DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 12 BAB 2

Posted on

Istrirahat Berpetualang

Penerjemah: Daffa Cahyo (DarkSouls)

Setelah Hestia meninggalkan Denatus dan Bell menerima surat dari Markas Besar Guild, mereka berdua bertemu di sebuah kafe di Northwest Main Street, yang semua orang sebut Adventurers Way.

Duduk tepat di seberang meja Bell adalah Hephaestus, dewi penempa. Hestia sedang dalam perjalanan menuju toko cabang barat laut Hephaestus untuk mencari detail lebih lanjut tentang pemberitahuannya ketika dia berpapasan dengan Bell yang datang dari Markas Besar Guild. Pada akhirnya, mereka bertiga memutuskan duduk-duduk ngeteh.

“Hephaestus, ini surat yang Bell terima, apa maksudmu pemberitahuan?” tanya Hestia, mengepak amplop putih di antara jemarinya. Temannya mengangguk.

“Itu benar, Hestia.”

Waktu itu sore hari, matahari mendekati dinding kota barat. Bell bersama Hestia meminta Hephaestus menjelaskan lebih lanjut mengenai misi dari Guild.

“Setelah familia penjelajah Dungeon mencapai peringkat tertentu, familia tersebut punya tanggung jawab untuk melakukan ekspedisi pada selang waktu yang ditentukan—dan wajib membuahkan hasil pada ekspedisinya,” ucap Hephaestus.

“Ekspedisi?”

“Ya. Guild mengirimkan perintah, seperti yang barusan kau terima.”

Hestia yang dikejutkan berita ini dan buru-buru memeriksa isi suratnya lagi. Sesuai perkataan Hephaestus, perkamen yang ditandatangani oleh kepala Guild menyatakan bahwa familia mereka mengemban tugas ekspedisi.

“Lady Hephaestus, Anda menyebutkan peringkat tertentu ….?” tanya Bell. “Peringkat D atau lebih tinggi Bell Cranell. Fraksi terbesar seperti Loki dan Freya melakukannya secara teratur. Yah, Loki Familia menyelam ke Zona Dalam, jadi mereka tak dipaksa untuk melakukannya sering-sering.”

“Dan apa sebetulnya hasil yang kami dapatkan?” “Kau bisa meningkatkan jangkauan Dungeon-mu satu lantai, atau bisa berkontribusi pada penemuan berbagai sumber daya mineral yang tak dikenal, atau memetakan Perbatasan. Tidak jadi soal. Kupikir bahkan mengalahkan bos lantai sesekali bisa diterima. Kebanyakan familia hanya membersihkan lantai baru yang belum mereka capai.”

Berbeda dengan dewa pelindungnya, Bell tampaknya memikirkan sesuatu yang spesifik sewaktu mengajukan pertanyaan kepada Hephaestus. Tatapannya bilang, ‘Apa niatmu?’ meskipun demikian jawaban Hephaestus masih rinci.

“Guild ingin daerah-daerah tak diketahui Dungeon terus dieksplorasi dan mengungkap sumber daya baru. Familia bertipe Dungeon hanya ada di kota ini, dan semisal kau ingin menyebut dirimu salah satunya, maka Guild menuntut kalian pembuktiannya.”

“A-aku tidak tahu itu ….”

Hestia kelihatan seakan sedikit terkejut. Mengingat sejarah Guild dan fakta mereka menduduki kekuatan nyata dari Dungeon satu-satunya di dunia, masuk akal jika tujuan utamanya adalah untuk menjelajahi dan memahami labirin bawah tanah yang terhampar di bawah kaki mereka. Sumber daya, wilayah, serta penemuan asing ini tentu saja ada hubungannya dengan masa depan perkembangan Orario. Itulah sebabnya Guild mempermudah hal-hal semacam pendaftaran petualang. Tak seperti familia-familia komersial, familia Dungeon tidak harus mengisi dokumen rumit, dan pajak yang diminta Guild pun tak tinggi-tinggi amat.

Saat Hestia memulai familianya, dia belum merasakan preferensi jenis fraksi tertentu, dia membuat keputusan untuk mendaftar sebagai familia tipe Dungeon tanpa pikir panjang, membayangkan familia skala kecil tepat-tepat saja baginya.

“Aku harap Miach atau seseorang memberitahuku hal ini sebelum mendaftar ….”

“Tidak ada yang mengira kau akan berhasil sampai ke peringkat D. Jujur saja tidak kuduga juga. Siapa sangka kau melaju cepat sampai puncak ini ….”

Hestia nyengir-nyengir kepada Bell yang meliriknya.

Dihadapkan bagiannya, Bell tahu dialah katalisator semua ini. Tangan kanan menekan pelipis, sedikit merasa bersalah. Ekspedisi diperlukan bagi familia kelas atas—mereka yang mampu menjelajahi kedalaman Dungeon dan kembali hidup-hidup. Seharusnya tak mempengaruhi kelompok lebih lemah …. Setidaknya, demikianlah sepatutnya.

“Aku bertaruh alasan Hermes tidak melaporkan level-level anak-anaknya sebab tidak begitu menyukai ekspedisi ….” gerutu Hestia. Setahunya, syarat menyelesaikan misi tipe ekspedisi tampaknya memperjelas upayanya. Senyum Hermes terbayang di depan matanya seketika berspekulasi bahwa inilah alasan dewa lembut itu—yang menyukai yang sedang-sedang alih-alih kenaikan menonjol—memalsukan level pengikut-pengikutnya di laporan publik.

“Kembali ke topik …. Yang terpenting adalah familiamu sendiri yang berekspedisi. Kau boleh—boleh saja menyewa petualang dari tempat lain, tetapi kau tidak bisa dengan mudah mengikuti ekspedisi orang lain. Pastikan kau mengingatnya,” jelas Hephaestus, menekan pentingnya mengambil tindakan independen.

“Ngomong-ngomong, jika kau tidak mau melakukan ekspedisi atau tidak mendapatkan hasil yang cukup, kau akan dianggap gagal dan dihukum,” tambahnya, sambil mengakhiri pelajarannya. Rupanya, penalti itu umumnya dianggap sebagai denda. “Itu semua soal misi ekspedisi ini. Ada pertanyaan?”

“Tidak …. Hanya saja semua ini sungguh cepat sampai-samapi terasa nyata. Aku bahkan tak tahu apa yang tidak kuketahui ….”

Hestia nyatanya masih syok setelah mendengar ceramah temannya.

“Nona Aiz … dan banyak petualang kelas atas lain telah berhasil, bukan?” tanya Bell, menatap tepat mata merah-keunguan Hephaestus.

“… itu benar, Bell Cranell,” respon Hephaestus, mata indahnya menyipit seakan-akan mengerti segalanya. Raut wajahnya menyantai, senyumnya menguatkan.

“Yah, lakukan yang terbaik. Seandainya membutuhkanku, aku usahakan yang terbaik untuk membantu …. Aku di sini untukmu,” ucapnya. Lalu dewi cantik berpakaian pria itu menghabiskan tehnya, dan membayar tagihan, kemudian pergi. Bell dan Hestia saling bertatapan dan mengangguk.

“Akhirnya … misi ekspedisi.”

Mikoto sedang duduk di ruang tamu, menggumamnya sembari merenung. Makan malam selesai, seluruh familia berkumpul mengelilingi Hestia untuk mengadakan rapat. Topiknya, jelas, adalah apa yang mesti mereka lakukan tentang ekspedisinya.

“Saat aku bersama Lady Ishtar, aku melakukan sejumlah ekspedisi sama Aisha dan yang lain,” kata Haruhime ketika membagikan teh, mengenakan pakaian pelayan.

“Lady Hephaestus menjalankan familia penempa, jadi kita tidak perlu mencontohnya …. Tapi Tsubaki penasaran banget sampai-sampai bergabung ekspedisi orang lain hanya karena dia mau.” Welf menambah pengalamannya sambil duduk di kursi dan menyilangkan kaki.

Bell dan Mikoto menarik kursi lain untuk gadis yang baru saja selesai bertugas. Dia mengucapkan terima kasih kepada mereka saat duduk.

“Lady Hestia, apakah kau tidak tahu ekspedisi itu penting? Bukannya kita pernah berekspedisi kecil sebelumnya?”

“Yah, anu, kami waktu itu diundang oleh Takemikazuchi …. Tapi kurasa bukan ide buruk untuk memperbaiki situasi kita di masa depan.” Hestia tertawa hampa selagi mencoba tidak melihat siapa pun. Mata sipit Lilly menatapnya.

“Aduuuhh.” gadis prum itu menghela nafasnya, mendongak. “Ini tepat seperti waktu kita mengirim Wiene ke Desa Tersembunyi. Kita pada dasarnya tak berhak menolak misi. Satu-satunya cara agar bisa keluar dari ikatan misinya adalah bila Guild menentukan bahwa kekuatan bertarung kita menurun jauh atau sudah melakukan misi penting pencarian jangka penjang atau misi lain.”

“Dan mengambil misi penting … saat ini masih mustahil?” tanya Haruhime takut-takut.

“Ya, itu dibenci.” Lilly singkatnya membuang saran itu. Haruhime menundukkan kepalanya, tapi Mikoto tampaknya menerima bahwa mereka akan melakukan ekspedisi.

“Lantai terendah yang kita lewati itu lantai dua puluh …. Artinya harus membidik lantai dua puluh satu, kan?” tukasnya.

“Yah, tidak konyol-konyol banget kalau berpikiran kita bisa melakukannya. Maksudku, sekarang Tuan Bell Level Empat, dia mungkin bisa mengatasinya dengan gampang ….” ucap Lilly.

Standar yang disarankan bagi mereka yang ingin mencapai lantai 24—lantai terendahnya lantai menengah—adalah Level 2 dengan level kemampuan dari C sampai S. Mempertimbangkan Bell kini Level 4, dia dapat dengan mudah memenuhi persyaratannya.

“Tentu saja, kau mesti waspada setiap kali pergi ke lantai pertama kali,” tambah Lilly.

“Ini pertanyaan mendasar, tetapi bagaimana kita membuktikan ekspedisi kita berhasil? Karyawan Guild tidak ikut, ya?” Hestia mengajukan pertanyaannya ke Lilly, namun Haruhime yang menjawab.

“Seingatku … Aisha sering membawa balik drop item dari monster spesifik atau bongkahan bijih tertentu. Dia biasa mengatakannya sebab menjengkelkan karena setidaknya harus membawa pulang paling tidak sepuluh barang sesuai peraturan ….”

Sekalipun Haruhime adalah anggota terlemah Hestia Familia, masukannya sangat berharga, dikarenakan dia adalah satu-satunya orang yang melakukan ekspedisi selama waktu yang dihabiskannya bersama Ishtar Familia besar. Banyak hal yang tak diketahui Haruhime, gara-gara dia non kombatan, namun masih punya banyak hal untuk dibagikan.

“Juga …. Aku tidak sungguh-sungguh mengerti apa maksud mereka dari familiamu harus melakukan ekspedisinya. Apa bedanya misalkan aku ikut sama party orang lain atau sekiranya aku membentuk orang-orang dari party-party lain? Apa kondisi untuk memenuhi persyaratannya?” tanya Welf.

Hestia memeriksa surat dari Guild.

“Anu, yah … nampaknya anggota familia kita sendiri harus membawa lebih dari setengah party,” Hestia menjawab, membaca perintah misi.

 “Karena pihak yang melakukan ekspedisi diakui berperingkat D atau lebih tinggi, mereka kemungkinan besar mesti memberikan hasil sesuai dengan peringkat mereka,” timpal Mikoto.

Contoh ekstrimnya, seumpama sang Putri Pedang bergabung dalam ekspedisi Hestia Familia, mudah saja mereka mencapai hasil. Tapi Guild mengharapkan anggota familia untuk bertindak sebagai kelompok ketika mendapatkan excelia di lantai target mereka agar menjadi lebih kuat. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan efisiensi eksplorasi Dungeon.

Di sisi lain, hanya orang paling baik hati yang mengirim salah satu petualang terbaik mereka ke dalam ekspedisi familia lain. Itu semua memungkinkan jikalau arah ekspedisi mungkin berbahaya.

Lilly, si otak fraksi, menguraikan rencana terbaik mereka.

“Intinya, apabila kita menghiraukan masa depan, kita tak boleh mengabaikan misi ini. Dan seandainya memulai ekspedisi ini … maka rencana teraman kia adalah mengumpulkan satu party beranggotakan Tuan Bell, Tuan Welf, Nona Mikoto, Nona Haruhime sebagai pendukung darurat, dan beberapa petualang kelas atas dari fraksi lain ….”

Dia kudu menahan emosinya selama paruh kedua pidato ini. Mengecualikan dirinya dari party tersebut bukanlah pertanda masokisme. Itu keputusan subjektif dan dibuat secara tenang berdasarkan fakta bahwa dirinya adalah pendukung penuh Level 1.

Intinya, naik level Bell telah mendatangkan misi ekspedisi ini. Guild berkata bahwasanya Bell sebagai seorang petualang yang berkualifikasi dan bertanggung jawab. Sekarang dia wajib memilih rekan-rekan yang cocok untuk tugas itu dan mengabdikan dirinya untuk petualangan selanjutnya.

Keheningan singkat menyebar ke ruang tamu. Tidak ada yang berani mengambil keputusan di hadapan peristiwa besar familia. Hestia, dewi pelindungnya, menutup mata sebentar, lalu menatap Bell. Seakan mengikuti petunjuknya, Welf dan kawan-kawan turut memalingkan pandangan mereka kepada sang kapten.

“Bell. Sampai sekarang kau menahan lidahmu. Apa niatmu?” tanya Hestia.

“Aku ….”

Bell diam-diam mendengarkan Lilly dan teman-temannya berbicara, sekarang membuka mulutnya untuk berbicara.

“Aku …. Yah, sebagiannya buat Wiene dan Xenos-Xenos lain dan sebaagiannya untuk diriku sendiri …. Aku ingin menjadi lebih kuat dari diriku sekarang.”

Dia menambah, tapi, selanjutnya melihat-lihat wajah setiap anggota familianya.

“Kalau bisa … aku ingin lebih kuat bersama kalian semua.”

Mata Lilly membelalak. Begitu pula Mikoto dan Haruhime. Hanya Welf, satu-satunya anggota familia laki-laki lain yang tersenyum. “Akun mau bergerak maju sebagai familia.”

Mata merah-keunguan, sebagaimana ucapannya yang sejernih kristal, penuh tekad. Tiada satu pun keraguan yang merusak pesannya. Tetapi pada saat berikutnya, wajah menyesalnya yang biasa kembali.

“Uh …. Maaf karena terlalu memaksa.”

“Ayolah, aku menyuruhmu untuk tidak minta maaf! Kami senang mendengar omonganmu …. Iya ‘kan, semuanya?”

“… ya, sangat senang!”

“Ya, ya, tentunya.”

“Benar. Andai kata kita tidak mengalami suka duka bersama, mengapa menyebut diri kita familia?”

Lilly tersenyum lebar, sementara Haruhime mengangguk berulang kali dan Mikoto menekan tangannya ke dada seakan sangat tersentuh. Bahkan Hestia nyengir-nyengir, mengangguk tegas dan berdiri.

“Ayo kerja sama dengan familia Miach dan Take! Kita bentuk aliansi antar fraksi untuk ekspedisi!” teriak Hestia.

Sekejap berikutnya, Mikoto, Welf, Lilly, dan Haruhime ikut berebut.

“Ya, kita akan berekspedisi sama Master Ouka dan Nona Chigusa!” lupakan hal-hal sepele macam lantai 21; aku bertujuan memasuki lantai dalam!” “Jangan terbawa suasana, Tuan Welf!” “Itu gegabah!” “Aku tak tahu apakah bisa banyak membantu atau tidak …. T-tapi akan kuusahakan!” tambah Haruhime.

Bell menyeringai pada suasana hidup mendadak di ruang tamu. Semua orang mengincar satu target. Karena tujuan baru telah terwujud, seluruh familia menikmati tingkat antusiasme menyegarkan.

Hestia Familia memutuskan berekspedisi.

 

Εκστρατεία

 

Keesokan harinya, mereka mulai bersiap-siap.

Tentu saja, termasuk mengumpulkan semua barang dan persediaan yang dibutuhkan, serta berbagi informasi dengan Miach dan Takemikazuchi juga meminta kerja sama dari fraksi bersahabat. Nahza, Ouka, anggota familia mereka, dan para dewa pelindungnya setuju. Hanya Hephaestus yang memutuskan netral untuk mempertahankan posisi mereka sebagai familia penempa.

Aliansi tiga fraksi dibentuk antara familia Hestia, Miach dan Takemikazuchi. Mereka akan memulai ekspedisinya sepuluh hari ke depan. Sementara itu, setiap petualang mulai mengerjakan persiapan yang diperlukan.

“Dari Miach Familia, yang bergabung adalah ….”

“Aku dan Cassandra. Kapten kami, Nahza, mohon maaf, tapi nampaknya dia trauma oleh monster.”

“K-kami sangat berterima kasih ….!”

Lilly bertemu dengan anggota Miach Familia, Daphne Laulos dan Cassandra Illion untuk mengkonfirmasi partisipasi mereka. Keduanya duduk di ruang tamu Hearthstone Manor, yang sekilas menyerupai ruang perang. Lusinan perkamen tersebar di atas meja yang dirapatkan, setiap perkamen berisi informasi terbaru tentang Dungeon, seperti apakah bos lantai ada di tempat-tempat tertentu dan lokasi kemunculan para Abnormal. Peta-peta setiap lantai, dibeli dari Guild, ditandai pena merah dengan rute yang direncanakan dan titik istrirahat. Lilly, kepala strategi mereka, tengah menggunakan ruangan itu untuk menemui anggota fraksi lain dan mengkonsolidasikan informasi terkait ekspedisi mendatang.

“Posisi apa yang akan kalian berdua ambil, Nona Daphne?” tanya Lilly. “Baru-baru ini kami perginya berpasangan, namun sebelumnya, posisiku berada di tengah dan Cassandra belakang. Aku melakukan apa yang perlu di lakukan, tapi dia ini penyembuh, jadi pikirku dia bakal berguna.”

“D-Daphne, berhenti memujiku ….!” “Kenapa kau jadi malu?”

Mengabaikan rutinitas komedi si pasangan, Lilly menjilat bibirnya dan membuat catatan dengan pena bulunya di sebuah perkamen. Menambahkan informasi perkara posisi serba bisa dan penyembuh ke catatannya soal formasi party.

“Menurutmu party-nya akan sebesar apa? Sepertinya memang sudah besar,” Daphne dengan kalemnya bertanya ketika mendapati nama Ouka dan Welf di garis depan.

“Semua orang di Hestia Familia akan ikut serta, ditambah lagi Tuan Ouka dan Nona Chigusa dari Takemikazuchi, dan kemudian kalian berdua …. Juga Nona Aisha.”

“Aisha …. Kau maksud Aisha Belka, sang Berbera?” “A-Antianeira ….!”

Cassandra merinding ketika mengatakan nama alias seorang Amazon mantan anggota Ishtar Familia

“Waw ….” Daphne tersentak, matanya membulat.

“Ya …. Aku tidak tahu dari mana dia mendengarnya, tapi mendadak muncul di depan pintu kami ….”

Lilly mengerutkan alis tidak jelas sambil mengingat kembali kejadian belakangan ini. Hampir waktu belum berlalu setelah aliansi secara resmi dibentuk dan Aisha muncul, bilang dia bakal mengikuti ekspedisi dan ingin tahu apakah mereka akan mengikutkannya. Seperti Haruhime, Antianeira pernah menjalani banyak ekspedisi sebelumnya, dan penambahannya ke party akan benar-benar meningkatkan kekuatan yang mereka miliki. Bell dan kawan-kawan menerima tawarannya dengan penuh ucapan terima kasih.

“Namun sekarang, karena party-nya sudah kuat, kita akan membidik lantai yang lebih rendah …. Lilly merasa cemas tentang itu. Meskipun memang benar bahwa ekspedisi yang terdiri dari anggota ini mungkin semestinya sudah menuju lantai-lantai Dungeon itu ….”

Lilly menghembuskan nafas panjang tatkala dia memikirkan Level 4 Amazon emosian yang mencoba membujuknya, membual jika mereka akan menaklukkan lantai menengah tanpa sepengetahuan monster.

Daphne memberengut.

“Hah. Jadi ini ekspedisi …. Apa betulan ide bagaus? Akankah semua orang bisa bekerja sama dengan benar?” tanya Daphne.

“Maksudmu apa?” ucap Lilly.

“Yah, saat aku masih di Apollo familia, kami beberapa kali pergi berekspedisi, tapi tidak dapat banyak dari ekspedisi bersama familia lain. Beberapa anggota cuma mengikuti kemauan mereka masing-masing.”

Seperti Hestia Familia, Apollo Familia telah menyelenggarakan ekspedisi gabungan saat naik ke peringkat D.

“Biasanya kau hanya harus melihat dewa pelindungnya saja dan bisa langsung paham gambaran anggota familianya. Kebanyakan kasus hasilnya sangat mirip. Pengalaman kami luar biasa mengerikan ….” Lanjut Daphne.

Dengan kata lain, familia yang dewanya cuma berdiri sambil mencibir takkan mendapatkan apa-apa. Lilly memiringkan kepalanya karena bingung pada Daphne, biarpun mulai mengerti maksudnya.

“Dalam ekspedisi ini, semua orang kenal satu sama lain, jadi aku raagu ada masalah besar antara teman-teman. Tapi di saat yang sama, kerja sama itu penting. Terlebih lagi kala kau menuju lantai yang sesuai levelmu atau bahkan lebih dalam.”

“!”

“Mari gabungkan kekuatan kita dan lakukan bersama. Kerja sama adalah segalanya,” imbuh Daphne.

Kata-katanya membuat Lilly menyadari dirinya melupakan sesuatu dalam rencananya: kebutuhan untuk berkolaborasi sama familia-familia lain. Sekalipun individu-individu kuat sudah berpartisipasi, dia gagal menyelidiki sepenuhnya apakah dia secara pribadi telah mengatur formasi yang betul-betul akan bertahan dalam Dungeon.

“Dan bagaimana denganmu?” Daphne melanjutkan. “Kau hanya seorang pendukung, kan? Level Satu lagi. Kau bakalan mati dan memperlambat kami semua?”

“….”

“D-Daphne ….”

Pernyataan tanpa ampun. Biar Cassandra protes sedikit, Daphne menyampaikan kebenaran.

Daphne menyadari bahwa tangan Lilly meremas sampai jadi kepalan, nadanya berubah.

“Tapi andaikan kau masih pengen ikut … yah, mungkin lebih baik bulatkan tekadmu.”

“Huh?”

“Berusahalah untuk tidak melakukan apa-apa. Sebaliknya, biarkan kami mengerjakan pekerjaannya.”

Mata cokelat-kastanye Lilly tertuju kepada Daphne.

“Kau akan menjadi komandannya, kan? Aku pernah, menjadi komandan, melakukan banyak hal karena terpaksa dan tak punya pilihan lain.”

Daphne menghunus belati yang mirip-mirip tongkat konduktor dari sabuk pedang di pinggangnya. Bunyi wuuushh, gadis manusia tersebut mengayunkannya dengan ringan di udara dan mengangkat bahu.

“Punya seseorang yang mengawasi sesuatu dari ujung sampai akhir itu penting, tahu.”

“….!”

“Ini tak seperti perang di masa lalu, tetapi kepemimpinan yang baik masih bisa benar-benar menyelamatkan party. Orang-orang bilang hidup-mati petualang tergantung pada siapa yang berada di baris belakang. Begitulah cara Finn Deimne menembus sampai puncak, dengar-dengar.”

Lilly merasa seolah baru pertama kali melihat sesuatu dalam dirinya. Bayangan sang Pemberani memimpin petualang-petualang terbaik Dungeon, dan paling mantapnya, bayangan dirinya melakukan hal yang sama.

Merasa ibarat akhirnya memahami visi yang perlu dibidiknya.

“Keberanian prum itu tolol, tentu saja,” ungkap Daphne. “….”

“Jadi, kau bagaimana? Mau aku tunjukkan cara mengambil komando?”

Cassandra yang sama sekali diasingkan dalam percakapan, bergantian melihat Lilly dan Daphne.

Lilly menyadari Dpahne sedang menatapnya.

“Ya, tolong!” jawab Lilly.

“Yaaaa!”

Teriakan pengang menggema di langit biru.

Dewa perang menggunakan tangannya dan dengan mudah menangkis tendangan tajam gadis yang mengincar wajahnya.

“Kau masih lemah.”

“Uuuh?!”

“M—Mikoto!”

Mikoto dan Chigusa, yang dua-duanya terlempar ke tanah, meringkuk bersama. Setelah menangkis tendangan tinggi petualang Level 2, petualang kelas 3, Takemikazuchi melihat kedua gadis itu selagi menyeka keringat di alisnya.

“Mikoto, Chigusa, kalian berdua terlalu memikirkan satus. Jangan pernah mengandalkan senjatamu untuk menyelesaikan masalah. Kendalikan situasinya dengan jiwa.”

“Ya, pak, Master Takemikazuchi!”

Mikoto meraih tangan Chigusa dan berlutut. Masih berlutut, dia menatap sang dewa. Di bawah langit biru jernih, pertumbuhan halaman yang subur dan hijau berkilauan di bawah sinar mentari. Ketiganya berada di halaman Hearthstone Manor yang dipinjam untuk berlatih. Gadis-gadis mengasah keterampilan mereka untuk bersiap-siap menghadapi ekspedisi mendatang.

“Banyak petualang terjebak oleh Status mereka …. Itulah yang petualang kelas satu katakan, dan aku setuju. Sewaktu menggunakan keterampilanku sepenuhnya, aku bisa menandingi atau bahkan mengalahkanmu.”

Selagi Takemikazuchi meneteskan keringat, Mikoto dan Chigusa cuma menunjukkan kilau-kilau cahaya di kulit mereka. Namun ditutupi noda-noda rumput karena dilempar berkali-kali di tanah. Kontras tajamnya membuat posisi relatif mereka jelas. Gadis-gadis tersebut punya kemampuan fisik untuk melawan monster, sedangkan Takemikazuchi akan sama tak berdayanya dengan orang biasa dalam situasi seperti itu. Terlepas dari kekuatan mereka, sang dewa perang sanggup menangkis pukulan mereka dan bahkan memanfaatkan momentumnya untuk menghempas mereka.

Hasilnya sepenuhnya bergantung kepada keterampilan dan taktik.

Memanfaatkan keterampilan defensif, seni bela diri manusia super, kemampuan membuat keputusan menakutkan, dan keterampilan pengamatan, Takemikazuchi mengarahkan lawan-lawannya ke arah yang diinginkannya. Sendirian, keterampilan bertarungnya melebihi petualang kelas satu.

Kemampuannya tidak ilahiah, sebagaimana keterampilan Hephaestus dalam membuat logam paling kuasa, yang takkan mampu disetarakan mahluk fana.

Takemikazuchi, sedikit ragu mereka sanggup mengalahkannya. Namun keduanya tak mengejar kemenangan cepat.

“Status bisa ditingkatkan dalam semalam. Tapi—” “Keterampilan dan taktik masalah lain.” Takemikazuchi mengangguk ketika Mikoto menyelesaikan kalimatnya.

“Tentu saja, keterampilan pun tidak mudah didapatkan. Tapi bila kau punya usaha yang cukup dan memiliki keinginan kuat untuk berhasil … maka bisa saja.”

Mikoto meremas tangannya erat-erat selang Takemikazuchi berbicara, roti bundar rambut di kedua sisi wajahnya gemetar. Sesuai perkataan dewanya, yang Mikoto inginkan adalah kekuatan untuk melawan musuh kuat. Menginginkan keterampilan yang dapat menyelamatkan rekannya dan sukses menavigasi petualangan dalam labirin bawah tanah yang maha besar.

“Seperti sewaktu aku mengajarimu di Timur Jauh. Keterampilan adalah senjata yang kau gunakan kala melawan musuh yang lebih kuat dairmu. Dalam hal bentuk fisik mereka, sebagian besar monster sungguhan kuat … tetapi jika kau memanfaatkan keterampilan di waktu yang tepat dan pernafasan tepat, kau mampu mengalahkan musuh terbesar, bahkan memecahkan cangkang terkeras.”

Takemikazuchi menyeka keringat tubuh telanjangnya dan menghunus belati dari selubung yang diikatkan di pinggangnya. Belatinya bernama Tenka, bagian pria dari sepasang belati yang bagian wanitanya dimiliki Mikoto.

Takemikazuchi mengangkat Tenka dengan satu tangan dan memasang kuda-kuda bertarung menghadapi Mikoto dan Chigusa.

“Kau menempuh jarak jauh dari Timur Jauh. Sekarang waktunya mengajarimu seni bela diri yang tak kau pelajari masa itu, sesuai permintaanmu. Majulah!”

“Ya, pak!”

Kedua gadis berlari menghampirinya. Tanpa basa basi dan sungguh-sungguh, menyerahkan diri pada pelatihan keras yang Takemikazuchi tawarkan.

“Ada apa, nih, Pria Besar?”

Dentang logam berisik terdengar.

Berkat api yang menyala di tungku, bengkelnya cukup panas sampai bisa membunuh orang. Welf berdiri di depan api menggunakan palu merahnya untuk membentuk batangan logam di paron menjadi senjata.

Ouka, dari Takemikazuchi Familia, memperhatikan gerakan Welf dari belakang seakan terpesona.

“Aku ingin menyelesaikan sebanyak mungkin sebelum kita pergi menjalani ekspedisi ini,” kata Welf.

Bengkelnya terletak di halaman belakang kediaman Hestia Familia. Nyala api merah yang memancarkan cahaya merah tua, bagian dalam ruangan yang samar terlihat bak dunia ajaib. Pemuda besar yang datang berkunjung itu duduk di kursi yang dipinjamkan Welf padanya, tangan bersilang kala si penempa merespon.

“Walaupun kau dan aku berlatih bersama, perbedaannya takkan terlalu ketara.”

“Aku tahu.”

“Dan mustahil keterampilan dan sihir akan muncul di saat kita paling membutuhkannya.”

“Aku pun tahu itu.”

  Keringat turun dari dagu Welf, kulit Ouka ikutan lembab, hanya menonton doang. Dua pemuda itu tampaknya berusaha mengalahkan kemampuan menahan panas terik. Seperti waktu-waktu saat sang pahlawan mencoba membujuk penempa keras kepala.

“Aku ini penempa logam. Yang ingin kulakukan itu … membuat perlengkapan sebagus-bagusnya, agar mampu membantu Bell dan anggota party lain dengan caraku sendiri.”

Potongan-potongan baju zirah dir-adamantite Bell disandarkan di dinding sebelah Welf, sudah diperbaiki seratus persen. Selain baju besi, ada lusinan barang baru yang disiapkan Welf untuk Bell, Mikoto, dan anggota party lain, termasuk pedang besar, katana, tombak, mata panah, dan senjata lempar, perisai, juga pedang sihir.

Masih fokus pada karyanya, tatapan Welf tajam dan berapi-api.

Dia mengangkat palu dan menurunkannya. Setiap kali dia mengulangi gerakan tersebut, panas dalam ruangan terasa berdenyut lebih kuat.

“Dalam pertarungan, aku barangkali menyusahkan orang lain. Aku akan berusaha yang terbaik.”

“….”

“Aku tak punya waktu untuk nongkrong bersamamu.”

Laksana suara palu mengenai logam, suara Welf terdengar tegas.

“Cobalah yang lain,” katanya, memunggungi Ouka.

“Buatkan aku senjata.”

Bahu Welf tersentak kaget oleh kata-kata Ouka. “….”

“Bukan barang setengah-setengah. Sesuatu yang membuatku mampu melindungi Chigusa dan Haruhime juga orang lain. Itu mauku …. Berkenankah kau melakukannya?”

Suara Ouka sekuat dan sekeras kepala Welf.

Welf memberikan logam terakhir pukulan intens, lalu berbalik menghadap Ouka.

“Pesanan senjata buatanku ada harganya,” ucap Welf sambil menyeringai.

Alis Ouka mengkerut terkejut.

“… sebutkan kesepakatannya.”

“Kutendang pantatmu!”

“Haruhime, ke sinilah.”

Setelahnya, Aisha si Amazon menarik gadis rubah yang baru saja masuk ke ruang belajar Hearthstone Manor. Buku-buku di rak ketika mengambil alih gedung dari Apollo Familia masih ada di sana, membuat suasana ruangan tersebut bak perpustakaan kecil.

Aisha membawa Haruhime ke meja besar dan menyuruhnnya duduk. Gorden tertutup rapat-rapat, ruangan luas itu kelihatan redup.

“Anu, Nona Aisha …. Kau ingin melakukan apa di sini?” tanya Haruhime, mengintip ke sekeliling ruangan yang biasanya dia bersihkan sebagai pelayan. Aisha dudu di atas meja tepat di depannya dan meletakkan bundelnya.

“Tentu saja latihan khusus buatmu,” katanya santai, rambut hitam panjang berayun saat menyesuaikan tempat bertingkah laku buruknya di atas meja.

“P-pelatihan special?’ Haruhime mengulang linglung.

Amazon seksi pemberang yang pakaiannya menyerupai gadis penari, menepuk telinga gadis si rubah.

“Kau ini lemah. Kau tahu itu, kan?” “Uh ….”

“Jika tidak mempelajari semacam trik sebelum ekspedisi, kau beneran akan jadi pelambat.”

Aisha benar. Haruhime adalah bagian pendukung, bagian penyihir. Biarpun kemampuan meningkatkan levelnya illegal, kemampuan bertarung dasarnya bahkan lebih rendah dari Lilly.

“Tapi aku tidak bisa bergerak seperti Mikoto dan kawan-kawan ….” Haruhime belajar beberapa gerakan bertahan dari Mikoto, tapi kekurangan bakat untuk menjadi petarung dan tidak bisa cepat menyelesaikan masalah. Sekalipun tahu cara mengalahkan monster kelas rendah di Dungeon, upayanya terbilang kecil.

“Idiot,” kata Aisha pada Haruhime yang murung. “Kau ini penyihir. Sekurang-kurangnya kau memiliki sihir yang cukup untuk menyandang namanya. Aku mengharapkan lebih darimu ketimbang si ceroboh canggung.”

“Uh …. Jadi maksudmu kita akan berlatih unutk meningkatkan kekuatan sihirku?”

“Tidak. Kau akan belajar sihir baru.” Aisha tersenyum kepada Haruhime yang terperangah.

“Keterampilan dan sihir tidak muncul saat orang menginginkannya, lantas kita mesti menariknya secara paksa.”

Dengan bunyi gedebuk, Aisha meletakkan bundel yang dibawanya di depan Haruhime, selanjutnya melepaskan ikatan kain. Di dalamnya ada sebuah buku tebal, sampulnya dihiasi pola rumit.

“Ini ….!”

“Sebuah buku sihir. Entah sihir macam apa yang ke luar dari sini, tapi aku ragu sihirnya bakaln jadi tidak berharga, apa pun sihirnya.”

Teksnya akan memaksa sihir tampil. Bahkan Haruhime yang tak duniawi tahu nilai buku tebal yang terletak di depannya. Barang-barang sihir yang takkan pernah ditemukan di pasar biasa. Buku-buku sihir tersebut sangat jarang ditemukan sampai-sampai tidak aneh seandainya disebut buku-buku hantu.

“Ishtar takkan pernah membiarkanmu membaca buku sihir, itu karena dia kelewat terpaku pada betapa ampuhnya peningkatan level. Jikalau manusia rubah tersegelnya mempelajari lebih dari satu macam sihir, itu akan sia-sia, karena batu pembunuh yang hancur hanya memungkinkan satu penggunaan kekuatan.”

Aisha menjelaskan pola pikir Ishtar, namun informasinya masuk ke telinga kiri ke luar telinga kanan. Menelan ludah di hadapan buku sihir, Haruhime perlahan-lahan mengangkat wajahnya.

“Ngomong-ngomong, dari mana kau dapat ini ….?”

“Aku menunggu sampai dewa pelindungku dan anggota familia lain tidak melihat, kemudian mengambilnya dari gudang kami.”

Setelah kesunyian singkat, Haruhime batuk-batuk tidak nyaman.

Aisha melambaikan tangannya cuma-cuma, seolah mengisyaratkan bukan masalah besar.

 “Tidak apa-apa. Mereka memanfaatkanku dan memperlakukanku layaknya pion berguna, jadi setidaknya ini yang bisa kulakukan untuk menyeimbangkannya.”

Seorang Amazon yang pindah ke Hermes Familia, terlihat bangga kepada dirinya sendiri. Sekarang ini, familia akan menyadari jilid berharga telah menghilang dan boleh jadi akan berakhir kacau. Haruhime telah mengenal pelacur senior itu memang pemberani semenjak waktu bersama mereka di Ishtar Familia, paling-paling soal pengingat baru tentang karakter Aisha ini dia akan batuk panik.

“Kau ingin membantu bocah-bocah itu, bukan?” “!”

“Maka pilihanmu tak banyak. Kau ini lemah, dan yang kau perlukan sekarang adalah keserakahan sejati untuk meningkatkan diri.”

Aisha mendekatkan wajahnya ke Haruhime yang dengan kagetnya balas menatap. Masih duduk di atas meja, bibir Aisha tiba-tiba melengkung.

“Baca cepat dan mulailah berlatih. Sepuluh hari seharusnya sudah cukup untuk menguasai jenis sihir baru.”

Aisha turun dari meja dan menjauh dari Haruhime untuk jaga-jaga agar secara tak sengaja mencuri efek buku sihir.

Haruhime mengikuti gerakan senyuman Amazon dengan matamnya, kemudian sesaat memikirkan kembali percakapan bersama Bell dan teman-teman di ruang tamu semalam, bibirnya menutup.

Aku … aku bagian familia!

Tangannya menggenggam sampul buku sihir dan penuh tenaga membukanya.

“Nona Eina, maukah kau memberitahuku tentang Air Terjun Besar lagi?” “Uh, anu, ya,” suara jeritnya menjawab.”

Bell membuka buku ilustrasi dan ditunjukkan kepada Eina yang duduk di seberangnya. Menyusuri kata-kata di halaman dengan jari kurusnya.

Malam hari, mereka berada di ruang referensi Markas Besar Guild.  Bell sedang menghadiri seminar pribadi Eina. Menarik pengetahuannya, Bell berharap menggali informasi sebanyak mungkin tentang lantai-lantai yang mereka rencanakan lintasi dan monster yang barangkali mereka temui selama ekspedisi. Karena tengah menuju wilayah baru, dia memutuskan untuk menghabiskan sepuluh hari persiapan penuh untuk belajar.

Ketika dia menemukan sesuatu yang tak dimengerti, dia menanyakan Eina, dan sewaktu merasa tak yakin pada sesuatu, dia mengejar jawabannya sampai sepuas-puasnya.

Biarpun biasanya ada kesenjangan antara informasi dalam buku-buku dan kenyataan Dungeon, Bell sudah tahu setelah lima bulan singkat sebagai seorang petualang bahwa informasi yang dia kumpulkan sebelumnya dapat menyelamatkan hidupnya, serta mungkin berfungsi sebagai senjata ampuh untuk melindungi party-nya.

Bertekad melakukan segala hal yang mampu dilakukan saat ini. Memikirkan sesuatu yang diperlukannya, Bell mencari petunjuk dari masa lalu dan masa depan. Mempetaruhkan nyawanya di lantai menengah, dan kini mencapai lantai yang lebih dalam tempat para Abnormal berada. Selagi memeriksa materi dengan kepalanya yang jauh dari kata efisien, Bell jadi serakah akan pengetahuan.

Dia berubah ….

Eina mengawasi Bell meneliti informasi. Pipinya ditumpu tangan, merasakan tatapan Eina tertuju terus ke mata merah-keunguannya.

“Nona Eina?”

Merasakan mata penasihat menatapnya, dan dia mengangkat kepala.

“Huh? Uh, bukan apa-apa, maaf!” katanya dengan suara bingung, tangan melambai kepadanya.

Bell menatap aneh. Eina menunggu sampai Bell kembali melihat buku, lalu mendesau. Wajahnya merasa panas.

Aku juga berubah ….

Eina seperti itu semenjak minotaur hitam mengalahkan Bell. Dia tidak kesakitan—bahkan, bisa dibilang perasaannya menyenangkan—namun dia tak tahu bagaimana mengatasinya, dan perasaan itu membuatnya sedikit malu. Heran pada hatinya yang melonjak seketika Bell minta membantunya belajar.

Jarak antara mereka selagi duduk di sisi meja yang berlawanan membuatnya jengkel. Menjadi begitu dekat tapi terasa jauh membuatnya sinting. Resah karena tidak ada orang selain mereka berdua di sana, dia mencuri-curi pandang wajah Bell.

Aku tidak tahu anak-anak laki bisa tumbuh secepat ini ….

Bell masih asyik membaca jilid-jilid berat. Di masa lalu, dia ini murid yang payah, tapi sekarang malah dia yang lebih sering bertanya. Sewaktu Eina menanyakan kuis pop di malam awal, Bell beberapa kali salah tapi jauh lebih sedikit salahnya daripada di masa lalu.

Sejak hari itu, Bell berusaha berubah. Tidak—bisa jadi dia sudah berubah.

Apa yang sebetulnya terjadi hari itu? Kuharap bisa menanyakannya …. Eina tidak tahu apa-apa tentang insiden Xenos.

Dia ingin bertanya kepada Bell perihal hal itu, tapi ujung-ujungnya dia tidak sanggup mengurai kata-kata.

Di masa lalu, dia takkan kesulitan bertanya Bell, selayaknya saudari perempuan perhatian yang menanyai adik lelakinya.

Tapi sekarang, Eina tak ingin mengganggunya. Seakan-akan dia seorang wanita yang diam-diam melindungi prianya.

… gawat … aku dalam masalah.

Eina menyerahkan dirinya pada situasi itu, sekali lagi mengakui ikatan yang dialaminya.

Dia tak pernah jatuh cinta sebelumnya, tak sebagai anak-anak dan bukan pula sebagai murid. Saat ini dia hanya bisa menyadari emosinya.

Itu pertama kalinya aku melihat seorang anak laki-laki, seorang pria, menangis lantang.

Hatinya berdebar-debar manis sesaat ingatan peristiwa malam itu kembali datang membanjirinya. Tiba-tiba, wajahnya terasa panas lagi.

Aku harus menghentikan ini!

Kepalanya diletakkan ke atas meja dan mendekap wajahnya.

Bell terheran-heran melihatnya.

“Uh, anu …. Nona Eina, kau baik-baik saja ….?”

“Meskipun aku tahu kau mengidolakan Nona Wallenstein ….”

“Hah?”

“bukan apa-apa.”

Menekan pipinya yang membara ke meja dingin dan mendengus.

Apalagi dia jauh lebih muda dariku … bahkan aku pun tak bisa menatap langsung dirinya. Dasar diriku kekanak-kanakan, meskipun usiaku sudah segini!

Eina merasa malu terhadap perasaannya sendiri.

“Eh?!”

“Ada apa, Hestia?” Miach bertanya saat sang dewi tersentak kaget, kuncir hitamnya berkedut.

“Aku merasakan aura manis-pahit pada Bell!”

“Kau membicarakan apa ….?” ucap Takemikazuchi. Dia terlihat terkejut. Mengikuti naluri dewinya, dewi muda itu berbalik dan memindai sekelilingnya.

Sewaktu bintang-bintang bekerlap-kelip di langit malam luar, dia dan kedua dewa duduk di sekitar meja dalam bar di sisi jalan sepi. Mereka memutuskan untuk mengadakan pertemuan santai sambil minum-minum, karena familia mereka akan memulai ekspedisi pertama.

“Aku merisaukan Bell …. Tapi terima kasih lagi, Miach dan Také, karena telah memberikan kami dukunganmu.”

“Tak perlu berterima kasih kepadaku, Hestia. Semata-mata melakukan sesuatu yang dilakukan tetangga baik,” tukas Miach.

“Dia benar. Omong-omong, kalau soal ekspedisi, kami bukan orang asing,” tambah Takemikazuchi.

 Hestia menundukkan kepalanya berterima kasih. Kedua dewa itu tertawa. Mereka berteman karena ketiganya berada di hierarki familia terbawah, berkumpul untuk mengolok-olok diri mereka sendiri. Hestia bersyukur memanggil dewa-dewa yang begitu terhormat dan familia mereka teman. Dia tersenyum. Tanpa mereka, entah dirinya ataupun Bell takkan mampu bertahan di Orario.

“Tetap saja … aku merasa sedikit bersalah karena menyerahkan semua pekerjaannya kepada anak-anak selagi kita minum-minum,” tukas Takemikazuchi, mengambil camilan.

“Kita bisa apa lagi? Bell dan teman-temannya sudah mengurus semua. Tatkala aku mencoba membantu, pendukungku bilang, ‘Aku tak ingin kau mengacaukan semua persiapanku, jadi kenapa kau tak pergi bekerja saja atau ngapainlah!’ aku ditendang dari rumah!” Hestia menjawabnya dengan cemberut, meniru suara Lilly. Kedua dewa nyengir-nyengir.

“Mikoto beneran bekerja keras, datang kepadaku setiap hari untuk minta pelatihan,” timpal Takemikazuchi.

“Nahza pun sama. Dia berusaha mengembangkan beberapa obat baru untuk Bell dan kawan-kawan …. Semua orang bekerja ke tujuan yang sama. Semuanya berjalan baik, kupikir,” ucap Miach.

Pelajaran, pelatihan, sihir, pembelajaran …. Semua orang bersiap-siap ekspedisi dengan cara mereka sendiri. Walaupun suara Miach diwarnai rasa iri terhadap manusia yang tak seperti deusdea, karena manusia mampu meningkatkan dirinya, dia tersenyum cerah.

“Bukan hanya Bell …. Semua orang tumbuh dewasa. Mereka hampir tak memerlukan bantuanku lagi!’

“Apa, nih, Hestia, apa aku mendeteksi sedikit rasa kesepian?”

“Jelas aku kesepian! Aku tidak bisa mengikuti mereka ke Dungeon, kan?”

Hestia menghabiskan cangkirnya dan bergerak maju.

“Sudah mabuk?” goda Takemikazuchi, bersandar.

Hestia tersipu, lalu suasana hatinya berubah dan tersenyum.

“Tapi aku sama bahagianya! Tidak, bangga adalah penjelasan terbaiknya!” “Hestia ….”

“Saat semua orang membicarakan sebesar apa Bell telah tumbuh … aku merasakan perasaan ini jauh dalam dadaku.”

Dia takkan pernah mengungkapkan kebanggaan keibuan itu kepada anak-anaknya, jelas saja. Namun mereka sudah melalui banyak hal bersama, dirinya dan Bell. Selamat dari banyak sekali petualangan, mengecap frustasi, belajar untuk terus berlari maju walau dari kepala hingga kaki tertutupi lumpur.

Kisah familia yang dia telusuri di punggungnya adalah harta berharga.

Hestia menyeringai sepatut sang dewi muda, dan dua dewa pria itu menyipitkan mata seolah-olah memahami perasaannya.

“Dia dulu sangat cengeng, tapi sekarang bisa berbicara jelas di depan semua orang. Sudah tumbuh indah … aku lagi-lagi jatuh hati padanya! Mengawasinya saja sudah membuatku teramat gugup! Sial, takkan kuserahkan dia ke jiwa lain!”

“Itu betul-betul indah, kecuali yang terakhir.” “Ya!”

Para dewa menyesap minuman mereka sedangkan Hestia mengangkat tangannya dan berteriak gembira.

“Sejatinya, aku sedikit mengkhawatirkan ekspedisi ini … tapi aku yakin Bell dan yang lainnya akan melewatinya,” katanya.

“Jika semua orang bisa melakuaknnya, kelompok itu bisa.”

“Ya, sebagaimana perkataan Hestia.”

Ketiga dewata mengangkat gelas mereka. “Mari minum demi Bell dan yang lainnya.” “Bukannya kita mesti bersulang demi mereka?” “Simpan di hari sekembalinya mereka.”

Cahaya hangat lampu berbatu sihir menerangi suasana biru-kehitaman di bar semarak. Seorang penyair menyanyikan lagu untuk para pengunjung yang mabuk, melodi menyenangkan membangkitkan pendahuluan sebuah kisah petualangan.

“Demi petualangan sukses anak-anak—”

Ketiga dewa berkumpul di meja bundar, saling tersenyum dan mendentingkan gelas merka.

“BERSULANGG!”

 

Λ

 

Langit hari itu nyaris tak berawan.

Ketika wajah matahari mengintip di atas tembok besar timur kota, Orario membuka matanya dan beraksi. Sinar mentari mengalir turun dari cakrawala biru tempat beberapa awan putih melayang. Di depan Hearthstone Manor, di bangsal keenam kota, sekelompok manusia dan manusia hewan berkumpul. Mereka adalah para petualang dari banyak fraksi, hendak memulai ekspedisi.

“Kalian semua siap?”

“Ya! Aku sudah mengemas sebanyak mungkin barang, senjata ekstra, dan persediaan yang bisa kumuat.”

Lilly menyesuaikan tas, yang isinya bahkan lebih penuh dari biasanya. Aisha tersenyum kepadanya, meletakkan pedang besar yang disebut podao1 di bahunya.

Di dekatnya, Mikoto dan Chigusa melirik senjata perak berkilau Ouka.

“Tuan Ouka, apakah Tuan Welf membuatkan senjata baru untukmu juga? Aduh-aduh, kelihatannya seperti bilah bagus,” sembur Mikoto.

“Kapaknya wahid! Tapi Ouka, uangnya ….?” Kata Chigusa.

“… aku akan membayarnya nanti sepulang ekspedisi,” jawab serius Ouka. Welf yang berdiri tepat di belakangnya sedang memegang pedang, nyengir.

Di sisi lain, Nahza memberikan Haruhime sebuah karung yang jahitannya panjang.

“Haruhime, aku barusan selesai membuat ramuan baru hari ini …. Tolong bawalah. Berjuang keras, saudari ….”

“T-terima kasih, Nona Nahza!”

Tukas Haruhime saat menerima tas dari manusia anjing itu, terdapat lingkaan hitam di bawah matanya. Tersentuh oleh kata-kata penyemangat rasnya, Haruhime membungkuk dalam jubah hitam bertudungnya, Jubah Goliath.

Takemikazuchi, Miach, Hephaestus, dan anggota-anggota familia yang tinggal di rumah masing-masing berdiri agak jauh dari para petualang yang menuju Dungeon, mendoakan baik-baik ekspedisi mereka.

“Serahkan penjagaan kediamanmu padaku. Sana pergilah ke neraka!” “Jangan terlalu menggila.” “Jaga dirimu!”

Nahza dan beberapa anggota Takemikazuchi Familia bertugas mengawasi kediaman mereka ketika pergi. Adapun Hestia Familia yang semua anggotanya berpartisipasi dalam ekspedisi, Hephaestus rencananya menetapkan salah satu Penempa Besarnya untuk menjaga kediaman mereka. Begitu tersiar kabar pandai besi yang sangat kuat itu berada di rumahnya, bahkan pencuri paling tolol pun takkan berani mendekat. Para petualang bisa mengikuti ekspedisi hanya karena bantuan penjaga rumah.

Bell melihat dua kelompok—mereka berangkat dan mereka yang tinggal—lalu menatap langit. Cuacanya bagus, begitu pula paras wajah rekan-rekannya. Moral mereka tinggi.

Tentu saja, ada pengecualian. “Daphne …. Bisakah kau menghentikan ekspedisi ini?” “Huh? Bukannya sudah agak terlambat untuk menghentikannya?”

“Semalam aku punya firasat … firasatku bilang hal mengerikan akan terjadi ….”

“Itu lagi? Kau tahu kita tidak bisa menghentikannya sekarang!”

Cassandra mau menangis, ditolak oleh rekannya. Berbalik menghadap Bell yang berada di sisi lain, seakan-akan berpegang teguh kepadanya.

“Uh …. Maaf ….” kata Bell, menggaruk kepalanya.

Dengan lembut ditolak olehnya juga, kepala Cassandra menunduk. Bell mengarahkan senyum tegangnya kepada si gadis yang telah ditarik kembali oleh Daphne, dan matanya menghadap sang dewa pelindung.

“Yah, Dewi.”

“Bell, apa pun yang kau lakukan, jangan pernah lengah!”

“Aku mengerti.”

“… berjuang keraslah!”

“… pasti!”

Ketika sinar matahari memandikan mereka, Hestia dan Bell bertukar senyum. Bel mengukir bayangan senyumnya dan langit cerah ke dalam ingatannya. Beberapa waktu dia takkan melihatnya.

Tatkala berbalik lagi, dia melihat Welf dan rekan-rekannya sedang menunggu dengan penuh semangat sinyal untuk memulai perjalanan mereka. Bell mengangguk dan berbalik dari Hestia dan dewa-dewa lain.

Aliansi fraksi memperhitungkan ekspedisi berlangsung selama satu minggu. Aisha meyakinkan mereka bahwa party sebesar ini dapat dengan mudah mencapai tujuan mereka dan kembali dalam waktu lima hari, jadi rencana perjalanan mereka sudah sesuai, termasuk tempat mendirikan kemah di luar titik aman.

Welf, Ouka, dan Bell menjadi garda depan formasi menuju Dungeon. Pusatnya dibagi menjadi dua kelompok: Mikoto, Chigusa, dan Daphne yang bertindak sebagai penjaga untuk melindungi kombatan dan pendukung, sedangkan Lilly, Haruhime, dan Cassandra akan menjadi para pendukung. Kenyataannya, fungsi tiga orang terakhir lebih seperti penjaga belakang. Aisha, seorang petarung kuat Level 4, ditempatkan di bagian paling akhir untuk menahan serangan dari belakang.

Tentu saja, ini pertama kalinya Hestia Familia beraksi sebagai bagian dari kelompok bsear, sehingga mereka dapat dengan seksama mengamati cara kerja koalisi dan berubah posisi sementara jika diperlukan.

Akhirnya, mereka menuju lantai dalam.

“—aaaahh!”

Suatu jeritan membelah udara.

Pisau Hestia Bell menggambar lengkungan ungu ketika membelah dua monster.

“OOOUUUUUUUUUUUU!”

Terlambatnya, kematian mad beetle menjerit di lorong.

“Pemula Kecil! Tidak, maksudku Kaki Kelinci, kan? Teruskan! Bunuh mereka semua!” seru Daphne saat dua beetle besar berguling-guling di lantai, menekannya ke dinding.

Bell menyipitkan mata tajamnya dan mengangguk selagi mengangkat pisau barunya di tangan kiri dan menghentak tanah.

Mereka berada di Pohon Raksasa Labirin di lantai 24.

Party itu dengan cepat memecahkan rekor pembersihan lantai Hestia Familia sebelumnya dan kini berada di bagian terendah lantai menengah. Salah satu alasan cepatnya adalah Bell.

“UPPP?!”

Di tempat ukiran ungu, cahaya putih heroik terpancar dari tangan kirinya.

Pisau putih indah dan berkilauan itu mengurangi monster menjadi awan abu dengan satu serangan.

Bak Pisau Hestia di tangan kanannya, Hakugen—senjata baru di tangan kirinya—dengan cepat menumpuk jumlah tubuh secara impresif.  Berukuran tiga puluh lima celch dari ujung ke ujung, pisau panjang itu berukuran pas dengan Pisau Hestia dalam segi gagangnya. Menakjubkannya, pisau tersebut dibuat dari tanduk unicorn, drop item langka. Welf menempanya untuk Bell dengan sangat hati-hati, bilahnya bahkan lebih tajam daripada Ushiwakamaru. Setiap kali Bell menggerakkan lengannya sedikit, kilatan cahaya langsung memancar keluar, memproklamirkan kematian pada kawanan monster.

Seperti biasa, Bell memakai baju dir-adamantite-nya, saat ini sudah di reinkarnasi ke lima. Perlengkapan lengkap kuat namun ringan seperti barang baru adalah berkat perbaikan Wef. Sejenak, masih belum ada goresan. Kaki kirinya dilengkapi tempat penyimpanan baru terbuat dari kulit bison tua, jauh lebih kuat dari sebelumnya.

Memasangkan perlengkapan baru dari Welf, Bell mulai bekerja mengusir para monster yang mengelilingi party, sesuai permintaan Daphne.

“Hornet arah jam dua!”

Lilly meneriakkan aliran informasi tanpa henti kepada Bell yang telah pindah dari formasi utama. Hornet hitam pekat mematikan itu meluncur menyerang, sayapnya berdengung.

“Penempa, menunduk! Perisaimu tidak pada posisi tepat!” Ouka memperingatkan dari tempatnya di barisan depan.

“Sayangnya, aku tidak ahli soal perisai!” Welf balas teriak, memegang perisai besarnya dengan kedua tangan. Tatkala deadly hornets menghantam mereka dari suatu arah, posisi bertahan mereka goyah. Beberapa giant insect menyerang dengan cakarnya, sengatan rancun, dan tubrukan tubuh. Kedua pria di garis depan menerima beban serangan tetapi berhasil bertahan.

Dilindungi oleh Welf dan Ouka, Mikoto dan Chigusa menembakkan panah ke hornet-hornet dari posisi mereka di tengah, tetapi—

“Mereka cepat ….!”

“Sial ….!”

Deadly hornet terbang dengan gesit di udara, dengan mudah menghindari panah-panah. Walaupun satu mengenai sasaran, panahnya mantul kembali, para deadly hornet dan exoskeletos bahkan lebih keras daripada killer ant. Selagi menyibukkan petualang Level 2, jelas sekali mengapa mereka disebut-sebut high killer bees.”

“….!”

“….!”

Pada waktu itu, Bell turun tangan dengan kecepatan kilat.

Baru selesai menghabisi beberapa monster dari sisa party dan langsung berlari ke dinding Dungeon. Sesuai julukan barunya, Bell meluncur dari dinding dan melompat ke kerumunan deadly hornet.

Lengah dari belakang, mereka membeku. Mata rubi Bell berkilauan seraya mengayunkan Pisau Hestia.

“—GAAAAA?!”

Bilah putihnya mengiris para exoskeleton dan sepasang sayap ganda bagaikan mentega.

Bell terus terbang maju dari kekuatan ekstrem lompatannya. Masih mengudara, kembali menyarungkan Pisau Hestia dan menggunakan momentum serangannya untuk berputar di tengah lompatan, mengulurkan tangan kanannya yang saat ini bebas dan berteriak.

“Firebolt!”

Dua deadly hornet meledak jadi potngan-potongan tatkala api listrik membakar mereka.

Berkat kenaikan level Bell baru-baru ini, kekuatan serangan dan kecepatan serangan Swift-Strike Magic-nya telah ditingkatkan. Para monster tidak sempat menghindar. Ketika gravitasi menarik Bell sampai tanah, semburan api jatuh di sekelilingnya.

“W-waw ….”

“Ada waktu-waktu kau akan kabur menyelamatkan hidupmu dari monster-monster itu, tapi sekarang ….”

Cassandra dan kawan-kawan di pusat formasi tercengang. Welf menghela nafas takjub dan menyeringai seakan mengira mereka tak terkalahkan.

“Uuuuuaaaaaaaa!”

Sedetik kemudian, dia dan Ouka mengedepankan perisainya lagi dan merobohkan beberapa deadly hornet yang menyerang terus kabur. Sekejap, Mikoto dan Chigusa melompat ke luar dari antara kedua pemuda dan menusukkan belati mereka ke celah-celah exoskeleton.

“Tapi ini tidak ada gunanya …. Selama tidak kita singkirkan, deadly hornet-deadly hornet itu akan terus menyerang kita. Meskipun kabur dari para lebah, kita takkan bisa kabur jauh,” gumam Aisha. Sebagai baris depan dan tengah bekerja sama mengurangi para monster hingga menjadi abu, dia ditinggalkan sendirian di belakang untuk menangkis lawan yang mendekat dari sisi sana.

Aisha kembali melirik dinding Dungeon di belakang, tempat sarang deadly hornet terkubur getah. Koloninya diselimuti deadly hornet tak terhitung jumlahnya, namun sarangnya sendiri monster—monster langka yang hidup berdampingan dengan bloody hive.

Massa hitam tujuh meter panjangnya, sosok biji pinus hitam kelihatan bagai buah mengerikan. Monster tipe perangkap yang tidak bergerak, biasanya mengubur diri dalam lubang yang cukup besar agar deadly hornet bisa terbang keluar-masuk. Tapi begitu mangsa mendekat, dia akan menerobos dinding Dungeon dan memperlihatkan wujud lengkapnya.

Ketika salah satu monster ini muncul di rute utama, segalanya menjadi sangat buruk. Bell dan kawan-kawan saat ini merasa sial.

“Tidak ada habis-habisnya! Canssandra, kau belum bisa menyingkirkan lender ini?!”

“Maaf, Daphne, aku masih perlu lebih banyak waktu!” “Semua orang, maaf aku tidak bisa membantu!”

Serangan sarang tersebut adalah tembakan cairan yang tak membunuh maupun melukai, melainkan sangat melekat sampai-sampai melumpuhkan siapa pun yang mengenainya. Deadly hornet akan keluar dan menusuk korban yang terperangkap. Haruhime lengah oleh koloni baru yang muncul dan terbaring tak berdaya di lantai, tertutupi cairan jingga. Welf bersama Ouka berusaha menjaga para pendukung, namun perisai mereka pun diolesi bahan-bahan lengket.

Bagian terburuk dari semua itu adalah jumlah deadly hornet yang terus-terusan muncul. Karena bloody hive langsung terkoneksi dengan Dungeon, para deadly hornet muncul lebih banyak dari jumlah biasanya. Tatkala para petualang memfokuskan energi mereka untuk melawan serangga-serangganya, monster lain mendekat dari jalur samping. Jalur buruk lurus ke bawah.

“Jangan gentar! Kita harus mengalahkannya!”

Menguasai rute utama dan meludahkan deadly hornet satu per satu, koloni adalah masalah utamanya. Menyebutnya benteng monster takkan berlebihan.

Para petualang cepat-cepat mulai menghancurkan benteng yang sesungguhnya, Aisha—yang memusnahkan semua monster yang mendekat dari belakang—menginstruksikannya.

Kring, kring!

Cahaya memancar dari tangan kanan Bell. Terus mencegat deadly hornet seraya memulai Concurrent Charge.

Menggantikan rapalan aktif, suara bel terdengar. Bell menyelesaikan serangannya dan mundur dari lini depan ke posisi Lilly agar jarak serangannya ideal.

“Tengah, mundur! Bentuk lingkaran mengelilingi Tuan Bell!”

Perintah Lilly menyebar ke setiap anggota party. Mikoto, Chigusa, dan Daphne buru-buru mengambil perisai yang diserahkan kepada mereka untuk mengusir kerumunan ganas dari serangan gencar bertubi-tubi dan deadly hornet yang pergi mundur. Senjata Aisha pun melakukan hal yang sama, podao.

 Ouka bersama Welf bergabung ke lini pertarungan, melawan balik serangan gencarnya.

“—aku mau nembak!”

Cuma perlu beberapa detik bagi Bell untuk mengasumsikan posisinya. Para petualang berpisah ke kiri dan kanan untuk membuka jalur langsung buat Bell, dia telah berubah menjadi senjata hidup yang siap menembak.

Dua puluh detik merapal. Menggunakan tangan kanannya yang memancarkan cahaya layaknya laras, kemudian dilepaskan.

Firebolt!”

Ledakan besar api listrik terbalut cahaya putih ditembakkan ke depan. Semua deadly hornet di garis api langsung terbakar. Koloni menyeramkan itu meledak oleh kekuatan maha besar.

“—aaaahhh?!”

Monster-monster dalam sarang menjerit-jerit malang, dan diikuti raungan memekakkan telinga.

Dinding Dungeon pecah jadi serpihan bersama bloody hive, mengisi lorong dengan massa abu dan asap.

“Waw … aku capek. Rasanya seakan telah menyelesaikan bos lantai!”

“Yah, praktisnya hal yang sama. Sarang deadly hornet itu hal terburuk di tempat ini.”

Percakapan antara Daphne dan Aisha yang duduk di ransel Lilly di tengah lorong tengah menenggak ramuan dan air, suara mereka bergema dalam ruangan yang kini sunyi.

Bell dan teman-teman mengurus sisa-sisa pertarungan karena pertempuran terbesar hari itu telah berakhir. Berarti memungut batu sihir dan drop item. Kristal ungu yang lebih murni dan besar dari yang ditemukan di lantai-lantai atas sedang tergeletak di antara debu-debu deadly hornet dan exoskeleton. Mereka mulai mengumpulkan rampasan perang dan mengekstraksi batu sihir dari sisa-sisa monster.

“Maaf, Master Bell … aku memperlambatmu.”

“Bukan salahmu. Nona Haruhime. Malahan, kami yang mestinya melindungimu.”

Haruhime akhirnya dibebaskan dari cairan kental dan membantu bersih-bersih. Sebab monsternya kebanyakan, semua orang—bukan hanya pendukung—harus bergabung.

“Tuan Bell … kau mengagumkan banget.”

“Huh?”

Chigusa yang bekerja dekat Ouka ikut ke dalam perbincangan Bell.

“Kau membunuh lebih banyak monster daripada orang lain sejauh ini … aku pikir sebelumnya kau memang sudah hebat, tapi … kau cuma, maksudku, kau sangat hebat sekarang!” ucapnya, mengoceh-ngoceh kegirangan seraya mengintip dari balik poninya.

Alis Ouka mengerut aneh saat mendengarkan. “Antianeira pun sama. Level Empat bedanya sudah seperti bumi dan langit. Membuatku merasa bak orang bodoh tak berharga ….” suaranya diwarnai frustasi dan kompetitif.

“A-aku pun berpikir begitu. Caranya bergerak dibanding Permainan Perang, itu, bagaimana caraku mengatakannya ….?!” kata Cassandra sambil berkeliling daerah mencari barang-barang.

“Lebih tajam, itukah maksudmu, Nona Cassandra?” kata Mikoto. “Ya, persis!”

Mereka berdua kelihatan betul-betul kagum oleh kecakapan tempur Bell. Soal si bocah sendiri, dia lebih malu ketimbang senang atas pujian tersebut. Tidak tahu harus berkata apa dalam situasi terkini. Pas Level 2 pun sama. Dia benar-benar tak pandai menerima pujian. Tangan bergerak canggung ke belakang kepalanya.

Saat kepalanya mengoceh tidak jelas, mendadak merasakan sepasang mata padanya dan mengalihkan pandangan.

Haruhime berdiri persis di sebelahnya, menatap wajahnya.

“Nona Haruhime?”

“Uh …. A-aku minta maaf, aku tidak sopan ….”

“Bukan masalah … tapia pa ada masalah?”

Dia bau-baunya merenungkan sesuatu dan ingin menyampaikan suatu hal. Bell mendesaknya dengan mata.

Manusia rubah itu memalingkan mata, kemudian malu-malu membuka mulut.

“Waktu … um, sebelum, saat terjadi sesuatu dengan Xenos, kau merasa kesulitan, jadi aku khawatir … tentang apakah kau sungguh-sungguh bisa melawan monster lagi.”

Bell melebarkan matanya sedikit seraya mendengar.

Pernah memikirkan hal serupa sebelumnya. Suatu kala, dia sangat gelisah apakah dirinya masih bisa membunuh monster atau tidak—atau bahkan melanjutkan hidup sebagai petualang—setelah mengetahui Xenos. Dia tak pernah memberi jawaban bagus.

Haruhime yang mengetahui keadaannya waktu itu, bingung oleh Bell masa kini, karena dia telah membunuh monster tanpa menahan diri sampai-sampai dipuji Ouka dan petualang lain.

Dihadapkan tatapan hijau resah si gadis. Bell sesaat terdiam. Kala Mikoto dan teman-teman kembali bekerja, Bell berpaling dari Haruhime dan berlutut di tumpukan abu. Menyadari debu abu-abu yang menembus jari-jarinya bagaikan pasir dan menarik kristal ungu indah. Lalu berdiri dan menatap batu sihir monster di tangannya, Bell menjawab.

“Aku memutuskan menjadi seorang hipokrit.”

Sekarang giliran Haruhime yang terkejut.

Hipokrit!

Bell mengingat hinaan pemburu jahat, lalu kata-kata si Bodoh yang bijaksana: ‘Mereka yang dikritik sebagai hipokritlah yang memiliki kualifikasi penting untuk menjadi pahlawan.’

Kalimat itu menetap di telinga dan hatinya, Bell menerimanya. Setelah black minotaur mengalahkannya, Bell meneguhkan tekad.

Untuk menyelamatkan Wiene dan Xenos-Xenos lain, Bell akan membunuh saudara-saudara mereka.

Dia akan membunuhnya meskipun tahu monster biasa bisa terlahir kembali sebagai Xenos.

Untuk menyelamatkan mereka yang penting baginya, dia akan merenggut nyawa tak terhitung jumlahnya.

Mereka barangkali monster, namun dia masih akan mengakhiri eksistensi mereka.

Tidak ada yang menyuruhnya. Jalan ini dia pilih sendiri, hatinya sudah teguh memegangnya.

Memuaskan dirinya dengan entah dihormati sebagai pahlawan atau dipermalukan sebagai penjahat, asalkan keduanya konsekuensi aksi-aksi itu.

Kalau begitu biarkan aku menjadi seorang hipokrit, pikirnya selagi tatapannya tertuju pada kristal berkilauan.

“….!”

Gadis rubah itu megap-megap dan bergidik melihat wajah tegas Bell. Pipinya memerah karena kagum.

Sungguh-sungguh tak menyadari, Bell meremas batu sihir kuat-kuat di telapak tangannya.

“Sebelumnya dia sangat kuat … tapi sekarang, sepertinya aku merasa lebih aman,” ucap Welf.

“Begitukah ….?” jawab Lilly.

Mereka berdua melihat Haruhime dan Bell dari jauh. Berbeda dengan sang penempa yang nampak senang, gadis prum kelihatan tidak senang.

“Kenapa wajahmu suram? Dia tidak berbahaya atau semacamnya.”

“Aku tahu itu ….”

Sebagaimana perkataan Welf, tidak ada tanda-tanda ancaman pada wajah si bocah. Dia tak jadi terburu-buru dan gegabah. Wajahnya adalah wajah seseorang yang telah menangani keraguan dan sudah sampai pada jawaban pasti. Mata tegasnya menatap lurus ke depan. Seiring perasaan tak berubahnya tumbuh kian kuat, demikian pula dirinya.

“Dibanding sebelumnya, dia jauh … jauh, jauh lebih bisa diandalkan. Tapi kelihatan seolah-olah dia semakin jauh dari perhitungan orang normal ….”

Kesan jujur Lilly. Suaranya sedih dan murung sewaktu memberi tahu Welf bagaimana Bell terlihat semakin jauh dan jauh ke depan dari mereka.

 Welf menatap si gadis, yang kepalanya menurun suram, lalu tertawa menyebalkan.

“Bukannya ini pekerjaanmu untuk mendukungnya, Pendukung?” Lilly terlihat kaget, lanjut cemberut.

“Aku akan berada di sana bersamanya. Sebenarnya, aku malah makin kuat darinya. Jadi jangan ketinggalan!” tutur Welf.

“T-tentu saja! Lilly itu pendukung Bell, mitra utamanya. Dia takkan dikalahkan Welf atau orang lain!”

“Kembali ke pribadi lamamu, ya …. Hei, berhenti memukulku! Itu sakit!” bruk, bruk!

Lilly beberapa kali memukul Welf, setelahnya menampar pipinya sendiri.

Sekali lagi meneguhkan tekadnya untuk membentengi dirinya sendiri. Melihat Bell berjuang begitu keras telah memperbarui antusiasmenya sendiri.

“….”

Aisha menatap pemandangan di depannya dan memikirkan situasi mereka.

Mendatangi lantai dua puluh empat pasti bukan karena kekuatan Bell saja. Saat mereka pindah dari lantai ke lantai, Mikoto, Ouka, dan kawan-kawan kerja samanya mulus. Mereka melihat kinerja Bell, dan berusaha bertarung sekuat dirinya.

Sesuai perkataan Lilly dan Welf: aksi seseorang bisa saja meningkatkan moral semua rekan-rekannya. Satu orang mampu menginspirasi tekad dan kekuatan kepada banyak orang lain.

Andai kata masalahnya itu, maka persisnya seperti ….

Dia pasti seorang yang disebut-sebut para dewa … seorang pahlawan.

Paling tidak, dia punya potensi dasar untuk menjadi pahlawan.

Tidak … dia tak memilikinya; dia meraihnya.

Dari tempat paling biasa.

Menyesali kelemahannya sendiri, lalu menatap puncak kekuatan. Dia masih berlari, menggapai pegangan apa pun yang ditemukannya. Peningkatannya masih mengejutkan bahkan bagi dewata.

Semuanya mulai berhubung.

Dan seluruh peluang inilah yang membuat si bocah kuat.

Bahkan Aisha mengaguminya …. ‘Dia hampir matang, kupikir,’ gumamnya, mata menyipit. Tak jauh darinya, Bell bergidik tanpa sepengetahuan siapa pun.

 

Ήρωας

 

Sewaktu membuka alroji pecahnya dan terdengar bunyi krak, dia mengumumkan permukaan sudah malam.

Kami sudah selesai menjelajah hari ini, jadi kami memutuskan untuk beristrirahat lebih lama di Dungeon. Dengan kata lain, waktunya mendirikan kemah.

Tempat yang kami pilih adalah rongga pohon menganga di samping jalan kecil dari rute utama di lantai dua puluh empat. Kami memutuskan untuk menggunakan ruang saku di dalam. Ruang itu adalah salah satu kandidat titik peristrirahatan yang kami identifikasi sebelumnya di peta yang disediakan Guild.

Hal pertama yang kami lakukan sebelum beristrirahat besar adalah menghancurkan lingkungan Dungeon.

Menyerang dinding dan lantai labirin terdekat dengan senjata kami. Melakukannya akan memaksa Dungeon memprioritaskan perbaikan area itu, artinya tidak ada monster yang akan muncul di sana selama beberapa waktu. Hal selanjutnya adalah menaruh penjaga-penjaga di pintu masuk ruangan untuk memastikan tiada monster yang berhasil masuk. Kemudian buru-buru membantai habis monster apa pun yang memenuhi ruangan dan di saat yang smaa, mengerjakan dinding di dalam ruang dengan kapak dan palu.

Kukira cara terbaik untuk menggambarkan ruangannya adalah suatu tempat di bawah pohon. Sebesar ruangan kecil normal. Dindingnya ditutupi bunga-bunga putih kecil serta daun, kadang-kadang terdapat tanaman herbal. Ketika kau melihat langit-langit yang tingginya tiga meder di atas, sebuah kubah dibentuk oleh akar pohon kelihatan. Gumpalan Lumut Lampu di permukaan kubah memancarkan cahaya kehijauan, yang sebenarnya membuat ruangan cukup cerah.

“Aku memilih tempat secara acak dalam peta, tapi ternyata bagus banget!” kata Lilly. Melepas ransel beratnya dan menghirup udara hijau tua dengan senang hati.

Dalam perjalanan ke sini, kami beristrirahat di lantai delapan belas Rivira—kota pos generasi ke-335 sudah diperbaiki gara-gara Xenos menghancurkannya—tapi mungkin karena kami akhirnya bisa mengendurkan ketegangan, semua orang tampaknya kelelahan. Namun, masih terdapat perasaan berhasil dan kelegaan dalam nafas mereka.

Untuk menghabiskan malam di sini sesuai waktu permukaan, kami cepat-cepat mulai bekerja mempersiapkan perkemahan dan bersiap-siap untuk penjelajahan besok.

Haruhime sama Cassandra dibantu Ouka dalam mendirikan kemah, dan mereka bertepuk-tepuk tangan kayak anak-anak. Mikoto dan Chigusa bertugas memasak, Aisha menjaga pintu masuk. Lilly dan Daphne mendiskusikan rute kami selagi mereka melihat peta.

Karena party kami sangatlah kecil, semua perlengkapan kami cocok dengan ransel, jadi walaupun tak seperti pusat kemah Loki Familia dengan kargo dan persediaan yang tergeletak di mana-mana, titik peristrirahatan kami terlihat mirip perkemahan asli.

“Hei, Bell, biarkan aku mengerjakan yang itu.”

“Oke, makasih.”

         Menerima tawaran Welf dan menyerahkan Pisau Ilahi kepadanya sebagai ganti Hakugen, yang baru saja dia selesaikan asahannya. Batu asah, palu, bahkan tungku mini dalam kotak mengelilinginya. Dia nampaknya telah membawa semua alat pandai besi pada ekspedisi. Berkat Penempa Besar kami, kami bisa menjaga senjata pada performa puncak dan tak kalah unggul. Sangat-sangat membantu, sebab kami tak perlu kembali ke permukaan selama ekspedisi.

“Mewah banget punya penempa di familiamu. Aku ragu bahkan fraksi terkenal seperti Loki Familia punya orang sebisa diandalkan kapan pun sepertinya,” komentar Daphne, yang menyelesaikan pekerjaannya.

“Bagaimana senjata baru itu, Bell?” tanya Welf.

“Luar biasa. Bilahnya serasa bagus banget dan membuatku kaget terus …. Bahkan menembus monster-monster logam ….”

“Karena aku menggunakan barang drop item yang berharga banget-banget sampai membuat seorang penyembuh atau penyihir menjerit seandainya mereka tahu. Ups, jangan bilang-bilang Lilly kecil! Dia akan meneriakiku karena memperlakukanmu istimewa.”

Mata penempa tertuju pada Pisau Ilahi, tetapi nyengirnya bak anak kecil nakal yang suka main trik. Akan balas nyengir kepadanya dan melihat Hakugen. Bilah putih tak normal yang berkedip-kedip cemerlang. Aku bisa tahu dibanding seri senjata Ushiwakamaru, yang akhir-akhir ini aku gunakan, pisau ini jauh lebih kuat. Terlebih lagi, pinggirannya lebih tajam. Bagian terbaiknya adalah betapa ringannya senjata itu. Gagangnya jos.

Mungkin tidak cocok-cocok amat untuk bertahan atau menangkis serangan … tapi secara keseluruhan, aku tak punya keluhan.

Karena dibuat khusus, gagangnya dibuat menyesuaikan jariku. Kendati kugunakan pertama kalinya, rasanya mirip perpanjangan senjata yang pernah kugunakan sebelumnya. Welf jelas menguasai keterampilannya. Aku merasa sangat bangga dan bahagia bisa bekerja bersamanya seperti ini, petualang dan penempa, memoles kemampuannya masing-masing ke tingkat lebih tinggi.

Barangkali berkat Hakugen dan semua senjata lain dan perlengkapan yang Welf buatkan untuk kami sehingga bisa sampai di lantai 24.

… lantai 24 ….

Sekali lagi aku merenungkan lantainya.

Kami berhasil sampai ke awal lantai 24 dalam waktu sehari. Kecepatan yang bagusnya bukan main.

Tidak, mengingat kami dulunya kesulitan ke lantai dua puluh, bisa kau bilang bagusnya keterlaluan.

Aku agak takut bila semuanya berjalan terlampau lancar …. Kenapa? Perasaan tenangku aneh.

Sederhananya bukan hanya karena aku tidak takut lagi pada lantai menengah sesudah sampai Level 4.

Lebih seperti … aku sudah bersilang bilah melawan hal-hal lebih menakutkan—dan jauh lebih kuat—daripada apa pun yang kusangka-sangka di lantai menengah.

Pemburu keji, rival besarku satu-satunya. Pengalaman-pengalaman tersebut telah memengaruhi baik jiwa dan ragaku. Tersadar bahwa sekali lagi berdiri di lantai 24 Dungeon—yang tidak mudah didatangi—dan mendengar detak jantung tenang meyakinkan.

Hal yang sama berlaku untuk peningkatan keberanian dan pikiranku, berputar-putar dalam kepala saat ini.

Aku mengembalikan Hakugen ke sarungnya dan melihat ke atas.

“Hei, Welf. Pisau Ilahi ini dibuat dari mithril, kan?” tanyaku pelan.

“Ya. Bahan yang kuat karena mudah diolah. Paling utamanya, mithril menyalurkan kekuatan sihir bagus. Senjata-senjata mithril biasa ditemukan bagi para petarung yang mengkombinasikan sihir dan kemampuan tempur biasa.”

Jawab Welf selagi dengan lembutnya membalik pisau hitam yang diukir huruf hieroglif.

“Tapi hanya karena mengalirkan sihir bukan berarti mithril itu modifikasi,” lanjutnya. “Meskipun kau memasukkan sihir ke bilah biasa, sihirnya bakalan merembes keluar dan memudar. Ngomong-ngomong, kenapa kau bertanya?”

“Uh, aku cuma ….”

Duduk di sebelah Welf yang fokus kembali pada pekerjaannya, aku melihat tangan kananku. Lembut sekali, agar orang tidak memperhatikan, aku mulai membunyikan lonceng. Beberapa partikel cahaya putih menyatu di tanganku.

Pertarungan sengit yang kulawan dan akhirnya kalah oleh saingan membuatku lebih rajin. Sebelumnya, aku menggunakan sihir dan keterampilan belaka. Kini aku mempelajarinya.

Terkhususnya Argonaut.

Aku melakukan semacam tes rahasia semenjak memasuki Dungeon hari ini. Ada beberapa hal yang sudah kupelajari. Pertama, waktu pengisian maksimum Argonaut adalah empat menit. Dulunya tiga menit, jadi aku mendapatkan satu menit ekstra dengan naik ke Level 4. Kekuatan yang naik dari pengisiannya meningkat kapan pun partikel-partikel cahaya berkumpul, hingga batas aksi seranganku. Ini berlaku untuk menebas, meninju, dan menyihir, namun aku cuma bisa mulai mengisi daya di satu tempat pada satu waktu.

Charge dan Concurrent Charge akan gagal jika ada serangan musuh atau perhatianku teralihkan. Saat itu terjadi, kekuatan fisik dan mental yang kukumpulkan akan menghilang pula. Rasanya mirip sesuai nyanyian sang penyihir. Bahkan sekarang pun, apabila aku ingin partikel cahaya menghiang dari tangan kanan, aku langsung merasa kewalahan karena lelah. Aku mampu memulihkan energi menggunakan barang pemulihan, tetapi sebaiknya disimpan untuk saat-saat penting dan jangan terus-terusan mengisi daya.

Yang paling menarik dari hasil tes ini adalah konvergensi, yang mana merupakan atribut paling menonjol dari Argonaut.

Konduktivitas magis tinggi dari psiaunya …. Konvergensi keterampilanku ….

Aku menyadari sesuatu tentang diriku.

Aku tidak cukup pintar.

Agar menyamainya, detik ini aku mengandalkan Lilly dan beberapa orang lain. Tanpa dukungan rekan-rekanku, menjadikanku pemimpin sama saja bego. Gelarku jadi tak berharga.

Aku mesti menggunakan setiap bagian terakhir otak tak mencukupiku.

Misalkan tidak, aku, Bell Cranell, takkan berarti apa-apa.

Aku takkan pernah menjadi Aiz, yang erus-terusan menambah keterampilan pedang baru ke tariannya. Aku bukan Finn, yang mengeluarkan banyak strategi berinovasi. Aku takkan pernah   mendekati orang jenius.

Seandainya tak kugunakan setiap ide terakhir di kepalaku, aku takkan pernah mampu menemukan hal baru.

Jadi aku terus berpikir dan berpikir sampai-sampai tidak bisa memikirkan hal lain—dan tepat saat kilatan kemungkinan terlintas di benakku—

“Semuanya, makan malam siap!”

“….!’

Suara Lilly keluar dari tenda.

“Kau dengar si nona kecil. Ayo, Bell. Perawatanku sudah selesai.” Welf memberikanku Pisau Ilahi.

“… oke!” jawabku, mengesampingkan pikiranku saat berdiri. Welf dan aku pergi ke tengah ruangan, tempat Lilly dan kawan-kawan menunggu.

Hanya ada satu hal terakhir yang harus dilakukan sebelum malam—lebih tepatnya, makan malam. Mengambil pisau dan pedang panjang untuk mengikis Lumut Lampu hijau dari dinding-dinding dan langit-langit, mengurangi jumlah cahaya ruangan. Setelah selesai, ruang hijau penuh tanaman menampakkan suasana hutan malam hari.

Salah satu alasan kami melakukan ini adalah untuk membantu menyesuaikan jam internal kami agar sesuai dengan waktu permukaan, tapi lebih penting untuk mencegah serangan monster. Karena jenisnya bervariasi tergantung spesies, kebanyakan monster mewaspadai wilayah Dungeon yang cahayanya berbeda dari biasanya. Karenanya, kami membuat ruangannya lebih redup dari kata normal. Sekurang-kurangnya itulah yang diucapkan Aisha dan Daphne yang sudah menjalani banyak ekspedisi, menjelaskannya dan bergegas mengikuti instruksi mereka.

Kami mengumpulkan Lumut Lampu yang sudah dikikis dan memasukkannya dalam toples, menaruhnya di tengah ruangan. Bagaikan lentera yang menerangi kemah malam kami.

“Yah, kawan-kawan, ayo makan! Ada banyak buat makan dua kali!’ “A-aku harap kau menyukainya ….”

Kami berkumpul di sekeliling pot yang diletakkan di sebelah lentera dan mulai makan malam. Mikoto bersama Chigusa menyiapkan risotto2—atau kata lainnya, hidangan bubur Timur.  Kami semua meneteskan air liur di atas bubur tebal bertabur benang keemasan, daging kering yang dikoyak halus, tumbuhan hijau, dan hamburan kacang-kacangan serta buah-buahan. Menyendok masakan campuran beruap itu dan menaruhnya ke mangkuk kayu, dan kami gali dengan sendok.

“Kami menambahkan beberapa bahan yang ditemukan dalam labirin yang Aisha bilang bisa dimakan …. Bagaimana?”

“Rasanya sedikit aneh … tapi enak! Aku menyukai rasa sederhananya, dan buahnya memiliki rasa menarik. Paling-paling, kau takkan menem ukan ini di luar Orario.”

“Kami tak punya ini di Timur Jauh. Asli dari Dungeon.”

“Tuan Ouka, sekarang waktunya kau memuji para koki … terutama Chigusa!” Lilly menegurnya ketika dia dan Welf berkomentar sambil merebus sup.

“N-Nona Lilly, dia tidak perlu melakukannya …! Tapi, aku senang mereka menyukainya,” tukas Chigusa, lega telah berhasil menyelesaikan tugasnya.

Sebab Mikoto dan Ouka tinggal di rumah yang sama, aku tahu dia koki yang cakap, tapi Chigusa yang tumbuh dalam kondisi yang sama, kelihatan sama berbakatnya. Welf dan Ouka bukan satu-satunya orang yang menyukai karya mereka pula.

“Kau harusnya berhenti berpetualang dan membuka restoran,” canda Aisha, sembari mencampurkan sedikit godaan dalam pujiannya.

Kebetulan, kami mengambil telur lebih awal ketika berhenti di Rivira. Bors, kepala kota pos memberikannya untuk merayakan ekspedisi pertama kami. Rupanya beberapa yam dibawa turun dari permukaan. Bagi para petualang kelaparan karena ongkosnya lebih akrab, mereka benar-benar menyebutnya telur emas. Satu-satunya masalah adalah cara menjaga mereka tetap segar.

 “Anu, tidak apa-apakah kita menggunakan air sebanyak ini ….? Orang-orang bilang punya air minum cukup bisa menentukan kesuksesan ekspedisi. Kita tidak mau kembali karena kehabisan ….” Kata Cassandra, resah tentang persediaan yang kami gunakan untuk makan.

“Ada banyak sekali air di lantai di bawah kita sampai-sampai kau akan tenggelam. Tidak ada yang perlu digelisahkan. Ngomong-ngomong, party ini tidak sebesar Apollo Familiamu dulu. Mustahil kita bakalan berebutan air.”

Respon Aisha sambil melambaikan tangannya dengan gampang seakan menghilangkan kekhawatiran Cassandra.

Boleh jadi karena mereka mengingat ekspedisi berat di masa lalu, atau barangkali gara-gara Aisha mengatasi kecemasan mereka, Cassandra dan Daphne—yang merupakan mantan anggota Apollo—keduanya mengerang.

Pada akhirnya, Cassandra benar. Menjaga air bisa jadi hal paling penting dalam Dungeon.

Aliran jernih seperti yang ada di lantai delapan belas umumnya sedikit dan jauh jaraknya dalam labirin. Merencanakan pengumpulan air di sumber-sumber yang dapat diakses di lantai tertentu adalah dasar dari kesuksesan ekspedisi. Sebelum kami mendirikan kemah di Pohon Raksasa Labirin, Aisha dan Mikoto pergi menimba air di beberapa mata air, jadi saat ini kami baik-baik saja. Boleh jadi kepercayaan diri santai Aisha bahkan meluas ke hal-hal di luar pertempuran karena banyaknya ekspedisi yang telah dia alami.

“Aku pikir Bell Cranell cocok di pusat formasi. Pas aku mendengar tentang serangan pengisian itu, tanggapanku kek, ‘Waduh?’ tapi dengan tingkat kekuatan segitu, dia dapat dengan mudah pindah ke belakang juga. Apalagi kelewat cepat,” kata Daphne.

“Dalam hal kepribadian, aku tidak menyangka Tuan Bell pas di baris belakang ….” imbuh Lilly.

Makan malam selesai, party duduk melingkar membicarakan kejadian hari itu dan minat khusus masing-masing anggota.

“Barusan kau sebut, dia memang tidak bisa diam …. Omong-omong, kerja bagus kepemimpinanmu sejauh ini.”

“Terima kasih.”

Sejak kapan Daphne dan Lilly mengembangkan hubungan guru dan murid ini? Mereka duduk dan saling mengangguk.

“Tak seperti kali terakhir, tidak ada yang naik level. Pedang sihir masih menunggu untuk digunakan juga,” tukas Welf.

“Yah, kali ini orangnya lebih banyak, jadi kerja sama kita dan responnya lebih cepat. Tentu saja Master Bell dan Nona Aisha mendukung formasi ….” jawab Mikoto.

“Kita semua saling menutupi kelemahan satu sama lain …. Itulah cara kerja party eksplorasi seharusnya,” ucap Ouka.

“Dan di sini aku tidak melakukan apa-apa dan memperlambat semua orang …. Uggh ….” Haruhime menghembuskan nafas.

Di sebelahnya, Chigusa dan Cassandra mengadakan diskusi mengejutkan tentang penyembuhan dan pertolongan pertama. Party yang disatukan dengan tergesa-gesa nampaknya rukun-rukun saja. Semua orang mengobrol ria.

“Hei, Antianeira. Aku belum pernah ke lantai 24 sebelumnya, tapi apa selalu seperti ini? Aku cemas kita lengah karena semuanya berjalan sangat lancer,” ucap Daphne.

Suaranya menggema keras nan ngeri di seluruh ruangan. Semua orang menatapnya, mungkin maksudnya begitu. Aisha yang duduk di lantai sambil menopang satu lututnya mengangkat bahu.

“Selama kau was-was atas serangan yang berdampak abnormal dan orang-orangmu banyak, Pohon Raksasa Labirin tidak jadi masalah besar. Maksudku, mungkin bakalan sulit jika hanya punya orang Level 2 …. Datang ke bawah sini tanpa persiapan artinya akan dibantai habis oleh jebakan dan goblin-goblin aneh yang muncul di Labirin Gua. Selain itu, tentu saja, jumlah sumber dayanya.

         Lantai 24 adalah lantai menengah, dan sebagian besar menganggap status Level 2 sebagai persyaratan minimum untuk membenarkan syarat masuknya. Tapi dengar-dengar Guild menerapkan standar-standar tersebut dengan tujuan untuk mencegah kematian orang-orang yang pertama kali lengah. Tentu saja, para monster pun punya kemampuan tersendiri ketika sudah di lantai tujuh belas dan lebih dalam.

Hal utama yang membedakan Pohon Raksasa Labirin yang dimulai di lantai sembilan belas adalah banyaknya serangan Abnormal, contohnya yang melibatkan racun. Monster-monster pun muncul dengan frekuensi lebih besar ketimbang yang ada di lantai atas.

Namun hal termenakutkan Dungeon adalah jumlah sumber daya tak terbatas yang bisa diambil. Kau harus berhati-hati di lantai berapa pun kau berada.

“Di bawah lantai ini … kau mungkin mencicit sebagai petualang Level 2 sampai lantai 27. Dari sana, masalahnya adalah medannya. Mereka bilang itulah alasannya dianggap sebagai zona terpisah yang kami sebut lantai dalam.

Menurut petualang kelas dua gigih, medan rumit itu merupakan penyebab standar lantai dalam, dimulai dari lantai 25, adalah Level 3.

“Lantai tiga puluh adalah tempat kau sangat-sangat membutuhkan level dan status. Ada segerombolan bloodsaurus dan banyak monster berbahaya lain di sana. Seperti lantai menengahnya Level Satu …. Merekalah hal-hal yang mustahil dikalahkan party Level 2.

Semua orang mendengarkan Aisha sambil memasang ekspresi serius. “… lantai tiga puluh, ya. Sulit membayangkan bagaimana rasanya, mengingat kita masih harus melewati enam lantai lagi,” kata Welf.

“Ngomong-ngomong, Guild tidak mempublikasikan informasi rinci mengenai lantai bawah, ya ….?” tanya Mikoto, kepalanya memiring penasaran.

“Guild membatasi informasi perihal lantai bawah dan Zona Dalam … spesialnya apa pun yang ada di bawah lantai lima puluh,” lirih Lilly.

“Kenapa mereka melakukannya?” tanya Mikoto.

“Semuanya kelewat berbeda di sana … jika orang-orang tahu banyak, mereka mungkin akan patah semangat. Dengar-dengar begitu,” jawab Lilly. Semua orang terdiam.

“Hahaha …. Tidak mungkin—” balas Cassandra, mencoba menertawakannya.

Aisha memotong ketus.

         “Yah, sejauh Ishtar Familia pergi …. Kami tidak mendapatkan informasi perkara lantai lima puluh dan lebih rendah lagi.”

Tiba-tiba, kepala Lilly mencoba menguji kebenarannya. Sepertinya semuanya sudah diatur sehingga tidak ada informasi tentang Zona Dalam sampai kau mendekati lantai-lantai itu dan memenuhi syarat untuk memasukinya.

“Kalau kau meyakini rumor-rumor itu … naga-naga melompat di lantai bawah sana. Dan bukan itu yang terburuk. Ada kawanan monster yang kesemuanya sekuat bos-bos lantai.”

“… i-itu bohong!”

“Siapa tahu? Walaupun benar, itu pertanda betapa buruknya hal-hal di lantai itu.”

Chigusa menelan ludah, perkemahan hening. Semua orang merinding sembair membayangkan jurang tak diketahui Dungeon selagi membayangkan lantai labirin tanpa dasar.

Lentera menerangi wajah party yang buram. “Sial …. Dasar kalian cupu sudah gemetar di sini?! Hal-hal itu masih jauh di masa depan nanti,” kata Aisha berupaya meringankan suasana. “Haruhime, bawakan minumannya!”

“Apa? Nona Aisha, aku tidak membawa alkohol ….!” “Mungkin tidak, tapi aku menyelundupkan beberapa ke ranselmu!”

Haruhime yang kaget merogoh ransel dan menemukan … sesuatu yang persis dikatakan Aisha di sana.

Party digebrak ketika melihat cairan dalam botol tebal.

“Hei bocah-bocah! Kalian semua akan minum, kan?”

“… kala seorang Amazon menghasutmu, kau cuma bisa bilang iya.” “Tuan Welf!” kata Lilly memperingatkan.

“Tidak apa-apa, Lilly kecil, cuma sedikit saja! Anggap obat tidur. Pria Besar, kau akan minum juga, bukan?”

“Kau takkan berlebihan, kan?” jawab Ouka. Dia suka minum dan mengejutkannya kelihatan bersedia ikut.

“Kau bohong, ya, Ouka?” goda Chigusa.

“Haruskah kita benar-benar begini di hari pertama ….?”

Cassandra orang terakhir yang berbicara, gumam lembutnya menghilang termakan kegembiraan pesta dadakan.

Haruhime mengenakan pakaian perang yang menyerupai pakaian seorang gadis kuil, terlihat mirip-mirip wanita penggoda selagi mengisi cangkir atas perintah Aisha; yah, dia memang berpengalaman bekerja di Pleasure Quarter. Bahkan Daphne yang kelihatan heran, dan Mikoto yang cemberut, akhirnya tertarik oleh Aisha. Cassandra hendak melarikan diri tanpa ketahuan ke tenda tapi dipaksa bergabung dengan yang lainnya.

Tak lama kemudian, seseorang mulai tertawa bahagia, dan lalu yang lainnya bergabung.

“….”

Aku menonton kegiatan mereka tanpa ikut-ikutan.

Giliranku menjaga party sekarang. Karena waktunya amkan, aku duduk di atas tunggul yang ditempati Aisha sampai kami bertukar tempat, mengawasi pintu masuk ruangan. Sekalipun harus kuakui, telingaku digunakan hanya untuk mendengar monster. Yang lainnya mengikuti percakapan di dalam.

Aku menggigit bubur dari mangkuk di tanganku dan mataku serasa melunak saat melihat teman-teman. Berapa lama aku tersenyum?

“Tuan Bell! Mau lagi?”

“Oh, makasih, Lilly.”

Entah bagaimana dia berhasil keluar dari genggaman iblis dan kabur ke tempatku berada, tangannya panik. Aku bersyukur menerima porsi lain.

“Betul-betul absurd! Mabuk di Dungeon, apalagi tidak di titik aman ….”

“Yah, kita lagi ekspedisi, aku ragu ada yang benar-benar sampai pingsan ….”

“Bagaimana kalau monster mendengar semua keributan ini?!”

Dia benar … aku membungkuk tanpa menjawabnya dan mengigit bubur lagi.

Tapi aku tak menghentikan Welf dan rekan-rekan.

Di ruangan yang rasanya seperti hutan malam hari, Lumut Lampu yang dumasukkan ke dalam botol mengeluarkan cahaya biru-hijau aneh. Sangat misterius dan nyaman. Fragmen cahaya melemparkan bayangan samar party yang berdansa di dinding dan lantai, tanaman-tanaman yang tumbuh di tanah menemani mereka.

Berkemah adalah kenikmatan nyata sebuah petualangan.

Aku membaca sebanyak mungkin kisah-kisah heroic, tapi tak pernah kumelihat pemandangan seperti ini di depan mataku sendiri dan membuatku lebih bangga sampai tidak bisa berkata-kata.

“… apa kau menikmati ini, Tuan Bell? Aku melihat kau tersenyum.” Lilly menatap aneh dari tempat duduknya di sampingku. “Oh, maaf … aku bisa bilang apa? Aku selalu pengen berkemah seperti ini bersama semua orang.”

“Tapi bukankah kita juga berkemah saat Loki Familia menyelamatkan kita di lantai delapan belas?’

“Kurasa …. Tapi rasanya mantap saja.”

Aku menggaruk pipi, tersadar dan tersenyum masam untuk menyembunyikan rasa maluku.

Lilly diam-diam mengawasi. Kepalaku memiring padanya.

“… aku senang,” gumamnya sambil merilekskan wajah.

“Aku bakal membuat pengakuan kepadamu, Tuan Bell … Lilly sedikit takut.”

“Hha?”

“Semenjak hari itu, tujuanmu tinggi demi Wiene dan Xenos-Xenos lain … aku kira kau telah berubah.”

Dia bingung dan takut sedikit. Khawatir bahwa jika aku mengarahkan pandangan ke depan, aku sedikit demi sedikit akan menjauh dari anggota kelompok lain. Memperbaiki tatapanku kepada Lilly yang mengakui ketakutannya. Pipi memerah, selanjutnya muncul lesung pipit.

“Tapi ujung-ujungnya, Tuan Bell masihlah Tuan Bell.”

Ketika tersenyum bahagia kepadaku, aku tak bisa menahan perasaan lembut ini kepadanya. Bukan perasaan romantis, tapi rasanya jauh lebih baik, selayaknya yang kurasakan pada seorang saudari.

Tak sadar, tangan kananku terulur ke kepala Lilly.

Dia mulai kaget, setelahnnya menerima tanganku dan duduk manis selagi aku mengacak-acak rambutnya.

“Maaf membuatmu khawatir,” kataku, tersenyum padanya agar kekhawatirannya mereda, seperti Wiene, tapi—

“… tidak, bagaimanapun kau mungkin telah berubah. Rasanya kau menjadi, bagaimana kalimatnya … lebih mata keranjang ….”

“Apaaaa?!”

Balasanku adalah kritiknya.

Mungkin dia marah, karena pipinya menggendut merah dan mata cokelatnya menyipit.

“Maaf, maaf, maaf—!” ucapku, meminta maaf dengan panik, karena nyatanya aku berlaku kasar sebab mengeluk-elus kepalanya.

Lilly memotongku dengan cekikikannya.

Aku menatap kosong dirinya, tetapi kemudian suasana hatinya meluas ke diriku dan aku tersenyum.

“T-Tuan Bell, mau minum? Bukan alkohol, maksudku, minum air.”

“Hei, Nona Haruhime, kenapa kau ke sini? Baca suasananya sedikit, duh!” Lilly membentak si manusia rubah yang orang kabur kedua dari pesta.

“Nona Aisha membiarkanku berhenti melayani, jadi aku bergabung ke percakapan intim ini ….!”

“Eeeeehh! Semua yang kau katakan cabul banget! Kau sengaja melakukannya?!”

“Um, kenapa kalian berdebat ….?” Aku menyela.

Pertarungan yang diprovokasi Lilly dengan Haruhime membuatku berkeringat.

Bisa ditebak, beberapa monster mendengar keributan. Ketika sekelompok Metal Rabbit mendekati pintu masuk, sejenak kami harus mencegat serangan pertama mereka.

Begitulah malam pertama ekspedisi

 

Ï

 

Setelah pesta minum-minum sederhana berakhir, keheningan ketenangan hutan menghampar dalam ruangan.

Saat aku dengar-dengar dengan seksama, aku bisa mendengar nafas lirih Lilly dan gadis-gadis lain yang tidur di tenda. Untuk menjaga sopan-santun, Weelf dan Ouka tidur di tempat terbuka, bersandar di dinding ilalang dan kol. Tangan mereka memeluk erat pedang besar dan kapak masing-masing. UUUOOOOOON …. Jauh di ujung lorong, aku mendengar lolongan. Barangkali monster tipe hewan buas, tapi dari cara lolongannya, aku tahu dia jauh. Aku putuskan tidak jadi ancaman.

 Aku sudah bertugas jaga sejak pesta dimulai. Salah satu botol yang diisi Lumut Lampu di kakiku, menerangi jalan masuk samar. Ketika aku melihat sekeliling, aku melihat ruangannya berangsur-angsur tapi pasti sedang memperbaiki dirinya sendiri. Untuk jaga-jaga saja, aku terus memahat dindingnya dengan pisau.

Duduk di atas tunggul dan mmebuka arloji rusak yang dipinjamkan Lilly kepadaku. Sudah jam dua. Hampir waktunya seseorang mengambil tempatku.

“….?”

Aku mendengar suara gemerisik kain dan berbalik.

Seorang wanita muncul dari tenda dan berjalan menghampiriku. Rambutnya panjang dan kakinya indah. Lumut Lampu yang tetap hidup bagai cahaya bintang di langit-langit menyinari pakaian perang tipisnya, mengingatkanku akan pakaian penari, dan kulit kecoklatan tanpa noda.

Itu Aisha.

“Nona Aisha ….? Aku kira Welf dan Ouka giliran selanjutnya!’

“Tentu saja. Aku barusan menyelesaikan giliranku.”

“Jadi ada apa?”

“Apa yang akan kau lakukan seandainya aku bilang aku akan merayap ke tempat tidurmu?”

Aku melompat dari tunggul pohon dan menjauh membisu darinya. “Bercanda doang!” kata Aisha, namun senyumnya membuatku tidak yakin dia bercanda atau tidak.

… dia betulan cantik.

Aku berpikir demikian selagi berdiri di depan sang Amazon. Cukup dekat untuk disentuh dan tersenyum menggoda. Tetapi biarpun dia cantik, daya tarik seksnya sedikit mengintimidasiku. Hal serupa berlaku pada sorot mata sipitnya yang menatapku.

Aku tidak tahan kesunyian ini, jadi kucoba membuat perbincangan. “Um … seharusnya kukatakan lebih awal, tapi terima kasih, Nona Aisha … karena ikut dalam ekspedisi kami ….”

“Tidak masalah. Aku rencananya mau mengajakmu membantu salah satu ekspedisi kami, sih. Waktunya sempurna.”

Apabila dia menambahkan, “Sebagai imbalan membantu situasi Xenos,” aku takkan mendapat tanggapan. Ditambah lagi, terlepas dari akta-katanya, dia mungkin merisaukan Haruhime. Aku balas tersenyum kepada wanita kasar dan kejam yang benci formalitas itu. Dia menypau poni di wajahnya.

“Aku pikir kau marah,” akui dirinya. “Huh?” “Itulah sebabnya aku datang memeriksamu.”

Mengalihkan pandangannya dariku ke lorong panjang dan suram. “Ada lorong yang menghubungkan ke lantai dalam tepat di sana. Besok kita akan menyerang lantai 25, tujuan kita.”

“….!”

“Kau boleh jadi tak sengaja mendengar percakapan kami, tapi di lantai selanjutnya—lantai dalam—semuanya akan sangat-sangat berbeda.”

Lantai 25.

Bagi familiaku dan diriku, itu adalah wilayah tak dikenal. Ini pertama kalinya kami akan melangkah ke lantai dalam.

Permulaan ini dikenal sebagai Batas Kedua, sebagaimana Batas Pertama di lantai menengah. Bahkan di antara petualang kelas atas, hanya kelompok tertentu yang pernah melewatinya.

“Tahukah para petualang menyebut zona di bawah lantai 25 apa?”

“… tidak.”

“Aku mendengar istilah itu digunakan pada hari-hari awal penjelajahan Dungeon, namun masih kami gunakan hari ini …. Namanya Dunia Baru.”

… Dunia Baru.

Ungkapan itu dan implikasinya atas wilayah tak diketahui, mengirim riak-riak ke dadaku. Amazon melirik ke tenda.

“Andai kau tersandung, party-nya akan tersandung. Beginilah jenis party ini.”

“….”

“Jadi, aku tanya sekali lagi … apakah kau takut?”

Sepotong lumut lepas dari langit-langit dan jatuh ke antara kami. Seandainya aku menutup mata, aroma hijau subur yang memenuhi angin hampir membuatku berpikir sama sekali tidak berada di Dungeon melainkan di hutan permukaan. Di hutan sendirian bersama Aisha.

Aku sepertinya mendengar gemerisik-gemerisik daun gaib oleh angin. Diam-diam menarik nafas dan menahannya, lalu perlahan menjawab pertanyaan Aisha. “Bohong kalau bilang aku tidak takut … tapi ….”

Memindahkan pikiranku. Percakapan yang kudengar sebelumnya bersemayam dalam telinga.

naga-naga melompat di lantai bawah sana.

—Dan bukan itu yang terburuk. Ada kawanan monster yang kesemuanya sekuat bos-bos lantai.

Dalam dunia tak terbayangkan itu ada orang tertentu—idolaku.

Di luar Dunia Baru yang akan kita langkahi.

Orang itu berdiri di garis depan Dungeon, yang tak kubantah julukan neraka.

“Namun aku masih ingin bergerak maju.”

Mengepalkan tangan yang kutekan ke dada tanpa bicara. Memang benar. Faktanya aku ketakutan. Tidak peduli sekuat meneguhkan kehendakku untuk menjadi kuat, aku tak bisa berhenti gemetar.

Namun keinginanku untuk mencapai tempat itu melebihi rasa takutku.

Itu perasaanku.

Tidak punya waktu untuk panik.

“… aku menyukai raut wajahmu. Jauh lebih baik daripada waktu itu,” tutur Aisha, matanya menyipit. “Aku nyaris tidak mengenalmu.”

Pakaian ungunya bergoyang, dia sangat dekat sampai-sampai kami hampir bersentuhan, aku kaget.

“Panggil aku saat kau merasa seakan berapi-api dan tak bisa tenang. Akan kupinjamkan tubuhmu kapan saja.”

Ucapannya, berbisik di telingaku, membuatku merinding. Nafas menggodanya terus mendekam di leherku walaupun dirinya sudah kembali ke tenda, tersenyum.

Seketika dia menghilang, aku membiarkan pipi meronaku didinginkan angin dingin Dungeon. Kepalaku bersih dari gangguan, kepalan tanganku menurun.

Menyerang lantai dalam.

Petualangan Level 4 pertamaku.

Mengalihkan pikiranku ke hari yang ‘kan datang, tatkala menghadapi yang tak diketahui dengan teman-temanku.

 

Catatan Kaki:

  1. Podao (朴刀) pada awalnya merupakan senjata infanteri yang masih digunakan untuk pelatihan di banyak seni bela diri Cina. Podao ini juga dikenal sebagai pedang penyayat kuda karena digunakan untuk mengiris kaki kuda dari bawah selama pertempuran. Mata pedang dari Podao berbentuk seperti pedang Cina, tetapi memiliki pegangan yang lebih panjang sekitar satu setengah sampai dua meter (sekitar 4-6 kaki). Tampaknya agak mirip dengan Guan dao tetapi perbedaannya adalah bahwa Podao memiliki pedang lebih ringan dan lebih panjang yang meruncing di suatu ujungnya dan menjadi senjata infanteri, sementara Guan dao memiliki pedang yang lebih berat dan biasanya menjadi senjata kavaleri.
  2. Risotto /rᵻˈzɒtoʊ, rᵻˈzoʊtoʊ/ (bahasa Italia: [riˈsɔtto]; Italia Utara: [riˈzɔtto]) adalah hidangan nasi campur khas Italia Utara, yaitu beras yang dimasak dengan kaldu sehingga lengket menyerupai krim. Kaldu yang digunakan dapat berasal dari daging, ikan, atau sayuran. Banyak jenis risotto mengandung mentega, keju, anggur, dan bawang. Risotto adalah cara paling lazim memasak nasi di Italia. Di Italia, risotto biasanya disajikan sebagai primo (hidangan pembuka), disajikan sebelum hidangan utama. Akan tetapi risotto alla milanese, (diucapkan [riˈsɔtto alla milaˈneːse]), seringkali disajikan bersama dengan ossobuco alla milanese.

 

 

5 Replies to “DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 12 BAB 2”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *