DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 11 BAB 6

Posted on

Bab 6

Skema Dewata

Penerjemah: Daffa Cahyo Alghifari

Selagi Hestia memegang buku yang basah kuyup di tangannya, wajahnya pucat pasi. “Tulisannya tidak hilang … ‘tintanya tidak larut ….!’

Huruf-hurufnya bahkan tidak terlihat samar.

Kebenarannya menghujam Hestia bagaikan gelombang kejut.

Bahkan tekstur halamannya serasa aneh, padahal sudah basah kuyup. Jika kertas berusia ribuan tahun takkan berubah setelah menyerap air, maka buku catatan ini pastinya—

“Semua ini barang sihirkah ….? Tidak mustahil, namun tak terbayangkan, tapi ….?”

Daedalus sang pengrajin ahli semestinya membuat buku terkutuk ini. Hestia dengar-dengar dia adalah salah satu dari sedikit anak-anak Ouranus dan salah satu generasi manusia pertama yang diberkati Falna. Terlepas dari itu, di penghujung hidupnya yang merupakan awal-awal Era Ilahiah sewaktu dewa-dewi turun dari surga, tidak mungkin teknologi barang sihir ini bisa sampai semaju itu. Keterampilan memanifestasi kemampuan—belum lagi pengetahuan mengenai barang sihir yang telah terkumpul selama beberapa ribu tahun silam. Barangkali Daedalus membuat pintu orikalkulum yang fungsinya tidak hanya terbuka dan tertutup, tetapi tidak mungkin dia mampu membuat buku semacam ini.

Hestia mulai tersadar bahwa seseorang pasti sengaja memalsukan buku catatannya seolah-olah seperti buku Zaman Kuno—spesifiknya untuk tipuan.

“Dan tinta tak pudar ini … aku tahu.”

Tinta berjenis sama seperti surat yang dihantarkan burung hantu familiar Fels. Tulisan merah tuanya pun tidak hilang diterpa hujan.

Fels menulis suratnya dengan Bulu Darah, barang sihir yang menggantikan tinta dengan darah. Pena bulu merah popular di kalangan petualang Orario belakangan ini.

Lalu siapa yang mengundang mereka? Tidak lain adalah Perseus.

“Tentu saja aku tidak mendapatkan Buku Catatannya dari Ikelus,” Hermes mengumumkannya kepada Fels serta Xenos yang kaget.

“Dix Perdix memiliki Buku Catatan orisinilnya. Namun kini dia sudah mati. Kurang lebih, yang asli ada di suatu tempat dalam Knossos,” lanjut Hermes.

Warisan Daedalus diturunkan kepada darah dagingnya. Buku Catatan sekaligus Knossos. Bahkan dewata tak sanggup mengambilnya dari mereka, Hermes menjelaskan, masih tersenyum.

Senyumnya malah menambah amarah dan kebingungan Fels.

“Terus buku itu apa?!”

“Palsu. Salah satu anak buahku memalsukan buku yang dipegang Hestia. Dia bagus banget lagi menggunakannya, kalian setujukah? Aku buat dia menggunakan banyak tipe barang sihir untuk menciptakan ilusi buku berusia ribuan tahun.”

Seorang wanita cantik berambur biru muda dan lingkaran hitam lelah di bawah matanya keluar dari belakang Hermes. Ia Perseus. Menanggapi permintaan mendesak dewanya, kemudian beberapa hari singkat tanpa tidur untuk membuat replika buku yang dituangkan obsesi gila Daedalus.

Satu-satunya kebenaran yang Hermes ucapkan tatkala mendatangi Ouranus adalah dia sudah menyusuri Knossos secara menyeluruh. Familianya menjelajahi tempat yang juga dijelajahi Loki Familia. Dengan kata lain, seluruh rencana di lantai bawah pertama adalah omong kosong—dan peta yang dimanfaatkan Hestia juga Fels saling terkait kebohongan.

Titik berdiri Xenos sekarang adalah salah satu kepalsuannya. “Jadi, kau menggambar pintu palsu dan menarik kami ke sini ….?!”

“Terserah kau anggap apa. Karena Loki Familia menjaga pintu-pintu lain, aku tahu kalian terpaksa mengambil umpan dan mencoba satu-satunya rute pelarian lain.”

Jalan buntu tanpa pintu.

Fels dan Xenos mengikuti Buku Catatan serta-merta menuju perangkap sang dewa. Oleh karena itu, wajar saja Finn salah membaca situasi. Jelas naluri bahayanya tak merasa ada masalah.

Xenos melewati jalan yang salah.

“Selama aku tahu kau pergi ke timur atau barat … aku cuma mesti meyakini rencanaku dan menunggu. Maksudnya, menunggu di sini,” jelas Hermes, mengelus pinggiran topi musafirnya. “Jangan salahkan Ouranus soal ini. Aku meminta bantuannya, sebagai balasan atas semua yang dia minta di masa lalu.”

Namun mengapa Hermes tak memberikan Buku Catatannya kepada Bell secara langsung?

Jawabannya sederhana. Hermes tak ingin menimbulkan kecurigaan. Ouranus sebagai perantaranya, dewa pengantar pesan itu memperkecil keraguan Hestia dan Fels. Ouranus bertindak sebagai orang luarnya. Mereka mempercayai bukunya tanpa banyak tanya karena diberikan oleh seorang dewa tua jujur.

“Tunggu sebentar lagi dan Loki Familia nanti akan menemukan kalian di sini, meskipun mereka tak menyangka kalian akan melewati jalan buntu begitu saja.”

“….!”

“Tapi tolong jangan khawatir. Masih ada jalan keluar. Jika bisa pergi sejauh itu, kemungkinan besar kalian akan sampai di Dungeon.”

Memojokkan Fels dan Xenos, Hermes berdiri di hadapan korbannya yang berputus asa dan mengais-ngais harapan.

Arti situasinya jelas.

Hidup mereka ada di tangan Hermes.

Para Xenos terlihat lebih terkejut daripada Fels tatkala senyum sang dewa memberhentikan mereka. Jemari Fels bergesek-gesek ketika menggosok telapak tangannya. Disertai kemarahan, ketidaksabaran besar muncul dalam diri penyihir.

Sage yang hidup selama delapan ratus tahun lamanya terpaksa menyadari kejadian sebenarnya.

Sang dewa mempermainkan mereka.

“—Fels, ada yang aneh! Aku menjatuhkan Buku Catatannya ke genangan air, tapi tidak terjadi apa-apa …. Bukunya palsu! Ouranus—tidak, Hermes—dia melakukan sesuatu ….!”

Gema teriakan Hestia terdengar dari okulus, termakan udara hampa serta terbalut rasa takut akan jalan buntu. Hermes menatap kristal biru, Fels mematuhi perintah tanpa ucapannya, kemudian dihancurkan. Suara Hestia dimatikan. “Apa tujuanmu, Dewa Hermes ….?” suara bertanya Fels penuh kebencian.

“Aku ingin membuat kesepakatan—lebih tepatnya, permintaan,” respon Hermes, matanya menyipit.

Xenos-Xenos tak bisa menolak.

Sesaat pengikutnya berdiri di belakang, Hermes menatap monster-monster di depannya dan perlahan-lahan bibirnya nyengir.

“Matilah untukku, dasar monster aneh.”

 

ζ

 

Bell dan Haruhime berdiri di puncak bukit bagian utara Daedalus Street. Setelah mengucapkan selamat tinggal kepada Wiene dan Xenos lain, mereka meninggalkan kebun belakang panti asuhan dan menuju puncak bukit.

“Kotanya serasa lebih tenang sekarang, bukan ….?” kata Bell.

“Ya, kau benar. Kini para Xenos pastinya sudah kembali ke Dungeon ….” jawab Haruhime.

Gelombang kekacauan rasanya mulai surut dari permukiman kumuh di bawah atap tempat mereka berdiri berdampingan. Kabut hitam yang memenuhi sector barat sudah hilang sepenuhnya, dan mereka tahu bahwa kehebohannya telah usai.

Selagi melihat jalan-jalan bercabang Distrik Labirin, Bell serta Haruhime merasa lega namun juga kesepian.

“… Xenos terakhir yang masih di sini … kita tak bisa menyelamatkannya, benar?” “Master Bell ….”

“Dia di sini mengikuti kehendaknya sendiri, barangkali bukan urusanku … tapi ….”

Bell memikirkan Wiene dan kawan-kawan. Ingin Xenos terakhir bertahan sebisa mungkin, tetapi Bell ragu mengutarakan isi kepalanya secara langsung.

Haruhime cekikikan soal dalih anak muda yang lebih muda darinya sampai suara dewi mendadak terdengar dari okulus sarung tangannya.

“Bell, Haruhime! Bisa dengar aku?!”

“Dewi? Ada apa?”

“Kita perlu bicara! Aku ingin bertemu kalian berdua. Nanti aku hampiri, jadi ikuti saja petunjukku!”

“Uh … anu, oke. Dimengerti.”

Suara panik dewi membingungkan Bell. Saat mereka berdua saling bertatapan, akhirnya menyadari ada yang sanagat salah.

Menunda penjelasan apa pun, Hestia mulai memberikan arahan. Akhirnya mereka saling bertemu di suatu plaza sisi barat Distrik Labirin. Hestia sempoyongan menghampiri mereka sambil membawa ransel yang isinya peta sihir dan barang-barang lainnya. Bahkan tanpa berterima kasih atas kerja keras Bell dan Haruhime, Hestia langsung menjelaskan kejadiannya. “Buku Catatan Daedalus ternyata palsu! Dan aku tidak bisa menghubungi Fels dan yang lainnya!”

“P-palsu ….? Dan tidak bisa menghubungi Xenos ….?” “Dewi, maksudnya apa?”

“Aku tidak tahu! Aku tidak tahu, tapi … firasatku soal ini buruk ….!”

Dewi memilih kuncir kudanya dengan cemas sembari menanggapi pertanyaan panik Bell serta Haruhime. Dari ekspresi dewi sendiri, mereka paham seberapa serius situasinya.

“Bell, maaf memintamu hal ini, tapi bisakah kau pergi ke lorong bawah tanah dan lihat masalahnya? Aku tahu Loki Familia masih berkeliaran dan keadaannya bahaya, tapi aku ingin kau memeriksa situasinya!”

“Y-ya, oke!”

Tanpa penjelasan lebih lanjut dari Hestia, Bell mengambil Tudung Pembalik dan hendak berlari namun dihentikan dewinya.

“Bentar, Bell!”

“Apa?”

“Untuk jaga-jaga saja, ayo perbaharui Statusmu …. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya.”

Hestia terhuyung-huyung karena barang-barangnya,mengeluarkan jarum ichor, dan mengajak Bell ke bayang-bayang kota agar tak ada yang bisa melihat mereka.

“Umm, tapi … semua orang baru saja melakukannya ….”

“Kau melawan Putri Pedang, jadi ini bakalan—ah, omong-omong, tidak apalah; duduk diam.”

Hestia tidak ingin mengatakan apa-apa lagi megnenai keterampilan khusus itu, lantas dia menyuruh Bell patuh saja.

“Ya, dewi?!” kata Bell, mulai melepaskan perlengkapannya. “Haruhime, beri tahu Lilly, Welf, dan Mikoto untuk datang ke sini.”

“Y-ya, bu!”

Hestia memprioritaskan pertemuannya dengan Bell agar dapat memperkuat Statusnya. Sekarang buru-buru menyelesaikan prosedur seraya memberikan perintah ke Haruhime.

“Apa-apaan ….?! Seburuk apa si Wallen atau siapalah itu menghajarmu?”

“Uh, ada yang salah?”

Bell berkeringat gugup sedangkan Hestia menganga di belakangnya. Bell ingin tahu luka apa yang dia derita, tapi tak boleh menyia-nyiakan waktu. Dia mengenakan kembali perlengkapannya dan meneguk beberapa ramuan ganda yang Hestia berikan sehingga kembali ke performa terbaiknya. Anak itu baru saja akan menuju lorong bawah tanah di arah Welf dan teman-temannya, seketika—

“UUUUOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO—!”

Raungan tempur mengerikan dari sang monster bergemuruh di langit malam. “… hah?”

Awalnya, Bell tidak mengerti apa yang terjadi.

Hestia dan Haruhime pun tercengang. Mereka mendongak ke arah asal raungannya.

Suatu wujud aneh tengah mengepak-ngepak di bulan dari balik tabir awan.

 

Αστέριος

 

“Di mana itu? Dari mana asal suaranya?!” Mord Latro langsung waspada dan meludah ke tanah.

Seorang karyawan Guild menahannya dan teman-teman, kini tengah ragu untuk melaksanakan tugas masing-masing. Mendengar suara raungan monster barusan—pasti raungan terganas sehari ini—petualang kelas atas bayaran tersebut melihat-lihat sambil merasa ngeri.

Dua manusia putih hantu di sampingnya menunjuk ke langit.

“Mord ….”

“Di atas sana ….”

“Hah?”

Beberapa wujud terlihat dari arah yang ditunjuk. Mereka semua punya sayap. Sesaat melayang melintasi langit, sosok-sosok mereka kelihatan lebih besar.

Langsung menuju Mord dan teman-temannya.

Menatap mereka baik-baik. Sejenak sosok kabur itu menjelas dan Mord tersadar salah satunya adalah gargoyle, dia membuka mulut dan menjerit.

“Uaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”

“Gaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!”

Seketika para monster melambung ke tanah sembari berteriak perang, Mord dan rekan-rekannya melompat mundur secepat mungkin.

Monster-monster mendarat satu demi satu, mengirim awan debu. Cakar batu mereka merobek-robek bebatuan besar seraya meraung hebat. Semua orang yang menonton terbungkam.

Mord dan teman-temannya berada di sektor barat laut, di pinggiran Daedalus Street, dekat kerumunan besar pengungsi.

“Uaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”

“Eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeehhhhhhh!”

Kala waktu sekali lagi mulai bergerak maju, teriakan murka menghanguskan distrik.

Orang-orang menjerit dan berteriak sewaktu monster-monster bersayap kejam tersebut menyerbu dari langit. Teror yang ditahan para penduduk kota tak berdaya meledak sekaligus, gelombang pasang manusia hewan mencoba melarikan diri dari tempat kejadian.

“P-petualang! Kalahkan mereka!” pekik seorang karyawan Guild.

“Lawan para monster!” balas teriak.

Para petualang di kerumunan mulai berlarian, tangan memegang senjata.

Empat monster—seekor gargoyle, crimson eagle, dan iguaz, serta deadly hornet yang mengenakan baju zirah—telah mendarat di alun-alun oval besar. Para petualang menyebar ke lini belakang yang melindungi penduduk kota juga barisan depan yang termotivasi campuran keberanian juga keserakahan atas hadiah kepala monster.

Garis pertama pasukan terdiri dari manusia-manusia hewan yang bergerak berdasarkan karakteristik kelincahan khas mereka.

Namun mata batu gargoyle tidak memedulikannya saat menabrak seluruh pasukan.

“Yaaaaaah!”

“Oooooof!”

Satu cakaran tajamnya membuat manusia hewan terhempas jauh hingga terguling-guling di bebatuan. Manusia serta kurcaci senasib.

Garda belakang melepaskan hujan panah, namun dinding batu kokoh sayap gargoyle menangkis semuanya. Lupa bahwasanya mereka menyerang di tengah-tengah kota, para penyihir mulai menyiapkan sihir masing-masing, namun rapalan mulai berubah menjadi teriakan seketika monster lain menyerang mereka.

Melihat para petualang ditendang membuat panik kerumunan. Orang dewasa lumpuh karena ketakutan, karyawan Guild, dan anak-anak saling berpelukan. Ketika orang-orang berlarian tanpa alas kaki menuju East Main Street, jalan-jalan menjadi tersumbat dan evakuasi terhenti. “Kapten Shakti!”

“….!”

Kapten Ganesha Familia sedang menjaga penduduk kota di tempat, tapi bingungnya berbeda dari orang-orang yang memanggilnya.

Idiot! Sekarang, di sini ….?!

Shakti yang mengetahui Xenos tak mempercayai matanya. Tidak sanggup menyembunyikan kegelisahannya atas perilaku aneh mahluk-mahluk yang semestinya cerdas. Mereka nampak persis sebagaimana monster biasa yang mengamuk tanpa pandang bulu.

Menggertakkan giginya dan meneriakkan perintah kepada anggota-anggota faksinya, mereka semua menatap Shakti dan menunggu arahannya.

“Keamanan penduduk kota nomor satu! Patuhi kehendak ilahi Ganesha dan terus bantu evakuasi dan perlindungan!”

“Dipahami!”

Itulah perintah satu-satunya.

Sementara itu, Ouka putus asa meneriakkan perintah berbeda. “Chigusa! Bekerja samalah dengan Asuka untuk mengelarkan anak-anak dari sini!” “Uh, oke!”

Ouka dan beberapa anggota Takemikazuchi Familia lainnya beraa di antara kerumunan petualang yang benar-benar kewalahan. Ouka berusaha menghadang serangan monster bersayap dengan sisi kapak perangnya, kedua tangannya memegang gagang. Mengikuti instruksinya, Chigusa melindungi anak-anak yang dia bawa kembali ke alun-alun serta mencoba membimbing mereka ke tempat aman.

“Uh-uh ….”

“Lai, kita harus cepat-cepat keluar dari sini!”

“….!”

Lai, Fina, Ruu, dan anak-anak lain tidak merespon panggilan Chigusa dan Maria. Mereka membeku saat melihat monster mengerikan.

Teriakan memancing teriakan-teriakan lain, alun-alun terjatuh ke dalam kumpulan teror dan kekacuan.

“Mereka lagi ngapain?!”

Bell naik ke atap dan berteriak tak percaya ketika menyaksikan pemandangan kacaunya.

“P-para Xenos merusuh di alun-alun ….” “….?!”

Haruhime menutup mulutnya, Hestia menganga terheran-heran. Mereka tidak bisa memahami kejadian mimpi buruk di depan mata. Mahluk-mahluk menggeliat keras layaknya monster jelas-jelas adalah Gros dan beberapa Xenos lain.

“T-tunggu sebentar, Bell!” Hestia berteriak.

Anak bocah itu mengabaikannya dan mengesampingkan tudung, melompat ke kerumunan. Langsung menuju alun-alun seakan-akan teriakan penduduk kota menariknya maju.

“Lady Hestia!”

Sedetik kemudian, Welf, Mikoto, dan Lilly sampai di atap. Mereka mendengar kekacauannya, tetapi setelah melihatnya secara langsung, mereka sama terkejutnya dengan Bell.

“Hei, ini pasti bercanda …. Ada apa?” Welf berteriak.

“Aku tidak tahu! Bagaimana aku bisa tahu?!” Lilly balas teriak. “Tolong kalian berdua tenanglah!” tutur Mikoto, tenangnya kembali dan bisa menyela keributan mereka.

Sewaktu anggota-anggota familianya berteriak di samping, Hestia menyaksikan Xenos menerjang maju dari jauh. Tiba-tiba suatu pemikiran terlintas di benaknya.

Kelihatan mirip drama ….

Alun-alun adalah panggungnya, penduduk kota ialah monsternya, monster dan petualang adalah para pemeran. Tatkala para penonton berteriak tentang adegan pertarungan kejam berdarah-darah disertai meningkatnya teror, mereka tampak tak sabar menunggu titik balik.

Sesudahnya, pahlawan drama bergegas naik ke atas panggung— “—!”

Hetia mendongak. Selagi menatap langit kosong, dia dengan marah mengutuk dewata yang mesti menonton pemandangannya dari tempat jauh.

“J-Jenderal Lapangan?!”

“Aku tahu.”

Tak sekilas pun melihat Raul yang mendekatinya, Finn memandang kejadian di pinggiran sector barat laut tempat monster turun.

“Tidak ada bedanya dengan Dungeon ….” Finn mendesau. Malam itu tampaknya serangkaian kejadian aneh panjang.

Dia menduga bahwa tujuan musuh bukanlah menyerang titik evakuasi … merasakan intervensi pihak ketiga yang menyebabkan tingkah monster tak jelas dan tak diterima. Finn tidak menyukainya, namun setelah tahu keadaannya sejauh ini, Loki Familia tidak punya pilihan lain selain mengirimkan unit.

Menatap tangan kanannya. Kaget sesaat merasakan ibu jarinya berdenyut sedikit.

Apakah terjadi sesuatu? Ataukah akan terjadi sesuatu?

Sembari menjilat bantalan jempolnya, dia mengingat kata-kata dewanya.

“Cari asal-usulnya dengan kedua matamu sendiri, ya? Akan kulakukan.”

“Hah? Anda bilang apa, Kapten?”

Mengabaikan Raul yang menguping gumamnya, Finn membuat keputusan.

“Raul, aku akan memimpin unit ke sana.”

“Apa?! Kapten sendiri? Siapa yang tinggal di markas besar dan memberikan perintah?!”

“Kuserahkan kepada Riveria dan dirimu. Gunakan kesempatan ini tuk menebus dirimu.” “Saaaayaaa?!” Raul berteriak.

Mengabaikan keluhan membosankannya, Finn cepat bekerja. Mahluk yang paling dikhawatirkannya masih hidup dan sehat Sentosa. Pemimpin prum memberi tahu Aiz dan petualang kelas satu untuk tetap was-was, kemudian berangkat menuju arah barat laut, bersama sekelompok anggota familianya di belakang.

 

Џ

 

“Tolong jangan pergi ke Main Street! Ikuti perintah Ganesha Familia!” Eina berteriak. Dia mati-matian berusaha menahan penduduk kota yang tak terkendali, meskipun kaki mereka terinjak-injak dan suara-suara teriakan menciptakan bunyi gemuruh bak air terjun dan meredam suara arahan Eina.

Walaupun dia menuju Daedalus Street sebagian besarnya karena alasan pribadi, kini Eina berusaha sebaik mungkin untuk memastikan keselamatan penduduk kota di pinggiran wilayah barat laut. Paling tidak, sampai beberapa waktu sebelumnya.

Saat ini mencoba membimbing orang-orang ke luar dari alun-alun kacau, namun tak yakin kerjanya bagus atau tidak.

Monster-monster itu ke sini karena dikejarkah? Tapi kenapa ke lokasi evakuasi, membayangkan ukuran Daedalus Street ….?

Dia menyaksikan monster-monster melawan para petualang di pusat alun-alun.

Terlepas dari seluruh pengetahuannya, peran normal Eina semata-mata menunggu di Markas Besar Guild hingga para petualang kembali. Dia diselimuti rasa takut yang sama besarnya dengan karyawan Guild dan warga kota lainnya. Sengaja mencoba menstabilkan tangan dan kaki gemetarnya selagi menilai keadaan pertempuran.

Gargoyle itu kuat banget!

Satu per satu, bukan hanya petualang kelas bawah, bahkan para petualang kelas tiga dan segelintir petualang kelas dua di alun-alun terpental kuat-kuat sampai tidak bisa berdiri lagi. Tubuh batu gargoyle tersebut hampir kebal terhadap senjata jarak jauh juga. Terlampau kuat sampai-sampai Eina menyangka mereka takkan mampu mengalahkannya tanpa sihir.

Sulit mempercayainya, tetapi karena Ganesha Familia berkonsentrasi menjaga keamanan penduduk kota, sekelompok kecil monster ini di atas angin.

Kalau saja Loki Familia datang ….!

Sudut mata Eina melihat seorang petualang jatuh sebab muntah darah dan ditarik menjauh oleh rekannya, berdoa agar seseorang menyelamatkan mereka. Saat itu, matanya menatap si gargoyle brutal.

“—huh?”

Dia yakin gargoyle menatapnya. Merasa waktu seolah-olah terhenti. Terperangah oleh mata batu tanpa nyawa, merasa bagaikan sesuatu masuk ke dalam dadanya dan mencengkeram hatinya.

Tak sadar permata ungu gelang yang melilit pergelangan tangannya berkedip-kedip. Sekaligus menyadari bahwa gargoyle-nya menyembunyikan jenis batu serupa di tangannya.

Berdiri terpaku di tempat kala mahluk berbentuk abu-abu menerjangnya seraya meraung.

“OOOOOOOOHOOOOOOOOOOOOOOO!”

Para petualang syok oleh gerakan mendadak gargoyle, sedangkan warga kota berteriak dan suara udara terdengar bagaikan kain sutra robek.

Pasukan baris belakang sedang melindungi orang lain dan tidak datang tepat waktu dengan perisai mereka. Ouka terkunci dalam pertempuran sengit, terheran. Saat orang-orang berlarian ke sana kemari, menghilang ke belakang gargoyle, mata hijau Eina melihat cakar batu yang hendak menusuknya.

“—aaaahhh!”

Namun seseorang memblokir cakar tersebut.

“?!”

“!”

Kala Eina merasakan kematian kian mendekat, kilatan logam ungu biru menahannya.

Bocah berambut putih melompat ke depan gargoyle, Pisau Hestia dihunuskan.

“B-Bell ….”

“Nona Eina, tolong mundur!” teriak Bell, suaranya gelisah.

Eina yang bingung, penduduk kota, serta para petualang menatapnya, tapi Bell tidak setitik pun memperhatikan mereka. Seluruh tubuhnya mendenyutkan satu pertanyaan: Kenapa?

Tatkala Bell diam-diam bertanya kepada monster di depannya, gargoyle mengerikan tersebut tampak menyipitkan matanya dan terbang ke Eina sekali lagi.

“Gaaaahhhh!”

“Apa—?!”

Bell mencegat serangan monster gargoyle. Tangan yang memegang pisaunya gemetar oleh serangan itu, serpihan batu terbang dari cakar si monster.

Monsternya membentangkan sayap dan sekali lagi mengincar Eina.

Gros?!

Sewaktu Eina berdiri diam di tempat, cakar bertemu bilah lagi dan lagi. Karena kekuatan tempur gargoyle lebih besar, si Pemula Kecil terdesak, para petualang lain mengesampingkan dendam dan berusaha mendukungnya, sayangnya monster bersayap lain tidak membiarkan mereka mendekat.

Bell hanya bisa melawan serangan gencar gargoyle.

Geraman mengancamnya membuatnya heran.

Dia sudah hilang akal?!

Mengingat kejadian di lantai delapan belas. Saat ini, gargoyle terlihat persis seperti dahulu kaumnya dibunuh dan diculik. Apa sekarang juga terjadi sesuatu kepada mereka?

“Kenapa? Apa yang terjadi?!”

“….”

Si monster tak menjawab Bell. Hanya cakar dan taringnya yang merespon. Saat mendengar suara bingung Bell, gargoyle—Gros—menekan emosinya dan cakarnya menebas udara.

Rasional seperti biasanya.

Bentuk luarnya sebagai monster menyembunyikan komitmen perjanjian.

Tangan batunya, menggenggam permata berkilau yang beresonansi dengan gelang Eina.

“Matilah untukku, monster aneh.”

Itulah yang dikatakan sang dewa jahat kepada Gros dan Xenos lain.

“Apa?!” Lido menjawab, tidak mengerti.

“Dewa Hermes, kau ingin apa?!” timpal Fels setelah bisa berbicara kembali.

Hermes merespon seolah-olah masalah paling sepele di dunia. “Oh, tidak semua orang perlu mati. Menurutku tiga atau empat sudah cukup.” senyum tak tergoyahkannya menghujam teror ke dalam hati Xenos. Deusdea berbeda dari manusia dan monster, Xenos takut pada mereka tak terkecuali.

“Aku Hermes. Aku memegang perjanjian akhir dengan Ouranus—paling tidak, setengahnya.”

Menyipitkan mata panjang, kuning keemasannya, dan bibir melengkung ke atas. “Perkara sebagiannya, aku pertimbangkan bayarannya.” memandang para Xenos.

“Buat menyelamatkan kalian semua, seorang bocah berada dalam situasi sulit. Aku hanya tak bisa mentolelirnya.”

“….!”

“Kalian berencana pulang setelah semua hal yang dia lakukan untukmu? Kami minta maaf, terima kasih, kau beneran menyelamatkan kami. Betulan balik ke bawah tanah cuma meninggalkan beberapa kalimat apresiasi? Nah, nah, bahkan kami para dewa plin-plan tak setidak tahu terima kasih itu.”

Ucapannya berarti negoisasi, menyerupai kalimat piawai seorang pria yang dengan lembut menipu kekasihnya. Tapi paling pentingnya lagi, ucapan-ucapan itu adalah racun yang memperlebar luka Xenos hingga bernanah.

Tentu saja, Xenos-Xenos pucat pasi dan mengerang menyesal.

“Dewa Hermes!”

Tinju Fels mengepal marah.

Penyihir itu tak marah kepada pengkhianatan Hermes, namun marah bahwa kehendak ilahiah sang dewa yang telah menginjak-injak hati Xenos dan keputusan pribadi Bell. Tetapi Hermes tak tertarik pada pendapat Fels.

“Kutebak, Fels—kau mau bilang kalau Bell menentukan keputusannya sendiri? Kau salah. Kau terperangkap dalam situasimu sendiri dan kehendak ilahiah Ouranus. Bell tak punya pilihan lain.”

Membuang jauh-jauh penegasan Fels yang bahkan belum diutarakan. Bagi Hermes, penegasan itu adalah omong kosong seorang anak delapan ratus tahun. Di sisi lain, sang dewa mampu mendapati perbedaan antara kebenaran subjektif Bell serta sifat sejati situasinya.

“Dunia memerlukan pahlawan, dan aku mempertaruhkan segalanya untuk cahaya putih bersinar tersebut. Dia tak boleh berurusan dengan monster …. Oh tidak, itu seratus persen tidak boleh.”

Fels terdiam takjub terhadap kehendak ilahi Hermes.

“Aku, Hermes, meminta kalian, para monster egois. Selamatkan bocah itu.” kata-kata bisikannya setengah memohon, setengah menipu.

“… kau meminta kami menyerangnya?” tutur Gros, kepada Xenos lainnya.

“Kau sungguh-sungguh cepat mengerti.”

“Aku akan pergi.”

“Gros?”

“Kurasa anak itu takkan melawan Lido atau Rei atau yang lainnya. Sebab aku dulu membenci manusia, paling bagusnya aku dalam peran ini.”

“Tapi, Gros, artinya kau akan—”

“Bagaimanapun, kita tidak punya pilihan lain.”

Lido dan Rei mengelilingi Gros yang telah menjadi rekan mereka semenjak Xenos pertama kali bergabung bersama, namun dia menggeleng kepala. Hermes melirik dari samping, diam-diam menegaskan tutur gargoyle dengan senyumannya.

Xenos-Xenos lain menguatkan taring mereka dan merasa frustasi.

“Gargoyle pemberani, beri tahu aku namamu.”

“… Gros.”

“Terima kasih, Gros. Biarpun kau adalah monster, aku ‘kan memanggilmu dengan namamu.”

Hermes melepas dengan hormat melepas topinya. Lanjut menyerahkan permata ungu kepada Gros.

“Apa ini ….?”

“Asuransi. Kemungkinan besar Bell, bocah baik itu, takkan menghunus pisaunya meski kau menyerangnya. Seseorang yang sangat dia pedulikan akan mengaktifkan barang ini. Tolong serang dia terlebih dahulu.”

Si pembuat barang yang berdiri di belakang dewa tersentak seolah dia menentang keputusan Hermes.

Gros menatap permatanya.

“Aku mengerti ….” kata Gros, tangan berkulit batu meremasnya.

“Gadis yang aku sebutkan kemungkinan besar berada di bagian barat laut Distrik Labirin. Aku ingin kau mengacaukan daerah di sana dulu. Akan ada banyak manusia yang sangat kau benci … tapi aku akan berterima kasih apabila kau tak membunuh satu pun mereka.”

“Kau banyak meminta ….” gumam Gros. Kemudian melihat Lido dan rekan-rekannya. “Ini perjanjian. Selamatkan saudara-saudaraku,” imbuhnya kepada Hermes.

“Wah, wah, lagian aku ini Hermes. Aku menepati transaksi akhirku.”

“Tidak ingin kudengar,” ucap Gros, memunggungi sang dewa dan melebarkan sayapnya.

Bergabung bersama tiga monster bersayap lain yang mempersembahkan nyawa menyertainya, Gros menyusuri kembali langkahnya melalui lorong bawah tanah dan terbang ke langit Distrik Labirin.

Jadi begini bayarannya.

Gros tertawa sendiri saat terbang menuju Bell dan Eina.

Terlepas dari kebencian Gros sebelumnya, Bell telah menyelamatkan kaumnya, kini Gros hendak membayar perbuatan Bell dengan nyawanya. Sangat ironis. Mungkin pantas bagi mahluk terburuk yang paling membenci manusia membayarnya dengan cara demikian.

Terutama bila dia menemui ajalnya di tangan manusia yang sedikit dia percayai.

Jangan berpikir dua kali, bocah.

Memberi tahu Lido dan Xenos lain bahwa mereka tak boleh menyalahkan si bocah karena ini.

Gros mengepakkan sayapnya ganas-ganas ke Bell, anak itu meringis seperti anak kecil yang berusaha menahan rasa sakit.

Berpura-pura marah, memainkan peran monster kejam, gargoyle itu berteriak menyuruh si bocah menancapkan pisaunya ke batu sihir dalam dadanya.

Seandainya tak kau lakukan, aku bunuh gadis itu—!

 

ĢŘŐŠ

 

“Bell ….!”

Hestia dan kawan-kawan telah sampai di alun-alun yang disulap menjadi medan perang.

Lebih sedikit petualang sekarang berjuang keras, namun alun-alun masih dipenuhi penduduk kota yang terjebak. Ada juga Bell di suatu sudut, terkunci dalam pertarungan melawan Gros sambil melindungi Eina di belakangnya.

Eina terlihat mau menangis selagi melihat Bell dihajar serangan demi serangan. Habis-habisan berusaha membebaskannya dari beban perlindungannya, namun sayap berbatu itu tak membiarkannya lewat. Serangan gargoyle dari udara membuat pertarungan benar-benar tak terprediksi.

“Bell ….!”

“Tuan Bell!”

Welf, Lilly, Mikoto, dan Haruhime sepenuhnya tidak tahu mesti berbuat apa. Tidak apa-apakah membantu Bell? Salahkah menyerang Xenos? Mereka tidak tahu. Hestia yang berdiri di samping anak-anaknya yang kebingungan, sama-sama tidak tahu ingin membuat keputusan apa.

Haruskah aku memberi tahu Bell skema Hermes? Tapi misal aku kasih tahu ….!

Hermes memaksa Xenos melakukan sesuatu. Tapi apa akibatnya misalkan dikasih tahu?

Tampaknya bila keadaan dibiarkan begitu, Gros akan sungguh-sungguh membunuh Eina. Hestia tidak tahu isi kesepakatan Xenos dengan Hermes. Sekiranya hidup bangsa mereka dijadikan bidak, maka kata-katanya malah akan membuat hati Bell semakin kacau.

“Pasukan pendukung dalam perjalanan! Terus bertahan!”

Deklarasi seorang petualang kian menambah keraguan Bell.

Hestia menggenggam okulus dalam tasnya.

Hampir di saat yang bersamaan Hestia dan familianya tiba di alun-alun, Loki Familia dipimpin oleh Finn muncul di atap dan mengamati daerah tersebut.

“Ada apa?”

“Evakuasi penduduk kota masih belum selesai! Para petualang dari faksi lain masih melawan monster-monster—juga si Pemula Kecil ….”

Seketika salah satu anggota familianya melapor situasi terkini, Finn menyipitkan mata dan tertuju pada si bocah sekaligus gargoyle.

“… ambil posisi. Pasukan darat, urus mereka. Sisanya tinggal di sini dan jangan biarkan mereka terbang.”

“Ya, pak!”

Busur-busur disiagakan sebagai tanggapan perintah pemimpin faksi.

Setelahnya, kasak-kusuk mulai meriuh di kerumunan yang terperangkap di tepian alun-alun.

“Pemula Kecil ….”

“… Pemula Kecil? Maksudmu Bell Cranell?”

Petualang yang mereka tunjuk sedang mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan seorang blasteran elf. Bocah pemberani dengan gagah berani melangkah ke dalam situasi tersulit. Diri mereka sendiri dipertaruhkan, orang-orang menyingkirkan kebencian dan kekecewaan mereka, sebaliknya menyaksikan kejadian yang berlangsung di depan matanya.

“K-kakak ….”

Bahkan anak lelaki kecil yang mengutuknya pengkhianat mulai kagum menyebut namanya.

Perubahan mulai menyapu kerumunan yang hingga kini telah dikuasai kepanikan murni.

“Tepat waktu, Bell muda. Ah, beruntung banget.”

Di sebuah menara tinggi dekat alun-alun tempat angin malam melolong, Hermes memandang puas pertarungan antara gargoyle melawan anak laki-laki berambut putih.

Asfi berdiri di belakangnya. Menyembunyikan mata lelah dari balik kacamata perak, menghela nafas untuk yang kesekian kalinya.

Kau mungkin dewa pelindungku, tapi kau membuatku muak ….” “Hahaha. Itu kasar sekali, Asfi.” Hermes tertawa tanpa membalikkan kepalanya. Asfi menatap tajam dewanya.

“Kau memanfaatkan Xenos demi Bell Cranell … Aku iyakan. Tapi bagaimana soal menyeret penduduk sipil kota?”

“Di satu sisi, orang-orang sipil itu adalah akar penyebab situasi Bell sekarang. Lagipula, kita perlu pentas kecil, setuju?” ada teater dan penonton, pahlawan serta pemain pendukung bertugas menggambar kinerja terbaiknya. Sesuai dugaan Hestia, Hermes telah menciptakan panggung berskala besar. Dia mengangkat bahu dan melirik ke belakang.

“Ngomong-ngomong, kau setuju pada keputusanku untuk meninggalkan Xenos, bukan?” ‘lagian, mereka hanya membahayakan anak bocah dan kota Orario.’

Asfi tetap diam ketika dewa pelindunginya mencari afirmasi perempuan tersebut lewat matanya.

“… sekarang aku akan ambil posisi,” ucapnya.

“Benar. Garis belakang, jaga-jaga saja.”

Hermes melambai kepada Asfi yang sekarang tak terlihat setelah meninggalkan Hermes.

Sesudah diam-diam meninggalkan atap menara, Hermes tersenyum pada pemandangan di bawahnya.

“Yah … maaf, Ouranus. Maaf menjadi seperti ini.” saksi Hermes sewaktu si bocah dan gargoyle menyerbu satu sama lain.

“Koeksistensi sama monster, katamu? Omong kosong. Bersahabat dengan mereka tak lebih dari harapan sia-sia,” ujarnya, melanjutkan percakapan imajiner dengan seorang dewa tua.

Hermes Senantiasa mengemban perintah kliennya secara tenang dan patuh, namun di puncak menara ini, dia mengungkap perasaan sejatinya.

“Bagaimana jika kita membalikkan ribuan tahun kebencian dan takdir? Bahkan Zeus pun akan bilang tidak masuk akal.”

Menatap Bell dan suaranya melirih. “Pahlawan nonkonvensional. Tidak ada yang menginginkannya!”

Hermes merentangkan tangannya lebar-lebar dan tersenyum di panggung tempat manusia serta monster memainkan opera masing-masing.

“Waktunya kembali ke dasar kepahlawanan, Bell.”

Sang dewa terus berbicara.

“Bunuh monsternya. Bunuh mereka dan selamatkan orang-orang. Kemunculan kembalimu harus sebagai pahlawan.”

Seakan-akan menawarkan setitik cahaya surga atau menunjukkan jalan keselamatan, Hermes menekan kehendak ilahiah kejamnya kepada Bell.

“Lupakan Xenos.”

Ouranus menguaskan Hermes tuk menekan kericuhan yang ada. Semestinya menjadi utusan yang menenangkan kekacauan di kota dan mengantarkan Xenos menuju Dungeon.

Namu Hermes tak tertarik pada hal itu.

Karena posisinya adalah menggunakan kekacauan, terampil memanipulasinya. Itu saja.

“Seumpama kau membunuh satu saja, kau akan paham. Mungkin kau menderita, tapi suatu hari kelak kau akan bangkit. Lady Freya dan aku takkan membuatmu bosan.”

Kehendak ilahiah Hermes adalah agar Bell memotong hubungannya dengan Xenos, lalu akan langsung menghancurkannya. Yakin untuk mendorong sang pahlawan ke dalam pertempuran—egoisme tak tergoyahkan ‘kan mengantarkannya menuju akhir yang dihasratkan para dewa.

Mengendalikan nasib manusia adalah permainan favorit dewa-dewi.

Membuat Bell memutus hubungannya dengan para monster dan berjalan sebagai pahlawan orang-orang sekaligus favorit dewata.

Kehendak ilahi Hermes terfokus pada satu tujuan. “Andai tidak kau lakukan, lantas Eina tersayangmu akan mati.” Hermes tertawa, menyipitkan mata jingganya.

Pertarungan yang makin-makin intensif mendorong si bocah ke suatu pilihan. Satu-satunya pilihan yang mungkin, yang dipersiapkan dewa untuknya.

Di hadapan mata dewa, babak terakhir dimainkan di panggung megah nan konyol itu.

 

ß

 

Kenapa, kenapa, kenapa?!

Taring yang mengancam Bell dan cakar yang mengejar Eina sekali lagi melukai Bell.

Dia menangkis serangan berikutnya, pisau membelokkannya, balas melukai Gros. Mustahil dia bisa menahan diri ketika gargoyle itu mencoba membunuhnya dan Eina.

Lagi dan lagi, petualang lain mencoba mendukung Bell, tetapi terhempas mundur. Sayap batu Gros memblokir panah dan melempar siapa pun yang cukup ceroboh mendekatinya. Fungsinya adalah dua lengan ekstra, menjadi senjata sekaligus perisai.

“Bell ….!”

Mendengar suara serak dan sedih Eina, wajah Bell sengsara. Para petualang, karyawan Guild, dan orang-orang kota melihat setiap gerakan dan berdoa salah satu serangan akan menghancurkan ancaman tersebut.

Gros.

Selagi memblokir cakar dengan pisau, Bell menemui tatapan mata batu gargoyle yang tak bisa dimengerti. Sangat bingung dan sedih sampai ingin berteriak. Tapi suaranya tak menembus telinga itu. Pikirannya berpacu sia-sia. Pisau Ilahi Bell bergetar.

Dia harus membuat keputusan. Keputusan itu selayaknya kutukan, sebab andaikata dia gagal, Bell akan kehilangan seseorang yang dia sayangi. Bahkan itu pun bukan pilihan.

Mencoba berpikir hati-hati mengenai situasinya, tetapi di hadapan serangan sengit Gros, isi kepalanya cepat membuntu.

Sewaktu menggumam, ‘Kenapa?’ lagi dan lagi, dia mengingat ucapan Wiene. Kau tahu Lido bilang apa? ‘Mungkin sekarang tidak bisa … tapi dia bilang jika orang-orang sepertimu ada, maka mimpi kami suatu hari nanti akan jadi kenyataan! Mimpi kami.’

Mimpi Xenos—mimpi Gros.

… terima kasih. Kuucapkan … terima kasihku.

Gros mengucapkannya kepada Bell.

Bisa jadi hanya imajinasinya saja, namun barusan sekelebat Bell melihat mata monster di hadapannya itu murni haus darah. Pasti keliru karena melihatnya dari belakang cakar dan taring yang menghujamnya.

Seolah Gros tahu Bell tak ingin melawannya, lantas menyuruhnya untuk tak ragu-ragu—

“Loki Familia telah datang!” teriak seorang petualang.

Petualang-petualang kelas atas berlambang si bodoh yang terukir di baju zirah mereka lekas mendatangi alun-alun dan menyerbu monster bersayap.

“!”

Si gargoyle mulai gelisah.

Bell Cranell yang harus mengalahkan monster-monster yang menyerang orang-orang. Beginilah cara mereka melunasi hutang kepada si bocah. Gros tak ingin mengucapkan kata-kata terakhirnya di atas tumpukan abu, kontraknya dengan sang dewa belum terpenuhi.

Menyadari dia tidak bisa menunda lebih lama lagi, membentangkan sayapnya dan dikepakkan. Menukik vertikal ke tanah, melancarkan serangan spesialnya. Terkejut, Eina dan Bell tidak mampu melarikan diri atau bertahan—memaksa bocah itu membuang hidupnya sesaat merespon.

“Bell?!”

“Tulle!”

Hestia dan karyawan Guild serempak berteriak.

“Tentukan posisi kalian!” teriak Finn. Seiring anggota pasukan lain mulai menembakkan panah mereka ke monster-monster bersayap, menyiagakan tombaknya tuk menikam gargoyle.

“Sekarang, Bell!”

Berdiri di atas kerumunan orang yang menahan nafasnya, Hermes menarik tali boneka—kehendak ilahiahnya.

Seketika sebelum serangan Gros mendarat.

Bell menurunkan tangan yang menggenggam pisaunya.

 


 

“Apa keputusan ini benar, Fels?” teriak Lido.

Mereka di dalam Knossos, labirin yang diimpikan Daedalus. Hermes memang menepati janjinya. Sesudah Gros dan monster lainnya terbang, menuntun Xenos melalui pintu menuju Knossos, memanfaatkan tipuan dan rute-rute rahasia agar Loki Familai tak menemukan mereka di tengah jalan.

“Kalau kita cuma memikirkan Bell, mungkin opsi ini lebih bagus. Tapi bagaimana bisa kita mengabaikan Gros dan Xenos lain? Itu … rasanya salah kembali tanpa mereka!” Lido berteriak sekeras-kerasnya. Berhenti berjalan selagi kelompok dengan sedih menuju Dungeon tempat asal mereka.

Rei dan kawan-kawan tak menanggapi.

“Kau salah, Lido. Aku mempercayainya,” tukas Fels.

Demi menyembunyikan amarah dari dalam tudung, sang penyihir tak berbalik menghadap Lido.

“Aku yakin anak bego itu bisa mengatasi kehendak ilahi sepele seorang dewa—”

 

Θα

 

“—!”

Gargoyle yang meluncur ke arah Bell dan Eina sembari meraung kuat sampai-sampai orang yang mneyaksikannya menciut. Sayap melebarnya merobek-robek angin di lajunya.

Bell melihat gargoyle yang mendekat dan cakarnya yang bengkok menyerupai tombak batu raksasa. Segalanya di hadapan mata tampak berhenti dan mencepat. Teriakan yang mendengung di telinga dari dunia luar terdengar sangat jauh.

Mendengar Eina terkesiap ketakutan di belakangnya, tanpa daya berupaya bertahan melawan serangan si monster.

Hawa membunuh gargoyle iu nyata.

Andaikan terus berlanjut, cakar-cakar batu tersebut akan menenggelamkan Bell dan Eina dalam lautan darah.

Naluriahnya berkata untuk menebas si monster dengan pisaunya, ujungnya menikam dalam ke batu sihir di dadanya yang jelas-jelas terekspos selagi dia masih menerjang mendekat, mengubah niat membunuh monster tersebut menjadi tumpukan abu.

Teriakan para petualang dan massa mendesak Bell untuk membunuh monster itu.

Kehendak dewa ilahiah yang mengendalikan segalanya menegaskan suara naluri Bell.

Sekejap sebelum serangan mematikan Gros sampai.

Tangan Bell yang memegang pisau menurun.

Namun.

Kesadaran anak itu berpaling dari monster di hadapan matanya menuju suatu adegan dalam hatinya.

Seakan-akan dia dibimbing semacam kilatan cahaya—barangkali menggenggam sabaran petir jauh di dalam-dalam dirinya dan ditarik ke atas.

Pintu menuju memori masa kecil yang terlihat kabur telah terbuka.

Jangan serahkan keputusanmu kepada oranag lain.

Suara kakeknya.

Berlaku untuk hantu dan dewa-dewi. Aku pun, tidak akan menyuruhmu melakukan apa-apa.

Nasihat kakeknya berbicara.

Jangan terima perintah. Putuskan sendiri.

Mata kakeknya memohon.

Ini ceritamu.

Senyum sang kakek mengajarinya demikian dulu kala.

“Eeeerrghhh!”

Bell berteriak protes terhadap realita absurd di sekelilingnya. Tanpa tahu apa yang dia lakukan, menghancurkan semua kehendak ilahiah sang dewa yang tahu-tahu telah menyelimutinya. Hati Bell, dipenuhi ingatan akan mimpi Wiene serta ucapan terima kasih Gros, menyingkirkan pilihan yang dipaksakan kepadanya.

“UUUUUOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!”

Waktu yang telah mencapai batasnya, kembali ke kecepatan normal, dunia kembali nampak.

Cakar monster hampir mencapai Eina dan dirinya.

Bell memilih yakin.

Menyarungkan pisaunya, merentangkan tangan dan menunggu.

Hermes menatap dari atas. Mata batu Gros membelalak kaget.

Sedetik berikutnya, di hadapkan Bell tak berdaya, gargoyle membatalkan tugasnya dan terbang menjauh dari mereka.

“—tunggu!”

Finn bereaksi lebih cepat dari siapa pun. Jauh di atas alun-alun, pasukannya sangat terkejut, dia berteriak menyuruh menghentikan serangan mereka. Mata birunya tertuju pada gargoyle yang menghentikan tugasnya. Keterkejutannya tampak menyebar ke para penonton di bawah, karena perasaan serupa menyapu hati mereka.

Hestia, Lilly, Welf, Mikoto, haruhime, Ouka, Chigusa, Shakti, bahkan Eina merasakan satu eosi.

Bell tak membunuh monster itu atau membiarkan Eina mati. Dia malah memilih jalan ketiga, jalan yang teramat bodoh.

Mata bocah yang basah kuyup keringat bersilangan dengan mata tertegun gargoyle.

Sesaat, waktu terhenti.

“….”

Adapun Hermes yang masih menonton dari tempat nangkringnya di menara, jari menyentuh pinggiran topi dan ditarik ke bawah, seolah menyembunyikan mata jingga lebarnya.

“Aaahh, jadi begitu caranya …. Dia benar-benar bego.”

Keheningan aneh tak terjelaskan menghampar alun-alun.

Emosi mata tak terhitung jumlahnya yang tertuju pada Bell berubah dari syok menjadi curiga jika dia memang punya semacam hubungan mendalam dengan para monster. Percikan penyala api yang bisa membuatnya dicap, ‘Musuh orang-orang.’

Sewaktu kerumunan orang terbangun dari kebingungannya, badai teriakan amarah dan kekacauan mungkin akan meletus.

Baiklah. Asfi, lakukan.”

Hermes tak menerima hasil akhirnya.

Di sudut alun-alun gumamnya terdengar, sesosok bayangan mengintai. Asfi tak kasat mata menarik sebuah jarum terbang spiral, merah sekali sampai-sampai tampak dibuat dari darah.

Itulah Crizea, barang sihir rancangan Perseus yang membuat monster menjadi gila dan brutal. Selama ekspedisi Dungeon, kekuatan mereka memang meningkat, namun risikonya bisa jadimembuat mereka saling menyerang tanpa pandang bulu. Tidak sulit membayangkan efeknya di tempat semacam ini.

Hermes menyiapkannya untuk situasi seperti ini. Telah memprediksi kalau si bocah kemungkinan beraksi sebodoh lima hari kemarin.

Mengikuti perintah dewa pelindungnya, Asfi mengarahkan mata biru kehijaunnya kepada gargoyle.

“… aku takkan meminta maaf.”

Sesaat, tatapannya mendarat pada anak bocah yang menghadap gargoyle.

Seakan-akan merasakan eksistensinya, Bell tersentak dan melirik ke tempat wanita ghaib itu berdiri.

Terdorong insting, kaki anak itu mulai berlari.

Ketika itu, satu-satunya orang yang bergerak hanyalah Asfi, Bell—serta Finn.

“….”

Ibu jari si prum tidak pernah berdenyut sekuat itu.

Membunyikan alarm bahwa ada sesuatu yang mendekat.

Kepala Finn sendiri terangkat. Sekejap berikutnya—

“UUUUUUOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!”

Raungan monster menghancurkan suasana stagnan.

 


 

 Tanpa peringatan, pria itu muncul di depannya.

“…”

Berhenti di lorong kedap cahaya. Terpaksa.

Sesosok komandan memegang pedang besar. Seorang prajurit berfisik sempurna.

Dia langsung tahu.

Hanya dengan satu tangan, dia akan kalah. Tidak—bahkan dua tangan pun, dia mustahil menang. Sekuat itulah pria di hadapannya. Jauh lebih kuat dari tentara-tentara yang membuat darahnya mendidih, boleh jadi lebih kuat dari pendekar pedang berambut dan mata emas yang memotong lengannya—

Di waktu yang sama, ada sesuatu yang familiar tentang orang yang berdiri di depannya. Rambut merah acak-acakan dan matanya pun satu warna, berkilau bagaikan babi hutan ganas. Bukan ingatan yang sebesar detak jantungnya, walaupun ia tak ingat apa itu. Namun dia yakin satu hal. Petarung ini akan membunuhnya.

Sewaktu berdiri di depan sosok luar biasa ini, dia tersenyum.

Bersyukur atas pertemuan ini, sekalipun tahu dia pasti akan kalah. Seluruh tubuhnya berdengung. Perjuangan adalah satu-satunya caranya melampaui kelaparan. Kendati dia dipotong-potong—yah, itu salah satu keinginannya. Tidak ada alasan mundur darinya dan mundur pun tidak berarti.

Menghunuskan kapak dan melangkah maju bersama kaki kuatnya.

“….”

Merespon, petarung itu pelan-pelan mengangkat satu tangannya dan menunjuk.

“Yang kau cari ada di depan sana,” kata si petarung.

Dia berhenti.

Matanya terbuka lebar-lebar.

Melihat ke belakang, arah si petarung menunjuk. Langit membentang luas di daratan, suara bergema dari jauh. Suara-suara pertempuran. Di antaranya, dia merasa seolah sanggup mendengar suara sesuatu yang mendorongnya.

Mengalihkan pandangannya ke depan lagi. Tak terduganya, si petarung telah pergi.

Namun masalah itu sepele.

Dia mulai berlari, seolah-olah telah menemukan arahnya. Berlari maju.

Tidak menyembunyikan eksistensinya yang terlampau besar. Mengesampingkan para pemburu yang berteriak di jalannya, hanya mematuhi jantung yang berdebar-debar akan rasa lapar.

Menghancurkan batu-batu besar di bawah kakinya, melompat menuju puncak sebuah bangunan di samping jalan.

“—”

Di tengah alun-alun, pertarungan di tengah semua orang dari semua ras, adalah—seorang anak berambut putih.

Kilatan cahaya mengalir dalam hatinya kala menyaksikan kejadian di hadapannya. Cahaya putih menyilaukan yang memulihkan seluruh adegan lain.

Dia terbangun. Terbangkitkan. Gemetaran.

Ah!

Itu! Itu! Mimpinya, hasratnya, dambaannya!

Jawaban yang dia cari-cari!

Akhirnya dia temukan. Memperhatikan segala sesuatu yang mengelilingnya.

Banyak pemburu, berhadapan muka dengan saudara sekaumnya.

Tidak, tidak mungkin bisa dia terima. Takkan dia perkenankan.

Bisakah dia serahkan kesempatan ini kepada orang lain? Bolehkan dia serahkan kepada pihak lainnya? Musuh sekali seumur hidup. Pertarungan ulang. Pertarungan ulang.

Dia dilahirkan untuk hal ini semata.

Darahnya melonjak. Tubuhnya penuh kemarahan. Rasa lapar memunculkan kekuatan maha besar dalam dirinya.

Suka cita besar dan bahkan rasa lapar lebih besar akan pertempuran telah membanjiri dirinya. Meraung perang.

“UUUUUUUUUUOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!”

Raungan perkasa yang menghancurkan seluruh situasi ragu, sedih, dan licik.

9 Replies to “DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 11 BAB 6”

  1. Prajurit berfisik sempurna, rambut acak”an, mata berkilau bagaikan babi hutan ganas, lebih kuat dri cewek rambut pirang(putripedang), keknya ottar deh gan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *