DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 11 BAB 7

Posted on

Kembalinya sang Pahlawan

Penerjemah: DarkSouls (Daffa Cahyo)

Ketika raungan perang bergemuruh, semua peteualang kelas satu Orario serempak bereaksi.

Pendekar pedang wanita berambut dan bermata emas menatap langit di sektor barat laut dan mulai berlari.

“!”

Amazon kembar mengangkat senjata mereka dan berlari tanpa melirik ke belakang.

“Dia di sini!”

“Ayo pergi!”

Manusia serigala berkaki lincah menghentikan kegiatannya dan pergi langsung. “Kedengarannya dekat, Finn!”

Dan di sana ada Bell juga.

“—”

Mata merah Bell menatap si monster.

Menghancurkan, merememukkan, menubrukkan.

Sekejap, mahluk hitam tersebut melewati petualang-petualang malang yang menghadang jalannya.

Mengejutkan Hermes, menghentikan momen intervensi Asfi, mentakjub para dewi, dan menginjak-injak panggung yang dipersiapkan seorang dewa, meluluhlantakkannya hingga berkeping-keping.

Warga kota tidak sempat berteriak. Terjun maju secepat-cepatnya sampai panah yang ditembakkan atas perintah sang Pemberani tak berpengaruh, bahkan tombak yang dia lempar sendiri hanya mengotori kulit si hewan buas. Menyerbu maju—menuju Bell.

Bocah itu adalah target satu-satunya.

“—?!”

“UUUUUUOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!”

Sosok hitam legam minotaur raksasa berlumuran darah.

Di hadapan penampakan merinding ini, Bell kembali ke insting murninya.

Mendorong Eina menjauh sekuat mungkin, lalu, dengan susah payah menerjang Labrys yang diangkat tinggi-tinggi satu tangannya, Bell menyilangkan lengan dan melompat mundur. Ledakan serpihan batu bulat terbang dari tanah tempat bilah kapak minotaur jatuh, melepaskan gelombang kejut besar serta ledakan angin.

Tubuh Bell berubah menjadi panah yang menembus udara, menabrak bangunan di belakangnya bagaikan sungai yang meluap dari tepiannya selagi dia terhempas dari alun-alun.

“Bell?!”

Hestia dan Eina berteriak bersama-sama sewaktu banteng dua tanduk mengerikan menerbangkan si bocah.

 

το ταύρο

 

“Apa … apa yang terjadi?!”

Bongkahan-bongkahan batu menghujani sudut alun-alun yang penuh debu.

Saat peristiwa kehancuran mulai jelas, teriakan para petualang yang kebingungan memecah keheningan.

Jeritan dan teriakan marah memenuhi alun-alun.

Beberapa detik kemudian, puluhan petualang telah terluka parah, dan si Pemula Kecil terhempas jauh. Serangan kejam itu terjadi sangat cepat sampai-sampai tidak sempat memerhatikan musuhnya, selain itu kerumunan menjadi gempar.

“Hei, kau baik-baik saja?’

“Kau tidak terluka?”

Ouka dan Chigusa mendukung punggung Eina, tapi semua responnya adalah, “Bell … Bell?!” Eina sudah dijauhkan dari bahaya, namun dia sepertinya tuli dengan suara yang memanggilnya seraya menyebut-nyebut nama Bell terus-terusan. Seragam Guild-nya terpenuhi debu, memandangi panorama dinding berlubang-lubang menganga di dalamnya.

Di sudut lain alun-alun, Welf dan Mikoto saling menatap. “Jadi itu ….”

“… black … minotaur.”

Menggumam ngeri monster hitam pekat yang menghilang mengejar Bell.

Lilly dan haruhime pucat pasi dan tidak bisa bergerak, seakan-akan mengingat kejadian menakutkan. Hestia pun tertegun.

“Asterios ….?!” lirih Gros.

Bahkan Xenos membeku di tempat karena pergantian kejadian tak terduga. Tersembunyi oleh kepulan debu, Gros menatap ke arah yang ditatap Eina, pada lubang tempat saudaranya dan Bell menghilang.

Finn mengamati pemandangan dari puncak gedung terdekat.

“Pengintai, kejar target! Tapi jangan bertindak sampai aku tiba! Kelompok Narfi, setelah kau mengepung mereka, berikan dukungan dari belakang saja, panggil Aiz ke sini!”

“Ya, pak!”

Selagi menembakkan perintah secara berurutan, pasukannya segera beraksi. Apa pun yang terjadi, dia akan membunuh monster itu di sini dan sekarang. Komandan prum menetapkan keputusannya.

Kejadian tak terduga. Intuisi Finn memberitahunya. Bahkan otak pintarnya tak sanggup memprediksi langkah si monster; seakan-akan, mahluk Abnormal nyata. Tentu di masa depan kelak ‘kan menjadi ancaman, lantas harus ditumpas.

Finn hendak berlari dan seketika mendengar suara.

Bruk!

Seseorang muncul di depannya.

“Kau ….”

Finn berhenti dan menatapnya.

Στοιχείο

 

“Aw … awwwww ….!”

Selagi Bell bangkit berdiri dari tumpukan puing-puing, dia mengerang sakit yang membakar seluruh tubuhnya.

Persis di depannya adalah serangkaian dinding batu yang berlubang-lubang. Nampaknya dia berkelana cukup jauh dari alun-alun. Kalau saja tak mengenakan zirah adamantite ganda, mungkin tulang punggungnya sudah patah. Memaksakan tubuh gemetarnya berdiri di tengah reruntuhan bermandikan cahaya bulan.

Setelahnya dia mendengar suara keras.

“!”

Mendongak kaget saat mendengar suara puing-puing hancur di bawah kakinya. Melalui dinding yang setengah runtuh, Bell sekilas melihat monster hitam yang membuat Bell menghantam dinding. Bell terperangah melihat sosok berotot yang begitu tinggi hingga mesti mendongak untuk melihat kepalanya. Ia mengenakan baju besi ringan lengkap.

Dia musuh atau temankah? Bisakah dia berbicara dengannya?

Berbagai pemikiran melintas di benak Bell bahkan tatkala dia meneteskan keringat dan secara reflex bertahan.

“….?”

Selanjutnya menyadari kesunyian suasana.

Bagi mahluk yang raungannya teramat amat mengerikan, monster tersebut anehnya diam. Menghentikan langkah kasarnya di jarak yang agak jauh dari Bell dan kini tengah berdiam diri. Seolah amukan liar barusan tak pernah terjadi, menatap tajam Bell.

Bell juga berdiri diam di tanah, membisu.

“….”

“….”

Cahaya rembulan menerangi si bocah dan si monster.

Berdiri di tengah puing-puing dan reruntuhan memunggungi langit malam tak berawan, minotaur menatap rendah anak itu. Tingginya lebih dari dua meder. Bell tetap diam, melihat monster tersebut.

Waktu mengalir tenang. Momen kedamaian sama sekali tak terduga di medan perang.

Kala Bell menatap mata yang tampak memikatnya, sang monster perlahan membuka mulut.

“Namamu. Aku ingin tahu namamu.”

Bell terkejut oleh bahasa manusia dan suaranya, yang sepenuhnya tak sesuai sosok si pembicara. Suaranya lirih. Nadanya tenang, mengingatkan akan seorang pejuang.

Bell berdiri linglung, tidak mampu menjawab. Monster itu melanjutkan.

“Mimpi.”

“Hah?”

“Aku telah lama memiliki mimpi yang sama,” sang minotaur berbicara seakan-akan tengah bermonolog. “Mimpi bertarung melawan seorang manusia.” “!”

“Manusia ini adalah yang terkuat dan yang paling layak dilawan. Bahkan saat kami bertarung sampai mati, darah dan daging bertebaran, kami saling mengenal sebagai saingan yang ditakdirkan.”

Mata membelalak Bell menatap minotaur.

Seketika dia mendengar kata mimpi, Bell mengingat percakapan dengan Lido mengenai masa lalu hidup para monster.

Dan ketika minotaur membicarakan masa lalunya sendiri, sosoknya mengingatkan Bell pada sesuatu yang lain.

Kejadian yang takkan pernah dia lupakan.

Petualangan pertamanya. Bell mempertaruhkan hidupnya dalam pertempuran sengit itu. Dia dan sang monster telah mengerahkan segalanya untuk melawan satu sama lain.

“Ada mahluk yang mendorongku, untuk mengejar pertarungan ulang.” tidak mungkin.

Bahkan tatkala Bell mengetahui kebenarannya, black minotaur melanjutkan.

“Aku ke sini untuk menemui mahluk dalam mimpiku.”

Dia menyatakan latar belakang keberadaannya. Perasaan terdalamnya, dambaannya yang begitu kuat sampai-sampai mendesaknya hingga terlahir kembali.

Bukan kecemburuan kepada ras manusia atau kerinduannya pada permukaan yang membawanya ke sini, namun hanya untuk mencari lawan lamanya.

“Namaku Asterios.”

Artinya petir.

Mengungkapkan hasratnya perkara kilasan cahaya merah tua yang dia lihat di akhir mimpinya.

Bahkan kala Bell tertampar rasa tak percaya dan kebingungan, dalam relung hatinya, bell memahami segalanya.

“Beri tahu aku namamu,” Asterios sekali lagi memohon.

“… Bell. Bell Cranell.”

Sang monster mengukir kata-kata yang digumamkan ke dalam inti dirinya.

Lalu mendekatkan kapak bermata duanya ke dada.

“Bell, tolonglah.”

Musuh terlayak dan tertua Bell, hidup kembali, dan memohon kepadanya.

“Lawan aku lagi.”

Kehendak monster menyebar ke seluruh reruntuhan yang diterangi cahaya rembulan.

Belll paham dia harus menyuruh minotaur itu menunggu, bahwa dia belum siap, bahwa dia mesti kembali ke Gros dan Xenos-Xenos lain. Namun hatinya tak membiarkannya mengutarakan kata-kata itu.

Melihat kakinya. Melihat sosok besar itu.

Darah sang monster menetes ke tanah. Luka tak terhitung jumlahnya terukir dalam kulitnya, kehilangan satu tangan pula.     Meskipun di ambang kematian, dia sampai sejauh ini untuk bertarung lagi.

Bell merasa dia harus mengabulkan permintaan Asterios. Tidak—melarikan diri rasanya salah.

Merasa persis sebagaimana kali terakhir dia rasakan.

Tak kabur dari pertarungan itu, seharusnya tidak kabur juga dari pertarungan ini. “….”

Bell diam-diam meminta maaf kepada semua orang atas segalanya. Sesudahnya menghunus senjata.

Mengangkat Pisau Ilahi, menggenggam gagangnya secara terbalik, dan menatap monster hitam.

Tatkala Asterios memperhatikan si bocah bersiap-siap bertempur, mulutnya meluas dan membentuk senyum lebar.

Senyum ceria sekaligus pertanda hal buruk, mengangkat kepalanya ke arah langit malam serta bulan yang mengawasi mereka.

“UUUUUUUUOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!” raungannya mengguncang surga.

 Peluru pertanda dimulainya pertarungan telah ditembakkan.

 

Ο αγώνας

 

“Kedengarannya deket banget!”

Seorang pengintai Loki Familia terkejut ketika mendengar raungan gemuruh tersebut.

Sejumlah petualang pria dan wanita sedang mencari musuh, saraf mereka menegang. Karena bangunan-bangunannya berlantai-lantai rapat, mereka tak bisa melihat Bell dari atap. Mereka melompat turun dan mendekati arah raungan.

Rekan-rekan mereka yang lebih dekat ke lubang dinding barangkali sekilas sudah melihat musuh, namun lonceng peringatan masih belum berbunyi. Gadis elf di tengah-tengah party sedang berpikir betapa aneh dan mengancamnya saat—

Dinding di belakangnya meledak terbuka disertai suara keras.

“?!”

Bongkahan-bongkahan batu beterbangan di mana-mana.

Kepulan debu menyembur dari dinding, sesaat kemudian seorang bocah berambut putih dan banteng hitam liar menerobosnya.

“UOOOOOOOOOOOOOOOOOO!”

“Yaah!”

Di depan mata para anggota Loki Familia yang tertegun, Bell dan Asterius bertarung dari jarak dekat.

Asterius mengayunkan Labrys bermata duanya, Bell mundur. Bahkan angin yang terhembus dari senjatanya bisa melukai Bell, benar memang, beberapa penonton manusia sudah berlumuran darah dari lini belakang, artinya kesenjangan jelas antara Status mereka dan monster itu.

Bell meninggalkan harga dirinya dan tanpa henti mengincar sisi kanan si monster, letak tangan kanan yang telah dipotong sang Putri Pedang, alih-alih sisi kiri yang memegang Labrys. Asterios tersenyum melihat gerakan kaki kelinci gesit dan tusukan tajam pisaunya, dengan mudah menangkis setiap tusukannya.

“Dia melawan black minotaur ….!”

“Bell Cranell?!”

Kapak tersebut menjerit di udara. Bongkahan-bongkahan batu terbang selagi sepatu bot menendang lintasannya. Pertarungan antara seorang anak lelaki dan monster adalah soal kecepatan dan kekuatan. Para petualang yang menonton dari pinggiran meremas tangan mereka kuat-kuat, frustasi karena menjadi penonton belaka.

Finn menyuruh mereka untuk tak terlibat apa pun yang terjadi. Namun berdiri memasang wajah pucat sama saja sebuah aib bagi Loki Familia. Bagaimana bisa mereka duduk diam dan membiarkan anak bocah yang dihujani berbagai sumpah serapah bertarung?

Bangkit berdiri dan beraksi, mengikuti perintah kapten mereka lalu mengepung Bell dan Asterios. Menggenggam busur, panah, tombak, pedang panjang dan hendak menyerang bersama-sama dari jarak dekat dan jauh, sekejap monster melolong.

“UOOOOOOOOOOOOOOOOO!”

Lolongan itu saja sudah menyematkan mereka di tempat.

Raungannya sangat kuat. Suara menakutkan sang monster membangkitkan teror utama para petualang yang berhenti di tempat. Level 2 baris belakang jatuh terlutut, sementara Level 3 garis depan menjadi kaku seakan-akan di ujung maut.

Kau menghalangiku,’ demikian yang sepertinya dikatakan sang minotaur. Asterios tak mengampuni mereka yang tidak memenuhi syarat untuk bertarung. Mencengkeram gagang kapaknya, mengayunkan tinju ke petualang yang memegang tombak dan pedang, melempar mereka ke rumah-rumah terdekat sekuat mungkin hingga darah keluar dari mulut-mulut mereka.

Para pemanah elf di barisan belakang memucat sewaktu petualang Level 3 terbang di udara. Namun raksasa hitam selanjutnya mendekati mereka. Air mata menggenang di mata selagi berdiri membeku.

“Hei!”

“Seolah-olah mengingatkan sang minotaur lawan sejatinya, Bell mengayunkan pisaunya ke arah minotaur dari samping.

Asterios tersenyum dan beralih dari Loki Familia, membalas serangan Bell dengan Labrys. Para elf menganga terhadap Pemula Kecil, yang tak termakan teror seperti mereka.

Aku mengenal raungan itu.

Bagi Bell, rasanya familiar.

Dia telah melewati suatu tembok khusus pada petualangan pertamanya. Dia takkan takut untuk kedua kalinya.

Mengangkat pisau hitam dan merahnya kemudian bergegas menghampiri si monster raksasa.

“Hei, kemana perginya si gargoyle dan monster-monster lain?!”

Sekejap raungan minotaur yang terdengar jauh melewati alun-alun dan debu akhirnya mulai memudar, para petualang berteriak satu sama lain. Nampaknya para monster bersayap memanfaatkan kekacauannya dan mendadak menghilang.

Di sudut alun-alun yang terasing, Welf dan anggota Hestia Familia sibuk oleh hal lain.

“Kau sedang apa di sini?!” Welf berteriak.

Dia dan Mikoto melemparkan tudung mereka kepada Gros dan Xenos lainnya, membuat mereka tak kasat mata sekaligus menyelamatkannya, tetapi rambut Welf berdiri murka.

“M-manusia ….”

“Pikirmu aku bakal lupa kalau kau barusan mau membunuhku?!” Lilly berteriak.

“Tuan Welf, Nona Lilly, tolong tenang dulu!” kata Mikoto, dirinya pun terpaksa melakukan hal serupa.

“Semua orang, tempat dan waktunya tidak tepat ….” tambah Haruhime. Dia cuma bisa menonton bingung kala teman-temannya bertengkar.

Hestia berdiri di samping, buru-buru menilai situasinya.

Kenapa Loki Familia tidak ada di alun-alun? Apa mereka menuju minotaur?

Pikirannya berpacu seketika angin yang bertiup di telinganya mendengar pertarungan Bell melawan sang mahluk hitam.

“Haruhime! Kau memberikan Wiene okulus, benar?” “Ya, bu! Saat kami berpisah, aku memberikannya milikku.” “Bagus,” ucap Hestia, tangannya mengepal.

Artinya mereka bisa bertemu Xenos yang memiliki kuncinya. Kini satu-satunya kesempatan mereka mengantar Gros dan tiga monster bersayap lainnya ke Knossos.

Hestia menjerit ke okulusnya.

“Bell, teruslah bertarung!”

“Maksudku, menggilalah, oke? Anggota-anggota Loki Familia—dan semua orang di kota—mereka semua memfokuskan perhatiannya kepadamu. Aku tahu ini bisa jadi berbahaya. Maaf!”

Suara yang datang dari kristal biru di sarung tangan Bell tak mengalihkannya. Dia sudah fokus seratus persen pada pertarungan. Sebentar saja kepalanya membayangkan hal lain, dia akan terbunuh. Dia akan menjadi mangsa Labrys. Sedetik saja, informasi Hestia hanya monokrom semata dan telah masuk ke dalam kepala Bell.

Dia kuat ….!

Lagi dan lagi, Labrys mengancam hidupnya, namun Bell masih terus-terusan mengincar sisi kanan lawannya dan mengarahkan pisau ke bagian tangan kanannya yang hilang. Tetapi minotaur itu tahu rencananya. Keahlian serta taktiknya jauh lebih tajam dari yang diingat Bell dari kali terakhir pertemuannya. Perasaan mirip-mirip ketidaksabaran menggerogoti dirinya.

Tatkala Bell ragu-ragu dia mesti melakukan apa, sang minotaur lapar akan kekuatan, tiada hal lain yang dia inginkan.

Bell membuang keraguannya, menghampiri sisi kanan lawannya, sekali lagi mengarahkan kedua pisau ke titik buta lawan.

“Kuh!”

“?!”

Monster menggunakan kapak besarnya sebagai perisai, dan sekarang satu kaki jatuh menghantam. Tanah hancur di bawah kakinya, menghancurkan kuda-kuda Bell. Sekilas berikutnya, Asterios menjatuhkan Labrys-nya. Bell menghindar, merespon dengan tendangan, dan melompat mundur.

Rambut putih tertebas dari kepala Bell, tetesan darahnya bercampur semprotan keringat.

Setiap celch tubuh lawannya adalah senjata mematikan. Bagian mana pun mampu membunuh Bell. Sewaktu si bocah merinding ketakutan, minotaur itu tersenyum seakan-akan berkata bahwa tak ada waktu untuk mengurusnya, selanjutnya mengayunkan tanduk merahnya ke udara.

“Uaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”

Bell menggerakkan sarung tangannya tuk menghalangi serangan, tapi dia tidak sanggup menahan seluruh kekuatan serangan.

Ketika pekikan logam menggetarkan telinga membuat suasana dan percikan-percikan api beterbangan, Bell terbang di udara menuju atap sebuah bangunan. Namun Asterios mengejarnya, tak lama setellah Bell mendarat, monster itu menendang tubuh si bocah.

“Aaaaaahhh!”

Bell menyilangkan lengannya untuk melindungi tubuhnya dengan adamantite ganda. Dunia berguncang keras kala dirinya menyerap kekuatan penuh serangan itu.

Mendengar suara tulang di lengannya retak, matanya berputar ke belakang. Sekali lagi terhempas ke alun-alun.

“Hah?”

“Aaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhh!”

Peluru manusia menorehkan lintasan jelas di langit selagi terbang menuju alun-alun dengan luar biasa cepat. Saat sosok Bell mendekat, orang-orang di alun-alun berhamburan panik.

Kepalanya mendarat terlebih dahulu dan berguling-guling hingga sudut alun-alun, mengirim awan debu.

“B-Be—?!”

Hestia membelalak oleh sekembalinya Bell yang terlalu cepat, namun teriakannya terputus di tengah-tengah jeritan batu-batu besar yang remuk diinjak kaki Asterios yang turun dari langit.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhh!” jeritan terkeras bergema dari alun-alun.

Kemunculan kembali sang monster hitam itu memicu teror dan kekacauan kerumunan. Ketika orang-orang kota tergesa-gesa pergi ke Main Street, anak-anak terisak-isak oleh huru-hara kota.

“Waaaaaaaaaaaaaahhhhhh!”

Di sisi lain, petualang berteriak sambil berlari. Mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Bisa jadi melihat penduduk kota yang menangis menggerakkan hati paa petualang yang sudah tertekad, sebab merasa wajib melindungi wanita dan anak-anak. Mereka sampai lupa terornya dan mendekati Asterios dari seluruh arah.

Kemudian monster itu berteriak lagi.

“UUUUUOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!”

“Aaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhh!”

Kekuatan Asterios memengaruhi seluruh petualang. Menghancurkan semuanya secara setara, sekaligus menyapu lusinan orang. Dalam beberapa detik, senjata yang tak terhitung jumlahnya dihancurkan menjadi debu, air mancur darah memuncrat di udara, bahkan petualang kelas atas terkuat jatuh terlutut seketika sang monster mengurangi jumlah penyerang hingga sesedikit mungkin.

Ouka dan Chigusa yang berada di belakang melindungi masyarakat, berdiri memucat dan ketakutan sewaktu menyaksikan kejadian itu. Hestia Familia yang berusaha membantu Gros dan Xenos-Xenos lain kabur, juga Eina dan karyawan Guild lain, sama-sama dilumpukan rasa takut.

“—”

Begitu pun anak-anak.

Lai, Fina, dan Ruu termasuk kelompok anak yatim yang belum lolos dari alun-alun. Mereka tidak bisa tak menyadari celah-celah antara kerumunan.

Monster hitam bertangan satu yang berlumuran darah, adalah monster paling jahat dan mengerikan yang pernah mereka lihat, melihat para petualang beterbangan olehnya bagaikan dedaunan tertiup angin sudah seperti mimpi terburuk mereka. Mereka tak tahu apakah sosok hitam yang berputar di udara itu senjata ataukah tangan manusia.

Monster maha mendominasi yang sepenuhnya berbeda dari gargoyle serta mahluk bersayap yang mereka lihat beberapa menit sebelumnya.

Oh, aah—

Bagi Lai, terlihat layaknya badai kematian.

Apabila kau sentuh, kau mati. Demikianlah sifat alamiah mahluk di hadapannya.

Dia hanya pernah mendengar tentang bos lantai, tetapi tak pernah melihatnya, namun beginilah bayangannya mengenai mereka.

Wajar andai monster paling mengerikan ini menakutkan anak-anak sampai ke ubun-ubunnya. Dapat dipahami mereka cuma bisa menggerakkan mata.

“UOOO—”

Sebentar saja, minotaur menginjak-injak para petualang. Setelahnya menatap lurus mata anak-anak.

Lai merasa semua harapan terkuras dari dirinya. Fina dan Ruu tahu bahwasanya ketakutan itu tak punya batas. Waktu melambat hingga bak berjalan di neraka selagi hati mereka menegang dalam dada dan nafas tercekat di tenggorokan.

“Semuanya, lari!” Maria berlari. Dia terpisah dari anak-anak dan berdiri di belakang orang-orang. Namun anak-anak tetap tidak bergerak. Terperangkap oleh tatapan monster sampai-sampai jari pun melumpuh. Sebagaimana anak-anak, para petualang di kerumunan sudah tidak berani. Tak satu pun menghalangi anak-anak dan sang monster. Ia melangkah menghampiri Lai, Fina, dan Ruu seolah-olah mencari sesuatu. Seketika bocah-bocah itu merasa hati mereka akan meledak dari ketakutan besarnya—

“—ciaaaattt!”

Petualang rambut putih menembus kepulan debu dan mendekati monster hitam itu.

“!”

Kemunculan tiba-tiba Bell mengguncang anak-anak sampai terbebas dari kebingungannya. Rambut putih berkibar-kibar menggambar lintasan putih jernih sembari terbang mendekati si monster, pisau merah dan hitam di masing-masing tangan.

Minotaur tersebut merasakan suka cita baru seketika melihat saingannya.

“AAAAAAAAAAAAAAA!”

“UUOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!”

Lai melihat semuanya. Peristiwa itu terbakar dalam ingatannya.

Bell berteriak meskipun darah mengalir dari kepala dan menodai wajahnya sampai merah.

Dia berbeda dari semua petualang yang pucat pasi dan gemetaran.

Tidak ada yang bersedia melawan monster itu, kecuali Bell.

Dialah satu-satunya orang yang berkenan melawan badai maut secara langsung.

“Ah—”

Ekspresi Bell sungguh-sungguh berbeda dari yang Lai pernah lihat sebelumnya. Dia melihatnya menderita, tersenyum pahit, takut, dan menangis. Lai merasa Bell telah mengkhianatinya, namun ingatan tentang dirinya yang bahagia. Tapi tak satu pun ingatan tersebut menyamai Bell di depannya.

Itu—

Gambaran seseorang yang berteriak heroik.

Wajah seorang pria yang terjun ke dalam petualangan.

Itu—seorang petualang.

Bocah itu menatap Bell. Tangan dan kakinya gemetaran. Dadanya memanas.

Lai tak tahu apa perasaan ini—seolah dia hendak menangis.

Dia hanya tahu satu hal.

Bell Cranell bukanlah seorang pengkhianat atau pengecut. Dia seorang petualang. “….!”

Lai membuka mulutnya dan ingin berbicara.

Ada sesuatu hal yang telah lama ingin dia katakan.

Bell tenggelam dalam keputusasaan, dia ingin meminta maaf, dan memberitahunya sesuatu.

Namun Lai tidak bisa merangkai kata-katanya. Merasa seakan-akan seutas tali melilit lehernya, mencegahnya berbicara.

Fina dan Ruu merasa sama. Mereka berdiri di sebelahnya, air mata menetes dari pipinya.

Lai menghendaki mulutnya bergerak selagi air mata mengaburkan penglihatannya. Sesudahnya, dia mendengar suara.

“Majulaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah, Pemula Keciiiiiiilllllll!”

Suara serak bergemuruh di seluruh alun-alun.

“!”

“Hajar diaaaaaaaaaaaaa! Bunuh monster bajingan ituuuuuuuuuuuuuuuuuuu!” dia Mord, si petualang licik.

Dia dan rekan-rekannya berdiri cukup jauh dari pertarungan, namun mereka menyaksikannya dengan wajah merah padam, tinju mengepal erat. Mord meludah, dan meneriakkan teriakan bertarungnya kepada seorang anak laki-laki yang bertarung.

Lai memalingkan kepalanya ke Mord, dan tali di lehernya serasa mengendur. Anak itu mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, memejamkan mata, dan berteriak sekeras-kerasnya.

“Ayo, banggggggggggggggggggggggggg!”

 

Προς τα εμπρός

 

“Ini ….”

Seraya Hestia menatap sekeliling alun-alun sambil merasa linglung, dia tersadar perubahan mulai terjadi.

“Bell! Bang!”

“Ya! Maju ….!”

“Bantai merekaaaaaaaaaaa ….!”

Teriakan berisik Mord bergema di samping sorakan tulus Fina dan Ruu. Ganesha Familia secepat-cepatnya berusaha mengevakuasi semua orang dari alun-alun, tetapi ketika penduduk kota yang panik mendengar suatu teriakan, mereka berhenti.

Semua orang menyadari apa yang terjadi.

Satu orang petualang menghadapi monster raksasa dengan kapak mengerikannya, orang itu menyambutnya dengan dua pisau yang teramat kecil. Si petualang menghindari ayunan kapak pembelah bumi, lalu melompat menghampiri sang monster bersama bilah berkilau.

Warga kota memucat kala melihat pemandangannya. Karyawan Guild terdiam seribu bahasa. Petualang lain mengepalkan tangan mereka.

Sebuah pertarungan. Perjuangan sengit antara manusia dan monster yang mengancam hidup satu sama lain.

“Bell ….!”

Eina tidak bisa tak berhenti menggumamkan namanya.

Semua orang menyadari hal yang sama.

Tidak ada perhitungan dalam pertarungan ini, tak pula ambisi. Murni kehendak.

Murni rasa haus akan kemenangan.

Kini tak satu pun orang memfitnah Bell sebagai musuh orang-orang. Hinaan kebenciaan serta ejekan menyayat hati semuanya kehilangan arti di hadapan pertempuran ini.

Pertarungan fana sejati.

Melihat sang petualang dengan gagah berani menghadapi monster mengerikan ini bernilai lebih dari seribu penjalasan atau dalih. Tidak ada jejak kepalsuan di wajah orang yang meraung kepada hewan hitam itu.

“Maju ….” seorang manusia akhirnya melirih.

“Berjuanglah!” seorang manusia hewan berteriak.

“Jangan menyerah!” teriak seorang gadis elf.

Mereka meneriaki bocah yang terkunci dalam pertarungan melawan monster ganas di tengah alun-alun.

Satu kata berubah menjadi gelombang suara besar.

“—!”

Tatkala perjuangan habis-habisan terlihat di tengah-tengah mereka, penduduk kota pucat pasi berteriak sampai serak. Karyawan Guild mengubah kata-kata putus asa mereka menjadi sorak-sorai. Para petualang mengangkat tinju mereka ke langit.

Semuanya berteriak mendukung Bell.

Semuanya melihat sosok seorang pahlawan dalam pertarungan berani si bocah.

Suatu petualangan ….

Teriakan para penonton berdering di telinga Bell ketika menghindari Labrys, sangat-sangat menyadari gerakannya telah mencepat.

Bahwa hatinya kembali ke tempat asal.

Aku ingin berpetualang.

Suara-suara di sekitarnya terdengar jauh. Segalanya kecuali musuh menghilang dari pandangannya.

Seluruh jejak keraguan dan kebimbangan lenyap sudah dari wajahnya.

Melupakan Xenos, dan Aiz, juga masa depan. Melupakan semua hal mengkhawatirkan dan fokus belaka pada pertarungan yang tengah berlangsung. Menyerahkan hati dan jiwanya kepada lawan yang tersenyum di depannya.

Dia kelaparan, persis sebagaimana musuhnya.

Bell tersadar sendiri bahwa melampaui rasa haus akan kemenangannya terdapat segala sesuatu yang terhubung dengan eksistensinya. Pertarungan menyelamatkan Xenos, mencapai satu tingkat dengan idolanya, menggapai masa depan yang diimpi-impikan Wiene.

Dengan kata lain, pertarungan kekuatan.

Maju, sekali lagi berpetualang!

Pisau merah tua akhirnya kalah dari serangan kuat Labrys. Sesaat orang-orang yang menonton berteriak, Ushiwakamaru hancur berkeping-keping.

Maaf. Terima kasih. Aku duluan.

Seketika, menembakkan Firebolt dari tangan kosong, kemudian terbang menuju minotaur yang terhuyung-huyung dan dikelilingi hujan percikan api merah.

Bell berteriak.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!”

Teriakan seorang anak dan sorak-sorai bergemuruh dari orang-orang menggema di Distrik Labirin.

“Hei, kau sedang apa?!”

“Kau, Amazon sang Penebas!”

“Jika kau bergerak sedikit saja, kami takkan berbelas kasih.”

Tiona memegang pedang bermata duanya seraya menatap empat prum bersenjata di depannya. Sedang berdiri di tepian alun-alun tempat berlangsungnya pertempruan, tetapi dia tak bergerak maju. “Menyingkir dari jalanku!” teriak Tione.

Dia pun, dihadang. Petualang kucing kelas satu, Allen Fromel menghalanginya. Menangkis setiap tebasan pisau kukri dengan tombakknya.

“Kau sedang apa?!” teriaknya, marah karena seseorang mencegahnya mengejar black minotaur.

“Sudah jelas, bukan?” tatapan dinginnya merespon, lanjut melirik pertarungan yang terjadi antara si bocah dan monster. “Tidak bisakah kau lihat anak itu berusaha jadi seorang pria?” dia meludah ke tanah. “Kau boleh-boleh saja ikut campur,” balas Tione.

Sementara itu, agak jauh dari tempat Tiona dan Tione di tepian barat alun-alun, Bete si manusia serigala berdiri di tepi atap sisi timur dan lidahnya mendecak hiperbola.

“Cih ….”

Selagi memandang bocah berambut putih, wajah serta tato petirnya meringis.

Aiz berdiri di dekatnya, diam-diam menonton pertarungan.

“….”

Dua orang elf muda menjaganya dan Bete—satunya berpedang putih, dan satunya elf kegelapan, berpedang hitam—berdiri santai bersama pedang masing-masing. Mereka juga menatap pertarungannya.

“… kau melakukannya, kan, Ottar?” Finn berdiri tak jauh, menghadap petarung babi, Ottar. Dia mendesau. “….”

Babi itu terdiam.

Petualang kelas satu Freya Familia memblokir para pemimpin Loki Familia agar tak bergerak. Namun bukan itu saja. Para pasukan di bawah komando Kapten Ottar menyematkan semua anggota Loki Familia lain. Itulah sebabnya tak satu pun dari mereka bergegas ke alun-alun sewaktu black minotaur itu muncul.

“Aku semata-mata mengikuti perintah dewiku.”

Ottar berbalik dan melempar pedangnya dari tepi atap, suaranya mencair ke udara malam. Sebongkah besar perak berputar seketika memotong angin, mendarat di tengah alun-alun, di kaki Bell dan Asterios.

Manusia dan monster sama-sama menatapnya. Sedetik berikutnya, Bell melompat ke arah senjata, meraih gagangnya, dan ditarik dari tanah.

Banteng gila itu bergidik senang ketika pertempuran terakhir dalam mimpinya menjadi nyata.

“Yaahh!”

“UUUUUUUUOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!”

Percik-percik api menyembur di udara sekejap pedang tersebut membentur Labrys. Sepintas pertarungan berlanjut dengan amarah baru, para penonton berteriak lebih keras lagi.

“Hahaha …. Aku penasaran bagaimana perasaan Hermes sekarang!”

 Freya berada di lantai teratas Menara Babel, pusat kota. Melihat dari tempat bersemayamnya di titik tertinggi Orario sesaat pertarungan hebat berlangsung, sang dewi menghela nafas penuh kegembiraan.

“Apakah takdir ini ditetapkan seseorang? Ataukah keajaiban belaka? Apa pun jawabannya … aku berterima kasih atasnya.”

Dia bersyukur oleh perputaran roda Keberuntungan ini—atas pertemuan anak itu dan sang monster. Dewi cantik merona dan mengunyah sedikit jemarinya yang menunjuk. Menyerahkan seluruhnya kepada anak-anaknya agar bisa menonton pertarungan ini.

Terkagum-kagum, tatapannya kegirangan kepada jiwa murni berkilau yang terkunci dalam pertarungan melawan banteng mengamuk.

“Tidak kusangka sekali lagi aku berkesempatan menyaksikan pertarungan ini!”

“Hei-hei …. Ada apa di sini?” gumam Hermes.

Asfi mengembalikan sosoknya menjadi kasat mata dan muncul di belakang sang dewa, di atas menara tempatnya berdiri.

“Lord Hermes …. Situasinya sudah di luar kembali. Dalam seluruh kekacauan ini, Xenos melarikan diri dariku.”

Hermes tak merespon. Dia cuma menatap alun-alun, tertegun.

Panggung yang dia persiapkan baik-baik telah hancur total. Skemanya menjadi debu.

Asfi melihat dewa pelindungnya terdiam.

Mendadak, hembusan angin bertiup dari topi musafirnya. Hermes menggeram, menarik kasar rambut jingganya ke belakang.

“Semuanya hancur ….!”

Satu monster menghancurkan rencana yang dia kerjakan rajin-rajin. Merasakan keputusasaan yang belum pernah dialami sebelumnya, dewa itu menggertak gigi dan menatap minotaur sambil merasakan kebencian mendalam.

Namun di waktu yang sama, ada kesenangan di matanya ketika melihat alun-alun di bawah.

“Sial, deh. Mungkin aku terima sajalah. Aku kalah! Bagaimana bisa aku mengira scenario ini?”

Alun-alun bergema dengan tangisan, raungan, sorakan, serta doa. Orang-orang sepenuhnya terpikat pada pertarungan murni antara seorang anak bocah dan monster, bahkan lupa buat kabur. Permusuhan dan pesimistis tergantikan angin puyuh kegembiraan.

Walaupun semuanya berjalan sesuai rencana Hermes, kemungkinan takkan berjalan selancar ini. Dewa tersebut takkan menggenggam hati orang-orang di telapak tangannya seperti saat ini. Tentu saja tidak. Bahkan sewaktu anak itu di tengah-tengah pertarungan melawan gargoyle, Bell merasa menderita dan terus-terusan menentang.

Semahakuasa dan semahatahu dirinya, Hermes takkan sanggup membayangkan kemungkinan ini. Lebih baik ketimbang petualangan nyata.

“Inikah maksudmu? Initah, Zeus? Apakah kau menghilang dari Orario karena melihat ini?!”

Di belakangnya, Asfi terkesiap. Baik dirinya dan Hermes sungguh-sungguh terpikat oleh pemandangan secemerlang kilat yang menyapu kegelapan.

“Hanya mereka yang menentang kehendak ilahiah dewa yang mampu bersinar seperti ini!” dunia menginginkan seorang pahlawan.

Ia menginginkan sebuah pedang menembus kegelapan tua, sebuah cahaya tuk mengatasi hasrat lama, raungan penuh kehidupan buruk namun mulia.

Ia tak ingin boneka yang dikendalikan dewata melainkan potensi mengatasi ribuan tahun stagnansi dalam dunia fana.

Ia menginginkan mitos familia, sebuah kisah hasil tenunan kehendak murni.

“Ujung-ujungnya … akankah mahluk hitam ini menjelma kutub yang membakar tangan penenunnya dan menunjukkan jalan kepadanya?”

Aku badut tulen.

Hermes merinding terhina pada peristiwa aneh yang begitu memudarkan kehendak ilahiahnya sendiri.

“Kebijaksanaan Sage, strategi sang Pemberani, skema dewata …. Kekuatan murni ini menghancurkan kesemuanya hingga berkeping-keping.”

Hermes menyipitkan matanya ketika meminum ampas terakhir rasa malunya sendiri.

“Ah, betapa indahnya, betapa eloknya pertarungan sampai mati ini ….”

Suaranya penuh rasa hormat oleh pertarungan antara si bocah dan monster—kejadian dari kisah-kisah heroic yang mencengkeram hati orang-orang dan takkan melepaskannya.

“Oh ….!”

Selagi banyak orang berteriak dan gemetaran, Hestia pun merinding dan tangannya menekan dada. Dia hanya bisa melihat jarak antara dinding orang-orang yang melambai dan punggung Bell kala menghadapi monster hitam tersebut.

“Lady Hestia!” teriak Lilly.

“… ayo pergi! Kita serahkan minotaur-nya ke Bell! Kita tidak boleh ikut campur!” balas Hestia. Mereka kudu mengantar Xenos yang tersembunyi kembali ke Knossos. Terhanyut gelombang pertempuran yang diciptakan oleh anggota familianya sendiri, sisa-sisa anggota Hestia Familia siap mempertaruhkan hidup mereka untuk melakukan kewajibannya.

Sebelum meninggalkan alun-alun, Hestia kali terakhir sekilas melihat pusat alun-alun. Pemandangan cerita baru yang ditulis di sekujur tubuh Bell membekas dalam memorinya.

 

Ήρωας

 

“Dunia fana tidak buruk-buruk amat.” suatu tempat di dunia ini, seseorang berbicara.

Kisah-kisah tak terhitung banyaknya telah diputar dalam dunia fana milik anak-anak, namun tetap saja, dewa-dewi masih bersembunyi di belakang. Itu jelas benar.

Tetapi.

Seberapa pun tali kendali ditarik, atau kalimat-kalimat dibisikkan dari belakang panggung, atau di tengah-tengahnya gerakan adegan ditulis ulang, masih ada anak-anak nakal yang tak menurut. Mereka marah-marah di panggung, keseringan membuat kesalahan yang terlampau buruk dilihat dan menarik tawa hinaan. Namun sesekali, mereka sepenuhnya membatalkan adem ayem yang sebelumnya telah ditetapkan.

Mengubah opera hambar menjadi drama tak terduga-duga

“Selalu kalian anak-anak yang mengejutkan kami dan dunia.” suatu tempat, seseorang tersenyum.

 

Παιδιά

 

Pertarungan antara Bell dan Asterios terus berlanjut.

Tak satu pun jiwa di Orario tak mendengar suara rusuh di Distrik Labirin.

Suara-suara itu bukanlah teror atau kesedihan, melainkan demam, dan kehebohan tiada batas.

Bahkan penduduk kota yang menutup diri karena takut sekarang alon-alon membuka jendelanya lebar-lebar atau pergi ke atap. Mereka berbelok ke bagian timur kota dan tanpa kata menunjuk alun-alun Distrik Labirin.

Demamnya menyebar.

Terutama, menyebar ke para dewa yang menari riang gembira, bayangan mereka membentang di atas kota. Lalu—

“Mereka bergerak!”

Bell menjongkok sambil mendengar jeritan orang-orang kota di alun-alun, kini melompati batu-batu bulat setinggi mungkin ke langit sebagaimana Status Level 3 yang memungkinannya melakukan itu, berharap mencegah penduduk kota terlibat dalam pertarungan. Tentu saja, Asterios mengikuti.

Suara dua pasang kaki yang mendarat di atap diikuti guntur Labrys yang membuat kontak, kemudian suara dentuman kaki-kaki yang berlari.

Pandangan Asterios takkan pernah teralih dari Bell seketika anak bocah itu meninggalkan Distrik Labirin. Mereka berdua berjalan berdampingan di atas atap.

Di mana kami bisa bertarung—?!

Jalan-jalan, gang-gang, dan East Main Street melintas di bawah tatapan Bell. Karyawan Guild dan para pengungsi berdiri di jalan melihat mereka, kehadiran mereka semua membatasi pilihan Bell. Akhirnya, dia melihat ruang terbuka besar jauh di depan—

“—sini!”

Seolah-olah tertarik oleh suara dewi cantik di lantai teratas sebuah menara besar, Bell turun ke Taman Pusat, di jantung kota.

“Hah?”

“Si Pemula Kecil?! Dan apa itu ….?!”

Massa besar petualang-petualang yang menjaga Babel terheran-heran saat Bell dan Asterios sekali lagi terjun ke medan pertempuran.

Mata mereka melotot kala melihat black minotaur mengagetkan, tapi tatkala mereka mencoba ikut menyerang, monster tersebut berteriak seakan berkata, “Menjauhlah!” para petualang Level 1 dan 2 dianggap tidak berguna sama sekali.

“Menyingkir!”

“Cepat! Kabur!”

Ketika kerumunan di Taman Pusat secepat kilat menjadi sedikit, suara-suara mendesak beberapa petualang kelas dua pun pergi. Teriakannya terdengar dari dewa-dewi yang tersenyum. Mematuhi para dewa yang mencari-cari kesenangan ini, para petualang ikut kabur, menyeret rekan-rekan mereka. “Ganesha?!”

“… bantu petualang yang tidak sadarkan diri! Ilta, jangan terlibat! Prioritas kita adalah mengevakuasi warga kota terdekat!”

Anggota Ganesha Familia yang menjaga Babel mematuhi dewa pelindung mereka dan mulai menyelamatkan orang-orang. Ilta si Amazon berambut merah kelihatan sebal, namun tetap memimpin petualang kelas atas lain dalam operasi penyelamatan ini.

Kalau saja bukan itu masalahnya, Bell akan langsung mati. Kalau saja kedua tangan Asterios masih utuh, kalau saja dia tidak berada di ujung kematian—

Asterios datang ke pertempuran ini setelah Aiz dan banyak petualang kelas atas lain melukainya. Pertarungan ini terjadi di ujung jalan panjang.

Bila musuh Bell dalam kondisi prima, bocah itu takkan bertahan semenit pun.

Sekuat itulah dia.

Konyolnya, sangat kuat.

“UUUUUUUUUUOOOOOOOOOOOOOOO!”

Labrys dan tangan hitam yang memegangnya menukik ke arah Bell, dan dibelokkan seratus persen.

Di belakang Asterios, Bell melihat Dix. Melihat Aiz, idola yang bahkan kakinya pun tak dapat dia sentuh. Dia melihat Wiene yang berubah menjadi abu dan menghilang karena tak bisa menyelamatkannya. Dia melihat bayangan tidak berdayanya sendiri.

Di belakang Labrys, dia melihat tombak Dix, serta pedang Aiz, juga air mata Wiene. Mereka membangunkan harapan gila yang merobek-robek hatinya.

Aku ingin menjadi kuat.

Agar bisa mengatasi lawan layak ini—dan mengatasi diriku yang tak berdaya.

Aku ingin menjadi kuat.

Agar bisa mengalahkan lawan layak ini—dan aku takkan kehilangan apa-apa lagi.

Jadilah kuat.

Jadilah pahlawan.

Jadilah pahlawan yang melindungi orang-orang tersayang.

Laksana pahlawan yang berjuang biarpun kenyataan menghantamnya dan orang-orang hipokrit menghinanya.

Aku.

Aku ingin menjadi … seorang pahlawan.

“Uwwwwwwwwwwwwwwwwaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!”

Bell berteriak.

Mendesak dirinya melampaui batas dan berlari dengan kecepatan penuh menuju dunia putih.

Belari sekuat tenaga melalui bidang putih letak segalanya terbakar panas putih, menuju black minotaur yang menunggu di kejauhan.

“?!”

Menerjang maju bersama kekuatan kaki kirinya sampai-sampai sosoknya mengabur di mata penonton, sekaligus mengayunkan pedang besar. Musuhnya tak dapat tepat waktu merespon kecepatan penghancur batas ini. Pedangnya menabrak zirah monster, sayang Bell tidak berhenti. Melepaskan badai serangan menuju baju zirah lengkap kerasnya.

“UUOOOOO!”

Seakan telah sampai batas kesabarannya, Labrys menggetok pedang Bell tinggi-tinggi ke udara.

Para penonton berteriak, tetapi Bell mengabaikan mereka dan melompat maju dengan kecepatan penuh.

Tendangan atas yang menabrak tulang pipi kirinya membuat Asterios lengah. Tak ingin dikalahkan lawannya, Bell mengubah tubuhnya menjadi senjata dan melancarkan cakar kelinci kepada minotaur. Entah bagaimana Asterios menahan tendangan Bell di wajahnya, tendangan seorang petualang kelas satu—namun sejenak berikutnya, minotaur diserang syok.

Masih mengudara dengan kaki kiri merenggang, Bell meluncurkan tangan kanannya ibarat laras pistol.

Firebolt!”

Meliris enam baut-baut petir berturut-turut.

“—OO?!”

Diserang dari jarak dekat hingga para petualang yang menonton pun terkesiap. Serangan pramungkas menghancurkan salah satu mata minotaur.

Kekuatan ledakannya sendiri menghempas Bell ke belakang. Begitu dia menyentuh tanah, belari mendekati Asterios secepat-cepatnya. Di tangan kanan, menggenggam pedang yang jatuh berputar-putar dari atas kepalanya, terhuyung mundur beberapa langkah, kemudian menyerbu monster itu dan menebasnya sekuat tenaga.

“GUUOO?!”

Tebasan diagonal ke bawah.

“UO?!”

Serangan memotong horizontal.

“OOOOOOOO—?!”

Pukulan ke atas.

Tiga kilatan cahaya kesemuanya dilancarkan. Kali ini baju besi lengkap minotaur telah terbelah, dan tubuh raksasanya mengeluarkan air mancur darah.

“UUUUUUUUOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO.” para petualang dan dewa-dewi berteriak seakan-akan dada mereka akan meledak seketika melihat terbangunnya kekuatan penuh Bell.

Adapun Asterios, yang mata kirinya hilang dan tubuhnya menderita luka dalam—dia tersenyum.

Raut wajah tenang dan kuat walau aneh membungkam sorak-sorai orang-orang sebentar.

Kehendak bertarung anak laki-laki itu sesengit sebelumnya. Bergegas maju bersama pedang besar, terbakar tekad.

Kaki Asterios menginjak tanah, meremuknya.

 Kaki Bell membawanya maju bersama kecepatan menyilaukan.

Masing-masing penonton hanya bisa melihat satu petarung. Mata mereka melotot saat melihat tabrakan terakhir.

“!”

Pertandingan terakhir.

Raungan bocah dan mahluk buas memenuhi udara. Tiada jejak-jejak elegan terdapat dalam duet mereka—hanya teriakan pertempuran dua mahluk yang haus akan kemenangan.

Kegigihan saling berseteru dengan kekuatan.

Bahkan ketika sebongkah perak menangkal bilah ganda berdarah, kaki kuat minotaur menendang tangkisan rendah Bell. Pedang dan kapak ditarik mundur, selintas kemudian bertemu lagi membentuk pusaran kedipan cahaya dan percikan-percikan terbang.

Kapak menyerempet bahu Bell, darah menyembur keluar. Suara daging hancur terdengar dari dalam baju besi yang menangkis serangan.

Tangan kanan Bell menembakkan Firebolt yang membakar tubuh sang monster, tetapi lawan kuat yang sekilas melakukan kontak sudah cukup merusak banyak peralatan Bell.

Bahkan Pisau Ilahi dan pisau merah tua memainkan perannya dalam pertempuran epik, menorehkan lintasan bercahaya ungu biru serta merah tua antara kapak dan pedang.

Bentrokan kehendak dan kebulatan hati ceroboh tidak ada hubunannya dengan kebanggaan.

Masing-masing tak menerima kompromi pihak lain, sebaliknya mendesak seperti gambar pada cermin.

Para petualang berbalik tuk menghindari efek serangan mereka. Warga kota bergidik. Dewa-dewi tersenyum dan bersorak. Teriakan tanpa kata terbang ke seluruh pertarungan. Penduduk kota yang berdiri di sekitar tepian Taman Pusat bahkan lupa bernafas, malah menuangkan segenap jiwa ke dalam satu teriakan panjang.

Mata perak dewi cantik berkilau penuh hasrat.

Blasteran elf gemetar dan pucat pasi melihat perjuangan mematikan Bell. Semua yang menyeberang jalan bersama si bocah menyaksikan sembari menahan nafas tatkala pertarungan menghampiri waktu-waktu terakhir.

Selagi menonton, Bell dan Asterios habis-habisan menangguhkan akhir pertarungan mereka.

“UUUUUUUUOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!” “Uuuuuhhh!”

Labrys menyerang kuat dan pedang mengangkat cepat untuk menangkisnya.

Kaki Bell meninggalkan tanah dan terlempar jauh ke belakang bak bulu. Kala pungungnya menabrak batu-batu bulat, dia berguling dan melihat Asterios di tengah bidang penglihatannya.

“—OOOOOOOOO!”

Sekitar sepuluh meder memisahkan mereka.

Seolah menunggu tak sabar momen-momen ini, Asterios mengayunkan tangan kirinya—juga Labrys yang digenggam—menabrak batu-batu bulat. Satu tangan ditancapkan kuat-kuat ke bawah, minotaur menundukkan kepalanya rendah-rendah.

Dengung antisipasi melanda banyak orang yang terdiri dari penonton petualang. Minotaur bersiap-siap menggunakan senjata paling mematikan—tanduknya.

Kekuatan tak tertandinginya menyerang maju, menghancurkan segala sesuatu di jalannya.

Bell menatap banteng mengamuk yang digambar di atas menara batu kapur. Sekejap, Bell menebak niatnya dan pedangnya dilancarkan persis ke depan tubuh.

Hendak melepaskan Serangan Pahlawan. Suara lonceng berbunyi, cahaya putih berkumpul. “!!!!”

Pemicu kemampuannya adalah citra seorang argonaut, panutannya.

Para argonaut ingin menjadi pahlawan, dan untuk menjadi pahlawan mereka telah mengungguli takdir yang berubah-rubah.

Bell memikirkan kisah kepahlawanan orisinil ini sambil menarik kembali pedangnya.

“—”

“—”

Bayangan tanduk merah tua terlukis di mata si anak. Percikan cahaya putih yang menyatu menembus tatapan sang monster.

Mata mereka bersilangan. Keduanya penuh tekad bertarung meluap-luap yang mendobrak semua batasan. Satu detik serasa selamanya.

Anggota tubuh mereka berteriak, hati mereka lapar, dorongan hati mereka membara ganas.

Mata merah Bell menemui mata monster Asterios.

Selanjutnya—

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa”

“UUUUUUUUOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO”

Mereka saling menerjang.

Jangan kalah!

Untuk pertama kalinya, Eina berdoa agar pertarungannya berakhir—tetapi Bell pemenangnya.

Petualang dan minotaur menjadikan tubuh mereka sebuah peluru kuat yang menghancurkan batu-batu bulat sewaktu melesat maju.

Orang-orang, dewa-dewi, para petualang menahan nafas mendengar raungan gemuruhnya.

Sekejap, serbuan gila menghapus daerah di antara keduanya menjadi hampa.

Bell mengisi daya selama dua puluh detik.

Mengayunkan pedangnya ke bawah lalu dinaikkan lagi.

Mengincar tanduk merah lawannya, Bell melepaskan serangan tebasan cahaya putih ganas.

Sepintas.

Bell langsung tersadar cahaya merah tua lawannya menghancurkan cahaya putih murninya.

Sedetik setelahnya—

“—hiyaaaaahhh!”

Bell kalah.

Serangan Pahlawannya dikalahkan.

Guncangan fana bergema dalam dirinya ketika tubuhnya terbang tinggi di udara.

Orario sunyi senyap.

Tubuh Bell bangkit tegak dari tempatnya bertabrakan dengan Asterios, mulutnya muntah darah.

Semua mata mengikuti sosoknya yang mengudara, seluruh wajah memutih, semuanya menyaksikan serpihan-serpihan bilah perak hancur bekerlap-kerlip disertai cahaya putih ke segala arah.

“B-Bell—”

Tangan Eina menutup mulutnya. Merasa seakan waktu telah berhenti.

“UUUUUOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!” sementara itu, sesudah si monster menghancurkan serangan terburuk bocah tersebut, dia meraung penuh kemenangan dan berputar-putar. Lalu berhenti dan langkahnya yang berbalik arah cukup keras hingga menghancurkan batu dan menuju posisi Bell akan terjatuh. Menyerbu maju layaknya banteng yang benar-benar liar, dan seketika Bell menabrak tanah, dia akan melawannya lagi.

“Eeeeeyaaaaah!”

Tangan hitam terentang terulur menabrak Bell, kali kedua dia muntah darah. Asterios mengangkat tubuhnya dan berlari menuju menara batu kapur tinggi.

“B-berlindung! Lariiiiiii!”

Segelintir petualang kelas atas Ganesha Familia menjaga pintu Babel secepat mungkin di hadapan kekuatan tak tertandingi dan tak terbendung itu.

Sesaat kemudian, minotaur menabrak pintu dan dinding menara besar.

“?!”

Tangan kirinya masih mencengkeram Bell, Asterios menerjang dengan kekuatan luar biasanya ke aula besar di lantai pertama Babel. Melempar Bell dan Labrys ke lantai yang menyerupai kaca patri besar. Kekuatan manusia super pukulannya memberikan dampak yang sama kepada Bell dan lantai, dan sesaat selanjutnya mulai runtuh.

Sewaktu Bell jatuh di lantai hancur, dia langsung masuk ke lubang besar yang menunggunya di ruang bawah tanah. Lubang menuju Dungeon.

Dia jatuh, dan jatuh, dan jatuh.

Meludahkan darah dan terbungkus sensasi mengambang aneh, ditarik ke dasar bumi bersama bongkahan-bongkahan puing. Cahaya malam permukaan surut sebelum penglihatannya mengabur, dan tibalah saat itu.

Bruk!

“Aduhhh!”

Dia jatuh ke lantai pertama Dungeon dengan bunyi bruk yang menyakiti telinga.

 Sengatan listrik sepertinya mengalir di punggungnya, hingga ke seluruh tubuh. Beberapa detik kemudian, dia hilang kesadaran.

Saat sadar, dia teriksa rasa sakit membakar yang bakal membunuhnya seandainya tak naik level semalam. Batuk gumpalan darah yang tersangkut di tenggorokanya dan membuka mata.

Dia berbaring telentang, jauh di atas, dia bisa melihat malam redup. Pasti cahaya bulan yang menyinari pintu Menara Babel. Bagian dalam menaranya betul-betul gelap, boleh jadi karena keruntuhannya telah memadamkan lampu berbatu sihir. Bagian dari tanggal spiral dalam lubang silinder hancur pula.

Bell berbaring tak bergerak di tempat reruntuhan. Reruntuhannya pun pasti merusak lantai bawah tanah ini, karena dindingnya penuh celah, dan terangnya hanya dari pendar-pendar kecil saja. Mengingatkan Bell akan sebuah gua yang diterangi sinar rembulan.

Tatkala Bell menatap kegelapan di atas kepalanya, pikirannya berjalan lamban … bayangan hitam jatuh di atasnya.

“Bell ….”

“….!”

Mendengar suaranya—bukanlah raungan monster, melainkan kata yang diucapkan dalam bahasa manusia—Bell memanggil sisa kekuatannya dan mengangkat kepala. Black minotaur berdiri tenang di sampingnya bagai pemenang.

“Sekarang kita seri ….” tutur Asterios.

Bocah itu balas menatapnya.

“Kali lain,” kata petarung minotaur. Dia kehilangan lengan, salah satu matanya hancur, seluruh tubuhnya serba luka-luka. Dia mengangkat Labrys ke dadanya.

“Kali lain—kita selesaikan ini.” Asterios tersenyum lebar dan melihat ke atas.

“UUUUUOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!” meraungkan lagu kemenangan monsternya … dan menghilang. Bell cuma melihat ruang kosong di depannya.

Sang minotaur telah menghilang ke kedalaman gelap Dungeon. “….”

Layaknya boneka yang talinya dipotong, Bell kembali mengistrirahatkan kepalanya ke tumpukan puing. Keheningan menyelimutinya, ibarat pertempuran itu tak lebih dari fantasi semata.

Pasti—mungkin—prioritasnya perbaikan Dungeon, kepala berbayang Bell memberitahunya. Tidak ada monster baru yang muncul, dan monster kelas rendah seperti goblin dan kobold mungkin bersembunyi jauh di ceruk, takut pada semua suara berisik dan guncangan ini. Kuyakin akan baik-baik saja jika hanya berbaring sebentar di sini.

 Rasanya melayang dalam mimpi lembut, nan halus. Pertarungan melawan monster itu entah bagaimana terasa tidak nyata. Namun rasa sakit mengerikan yang menyiksa seluruh tubuhnya kelewat nyata, dan itu tak membiarkannya lolos dari kenyataan.

“… aku kalah.”

Imbuh yang dilirihkan terbang menuju celah vertikal ke permukaan dan naik ke langit yang diterangi cahaya bulan.

“Aku ingin tahu … apakah semua Xenos … apakah Gros dan yang lainnya berhasil kabur ….”

Okulus di sarung tangannya rusak dan berserakan. Tidak mungkin bisa menghubungi sang dewi. Tetapi dia yakin dirinya dan anggota familianya telah mengurusnya. Mereka pasti berhasil, dengan memanfaatkan dirinya dan Asterios sebagai umpan.

Lantas memang ada arti dari pertarungan ini.

“… baiklah, aku lega seperti ini akhirnya.”

Karena dirinya terus berjuang dan menarik perhatian seluruh kota, Wiene dan Lido juga yang lainnya bisa kembali ke Dungeon.

Andaikata dia menang, Asterios pasti mati.

Andaikan dia tidak kalah, Asterios takkan bisa kembali ke saudara-saudaranya di Dungeon.

Lebih baik seperti ini.

“Untung kalah ….”

Kemenangan dan kekalahan urusan kedua.

Semuanya demi kebaikan—

“… itu bohong.”

Bell bergumam sendiri.

“… semua itu bohong.”

Suara tenangnya mulai terisak. Ujung hidungnya memanas, pemandangan di atas kepalanya buram.

Air jatuh dari matanya.

“Aku tidak senang telah kalah ….!”

Dia kecewa.

Kesal sekali sampai-sampai mau mati.

Mengesampingkan Xenos, misinya, dan hal lainnya, dia luar biasa berkecil hati.

Bell ingin mengalahkan Asterios. Dia ingin mengalahkan musuh lama yang muncul di hadapannya untuk ronde berikutnya.

Sebagai seorang petualang, sebagai seorang pria, dia mau mengalahkan lawan paling layaknya.

“Hiks, hiks ….!”

Berusaha mati-matian untuk menahan ratapan menyedihkannya.

Tetapi terlepas dari kemauannya sendiri, isak tangisnya berasal dari tenggorokan.

Memikirkan kata-kata Asterios.

Kali lain, kita selesaikan ini.

Permainan masih belum berakhir.

Bell tersesat setelah bertemu Xenos, dan Asterios memberikanya alasan untuk bertarung.

Kali lain, aku datang membunuhmu.

Lantas janganlah bimbang.

Jadilah lebih kuat.

Asterios memberikannya alasan untuk tumbuh.

“Guhh ….!” aku berjanji.

Suatu hari, akan kuciptakan tempat di mana kita bisa hidup bersama-sama.

Untuk mewujudkannya, mulai dari sekarang, aku harus lebih—dia mengatakan semua hal itu. Dia berjanji.

Dia benar. Mulai dari sekarnag, dia harus lebih—harus lebih.

Lebih, lebih-lebih lagi.

Seumpama ingin menepati janjinya dengan Wiene, andaikan dia menyelesaikan masalahnya dengan Asterios, dia harus menjadi jauh, jauh-jauh lebih kuat.

Jadi tetapkan tujuan lain.

Bell menemukan hal lain yang diincar selain idolanya.

Semua yang dia perlukan kini terhubung.

Agar bisa mencapai tingkat idolaku.

Sehingga yakin tak ada orang yang kusayangi akan terbunuh lagi.

Kali lain aku akan menang.

Aku akan menjadi lebih kuat.

Akan menjadi jauh lebih kuat.

Agar tidak pernah menyesali ketidakberdayaanku lagi.

Sekarang, menangis malulah.

Menangis sia-sialah.

Menangis sekarang agar dapat berlari lagi esok hari.

“U-u-waaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhh ….!”

Bell menutup matanya dengan tangan, isak tangisnya dimulai.

 

Κραυγή

 

“Bell!”

Eina berlari.

Seusai monster itu menghilang ke Babel bersama Bell, Eina naik ke Taman Pusat lebih cepat daripada siapa pun.

Terengah-engah karena tak biasa menguras energi sebanyak kali ini sambil mengayun tangan cepat-cepat, dia menuju menara batu kapur.

“Tunggu sebentar, di sana berbahaya!” seorang penjaga Ganesha Familia berteriak.

Namun Eina mengabaikan peringatannya dan berlari melewati pintu rusak Babel. Yang menunggu di sisi lain adalah lubang besar di lantai yang mengantar ke bawah tanah. Ketika menyadari tingkat kehancurannya, darah terkuras dari wajah.

Tidak mungkin dia terjatuh ke sana, kan?

Dia mengintip ke dalam lubang. Jauh di bawah, di bawah pintu masuk Dungeon, dia melihat sosok putih. Seolah didorong kekuatan tak kasat mata, dia berjalan cepat menuju tangga yang mengarah ke bawah tanah. Turun dan turun. Pertama lainya, dia menyesal tidak punya Falna. Jika punya, dia bisa saja langsung melompat turun ke sisi bocah itu.

Lampu berbatu sihirnya rusak, Eina berulang kali tersandung sebab cahayanya buruk. Sekalipun tertatih-tatih, dia tidak pernah berhenti.

Akhirnya tiba di lantai bawah tanah pertama penuh puing-puing dan tangga spiral menuju lubang besar Dungeon. Meskipun mengalami kerusakan, dia berhasil turun.

“Bell! Bell?”

Eina menemukannya terbaring di atas puing-puing berlumuran darah tapi masih bernafas—dan menangis.

Air mata besar mengalir dari bawah tangan yang menutupi matanya, seluruh tubuhnya bergetar karena isak tangis. Dengan segenap hati menangis malu, menyedihkan.

“Bell ….”

Dia menangis.

Bocah itu menangis.

Bukan rengekan anak kecil yang telah ia lihat berkali-kali sebelumnya, tetapi air mata pahit seorang pria.

Air mata sungguhan mengalir dari lubuk hatinya.

Dada Eina menegang sakit saat melihat Bell asing ini.

Tidak tahu harus berkata apa, tapi pengen melakukan sesuatu, diam-diam berjalan menghampirinya dan berlutut ke tanah.

Melingkarkan kedua tangannya ke tangan kanan Bell. Lanjut Bell remas erat-erat sampai sakit.

Eina menyadari sesuatu telah mulai tumbuh dalam hatinya.

Berdenyut manis, menyakitkan, hingga tak bisa dia hindari.

Diterangi cahaya bulan samar seperti terang pendar, Eina tinggal diam di sisi Bell hingga bantuan datang.

5 Replies to “DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 11 BAB 7”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *