DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 11 Epilog

Posted on

Jadi, Aku Berlari Lagi

Penerjemah: Daffa Cahyo Alghifari

Pendar-pendar cahaya samar-samar menerangi kegelapan.

Dalam ruangan besar yang juga diterangi lampu-lampu berbatu sihir, Fels menghadap monster-monster. “Kami sangat menyesali semua ini, Fels. Kami benar-benar teramat menyusahkanmu ….”

“Jangan bilang begitu, Lido. Aku tahu kalau terlibat sama saja menangani pekerjaan besar. Sebetulnya, awal-awal aku enggan melakukannya.”

“… sial, Fels, terima kasih.”

Lizardman mengulurkan tangan monster kekarnya, dan tangan bersarung Fels menjabatnya. Xenos-Xenos lain turut bergabung menuturkan ucapan serta ngeongan dan dengkuran terima kasih.

Mereka berada di salah satu Desa Tersembunyi Xenos dalam Dungeon. Beberapa hari berlalu semenjak pertarungan panjang dalam Distrik Labirin, dan selama itu, Lido jga kawan-kawan kembali hidup-hidup ke desa tempat sisa-sisa saudara-saudara mereka tengah menunggu.

“Bahkan kau pun kembali sehat wal’afiat, Gros …. Keburuntunganmu bukan main, sepertinya,” kata Lido.

“… ya, aku gagal mati,” jawab si gargoyle.

“Seharusnya jangan bilang begitu!” Rei memarahi.

“Aku betul-betul lega, Gros!” kata Wiene.

Fels menonton sambil merasa takzim ketika para monster saling mengobrol.

Setelah pertempuran, Lido, Wiene, Gros, dan Xenos lainnya berhasil bertemu sekali lagi. Hestia, Lilly, dan anggota familia mereka yang menuntun monster bersayap menuju Knossos, karenanya mereka amat berterima kasih. Namun Hestia Familia bersikeras bahwa semuanya berkat Freya Familia yang menghentikan Loki Familia.

Segalanya diawali pertarungan epik antara si bocah dan minotaur. Jika ada satu hal pun menyimpang, adegan di depan Fels kini tak mungkin terjadi. Tidak bila Bell dan Hestia Familia tak di sana untuk meeka.

“Terima kasih sudah menyembuhkan kami semua dengan sihirmu. Kau melakukan banyak sekali sesuatu untuk kami. Ngomong-ngomong, aku punya ramuan sihir kelewat tua yang dulunya dimiliki seorang petualang, kalau kau mau ….” tawar Lido.

“Tidak apa-apa. Aku cuma tulang doang, jadi tidak bisa meminumnya …. Tapi Lido, bagaimana dengannya?”

Selagi menyembuhkan monster-monster lain, Fels merawat luka nyaris fatal minotaur dan bahkan memasang kembali tangan buntung yang sebelumnya dibekukan. Sesudahnya, Asterios mengucapkan terima kasih singkat kepada Fels, itu saja.

“Dia kembali ke Zona Dalam … untuk berlatih lagi.” “… begitu.”

Dia bilang harus menjadi lebih kuat, buat menyelesaikan semuanya untuk selamanya.” jubah hitam Fels berkibar seketika Lido membicarakan prajurit minotaur yang telah menemukan mimpinya. Penyihir tersebut memikirkan Bell yang sama-sama disukai takdir baik ataupun buruk. Bell sungguh mahluk malang.

“… baiklah, Lido. Aku pergi. Ouranus menunggu dengan lebih banyak pekerjaan.”

“Aku mengerti … Fels!”

“?”

“Saat kau kembali ke permukaan, tolong beri tahu Bell ….” “….”

“… tidak, tidak apa-apa. Aku ingin memberitahunya secara langsung. Bagaimanapun, aku sudah berjanji,” tukas Lido, senyum mengkerut terlihat di wajah kadalnya.

“Ya, itu lebih baik.” Fels mengangguk.

“Fels!”

“Ada apa, Wiene?”

“Sampai jumpa lagi! Lain kali, kuharap Bell juga ikut!” katanya, wajah berseri-seri. “… yea, sampai nanti,” jawab Fels, merasa sedikit menyesal sebab sedih karena tidak bisa balas tersenyum kepada sekumpulan Xenos yang hendak menyampaikan selamat tinggal.

Walaupun tidak bisa tersenyum pada dunia yang diselamatkan Bell serta Hestia Familia membuatnya frustasi, akan tetapi, emosi buruknya hanya ditanggapi satu isyarat rasa terima kasih karena mata kerangka tidak pula dapat meneteskan air mata.

 

 

Jauh dari Dungeon, kekacauan di permukaan sementara waktu masih berlanjut. Pekerjaan bersih-bersih di Daedalus Street contoh utamanya. Pemukiman kumuh terutama, perbaikan dilaksanakan dengan amat mendesak agar par apengungsi bisa kembali ke rumahnya. Ada tugas tiada habis yang wajib diselesaikan, dari mendirikan fasilitas tenda sementara buat para petualang dan karyawan Guild untuk menenangkan penduduk. Satu titik terangnya adalah masyarakat sangat terbantu oleh bantuan Loki Familia. Kepala Guild, Royman, kabarnya tenggelam oleh segunung masalah yang terusan tumbuh, dimulai rekonstruksi di Pleasure Quarter.

Di sisi lain, informasi palsu menyebar tentang nasib monster yang muncul di permukaan.

Orang-orang mengatakan selagi Bell Cranell melawan minotaur hitam kejam, Loki Familia telah memusnahkan monster lainnya. Faktanya, rumor tersebut menyebar atas perintah Ouranus yang mengetahui cerita lengkapnya. Bahkan Royman tidak tahu rincian perkara kesepakatan rahasia tuk menyebarkan hoax itu. Mengejutkannya, Loki Familia—yang harga dirinya terluka selama kejadian tersebut—tak menentang skema tersebut.

Banyak anggota-anggota faksi serta petualang kelas satu memiliki opini tersendiri soal insidennya, tetapi mereka menerima negoisasi dan pengumuman Guild. Drop item palsu, diduga dari monster yang dipasangkan harga atas kepalanya, ditampilkan di depan Markas Besar Guild, menarik air mata pahit dari petualang-petualang lain. Dewa-dewi pura-pura sangat berduka, dan penduduk kota merasa bersyukur.

Sedangkan bocah laki-laki pusat semuanya—

“Bukan berarti segalanya kembali normal, tapi aku memang merasa Bell telah menyelamatkan reputasinya bagi kalangan anak-anak. Seakan tatkala akhir permainan perang.”

“Begitukah?” ucap dewa tua.

Hermes tengah duduk di depan Ouranus, memberikan laporan tentang peristiwa baru-baru ini. Sekali lagi, Hermes sedang mengukir potongan kayu selagi duduk di altar yang diterangi empat obor.

“Kendati Bell membiarkan minotaur-nya kabur, banyak orang memujinya. Pertarungan tersebut nampaknya memberikan efek yang terlampau besar.”

Hermes mengangkat bahu sewaktu menyebutkan petualangan si bocah, yang tentu saja sangat familiar baginya. Paling tidak, tidak ada lagi yang merendahkan Bell. Anak-anak kecil barangkali bakal menghormati si pahlawan kecil. Petualang-petualang lain kemungkinan besar mengagumi dan menghargai dan pada akhirnya menerimanya sebagai salah satu dari mereka.

Seintens itulah pertempurannya melawan minotaur.

Asterios tak menyimpan motif tersembunyi. Dia tidak tahu apa-apa mengenai reputasi Bell.

Yang dia cari-cari ialah pertandingan ulang dengan lawan lamanya.

Namun hasil akhir tindakannya adalah para petualang dan orang-orang kota lainnya menyaksikan dengan mata kepala sendiri kehendak kuat bertarung dan membunuhnya. Itu, tak usah ditanya lagi, adalah hal nyata.

Hermes mengatur ukiran Asterios dan pedang bermata duanya di papan catur sebelah kelinci.

“… kali ini aku kalah. Aku dibodohi. Seandainya Freya yang mengendalikanku, maka dia bisa jadi merasa puas, tapi ….”

Hermes melirik minotaur ukirannya dan tersenyum sebal. Kemudian berdiri, menyikat kedua tangannya, dan berbalik menghadap Ouranus di takhtanya.

“Yah, laporanku tuntas. Apa kau punya pertanyaan?” “… bisa aku andalkan bantuanmu kali lain?”

“Apabila kau sanggup berjanji padaku Bell takkan terlibat sama Xenos lagi, maka untuk saat ini aku akan bantu. Sekarang keberadaan Knossos sudah jadi kabar publik, tidak ada gunanya kita bertengkar. Tapi perbolehkan aku bertanya—kau baik-baik saja dengan semuanya?”

“Zeus dan Hera tiada, kekuatan militer atas perintahku terbatas. Aku tak punya banyak pilihan,” respon Ouranus dengan sikap pebisnis. Memainkan peran pilar stabilitas dan kedamaian umum.

“Aku mengerti,” kata Hermes, mengangkat kedua tangannya. “Hestia dan Bell boleh jadi tidak menyukaiku atas semua yang telah terjadi. Sekarang ini, aku akan menghindari perhatian dan melakukan hal benar sesuai keyakinanku.

“….”

“—semuanya sama, tidak mengubah rencanaku.”

Hermes berniat melanjutkan aksinya demi kepentingan pahlawannya.

Mengenakan topi musafir, yang kedua tangannya pegang. Sorot mata kuning jingganya terlihat berkata kepada Ouranus bahwa mereka mungkin akan terlibat lagi di masa depan kelak.

“Izin pamit. Andai aku tinggal lebih lama, aku khawatir sekali lagi akan memprovokasi antipatimu.”

Seusainya, Hermes keluar dari Ruang Doa dan menaiki tangga menuju permukaan.

Beberapa waktu kemudian, suara terdengar dari pintu tersembunyi dan pintu lainnya, jalan rahasia menuju ruangan. Fels muncul dari bayang-bayang.

“Aku kembali, Ouranus …. Ada orang di sini tadi?” tanya si penyihir, melihat papan catur di depan altar.

“Hermes datang.”

Sekalipun Fels wajahnya tidak bisa menunjukkan emosi, jeda singkat tanggapannya sudah cukup mengungkap reaksinya. Sejenak, tudung hitam itu bergetar seakan Fels mendesau.

“Aku menemani Xenos dengan selamat kembali ke desa mereka. Tidak ada nyawa yang hilang selama kekacauan di permukaan.”

“Demikiankah?”

Fels menatap mata sang dewa, yang birunya sebiru langit.

“Tentu saja, kita tidak bisa menunjukkan pentingnya keberadaan Xenos. Masalah antara mereka dan penghuni permukaan tidak mungkin diselesaikan. Jalannya tetap panjang dan keras,” imbuh Ouranus.

“Kejadian baru-baru ini, impian mereka jadi lebih kurang realistis,” jawab Penyihir berpakaian hitam.

“Namun ada manfaat pasti juga.” Fels mengangguk terhadap kata-kata seorang dewa tua.

“Dewa Hermes nampaknya tidak mungkin menerima Xenos … tapi aku memilih jalan yang sama dengannya, Ouranus.”

Banyak emosi berbeda berderak-derak dalam suara yang bergema di seluruh ruangan. Si bodoh abadi, daging dan kulit telah lama sirna, berbicara kepada nyala api obor-obor.

“Aku pun, akan mempertaruhkan segalanya untuk bocah itu.”

 

Στοίχημα

 

“Pemula Kecil Ajaibnya Kembali Hidup-Hidup! Sang Petualang Yang Sendirian Melawan Monster …. Aku tidak tahan sama orang plin-plan ini!”

Welf menatap gulungan yang terbuka itu dan menghela nafas seakan-akan helaannya sudah sekuat tenaga.

“bukannya itu hal bagus, Tuan Welf? Kesalahpahaman tentang Bell sekarang sudah kelar,” kata Mikoto.

“Dan orang-orang kota tidak mengacuhkan kita lagi. Rasanya kau berhutang sesuatu pada mereka … tapi itu menghilang akan seiring berjalannya waktu,” tambah Haruhime, berusaha menghibur temannya yang tengah membaca bulletin berita utama yang beredar di kota.

Kini setelah Hestia Familia telah menyelesaikan apa yang perlu diselesaikan, terbebas dari ketegangan beberapa hari terakhir, mereka bersantai bersama di ruang tamu rumah mereka.

“Para petualang yang melihat Tuan Bell dan diriku sungguh-sungguh menghilang karena semuanya juga telah berakhir,” ucap Lilly, memandang jendela ruangan besar tersebut.

“Ya, dan aku yakin semua hal mengenai nilai akan hilang saat kita kembali … bagaimanapun juga kita tidak kehilangan apa-apa,” tanggap Hestia dari sofa.

Setelah mengantarkan Xenos terakhir ke Knossos, ketika semua pekerjaan mereka benar-benar selesai, mereka kembali pulang dan mendapati pintu serta jendela hancur—namun masalahnya bukan itu. Seseorang nampaknya membobol masuk dan mengobrak-abrik rumah, tapi tidak ada tanda-tanda perbuatan merusak. Properti penting dan rusak pun tidak ada. Seolah-olah beberapa familia kuat sedang mengawasinya.

“Jadi sekarang semuanya balik normal ….”

“… ada yang tidak.”

Mikoto menyelesaikan kalimat Lilly. Mata mereka pelan-pelan memindai ruang tamu mencari bayangan gadis naga. Bahkan Lilly tak bisa menyembunyikan kerinduannya terhadap gadis yang menghilang dari lingkaran hangat keluarga. Beberapa saat berlalu, semua orang di ruang tamu menghadap Haruhime.

“Kau tak apa, Haruhime?” tanya Hestia.

“… ya. Kami akan bertemu lagi,” jawabnya sembari tersenyum cerah. “Kami berjanji satu sama lain.”

Mikoto melihat gadis rubah memeluk kelingking di dadanya.

Semuanya telah usai dan kegelisahan mereka rampung, namun harapannya menetap.

Kelegaan sangat sederhana terhampar dalam familia kecil. “Tapi masih ada Bell yang harus dipikirkan ….”

Suara Welf bergema di ruang tamu, tempat bocah itu tak ditemukan.

Haruhime dan Mikoto saling menatap, dan Lilly menoleh ke Hestia.

“Lady Hestia. Apakah Tuan Bell ….?”

“… ya.”

Hestia mengalihkan pandangan dari Lilly dan menatap langit-langit, menyipitkan mata biru pucatnya.

“Hari ini, juga ….” gumamnya.

 

 

Angin berhembus.

Angin pagi dari laangit biru timur.

Bell merasakan angin sepoi-sepoi menyergapnya sesaat berdiri di dinding tinggi kota. Dia diam-diam melihat tengah kota dan menara batu kapur besar.

Akhirnya, matahari terbit menerangi langit cerah. Terlihat bak rambut keemas an yang berkilau.

Seorang gadis datang dan berdiri di sampingnya.

“Nona Aiz ….?”

“Ya …. Selamat pagi.”

“Kenapa kau di sini?”

“Aku tidak yakin … aku kira misal datang ke sini, mungkin aku menemukanmu.”

“Oh masa?”

“Iya.”

“….”

“….”

“Nona Aiz.”

“?”

“Berkenankah kau mengajariku cara bertarung lagi?”

“… bahkan setelah semuanya?”

“Ya.”

“….”

“….”

“… kau orang licik.”

“… maaf.”

“….”

“….”

“… baiklah.”

“… beneran?”

“Ya …. Matamu sama.”

“?”

“Mata yang selalu kulihat di cermin.”

“….”

“Ya … tapi berbeda …. Tidak aneh sepertiku. Lebih indah.”

“… haha.”

“… kenapa kau tertawa?”

“M-maaf.”

“….”

“….”

“Ada … sesuatu yang mesti kuurus, jadi aku tidak yakin kapan bisa mengajarimu.”

“Tidak apa …. Makasih.”

“Sama-sama.”

“….”

“….”

“Nona Aiz.”

“Apa?”

“Aku … ingin menjadi lebih kuat.”

“… sungguhan.”

“Aku pergi sekarang.”

“… sampai ketemu lagi.”

“Oke.”

Idola emasnya menghilang di balik matahari terbit.

Sekali, Bell tidak melihat punggungnya saat dia pergi.

Malahan, melihat jauh ke kejauhan.

Dia fokus pada menara batu kapur yang menyentuh langit—serta labirin bawah tanah yang tertidur di bawahnya.

Di Dungeon tempat janji dan pertarungan terakhirnya menunggu.

“….”

Meremas kelingkingnya yang berdenyut-denyut dan memikirkan rasa sakit dari luka-lukanya.

Mengulangi sumpahnya kepada matahari terbit, lalu berbalik ke tempat tujuannya.

Dan anak bocah itu sekali lagi berlari.

3 Replies to “DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 11 Epilog”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *