DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 12 bab 1

Posted on

Kelinci Mendekat

Penerjemah: Alghifari

“Terima kasih.”

Bell berdiri dan membungkuk kepada Hestia.

“Jadi, butuh dua bulan dari Level 3 ke Level 4? Terakhir kali naik level perlu satu bulan, jadi menaikkan level sekarang lebih sukar … tapi, waw, pertumbuhanmu benar-benar mencengangkan.”

“Uh … maaf.”

“Minta maaf buat apa?”

Hestia dan Bell ada di dalam salah satu ruangan Hearhstone Manor. Bell duduk di tepian tempat tidur selagi Hestia memperbaharui statusnya hingga dia bangkit berdiri dan mengambil lebar stats dari Hestia dan duduk kembali. Di samping Bell, Hestia menghadap bawah. Seraya Bell melihat-lihat tulisan Koine, ekspresinya tetap tenang—lebih tepatnya, sungguh-sungguh.

Tidak kelihatan terkejut ketika mendengar dirinya naik level.

Barangkali dia merasa hal itu akan terjadi—sensasi wadahnya akan naik ke tingkatan berikutnya.

Bagaimanapun, dia berhasil melewati perjuangan hidup mati melawan saingan terbesarnya.

“Bell.”

“Ya?”

“Black minotaur itu …. Asterios, ya? Apakah dia … kuat?” “… Ya.”

Bell mengangguk seolah sedang merenung.

Guild menentukan kelas black minotaur—secara resmi, dinobatkan sebaagai subspesies black rhino, seekor mahluk yang ditemukan di Lantai Dalam—Level 7. Guild mencatatnya sebagai monster kelas satu berdasarkan fakta amukannya di kota, melawan banyak petualang-petualang, termasuk beberapa anggota Loki Familia, mensamakan bahayanya dengan Monster Rex.

Bell belum membunuh Asterios, namun dialah satu-satunya orang yang melawannya secara langsung. Seorang petualang Level 3 menghadapi monster Level 7 dan kembali hidup-hidup. Tak salah lagi, suatu prestasi luar biasa. Jelas pantas membenarkan kalau Bell naik level, meskipun dia kalah oleh Asterios.

Namun kasus anak laki-laki ini ….

Hestia memikirkan situasi terkini. Kekalahannya mungkin berarti hal besar bagi Bell. Seperti yang Freya katakana di acara Denatus terbaru, sejumlah excelia mempunyai arti khusus, dan kasus Bell adalah salah satunya. Ketika Hestia memandangi bocah laki-laki yang mantanya menunduk seolah mengingat ingatan tertentu, dewi tidak bisa tak merasa bahwa itulah masalahnya. Takdir adalah kata yang tepat untuk menggambarkannya.

Tentu saja, dasar untuk naik level telah ditentukan terlebih dahulu sebelum bertarung melawan Asterios. Bell sudah berjuang melawan Ishtar Familia, kemajuan stagnannya menuju lantai Dungeon ke dua puluh, dan pertarungannya melawan pemburu-pemburu demi membela Xenos. Tidak salah lagi—semenjak dia mencapai Level 3, Bell terus mengumpulkan excelia tingkat tinggi yang esensial untuk naik level.

Pertarungan melawan Asterios hanyalah dorongan terakhir saja. “… omong-omong, tentang statusmu …. Seperti biasa, hitungan kemampuan dasarnya diatur ulang. Hanya ada satu kemampuan pengembangan yang bisa dipilih ketika kau naik level, jadi aku biarkan dan berikan kepadamu keputusannya. Tidak apakah?”

“Ya, tak apa.”

“Juga, kau mungkin sudah menyadarinya, tapi … kau punya keterampilan baru.”

Hestia telah menghilangkan sifat mediatifnya dan memperbarui status Level 4-nya. Bell mengangguk tegas, seakan menerima hal bagus, namun tanggapannya itu saja. Hestia mengalihkan pandangan ke punggungnya.

 

Level 4

Kekuatan                : IO

Pertahanan            : IO

Ketangkasan         : IO

kelincahan             : IO

Sihir                         : IO

Keberuntungan    : G

Kekebalan              : H

Luput                       : I

Firebolt

* Keterampilan Swift-strike magic

Liaris Freese

*Pertumbuhan pesat

*Semakin bertambah hasrat, semakin besar pula pertumbuhan

Argonaut

*Aktif otomatis dengan tindakan pasif

Ox Slayer

*Ketika melawan minotaur, seluruh kemampuan secara eksponensial ditingkatkan

 

Pertama-tama, kemampuan perkembangan terbarunya adalah Luput. Menurut informasi yang diberikan Guild, kemampuan ini sangat meningkatkan kecepatan manuver menghindar. Lebih sederhananya lagi, memungkinkan pengguna kabur secara cepat. Hanya muncul di Level 4 atau ke atasnya, langka juga … namun di sisi lain, kemampuan tersebut dianggap tidak terhormat sebab hanya muncul pada petualang-petualang yang betul-betul hebatnya cenderung melarikan diri di masa lampau.

Kalau dipikir-pikir, semenjak Bell masih petualang Level 1 hingga saat ini, Bell selalu dikejar-kejar sesuatu. Dari minotaur dan silverback sampai Apollo Familia hingga Ishtar Familia, kisah Bell Cranell adalah linimasa pelarian.

Hestia mengetahuinya, dan dia menerima bahwa kemampuan ini mewujud untuk Bell. Hestia memang punya semacam pemikiran mengenai masalah ini, tapi ujung-ujungnya, pengembangan kemampuan sangat jarang dan penting memang untuk menggunakan segala hal yang tersedia.

Hestia lebih tertarik pada keterampilan ketiga.

Ox Slayer adalah keterampilan tipe pembunuh, berarti hanya dapat digunakan untuk melawan musuh jenis tertentu.

Sekarang ini, hampir tidak usah menjelaskan latar belakang kemunculannya. Itu cuma naluri, potensi, serta hasrat si bocah, termanifestasi melalui perjuangan fana melawan musuh lamanya. Kemungkinan besar, keterampilan tersebut membuat Bell bisa menarik kemampuan bertarung melampaui levelnya kapan pun berhadap-hadapan dengan Asterios atau monster tipe minotaur lain. Dapat membuat Bell seorang Ox Slayer dalam nama maupun kenyataan.

Hestia diam-diam memeriksa lembaran status, namun saat ini sekarang perlahan-lahan dia alihkan pandangannya.

“….”

Bell tampak seolah akhirnya tersadar.

Tak seperti sewaktu dia naik level di masa lalu, kali ini dia tak bermain-main bak anak kecil bersemangat. Namun walaupun ekspresinya tenang, dia lupa kembali mengenakan pakaiannya, matanya praktis membakar lubang di seprai. Setelah menerima kekuatan barunya, Bell sungguh-sungguh tenggelam dalam renungannya, seakan-akan tengah merenungkan semacam adegan jauh.

Sang dewi belum pernah melihatnya seperti ini.

Dia berubah, pikirnya dalam hati.

Hasrat sempit sama untuk tumbuh lebih kuat masih terpancar perkasa dalam tubuhnya. Tetapi perasaan dan makna dalam kata-kata itu telah berubah.

Dia meninggalkan masa lalunya, menjadi lebih bersahabat. Boleh jadi beginilah gambarannya. “Kau seriusan … jadi semakin keren dan keren aja.” “Hah?”

“Tidak, tak usah dipikirkan.”

Berbeda dengan dewa-dewi yang tetap sama selamanya, Bell berevolusi, dan bohong jika Hestia bilang itu tak membuatnya sedikit kesepian. Namun perasaan itu telah melebihi kegembiraan murni—baik sebagai dewi pelindung dan seroang gadis—atas pertumbuhan anak bocah itu.

“Hei, Bell, dengarkan ini.”

“….?”

“Aku punya nama lain sebagai simbol atas perbuatanku dan juga semacam gelar …. Vesta1

“Vesta ….”

“Benar. Dalam bahasa para dewa, artinya api kudus.”

“… kenapa bilang ini sekarang?”

“Oh, aku tidak tahu. Aku menatapmu dan cuma ingin memberitahumu saja.” Bell mendongak, Hestia menyipitkan matanya dan sedikit menyeringai. Masih duduk di sampingnya di tempat tidur, memalingkan matanya ke langit-langit, dipejamkan, membiarkan senyum di wajahnya melebar.

 

Αγία

 

Suara langkah kaki bergema di udara diikuti angin lembut. Di bawah langit biru, Orario tidak terasa terlalu panas ataupun sebaliknya. Suhunya nyaman sekali. Musim panas telah usai, angin sepoi-sepoi yang menyapu kulitku menghadirkan sedikit musim gugur yang masih jauh. Tak lama lagi akan menjadi musim panen.

Di sanalah kepalaku pergi sewaktu menatap pemandangan di luar dinding kota—pemandangan hutan hijau, padang rumput terbuka lebar, dan deretan pegunungan sedang.

Sekali lagi, aku berada di atas dinding kota. Selama beberapa hari terakhir semenjak statusku diperbarui, kaki menuntunku ke tempat ini seakan-akan karena kebiasaan.

Ataukah bisa jadi aku ingin mengirim pesan ke labirin bawah tanah itu, tempat janji dan pertarungan terakhirku menunggu … menyatakan bahwa levelku sudah naik, kini kakiku muai bergerak sungguh-sungguh.

“… demi melangkah maju, apakah aku perlu istrirahat?” istrirahatkan jiwa dan ragamu baik-baik.

Demikianlah yang diucapkan Hestia kepadaku setelah insiden Xenos berakhir.

Mendesak diriku tanpa henti selama sepuluh hari setelah Ikelus Familia awalnya menimbulkan masalah. Sekarang, setelah aku bebas dari pergolakannya, aku menyerahkan diri pada kedamaian dan relaksasi. Itu pun bagian pekerjaan petualang. Dewi benar seketika dirinya berkata bahwa istrirahat seorang prajurit sangatlah penting. Berkat sarannya, tubuhku dalam perjalanan menuju pemulihan total.

Selain kondisi fisikku sendiri, banyak senjata dan perlengkapan yang setengah hancur, atau hilang sehilang-hilangnya. Sekarang ini, penempa kami, Welf, kebanjiran pekerjaan perbaikan dan mengganti semuanya—meskipun dia kedengaran teramat senang tatkala bilang kepadaku bahwa ini adalah kesempatan untuk membuat barang-barang baru. Jadi waktu ini termasuk masa persiapan karena aku menunggu perlengkapan baru siap.

Sejujurnya, sih. Aku tidak bisa diam.

Aku berjanji akan menjadi lebih kuat, sumpah itu menderu dalam dadaku.

Tapi saat ini, sebagaimana imbuh sang dewi—mestinya aku beristrirahat. Harus menahan hati tak sabaran dan membangun diriku untuk menghadapi tantangan yang ‘kan datang. Mengingat bayangan punggung lawanku yang menuju Dungeon dan melihat telapak tanganku.

… rasanya aneh.

Aku terlampau tenang, dan ketenangan ini menurutku aneh. Dahulu, aku akan gelisah pada waktu-waktu seperti ini, mencari sesuatu untuk dilakukan dan bergegas maju. Tetapi saat ini, aku amat tenang sekali sampai-sampai aku sendiri terkejut.

Kala musuh layak itu mengalahkanku, penyesalan dan frustasi menguasaiku, aku menaangis menyedihkan. Tapi sesudahnya, sesuatu tampaknya berubah dalam diriku.

Membicarakan perubahan ….

Semenjak hari itu, lingkunganku sedikit berubah juga.

Pertama-tama, perlakuan kasar dari penduduk kota telah melunak. Perubahannya tidak sedramastis seusai aku mendominasi Permainan Perang, paling tidak aku bukan target sumpah serapah dan hinaan. Lilly bilang orang-orang kota mulai menganggapku berbeda setelah menyaksikan pertempuranku … dan memang benar banyak orang lebih sering menyapaku di jalanan sekarang, terutama kurcaci-kurcaci emosian.

Kejutan terbesarnya adalah ketika Lai dan anak-anak lain dari panti asuhan mengunjungi kediaman kami. Yang mengejutkanku, Maria membawa mereka ke pintu depan kami, dan meminta maaf kepadaku. Anak-anak pun mengucapkan terima kasihnya. Kami minta maaf telah mengatakan semua hal buruk itu, terima kasih sudah menyelamatkan kami, kau keren banget … bohong andai aku tidak senang mendengar Lai dan Fina menyampaikan kata-kata tulus sambil tersipu malu. Tapi di saat yang sama aku merasa tidak enak.

Lai dan anak-anak lain tidak mengetahui Xenos. Mereka cuma berpikir aku telah menyelamatkan mereka dari monster menakutkan. Itu pun berlaku kepada masyarakat. Lilly kebetulan ada di sana bersamaku sewaktu anak-anak datnag, dan kami berdua sama-sama bersalah. Gelombang kesedihan yang tak sanggup kuutarakan dengan kata-kata naik dari dadaku. Tetapi Ruu si setengah elf segera menghapus perasaannya

“Bang …. Abang benar. Makasih … sudah bertarung demi kami semua.”

Membenamkan wajahnya dengan bahagia di perutku, dan kata-katanya … menyelamatkanku.

Selayaknya anak-anak lain, mereka tak tahu apa-apa soal Xenos. Tapi bagiku, kedengarannya hampir seperti menegaskan keberadaan Wiene dan Lido dan lainnya. Jeelas ada air di mataku kala diriku diam-diam memeluknya dan mengembalikannya ke kelompok.

“….”

Kini, aku berdiri di sini, di dinding kota, memikirkan kembali adegan itu sembari menikmati sensasi tiupan angin di antara dinding pembatas dan jalan setapa. Pelan-pelan, aku berbalik.

Merasakan eksistensi dan jejak dua orang. Sesaat kemudian pengunjung muncul di bagian atas tangga yang merngarah ke dinding tingkat atas.

“Hei, Bell.”

“Tuan Hermes ….”

Dewa berambut kuning jingga bersama pengikutnya Asfi. Dengan santainya memberi salam dengan menyentuh topi musafir berbulu.

Tatkala itulah, aku melihat sesuatu.

“Anu …. Tanda merah di wajahmu itu apa? Kelihatannya seseorang menendangmu ….”

“Aku mampir ke kediamanmu dalam perjalanan ke sini …. Haha, waktu bertemu Hestia dia menendangku.”

Aku langsung berkeringat mendengar penyebutan tendangan sedangkan Asfi menghembuskan napas. Hermes—bersama jejak kaki Hestia jelas di wajah tampannya—tertawa hampa. Tapi mudah menebak mengapa Hestia bertindak sangat jahat.

“Bell—maafkan aku.”

Seolah dia membaca benakku, Hermes menegakkan punggungnya dan meminta maaf padaku. Lalu menempelkan topinya ke dada dan membungkuk, dari segala segi laksana seorang bangsawan. Aku menatapnya. Asfi juga terlihat kaget, rupanya tidak menduga hal ini.

“Aku ingin meminta maaf terkait kejadian Xenos. Aku memanfaatkan Gros dan monster-monster lain kendati aku tahu itu akan menyakitimu.”

Lima hari yang lalu, setelah mengirim Wiene dan Xenos lain, aku melawan Gros dan Xenos bersayap. Aku tahu itu bagian dari plot Hermes. Mendesak Xenos dan berharap aku akan menghancurkan mereka. Tidak salah Hestia menyerang Hermes ketika mendatangi kediaman kami karena dewi marah oleh skemanya.

Namun Hermes tak memberitahuku mengapa dia melakukannya. Yang dia katakan, “Kau membenciku?”

“… entah,” jawabku jujur. “Tidak kumaafkan atas perbuatanmu kepada Gros dan monster lain … tapi kau menyelamatkan dewi dan aku berkali-kali dulu. Aku … tidak tahu harus berpikir apa.”

Apakah tindakannya sesuai tipikal tidak jelas seorang dewa dan menikmati situasinya sebagai sambutan pengalih perhatian? Semisal dia mengkaim itu, aku mungkin mempercayainya. Tapi naluri mengatakan bahwa dia tak membantu kami dan beraksi di belakang layar cuma untuk menghibur dirinya sendiri. Aku kira dia bertindak sesuai idealisme tertentu atau keinginannya sendiri.

Hermes berdiri dari bungkuknya dan tersenyum terhadap jawabanku.

“Sekiranya kau tidak memaafkanku, tak apa. Tidak usah memahamiku. Tapi—aku mungkin akan terus mencampuri hidupmu. Aku tahu sekarang mungkin kau akan membenciku, dan ke depannya juga.”

“Mengapa?”

“Yah … karena aku penggemarmu.” aku pernah dengar ungkapan itu di suatu tempat sebelumnya. Namun sekarang, ekspresi di wajah Hermes bukanlah senyum lembut dan khas. Sebaliknya, matanya menyipit dan sudut mulutnya terangkat mengingatkanku akan dewa yang menatap anak-anaknya dari surga.

“Pokoknya, aku melakukan apa yang harus dilakukan. Aku ingin bertanggung jawab atas rencana jahatku saat ini karena sudah mengakuinya. Aku pun sudah datang ke depan Hestia, jadi aku akan pergi.”

Menggeser topi di kepalanya dan berbalik dariku. Selanjutnya, bak angin temperamental, dia pergi.

“Bell Cranell …. Seumpama kau dapat mengerti hal-hal secara rasional, aku memintamu untuk tidak membencinya.”

Asfi tetap tinggal di belakang, sejenak, menatap sosok dewa pelindungnya laksana seorang ibu yang mengurus anak nakalnya.

“Terlepas dari perbuatannya, dia mencemaskanmu,” tukasnya sebelum membungkuk dan berbalik.

Aku melihat keduanya menghilang menuruni tangga. Tepat setelahnya, ibarat menggantikan mereka, pengunjung lain tiba.

“—yah, yah. Tidak kusangka kunjunganku sebertepatan Dewa Hermes.”

“Fels ….”

“Aku tahu kau pasti menebaknya ini aku. Sepertinya pemilihan waktuku buruk, seperti yang dikatakan dewa-dewi.”

Mengangkat tudungnya, penyihir berpakaian hitam muncul begitu saja. Fels mengenakan tudung hitam yang menyembunyikan wajah di dalamnya dan sarung tangan berwarna serupa. Penyihir hantu itu berbalik menghadapku, jaraknya masih sekitar lima langkah.

“Apa selama ini kau bersembunyi?”

“Ya … aku pikir mungkin bakal murka jika menghadap Hermes secara langsung, jadi aku menunggu sampai mereka minggat.”

Aku yakin mendapat banyak pengunjung hari ini.

Tampaknya Fels belum memaafkan Hermes juga. Mungkin ketidaksukaan, atau lebih tepatnya sang penyihir dipenuhi perasaan rumit terhadap sang dewa. Lagipula, Hermes nampaknya menerima banyak anggapan buruk. Bayangan seringai di wajahnya dan sedikit kata-kata menyakitkan muncul dalam ingatanku.

Jubah hitam itu gemetaran seakan pemakainya mendesau, selanjutnya pandangan Fels tertuju padaku.

“Karena semuanya sudah kelar, aku datang memeriksa keadaanmu. Apa kau merasa seperti diri dulumu lagi?”

“Ya.”

“… ekspresimu berubah sedikit. Kabar dirimu naik ke Level Empat baru saja sampai di Guild …. Bagiku, kau sama saja Bell beberapa hari lalu—walau, tentu saja aku tidak punya bola mata,” canda tengkorak itu, menatap kagum diriku.

Rasanya seperti aku orang yang seratus persen berbeda …. Benarkah itu? Aku tentunya tidak tahu.

Yang aku yakini adalah keinginan untuk memperoleh kobaran api yang lebih kuat dan jauh lebih ganas dalam dadaku, tak seperti sebelum-sebelumnya.

“Bell Cranell, boleh bertanya sesuatu?” “Apa itu?”

Fels berhenti sejenak, lanjut berbicara perlahan.

“Sudahkah kau memilih … apa yang kau lakukan berikutnya?”

“….”

Aku tetap diam. Untuk mengejar idolaku, menepati janjiku kepada Wiene, menyelesaikan masalah dengan sainganku … aku paham kudu melakukan apa. Sudah kuputuskan. Namun butuh beberapa detik untuk menjelaskannya.

“Aku berencana masuk ke Dungeon lagi. Agar … menjadi lebih kuat.”

Seiring angin bersiul di sekitar dinding kota yang menjulang tinggi, Fels menatapku. Tatapan balasanku tidak goyah. Sang penyihir mengangguk.

“Roman-romannya hatimu sudah bulat …. Tapi aku juga mendeteksi sedikit keraguan.

“….”

“Aku tak ingin kau mati. Sebagaimana yang Lido katakan di Desa Tersembunyi, itu harapan paling jujurku. Karenanya, aku berniat mencampuri urusanmu sedikit—meskipun tidak bisa sepenuhnya menghilangkan keraguanmu.”

Penyihir berpakaian hitam diam-diam mengangkat satu tangan.

“Bell Cranell, akan kuberikan dirimu satu alasan bertarung.”

Poin-poin Fels melampaui kakiku, pada lanskap yang melebar jauh, jauh di bawah.

Kau harus menyelesaikan lantai terdalam Dungeon. Misal tak kau lakukan, ras manusia dan Xenos takkan pernah bisa hidup berdampingan.”

“….!”

Fels terus berbicara selagai aku berdiri diam, menatap.

“Tentu saja, Ouranus dan aku akan terus membantu mereka … tapi ujung-ujungnya, kiranya kau tak sanggup menanganinya, maka masa depan yang kita berdua harapkan takkan sampai.

Lantai terdalam Dungeon.

Perlu satu menit agar kata-kata itu menembus setiap sudut keberadaanku sehingga bisa dipahami.

Pelan-pelan, mulutku terbuka untuk berbicara. “Apa … yang ada di lantai terdalam Dungeon?”

Apa itu Dungeon? Aku mengajukan pertanyaan itu kepada dewi sebelumnya. Fels menjawabku dengan suara lirih.

“Sumpahmu … dan bagaimana kau akan menyelesaikan pertempuranmu.”

Kata-katanya, begitu hening sampai-sampai hampir ditenggelamkan angin, mengisi jarak di antara kami.

Fels belum menjelaskan alasan kenapa aku harus membersihkan lantai terdalam Dungeon, atau bagaimana bisa terhubung ke Xenos. Satu-satunya hal yang diungkapkan hanyalah kebenaran yang sulit diterima, dan tekad yang kemungkinan besar dari Ouranus.

“Bell Cranell, apabila kau ingin membantu Lido dan Xenos-Xenos lainnya … tolonglah cari cara untuk terus bergerak maju.”

“….”

“Semoga cahaya menyertai perjalananmu.”

Selesai berbicara, Fels mengibaskan tudungnya, dilempar, dan menghilang dari pandangan. Suara langkah kaki yang didengarkan telah memudar, dan keheningan jatuh ke sekitarku.

Sendirian di dinding kota sekali lagi, berbalik dan menatap pemandangan di depanku. Menara besar menyapu langit, dan di bawahnya, sebuah labirin raksasa terhampar di dasar bumi.

 

Ύ

 

Di lantai tiga puluh Babel, bangunan raksasa di tengah-tengah Orario, hiruk-pikuk tidak biasa memenuhi aulanya. Denatus sedang berlangsung.

Dewa muda dan tua, pria dan wanita, menghadiri semacam dewan penasihat yang akan segera dimulai. Mereka semua punya kebanyakan waktu kosong.

“Sudah lama sejak Denatus terakhir, ya?”

“Gara-gara waktu yang tepat untuk menyelenggarakannya, Ikelus Familia menyebabkan masalah itu.”

“Siapa yang bisa menghelat Denatus di tengah-tengah kekacauan?”

Pertemuan seharusnya diadakan setiap tiga bulan, tetapi karena peristiwa seputar Xenos, Denatus terbaru telah ditunda. Sekarang, setelah berulang kali ditunda, para dewa mengobrol penuh semangat selagi berkumpul di aula besar. Beberapa bahkan melakukan persiapan, biarpun tidak diperlukan.

Hermes tidak hadir …. Yah, mungkin itu untuk yang terbaik. Seandainya aku melihatnya lagi secepat ini setelah kunjungannya, mungkin bakal aku tendang lagi dia!

Hestia duduk di meja besar yang mampu menampung lima puluh orang. Lehernya naik. Masih belum memaafkan Hermes atas perbuatannya, memikirkannya saja membuatnya marah. Mengamati wajah-wajah di aula. Loki, Freya, Miach, Hephaestus, Takemikazuchi, dan Ganesha, kesemuanya datang …. Selain Apollo dan Ishtar yang telah dibuang dan diusir, kerumunan hampir identik dengan pertemuan terakhir. Namun banyak hal terjadi selama tiga bulan terakhir, termasuk konflik antara familianya dan bagian-bagian Apollo serta Ishtar. Hestia tidak bisa tidak memikirkan kembali pusaran peristiwa pusing dan merefleksikan kekayaan waktu dalam versi dunia fana.

“Aku Ganesha! Lebih pentingnya lagi, akulah fasilitator pertemuan ini!”

“Mustahil!”

“Duh, kalau Ganesha moderatornya, aku mau pulang ….” “Bentar, bentar, jangan seburu-buru itu!”

“Baiklah! Aku, Ganesha, akan menceritakan ulang peristiwa kota baru-baru ini!”

Dewa bertopeng gajah dengan penuh semangatnya memulai pertemuan. Pertama kali adarah arahan rutin, yakni informasi perihal kota dan lokasi-lokasi lain ditukarkan. Terlepas dari antusiasme Ganesha, arahannya berakhir hampir sebelum dimulainya pertemuan.

“Ada pertanyaan? Bicaralah—aku senang menjawab pertanyaan kalian apa pun!” desak Ganesha. Akan tetapi, para hadirin, nyatanya tak ingin apa-apa lagi selain menyelesaikan semuanya secepat mungkin. Bagi Ganesha menyedihkan, dia mengabdikan dirinya siang dan malam untuk menjaga perdamaian Orario.

Dia takkan menyebut-nyebut Xenos, kan ….?

Hestia merasa sedikit khawatir perkara topik tersebut, tapi sepertinya Ganesha pun ingin menahan lidahnya.

“Oke, pindah ke Upacara Penamaan, kalau begitu ….” umum Ganesha dengan semangat. Seketika dia lakukan, suasana dalam ruangan telah berubah. Dewa-dewi mendadak penuh kehidupan dan meledak gembira.

“Ya, akhirnya!”

“Ini yang aku tunggu-tunggu!”

“Satu-satunya alasan aku datang hari ini!

Semua orang mengambil salinan dokumen Guild yang diedarkan di meja dan dengan semangatnya dibolak-balik.

Halaman terakhir adalah yang menarik perhatian banyak orang di grup. Di situlah mereka menemukan informasi mengenai manusia berambut putih, buru-buru diperbarui pada menit terakhir oleh karyawan Guild, sama seperti Denatus terakhir. Pemula Kecil, Bell Cranell.

“Belum pernah kumelihat seorang anak muncul di Denatus berkali-kali secara berturut-turut.”

“Ya, tidak bisakah kau percaya dia naik level dua kali, dari Level Dua ke Level Tiga lalu Empat? Ya ampun.”

“Gila!”

Suara-suara keluar dari sekitar meja berbentuk oval. Mereka semua gembira, sorakan dukungan riang. Sang dewi kecantikan tersenyum manis, sementara dewi penipu menyipitkan matanya dan bersenandung.

Bagaimana bisa anak itu bisa tumbuh begitu cepat?

Tak satu pun dewata yang hadir menyampaikan pertanyaan tak sensitif semacam itu. Semua orang setuju bahwa seseorang yang menunjukkan dirinya sanggup bertarung melawan minotaur layak dipanggil pahlawan. Senyum mereka kian dalam dan menyebar ke seluruh meja.

Tidak apa, bakalan baik-baik saja ….

Sementara itu, ekspresi Hestia menjadi lebih kaku dan kaku lagi sedangkan dewa-dewa lain lebih girang.

Grup kami sekarang lebih terhormat, bersama manor besar dan semuanya. Familia kami bahkan telah naik level sama Bell …. Ya, segalanya betul-betul berbeda dari situasi tiga bulan lalu ….! Dan kemampuan angkat bicaraku juga harusnya meningkat ….!

Dewi muda itu meremas tangannya. Meneteskan keringat dan berjuang mengatasi kekhawatiran internalnya, memfokuskan seluruh energinya untuk menghindari gelar yang barangkali mempermalukan Bell.

Segera, Upacara Penamaan akan dimulai dengan sungguh-sungguh. “Baiklah, mari berikan Bell nama panggilan barunya!” “Tunggu, simpan saja hindangan utamanya ke terakhir-terakhir!”

“Yea, orang lain di tempat si Loli itu naik level juga.”

“Ya, ya …. Bocah Pyonkichi itu, Welf atau siapalah itu, kan?”

“Okelah, kita mulai dengan memutuskan nama untuk Welf Crozzo!”

“Ignis sang Membara.”

“Sempurna!”

“Sudah pasti.”

“Yap, sudah diputuskan!”

“Sesuai ucapan bocah itu sendiri, Ini belum cukup tuk memadamkan api yang kau bakar dalam hatiku.”

“Duh, aku sekarat!”

“Memang sudah cocok!”

Seperti itulah, para dewa memutuskan julukan Welf. Hestia ingin melindunginya, tapi dia putuskan ini lebih baik daripada kebanyakan alternatif yang mungkin akan muncul, dan dia biarkan sajalah. Semua sama, bisa jadi menghancurkan Welf ….

Dia melirik ke seberang meja. Dewi dari bengkel, teman dekatnya, cerobohnya membual tentang pernyataan cinta Welf sebelumnya, dan kini kata-katanya kembali menghantuinya. Matanya tertuju ke arah berlawanan saat dirinya merah merona.

“Dua orang dari Takemikazuchi Familia naik level juga.” “Anak dari Timur Jauh!”

“Saranku Kunci Hitam cukup bagus.”

“Chigusa Hitachi …. Dia pemalu, tapi aku tahu dia bakal jadi istri yang baik.”

“Bagaimana dengan Sejoli, Takemikazuchi?” “Lebih baik ketimbang Bayangan Abadi!”

Upacara Penamaan berjalan tanpa hambatan, dan segera, giliran Bell. Hestia yang mengalami kilas balik, menarik napas dalam-dalam kemudian menahan napasnya.

Dewa-dewi lain menyeringai dan bergumam bahwa momen terpenting telah tiba. Sembari bertukar pandang ibarat bertanya siapa yang akan memulai debat—dewi kecantikan elegan mengangkat tangannya yang muda nan segar.

“Boleh menawarkan pendapat?”

“….?!”

Freya bergerak!

Gumaman menyebar ke seluruh pertemuan. Bukan hanya Hestia yang ketakutan, tapi seluruh Denatus sampai di puncak ketegangan dan kegembiraan.

“Apa, nih? Lady Freya sendiri berminat?” “Jadi sekarang kau penggemar Bell, ya?”

“Benar. Aku tak dapat menahan perasaan gentar ketika menyaksikan pertempuran itu.”

Freya yang terkenal jahat akhirnya memperhatikan si Pemula Kecil! Pastinya pertanda kesulitan yang akan datang.

Para dewa, yang tak tahu apa-apa soal niat sejati keterlibatan Freya, berasumsi minatnya pada bocah itu adalah perkembangan tak terhindari. Lagian, Bell Cranell hampir tak bisa lepas dari pemberitahuan sesudah menyebabkan kegemparan di seluruh kota. Beberapa dewa bahkan curiga sang dewi kecantikan mengembangkan perasaan untuk bocah itu dan penuh sukacita melihat apa yang akan terjadi.

Di antara dewa-dewi, Hestia sendiri sangat gelisah. “Freya … aku yakin kau akan memilihkan nama panggilan yang bagus untuk Bell-ku,” Hestia mengatakannya sembari tersenyum yang senyumnya tak mencapai mata Freya.

“Nah, nah, Hestia, komentar seperti itu malah membuatku lebih gugup,” respon Freya, balas tersenyum. Bahkan dewa yang biasanya akan mencibir Dewi Loli dalam situasi semacam ini, kelewat terpana. Apakah pertempuran terakhir Ragnarok akhirnya tiba?

Satu tangan Freya menempel ke pipinya dan mendeham lalu berkomat-kamit sebelum menyeringai cemerlang.

“Bagaimana kalau Vanadis Odur2, Penyerta Vanadis?” “Hei, hei, heeeeeeeeeeeiiiiiiii!”

Hestia membanting kedua tangannya ke atas meja dengan suara bantingan keras dan bangkit berdiri.

“Penyerta bapak kau! Bell milik familiaku!” “Apa, kau tidak menyukai saranku?” “Bagian mana yang disukai?!”

Semua orang tahu bahwa Freya adalah dewi yang sangat bergairah. Sekilas, dewata mengesampingkan pertanyaan perkara proposal awalnya tulus, lelucon, atau upaya ikut campur dalam urusan Hestia dan mengobrol ceria. Pendukungnya sungguh bersemangat untuk melihat peragaan tingkah ratunya sekali lagi di Denatus.

Sekalipun dewi pelindung bocah itu langsung menjatuhkan saran Freya, dewi kecantikan itu sendiri tak menunjukkan tanda-tanda kesal. Malahan, dia tersenyum nakal dan menarik proposalnya sembari mendesau seraya berkata, “Sayang sekali.”

“Tidak bagus! Vanadis Odur, kau bercanda? Kau terlalu terobsesi seks, dan itu tidak masuk akal,” komentar Loki sambil meraung tertawa.

“Oke, deh, Loki, apa saranmu?” balas Freya. “Hmmm, biarkan aku berpikir ….”

Secara dramastis mengabaikan tatapan Hestia, yang dalam hati berteriak, ‘Jangan menyebutkan hal-hal goblok!’ Loki mengangkat jarinya ke udara.

“Mainan si Bodoh.”

“Keluar dari sini!” Hestia berteriak geram. “Ngomong-ngomong, kenapa juga dia jadi mainanmu?”

“Tak lama setelahnya, semua dewa-dewi menumpuk ke pesta jahat yang Freya dan Loki mulai.

“Ya, aku punya ide! Krim Kastanye!”

“Oh Be-el Menikahlah denganku! Bagaimana dengan Pernikahan Bell?!”

“Baru saja kau membuat delapan puluh persen dewata di ruangan ini melawanmu!”

“Senyum lebar di wajah Freya adalah penampakan paling mematikan yang pernah kulihat!”

“Iiiiiihhhhh!”

“Bacot dan dengarkan laguku! Namanya Pyonkichi Beruntung!” “Menyerah sudah!”

“Pemberani Bertelinga Panjang!” “Kauuuuu kelewat berusaha.” “Dia bahkan tidak punya telinga panjang!”

“Coba jauhkan dari tema kelinci.”

“Bukannya dia punya sifat-sifat beda lainnya? Contohnya, rumor atau informasi lain tentangnya?”

“Kalau dipikir, ada desas-desus bahwa anak itu pecinta monster.”

“Apa ….?”

“Berarti … dia mengejar manusia, juga monster … bahkan kita dewa-dewi?”

“Bagaimana dengan Semua Oke?!”

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHH!” kesabaran Hestia sudah mencapai batasnya. Menjerit, dia melambaikan kedua tangan ke udara. Takemikazuchi dan Miach berusaha menenangkannya, biarpun mereka berusaha, dewa-dewa lain terus mengaum dan tertawa mesum. Hestia berteriak marah. Kekacauan di ruangan sudah memuncak.

Akhirnya, seseorang bilang waktunya untuk serius, para dewa mengakhiri candaan ribut mereka. Dibantu Miach dan Takemikazuchi, Hestia—yang masih terengah-engah—berhasil mendapatkan julukan aman untuk Bell dari pertemuan.

“Sial …. Mereka benar-benar memainkanku.”

Setelah pertemuannya berakhir, Hestia menundukkan kepala di atas meja, betul-betul kehabisan napas. Hephaestus duduk di sebelahnya, nyengir-nyengir.

“Itu karena kau sungguh-sungguh bergerak maju di dunia akhir-akhir ini. Semacam pembaptisan, begitulah,” katanya.

Mungkin sebabnya mereka berhasil menggoda Dewi Loli nakal, para dewa lain meninggalkan ruangan dengan sangat senang. Jumlah mereka termasuk Freya yang melirik dan menyeringai saat kepergiannya, Loki pula yang memeuk perutnya dan mencoba menahan napas setelah tertawa keras bukan main. Tatapan menyipit kritis Hestia mengamati kepergian mereka.

“Tapi pada akhirnya, kehormatan Bell telah dilindungi …. Sebaiknya aku pulang dan memberi tahu semua orang …. Oh, tapi aku hanya pengen istrirahat sebentar ….”

Hestia kelihatannya menghabiskan sedikit energi terakhirnya untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Miach dan Takemikazuchi. Dia terlihat benar-benar kelelahan.

“Hestia, peringkat familiamu naik, bukan?” Hephaestus bertanya kepadanya.

“Hah? Uh, ya, pas Bell naik ke Level 4, familia kami naik dari E ke D …. Kenapa ingin tahu?”

Hestia mendongak sambil memasang wajah bingung kepada temannya, dewi berambut dan mata merah yang duduk di sebelahnya. Seperti yang Hestia jelaskan, mengikuti peningkatan Bell, Guild memutuskan kekuatan bertarung familia telah turut meningkat, dan alhasil menaikkkan levelnya.

Hephaestus mengangkat bahu.

“Kalau begitu, pemberitahuan nanti akan datang.”

“… pemberitahuan?” tanya Hestia, kepalanya memiring bingung.

Sejumlah besar manusia hewan berdesakan di aula.

Orang-orang yang berkumpul di sekitar papan bulletin besar yang ditempatkan di salah satu sudut lobi Markas Besar Guild. Para petualang bergegas ke sana setelah mendengar Denatus telah berakhir, karena julukan yang dipilih pada Upacara Penamaan akan diposting pertama kali di sana. Beberapa warga kota dan pedagang yang penasaran bahkan dapat terlihat di antara kerumunan, berharap untuk sekilas melihat pengaruh para dewa.

Begitu karyawan Guild selesai menyematkan daftar nama, puluhan mata tertuju kepada papan bulletin gabus. Helaan napas kekaguman dan suara-suara gembira juga sedih mulai muncul dari kerumunan.

“… oh, lihat itu.”

“Aku tahu, bisa aku lihat sendiri!”

Kebanyakan penonton mencari satu nama panggilan khususnya. Menjulurkan leher dan menyipitkan mata, mengulurkan tangan untuk menunjuk. Semua perhatian terkumpul pada satu nama, satu petualang, dan keributan menyatu menjadi kasak-kusuk tunggal. Tuan dan pelayan manusia hewan, sepasang saudara perempuan prum berdiri penuh semangat sambil berjinjit, sekelompok elf cantik, preman kurcaci berwajah menakutkan, para Amazon menjilat bibir mereka, semuanya membicarakan satu nama panggilan.

Bell melihat pemandangan itu dari belakang kerumunan.

“Oh … Bell Cranell.”

Ketika seseorang melirihkan namanya, semua petualang secara bersamaan berbalik menghadapnya. Lalu, setelah menyadari kehadirannya, mereka terdiam, seolah hasilnya sudah ditentukan sebelumnya. Bell baru saja tiba di papan buletin, dan saat dia melangkah maju, Bell tersadar pusat perhatiannya adalah dia.

“Permisi, permisi,” gumamnya kala kerumunan membelah untuk membiarkannya lewat. Berjalan melewati jalan yang dibuka orang-orang, berhenti di depan papan kayu besar, dan menatapnya. Mendapati namanya dan membaca nama panggilan yang diberikan kepadanya oleh para dewa.

“Kaki Kelinci.”

Itulah gelar barunya.

Julukan lama yang mencapnya sebagai pemula yang bertumbuh cepat namun belum matang, telah hilang, dan digantikan gelar baru yang memuji penampilan serta kaki teramat amat cepatnya, apalagi diperoleh dalam waktu singkat!

Beberapa petualang di sekitar Bell melotot benci, sementara yang lainnya tersenyum atau nampak iri, tetapi semua orang mengakui prestasi luar biasa dari kelinci pemegang rekor itu. Tidak seperti sebelumnya, tatkala dirinya diejek sebagai petualang palsu, tak ada tanda-tanda kecemburuan, dan menganggapnya pendatang baru kurang ajar. Hanya ada pujian.

Bisa Bell rasakan dengan seluruh tubuhnya, namun dia tak bisa menahan perasaan malu. Berbalik ke arah meja resepsionis, berharap bisa keluar dari keramaian dan berkonsultasi dengan penasihatnya. Mencari-cari elf blasteran dari antara resepsionis yang sedang melihatnya dan mengobrok dengan suara-suara gadis, tapi—

“… Nona Eina?”

“….”

Resepsionis setengah Elf cuma menatapnya. Seakan-akan mata zamrud indah dari balik kacamatanya tengah menonton adegan jauh lainnya, pipinya memerah seakan-akan sedang pilek.

Bell takt ahu harus apa, sebab Eina berdiri diam membatu.

“Eina, Eina. Tuan Bell di sini, lihat!”

“—!”

Eina mulai tersadar kala rekan kerjanya, Misha, mencubit pipinya. Akhirnya langsung menatap langsung Bell, tetapi Eina segera kehilangan ketenangannya dan merona lebih merah, tergagap, “Uh, um, oh?!” bingungnya tak biasa, gadis itu menarik sesuatu dari meja konter.

“B-Bell! A-ambil ini!”

“Hah?”

Dia lagi memegang surat putih murni tersegel.

Bell bolak-balik melihat wajah Eina dan suratnya. Beberapa petualang yang menonton dari sela-sela menjerit, “Tidak mungkin, Nona Eina menulis surat cinta?!” tapi Bell terkejut begitu dia mengambil surat itu.

Dari nuansa amplopnya, Bell langsung tahu kalau kertas itu berkualitas tinggi dan lilin penyegelnya dicetak segel Guild.

Bell pernah melihat surat ini sebelumnya. Memindai ingatannya mencari-cari rincian, tanpa sadar bibirnya bergerak.

“Misi ….?”

 

Catatan Kaki:

  1. Vesta adalah dewi perawan untuk perapian, rumah, dan keluarga dalam agama Romawi. Kehadiran Vesta dilambangkan oleh api suci yang dibakar di perapian dan kuil-kuil. Dewi Yunani yang paling menyerupai dan setara dengannya adalah Hestia.

Singkatnya … Hestia = Nama Yunani. Vesta = Nama Romawi.

 

  1. Odur adalah suami dari Dewi Freya, Odur sendiri pun seorang dewa. Od atau Odur dan menjadi ibu dari dua orang anak perempuan, Nossa atau Hnossa dan Gersimi (Nama kedua anak tersebut sama2 berarti Permata). Entah bagaimana, Od secara misterius menghilang dan Freyja berkelana ke seluruh penjuru dunia untuk menemukan suaminya itu sambil meneteskan air mata emas. Setelah suaminya menghilang (Od), dia menjadi dewi tidak pilih-pilih di antara semua dewi yang ada. Freya mungkin lebih tepat disebut sebagai dewi seks daripada dewi kesuburan.

 

5 Replies to “DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 12 bab 1”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *