DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 11 BAB 5

Posted on

Sukma Ekstrim

Penerjemah: Lord of Cinder/Daffa Cahyo

“….”

Tiona menemukan mayat seorang petualang yang tersembunyi di reruntuhan.

Petualang itu masih hidup—hanya pingsan saja.

Ketika melihat seorang manusia yang telinganya mengucurkan darah, dia meraba-raba pinggang.

“Bangsat, aku tidak bawa ramuan,” katanya, sadar dia lupa membawa barang-barangnya.

“Tiona, cepatlah!” panggil kakaknya. Dengan enggan, dia meninggalkan petualang tersebut.

Tanpa menggunakan tangan, dia menskalakan struktur yang mengelilingi lorong bak terowongan tempatnya berada. Di atas, dia menemukan sang kakak, Tione, Tiona bertugas sebagai pengintai dan petarung gerilyawan. Wanita Amazon sedang menginjak kaki telanjangnya dan kelihatan kesal.

“Duh, menyebalkan deh! Kita persis mengikuti kehendak kapten, tapi tidak terlihat monster satu pun. Daedalus Street betul menyebalkan. Cuma ada tikungan, belokan, dan jalan buntu.”

Belum lagi tanjakan dan turunan.

Bagian barat Distrik Labirin, tempat berpijak kedua saudari, lokasinya terlalu kompleks sampai-sampai seluruh tempat terasa sedang menipu matamu. Tidak salah kalau Tione sebal.

“Musuh kita mungkin bergerak lebih cepat dari perintah Finn,” ucap Tiona. “Maksudmu kapten kalah cepat? Kutendang bokongmu kalau ngomong gitu lagi!” kakaknya menggeram untuk membela pemimpin tercintanya.

“Kau sendiri menjengkelkan!” Tiona balas membentak dan raut wajahnya kesal. “Tapi, yah, aku pikir instruksi Finn tepat sasaran. Aku bertaruh para monster lewat sini.”

“… kau temukan sesuatu?”

Tiona terdiam sesaat, menatap kejauhan sebelum menjawab.

“Jika dipikir-pikir, Tione. Monster-monster yang kita kejar—”

Dia tak menyelesaikan pemikirannya. Dentang lonceng memecah kesunyian. “Sinyal penampakan monster ….! Ayo pergi, Tiona!” “… ya!”

Melihat kakaknya pergi, Tiona sepertinya mengubah sikapnya 180 derajat. Memanggul pedang bermata dua dan mengikuti Tione.

 

 

Bagaikan gelombang ganas, Xenos-Xenos meluncur lurus ke jalanan dalam satu barisan.

Mereka berada di bagian barat Distrik Labirin, dekat bagian pusat. Setelah muncul dari jalan pintas tepat di depan formasi Loki Familia, para monster berlari secepat mungkin menuju jalan bawah tanah yang mengarah ke Knossos.

“Berkat Lilicchi, tidak ada petualang di sekitaran!” ujar Lido sebagai kepala kelompok.

“Jangan lengah! Mereka datang! Fels berteriak dari tengah barisan. Penyihir itu benar, anggota Loki Familia saat itu bergegas maju dari tengah, barat laut, barat daya untuk mengisi celah formasi.

“Pemanah, ambil posisi!” teriak pemimpin-pemimpin peleton Loki Familia. Para pemanah menarik busur dan membidik kelompok monster. Berposisi di bangunan depan, kiri, kanan, mereka hendak melepaskan hujan panah dari tiga arah.

Tetapi.

“?!”

“Ini dingiiiiiiiiin?!”

Para elf dan manusia hewan yang telah membidik mendadak setengah beku. Badai salju yang muncul tiba-tiba telah membutakan mata gadis-gadis. Busur, tangan, bahu, dan setengah wajah setiap manusia hewan tertutupi baju zirah es. Mereka berteriak dingin.

“Maaf ….!”

“Maaf atas serangan mendadaknya!”

Dalam balutan tudung, Welf dan Mikoto membisikkan penyesalan mereka. Tangan tak terlihat mencengkeram belatih sihir berwarna hijau kebiru-biruan yang terhunus dari sarungnya.

Berlari bersama Xenos di jarak tertentu dan membiarkan gerombolan monster yang maju menarik perhatian lawan-lawan mereka, Welf dan Mikoto sukses melangsungkan serangan diam-diam. Bahkan petualang kelas atas Loki Familia tidak bisa apa-apa terhadap bombardir dari titik buta oleh musuh tak kasat mata. Tidak ada yang dapat lolos dari badai salju dengan jarak sedekat itu ketika begitu dilepaskan ‘kan menyapu area luas, bahkan mereka yang berusaha mempertahankan diri dari gelombang dingin kebiruan telah terpenjara dalam es.

Belati es sihir itu disebut Hiens.

Welf bekerja tanpa tidur maupun istrirahat untuk menempa kedua bilah tersebut. Keindahannya, yang seakan mengingatkan kristal-kristal ukiran es, memungkiri gelombang es kejam nan membekukan segalanya di jalan mereka. Welf dan Mikoto masing-masing membawa satu.

Nyala api ataupun petir ‘kan melukai seorang petualang, tetapi es—meski menyakitkan—bisa ditahan tanpa membahayakan musuh secara serius.

“Dengan ini, kita bisa menanganinya tanpa merusak kota!”

Welf tersenyum setengah hati, tidak bisa sepenuhnya membanggakan ciptaannya.

Belati Sihir Crozzo dan barang sihir orisinil Sage mendesain kombinasi jahat. Tanpa mengungkap fakta Hestia Familia yang membantu monster, mereka mampu sepenuhnya melumpuhkan target dalam serangan mendadak.

Petualang-petualang di atap rumah bukan hanya tak sanggup menarik busur, namun juga lumpuh, lantaran kaki dan bahkan pijakan mereka membeku. Tatkala petualang-petualang di bawah melihat ke atas, tercengang oleh kawan yang berubah menjadi balok-balok es beku, Welf dan Mikoto melompat ke tanah dan melepaskan serangan lain.

“Aaaaaaaaaaaah!”

Pasukan di bawah menjerit saat mereka diselimuti badai salju, dan Xenos terus maju.

“Yaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrr!”

Dipimpin lizardman serta unicorn, parade monster menabrak petualang-petualang membeku. Manusia hewan beterbangan ke udara. Manusia-manusia menabrak dinding. Senjata dan pecahan baju besi tersebar. Ketika mereka menerobos garis musuh, Xenos melepaskan paduan suara ala monster.

“Nona Haruhime! Beri tahu aku jalan ke depan!” Mikoto menjerit lewat okulus.

“Ada jalan ke kanan sedikit lebih jauh di depan!” respon Haruhime.

Menyerahkan tugas pengawas pasukan pengejar musuh pada Welf, Mikoto pergi mencegat para petualang yang mendekat dari jalan-jalan lain. Dibantu Hestia dan Haruhime, dia sanggup mencegah mereka tanpa tersesat, mengirim gelombang dingin kepada mereka yang menyerbu Xenos. Para petualang menjadi sasaran empuk belati sihirnya kala Mikoto menempel di dinding atas dan menyergap mereka diam-diam. Orang-orang berteriak saat es menghentikan mereka.

Welf dan Mikoto yang menghilang dapat menahan kelompok-klompok pejuang Loki Familia sepenuhnya.

“Pergilah, Welf dan Mikoto! Hajar mereka ….!”

Hestia mengangkat tinjunya tinggi-tinggi ke udara selagi melihat peta sihir. Dia melihat simbol Welf dan Mikoto bergerak panik di sekitar Xenos, bangsa Dungeon sedang bergerak menuju timur langsung lewat zona tengah Distrik Labirin. Menyoraki anggota familia yang berusaha sekeras-kerasnya untuk menahan serbuan musuh.

“Ketemu!”

Sayangnya, doa sang dewi pupus.

“Sial?!”

“Gros!”

Gargoyle di barisan belakang berputar seketika merasakan kilat-kilat cahaya terbang ke arahnya. Sebuah pisau dilemparkan ke kelompok itu dengan kecepatan tinggi. Menabrak sayap kanan batunya—Gros melebarkan sayapnya untuk melindungi saudara-saudara sejenis di belakang—lalu menghancurkannya bagai palu.

Rei yang bernyanyi-nyanyi sewaktu mengudara, melirik ke belakang—dan mendapati dua orang wanita, rambut hitam berkibar-kibar di belakang kepala.

“Aku tahu mereka di sekitar sini!” teriak seseorang.

“Kita menyusul mereka!” tanggap satunya.

Mata Rei juga Gros membelalak simultan.

Mustahil mereka bisa melupakan dua orang Amazon itu.

Merekalah petualang kelas satu kelewat kuat yang menginjak-injak Xenos di kota beberapa hari silam.

“OHHHOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!”

Gros berteriak keras. Peringatannya mengingatkan Lido di baris depan dan Fels di tengah barisan, Welf dan Mikoto langsung berbalik.

“Hyrute bersaudari!”

“Jadi mereka di sini ….! Ayo bantai mereka!”

“Yeaaa!”

Welf dan Mikoto langsung menghentikan aksinya dan berlari menghadang kedua saudari, serbuan mereka secepat kilat. Mundur dari sisi depan formasi ke sebelah belakang, mereka mengangkat Hiens. Welf berada di sisi lain Xenos sedangkan Mikoto terpisah, berlari di atas bangunan yang berjejeran di jalan. Mereka mengarahkan belati kepada lawan dan di saat yang sama diayunkan ke depan.

Mereka yakin sekali sudah menyerang dari titik buta, seperti yang berhasil mereka lakukan kepada petualang-petualang lain sampai sekarang—tapi kedua saudari menghindar.

“?!”

Welf dan Mikoto terlampau terkejut sampai terbungkam. Dua bersaudari bereaksi dengan kecepatan menakjubkan terhadap badai salju yang muncul tiba-tiba, menghindarinya dengan mudah.

“Tadi itu apa? Memangnya ada burung es di sekitar sini atau semacamnya?” Tione bingung, menyapu sehelai rambut hitam panjang dari wajahnya.

“Kayaknya lebih kuat sedikit sampai bisa membuat ini!” jawab Tiona, menatap bentuk es besar di jalan-jalan di belakang. Pandangan kembali ke depan, gadis Amazon itu memanggil kakaknya sambil berlari.

“Hei, Tione. Ada seseorang di sini, benar?”

“Ya. Aku tak tahu mereka ini berubah bentuk atau memang tidak kelihatan … tapi aku yakin ada dua orang.”

Saudari itu melihat ke atas dan menyorot penglihatan tajam mereka ke dua titik, depan dan atas.

Welf dan Mikoto bergidik. Para saudari secara akurat telah menebak lokasi mereka. Walau diterpa badai salju dan lagi diri mereka tak kasat mata, mereka sadar betul satu hantaman dari Tione atau Tiona ‘kan menghancurkan mereka.

Prajurit kembar itu adalah jelmaan iblis.

Pemandangan petualang kelas satu Level 6 yang menyerang mereka benar-benar amat mengerikan. Meskipun kilat-kilat di mata saudari itu membuat mereka merinding tak seperti pengalaman sebelumnya, mereka memberanikan diri.

“Lady Hestia, apa ada medan yang bisa kami gunakan?!”

“Uh, anu …. Maaf, Welf, tidak ada apa-apa! Belokan dan rintangan pun kosong! Jalannya semakin lebar. Sepertinya hanya ada lereng.

Anginnya kencang sekali hingga hampir meniup tudung Welf dan menutup pertanyaannya ke okulus. Jawabannya terdengar seperti pekik. Welf merasa Mikoto juga cemas. Pria itu mendongak, kaget.

“Lereng ….!”

Jauh di jalan lurus panah, dia mendapati bukit yang nampak mengarah ke sebuah cekungan.

Penempa muda itu sekali lagi berbicara ke kristal biru di tangan. “Lady Hestia, tolong hubungkan aku dengan mereka berdua.”

Hestia segera paham siapa yang dimaksud mereka berdua. Bekerja sama dengan Haruhime yang kebingungan, dia mendempetkan kristal Mikoto serta Fels ke punya Welf agar mereka dapat mendengar kata-kata si kang tempa.

Mikoto dan Fels berhenti sejenak setelah mendengar pertaruhan yang diajukan Welf, lanjut setuju. Fels berbicara lebih dulu.

“Tidak ada pilihan lain. Kami mengandalkan belati sihirmu, Welf Crozzo. Lido, lari secepat mungkin!”

“Aku coba, Tuan Welf!” ucap Mikoto.

“Aku mengandalkanmu!”

Xenos mengerahkan kekuatan mereka dan berlari lebih cepat.

Setelah menghentikan serangan langsung ke perempuan mendekat, Welf dan Mikoto kini berusaha menghentikan serangan mereka dengan membekukan jalan, melempar puluhan dinding es setajam pisau tuk menghentikan laju mereka.         Tapi Tiona dan Tione menghancurkan masing-masing dalam satu tarikan nafas, menebasnya dengan pedang bermata dua, pisau kukri, bahkan oleh kaki telanjang. Mikoto meringis terhadap prajurit wanita mengesankan yang terus mengejar-ngejar Xenos dalam badai es hancur.

“Lari! Lari!” seekor lizardman berteriak kepada golongannya lagi dan lagi dalam bahasa lolongan yang hanya dipahami para monster. Mereka mesti memanfaatkan setiap detik yang dibuat Welf serta Mikoto untuk mereka.

Wiene terengah-engah ketika berlari, troll kaki datar makin-makin mengepakkan tangannya dan terlihat kikuk selagi berupaya mengikuti. Lido dan Fels menghadapi anggota Loki Familia lain sementara Welf dan Mikoto—sekarang fokus sepenuhnya kepada Amazon—mereka tidak mampu menahan lagi. Pedang panjang Lido dan scimitar menangkas segala penghalang, sedangkan gelombang kejut sarung tangan Fels mencegat semua orang yang mendekat.

Rei terbang di atas party, Gros turun kembali ke posisi untuk melindungi Wiene dan Xenos-Xenos di bagian belakang, juga Welf bersama Mikoto. Sayap-sayapnya menembak proyektil, entah bagaimana berhasil menahan pisau yang dilempar Tione dan mengirimnya ke tanah sebelum mencapai target. Namun lagi dan lagi, bilah putih menembus pertahanannya dan merobek-robek tubuh siren.

Selagi parade monster kian ganas dan peperangan semakin di luar kendali, jalan sempit mulai melebar sebagaimana informasi Hestia. Tatkala mereka berlari di jalan yang lebarnya lebih dari delapan meter.

“Menyebalkan sangat! Tiona, kau lempar sesuatu juga dong!” teriak Tione, lidahnya mendecak berang pada ketidakmampuannya untuk menghampiri Xenos.

“Oke, tapi hanya Urga yang kumiliki!” Tiona membalasnya sebelum melemparkan pedang mata dua.

Sebongkah besar logam mustahil bisa diabaikan. Welf, Mikoto, beserta Gros ternganga melihatnya, Rei menjerit nyaring biar kerabat-kerabatnya menyingkir.

“Tanpa waktu untuk melirik ke belakang, Wiene dan kawan-kawan bergegas pergi. Sedetik berikutnya, pedang raksasa mata dua menghantam tanah.

“?!”

Trotoar batu tertekuk pada dampak maha besarnya, menerbangkan Xenos-Xenos. Nyaris tak menghindari serangan langsung, mereka jatuh ke tanah berlereng batu bata hitam.

Bukit yang diutarakan Hestia.

“Tiona, ayo bunuh mereka—”

Tione berhenti di tengah-tengah kalimat. Dia baru mau menuruni lereng bersama saudarinya yang telah mengambil kembali pedang sebelum lanjut berlari. Dia merasakan hawa tukang bombardir tak kasat mata yang sedang berdiri di tengah jalan bagian bawah bukit.

“Mereka berhenti!”

“Mereka pikir sanggup menghentikan kita?!”

Tiona dan Tione tahu lawannya tengah menghadap mereka, siap bertarung.

Seketika, mereka tersadar belum bertemu perlawanan paling sengit. Dari kejauhan, mereka sempat melihat monster kembali membentuk formasi sambil melarikan diri, tetapi mereka tetap membuat keputusan tanpa ragu-ragu.

“Aku akan melindungimu. Bunuh mereka, Tiona!”

“Oke!”

Alih-alih mundur dari jalan lebar, kedua saudari memilih menyerang musuh.

Tiona berdiri persis di belakang Tione, bersembunyi dalam bayangannya, si kakak perempuan bertugas menahan serangan di sisi lain adiknya menumpas musuh. Targetnya sudah jelas.

Saat Mikoto menguatkan diri untuk menghadapi serangan langsung dari petarung bersaudari yang bertekad mempertaruhkan nyawa dalam pertempuran, keringat mengalir jatuh dari balik tudungnya.

Namun hati tetap jernih dan diam layaknya genangan air tenang.

Jika mereka kalah, semuanya akan berakhir.

Seandainya musuh mencapai Xenos, mereka pasti akan dihancurkan—dan itu tidak boleh dibiarkan.

Gadis dari Timur Jauh menatap para petualang kelas satu yang mendekat dan tangannya menyasar belati sihir.

“!”

Welf mengayunkan belati dari posisinya secara diagonal sebagai usaha terakhir untuk menghentikan gerakan mereka. Tak goyah, Tiona dan Tione memposisikan diri kuat-kuat di tengah lereng. Entah musuh mencoba membekukan atau membakar, kembar itu yakin bahwasanya mereka mampu menahan serangan. Tidak peduli separah apa lukanya, mereka tetap takkan mundur dari hadapan musuh. Terbang ke udara menuju eksistensi tak terlihat.

Sejenak sebelum mereka melakukan kontak, saudari-saudari itu mendengar suara shing pedang.

Suara itu bukanlah kristal es yang terbentuk maupun amukan api.

Suara bilah logam berkilau yang meluncur dari sarungnya—sebuah pedang dihunuskan dari sarungnya.

Mikoto berjongkok rendah ke tanah, dua senjata di pinggul. Salah satunya adalah senjata petualang kelas tiga, Kotetsu. Satunya adalah pedang sihir.

Ketika petualang kelas satu tersebut ternganga, mata Mikoto bersinar-sinar bermandikan tekad. Dia menunggu momen-momen tepat, kemudian menarik senjatanya.

Welf tersenyum kala memperhatikan.

“Hajar mereka, Fubu.”

Bilah warna giok bersinar terang ketika terbebas dari pengekangnya dengan satu gerakan luwes dan bisu.

Tatkala melintas di depan mata Tione dan Tiona, bilahnya melepaskan angin kencang berkekuatan badai.

“Apa—?”

“Kau bercanda!”

Duo itu terhempas oleh angin.

Tiada pertarungan antara mereka dan si bombardir. Duet itu terlempar tinggi-tinggi di udara dan jauh sekali, sepenuhnya tak kuat menahan apa pun.

Rambut mereka melambai-lambai, Tiona dan Tione menghilang dari medan perang.

“Kita berhasil …. Ups!” ceria Mikoto, berusaha menahan Tudung Pembalik karena ditiup hempasan barusan.

Xenos bersorak-sorai.

“Cepatlah, mereka tidak ke luar dari pertempuran! Tahu-tahu mereka ‘kan kembali lagi!” Welf meneriaki mereka.

Sebagaimana Hien, Fubu tidak bisa membunuh atau melukai. Semata-mata menciptakan angin tangguh. Bahkan kurang kekuatan untuk bahkan melukai korbannya, selama digunakan secara benar, maka luka takkan tercipta. Sewaktu Tione dan Tiona menabrak tanah, mereka barangkali akan menyerbu kembali musuhnya dengan amarah berapi-api.

Tapi Fels tidak bisa tidak berteriak, bahkan ketika Welf memaksa para Xenos untuk lanjut terus.

“Matilah petualang-petualang kelas satu!”

Mikoto boleh keseringan menggunakan pedang sihir dan tudung, tetapi dia berhasil mengusir duo saudari, dan atas itu Fels memujinya.

Dan sekarang ….!

Sewaktu para Xenos terus maju, penyihir itu semakin yakin terhadap posisi mereka.

Fakta Amazon dan Jormungand yang mencegat merupakan kekeliruan perhitungan dari pihak Loki Familia. Penjaga yang ditempatkan di seluruh Distrik Labirin sekaligus pintu-pintu Knossos, sedikit pasukan yang mampu bergerak tanpa halangan—kecualikan Putri Pedang yang terpaku pada Bell, dan Finn yang sibuk memimpin operasi.

Jalan bawah tanah ke Knossos sekarang sudah dekat. Jika keadaan terus berlanjut demikian, Fels yakin mereka akan menang. Namun ketika itu—

“—”

Penyihir berpakaian hitam melihat sebuah bayangan terasing melintasi langit.

 

 

“Maaf, Kapten!”

Malam lebih awal di markas besar Loki Familia, Raul Nord membungkuk hormat. Finn terus membelakangi Raul sambil terus memandangi bagian barat daya Daedalus Street yang kini menjadi medan perang.

“K-karena saya, formasi perangnya hancur ….! Tapi kapten palsu itu persis kelihatan seperti Anda! Maksud saya bisa saja dia saudara kembar Anda. Sepasang sepatu! Karenanya saya tidak menyadarinya ….! Ya Tuhan, saya sangat-sangat menyesal!”

“Tidak bisa diapa-apakan lagi sekarang, dan aku pun tak punya waktu untuk meminta pertanggung jawabanmu. Jawab saja pertanyaanku, Raul.”

Setelahnya, Finn secara tenang mulai mempertanyakan bawahannya yang pucat dan gemetaran. “Apakah peniru itu bertanya sesuatu?” “Uh?”

Pertanyaannya membingungkan Raul. Dia mengorek-ngorek ingatannya.

“Err … dia bilang monster telah nampak batang hidungnya di selatan dan menyuruh saya memindahkan seluruh unit … sesudahnya, saya yakin ia bertanya posisi penjaga-penjaga di Knossos.”

“Begitu …. Kerja bagus, Raul. Kau mengkonfirmasi kecurigaanku.”

Mengabaikan Raul yang linglung, Finn melanjutkan perbincangan seolah membaca sebuah monolog.

“Musuh kita keterlaluan sekali sampai meniruku demi mencari tahu penempatan para penjaga di Knossos …. Aku tak ingin percaya itu, tapi tiada penjelasan lain. Mereka pasti memiliki Buku Catatan Daedalus.”

Sekiranya begitu, maka yang perlu mereka ketahui tatkala mendapatkan lokasi-lokasi yang dijaga Loki Familia adalah berlanjut ke pintu masuk Knossos tanpa penjaga, menghindari semua kontak dengan Loki Familia.

“Tidak berguna lagi menjaga pintu bawah tanah. Raul, aku sudah memanggil balik setengah unit penjaga dan menyuruh mereka menunggu di permukaan. Bawalah pesan ini kepada mereka.”

“Ya, pak!”

Finn menatap lurus medan perang seraya berbicara.

“Suruh Gareth menyergap.”

 

Γκάρεθ

 

Kembali ke masa kini, bayangan yang dilihat Fels mendekat sambil mengangkat-ngangkat senjatanya.

“—”

Yang dia angkat ternyata kapak tempur.

Sosok yang memegangnya adalah seorang prajurit kerdil perkasa, mantelnya berkibar-kibar di udara malam nan dingin setelah hujan turun.

Saat Fels menyaksikan prajurit tua itu terjun ke bawah, matanya melotot ganas, Fels melompat ke udara dan berteriak tajam.

“Lari!”

Sekejap berikutnya, petarung itu mendarat.

“Hhhaaaaaaaah!”

 Mengayunkan kapak tempurnya ke bawah, menghancurkan trotoar batu hitam. “Gaaaaaaaarhhh!”

Serangan Gareth melambung tinggi dan jatuh bagai meteorit, meledak di tengah-tengah barisan Xenos.

Fels segera merilis gelombang kejut. Xenos-Xenos tidak terluka, tetapi kekuatan gabungan dari pukulan dan gelombang kejut itu cukup kuat sampai-sampai meretak bumi dan melempar mereka. Tidak seorang pun berdiri—bahkan Welf pun tidak, Mikoto atau Wiene tidak juga. Suara gemuruh bumi bercampur raungan monster, yang sebagian besar telah menabrak dinding.

Celah membelah trotoar dan menjalar ke sisi bangunan, membuat dinding bergemuruh.

“Kurasa sudah keterlaluan. Aku akan membayarnya,” kata Gareth, menyesuaikan helm. Mengayunkan kapak tempur ke atas bahu, dia berlari.

Menghampiri Fels yang terpampang di dinding.

“?!”

Gareth menebak bahwa sosok berbaju hitam itu ialah komandan para monster dan menjabat kepala kelompok. Kapak tanpa ampun kurcaci memotong udara menuju Fels. Tepat sebelum menabrak, sebuah pendang panjang dan scimitar mengetuknya.

“Yaaaarhhhhhhhh!”

“Huh?”

Sisi pedang menebas kapak, mendorongnya keluar jalur dan menabrak dinding tepat di sebelah Fels.

Sembari menekan luka, Lido merengsek menuju Gareth dan langsung mengangkat senjatanya kemudian melantaskan serangan kedua. Tapi Gareth menarik kapaknya terlebih dahulu dan dengan mata menyipit, ia mendorong kapak itu ke pelat dada lizardman.

“Uuuuhhhh!”

Tubuh besar monster tersebut terbang bak bulu, berguling-guling di trotoar batu rusak. Fels mengulurkan kedua tangan dan melepaskan lagi gelombang kejut dari jarak dekat, sayangnya prajurit kerdil sudah dahulu melompat ke samping, sukses menghindar.

“OOOOOOOOHOOOOOOOOOOHHH!”

Perintah gargoyle menggaung di udara, diumumkan sambil terbang ke Gareth. Mereka sadar kalau perlu menangani manusia blasteran ini jika ingin kabur. Batuk-batuk karena debu, Welf dan Mikoto memeriksa diri sendiri yang masih tidak terlihat dan menonton pertarungan walau diterpa teror.

Lebih dari sepuluh Xenos mengelilingi kurcaci, namun dia tidak tampak kesulitan, mengungguli musuh dengan kekuatan fisik belaka. Menggunakan kapaknya, lalu memotong tanduk unicorn dan goyangan ekor lamia, setelahnya menerbangkan troll dengan pukulan keras dari tinju bersarung tangan perangnya. Bahkan lizardman serta gargoyle yang nampak paling kuat dari kelompok, dikalahkan dalam hitungan detik.

Adegan itu adalah perualangan kejadian lima hari sebelumnya dalam Distrik Labirin. Level 6 yang terlampau kuat tengah memukuli monster. Hal termenakutkan dari semuanya adalah kehadiran intens kurcaci yang berdiri di depan mereka, bahkan lebih menakutkan lagi ketimbang saudari Amazon ataupun manusia serigala.

“—Aaaahhhh!”

Sekuat tenaga, Rei mengeluarkan gelombang suara.

Jeritan itu membuat Gareth lengah. Kali pertama, kesigapan mental yang sama sekali tidak berbau-bau kurcaci sesaat sirna. Welf dan Mikoto yang sampai saat itu berdiri diam, mendapatkan satu-satunya kesempatan untuk beraksi.

“!”

Gareth menghindari badai salju yang Hien Welf munculkan, tetapi gelombang udara dingin Mikoto kemudian membekukan salah satu kakinya. Berdiri di tengah-tengah mereka, Welf dan Mikoto melepaskan serangan kedua kepada kurcaci terperangkap.

Petualang kelas satu telah terpenjara dalam dunia angin beku, es, dan embun. Tetapi sedetik berikutnya, dia membungkam Mikoto.

Apaan dah?!

Welf tidak mempercayai matanya.

Ini guyon, ya?!

“RRRaaaaaaaaahhhhhhhh—!”

 Petarung resistan kurcaci itu membulatkan hatinya untuk bertarung, apa pun konsekuensinya.

Tubuh masih membeku, menerobos esnya hanya dengan kekuatan tekad, tinju mengangkat kapak, mengayunkannya liar-liar ke sekitar. Para Xenos hendak menyerbu, mulut ternganga, namun terhempas jauh.

Dua orang anggota Hestia Familia beringsut ke sisi buta dan melancarkan gelombang demi gelombang dinding. Si kurcaci tidak berhenti. Tidak peduli separuh tubuhnya membeku atau tidak entah tertutupi embun dingin. Dialah petualang penyendiri, namun tiada yang mampu menghentikannya.

Sekejap kemudian, suara retak membelah udara.

“….?!”

Seakan-akan kalah oleh pertempuran tekad, pedang sihir hancur berkeping-keping. Keseringan digunakan akan menghancurkannya. Welf serta Mikoto tidak bisa berkata apa-apa tatkala menyaksikan serpihan bilah-bilah biru laut hancur dan jatuh ke sela-sela jari.

“Tuan Gareth!”

“Serang mereka! Bunuh!”

Seolah sudah jatuh dan tertimpa tangga, bala bantuan Loki Familia tiba. Petualang-petualang pria dan wanita membanjiri lorong-lorong di jalan utama, atap-atap bangunan, dari keempat penjurut.

“Waktunya menggunakan ini!”

Dari selubung jubah hitam Fels, muncul sebuah bola hitam, yang penyihir itu sebar di seberang jalan.

Ketika bolanya pecah, asap hitam mengepul ke jalan lebar. Selubung asap yang Fels gunakan lima hari kemarin untuk membantu Xenos-Xenos melarikan diri, kabut-kabut hitam dari benda sihir. Strategi terakhir untuk mencegah para petualang berkomunikasi satu sama lain. Kabut hitam langsung mengubah jalan menjadi keriuhan petualang dan monster bertarung membabi buta melawan tubuh mana pun, penuh teriakan-teriakan bingung.

Alamak, gawat. Aku mesti apa?!

Tombak-tombak dan cakar-cakar muncul dari kedalaman kabut dan mengepung Welf, tembus pandangnya tidak melindunginya dari kekacauan. Dia berada dalam welas asihnya, jantungnya berdebar cepat.

Kata pemusnahan terlintas dalam benaknya, menyetir pikirannya menuju kekalutan. Hampir tidak mungkin para Xenos Bersatu dan melarikan diri dari huru-hara gila tersebut. Paling-paling, dia harus mengurus Gareth.

Welf kehilangan Hien. Mikoto masih memegang Fubu, namun jikalau digunakan untuk melenyapkan kabut hitam ini, baik musuh atau sekutu akan terhempas, udaranya hilang, Gareth sekali lagi akan menunggu dan menginjak-injak mereka. Seandainya anggota lain Loki Familia bergabung, takdir Xenos bakal tamat. Dan Lilly mungkin tak bisa menyelamatkan mereka.

Bagaimana kalau menggunakan ini ….?! Tapi apabila digunakan sekarang ….!

Welf melihat pinggangnya.

Yang mengganti tempat pedang panjang biasanya adalah pedang sihir lagi Menatap pedang telanjangnya, yang punya warna biru laut lebih intens daripada Hien, sebuah perjuangan batin menyiksanya.

Bongkahan es menghujani dari cakrawala ke jalan.

“Hah?!”

Welf mendengar derak jalan yang membeku dan teriakan kurcaci juga petualang-petualang lain melalui kabut, dia bersumpah telah melihat salju kuat.

Ketika berdiri terombang-ambing di sana, sesosok tubuh mendarat dengan bunyi gedebuk di hadapannya.

“Uh …. Tsubaki?”

“Hahh? Apa barusan suara Welfy?”

Gadis itu punya kulit coklat, rambut hitam diikat di belakang kepala, dan penutup mata kiri sebagaimana yang dipakai dewinya. Mengenakan hakama merah cerah dan pakaian perang, dia mengingatkan Welf akan seorang pemain anggar dari Timur Jauh. Perawakan menarik anehnya mengindikasikan campuran darah antara kurcaci dengan darah manusia.

Tsubaki Collbrande, kapten Hephaestus Familia. Melihat penyusup tak terduga itu, Welf melepaskan tudungnya dan menampakkan diri.

“Kau lagi apa di sini?!”

“Dewiku memohon-mohon untuk membantu kalian. Dengar-dengar tentang Zenoes atau entahlah bagaimana kau memanggil mereka. Rupanya kau terjebak dalam sesuatu menarik, Welf!” kurcaci blasteran itu menjelaskan sambil tersenyum puas. Persis seperti Nahza dan Miach Familia, dia datang membantu Welf dan anggota-anggota familianya demi menyelamatkan Xenos.

Welf tak sepenuhnya girang Hephaestus memberi tahu Tsubaki mengenai Xenos, sekalipun tahu alasannya. Menurut Hephaestus yang dihormati Tsubaki, mengutarakannya ke si gadis dianggap tak masalah. Namun Welf tidak suka petualang pencari kesenangan itu tahu situasi mereka.

Sama sekali tidak menyadari pemikiran Welf, Tsubaki menghunuskan pedang sihirnya.

“Keknya kita punya satu ide, Welf? Omong-omong, serahkan saja padaku. Aku akan mengendap-ngendap dan menghajar mereka sama pedang sihir ini. Haha, aku sudah dengar banyak suara-suara senjata!”

Welf menjauh dari pandangan Tsubaki bersama segudang senjatanya yang tersampir sembarangan di atas bahu yang tidak mau diam.

“Kau cuma ingin mencoba pedang sihirmu!” teriak Welf, lupa bahwa dirinya dalam bahaya oleh motif tersembunyi si master penempa.

Tsubaki adalah seorang pengrajin wanita yang murni dan eksentrik, terkadang dia turun ke Zona Dalam Dungeon semata-mata untuk mencari tahu sehebat apa karyanya. Gairah gila itu menjelaskan keahliannya sebagai penempa dan kecakapan keahliannya, ia mendapat julukan Cyclopsx.

“Dasar dungu. Bukankah aku buru-buru membantumu dan tahu pasti Loki Familia akan beralih membenciku karenanya? Haha! Aku pergi! Aku datang nih!”

“Sesuai dugaanku, kau menikmatinya! Omong-omong, semisal seranganmu menggila, Loki Familia akan—”

“Hahaha! Kau pikir kurcaci itu akan kalah cuma karena ini? Pemimpin-pemimpin Loki Familia monster semua isinya!”

Berbicara akurat, tampaknya dia mengincar Gareth saja. Memanfaatkan tabir asap, Tsubaki menebas pedang sihirnya secara acak di udara. Medan perang kacau membuat Welf gelisah, kepalanya pusing super. Beberapa menit setelahnya, Tsubaki mendapati pedang sihirnya hancur.

“Ehh, sepertinya yang satu ini sudah mencapai batas. Masih ada ruang untuk peningkatan, ya,” ujarnya, membuang gagang kosong.

Waktu-waktu berikutnya, Susana hati berubah, mata menyipitnya menyorot Welf.

“Terus? Kau berdiri memimpikan apa? Pedang panjangmu ini dekorasi saja?”

“….!”

“Kenapa juga kau bawa, bocah bodoh? Gunakan dong!”

Penempa senior itu mengolok Welf, atau barangkali memarahinya. “Bukannya kalian datang untuk menyelamatkan Xenos-Xenos itu? Selagi kau berdiri di sana, monster-monster itu akan berubah menjadi abu rokok!” “… seumpama aku menggunakan ini, bahkan petualang kelas satu akan—” “Idiot!”

Tsubaki menampik keresahan Welf dengan senyuman.

“Kubilang, orang-orang itu tuh monster. Pedang sihir bayi kayak gitu takkan mengalahkan mereka semudah itu.”

Tsubaki mengarahkan satu matanya ke Welf seolah-olah bilang tidak usah repot-repot risau tentang kesejahteraan musuh-musuhnya. Welf tidak dapat merespon apa-apa.

Malahan dia mengerutkan kening dan mencengkeram gagang pedang panjangnya, menangguhkan diri untuk bertarung.

“… menemukan musuh dalam kabut ini problematis.” “Aku akan menjadi matamu. Bersiaplah.”

Tsubaki bukan hanya seorang penempa, dia juga petualang Level 5. Dia mampu menandingi petualang kelas satu mana pun. Welf sekali lagi mengerutkan kening pada wanita super yang bisa mendeteksi hawa kehadiran lawan dalam morat-marit ini, Welf menghunus pedang, dan memasang kuda-kuda.

“Arah jam dua tepat. Ya, sebelah sana. Mereka was-was, tapi tidak perlu mengkhawatirkan apa pun—tidak oleh pedang sihir tuamu.”

“Ada Xenos dalam jarak tembak?”

“Tidak, santai saja. Sekarang waktunya—serang,” tukas Tsubaki, pindah ke belakang dan mendorong jarinya ke tulang punggung.

“NGENTOT,” gumam Welf.

Kemudian mengayunkan pedang biru tuanya ke bawah dari atas kepala.

“Hiyo!”

Memekik nyaring sebagaimana burung, gelombang es dan angin muncul.

Gumpalan es biru kehijauan menyapi kabut hitam selayaknya sayap burung mangsa raksasa yang direntangkan. Waktu itu pula trotoar membeku, paruh tajamnya mencari-cari buruan. Badai salju murka melepaskan Hiyo jauh melebihi yang dilakukan Hien. Bahkan Gareth membelalak pada badai salju dan menarik perisai dari balik mantelnya, untuk pertama kali terpaksa bertahan.

Berdiri protektif di depan para petualang terdekat, kurcaci menanggung beban penuh dari amukan salju dan es-es pecah.

“T-Tuan Gareth?!”

“… sama kuatnya dengan sihir Riveria. Dampaknya kerasa sedikit.”

Seluruh sisi kiri Gareth, termasuk perisai yang dikedepankan, telah beku padat. Janggut bertahta es dan wajah membeku, namun kurcaci itu tertawa tanpa rasa takut.

“Kalian mundur saja!” katanya kepada petualang-petualang lain, bersembunyi di belakang punggungnya saat menjadikan tubuhnya sendiri tembok melawan bombardier es esrta salju.

“Hei, lihat tuh, dia masih hidup!” Tsubaki tertawa.

“Bacot. Lady Hestia, bisa dengar aku?” panggil Welf, mengeluarkan okulusnya.

“Ya, aku di sini. Ada apa, Welf?”

“Entah bagaimana kami akan menahan mereka! Suruh Xenos-Xenos maju!”

Kabut hitam tetap melekat meskipun badai salju datang bergantian. Welf memutuskan bahwa detik ini bisa dia ubah menjadi keuntungan sebab dirinya tidak terlihat, maka dari itu ia meminta Hestia untuk menyampaikan pesannya ke Fels. Mikoto pasti juga dengar, karena suaranya kedengaran dari okulus.

“Dipahami!”

Baru sesudahnya, dia mendengar raungan lizardman. Welf merasakan para monster yang menyebar mematuhi perintah dan menembus maju. Dan kemudian, para petualang mengejar. Mengutuk ketidakmampuannya untuk menahan mereka, Welf terus mengayun pedang sihir ke direksi yang diarahkan Tsubaki.

Kita hanya harus membiarkan kurcaci itu suntuk di sini!

Jalan Gareth berdiri telah berubah menjadi sungai es. Mereka telah menghentikan petualang kelas satu itu.

Di pinggiran barat daya Daedalus Street, Hestia berkeringat gugup. Di sampingnya, Haruhime memutih.

“Oh, buruk sekali. Benar-benar buruk ….!”

“Ya! Menakutkan!”

Pra serangan sengit Loki Familia, nama-nama Xenos tersebar ke seluruh peta sihir. Musuh telah merusak rencana mereka menuju zona pusat Distrik Labirin.

Seakan hendak menambah kabar buruknya, Hestia melihat satu simbol melenceng jauh dari kelompok.

“Tidak, Wiene! Kau tidak boleh ke sana!”

Gadis naga itu pergi sendirian.

 

Ђ

 

Wiene berlari.

Beberapa sisiknya robek, darah merah merembes dari celah-celah tersebut.

Mencengkeram tangan kiri terluka dan terjun kembali ke kabut hitam.

Asap Fels telah meluap dari jalan utama dan memenuhi lorong-lorong yang mengelilinginya bak sarang laba-laba. Kabut tebal telah menghapus bintang-bintang yang bisa jadi kelihatan di seluruh sudut Daedalus Street.

Andaikan Wiene berhenti di tengah kabut, para petualang pasti akan mengepungnya. Dia tahu itu. Tahu dia kini berlari semakin jauh dari Xenos-Xenos lain. Tetapi dia tidak boleh berhenti.

Mereka … datang ….!

Panah demi panas terbang ke arahnya tanpa henti, menyerempet tudung jubah dan telinga runcing. Para pemanah Loki Familia. Ketakutan pada benda-benda terbang yang dimaksudkan membunuhnya, Wiene berbelok ke sudut. Para pengejar jahat gadis naga itu makin-makin dekat.

“Huh, hah ….”

Wiene berjuang menemukan jalannya di Distrik Labirin. Tidak bawa okulus, jadi tidak bisa mengandalkan bantuan dewi. Bangunan bata hitam membentang sejauh mata memandang, mengubah jalanan menjadi ngarai. Gang-gang samping tak terhitung jumlahnya bercabang-cabang mirip sebuah celah, memanggil si gadis ke kedalaman kabut.

Akhirnya, Wiene keluar dari keramaian, namun masih saja kabut menghalangi penglihatannya.

Muncul dari kehancuran. Batu bata hitam memberi jalan ke batu-batu bulat kuno yang dikelilingi kelompok-kelompok bangunan aneh, runtuh yang dirancang langsung oleh Daedalus berabad-abad lalu. Setiap menitnya, getaran lagi gemuruh medan perang melepaskan hujan pasir dan pecahan batu.

Adegan itu menjatuhkannya ke dalam kebingungan, Wiene telah melintasi perbatasan wilayah barat Distrik Labirin dan memasuki bagian barat laut. Berhenti sebentar dan melihat-lihat jalan yang lebih luas dan rumitnya sedikit.

“Di sini rupanya! Ketemu!”

Mendengar teriakan petualang, Wiene berlari lagi. Menghindari hujan panah, berbelok ke sudut. Kulit putih kebiruan dan sisik-sisiknya basah keringat, rambut biru keperakan kusut dari balik jubah, Wiene susah payah tetap maju, memegang teguh harapan tak tampak.

Tapi.

“—”

Seolah-olah menggepengkan harapan si monster, cahaya bintang menerangi sebuah sosok dari kejauhan.

Nafas Wiene mencekat.

Pokoknya aku berhasil sampai sejauh ini, tapi ….

Kaki telanjang wanita kulit coklat ditanam kuat-kuat di sebuah atap bangunan, pedang mata dua raksasa diistrirahatkan di bahu—seorang Amazon.

Dialah Tiona Hyrute.

Mengapa—?

Wiene menganggapnya ancaman. Dia tidak paham bagaimana salah satu pasangan yang Mikoto terbangkan sekarang bisa berdiri di depannya.

“Yah, kurasa karena aku kedapatan bertemu satu, lebih baik aku mengurusnya,” bisik Amazon sendirian.

Tiona tidak benar-benar tahu kenapa dia berakhir di tempat ini. Kalau ingin jawaban, barangkali karena kabut hitam telah merambat ke barat laut.

Sehabis dia mendarat di tanah oleh tornado Mikoto, Tiona langsung kembali ke medan perang bersama Tiona yang sudah sinting. Namun ketika dirinya mendapati kabut hitam pekat menyebar ke barat laut, Tiona mengubah arah.

Sisi selatan masih baik-baik saja. Satu-satunya orang yang berada di sana hanyalah petualang. Tetapi dia dengar masih ada beberapa masyarakat di sisi utara Distrik Labirin yang belum berhasil mengungsi. Naluri menutur sesuatu buruk ‘kan terjadi mana kala mereka hendak menuju pinggiran daerah melewati kabut, sebab itulah dia mengikuti kabut tersebut ke arah barat laut.

“Aku tumpas yang satu ini,” katanya.

Ketika Wiene melihat Tiona melemparkan pedang bermata dua ke satu tangan, Wiene melesat ke arah berlawanan.

Dari seluruh masa muda dan pengalamannya, gadis naga itu bisa merasakan situasi-situasi menekan. Bertabrakan dengan pengejar Loki Familia, seluruh harapan terkuras dari wajahnya. Merengsek ke persimpangan tatkala para petualnag dan Tiona mendekatinya dari kedua sisi.

Huh?

Seorang anak laki-laki berdiri di dekatnya.

Seorang anak … manusia ….?

Ia pucat, seorang blasteran elf, memeluk anak kucing di dadanya.

Wiene melihat bayangannya sendiri di pupil anak itu. Kedua mata kuningnya mengintip dari balik tudung gelap, darah menetes dari dahinya, mata ketiganya berkilau. Penampakan monster yang terlingkupi kegelapan pasti menakuti anak kecil mana pun.

Wiene ragu-ragu sejenak sambil menghadapi anak ketakutan itu. Barusan, dia mendengar ledakan keras dari arah medan perang yang mengguncang tanah.

Tak lama setelahnya, kemeriahan datang.

Tiba-tiba, salah satu bangunan yang berdiri di atas kepala si bocah mulai melengkung dan runtuh.

“Ruu?!”

Mulut Lai, Fina, dan Maria menjerit seakan-akan dada mereka terbuka.

“Ouka?!”

“Bangunannya jatuh—!”

Ketika melihat sebuah bangunan menjorok di sisi barat persimpangan, Chigusa dan Ouka berlari ke jalan, senjata disiagakan.

Mereka tiba di sudut satu menit sebelumnya, masih mencari-cari bocah lelaki yang kembali ke panti asuhan sendirian. Mereka banjir kelegaan kala melihat blaseran elf di sisi timur persimpangan. Segera sebelum ledakan terjadi.

“Nona Tiona?!”

“Oh tidak!”

Ouka melihat monster berjubah robek-robek berlari secepat kilat ke persimpangan, bocah itu membeku di tempat, anggota-anggota Loki Familia terkejut. Kemudian mendapati bangunan bobrok itu terjatuh ke persimpangan.

Aku takkan sampai!”

Dalam hatinya, Ouka berteriak diam-diam terhadap bencana mengerikan yang hendak kejadian.

Ah ….

Kejadian tak asing bagi Wiene.

Segunung batu bata jatuh dari atas kepala si bocah. Dulu, paket yang jatuh dari kereta kuda.

Semestinya kau biarkan saja dia disana, bisik hati penakut Wiene. Orang-orang akan berteriak. Mereka akan membencimu, kesedihan akan memelukmu, hatimu akan melemah, hari-harimu akan dilalui air mata menyedihkan.

Tapi—

Wiene menanyakan hatinya sebuah pertanyaan.

Meski begitu, Bell akan menyelamatkanku, kan?

Dia mendengar nasib pemuda itu dari kelompoknya. Salahnya dia sekarang menghadapi permusuhan dan kedengkian di mana-mana. Sewaktu Wiene tahu itu, dia menangis dan hatinya sesak.

Bell telah menyelamatkan Wiene walaupun tahu orang-orang akan melemparinya batu.

Hati pecundang Wiene tidak menanggapi. Sebaliknya, mendorongnya untuk terus maju.

Saat berikutnya, panas di jemari mendorongnya untuk maju menembus kulit dan jubah, tumbuh sayap baru.

“—!”

Potensi naga mengubah tubuh Wiene menjadi panah perak kebiruan yang melaju menuju si bocah.

Membentangkan sayapnya untuk menghalangi gunung batu bata yang terjatuh, memanfaatkan tubuhnya tuk menekan bocah blasteran elf itu ke tanah.

“Ruu!”

Bongkahan-bongkahan meruntuh mendekap jeritan anak-anak lain.

Suara longsoran puing menyelimuti persimpangan bak turunnya air terjun batu.

Pada saat longsorannya mereda, awan debu besar terangkat dari puing-puing, seluruh area berserakan bongkahan batu.

“… ah.”

Wiene dan si bocah berada di tengah-tengah bangunan tersebut.

Bocah itu terbaring telungkup di tanah, vouivre menekan tangannya ke wajah sambil mengintip ke mata.

Sayap melebarnya tidak bisa memblokir semua puing. Darah menetes dari kepalanya ke pipi bocah.

“—tembak!”

“?!”

Sebuah panah memantul dari sayap Wiene.

Bagaimana kejadian ini bagi mereka yang menonton? Setidaknya bagi Maria, anak-anak, dan anggota Loki Familia, kelihatannya seperti monster menyerang seorang anak kecil dengan sayap ngerinya, dan untung saja puing-puing jatuh menimpa kepalanya.

Wiene menunduk seketika petualang-petualang marah mendekat dari balik debu yang terangkat. Bangkit dari sisi anak kecil dan mulai berlari. Sesudahnya, Maria dan anak-anak panti juga pengikut Loki bergegas menghampiriRuu..

“Aku akan mengejarnya! Kalian lindungi anak-anak!” teriak Tiona pada para petualang, mengangkat pedang dan berlari mengejar si monster.

“Oke!”

Maria, Lai, Fina, memeluk Ruu yang kebingungan, masih memeluk anak kucing itu erat-erat.

“Oh, Ruu! Ruu!”

“Bego! Kau sedang apa?!” “Ruu, baik-baik saja?”

Maria, Lai, juga Fina, semuanya menangis.

“Tidak, kalian semua salah …. Bunda, Lai, Fina,” lirihnya selagi dipeluk dekat. Setetes darah monster terjatuh ke pipinya seperti air mata.

“Kakak … selama ini benar.”

Anak setengah elf menatap langit malam biru gelap ketika ibu angkat memeluknya. Bibir gemetar saat melihat bulan yang samar-samar besrinar dari balik kepulan debu. Isak tangis anak itu terdengar di seluruh reruntuhan.

Beberapa langkah jauhnya, Ouka bersama Chigusa berdiri diam. “Ouka … apa yang baru saja terjadi?”

“Monster itu melindunginya? Melindungi seorang anak kecil ….?”

Keduanya berdiri tepat di samping Wiene kala kejadian itu terjadi, mereka melihat detail yang Maria, anak-anak, dan anggota Loki Familia lewatkan dari posisinya di belakang vouivre. Kini mereka saling berbisik bingung tentang kesaksian barusan.

Ucapan mereka menghilang, memandang arah jalan yang ditempuh Wiene.

Tak jauh dari persimpangan, dua pasang langkah kaki terdengar bergantian di gang sempit yang cuma diterangi lentera-lentera berbatu sihir.

Sebentar saja hingga Tiona mencapai Wiene yang kabur.

“Kita mulai!”

“?!”

Amazon itu mengayunkan pedang bermata duanya ke bawah, menghalangi jalan mundur Wiene.

Meski pedangnya tidak mengenai si gadis naga, kaki kurusnya roboh sebab tumbukan tersebut dan hembusan angin dari ayunan kilat senjatanya. Tiona tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mengangkat pedangnya dan bersiap menebas lagi.

Ah ….

Wiene bahkan tak sempat berlindung dengan sayap tunggal. Biarpun sempat, pedangnya pasti akan menembus dan lain-lain. Pada detik terakhir, saat Amazon mendekat, dia memejamkan mata.

“….?”

Wiene menunggu, menunggu, tetapi pedangnya tidak datang-datang. Teramat-amat pelan, dia membuka mata. Pedang besar bermata ganda tergantung di depan dada. Akhirnya melihat ke atas. Tiona berdiri diam sembari memasang paras ribet di wajahnya.

“Uhhh, aduhhh, hmmmm …. Okelah!”

Sehabis mengerang dan menggerutu sebentar, Tiona mengangguk dan menarik kembali senjatanya.

“Ujung-ujungnya aku tidak tega!”

Melempar pedangnya dari bahu. Senjata masif itu berguling ke tanah dengan suara brak.

“Huh ….?” Bisik serak gadis naga itu yang bibirnya putih biru. Kata terbaik tuk menggambarkan ekspresinya adalah tertegun. “Kau … kau menyelamatkannya, betul? Bocah kecil itu.” Wiene terkejut.

“Aku tidak tahu kau mengerti atau tidak maksudku … tapi sebaiknya kau pergi dari sini cepat-cepat.”

“Ah ….”

“Tidak semua orang punya hati baik sepertiku, tahu.”

Tiona menatap si monster. Wiene tidak tahu harus apa, tapi pelan-pelan, dia berdiri. Membuka mulut untuk bicara, namun ketika ledakan pertempuran bergema di gang, dia bergegas menjauh.

Sekali lagi, menoleh untuk melihat Tiona lagi, dia menghilang.

Lampu berbatu sihir bekerlap-kerlip di sepanjang gang. Sendirian, Tiona memungut pedang yang dilemparnya dan berangsur-angsur mengangkat matanya ke langit.

“… begini perasaan Argonaut ….” Ucapannya memudar ke langit malam berawan. “Tiona!”

“Oh, hei, Tione.”

Tatkala dirinya meninggalkan gang, Tiona berpapasan dengan kembarannya. Tione marah dan mendekati Tiona.

“Kenapa asal pergi tanpa memberi tahu? Aku mencarimu!”

“Kau mengejarku? Aku kira kau sibuk bertarung di jalan utama.”

“Kapten menyuruh kita untuk tetap bersama! Aku takkan memberontak, kan? Dan … bagaimana dengan monsternya? Aku dengar kau mengejar satu di sana.”

Tiona mau berbohong kepada kakaknya namun pilihan itu dia buang.

“Ya, aku melepaskannya.”

“Apa?! Dia tidak kabur, kau sengaja melepaskannya?! Kau gila?” “Tapi—”

“Tapi udelmu! Situasi ini sedang tidak teratur. Kau tak mendengar kata-kata kapten?”

“Tapi, Tione, kau pun tahu monster-monster itu tidak sekadar pintar ….” “Hmph.”

“Aku rasa mereka berbeda dari monster normal. Aku tidak pernah merasakan aura negatif dari mereka,” katanya jujur kepada saudari perempuan, mengingat kembali petualang yang dia temukan tak sadarkan diri namun masih hidup.

Sejenak, Tione terdiam, seakan-akan Tiona menukas kebenaran.

Sayangnya kemarahan kembali berkumpul.

“Diamlah! Akan kubunuh black minotaur itu apa pun yang terjadi! Aku pergi!”

“Kau cuma mau balas dendam!”

Kedua saudari lari berdampingan, bertengkar seiring kepergian mereka.

 

Ы

 

“Dewi Hestia, dimana Wiene?!”

Suara Fels kedengaran melalui okulus.

“Dia berada di barat laut, pergi semakin jauh!” Hestia balas berteriak.

Dia berada di posnya, pinggiran barat daya Daedalus Street. Saat melihat nama gadis naga yang bergerak dengan mantap ke utara melintasi peta sihir, Hestia merasa jantungnya berdebar kian cepat.

“Tidak adakah yang sanggup menyelamatkannya?” tanya Hestia.

“Mustahil. Para petualang berjuang keras ….! Jika Lido atau siapa pun pergi, tamatlah kami!”

Lewat kristal biru, Hestia mendengar lolongan monster dalam perkelahian sengit. Mengerutkan kening, panik perkara keputusan apa yang bisa diambil.

Jikalau Fels tidak bisa membantu, maka yang terdekat dengan Wiene adalah Welf dan Mikoto …. Tidak, itu mustahil juga, mereka menahan para petualang! Lilly dan Bell kelewat jauh!

Fels bersama sisa Xenos bertarung di sektor barat, tepat di tepi zona tengah, Mikoto dan Welf anggota Hestia Familia sangat dekat. Lilly akan ke timur, Bell menuju tenggara, mencari-cari masalah dengan petualang. Mereka akan kesulitan mencapai Wiene ketika dirinya melarikan diri ke barat laut.

Jelas saja petualang-petualang mengejar Wiene kala dia pergi ke utara Distrik Labirin. Hestia merasa setiap detik arloji rusak di tangannya mencukur beberapa menit kehidupan si gadis. Dia bingung mesti berbuat apa, sedetik setelahnya—

“Aaaah!”

“Haruhime?!”

Manusia rubah yang berada di atap menara bersama Hestia, melompat dari tepian.

Rambut emas dan kimono merah menghilang ke dalam kegelapan Distrik Labirin, retakan keras sesuatu pecah kedengaran. Panik, Hestia mengintip dari pinggiran atap. Jauh di bawah, dia melihat lubang di atap dan di bawahnya, seorang renart terhuyung-huyung ke depan yang sepertinya berguling jatuh ke tanah.

“—!”

Haruhime mengabaikan semua logika lagi nalar sebab nyawa Wiene dalam bahaya, betul-betul melompat menyongsong malam untuk menemukannya. Hestia pun menendang jauh keragu-raguan, mengambil salah satu okuli, dan berteriak sekeras mungkin.

“Bell! Tolong!”

 

Њ

 

“Wiene terpisah dari Xenos! Sekarang Haruhime pergi mengejarnya!” tersembunyi tudungku, aku awalnya panik ketika suara dewi tiba-tiba keluar dari okulus. Tapi saat mendengar permohonan putus asanya, darah terkuras habis dari wajah.

“Wiene sendirian?!”

Terbakar kecemasan, aku masuk ke gang belakang untuk menghindari teriakan-teriakan petualang.

Wiene sendiriankah? Tidak adakah yang bisa menyelamatkannya? Bayangan seorang gadis menangis sendirian terlalu tidak mengenakkan hati. Selagi menarik peta Orario dalam kepala, aku tahu situasi kami sedang buruk.

Aku berada di tenggara. Wiene di barat laut. Kami pergi sejauh mungkin satu sama lain. Jika aku menyusuri rute lurus ke perkemahan Loki Familia di pusat Distrik Labirin. Mustahil saja untuk pergi tanpa hambatan, kelihatan atau tidak. Tapi mengitari perkemahan takkan kesampaian. Dipikir sampai kapan pun, aku tahu tidak bisa mencapainya dengan sepasang kakiku sendiri!

Yah, barangkali tidak oleh kaki yang kumiliki sekarang ….

Tatkala pemikiran itu tersemat di benak, aku berteriak ke okulus.

“Ke Haruhime!”

“Hah?”

“Tolong beri tahu dimana Haruhime!”

Sebelum dewi menjawab pun aku sudah berlari.

Menyadari rencanaku, dia tersengap, kemudian—seolah menetapkan keputusan—menghantarkan informasi dalam peta sihir.

Melupakan tindakan klandestin dan langsung pergi saja ke jalanan. Panas tubuhku mengumpul dari dalam tudung, tetapi aku pun tidak sempat menghapus keringat. Mengesampingkan peranku sebagai pengalih, aku melompat dan berlari melintasi atap-atap tak rata.

Lebih cepat, lebih cepat! Cepatlah!

Suara dewi memanduku kala melintasi bagian selatan Distrik Labirin dari timur ke barat.

“Haruhime!”

“Eeeehh! Oh—Master Bell?!”

Haruhime telah berlari secepat-cepatnya di gang belakang ketika dewi membimbingnya. Aku menyusulnya kemudian meraih tangannya, lupa melepas tudung. Kutarik dia ke sebuah rumah tua tak berpenghuni, dia menebak identitasku, keterkejutannya sangat menyentuh hati.

“Master Bell! Nona Wiene, Nona WIene ….!”

Tangan gemetarannya mencengkeram pakaianku. Aku mencoba mendukungnya ketika dia mau pingsan, dan kami berdua jatuh terlutut. Air menetes dari mata hijaunya ke kimono, aku meraih tangannya dan diremas.

“Haruhime—”

Dia menatapku, dan memintanya melakukan sesuatu yang pasalnya mustahil kulakukan sendiri.

“—tolong bantu aku.”

Kita akan menyelamatkan Haruhime bersama.

Terkaget-kaget oleh urgensi di mataku, Haruhime menyeka matanya dan mengangguk.

Tangan kananku menggenggam tangan kirinya, tangan kanannya menggenggam tangan kiriku.

Manusia rubah indah itu mulai melantunkan lagu ilusi.

—Tumbuh.

Suaranya jernih dan murni layaknya kristal.

Dia menutup mata dan terus bernyanyi dalam suara merdu.

“Kekuatan dan wadah itu. Luasnya kekayaan juga keinginan.

Sampai bell berlontengan, bangkitlah kemuliaan dan ilusi.”

Sementara mantra terbangun, cahaya keemasan mulai bersinar dalam ruangan redup, menerangi wajah tegangku.

“—Tumbuh.”

Mulai dari sini, aku—tidak, kami—akan berada dalam bahaya besar.

Mungkin karena Haruhime juga menyadari hal ini, tangannya gemetar meskipun suara nyanyiannya halus dan terasa mengalir.

“Lahirkan persembahan ilahi dalam tubuh ini. Cahaya keemasan ini dianugerahkan dari atas. Ke dalam palu dan ke dalam tanah, semoga melimpahkan keberuntungan bagimu.”

Tangannya memegang erat tanganku selagi lututku menumpu, mengungkapkan rasa takutnya akan nasib Wiene.

Jawabanku adalah meremas tangannya. Kimono-nya gemetar, kata terakhir dirapal paksa.

“—Tumbuh.”

Haruhime membuka mata dan menatapku. Dia membacakan nama sihirnya.

“Uchide no Kozuchi.”

Ruangan penuh cahaya cemerlang. Di saat yang sama, pusaran berkilau melingkupi tubuhku.

Melimpahkan level boost, meningkatkan satu level oleh sihir terhebat. Sensasi mencapai Level 4 menjalar ke seluruh tubuh, aku kegirangan.

Menarik tudung lagi, berdiri—dan mengangkat Haruhime. “Huh?!”

Tak mungkin satu peningkatan level akan cukup. Aku masih memerlukan bantuan Haruhime. Dan aku juga tak berniat meninggalkannya. Aku yakni dia tahu itu, tapi secara bersamaan pipinya merah muda—mungkin tidak mengharapkan aku membopongnya seperti ini.

Perasaanku tidak enak, tapi tidak ada pilihan lain. Dia hanya harus menanggungnya. Aku memeriksa untuk memastikan Haruhime dan tubuh berkilauku tertutupi tudung, kemudian berbisik ke telinga rubah.

“Tolong pegang tudungnya.”

Dia mengangguk. Karena kedua tanganku membopongnya, tangannya pergi ke leher dan memegang Tudung Pembalik. Melalui kain, objek-objek dunia luar mulai tampak transparan. Aku mengintip dan menguatkan diri atas apa yang terjadi selanjutnya.

“—kami pergi.”

Sebutir keringat menetes ke pipi, dan aku berlari. “Ugh?!”

Haruhime menelan ludah terpana terhadap kecepatan ekstrim Level 4-ku.

Terbang melewati pintu rumah tua yang terbuka lebar, melompati jalan-jalan batu, terbang menuju langit malam.

Di bawahku terbentang Distrik Labirin. Lampu-lampu berbatu sihir berkedip di perkemahan Loki Familia. Ada sektor barat yang terselimuti kabut. Bagian barat laut pula, tempat Wiene tertinggal sendirian.

Mengingat pandangan terakhir, membiarkan gravitasi menarikku ke atap gedung—dari sana kecepatan penuh dimulai.

“?!”

“Apa itu?!”

Walaupun kami tak terlihat, orang-orang pasti menyadari kami yang lewat. Cepatnya menakjubkan, menggerakkan angin yang mengaum-ngaum ganas, kakiku berdebar saat melintasi atap dan dinding. Para petualang di daerah terdekat melihat ke atas seakan merasa laju kencang di atas kepala.

Tapi tak masalah. Aku hanya mengabaikannya. Tidak ada waktu untuk mengurusnya.

Mesti ke tempat Wiene seawal mungkin!

“—!”

Haruhime mencengkeram leherku erat-erat selagi diriku berlari lebih cepat, mati-matian menahan tudung yang ditarik oleh angin.

Melompat bak kelinci sungguhan, aku melintasi atap tak rata, menyusuri jalan-jalan, acap kali menaiki menara tinggi dengan satu tarikan nafas saja. “Ya, terus saja lurus seperti itu!”

Suara lesat angin yang menerpaku hampir menenggelamkan suara dewi, tetapi aku mengikuti instruksinya dan melalui kota lewat rute terpendek.

Risiko Loki Familai mendeteksi kami sangatlah tinggi. Anggota-anggota kelas satu tentunya mendeteksi gerakanku.

Namun satu-satunya pilihan adalah melanjutkan.

Sembari berlari dengan kecepatan tak terpikirkan oleh peningkatan level Haruhime, aku merasa seperti dewa kuat. Namun bukan waktunya tersihir oleh sensasi agung percikan-percikan cahaya indahnya. Aku cuma berlari secepat mungkin.

 “—maaf, Master Bell! Terlepas dari posisi aneh sekarang, aku amat bahagia!” ucap si renart menggigil seolah-olah tak dapat menahan diri.

“Rasanya aku pernah mendengar kata-kata itu sebelumnya!” responku adalah teriakan, tanpa berpikir lagi.

“Apa? Itu kalimatku, Haruhime! Aku akan datang menggantikanmu!” entah kenapa dewi bilang begitu, sejenak semuanya jadi kacau.

Bahkan saat kami bertiga saling berteriak, aku terus menembus udara malam.

Segenap energi fokus untuk menjadi angin itu sendiri, aku melintasi Distrik Labirin dari barat daya ke barat laut.

 

 

Wiene maju melewati gang-gang.

“Huh, hah ….”

Nafasnya acak-acakan pertanda betapa lelahnya dia. Sama sekali tidak tahu berada di mana. Berjalan sedih melalui jalan-jalan belakang, sayap barunya disembunyikan dan tangannya menempel dinding, terkatung-katung oleh kegelapan.

Para pengejarnya menghilang, namun dia tak bisa menenangkan terornya terhadap para petualang yang mendadak akan muncul. Lebih pentingnya, kesepian nan besar menyiksanya.

“….”

Mati-matian berusaha menjaga bibirnya untuk menyebut nama seseorang.

Tak ingin membuatnya gelisah. Jika dia menangis, dia akan mencemaskannya lagi. Wiene ingin menenangkannya. Itulah karenanya dia berusaha mengendalikan perasaannya.

Namun Distrik Labirin samar cahaya mengikis tekadnya. Parahnya, rasa takut menyedihkan yang mengguncang tubuh lemahnya ‘kan menguasai dirinya, lantas mengait-ngait bayangan masa lalu, sebuah kehangatan tak tergantikan.

“Bell ….”

Melirihkan namanya sepelan mungkin sampai tampak meleleh ke kegelapan.

Sesuatu terjadi.

“—Wiene!”

Dia menjawab doanya.

“!”

“Nona Wiene!”

Ketika vouivre itu kaget, Bell dan Haruhime melepas tudung mereka dan mewujud entah dari mana, melayang turun dari langit biru gelap.

Air mata mengalir dari pupil sekuning sawo Wiene, saat berikutnya mereka lari menghampiri. Terjatuh ke pelukan seorang anak laki-laki serta gadis yang mendarat di depannya.

“Bell! Haruhime!”

Tangan terentang memeluknya.

“Oh, Nona Wiene, Nona Wiene!”

“Wiene, sungguh senang melihatmu ….!”

“Maaf, maaf, Bell dan Haruhime ….! Terima kasih, aku sayang kalian ….!” mereka bertiga hampir tidak bisa berbicara sebab sedang dibasahai tangis. Hanya memeluk kehangatan satu sama lain. Wiene membenamkan wajahnya di dada Haruhime, Bell membungkus dirinya di sekitar mereka berdua—sayap Wiene dan lain-lain.

“Kalian datang mencariku ….?”

“Dewi memberi tahu posisimu!”

“Jadi kau baik-baik saja, Wiene? Aku senang sekali kau tidak terluka!” Bell tersenyum kepada wajah Wiene yang berlinang air. “… makasih, dewi!” ucapnya.

Mereka mendengar isakan dari okulus pendar-pendar biru di sarung tangan Bell, wajah Wiene menjadi senyuman.

Setelah berpelukan beberapa menit, Bell menarik diri dari Wiene juga Haruhime.

“Ayo, jangan menyia-nyaiakan waktu. Kita harus kembali ke Lido dan yang lainnya entah bagaimana.”

“Benar!”

Wiene bersama Haruhime mengangguk, mereka berangkat.

Sekarang, lebih dari limat menit semenjak Bell bertemu Haruhime. Dia ingin mencari tempat tuk memperbaharui level boost-nya. Saat ini tengah berada di utara barat laut Distrik Labirin. Tahu betul pergi ke selatan untuk bertemu kembali dengan Xenos sambil menghindari Loki Familia di tengah jalan hampir mustahil. Kemungkinan terburuknya, Bell harus bertindak sebagai pengalih. Dia masih mendekatkan okulus ke bibirnya.

“Dewi, tolong kasih tahu—”

Indra keenam Bell seketika membunyikan alarm.

“Uh-oh!”

“Huh?”

Ajaib sekali dia bisa mendekati Wiene dan Haruhime lalu melempar Tudung Pembalik ke mereka bertiga. Sewaktu mundur dari kegelapan gang—brak! Sepasang sepatu bot logam perak menghantam tanah.

Sosok itu memakai mantel bulu kusut dan terdapat tato biru menyeramkan di satu sisi wajahnya.

Bell, Haruhime, juga Wiene menahan nafas pada werewolf muda yang baru turun dari langit.

Bete ….!

Seperti yang ditakutkan Bell, mereka terdeteksi.

Bete Loga tampaknya merasakan perjalanan asal Bell dan Haruhime di kota. Menentang perintah Finn, petualang kelas satu tersebut telah meninggalkan perkemahan Loki Familia untuk mengejar mereka. Bell ngeri oleh kecepatan hebat si manusia serigala, benar-benar meniadakan seluruh peluang tuk mendapatkan level boost lain dari Haruhime.

“….”

Bete berdiri di area terbuka sisi ujung gang tempat Bell, Haruhime, dan Wiene sembunyi. Selagi hati-hati mengamati sekeliling, mereka bertiga menahan nafas dan mengikuti arah pandangannya. Detak hati menggelegar menyatu begitu keras sampai-sampai takut Bete mendengar suara mereka. Di sisi lain okulus, Hestia memucat dan berusaha diam.

Setetes keringat Bell jatuh ke rambut Wiene.

“—Keluarlah!”

Seratus persen akurat dan tanpa ampun, Bete memindai banyak gang bercabang di alun-alun dan menentukan titik persembunyian Bell dan kawan-kawan.

Mereka membeku oleh tatapannya yang menembus mereka. Tatkala menit-menit pencarian terasa seperti selamanya, harapan mereka seakrang hancur bagaikan pasir.

Bahu Wiene gemetaran ketika kaki Bete menunjuk. Bell meremas mereka dan bersiap melakukan sesuatu: berjalan ke Bete. Dia akan menjadi pengalih selagi Haruhime dan Wiene kabur. Tapi langkah Haruhime selanjutnya mencegahnya untuk melakukan demikian.

Haruhime ….?

Mendongak saat merasakan seseorang membelai rambutnya, kemudian manusia rubah itu tersenyum kepadanya. Haruhime dengan lembut menarik diri dari pelukan si gadis naga, lanjut tersenyum singkat kepada Bell yang tercengang.

Tangan terulur bertemu udara kala Haruhime menyingkirkan tudung dan melangkah ke kegelapan.

“Heh?”

“….”

Saat Bell dan Wiene terperangah, dia berdiri langsung menghadap Bete, diterangi oleh langit berbintang.

Ekor rubahnya gemetaran sewaktu manusia serigala menatap ragu. Namun Haruhime sembunyikan ekornya di belakang dan balas menatap tegas.

“Kau tidak mungkin sendirian di sini. Keluarlah, kalian semua!”

“Aku sendirian.”

“Hentikan candaanny—”

“—aku sendirian!” teriak Haruhime.

Wiene tersentak—tak pernah dia mendengar Haruhime bicara sekeras itu.

Alisnya melengkung anggun dan mata hijau teguh tak menunjukkan tanda-tanda menyerah kepada sorot mata berbahaya si bocah. Menekan tangannya ke dada dan sekali lagi berteriak keras ke serigala muda. “Tolong minggir!”

Bell mengerti bahwa dia berbicara sama Bete. Gadis muda lemah yang dia selamatkan dari masyarakat bejat sudah tidak terlihat lagi. Berdiri tegap di depan, layaknya perawan Shinto yang dengan beraninya menghadapi musibah, seorang saudari melindungi adik naganya, seorang ibu.

Dia berteriak. Gadis yang senantiasa perlu diselamatkan sekarang berteriak untuk menyelamatkan orang-orang tercintanya. Bell kagum.

“Sekarang!”

Teriak Haruhime, bersama pemandangan penuh tekadnya, menyuruh Bell untuk terus maju.

Tak bisa membiarkan kebulatan hatinya sia-sia.

Mengenyahkan rasa susah dan menarik tangannya dari bahu Wiene. Menggertakkan gigi penuh tekad, Bell menarik gadis naga itu selagi mata berairnya melirik ke belakang, selanjutnya lari berlawanan arah dari Bete dan Haruhime.

“… kau bahkan tidak bertarung, berhenti menantangku!” geram werewolf.

Bete bisa merasakan dua bentuk ghoib jauh dari Haruhime yang menghiang sampai kejauhan. Dia menggaruk tanah, kakinya menggesek batu bulat. Sewaktu melakukannya, serpihan-serpihan batu layaknya peluru menembak ke Haruhime, merobek pipi serta kimono. Tangannya menutupi wajah tapi kakinya tersandung lalu jatuh. Tetap, dia tak pindah.

“Cih. Minggir,” kata Bete.

“Tidak akan.”

“Kuhancurkan kau.”

“Tak akan pindah!”

Seketika Bete berjalan ke arahnya, die mengulurkan kedua tangan. Menyipitkan mata kepada si manusia rubah yang masih tidak ingin bergerak, lanjut menghentak tanah. Kecepatan Bete memukai sampai-sampai mata Haruhime tidak bisa mengikuti. Sekejap, bayangan werewolf itu sudah ada di kakinya. Gadis manis masih berdiri membeku, Bete mengangkat tangan kiri seolah hendak menepuk debu sepele. Baru ingin menghantamnya—

“—!”

Bete berhenti di tengah-tengah udara. Menatap mata hijau teguh Haruhime dari bawah poni emasnya.

“….”

Pandangan tertambat saja di Haruhime, diam-diam menyorot si gadis yang menolak berpaling bahkan jika pukulan sudah di depan mata.

Keduanya terdiam. Dari jauh, dua manusia hewan bisa mendengar samar-samar suara peperangan. Gerakan aneh itu dipecah oleh Bete.

“—dasar ikan teri!”

Senyum brutal menyelimuti bibir manusia serigala.

“Kau benar-benar tak berdaya—tapi masih saja menetapkan pemikiranmu, ya?” “?!”

Haus darah werewolf itu tak terkendali. Insting manusia hewan Haruhime goyah di hadapan eksistensi serigala kelaparan. Dia yang berprinsip kuat mesti memakan lemah ingin melahapnya.

Tetap saja, Haruhime masih tegap.

Balas menatapnya kendati tubuh gemetaran, tangannya masih terulur.

“Sedikit terbawa suasana, ye?”

Alih-alih menurunkan tangan terkepal, sepatu bot kirinya menabrak tanah.

Kakinya menghantam batu dan terdengar suara serpihan lagi gelombang kejut yang menghempas Haruhime. Ia meringkuk kesakitan dan mengerang ketika punggungnya terbanting ke dinding di arah masuk gang.

Senyum Bete kontrak dengan kata-kata kasarnya. Setengah mengejek kepada ikan teri, dan setengahnya lagi nikmat.

Menganggap Haruhime sebagai musuh. Menyadari bahwa dia bukan sekadar orang tak dikenal yang layak dicemooh melainkan lawan yang pantas ditemui dalam medan perang.

Tersenyum sebab mengakui tekad renart.

“Jangan berdiri diam kek cabe-cabean! Kau ini omong kosong!”

“!”

Haruhime yang mulai menderita atas pelecehan Bete, dia mengangkat wajah. Melotot setajam-tajamnya kepada manusia serigala yang tersenyum jahat kemudian mendorong tangan ke depan dada seakan menyuguhkan sebuah persembahan.

“—Tumbuh.”

 Rapalan dimulai.

“Kekuatan dan wadah itu. Luasnya kekayaan juga keinginan. Sampai bell berlontengan, bangkitlah kemuliaan dan ilusi.”

Satu-satunya sihir yang diketahui Haruhime, tidak pula dapat digunakan sebagai senjata. Dia sadar betul takkan membahayakan petualang maha kuat di hadapannya, namun dia rapalkan saja.

“—Tumbuh.”

Butuh waktu interval sekitar sepuluh menit untuk peningkatan level. Ketika percakapan janggalnya dengan Bete berakhir, sepuluh menit telah berlalu, lalu dia mulai merapal, kekuatan lebih kian menyertai sihirnya.

“Lahirkan persembahan ilahi dalam tubuh ini. Cahaya keemasan ini dianugerahkan dari atas. Ke dalam palu dan ke dalam tanah, semoga melimpahkan keberuntungan bagimu.”

Bete tetap menghadapnya dari jauh, menunggu dalma diam hingga rapalnya selesai. Dia menunggu atas kebanggaan dirinya? Tidak. Dia menunggu lantaran menghormati tekad Haruhime—gadis lemah itu berteriak ke hadapan sang kuat.

Begitu dia selesai, manusia serigala akan menghantamnya tanpa ragu-ragu. Sebelum melakukannya, Bete menepuk tangan.

“—Tumbuh.”

Uchide no Kozuchi. Meskipun Haruhime tak membentuk lingkaran sihir, cahaya keemasan berseri-seri dari sihirnya mengeluarkan efek, menampakkan sifat alamiahnya. Rapalan berlanjut, kabut samar penuh kekuatan sihir menyatu menjadi awan cahaya, mengumumkan kehadiran sihir maha kuasa yang bahkan Dewi Ishtar pun merintih di hadapannya.

Awan cahaya dan pusaran kilau keemasan naik ke atas kepala Haruhime dan Bete. Ibarat kabut hitam yang menyebar ke seluruh wilayah barat Distrik Labirin, cahaya samar menyelimuti wilayah utara sampai barat laut tempat mereka berada. Semua orang yang melihatnya mungkin mengenal tanda palu martil cahaya.

Tepat ketika Haruhime selesai merapal dan Bete menyerbu, seseorang yang mendengar doa si gadis telah datang.

“!”

Bete berbalik dan mendapati seorang wanita cantik rambut hitam mendarat kuat-kuat di tanah.

Amazon bersenjata pedang lebar: Aisha Belka tiba sebagai pasukan cadangan.

“Uchide no Kozuchi,” kata Haruhime.

Langsung, Percikan-percikan cahaya mengalir di atas Bete dan berkumpul mengelilingi Aisha, palu cahaya tanpa bentuk jatuh kepadanya.

“Kau ….”

Di hadapan pandangan menyipit Bete, level boost kelar dilantunkan.

Terbungkus semburan cahaya, Amazon itu mengayunkan pedangnya ke Bete, Percikan-percikan cahaya nampak di ujungnya.

“Woi, anjing. Cakar kotormu itu mau menyentuh adikku, ya? Pikirku begitu. Menurutku kau sudah melakukannya.”

“Hei-hei.”

“—aku tak membiarkan seorang pun memainkan adik manisku. Rasanya tidak benar saja kecuali aku tending pantatmu di sini sekarang juga.”

Aisha cari ribut sambil tersenyum.

Tidak ada hubungannya dengan Xenos. Aisha menyimpan dendam pribadi. Selagi Haruhime melihat kakak jadi-jadiannya menghadap Bete dan pelototannya, ia menggigil.

“Nona Aisha ….!”

“Dasar rubah kecil gak guna, jangan sembronolah. Sudah kubilang jangan asal menggunakan sihirmu … tapi aku suka tatapan matamu hari ini, jadi kumaafkan,” jawab Aisha dengan mengangkat bahu. Dia dalam hati kelihatan senang Haruhime meminta bantuannya.

Bete mendengus ke kedua wanita itu.

“Cewek gak guna, menyerahkan kerja kerasmu ke orang lain,” tuturnya, kendati tersenyum dan mengakui taktik Haruhime.

Dia siap bertarung.

“Kemarilah dan lawan aku, wanita sinting. Kuinjak kau sampai rata, otak idiot.”

“Aku siap!”

Haruhime menonton, keduanya mulai bertarung.

 

Ю

 

“Bell, Haruhime akan ….!”

“….!”

Bell menarik Wiene menuju gang-gang, wajahnya terlihat kesusahan.

Bete akan menyakiti Haruhime-kah? Dia tak tahu. Namun berani bertarung Bete tak akan membunuhnya. Untuk saat ini, Bell mesti fokus pergi sejauh-jauhnya sebelum Bete mengejar.

Kepala Bell mulai ruwet dan meragukan perbuatannya. Walau dalam hati meminta maaf kepada Haruhime atas ketidakkompetenannya, dia terus maju agar tekadnya tak sia-sia—demi Wiene juga.

“Bell, waktumu tidak banyak ….! Kalau tidak cepat, kau takkan bertemu Fels!”

Disemprot suara mendesak Hestia, Bell dan Wiene pergi lebih cepat.

Percikan-percikan cahaya dari level boost telah menghilang. Bell mengenakan kembali tudungnya dan berhati-hati supaya tidak menarik perhatian petualang-petualang atau anggota Loki Familia, tetapi jalanan terlalu sepi sampai tidak perlu lagi melakukan pencegahan. Malahan menganggapnya sebagai sebuah keberuntungan, sayangnya, Bell merasakan aura-aura mengancam. Menoleh-noleh, dia pergi ke selatan menuju tujuan mereka.

Selatan, selatan, jauh ke selatan …. Akhirnya, kaki Bell tidak bisa bergerak lagi.

“… Bell?” tanya Wiene, bingung karena mereka berhenti. “….”

Mencengkeram tangan kurusnya, Bell basah kuyup dan melihat semacam tetes keringat terakhir di tubuhnya. Nafas tersengal-sengal, bunyi detak jantungnya memekak telinga. Berdiri di tengah gang, dilingkari jalan-jalan samping nan sempit dan tangga naik turun. Mata merahnya menatap sesuatu hitam-hitam di depan.

Tenggara Orario.

Di sudut gang tempat kekacauan dan teriakan para petualang tak menggapai, sebuah bentuk berkedut-kedut.

Sebuah tangan bergerak sedikit dalam cahaya redup ketika sosok itu mengupas punggungnya dari dinding bata retak-retak dan batuk lemah.

“Lima tahun kan? Dia mencampakkanku sampai jadi debu ….” tiga menit.

Selama itulah pertarungan berlangsung.

Saat kesadarannya kembali, sosok itu lambat laun mengangkat kepalanya dan menatap langit.

Lupa menghapus darah di bibir, dia menekan perut, bagian yang dipukul punggung pedang lawannya.

“Maaf, Bell Cranell ….” Lirih Lyu Lion.

“—”

Awan acak-acak yang menutupi langit telah menghilang, cahaya bulan mengusir kegelapan di bawahnya.

Pendarnya menyinari rambut panjang bersinar bagai debu emas, samar-samar mengilau perak dan biru serta gagang pedang berselubung. Bell dan Wiene berkedip oleh cemerlangnya.

Bagi Wiene, waktu terhenti saat si gadis menatap mereka.

“Nona Aiz ….”

Rambut dan mata emas.

Di hadapan pendekar pedang yang berdiri di tengah gang, Bell batuk sekali.

“… jadi vouivre-nya masih hidup.”

Kata vouivre—tak salah lagi Aiz yang bilang—menembak Bell bagaikan gelombang kejut. Di saat yang sama, dia terlambat menyadari bahwa Aiz mungkin telah mengalahkan Lyu dengan mudah dan mengikutinya beberapa waktu lalu.

Bell tidak sadar karena Aiz tidak melihatnya. Dia tahu anak itu terlampau sensitif pada tatapan yang menyorotnya, lantas dia tidak menatap lurus, dan hanya mengikuti wujud fisiknya, sehingga Bell tak menyadari Aiz.

Setelah kehilangan jejaknya sekali karena diganggu Lyu, dia lagi-lagi mengikuti jejak saat menyeberang dari tenggara menuju barat daya. Dia melihat pertemuannya dengan Haruhime dan ketika bersua kembali bersama Wiene. Sedari tadi dia menyaksikan.

Dengan kata lain, Bell gagal lepas dari Aiz. Bete muncul lebih dahulu sebab dirinya tak dapat mengambil keputusan.

“Keluarlah ….”

Oleh jejak-jejak kesedihan, Aiz menyuruh Bell melepas Tudung Pembalik.

Perlahan-lahan, Bell menyingkirkan Tudungnya.

“….”

“….”

Aiz menurunkan mata tatkala Bell dan Wiene bersama sayap barunya kelihatan.

“Aku memikirkannya … memikirkan alasasan pertanyaanmu,” tukas Aiz.

Lima hari lalu, sebelum misi diumumkan ke seluruh kota, Bell bertanya.

Bila monster punya alasan untuk hidup … punya perasaan seperti kau dan aku, bagaimana tanggapanmu? Seandainya kau menemui monster yang bisa tersenyum seperti orang lain, meresahkan banyak hal, meneteskan air mata layaknya orang lain—masih bisakah kau menghunuskan pedang kepada mereka?

“Jadi ini maksudmu ….” katanya, berangsur-angsur mengangkat tatapannya dari bawah dan melihat Wiene.

Bell mendapati sesuatu berbahaya dalam pandangan itu.

Ekspresinya tanpa emosi seperti biasa, tetapi sesuatu di matanya berbeda jelas dari Aiz yang biasa dia kenal. Hatinya goyah oleh mata tersebut.

Kenapa di sini? Bagaimana bisa dia? Berhenti melihat kami seperti itu!

Habis-habisan menekan kesedihan yang naik dari dadanya, Bell melindungi Wiene dari penglihatannya dan memohon di depan Aiz.

“Nona Aiz! Gadis ini—”

“Jawabanku,” potong Aiz tanpa empati, “tidaklah berubah,” setelahnya, tangannya memegang gagang pedang.

“Bila ada orang yang menangis karena suatu monster—maka akan kubunuh monster itu.”

Bell membeku terhadap kata-kata sang Putri Pedang—dihadapkan bilah peraknya.

Sepatu bot Aiz turun dan suara bruk keras tersebar di langkah pertamanya.

“Tunggu … tolong tunggu, Nona Aiz! Gadis ini tidak salah apa-apa! Dia tak akan menyakiti siapa-siapa! Gadis ini—Wiene—berbeda!” teriak Bell. Suaranya gagap dan diwarnai air mata selagi menyembunyikan Wiene yang ketakutan di punggungnya.

“Bisa kau mengucap demikian bila mana dia mengamuk lagi?” tanya Aiz.

“—”

Rubi yang tertanam di dahi Wiene berkilau-kilau seolah gemetar.

“Diriku, takkan bisa,” ujar Aiz.

Pada dasarnya dia berbeda dari gadis Amazon naif yang menghina dirinya sendiri dan orang lain tanpa dibeda-bedakan. Mukanya dingin, imbuh bak belati itu ialah pesan terakhir. Bell tak paham apa yang membuatnya seberdarah dingin itu. Dia pun tidak mau tahu.

Dia hanya tahu negoisasinya telah gagal.

Kini paham betul bahwa gadis yang dia kagumi nan banggakan sekarang adalah lawannya.

“Uh, ah ….”

Ujung-ujungnya, keputusasaan dan penyesalan yang berkobar dalam dirinya menuntun Bell meraih gagang pisau.

Seperti wanita pedang yang dia lawan, Bell sudah hinggap di jawaban tak terganti.

Bell lakukan demi monster yang ia janjikan keselamatannya.

Seketika Aiz menyipitkan mata sedih, Bell menarik dua pisau—satunya hitam dan satunya merah tua.

“Bell ….” bisik Wiene, kedengarannya dia mau menangis. “….”

Hestia, di sisi lain kristal, kehabisan kata-kata.

“… kenapa?” lirih Bell, bibirnya gemetaran tanpa kendali. ‘Kenapa ….?’ Aiz mencondongkan tubuhnya dan menerjang maju. “—sial!”

Bell juga turut menerjang maju, mengayunkan pisau hitamnya ke pedang perak yang menyasarnya.

Ђ

 

Bentrokan pedang pertama melempar banyak percikan api.

Aiz tentu saja jauh lebih kuat daripada Bell. Namun dia sedari awal tahu itu dan mengimbanginya dengan mengubah beban pukulan menjadi kekuatan sentrifugal yang memutarnya.

“Wiene, lari!” teriak Bell sembari menebas Pisau Hestia dalam pegangan terbaliknya ke Aiz sekali lagi.

Gadis naga memeluk tudung di dada dan pergi dari suara serta ekspresi mengerikan Bell. Kemudian, masih berlinang air mata, dia mematuhi perintahnya.

Bell tidak sempat melirik ke belakang selagi Wiene berlari kembali ke jalan yang mereka tempuh. Sebab Aiz telah memblokir Pisau Ilahi, dia menusuk pisau merah di tangan kirinya.

Namun pendekar pedang wanita rambut dan mata emas tak sengaja menepisnya dengan satu pukulan pedang.

“Ugh!”

Bell menggertak gigi ketika Aiz semudah itu menangkis serangan. Entah bagaimana, dia mesti membuatnya tetap sibuk. Mengangkat kedua pisaunya dan bersiap melancarkan serangan ganda, tapi—

“—”

Segera sesudahnya merasakan sesuatu menangkal pisau hitamnya, tirai-tirai emas turun di depan mata.

Kepalanya mengosong. Sesaat kemudianlah dia paham apa yang terjadi.

Setelah Aiz mempraktikkan gerakan defensif, Aiz melompat ke udara dan terbang layaknya kupu-kupu di atas kepala. Bilah merah Bell mengiris udara tatkala gadis itu mendarat di belakang punggungnya, posisi mereka terbalik.

“Huh?!”

Seluruh sarafnya tegang-tegang, Bell berputar. Aiz sudah mengejar Wiene. Pemuda itu mengikuti arah pandangannya.

Dia tidak melihatku!

Rasa suram yang mengisi dadanya berubah menjadi hal lain—menjadi sensasi yang membakar perutnya.

Kemarahankah? Tidak, bukan itu. Frustasi karena petualang yang sangat dia kagumi bahkan tak mau repot-repot melawannya.

Seluruh tubuh Bell memanas, dia berlari mengejar Wiene dan Aiz.

“B-Bell?”

Isak Hestia terdengar lewat okulus. Tahu betul apa yang terjadi dengan menonton gerakan mereka di peta sihir. Menuruti ketakutannya, Bell tidak mendekati Aiz. Nampaknya pedang perempuan itu akan menyentuh punggung Wiene duluan.

Sia-sia saja! Aku takkan sempat. Wiene akan—!

Seketika tatapan Aiz menusuk punggung gadis naga, Bell meremas tangannya hingga terbentuk tinju kuat, ibarat tengah meremas kesuramannya.

Wiene menatap ke belakang sewaktu Aiz mendekat. Namun sesaat sebelum Putri Pedang membuat kontak, Bell berteriak.

Firebolt!”

Listrik-listrik berapi terjun ke udara.

Swift-Strike Magic melesat bagaikan kilatan petir menuju Aiz, menghubungi jarak tak terjangkau antara dirinya dan Bell sekejap dan menghalangi lajunya. Tatkala menabrak dinding dan pecahan batu tersebar ke segala arah, Wiene yang terkaget-kaget menghilang di balik awan debu.

Dia menembak. Sekali lagi, dia kelewatan dan menembak.

Kali terakhir menembak seorang petualang.

Kali ini idolanya.

Dia sedang apa? Tidak tahu pasti, kebingungan itu praktis membuat Bell menangis. Dia tahu tak bisa berbalik arah.

Bell terus lari, wajahnya mengkerut. Ketika Aiz yang tertegun melompat tuk menghindari baut petirnya, Bell terbang ke arahnya sambil mengangkat pisau.

“Nona Aiz, tolong dengarkan aku!” teriaknya sambil mengayunkan pisau yang diblokir pedangnya.

Kekosongan absurd mengisi penuh dirinya saat menyadari perbedaan antara kata-katanya dan desakan untuk mengayun pisau. Bilah mereka saling betabrakan sekaligus menangkis serangan satu sama lain.

“… tidak ada yang ingin kubicarakan,” kata Aiz, menolak untuk menatap langsung matanya. Pipinya merah menyala.

“Yah, aku ingin membicarakannya!” balas Bell, seperti bocah cilik yang ajakan mainnya ditolak.

Bell menyerbu Aiz dan menusukkan pisaunya, tetapi Aiz yang cemberut memukul serangan. Kembali menggetuk keseimbangan Bell, sekali lagi mengejar Wiene.

“… dewi!”

“Ya!”

Okulus di sarung tangannya bersinar ketika Hestia membimbingnya melewati jalanan.

Bell takkan pernah menyusul Aiz, lantas Hestia mencari jalan pintas untuk mencapai lokasi Wiene di peta sihir.

Gadis naga pergi ke gang-gang dan jaringan lorong-lorong bersalin layaknya jaring laba-laba. Bell naik ke atas awan debu Firebolt dan buru-buru melintasi atap, berharap sampai pada gadis naga—dan Aiz—lewat rute secepat mungkin. Dari ketinggian bangunan Daedalus Street nampak bagaikan rakit yang mengambang di laut tenang. Langkah kaki meneguh di tengah ombak samudra imajiner, Bell melesat melewati daerah-daerah tetangga. Beberapa saat berlalu, dia menemukan Aiz berambut emas panjang sedang terbang di gang-gang sempit.

Melompat turun dari atap, dia mendarat tepat di hadapannya.

“Nona Aiz!”

Aiz berdiri membeku, menatap heran.

Mereka berada di gang sempit tanpa jalan lain di dekatnya. Mata emas cepat-cepat memindai sekeliling. Selagi memiringkan leher kurus ke belakang, Bell menghampiri.

Oh tidak semudah itu!

Selangkah lebih dekat dari Aiz yang masih mencari-cari rute kabur di atap. Bell menerjangnya.

“….!”

Tak ada pilihan lain, si perempuan membalas serangan.

Kali kedua, pisau gandanya berbentrokan dengan satu pedang tersebut.

“Aku tak ingin melawanmu ….” bisik Aiz, seakan-akan berjuang mengeluarkan kata-kata.

“Aku pun tidak!” Bell balas teriak.

Baru beberapa bulan sebelumnya, mereka berlatih bersama di tembok kota sampai matahari terbit, tetapi pertarungan ini sedikit saja kemiripannya. Dan lagi bukan latihan.

Menekan rasa sakit membakar dengan kesedihan atas situasi mengerikannya, Bell memohon kepada Aiz ketiga kalinya.

“Nona Aiz, kumohon, dengarkan aku! Gadis itu dan Xenos lain—!”

“Jawabanku … sama.”

“Ughh!”

“Kenapa?!”

Bell memelototi Aiz, dalam hati kecilnya berteriak karena idolanya tidak mau mendengarkan.

Bell mencengkeram pisau kuat-kuat.

“Hiyaaahhh!”

“?!”

Pisau hitam dan merah menyala.

Rabbit Rush, teknik rangkaian serangan cepat. Pertarungan dimulai lagi.

Pisau hitam dan merah memotong jalan udara, pedang Aiz berkilau di segala arah selagi mencoba bertahan. Seakan-akan mencerminkan keheranannya, percik-percik api menari-nari dalam nada benturan logam. Insting fisik Bell berputar cepat, pemikiran sadarnya ditinggalkan.

Bergerak lebih cepat daripada sebelum-sebelumnya.

Berjuang sekuat tenaga melawan sang idola, bergerak lebih cepat dari pertarungan melawan petualang kelas satu seperti Phryne dan Dix.

“….!”

Bentuk gang membuat pedang perak kalah unggul. Susah menggerakkan bilah panjang di jalan-jalan sempit, Aiz pun tak dapat memanfaatkan jangkauan sepenuhnya. Di sisi lain, pisau Bell kelewat efektif.

Menekan keras dari awal sampai akhir, Aiz menelan ludah dan menatap wajah Bell.

Memblokir tebasan terakhirnya dan melompat mundur.

“Huhh, fyuuhh ….!”

Suara nafas Bell menyebar di jalan samar cahaya.

“….”

Aiz menatap tangannya yang kesemutan.

“… aku mengerti, kau semakin hebat,” katanya.

“!”

Bell balas menatap, terkejut karena Aiz telah mengakui keahliannya. Tetapi pujian tersebut punya kelemahan.

“Aku tidak boleh mengkasihanimu lagi.”

Mengumumkan serangan ganas yang ‘kan dimulai.

Sosok Aiz mengabur. Bell hanya bisa melihat jejak rambut emas panjangnya.

Dapat merespon serangannya murni dari intuisi dan insting semata, selama pelatihan, seluruh tubuhnya telah mempelajari jalur pedang di udara lebih baik ketimbang waktu-waktu lain.

Sewaktu Pisau Hestia mengontak bilah Aiz, dampak besar absurd menguasainya.

“?!”

Tangan kanannya terayun ke atas kuat-kuat hingga cukup merobeknya, atau demikian rasanya. Untunglah cengkeraman pisaunya tak terlepas.

Buram emas dan perak tidak melambat. Aiz berputar ibarat angin puyuh, bilahnya berkedip seperti kesurupan kekuatan supranatural ketika menembus dinding gang-gang sempit seolah menyayat mentega.

Serangan putaran cepat tak manusiawinya tidak membiarkan Bell merespon atau bertahan.

Berakhir sudah. Dua serangan. Butuh itu saja.

Naluri Bell sebagai seorang petualang menjerit-jerit bahwa ajal telah di ujung tanduk.

“….”

Tubuhnya tak terbelah dua.

Sebelum bilahnya saling bertemu, Aiz menyatukan alisnya. Bahu Bell menabrak batu, dunia berputar di depan mata. Pusing dan mual berdatangan.

Berlutut tanpa daya, melihat sepatu bot Aiz lewat di hadapannya.

“Tidak ….!”

Berusaha menghentikan Aiz, si anak muda menitahkan lutut getar-getarnya untuk bangkit.

Memanggil setiap energi untuk memasuki celah-celah tubuhnya dan berdiri.

Aiz berhenti lalu menatapnya. Menyembunyikan emosi pada pemandangan kehendak tak terkalahkan di mata merah si bocah, Aiz menabur pedangnya dengan ekspresi dingin.

“Aku mulai,” umumnya.

Detik berikutnya, serangan berputar pedang nampak di depan mata Bell.

“—Hah?!”

Putri Pedang melepaskan serangan tebasan terus-menerus.

Seolah ingin mengembalikan serangan serupa Bell beberapa saat sebelumnya, Aiz mulai menampilkan tarian pedang. Secara refleks mengangkat pisau, sayangnya Bell tak sempat mencegat pedangnya. Jika dia berhasil menahan satu serangan, lima serangan lain akan menghantamnya. Baju zirah ganda adamantite yang Welf buatkan bergelonteng lagi dan lagi sampai membuat telinganya pengang. Kalau saja Aiz menyerang Bell dengan ujung pedangnya alih-alih bagian tumpul, dia sudah lama mati oleh serangan gencar. Bidang penglihatan sepenuhnya serba keperakan pedang. Selagi Bell terhuyung-huyung di tepi kesadaran juga rasa sakit dan kekuatan serangan, sesuatu terbesit.

Lebih kuat dari Phryne dan lebih cepat dari Dix. Tak bisa dibandingkan lagi. Petualang-petualang kelas satu yang memberikan banyak penderitaan dalam memorinya.

Aku tahu.

Aku tahu itu, tapi—

Gadis ini jauh lebih kuat dari semua orang!

Kedipan pedang memotong lempengan dadanya oleh hembusan angin, mengangkat Bell.

Tak lama dia menghantam batu bulat dan terbaring di sana.

“Ah … uh ….”

Tatkala dunia sekitarnya meredup, Bell melihat Aiz menurunkan mata dan berbalik. Tubuh terbakar rasa sakit yang mencengkeram seluruh tubuh mencegahnya untuk bahkan mengulurkan tangan sebab sensasinya diputar-putar. Berkali-kali dia memaksa bangkit, tapi tubuhnya gemetar.

… rasanya pernah melihat tempat ini sebelumnya ….

Saat tubuhnya tenggelam ke bumi setelah pembaptisan idolanya, kesadaran kosong Bell mengingat kejadian tak relevan.

Keraugan mulai merayap di benaknya mengenai gang belakang, yang mana kelihatan familiar.

Kapan, ya? Dimana, ya?

Tidak bisa berpikir jernih.

“Bell, Bell?!”

Suara Hestia menggaung dalam kesadarannya tepat kala lenyap ke kegelapan.

Memikirkan wajah sedih Aiz dan air mata Wiene.

Bell menutup matanya sekali, kemudian mengangkat alis dan menggaruk-garuk jarinya di atas batu bulat.

 

Љ

 

Jauh dari Bell, sekitar utara barat laut Distrik Labirin, seorang wanita terbaring tengkurap di samping pedang lebar besar yang ditusuk ke tanah.

“Manusia serigala terkutuk … dasar tidak berbelas kasih,” ucap Aisha, melempar kata-kata hinaan kepada Bete. Orang itu sudah lama pergi, meninggalkannya penuh luka. Darah mengalir dari bibir pecah-pecahnya.

“Aduuuuhhhh ….” erangnya, melirik pedang lebar yang teriris di sampingnya.

Kendati mengerutkan kening, sepertinya dia senang-senang saja.

“Nona Aisha, Nona Aisha …>!”

Air mata yang membasahi kulit coklat Aisha adalah milik Haruhime.

“Maaf, maaf sekali!” isaknya, mencengkeram tangan wanita yang Bete kalahkan. Haruhime sendiri tidak terluk selain goresan-goresan dari pecahan batu yang ditendang Bete. Ketika isak seorang perempuan menjalar di sepanjang gang, Aisha merengut jengkel.

“Jangan menangis. Memar-memar kecil takkan membunuhku.”

“Tapi—tapi ….!”

“Kau tidak punya waktu untuk menangis, waktumu untuk hal lain, bukan?” Aisha membelai rambut panjang emas Haruhime saat renart menyeka air mata dari wajah.

“Ada tempat yang hendak kau tuju, kan?” “… ya.”

Menarik kristal biru dari lengan kimono-nya.

Memegang okulus yang diberikan peran pendukung kepadanya, Haruhime menatap Aisha.

“Oke, kalau begitu pergilah. Aku hanya bakal istrirahat sebentar lalu memikirkan tindakan selanjutnya.”

“Terima kasih banyak …. Nona Aisha,” kata Haruhime mata merah sebelum berdiri.

Selagi melihat gadis rubah berlari, ekornya berayun-ayun, Aisha merasa energi telah sirna dari tubuhnya.

“Dari kemarin aku kalah terus …. Mungkin aku harus meminta Pemula Kecil mengajakku bertamasya alih-alih berlatih.”

Bibir mengkilap Aisha tersenyum ketika menutup mata dan jatuh tertidur lelap.

 

ŐŞŬ

 

“… Bell?”

Wiene berhenti dan berpaling.

Suara sengit peperangan tidak lagi mengusik telinganya, kekhawatiran yang selama ini ia rasakan berubah menjadi kecemasan berkecamuk. Sejenak ragu-ragu, dia masih memeluk tudung, Wiene berbalik dan perlahan mulai menyusuri kembali jalan yang dilewati.

“Bell … dewi?”

Wiene maju takut-takut melintasi jalan labirin bercabang.

Menekan sayap naganya ke tubuh dan memeluk dada ratanya saat beringsut di sepanjang dinding, perawakan monsternya kurang menonjol dan lebih mirip anak tersesat.

Akankah mata emas itu menatap dingin dirinya di tikungan berikutnya? Benarkah kilatan perak pedang menakutkan itu ‘kan memotong lehernya kala sampai di persimpangan lain? Mengigil terhadap bayangan kehitaman separuh terang cahaya yang seolah membisik telinga.

Setelahnya, sebuah bayangan jatuh menutupinya dari belakang.

“—?!”

Terkejut, dia melihat ke belakang. Sebuah tangan terulur dan menjepit mulut, yang satunya melilit pinggang kruus dan menariknya. Mendadak diselimuti kehangatan, sayap dan seluruh tubuhnya.

“Wiene, jangan ngomong.”

“Ah …. Bell!”

Saat bocah berambut putih berbisik di telinga, tensi terangkat dari tubuh dan lega menggantikannya.

Momen-momen selanjutnya dia memperhatikan penampilan Bell. Pakaian dan baju zirah terkoyak-koyak serta tertutupi noda darah. Wajahnya tak sanggup menyembunyikan rasa sakit juga kelelahan. Wiene diam seribu bahasa.

“Ayo pergi,” bisik Bell.

“B-Bell ….” tuturnya, suaranya berubah menjadi tetes air mata.

“Maaf, Wiene, tahan saja sedikit lagi.”

Tatkala Bell bergerak maju, dia terus mengawasi tanda-tanda kedatangan Aiz. Dia meremas tangan Wiene. Lantas seketika mendekatkan okulus di sarung tangan ke bibir, Bell melihat ke atas.

Di salah satu dinding yang memutari persimpangan lebar berlapis batu hitam adalah garis merah Ariadne.

Kenangannya mengkristal dan mengetuk pintu memori. ‘Oh, jadi begitu ….’

 Roman-romannya dia mengetahuinya. Tentu saja merasa seakan pernah melihat tempat ini sebelumnya.

Dia pernah menyusuri jalan ini sekali. Bersama Hestia di hari Monsterphilia, dan silverback lagi mengejar-ngejar mereka.

Senyum mengejek menyebar di wajah Bell sewaktu memikirkan langkah ke depan.

“Dewi … apa ada jalan tersembunyi di sini?” omongnya ke okulus.

“Huh? Anu, err … ada, tapi tidak ada yang mengarah ke Fels atau para Xenos. Sebenarnya hanya akan mengeluarkanmu,” kata Hestia, kedengaran bingung.

“Tolong kasih tahu bagaimana jalannya.”

Mengikuti instruksi, dia akhirnya tiba di sebuah jalan buntu lebar. Mendorong salah satu batu di dinding, dan dindingnya membukakan sebuah jalan. Bell menyuruh Wiene masuk lebih dulu, lalu memberikan sesuatu kepadanya.

“Bell ….? Apakah ini ….?”

“Ya. Kau akan bisa berkomunikasi dengan dewi. Dia akan menuntunmu baik-baik ….”

Meremas tangan Wiene yang memegang satu-satunya okulus, Bell melepasnya dari sarung tangan.

“Bell, kau ….”

Melalui okulus, Hestia terdiam.

“Pergilah ke jalan sana. Aku akan berdiam diri beberapa menit,” ujar Wiene.

“Apa ….?”

Mata Wiene membelalak karena terkejut sekaligus gelisah.

“K-kau bagaimana?”

“Aku ingin berbicara sama Aiz perihal sesuatu …. Dia pasti akan berakhir di sini lagi.”

“….”

“Selama kau mendengarkan dewi, hal buruk takkan terjadi. Tidak usah resah, nanti aku susul ….”

Tidak mungkin Bell menyusulnya.

Tanpa okulus, Hestia tidak bisa membimbing. Dia pun tak tahu keberadaan Wiene. Bell membelai rambutnya, menutupi kebohongan dengan senyum ramah.

Hestia mendengar pembicaraan mereka. Bell bersyukur, dewinya mengerti niat pengikut.

Ketika Wiene menatapnya, tercengang, Bell dengan lembut mendorongnya ke depan. “Pergilah.”

Wiene menyelinap ke jalan dan menghilang sewaktu Bell menutup pintu rahasia di belakangnya.

Mata kuning balas menatap hingga menit-menit terakhir.

Pas pintu tertutup dengan bunyi gedebuk berat, kepala Bell bersandar di pintu.

Ini yang kedua kalinya ….

Merasa dirinya pecundang. Begitu menyadari dirinya tidak bisa melindungi Wiene jika tak mengalahkan Aiz, lantas Bell mengirimnya jauh-jauh, seperti yang dia lakukan kepada Hestia.

Masih petualang menyedihkan dan tak berdaya.

Tapi kala itu ….

Tatkala silverback mendekat, dia memikirkan kerinduan betapa inginnya dia melihat wajah Aiz sekali lagi. Ironis betul pada situasi sekarang.

Bell tertawa. Lucunya. Tidak, mungkin kepalanya yang lucu.

Sesaat selanjutnya, dia mendengar suara gesekan di belakang dan Bell perlahan berbalik.

“Bell ….”

Aiz menatap lurus dirinya. Pasti melihat dirinya membantu pelarian Wiene. Matanya berkilat cela. Bell berusaha tersenyum masam namun gagal.

Menjaga satu-satunya pintu yang menjadi situs pelarian Wiene. Aiz tak tahu ke mana arahnya, lantas mendorong minggir Bell bisa jadi satu-satunya opsi. Tentu bakal mengulur waktu hingga kepergiannya. Juga memaksa Aiz untuk berinteraksi dengannya.

Bell takkan membiarkan Aiz mengabaikannya.

“Minggir.”

“Tidak.”

“Aku mesti apa sampai kau minggir?”

“Aku akan diam sampai kau mendengar kataku.” “….”

Aiz menunduk dan menutup mata.

Sesudahnya, dia menarik pedangnya penuh resolusi.

Senyum Bell melebar hingga menggambar garis tebal. Selagi Aiz berjalan merapat, Bell menyiagakan senjatanya.

 

Γρύπας

 

Jalannya gelap bukan main.

“….”

“… belok ke sana, Wiene.”

“….”

“… sekarang lurus saja.”

“….”

“….”

“… dewi.”

“… apa?”

“Firasatku buruk ….”

“….”

“Aku tidak mau meninggalkannya ….! Bell berbohong ….!” “….”

“Bell berusaha menyelamatkanku. Aku senang, tapi itu salah. Aku tidak pengen Bell terluka, tidak ingin dia menangis.”

“….”

“Aku tidak pernah membalas budi sekali pun!”

“… takkan kuhentikan.”

“Huh?”

“Aku paham. Aku sepertimu juga.

“Dewi … sepertiku ….?”

“Ya. Kau tahu selicik apa Bell itu, kan? Tahu dia lemah, tapi selalu saja pamer dan melakukan hal-hal mustahil. Bisa jadi dia malah ingin kabur lebih dari siapa pun, aku tahu dia tidak bisa mengalahkannya, tapi ….”

“….”

“Walaupun Bell tidak ingin melawan pahlawannya dan menderita ….” “Kenapa Bell melakukannya ….?”

“Karena tidak tega meninggalkan gadis—tidak, anggota keluarga—yang lagi dalam kesulitan.”

“Keluarga ….?”

“Iya. Tidak peduli manusia atau monster. Dia menyayangimu seperti bagian keluarganya.”

“… dewi, firasatku beneran buruk.”

“Aku tahu.”

“Mau ke Bell.”

“Aku tahu.”

“Ingin membalas bantuannya.”

“Siapkah kau menghadapi konsekuensinya? Bisa-bisa kau terpisah selamanya …. Maksudku adalah, kau siap mati?”

“Ya. Kali ini—giliranku menyelamatkan Bell.” “… aku mengerti. Kalau begitu pergilah.”

“Terima kasih, dewi.”

“Wiene.”

“Apa?”

“Kau jadi kuat.”

 

Ισχυρός

 

Pukulan keras menghujam tubuhnya.

Beberapa botol kaca kosong bergelinding di kakinya. Ramuannya sudah habis. Tidak tahu berapa kali dia berada di kondisi tak dapat pulih. Bell keseringan diserang sampai-sampai tak terhitung lagi. Tersedak, tapi masih berdiri dan menghunuskan pisau.

“….!”

Bahkan di pesisir menyerah kepada sang musuh, biar di ujung kehancuran, Bell bangkit kembali. Dia takkan bergerak dari pintunya. Sebaliknya—dia dengan berani menyerangnya. Aiz terengah-engah, namun menolak menyerah. Pedangnya berayun di udara dan menabrak Bell tanpa ampun.

Serangan miring berkecepatan tinggi mengarah ke bahu. Bell tidak sempat menahannya.

Pukulan ke atas. Menggetok pedangnya dari samping.

Serangan pemotong. Bell tidak dapat mengelak.

Pisau menyerang lurus. Dia mengenali yang satu itu.

Tendangan berputar. Dampak langsung.

Bilah-bilah mereka meleset. Saling bertemu. Meleset lagi. Bersentuhan satu sama lain. Keterampilan yang diajarkannya, dan taktik curiannya, terbukti jauh lebih berguna dari sebelum-sebelumnya.

Saat kilauan tarian pedang melintas di depan mata berulang-ulang, sebuah pemikiran melintas di benak mengigau Bell.

Aku sedang apa?

Kenapa juga melawan orang yang paling kukagumi?

Dia menghajarku sampai jadi bubur.

—tentu saja saat latihan dia menghajarku sampai jadi bubur juga.

Tersenyum pada situasi yang benar-benar tidak keren, Bell melihat teknik pedang tanpa ampun Aiz. Serangannya tidak kesampaian, dan serangan balik tidak meninggalkan goresan. Aiz tuli atas teriakan dan pikiran-pikirannya.

Apa Bell membenci gadis pendingin ini? Tidak.

Marahkah dirinya kepada seseorang yang sama sekali tidak mendengarnya? Juga tidak.

Pedangnya mewakilkan paragon tegak. Memaksa Bell melihat realita dan idealisme. Begitulah yang dia rasakan. Demikian tak kenal rasa kasihan untuk menyelamatkan Wiene.

Dia harus mencapai Aiz.

Dia mesti menggapai Level-nya.

Dia perlu menyusulnya.

Jika Bell mengakui kelemahannya sendiri, dia kudu berupaya lebih keras. Lebih merengsek maju. Lebih cepat. Lebih berat.

Punggungnya panas. Terbakar. Menjerit-jeritkan harapan gila untuknya.

Aiz cepat. Terlalu cepat. Bell tahu itu. Namun kemampuannya tiada batas.

Itulah sebabnya Bell wajib menyusul.

Harus menyelamatkan Wiene.

“—aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhh!” raungnya.

Tangan Aiz goyah oleh raungan gigihnya. Tak perlu dipertanyakan lagi kekuatan tekad tak tergoyahkan, akan menghapus sebagian kekuatan Putri Pedang. Menuangkan sedikit energi ke kedua bilahnya, dan kali pertama menakuti Aiz.

“?!”

Mengusir keterkejutan dan mengayunkan pedang ke udara, menangkis pisau merah. Mendadak memukul Bell secara langsung. Bell melesatkan sarung tangan kiri untuk menghadangnya. Serangan Putri Pedang menabrak baju zirah adamantite ganda.

Jarak antara mereka bersimbah hujan percik-percik api serta suara bilah menggesek bilah lain. Menekan sekuat tenaga, dengan ceroboh mencoba mendekat hingga dapat dipukul langsung.

Muka mereka terlampau dekat sampai-sampai bersentuhan—terpisah oleh pisaunya saja.

Pisau Ilahi melaju ke atas.

“Aaaaaaaaaaaaaahhhhh!”

Bilah berkedip-kedip mengukir lengkungan ungu biru di langit.

Rambut emas tergerai Aiz terbang ke atas ketika melompat mundur untuk menghindarinya. Tangan menekan dada karena syok.

“….!”

Pelat peraknya tergores. Sesuatu yang tajam meninggalkan cakaran. Tanda yang membuktikan raungan Bell mengenai sasaran.

Sejenak Aiz diam.

Menatap Bell yang megap-megap, alisnya terangkat kuatir, lalu sekali lagi menerjang maju.

“Huh?!”

Bell langsung menarik pisaunya dan memblok bilah yang menebas secara diagonal ke dada. Bilah-bilah berdecit selagi kedua tangan Bell menggenggam pisau dan melawan besarnya berat pedang Aiz. Wanita itu sekali lagi bertarung dari dekat.

“Kenapa sampai sejauh ini?”

Pertanyaan pertama yang diajukan.

Putri Pedang sedari tadi tak ingin mendengarkan dan kini menatap mata Bell sambil mengunci senjata.

Bell mengembalikan tatapannya dengan wajah terkejut dan menembak jawaban. “Aku ingin membantu gadis itu!”

“Masa? Itu kebenarannyakah? Dia bukan orang, dia monster!”

“Dia monster berbeda! Dia bisa bicara! Tersenyum terhadap sesama! Kami bisa berpegangan tangan—punya emosi yang sama seperti kau dan aku!” balasnya, bertekad untuk tidak menyerah pada bobot pedang Aiz.

“Kau salah. Tidak semua orang bisa melakukan hal-hal itu.”

Hal-hal itu, kurang lebih maksudnya adalah berpegangan tangan bersama monster. Setiap kata, pedang yang dia pegang dengan satu tangan mendorong pisau Bell.

“Eh?”

“Monster membunuh manusia. Mereka tega merenggut begitu banyak, banyak nyawa …. Mereka membuat banyak orang meneteskan air mata.”

“Tapi … bukankah kita petualang melakukan hal serupa?” timpal Bell. Setiap kata terasa seolah mengiris tubuhnya sendiri.

“….?”

“Pedangmu dan pisauku melakukannya!”

Seandainya mereka mau, bisa saja membantai ribuan orang. Rasionalitas yang menghentikan mereka. Akal dan rasa persaudaraan, Xenos juga memilikinya.

Beberapa monster lebih tamah daripada manusia.

Beberapa pemburu lebih mengerikan daripada monster.

Garis apa yang memisahkan mereka?

Bell mendorong pedang Aiz selagi Bell memohon.

“Aku ….”

Aiz bimbang, mundur beberapa langkah dari Bell.

Bohong kalau bilang Bell tak pernah memikirkan hal-hal yang dia katakan. Aiz benar. Pada dasarnya, dia tahu sisi mana yang harus dipilih. Lalu wajah-wajah tersenyum Wiene dan Lido serta yang lainnya terbesit dalam pikiran. Memikirkan air mata mereka. Mengingat kembali gelak tawa Dix dan ucapan Fels.

Seekor kelelawar—seorang hipokrit.

Bell menerima semuanya dan menetapkan keputusan.

Dia akan mengungkapkan perasaan sejati yang membara dalam diri kepada Aiz, pernyataan terakhir yang tidak bisa dia utarakan keras-keras.

“… aku ingin tempat di mana kita bisa hidup bersama mereka.” demikian—akhirnya dia katakan kepada idola, gadis yang menghentikan waktu.

“Aku ingin dunia di mana mereka dapat tersenyum!”

Harapan bodohnya memenuhi telinga Aiz.

“Kau ngomong apa ….?” bisiknya heran.

Matanya bilang dia tidak bisa—dan tidak mau—mengerti.

Mereka berdiri di sisi berbeda yang terpisahkan oleh garis, bermandikan sinar rembulan, sedangkan Bell dalam bayangan gelap.

Memalingkan wajahnya dari Bell. “Sudah cukup … minggirlah.”

Seolah tubuh babak beluarnya bilang bahwa ia telah mencapai batas, lutut Bell merosot ke tanah. Mengangkat pandangannya dari bawah, matanya terbalut penderitaan.

Namun dia tak mundur.

“Tidak mau ….”

“Hentikan.”

“Tidak mau ….”

“Aku memintamu, tolonglah.”

“—aku tidak bisa!”

“—minggir!”

Mereka berdua balas teriak lebih keras dari sebelumnya.

Rambutnya berayun, Aiz menutup celah di antara mereka dan menusuk pedangnya.

“Aku akan memotongmu.”

“….!”

Akan sangat sakit, jadi ….”

Kata-kata canggung itu adalah peringatan terakhirnya.

Tenggorokan Bell gemetar oleh udara dingin di ujung pedangnya, namun Bell tetap tak bergerak.

Tatapannya sangat sedih. Mengalir rasa sakit tak terhindari di dada Bell.

Detik berikutnya, mata bertekadnya berkedip, Putri Pedang mengerahkan seluruh energinya ke bagian ujung pedang.

Bell memicingkan mata saat cahaya bulan menyilaukan pedangnya.

“—tidak!”

Pintu di belakang Bell mendadak terbuka, sesosok bergegas memasuki bidang penglihatannya.

Jubah berkibar ketika tudung jatuh dari wajahnya.

Dia melompat maju, kedua tangan terentang, tepat di depan Bell dan di hadapan Aiz.

“Tinggalkan Bell!”

Suara berisiknya kedengaran persis sebagaimana manusia.

Waktu membeku tatkala Bell menatap punggungnya yang mempunyai satu sayap baru, Aiz melongo di hadapan rambut perak kebiruan dan wajah putih biru aneh. Sebuah kata terfragmentasi jatuh dari bibir Bell.

“Wi … ene ….?”

Menarik dirinya kembali ke masa kini, Bell berteriak ke okulus yang dipegang oleh satu tangan gadis naga.

“Dewi, kenapa?!”

“….”

Okulusnya bungkam.

Mengabaikan Bell yang belum pulih dari frustasi dan kebingungannya atas perubahan tiba-tiba itu, Wiene berdiri protektif di depannya dan memelototi mata Aiz.

“Tolong … jangan sakiti Bell!”

“….!”

Sewaktu melihat mata kuning Wiene, ekspresi Aiz serasa hancur.

Permohonan monster yang melindungi Bell nampak mengguncang hatinya. Aksi vouivre dan kata-katanya membutikan deklarasi Bell sebelumnya.

“Berhenti …. Tolong jangan bicara,” tukasnya. Tidak tenang, Aiz melihat ke bawah dan matanya disembunyikan oleh poni. “… kenapa mahluk sepertimu bisa ada?”

Bell langsung merinding terhadap ucapan lirih negatifnya. Bell merasakan sesuatu dalam ekspresi kosong Aiz—tidak, wajah—Putri Pedang yang lambat laun diangkat.

Wiene juga membeku di hadapan energi meluap-luap dari tubuh kurus seorang wanita.

“Apa yang kau dan bangsamu inginkan?”

“Aku … aku ingin bersama Bell.”

“—takkan kubiarkan.”

Mata Aiz menyipit hingga setajam pedangnya.

“Takkan kubiarkan kau menginjak dunia atas seperti monster-monster lain,” umumnya, kata-kata serta pedangnya sama-sama mengincar Wiene. “Cakarmu bisa melukai orang. Sayapmu menakuti mereka. Batu di dahimu dapat membunuh banyak dari mereka.”

Tuturnya dilingkupi kutukan, kebencian, dan penolakan.

Bukan Aiz biasanya. Beberapa alasan tanpa perhitungan membicarakan kekuatan kehendaknya. Bukan Aiz yang Bell kenal.

Lalu apa yang mendorongnya?

Kemarahan? Kebencian? Kesedihan? Harapan?

Dia hampir menyentuh kegelapan dalam hatinya—tidak, inti terterdalamnya.

“Aku tak boleh mengabaikanmu,” katanya.

Tatkala Bell mendengar Aiz menyatakan penolakan dasarnya kepada Wiene dan berniat membunuhnya, dia bahkan lupa bernafas. Aiz tampaknya berniat mengirisnya sampai berpotong-potong dengan eyakinan dan resolusi setajam pedangnya.

Wiene, pedang Aiz menjepitnya di tempat, menatap tangannya sedangkan Bell terduduk tak bicara.

“….”

Menatap telapak tangan putih kebiruan dan cakar tajam yang menyakiti Bell sesuai perkataan Aiz. Diam-diam, tangan kanannya dilingkari ke cakar kiri.

“Huh?”

Bell terlambat memperhatikan.

Nafasnya tak teratur sementara Aiz menatap takjub, gadis naga itu menghancurkannya dalam satu gerakan.

“Wiene?!”

Selanjutnya, tangan kirinya diperlakukan serupa.

Setelah dihancurkan, cakar-cakar copot itu berderai di atas bebatuan. Wiene mengabaikan seruan Bell yang menyuruhnya untuk berhenti dan tangannya yang berlumuran darah diarahkan ke sayap.

“Uuuuuuuaaaaaaaaaaahhhhhhhhh ….!”

Ibarat menawarkan bayaran atas dosa-dosanya, gadis itu merobek sayap naga dari tubuhnya.

“—”

Sayap berkulit pucat yang melebar hingga kerangka tulang berwarna perak kebiruan, jatuh di kaki Aiz yang tercengang.

Tangan ramping si gadis, yang sebelumnya terisi kekuatan naga, kini jatuh lemas ke samping. Dia jatuh ke tanah, Bell menangkapnya. Darah mengalir dari kulit putih kebiruan dan menodai baju besi Bell yang berwarna merah cemerlang persis seperti milik Aiz.

Bell menekan punggungnya, panik dan berusaha membenduk pendarahan di sayap dan kulit, Wiene merosot ke dadanya dan menatap Aiz.

“Jika aku …. Apa yang terjadi jika aku menghilang?”

Berjuang untuk mencari-cari nafas, satu tangannya digerakkan ke batu di dahinya. “Kali ini, aku betul-betul akan menghilang ….”

Memindahkan tangannya dari dahi ke dada—ke tempat batu sihirnya berada, inti seluruh monster bernaung.

Wajah Bell terdistorsi kesedihan, Aiz goyah.

Pelan dan tanpa lirih, Wiene bicara lagi.

“… aku selalu sendirian. Rasanya dingin dan gelap … dan aku … sebelum kembali sadar … aku selalu sendirian. Tidak ada yang menyelamatkan. Tidak ada yang membantuku ….” ucapnya dengan suara serak dari kedalaman ingatan tergelap.

“Aku dipotong, aku terluka … menakutkan dan sepi sekali,” bisiknya. Bahkan bernafas pun susah. Dia menatap mata emas Aiz, warnanya hampir sama dengan mata kuningnya.

“Tapi Bell datang menyelamatkan pas aku sendirian.” “!”

“Saat aku ada di kegelapan … dan tidak ada yang membantu, Bell menolong!” teriaknya.

Perubahannya dramastis. Seraya mendengarkan, topeng Aiz menghilang. Berdiri diam, seakan-akan telah menemukan sesuatu dalam lanskap musim dingin nan suram. Pasti dia membayangkannya. Dari campuran kisah monster adalah apa yang dilihatnya, dirasakannya. Barangkali mata emas itu dapat melihatnya.

Dia melupakan semuanya karena air mata gadis itu.

“Aku ingin tinggal bersama Bell ….!”

Monster tak bersalah tidak menjalaskan eksistensinya ataupun membuktikan apa pun, semata-mata mengungkapkan keinginannya. Tepat di depan pedang yang ‘kan mengambil nyawanya, dia ungkap dari kedalaman hatinya.

Tatapan Aiz jadi bimbang oleh suara tangis vouivre. Ujungnya gemetar sebentar, ibarat ragu-ragu.

Pedang yang tak sanggup membiarkannya pulang atau dihunuskan beserta penderitaannya. Bilah yang dia pegang melawan Wiene tampak memotong dagingnya sendiri.

Nalar dan emosi bercampur aduk dalam hati kala melawan kontradiksi internal pribadi. Kemudian matanya bersinar—bukan kilatan sakit atau kebingungan, melainkan sesuatu yang menerupai tetesan bulan.

Kemurungan?

Kecemburuan?

Aiz melihat apa di diri Wiene?

Sedangkan Bell yang melindungi Wiene dari awal, berdiri diam …. Aiz menggantung kepala emasnya.

Terlihat persis sebagaimana boneka yang dipotong talinya.

Menurunkan pedang yang ditekan ke dada Wiene.

“… aku tidak sanggup membunuh vouivre-nya,” suara lirihnya terasa kehabisan energi. “Nona … Aiz ….”

“Aku … aku merasa kalian berdua benar … karena itulah aku tidak bisa melakukannya.” “….”

“Aku tidak bisa melawan kalian lagi ….”

Berdiri sambil memandang tanah, dibasahi cahaya bulan, dia terlihat sangat kecil bagi Bell. Bukan seorang petualang, maupun Putri Pedang—hanya gadis biasa.

Berupaya menyembunyikan sesak di dada, Bell melingkari tangannya di bahu Wiene.

Sejenak setelahnya, Aiz mengambil eliksir dari kantung pinggangnya, diletakkan di batu bulat hampir-hampir seperti menjatuhkannya, dan berbalik.

“Aku tidak bisa menyelamatkan kalian …. Aku akan di sini.”

“Nona Aiz ….”

“Pergilah.”

“… terima kasih.”

Bell mengambil eliksirnya dan bersama Wiene yang bersandar di bahu, dia berjalan pergi.

Beberapa saat sesudahnya, untuk terakhir kalinya menatap sosok jauh Aiz.

Berdiri memungguni mereka, rambut emasnya tertiup angin.

Bagi Bell, pemandangannya terlampau fana sampai-sampai dia bisa menghilang kapan saja.

“….”

Aiz berdiri terpaku di tanah. Dia bahkan lupa menyarunkan pedangnya.

Awan melayang dan sinar bulan keperakan menatap rendah dirinya.

“Aiz.”

“….”

Bete memanggil.

Manusia serigala muda turun dari atas. Menatap wajah gadis itu, yang setengahnya disembunyikan poni.

“Semuanya baik-baik saja?”

“… iya.”

Dia mengangguk lesu terhadap pertanyaannya, meskipun sepertinya Aiz anggap berbeda dari yang dimaksudkan Bete. Gadis itu tidak mengatakan apa-apa lagi.

“Aku kembali duluan,” kata Bete.

“… terima kasih … banyak.”

“Kenapa juga kau berterima kasih padaku?” ucapnya, meludah ke tanah sebelum pergi.

Sekali lagi mulai hening.

Ditinggal sendirian, si gadis membisikkan sesuatu, lalu menatap langit malam biru pekat.

 

¿

 

“Bell, apa ini akan menyakitkan?”

“Apa kau kesakitan, Wiene?”

Aku melepas baju zirah, dan Wiene mendorong lembut. Kami berada di sebuah bangunan besar yang ditinggalkan agak jauh dari tempat kami pergi dari Aiz. Di reruntuhan rapuh dari struktur batu yang setengah atapnya hilang, menambal luka satu sama lain sebaik mungkin. Lebih tepatnya, memakai eliksir yang diberikan Aiz kepada kami.

Wiene melepas jubahnya dan sama telanjang seperti di hari kelahirannya—walaupaun aku sekurang-kurangnya menutupi dada. Luka-lukanya tertutup semua, tetapi eliksir tidak dapat mengembalikan cakar dan sayapnya. Jikalau keajaiban semacam itu terjadi, tentunya Nahza tidak susah-susah berkeliaran memakai tangan palsu.

Sementara aku, meski banyak luka, tidak ada yang sampai mengancam nyawa.

Aku penasaran apakah Aiz tidak keras dari awal hingga akhir, terlepas perkataannya.

Jalanku masih panjang ….

“Aku bukan tandingannya,” gumamku sambil mengenakan baju besi kembali dan membantu Wiene mengenakan jubahnya yang sekarang punya lubang besar menganga di belakang.

Tidak ada waktu untuk istrirahat. Mesti mencapai Fels dan Xenos-Xenos lain secepat mungkin.

“Master Bell! Nona Wiene!”

“Haruhime!”

Tepat ketika kami hendak pergi, dia muncul di gedung yang ditinggalkan, okulus di tangan.

Wiene langsung melihatnya, terbang ke Haruhime dan memeluk penuh tetes air mata. Haruhime pun menangis, sambil menarik tubuh putih kebiruan Wiene.

“Haruhime, apa semuanya baik-baik saja?”

“Ya. Nona Aisha datang menyelamatkanku …. Kalian berdua bagaimana?” tanyanya.

“… kami oke.”

Haruhime pastinya mendengar konflik kami dengan AIz oleh dewi. AKu tersenyum canggung padanya.

“Yah, kita lebih baik pergi,” kataku, mengubah topik percakapan.

“Anu, Master Bell … aku, umm ….”

“Ada apa—Ugh!”

“Kyuu!”

Sesuatu lembut dan berbulu melompat ke wajahku, yang sebagian menghadap Haruhime. Aku dengan panik melepasnya dan menyadari ternyata ia seekor monster kecil—kelinci Xenos yang mengenakan pakaian.

Wiene yang masih memegangi Haruhime, mengangkat kepala.

“Uh, al-miraj …. Aruru?”

“Kyuu!”

“Dalam perjalananku ke sini, aku bertemu beberapa Xenos yang terpisah ….”

Begitu Haruhime bilang beberapa, sejumlah Xenos buru-buru masuk ke dalam gedung.

“Bell!”

 “Jadi kita bertemu lagi, mahluk-mahluk dunia atas!” “Lett! Fia!”

Di sanalah mereka berdiri, Lett si topi merah dan Fia si harpy. Ada juga hellhound …. Helga, ya? Termasuk Aruru yang masih tertambat padaku. Tampaknya seperti Aisha, mereka melihat cahaya sihir Haruhime ketika dirinya kabur ke utara dari bagian timur Distrik Labirin untuk melarikan diri dari petualang-petualang yang berkumpul di sana, kemudian mengambil kesempatan untuk mendekatinya.

Bukan rencana awal kami, tapi senangnya semua orang bisa kembali. “Mendadak kita ada banyak …. Kita benar-benar harus pergi!” “… Bell. Soal itu perlu kita bicarakan ….”

Dari tadi dewi diam saja, kini dia berbicara melalui okulus. Sementara itu, al-miraj beertengkar dengan Wiene yang menariknya dari kepalaku.

Setelah insiden kejadian di sana, aku melaporkannya kepada Guild melalui Eina … tapi mengingat buruknya ivenstigasi, aku rasa mereka menutupnya sebelum mencapai Knossos. Aku duga mereka menjadi sangat tegang tentang hal-hal lain semenjak insiden Monsterphilia ketika monster-monster melarikan diri ….

“….”

Di salah satu sudut ruangan, ada tumpukan abu besar dan sisa-sia rambut tubuh barbarian. Aku melihatnya tanpa mengeluarkan suara, kemudian menuntun semua orang ke ujung ruangan.

Di sanalah, mata kami mendapati pintu menuju jalan yang tertutup rapat.

“Bell, tidak mungkin ….”

Pemburu berkacamata google-lah yang bilang demikian padaku.

Mantap, kami menangkap si besar itu. 

Ia kabur dari bawahan idiotku sebelum kami membunuhnya.

Terowongan sialan itu ambruk pas kami mengejar dan dia berhasil kabur.

Si besar itu adalah barbarian yang kami temui, dan terowongan ambruk itu adalah pintu kami berdiri sekarang ini.

Lett melihat tanganku, cahaya putih berdenyut-denyut berkali-kali bak bunyi bel.

Para pemburu yang menangkap Xenos biasa keluar masuk dari Knossos sebagai aktivitas penyelundupan mereka, masuk akal untuk berasumsi terdapat pintu yang dilewati barbarian.

Aku mengisi daya selama dua menit.

Menyuruh Wiene untuk mundur dan mengulurkan tangan ke depan kemudian merapalkan sihir.

Firebolt.”

Pengeboman besar-besaran yang kuisi menghancurkan pintu bata menuju jalan dalam sekali ledak.

“….!”

Haruhime dan kawan-kawan menempelkan tangan di telinga untuk melindungi suara getaran dan goncangan.

Saat melihat ke atas, mereka menemukan pintu setengah hancur tempat batu bata, dan setelahnya terdapat jalan bawah tanah yang mengarah ke kejauhan.

“Yeeeeeeeee!” bisikku ketika melihat jauh ke kejauhan, di antara dinding-dinding batu runtuh—dan kilau adamantite.

Tidak salah lagi. Jalan ini mengarah ke Knossos.

“Semisal kau pergi ke sana, seharusnya akan sampai di pintu Knossos. Aku tidak tahu jalannya sih ….” kataku.

Kami akan baik-baik saja. Bau kaum kami masih melekat jauh dari jalan ini. Mungkin ….”

“Guk!”

Helga si hellhound mengendus-endus udara, menyelesaikan kalimat Fia dengan menggonggong, seakan menegaskan kecurigaannya. Bisa jadi korban penyelundupan.

Xenos dalam kelompok kami bersorak-sorai di jalan yang terbuka di depan. Beberapa saat berlalu, mereka beralih ke Haruhime dan diriku.

“Bell, terima kasih, terima kasih banyak! Kami takkan melupakan jasamu. Lain kali, apabila kau dalam masalah, kami akan membantumu,” ucap topi merah jantan.

“Mahluk-mahluk permukaan, aku harap kalian dapat mengunjungi rumah kami lagi. Mari menyanyi dan berdansa bersama lagi,” harpy yang senantiasa penasaran menambah.

“Kami akan datang … dan lain kali, kami akan bawa Mikoto.”

Topi merah dan harpy itu menjabat tanganku dan Haruhime secara bergantian.

Saat al-miraj dan hellhound mengacak-acak kaki kami seakan berkata sesedih apa perpisahan mereka, aku terhanyut dalam kebahagiaan sampai Haruhime memegang tangan-tangan Xenos.

“Bell.”

Selamat tinggal terakhir adalah Wiene.

Gadis naga berdiri di depan dan menatap wajah-wajah kami.

“Aku kembali bersama semuanya. Kalau tinggal di permukaan, nanti akan melukai kalian berdua.”

“Nona Wiene ….”

Wiene tersenyum agar Haruhime yang kedengaran patah hati tidak merasa lebih sedih.

“Kau tahu kali terakhir kita berpisah aku menangis dan menangis karena sendirian,” ujarnya.

“….”

“Tapi kalau menangis lagi, kalian akan khawatir, kan? Jadi aku gak akan menangis lagi. Tidak usah marah, ya.” “Wiene ….”

Kedengarannya hendak membebaskan diri dari posisinya yang dilindungi.

Apa yang membuatnya berubah sedrastis itu dalam waktu singkat?

Apakah semua orang yang dia temui? Kejahatan-kejahatan yang ditunjukkan manusia? Kematiannya? Entahlah, aku tahu dalam lubuk hati terdalam merasa bahwa senyumnya takkan kutukar dengan emas macam apa pun di dunia ini.

Aku tahu tidak masalah jika dia manusia atau monster—gadis yang melindungiku ini ialah insan mulia.

“Tahu Lido bilang apa? Mungkin saat ini tidak bisa … tapi dia bilang jika orang-orang seperti kalian ada, maka mimpi kami suatu hari nanti akan terwujud!” katanya, senyum tumbuh di wajah.

Aku balas tersenyum.

“Kita akan bertemu lagi, bukan?” tanyanya.

“Ya, kita akan bertemu lagi.”

“Dan suatu hari bisa tinggal bersama?”

“… ya, tentu saja!” aku mengangguk.

Aku tidak hanya menghiburnya. Melainkan bertekad akan benar-benar mewujudkannya.

“Aku berjanji. Tidak tahu sih akan seberapa lama … tapi suatu hari, aku akan menciptakan tempat yang bisa kita mukim bersama.”

Wiene memerah dan berseri-seri.

Mata hangat Haruhime yang mengawasi kami telah bertepuk tangan.

“Ayo janji kelingking!” ucapnya.

“Janji kelingking?”

Wiene dan aku bersama-sama menatap heran dirinya. Dia menjelaskan orang-orang Timur Jauh yang melingkari jari kelingkingnya sebagai janji. Kemudian mengaitkan kelingkingku dan membaca janjinya.

“I-ini memalukan!” gumamku malu-malu.

“Tidak memalukan kok!” Haruhime bersikeras.

Wiene terkikik, dan Haruhime menghubungkan kelingkingnya. Lalu memberikan okulus sebagai hadiah, sebagai penutup kami bertiga berpelukan. Memeluk kelingkingnya ke dada sudah seperti barang milik terpentingnya, lanjut mengikuti Xenos-Xenos lain menyusuri jalan.

“Selamat tinggal, Bell, selamat tinggal, Haruhime! Sampai bertemu nanti!” wujud aneh mereka kian terlihat lebih kecil.

Mata kuning Wiene berkilauan saat berbalik dan menyembunyikan air matanya. Aku juga ikut menyembunyikan.

Aku bersama Haruhime meneriakkan selamat tinggal dan menyaksikan Xenos masih melambai, memudar ke dalam kegelapan.

Kami tinggal di sana sampai mereka menghilang sepenuhnya.

“Sebuah janji ….”

Melihat kelingkingku yang masih hangat.

Harus diwujudkan. Tidak boleh mendustakannya hanya karena tak tahu mesti berkata apa.

Meskipun setidak masuk akal fantasi anak-anak, biarpun mimpi kosong, sekalipun idealisme tak tercapai. Kami tersenyum satu sama lain sekali lagi di permukaan.

Untuk merealisasikannya, mulai hari ini kudu lebih berjuang—

Melihat telapak tangan dan kuremas erat-erat.

Semenit berlalu, Haruhime tersenyum, menyeka air matanya, dan tersenyum lagi.

Hari ini, saat ini, aku mengukir janji baru di jariku.

¤

 

“Serius nih, Fels? Wiene dan kawan-kawan beneran telah masuk Knossos?!” teriak Lido.

Dia penuh luka-luka yang mengisahkan pertempuran sengitnya melawan Loki Familia. Namun kontras dengan penampilan bonyoknya, suaranya riang gembira.

“Ya. Tampaknya Bell Cranell membawa mereka ke sana,” jawab Fels, sambil memegang okulus dengan satu tangan. Jalan berbatu tempat mereka berdiri sekarang penuh sorak-sorai para monster. Menuruni rute bawah tanah yang mengarah ke Knossos.

Berkat Mikoto, Welf, dan kabut hitam, mereka berhasil sampai di tangga tersembunyi zona tengah Distrik Labirin yang mengarah ke bawah tanah lebih awal. Serangan gencar Loki Familia betul-betul berdampak besar, dan kelompok yang tersebar hampir kolaps, namun pertahanan kuat Lido, Gros, dan Rei, mereka entah bagaimana sampai sejauh ini. Kini, mengetahui bahwa Wiene dan Xenos-Xenos terpisah jelas berada di tempat aman, kekhawatiran terakhir mereka telah hilang.

Barisan-barisan monster mempercepat lajunya ke pintu Knossos.

“Tampaknya Lett dan yang lainnya berhasil lewat tanpa hambatan, tapi pasukan bawah tanah musuh kecepatannya memusingkan. Kemungkinan besar, Pemberani tersadar kita punya Buku Catatan Daedalus,” kata Fels.

“Berkat itulah, kita berhasil tepat waktu,” respon lizardman.

“Namun tidak ditemukan satu pun musuh di jalan. Pasti salah satu titik butanya,” tunjuk gargoyle.

“Gros benar. Loki Familia tidak tahu jalan bawah tanah ini ada. Nyatanya rencana kita adalah kartu as terakhirnya,” ucap Fels, menatap cetak biru Knossos yang disalin dari Buku Catatan Daedalus dan terus menentukan rute terdepan.

Pintu orikalkulum barat sangat-sangat dekat.

“Baiklah, Fels ….” tukas Rei si siren.

Fels mengangguk.

“Ya. Aku tidak tahu bisa kita sebut menang atau tidak, tapi destinasi hampir sampai.”

Mereka bergegas menyusuri jalan remang-remang.

“Duh … sementara waktu aku tidak yakin … tapi syukurlah mereka berhasil,” kata Hestia, jatuh ke tanah dan menghela nafas panjang sebab tubuhnya sudah tidak tegang lagi.

Masih berada di menara terpencil pinggiran barat daya Distrik Labirin. Tidak mengherankan bahunya kini rileks karena telah mengantarkan para Xenos dengan aman ke Knossos. Dia layak mendapatkan hadiah atas pelayanan berfaedahnya yang membimbing Bell serta kawan-kawan dari tempat ke tempat lewat okuli.

Di bawah ufuk malam dirinya bertindak sebagai pusat komando, Hestia kembali menatap peta sihir yang disebar ke lantai.

“Bell dan Haruhime di utara, Lilly masih berkeliaran di timur, Welf dan Mikoto ke selatan …. Aku rasa mereka sudah selesai. Bau-baunya mulai dari sekarang semua orang akan baik-baik saja.”

Nama-nama Xenos telah menghilang dari peta sihir. Berkat Warisan Daedalus-lah gambaran Fels tak memasukkan lorong bawah tanah menuju Knossos. Karena Bubuk Pencari tak dapat mengubah rencana Knossos menjadi peta sihir, Hestia tidak lagi punya cara untuk melacak Xenos.

“Sepi sekali di sini. Kayaknya aku ingin menemui seseorang,” Hestia—yang sendian di menara sejak Haruhime pergi—bergumam, menarik Buku Catatan yang terletak di sebelah peta terdekat.

“Wuihhh, Bell mengejutkanku. Aku tidak tahu jalannya ada … maksudku, bahkan tidak termasuk ke dalam rencana,” lanjut Hestia, kebingungan oleh bagian jalan bawah tanah yang ditempuh Wiene dan kawan-kawan.

‘Beberapa jalan terlihat buntu …. Aku ingin tahu keturunan Daedalus betul-betul membangunnya atau tidak,’ dia merenung sendirian.

Mustahil. Faktanya, ada sejumlah kemungkinan atas hal itu.

Hestia mengangguk dan membolak balik Buku Catatan Daedalus.

“Tidak ksuangka bukunya berumur seribu tahun … dan kali ini sungguh-sungguh menyelamatkan kita.”

Kondisi berantakan buku membicarakan usianya. Gambar-gambar lapisan labirin menutupi halaman-halaman yang jelas berubah berkali-kali, dan di sana-sini, di tengah teks dia mendapati huruf tak terbaca. Kata-kata yang diletakkan dalam pengejaran obsesif maha karya ciptaannya—labirin—bersama ikatan darah yang merupakan bukti keuletannya.

Saat Hestia membaca kembali halaman-halaman dalam buku kuno yang membantunya mengecoh Loki Familia, tiba-tiba buku itu jatuh dari tangannya.

“Oh!”

Buku itu jatuh di atas atap dan buruknya, mendarat di sudut genangan air bekas hujan tempo hari.

“Oh tidak! Jangan b-b-b-b-b-b-b-b-b-b-b-b-b-b-b-b-b-b-b-buku berumur seribu tahunnya!”

Tentu saja, dia semestinya menangani buku tebal berharga dengan sangat berhati-hati. Takut akan kemungkinan terburuk, Hestia yang memucat buru-buru menariknya dari genangan air.

“Kapten, saya sungguh-sungguh minta maaf … tapi kita kehilangan jejak para monster.”

Kala Finn berdiri di markas Loki Familia yang berpusat di zona tengah Daedalus Street, ia mendengarkan laporan anggota faksinya, dia sedang dalam renungan.

Haruskah aku mengirim Riveria ketika Gareth terperangkap? Kabut hitam itu sungguhan mengacaukan komunikasi kami …. Tidak, tidak berguna lagi memikirkannya.

Insting Finn ketika menugaskan Gareth adalah untuk membunuh grup monster. Mereka mengalahkannya lantaran sangat meremehkan kekuatan musuh—tidak, kekuatan Hestia Familia yang berdiri di balik layar—dan membuyar pasukannya.

Dan kami masih belum menemukan black minotaur. Seseorang membunuhnya ….? Tidak, kurasa tidak. Sesuatu terjadi pada minotaur itu.

Gagal mencapai tujuan utama. Sekarang opsinya terbatas banyak faktor, termasuk situasi Knossos. Dia memandang Distrik Labirin yang masih kacau teriakan-teriakan petualang.

Paling pentingnya, adalah karena ia tak bisa membaca gerakan musuh.

‘Semuanya berjalan sesuai rencana mereka, maka pemimpinnya pasti hebat.’ Finn mengakuinya. Tapi masih ada yang tidak jelas.

“Kau yakin kehilangan mereka di distrik dua puluh satu?”

“Ya, pak.”

Finn mengerutkan kening.

Distrik dua puluh satu …. Tidak mungkin, kami sudah menyurvei daerah tersebut, dan ….

Tebakan Finn benar-benar kacau. Dia betulan diperdaya.

Tidak, sesuatu terjadi.

“….”

Finn menatap tangan kanannya.

Ibu jarinya berdenyut-denyut intens.

“… sejatinya ke mana musuh pergi?”

 

♀♂жψ

 

Dunia fana menggila.

Di suatu tempat dalam jagad raya ini, seseorang berteriak.

Cerita-cerita tak terhitung jumlahnya memainkan dunia milik anak-anak, namun, para dewa-dewi bersembunyi di belakang layar.

Layaknya senar boneka, atau aktor yang mendengarkan bisikan dialog dari belakang panggung, boleh jadi penari yang performanya diubah di tengah-tengah langkah, anak-anak dituntun oleh kehendak dewata. “Kami semata-mata mainan para dewa dan dewi.” suatu tempat di semesta, seseorang menyerah.

 

Αυτοί που κυβερνούν

 

“Fels, selanjutnya ke mana?”

“Tepat di tikungan berikutnya! Di sana pintunya berada!”

Xenos maju. Mereka menuju tanda merah dalam peta yang mewakili satu-satunya harapan.

Cakar kaki menghantam lantai batu. Sayap mengudara. Perut ular merayap di atas tanah, tapak-tapak kaki menginjak, dan ekor melibas. Monster berlari sekuat tenaga.

Akhirnya mereka berbelok di tikungan terakhir.

“Oh, basah kuyup!” memegang buku yang dia ambil dari genangan air.

Kemudian tersentak.

“—Hah?”

Dia merasa seakan waktu telah berhenti.

“Apa? Kok bisa—? Aku tidak percaya ini!”

Fragmen-fragmen tak koheren terucap dari bibirnya selagi memegang buku basah di tangannya. Matanya melebar saat menatap halaman yang terbuka di depan mata. Ketenangannya hilang.

“Bagaimana bisa ….?”

Gemetar ketakutan, dia menjerit.

“Ouranus, apa maksudnya?!”

“….”

Di altar kuil bawah tanah, dewa tua itu mengangkat alis dan menutup matanya erat-erat.

“Apa-apaan—”

Xenos berbelok di tikungan dan berhadap-hadapan dengan pemandangan mengerikan.

Dinding batu besar menghalangi jalan maju mereka.

Pintu yang seharusnya menyelamatkan mereka tidak kelihatan.

“Jalan buntu ….?” kata Lido terheran-heran.

“Fels … ada apa? Apa kita salah belok?” tanya Gros.

“Ini mustahil! Aku yakin sudah benar membaca petanya ….” jawab Fels, merenungkan rencana.

Sang penyihir telah mengikuti gambarannya seratus persen, pergi ke pintu barat yang tak diketahui Loki Familia. Tapi tetap saja, berdiri tembok besar di sana.

Pintu tersembunyi? Tidak, petanya tak menunjukkan apa-apa ….

Mustahil. Sepertinya selama ini seseorang memanipulasi kami ….

Dari balik jubah hitam gemetarnya, kerangka terkutuk itu mengingat jelas rasanya berkeringat. Ketika itulah si penyihir mendengar sebuah suara.

“Hai, Xenos!”

Suara ceria datang dari belakang mereka.

“!”

“Senang bertemu kalian. Tolong jangan takut. Aku Hermes. Hanya seorang dewa biasa.”

Dewa berambut jingga dan topi musafir berbulu. Matanya sewarna dengan rambut, mengkerut saat tersenyum ramah kepada Xenos yang terkaget-kaget.

“Dewa Hermes ….?! Kau sedang apa di sini?” Fels bertanya. “Cukup sederhana, Sage yang jatuh. Aku menyergapmu.”

“M-menyergap ….?!” Sage itu tergagap linglung. Xenos pun sama.

Apa yang dibicarakan Hermes? Apa maksudnya menyergap? Apa sasarannya? Pikiran Fels menolak untuk memahami situasi terkini.

Xenos yang diam saja, merinding di hadapan sang dewa. Penyihir berpakaian hitam mencengkeram peta sambil bertanya.

“Dewa Hermes …. Mengapa tidak ada pintu di sini? Bukankah kau yang memperoleh rencana pembangunan Knossos? Rencana ini, Buku Catatan Daedalus—” Hermes menyeringai selebar mungkin.

“Kau tidak benar-benar berpikir Buku Catatan Daedalus betul-betul ada, kan?”

3 Replies to “DUNGEON NI DEAI O MOTOMERU NO WA MACHIGATTE IRU DAROU KA VOLUME 11 BAB 5”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *