampau berbeda dari eksplorasi biasa, yang tingkat keamanannya terjamin tinggi.

Itulah yang Eina katakan pada dirinya sendiri. Andaikan dia tak menipu dirinya dengan cara itu, dia takkan mampu menyelesaikan apa-apa. Namun kawan dekatnya, Misha, langsung tahu konflik psikologis dan dalih beruntunnya.

“Nah, Eina ….”

“Apa?”

“Tempo hari kau kelihatan aneh juga. Mungkinkah perasaan kepada adik laki-lakimu—?”

“Tidak mungkin!”

Eina memotong ucapan Misha dengan penolakan kerasnya.

Semua orang di kantor memandang mereka, bertanya-tanya apa masalahnya. Normalnya, Misha si nakal bakal mengolok-olok Eina, tapi orang lain akan langsung tahu kalau melihat pipi merahnya. Wajah Misha memasang ekspresi dewasa seorang kakak perempuan atau ibu.

“Eina, adikmu … Bell … itu lima tahun lebih muda dari kita. Oke, mungkin tak ada hubungannya sama usia, tetapi tetap saja, seorang penasihat dan petualangnya …. Kebanyakan, hal seperti itu berakhir tragis … aku tahu bisa saja seorang manusia dan manusia blasteran punya anak … tapi tetap saja ….”

“Berhenti menceramahiku!”

Eina tak bisa menahan teriakannya kepada Misha, yang mencoba berbicara lembut. Dia tak peduli tatapan aneh yang diterima dari resepsionis-resepsionis lain atau sorot mata karyawan Guild. Sangat tak tertahankan waktu temannya—yang biasanya malah yang perlu dijaga—kini malah tulus mencemaskannya. Akhirnya, kepala Eina turun menabrak meja dengan bunyi gedebuk, setidaknya menyembunyikan wajah merah padamnya.

“Eeeerghhhhhhhh!”

Dia hanya bsia mengerang sakit. Mengangkat alis halusnya seketika membiarkan suara ceramah Misha mengalir melewati telinganya.

Sudah kuputuskan … takkan kuubah.

Saat Bell kembali, dia bakal menyuruhnya mengajak makan malam untuk menebus ini. Pasti menjadi kencan atau campuran masalah pribadi dan publik. Dalam benaknya, dia mendapati Hestia muncul sebagai malaikat marah, namun Riveria, sang penguasa kehendak, memasang penghalang untuk melindungi Eina emosional yang lagi berjongkok rendah.

Mata zamrud Eina sedikit lembab seraya menatap perkamen yang tersebar di mejanya. Jarinya menggeser ringan dan melintasi berkas-berkas misi pencarian mewakili keselamatan orang-orang tercintanya.

“Karena itulah kau harus kembali ….” lirih Eina.

 

Ένας

 

Dibandingkan gua yang menganga di Air Terjun Besar, letak labirin berada, tempat ini mirip-mirip gedung apartemen bertingkat tinggi.

Seperti kata Aisha, ada banyak tangga dan lereng. Setiap kali aku mulai merasa kalau kami sudah lama sekali turun, kami naik lagi. Aku betul-betul memahami konstruksinya yang berlapis-lapis. Aku rasa kami harus naik-turun seperti ini berulang-ulang untuk mencapai lantai pertama gedung apartemen—yakni, lorong menuju lantai 26, yang letaknya di sisi tenggara gua.

Perkara penjelajahan sendiri, beberapa kali kami hampir dirundung maut. Suatu waktu, geyser besar muncul dari tanah, menghentikan perjalanan kami, dan pas mencoba mengatasinya lewat rute lain, party monster muncul. Lalu Daphne benar-benar menolak menempuh jembatan kristal yang melewati Air Terjun Besar. Kali lainnya, salah satu tangan Welf terjebak di drug octopus sucker, dia hampir jatuh ke aliran deras. Namun terlepas dari keadaan yang terus berubah-ubah, kami berhasil sampai di rute utama lantai 25.

Saat ini, kami berada di labirin bagian utara lantai. Apabila mengikuti aliran ke selatan, kami akan tiba di Air Terjun Besar. Menurut Lilly yang membaca peta lantai 25 dengan banyak gambar lapisan, kami bahkan tidak berada di tengah jalan utama. Jalannya masih panjang. Sementara sedang beristrirahat ketiga pada hari itu, kami memutuskan pergi sedikit lebih jauh dan kemudian balik ke lantai 24. Kami mulai bergerak maju lagi.

“….?”

Saat berjalan melalui lorong samar yang diterangi kristal putih redup, aku melihat sesuatu. Karena aku berada di paling depan party, awal-awal aku memperhatikannya, tapi tak lama Welf melihatnya juga.

“Apakah itu … seorang petualang?” katanya.

Benar, sosok yang berjalan pelan dari depan nampaknya sosok manusia. Telinga panjang dan tipis menonjol dari kedua sisi wajahnya yang menuurn … kelihatannya seorang elf.

Aku hanya bisa menebak rasnya dengan menyipitkan mata di lorong samar.

“Sudah lama tidak bertemu salah satu dari kita. Bahkan di lantai menengah, kami tidak melihat banyak petualang.”

“Orang itu pastinya kuat. Tidak ada familia lain yang dijadwalkan berekspedisi pada satu saat yang sama dengan kita … Lilly pikir hanya petualang kelas dua atau di atasnya akan berani berkelana sejauh ini cuma untuk eksplorasi biasa.”

Selagi Ouka dan Lilly berbicara di belakangku, sosok petualang yang mendekat semakin berbeda. Mengenakan baju zirah kulit kualitas tinggi, tempat anak panah di pinggangnya. Aku melihat lambang familia.

Perlengkapannya familiar. Aku kenal orang ini.

Aku cukup yakin dia … Luvis?

Aku bertemu dengannya hampir dua bulan lalu, ketika menjadi pengawal Eina. Dialah petualang elf kelas atas yang bersama Dormul si kurcaci, mengejar Eina malam demi malam, didesak oleh dewa pelindungnya. Aku belum bisa melihat wajahnya dengan benar karena bayang-bayang, tetapi aku yakin itu dia.

… dia sedang apa sendirian di lantai ini?

Aku dengar dia adalah Level 3, tetapi perilakunuya sangat berbahaya. Kendati dia kelas dua, sulit mengatakan bila dia melakukan semua tindakan pengamanan penting kecuali datang ke bawah sini bersama party.

Ditambah lagi mengapa dia membawa tempat anak panah tapi tidak ada busurnya? Apa mataku menipuku, atau memang baju besinya dipenuhi goresan dan robekan? Aku langsung merinding.

Sesaat setelahnya, kebingungan berubah menjadi kegelisahan.

“… semuanya, pasang posisi bertahan! Ada yang salah.”

“Hah?”

Di saat yang sama, aku memasang kuda-kuda dan Aisha memperingatkan yang lain untuk ikut melakukannya.

Luvis goyah seolah dia bisa jatuh kapan saja.

Sebenarnya, dia kelihatan mirip zombie.

Reaksi party antara bingung dan tegang terhadap sosok mengancam tidak jelas yang muncul di lorong remang-remang. Lilly menahan napasnya.

Akhirnya, Luvis sampai di bawah salah satu kristal putih di langit-langit.

Pelan-pelan, mengangkat wajahnya.

“Ah … oh ….?!”

Cahaya mengekspos sosok yang sepenuhnya berlumuran darah.

“….!”

“Apa—?!”

Setiap anggota party kami terkejut padanya. Namun darah bukan kejutan terbesarnya. Yang membuat Lilly dan kawan-kawan terbungkam adalah tangan kanan buntung Luvis.

Lengan atasnya masih ada, tersembunyi di balik bayangan tubuhnya, tetapi segala sesuatu dari siku sampai ke bawahnya hilang. Luvis mengulurkan lengan kirinya yang masih utuh ke kami.

“To … long ….!”

Dia terjatuh ke tanah seraya mengucapkan sepenggal kata. Seakan yang menggantikannya adalah monster besar dari kegelapan.

Hijau. Itulah satu-satunya kata yang bisa kutemukan.

Tubuh manusia setinggi dua meder, setiap titik tubuhnya tertutupi lumut. Di atas lumut, akar pohon membentuk semacam lapisan pelindung. Monster itu nampak bak raksasa terbalut baju besi pelat penuh. Kepalanya yang mengingatkan manusia botak kemungkinan bermain peran dalam kesan dirinya. Dilihat dari potongan kayu pendek bagaikan tanduk yang menonjol di kepalanya, mungkin lebih mirip ogre. Dua bola mata besar tanpa emosi berkilau kuning.

Tangan kiri kekarnya menggenggam senjata alam—gada kristal yang memancarkan cahaya biru tua.

Tangan kanannya mencengkeram tangan manusia. Tangan kanan Luvis, terkoyak dari tubuhnya. “Ahh ….!”

Haruhime berteriak singkat pada suara tak mengenakkan dari lengan yang dilumat oleh tangan si monster.

Darah menetes ke jalan kristal. Kekejaman lengan yang terkoyak. Kami semua berdiri membeku diam seribu bahasa di hadapan kejadian mengejutkan ini. Rasanya rambutku berdiri.

Monster mengerikan diam-diam mengulurkan tangannya yang basah darah ke Luvis, dia masih berbaring di tanah.

“Hentikan!”

Aku menerjang sekuat mungkin ke makhluk tak dikenal ini.

Sekejap, aku sudah berada di sampingnya, di ambang mengirisnya—mata kuning monster itu berputar marah menghadapku.

“….”

Gada kristal di tangan kirinya mengayun ke sampingku dengan kekuatan luar biasa.

—ia kuat!

“!!”

Terpaksa bergerak maju untuk menghindari kilatan cahaya yang mengukir jalur tebasan di atas kepalaku. Gadanya lewat di atas kepala, yang hampir menyentuh tanah dan menghantam dinding Dungeon tepat di sebelahku.

Terdengar gemuruh menggelegar, dan tanahnya bergetar. Dinding kristal berteriak saat celah-celah terbentuk dari langit-langit hingga lantai, dan seluruh lorong goyah.

“Sial!”

Welf dan teman-teman lain berteriak takjub di belakangku. Aku pun kaget oleh kecepatan dan kekuatan serangan tak terduga, namun aku langsung bergerak dari kuda-kuda yang dua kali lipat merendah ke menyerang.

Dari sudut mata, sekilas aku melihat beberapa helai rambut putih mengambang di udara, serpihan-serpihan dinding kristal berhamburan bagaikan hujan, mata monster itu nyaris saja tertutup. Kali ini aku menusukkan Hakugen—tangan kiri menggenggamnya—ditebas ke atas dari posisi rendah.

Kilatan cahaya putih kuat mencari-cari sekat rongga badan monster—tetapi meleset ketika si besar itu mendadak mundur.

“….!”

—dia bereaksi lagi!

Ini bukan kebetulan. Dia membaca seranganku.

Serangan super cepat petualang Level 4 yang tidak menahan diri!

Monster ini tidak mungkin—

Ujung pisauku menyerempet tubuhnya, mengirim serpihan lumut terbang ke arahku bagai darah musuh. Mataku dan mata kuning si monster saling bertatapan.

Di mata itu, aku tak mendeteksi naluri biadab binatang buas mengamuk-amuk, tetapi kehendak bertarung, penuh dengan semacam nafsu berlumpur itu. Demikian, dan kecerdasan yang mengamati setiap gerakanku.

Dalam pertempuran singkat kami, aku pun merasakan potensi besar monster tersebut.

Tak daapt dibandingkan monster lain yang kulawan di Ibu Kota Air hari ini.

Dengan kata lain ….

… spesies yang diperkuat!

Kepalaku berteriak diam-diam karena mengenal tingkat keterampilan dan kemampuan pengambilan keputusan yang jauh melampaui perkiraan semua orang di lantai ini.

“OOO ….!”

Seakan-akan menegaskan dugaanku, monster itu menjulurkan lidah merahnya dan menjilat bibir.

Menggunakan momentum dari tusukan pisau yang menebas udara, aku melancarkan tendangan berputar searah pinggang. Kali ini kaki kananku, menusuk layaknya tombak, mengontak tubuh musuh dan berhasil menghempasnya jauh dari tempat Luvis berbaring di tanah.

“Jangan kejauhan mendesaknya, bocah!”

“Kami datang!”

Seketika raksasa berlumut terpaksa mundur sekitar lima meder, Aisha berteriak tajam, aku mendengar langkah kaki Welf dan Mikoto yang mendekat.

Suara gemerisik terdengar dari tubuh si monster, sekejap luka dari Hakugen menghilang oleh lumut yang baru saja tumbuh. Si raksasa melihat para anggota party yang berlari menghampiri.

Kemudian, aku cukup yakin, matanya menyipit.

Waktu berikutnya, merentangkan tangan besar ke depanku yang berdiri defensif menjaga Luvis.

Dia pengen ngapain? Tingkat keteganganku melonjak tinggi. Aku mendengar suara retak-retak ngeri dari benjolan kecil di lapisan tubuh besarnya.

Benjolannya di tangan, bahu, leher, dada, kaki … di mana-mana. Aku bersumpah dia mau menembak sesuatu. Diriku merinding.

“… menjauh ….”

Di bawah kakiku, Luvis berusaha mengatakan sesuatu. Petualang terluka itu mengerahkan energi terakhirnya tuk memperingatkanku.

“Menjauhlah! Jangan coba-coba menahannya!”

Seketika Luvis mengucapkan kata-kata itu, lusinan peluru runcing—biji—menembak dari tubuh sang monster.

“Hah?!”

Senjata yang sulit dipercaya.

Bukan api, bukan salju pula, tetapi rentetan benih menghujaniku. Tidak datang langsung dari depan, malahan—datang dari atas, bawah, kiri, dan kanan. Memantul dari dinding lorong dan menyerangku dari segala sudut.

—benihnya memantul!

Aku bahkan tidak mampu melacak semuanya karena ada banyak sekali, terbang melintasi bidang penglihatanku dengan sudut acak. Terburuknya, ditembakkan dari jarak yang dekat nian. Tiada pilihan lain selain mengikuti saran Luvis.

Mengabaikan kuda-kuda bertahan, sosok hanyut ke udara, dan melompat ke samping. Selagi melompat, aku meraih tubuh Luvis dan terbang bersamanya ke dalam bayangan massa kristal di sebelah kanan kami.

“Haruhime! Kenakan jubahmu!”

“Eeeeyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa?!”

Benih sekarang sampai ke anggota party lain. Aisha menjerit memberi peringatan tepat sebelum menyerang. Ouka dan Welf yang berada di barisan depan, berjongkok dan berhasil mengangkat perisai mereka untuk membelokkan beberapa benih. Namun tak mampu menghentikan semuanya. Mikoto dan Daphne pucat pasi dan berbalik. Aisha melompat menjauh, mengayunkan podao-nya untuk melindungi si pendukung yang persis di belakangnya. Haruhime, ekornya bergetar, terbaring telungkup di tanah bersama Lilly, mereka berdua tertutup Jubah Goliath.

“—aaahh!”

Welf dan para petualang lain berhasil menahan hujan peluru, dinding baja Jubah Goliath melindungi para pendukung tak berdaya, namun satu suara terdengar.

Tidak biasa menghindar sepenuhnya, pundaknya diserang proyektil. Kakinya runtuh dan robih ke tanah.

Aku tak tahan melihat peristiwa ini dari samping. Melompat dari bayangan massa kristal ke lorong, tempat rentetan sengitnya sekarang telah berhenti.

Monster itu menatapku dengan lengan lemas di sisinya. Aku baru hendak menyerangnya dengan hunusan pisau, ketika itu—

“—”

“Hah?!”

Raksasa berlumut menghentak tanah kuat-kuat, lalu menghilang ke terowongan di dinding.

Dia menghilang—tidak, mundur?! Seekor monster, mundur?!

Selagi berdiri syok sembari mengangkat pisau, aku mendengar teriakan di belakang. “Chigusa! Ada apa?!” “Ooohhhh, aaahhh ….!”

Tatkala berbalik, untuk kedua kalinya aku meragukan mataku.

Ouka berlutut di tanah mendekap Chigusa. Matanya tertutup rapat seakan-akan sangat kesakitan, dan jelatang1 tumbuh dari bahunya.

Jejak dari bahu kanan di lengan kanan dan dadanya, menjalar dalam pakaian perangnya seolah menyakiti kulit lembutnya. Tanaman hijau merambat bahkan mengisap tetesan keringat yang menetes di bagian belakang leher.

“Tumbuhan tumbuh dari lukanya ….?! Chi-Chigusa?!”

Kala tenggelamnya panggilan Mikoto, aku menatap Chigusa. Jadi peluru benih menyebabkan ini—?

Menganga kaget, aku melirik Luvis yang kutinggalkan terpuruk dalam bayangan massa kristal.

Tak pernah kuperhatikan sebelumnya di area samar cahaya sana, namun kini kumelihatnya. Seperti Chigusa, jalinan jelatang melingkari tubuhnya.

 

Catatan Kaki:

  1. Jelatang atau latang (Laportea) adalah genus tumbuhan yang berasal dari suku Urticaceae. Daun atau bagian lain dari tumbuhan ini dapat menimbulkan rasa gatal pada kulit apabila tersentuh. Terna ini dapat hidup tahunan ataupun perenial. Seperti banyak tanaman dari suku Urticaceae, tumbuhan ini memiliki rambut yang menyengat dan gatal.

 

2 Replies to “DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 12 BAB 3”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *